Anda di halaman 1dari 27

PAPER

PENGARUH KUALITAS BAHAN BAKAR TERHADAP PERFORMA PLTU

Disusun Oleh:

1. Antie Nurfitriani 4215020003


2. Handri Tirta Lianda 4215020006
3. Iqmal Hibatullah 4215020021
4. Jogi Jeremiah 4215020022
5. Muhammad Daffa 4215020011
6. Nadiyatul Fadhilla 4215020014
7. Yoga Amin Purnomo 4215020030
Kelompok : 1 (Satu )

MATA KULIAH ASET MANAJEMEN


PROGRAM STUDI PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK
JURUSAN TEKNIK MESIN
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kemudahan dan
kelancaran selama proses pembuatan berlangsung hingga paper ini dapat diselesaikan. Banyak ilmu
dan pengalaman yang telah kami dapat selama membuat paper ini. Pada kesempatan ini, kami
mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak terkait yang telah membantu dan mendukung
pembuatan paper ini agar bisa selesai dengan baik dan lancar, diantaranya kepada :
1. Orang tua dan saudara kami yang telah memberi izin, restu, dan dukungan baik secara moril
dan materil demi kelancaran pembuatan paper ini.
2. Bapak Muslimin selaku Ketua Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Jakarta yang terlah
memberi izin.
3. Bapak Adi Syuriadi selaku Ketua Program Studi D4 Pembangkit Tenaga Listrik Politeknik
Negeri Jakarta
4. Bapak Jusyafar dan Bapak Nusyirwan selaku Dosen Pembimbing Manajemen Pemeliharaan
D4 Pembangkit Tenaga Listrik Politeknik Negeri Jakarta.
5. Seluruh teman kelas 7R yang telah membantu kami.
6. Seluruh pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu yang telah membantu kami baik secara
langsung maupun tidak langsung, baik secara moril dan materil.

Semoga dengan adanya paper ini, dapat menjadi tambahan ilmu bagi kami dan bermanfaat bagi
pihak yang membaca. Kami mohon maaf akan adanya kekurangan-kekurangan pada paper ini, semoga
kekurangan yang ada kedepannya dapat disempurnakan.

Depok, 3 Oktober 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................................................. 2

DAFTAR ISI............................................................................................................................................. 3

DAFTAR GAMBAR ................................................................................................................................ 4

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................................... 5

1.1. Latar Belakang ........................................................................................................................... 5

1.2. Permasalahan .............................................................................................................................. 5

1.3. Tujuan......................................................................................................................................... 5

BAB II DASAR TEORI ........................................................................................................................... 6

2.1. Bahan Bakar Batubara ................................................................................................................ 6

2.2. Proses Pembakaran ................................................................................................................... 10

BAB III PERFORMANCE PLTU .......................................................................................................... 14

3.1. Performance PLTU .................................................................................................................. 14

BAB IV PEMBAHASAN....................................................................................................................... 19

4.1. Pengaruh Kulitas Bahan Bakar pada PLTU ............................................................................. 19

4.2. Cara Meningkatkan Kualitas Pembakaran ............................................................................... 21

BAB V PENUTUP ................................................................................................................................. 26

5.1. Kesimpulan............................................................................................................................... 26

5.2. Saran ......................................................................................... Error! Bookmark not defined.

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................................. 27


DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Proses Pembentukan Batubara Menjadi Jenis – Jenis Batubara .............................................. 7
Gambar 2 Pulvarizer ............................................................................................................................... 19
Gambar 3 Slagging dan Fouling ............................................................................................................. 20
Gambar 4 Emisi Gas Buang .................................................................................................................... 20
Gambar 5 Pelapisan Chevron.................................................................................................................. 21
Gambar 6 Pelapisan Windrow ................................................................................................................ 22
Gambar 7 Pelapisan Chevron dan Windrow ........................................................................................... 22
Gambar 8 Batubara Campuran yang Dipadatkan ................................................................................... 22
Gambar 9 Damping Batubara Antara 2 Tipe .......................................................................................... 22
Gambar 10 Lapisan Kedua pada Blending Batubara .............................................................................. 22
Gambar 11 Penumpukan Batubara ......................................................................................................... 23
BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Pembangkit Listrik tenaga Uap merupakan pembangkit tenaga listrik yang merubah energi uap dari
pembakaran batu bara menjadi energi listrik. Efisiensi pembakaran yang didapat dari PLTU berasal
dari tingkat kualitas dari bahan bakarnya sendiri khususnya batu bara. Hal tersebut menunjukkan
makin besar tingkat kualitas kalor dari batu bara maka semakin bagus kualitas pembakarannya.
Sehingga berdampak pada kenaikan efisiensi pada PLTU secara keseluruhan.
Karena ada banyak jenis batubara dengan berbagai variasi nilai kalori mulai dari antrasit hingga
lignit maka perlu dicari jenis batu bara dengan kualitas ideal untuk meningkatkan kualitas
pembakaran supaya mampu menghasilkan kualitas uap boiler yang mumpuni sehingga nilai kalor
dari uap yang masuk ke turbin menjadi optimaldan mampu meningkatkan kinerja turbin. Bila
kinerja turbin meningkat maka kinerja generator yang dikopling dengan turbin juga akan semakin
bagus dan tentunya energi listrik yang dihasilkan akan lebih banyak dan akan meningkatkan
efisiensi secara keseluruhan pada sistem PLTU.
Mengacu pada permasalahan diatas peneliti berupaya untuk menganalisis pengaruh kualitas batu
bara terhadap PLTU.

1.2.Permasalahan
Permasalahan yang dapat diungkapkan dalam penelitian bagaimana pengaruh kualitas dari nilai
kalor batu bara terhadap kinerja dari PLTU

1.3. Tujuan
Berdasarkan pada permasalahan diatas maka dapat diidentifikasi beberapa tujuan penelitian ini
mengoptimalkan kinerja PLTU dengan pemilihan batu bara dengan nilai kalor yang ideal
BAB II DASAR TEORI

2.1.Bahan Bakar Batubara


Pengklasifikasian batubara di dasarkan pada derajat dan kualitas dari batubara tersebut, yaitu :
a. Gambut / Peat
Golongan ini sebenarnya termasuk jenis batubara, tapi merupakan bahan bakar. Hal ini
disebabkan karena masih merupakan fase awal dari proses pembentukan batubara. Endapan ini
masih memperlihatkan sifat awal dari bahan dasarnya (tumbuh-tumbuhan).
b. Lignite
Golongan ini sudah memperlihatkan proses selanjutnya berupa struktur kekar dan gejala
pelapisan. Apabila dikeringkan, maka gas dan airnya akan keluar. Endapan ini bisa
dimanfaatkan secara terbatas untuk kepentingan yang bersifat sederhana, karena panas yang
dikeluarkan sangat rendah.
c. Sub-Bituminous / Bitumen Menengah
Golongan ini memperlihatkan ciri-ciri tertentu yaitu warna yang kehitam- hitaman dan sudah
mengandung lilin. Endapan ini dapat digunakan untuk pemanfaatan pembakaran yang cukup
dengan temperatur yang tidak terlalu tinggi.
d. Bituminous
Golongan ini dicirikan dengan sifat-sifat yang padat, hitam, rapuh (brittle) dengan membentuk
bongkah-bongkah prismatik. Berlapis dan tidak mengeluarkan gas dan air bila dikeringkan.
Endapan ini dapat digunakan antara lain untuk kepentingan transportasi dan industri.
e. Anthracite
Golongan ini berwarna hitam, keras, kilap tinggi, dan pecahannya memperlihatkan pecahan
chocoidal. Pada proses pembakaran memperlihatkan warna biru dengan derajat pemanasan
yang tinggi. Digunakan untuk berbagai macam industri besar yang memerlukan temperatur
tinggi.
Gambar 1 Proses Pembentukan Batubara Menjadi Jenis – Jenis Batubara

Semakin tinggi kualitas batubara, maka kadar karbon akan meningkat, sedangkan hidrogen dan
oksigen akan berkurang. Batubara bermutu rendah, seperti lignite dan sub-bituminous, memiliki
tingkat kelembaban (moisture) yang tinggi dan kadar karbon yang rendah, sehingga energinya juga
rendah. Semakin tinggi mutu batubara, umumnya akan semakin keras dan kompak, serta warnanya
akan semakin hitam mengkilat. Selain itu, kelembabannya pun akan berkurang sedangkan kadar
karbonnya akan meningkat, sehingga kandungan energinya juga semakin besar. Ada 3 macam
Klasifikasi yang dikenal untuk dapat memperoleh beda variasi kelas / mutu dari batubara yaitu :

a. Klasifikasi menurut ASTM


Klasifikasi ini dikembangkan di Amerika oleh Bureau of Mines yang akhirnya dikenal dengan
Klasifikasi menurut ASTM (America Society for Testing and Material). Klasifikasi ini
berdasarkan rank dari batubara itu atau berdasarkan derajat metamorphism nya atau perubahan
selama proses coalifikasi (mulai dari lignit hingga antrasit). Untuk menentukan rank batubara
diperlukan data fixed carbon (dmmf), volatile matter (dmmf) dan nilai kalor dalam Btu/lb
dengan basis mmmf (moist, mmf). Cara pengklasifikasian yaitu :

- Untuk batubara dengan kandungan VM lebih kecil dari 31% maka klasifikasi didasarkan atas
FC nya, untuk ini dibagi menjadi 5 group, yaitu:
 FC lebih besar dari 98% disebut meta antrasit
 FC antara 92-98% disebut antrasit
 FC antara 86-92% disebut semiantrasit
 FC antara 78-86% disebut low volatil
 FC antara 69-78% disebut medium volatil
- Untuk batubara dengan kandungan VM lebih besar dari 31%, maka klasifikasi didasarkan atas
nilai kalornya dengan basis mmmf 1. 3 group bituminous coal yang mempunyai moist nilai
kalor antara 13.000 - 14.000 Btu/lb yaitu :
 High Volatile A Bituminuos coal (>14.000)

 High Volatile B Bituminuos coal (13.000-14.000)

 High Volatile C Bituminuos coal (<13.000)

- Group Sub-Bituminous coal yang mempunyai moist nilai kalor antara 8.300 - 13.000 Btu/lb
yaitu :
 Sub-Bituminuos A coal (11.000-13.000)

 Sub-Bituminuos B coal (9.000-11.000)

 Sub-Bituminuos C coal (8.300-9.500)

- Untuk batubara jenis lignit 1. 2 group Lignit coal dengan moist nilai kalor di bawah 8.300
Btu/lb yaitu:

 Lignit (6300-8.300)

 Brown Coal (<6.300)

b. Klasifikasi menurut National Coal Board (NCB)


Klasifikasi ini dikembangkan di Eropa pada tahun 1946 oleh suatu organisasi Fuel Research
dari departemen of Scientific and Industrial Research di Inggris. Klasifikasi ini berdasarkan
rank dari batubara, dengan menggunakan parameter volatile matter (dry, mineral matter free)
dan cooking power yang ditentukan oleh pengujian Gray King. Dengan menggunakan
parameter VM saja NCB membagi batubara atas 4 macam :
 Volatile dibawah 9,1%, dmmmf dengan coal rank 100 yaitu Antrasit
 Volatile diantara 9,1-19,5%,dmmmf dengan coal rank 200 yaitu Low Volatile/Steam
Coal
 Volatile diantara 19,5-32%,dmmf dengan coal rank 300 yaitu Medium Volatil Coal
 Volatile lebih dari 32 %, dmmmf dengan coal rank 400-900 yaitu High Volatile Coal
Masing – masing pembagian di atas dibagi lagi menjadi beberapa sub berdasarkan tipe coke
Gray King atau pembagian kecil lagi dari kandungan VM. Untuk High Volatile Coal dibagi
berdasarkan sifat cakingnya yaitu :
 Very strongly caking dengan rank code 400
 Strongly caking dengan rank code 500

 Medium caking dengan rank code 600

 Weakly caking dengan rank code 700

 Very weakly caking dengan rank code 800

 Non caking dengan rank code 900

c. Klasifikasi menurut International


Klasifikasi ini dikembangkan oleh Economic Commision for Europe pada tahun 1956.
Klasifikasi ini dibagi atas dua bagian yaitu :
- Hard Coal
Didefinisikan untuk batubara dengan gross calorific value lebih besar dari 10.260 Btu/lb atau
5.700 kcal/kg (moist, ash free). International System dari hard coal dibagi atas 10 kelas
menurut kandungan VM (daf). Kelas 0 sampai 5 mempunyai kandungan VM lebih kecil dari
33% dan kelas 6 sampai 9 dibedakan atyas nilai kalornya (mmaf) dengan kandungan VM lebih
dari 33%. Masing-masing kelas dibagi atas4 group (0-3) menurut sifat crackingnya dintentukan
dari “Free Swelling Index” dan “Roga Index”. Masing group ini dibagi lagi atas sub group
berdasarkan tipe dari coke yang diperoleh pengujian Gray King dan Audibert-Arnu dilatometer
test. Jadi pada International klasifikasi ini akan terdapat 3 angka, angka pertama menunjukkan
kelas, angka kedua menunjukkan group dan angka ketiga menunjukkan sub-group. Sifat caking
dan coking dari batubara dibedakan atas kelakuan serbuk batubara bila dipanaskan. Bila laju
kenaikan temperature relative lebih cepat menunjukkan sifat caking. Sedangkan sifat coking
ditunjukkan apabila laju kenaikan temperature lambat.
- Brown Coal
International klasifikasi dari Brown coal dan lignit dibagi atas parameternya yaitu total
moisture dan low temperature Tar Yield (daf).
 Berdasarkan total moisture (ash free) dibagi atas 6 kelas:
 Nomor kelas 10 dengan total moisture lebih dari 20%, ash free
 Nomor kelas 11 dengan total moisture 20-30%, ash free
 Nomor kelas 12 dengan total moisture 30-40%, ash free
 Nomor kelas 13 dengan total moisture 40-50%, ash free
 Nomor kelas 14 dengan total moisture 50-60%, ash free
 Nomor kelas 15 dengan total moisture 60-70%, ash free

 Berdasarkan low temperature Tar Yield (daf) dibagi lagi atas 5 group yaitu :
 No group 00 tar yield lebih rendah dari 10% daf
 No group 10 tar yield antara 10-15 % daf
 No group 20 tar yield antara 15-20 % daf
 No group 30 tar yield antara 20-25 % daf
 No group 40 tar yield lebih dari 25% daf

2.2.Proses Pembakaran
Pembakaran adalah reaksi kimia yang terjadi antara material yang dapat terbakar
dengan oksigen pada volume dan temperatur tertentu. Pembakaran akan terjadi bila 3 sumber
yaitu :

 Bahan bakar

 Oksigen

 Sumber nyala/panas

Seperti diketahui bahwa unsur – unsur dalam bahan bakar dapat membentuk reaksi
pembakaran dengan oksigen adalah Carbon, Hidrogen dan Sulfur. Karena itu proses
pembakaran bahan bakar tidak lain adalah terbentuknya reaksi pembakaran antara ketiga
unsur tersebut dengan oksigen. Reaksi pembakaran untuk ketiga unsur tersebut adalah
sebagai berikut :

 Reaksi Pembakaran Carbon

C + O2 → CO2 (pembakaran Carbon sempurna / + 33.820 KJ/Kg)


C + ½ O2 → CO (pembakaran Carbon tak sempurna / + 10.120 KJ/Kg)
 Reaksi Pembakaran
2 H2 + O2 → 2H2O
 Reaksi Pembakaran Sulfur
S + O2 → SO2

Untuk dapat menghitung kebutuhan Oksigen dan udara teoritis bagi proses pembakaran
bahan bakar, maka perlu diingat berat atom masing – masing unsur yang terlihat dalam
reaksi pembakaran. Agar lebih mudah mengingat, gunakan daftar berikut :
NAMA UNSUR SIMBOL B.A
CARBON C 12
HIDROGEN H 1
SULFUR S 32
OKSIGEN O 16
NITROGEN N 14

Selain itu untuk menghitung kebutuhan udara teoritis maka harus diketahui
komposisi dari udara. Komposisi dari udara adalah sebagai berikut :

Dalam satuan persen berat, udara


mengandung : Oksigen = 23,2 %

Nitrogen = 76,8 %

Dalam persen volume, udara


mengandung : Oksigen = 21 %
Nitrogen = 79 %

Perhitungan oksigen teoritis dan udara teoritis dapat dicari persamaan berikut :
 Oksigen yang diperlukan untuk membakar Carbon

C + O2 → CO2
12 + 32 → 44

1 Kg C + 8/3 Kg O2 → 11/3 Kg
CO2
Jadi untuk setiap Kg Carbon memerlukan 8/3 Kg Oksigen

 Oksigen yang diperlukan untuk membakar hidrogen adalah :

2H2 + O2 → 2H2O
4 + 32 → 36

1 Kg H + 8 Kg O2 → 9 Kg
H2O
Jadi untuk setiap Kg Hidrogen memerlukan 8 Kg Oksigen
 Oksigen yang diperlukan untuk membakar Sulfur :

S + O2 → SO2
32 + 32 → 64

1 Kg S + 1 Kg S → 2 Kg SO2

Jadi 1 Kg Sulfur memerlukan 1 Kg Oksigen ebutuhan Oksigen total :


Kebutuhan Oksigen untuk membakar (Carbon + Hidrogen + Sulfur)
Oksigen total = 8/3 C + 8 H + S

Tetapi biasanya di dalam bahan bakar jugua terdapat sedikit oksigen dalam bahan
bahan bakar dianggap akan bereaksi dengan hidrogen dalam bahan bakar tersebut.
Karena itu hidrogen yang bereaksi dengan oksigen yang berasal dari udara
akan berkurang sebanyak 0/8. Dengan demikian kebutuhan oksigen total menjadi :

8/3 C + 8 (H – 0/8) + S
Berhubung dalam satuan berat udara mengandung 23,2 %, maka kebutuhan
udara teoritis = Oksigen total x 100/23,2 atau :

Udara teoritis = 100/23,2 [8/3 C + 8 (H - 0,8) + S] Kg/Kg bb.


BAB III PERFORMANCE PLTU

3.1.Performance PLTU
Performa adalah kemampuan dari suatu peralatan didalam system operasinya.
Dimana kemampuan tersebut kita ketahui dari besar arus yang dipakai selama operasi, daya
yang dihasilkan dan efisiensi dari peralatan tersebut. Metode yang digunakan untuk
mengetahui perfoma ada berbagai macam diantaranya metode langsung dan metode tidak
langsung.

a. Metode Langsung
Metode langsung adalah metode perhitungan dengan cara langsung menghitung
pemakaian batubara dengan dikalikan nilai kalorinya kemudian dibagi dengan beban
output keluaran dari generator.

𝐵𝑋𝐻𝐻𝑉
𝑃𝐻𝑅 =
𝐺𝐺𝑂

Dimana :

PHR = Plan Heat Rate

B = jumlah pemakaian bahan bakar per jam(T/hr)

HHV = nilai kalori bahan bakar (Kcal/Kg)

GGO = Gross Generator Output per jam (MWh)

Sehingga didapatkan efeisiensi thermal dengan rumus :

Efisiensi thermal = (860/ PHR) X 100 %.

Dimana : 1 KWh = 860 Kilokalori (Kcal).

b. Metode Tidak Langsung


Metode tidak langsung adalah juga dikenal dengan metode kehilangan panas (heat
loss), maka yang pertama harus dilakukan adalah menghitung efisiensi boiler yaitu
dengan melakukan pengurangan bagian kehilangan panas dari 100, dimana dapat di
tulis :
1) Efisiensi boiler (n) = 100 - (Lc + Lg + Lmf + LH + Lma + LCO + Lr)
a) Kerugian Kalor Karbon Tidak Terbakar Di Fly Dan Slag Ash (Lc)

𝑊𝑢𝑐𝑋8055
𝐿𝐶 = 𝑥 100%
𝐻𝑓

Dimana :

Hf = High Heating Value

Wuc = Carbon in Ash (Fly dan Bottom ash)

b) Kerugian Kalor Gas Asap Kering ( Lg)


𝑊𝑔𝑋𝐶𝑝𝑔𝑋(𝑇𝑔 − 𝑇𝑟𝑎)
𝐿𝑔 =
𝐻𝑓
Dimana :
WG' = kg of dry gas per kg as fired fuel
Cpg = Specific Heat Dry Flue Gas (From Table)
TG' = Flue Gas Outlet Temperature Air Heater
TRA = Air Inlet Boiler Temperature

c) Kerugian Kalor Moisture Di Bahan Bakar ( Lmf)


𝑚𝑓𝑋(ℎ𝑠𝑝 − ℎ𝑤)
𝐿𝑔 =
𝐻𝑓
Dimana :
Mf = Pounds moisture per lb of as fired fuel by
laboratory analysis
Hsp = Enthalpy of vapour at partial pressure at exit gas
temperature
hsp = Enthalpy of vapour at 0.07 atm = 0.0071 Mpa, at
tg = 673.72 Kcal/kg
hw = Enthalpy of saturated liquid at tRA = 29.52
Kcal.kg

d) Kerugian Kalor Moisture Dari Hydrogen (LH)


Wma X Wa X ( Hsp − hRv)
𝐿𝑚𝑎 = 𝑥 100%
𝐻𝑓
Dimana :
hRv = Enthalpy of saturated vapor at tRA = 611,00 Kcal/kg
Wa = Pounds of water vapor per pound of dry air
Wma from pshichometric chart as function of air
temperature and relative humidity = 0,03

e) Kerugian Kalor Dari Gas CO ( LCO)


CO X 5644 X C
𝐿𝑚𝑎 = 𝑥 100%
(𝐶𝑂2 + CO) . Hf .100
f) Kerugian Kalor Dari Radiasi (LR)

Logn LR = 1,88 – 0,4238 logn Gms

Dimana :

Gms = Main Steam Flow (Kg/s).

Setelah mengetahui tahapan-tahapan dalam menghitung efisiensi boiler


dengan metode tidak langsung kemudian dilakukan perhitungan efisiensi
yang lain karena saling berkaitan. Untuk menghitung Efisiensi Turbin-
Generator maka terlebih dahulu harus menghitung Heat Rate (HR) kalor
yaitu :

Gms(Ims − Ifw) + Ghrh (Ihrh − Icrh) + Gshs (Ifw − Ishs)Grhs (Ihrh − Irhs)
𝐻𝑅 =
GGO

Dimana
ms = Main steam flow
Gshs = Superheater Spray Flow
Ims = Main steam Enthalpy
Grhs = Reheater Spray Flow
Ghrh = Hot reheat steam flow
Ishs = Superheater Spray Water
enthalpy
hrh = Hot reheat steam enthalpy
Irhs = Reheater Spray Water
enthalpy
Gfw = Feed Water Flow
GGO = Gross Generator Output
Ifw = Feed Water enthalpy
UAT = Pemakaian Sendiri
Gcrh = Cold reheat steam flow
HHV = High heating Value coal
calorie
Icrh = Cold reheat steam enthalpy
B = Coal Consumption
 Efisiensi Turbin-Generator

860
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑡𝑢𝑟𝑏𝑖𝑛 = 𝑥 100%
HR

 Efisiensi Auxiliary (UAT) / pemakaian listrik untuk keperluan sendiri

Beban yang dihasilkan − pemakaian sendiri


𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑈𝐴𝑇 =
𝐵𝑒𝑏𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙𝑘𝑎𝑛

 Efisiensi Pembangkit bruto (Efficiency Plant)


η Plant Bruto = ηTurbinX η Boiler Efisiensi
 Efficiency Net Plant
η Net Plant = ηTurbin-Generator X η Boiler X ηAuxiliary (UAT)
 PHR (Plant Heat Rate)
860
PHR =
Efisiensi Pembangkit Bruto
BAB IV PEMBAHASAN

4.1.Pengaruh Kulitas Bahan Bakar pada PLTU


Pengaruh kualitas batubara diantaranya terhadapat Pulvarizer, terbentuknya slagging &
Fauling, dan peningkatan emisi pada gas buang yang semua disebabkan oleh kurangnya nilai
kalori pada batubara

a. Pulvarizer
Nilai kalori pada batubara berhubungan dengan HGI (Hardgrove Grindability Index)
dimana semakin tinggi nilai kalori maka HGI makin rendah, dalam arti lain jika
batubara mempunyai kalori rendah maka dibutuhkan batubara dengan jumlah banyak
hingga melebihi spesifikasi dari boiler sehingga penggerus batubara bertambah atau
memakai pulvarizer cadangan. Dan HGI juga akan mempengaruhi dari Rolling
(penggerus) pada pulvarizer.

Gambar 2 Pulvarizer

b. Slagging dan fouling


Slagging dan fouling merupakan menempelnya abu batubara yang melebur pada pipa
pipa diboiler. Penempelan abu ini dipengaruhi oleh suhu melebur abu (ash). Akibat
dari slagging dan fouling ini dapat menurunkan efisiensi boiler dikarenakan tidak
maksimalnya perpindahan padan pada pipa boiler dikarenakan terdapat tumpukan
sllaging dan fouling, selain itu juga mengakibatkan kerusakan pada pipa boiler atau
mungkin saja terjadi kebocoran pada pipa.
Gambar 3 Slagging dan Fouling

c. Peningkatan emisi pada gas buang


Jika digunakan batubara tidak sesuai dengan desain maka berpengaruh pada performa
dan emisi yang dihasilkan, artinya efisiensi pada keandalan pembangkit akan
menurun serta emisi CO2 dan SO2 pada gas buang akan meningkat.

Gambar 4 Emisi Gas Buang


4.2.Cara Meningkatkan Kualitas Pembakaran

a. Blending
Blending adalah proses peningkatan kualitas batubara dimana batubara yang kadarnya
lebih tinggi dicampur dengan kadar yang lebih rendah agar diperoleh spesifikasi yang
diinginkan secara homogen. Parameter yang digunakan dalam teknik blending
hanyalah parameter kimia, sementara parameter fisik tidak dapat diblending, karena
sangat sedikit sekali perubahan pola distribusi yang terjadi dan relatif sama antara
sebelum dan sesudah blending dilakukan. Adapun parameter fisik yang tidak dapat
diblending adalah antara lain adalah Ash fusion temperature, HGI, Abrasion index,
Free swelling index, Dilatometri, Plastometri, Roga index, dan Gray King Coce type.

Ada 3 cara penyusunan pelapisan untuk proses blending, antara lain:


a. Pelapisan Chevron
Suatu cara blending dengan membentuk tumpukan menurut garis bujur dari
penampang silang (cross section) berbentuk segitiga dimana komponen-
komponen berurutan ditimbun sama rata sepanjang poros tengah tumpukan. Cara
blending tumpukan ini merupakan salah satu cara yang banyak dipakai.

Gambar 5 Pelapisan Chevron

b. Pelapisan Windrow
Suatu cara blending dengan membentuk tumpukan menurut garis bujur dari
penampang saling berbentuk segitiga dimana komponen-komponen berurutan
ditimbun dalam tumpukan yang berdampingan maju membentuk keseluruhan
tumpukan. Cara blending ini memberikan derajat kehomogenan paling tinggi.
Gambar 6 Pelapisan Windrow

c. Pelapisan Chevron dan Window

Gambar 7 Pelapisan Chevron dan Windrow

Sistem ini adalah gabungan dari kedua jenis pelapisan sebelumnya dan akan
menghasilkan segregasi ukuran butir yang sangat minimum. Tapi jenis alat yang
digunakan sangat mahal.

Berikut adalah contoh dari cara pelaksanaan melakukan tumpukan dari dua jenis
batubara yang berbeda spesifikasinya (tipe A dan tipe B) :
a. Lakukan damping batubara secara selang seling antara tipe A dan B.

Gambar 9 Damping Batubara Antara 2 Tipe

b. Lakukan pemadatan batubara dengan dozer sampai rata.

Gambar 8 Batubara Campuran yang Dipadatkan

c. Lakukan hal yang sama pada lapisan berikutnya.

Gambar 10 Lapisan Kedua pada Blending Batubara


d. Tumpukan dihentikan setelah target blending dianggap selesai.

Gambar 11 Penumpukan Batubara

b. Coal Drying System


Pada prinsipnya, coal drying system adalah pengurangan surface moisture pada
batubara agar pembakaran yang dilakukan dapat lebih maksimal. Coal drying system
juga merupakan solusi mengatasi masalah tentang keterbatasan akan kebutuhan
batubara, baik dari segi harga, volume maupun spesifikasi batubara yang diperlukan.

Pada dasarnya terdapat dua jenis material yang membentuk batubara, yaitu :
1) Combustible Material
Yaitu bahan atau material yang dapat ibakar/dioksidasi oleh oksigen. Material
tersebut umumnya terdiri dari :
 Karbon padat (fixed carbon)
 Senyawa hidrokarbon
 Senyawa sulfur
 Senyawa nitrogen, dan beberapa senyawa lainnya dalam jumlah kecil

2) Non Combustible Material


Yaitu bahan atau material yang tidak dapat dibakar/dioksidasi oleh oksigen.
Material tersebut umumnya terediri dari aenvawa anorganik (Si02, A1203, Fe203,
Ti02, Mn304, CaO, MgO, Na20, K20, dan senyawa logam lainnya dalam jumlah
yang kecil) yang akan membentuk abu/ash dalam batubara. Kandungan non
combustible material ini umumnya diingini karena akan mengurangi nilai
bakarnya.
Terdapat satu jenis material yang terdapat pada batubara yaitu Volatile Matter.
Volatile matter adalah material yang tidak stabil. Volatile matter cenderung tidak
berada di satu keadaan dan akan dengan cepat bertransisi ke keadaan lain, atau
menguap, ketika kondisi yang tepat terpenuhi. Volatile matter memiliki volatilitas
yang ditentukan bukan oleh suhu tetapi lebih oleh tekanan uap yang diperlukan
untuk memulai perubahan fasa.
Volatile matter adalah zat terbang (bahan terbang), yaitu zat atau bahan yang
keluar (terbang) dari batubara yang dibakar selain dari air yang menjadi uap atau
gas. Pembakaran batubara tersebut dilakukan dalam keadaan tertentu (keadaan
baku di laboratorium analisis).
Berikut adalah skema kandungan yang ada pada batubara dalam dua kondisi, yaitu
sebelum dan sesudah dikeringkan.

SEBELUM DIKERINGKAN
Pure Coal Mineral Matter Total Moisture
Volatile Volatile
Organic Mineral Surface
Fixed Inherent
Matter Matter Ash Moisture
Carbon Moisture
(VOM) (VMM) (SM)
Volatile Matter
dry ash VMM free basis
dry free basis
dry ash free basis
air dried free basis
as received basis
SETELAH DIKERINGKAN
Pure Coal Mineral Matter Total Moisture
Volatile Volatile
Organic Mineral
Inherent
Fixed Carbon Matter Matter Ash SM
Moisture
(VOM) (VMM)
Volatile Matter
dry ash VMM free basis
dry free basis
dry ash free basis
air dried free basis
as received
basis
BAB V PENUTUP

5.1.Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan menjadi beberapa poin :

 Peningkatan kualitas batubara dapat ditingkatkan dengan menurunkan nilai HGI


(Hardgrove Grindability Index) sehingga kalori batu bara meningkat.
 Peningkatan kualitas batubara dapat ditingkatkan dengan blending yaitu dengan
mencampur batubara berkalori rendah dengan batubara berkalori tinggi.
 Peningkatan kualitas batubara dapat ditingkatkan dengan coal drying sistem yaitu
dengan menurunkan nilai TM (Total Moisture).

Dengan adanya peningkatan kualitas batubara pada PLTU maka permasalahan pada pipa-
pipa seperti slagging dan fouling akan berkurang. Sehingga dengan adanya peningkatan
pada kualitas batubara maka efisiensi pada PLTU akan meningkat serta pembiayaan pada
bahan bakar akan turun.

5.2.Saran
Adapun saran dalam meningkatkan kualitas bahan bakar terhadap performa PLTU
diantaranya :

a. Pemahaman teori dan keahlian harus dikuasai supaya mampu mengurangi kesalahan
perhitungan peningkatan kualitas batubara (nilai kalori).
b. Perlunya pertimbangan nilai kalori antar batubara pada blending sehingga
peningkatan kualitas batubara tidak signifikan (hanya terjadi sedikit peningkatan
kualitas batubara).
DAFTAR PUSTAKA

[1] P. P. (Persero), " Pendidikan dan Pelatihan Teori Pembakaran."


[2] A. R. Hoetman, "Disain PLTU Skala Kecil Berbahan Bakar Batubara," Teknik Mesin
BPPT, vol. 1, 2017.
[3] J. K. Sjaak Van Loo, The Handbook of Biomass Combustion and Co-firing, 2003.
[4] B. d. Koppejan, "Comprehensive Energy Systems," 2004.
[5] B. A. M. B. S. A. S. G. Nugroho, "STUDI NUMERIK VARIASI VOLUME PASIR
TERHADAP EFISIENSI BOILERCIRCULATION FLUIDIZED BED
COMBUSTION," 2017.
[6] A. F. I. M. M.Ali, "PEMELIHARAAN MEKANIK PRODUCT PUMP PADA MED
(Multi Effect Desalination) DI PT PEMBANGKITAN JAWABALI UBJ O&M
PLTU INDRAMAYU," 2017.