Anda di halaman 1dari 11

1.

1 AKUNTANSI FORENSIK

Menurut Merriam Webster’s Collegiate Dictionary (edisi ke-10): forensik dalam bidang

akuntansi diartikan sebagai penerapan disiplin akuntansi pada masalah hukum.

Sengketa antara PT. Telkom dan PT. Aria West International (AWI) melalui proses yang

berat dan panjang (hampir dua tahun) akhirnya diselesaikan melalui akuisisi AWI oleh PT.

Telkom dalam bulan agustus 2003. Dalam sengketa ini, AWI menggunakana

Pricewaterhouse Coopers sebagai akuntan forensiknya, dan penyelesaian sengketa dilakukan

diluar pengadilan. Dari kasus itu dapat disimpulkan bahwa audit forensic ialah penerapan

disiplin akuntansi dalam arti luas, termasuk auditing, pada masalah hukum untuk

penyelesaian hukum didalam maupun di luar pengadilan. Akuntansi forensic dapat

diterapkan disektor publik maupun sektor privat (perorangan, perusahaan swasta, yayasan

swasta, dan lain-lain).

Sedangkan menurut D. Larry Crumbey mengemukakan bahwa secara sederhana

akuntansi forensik dapat dikatakan sebagai akuntansi yang akurat untuk tujuan hukum, atau

akuntansi yang tahan uji dalam kancah perseteruan selama proses pengadilan, atau dalam

proses peninjauan yudisial, atau tinjauan administratif. Definisi dari Crumbey menekankan

bahwa ukuran dari akuntansi forensik adalah ketentuan hukum dan perundang-undangan,

berbeda dari akuntansi yang sesuai dengan GAAP (Generally Accepted Accounting

Principles). Ukurannnya bukan GAAP, melainkan apa yang menurut hukum atau ketentuan

perundang-undangan adalah akurat.

Crumbley dengan tepat melihat potensi untuk perseteruan di antara pihak-pihak yang

bersengketa kepentingan. Demi keadilan, harus ada akuntansi yang akurat untuk proses

hukum yang bersifat adversarial, atau proses hukum yang mengandung perseteruan.

1
1.2 DISIPLIN DAN PROFESI FORENSIK LAINNYA

Dalam percakapan sehari-hari, orang awam akrab dengan istilah dokter forensic dan

laboratorium forensic. Orang awam menyebut dokter forensic sebagai “dokter mayat” karena

ia berurusan dengan mayat.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan bahwa forensic ialah:

1. Cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan pemeriksaan dengan penerapan

fakta medis pada masalah hukum.

2. Ilmu bedah yang berkaitan dengan penentuan identitas mayat seseorang yang ada

kaitannya dengan kehakiman dan pradilan.

Disiplin ilmu dan profesi yang menggunakan istilah forensic David Owen antara lain:

1. Forensic anthropologist

2. Forensic chemist

3. Forensic dentist

4. Forensic document investigator

5. Forensic geologist

6. Forensic pathologist

7. Forensic photographer

8. Forensic psychiatrist/psyciologist

9. Forensic serologist

Sedangkan menurut Black’s Law Dictionary antara lain:

1. Forensic engineering

2
2. Forensic linguistics

3. Forensic medicine

4. Forensic pathology

5. Forensic psychiatry

Dalam sidang pengadilan ahli-ahli forensic dari disiplin yang berbeda, termasuk akuntansi

forensic, dapat dihadirkan untuk memberikan keterangan ahli.Dinegara inggris mereka

disebut saksi ahli/ expert witness.Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidan

(KUHAP) menggunakan istilah “Ahli”, meskipun dalam percakapan sehari-hari ole hers

digunakan istilah “saksi ahli”.

KUHAP Pasal 179 ayat (1) menyatakan “setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai

ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli

demi keadilan”. Dalam praktik, kelompok ahli lainnya juga terdiri atas para akuntan atau

pelaksana audit investigasi yang memberi keterangan ahli demi keadilan. Tidak jarang, para

ahli forensic dari profesi yang sama “bertarung” di pengadilan.

1.3 AKUNTAN FORENSIK DI PENGADILAN

Penggunaan akuntansi forensic sebagai ahli di pengadilan, khususnya di pengadilan

tindak pidana korupsi, tantangan dan peluang untuk memperbaikinya. Di Indonesia,

pengguna akuntan forensic dapat digunakan di sektor publik maupun privat karena jumlah

perkara yang lebih banyak di sektor publik. Akan tetapi, ada juga alasan lain, yakni

kecenderungan untuk menyelesaikan sengketa sektor privat diluar pengadilan.

Disektor publik, para penuntut umum (kejaksaan dan KPK) menggunakan ahli dari BPK,

BPKP, dan Inspektorat Jendral dari Departemen yang bersangkutan. Dilain pihak, terdakwa

3
dan tim pembelanya menggunakan ahli dari kantor akuntan publik, kebanyakan ahli ini

sebelumnya praktik di BPKP.

Perbedaan Ahli Selaku Pribadi dan Lembaga (BPK)

No. Pribadi Lembaga


1 Kompetensi Ahli meminta keterangan yang Ahli memberikan keterangan
ahli diminta instansi yang berwenang, tentang kerugian Negara yang
sesuai ahli yang melekat pada merupakan kompetensi BPK;
pribadinya bukan kopetensi pribadi,
sehingga tidak melekat pada
pribadi pemegang jabatan
anggota BPK atau pemeriksa
BPK
2 Substansi Ahli memberikan keterangan Ahli memberikan keterangan
keterangan ahli tentang substansi yang tentang kerugian Negara/daerah
menjadikan kepakarannya, karena pelaksanaan tugas
penguasaan pengetahuan secara konstitusional BPK. Pendapat
pribadi, dan pengembangan yang diberikannya merupan
pengetahuannya. Pendapat yang pendapat BPK.
diberikannya merupakan pendapat
pribadi.
3 Pengelolaan Informasi yang dipaparkan ahli di
Informasi tentang kerugian
informasi hadapan penyidik maupun siding
Negara/daerah dipaparkan
pengadilan diolahnya secara
dihadapan penyidik maupun
pribadi dengan pengetahuan dan
sidang pengadilan diolah secara
pengalaman yang dimilikinya kelembagaan. Informasi ini tidak
secara pribadi. dimiliki sebelumnya, sehingga
diperoleh melalui pemeriksaan
investigasi.
4 Kepemilikan Keterangan yang diberikan ahli Keterangan yang diberikan
atas keterangan merupakan milik pribadinya merupan milik BPK sebagai
ahli lembaga negara

4
5 Kebebasan Ahli memiliki kebebasan pribadi Ahli merupakn personifikasi
memberikan dalam memberikan pendapat yang BPK. Ai tidak memiliki
pendapat berkaitan dengan keahliannya. kebebasan pribadi dalam
Pendapat yang diterangkannya memberikan keterangan. Ia
adalah hasil pemikiranya senantiasa berkoordinasi dengan
pimpinan karena yang
diterangkannya adalah hasil
pemeriksaan BPK.
6 Batas Ahli memberikan keterangan Ahli memberikan keterangan
sesuai dengan kepakaran yang sesuai dengan hasil pemeriksaan
dimilikinya. Ia hanya dibatasi oleh BPK.
kedalam pengetahuan dan
pengalamannya.

1.4 MODEL AKUNTANSI FORENSIC

Akuntansi forensik awalnya adalah perpaduan yang paling sederhana antara ilmu

akuntansi dan hukum.Contohnya : penggunaan akuntan forensik dalam pembagian harta

gono-gini. Disini terlihat unsur akuntansinya, unsur hitung menghitung besarnya harta yang

diterima pihak (mantan) suami dan (mantan) istri. Segi hukumnya dapat diselesaikan di

dalam dan di luar pengadilan, secara litigasi atau non-litigasi. Dalam kasus yang lebih pelik,

ada satu bidang tambahan (disamping akuntansi dan hukum). Bidang tambahan ini adalah

audit, sehingga model akuntansi forensiknya direpresentasikan dalam tiga bidang, yaitu

Akuntansi, Hukum dan Audit.

Dalam audit secara umum maupun audit yang khusus untuk mendeteksi adanya fraud

(kecurangan), si auditor (internal maupun ekternal) secara proaktif berupaya melihat

kelemahan-kelemahan dalam sistem pengendalian intern, terutama yang berkenaan dengan

perlindungan terhadap asset (safeguarding of asset), yang rawan akan terjadinya fraud. Ini

adalah bagian dari keahlian yang harus dimiliki oleh auditor.Sama seperti seorang ahli

security memeriksa instalasi keamanan diperusahaan minyak atau dihotel, dan memberi

5
laporan mengenai titik-titik lemah dari segi keamanan dan pengamatan perusahaan minyak

atau hotel tersebut.

Kalau dari suatu audit umum (general audit atau opinion audit) diperoleh temuan audit,

atau ada tuduhan (allegation) dari pihak lain, atau ada keluhan (complaint), auditor bersikap

reaktif.Ia menanggapai temuan, tuduhan atau keluhan tersebut.

1.5 SEGITIGA AKUNTANSI FORENSIK

Konsep yang digunakan dalam segitiga akuntansi forensik adalah konsep hukum yang

paling penting dalam menetapkan ada atau tidaknya kerugian. Disektor publik maupun

privat, akuntansi forensik berurusan dengan kerugian. Di sektor publik ada kerugian negara

dan kerugian keuangan negara. Di sektor privat juga ada kerugian yang timbul karena cidera

janji dalam suatu perikatan. Kerugian adalah titik pertama dalam segitiga akuntansi forensik.

Titik kedua adalah perbuatan melawan hukum.Tanpa perbuatan melawan hukum, tidak ada

yang dapat dituntut untuk mengganti kerugian.Titik ketiga adalah adanya keterkaitan antara

kerugian dan perbuatan melawan hukum atau ada hubungan kausalitas antara kerugian dan

perbuatan melawan hukum.

Perbuatan melawan hukum dan hubungan kausalitas adalah ranahnya para ahli dan praktisi

hukum.Perhitungan besarnya kerugian adalah ranahnya para akuntan forensik. Dalam

mengumpulkan bukti untuk menetapkan adanya hubungan kausalitas, akuntan forensik dapat

membantu ahli dan praktisi hokum.

1.6 FOSA DAN COSA

Fraud audit terdiri dari dua komponen, yaitu:

1. Proactive fraud audit, yang berada di luar payung akuntansi forensic

6
2. Investigative audit, bagian dari akuntansi forensic

Fraud-oriented system audit (FOSA) adalah kajian sistem yang bertujuan untuk

mengidentifikasikan potensi fraud secara umum. Sedangkan Corruption-oriented systems

audit (COSA) bertujuan untuk mengidentifikasi potensi korupsi.

FOSA dapat dilakukan oleh organisasi itu sendiri. Pada perusahaan swasta, FOSA

dikerjakan oleh auditor internal, auditor internal dan bagian hukum atau unit lainnya yang

ditunjuk komite audit. Kalau organisasi tersebut tidak memiliki keahlian yang diperlukan, ia

dapat meminta jasa kantor akuntan publik yang memberikan jasa khusus untuk itu. Hal serupa

dapat dilakukan departemen atau kementrian Bank Indonesia, BUMN, BUMD, Yayasan, dan

lembaga – lembaga sektor publik yang lain. KPK melakukan kajian semacam FOSA dengan

focus kepada potensi korupsi. Contoh “ dari situs Web KPK dan pemberitaan dimedia masa,

dapat dilihat salah satu tugas KPK menurut Undang – Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang

KPK, yakni memonitoring penyelenggaraan pemerintah Negara (Pasal 6 huruf e). KPK

melakukan kajian terhadap sistem diberbagai lembaga, diantaranya kajian atas sistem

pelayanan pertanahan di Bidang Pertanahan Nasional, perizinan investasi di BKPM,

pelayanan keimigrasian, administrasi impor di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, pelayanan

perpajakan di Direktorat Jenderal Pajak, pengolahan dikantor pelayanan dan bendaharawan

Negara, pelayanan dan implementasi e-announcement terhadap kontrak - kontrak badan

rehabilitasi dan rekonstruksi Ngangroe Aceh Darussalam dan Nias (pasca-tsunami desember

2004).

Sistematika Fosa Dan Cosa

Langkah pertama adalah mengumpulkan materi untuk menilai adanya potensi atau resiko

fraud dalam system dari entitas yang dikaji. Perlatan FOSA yang dapat dipergunakan :

7
1. Memahami entitas dengan baik

2. Segitiga fraud

3. Wawancara, bukan introgasi

4. Kuesioner, ditindak lanjuti dengan substansiasi

5. Observasi lapangan

6. Sampling dan timing

7. Titik lemah dalam sistem pengadaan barang dan jasa

8. Profiling

9. Analisis data

Potensi fraud dalam sistem dari entitas yang bersangkutan dapat dilihat pada:

1. Kelemahan sistem dan kepatuhan

2. Entitas sering kali menyajikan pihak – pihak yang disebutnya stakeholders

FOSA mendapatkan informasi melalui berbagai sumber :

1. Entitas yang bersangkutan seharusnya merupakan sumber penting

2. Pressure group seperti media dan Lembaga Swadaya Masyarakat merupakan sumber

informasi penting

3. Whistleblowers merupakan sumber yang memberikan warna lain dalam pengumpulan

materi untuk mengidentifikasikan potensi dan resiko fraud

4. Masyarakat sering kali berani melaporkan ketidakberesan dalam suatu entitas

5. Google atau search engine lainnya

Langkah kedua dalam FOSA adalah menganalisis dan menyimpulkan berbagai informasi

yang diperoleh dalam langkah pertama. Pelaksana FOSA mnggabungkan berbagai analisis

8
tentang potensi atau resiko fraud yang satu sama lain mungkin tidak sejalan, dan ada

kesenjangan. Pelaksanaan FOSA melakukan analisis kesenjangan untuk mengetahui

mengapa satu analisis berbeda dari analisis yang lain, termasuk tanggapan yang diberikan

entitas terhadap kesimpulan sementara. Analisis dalam langkah kedua dan khususnya analisis

kesenjangan mendorong terjadinya proses chek and recheck pada akhir langkah kedua. Hal

ini dapat dilihat dari lingkaran umpan balik (feedback loop)

9
10
DAFTAR PUSTAKA

Tuanakotta, Theodorus M. 2012. Akuntansi Forensik & Audit Investigatif. Jakarta: Salemba

Empat.

11