Anda di halaman 1dari 416

MODUL PRAKTIK

KKPMT 5
Semester 5

Materi:

 Klasifikasi dan kodefikasi terkait penyakit


 infeksi dan parasitik

 Klasifikasi dan kodefikasi terkait cidera,


 keracunan dan konsekuensi lain

  Klasifikasi dan kodefikasi penyebab luar

  Morbidity coding

  Mortality coding

 Kasus dan soal-soal latihan


Penyusun

Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan


Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
IDENTITAS MAHASISWA PEMILIK MODUL PRAKTIK KKPMT

Nama : ............................................. Laki-laki / Perempuan *)

NIM : .............................................

Tempat, Tanggal lahir : .............................................

Alamat : .............................................

............................................. Telepon .........................

Semester / TA : .......... / ................................

Kelas : .............................................

Pengampu : .............................................

*) coret yang tidak perlu

Pas Foto

Tanda tangan

......................................
i
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah swt, Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan Modul
Praktik KKPMT 5. Kami berharap kegiatan praktik yang merupakan pelaksanaan
dari materi yang sudah diperoleh di kelas dapat melengkapi dan meningkatkan
keterampilan mahasiswa dalam melaksanakan tugas dan fungsi ketika bekerja di
instalasi rekam medis.

Kami berterima kasih kepada Ketua Jurusan Rekam Medis dan Informasi
Kesehatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang yang sudah memberi
kesempatan kepada kami untuk menyusun modul praktik ini dan juga semua
pihak yang telah memberi dukungan dan semangat dalam menyelesaikan
penyusunan modul praktik ini.

Kami menyadari jika dalam penyusunan modul praktik ini masih terdapat
ketidaksempurnaan, oleh karena itu saran dan masukan dari Anda yang bersifat
membangun agar modul praktik ini menjadi lebih baik sangat kami harapkan.

Semarang, Agustus 2019

Penyusun
ii
TATA TERTIB MAHASISWA PRAKTIK

Mahasiwa yang sedang melaksanakan praktik harus memenuhi tata tertib


sebagai berikut:

1. Mahasiswa melaksanakan praktik sesuai jadwal praktik dan pembagian


kelompok praktik yang telah ditentukan.

2. Mahasiswa melaksanakan praktik dalam total jumlah pertemuan sebanyak


14 kali pertemuan.

3. Mahasiswa wajib menghadiri dan melaksanakan praktik untuk dapat mengisi


daftar hadir praktik.

4. Mahasiswa yang tidak menghadiri dan melaksanakan praktik lebih dari 3 kali
pertemuan tanpa keterangan resmi, maka tidak berhak mengikuti responsi
praktik.

5. Mahasiswa melaksanakan kegiatan responsi praktik sebanyak 2 kali, yakni


pada pertemuan ke-7 dan ke-14.

6. Mahasiswa diizinkan untuk mengikuti praktik di luar kelompok yang telah


dibagikan untuknya (mengikuti praktik di kelompok lain) dengan beberapa
ketentuan sebagai berikut:

a. Mahasiswa mengalami ketertinggalan pertemuan kegiatan praktik


dengan alasan yang logis.

b. Mahasiswa yang ingin menambah porsi pertemuan praktik secara suka


rela.

c. Mahasiswa yang mengalami ketertinggalan pertemuan kegiatan praktik


pada pertemuan tertentu hanya bisa mengikuti praktik di kelompok lain
yang belum melaksanakan pertemuan tertentu tersebut.

d. Mahasiswa yang ingin menambah porsi pertemuan praktik secara suka


rela diperbolehkan mengikuti praktik di kelompok lain manapun.

e. Mahasiswa wajib mendapatkan izin dari kedua pengampu praktik


(pengampu praktik kelompok asal dan pengampu praktik kelompok
tujuan) atas alasan kepindahan pelaksanaan praktiknya.
f. Mahasiswa menandatangi daftar hadir praktik sesuai dengan kelompok
yang telah dibagikan untuknya, bukan pada kelompok praktik lainnya.

iii
7. Mahasiswa wajib melakukan pemenuhan jumlah pertemuan praktik yang
kurang dari 75% dari total jumlah pertemuan dengan cara menghubungi
pengampu kelompoknya untuk diberikan tugas pengganti atau
menyesuaikan kebijaksanaan dari pengampu kelompoknya.

8. Mahasiswa yang tidak muncul nilai praktiknya karena kesalahan sendiri


(tidak memeriksa kesesuaian kartu ujian dengan KRS) tidak diberi toleransi.

9. Mahasiswa berpakaian seragam, rapi dan


sopan: Untuk mahasiswa laki-laki:

a. Seragam menyesuaikan dengan hari praktik dengan atribut lengkap,

b. Bersepatu,

c. Tidak memakai atribut tambahan di luar atribut seragam.

a. Seragam menyesuaikan dengan hari praktik dengan atribut lengkap


(tidak ketat dan/atau transparan),

b. Bersepatu,

c. Tidak memakai atribut tambahan di luar atribut seragam.

10. Mahasiswa tidak diperbolehkan merokok, makan dan minum pada saat
praktik berlangsung.

11. Mahasiswa peserta praktik bertanggung jawab atas barang berharga milik
pribadi.

12. Mahasiswa mematikan atau mengatur nada dering handphone atau gadget
lainnya ke dalam mode diam (silent) sebelum praktik dimulai.

13. Mahasiswa wajib menjaga kebersihan, ketertiban dan ketenangan belajar.

14. Mahasiswa yang melanggar tata tertib praktik akan dicatat, diberikan sanksi
atau diberikan tindakan seperlunya oleh pengampu praktik dalam rangka
mewujudkan ketertiban.
iv
MODUL 1
Deskripsi:

Modul ini merupakan bagian dari kegiatan praktik untuk Mata Kuliah
Praktik KKPMT 5 yang terdiri atas 16 (enam belas) modul. Materi yang terdapat
pada Modul 1 meliputi: pengantar dan kekhususan terkait penyakit infeksi dan
parasit.

Dengan adanya modul ini, kami berharap dapat mendekatkan,


melengkapi dan menambah keterampilan mahasiswa dalam bidang rekam medis
baik secara teoritis maupun praktis.
MATERI 1

Pengantar Terminologi Medis dan Struktur ICD-10

Terkait Penyakit Infeksi dan Parasit

Kompetensi:

Mahasiswa mampu menjelaskan terminologi medis dan mendeskripsikan struktur


ICD-10 terkait penyakit infeksi dan parasit.

Maksud dan tujuan:

1. Mahasiswa mengerti dan memahami terminologi medis terkait penyakit


infeksi dan parasit.

2. Mahasiswa mengerti dan memahami struktur ICD-10 terkait penyakit infeksi


dan parasit.

Landasan teori:

Infectious disease adalah penyakit akibat mikroorganisme patogen, agen


penyebab penyakit mungkin bakteri, virus, fungus, atau parasit hewan, dan dapat
ditularkan dari pejamu lain atau microflora asli pejamu itu sendiri (W. A. Newman
Dorland, 2002). Selain infeksi, dalam sebuah pengamatan setiap makhluk hidup
ternyata terbentuk suatu organisme atau parasit pada tubuhnya, para ahli medis
juga telah membentuk daftar klasifikasi parasit yang terdapat pada organ
manusia. Dari beberapa jenis macam parasit itu dapat menyebabkan penyakit
parasitik pada manusia.

Penyakit terbagi menjadi dua berdasarkan penularannya:

1. Penyakit menular

Contoh: TBC, HIV, Hepatitis, dan sebagainya

2. Penyakit tidak menular


Contoh: sakit perut, luka benturan, DM, dan sebagainya

Jenis penularan penyakit menular:

1. Langsung dari orang ke orang

2. Media udara

3. Media air

4. Media agen penyakit

1
Infection adalah invasi dan pembiakan mikroorganisme di jaringan tubuh, secara
klinis mungkin tak tampak atau timbul cidera selular lokal akibat kompetisi
metabolisme, toksin, replikasi intrasel, atau respon antigen-antibodi. Secara
umum infeksi terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu:

1. Infeksi yang terjadi karena terpapar oleh antigen dari luar tubuh

2. Infeksi yang terjadi karena difusi cairan tubuh atau jaringan

Contoh: virus HIV, karena virus tersebut tidak dapat hidup di luar tubuh.

Agen penyebab penyakit infeksi antara lain:

1. Bakteri

Merupakan organisme yang memiliki satu sel. Salah satu cara bakteri untuk
menginfeksi tubuh adalah dengan mengeluarkan toksin (racun) yang dapat
merusak jaringan tubuh. Bakteri dapat menyebabkan infeksi tenggorokan,
infeksi saluran pencernaan, infeksi pernapasan (seperti TBC), infeksi
saluram kemih, hingga infeksi genital.

Terdapat empat kelompok bakteri yang dapat diklasifikasikan berdasarkan


bentuknya: bacilli, cocci, spirocietes, dan vibrio

a. Bacilli berbentuk batang dengan panjang sekitar 0,03 mm. Penyakit yang
biasanya disebabkan oleh bakteri berbentuk bacilli antara lain tifoid dan
sistitis.

b. Cocci berbentuk bulatan dengan diameter sekitar 0,001 mm. Bakteri


berbentuk cocci biasanya membentuk kelompok-kelompok seperti
berpasangan, membentuk garis panjang, atau berkumpul seperti anggur.
Penyakit yang biasanya disebabkan oleh bakteri berbentuk cocci antara
lain infeksi staphilococcus dan gonorrhea.

c. Spirochaetes berbentuk seperti spiral. Bakteri ini menyebabkan penyakit


siphyllis.

d. Vibrio berbentuk seperti koma, bakteri ini menyebabkan penyakit


cholera.

2. Virus
Virus berukuran lebih kecil dari bakteri dan membutuhkan host, seperti manusia,
tumbuhan, atau hewan, untuk bermultiplikasi. Saat virus masuk ke dalam tubuh,
biasanya ia menginvasi sel tubuh yang normal dan mengambil alih sel untuk
memproduksi virus lainnya. Virus dapat menyebabkan penyakit

2
yang paling ringan seperti common cold hingga yang sangat berat seperti
AIDS.

Seperti bakteri, terdapat berbagai bentuk virus yang dapat menyebabkan


berbagai penyakit. Bentuk-bentuk virus tersebut antara lain:

a. Icosahedral: lapisan luarnya terdiri atas 20 sisi datar yang memberikan


bentuk seperti bola. Icosahedral merupakan bentuk yang dimiliki oleh
kebanyakan virus.

b. Helical: lapisan luarnya membentuk seperti batang

c. Enveloped: lapisan luarnya terbungkus oleh membran yang longgar,


yang dapat berubah-ubah bentuk namun biasanya sering terlihat seperti
bola.

d. Kompleks: tidak memiliki lapisan luar, tapi intinya terlapisi.

3. Jamur

Jamur merupakan organisme primitif yang dapat hidup di udara, tanah,


tanaman, atau di dalam air. Beberapa jamur juga tubuh di dalam tubuh
manusia. Infeksi jamur biasanya tidak berbahaya, namun beberapa dapat
mengancam kehidupan. Jamur merupakan penyebab penyakit kulit.
Penyakit lain yang disebabkan oleh jamur antara lain infeksi di paru-paru
dan sistem saraf. Jamur dapat menyebar jika seseorang menghirup spora
atau menempel langsung di kulit. Seseorang juga akan lebih mudah terkena
jamur jika sistem imunnya sedang lemah atau sedang meminum antibiotik.

4. Parasit

Parasit merupakan mikroorganisme yang membutuhkan organisme atau


host lainnya untuk bertahan. Beberapa parasit tidak mempengaruhi host
yang ia tinggali, sedangkan beberapa lainnya mengalami pertumbuhan,
reproduksi, dan bahkan mengeluarkan toksin yang menyebabkan host
mengalami infeksi parasit.

Infeksi parasit disebabkan oleh tiga jenis organisme: protozoa, helminth


(cacing), dan ektoparasit. Macam organisme tersebut antara lain:

a. Protozoa merupakan organisme yang hanya mempunyai satu sel yang


dapat hidup dan bermultiplikasi di dalam tubuh manusia. Infeksi yang
disebabkan oleh protozoa antara lain giardiasis, yaitu infeksi pencernaan
yang dapat terjadi akibat meminum air yang terinfeksi oleh protozoa.

3
b. Helminth merupakan organisme yang memiliki banyak sel (multi sel)
yang biasanya dikenal dengan nama cacing. Terdapat berbagai jenis
cacing yang dapat menginfeksi manusia, seperti flatworm, tapeworm,
ringworm, dan roundworm.

c. Ektoparasit merupakan organisme yang juga memiliki banyak sel yang


biasanya hidup atau makan dari kulit manusia, seperti nyamuk, lalat,
kutu, tungau.

Daftar pustaka:

W. A. Newman Dorland. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta: EGC


http://www.kerjanya.net/faq/12111-infeksi.html, diakses pada tanggal 25 Agustus
2015 pukul 15.00 WIB.

WHO. 2010. International Statistical Classification of Diseases and Related


Health Problem 10th Revision. WHO: Geneva.
4
KASUS/LATIHAN 1

Terminologi Medis terkait Penyakit Infeksi dan Parasit

Alat dan bahan praktikum:

1. Modul Praktikum KKPMT 5

2. Kamus Kedokteran

3. Kamus Bahasa Inggris

4. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

5. ATK

Kegiatan praktikum:

1. Mahasiswa menuliskan arti dari daftar terminologi medis yang berkaitan


dengan penyakit infeksi dan parasit pada lembar kerja yang tersedia.

2. Mahasiswa dengan dipandu oleh pengampu melakukan diskusi dan


pembahasan untuk mendapatkan jawaban yang benar.

Terminologi yang berkaitan dengan penyakit infeksi dan parasit:

1. Cholera =

2. Typhoid fever =

3. Shigellosis =

4. Amoebiasis =

5. Dysenteri =

6. Diarrhoea =

7. GEA =
8. Tuberculosis =

9. Plague =

5
10. Tularaemia =

11. Anthrax =

12. Brucellosis =

13. Glanders =

14. Leptospirosis =

15. Leprosy =

16. Tetanus =

17. Diphteria =

18. Scarlet Fever =

19. Actinomycosis =

20. Singapore Fever =

21. Syphilis =

22. Gonoccocal infection =

23. Streptococcal infection =

24. Chlamydial infection =

25. Trichomoniasis =

26. Q Fever =

27. Polio =
6
28. Rabies =

29. Dengue Fever =

30. Chikungunya =

31. Ebola =

32. Eczema =

33. Chickenpox =

34. Herpes Zoster =

35. Smallpox =

36. Measles =

37. Rubella =

38. Hepatitis =

39. HIV =

40. Cytomegaloviral =

41. Mumps =

42. Tinea =

43. Pityriasis =

44. Candidiasis =

45. Aspergillosis =
7
46. Malaria =

47. Plasmodium =

48. Filariasis =

49. Ascariasis =

50. Helminthiasis =

51. Scabies =

52. Gonorrhea (GO) =

53. HFMD =

54. Morbili =

55. Asthenia =

56. Malaise =

57. Enteritis =

58. Colitis =

59. Nocardiosis =

60. Bartonellosis =

61. Erysipelas =

62. Legionnaire’s disease =

63. Pontiac Fever =


8
64. Chancroid =

65. Yaws =

66. Trachoma =

67. Dermatophytosis =

68. Histoplasmosis =

69. Coccidioidomycosis=

70. Zygomycosis=

Cari sinonim istilah medis di bawah ini dengan cara mencocokkan kedua kotak di
bawah ini!

1. Lepra A. Bilharziasis

2. Febris B. Campak

3. Cephalgia C. Chickenpox

4. Varicella D. Convulsion

5. Rubella E. Emesis

6. Morbili F. Fever

7. Mumps G. Fifth disease

8. Schistosomiasis H. Gejala sisa

9. Exanthema Subitum I. German measles

10. Erythema Infectiosum J. Gondong

11. Tinea K. Hansen’s disease

12. Seizure L. Headache

13. Vomitus M. Mual


14. Sequelae N. Ringworm

15. Nausea O. Sixth disease

9
Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
10
MODUL 2
Deskripsi:

Modul ini merupakan bagian dari kegiatan praktik untuk Mata Kuliah
Praktik KKPMT 5 yang terdiri atas 16 (enam belas) modul. Materi yang terdapat
pada Modul 2 meliputi: klasifikasi penyakit dan masalah terkait penyakit infeksi
dan parasit.

Dengan adanya modul ini, kami berharap dapat mendekatkan,


melengkapi dan menambah keterampilan mahasiswa dalam bidang rekam medis
baik secara teoritis maupun praktis.
11
MATERI 2

Klasifikasi dan Kodefikasi Penyakit dan Masalah Terkait

Penyakit Infeksi dan Parasit

Kompetensi:

Mahasiswa mampu menentukan leadterm dam kode diagnosis serta tindakan


medis terkait penyakit infeksi dan parasit sesuai dengan ICD-10 dan ICD-9-CM
secara akurat.

Maksud dan tujuan:

1. Mahasiswa mengerti dan memahami leadterm yang digunakan untuk


menentukan kode diagnosis dan tindakan medis terkait penyakit infeksi dan
parasit.

2. Mahasiswa mengerti dan memahami tata cara penentuan kode diagnosis


dan tindakan terkait penyakit infeksi dan parasit sesuai ICD-10 dan ICD-9-
CM secara akurat.

Landasan teori:

Menurut Yudhityarasati (2007), secara umum tanda-tanda infeksi adalah sebagai


berikut:

1. Panas

Daerah peradangan pada kulit menjadi lebih panas dari sekelilingnya, sebab
terdapat lebih banyak darah yang disalurkan ke area terkena infeksi.

2. Rasa sakit

Rasa sakit dapat ditimbulkan oleh perubahan pH lokal atau konsentrasi lokal
ion-ion tertentu dapat merangsang ujung saraf. Pengeluaran zat kimia
tertentu seperti histamin atau zat kimia bioaktif lainnya dapat merangsang
saraf nyeri, selain itu pembengkakan jaringan yang meradang
mengakibatkan peningkatan tekanan lokal dan menimbulkan rasa sakit.

3. Kemerahan

Merupakan hal pertama yang terlihat di daerah yang mengalami peradangan


di mana arteriol yang mensuplai darah tersebut melebar sehingga banyak
darah yang mengalir ke dalam mikro sirkulasi lokal. Kapiler yang kosong
atau sebagian meregang dengan cepat penuh terisi darah.

12
4. Pembengkakan

Pembengkakan ditimbulkan karena pengiriman cairan dan sel-sel dari


sirkulasi darah ke jaringan interstitial.

5. Functiolaesa

Adanya perubahan fungsi secara superficial bagian yang bengkak dan sakit
disertai sirkulasi dan lingkungan kimiawi lokal yang abnormal, sehingga
organ tersebut terganggu dalam menjalankan fungsinya secara normal.

Berikut ini adalah beberapa gejala yang timbul berdasarkan penyebabnya:

1. Bakteri

Gejala yang ditimbulkan oleh infeksi bakteri bervariasi tergantung bagian


tubuh yang diinfeksi. Namun, gejala paling umum adalah demam. Jika
seseorang terkena infeksi bakteri di tenggorokan, maka ia akan merasakan
nyeri tenggorokan, batuk, dan sebagainya. Jika mengalami infeksi bakteri di
pencernaan, maka ia akan merasakan gangguan pencernaan, seperi diare,
konstipasi, mual atau muntah. Dan jika mengalami infeksi pada saluran
kemih, maka ia akan merasakan keinginan buang air kecil yang terus
menerus, buang air kecil yang tidak puas, atau bahkan nyeri saat buang air
kecil.

2. Virus

Gejala yang ditimbulkan oleh infeksi tergantung tipe virus, bagian tubuh yang
terinfeksi, usia dan riwayat penyakit pasien, serta faktor lainnya. Gejala dari
infeksi virus dapat memengaruhi hampir seluruh bagian tubuh. Gejala yang
biasanya ditimbulkan antara lain gejala seperti flu (demam, mudah lelah,
nyeri tenggorokan, nyeri kepala, batuk, pegal-pegal, dan sebagainya),
gangguan pencernaan (diare, mual, muntah, dan sebagainya), rash
(kemerahan kulit), bersin-bersin, malaise, hidung berair dan tersumbat,
pembesaran kelenjar getah bening (KGB), pembengkakan tonsil, atau
bahkan turunnya berat badan.

3. Jamur

Kebanyakan jamur menginfeksi kulit, meskipun terdapat bagian tubuh lain


yang dapat terinfeksi seperti paru-paru dan otak. Gejala infeksi kulit yang
disebabkan oleh jamur antara lain, gatal, kemerahan, kadang terdapat rasa
terbakar, kulit bersisik, dan sebagainya. Gejala lainnya tergantung dari
tempat yang terinfeksi.

13
4. Parasit

Kebanyakan dari infeksi parasit menyebabkan gejala pencernaan. Gejala


spesifik berdasarkan jenis infeksinya antara lain:

a. Malaria: penyakit yang disebabkan oleh plasmodium dan diperantarai


oleh nyamuk. Gejala yang sering muncul antara lain demam, menggigil,
dan penyakit seperti flu.

b. Trichomoniasis: penyakit yang disebabkan oleh hubungan seksual.


Gejala yang sering muncul antara lain gatal, kemerahan, iritasi, atau
cairan tidak wajar yang terdapat di area genital.

c. Giardiasis: infeksi saluran pencernaan. Gejala yang sering muncul


antara lain diare, gas, gangguan lambung, feces berlendir, dan dehidrasi.

d. Toksoplasmosis: gejala yang sering muncul seperti flu, kelenjar getah


bening yang membengkak dan nyeri, nyeri otot yang berlangsung

selama lebih dari sebulan.

Kekhususan faktor-faktor yang berkaitan dengan status kesehatan dan kontak


dengan pelayanan kesehatan terbagi menjadi beberapa blok (WHO, 2010):

1. Pengunjung-pengunjung pelayanan kesehatan untuk pemeriksaan dan


investigasi.

Contoh: pemeriksaan kecurigaan adanya tuberculosis

2. Orang-orang dengan status kesehatan berresiko potensial terkena penyakit


menular.

Contoh: kontak dan terpapar dengan pasien tuberculosis

3. Orang-orang potensial berresiko kesehatan terkait riwayat keluarga dan


pribadi, serta kondisi-kondisi tertentu yang berpengaruh terhadap status
kesehatannya.

Contoh: ayah mempunyai riwayat terkena hepatitis

Daftar pustaka:
WHO. 2010. International Statistical Classification of Diseases and Related
Health Problem 10th Revision. WHO: Geneva.
www.scribd.com/doc/99530114/konsep-ILO#scribd, diakses pada tanggal 25
Agustus 2015 pukul 15.00 WIB.

14
KASUS/LATIHAN 2

Mengkode Gejala terkait Penyakit Infeksi dan Parasit (1)

Alat dan bahan praktikum:

1. Modul Praktikum KKPMT 5

2. ICD-10 Volume 1, 2, dan 3

3. Kamus Kedokteran

4. Kamus Bahasa Inggris

5. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

6. ATK

Kegiatan praktikum:

1. Mahasiswa mengerjakan soal di lembar kerja yang telah disediakan dengan


cara menentukan leadterm, kode diagnosis, dan halaman dimana kode
tersebut ditemukan.

2. Mahasiswa dengan pengampu melakukan diskusi dan pembahasan atas


soal yang telah dikerjakan untuk mendapatkan jawaban yang benar.
KODE
No. NAMA GEJALA/MASALAH LEAD TERM Hal.
ICD-10

1. Bersin-bersin

2. Adanya cairan di dalam

rongga perut

3. Demam disertai dengan

kejang

4. Cegukan
5. Batuk disertai darah

6. Kesulitan dalam menelan

7. Demam sampai kaku

15
8. Kelainan warna dahak

9. Demam yang terus menerus

10. Kulit bersisik

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
16
KASUS/LATIHAN 3

Mengkode Gejala terkait Penyakit Infeksi dan Parasit (2)

Alat dan bahan praktikum:

1. Modul Praktikum KKPMT 5

2. ICD-10 Volume 1, 2, dan 3

3. Kamus Kedokteran

4. Kamus Bahasa Inggris

5. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

6. ATK

Kegiatan praktikum:

1. Mahasiswa mengerjakan soal di lembar kerja yang telah disediakan dengan


cara menentukan leadterm, kode diagnosis, dan halaman dimana kode
tersebut ditemukan.

2. Mahasiswa dengan pengampu melakukan diskusi dan pembahasan atas


soal yang telah dikerjakan untuk mendapatkan jawaban yang benar.
KODE
No. NAMA GEJALA/MASALAH LEAD TERM Hal.
ICD-10

1. Kulit merah dan terasa panas

2. Kulit pucat

3. Lemas lesu

4. Mimisan
5. Mual dan muntah

6. Suspek tuberkulosis

7. Screening penyakit infeksi

menular seksual

17
8. Kontak dengan rabies

9. Kontak dengan hepatitis viral

10. Carrier sifilis

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
18
KASUS/LATIHAN 4

Mengkode Gejala terkait Penyakit Infeksi dan Parasit (3)

Alat dan bahan praktikum:

1. Modul Praktikum KKPMT 5

2. ICD-10 Volume 1, 2, dan 3

3. Kamus Kedokteran

4. Kamus Bahasa Inggris

5. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

6. ATK

Kegiatan praktikum:

1. Mahasiswa mengerjakan soal di lembar kerja yang telah disediakan dengan


cara menentukan leadterm, kode diagnosis, dan halaman dimana kode
tersebut ditemukan.

2. Mahasiswa dengan pengampu melakukan diskusi dan pembahasan atas


soal yang telah dikerjakan untuk mendapatkan jawaban yang benar.
KODE
No. NAMA GEJALA/MASALAH LEAD TERM Hal.
ICD-10

1. Imunisasi MMR

2. Imunisasi DPT dan polio

3. Imunisasi BCG

4. Tidak melakukan imunisasi


5. Isolasi pasien karena penyakit

menular

6. Riwayat keluarga terkena HIV

7. Riwayat terkena tuberculosis

19
8. Riwayat keluarga ada yang
terkena hepatitis

9. Suspek campak

10. Carrier hepatitis B

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
20
MODUL 3
Deskripsi:

Modul ini merupakan bagian dari kegiatan praktik untuk Mata Kuliah
Praktik KKPMT 5 yang terdiri atas 16 (enam belas) modul. Materi yang terdapat
pada Modul 3 meliputi: klasifikasi penyakit dan masalah terkait penyakit infeksi
dan parasit.

Dengan adanya modul ini, kami berharap dapat mendekatkan,


melengkapi dan menambah keterampilan mahasiswa dalam bidang rekam medis
baik secara teoritis maupun praktis.
21
MATERI 3

Klasifikasi dan Kodefikasi Penyakit dan Masalah Terkait Penyakit

Infeksi dan Parasit

Kompetensi:

Mahasiswa mampu menentukan leadterm dan kode diagnosis terkait Bab I


(penyakit infeksi dan parasit) sesuai dengan ICD-10 secara akurat.

Maksud dan tujuan:

1. Mahasiswa mengerti dan memahami kekhususan terkait Bab I tentang


penyakit infeksi dan parasit.

2. Mahasiswa mengerti dan memahami struktur ICD-10 Bab I tentang penyakit


infeksi dan parasit.

Landasan teori:

Infeksi adalah infasi dan pembiakan microorganisme di jaringan tubuh, secara


klinis mungkin tak tampak atau timbul cedera seluler lokal akibat kompetisi
metabolisme, toksin, replikasi intrasel, atau respon antigen-antibodi (W. A.
Newman Dorland, 2002). Di dalam ICD-10 penyakit infeksi dan parasitik
dikelompokkan dalam Bab I, yang terbagi menjadi 21 blok (WHO, 2010).

A00-A09 Penyakit infeksi usus


A15-A19 Tuberkulosis (TB)
A20-A28 Penyakit bakterial tertentu yang ditularkan melalui hewan

perantara
A30-A49 Penyakit bakterial lain-lain
A50-A64 Penyakit infeksi yang ditularkan utama melalui hubungan seksual
A65-A69 Penyakit spirochaetal lain
A70-A74 Penyakit lain yang disebabkan oleh chlamydia
A75-A79 Rickettsioses
A80-A89 Penyakit infeksi viral susunan saraf pusat
A90-A99 Demam yang ditularkan melalui serangga dan demam berdarah

viral
B00-B09 Infeksi viral dengan gejala khas pada kulit dan lesi pada selaput

mukosa

22
B15-B19 Hepatitis viral
B20-B24 Penyakit defisiensi imunitas akibat virus [HIV]
B25-B34 Penyakit viral lain
B35-B49 Mikoses (penyakit jamur)
B50-B64 Penyakit protozoal
B65-B83 Penyakit cacingan
B85-B89 Pediculosis (kutu kepala), acariasis (cacing perut) dan infestasi

lain-lain
B90-B94 Sequelae (gejala sisa) penyakit infeksi dan parasitik
B95-B97 Bakteri, virus dan agen-agen infeksi lain-lian
B99 Penyakit infeksi lain-lain

Dalam memberikan kode pada Bab I ICD-10, harus memperhatikan beberapa


catatan, seperti:

1. Penyakit-penyakit yang dikenal dapat menular atau ditularkan, dapat


menyerang pada masyarakat luar termasuk dalam penyakit infeksi dan
parasitik

2. Yang tidak termasuk dalam bab ini adalah:

a. Carrier atau diduga carrier penyakit-penyakit infeksi (Z22.-)

b. Penyakit infeksi tertentu (lihat di bab-bab terkait sistem organ tubuh)

c. Penyakit infeksi dan parasitik yang meimbulkan komplikasi pada


kehamilan, persalinan, dan nifas (kecuali tetanus obstetrik dan penyakit
HIV) (O98.-)

d. Penyakit infeksi dan parasitik khusus pada masa perinatal (kecuali


tetanus neonatorum, sifilis kongenital, infeksi GO perinatal dan penyakit
HIV perinatal) (P35 – P39)

e. Influenza dan infeksi saluran napas akut (J00 – J22)

Daftar pustaka:

W. A. Newman Dorland. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta: EGC


WHO. 2010. International Statistical Classification of Diseases and Related
Health Problem 10th Revision. WHO: Geneva. Materi presentasi DPD PORMIKI
DIY

23
KASUS/LATIHAN 5

Diagnosis terkait Penyakit Infeksi dan Parasitik

Alat dan bahan praktikum:

1. Modul Praktikum KKPMT 5

2. Kamus Kedokteran

3. Kamus Bahasa Inggris

4. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

5. ATK

Kegiatan praktikum:

1. Mahasiswa mengerjakan soal di lembar kerja yang telah disediakan dengan


cara menentukan leadterm, kode diagnosis, dan halaman dimana kode
tersebut ditemukan.

2. Mahasiswa dengan dipandu oleh pengampu melakukan diskusi dan


pembahasan untuk mendapatkan jawaban yang benar.

KODE
No. DIAGNOSIS/MASALAH LEAD TERM Hal.
ICD-10

1. GE karena E. Coli

2. TB tulang punggung thorakal

3. Sifilis dengan kebotakan

4. Infeksi gonokokal sendi jari


5. Penyakit pes

6. Konjunctivitis karena virus

7. Infeksi virus corona

24
8. Kutil kelamin

9. Demam yang sering kambuh

10. Infeksi cacing setelah


makan daging sapi

11. HFMD

12. Anemia pada penambang


karena cacing tambang

13. Malaria mix malariae dan vivax


dengan rupture pankreas

14. Streptokokal sphenoid


sinusitis akut

15. ISK oleh E. Coli

16. Toxoplasmosis yang


membahayakan kehamilan

17. Sariawan dengan gangrene

18. Adanya jamur di dalam darah

19. Kaki madura mikotik

20. Infeksi CMV

21. Herpes zooster yang


menyebar

22. Keputihan karena trichomonas


23. Radang telinga pada campak

24. Batuk rejan

25
25. Pneumonia pada Q fever

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
26
MODUL 4
Deskripsi:

Modul ini merupakan bagian dari kegiatan praktik untuk Mata Kuliah
Praktik KKPMT 5 yang terdiri atas 16 (enam belas) modul. Materi yang terdapat
pada Modul 4 meliputi: klasifikasi penyakit dan masalah terkait penyakit infeksi
dan parasit.

Dengan adanya modul ini, kami berharap dapat mendekatkan,


melengkapi dan menambah keterampilan mahasiswa dalam bidang rekam medis
baik secara teoritis maupun praktis.
27
MATERI 4

Klasifikasi dan Kodefikasi Penyakit dan Masalah Terkait Penyakit

Infeksi dan Parasit

Kompetensi:

Mahasiswa mampu menentukan leadterm dan kode tindakan terkait Bab I


(penyakit infeksi dan parasit) sesuai dengan ICD-9-CM secara akurat.

Maksud dan tujuan:

1. Mahasiswa mengerti dan memahami kekhususan terkait Bab I tentang


penyakit infeksi dan parasit.

2. Mahasiswa mengerti dan memahami struktur ICD-9-CM tentang penyakit


infeksi dan parasit.

Landasan teori:

Prosedur atau tindakan merupakan rangkaian tahapan untuk mencapai hasil


yang diinginkan (W. A. Newman Dorland, 2002), orang sering menyebut
prosedur atau tindakan dengan sebutan operasi. Operasi adalah setiap tindakan
yang dilakukan dengan alat atau dengan tangan seorang ahli bedah.

International Classification of Disease 9th Revision Clinical Modification (ICD-9-


CM) adalah sistem klasifikasi penyakit internasional revisi kesembilan dengan
modifikasi untuk keperluan klinis. ICD-9-CM dirancang sebagai klasifikasi untuk
berbagai prosedur atau tindakan medis. Struktur ICD-9-CM terdiri atas 3 volume,
yaitu: volume 1 (Tabular list), volume 2 (alphabetical index), volume 3
(prosedur/tindakan)

Dalam ICD-9-CM terdapat 16 chapter, yaitu:

1. Operasi pada sistem saraf

2. Operasi pada sistem endokrin


3. Operasi pada mata

4. Operasi pada telinga

5. Operasi pada hidung, mulit dan pharynx

6. Operasi pada sistem saluran pernapasan

7. Operasi pada sistem kardiovaskular

8. Operasi pada sistem hemic dan limfatik

28
9. Operasi pada sistem pencernaan

10. Operasi pada sistem saluran kemih

11. Operasi pada organ genital laki-laki

12. Operasi pada organ genital perempuan

13. Obstetri prosedur

14. Operasi pada sistem muskuloskletal

15. Operasi pada integumentum

16. Diagnostik miscellaneous dan prosedur terapetik

Daftar pustaka:

W. A. Newman Dorland. 2002. Kamus Kedoteran Dorland. Jakarta: EGC

WHO. 2010. International Statistical Classification of Diseases and Related


Health Problem 10th Revision. WHO: Geneva. Materi presentasi DPD PORMIKI
DIY
29
KASUS/LATIHAN 6

Mengkode Tindakan Medis terkait Penyakit Infeksi dan Parasitik (1)

Alat dan bahan praktikum:

1. Modul Praktikum KKPMT 5

2. ICD-10 Volume 1, 2, dan 3

3. Kamus Kedokteran

4. Kamus Bahasa Inggris

5. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

6. ATK

Kegiatan praktikum:

1. Mahasiswa mengerjakan soal di lembar kerja yang telah disediakan dengan


cara menentukan leadterm, kode tindakan, dan halaman dimana kode
tersebut ditemukan.

2. Mahasiswa dengan pengampu melakukan diskusi dan pembahasan atas


soal yang telah dikerjakan untuk mendapatkan jawaban yang benar.
KODE
No. NAMA TINDAKAN LEAD TERM Hal.
ICD-9-CM

1. Vaksinasi untuk mencegah

influenza

2. Isolasi setelah kontak dengan

penyakit infeksi

3. Vaksinasi untuk rubella

4. Rutin chest x-ray


5. Vaksinasi untuk cholera

6. CAT scan of thorax

7. Vaskinasi untuk plague

30
8. Pemberian antitoksin tetanus

9. Vaksinasi untuk mencegah


tuberculosis

10. Vaksinasi untuk yellow fever

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
31
KASUS/LATIHAN 7

Mengkode Diagnosis dan Tindakan Medis terkait

Penyakit Infeksi dan Parasit (2)

Alat dan bahan praktikum:

1. Modul Praktikum KKPMT 5

2. ICD-10 Volume 1, 2, dan 3

3. Kamus Kedokteran

4. Kamus Bahasa Inggris

5. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

6. ATK

Kegiatan praktikum:

1. Mahasiswa mengerjakan soal di lembar kerja yang telah disediakan dengan


cara menganalisis kasus-kasus berikut ini, kemudian berikan kode ICD-10
dan ICD-9-CM.

2. Mahasiswa dengan pengampu melakukan diskusi dan pembahasan atas


soal yang telah dikerjakan untuk mendapatkan jawaban yang benar.

Kasus

1. Seorang laki-laki berusia 40 tahun periksa ke klinik bedah di suatu rumah


sakit. Oleh dokter bedah, pasien tersebut didiagnosis kanker pada jari
tangan. Dokter menyarankan agar dilakukan pemeriksaan PA untuk
mengetahui jenis kankernya. Setelah dilakukan pemeriksaan PA, diketahui
jenis kankernya adalah papilloma, koder memberikan kode C76.4 pada
kasus di atas. Apakah kode yang tepat untuk kasus di atas? Berikan
alasannya!

Jawab:
..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

.................................................................................................................

32
2. Seorang perempuan berusia 30 tahun didiagnosis oleh dokter menderita
kanker pada tulang humerus. Setelah dilakukan pemeriksaan PA, didapat
jenis kankernya adalah carcinoma. Coder memberikan kode C79.5 pada
kasus di atas. Apakah menurut anda kode tersebut sudah tepat? Berikan
alasannya!

Jawab:

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

.................................................................................................................

3. Pasien datang ke rumah sakit dengan keterangan benjolan pada kulit mata.
Dilakukan USG mata untuk mendukung penegakan diagnosis. Dokter
memberikan diagnosis sementara tumor kelopak mata. Kemudian
diputuskan untuk dilakukan tindakan biopsi pada kelopak mata. Hasil biopsi
dari bagian patologi anatomi: Ca kelopak mata sinistra squamous cell
carcinoma. Koder memberikan kode D48.5, apakah kode itu sudah benar?
Berikan alasan anda!

Jawab:

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................
.................................................................................................................

4. Seorang pasien menderita kanker pada pankreas. Dari hasil pemeriksaan


diketahui kanker menyerang bagian kepala dan badan pankreas. Dari hasil
pemeriksaan juga diketahui bahwa letak asal kanker tersebut tidak diketahui.
Menurut anda kode apakah yang tepat untuk kasus ini? Berikan alasannya!

33
Jawab:

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

.................................................................................................................

5. Seorang pasien dinyatakan oleh dokter terjangkit HIV/AIDS dan ia juga


mengalami sakit keputihan akibat infeksi jamur candidal. Coder memberikan
kode A20.8 dan B37.9. Menurut anda, apakah kode tersebut sudah tepat?

Jawab:

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

.................................................................................................................

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
34
KASUS/LATIHAN 8

Mengkode Diagnosis dan Tindakan Medis terkait

Penyakit Infeksi dan Parasit (3)

Alat dan bahan praktikum:

1. Modul Praktikum KKPMT 5

2. ICD-10 Volume 1, 2, dan 3

3. Kamus Kedokteran

4. Kamus Bahasa Inggris

5. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

6. ATK

Kegiatan praktikum:

1. Mahasiswa mengerjakan soal di lembar kerja yang telah disediakan dengan


cara menganalisis kasus-kasus berikut ini, kemudian berikan kode ICD-10
dan ICD-9-CM.

2. Mahasiswa dengan pengampu melakukan diskusi dan pembahasan atas


soal yang telah dikerjakan untuk mendapatkan jawaban yang benar.

Kasus

1. Anak berumur 11 tahun terserang malaria. Setelah melalui pemeriksaan


laboratorium, diketahui jenis agen yang menyebabkannya adalah
plasmodium vivax dan plasmodium falciparum dengan komplikasi rupture of
spleen. Kode yang diberikan adalah B51.0. Bagaimana menurut anda?
Jelaskan!

Jawab:

..........................................................................................................................
..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

.................................................................................................................

35
2. Infestasi kutu kulit kepala dikenal dengan istilah

............................................... kode ICD-10 yang tepat untuk istilah ini adalah

.............................

Jawab:

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

.................................................................................................................

3. Seorang pasien berumur 20 tahun mengeluh sakit di area sekitar leher.


Setelah diperiksa dokter, dinyatakan bahwa pasien tersebut terserang
gondong. Apakah terminologi medis dan kode ICD-10 yang tepat untuk
kasus tersebut?

Jawab:

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

.................................................................................................................
4. Seorang anak berumur 5 tahun mengeluh gatal-gatal di sekitar anusnya.
Setelah diperiksa, anak tersebut ternyata mengalami cacingan yaitu cacing
kremi dan ascariasis. Kode yang dituliskan adalah B77 dan B80. Setujukah
anda dengan kode tersebut? Jelaskan!

36
Jawab:

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

.................................................................................................................

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
37
MODUL 5
Deskripsi:

Modul ini merupakan bagian dari kegiatan praktik untuk Mata Kuliah
Praktik KKPMT 5 yang terdiri atas 16 (enam belas) modul. Materi yang terdapat
pada Modul 5 meliputi: kekhususan Bab XIX terkait injury, poisoning and certain
other consequances of external causes.

Dengan adanya modul ini, kami berharap dapat mendekatkan,


melengkapi dan menambah keterampilan mahasiswa dalam bidang rekam medis
baik secara teoritis maupun praktis.
38
MATERI 5

Kekhususan Bab XIX Injury, Poisining, and Certain Other Consequences of

External Causes

Kompetensi:

Mahasiswa mampu menjelaskan terminologi medis dan mendeskripsikan struktur


ICD-10 Bab XIX tentang injury, poisoning and certain other concequences of
external causes.

Maksud dan tujuan:

1. Mahasiswa mengerti dan memahami terminologi medis terkait Bab XIX


tentang injury, poisoning and certain other concequences of external causes.

2. Mahasiswa mengerti dan memahami struktur ICD-10 Bab XIX tentang injury,
poisoning and certain other concequences of external causes.

Landasan teori:

Bab ini menggunakan Seksi-S untuk mengkode berbagai tipe cidera, keracunan
dan konsekuensi dari sebab luar yang terkait satu regio tubuh, sedangkan Seksi-
T untuk meliput cidera multiple atau cidera yang mengena bagian tubuh yang
tidak dirinci, Apabila cedera site multiple dirinci khusus pada judul, maka kata
“with” menunjukkan bahwa gangguan mengena kedua bagian sisi tubuh,
sedangkan kata “and” menunjukkan bahwa gangguan mengena salah satu atau
kedua sisi tubuh.

Aturan bagi coding multiple seberapa mungkin harus diikuti. Kombinasi kategori
untuk cedera multiple disediakan untuk dimanfaatkan apabila ada keterangan
cukup tentang bentuk alamiah kondisi individu, atau untuk keperluan tabulasi
primer apabila memang lebih memudahkan untuk merekam kode tunggal (single
code); apabila tidak demikian, maka komponen cidera harus dicode secara
terpisah. Rujukan ke pedoman di Volume 2 tentang Rules Morbidity dan Mortality
harus diikuti dengan cermat.
Blok pada Seksi S dan juga T00-T14 dan T90-T98 menampung cidera pada
tingkat klasifikasi 3-karakter sesuai tipe sebagai berikut:

39
SUPERFICIAL INJURY (CIDERA SUPERFISIAL), meliput sebutan:

- abrasion (abrasi, cedera gores)

- blister (nonthermal) (pelepuh, nontermal)

- contusion (cedera bentur) termasuk: bruise (memar) & hematoma

- (perdarahan di bawah kulit)

- splinter (cedera akibat benda asing) tanpa luka terbuka

- gigitan insekta (nonvenous) (tidak beracun)

- animal bite (gigitan hewan)

- cut (luka potong)

- laseration (luka lecet)

- puncture wound (luka tusuk)

 NOS

 with (penetrating) foreign body (tusukan benda asing)

FRACTURE (FRAKTUR)

- CLOSED:

- comminuted - greenstick - simple

- depressed - impacted - slipped

- elevated - linear epiphysis

- fissured - march - spiral

dengan atau tanpa penyembuhan yang terhambat (delayed healing)

- dislocated

- displaced

- OPEN:

- compound

- infected
- missile

- puncture

- with foreign body (benda asing)

dengan atau tanpa penyembuhan terhambat.

Excludes: fracture:

- pathological (M84.4)

- with osteoporosis (M80.-)

- stress (M84.3)

40
malunion or fracture (M84.0)

nonunion of fracture [pseudoarthrosis] (M84/1)

DISLOCATION, SPRAIN & STRAIN including:

- avulsion

- laceration

- sprain

- strain

- traumatic:

- haemarthrosis

- rupture

- subluxation

- tear

dari joint (capsule persendian), ligament (urat).

CIDERA SARAF DAN CORDA SPINALIS

- lesi corda spinalis komplit atau in-komplit

- lesi pada sambungan saraf dan corda spinalis traumatic:

- diviison of nerve

- haematomyelia

- paralysis (transient)

- paraplegia

- quadripelgia

CIDERA PEMBULUH DARAH, termasuk ini:

- avulsion - cut - laceration

- traumatic:

- aneurysm or fistula (arteriovenour)


- arterial haematoma

- rupture

dari pembuluh darah

CEDERA OTOT DAN TENDON, termasuk ini:

- avulsion

- cut

- laceration

- traumatic rupture
dari otot dan tendon

41
CRUSHING INJURY

TRAUMATIC AMPUTATION

INJURY TO INTRENAL ORGANS, termasuk ini:

- blast injuries - bruise - concussion injuries

- crushing

- laceration

- traumatic: - hematoma - puncture


- rupture - tear of internal organ

OTHER & UNPSECIFIED INJURIES

Hal yang perllu diperhatikan pada penggunaan bab ini adalah:

1. S02 (hal. 896)

Note: For primary coding of fracture of skull and facial bones with associated
intracranial injury, refrence should be made… The following subdivision are
provided…

a fracture not indicated as closed or open should be classified as closed.

0 closed

1 open

Peringatan ini ada di hal. 896, 903 dst.

2. S06 Intracranial injury (hal. 900)

Note: For primary coding of intracranial injuries with associated fracture,


reference should be made…

0 without open intracranial wound

1 with open intracranial wound


Peringatan ini ada di hal. 900, 910 dst
3. Burn and Corrosion (luka bakar)
Lihat volume 3 halaman 79
Burn (electricity) (flame) (hot gas, liquid or object) (radiation) (steam)
(thermal) T30.0

Note: The following fourth-character subdivisions are for use with categories

T20-T25 and T30: Rincian keterangan tentang derajat status luka bakarnya.

.0 Unspecifeid degree

.1 First degree - erythema


.2 Second degree - blister, epidermal loss
.3 Third degree - deep necrosis of underlying tissue full-thickness

42
skin loss

4. T31 Burn classified according to extent body surface involved

Note: This category is to be used as the primary code only ehen the site of
the burn…

Rincian dinyatakan dalam 10 % - 79% of body surface

5. COMPLICATIONS OF SURGICAL & MEDICAL CARE, NEC (T80 – T88)


Use additional external cause code (Chapter XX), if disired, to identify
devices involved and details of circumstances.

Use additional code (B95-B97), if desired, to identify infectious agent.

6. SEQUELAE OF INJURIES, OF POISONING & OF OTHER


CONSEQUENCES OF EXTERNAL CAUSES (T90-T98)

- Sequelae cedera kepala

- Sequelae cedera leher & badan

- Sequelae tungkai atas.

- Sequelae tungkai atas

- Sequelae terkait cedera multiple (site tidak dirinci)

- Sequelae luka bakar, korosi dan frostbite

- Sequelae keracunan obat dll.

- Sequelae efek racun substansi nonmedicinal.

- Sequelae lain-lain terkait efek kausa external

Daftar pustaka:

WHO. 2010. International Statistical Classification of Diseases and Related


Health Problem 10th Revision. WHO: Geneva. Materi presentasi DPD PORMIKI
DIY
43
KASUS/LATIHAN 9

Terminologi Medis terkait Injury, Poisining, and Certain Other

Consequences of External Causes

Alat dan bahan praktikum:

1. Modul Praktikum KKPMT 5

2. Kamus Kedokteran

3. Kamus Bahasa Inggris

4. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

5. ATK

Kegiatan praktikum:

1. Mahasiswa menuliskan arti dari daftar terminologi medis yang berkaitan dengan
Bab XIX (injury, poisining, and certain other consequences of external causes)
pada lembar kerja yang tersedia.

2. Mahasiswa dengan dipandu oleh pengampu melakukan diskusi dan


pembahasan untuk mendapatkan jawaban yang benar.

Terminologi yang berkaitan dengan Bab XIX (injury, poisining, and certain other
consequences of external causes):

1. Superficial injury =
2. Contusion =

3. Dislocation =

4. Displaced =

5. Sprain =

6. Strain =

7. Laceration =

44

8. Avulsion =

9. Cocussion =

Commotio cerebri=

Amputation=

12. Abrasion injury =


13. Blister =

14. Bruise =

15. Burn =

16. Corrosion =

17. Frostbite =

18. Freezing =

19. Crushing injury =

7. Puncture wound =

8. Combustion=

22. VE =

23. VL =

24. VP =
45
25. VS =

26. VA =

27. ORIF =

28. OREF =

29. NE =

30. ICH =

31. SDH =

32. SDA =

33. SAH =

34. CC =

35. DKI =

36. DKA =

37. DOA =

38. Fracture =

39. CKR =

40. CKB =
46
Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
47
KASUS/LATIHAN 10

Mengkode Diagnosis dan Tindakan Medis terkait

Injury, Poisining, and Certain Other Consequences of External Causes (1)

Alat dan bahan praktikum:

10. Modul Praktikum KKPMT 5

11. ICD-10 Volume 1, 2, dan 3

12. Kamus Kedokteran

13. Kamus Bahasa Inggris

14. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

15. ATK

Kegiatan praktikum:

2 Mahasiswa mengerjakan soal di lembar kerja yang telah disediakan dengan


cara menentukan leadterm, kode diagnosis, dan halaman dimana kode
tersebut ditemukan.

3 Mahasiswa dengan pengampu melakukan diskusi dan pembahasan atas


soal yang telah dikerjakan untuk mendapatkan jawaban yang benar.
KODE
No. NAMA GEJALA/MASALAH LEAD TERM Hal.
ICD-10

1. VE

2. VL

3. VP

4. VS
5. VA

6. ORIF

7. OREF

48
15. NE

16. ICH

17. SDH

18. SDA

19. SAH

20. CC

21. DKI

22. DKA

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
49
KASUS/LATIHAN 11

Mengkode Diagnosis dan Tindakan Medis terkait

Injury, Poisining, and Certain Other Consequences of External Causes (2)

Alat dan bahan praktikum:

3. Modul Praktikum KKPMT 5

4. ICD-10 Volume 1, 2, dan 3

5. Kamus Kedokteran

6. Kamus Bahasa Inggris

7. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

8. ATK

Kegiatan praktikum:

3. Mahasiswa mengerjakan soal di lembar kerja yang telah disediakan dengan


cara menentukan leadterm, kode diagnosis, dan halaman dimana kode
tersebut ditemukan.

4. Mahasiswa dengan pengampu melakukan diskusi dan pembahasan atas


soal yang telah dikerjakan untuk mendapatkan jawaban yang benar.
KODE
No. NAMA DIAGNOSIS/MASALAH LEAD TERM Hal.
ICD-10

1. Luka bakar telapak tangan

kanan derajat ke 2

2. Fraktur leher femur, terbuka

3. Fraktur humerus distal


4. Masuk biji kacang ke dalam

rongga hidung

5. Emboli udara akibat trauma

pembuluh darah

6. Urticaria akibat reaksi alergi

terhadap krim kulit

50
5. Keracunan makanan jamur

6. Keracunan sehabis
makan kerang

7. Keracunan tetrasiklin

8. Cedera gencet pada tumit

9. Luka tembak pada abdomen


dan hati

10. Luka tusuk pisau pada telapak


tangan

11. Cedera saraf


sciatic (ischiadica)

12. Cedera arteria femoralis kanan

3. Lacerasi jempol kiri ketika


memindahkan kail dari
mulut ikan

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
51
KASUS/LATIHAN 12

Mengkode Diagnosis dan Tindakan Medis terkait

Injury, Poisining, and Certain Other Consequences of External Causes (3)

Alat dan bahan praktikum:

3. Modul Praktikum KKPMT 5

4. ICD-10 Volume 1, 2, dan 3

5. Kamus Kedokteran

6. Kamus Bahasa Inggris

7. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

8. ATK

Kegiatan praktikum:

2 Mahasiswa mengerjakan soal di lembar kerja yang telah disediakan dengan


cara menentukan leadterm, kode diagnosis, dan halaman dimana kode
tersebut ditemukan.

3 Mahasiswa dengan pengampu melakukan diskusi dan pembahasan atas


soal yang telah dikerjakan untuk mendapatkan jawaban yang benar.
KODE
No. NAMA TINDAKAN/MASALAH LEAD TERM Hal.
ICD-10

1. ORIF di kaki

2. GV

3. Jahit luka di paha

4. Lepas jahitan
5. Pasang plate di tangan

6. Pasang gips

7. CT-Scan kepala

52
5. Diathermy

6. Traksi lumbal

7. Pemberian O2

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
53
MODUL 6
Deskripsi:

Modul ini merupakan bagian dari kegiatan praktik untuk Mata Kuliah
Praktik KKPMT 5 yang terdiri atas 16 (enam belas) modul. Materi yang terdapat
pada Modul 6 meliputi: kekhususan Bab XX terkait external causes of morbidity
and mortality.

Dengan adanya modul ini, kami berharap dapat mendekatkan,


melengkapi dan menambah keterampilan mahasiswa dalam bidang rekam medis
baik secara teoritis maupun praktis.
54
MATERI 6

Kekhususan Bab XX External Causes of Morbidity and Mortality

Kompetensi:

Mahasiswa mampu menentukan leadterm dam kode diagnosis serta tindakan


medis terkait Bab XX (external causes of morbidity and mortality) sesuai dengan
ICD-10 dan ICD-9-CM secara akurat.

Maksud dan tujuan:

d. Mahasiswa mengerti dan memahami leadterm yang digunakan untuk


menentukan kode diagnosis dan tindakan medis terkait bab XX (external
causes of morbidity and mortality)

e. Mahasiswa mengerti dan memahami tata cara penentuan kode diagnosis


dan tindakan terkait bab XX (external causes of morbidity and mortality)
sesuai ICD-10 dan ICD-9-CM secara akurat.

Landasan teori:

Bab ini meliputi klasifikasi dari kejadian (event) lingkungan dan keadaan
sekitarnya sebagai kausa suatu cedera, keracunan dan efek yang merugikan,
pertentangan atau permusuhan, ketidakcocokan, atau berlawanan, Code pada
Bab XX diaplikasikan untuk melengkapi code pada Bab-bab lain, terutama Bab
XIX.

Causes of death ditabulasi berdasakan Bab XIX dan Bab XX, apabila hanya
mengunakan satu code sebab kematian maka hanya code Bab XX yang
digunakan.

Kondisi lain-lain yang bisa disebut timbul karena sebab luar terklasifikasi pada
Bab I – XVIII

Untuk ini code Bab XX digunakan sebagai informasi tambahan (Additional


information), hanya untuk analisis kondisi multiple.
PLACE OF OCCURANCE CODE (hal. 1013 – 1017)

.0 Home

.1 Residential institution

.2 School, other institution & public administration area

55
.3 Sports & atheletics area

.4 Street & highway

.5` Trade and service area

.6 Industrial & construction area

.7 Farm

.8 Other specified places

.9 Unspecified place

ACTIVITY CODES

Code tersedia sebagai supplementary untuk menjelaskan aktivitas pasien saat


cedera itu terjadi.

Subklasifikasi ini jangan dicampuradukan dengan, atau untuk meggantikan


subdivisi digit-4 untuk menjelaskan tempat kejadian event yang terklasifikasi
dalam W00-W34

6. While engaged in sports activity

7. While engaged in leisure activity

8. While working for income

9. While engaged in other types of work

10. While resting, sleeping, eating or engaging in other vital activities, personal
hygiene

3. While engaged in other specified activities

4. During unspecified activity.

TRANSPORT ACCIDENT

Perhatikan hal. 1018 ada Note:…


Ada definisi terkait kecelakaan transport


(a) (y)

Classification and coding instructions for transport accidents


(1) (7)

Halaman 1029, 1032, 1034, 1037, 1039, 1042.

Disediakan karakter ke-4 untuk menjelaskan tipe dari korban kecelakaan,


pelengkap V20-V29.

.0 Driver... .1 Passanger... .2 Unspecified...

56
.3 Person injured… .4 Driver … .5 Passanger...

.9 Unspecified

WATER TANSPORT ACCIDENTS

Tersedia digit ke-4 untuk melengkapi nomor code di atas

.0 Merchant ship

.1 Passenger ship (Ferry-boat, Liner)

.2 Fishing boat
.3 Other powered watercraft (Hovercraft (on open water)) Jet skis

.4 Sailboat (yacht)

.5 Canoe or kayak

.6 Inflatable craft (non-powered)

.7 Water-skis

.8 Other unpowered watercraft (Surf-board, Windsurfer)


.9 Unspecified watercraft (boat NOS, ship NOS, Watercraft NOS)

External causes of morbidity & mortality ditelusuri di Volume 3 seksi 2 (Umumnya


sebutan cedera dan bukan istilah penyakit)

Daftar pustaka:

WHO. 2010. International Statistical Classification of Diseases and Related


Health Problem 10th Revision. WHO: Geneva. Materi presentasi DPD PORMIKI
DIY
57
KASUS/LATIHAN 13

Terminologi Medis terkait External Causes of Morbidity and Mortality

Alat dan bahan praktikum:

71. Modul Praktikum KKPMT 5

72. Kamus Kedokteran

73. Kamus Bahasa Inggris

74. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

75. ATK

Kegiatan praktikum:

3. Mahasiswa menuliskan arti dari daftar terminologi medis yang berkaitan


dengan Bab XX (external causes of morbidity and mortality) pada lembar
kerja yang tersedia.

4. Mahasiswa dengan dipandu oleh pengampu melakukan diskusi dan


pembahasan untuk mendapatkan jawaban yang benar.

Terminologi yang berkaitan dengan Bab XX (external causes of morbidity and


mortality):

1. Collision =

2. Accident =

4. Stationary object =

4. Fall =
5. Thrown from =

6. Overturning =

7. Terrain =

8. Off-road =

58
9. Highway =

10. Drowning =

11. Submersion =

12. Sinking =

13. Slipping =

14. Tripping =

15. Stumbling =

16. Assault =

17. Suffocation =

18. Strangulation =

19. Inhalation =

20. Ingestion =

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
59
KASUS/LATIHAN 14

Mengkode Diagnosis dan Tindakan Medis terkait

External Causes of Morbidity and Mortality (1)

Alat dan bahan praktikum:

6. Modul Praktikum KKPMT 5

7. ICD-10 Volume 1, 2, dan 3

8. Kamus Kedokteran

9. Kamus Bahasa Inggris

10. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

11. ATK

Kegiatan praktikum:

4. Mahasiswa mengerjakan soal di lembar kerja yang telah disediakan dengan


cara menentukan leadterm, kode diagnosis, dan halaman dimana kode
tersebut ditemukan.

5. Mahasiswa dengan pengampu melakukan diskusi dan pembahasan atas


soal yang telah dikerjakan untuk mendapatkan jawaban yang benar.
KODE
No. NAMA DIAGNOSIS/MASALAH LEAD TERM Hal.
ICD-10

1. Laserasi multiple abdomen,

tertusuk pisau berkelai ketika

bekerja di bar

2. Peritonitis akibat kapas

tertinggal pada operasi

pengangkatan appendiks
3. Kontusio serebral akibat jatuh

ke lantai dari tempat tidur

4. Reaksi Anestesi

5. Fraktur tulang temporal akibat

jatuh dari kuda

60
5. Efek lanjut fraktur ulna akibat
terpeleset di rumah 2 bulan yll

6. Terkilir tumit sewaktu rekreasi


main sepak bola di taman

7. Perforasi gendang telinga


karena kecelakaan oleh jarum
rajutan

8. Fraktur fibula sebab jatuh dari


sepeda di rumah

9. Cedera terkilirnya lutut kiri di


lapangan golf

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
61
KASUS/LATIHAN 15

Mengkode Diagnosis dan Tindakan Medis terkait

External Causes of Morbidity and Mortality (2)

Alat dan bahan praktikum:

4. Modul Praktikum KKPMT 5

5. ICD-10 Volume 1, 2, dan 3

6. Kamus Kedokteran

7. Kamus Bahasa Inggris

8. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

9. ATK

Kegiatan praktikum:

7. Mahasiswa mengerjakan soal di lembar kerja yang telah disediakan dengan


cara menentukan leadterm, kode diagnosis, dan halaman dimana kode
tersebut ditemukan.

8. Mahasiswa dengan pengampu melakukan diskusi dan pembahasan atas


soal yang telah dikerjakan untuk mendapatkan jawaban yang benar.
KODE
No. NAMA DIAGNOSIS/MASALAH LEAD TERM Hal.
ICD-10

1. Tabrakan pengendara motor

dengan mobil yang

menyebabkan fraktur tengah

femur kanan tertutup, fraktur

tengah tibia kanan terbuka

2. Infeksi luka sebagai efek lanjut


dari percobaan bunuh diri

dengan memotong

pergelangan tangan

3. Pasien koma. Ditemukan botol

diazepam di dekatnya. Pasien

pernah konsultasi ke psikiatri

coba bunuh diri

62
3. Luka bakar kaki, derajad 2,
ketika rumahnya terbakar

4. Keracunan tetrasiklin satu


botol, mencoba bunuh diri
karena ditinggal kawin
pacarnya dengan orang lain.

5. Keracunan sehabis makan


jamur yang dimasak oleh
ibunya, dilakukan tindakan
cuci lambung

6. Vertigo karena adanya


gelombang infrasound

7. Embolisme udara karena


proses transfusi darah

8. Tersengat listrik

9. Duri ikan tertinggal di


tenggorokan

10. Luka bakar pada jempol


tangan, nekrosis dalam karena
terkena ledakan petasan di
lapangan Mandala Krida.

11. Luka bakar telapak tangan


kanan derajat II, 25% saat
menggoreng cemplon untuk
camilan sore anaknya.

12. Luka bakar derajat III, 85%


karena terkena letusan
Gunung Kelud, saat mencari
pakan ternak.

13. Terkena air raksa pada


bagian dada saat melakukan
praktikum di sekolah
63
11. Seorang pendaki gunung
terjebak di goa yang dipenuhi
salju hingga terjadi cidera
dingin pada telapak tangan.

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
64
KASUS/LATIHAN 16

Mengkode Diagnosis dan Tindakan Medis terkait

External Causes of Morbidity and Mortality (3)

Alat dan bahan praktikum:

7. Modul Praktikum KKPMT 5

8. ICD-10 Volume 1, 2, dan 3

9. Kamus Kedokteran

10. Kamus Bahasa Inggris

11. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

12. ATK

Kegiatan praktikum:

3. Mahasiswa mengerjakan soal di lembar kerja yang telah disediakan dengan


cara menentukan leadterm, kode diagnosis, kode tindakan, dan halaman
dimana kode tersebut ditemukan.

4. Mahasiswa dengan pengampu melakukan diskusi dan pembahasan atas


soal yang telah dikerjakan untuk mendapatkan jawaban yang benar.

No. MASALAH KODE DIAGNOSISKODETINDAKAN

1. Pengendara sepeda motor

mengalami fraktur tibia dan

fibula terbuka serta emboli

udara akibat trauma pembuluh

darah akibat tertabrak mobil

box sewaktu menjemput

pacarnya di supermarket,
pasien dipasang ventilator dan

dilakukan embolectomy.

11. Seorang buruh bangunan


ditemukan jatuh dari tangga
saat bekerja. Tampak
deformitas paha kanan dan
lengan atas. Hasil foto rontgen

65
menunjukkan fraktur pada

keduanya. Setelah dilakukan

tindakan ORIF pada paha,

pasien diizinkan pulang.

7. Seseorang mengalami luka


bakar 85% derajat III karena
terkena letusan Gunung
Merapi, pada saat sedang
mencari rumput untuk
kambing-kambingnya yang
siap dijual menjelang hari raya
Idul Adha. Dilakukan tindakan
debridement.

8. Anak umur 2 tahun mengalami


perforasi gendang telinga
karena tertusuk jarum rajutan
di rumah neneknya.

9. Seorang joki mengalami


fraktur tulang temporal terbuka
setelah jatuh dari kuda pada
saat bertanding di lapangan
pacuan kuda Sentul,
Maguwoharjo. Kemudian
dilakukan craniotomy
decompresi.

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
66
MODUL 7
Deskripsi:

Modul ini merupakan bagian dari kegiatan praktik untuk Mata Kuliah
Praktik KKPMT 5 yang terdiri atas 16 (enam belas) modul. Materi yang terdapat
pada Modul 7 meliputi: konsep penyebab dasar kematian (underlying cause of
death) dan sertifikat kematian.

Dengan adanya modul ini, kami berharap dapat mendekatkan,


melengkapi dan menambah keterampilan mahasiswa dalam bidang rekam medis
baik secara teoritis maupun praktis.
67
MATERI 7

Konsep Penyebab Dasar Kematian (Underlying Cause of Death) dan

Sertifikat Kematian

Kompetensi:

Mahasiswa mampu memahami konsep penyebab dasar kematian dan sertifikat


kematian.

Maksud dan tujuan:

3. Mahasiswa mengerti dan mampu menjelaskan konsep penyebab dasar


kematian.

4. Mahasiswa memahami konsep penggunaan aturan dalam ICD 10 mengenai


penyebab dasar kematian.

5. Mahasiswa mengerti dan memahami cara melakukan pencatatan sertifikat


kematian;

6. Mahasiswa mengerti dan memahami aturan pencatatan sertifikat kematian


sesuai dengan ICD 10.

Landasan teori:

Banyak kasus yang dapat berkontribusi dalam suatu kematian. Dalam hal ini
seluruh kasus harus terdokumentasi dalam sertifikat kematian. Kasus yang telah
terdokumentasi dengan lengkap merupakan sumber data dalam menentukan
satu penyebab kematian. Penyebab tunggal tersebut merupakan penyebab
dasar kematian (Underlaying cause of Death (UCoD). Penyebab dasar kematian
tersebut memiliki banyak fungsi salah satunya sebagai landasan menyusun
program preventif primer, untuk memperbaiki status kesehatan masyarakat.

Penyebab dasar kematian adalah (WHO, 2010):


11. Penyakit atau kondisi yang merupakan awal dimulainya rangkaian
perjalanan penyakti menuju kematian; atau

12. Keadaan kecelakaan atau kekerasan yang menyebabkan ceder dan berakhir
dengan kematian.

68
Konsep penyebab dasar kematian merupakan hal penting dalam menentukan
kode mortalitas. Penyebab dasar kematian adalah suatu kondisi, kejadian atau
keadaan yang tanpa penyebab dasar tersebut pasien tidak akan meninggal
(Sarimawar dan Suhardi. 2008). Sebagai contoh, penderita kanker meninggal
dan penyebab langsungnya adalah gagal jantung sebagai akibat dari
carcinomatosis. Tititk awalanya adalah neoplasma colon. Maka urutannya adalah
neoplasma ganas colon menyebabkan carcinomatosis, selanjutnya
menyebabkan gagal jantung. Pada contoh tersebut, gagal jantung merupakan
kejadian terakhir dari urutan penyakit yang diawali dengan kanker colon.
Neoplasma maligna colon merupakan kondisi yang harus dikode sebagai
penyebab dasar kematian( UCoD).

World Health Organization telah merekomendasikan bentuk sertifikat kematian


dalam format International Foem of Medical Certificate of Cause of Death
(MCCD). Form tersebut merupakan sumber utama data mortalitas. Informasi
sertifikat kematian bisa diperoleh dari petugas kesehatan (dokter rumah sakit
atau dokter puskesmas) atau untuk kasus-kasus kecelakaan/kekerasan dari
polisi dan dokter forensik. Untuk beberapa kasus yang berhubungan dengan
hukum, dokter forensik bertanggung jawab atas kelengkapan sertifikat kematian.

Penentuan kode pada sertifikat kematian harus memperhatikan beberapa hal


berikut:

3. Urutan kejadian penyakit menuju kematian;

4. Penyebab awal dari urutan tersebut.

Format sertifikat kematian sesuai rekomendasi WHO terdiri dari 2 bagian yaitu:

2. Bagian I – digunakan untuk penyakit-penyakit yang berkaitan dengan urutan


dari kejadian langsung menuju kematian;

3. Bagian II – digunakan untuk kondisi yang tidak berkaitan dengan bagian I


tetapi secara alamiah berkotribusi terhadap kematian.
69
Berikut ini contoh formulir yang direkomendasikan oleh WHO:

Bagian I dari sertifikat kematian terdiri dari 3-4 baris tergantung pada kebiasan
setempat untuk mencatat urutan dari kejadian menuju kematian. Jika terdapat
dua atau lebih penyebab kematian maka urutan waktu harus dicatat oleh
pembuat sertifikat. Setiap kejadian dalam urutan harus dicatat di baris yang
terpisah.

3. Penyebab langsung kematian dituliskan pada baris pertama;

4. Penyebab dasar kematian dituliskan pada baris terbawah;


5. Penyebab antara dituliska pada baris yang terletak antara baris pertama dan
baris terbawah;

Dengan demikian sertifikat yang lengkap berisi informasi tentang:

6. (a) Penyebab langsung

Penyebab antara dari (a)

Penyebab antara dari (b)

Penyebab dasar dari (c)

II. Penyebab lain yang berkontribusi

70
Daftar pustaka:

Sarimawar dan Suhardi. 2008. Buku Panduan Penentu Kode Penyebab


Kematian Munurut ICD 10. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Depkes RI

World Health Organization. 2010. International Statistical Classification of


Disease and Related Health Problem Volume 2. Geneva: WHO
71
KASUS/LATIHAN 17

Konsep Penyebab Dasar Kematian (Underlaying Casue Of Death)

Alat dan bahan praktikum:

3. Modul Praktikum KKPMT 5

4. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

5. ATK

Kegiatan praktikum:

25. Mahasiswa mengerjakan lembar kerja yang telah diberikan dalam waktu 30
menit.

26. Mahasiswa dengan dipandu oleh pengampu melakukan diskusi dan


pembahasan untuk mendapatkan jawaban yang benar.

Pertanyaan:

26. Apakah yang dimaksud dengan


UCod? Jawab:

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................
..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

27. Siapa yang terkait dalam proses pencatatan UCod?


Jawab:

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

72
..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

3. Mengapa harus dilakukan pencatatan, pengkodean dan pendokumentasian


UCod?

Jawab:

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................
4. Apakah sumber data yang digunakan dalam penentuan UCod?
Jawab:

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

73
9. Bagaimana alur yang dilakukan sehingga diperoleh UCod?
Jawab:

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

10. Bagaimana fungsi ICD-10 kaitannya dalam penentuan


UCod? Jawab:

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................
..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

11. Berikan contoh kasus penyakit yang berakhir pada kematian, sehingga anda
dapat membedakan apa yang disebut sebagai diagnosis utama, diagnosis
sekunder, penyebab langsung, penyebab antara, penyebab dasar dan
UCod!

Jawab:

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

74
..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
75
LATIHAN/KASUS 18

Melakukan Pencatatan Sertifikat Kematian

Alat dan bahan praktikum:

17. Modul praktik KKPMT 5

18. Kertas HVS

19. ATK

20. Form Sertifikat Kematian

21. Kasus kematian perinatal

Kegiatan praktikum:

7. Meskipun pengisian sertifikat kematian dilakukan oleh dokter penanggung


jawab pasien, namun perlu pemahaman dalam tata cara pengisiannya;

8. Setiap mahasiswa mendapatkan 5 lembar formulir sertifikat kematian;

9. Selanjutnya setiap mahasiswa akan diberikan 5 kasus kematian;

10. Setelah memahami kasus, mahasiswa harus melakukan pengisian sertifikat


kematian sesuai dengan kasus yang diperoleh;

11. Mahasiswa memaparkan kertas kerjanya pada mahasiswa lain dan saling
memberikan penjelasan dan argumentasi.

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
76
Kasus:

3. Pada tanggal 3 Januari 1977, seorang wanita usia 60 tahun masuk rumah
sakit dengan Hernia Femoralis Strangulata yang terjadi sejak 10 hari
sebelumnya. Ia datang dengan keluhan nyeri abdomen dan muntah fekal.
Tampaknya, usus halus telah perforasi sebelumnya. Pada tanggal 4 januari,
Ia menjalani operasi pelepasan hernia dan reseksi usus dengan anastomisis
ujung ke ujung. Pada tanggal 5 Januari, pasien menunjukkan tanda
peritonitis dan kemudian meninggal pada tanggal 14 Januari 1977.
77
11. Tanggal 14 Januari 1976 seorang pria lansia terpeleset dan terjatuh pada
permukaan yang sama, yang mengakibatkan patah tulang. Setelah masuk
untuk dirawat, fraktur tulang ischium dan ilium kiri direduksi. Pasien di rawat
di rumah sakit. Karena proses penyembuhan yang lama, kondisi pasien
menurun dari hari kehari, dan terjangkit Bronchopnemonia. Pasien juga
memiliki penyakit jantung arterisklerosis
78
7. Seorang pasien 68 tahun nyeri perut kanan bawah terjadi penurunan berat
badan dengan fisik yang melemah. Diagnosis menunjukkan adanya
karsinoma hepatoselulare dan pasien memulai kemoterapi. Tiga bulan
setelah diagnosis, mengalami gagal hati akut serta mengalami trombosis
vena profunda tungkai kiri dan pasien masuk rumah sakit kembali. Pada hari
ke 3 pasien mengalami emboli paru dan meninggal 30 menit kemudian
79
3. Pada tanggal 1 februari, seorang lelaki 58 tahun datang ke klinik dengan
keluhan batuk darah lama dan penurunan berat badan. Diagnosis yang
ditegakkan adalah TB paru lanjut tipe reaktifasi dengan kapitasi selama 8
tahun. Pasien ternyata juga menderita arteriosklerosis generalisata dan
varises vena ektremitas bawah. Pada saat datang ke klinik tersebut pasien
mengalami perdarahan paru akut dan masif dan meninggal 10 jam
setelahnya
80
2. Seorang laki –laki usia 75 tahun masuk RS dengan keluhan nyeri dada
hebat. Pasien memiliki riwayat penyakit jantung arteriosklerosis 10 tahun.
Lima bulan sebelum dirawat ditemukan diagnosis carsinoma caecum.
Dengan melihat kondisi penyakit jantungnya pasien tidak dioperasi namun
diberikan pengobatan radiasi dan diselesaikan dalam waktu 3 bulan. Pada
saat masuk diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil EKG adalah miocard
infark akut. Pasien meninggal 2 hari setelah penegakan diagnosis.
81
5. Seorang perempuan usia 68 tahun di bawa ke rumah sakit. Pasien memiliki
riwayat hypertensi 10 tahun. Pada tahun kelima tegak diagnosis
Arteriosklerosis generalisata. Sebelum masuk ke ICU pasien mengalami
nyeri dada hebat. Seketika terjadi gagal jantung dan pasien dinyatakan
meninggal. Hasil pemeriksaan menunjukkan terjadi myocardial infraction
beberapa menit sebelum pasien mengalami gagal jantung.
82
MODUL 8
Deskripsi:

Modul ini merupakan bagian dari kegiatan praktik untuk Mata Kuliah
Praktik KKPMT 5 yang terdiri atas 16 (enam belas) modul. Materi yang terdapat
pada Modul 8 meliputi: pengumpulan data untuk keperluan pencatatan penyebab
kematian di rumah sakit dan puskesmas.

Dengan adanya modul ini, kami berharap dapat mendekatkan,


melengkapi dan menambah keterampilan mahasiswa dalam bidang rekam medis
baik secara teoritis maupun praktis.
83
MATERI 8

Pengumpulan Data Untuk Keperluan Pencatatan Penyebab Kematian di

Rumah Sakit dan Puskesmas

Kompetensi:

Mahasiswa mampu memahami konsep dan mengetahui cara pengumpulan data


untuk keperluan pencatatan penyebab kematian di rumah sakit dan puskesmas.

Maksud dan tujuan:

6. Mahasiswa mengerti dan memahami alur data dalam pencatatan penyebab


kematian di rumah sakit.

7. Mahasiswa mengerti dan memahami proses Autopsi Verbal di Puskesmas.

8. Mahasiswa mengerti dan memahami alur data dalam pencatatan penyebab


kematian di Puskesmas.

Landasan teori:

Berikut ini gambaran mengenai proses pengumpulan data sertifikat kematian:


Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan RI, 2010

84
Berikut ini gambaran sistem notifikasi penyebab kematian di Indonesia dengan
model generik :

Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan RI, 2010

Daftar pustaka:

Sarimawar dan Suhardi. 2008. Buku Panduan Penentu Kode Penyebab


Kematian Munurut ICD 10. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Depkes RI

World Health Organization. 2010. International Statistical Classification of


Disease and Related Health Problem Volume 2. Geneva: WHO
85
LATIHAN/KASUS 19

Pengumpulan Data Untuk Keperluan Pencatatan Penyebab Kematian di

Rumah Sakit (1)

Alat dan bahan praktikum:

7. Modul praktikum;

8. Lembar kerja;

9. ATK;

Kegiatan praktikum:

3. Mahasiswa menentukan rumah sakit yang akan digunakan sebagai sampel


untuk melakukan praktikum;

4. Rumah sakit yang digunakan sebagai sampel adalah rumah sakit tempat pkl
sebelumnya;

5. Mahasiswa menceritakan pengumpulan data untuk keperluan pencatatan


penyebab kematian di salah satu rumah sakit pada lembar kerja;

Penilaian:

Penilaian untuk praktikum:

2. Lembar Kerja selesai dalam waktu yang telah ditentukan mendapatkan skor
75;

3. Mempresentasikan hasil praktikum mendapatkan skor 85;

4. Setiap sanggahan dan pertanyaan mendapatkan tambahan skor 2 (untuk


audiece).
86
PENGUMPULAN DATA UNTUK KEPERLUAN PENCATATAN PENYEBAB KEMATIAN DI
RUMAH SAKIT

Item Terkait Penanggung


NO Keterangan Kegiatan
Pengumpulan Data Jawab

5. Input

3. Proses
87
Item Terkait Penanggung
NO Keterangan Kegiatan
Pengumpulan Data Jawab

- Output

- Evaluasi
88
LATIHAN/KASUS 20

Pengumpulan Data Untuk Keperluan Pencatatan Penyebab Kematian di

Rumah Sakit (2)

Alat dan bahan praktikum:

- Modul praktikum KKPMT 5;

- Lembar Kerja;

- ATK;

Kegiatan praktikum:

1. Setelah memaparkan hasil diskusi, Mahasiswa menggambarkan


pelaksanaan pengumpulan data, proses serta output dari pencatatan
penyebab kematian dalam bentuk alur pada kertas kerja;

- Hasil kerja dipaparkan dikelas untuk didiskusikan.

Penilaian:

Penilaian untuk praktikum:

- Lembar Kerja selesai dalam waktu yang telah ditentukan mendapatkan skor
70;

- Lembar kerja selesai dalam waktu yang telah ditentukan, dipaparkan dengan
Mind Map yang mudah dimengerti mendapatkan skor 75;

- Lembar kerja selesai dalam waktu yang telah ditentukan, dipaparkan dengan
alur yang mudah dimengerti dan menarik mendapatkan skor 75;

- Mempresentasikan hasil praktikum mendapatkan skor 85;

- Setiap sanggahan dan pertanyaan mendapatkan tambahan skor 2 (untuk


audiece).
89
ALUR PENGUMPULAN DATA UNTUK KEPERLUAN

PENCATATAN PENYEBAB KEMATIAN DI RUMAH SAKIT


LATIHAN/KASUS 21

Pengumpulan Data Untuk Keperluan Pencatatan Penyebab Kematian di

Puskesmas (1)

Alat dan bahan praktikum:

- Modul praktikum;

- Lembar kerja;

- ATK;

Kegiatan praktikum:

- Mahasiswa menentukan rumah sakit yang akan digunakan sebagai sampel


untuk melakukan praktikum;

- Rumah sakit yang digunakan sebagai sampel adalah rumah sakit tempat pkl
sebelumnya;

- Mahasiswa menceritakan pengumpulan data untuk keperluan pencatatan


penyebab kematian di salah satu rumah sakit pada lembar kerja;

Penilaian:

Penilaian untuk praktikum:

- Lembar Kerja selesai dalam waktu yang telah ditentukan mendapatkan skor
75;

- Mempresentasikan hasil praktikum mendapatkan skor 85;

- Setiap sanggahan dan pertanyaan mendapatkan tambahan skor 2 (untuk


audiece).
91
PENGUMPULAN DATA UNTUK KEPERLUAN PENCATATAN PENYEBAB KEMATIAN DI
PUSKESMAS

Item Terkait Penanggung


NO Keterangan Kegiatan
Pengumpulan Data Jawab

- Input

2 Proses
92
Item Terkait Penanggung
NO Keterangan Kegiatan
Pengumpulan Data Jawab

4. Output

7. Evaluasi
93
LATIHAN/KASUS 22

Pengumpulan Data Untuk Keperluan Pencatatan Penyebab Kematian di

Puskesmas (2)

Alat dan bahan praktikum:

6. Modul praktikum KKPMT 5;

7. Lembar Kerja;

8. ATK;

Kegiatan praktikum:

1. Setelah memaparkan hasil diskusi, Mahasiswa menggambarkan pelaksanaan


pengumpulan data, proses serta output dari pencatatan penyebab kematian
dalam bentuk alur pada kertas kerja;

3. Hasil kerja dipaparkan dikelas untuk didiskusikan.

Penilaian:

Penilaian untuk praktikum:

2. Lembar Kerja selesai dalam waktu yang telah ditentukan mendapatkan skor 70;

3. Lembar kerja selesai dalam waktu yang telah ditentukan, dipaparkan dengan
Mind Map yang mudah dimengerti mendapatkan skor 75;

4. Lembar kerja selesai dalam waktu yang telah ditentukan, dipaparkan dengan
alur yang mudah dimengerti dan menarik mendapatkan skor 75;
5. Mempresentasikan hasil praktikum mendapatkan skor 85;

6. Setiap sanggahan dan pertanyaan mendapatkan tambahan skor 2 (untuk


audiece).

94

ALUR PENGUMPULAN DATA UNTUK KEPERLUAN

PENCATATAN PENYEBAB KEMATIAN DI PUSKESMAS


MODUL 9
Deskripsi:

Modul ini merupakan bagian dari kegiatan praktik untuk Mata Kuliah
Praktik KKPMT 5 yang terdiri atas 16 (enam belas) modul. Materi yang terdapat
pada Modul 9 meliputi: rule reseleksi penyebab dasar kematian.

Dengan adanya modul ini, kami berharap dapat mendekatkan,


melengkapi dan menambah keterampilan mahasiswa dalam bidang rekam medis
baik secara teoritis maupun praktis.
96
MATERI 9

Rule Reseleksi Penyebab Dasar Kematian

Kompetensi:

Mahasiswa mampu memahami konsep dan melakukan reseleksi (penentuan)


penyebab dasar kematian.

Maksud dan tujuan:

1. Mahasiswa mengerti dan memahami konsep dan aturan reseleksi penyebab


dasar kematian;

2. Mahasiswa mampu melakukan reseleksi penyebab dasar kematian dan


menentukan rule yang digunakan.

Landasan teori:

World Health Organization (WHO) telah menetapkan prosedur dalam penentuan


penyebab dasar kematian (Underlaying Cause of Death/UCOD). Apabila hanya
terdapat satu penyebab kematian yang ditulis dalam sertifikat kematian, maka
penyebab kematian tersebut yang digunakan sebagai UCOD.

Jika terdapat lebih dari satu penyebab kematian yang dilaporkan, maka terdapat
beberapa aturan yang dapat digunakan yaitu prinsip umum, Rule 1, Rule 2 dan
Rule 3

1. Prinsip Umum

Jika terdapat lebih dari satu kondisi yang dilaporkan pada sertifikat kematian,
maka kondisi yang dituliskan tersendiri di baris terbawah pada bagian 1
sertifikat kematian dipilih sebagai penyebab dasar kematian apabila kondisi
tersebut dapat mengeakibatkan semua kondisi yang ditulis pada baris di
atasnya.

2. Rule 1
Jika prinsip umum tidak bisa diterapkan dan terdapat urutan yang berakhir
pada kondisi yang dituliskan pada baris pertama sertifikat, pilihlah penyebab
awal dari urutan tersebut. Jika terdapat lebih dari satu urutan yang berakhir
pada kondisi yang dituliskan pada baris pertama sertifikat kematian, pilih
penyebab awal dari urutan yang disebutkan pertama kali.

97
3. Rule 2

Jika tidak ada urutan yang berakhir pada kondisi yang diisikan pertama pada
sertifikat kematian, maka pilih kondisi yang diisikan pertama tersebut.

4. Rule 3

Jika kondisi yang dipilih dengan prinsip umum, Rule 1 atau Rule e ternyata
secara jelas merupakan akibat langsung dari kondisi lain meskipun
dilaporkan bagian I ataupun bagian II, maka pilih kondisi lain tersebut. Dalam
menggunakan Rule 3 diperlukan pengetahuan mengenai asumsi akibat
langsung dari suatu penyakit dengan penyakit lainnya.

Daftar pustaka:

Sarimawar dan Suhardi. 2008. Buku Panduan Penentu Kode Penyebab


Kematian Munurut ICD 10. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Depkes RI

World Health Organization. 2010. International Statistical Classification of


Disease and Related Health Problem Volume 2. Geneva: WHO
98
LATIHAN KASUS 23

Menentukan Rule Seleksi Penentuan Penyebab Kematian

Alat dan bahan praktikum:

1. Modul praktikum

2. Kertas HVS

3. ATK

4. Lembar kerja kasus pada sertifikat kematian

Kegiatan praktikum:

1. Setiap mahasiswa mendapatkan 5 kasus sertifikat kematian yang telah diisi


UCOD-nya;

2. Selanjutnya dilakukan proses pengodean untuk sertifikat kematian tersebut


berdasarkan ICD 10;

3. Berdasarkan UCOD yang sudah dipilih tentukan aturan yang digunakan;

4. Berikan alasan dan analisis terhadap pemilihan aturan tersebut;

5. Mahasiswa memaparkan kertas kerjanya pada mahasiswa lain dan saling


memberikan penjelasan dan argumentasi.

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.

Tentukan aturan yang digunakan dan buatlah analisisnya!

1. I (a) Cerebral hemorrhage 1 mo Kode:


(b) Nephritis 6 mos Kode:

(c) Cirrhosis of liver 2 yrs Kode:

Dipilih Cirrhosis of liver, Aturan yang digunakaan:

Analisis:

99
2. I (a) Rheumatic and atherosclerotic heart disease Kode:

dipilih rheumatic heart disease, Aturan yang digunakan:

Analisis:

3. I (a) Coronary occlusion Kode:

(b) Cerebrovascular disease Kode:

(c) HCVD, chronic bronchitis Kode:

Dipilih Coronary occlusion, Aturan yang digunakan:

Analisis:

4. I (a) Bronchopneumonia Kode:

(b) Cerebral infarction and hypertensive heart disease Kode:

Dipilih Cerebral Infraction, Aturan yang digunakan:

Analisis

5. I (a) Cardiac arrest Kode:

(b) Gastric hemorrhage Kode:

(c)

II Gastric ulcer Kode:

Select gastric ulcer, chronic or unspecified with hemorrhage (K254), Aturan


yang digunakan:

Analisis:

100
LATIHAN KASUS 23

Melakukan Pengodean Sertifikat Kematian dan Menentukan Penyebab

Dasar Kematian

Alat dan bahan praktikum:

1. Modul praktikum

2. ATK

3. Lembar kerja kasus pada sertifikat kematian

Kegiatan praktikum:

1. Setiap mahasiswa mendapatkan 5 kasus sertifikat kematian;

2. Selanjutnya dilakukan proses pengodean untuk sertifikat kematian tersebut


berdasarkan ICD 10;

3. Berdasarkan UCOD yang sudah dipilih tentukan aturan yang digunakan;

4. Berikan alasan dan analisis terhadap pemilihan aturan tersebut;

5. Mahasiswa memaparkan kertas kerjanya pada mahasiswa lain dan saling


memberikan penjelasan dan argumentasi.

Penilaian:

Setiap kasus yang benar dalam pengisiannya mendapatkan nilai 25


101
Kasus I

Part Diagnosis Waktu Kode ICD


I a.

b.

c.

d.

II.

UCod:

Rule:

Analisis:

102
Kasus II

Part Diagnosis Waktu Kode ICD


I a.

b.

c.

d.

II.

UCod:

Rule:

Analisis:

103
Kasus III

Part Diagnosis Waktu Kode ICD

I a.

b.
c.

d.

II.

UCod:

Rule:

Analisis:

104
Kasus IV

Part Diagnosis Waktu Kode ICD

I a.
b.

c.

d.

II.

UCod:

Rule:

Analisis:

105
Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
106
MODUL 10
Deskripsi:

Modul ini merupakan bagian dari kegiatan praktik untuk Mata Kuliah
Praktik KKPMT 5 yang terdiri atas 16 (enam belas) modul. Materi yang terdapat
pada Modul 10 meliputi: penggunaan The ACME Decision Table Medical
Mortality Data System (MMDS) dan rule modifikasi.

Dengan adanya modul ini, kami berharap dapat mendekatkan,


melengkapi dan menambah keterampilan mahasiswa dalam bidang rekam medis
baik secara teoritis maupun praktis.
107
MATERI 10

Penggunaan the ACME Decision Table Medical Mortality Data System

(MMDS) dan Rule Modifikasi

Kompetensi:

Mahasiswa mampu memahami konsep Medical Mortality Data System (MMDS)


khususnya dalam menggunakan ACME Decision Table untuk penentuan
penyebab dasar kematian dan melakukan reseleksi (penentuan) penyebab dasar
kematian pada kasus yang memerlukan aturan modifikasi.

Maksud dan tujuan:

1. Mahasiswa mengerti dan memahami konsep MMDS.

2. Mahasiswa mampu menggunakan ACME Decision Table sebagai alat bantu


dalam penentuan penyebab dasar kematian.

3. Mahasiswa mengerti dan memahami konsep dan aturan reseleksi penyebab


dasar kematian pada kasus yang memerlukan aturan modifikasi.

4. Mahasiswa mampu melakukan reseleksi penyebab dasar kematian dan


menentukan aturan modifikasi yang digunakan.

Landasan teori:

Penerapan rule untuk seleksi penyebab dasar kematian memerlukan


pengetahuan medis tentang hubungan kausal antar penyakit. Untuk
mengintepretasi hubungan kausal dan menerapkan rule modifikasi tersebut dapat
digunakan ACME Decision Table yang dikembangkan oleh US National Center
for Health Statistic (NCHS). ACME Decision Table tersebut adalah salah satu
tabel penentu yang dikembangkan oleh NCHS dalam suatu sistem terpada yaitu
Medical Mortality Data System (MMDS).
Meskipun bukan standar internasional, tabel tersebut dipakai oleh banyak negara
untuk melakukan proses pengkodean penyebab kematian. Indonesia sendiri
telah mengembangkan pencatatan sertifikat kematian menggunakan alat bantu
tabel tersebut untuk beberapa wilayah sentinel. Pengembangan pelaporan
tersebut dikembangkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI.

108
1. Struktur ACME Decision Table

ACME Decision Table terdiri dari Tabel A hingga Tabel E. Berikut ini
penjelasan mengenai fungsi dari masing-masing tabel tersebut:

a. Tabel A

Merupakan daftar kode ICD-10 yang valid untuk penggunaan dalam


pengodean penyebab dasar dan multiple (langsung dan antara)

b. Tabel B

Merupakan daftar kode yang valid untuk penggunaan dalam pengkodean


penyebab multiple, tetapi tidak untuk pengkodean penyebab dasar.

c. Tabel C

Merupakan daftar kode ICD-10 yang tidak valid baik bagi pengkodean
penyebab dasar maupun multiple

d. Tabel D

Digunakan untuk menentukan hubungan kausal kondisi-kondisi yang


dituliskan pada sertifikat kematian. “Address code” dicantumkan pada
bagian atas daftar kode dan rentang kode (subaddress) yang
mempunyai hubungan kausal yang valid dicantumkan di bawah address
code. Address code adalah kode yang dirinci pada baris a, b dan c dari
bagian pertama. Kode subaddress mengidentifikasi kondisi-kondisi yang
dapat menimbulkan atau menyebabkan kondisi pada address code.
Kondisi-kondisi yang kode-kodenya tidak tercantum, tidak bisa
menyebabkan kondisi yang ada pada “address code”. Dengan kata lain,
kode-kode tersebut bukan merupakan urutan yang bisa diterima. Tabel D
digunakan untuk menentukan hubungan kausal ketika menerapkan
Prinsip Umum, Rule 1 dan 2. Pada tabel D ini terdapat beberapa simbol
terkait hubungan antara dua kondisi.

Tanda “M” merupakan simbol yang menunjukkan adanya hubungan


ambivalen atau masih diragukan. Apabila menemukan kode ini maka
diperlukan konfirmasi diagnosis untuk menentukan penyebab kematian.

e. Tabel E
Tabel E merupakan tabel modifikasi dan dipakai untuk aplikasi Rule 3,
Rule Modifikasi A, Rule Modifikasi C dan Rule Modifikasi D, Rule
Modifikasi E dan Rule Modifikasi F. Di dalam tabel D terdapat beberapa
simbol antara lain:

109
1.) Simbol “M” menunjukkan hubungan ambivalen

2.) Simbol “#” menunjukkan perlunya pertimbangan khusus dalam


penerapakan modifikasi Rule C Linkage.

Selain adanya simbol tersebut di Tabel E juga terdapat akronim yaitu:

1.) DS (Direct Sequale)


2.) DSC (Direct Sequale Combine)
3.) IDDC (Ill Defined Direct Combine)
4.) SENMC (Senelity with Mention of Combine)
5.) SENDC (Senility Due To Combine)
6.) LMP (Linkage Mention Due to Preferred)
7.) LMC (Linkage With Mention Due To Combine)
8.) LDP (Linkage in Due To Position)
9.) LDC (Linkage in The Due to Position Combine)

f. Tabel F

Tabel F Menerangkan entri paling ambivalen “M” yang ditemukan dalam


tabel D dan E. Tabel F memberikan pedoman lebih lanjut dalam memilih
penyebab dasar kematian yang paling sesuai. Jika kondisi yang
ditempatkan dalam tabel F dapat dipenuhi, kode atau kode kombinasi ini
dipilih sebagai penyebab dasar kematian.

g. Tabel G

Tabel G memuat daftar kode yang diciptakan untuk membantu perangkat


lunak dalam MMDS membedakan antara kondisi tertentu yang dikode ke
dalam kategori yang sama.

h. Tabel H

Tabel H berisi daftar kode yang dianggap remeh (tidak berarti) ketika
menentukan penyebab dasar kematian. Jika penyebab dasar yang dipilih
ada dalam daftar tersebut, maka rule Modifikasi B diterapkan untuk
menentukan rangkaian langkah yang sesuai lebih lanjut.

110
2. Penggunaan ACME Decision Tabel

Penentuan hubungan kausal dapat menggunakan tabel D. Sedangkan untuk


melihat ada tidaknya rule modefikasi menggunakan Tabel E.

Tabel D memberikan bantuan untuk menerapkan Prinsip Umum, Rule 1 dan


Rule Seleksi 2 yang akan menghasilkan UCOD Tentatif. Selanjutnya UCOD
dapat dimodifikasi lebih lanjut dengan Rule 3 atau Rule Modifikasi A – F.

a. Langkah-langkah penggunaan Tabel D.

Sebagai contoh akan dilakukan proses cek hubungan kausal antara


hipertensi (I10) dengan Arteroskleorsis Generalisata (I70.9), maka yang
harus dilakukan adalah

1.) Pastikan telah dilakukan pengodean diagnosis dengan tepat dan


benar;

2.) Mencari kode I70.9 di dalam tabel D sebagai adress code;

3.) Mencari kode I10 di bawah kode I70.9;

4.) Apabila di bawah I70.9 terdapat kode I10 maka dapat diketahui
bahwa terdapat hubungan kausal antara Hipertensi dengan
Arteroskleorsis Generalisata.

b. Langkah-langkah penggunaan Tabel E.

Sebagai contoh ingin diketahui adakah modifikasi antara diagnosis


penyebab kematian Edema Cerebri (G93.6) (sebagai UCOD Tentatif)
dengan Hemoragi Batang Otak Intracranii (I61.3), maka langkah yang
dilakukan adalah:

1.) Melakukan pencarian pada Tabel E untuk kode G93.6 sebagai


address;

2.) Mencari kode I61.3 (sebagai sub address) di bawah kode G93.6;

3.) Apabila kode tersebut ditemukan makan akan terlihat keterangan di


samping kode tersebut;
4.) Dalam kasus ini, kode ditemukan dan terdapat keterangan DS pada
samping kiri;

5.) DS menunjukkan keterangan Direct Sequale yang berarti rule yang


digunakan adalah Rule 3;

6.) UCOD yang dipilih adalah I61.3 tersebut;

7.) Proses pengecekan tersebut dilakukan berulang-ulang hingga


diperoleh UCOD yang paling tepat.

111
Pemilihan UCOD dimaksudkan untuk menghasilkan data yang bermanfaat dan
informatif bagi pengambilan kebijakan kesehatan masyarakat ataupun tujuan
pencegahan. Namun kasus yang dilaporkan terkadang merupakan data yang
kurang memenuhi tujuan tersebut, misalnya pada kasus senilitas (usia tua). Data
kasus kematian yang dilaporkan sebagai kematian dikarenakan usia tua tidak
dapat dimanfaatkan untuk tujuan pencegahan. Dalam hal ini diperlukan adanya
rule modifikasi. Beberapa rule modifikasi tersebut antara lain:

1. Rule A. Senilitas dan kondisi lainnya yang tidak jelas

Apabila penyebab yang dipilih adalah kondisi yang tidak jelas (ill-defined)
dan kondisi yang diklasifikasikan di tempat lain dilaporkan dalam sertifikat
kematian, pilihlah kembali penyebab kematian, seolah-olah kondisi yang
tidak jelas tidak pernah dilaporkan, kecuali dengan pertimbangan bahwa
kondisi tersebut memodifikasi kode.

2. Rule B. Kondisi Trivial

Apabila penyebab kematian yang dipilih adalah kondisi sepele yang tidak
mungkin menyebabkan kematian, dan suatu kondisi yang lebih serius (tiap
kondisi kecuali kondisi yang tidak jelas atau kondisi sepele lainnya)
dilaporkan, pilihlah kemali penyebab dasar kematian seolah kondisi sepele
tersebut tidak pernah dilaporkan. Bila kondisi sepele dilaporkan sebagai
kondisi yang menyebabkan kondisi lain, maka kondisi sepele tersebut tidak
dibuang, yang berarti rule B tidak dapat diterapkan

3. Rule C. Linkage

Apabila penyebab yang dipilih dipertautkan oleh ketentuan dalam klasifikasi


atau dalam catatan untuk penggunaan dalam koding penyebab dasar
kematian, dengan satu atau lebih kondisi lain pada sertifikat, maka berilah
kode kombinasi untuk kasus tersebut.

4. Rule D. Specificity

Apabila penyebab yang dipilih menggambarkan kondisi dengan istilah umum


dan istilah lain yang memberikan informasi lebuh teliti tentang letak atau sifat
kondisi ini dilaporkan pada sertifikat kematian, maka pilihlah istillah lain yang
lebih informatif tersebut. Rule ini akan sering digunakan apabila istilah umum
menjadi kata sifat yang memberikan istilah lain yang lebih teliti tersebut.
112
5. Rule E. Stadium dini dan lanjut penyakit

Apabila penyebab yang dipilih adalah penyakit dengan stadium dini dan
penyakit yang sama dengan stadium lebih lanjut dilaporkan pada sertifikat,
koelah penyakit dengan stadium lebih lanjut. Aturan ini tidak berlaku untuk
bentuk penyakit “kronis” yang dilaporkan sebagai akibat dari bentuk “akut”
selama klasifikasi tidak memberi instruksi khusus pada akibat tadi.

6. Rule F. Sequele

Apabila penyebab yang dipilih adalah bentuk awal dari kondisi yang oleh
klasifikasi diberikan kategori “sekuele dari ...” yang terpisah, dan terdapat
bukti bahwa kematian terjadi akibat efek sisa kondisi ini dari pada oleh
penyakit dalam fase aktif, maka kodelah pada kategori “squele dari ...” yang
sesuai.

Daftar pustaka:

Sarimawar dan Suhardi. 2008. Buku Panduan Penentu Kode Penyebab


Kematian Munurut ICD 10. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Depkes RI

World Health Organization. 2010. International Statistical Classification of


Disease and Related Health Problem Volume 2. Geneva: WHO
113
LATIHAN/KASUS 24

Menggunakan ACME Decision Tabel dalam Proses Seleksi UCod

(Underlaying Cause of Death)

Alat dan bahan praktikum:

1. Modul praktikum;

2. Kertas HVS;

3. ATK;

4. ACME Decision Tabel;

5. Lembar kerja kasus pada sertifikat kematian.

Kegiatan praktikum:

1. Setiap mahasiswa mendapatkan 5 kasus sertifikat kematian;

2. Selanjutnya dilakukan proses pengodean untuk setiap penyebab dasar


berdasarkan ICD 10;

3. Menggunakan ACME decision tabel untuk menentukan UCOD;

4. Menentukan hasil UCOD;

5. Menentukan aturan rule yang digunakan sesuai keterangan yang diperoleh


dari UCOD;

6. Berikan alasan dan analisis terhadap pemilihan aturan tersebut;

7. Mahasiswa memaparkan kertas kerjanya pada mahasiswa lain dan saling


memberikan penjelasan dan argumentasi.

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
114
Tentukan Underlaying Cause of Death

1. I (a) Myocardial Degeneration Kode :

(b) Emphysema Kode :

(c) Senility Kode :

II. –

Alur pencarian pada Decision table:

UCod: Kode :

Rule:

2 I (a) Bronchopneumonia Kode:

(b)

(c) Convulsion Kode:

(d) Tuberculous Meningitis Kode:

II. Pulmonary Tuberculosis Kode:

Alur pencarian pada Decision table:


UCod: Kode :

Rule:

115
3 I(a) Aneurysm of Aorta Kode:

(b) Syphilis Kode:

(c) -

Alur pencarian pada Decision table:

UCod: Kode:

Rule:

4 I (a) Perdarahan post partum Kode:

(b) Placenta previa Kode:

II Gestational Diabetus Kode:

Alur pencarian pada Decision table:

UCod: Kode:

Rule:

5 I (a) Alcoholic Amnesic syndrome Kode:

(b) Alcoholic Liver Cirrhosis Kode:

(c) Chronic Alcoholism Kode:

II. -

Alur pencarian pada Decision table :


116
UCod : Kode:

Rule:

6. I (a) Bronchopneumonia Kode:

(b) Convulsion Kode:

(c) Tuberclous Meningitis Kode:

II. Pulmonary Tuberculousis Kode:

Alur pencarian pada Decision table:

UCod: Kode:

Rule:

7 I (a) Secondary Polycythaemia Kode:

(b) Pulmonary Emphysema Kode:

(c) Chronic Bronchitis Kode:

II. -

Alur pencarian pada Decision table :

UCod : Kode:

Rule:

8 I (a) Eclampsia during pregnancy Kode :


(b) Pre Eclampsia Kode:

(c) -

II. –

117
Alur pencarian pada Decision table:

UCod : Kode:

Rule:

9. I (a) Severe hypertensi in pregnancy Kode:

(b) Eclamptic Covulsions Kode:

(c) -

II. -

Alur pencarian pada Decision table :

UCod: Kode:

Rule:

10. I (a) Myocardial degeneration Kode:

(b) Empysema Kode:

(c) Senility Kode:

II. -

Alur pencarian pada Decision table :


UCod: Kode:

Rule:

118
LATIHAN/KASUS 25

Pemilihan Penyebab Dasar Kematian Menggunakan Rule Modifikasi

Alat dan bahan praktikum:

1. Modul praktikum

2. Kertas HVS

3. ATK

4. Lembar kerja kasus pada sertifikat kematian

5. The ACME Decision Table MMDS

Kegiatan praktikum:

1. Setiap mahasiswa mendapatkan 5 kasus sertifikat kematian yang telah diisi;

2. Selanjutnya dilakukan proses pengodean untuk sertifikat kematian tersebut


berdasarkan ICD 10;

3. Dilakukan pemilihan UCOD dari kasus tersebut;

4. Menentukan aturan rule modifikasi yang digunakan;

5. Berikan alasan dan analisis terhadap pemilihan aturan tersebut;

6. Mahasiswa memaparkan kertas kerjanya pada mahasiswa lain dan saling


memberikan penjelasan dan argumentasi.

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.

Tentukan aturan yang digunakan dan buatlah analisisnya!

1. I (a) Usia tua, pnemonia hipostatik Kode:


(b) Arthritis reumatoid 6 mos Kode:

(c)

UCod: Kode:

Aturan yang digunakan:

Analisis:

119
2. I (a) Haemoraghi intraoperatif Kode:

(b) Tonsilektomy Kode:

(c) Hipertrophy tonsil Kode:

UCod:

Aturan yang digunakan:

Analisis:

3. I (a) Cardiac arrest Kode:

(b) Gastric hemorrhage Kode:

(c)

II Gastric ulcer Kode:

UCod:

Aturan yang digunakan:

Analisis:

4. I (a) Sifilis tersier Kode:

(b) Sifilis primer Kode:

UCod:

Aturan yang digunakan:

Analisis:
120
5. I (a) Fibrosis paru Kode:

(b) Tuberkulosis paru lama Kode:

UCod:

Aturan yang digunakan:

Analisis:

6. I (a) Acute Myocardial Infark Kode:

(b) Hypertensi Kode:

(c)

(d) Ischemic Heart Disease Kode:

II. –

UCod:

Aturan yang digunakan:

Analisis:

7 I (a) Uremia Kode:

(b) Acute Renal Failure Kode:

(c)

(d) Klebsiella UTI, Anemia Kode:


II. –

UCod:

Aturan yang digunakan:

121
Analisis:

8I (a) Anemia Acute Kode:


(b) Muntah Darah Kode:
(c) Perdarahan Varises Esophagus Kode:
(d) Hypertensi Portal Kode:
II. Sirosis Hati Kode:

UCod:

Aturan yang digunakan:

Analisis:

9 I (a) Sepsis Kode:

(b) Hemangioma Kode:


(c)

(d) Tua
Kode:

II. –

UCod:

Aturan yang digunakan:

Analisis:

122
10. I (a) Meningitis Kode:

(b)

(c)

(d) Tuberculosis Kode:

UCod:

Aturan yang digunakan:

Analisis:
123
MODUL 11
Deskripsi:

Modul ini merupakan bagian dari kegiatan praktik untuk Mata Kuliah
Praktik KKPMT 5 yang terdiri atas 16 (enam belas) modul. Materi yang terdapat
pada Modul 11 meliputi: note for interpretation of entries cause of death.

Dengan adanya modul ini, kami berharap dapat mendekatkan,


melengkapi dan menambah keterampilan mahasiswa dalam bidang rekam medis
baik secara teoritis maupun praktis.
124
MATERI 11

Note for Interpretation of Entries Cause of Death

Kompetensi:

Mahasiswa mampu memahami konsep dan mengetahui intepretasi penggunaan


kode penyebab kematian sebagai Underlaying Cause of Death (UCOD) sesuai
catatan dalam ICD 10.

Maksud dan tujuan:

Mahasiswa mengerti dan memahami intepretasi diagnosis tertentu untuk


penggunaan sebagai penyebab kematian sesuai dengan catatan intepretasi
isian penyebab kematian dalam ICD 10 Volume 2;

Mahasiswa mampu menyelesaikan kasus seleksi penyebab kematian


dengan memperhatikan catatan intepretasi isian penyebab kematian dalam
ICD Volume 2.

Landasan teori:

9. Asumsi Penyebab antara

Satu kondisi mungkin memberikan indikasi sebagai kondisi yang disebabkan


oleh kondisi lainnya, tetapi kondisi yang pertama ini bukan merupakan akibat
langsung dari kondisi lainnya. Dalam hal demikian, dimungkinkan untuk
berasumsi bahwa ada penyebab antara yang tidak dilaporkan.

10. Sangat tidak mungkin

Penerapan prisnisp umum dan rules seleksi diperoleh urutan yang dapat
diterima, namun kadang-kadang urutan yang tertulis sangat tidak mungkin.
Kata-kata “sangat tidak mungkin” digunakan untuk menggambarkan urutan
yang tidak dapat diterima. Terdapat beberapa kondisi “sangat tidak mungkin”
dan bagaimana sertifikat harus diintepretasi.

11. Pengaruh Waktu (durasi)


Faktor waktu (durasi) yang dinyatakan dalam urutan harus dipertimbangkan.
Hal ini penting ketika mempertimbangkan apakah satu kondisi disebabkan
oleh kondisi lainnya. Walaupun demikian, durasi ini sangat sering
merupakan hal yang tidak diisi pada sertifikat kematian dan ini harus

125
dipertimbangkan ketika menerjemahkan isian. Mengenai durasi akan
diterapkan arti “sangat tidak mungkin” hubungannya dan Rule F (sequele).

16. Sequele

Istilah sequele atau efek lanjut digunakan untuk menggambarkan kelompok


tertentu kondisi dalam hal selang waktu panjang yang mungkin berlalu antara
penyebab dan efek. Etiologi atau kondisi asal sering tidak lagi ada ketika efek
lanjut terjadi. Kategori tertentu dalam ICD-10 telah dirancang untuk penggunaan
dalam koding sequele sebagai penyebab dasar kematian.

17. Demam reumatik yang mengenai jantung

Jika tidak ada pernyataan bahwa proses rematik adalah aktif pada saat
kematian, asumsikan aktif jika kondisi jantung (selain kondisi terminal dan
endokarditis bakterialis) yang disebutkan sebagai rematik, atau dinyatakan
karena demam rematik, istilah karditis, endokarditis, penyakit jantung,
miokarditis, dan pankarditis, dapat dianggap sebagai akut jika interval antara
onset dan kematian kurang dari satu tahun, atau jika interval tidak
dinyatakan, unsur saat kematian adalah di bawah 15 tahun pericarditis dapat
dianggap sebagai akut pada tiap umur.

18. Sifat Cidera

Kode untuk kode external cause (V01 – Y09) harus digunakan sebagai kode
primer untuk pengkodean kondisi tunggal dan tabulasi dari penyebab dasar
kematian (UCod) termasuk injury, poisoning, and certain other
consequences of external cause.

19. Neoplasma Malignant

Bila malignasi ditentukan sebagai penyebab dasar kematian, sangat penting


untuk menentukan tempat primer. Tiga faktor yang harus dipertimbangkan
ketika menentukan kode. Faktor ini adalah letak, morfologi, dan perilaku dari
neoplasma. Jika ada tiga faktor yang berhubungan dengan pencatatan
neoplasma maligna sebagai penyebab kematian, maka ketiga faktor tersebut
tidak akan menimbulkan masalah jika ketiga sertifikat tersebut tidak
dilengkapi.
126
Daftar pustaka:

Sarimawar dan Suhardi. 2008. Buku Panduan Penentu Kode Penyebab


Kematian Munurut ICD 10. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Depkes RI

World Health Organization. 2010. International Statistical Classification of


Disease and Related Health Problem Volume 2. Geneva: WHO
127
LATIHAN/KASUS 26

Seleksi Penentuan UCod dengan Memperhatikan Catatan untuk Intepretasi

Isian Penyebab Kematian Pada ICD-10 Volume 2

Alat dan bahan praktikum:

4 Modul praktikum;

5 Kertas HVS;

6 ATK;

7 ICD 10 Volume 1, 2 dan 3

8 Lembar kerja kasus.

Kegiatan praktikum:

23. Mempelajari ICD Volume 2 Bagian 4.2 yaitu tentang Notes For Interpretation
of Entries of Cause of Death

24. Setiap mahasiswa mendapatkan 5 kasus penyebab kematian;

25. Selanjutnya dilakukan proses pengodean untuk setiap penyebab dasar


kematian dengan ICD 10;

26. Melakukan proses seleksi dengan memperhatikan catatan yang telah


dipelajari pada ICD 10 Volume 2;

27. Menentukan hasil UCOD;

28. Berikan alasan dan analisis terhadap pemilihan aturan tersebut;

29. Mahasiswa memaparkan kertas kerjanya pada mahasiswa lain dan saling
memberikan penjelasan dan argumentasi.

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
128
Tetukan Underlaying Cause of Death

1. I (a) Renal failure Kode:

(b) Nephrophaty Kode:

(c) Diabetes Millitus Kode:

(d) Malignant Neoplasma of Breast Kode:

UCod: Kode :

Rule:

Penjelasan:

2. I. (a) Cancer of Chest wall Kode:

(b) Cancer of Lung Kode:

(c) Smoking Kode:

UCod: Kode:

Rule:

Penjelasan:
3. I (a) Cancer Liver Kode:

(b) Cancer of Colon Kode:

(c) Cancer of Bladder Kode:

UCod: Kode:

Rule:

Penjelasan:

129
9. Apakah Fungsi Tabel Common Site of
Metastase Sumber:
Berikan contoh kasus penggunaannya:

10. Seluruh penyakit infeksi tidak dapat diterima sebagai penyakit yang disebabkan
oleh penyakit lain, Benar atau Salah

Sumber:

Penjelasan:

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
130
MODUL 12
Deskripsi:

Modul ini merupakan bagian dari kegiatan praktik untuk Mata Kuliah
Praktik KKPMT 5 yang terdiri atas 16 (enam belas) modul. Materi yang terdapat
pada Modul 12 meliputi: perinatal mortality dan aturan pengkodeannya.

Dengan adanya modul ini, kami berharap dapat mendekatkan,


melengkapi dan menambah keterampilan mahasiswa dalam bidang rekam medis
baik secara teoritis maupun praktis.
131
MATERI 12

Perinatal Mortality dan Aturan Pengkodeannya

Kompetensi:

Mahasiswa mampu memahami konsep pencatatan dan pengodean pada kasus


kematian perinatal dan melakukan pengodean penyebab kematian perinatal
berdasarkan ICD-10.

Maksud dan tujuan:

5. Mahasiswa mengerti dan memahami batasan kasus kematian


perinatal.

6. Mahasiswa mengerti dan memahami cara melakukan pencatatan


kasus kematian perinatal pada sertifikat kematian.

7. Mahasiswa mengerti dan memahami aturan pencatatan kasus


kematian perinatal sesuai dengan ICD-10.

8. Mahasiswa mengerti dan memahami konsep dan aturan pengodean


penyebab kematian perinatal.

9. Mahasiswa mampu melakukan pengodean penyebab kematian


perinatal sesuai aturan ICD-10.

Landasan teori:

13. Kematian Perinatal

Masa perinatal dimulai dari 22 minggu (154 hari) masa gestasi dan berakhir
pada 7 hari setelah kelahiran (WHO, 2010). Kematian yang terjadi pada
kurun waktu tersebut dikategorikan ke dalam kematian perinatal.

Pencatatan sertifikat kematian perinatal berbeda dengan sertifikat kematian


umur 7 hari ke atas. Pencatatan penyebab kematian perinatal disusun
dengan urutan sebagai berikut:
Penyakit / kondisi utama janin atau bayi;

Penyakit-penyakit atau kondisi-kondisi lain janin atau bayi;

Penyakit / kondisi utama ibu yang mempengaruhi janin atau bayi;

Penyakit-penyakit atau kondisi-kondisi lain ibu yang mempengaruhi


janin atau bayi;

132
4. Keadaan relevan lainnya. Sertifikat
harus berisi informasi tentang
9. kondisi bayi ketika dilahirkan yaitu lahir hidup atau lahir mati (stillbirth).;

10. Tanggal meninggal;

11. Waktu meninggal.

a. Data Ibu, berupa;

Tanggal melahirkan;

Jumlah kehamilan sebelumnya: lahir hidup/ lahir mati/ keguguran;

Tanggal dan hasil dari kehamilan sebelumnya: Lahir hidup/ lahir


mati /keguguran;

Kehamilan yang sekarang:

a.) Hari pertama dari menstruasi yang terakhir (jika tidak tahu,
perkirakan lama kehamilan dalam hitungan minggu);

b.) Antenatal care dua atau lebih pemeriksaan: Ya/tidak/tidak tahu;

c.) Persalinan: Normal spontan letak kepala atay lainnya


disebutkan;

b. Data bayi berupa:

Berat badan lahir dalam gram;

Jenis kelamin: laki-laki/ perempuan/indeterminate;

Lahir tunggal/kembar ke 1/kembar ke 2/ kelahiran kembar lain;

Jika lahir mati: Kapan terjadi kematian: sebelum lahir/ selama


persalinan/ tidak tahu;

c. Variabel lain adalah penolong persalinan (dokter/bidan/dukun/lainnya).

8. Pengisian Sertifikat Kematian Perinatal

Sertifikat kematian perinatal mempunyai 5 isian untuk entry penyebab


kematian. Contoh sertifikat kematian dapat dilihat pada gambar berikut:
133
Isian penyebab kematian terdiri dari bagian a hingga e. Pengisian penyebab
kematian tersebut mengikuti aturan sebagai berikut:

f. Pada bagian a dan b harus diisikan penyakit-penyakit atau kondisi-


kondisi dari bayi atau janin;

g. Bagian a diisi dengan kondisi yang tunggal dan terpenting, apabila


terdapat kondisi lain pada bayi atau janin maka diisikan pada bagian b;

134
Kondisi tunggal terpenting adalah keadaan patologis yang menurut
pendapat pembuat sertifikat memberikan kontribusi terbesar terhadap
kematian bayi atau janin;

Modus kematian seperti heart failure, asfiksia atau anoxia tidak boleh
diisikan pada bagian a kecuali modus tersebut hanya diketahui sebagai
satu-satunya kondsi bayi atau janin;

Prematuritas juga tidak dapat diisikan pada bagian a;

Bagian c dan d harus diisikan semua penyakit atai kondisi dari ibu, yang
menurut pendapat pembuat sertifikat mempunyai pengaruh yang
merugikan (adverse effect) terhadap bayi atau janin;

Kondisi terpenting diisikan pada bagian c dan kondisi lain diisikan pada
bagian d;

Bagian e digunakan untuk laporan keadaan lain yang berhubungan erat


dengan kematian tetapi tidak dapat menggambarkan suatu penyakit
atau kondisi bayi atau ibu sebagai contoh: melahirkan tanpa penolong.

5. Aturan pengisian dan pemberian kode penyebab kematian perinatal


Beberapa aturan terkait pengisian dan pemberian kode penyebab kematian
perinatal yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:

Kematian perinatal yang dimungkinkan terjadi karena kondisi ibu yang


berdampak pada janin diisikan pada bagian (c) dan (d) dengan kode
pada kategori P00-P04. Kategori kode tersebut tidak dapat digunakan
pada bagian (a) dan (b);

Kematian perinatal yang diakibatkan oleh keadaan janin/bayi diisikan


pada bagian (a). Kode yang biasa muncul adalah antara kategori P05-
P96 (perinatal conditiona) atau Q00-Q99(congenital anomalies);

Hanya diperbolehkan mengisi satu kode untuk bagian (a) atau (c);
Namun untuk bagian (b) dan (d) diperbolehkan mengisi lebih dari satu;

Bagian (e) merupakan keterngan kematian perinatal. Apabila dibutuhkan


bagian ini dapat di isi dengan kategori kode Bab XX dan XXI;

Rule seleksi untuk kematian umum (7 hari ke atas) tidak diterapkan


pada sertifikat kematian perinatal;
135
Apabila aturan tersebut di atas tidak terpenuhi maka diperlukan adanya
perbaikan. Apabila tidak memungkinkan maka digunakan Rule P1
hingga Rule P4

5. Aturan Pengodean penyebab kematian

Rule P1, Mode of death atau prematurity disisikan di (a)

Apabila heart failure, asphyxia atau anoxia atau prematur diisikan di (a)
dan kondisi lain janin/bayi juga diisikan di (a) atau (b), kodelah kondisi
lain yang disebut pertama seolah-olah kondisi lain tersebut telah diisikan
secara sendiri di (a) dan kode heart failure, asphyxia atau anoxia atau
prematur yang semula di (a) seperti telah diisikan di (b).

Rule P2, Dua atau lebih kondisi diisikan di (a) atau (c)

Jika terdapat dua atau lebih kondisi diisikan pada (a) ayau (c), kodelah
kondisi yang disebut pertama seolah-olah kondisi tersebut diisikan
sendiri di (a) atau (c) dan kode kondisi lainnya seolah-olah mereka telah
diisikan di (b) atau (d)

Rule P3, Tidak ada kondisi yang diisikan di (a) atau (c)

Jika tidak ada kondisi yang diisikan pada (a) tetapi ada kondisi bayi
atau janin yang diisikan di (b), kodelah kondisi yang disebutkan
pertama seolah kondisi tersebut telah diisikan di (a);

Jika tidak ada kondisi yang diisikan di (a) atau (b), beri kode P95
untuk lahir mati (stillbirth) atau P96.9 untuk kematian bayi baru lahir.
Kode tersebut diisikan di bagian a;

Dengan cara yang sama, jika bagian (c) tidak terisi tetapi terdapat
kondisi ibu yang diisikan di (d), berilah kode kondisi yang disebut
pertama seolah telah diisikan di (c);

Jika tidak ada yang dimasukkan di (c) atau di (d) digunakan artificial
code (xxx.x) untuk menunjukkan tidak ada kondisi ibu yang
dilaporkan.

Rule P4, Kondisi yang diisikan pada bagian yang salah

Jika kondisi maternal (kode P00-P04) diisikan di (a) atau (b) atau
jika kondisi janin/bayi diisikan di (c) atau (d), kodelah kondisi
tersebut seolah telah diisikan pada masing-masing bagian dengan
benar;

136
5. Jika kondisi dapat dikelompokkan sebagai kondisi janin/bayi atau
sebagai kondisi ibu, namun keliru diisikan ke bagian (e), kodelah
sebagai kondisi janin atau kondisi ibu tambahan yang diisikan
masing-masing

Daftar pustaka:

Sarimawar dan Suhardi. 2008. Buku Panduan Penentu Kode Penyebab


Kematian Munurut ICD 10. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Depkes RI

World Health Organization. 2010. International Statistical Classification of


Disease and Related Health Problem Volume 2. Geneva: WHO
137
LATIHAN/KASUS 26

Melakukan Pencatatan Sertifikat Kematian Perinatal

Alat dan bahan praktikum:

12. Modul praktikum

13. Kertas HVS

14. ATK

15. Form Sertifikat Kematian

16. Kasus kematian perinatal

Kegiatan praktikum:

6. Meskipun pengisian sertifikat kematian dilakukan oleh dokter penanggung


jawab pasien, namun perlu pemahaman dalam tata cara pengisiannya;

7. Setiap mahasiswa mendapatkan 5 lembar formulir sertifikat kematian;

8. Selanjutnya setiap mahasiswa akan diberikan 5 kasus kematian perinatal;

9. Setelah memahami kasus, mahasiswa harus melakukan pengisian sertifikat


kematian sesuai dengan kasus yang diperoleh;

10. Mahasiswa memaparkan kertas kerjanya pada mahasiswa lain dan saling
memberikan penjelasan dan argumentasi.

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
138
Kasus:

10. Bayi lahir mati dengan berat 1450 gram. Bayi tersebut lahir dari seorang Ibu
berumur 30 tahun. Saat kehamilannya mengalami komplikasi berupa
hydramnions. Hasil dari pemeriksaan saat 36 minggu, terlihat adanya
anencephalic.

a.

b.

c.

d.

e.

10. Bayi meninggal pada hari kedua. Terjadi respiratory distress syndrom pada
bayi tersebut. Saat ibu bayi tersebut hamil 34 minggu diketahui adanya fetal
growth retardation. Ternyata diketahui pula adanya bacteriuria selama
kehamilan. Pada akhirnya proses kelahiran bayi dilakukan dengan sectio
caesarian. Berat bayi 1600 gram. Berat placenta 300 gram dan terdeteksi
adanya insufficiency placenta. Hasil autopsy menunjukkan adanya massive
intraventricular haemorhage.

a.

b.

c.

d.
e.

9. Bayi lahir hidup meninggal pada hari ketiga. Diketahui adanya eclampsia.

a.

b.

c.

d.

e.

139
14. Stillbirth, diketahui adanya severe pre-eclamsia dan placenta previa
sehingga terjadi severe fetal malnutrition pada bayi tersebut.

a.

b.

c.

d.

e.

15. Bayi prematur pada akhirnya meninggal pada umur 10 hari dengan
kelainan adanya spina bifida dan diketahui pula terjadi insuffisiensi
plasenta.

a.

b.

c.

d.

e.
140
LATIHAN/KASUS 27

Melakukan Pengodean Sertifikat Kematian Perinatal

Alat dan bahan praktikum:

12. Modul praktikum

13. Kertas HVS

14. ATK

15. Kasus kematian perinatal

Kegiatan praktikum:

13. Setiap mahasiswa mendapatkan 5 lembar formulir sertifikat kematian yang


telah diisi;

14. Selanjutnya dilakukan proses pengodean untuk sertifikat kematian tersebut


berdasarkan ICD 10;

15. Setelah melakukan pengodean dilakukan analisis terhadap setiap kasus


untuk mengetahui Rule yang digunakan;

16. Mahasiswa memaparkan kertas kerjanya pada mahasiswa lain dan saling
memberikan penjelasan dan argumentasi.

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
141
Kasus 1:

Severe intrauterin hypoxia

Presistent occipitoposterior

Difficult forceps delivery

5. Kode:

a. .............................................................................................................................

b. .............................................................................................................................

c. .............................................................................................................................

d. .............................................................................................................................

e. .............................................................................................................................
6. Aturan yang digunakan:

.................................................................................................................................

7. Analisis:

.................................................................................................................................

.............................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

142
Kasus 2:

Asphyxia berat

Bayi pnemonia

Ketuban pecah dini

Inertia uteri

12. Kode:

a. .............................................................................................................................

b. .............................................................................................................................

c. .............................................................................................................................

d. .............................................................................................................................

e. .............................................................................................................................
13. Aturan yang digunakan:

.................................................................................................................................

14. Analisis:

.................................................................................................................................

.............................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

143
Kasus 3:

--

Tentorial tear, Respiratory distress syndrome

10. Kode:

a. .............................................................................................................................
b. .............................................................................................................................

c. .............................................................................................................................

d. .............................................................................................................................

e. .............................................................................................................................

11. Aturan yang digunakan:

.................................................................................................................................

12. Analisis:

.................................................................................................................................

.............................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

144
Kasus 4: Stillbirth

Severe fetal malnutrition, Light for dates, antepartum anoxia

Severe pre-eclamsia, placenta previa

1. Kode:

a. .............................................................................................................................

b. .............................................................................................................................
c. .............................................................................................................................

d. .............................................................................................................................

e. .............................................................................................................................

2. Aturan yang digunakan:

.................................................................................................................................

3. Analisis:

.................................................................................................................................

.............................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

145
Kasus 5: stillbirth

Sepsis karena streptococus B, candidiasis neonatus

Perdarahan umbilicalis

1. Kode:

a. .............................................................................................................................

b. .............................................................................................................................

c. .............................................................................................................................

d. .............................................................................................................................
e. .............................................................................................................................

2. Aturan yang digunakan:

.................................................................................................................................

3. Analisis:

.................................................................................................................................

.............................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

.................................................................................................................................

146
MODUL 13
Deskripsi:

Modul ini merupakan bagian dari kegiatan praktik untuk Mata Kuliah
Praktik KKPMT 5 yang terdiri atas 16 (enam belas) modul. Materi yang terdapat
pada Modul 13 meliputi: morbidity coding.

Dengan adanya modul ini, kami berharap dapat mendekatkan,


melengkapi dan menambah keterampilan mahasiswa dalam bidang rekam medis
baik secara teoritis maupun praktis.
147
MATERI 13

Morbidity Coding

Kompetensi:

Mahasiswa mampu memahami konsep pencatatan dan pengodean pada kasus


kesakitan dan melakukan pengodean kasus kesakitan berdasarkan ICD-10.

Maksud dan tujuan:

1. Mahasiswa mengerti dan memahami batasan kasus kesakitan.

2. Mahasiswa mengerti dan memahami cara melakukan pencatatan


kasus kesakitan.

3. Mahasiswa mengerti dan memahami aturan pencatatan kasus


kesakitan sesuai dengan ICD-10.

Landasan teori:

Diagnosis = kata (phrasa) yang digunakan dokter untuk menyebut suatu


penyakit/gangguan kesehatan seseorang, atau keadaan seseorang memerlukan/
mencari/ mendatangi/ menerima asuhan medis (medical care) dan pelayanan
kesehatan (health service). Diagnose admisi (masuk) = titik mula segala kegiatan
institusi asuhan/pelayanan terhadap pasiennya (pelayanan medis, penunjang
medis umum/spesialis, perawatan, dll)

Definisi menurut WHO (dalam Volume 2 ICD-10)

3. KONDISI UTAMA (MAIN CONDITION)

Kondisi yang ditegakkan sebagai diagnose pada akhir episode


asuhan/pelayanan.

Kondisi yang di investigasi dan di terapi apabila ada > 1 (satu) kondisi maka
Pilih yang menyerap sumber daya pelayanan yang terbesar. Bisa saja
sampai akhir episode asuhan/ pelayanan tidak muncul pernyataan diagnose
maka:

SIMTOMA UTAMA,

PENEMUAN ABNORMAL,

MASALAH TERKAIT KESEHATAN,

148
Dipilih sebagai: Kondisi Utama

3. KONDISI – KONDISI LAIN (OTHER CONDITIONS)

Kondisi yang timbul bersama atau berkembang selama periode


asuhan/pelayanan yang mempengaruhi penanganan pasien. KONDISI-
KONDISI LAMA (Lain-lain) yang :

Berkaitan dengan episode terdahulu dan tidak ada kaitan dengan episode

asuhan yang sedang berjalan TIDAK PERLU DICATAT

4. KONDISI MULTIPLE

Pada suatu episode perawatan kadang ditemukan sejumlah kondisi yang


berhubungan, contoh:

Cedera multiple (multiple fracture)

Kondisi multiple pada penyakit AIDS (multiple infection)

Multiple head injury

Kondisi yang nyata lebih berat dan membutuhkan resources lebih dari yang
lain harus dicatat sebagai ”kondisi utama” dan yang lain sebagai ” kondisi
lain”. Tetapi jika tidak ada satupun kondisi yang menonjol, maka ”multiple
fracture” , ” multiple infection pada AIDS”, ”multiple head injury” dapat dicatat
sebagai ”kondisi utama”, diikuti oleh sebuah daftar kondisi tersebut.

Pedoman Pemberian Kode Utama

Data morbiditas di Indonesia, sampai saat ini, dihasilkan dari olahan hasil coding
data diagnosis pasien berdasarkan sistem ICD (International Statistical
Classification of Diseases and Related Health Problems). ICD menentukan
bahwa data morbiditas yang akan digunakan untuk formulasi kebijakan dan
program kesehatan, manajemen, monitoring dan evaluasi, epidemiologi,
identifikasi populasi dalam risiko dan penelitian klinik adalah data kondisi tunggal
pasien.

Kondisi tunggal adalah kondisi utama yang ditangani atau diperiksa selama
kurun waktu perawatan pasien terkait, yang relevan. Kondisi utama didefinisikan
sebagai kondisi (diagnosis) yang bertanggung jawab secara primer atas
kebutuhan pasien akan perawatan, pemeriksaan dan tindakan. Apabila ada lebih
dari 1 diagnose maka dipilih yang paling bertanggung jawab terhadap
penggunaan sumber daya yang terbesar (Rules for Morbidity, ICD-10, WHO).

149
Daftar pustaka:

WHO. 2010. International Statistical Classification of Diseases and Related


Health Problem 10th Revision. WHO: Geneva.
150
KASUS/LATIHAN 28

Morbidity Coding

Alat dan bahan praktikum:

5. Modul Praktikum KKPMT 5

6. ICD-10 Volume 1, 2, 3

7. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

8. ATK

Kegiatan praktikum:

5. Mahasiswa melakukan pengkodean terhadap berbagai kondisi yang


terrekam.

6. Mahasiswa melakukan penentuan kondisi yang menjadi kondisi utama.

7. Mahasiswa dengan dipandu oleh pengampu melakukan diskusi dan


pembahasan untuk mendapatkan jawaban yang benar.

Lakukan pengkodean berbagai kondisi yang terrekam dengan tepat!

1. Kondisi utama : Epilepsy

Kondisi lain : Otomycosis

Spesialis : ENT (THT)

Reseleksi kondisi utama :

Kode :

2. Kondisi utama : Gigi berlubang

Kondisi lain : Rheumatoid mitral stenosis

Tindakan : Tambal gigi


Reseleksi kondisi utama :

Kode :

3. Kondisi utama : COPD (PPOM)

Hyperthrophy prostat

Psoriasis vulgaris

151
Kondisi lain :-

Spesialis : Kulit-Kelamin

Reseleksi kondisi utama :

Kode :

Rule :

4. Kondisi utama : Gastritis kronik

Limfadenopati malignan sekunder ketiak kiri

Kanker ganas payudara

Kondisi lain :-

Tindakan : Mastectomy

Reseleksi kondisi utama :

Kode :

5. Kondisi utama : Coma

Kondisi lain : Hepatitis A

Icterus berat

Muntah-muntah

Hasil laboratorium: Delta agent (+)

Spesialis : Penyakit Dalam Hepatologist

Reseleksi kondisi utama :

Kode :

6. Kondisi utama : Sakit abdomen

Kondisi lain : Demam tinggi

Appendicitis Akut

Hasil laboratorium: Leukositosis

Tindakan : Appendectomy
Reseleksi kondisi utama :

Kode :

152
7. Kondisi utama : Dystocia

Kondisi lain : Hydrocephalic fetus

Fetal distress

Tindakan : sectio caesaria

Reseleksi kondisi utama :

Kode :

8. Kondisi utama : Enteritis kronik

Kondisi lain : Amebiasis dysentry

Hasil laboratorium: Amoeba histolytica (+)

Reseleksi kondisi utama :

Kode :

9. Kondisi utama : Kolecistitis akut atau kolecistitis kronik

Kondisi lain :-

Prosedur pemeriksaan lain-lain : -

Reseleksi kondisi utama :

Kode :

10. Kondisi utama : Berdebar-debar akibat gangguan jantung atau banyak

mikir

Kondisi lain :-

Reseleksi kondisi utama :

Kode :

Penilaian:
Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.

153
MODUL 14
Deskripsi:

Modul ini merupakan bagian dari kegiatan praktik untuk Mata Kuliah
Praktik KKPMT 5 yang terdiri atas 16 (enam belas) modul. Materi yang terdapat
pada Modul 14 meliputi: rule of morbidity coding.

Dengan adanya modul ini, kami berharap dapat mendekatkan,


melengkapi dan menambah keterampilan mahasiswa dalam bidang rekam medis
baik secara teoritis maupun praktis.
154
MATERI 14

Rule of Morbidity Coding

Kompetensi:

Mahasiswa mampu memahami konsep pencatatan dan pengodean pada kasus


kesakitan dan melakukan pengodean kasus kesakitan berdasarkan ICD-10.

Maksud dan tujuan:

6. Mahasiswa mengerti dan memahami konsep dan aturan pengodean


kesakitan.

7. Mahasiswa mampu melakukan pengodean kasus kesakitan sesuai


aturan ICD-10.

Landasan teori:

Disamping kondisi utama, harus direkam pula di daftar terpisah, tentang kondisi
lain atau masalah lain yang ada hubungan selama kurun waktu perawatan
terkait. Kondisi lain didefinisikan sebagai kondisi yang timbul bersama (co-exist)
atau berkembang selama kurun waktu perawatan terkait dan mempengaruhi
penanganan pasien, sedangkan kondisi yang lebih dini berhubungan dengan
kurun waktu yang tidak mempunyai pengaruh pada peristiwa yang sekarang tidak
perlu direkam.

Hanya dokter yang berwenang menentukan kondisi utama pasien. Pada keadaan
tertentu atau ada informasi lain yang dapat menunjukkan bahwa dokter telah
tidak mengikuti prosedur cara penulisan yang benar (ICD), bila coder tidak
mungkin menghubungi dokter terkait, dapat menerapkan salah satu dari rules
yang tersedia untuk mereseleksi kondisi utama. Dalam ICD Volume 2 terdapat 5
Rule of Morbidity: MB1, MB2, MB3, MB4, MB5 disertai catatan khusus untuk
Bab-bab tertentu (4.4.4 Halaman 112-123)
RULE MB1 (Alternative Main Diagnosis)

4. Kondisi minor direkam sebagai “Kondisi utama” (main condition), kondisi


yang lebih bermakna direkam sebagai “kondisi lain” (other condition)

155
6. Kondisi utama adalah kondisi yang relevan bagi perawatan yang terjadi, dan


jenis spesialis yang mengasuh. pilih kondisi yang relevan sebagai

“Kondisi utama”

Contoh:

K. ut. Dyspepsi

Kondisi lain: Acute appendicitis

Acute abdominal pain

Prosedur: Appendectomy

Spesialis: Bedah digestif

Maka reseleksi: Acute appendicitis sebagai kondisi utama.

RULE MB2 (Several Conditions Recorded as “Main Condition”)

Beberapa Kondisi direkam sebagai kondisi utama. Beberapa kondisi tidak bisa
digabung untuk dapat dicode bersama dan direkam semua sebagai kondisi

utama, dan salah satu kondisi lain pada rekaman menunjuk adalah kondisi
utamanya, maka pilih ini sebagai kondisi utama, bila tidak ada maka pilih yang
pertama disebut dalam penulisan.

Contoh: 1. K. Ut. Osteoporosis

Candida bronchopneumonia

Rheumatism

K. lain: -

Bidang spesialisasi: Peny.Paru

Reseleksi K. Ut. Candida bronchopneumonia


J K.Ut. KPD, letak lintang dan anemia
K.lain: -

Partus spontan

Reseleksi K. ut. Premature rupture of membrane

RULE MB3 (Condition Recorded as “Main Condition” is presenting


symptom of diagnosed, treated condition)

Kondisi yang direkam sebagai kondisi utama menggambarkan suatu gejala yang
timbul akibat suatu diagnose atau kondisi yang ditangani. Jika kondisi terkait
diberi code yang ditemukan di Bab XVIII (R.-), dan di rekam medis ada terekam

156
kondisi lain yang lebih menggambarkan diagnosis pasien dan kepada kondisi ini

terapi diberikan maka reseleksi kondisi akhir tersebut sebagai kondisi utama.

Contoh: K. ut. Hematemesis

K. lain: Varices esophagus

Cirrhosis hepatis

Bidang spesialis: Penyakit Dalam konsul ke Bedah

Reseleksi kondisi utama: Varices esophagus pada

cirrhosis hepatis (K74.-! I98.2*)

RULE MB4 (Specificity)

J Spesialisitas

Bila diagnosis yang terekam sebagai kondisi utama adalah istilah yang umum,
dan ada istilah lain yang memberi informasi lebih tepat tentang lokasi tubuh atau
sifat dasar suatu kondisi, maka reseleksi kondisi terakhir sebagai kondisi utama.
Contoh: (1) K.Ut. CVA

K. lain-lain: Stroke

Hemiplegia

Cerebral haemorrhage

Reseleksi: Kondisi utama: Stroke cerebral hemorhage

J K.Ut. DM tanpa terapi insulin

K. lain-lain:Cataract mata bilateral

Spesialisasi: Ophthalmologist

Reseleksi: Kondisi Utama: NIDDM cataract.


RULE MB5 (Alternative main diagnoses)

Alternatif diagnoses utama

Suatu tanda/gejala direkam sebagai kondisi utama, dengan indikasi kondisi


terkait adalah suatu kondisi atau kondisi lain, reseleksi gejala tersebut sebagai
“kondisi utama”.

Bila ada 2 atau > dari 2 kondisi direkam sebagai pilihan diagnostik sebagai
kondisi utama, pilih yang pertama disebut. Contoh:

5. K. ut. Sakit kepala mungkin karena sinusitis atau stres.


Reseleksi: Sakit kepala

157
2. K.ut. Kolekistitis akut atau gastritis
Reseleksi: kolekistitis akut

3. K. ut. GE akibat infeksi atau keracunan


makanan Reseleksi: Infectious GE.

Daftar pustaka:

WHO. 2010. International Statistical Classification of Diseases and Related


Health Problem 10th Revision. WHO: Geneva.
158
KASUS/LATIHAN 29

Rule of Morbidity Coding

Alat dan bahan praktikum:

i. Modul Praktikum KKPMT 5

j. ICD-10 Volume 1, 2, 3

k. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

l. ATK

Kegiatan praktikum:

3. Mahasiswa melakukan pengkodean terhadap berbagai kondisi yang


terrekam.

4. Mahasiswa melakukan reseleksi untuk menentukan kondisi utama dengan


menerapkan aturan yang sesuai dengan ICD-10.

5. Mahasiswa dengan dipandu oleh pengampu melakukan diskusi dan


pembahasan untuk mendapatkan jawaban yang benar.

Lakukan reseleksi diagnosis dan berilah kode dengan tepat!

1. Kondisi utama : Karies gigi

Kondisi lain : Rheumatoid mitral stenosis

Tindakan : Dental extractions

Spesialis : Gigi dan mulut

Reseleksi kondisi utama :

Kode :

Rule :

2. Kondisi utama : Radang pada sinus akut


Kondisi lain : Ca endocervix

HT

Pasien di Rumah Sakit selama 3 minggu

Tindakan : Total hysterectomy

Spesialis : Gynaecology

159
Reseleksi kondisi utama
:

Kode :

Rule
:

3. Kondisi utama
: Cerebrovascular accident

Kondisi lain
: DM

HT

Cerebral haemorrhage

Reseleksi kondisi utama :

Kode :

Rule :

4. Kondisi utama : Abdominal pain

Kondisi lain : Appendicitis akut

Tindakan : Appendectomy

Reseleksi kondisi utama :

Kode :

Rule :

5. Kondisi utama : Cholecistitis acute atau pancreatitis acute

Kondisi lain :-

Reseleksi kondisi utama :

Kode :

Rule :
6. Kondisi utama : KPD

Presbo

Anemia

Kondisi lain :-

Tindakan : Persalinan spontan

160
Reseleksi kondisi utama :

Kode :

Rule :

7. Kondisi utama : Hematuria

Kondisi lain : Varises vena kaki

Papillomata dinding posterior bladder

Tindakan : Diathermy excision of papillomata

Spesialis : Urologi

Reseleksi kondisi utama :

Kode :

Rule :

8. Kondisi utama : Congenital heart disease

Kondisi lain : Ventricular septal defect

Reseleksi kondisi utama :

Kode :

Rule :

9. Kondisi utama : Radang usus halus

Kondisi lain : Penyakit Crohn Ileum

Reseleksi kondisi utama :

Kode :

Rule :

10. Kondisi utama : Gastroenteritis karena infeksi atau karena keracunan

makanan

Kondisi lain :-

Reseleksi kondisi utama :

Kode :
Rule :

161
Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
162
MODUL 15
Deskripsi:

Modul ini merupakan bagian dari kegiatan praktik untuk Mata Kuliah
Praktik KKPMT 5 yang terdiri atas 16 (enam belas) modul. Materi yang terdapat
pada Modul 15 meliputi: audit coding terkait Bab XIX dan Bab XX pada ICD-10
dan tindakan medis terkait.

Dengan adanya modul ini, kami berharap dapat mendekatkan,


melengkapi dan menambah keterampilan mahasiswa dalam bidang rekam medis
baik secara teoritis maupun praktis.
163
MATERI 15

Audit Coding terkait Bab XIX dan Bab XX pada ICD-10

dan Tindakan Medis Terkait

Kompetensi:

Mahasiswa mampu menentukan leadterm dam kode diagnosis serta tindakan


medis terkait kasus audit coding terkait Bab XIX dan Bab XX pada ICD-10 dan
tindakan medis terkait sesuai dengan ICD-10 dan ICD-9-CM secara akurat.

Maksud dan tujuan:

5. Mahasiswa mengerti dan memahami leadterm yang digunakan untuk


menentukan kode diagnosis dan tindakan medis terkait kasus audit coding
terkait Bab XIX dan Bab XX pada ICD-10 dan tindakan medis terkait.

6. Mahasiswa mengerti dan memahami tata cara penentuan kode diagnosis


dan tindakan terkait kasus audit coding terkait Bab XIX dan Bab XX pada
ICD-10 dan tindakan medis terkait sesuai ICD-10 dan ICD-9-CM secara
akurat.

7. Mahasiswa mengerti dan memahami konsep dan hubungan antara Bab XIX
dan Bab XX pada ICD-10 dan tindakan medis terkait.

Landasan teori:

Bab ini menggunakan Seksi-S untuk mengkode berbagai tipe cidera, keracunan
dan konsekuensi dari sebab luar yang terkait satu regio tubuh, sedangkan Seksi-
T untuk meliput cidera multiple atau cidera yang mengena bagian tubuh yang
tidak dirinci, Apabila cedera site multiple dirinci khusus pada judul, maka kata
“with” menunjukkan bahwa gangguan mengena kedua bagian sisi tubuh,
sedangkan kata “and” menunjukkan bahwa gangguan mengena salah satu atau
kedua sisi tubuh.
Aturan bagi coding multiple seberapa mungkin harus diikuti. Kombinasi kategori
untuk cedera multiple disediakan untuk dimanfaatkan apabila ada keterangan
cukup tentang bentuk alamiah kondisi individu, atau untuk keperluan tabulasi
primer apabila memang lebih memudahkan untuk merekam kode tunggal (single
code); apabila tidak demikian, maka komponen cidera harus dicode secara

164
terpisah. Rujukan ke pedoman di Volume 2 tentang Rules Morbidity dan Mortality
harus diikuti dengan cermat.

Blok pada Seksi S dan juga T00-T14 dan T90-T98 menampung cidera pada
tingkat klasifikasi 3-karakter sesuai tipe sebagai berikut: SUPERFICIAL INJURY
(CIDERA SUPERFISIAL), meliput sebutan:

7. abrasion (abrasi, cedera gores)

8. blister (nonthermal) (pelepuh, nontermal)

9. contusion (cedera bentur) termasuk: bruise (memar) & hematoma

10. (perdarahan di bawah kulit)

11. splinter (cedera akibat benda asing) tanpa luka terbuka

12. gigitan insekta (nonvenous) (tidak beracun)

6. animal bite (gigitan hewan)

7. cut (luka potong)

8. laseration (luka lecet)

9. puncture wound (luka tusuk)

NOS

with (penetrating) foreign body (tusukan benda asing)

FRACTURE (FRAKTUR)

10. CLOSED:

- comminuted - greenstick - simple

- depressed - impacted - slipped

- elevated - linear epiphysis

- fissured - march - spiral

dengan atau tanpa penyembuhan yang terhambat (delayed healing)

dislocated

displaced
8. OPEN:

compound

infected

missile

puncture

with foreign body (benda asing)

dengan atau tanpa penyembuhan terhambat.

165
Excludes: fracture:

6. pathological (M84.4)

7. with osteoporosis (M80.-)

8. stress (M84.3)

malunion or fracture (M84.0)

nonunion of fracture [pseudoarthrosis] (M84/1)

DISLOCATION, SPRAIN & STRAIN including:

7. avulsion

8. laceration

9. sprain

10. strain

11. traumatic:

haemarthrosis

rupture

subluxation

tear

dari joint (capsule persendian), ligament (urat).

CIDERA SARAF DAN CORDA SPINALIS

lesi corda spinalis komplit atau in-komplit

lesi pada sambungan saraf dan corda spinalis traumatic:

diviison of nerve

haematomyelia

paralysis (transient)

paraplegia

quadripelgia
CIDERA PEMBULUH DARAH, termasuk ini:

- avulsion - cut - laceration

12. traumatic:

a. aneurysm or fistula (arteriovenour)

b. arterial haematoma

c. rupture

dari pembuluh darah

CEDERA OTOT DAN TENDON, termasuk ini:

20. avulsion

166
9 cut

10 laceration

11 traumatic rupture
dari otot dan tendon

CRUSHING INJURY
TRAUMATIC AMPUTATION

INJURY TO INTRENAL ORGANS, termasuk ini:

- blast injuries - bruise - concussion injuries

30. crushing

31. laceration

- traumatic: - hematoma - puncture - rupture


- tear of internal organ

OTHER & UNPSECIFIED INJURIES

Hal yang perllu diperhatikan pada penggunaan bab ini adalah:

1. S02 (hal. 896)

Note: For primary coding of fracture of skull and facial bones with associated
intracranial injury, refrence should be made… The following subdivision are
provided…

a fracture not indicated as closed or open should be classified as closed.

11. closed

12. open

Peringatan ini ada di hal. 896, 903 dst.

2. S06 Intracranial injury (hal. 900)

Note: For primary coding of intracranial injuries with associated fracture,


reference should be made…
without open intracranial wound

with open intracranial wound


Peringatan ini ada di hal. 900, 910 dst
10. Burn and Corrosion (luka bakar)
Lihat volume 3 halaman 79

Burn (electricity) (flame) (hot gas, liquid or object) (radiation) (steam)


(thermal) T30.0

Note: The following fourth-character subdivisions are for use with categories

T20-T25 and T30: Rincian keterangan tentang derajat status luka bakarnya.

167
.0 Unspecifeid degree
.1 First degree - erythema
.2 Second degree - blister, epidermal loss
.3 Third degree - deep necrosis of underlying tissue full-thickness

skin loss

14. T31 Burn classified according to extent body surface involved

Note: This category is to be used as the primary code only ehen the site of
the burn…

Rincian dinyatakan dalam 10 % - 79% of body surface

15. COMPLICATIONS OF SURGICAL & MEDICAL CARE, NEC (T80 – T88)


Use additional external cause code (Chapter XX), if disired, to identify
devices involved and details of circumstances.

Use additional code (B95-B97), if desired, to identify infectious agent.

16. SEQUELAE OF INJURIES, OF POISONING & OF OTHER


CONSEQUENCES OF EXTERNAL CAUSES (T90-T98)

Sequelae cedera kepala

Sequelae cedera leher & badan

Sequelae tungkai atas.

Sequelae tungkai atas

Sequelae terkait cedera multiple (site tidak dirinci)

Sequelae luka bakar, korosi dan frostbite

Sequelae keracunan obat dll.

Sequelae efek racun substansi nonmedicinal.

Sequelae lain-lain terkait efek kausa external

Bab ini meliputi klasifikasi dari kejadian (event) lingkungan dan keadaan
sekitarnya sebagai kausa suatu cedera, keracunan dan efek yang merugikan,
pertentangan atau permusuhan, ketidakcocokan, atau berlawanan, Code pada
Bab XX diaplikasikan untuk melengkapi code pada Bab-bab lain, terutama Bab
XIX.

Causes of death ditabulasi berdasakan Bab XIX dan Bab XX, apabila hanya
mengunakan satu code sebab kematian maka hanya code Bab XX yang
digunakan.

168
Kondisi lain-lain yang bisa disebut timbul karena sebab luar terklasifikasi pada
Bab I – XVIII

Untuk ini code Bab XX digunakan sebagai informasi tambahan (Additional


information), hanya untuk analisis kondisi multiple.

PLACE OF OCCURANCE CODE (hal. 1013 – 1017)

.0 Home

.1 Residential institution

.2 School, other institution & public administration area

.3 Sports & atheletics area

.4 Street & highway

.5` Trade and service area

.6 Industrial & construction area

.7 Farm

.8 Other specified places

.9 Unspecified place

ACTIVITY CODES

Code tersedia sebagai supplementary untuk menjelaskan aktivitas pasien saat


cedera itu terjadi.

Subklasifikasi ini jangan dicampuradukan dengan, atau untuk meggantikan


subdivisi digit-4 untuk menjelaskan tempat kejadian event yang terklasifikasi
dalam W00-W34

5. While engaged in sports activity


6. While engaged in leisure activity

7. While working for income

8. While engaged in other types of work

9. While resting, sleeping, eating or engaging in other vital activities, personal


hygiene

12. While engaged in other specified activities

13. During unspecified activity.

TRANSPORT ACCIDENT

Perhatikan hal. 1018 ada Note:…

169
Ada definisi terkait kecelakaan transport


(b) (y)

Classification and coding instructions for transport accidents


(2) (7)

Halaman 1029, 1032, 1034, 1037, 1039, 1042.

Disediakan karakter ke-4 untuk menjelaskan tipe dari korban kecelakaan,


pelengkap V20-V29.

.0 Driver... .1 Passanger... .2 Unspecified...


.3 Person injured… .4 Driver … .5 Passanger...

.9 Unspecified

WATER TANSPORT ACCIDENTS

Tersedia digit ke-4 untuk melengkapi nomor code di atas

.0 Merchant ship

.1 Passenger ship (Ferry-boat, Liner)

.2 Fishing boat
.3 Other powered watercraft (Hovercraft (on open water)) Jet skis

.4 Sailboat (yacht)

.5 Canoe or kayak

.6 Inflatable craft (non-powered)

.7 Water-skis

.8 Other unpowered watercraft (Surf-board, Windsurfer)


.9 Unspecified watercraft (boat NOS, ship NOS, Watercraft NOS)

External causes of morbidity & mortality ditelusuri di Volume 3 seksi 2 (Umumnya


sebutan cedera dan bukan istilah penyakit)
International Classification of Diseases Revision Clinical Modification (ICD-9-CM)
adalah sistem klasifikasi penyakit internasional revisi ke-9 (ICD-9) dengan
modifikasi untuk keperluan klinis. ICD-9-CM dirancang sebagai klasifikasi untuk
berbagai prosedur/tindakan medis. ICD-9-CM terdiri atas 3 volume: Volume 1:
tabular list

Volume 2: alphabetical list

Volume 3: prosedur/tindakan

170
Dalam ICD-9-CM terdapat 16 bab, yaitu:

(01 – 05) Operasi pada sistem saraf

(06 – 07) Operasi pada sistem endokrin

(08 – 16) Operasi pada mata

(18 – 20) Operasi pada telinga

(21 – 29) Operasi pada hidung, mulut, pharynx

(30 – 34) Operasi pada sistem saluran pernapasan

(35 – 39) Operasi pada sistem kardiovaskular

(40 – 41) Operasi pada sistem hemic dan limfatik

(42 – 54) Operasi pada sistem pencernaan

(55 – 59) Operasi pada sistem saluran kemih

(60 – 64) Operasi pada genital laki-laki

(65 – 71) Operasi pada organ genital perempuan

(72 – 75) Obstetri prosedur

(76 – 84) Operasi pada sistem muskuloskletal

(85 – 86) Operasi pada integumen

(87 – 99) Diagnostik misscellaneous dan prosedur terapeutik

Beberapa istilah tindakan terkait sistem endokrin dan metabolisme:


1. Incision : insisi, pemotongan
2. Excision : eksisi, pengangkatan
3. –stomy : pembuatan saluran
4. –tomy : penyayatan
5. –ectomy : pengangkatan
6. –scopy : pemeriksaan
7. Biopsi : pemeriksaan pada jaringan hidup
8. Insertion : pemasangan, penyisipan

4 Suture/-rrhapy : penjahitan

10. Closure : penutupan


11. Repair : perbaikan
12. Graft : pemindahan (kulit)
13. Ligation : tindakan mengikat, terikat
14. Dilatation : tindakan pelebaran

171
15. Anastomosis : lintas komunikasi antara arteri-vena, menyambungkan
16. –plasty : operasi plastik
17. Removal : pembersihan, penghilangan
18. Artificial : tiruan, palsu
19. Destruction : merusak, menghancurkan
20. Isolation : isolasi, pemisahan
21. Perfusion : pemompaan cairan ke dalam organ atau jaringan
22. Transplant : pencangkokan

Daftar pustaka:

WHO. 2010. International Statistical Classification of Diseases and Related


Health Problem 10th Revision. WHO: Geneva.

WHO. 2010. The International Classification of Diseases, 9th Revision, Clinical


Modification. WHO: Geneva.
172
KASUS/LATIHAN 30

Audit Coding terkait Bab XIX dan Bab XX pada ICD-10

dan Tindakan Medis Terkait (1)

Alat dan bahan praktikum:

9. Modul Praktikum KKPMT 5

10. ICD-10 dan ICD-9-CM

11. Kamus Kedokteran

12. Kamus Bahasa Inggris

13. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

14. ATK

Kegiatan praktikum:

h. Mahasiswa mengerjakan soal di lembar kerja yang telah disediakan dengan


cara menentukan kode diagnosis dan tindakan serta proses dalam
melakukan audit coding.

i. Mahasiswa dengan pengampu melakukan diskusi dan pembahasan atas


soal yang telah dikerjakan untuk mendapatkan jawaban yang benar.

Kode
No Kasus Audit
Diagnosis Tindakan

1 Seorang joki mengalami Diagnosis:


fraktur tulang temporal
terbuka setelah jatuh

dari kuda pada saat


bertanding di lapangan
pacuan kuda Sentul
Maguwoharjo, setelah

dilakukan craniotomy External cause:


decompresi.

173
Tindakan:

2 Seorang anak sedang Diagnosis:


bermain di halaman

mengalami luka tembak


peluru nyasar pada

abdomen dan hati akibat


senapan mesin seorang
polisi yang sedang

membersihkannya. External cause:


Dilakukan pengambilan
peluru di perut.

Tindakan:

3 Tangan kanan tukang Diagnosis:


kayu terjepit mesin,
terjadi patah tulang digiti

2 manus dextra.
Tindakan yang diberikan
pining digiti 2 manus

dextra.

External cause:
Tindakan:

174
4 Patah tulang bahu kanan Diagnosis:
terbuka setelah

dilakukan foto rontgen


akibat tertimpa
reruntuhan bangunan di

rumahnya saat gempa


bumi ketika sedang tidur.

External cause:

Tindakan:

5 Tabrakan pengendara Diagnosis:

motor dengan mobil


yang menyebabkan
fraktur femur kanan

tertutup dan fraktur


tengah tibia kanan

terbuka dilakukan

tindakan ORIF untuk External cause:


fraktur tibia dan gips
pada femur.
Tindakan:

175
Kode
No Kasus Audit
Diagnosis Tindakan

6 Luka bakar telapak Diagnosis:


tangan kanan derajat II,
25% saat menggoreng
cemplon untuk camilan

sore anak-anaknya.

External cause:

Tindakan:

7 Seorang pendaki Diagnosis:


gunung terjebak di gua

yang dipenuhi salju


sehingga terjadi cidera
dingin pada telapak

tangan.

External cause:

Tindakan:
176
8 Keracunan sehabis Diagnosis:
makan jamur yang

dimasak oleh ibunya,


dilakukan tindakan cuci
lambung.

External cause:

Tindakan:

9 Keracunan tetrasiklin Diagnosis:

satu botol, mencoba


bunuh diri karena
ditinggal nikah pacarnya

dengan orang lain.

External cause:
Tindakan:

10 Seorang sopir Bus Diagnosis:

Jurusan Yogya – Solo

mengalami subdural

haemorrhage dan fraktur

radius ulna distal terbuka

kanan setelah bus yang

177
dikemudikanya
External cause:

menabrak tiang listrik di

pinggir jalan dekat Candi

Prambanan. Semua

penumpang tidak ada

yang cedera serius


Tindakan:
hanya excoriasis dan

tidak dibawa ke RS.

Tindakan yang diberikan

ORIF dan Debridement.

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
178
KASUS/LATIHAN 31

Audit Coding terkait Bab XIX dan Bab XX pada ICD-10

dan Tindakan Medis Terkait (2)

Alat dan bahan praktikum:

11. Modul Praktikum KKPMT 5

12. ICD-10 dan ICD-9-CM

13. Kamus Kedokteran

14. Kamus Bahasa Inggris

15. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

16. ATK

Kegiatan praktikum:

6. Mahasiswa mengerjakan soal di lembar kerja yang telah disediakan dengan


cara menentukan kode diagnosis dan tindakan serta proses dalam
melakukan audit coding.

7. Mahasiswa dengan pengampu melakukan diskusi dan pembahasan atas


soal yang telah dikerjakan untuk mendapatkan jawaban yang benar.

Kode
No Kasus Audit
Diagnosis Tindakan

1 Seorang buruh Diagnosis:


bangunan ditemukan
jatuh dari tangga saat

bekerja. Tampak
deformitas paha kanan
dan lengan atas. Hasil
foto rontgen

menunjukkan fraktur External cause:


pada keduanya. Setelah
dilakukan tindakan ORIF
pada paha, pasien

diizinkan pulang.

179
Tindakan:

2 Pasien dengan diagnose Diagnosis:


Terkilir pada panggul

dan Terkilir di Ankle


post jatuh dari motor

karena kecelakaan
tunggal di arena balap
motor saat lomba.

Pasien dilakukan External cause:


tindakan foto ankle tapi
tidak ditemukan fractur.
Pasien datang kontrol
setelah hari ke tiga dan

dilakukan tindakan
dyathermy.

Tindakan:

3 Anak umur 2 tahun Diagnosis:


mengalami perforasi
gendang telinga karena

tertusuk jarum rajutan di


rumah neneknya.

External cause:
Tindakan:

180
4 Keracunan sehabis Diagnosis:
makan udang goreng

tepung di rumah makan


sepulang dari jalan-jalan
di Kaliurang bersama

teman kostnya.

External cause:

Tindakan:

5 Anak kecil cedera Diagnosis:

memar pada kepala


tertabrak sepeda motor
ketika sedang mengejar

berebut layang-layang
yang putus di Jalan

Kaliurang Pakem

Sleman. External cause:


Tindakan:

181
Kode
No Kasus Audit
Diagnosis Tindakan

6 Pengendara sepeda Diagnosis:


motor fraktur tibia dan
fibula terbuka serta
emboli udara akibat

trauma pembuluh darah


akibat tertabrak mobil

boxes sewaktu mau

menjemput pacarnya di External cause:


supermarket, pasien
dipasang ventilator dan
embolectomy.

Tindakan:

7 Supir gerabah Diagnosis:


mengalami luka bakar

85% dengan derajat III


karena kecelakaan
antara 2 mobil hingga

terjadi ledakan di jalan


Jogja-Bantul.

External cause:
Tindakan:

182
8 Pasien datang dengan Diagnosis:
penurunan kesadaran,

post tertabrak bus saat


mengendarai sepeda
motor. tampak beberapa

luka lecet di tangan dan


kaki. Hasil CT Scan

menunjukkan adanya External cause:


perdarahan di intra
cerebral.

Tindakan:

9 Fraktur radius 1/3 Diagnosis:

proximal, jatuh dari


sepeda motor di jalan
raya menghindari helm

jatuh dari pengendara


motor lain yg ada di

depannya. Korban

sedang dalam External cause:


perjalanan pulang kerja.
Tindakan:

10 Luka bakar pada jempol Diagnosis:


tangan, nekrosis dalam

karena terkena ledakan


petasan di lapangan
Mandala Krida.

Dilakukan tindakan
amputasi.

183
External cause:

Tindakan:

Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
184
KASUS/LATIHAN 32

Audit Coding terkait Bab XIX dan Bab XX pada ICD-10

dan Tindakan Medis Terkait (3)

Alat dan bahan praktikum:

76. Modul Praktikum KKPMT 5

77. ICD-10 dan ICD-9-CM

78. Kamus Kedokteran

79. Kamus Bahasa Inggris

80. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

81. ATK

Kegiatan praktikum:

6. Mahasiswa mengerjakan soal di lembar kerja yang telah disediakan dengan


cara menentukan kode diagnosis dan tindakan serta proses dalam
melakukan audit coding.

7. Mahasiswa dengan pengampu melakukan diskusi dan pembahasan atas


soal yang telah dikerjakan untuk mendapatkan jawaban yang benar.

Kode
No Kasus Audit
Diagnosis Tindakan

11 Mr. Toyib Luka terbuka Diagnosis:


pada bola mata kanan
karena terkena pecahan

kaca akibat ledakan


bom, luka bakar 5%
derajat 2 telapak tangan
kanan, jari ke 3 tangan

kanan terlepas saat External cause:


perang Irak-Afganistan.
Dilakukan tindakan
penjahitan bola mata

dan debridement.

185
Tindakan:

12 Mpok Zaenab Diagnosis:


mengalami Deformitas

rahang sebelah kanan,


perdarahan hidung

karena fraktur, luka


robek pada daun telinga,
setelah tertimpa pohon

yang tumbang saat External cause:


melintas di jalan raya
menuju tempat kerja.
Setelah dilakukan foto
tulang wajah diketahui

bahwa pasien
mengalami fraktur

mandibula dan fraktur


Tindakan:
tulang hidung. Hasil CT-
Scan kepala tidak

tampak adanya
perdarahan. Dilakukan

tindakan ORIF
mandibula, reduksi
tulang hidung dan jahit

daun telinga.
13 Mariani mengalami Diagnosis:
emboli udara saat

dilakukan operasi
pemasangan alat pacu
jantung di rumah sakit.

Dilakukan tindakan
embolectomy.

External cause:

186
Tindakan:

14 Pak Jono adalah Diagnosis:


seorang kondektur bis

mengalami luka bakar


tersiram air keras pada

wajah 2% derajat 2, 5%
pada dada derajat 2, dan
3% derajat 1 pada

telapak tangan External cause:


sesampainya di terminal.
Dilakukan tindakan
debridement, dan
tindakan ganti verban

saat control 7 hari


kemudian.

Tindakan:

15 Mbak Yayuk seorang Diagnosis:

pegawai TU sekolah
ditemukan tidak
sadarkan diri di kamar
mandi sekolah. Tampak
botol baygon

digenggaman

tangannya. Diketahui hal External cause:


ini merupakan
percobaan bunuh diri
berulang akibat putus

cinta dengan mas


Bambang pegawai

kantin sekolah. Mbak


Yayuk dibawa ke RS
Tindakan:
dilakukan tindakan bilas
lambung. Tiga hari
kemudian mbak Yayuk

dibawa lagi ke rumah


sakit untuk control.

187
Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.
188
MODUL 16
Deskripsi:

Modul ini merupakan bagian dari kegiatan praktik untuk Mata Kuliah
Praktik KKPMT 5 yang terdiri atas 16 (enam belas) modul. Materi yang terdapat
pada Modul 16 meliputi: audit coding terkait Bab XIV, XV, XVI dan Bab XVII pada
ICD-10 dan tindakan medis terkait.

Dengan adanya modul ini, kami berharap dapat mendekatkan,


melengkapi dan menambah keterampilan mahasiswa dalam bidang rekam medis
baik secara teoritis maupun praktis.
189
MATERI 16

Audit Coding terkait Bab XIV, XV, XVI, dan XVII pada ICD-10

dan Tindakan Medis Terkait

Kompetensi:

Mahasiswa mampu menentukan leadterm dam kode diagnosis serta tindakan


medis terkait kasus audit coding terkait Bab XIV, XV, XVI, dan XVII pada ICD-10
dan tindakan medis terkait sesuai dengan ICD-10 dan ICD-9-CM secara akurat.

Maksud dan tujuan:

6. Mahasiswa mengerti dan memahami leadterm yang digunakan untuk


menentukan kode diagnosis dan tindakan medis terkait kasus audit coding
terkait Bab XIV, XV, XVI, dan XVII pada ICD-10 dan tindakan medis terkait.

7. Mahasiswa mengerti dan memahami tata cara penentuan kode diagnosis


dan tindakan terkait kasus audit coding terkait Bab XIV, XV, XVI, dan XVII
pada ICD-10 dan tindakan medis terkait sesuai ICD-10 dan ICD-9-CM
secara akurat.

8. Mahasiswa mengerti dan memahami konsep dan hubungan antara Bab XIV,
XV, XVI, dan XVII pada ICD-10 dan tindakan medis terkait.

Landasan teori:

STRUKTUR ICD-10 TERKAIT BAB XIV KHUSUSNYA MALE AND FEMALE


GENITAL ORGANS

Di dalam ICD-10, male and female genital organs diklasifikasikan ke dalam bab
XIV bersama dengan sistem urinaria.

EXCLUDES (Tidak termasuk ke bab ini) adalah:


Kondisi terkait perinatal period (P00-P96)
Penyakit infeksi dan parasit (A00-B99)
Komplikasi kehamilan, kelahiran dan nifas (O00-O99)

Malformasi kongenital (Q00-Q99)

Penyakit endokrin, nutrisional, dan kelainan metabolism (E00-E90)

Cedera, keracunan, dan konsekuensi lain akibat sebab luar (S00-T98)

Kanker (C00-D48)

190
Gejala, tanda, dan temuan lab yang abnormal (R00-R99)

Bab ini meliput blok sebagai berikut:

N00-N08 Penyakit glomerular


N10-N16 Penyakit tubulointerstitial ginjal
N17-N19 Gagal ginjal
N20-N23 Urolithiasis
N25-N29 Gangguan lain pada ginjal dan ureter
N30-N39 Gangguan lain pada sistem urinaria
N40-N51 Penyakit pada organ kelamin pria
N60-N64 Gangguan pada payudara
N70-N77 Penyakit inflamasi pada organ pelvis wanita
N80-N98 penyakit noninflamasi pada saluran genital wanita
N99 gangguan lain pada saluran genitourinaria

Kode ber-asterisk (*) di bab ini:

N08*, N16*, N22*, N29*, N33*, N37*, N51*, N74*, dan N77*

Kode untuk pasien hamil, melahirkan dan nifas dapat menggunakan kode:

17. Kode Diagnosis prenatal care

18. Perhatikan penyakit2 yg menyertai kehamilan atau penyulit:

Kehamilan (Pregnancy)

Persalinan (Delivery, labour, labor)

Status ibu saat melahirkan, penyakit-penyakit yang mungkin


mempengaruhi atau sebagai penyulit kala-kala persalinan

Metode persalinan tunggal/multiple

Outcome delivery (tunggal/multiple)


11. Nifas (Purpureum

STRUKTUR ICD-10 UNTUK BAB XV


EXCLUDES (Tidak termasuk ke bab ini) adalah:
[HIV] diseases (B20-B24)

Cedera, keracunan ^ konsekuensi lain akibat sebab luar (S00-T98)

Gangguan mental & prilaku yang terkait masa nifas (F53.-)

191
Tetanus obstetrik (A34)

Nekrosis postpartum kelenjar pituitari (E23.0)

Osteomalacia postpartum (M83.0)

Supervisi dari :Kehamilan berisiko tinggi (Z35-)

Kehamilan normal (Z34.-)

Bab ini meliput blok sebagai berikut:


O00-O08 Kehamilan dengan hasil abortus
O10-O16 Gangguan edema, proteinuria & gangguan hipertensi pada

kehamilan, perslianan & nifas.


O20-O29 Gangguan maternal terutama pada masa kehamilan
O30-O48 Perawatan maternal terkait janin dan rongga amnion serta

masalah yang mungkin terjadi pada saat persalinan


O60-O75 Komplikasi pada saat persalinan
O80-O84 Persalinan
O85-O92 komplikasi terutama pada masa nifas
O95-O99 Kondisi obstetric lainnya, NEC

Tidak ada kode ber-asterisk (*) di bab ini.

Definisi yg berhubungan dg kematian perinatal:

11. Lahir hidup

Lahir hidup adalah keluarnya seluruh produk hasil konsepsi yang


berkembang selama periode kehamilan, yang ditandai dengan adanya
pernapasan, detak jantung, dan pergerakan otot daripada bayi.

12. Lahir mati


Lahir mati adalah keluarnya seluruh produk hasil konsepsi yang berkembang
selama periode kehamilan, akan tetapi tidak adanya nafas, denyut jantung,
dan pergerakan daripada otot bayi.

13. Berat lahir

Adalah berat yang diukur setelah bayi lahir

a. Berat lahir rendah: kurang dari 2500 gram

b. Berat lahir sangat rendah: kurang dari 1500 gram

c. Berat lahir sangat ekstrim: kurang dari 1000 gram

192
11. Umur kehamilan

Durasi waktu kehamilan yang dihitung mulai dari hari pertama menstruasi
terakhir (280 – 286 hari atau 40 minggu)

Pre-term:kurang dari 37 minggu (kurang dari 259 hari) dari umur


kehamilan

Term: dari rentang 37 – 42 minggu (259 – 293 hari) dari umur kehamilan

Post-term: 42 minggu atau lebih (294 hari) dari umur kehamilan

12. Periode perinatal

Periode dari lahir (kehamilan berumur 22 minggu dan ketika lahir dengan
berat 500 gram) sampai berumur 7 hari

13. Periode neonatal

Periode neonatal dimulai dari lahir sampai berumur 28 hari.


Apabila bayi lahir sehat maka tidak memiliki kode diagnosis penyakit (P)
hanya perlu kode lahir, telusuri dibawah Infant. Apabila lahir ada masalah, cari
kode sesuai diagnosis terkait. Apabila lahir mati, maka kode dicari di Death.
Apabila ada kelainan bawaan, maka kode dicari di bawah Congenital (Q).

P05-P08 Pada bab XVI ini terdiri dari 10 blok dan 59 kategori. Kategori 3 digit
P10-P15 dimulai dari P00 – P96 (dari 97 kategori yang tersedia, baru
P20-P29 digunakan 59 kategori). Terdapat satu kode ber-asterisk (*) yaitu
kode P75*.
P35-P39
P50-P61
Bab ini meliput blok sebagai berikut:
P70-P74
P00-P04 fetus dan bayi baru lahir (newborn) yang
dipengaruhi oleh factor maternal dan komplikasi kehamilan, dan
persalinan.

Gangguan terkait lama umur kehamilan dan pertumbuhan fetus.


Trauma kelahiran

Gangguan respirasi dan kardiovaskuler spesifik pada periode


perinatal.

Infeksi spesifik pada periode perinatal.

Perdarahan dan gangguan hematologi pada fetus dan bayi baru


lahir

Gangguan endokrin sementara dan gangguan metabolis pada fetus


dan bayi baru lahir

193
P75-P78 Gangguan pencernaan pada fetus dan bayi baru lahir

P80-P83 kondisi yang melibatkan fungsi integumentum dan regulasi suhu pada
fetus dan bayi baru lahir

P90-P96 Gangguan lainnya pada fetus dan bayi baru lahir

Beberapa istilah gangguan congenital adalah:

1. Anencephaly : tidak memiliki kepala, pertumbuhan kepala tidak


sempurna.

10. Enchephalocele : hernia di kepala

3. Microcephaly : ukuran kepala kecil dari normal


4. Hydrocephalus : bisa kongenital
5. Spina bifida : bisa pada cervical, thoracal, lumbar, sacral
6. Malformasi : salah bentuk, pembentukan kurang sempurna
7. Glaucoma : tekanan bola mata mening kat, dan cataract (kekeruhan

lensa) mata bisa kongenital.


8. Cardiac septa : sekat jantung dan klep jantung bisa bocor sejak lahir.
9. Cleft lip : bibir sumbing; cheiloschisis, labios chis is
10. Palatos chisis : sumbing sampai dengan langit-langit; cleft palate
11. Atresia : tidak terbentuk (lubang); atresia anii. Tidak terbentuk

anus
12. Agenesis : tidak tumbuh
13. Conjoined twins : kembar dempet.

Bab ini meliput blok sebagai berikut:


Q00-Q07 Malformasi kongenital pada sistem saraf

Q10-Q18 Malformasi kongenital pada mata, telinga, wajah, dan leher

Q20-Q28 Malformasi kongenital pada sistem sirkulasi

Q30-Q34 Malformasi kongenital pada sistem pernapasan

Q35-Q37 celah bibir (bibir sumbing) dan langit-langit rongga mulut

Q38-Q45 Malformasi kongenital lain pada sistem pencernaan

Q50-Q56 Malformasi kongenital pada organ genitalia

Q60-Q64 Malformasi kongenital pada sistem perkemihan

Q65-Q79 Malformasi kongenital dan deformasi/perubahan bentuk pada


sistem musculoskeletal

194

Q80-Q89 Malformasi kongenital lain

Q90-Q99 Abnormalitas kromosomal, NEC

External causes of morbidity & mortality ditelusuri di Volume 3 seksi 2 (Umumnya


sebutan cedera dan bukan istilah penyakit)
International Classification of Diseases Revision Clinical Modification (ICD-9-CM)
adalah sistem klasifikasi penyakit internasional revisi ke-9 (ICD-9) dengan modifikasi
untuk keperluan klinis. ICD-9-CM dirancang sebagai klasifikasi untuk berbagai
prosedur/tindakan medis. ICD-9-CM terdiri atas 3 volume: Volume 1: tabular list

Volume 2: alphabetical list

Volume 3: prosedur/tindakan

Dalam ICD-9-CM terdapat 16 bab, yaitu:

(01 – 05) Operasi pada sistem saraf

(06 – 07) Operasi pada sistem endokrin

(08 – 16) Operasi pada mata

(18 – 20) Operasi pada telinga

(21 – 29) Operasi pada hidung, mulut, pharynx

(30 – 34) Operasi pada sistem saluran pernapasan

(35 – 39) Operasi pada sistem kardiovaskular

(40 – 41) Operasi pada sistem hemic dan limfatik

(42 – 54) Operasi pada sistem pencernaan

(55 – 59) Operasi pada sistem saluran kemih

(60 – 64) Operasi pada genital laki-laki

(65 – 71) Operasi pada organ genital perempuan


(72 – 75) Obstetri prosedur

(76 – 84) Operasi pada sistem muskuloskletal

(85 – 86) Operasi pada integumen

(87 – 99) Diagnostik misscellaneous dan prosedur terapeutik

Beberapa istilah tindakan terkait sistem endokrin dan metabolisme:

1. Incision : insisi, pemotongan


2. Excision : eksisi, pengangkatan

195
3. –stomy : pembuatan saluran
4. –tomy : penyayatan
5. –ectomy : pengangkatan
6. –scopy : pemeriksaan
7. Biopsi : pemeriksaan pada jaringan hidup
8. Insertion : pemasangan, penyisipan

9. Suture/-rrhapy : penjahitan

10. Closure : penutupan


11. Repair : perbaikan
12. Graft : pemindahan (kulit)
13. Ligation : tindakan mengikat, terikat
14. Dilatation : tindakan pelebaran
15. Anastomosis : lintas komunikasi antara arteri-vena, menyambungkan
16. –plasty : operasi plastik
17. Removal : pembersihan, penghilangan
18. Artificial : tiruan, palsu
19. Destruction : merusak, menghancurkan
20. Isolation : isolasi, pemisahan
21. Perfusion : pemompaan cairan ke dalam organ atau jaringan
22. Transplant : pencangkokan

Daftar pustaka:

WHO. 2010. International Statistical Classification of Diseases and Related


Health Problem 10th Revision. WHO: Geneva.

WHO. 2010. The International Classification of Diseases, 9th Revision, Clinical


Modification. WHO: Geneva.
196
KASUS/LATIHAN 33

Audit Coding terkait Bab XIV, XV, XVI, dan XVII pada ICD-10

dan Tindakan Medis Terkait (1)

Alat dan bahan praktikum:

1. Modul Praktikum KKPMT 5

2. ICD-10 dan ICD-9-CM

3. Kamus Kedokteran

4. Kamus Bahasa Inggris

5. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

6. ATK

Kegiatan praktikum:

1. Mahasiswa mengerjakan soal di lembar kerja yang telah disediakan dengan


cara menentukan kode diagnosis dan tindakan serta proses dalam
melakukan audit coding.

2. Mahasiswa dengan pengampu melakukan diskusi dan pembahasan atas


soal yang telah dikerjakan untuk mendapatkan jawaban yang benar.

Kode
No Kasus Audit
Diagnosis Tindakan

1 Seorang wanita paruh Rekam Medis *) Wanita/Ibu: *) pilih salah satu


baya periksa ke rumah
sakit dan mengeluhkan

bahwa perutnya sakit.


Setelah diperiksa oleh
dokter, dokter
menyebutkan bahwa

wanita tersebut Rekam Medis Bayi:


mengalami ulkus
dekubitus serviks. Untuk
mengatasi hal tersebut,

dokter melakukan
tindakan insisi pada

serviks.

197
2 Seorang ibu usia 45 Rekam Medis *) Wanita/Ibu: *) pilih salah satu
tahun datang ke rumah

sakit untuk melakukan


sterilisasi. Dokter
melakukan tindakan

pemotongan tuba falopi.

Rekam Medis Bayi:

3 Hasil pemeriksaan pada Rekam Medis *) Wanita/Ibu: *) pilih salah satu


seorang wanita

menyebutkan bahwa
wanita tersebut

menderita prolaps pada


uterovaginal incomplete,

dilakukan tindakan

histeroskopi untuk Rekam Medis Bayi:


melakukan pemeriksaan
yang lebih mendalam.

4 Seorang wanita hamil Rekam Medis *) Wanita/Ibu: *) pilih salah satu

paruh baya periksa ke


rumah sakit. Dokter
menyebutkan bahwa
wanita tersebut
mengalami uteri

disfungsi sehingga harus

dilakukan tindakan Rekam Medis Bayi:


kuretase.

5 Seorang wanita hamil Rekam Medis *) Wanita/Ibu: *) pilih salah satu


mengalami persalinan

kembar, keduanya lahir


hidup, yang satu lahir di
dalam taksi saat

perjalanan menuju ke
rumah sakit dan satunya

198
lagi lahir di rumah sakit Rekam Medis Bayi:

dengan menggunakan
vakum ekstraksi.

Kode
No Kasus Audit
Diagnosis Tindakan

6 Seorang wanita hamil Rekam Medis *) Wanita/Ibu: *) pilih salah satu


umur 32 tahun
mengalami partus

spontan dengan vertex


delivery. Dokter

memberikan instruksi
untuk dilakukan

pertolongan persalinan Rekam Medis Bayi:


spontan dan episioyomy.
Bayi lahir hidup dengan

berat badan 2450 gram.

7 Seorang bayi dilahirkan Rekam Medis *) Wanita/Ibu: *) pilih salah satu


dengan vakum ekstraksi,

setelah lahir terjadi


cidera (brushing) pada

kulit kepala karena


proses kelahiran, berat
bayi tersebut 3500 gram.

Rekam Medis Bayi:


8 Seorang pasien Rekam Medis *) Wanita/Ibu: *) pilih salah satu
melahirkan bayinya
dengan SC emergency,

bayi lahir hidup dengan


APGAR skor 3,
dilakukan tindakan

resusitasi pada bayi

199
karena terjadi asfiksia. Rekam Medis Bayi:

9 Ikterik neonatorum pada Rekam Medis *) Wanita/Ibu: *) pilih salah satu


bayi yang lahir secara

SC, terjadi kesalahan


metabolisme

fenilketonuria klasik, bayi


memiliki berat 2400
gram dengan apgar skor

3 terdeteksi asfiksia, Rekam Medis Bayi:


dilakukan resusitasi dan
fototerapi.

10 Seorang anak memiliki Rekam Medis *) Wanita/Ibu: *) pilih salah satu

lubang uretra berada di

tengah antara ujung

penis dan pangkalnya,

dilakukan tindakan

operasi pada uretra

sehingga dapat Rekam Medis Bayi:


berfungsi secara normal

kembali.

Penilaian:
Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah jumlah soal
yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal kemudian dikalikan 100.

200
KASUS/LATIHAN 34

Audit Coding terkait Bab XIV, XV, XVI, dan XVII pada ICD-10

dan Tindakan Medis Terkait (2)

Alat dan bahan praktikum:

1. Modul Praktikum KKPMT 5

2. ICD-10 dan ICD-9-CM

3. Kamus Kedokteran

4. Kamus Bahasa Inggris

5. Referensi, Buku, Diktat Kuliah

6. ATK

Kegiatan praktikum:

1. Mahasiswa mengerjakan soal di lembar kerja yang telah disediakan dengan


cara menentukan kode diagnosis dan tindakan serta proses dalam
melakukan audit coding.

2. Mahasiswa dengan pengampu melakukan diskusi dan pembahasan atas


soal yang telah dikerjakan untuk mendapatkan jawaban yang benar.

Kode
No Kasus Audit
Diagnosis Tindakan

1 Seorang wanita dari Rekam Medis *) Wanita/Ibu: *) pilih salah satu


pasangan pengantin
baru mengeluhkan sakit

pada saat melakukan


senggama dengan
suaminya. Dokter
melakukan tindakan

vaginoskopi untuk Rekam Medis Bayi:


pemeriksaan pasien
tersebut.

201
2 Seorang anak laki-laki Rekam Medis *) Wanita/Ibu: *) pilih salah satu

umur 4 tahun mengalami


fimosis, untuk itu dokter
melakukan tindakan
sunat lebih dini pada

anak tersebut.

Rekam Medis Bayi:

3 Seorang wanita Rekam Medis *) Wanita/Ibu: *) pilih salah satu


didiagnosis oleh dokter

bahwa menderita
dysplasia pada serviks

uteri, untuk itu dokter


melakukan biopsi

endoserviks pada pasien

tersebut Rekam Medis Bayi:

4 Seorang ibu G2P1A0 Rekam Medis *) Wanita/Ibu: *) pilih salah satu


kenceng-kenceng.
Dilakukan tindakan

pemeriksaan USG
kandungan, selanjutnya
dilakukan tindakan

partus spontan.

Rekam Medis Bayi:


5 Wanita hamil mengalami Rekam Medis *) Wanita/Ibu: *) pilih salah satu
partus kembar 2 lahir

spontan di rumah sakit.


Bayi yang pertama lahir
dengan letak kepala,

dengan bayi yang kedua


lahir dengan letak

202
sungsang. Bayi Rekam Medis Bayi:

premature (keduanya BB
1750 gram).

Kode
No Kasus Audit
Diagnosis Tindakan

6 Ibu hamil dengan Rekam Medis *) Wanita/Ibu: *) pilih salah satu


plasenta previa totalis
dan pendarahan, lahir

dengan seksio
emergency, bayi yang

dilahirkan tunggal hidup


tapi cyanosis.

Rekam Medis Bayi:

7 Premature baby (weight Rekam Medis *) Wanita/Ibu: *) pilih salah satu


1450 gram) with an

apgar score 2 at 1
minute subsquently

pneumothorax,
respiratory distress
syndrome and

physiologycal jaundice. Rekam Medis Bayi:


8 Seorang anak dengan Rekam Medis *) Wanita/Ibu: *) pilih salah satu
kelainan celah langit-
langit. Akan dilakukan

operasi untuk
memperbaiki celah
langit-langitnya.

203
Rekam Medis Bayi:

9 Seorang anak dengan Rekam Medis *) Wanita/Ibu: *) pilih salah satu


jari tangan (jeri tengah

dan jari manis) bersatu,


dilakukan operasi untuk

memisahkan dua jari


tersebut.

Rekam Medis Bayi:

10 Seorang bayi dengan Rekam Medis *) Wanita/Ibu: *) pilih salah satu


kelainan tidak memiliki
anus dilakukan tindakan
pembuatan anus

sementara.

Rekam Medis Bayi:


Penilaian:

Penentuan nilai untuk semua nomor kegiatan praktikum ini adalah


jumlah soal yang dijawab dengan benar dibagi jumlah soal
kemudian dikalikan 100.

204