Anda di halaman 1dari 13

40

B. Pembahasan

1. Intervensi Non Fisik

a. Evaluasi Penyuluhan Alat Pelindung Diri (APD) Petani

Proses evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya

peningkatan pengetahuan mengenai Alat Pelindung Diri (APD) bagi

petani dengan sasaran anggota kelompok tani di Dusun Balang Punia

yang berjumlah 17 respoden dengan membandingkan post test

dengan hasil evaluasi.

Berdasarkan hasil post test pengetahuan responden mengenai

APD terdapat 16 responden (94,1%) memiliki tingkat pengetahuan

yang baik dan 1 responden (5,9%) memiliki tingkat pengetahuan

kurang. Sedangkan hasil evaluasi menunjukkan hasil yang sama

dengan hasil post test yakni 16 responden (94,1%) memiliki tingkat

pengetahuan yang baik dan 1 responden (5,9%). Tidak ada perbedaan

pengetahuan post-penyuluhan dan setelah evaluasi dilakukan

mengenai APD Petani.

Banyaknya nilai yang diperoleh dari hasil evaluasi

pengetahuan responden mengenai Alat Pelindung Diri (APD)

bervariasi. Ada beberapa responden yang nilainya menurun serta ada

beberapa responden yang nilainya meningkat. Namun keduanya masih

masuk dalam kategori pengetahuan yang baik.

Berdasarkan hasil post test sikap responden terhadap

penggunaan APD terdapat 17 responden (100%) memiliki tingkat


41

sikap yang baik. Berdasarkan hasil evaluasi juga menunjukkan hasil

yang sama yakni seluruh responden memiliki sikap yang baik.

Berdasarkan indikator keberhasilan jangka panjang yakni 80%

pengetahuan dan sikap petani meningkat, dapat disimpulkan bahwa

kegiatan penyuluhan Alat Pelindung Diri (APD) pada petani telah

berhasil dengan 16 responden (94,1%) memiliki tingkat pengetahuan

yang baik dan 17 responden (100%) memiliki tingkat sikap yang baik.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Defri Afrianto

(2014) yang berjudul Pengaruh penyuluhan Terhadap Pengetahuan,

Sikap, dan Tindakan Petani Paprika di Desa Kumbo, Pasuruan Terkait

Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dari Bahaya Pestisida, dengan

hasil terdapat perubahan yang signifikan pada pengetahuan dan sikap

petani dimana terjadi peningkatan skor pengetahuan dan sikap petani

setelah mendapat penyuluhan terkait penggunaan Alat Pelindung Diri

(APD) dari bahaya pestisida.

Intervensi lanjutan yang dilakukan adalah dengan

menyampaikan beberapa materi kembali kepada masyarakat agar

masyarakat kembali mengingat dan memahami materi yang telah

dilakukan pada saat penyuluhan di PBL II, sserta menyarankan kepada

kelompok tani untuk mengadakan penyuluhan dan pelatihan tiap bulan

kepada petani mengenai APD petani dengan anjuran dan pengawasan

dari pihak pemerintah desa.


42

Meskipun sudah banyak yang memahami pentingnya

menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) saat bekerja, tetapi perilaku

para petani masih sulit untuk diubah. Dengan adanya penyuluhan

diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang lebih kepada para

petani sehingga menjadi bekal untuk ke depannya, sesuai dengan ayat

di bawah ini :

Artinya:

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah


kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat
baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
berbuat baik. (QS Al-Baqarah: 195)

b. Evaluasi Penyuluhan Sampah dan Pemilihan Duta Kesehatan

Masyarakat Cilik

Proses evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya

peningkatan pengetahuan mengenai sampah serta berjalannya fungsi

dari Duta Kesehatan Masyarakat Cilik dengan sasaran siswa kelas 6

yang berjumlah 21 responden di SD Inpres Balang Punia dengan

membandingkan post test dengan hasil evaluasi.

Berdasarkan hasil post test pengetahuan responden mengenai

sampah terdapat 20 responden (95,2%) memiliki tingkat pengetahuan

yang baik dan 1 responden (4,8%) memiliki tingkat pengetahuan yang

kurang. Sedangkan hasil evaluasi menunjukkan hasil yang sama


43

dengan hasil post test yakni terdapat 20 responden (95,2%) memiliki

tingkat pengetahuan yang baik dan 1 responden (4,8%) memiliki

tingkat pengetahuan yang kurang.

Adapun hasil post test sikap responden terhadap sampah

terdapat 20 responden (95,2%) memiliki tingkat sikap yang baik dan 1

responden (4,8%) memiliki tingkat sikap yang kurang. Sedangkan

hasil evaluasi menunjukkan hasil yang sama dengan hasil post test

yakni terdapat 20 responden (95,2%) memiliki tingkat sikap yang baik

dan 1 responden (4,8%) memiliki tingkat sikap yang kurang. Hal ini

dikarenakan adanya 1 responden yang memiliki keterbatasan di

bidang akademik, sehingga responden kurang dalam menangkap

informasi yang disampaikan.

Ada dua siswa yang terpilih sebagai Duta Kesmas Cilik,

mereka bertugas untuk memantau kebersihan kelas serta lingkungan

sekolah dan mengingatkan siswa yang lain untuk tetap menjaga

kebersihan. Kedua duta ini dinilai telah menjalankan tugasnya dengan

baik, hal ini dibuktikan dengan pernyataan dari para siswa serta

melihat kondisi lingkungan sekolah dan kelas yang bersih pada saat

evaluasi.

Berdasarkan indikator keberhasilan jangka panjang yakni 90%

pengetahuan dan sikap siswa meningkat serta duta yang terpilih dapat

menjadi role model di lingkungan, dapat disimpulkan bahwa program

ini telah berhasil dengan 20 responden (95,2%) memiliki tingkat


44

pengetahuan yang baik dan 20 responden (95,2%) memiliki tingkat

sikap yang baik. Serta duta kesmas cilik yang menjalankan tugas

dengan baik.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yoni

Hermawan dan Komara Nur Ikhsan (2013) dengan judul Pengaruh

Penyuluhan Kesehatan Lingkungan Terhadap Tingkat Pengetahuan

dan Pelaksanaan Kesehatan Lingkungan SMP Negeri Tambaksari

Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis dengan hasil berdasarkan

hasil uji T didapatkan nilai ñ value= 0,000, maka dapat

disimpulkan ada pengaruh penyuluhan kesehatan lingkungan

terhadap tingkat pengetahuan dan pelaksanaan kesehatan

lingkungan di salah satu SMPN Tambaksari Kecamatan

Tambaksari Kabupaten Ciamis tahun 2011, karena nilai á > ñ value

(0,05 > 0,000)

Intervensi lanjutan yang dilakukan adalah dengan

memberikan saran kepada Kepala Sekolah beserta para Guru untuk

tetap melanjutkan Duta Kesmas Cilik pada generasi selanjutnya

agar program ini tertap berkesinambungan.

Dalam Islam, manusia dianggap sebagai faktor dominan dalam

perubahan lingkungan baik dan buruknya dan segala sesuatu yang

terjadi dalam lingkungan dan alam. Di dalam Al Qur`an dijelaskan

bahwa kerusakan lingkungan baik di darat maupun dilaut pelakunya

adalah manusia karena eksploitasi yang dilakuakan manusia tidak


45

sebatas memenuhi kebutuhan untuk mempertahankan hidup dan tidak

mempertimbangkan kelangsungan lingkungan dan keseimbangan

alam tetapi lebih didasarkan pada faktor ekonomi, kekuasaan dan

pemenuhan nafsu yang tidak bertepi. Karena faktor dominan manusia

terhadap alam terutama kerusakan lingkungan yang ada maka Allah

mengingatkan dalam surat Al a`raf ayat 56 :

Artinya:

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi,


sesudah Allah memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan
rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).
Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang
berbuat baik.” (QS Al-A’raf: 56)

Kewajiban manusia untuk menjaga lingkungan juga sangat

terkait dengan posisi manusia sebagai khalifah di muka bumi dalam

bahasa Arab diartikan sebagai wakil Allah di muka bumi. Maka

manusia memiliki tanggung jawab untuk mengelola bumi dengan

sebaik-baiknya sebaga sebuah amanah yang diberikan Allah Swt.

2. Intervensi Fisik

a. Evaluasi Pengadaan Tempat Sampah Percontohan

Evaluasi pengadaan tempat sampah percontohan ini dilihat

berdasarkan kondisi tempat sampah percontohan serta bertambahnya

masyarakat yang memiliki tempat sampah. Tujuan dari program ini


46

yaitu agar masyarakat memiliki tempat sampah di sekitar rumah,

membuang sampah pada tempatnya, serta menghindari pengolahan

sampah dengan cara dibakar.

Berdasarkan hasil observasi lapangan dapat diketahui bahwa

terdapat 2 rumah tangga yang memiliki tempat sampah permanen dan

3 tempat sampah tidak permanen. Berdasarkan indikator keberhasilan

jangka panjang yakni bertambahnya minimal 5 tempat sampah di

rumah masyarakat Dusun Balang Punia dapat disimpulkan bahwa

evaluasi program pengadaan tempat sampah percontohan telah

berhasil dengan bertambahnya tempat sampah di rumah masyarakat

sebanyak 5 tempat sampah. Meskipun program telah berhasil, hal ini

belum mencapai tujuan sehingga belum menyelesaikan masalah

sampah yang terjadi di Dusun Balang Punia, karena tidak tersedianya

prasarana berupa truk sampah untuk mengangkut sampah yang

menumpuk di tempat sampah masyarakat yang mengakibatkan

masyarakat membakar tumpukan sampah untuk mengatasinya.

Intervensi lanjutan yang dilkaukan adalah dengan memberikan

advokasi kepada pemerintah desa agar mempercepat pengadaan

prsarana berupa truk pengangkut sampah untuk pengelolaan sampah

di Desa Panaikang.
47

Islam mengajarkan kita untuk menjaga kebersihan khususnya

membersihkan halaman rumah, At Tirmidzi dan lainnya

meriwayatkan dari Sa’id bin Musayyab, Nabi bersabda:

‫ جواد‬،‫ كريم يحب الكرم‬،‫ نظيف يحب النظافة‬،‫إن هللا طيب يحب الطيب‬

‫ فنظفوا أفنيتكم وساحاتكم وال تشبهوا باليهود‬،‫يحب الجود‬

Artinya:

“Sesungguhnya Allah itu baik dan menyukai yang baik, Allah


itu bersih dan mencintai kebersihan, Allah itu Maha Pemberi dan
mencintai sifat suka memberi, Allah itu Maha Pemurah dan menyukai
kedermawanan. Maka bersihkanlah halaman rumahmu dan terasmu,
janganlah meniru orang Yahudi”

Juga diriwayatkan secara marfu’ dari Nabi Shallallahu’alaihi

Wasallam:

‫ فإن اليهود ال تطهر أفنيتها‬،‫طهروا أفنيتكم‬

Artinya:

“Bersihkanlah halaman rumahmu karena sesungguhnya


orang Yahudi itu biasanya tidak membersihkan halaman rumahnya”

b. Evaluasi Pengadaan Papan Wicara Mengenai Sampah

Evaluasi pemasangan papan wicara ini dilihat berdasarkan

kondisi papan wicara di lapangan. Respon masyarakat terhadap

keberadaan papan wicara juga baik, dilihat dari kondisi papan wicara

yang masih utuh dan terjaga. Selain itu, papan wicara yang dipasang

di beberapa tempat-tempat umum memberikan pengaruh terhadap


48

peningkatan kebersihan lingkungan sekitar pemasangan papan wicara

tersebut.

Berdasarkan hasil evaluasi dari 30 responden terdapat 26

responden (86,7%) yang pernah melihat keberadaan papan wicara dan

4 responden (13,3%) tidak pernah melihat papan wicara tersebut. Hal

ini dikarenakan ada beberapa responden yang jarang datang ke Masjid

serta kurang memperhatikan keberadaan papan wicara.

Berdasarkan sering membaca isi papan wicara terdapat 23

responden (76,7%) yang sering membaca isi papan wicara yang

terpasang di depan Masjid Dusun Balang Punia. Sedangkan 7

responden (23,3%) tidak pernah membaca isi papan wicara tersebut.

Responden yang tidak pernah membaca isi papan wicara dikarenakan

tidak pernah melihat papan wicara serta beberapa responden yang

hanya melihatnya saja tanpa membaca pesan yang disampaikan.

Berdasarkan isi mengerti terdapat 20 responden (66,7%) yang

mengerti isi papan wicara yang terpasang di depan Masjid Dusun

Balang Punia. Sedangkan 10 responden (33,3%) tidak mengerti isi

papan wicara tersebut. Hal ini dikarenakan ukuran tulisan pada papan

wicara yang terlalu kecil serta bahasa yang digunakan kurang mudah

dipahami oleh masyarakat.

Berdasarkan pesan baik yang pada isi papan wicara terdapat 20

responden (66,7%) yang menyetujui isi papan wicara yang terpasang


49

di depan Masjid Dusun Balang Punia terkandung pesan baik.

Sedangkan 10 responden (33,3%) tidak menyetujui isi papan wicara

yang terpasang di depan Masjid Dusun Balang Punia. Hal ini

dikarenakan ada beberapa isi dari papan wicara yang bertentangan

dengan perilaku masyarakat, seperti larangan untuk membakar

sampah.

Berdasarkan menarik tidaknya papan wicara terdapat 18

responden (60%) yang berpendapat bahwa papan wicara yang

terpasang di depan Masjid Balang Punia menarik. Sedangkan 12

responden (40%) yang berpendapat bahwa papan wicara yang

terpasang di depan Masjid Balang Punia tidak menarik. Hal ini

dikarenakan ukuran tulisan yang digunakan terlalu kecil sehingga

masyarakat menilai hal itu kurang menarik.

Berdasarkan letak strategis penempatan papan wicara terdapat

21 responden (70%) yang berpendapat bahwa penempatan papan

wicara yang terpasang di depan Masjid Balang Punia strategis.

Sedangkan 9 responden (30%) yang berpendapat bahwa penempatan

papan wicara yang terpasang di depan Masjid Balang Punia tidak

strategis. Hal ini dikarenakan letak papan wicara yang berjauhan dari

rumah responden.

Berdasarkan terealisasikannya isi papan wicara terdapat 16

responden (53,3%) yang telah merealisasikan isi papan wicara yang


50

terpasang di depan Masjid Balang Punia. Sedangkan 14 responden

(46,7%) yang tidak merealisasikan isi papan wicara.

Berdasarkan hasil yang diperoleh, kita dapat menyimpulkan

bahwa kesadaran masyarakat dalam menjaga papan wicara tersebut

sudah baik, walaupun pengaruh yang ditimbulkan dari papan wicara

terhadap perubahan perilaku masyarakat belum menunjukkan hasil

yang signifikan karena sebagian responden yang diwawancarai tidak

pernah melihat keberadaan papan wicara, dan sebagian responden

yang hanya melihat keberadaan papan wicara tersebut tetapi tidak

membaca pesan yang disampaikan.

Berdasarkan kategori baik dan kurang untuk tingkat

pengetahuan mengenai materi pemasangan papan wicara sebelum

penyuluhan dari 30 responden terdapat 30 responden (100%) memiliki

tingkat pengetahuan yang baik. Sedangkan hasil evaluasi

menunjukkan hasil yang sama dengan hasil post test yakni 30

responden (100%) memiliki tingkat pengetahuan yang baik.

Berdasarkan indikator keberhasilan jangka panjang yakni 70%

pengetahuan masyarakat meningkat mengenai sampah, dapat

disimpulkan bahwa program ini telah berhasil dengan 30 responden

(100%) memiliki tingkat pengetahuan yang baik.

Pemasangan poster mengenai sampah pernah dilakukan pada

Puskesmas Batua. Salah satu poster yang ada di Puskesmas Batua


51

adalah poster kesehatan “Membuang sampah pada tempatnya”.

Program promosi kesehatan melalui poster membuang sampah pada

tempatnya penting peranannya dalam penyampaian pesan dan

penjagaan kualitas kebersihan dan kesehatan lingkungan, sehingga

perlu untuk pengkajian yang lebih mendalam mengenai manfaat serta

efektivitas poster membuang sampah pada tempatnya atau poster tema

lainnya agar kreatifitas program promosi kesehatan kedepannya dapat

lebih ditingkatkan (Nursamsam dkk, 2018).

C. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat

Faktor pendukung dan penghambat merupakan dua faktor yang sangat

menentukan dalam menyukseskan setiap kegiatan. Faktor pendukung

merupakan faktor yang sangat membantu pelaksanaan dalam setiap kegiatan,

sedangkan faktor penghambat merupakan faktor yang menjadi tantangan

dalam pelaksanaan kegiatan sehingga perlu di evaluasi agar ke depannya

setiap kegiatan akan terealisasi secara optimal. Adapun faktor pendukung dan

penghambat dari pelaksanaan PBL III sebagai berikut:

1. Faktor pendukung
a. Adanya dukungan dari pemerintah setempat khususnya Kepala
Desa Panaikang, kepala dusun, tokoh masyarakat, tokoh agama
dan aparat lainnya yang sangat membantu dalam pengumpulan
data sekunder serta pelaksanaan setiap kegiatan evaluasi sampai
dengan PBL III.
b. Sumber daya masyarakat berupa tempat evaluasi penyuluhan dan
segala perlengkapannya telah siap siaga yakni di SD Balang Punia
52

untuk dijadikan sebagai tempat evaluasi penyuluhan oleh warga


setdempat sehingga memudahkan kami untuk menyuluh.
c. Kekompakan dan semangat seluruh teman-teman posko II untuk
menyukseskan pelaksanaan PBL III.
d. Partisipasi koordinator kecamatan yang telah banyak membantu
sehingga memudahkan kami dalam administrasi.
e. Adanya bimbingan dan masukan dari dosen pembimbing.
2. Faktor penghambat
a. Sebagian besar wilayah PBL masih termasuk pelosok desa
sehingga Bahasa yang digunakan adalah Bahasa daerah. Selain itu
pendidikan sebagian masyarakat golongan menengah ke bawah
sehingga menyebabkan kami dari pihak mahasiswa cukup sulit
dalam berkomunikasi.

b. Masih ada masyarakat yang buta huruf sehingga memerlukan

pendampingan untuk mengerjakan pre-test dan post-test.

c. Kurangnya partisipasi masyarakat dalam beberapa kegiatan

mengakibatkan perencanaan target pencapaian tidak sesuai dengan

ekspektasi salah satu faktornya antara lain akibat strategi

memobilisasi masyarakat yang kurang tepat dan masyarakat jenuh.

d. Masih adanya kesulitan dalam menemui warga yang menjadi


informan karena faktor pekerjaan.
e. Masih kurangnya tokoh masyarakat yang dapat menjadi motor
penggerak untuk membangkitkan antusiasme masyarakat dalam
mengikuti setiap kegiatan yang kami laksanakan.