Anda di halaman 1dari 4

1.

Segitiga Akuntansi Forensik

Perbuatan melawan hukum

Kerugian Hubungan Kausalitas

a) Konsep yang digunakan dalam segitiga akuntansi forensik ini adalah konsep

hukum yang paling penting dalam menetapkan ada atau tidaknya kerugian.

Di sektor publik maupun privet, akuntansi forensik berurusan dengan

kerugian. Di sektor publik ada kerugian Negara, sedangkan disektor privat

juga ada kerugian yang timbul karena cidera janji dalam suatu perikatan.

Kerugian adalah titik pertama dalam segitiga akuntansi forensik.

Landasannya adalahpasal 1365 kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang

berbunyi “ Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian

kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu

karena kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut.”


b) Titik kedua dalam akuntansi forensik adalah perbuatan melawan hukum.

Tanpa perbuatan melawan hukum, tidak ada yang dapat dituntut untuk

mengganti kerugian. Itulah sebabnya dalam berbagai bencana yang jelas-

jelas ada kerugian bagi para korban, seperti dalam hal kasus lumpur lapindo.
c) Titik ketiga dalam segitiga akuntansi forensik adalah adanya keterkaitan

antara kerugian dan perbuatan melawan hukum atau ada hubungan

kausalitas antara kerugian dan perbuatan melawan hukum. Perbuatan

melawan hukum dan hubungan kausalitas (antara perbuatan melawan

hukum dan kerugian) adalah ranahnya para ahli dan praktisi hukum.
Perhitungan besarnya kerugian adalah ranahnya para akuntan forensik.

Dalam mengumpulkan barang bukti untuk menetapkan adanya hubungan

kausalitas, akuntan forensik dapat membantu ahli dan pratiksi hukum.

Seperti diagram-diagram akuntansi diatas, segitiga akuntansi forensik

merupakan model yang mengaitkan disiplin hukum, akuntansi dan auditing.

2. Fosa dan Cosa


Fraud audit terdiri atas dua kompene. Kompenen pertama proactive

fraud audit (fraud audit yang proaktif), yang berada diluar payung akuntansi

forensik, sedangkan kompenen kedua investigative audit (audit investigative),

merupakan bagian dari akuntansi forensik.


Bagian ini membahas kompenen pertama dari fraud audit, yakni fraud

audit yang proaktif. Berbagai istilah digunakan untuk fraud audit yang proaktif.

Ada yang menggunakan kajian sistem, karena dalam fraud audit dilakukan

kajian sistem yang bertujuan mengidentifikasikan potensi - potensi atau resiko

terjdinya fraud. Dalam teknologi informasi, kajian atas sistem untuk

mengetahui kelemahan dalam sistem itu disebut system audit istilah fraud

dalam FOSA (Fraud – oriented system audit) digunakan dalam arti seluas –

luasnya; seprti yang digunakan The Association Of Certified Fraud Examiners

dalam fraud tree-nya. Kalau focus dalam kajian ini adalah korupsi (seperti

yang dilakukan KPK). Penulis mengusulkan istilah (Corruption – Oriented

System Audit) atau COSA. Untuk kajian sistem yang bertujuan untuk

mengidentifikasi potensi fraud secara umum, kita dapat menggunakan istilah

FOSA. Untuk kajian sisteem yang bertujuan untuk mengidentifikasi potensi

korupsi secara spesifik kita dapat menggunakan COSA.


FOSA dapat dilakukan oleh organisasi itu sendiri. Pada perusahaan

swasta, FOSA dikerjakan oleh auditor internal, auditor internal dan bagian
hukum atau unit lainnya yang ditunjuk komite audit. Kalau organisasi tersebut

tidak memiliki keahlian yang diperlukan, ia dapat meminta jasa kantor akuntan

publik yang memberikan jasa khusus untuk itu. Hal serupa dapat dilakukan

departemen atau kementrian Bank Indonesia, BUMN, BUMD, Yayasan, dan

lembaga – lembaga sektor publik yang lain. KPK melakukan kajian semacam

FOSA dengan focus kepada potensi korupsi. Contoh “ dari situs Web KPK dan

pemberitaan dimedia masa, dapat dilihat salah satu tugas KPK menurut

Undang – Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, yakni memonitoring

penyelenggaraan pemerintah Negara (Pasal 6 huruf e). KPK melakukan kajian

terhadap sistem diberbagai lembaga, diantaranya kajian atas sistem pelayanan

pertanahan di Bidang Pertanahan Nasional, perizinan investasi di BKPM,

pelayanan keimigrasian, administrasi impor di Direktorat Jenderal Bea dan

Cukai, pelayanan perpajakan di Direktorat Jenderal Pajak, pengolahan dikantor

pelayanan dan bendaharawan Negara, pelayanan dan implementasi e-

announcement terhadap kontrak - kontrak badan rehabilitasi dan rekonstruksi

Ngangroe Aceh Darussalam dan Nias (pasca-tsunami desember 2004).


3. Sistematika Fosa Atau Cosa
1) Langkah pertama adalah mengumpulkan materi untuk menilai adanya

potensi atau resiko fraud dalam system dari entitas yang dikaji. Perlatan

FOSA yang dapat dipergunakan :


a) Memahami entitas dengan baik
b) Segitiga fraud
c) Wawancara, bukan introgasi
d) Kuesioner, ditindak lanjuti dengan substansiasi
e) Observasi lapangan
f) Sampling dan timing
g) Titik lemah dalam sistem pengadaan barang dan jasa
h) Profiling
i) Analisis data
Potensi fraud dalam sistem dari entitas yang bersangkutan dapat dilihat

pada:

a) Kelemahan sistem dan kepatuhan

b) Entitas sering kali menyajikan pihak – pihak yang disebutnya

stakeholders

FOSA mendapatkan informasi melalui berbagai sumber :

a) Entitas yang bersangkutan seharusnya merupakan sumber penting

b) Pressure group seperti media dan Lembaga Swadaya Masyarakat

merupakan sumber informasi penting

c) Whistleblowers merupakan sumber yang memberikan warna lain dalam

pengumpulan materi untuk mengidentifikasikan potensi dan resiko fraud

d) Masyarakat sering kali berani melaporkan ketidakberesan dalam suatu

entitas

e) Google atau search engine lainnya

2) Langkah kedua dalam FOSA adalah menganalisis dan menyimpulkan

berbagai informasi yang diperoleh dalam langkah pertama. Pelaksana FOSA


menggabungkan berbagai analisis tentang potensi atau resiko fraud yang

satu sama lain mungkin tidak sejalan, dan ada kesenjangan. Pelaksanaan

FOSA melakukan analisis kesenjangan untuk mengetahui mengapa satu

analisis berbeda dari analisis yang lain, termasuk tanggapan yang diberikan

entitas terhadap kesimpulan sementara. Analisis dalam langkah kedua dan

khususnya analisis kesenjangan mendorong terjadinya proses chek and

recheck pada akhir langkah kedua. Hal ini dapat dilihat dari lingkaran

umpan balik (feedback loop)

Anda mungkin juga menyukai