Anda di halaman 1dari 4

PENCAPLOKAN TANAH ADAT1)

Oleh: Paul SinlaEloE2)

Prolog
Tanah adat adalah istilah yang disematkan pada
lahan yang dimilliki secara kolektif oleh sebuah
etnis atau suku. Tanah ini berasal dari generasi
leluhur dan diwariskan terus menerus ke generasi
penerusnya, sejak sebelum Indonesia merdeka.

Bagi Masyarakat Hukum Adat, tanah merupakan


aset yang sangat berharga. Tidak hanya sebagai
tempat untuk menjalani rutinitas kehidupan sehari-
hari, tanah juga menjadi simbol dan prestise yang
menunjukkan eksistensi suatu suku.

Masyarakat Hukum Adat memiliki tata guna lahan


dengan kearifannya. Dalam pengelolaan tanah
adatnya, Masyarakat Hukum Adat sering
meminjamkan tanah adatnya kepada pihak luar
yang membutuhkan, tetapi selamanya tidak boleh
dijualnya. Masyarakat Hukum Adat hanya akan
mengkuasakan tanah adatnya kepada pihak luar dalam kapasitas sebagai hak pakai
dan buakn sebagai hak milik.

Tanah adat selalu dicaplok oleh penyelenggara negara yang berkolaborasi dengan
pengusaha, untuk alasan pengadaan tanah demi berjalannya proyek-proyek
pembangunan. Argumen yang sering dipergunakan oleh penyelenggara negara
dalam urusan pencaplokan adalah karena tanah milik masarakat adat secara
peraturan perundangan berada di bawah kekuasaan negara, sehingga tanah
dimaksud adalah tanah negara.

Cara Penguasa Mencaplok Tanah Adat


Pencaplokan tanah milik Masyarakat Hukum Adat dilakukan dengan berbagai cara,
mulai dari penggusuran dengan menggunakan kekerasan, penaklukan dan
manipulasi ideologi dengan cara-cara yang melanggar Hak Asai Manusia. Seluruh
tindak tanduk penguasa untuk menaklukan Masyarakat Hukum Adat yang
mempertahankan tanah adatnya, selalu dikalim sebagai bahagian dari upaya untuk
menegakan stabilitas nasional agar proses pembangunan berlangsung terus.

Upaya Masyarakat Hukum Adat untuk mempertahankan hak-haknya akan diklaim


oleh penuasa sebagai upaya-upaya melawan hukum, menghambat pembangunan
dan dijadikan pembenaran oleh negara dan aparatnya untuk mengkriminlisasi
Masyarakat Hukum Adat. Agar tidak mudah diperdaya, berikut ini akan dipaparkan

1) Makalah ini disampaikan dalam diskusi gerilya yang berthema, “Masyarakat Adat dan Hak Atas Tanah”,
yang dilaksanakan oleh PIAR NTT, di Kabupaten Kupang (Diskusi dengan Masyarakat Adat di Desa
Fatumonas Kecamatan Amfoang Selatan), pada tanggal 14 November 2004 s/d 16 November 2004.
2) Staf Divisi Advokasi PIAR-NTT

Page 1 of 4
beberapa cara yang lasim digunakan pemerintah dan/atau pengusaha untuk
mencaplok tanah Masyarakat Hukum Adat, yakni: Pertama, Membuat kecelakaan
masal seperti kebakaran, yang kemudian wilayah tersebut tidak diizinkan lagi untuk
dibangun oleh penghuni lama;

Kedua, Mengembangkan calo-calo tanah yang beroperasi dari rumah ke rumah,


untuk menyebarkan issue bahwa tanah adat yang dimilikinya adalah bermasalah
dari segi peraturan perundang-undangan. Tujuan aktivitas ini adalah mendapatkan
harga tanah yang rendah/murah; Ketiga, Alasan register tanah, pemancangan
palang, pematokan tanah, pranata tanah, penggusuran daerah/wilayah yang
ternyata akan dijadikan area proyek tertentu;

Keempat, Melakukan intimidasi, teror dan kekerasan seperti dengan menjadikan


lokasi/tanah, daerah yang dibebaskan sebagai areal latihan perang-perangan bagi
militer, atau melakukan tindakan kekerasan penangkapan dan memenjarakan tokoh-
tokoh Masyarakat Hukum Adat yang paling keras mempertahankan hak-hak mereka
atas tanahnya; Kelima, Melakukan delegitimasi (tidak mengakui) penguasaan/hak
milik atas tanah dengan dalil warga Masyarakat Hukum Adat tidak memiliki bukti
formal seperti setifikat; Keenam, Memanipulasi tanda tangan persetujuan
masayarakat adat untuk pelepasan hak atas tanah;

Ketujuh, Melancarkan tuduhan sebagai pembangkang, pengacau atau anti


pembangunan kepada Masyarakat Hukum Adat yang kritis memperjuangkan hak-
haknya (hak atas tanah). Kedelapan, Manipulasi makna pengorbanan. Selalu
dikatakan bahwa Masyarakat Hukum Adat yang bersedia melepasakan haknya
adalah sebagai contoh, dan bahkan di daulat sebagai “tokoh pembangunan”,dan
memunculkan slogan-slogan bahwa “tidak ada kemakmuran tanpa pengorbanan dari
rakyat/masayarakat adat”.

Kesembilan, Melabelkan Masyarakat Hukum Adat yang kritis dengan stigma/cap


sosial dan politik (seperti pemberian kode eks tapol atau PKI) dan „mematikan‟ hak-
hak dari Masyarakat Hukum Adat yang berusaha mempertahankan tanahnya yang
diambil untuk kepentingan proyek; Kesepuluh, Pendekatan dengan
mengembangkan pola transmigrasi massal kepada untuk Masyarakat Hukum Adat
yang tanahnya akan digunakan sebagai areal proyek-proyek raksasa; Kesebelas,
Mencatat, mengidentifikasi dan mendatakan tentang tanah adat yang dianggap oleh
pemerintah dan/atau pengusaha adalah bermasalah lalau menetapkan ganti rugi
tanah secara sepihak;

Langkah Menghadapi Penguasa dan Pengusaha


Dalam Urusan Pencaplokan Tanah Adat
Indonesia adalah Negara hukum (Pasal 1 ayat (3) UUD 1945). Secara hukum hak
Masyarakat Hukum Adat atas tanah diakui keberadaannya dan dilegitimasi dalam
dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dan dijabarkan dalam sejumlah produk hukum
diantaranya UU No. 5 Tahun 1960, Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok
Agraria/UUPA. Hak Masyarakat Hukum Adat atas tanah merupakan serangkaian
wewenang dan kewajiban suatu Masyarakat Hukum Adat, yang berhubungan
dengan tanah yang terletak dalam lingkungan wilayahnya.

Page 2 of 4
Dalam UUPA, Pengakuan akan hak Masyarakat Hukum Adat atas tanah, disertai
dengan 2 (dua) syarat yaitu mengenai eksistensinya dan mengenai pelaksanaannya.
Berdasarkan Pasal 3 UUPA, hak ulayat diakui “sepanjang menurut kenyataannya
masih ada”. Dengan demikian, tanah adat tidak dapat dialihkan menjadi tanah hak
milik, apabila tanah adat dimaksud menurut kenyataan masih ada, misalnya
dibuktikan dengan adanya masyarakat hukum adat bersangkutan atau kepala adat
bersangkutan. Sebaliknya, tanah adat dapat dialihkan menjadi tanah hak milik,
apabila tanah adat tersebut menurut kenyataannya tidak ada atau statusnya sudah
berubah menjadi “bekas tanah adat”.

Mengingat bahwa kenyataannya tanah adat masih ada dan dapat dibuktikan
keberadaannya, maka berikut ini adalah langkah-langkah untuk menghadapi
pemerintah yang berusaha mencaplok/meyerobot tanah milik Masyarakat Hukum
Adat: Pertama, Jika ada orang yang datang melakukan survey di lokasi tanah milik
Masyarakat Hukum Adat, maka Masyarakat Hukum Adat berhak bertanya apa
maksud dan tujuan dilakukn survey; Kedua, Saat memperoleh jawaban dari pelaku
survey, maka sebaiknya informasi yang diterima harus dicatat baik-baik untuk
dijadikan dokumentasi;

Ketiga, Apabila setelah survey dan dilanjutkan dengan pengukuran, maka


Masyarakat Hukum Adat perlu mempertanyakn apa maksud dan tujuan pengukuran.
Bila jawaban tentang maksud dan tujuan pengukurn tidak jelas, maka sebaiknya
pengukuran itu harus di hentikan sampai memperoleh keterangan yang jelas dari
pemerintah dan/atau pengusaha tentang tujuan pengukuran; Keempat, Bila
pemerintah dan/atau pengusaha melakukn pendekatan dengan Masyarakat Hukum
Adat, maka sebaiknya jangan diputuskan oleh satu orang saja, tetapi harus
mengumpulkan semua orang yang memiliki hak atas tanah dimaksud, untuk
bermusyawarah;

Kelima, Apabila dalam pendekatan dengan Masyarakat Hukum Adat, pemerintah


atau pengusaha melakukan tekanan dan pemaksaan kehendak serta menggunakn
istilah tanah negara, maka Masyarakat Hukum Adat harus memertanyakan kepada
mereka bahwa bukankah Masyarakat Hukum Adat adalah bagian dari warga negara
yang mendiami wilayahnya sebelum Indonesia merdeka; Keenam, Dalam
musyawarah adat menyangkut tanah, maka Masyarakat Hukum Adat perlu
mempertimbangkan nilai sosio religius, ekonomis dan dampak politik yang akan
terjadi di kemudian hari atas tanah milik suku; Ketujuh, Masyarakat Hukum Adat
harus mencatat selurh penyelewengan yang dibuat oleh aparat pemerintah dan
pengusaha secara berurutan. Kalau dapat, saksi yang terlibat di dalamnya
disebutkan pula;

Kedelapan, Jika Masyarakat Hukum Adat ditekan karena mempertahankan haknya


atas tanah, maka Masyarakat Hukum Adat harus bermusyawarah untuk menentukan
sikap dengan cara damai, misalnya membuat surat penolakan atau datang ke pihak
legislatif untuk mengadukan perilaku dan sikap aparat pemerintah dan/atau
pengusaha. Kesembilan, Pada saat itu juga, Masyarakat Hukum Adat harus segera
mendatangi instansi-instansi terkait untuk menyampaikan keberatan atas kegiatan
pengukuran dalam kawasan tanah Masyarakat Hukum Adat; Kesepuluh, Ketika
membuat surat penolakan atau pengaduan yang disampaiakan pada pihak legislatif,
sebaiknya Masyarakat Hukum Adat mengemukakan hal-hal yang berkaitan dengan

Page 3 of 4
sejarah kepemilikan lahan, fungsi lahan/lokasi menurut masyarkat, upaya-upaya
intimidasi, dan pelanggaran Hak Asasi Manusia;

Kesebelas, Bila Masyarakat Hukum Adat kurang memahami persoalan hukum


positif (negara), maka Masyarakat Hukum Adat dapat meminta bantuan kepada
lembaga konsultasi hukum atau kepada Organisasi Non Pemerintah yang bergerak
di bidang hukum; Keduabelas, Apabila ada gejala yang meresahkan dalam
pengukuran tanah milik Masyarakat Hukum Adat, maka Masyarakat Hukum Adat
harus segera meminta orang-orang yang melakukan pengukuran untuk menghentikn
kegiatanya;

Ketigabelas, Bila ada negosiasi antara Masyarakat Hukum Adat dengan pemerintah
dan/atau pengusaha, maka hasil kesepakatan harus di buat tertulis. Dalam
kesepakatan itu, harus ditentukan luas dan batas wilayah yang disepakati. Jika
pemerintah dan/atau pengusaha melanggar kesepakatan dan penyerobotan lahan
yang tidak disepakati antara Masyarakat Hukum Adat dengan pemerintah dan/atau
pengusaha, maka harus dijelaskan memang bahwa kesepakatan itu harus batal
demi hukum; dan Keempatbelas, Jika pemerintah dan/atau pengusaha
memaksakan diri untuk tetap melakukan kegiatan serta menambah luas lokasi diluar
kesepakatn masyarakt adat, maka Masyarakat Hukum Adat harus bersatu untuk
melawannya. Jika Masyarakat Hukum Adat bersatu, maka pemerintah dan/atau
pengusaha akan kesulitan, bahkan tidak akan berhasil dalam mewujudkan
kehendaknya

Epilog
Diakhir materi ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal yang harus dingat oleh
kita bersama dalam mempertahankan hak kita atas tanah, yakni: Pertama,
Masyarakat Hukum Adat yang tanah adatnya dicaplok, warus membentuk
wadah/organisasi untuk berjuang mempertahankan hak-haknya; Kedua, Melakukan
diskusi yang kontinyu untuk membahas masalah yang dihadapi. Ketiga, Layangkan
surat pengaduan/protes kepada instansi-instansi terkait tentang masalah yang dialmi
secara jelas. Lebih tepat lagi, jika di buat kronologis kejadian dengan menjelaskan
pelaku, korban, tanggal/waktu kejadian, lokasi masalah dan bentuk masalah yang
dihadapi;

Keempat, Publikasikan setiap peristiwa terkait pencaplokan tanah adat di media


massa; Kelima, Mendatngi kantor legislatif untuk mendialogkan masalah yang
dihadapi; Keenam, Unjuk rasa/demonstrasi sebagai bentuk protes dan penolakan;
dan Ketujuh, Meminta dampingan Lembaga Batuan Hukum (LBH), Lembaga
Advokasi, atau Organisasi Non Pemerintah yang peduli terhadap masalah sosial
rakyat termasuk hak-hak Masyarakat Hukum Adat atas tanah.

Pada akhirnya, poin penting yang tidak boleh diabaikan dalam advokasi untuk
melawan pencaplokan tanah adat adalah keempat belas langkah yang telah
dijabarkan di atas, hanyalah berupa pedoman dan bukan merupakan jalan satu-
satunya dalam memperjuangkan hak-hak yang dimiliki oleh Masyarakat Hukum
Adat, sebab Masyarakat Hukum Adat memiliki cara tersendiri untuk
mempertahankan hak miliknya.

Page 4 of 4