Anda di halaman 1dari 31

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT BUDI ASIH

NOMOR : 010/PAND/MFK/RSBA/2019

TENTANG

PEDOMAN KERJA P2K3


(PANITIA PEMBINA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA)

DIREKTUR RUMAH SAKIT BUDI ASIH,

Menimbang : a. bahwa tujuan pembentukan P2K3 harus dapat menjamin bahwa


organisasi yang akan dibentuk merupakan perwakilan seluruh
komponen yang ada di tempat kerja;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a perlu menetapkan Peraturan Direktur tentang Pedoman
Kerja Panitia Pembina Keselamatan Dan Kesehatan Kerja
(P2K3).

Mengingat : 1. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009


tentang Kesehatan;
2. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009
tentang Rumah Sakit;
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 24
tahun 2016 Tentang Persyaratan Teknis Bangunan dan
Prasarana Rumah Sakit;
4. Keputusan Direktur Utama Perseroan Terbatas Zam Zam Shyfa
Usaha Nomor 1/SK /RSBA/VII/2019 tentang Struktur Organisasi
dan Tata kerja Rumah Sakit Budi Asih;
5. Keputusan Direktur Utama Perseroan Terbatas Zam Zam Shyfa
Usaha Nomor 01/ZSU/SK/IV/2019 tentang Pengangkatan
Direktur Rumah Sakit Budi Asih.

MEMUTUSKAN:

Menetapkan: PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT BUDI ASIH TENTANG


PEDOMAN KERJA PANITIA PEMBINA KESELAMATAN DAN
KESEHATAN KERJA (P2K3)

Pasal 1
Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan upaya untuk
menekan dan mengurangi resiko kecelakaan dan penyakit
akibat kerja yang pada hakekatnya tidak dapat dipisahkan
antara keselamatan dan kesehatan

Pasal 2
Upaya Kesehatan Kerja adalah upaya penyerasian antara
kapasitas kerja dan beban kerja serta lingkungan kerja agar

1
setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa
membahayakan diri sendiri maupun orang/ masyarakat
disekelilingnya, agar diperoleh produktivitas yang optimal

Pasal 3
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berhubungan
dengan alat kerja, bahan dan proses kerja/ pengolahannya,
tempat kerja dan lingkungan serta cara-cara melakukan
pekerjaan

Pasal 4
Kecelakaan Kerja adalah Kecelakaan yang tidak
diharapkan dan tidak terduga. Tidak terduga karena
dibelakang kejadian tersebut diharapkan tidak terdapat
unsur kesengajaan dan perencanaan. Tidak diharapkan;
karena peristiwa kecelakaan disertai kerugian material
maupun penderitaan dari yang paling ringan sampai yang
paling berat, tidak diinginkan.

Pasal 5
Peraturan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Trenggalek
Pada tanggal 20 Mei 2019
Direktur Rumah Sakit Budi Asih

dr. Rendra Andriawan, MM


NIP : 01.04.19.0085

2
LAMPIRAN
PERATURAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT BUDI ASIH
NOMOR 010/PAND/MFK/RSBA/2019
TENTANG PEDOMAN KERJA
PANITIA PEMBINA
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (P2K3)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Rumah sakit sebagai badan usaha merupakan tempat berkumpulnya


tenaga kerja, pimpinan, pasien, pengunjung, dan mitra kerja yang lain.
Dalam hubungannya antara pimpinan dan tenaga kerja, ada hak dan
kewajiban yang harus dilakukan, salah satunya adalah hak tenaga kerja
untuk mendapatkan keselamatan dan kesehatan kerja dalam
menjalankan tugasnya. Sedangkan kewajiban tenaga kerja di antaranya
adalah menjalankan atau mematuhi peraturan yang ditetapkan, misalnya
tenaga kerja harus memakai alat pelindung diri pada proses pekerjaan
yang memerlukan alat pelindung diri. Sementara itu, pimpinan
berkewajiban untuk menyediakan alat pelindung diri sehingga pekerja
terhindar dari kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Sesuai dengan visi
Rumah Sakit “Menjadi Rumah Sakit Utama Pilihan Masyarakat
Trenggalek” Karena pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien
dengan mengutamakan mutu dan keselamatan pasien” untuk itu maka
perlu di bentuk Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(P2K3) di Rumah Sakit.

Dalam pelaksanaan K3 diperlukan penanganan yang serius dan


dukungan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang
melibatkan seluruh bidang kegiatan dan seluruh sumber daya manusia
(SDM) yang ada. Dengan adanya komitmen antara pimpinan, pegawai,
dana, dan pengelolaan yang baik disertai pelaksanaan yang
berkesinambungan maka rumah sakit akan dapat melaksanakan kegiatan
K3 sesuai dengan harapan.

Pelaksanaan K3 yang serius dan baik akan dapat mengurangi timbulnya


kecelakaan maupun penyakit akibat kerja baik bagi pegawai, pekerja,
pasien, dan masyarakat/pengunjung yang berada di Rumah Sakit .
Sehingga pada akhirnya, diharapkan segenap pegawai, pekerja, pasien,
dan masyarakat/ pengunjung akan merasa aman dan nyaman berada di
Rumah Sakit .

3
1.2. Tujuan

2. Melindungi setiap orang yang berada di tempat kerja agar selalu dalam
keadaan sehat dan selama
3. Melindungi bahan dan alat-alat agar dapat digunakan secara aman dan
efisien
4. Terbentuknya Keselamatan dan Kesehatan Kerja di rumah sakit melalui
kerjasama lintas program dan lintas sektoral
5. Mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja, kebakaran, dan penyakit
akibat kerja
6. Mengamankan mesin, instalasi, pesawat, alat, dan bahan berbahaya
7. Menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan tercipta
penyesuaian antara pekerjaan dengan manusia atau manusia dengan
pekerjaan
8. Meningkatkan produktivitas kerja

1.3. Ruang Lingkup Pelayanan

Ruang lingkup K3 meliputi aspek-aspek fisik, sarana dan prasarana, serta SDM
yang memadai, yaitu :
1. Adanya tenaga terlatih

2. Identifikasi area berisiko


a. Resiko jika terjadi kegagalan utilitas (listrik dan air tidak dapat
operasional) yaitu :
a) Laboratorium,
b) Radiologi,
c) Farmasi,
d) HCU,
e) IKO,
f) Binatu,
g) Genset,
h) Logistik/Gudang,
i) Gizi,
Laboratorium, Radiologi, IKO, HCU dan Farmasi wajib ada UPS untuk
mengantisipasi jika terjadi listrik PLN mati dan genset mengalami masalah
sehingga tidak ada pasokan listrik di area RS. Untuk air jika ada masalah akan
mendapat pasokan dari PDAM atau sumur bor
b. Resiko jika terjadi kebakaran yaitu :
a) Instalasi Gizi,
b) BPS,
c) Penyimpanan o² & LPG
d) Genset
e) Farmasi
f) Laboratorium
g) IKO

4
Guna mencegah terjadinya kebakaran maka langkah pertama adalah perlu
dilakukan assesmen kemungkinan kebakaran,pemasangan sign K3 &
monitoring serta evaluasi di daerah-daerah yang rawan untuk terjadi
kebakaran.
c. Adanya denah dan tanda-tanda K3 dilingkungan Rumah Sakit. Untuk
jalan keluar bila terjadi bencana diperlukan rambu-rambu/ tanda-tanda
khusus sehingga memudahkan untuk evakuasi, antara lain:
a) Rambu-rambu petunjuk arah jalan keluar, alat pemadaman api,
tempat-tempat berbahaya dan tanda-tanda larangan.
b) Denah, marka, tempat alat pemadaman api.
c) Ram, lorong-lorong, pintu darurat yang cukup lebar untuk brankart.
d) Lampu darurat yang menyala otomatis.
e) Ruangan untuk lebih dari 60 orang minimal 2 pintu keluar.
f) Pintu-pintu dapat dibuka dari luar.

3. Adanya bidang yang menangani penanggulangan kebakaran. Dalam


Struktur organisasi/ kepanitiaan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di
Rumah sakit sudah dibentuk Panitia Pembina Keselamatan dan kesehatan
Kerja (P2K3) yang dibagi menjadi 4 bidang& 2 Satgas, salah satunya yaitu
Satgas Penanggulangan Kebakaran & Bencana yang khusus menangani/
menanggulangi kebakaran dan bencana yang mungkin terjadi di Rumah
sakit.

4. Tersedianya APAR, Hydrant, Alarm dan Alat deteksi kebakaran. Dalam


upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran yang ada di
lingkungan Rumah Sakit maka disediakan Alat pemadam Api ringan
(APAR) di seluruh lingkugan Rumah Sakit yang penempatannyasesuai
dengan Permenaker No.04/Men/1980 tentang syarat – syarat pemasangan
dan pemeliharaan APAR yang dalam penerapannya dikondisikan sesuai
dengan keadaan bangunan RS . Sedangkan hydrant digunakan apabila
APAR tidak memadai untuk mengatasi kebakaran. Deteksi kebakaran
diadakan agar sedini mungkin bahaya kebakaran dapat diketahui dan
dilakukan penanggulangannya.Alarm kebakaran sebagai tanda untuk
menunjukkan bahwa disuatu tempat tetentu terjadi kebakaran,
memudahkan lokasi yang terjadi kebakaran dapat segera diketahui
sehingga memudahkan tindakan penanggulangannya.

5. Tersedianya alat keamanan pasien. Tingkat ketergantungan dari setiap


rumah sakit berbeda-beda, dari tingkat ketergantungan sebagian kepada
perawat sampai tingkat ketergantungan yang total, misalnya pasien yang
tidak sadar. Dalam penyembuhan penyakit memerlukan tahapan-tahapan
dari duduk, berdiri, sampai dengan jalan yang semuanya itu dibutuhkan
lingkungan dan peralatan yang mendukung keamanan pasien; di dalam
ruangan diperlukan adanya:
a. Adanya pegangan sepanjang tangga dan dinding.
b. Toilet dilengkapi pegangan dan bel

5
c. Pintu dapat dibuka dari luar.
d. Tempat tidur dilengkapi penahan pada tepinya dengan jarak terali lebih
kecil da ripada kepala anak.
e. Sumber listrik dilengkapi dengan penutup dan pengaman.
f. Tersedia oksigen yang cukup pada tempat yang penting.
g. Ada alat penghisap dalam keadaan darurat.
h. Adanya listrik pengganti bagi ruangan dan alat medis vital.

6. Adanya pemeriksaan kesehatan bagi semua calon pegawai. Rumah sakit


merupakan tempat dimana kemungkinan sesuatu penyakit dapat ditularkan
baik dari petugas kepada pasien atau sebaliknya. Dengan demikian perlu
dilakukan pemeriksaan kesehatan bagi para calon pegawai agar tenaga
yang diterima dalam kondisi kesehatan yang setinggi-tingginya, tidak
terinfeksi penyakit dan cocok untuk pekerjaan yang akan menjadi tanggung
jawabnya. Pemeriksaan calon pegawai meliputi :
a. Pemeriksaan fisik diagnostic di poliklinik oleh dokter poliklinik.
b. Pemeriksaan penunjang meliputi :
1) Laboratorium
2) Darah lengkap
3) Urin lengkap

7. Adanya pemeriksaan khusus bagi pegawai yang bekerja pada tempat yang
beresiko tinggi. Pemeriksaan khusus dimaksudkan untuk menilai adanya
pengaruh- pengaruh dari pekerjaan tertentu terhadap tenaga kerja atau
golongan- golongan tenaga kerja tertentu. Dilakukan 1 kali dalam setahun.
Pemeriksaan kesehatan khusus ini dilakukan terhadap :
a. Petugas yang bekerja di keperawatan (IKO,IGD,RUANG
BERSALIN,PETUGAS RUANG ISOLASI dilakukan pemeriksaan rutin
yang meliputi HBSAg,anti HCV,anti HIV).
b. Petugas yang bekerja di Radiologi.
c. Petugas yang bekerja pada bagian Laboratoirum (dilakukan
pemeriksaan rutin yang meliputi HBSAg,anti HCV,anti HIV).
d. Petugas pengelola makanan (dilakukan pemeriksaan meliputi swab
dubur,anti HAV).

8. Dilaksanakannya pencegahan, pemantauan dan penatalaksanaan


kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.Rumah sakit sebagi tempat
orang memulihkan kesehatannya dari sakit, tetapi juga sebagai tempat
orang sehat bekerja dan beraktivitas. Bagi orang yang bekerja, tentu ada
tempat-tempat dengan resiko tinggi yaitu terjadinya kontaminasi atau
tertular penyakit serta kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Upaya
meningkatkan kesadaran pegawai untuk mencegah terjadinya penyakit
akibat kerja dan atau kecelakaan kerja dilakukan dengan cara
mengefektifkan pemakaian alat pelindung diri bagi pekerja, pelaksanaan
pekerjaan sesuai dengan prosedur dan penggunaan alat sesuai dengan
manual yang telah ditetapkan.Efektivitas pelaksanaan tugas pekerjaan

6
tersebut dapat terjadi, apabila P2K3 selaku penanggungjawab
terselenggaranya Kesehatan kerja di rumah sakit, secara
berkesinambungan memantau pelaksanaan kerja yang sehat sebagaiman
telah ditetapkan dalam ketentuan.Penatalaksanaan penyakit akibat kerja
dan kecelakaan kerja dilakukan dengan pencatatan yang dilakukan oleh
P2K3, dalam form yang telah disediakan. Hasil pencatatan dalam
pelaksanaan pekerjaan menjadi bahan evaluasi, agarkejadian yang serupa
tidak terjadi lagi dalam proses pekerjaan selanjutnya.

9. Adanya ketentuan tentang pengadaan, penyimpanan dan pengelolaan jasa


dan bahan berbahaya. Bahan berbahaya adalah zat, bahan kimia dan
biologi, baik dalam bentuk tunggal maupun campuran yang dapat
membahayakan kesehatan lingkungan hidup secara langsung atau tidak
langsung. Mengingat resiko yang ditimbulkan akibat bahan berbahaya
tersebut, maka ketentuan di dalam hal pengadaan dan penyimpanan bahan
berbahaya mengacu kepada Permenkes 472/MENKES/PER/ V/ 1996
tentang Pengadaan Bahan Berbahaya bagi Kesehatan.
10. Adanya Pemantauan Kesehatan Lingkungan. Pemantauan kesehatan
lignkungan kerja dilakukan terhadap faktor- faktor : fisik, kimiawi, biologis,
dan ergonomis, yang mempengaruhi kesehatan kerja. Hal tersebut perlu
dilakukan karena lingkungan kerja dapat mempengaruhi kesehatan kerja
para pegawai dalam bentuk kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.
Pemantauan lingkungan kerja meliputi:
a. Faktor Fisik : Kebisingan, pencahayaan, listrik, panas getaran, suhu,
kelembaban dan radiasi.
b. Faktor Kimiawi : gas anesthetic, cairan anestetic, fromaldehid, mercury,
debu.
c. Faktor biologi: pemantauan rutin kadar HbSAg, pemeriksaan angka
kuman di ruangan khusus (IKO,Ruang bayi & HCU), pemeriksaan
makanan dan pemeriksaan IPAL.
d. Faktor ergonomis: perencanaan tangga, cara mengangkat beban,
memindahkan pasien, memberi makan pasien, pekerjaan yang
dilakukan dengan duduk.

11. Pengelolaan Sanitasi Rumah Sakit.


a. Penyehatan Bangunan dan Halaman Rumah Sakit.
1) Pemeliharaan ruang dan bangunan :
a) Kegiatan pembersihan ruang dilakukan pada pagi, siang dan sore
hari
b) Cara membersihkan ruangan yang menebarkan debu harus
dihindari, masing-masing ruang dilengkapi dengan perlengkapan
kebersihan sendirisendiri
c) Petugas kebersihan dalam menjalankan tugasnya harus
menggunakan APD yang telah disediakan
2) Pencahayaan

7
(a) Pencahayaan alam maupun buatan diupayakan agar tidak
menimbulkan silau dan intensitasnya disesuaikan dengan
peruntukannya
(b) Jaringan instalasi listrik harus sering diperiksa kondisinya untuk
menjamin keamanan
3) Penghawaan
(a) Untuk penghawaan alamiah, lubang ventilasi diupayakan system
silang ( cross ventilation) dan dijaga kebersihannya agar udara
tidak terhalang
(b) Untuk mengurangi kadar udara dalam ruangan (indoor) , 1 kali
dalam 1 bulan supaya didesinfeksi dengan menggunakan aerosol
atau disarungdengan electron presipitator/ menggunakan
penyinaran ultra violet.
(c) Untuk pemantauan kualitas udara ruang minimal 2 kali setahun
4) Kebisingan
Pengaturan dan tata letak ruangan harus sedemikian rupa sehingga
kamar dan ruangan memerlukan suasana tenang terhindar dari
kebisingan
5) Lalu lintas antar ruangan
(a) Pembagian ruangan dan lalulintas antar ruangan harus didesain
sedemikian rupa dan dilengkapi dengan petunjuk letak ruangan,
sehingga memudahkan hubungan dan komunikasi antar ruangan
serta menghindari resiko terjadinya kecelakaan dan kontaminasi
(b) Penggunaan tangga dan litf harus dilengkapi dengan sarana
pencegahan kecelakaan seperti alarm suara dan petunjuk
penggunaannya yang mudah dipahami oleh pengguna, atau
untuk lift dengan 4 (empat) lantai harus dilengkapi dengan ARD
(Automatic Reserve Divided, yaitu alat yang bisa mencari lantai
terdekat bila listrik mati)
(c) Dilengkapi dengan pintu darurat yang dapat dijangkau dengan
mudah bila terjadi kebakaran atau kejadian darurat lainnya dan
dilengkapi dengan tangga darurat
6) Fasilitas Pemadam Kebakaran
b) Persyaratan Higiene dan Sanitasi Makanan dan Minuman
1) Bahan makanan atau makanan jadi yang berasal dari instalasi gizi
harus diperiksa secara fisik dan secara periodik minimal 1 tahun sekali
diambil sampelnya untuk konfirmasi laboratorium
2) Tempat penyimpanan bahan makanan harus terpelihara dan dalam
kondisi bersih, terlindungi dari debu, bahan kimia berbahaya, serangga
dan hewan lainnya
3) Cara penyajian makanan harus terhindar dari pencemaran (dengan
menggunakan kereta dorong khusus)
4) Tempat pengolahan makanan, bersih dan bebas debu
5) Asap dikeluarkan melalui cerobong asap yang dilengkapi dengan
sungkup asap 6) Penjamah makanan harus sehat dan dilakukan
pemeriksaan secara berkala

8
7) Penjamah makanan harus menggunakan perlengkapan pelindung
pengolahan makanan (celemek/ apron, penutup Rambut dan mulut)
8) Selama melakukan pengolahan makanan harus dilakukan: terlindung
kontak langsung dengan tubuh (menggunakan sarung tangan plastik,
penjepit makanan, sendok, garpu dan sejenisnya)
c) Penyehatan Air Termasuk Kualitasnya
1) Kualitas air minum harus sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan
RI no: 492/MENKES/PER/IV/2010; tentang syarat-syarat kualitas air
minum
2) Jumlah kebutuhan air bersih harus mencukupi yaitu 500 l/ tt/ hari
3) Pemeriksaan kualitas air bersih dilakukan setiap bulan sekali (untuk
pemeriksaan mikrobiologis) dan 3 bulan sekali untuk (pemeriksaan
kimiawi)
4) Pengambilan sampel air bersih untuk pemeriksaan mikrobiologi
diutamakan pada kran instalasi gizi, kamar bedah, kamar bersalin,
kamar bayi, tempat penampungan (reservoir), ruang makan, secara
acak pada kran-kran distribusi, pada sumber air dan di titik- titik yang
rawan menimbulkan pencemaran
d) Penanganan Limbah
1) Tempat sampah harus terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan,
tahan karat, kedap air, mempunyai permukaan yang halus pada
bagian dalamnya dan tutup yang mudah dibuka dan ditutup tanpa
mengotori permukaan tangan
2) Sampah yang dihasilkan rumah sakit dapat dibedakan menjadi 2
yaitu :
a) Sampah infeksius ( warna kantong plastik kuning)
b) Sampah umum(warna kantong plastik hitam)
3) Sampah yang dihasilkan diangkat setiap hari.
4) Harus tersedia incinerator untuk melakukan pembakaran/ pemusnahan
sampah medis rumah sakit.
5) Untuk limbah cair, limbah yang dihasilkan dari seluruh kegiatan
pelayanan rumah sakit harus dialirkan dalam kondisi tertutup, kedap air
dan dapat mengalir dengan lancar
6) Limbah diolah dalam IPAL
7) Kualitas effluent air limbah yang akan dibuang ke lingkungan harus
memenuhi standard baku mutu lingkungan yang berlaku
e) Pengelolaan Tempat Pencucian Linen.
1) Di ruang linen harus disediakan ruang yang terpisah sesuai dengan
kegunaanya:
(a) R. linen kotor.
(b) R. linen bersih.
(c) R. untuk perlengkapan kebersihan.
(d) R. pelengkapan cuci.
(e) Ruang Kereta linen.
(f) Kamarmandi/WC tersendiri untuk petugas pencucian umum.
(g) Ruang peniris/ pengering untuk alat-alat dan linen

9
2) Ruang-ruang diatur penempatannya sehingga perjalanan linen kotor
sampai linen bersih terhindar dari kontaminasi silang
3) Harus disediakan tempat cuci tangan petugas, untuk mencegah
terjadinya kontaminasi linen bersih
4) Bak air yang ada harus selalu dibersihkan, untuk mencegah
perindukan minimal, seminggu sekali
f) Pengendalian Binatang Pengganggu, Serangga dan Tikus
1) Konstruksi rumah sakit dibuat sedemikian rupa untuk menghidari
terjadinya perkembangbiakan serangga, tikus dan binatang
pengganggu lainnya, antara lain setiap lubang pada bangunan harus
dipasang alat/ penghalang agar binatang/ serangga/ tikus tidak masuk
ke dalam ruangan.
2) Setiap sarana penampungan air harus bersih/ dikuras sekurang-
kurangnya seminggu sekali untuk mencegah berkembangbiakan
nyamuk (Aedes aegepty)
3) Pengendalian serangga, tikus dan binatang pengganggu lainnya
dengan menggunakan pestisida harus dilakukakan dengan hati-hati
4) Cara lain adalah dengan memasang perangkap
g) Dekontaminasi Melalui Sterilisasi dan Desinfeksi
Semua peralatan kedokteran/keperawatan dibedakan menurut kreteria Spaulding :
1) Peralatan kretikal :steril.
2) Peralatan semi kretikal :minimal desinfeksi
tingkat tinggi. 3) Peralatan non kretikal
:desinfeksi
h) Perlindungan Radiasi
1) Tindakan pencegahan radiasi harus mencakup upaya pemindahan
dan pengamanan bahan yang memancarkan radiasi,mengamankan
pekerja yang bekerja dengan radiasi
2) Pengawasan kontaminasi udara:
(a) Kontaminasi udara ditempat kerja harus diupayakan seminimal
mungkin.
(b) Perlengkapan proteksi radiasi khusus harus dalam keadaan baik,
diperiksa dan diuji secara berkala.
(c) Harus selalu diusahakan agar memenuhi ketentuan keselamatan
kerja terhadap perlengkapan radiasi.
3) Harus dilakukan pemantauan perorangan (minimal 1 bulan sekali)
untuk melihat tingkat paparan radiasi dan selanjutnya membatasi
jumlah paparan dan diusahakan dibawah NAB
4) Pada saat pemasangan pesawat radiasi, ukuran, bentuk dan
intensitas radiasi dapat diketahui. Karena itu dapat ditentukan daerah
yang menerima/ yang bebas radiasi
5) Pelayanan pemantauan menjadi tanggung jawab dan wewenang
BATAN
6) Perlengkapan dan peralatan untuk pengamanan bahan yang
memancar-kan radiasi adalah sebagai berikut :
(a) Monitor perorangan.

10
(b) Survey meter.
(c) Alat untuk mengangkat dan mengangkut.
(d) Pakaian kerja.
(e) Dekontaminasi kit.
(f) Alat pemeriksa tanda-tanda radiasi.
i) Penyuluhan Kesehatan Lingkungan 1) Pegawai.
2) Pasien.
3) Pengunjung.
4) Masyarakat sekitar

12. Adanya Pengelolaan, pemeliharaan dan sertfikasi sarana dan


prasarana serta peralatan kesehatan.
a) Pemeliharaandan pengelolaan peralatan rumah sakit dilakukan oleh
Bagian Instalasi Pemeliharaan Sarana dan Prasarana yang meliputi :
(1) Kalibrasi alat
(2) Program dan prosedur pemeliharaan
(3) Buku manual penggunaan alat
(4) Prosedur pemeliharaan APD
b) Sarana dan prasarana non medis
(1) Program pemeliharaan
(2) Buku manual pengguaan alat
(3) Prosedur pemeliharaan alat
c) Sertifikasi dan Prasarana
(1) Fisik dan bangunan, IMB dan HO
(2) Perijinan dan Sertifikasi
(3) Rekomendasi dinas kebakaran
(4) Ijin pemakaian diesel
(5) Ijin instalasi petir
(6) Ijin operasional rumah sakit
(7) Ijin instalasi listrik
(8) Ijin penggunaan radiasi

13. Pengelolaan limbah padat dan cair


a) Tersedia tempat sampah minimal 1 buah disetiap kamar atau radius
10 meter dan radius 20 meter pada ruang tunggu terbuka
b) Sampah rumah sakit dibedakan menjadi 2 bagian yaitu :
1) Sampah umum, yaitu untuk mengelola sampah umum perlu
disediakan tempat pembuangan akhir, selanjutnya sampah yang
sudah terkumpul tersebut diangkut/dibuang oleh petugas DPU ke
pembuangan sampah akhir
2) Sampah medis, sampah yang dihasilkan dari rumah sakit, harus
dimusnahkan dengan cara dihancurkan/dibakar di incenerator
sehingga dihasilkan debu yang tidak lagi berbahaya/infeksius,
tetapi perlu pengelolaan lebih lanjut yaitu dengan mengumpulkan
sampah/debu ke dalam tempat khusus sehingga mudah dalam
pembuangan

11
c) Semua limbah cair yang dihasilkan dari kegiatan pelayanan di RS,
disalurkan ke IPAL dengan cara mengalirkan air limbah melalui
saluran tertutup. Air limbah yang telah diproses dalam IPAL dibuang
ke lingkungan/badan air. Air limbah yang dibuang ke badan air harus
memenuhi standar baku mutu lingkungan
d) Pengelolaan limbah gas
Limbah gas yang dihasilkan RS bersumber dari :
1) Hasil pembakaran incenerator
2) Hasil kegiatan dapur
Untuk mengurangi pencemaran yang terjadi di lingkungan RS,
maka perlu dilakukan peninggian cerobong asap incenerator 3
meter lebih tinggi dengan gedung tertinggi disekitar RS.
Penggunaan sprayer untuk menekan jumlah debu sisa
pembakaran. Gas anastesi di kamar bedah yaitu gas yang
dihasilkan dari kegiatan pelayanan bedah harus dibuang ke luar
agar tidak mengganggu proses pelayanan di kamar bedah.

14. Adanya program K3 secara periodik. Guna mempersiapkan tenaga


terlatih dibidang K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) diperlukan
pelatihan berkesinambungan yang dilakukan 2 kali dalam setahun,
dengan materi :
a) Penanggulangan bencana
b) Bahaya kebakaran
c) Evakuasi bencana
d) Pengelolaan B3
e) Tata laksana kecelakaan dan penyakit akibat kerja
f) Sistem informasi
g) Pengorganisasian

15. Adanya system pencatatan dan pelaporan K3. Keselamatan dan


kesehatan kerja merupakan hal atau keadaan yang sering tidak
disadari oleh semua orang/ disemua tempat, khususnya di rumah sakit
terbukti masih banyak kejadian dan data yang diabaikan sehingga
diperlukan pengelolaan secara sistematis. Dasar pengelolaan K3 di RS
berdasar pada Surat Keputusan Direktur RS dan Kebijakan RS dalam
bidang K3. Terkumpulnya data sangat diperlukan sebagai dasar untuk
melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan K3 di RS . Tertib
administrasi K3 di RS diselenggarakan dengan pencatatan dan
pelaporan secara berkala yang meliputi :
a) Kecelakaan kerja
b) Penyakit akibat kerja
c) Kebakaran
d) Bencana

12
1.4. Batasan Operasional
1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan upaya untuk menekan dan
mengurangi resiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang pada
hakekatnya tidak dapat dipisahkan antara keselamatan dan kesehatan
2. Upaya Kesehatan Kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas kerja
dan beban kerja serta lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja
secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri maupun orang/
masyarakat disekelilingnya, agar diperoleh produktivitas yang optimal
3. Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berhubungan dengan alat
kerja, bahan dan proses kerja/ pengolahannya, tempat kerja dan
lingkungan serta caracara melakukan pekerjaan
4. Kecelakaan Kerja adalah Kecelakaan yang tidak diharapkan dan tidak
terduga. Tidak terduga karena dibelakang kejadian tersebut diharapkan
tidak terdapat unsur kesengajaan dan perencanaan. Tidak diharapkan;
karena peristiwa kecelakaan disertai kerugian material maupun
penderitaan dari yang paling ringan sampai yang paling berat, tidak
diinginkan.
5. Ergonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku/sikap posisi manusia
dalamkaitannya dengan pekerjaan mereka

Beberapa istilah lain yang sering digunakan dalam pengimplementasian K-3 dan
perlu dipahami antara lain :
1. Potensi Bahaya (Hazard) merupakan keadaan yang memungkinkan atau
dapat menimbulkan bahaya kecelakaan/ kerugian berupa cedera, penyakit,
kerusakan atau ketidakmampuan melaksanakan fungsi yang telah
dietetapkan.
2. Tingkat Bahaya (Danger) adalah ungkapan adanya potensi bahaya secara
relative. Kondisi bahaya mungkin saja ada, tetapi menjadi tidak begitu
berbahaya karena telah dilakukan tindakan pencegahan
3. Resiko (Risk) yaitu kemungkinan terjadinya kecelakaan/ kerugian pada
periode waktu tertentu atau siklus operasi tertentu
4. Insiden adalah kejadian yang tidak diduga yang mengakibatkan kacaunya
proses pekerjaan/pelayanan yang direncanakan sebelumnya.
5. Kecelakaan adalah kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga/tiba –
tiba yang dapat menimbulkan korban manusia dan atau harta benda.
6. Aman/ selamat yaitu kondisi tidak ada kemungkinan malapetaka (bebas
dari bahaya)
7. Tindakan Tidak Aman/unsafe act adalah pelanggaran terhadap prosedur
keselamatan yang memberikan peluang terhadap terjadinya kecelakaan.
8. Keadaan Tidak Aman/unsafe condition yaitu kondisi fisik atau keadaan
yang berbahaya yang mungkin dapat berlangsung mengakibatkan
terjadinya kecelakaan.

13
BAB II

TATA LAKSANA

1. Kebijakan Kesehatan & Keselamatan


Semua orang yang bekerja di lokasi kami mempunyai hak untuk
mendapatkan lingkungan/kondisi kerja yang aman dan sehat dan
mempunyai kewajiban untuk memberikan kontribusi pada kondisi tersebut
dengan berperilaku yang bertanggung jawab. Kami melihat K3 sebagai nilai
bisnis utama yang diintregasikan pada seluruh kinerja bisnis. Setiap cidera
atau kasus sakit akibat hubungan kerja, dapat dihindari dengan sistem kerja
, peralatan , training dan supervisi yang tepat. Manajemen K3 yang efektif
mencakup penilaian resiko dari desain lokasi sejak awal – tahap konstruksi,
komisioning dan perencanaan secara keseluruhan dari suatu organisasi
dan pemeliharaannya. Semua kegiatan operasional kami harus secara
kontinyu meningkatkan kinerja K3.

2. Peran dan Tanggung Jawab Utama


Setiap Manager di semua jenjang, menjamin kesehatan dan keselamatan
untuk orang-orang yang ada di tempat kerja di bawah tanggung jawabnya.
Manager harus menerapkan kebijakan dan sistem dalam area kontrol dan
pengaruhnya. Chief Executive officer (CEO) memikul tanggung jawab ini
pada level group, ia mendukung dengan tingkat kepedulian yang tinggi
untuk menjamin bahwa dalam tiap divisi dan unit bisnis manajemen memiliki
otoritas, keahlian dan sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan
tanggung jawabnya.

3. Proses dan Alat Utama Pada Tingkat Perusahaan


Divisi memiliki suatu sistem Manajemen K3 untuk memastikan adanya
peningkatan kinerja secara berkesinambungan. Hal ini didasarkan pada
kebijakan K3 yang merefleksikan kebijakan prusahaan dalam hal prinsip-
prinsipnya, kerangka kerja, tanggung jawab, koordinasi dan pengawasan,
kewajiban ini juga mencakup Unit baru yang bergabung dengan
Perusahaan. Sumber daya tertentu seperti manusia, keuangan di
dedikasikan dan di identifikasikan guna mencapai target.

4. Analisa Resiko
Proses manajemen dipastikan tersedia untuk menjamin resiko telah di
identifikasikan secara baik, terkontrol dalam organisasi, dll. Pegawai,
kontraktor dan konsumen berhak dan wajib mendapatkan informasi
mengenai resiko yang ada dan langkahlangkah yang diambil untuk
mengeliminasi atau meminimalkannya. Suatu sistem monitoring dan
kesiagaan/alert dipastikan tersedia, yang akan memastikan adanya kontrol
pada resiko di tingkat Manajemen sesuai tingkat keseriusannya.

14
5. Audit & Inspeksi Keselamatan
Audit dan inspeksi direncanakan dan dilakukan secara reguler. Audit &
Inspeksi dilaporkan dan digunakan untuk tindakan korektif dan preventif,
yang dikelola dengan cara yang sama seperti yang dilakukan saat analisa
suatu cidera. Inspeksi dan audit ini dilakukan oleh Manajemen tingkat lini
yang dilatih untuk tujuan tersebut, mencakup juga tingkat Management
Atas. Personil dilibatkan sebanyak mungkin dalam audit dan inspeksi ini.
Sebagai tambahan audit internal ini, diperlukan adanya audit silang antara
lokasi kerja yang berbeda, yang menggunakan apa yang disebut tehnik “
fresh view”.

6. Analisa dan Pencatatan Kecelakaan Kerja


Cidera, kejadian hampir celaka/near-miss atau gangguan fungsi apapun
merupakan subyek dari suatu penyelidikan yang mendalam dan metodis,
yang dilakukan oleh Manager (disektor yang menjadi tanggung jawabnya),
dengan bantuan dari staff/unit keselamatan dan personil yang terluka atau
terlibat. Laporan harus dibuat dan memuat detail apa yang yang terjadi dan
tindakan yang diambil (atau yang dilakukan dan skala waktunya) untuk
mencegah terulang kembali, usaha investigasi harus proporsional pada
resiko potensial. Pelaporan dan komunikasi mengenai cidera harus sesuai
dengan arahan Group dan Divisi. Komite Manajemen K3 wajib secara
reguler memeriksa relevansi tindakan yang diambil dan menjamin bahwa
tindakan tersebut dilakukan.

7. Pencegahan dan Kontrol Resiko


Peralatan Menetap dan Bergerak Instalasi baru didesain dan dibangun
dengan mempertimbangkan keamanan operasi dan keamanan personil
perawatan. Instalasi dan peralatan yang bergerak harus diperlihara secara
efektif, diuji dan dilakukan inspeksi, merupakan subyek untuk dikontrol
secara rutin.

8. Alat Pelindung Diri (APD)


APD guna keperluan kerja harus diidentifikasi, kondisi di mana APD harus
dikenakan harus ditentukan dan direncanakan secara sesuai dan dirancang
meliputi training dan pengawasan untuk menjamin APD dikenakan.

9. Instruksi, Peraturan dan Prosedur


Instruksi, peraturan dan prosedur dibuat sehingga pekerjaan dapat
dilakukan secara aman, tanpa resiko pada kesehatan, dan sesuai dengan
penilaian resiko, akan bersifat :
a. Tertulis
b. Selalu disesuaikan / diperbaharui
c. Sesuai dengan peraturan hukum/regulasi
d. Realistik
e. Diketahui dan dimengerti oleh semua pihak yang terlibat

15
f. Ditindaklanjuti dan dihargai

10. Program Tanggap Darurat


Semua lokasi kerja harus memiliki rencana tanggap darurat, yang
berhubungan dengan sifat operasi mereka dan resiko yang telah dinilai.
Rencana ini harus di perbaharui, jika diperlukan dikomunikasikan dan
dipraktekan secara rutin. Latihan wajib dilakukan dan dilatih secara rutin
mencakup skenario yang direncanakan atas resiko yang berpotensi tinggi.

11. Pelatihan & Komunikasi Pelatihan


Rencana dan program yang sesuai harus dibuat untuk menjamin semua
personil memiliki kompetensi dalam bidang K3, ini mencakup tersedianya
pelatihan & perlunya pengalaman yang sesuai. Komunikasi merupakan
suatu faktor penting dari program keselamatan, harus mencakup informasi
mengenai program keselamatan khusus setiap lokasi, umpan balik dalam
hal kinerja dan tindakan yang diambil, mempelajari hal penting guna
mencegah kecelakaan. Hal ini akan mendukung arus informasi yang bebas
(dari atas ke bawah dan sebaliknya).

Pelatihan Keselamatan meliputi :


a. Pelatihan perilaku selamat dan mengapa K3 merupakan hal yang
penting
b. Pelatihan Manajemen K3
c. Pelatihan penilaian resiko
d. Pelatihan mengenai prosedur dan metode
e. Pelatihan penggunaan peralatan kerja
f. Pelatihan guna mendapatkan otorisasi dan lisensi

Ini menyangkut semua personil seperti :


a. Pegawai baru dan pegawai tidak tetap
b. Staff yang telah ada (penempatan kembali, promosi, transfer, mutasi)
c. Manajemen (audit, investigasi, tindakan pencegahan, rapat untuk
memfasilitasi, dll) kontraktor sesuai keperluan

16
Tabel . Kode Darurat
Hal-hal yang perlu Panggilan
Kode
diwaspadai Darurat

Kebakaran Merah 105

Henti jantung pada dewasa Biru 105

Henti jatung pada anak-anak Biru 105

Penculikan bayi/anak-anak Merah muda 105

Tindakan kekerasan hitam 105

Ancaman bom hitam 105


Gempa bumi, banjir, tanah
longsor Green 105

Bentuk pelayanan kesehatan kerja yang perlu dilakukan, sebagai berikut :


1. Melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja bagi SDM Rumah
Sakit
a. Pemeriksaan fisik lengkap
b. Kesegaran jasmani
c. Rontgen paru-paru (bilamana mungkin)
d. Laboratorium rutin
e. Pemeriksaan lain yang dianggap perlu
f. Pemeriksaan yang sesuai kebutuhan guna mencegah bahaya yang
diperkirakan timbul, khususnya untuk pekerjaa n-pekerjaan tertentu
g. Jika 3 (tiga) bulan sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan
kesehatan oleh dokter (pemeriksaan berkala), tidak ada keragu-
raguan maka tidak perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan sebelum
bekerja
2. Melakukan pemeriksaan kesehatan berkala bagi SDM Rumah Sakit
a. Pemeriksaan berkala meliputi pemeriksaan fisik lengkap,
kesegaran jasmani, rontgen paru-paru (bilamana mung kin) dan
laboratorium rutin, serta pemeriksaan-pemeriksaan lain yang
dianggap perlu
b. Pemeriksaan kesehatan berkala bagi SDM Rumah Sakit
sekurangkurangnya 1 tahun
3. Melakukan pemeriksaan kesehatan khusus pada
a. SDM Rumah Sakit yang telah mengalami kecelakaan atau
penyakit yang memerlukan perawatan yang lebih dari 2 (dua)
minggu

17
b. SDM Rumah Sakit yang berusia di atas 40 (em pat puluh) tahun
atau SDM Rumah Sakit yang wanita dan SDM Rumah Sakit yang
cacat serta SDM
Rumah Sakit yang berusia muda yang mana melakukan pekerjaan tertentu
c. SDM Rumah Sakit yang terdapat dugaan-dugaan tertentu
mengenai gangguan-gangguan kesehatan perlu dilakukan
pemeriksaan khLlsus sesuai dengan kebutuhan
d. Pemeriksaan kesehatan kesehatan khusus diadakan pula apabila
terdapat keluhan-keluhan diantara SDM Rumah Sakit, atau atas
pengamatan dari Organisasi Pelaksana K3RS
4. Melaksanakan pendidikan dan penyuluhan/pelatihan tentang kesehatan
kerja dan memberikan bantuan kepada SDM Rumah Sakit dalam
penyesuaian diri baik fisik maupun mental. Yang diperlukan antara lain :
a. Informasi umum Rumah Sakit dan fasilitas atau sarana yang terkait
dengan
K3
b. Informasi tentang risiko dan bahaya khusus di tempat kerjanya
c. SPO kerja, SPO peralatan, SPO penggunaan alat pelindung diri
dan kewajibannya
d. Orientasi K3 di tempat kerja
e. Melaksanakan pendidikan, pelatihan ataupun promosi/penyuluhan
kesehatan kerja secara berkala dan berkesinambungan sesuai
kebwtuhan dalam rangka menciptakan budaya K3
5. Meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental (roharii) dan kemampuan
fisik SDM
Rumah Sakit
a. Pemberian makanan tambahan dengan gizi yang mencukupi untuk
SDM Rumah Sakit yang dinas malam, petugas radiologi, petugas
lab, petugas kesling dll
b. Pemberian imunisasi bagi SDM Rumah Sakit
c. Olah raga, senam kesehatan dan rekreasi
d. Pembinaan mental/rohani
6. Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi SDM
Rumah Sakit yang menderita sakit
a. Memberikan pengobatan dasar secara gratis kepada seluruh SDM
Rumah
Sakit
b. Memberikan pengobatan dan menanggung biaya pengobatan untuk
SDM
Rumah Sakit yang terkena Penyakit Akibat Kerja (PAK)
c. Menindak lanjuti hasil pemeriksaan kesehatan berkala dan
pemeriksaan kesehatan khusus
d. Melakukan upaya rehabilitasi sesuai penyakit terkait
7. Melakukan koordinasi dengan tim Panitia Pencegahan dan Pengendalian
Infeksi mengenai penularan infeksi terhadap SDM Rumah Sakit dan pasien
a. Pertemuan koordinasi

18
b. Pembahasan kasus
c. Penanggulangan kejadian infeksi nosokomial
8. Melaksanakan kegiatan surveilans kesehatan kerja
a. Melakukan pemetaan (mapping) tempat kerja untuk
mengidentifikasi jenis bahaya dan besarnya risiko
b. Melakukan identifikasi SDM Rumah Sakit berdasarkan jenis
pekerjaannya, lama pajanan dan dosis pajanan
c. Melakukan analisa hasil pemeriksaan kesehatan berkala dan
khusus
d. Melakukan tindak lanjut analisa pemeriksaan kesehatan berkala
dan khusus. (dirujuk ke spesialis terkait, rotasi kerja,
merekomendasikan pemberian isti rahat kerja)
e. Melakukan pemantauan perkembangan kesehatan SDM Rumah
Sakit
9. Melaksanakan pemantauan lingkungan kerja dan ergonomi yang berkaitan
dengan kesehatan kerja (Pemantauan/pengukuran terhadap faktor fisik,
kimia, biologi, psikososial dan ergonomi)
10. Membuat evaluasi, pencatatan dan pelaporan kegiatan K3RS yang
disampaikan kepada Direktur Rumah Sakit dan Unit teknis terkait di
wilayah kerja Rumah Sakit

Pada prinsipnya pembinaan dan pengawasan keselamatan kerja berkaitan erat


dengan sarana, prasarana, dan peralatan kerja. Bentuk pelayanan keselamatan
kerja yang dilakukan :
1. Pembinaan dan pengawasan kesehatan dan keselamatan sarana,
prasarana dan peralatan kesehatan :
a. Lokasi Rumah Sakit harus memenuhi ketentuan mengenai
kesehatan, keselamatan lingkungan, dan tata ruang, serta
sesuai dengan hasil kajian kebutuhan dan kelayakan
penyelenggaraan Rumah Sakit
b. Teknis bangunan Rumah Saki!, sesuai dengan fungsi,
kenyamanan dan kemudahan dalam pemberian pelayanan
serta perlindungan dan keselamatan bagi semua orang
termasuk penyandang cacat, anakanak, dan orang usia
lanjut
c. Prasarana harus memenuhi standar pelayanan, keamanan,
serta keselamatan dan kesehatan kerja penyelenggaraan
Rumah Sakit
d. Pengoperasian dan pemeliharaan sarana, prasarana dan
peralatan Rumah Sakit harus dilakukan oleh petugas yang
mempunyai kompetensi di bidangnya (sertifikasi personil
petugas operator sarana dan prasarana serta peralatan
kesehatan Rumah Sakit)
e. Membuat program pengoperasian, perbaikan, dan
pemeliharaan rutin dan berkala sarana dan prasarana serta

19
peralatan kesehatan dan selanjutnya didokumentasikan dan
dievaluasi secara berkala dan berkesinambungan
f. Peralatan kesehatan meliputi peralatan medis dan nonmedis
dan harus memenuhi standar pelayanan, persyaratan mutu,
keamanan, keselamatan dan laik pakai
g. Membuat program pengujian dan kalibrasi peralatan
kesehatan, peralatan kesehatan harus diuji dan dikalibrasi
secara berkala oleh Balai Pengujian Fasilitas Kesehatan
dan/atau institusi pengujian fasilitas kesehatan yang
berwenang
h. Peralatan kesehatan yang menggunakan sinar pengion
harus memenuhi ketentuan dan harus diawasi oleh lembaga
yang berwenang
i. Melengkapi perizinan dan sertifikasi sarana dan prasarana
serta peralatan kesehatan
2. Pembinaan dan pengawasan atau penyesuaian peralatan kerja terhadap SDM
Rumah Sakit
a. Melakukan identifikasi dan penilaian risiko ergonomi terhadap
peralatan kerja dan SDM Rumah Sakit
b. Membuat program pelaksanaan kegiatan, mengevaluasi dan
mengendalikan risiko ergonomi
3. Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja
a. Manajemen harus menyediakan dan menyiapkan lingkungan
kerja yang memenuhi syarat fisik, kimia, biologi, ergonomi dan
psikososial
b. Pemantauan/pengukuran terhadap faktor fisik, kimia, biologi,
ergonomi dan psikososial secara rutin dan berkala
c. Melakukan evaluasi dan memberikan rekomendasi untuk
perbaikan lingkungan kerja
4. Pembinaan dan pengawasan terhadap sanitair
Manajemen harus menyediakan, memelihara, mengawasi sarana·dan
prasarana sanitair, yang memenuhi syarat, meliputi:
a. Penyehatan makanan dan minuman
b. Penyehatan air
c. Penyehatan tempat pencucian
d. Penanganan sampah dan lim bah
e. Pengendalian serangga dan tikus
f. Sterilisasi/desinfeksi
g. Perlindungan radiasi
h. Upaya penyuluhan kesehatan lingkungan
5. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan keselamatan kerja
a. Pembuatan rambu-rambu arah dan tanda-tanda keselamatan
b. Penyediaan peralatan keselamatan kerja dan Alat Pelindung
Diri (APD)
c. Membuat SPO peralatan keselamatan kerja dan APD

20
d. Melakukan pembinaan dan pemantauan terhadap kepatuhan
penggunaan peralatan keselamatan dan APD
6. Pelatihan dan promosi/penyuluhan keselamatan kerja untuk semua SDM
Rumah Sakit
a. Sosialisasi dan penyuluhan keselamatan kerja bagi seluruh
SDM
Rumah Sakit
b. Melaksanakan pelatihan dan sertifikasi K3 Rumah Sakit
kepada petugas K3 Rumah Sakit
7. Memberi rekomendasi/masukan mengenai perencanaan, desain/lay out
pembuatan tempat kerja dan pemilihan alat serta pengadaannya
terkait keselamatan dan keamanan
a. Melibatkan petugas K3 Rumah Sakit di dalam perencanaan,
desain/lay out pembuatan tempat kerja dan pemilihan serta
pengadaan sarana, prasarana dan peralatan keselamatan
kerja
b. Mengevaluasi dan mendokumentasikan kondisi sarana,
prasarana dan peralatan keselamatan kerja dan membuat
rekomendasi sesuai dengan persyaratan yang berlaku dan
standar keamanan dan keselamatan
8. Membuat sistem pelaporan kejadian dan tindak lanjutnya
a. Membuat alur pelaporan kejadian nyaris celaka dan celaka
b. Membuat SPO pelaporan, penanganan dan tindak lanjut
kejadian nyaris celaka (near miss) dan celaka
9. Pembinaan dan pengawasan terhadap Manajemen Sistem Pencegahan dan
Penanggulangan Kebakaran (MSPK)
a. Manajemen menyediakan sarana dan prasarana pencegahan
dan penanggulangan kebakaran
b. Membentuk tim penanggulangan kebakaran
c. Membuat SPO
d. Melakukan sosialisasi dan pelatihan pencegahan dan
penanggulangan kebakaran
e. Melakukan audit internal terhadap sistem pencegahan dan
penggulangan kebakaran
10. Membuat evaluasi, pencatatan dan pelaporan kegiatan pelayanan
keselamatan kerja yang disampaikan kepada Direktur Rumah Sa kit
dan Unit teknis terkait di wilayah kerja Rumah Sakit

21
BAB III

ORGANISASI PANITIA PEMBINA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


(P2K3)

3.1 PIMPINAN DAN STAF


Pimpinan dan petugas kesehatan dalam P2K3 diberi kewenangan dalam
menjalankan program di rumah sakit.

A. DIREKTUR RUMAH SAKIT


Tugas Direktur Rumah Sakit
1. Membentuk Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan
Surat Keputusan
2. Bertanggung jawab dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap
penyelenggaraan pelayanan P2K3
3. Bertanggung jawab terhadap tersedianya fasilitas sarana dan prasarana
termasuk anggaran yang dibutuhkan
4. Menentukan kebijakan pelayanan P2K3
5. Mengadakan evaluasi kebijakan pelayanan PONEK berdasarkan saran
dari P2K3
6. Mengesahkan Standar Prosedur Operasional (SPO) untuk pelayanan
P2K3 RS

B. Ketua P2K3

Persyaratan Jabatan:
1. Mengikuti pelatihan eksternal tentang K3 umum atau rumah sakit

Uraian Tugas :
1. Menyusun dan merencanakan pelaksanaan kegiatan program kerja P2K3
2. Memimpin, mengkoordinir, dan mengevaluasi pelaksanaan operasional
P2K3 secara efektif, efisien dan bermutu
3. Mengumpulkan data pelaksanaan program kerja P2K3
4. Menganalisa data pelaksanaan program kerja P2K3
5. Melaksanakan analisis terhadap data yang dikumpulkan dan diubah
menjadi informasi

22
6. Menyebarkan informasi tentang manajemen risiko yang telah
diperbaharui secara berkala
7. Meningkatkan pengetahuan anggota dengan memberikan pelatihan
terhadap staf yang ikut serta dalam program P2K3

Tanggung jawab:
1. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program P2K3
2. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan yang berhubungan
dengan manajemen risiko
3. Bertanggung jawab untuk melaporkan hasil pelaksanaan program P2K3
kepada Direktur RS Budi Asih
4. Bertanggung jawab terhadap ketersediaan data dan informasi yang
berhubungan dengan P2K3 dan atau manajemen risiko
5. Bertanggung jawab dalam pemberian informasi yang berhubungan
dengan P2K3
6. Bertanggung jawab terhadap disiplin dan kinerja kerja staf di Komite
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit

Wewenang:
A. Memerintahkan dan menugaskan staf dalam melaksanakan Program
P2K3
B. Meminta laporan pelaksanaan program P2K3 dari unit kerja terkait
C. Melakukan koordinasi dengan unit-unit kerja di lingkungan RS Budi Asih
terkait pelaksanaan program P2K3
D. Memberikan pengarahan dalam hal penyusunan, pelaksanaan, evaluasi,
dan tindak lanjut rekomendasi dari program P2K3
E. Meminta data dan informasi yang berhubungan dengan P2K3 dari unit-
unit kerja di lingkungan RS Budi Asih

C. Sekretaris P2K3

Persyaratan Jabatan:
1. Mengikuti pelatihan eksternal tentang K3

Uraian Tugas :
1. Mengatur rapat dan jadwal rapat P2K3
2. Menyiapkan ruang rapat dan perlengkapan yang diperlukan
3. Membantu meminta laporan pelaksanaan program P2K3 di unit terkait
4. Menganalisis data P2K3 bersama ketua dan anggota P2K3
5. Mendokumentasikan hasil pencapaian program kerja P2K3
6. Menjadi notulen di setiap kegiatan pertemuan P2K3
7. Mengorganisir kebutuhan logistik P2K3
8. Membantu berkoordinasi dalam kegiatan internal dan eksternal P2K3
9. Mengerjakan tugas – tugas administratif dan kesekretariatan lainnya

Tanggung Jawab
1. Bertanggung jawab terhadap kegiatan administratif di P2K3
2. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan yang berhubungan
dengan mutu manajemen risiko
3. Bertanggung jawab melaporkan hasil kegiatan administratif kepada Ketua
P2K3

23
Wewenang
1. Meminta laporan pelaksanaan program kerja manajemen risiko di tiap
unit
2. Melakukan koordinasi dengan unit-unit kerja di lingkungan RSl Budi
Asihterkait pelaksanaan program P2K3
3. Meminta data dan informasi yang berhubungan dengan manajemen risiko
dn atau P2K3 dari unit-unit kerja di lingkungan RS Budi Asih
4. Melakukan komunikasi internal dan eksternal kepada unit kerja di
lingkungan RS Budi Asihdan pihak luar melalui surat tertulis, email, dan
telepon

D. Koordinator Pengamanan Peralatan Medik, Pengamanan Radiasi Dan


Limbah Radioaktif

Persyaratan Jabatan:
1. Mengikuti pelatihan eksternal tentang P2K3

Uraian Tugas :
1. Memberi rekomendasi dan pertimbangan kepada Ketua P2K3 mengenai
masalah - masalah yang berkaitan dengan K3
2. Merumuskan kebijakan, peraturan, pedoman, petunjuk pelaksanaan dan
prosedur
3. Membuat program P2K3
4. Membuat,menetapkan dan melaksanakan standar prosedur operasional
(SPO) sesuai dengan peraturan, perundangan dan ketentuan mengenai
K3 lainnya yang berlaku
5. Melakukan evaluasi, memperbaharui dan melakukan komunikasi dan
sosialisasi pada karyawan dan pihak yang terkait

Tanggung Jawab:
1. Bertanggung jawab terhadap pemantauan pengamanan peralatan medik,
pengamanan radiasi, dan limbah radioaktif.
2. Bertanggung jawab terhadap penyusunan laporan pemantauan
pengamanan peralatan medik, pengamanan radiasi, dan limbah
radioaktif.
3. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan yang berhubungan
dengan pemantauan Pengamanan peralatan medik, pengamanan radiasi,
dan limbah radioaktif.
4. Bertanggung jawab untuk melaporkan hasil pelaksanaan pemantauan
pemantauan Pengamanan peralatan medik, pengamanan radiasi, dan
limbah radioaktif kepada Ketua P2K3
5. Bertanggung jawab terhadap pengolahan data dan informasi yang
berhubungan dengan pengamanan peralatan medik, pengamanan
radiasi, dan limbah radioaktif.
6. Bertanggung jawab dalam pemberian informasi yang berhubungan
dengan kegiatan P2K3

Wewenang:
1. Meminta laporan pelaksanaan pemantauan pengamanan peralatan
medik, pengamanan radiasi, dan limbah radioaktif dari unit terkait.

24
2. Melakukan koordinasi dengan unit-unit kerja di lingkungan RS Budi
Asihterkait pelaksanaan pemantauan Pengamanan peralatan medik,
pengamanan radiasi, dan limbah radioaktif.
3. Meminta data dan informasi yang berhubungan dengan pemantauan
Pengamanan peralatan medik, pengamanan radiasi, dan limbah radioaktif
di unit-unit RS.

E. Koordinator Pengamanan Peralatan Berat Non Medik, Pengamanan Dan


Keselamatan Bangunan

Persyaratan Jabatan:
1. Mengikuti pelatihan eksternal tentang P2K3

Uraian Tugas :
1. Memberi rekomendasi dan pertimbangan kepada Ketua P2K3 mengenai
masalah - masalah yang berkaitan dengan K3
2. Merumuskan kebijakan, peraturan, pedoman, petunjuk pelaksanaan dan
prosedur
3. Membuat program P2K3
4. Membuat,menetapkan dan melaksanakan standar prosedur operasional
(SPO) sesuai dengan peraturan, perundangan dan ketentuan mengenai
K3 lainnya yang berlaku
5. Melakukan evaluasi, memperbaharui dan melakukan komunikasi dan
sosialisasi pada karyawan dan pihak yang terkait

Tanggung Jawab:
1. Bertanggung jawab terhadap pemantauan pengamanan peralatan non
medik, pengamanan dan keselamatan bangunan.
2. Bertanggung jawab terhadap penyusunan laporan pemantauan
pengamanan peralatan non medik, pengamanan dan keselamatan
bangunan.
3. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan yang berhubungan
dengan pemantauan pengamanan peralatan non medik, pengamanan
dan keselamatan bangunan
4. Bertanggung jawab untuk melaporkan hasil pelaksanaan pemantauan
pengamanan peralatan non medik, pengamanan dan keselamatan
bangunan kepada Ketua P2K3
5. Bertanggung jawab terhadap pengolahan data dan informasi yang
berhubungan dengan pemantauan pengamanan peralatan non medik,
pengamanan dan keselamatan bangunan.
6. Bertanggung jawab dalam pemberian informasi yang berhubungan
dengan kegiatan P2K3

Wewenang:
1. Meminta laporan pelaksanaan pemantauan pengamanan peralatan non
medik, pengamanan dan keselamatan bangunan dari unit terkait.
2. Melakukan koordinasi dengan unit-unit kerja di lingkungan RS Budi
Asihterkait pelaksanaan pemantauan pengamanan peralatan non
medik, pengamanan dan keselamatan bangunan.
3. Meminta data dan informasi yang berhubungan dengan pemantauan
pengamanan peralatan non medik, pengamanan dan keselamatan
bangunan di unit-unit RS.

25
F. Koordinator Pengamanan Sarana Sanitasi dan Lingkungan Kesehatan

Persyaratan Jabatan:
1. Mengikuti pelatihan eksternal tentang P2K3

Uraian Tugas :
1. Memberi rekomendasi dan pertimbangan kepada Ketua P2K3 mengenai
masalah - masalah yang berkaitan dengan K3.
2. Merumuskan kebijakan, peraturan, pedoman, petunjuk pelaksanaan dan
prosedur.
3. Membuat program P2K3.
4. Membuat,menetapkan dan melaksanakan standar prosedur operasional
(SPO) sesuai dengan peraturan, perundangan dan ketentuan mengenai
K3 lainnya yang berlaku
5. Melakukan evaluasi, memperbaharui dan melakukan komunikasi dan
sosialisasi pada karyawan dan pihak yang terkait

Tanggung Jawab:
1. Bertanggung jawab terhadap pemantauan pengamanan sarana sanitasi
dan lingkungan kesehatan.
2. Bertanggung jawab terhadap penyusunan laporan pemantauan
pengamanan sarana sanitasi dan lingkungan kesehatan.
3. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan yang berhubungan
dengan pemantauan pengamanan sarana sanitasi dan lingkungan
kesehatan.
4. Bertanggung jawab untuk melaporkan hasil pelaksanaan pemantauan
pengamanan sarana sanitasi dan lingkungan kesehatan kepada Ketua
P2K3
5. Bertanggung jawab terhadap pengolahan data dan informasi yang
berhubungan dengan pemantauan pengamanan sarana sanitasi dan
lingkungan kesehatan.
6. Bertanggung jawab dalam pemberian informasi yang berhubungan
dengan kegiatan P2K3.

Wewenang:
1. Meminta laporan pelaksanaan pemantauan pengamanan sarana sanitasi
dan lingkungan kesehatan dari unit terkait.
2. Melakukan koordinasi dengan unit-unit kerja di lingkungan RS Budi
Asihterkait pelaksanaan pemantauan pengamanan sarana sanitasi dan
lingkungan kesehatan.
3. Meminta data dan informasi yang berhubungan dengan pemantauan
pengamanan sarana sanitasi dan lingkungan kesehatan di unit-unit RS.

G. Koordinator Pelayanan Kesehatan Kerja dan Pencegahan Akibat Kerja

Persyaratan Jabatan:
1. Mengikuti pelatihan eksternal tentang P2K3

Uraian Tugas :
1. Memberi rekomendasi dan pertimbangan kepada Ketua P2K3 mengenai
masalah - masalah yang berkaitan dengan K3.

26
2. Merumuskan kebijakan, peraturan, pedoman, petunjuk pelaksanaan dan
prosedur.
3. Membuat program P2K3.
4. Membuat,menetapkan dan melaksanakan standar prosedur operasional
(SPO) sesuai dengan peraturan, perundangan dan ketentuan mengenai
K3 lainnya yang berlaku
5. Melakukan evaluasi, memperbaharui dan melakukan komunikasi dan
sosialisasi pada karyawan dan pihak yang terkait

Tanggung Jawab:
1. Bertanggung jawab terhadap pelayanan kesehatan kerja dan
pencegahan penyakit akibat kerja.
2. Bertanggung jawab terhadap penyusunan laporan pelayanan kesehatan
kerja dan pencegahan penyakit akibat kerja.
3. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan yang berhubungan
dengan pelayanan kesehatan kerja dan pencegahan penyakit akibat
kerja.
4. Bertanggung jawab untuk melaporkan hasil pelaksanaan pemantauan
pelayanan kesehatan kerja dan pencegahan penyakit akibat kerja kepada
Ketua P2K3
5. Bertanggung jawab terhadap pengolahan data dan informasi yang
berhubungan dengan pelayanan kesehatan kerja dan pencegahan
penyakit akibat kerja.
6. Bertanggung jawab dalam pemberian informasi yang berhubungan
dengan kegiatan P2K3.

Wewenang:
1. Meminta laporan pelaksanaan pelayanan kesehatan kerja dan
pencegahan penyakit akibat kerja dari unit terkait.
2. Melakukan koordinasi dengan unit-unit kerja di lingkungan RS Budi
Asihterkait pelaksanaan pelayanan kesehatan kerja dan pencegahan
penyakit akibat kerja.
3. Meminta data dan informasi yang berhubungan dengan pemantauan
pelayanan kesehatan kerja dan pencegahan penyakit akibat kerja di unit-
unit RS.

H. Komandan Satgas Evakuasi

Persyaratan Jabatan:
1. Mengikuti pelatihan eksternal tentang P2K3

Uraian Tugas :
1. Memberi rekomendasi dan pertimbangan kepada Ketua P2K3 mengenai
masalah - masalah yang berkaitan dengan K3.
2. Merumuskan kebijakan, peraturan, pedoman, petunjuk pelaksanaan dan
prosedur.
3. Membuat program P2K3
4. Membuat,menetapkan dan melaksanakan standar prosedur operasional
(SPO) sesuai dengan peraturan, perundangan dan ketentuan mengenai
K3 lainnya yang berlaku
5. Melakukan evaluasi, memperbaharui dan melakukan komunikasi dan
sosialisasi pada karyawan dan pihak yang terkait

27
Tanggung Jawab:
1. Bertanggung jawab terhadap langkah-langkah dalam evakuasi jika terjadi
bencana/kebakaran
2. Bertanggung jawab terhadap penyusunan SPO tentang evakuasi saat
bencana dan atau kebakaran.
3. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan yang berhubungan
dengan evakuasi saat bekerja.
4. Bertanggung jawab terhadap pengolahan data dan informasi yang
berhubungan dengan pemahaman staff terhadap jalur evakuasi dan
langkahnya
5. Bertanggung jawab dalam pemberian informasi yang berhubungan
dengan kegiatan P2K3.

Wewenang:
1. Meminta laporan pelaksanaan kegiatan manajemen risiko terkait
evakuasi
2. Melakukan koordinasi dengan unit-unit kerja di lingkungan RS Budi
Asihterkait pelaksanaan alur evakuasi jika terjadi bencana dan atau
kebakaran.
3. Meminta data dan informasi yang berhubungan dengan pemantauan
program kerja P2K3 di unit-unit RS.

I. Komandan Satgas Penanggulangan Kebakaran dan Bencana

Persyaratan Jabatan:
1. Mengikuti pelatihan eksternal tentang P2K3

Uraian Tugas :
1. Memberi rekomendasi dan pertimbangan kepada Ketua P2K3 mengenai
masalah - masalah yang berkaitan dengan K3.
2. Merumuskan kebijakan, peraturan, pedoman, petunjuk pelaksanaan dan
prosedur.
3. Membuat program P2K3 terutama dalam hal pencegahan terjadinya
kebakaran dan bencana
4. Membuat,menetapkan dan melaksanakan standar prosedur operasional
(SPO) sesuai dengan peraturan, perundangan dan ketentuan mengenai
K3 lainnya yang berlaku
5. Melakukan evaluasi, memperbaharui dan melakukan komunikasi dan
sosialisasi pada karyawan dan pihak yang terkait
6. Melakukan pelatihan proteksi kebakaran kepada staff rumah sakit

Tanggung Jawab:
1. Bertanggung jawab terhadap langkah-langkah penanggulangan
kebakaran dan bencana.
2. Bertanggung jawab terhadap penyusunan SPO tentang penanggulangan
kebakaran dan bencana
3. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan yang berhubungan
proteksi kebakaran dan bencana.
4. Bertanggung jawab terhadap pengolahan data dan informasi yang
berhubungan dengan pemahaman staff terhadap penanggulangan
kebakaran dan bencana
5. Bertanggung jawab dalam pemberian informasi yang berhubungan
dengan kegiatan P2K3.

28
Wewenang:
1. Meminta laporan pelaksanaan kegiatan manajemen risiko terkait
penanggulangan kebakaran dan bencana.
2. Melakukan koordinasi dengan unit-unit kerja di lingkungan RS Budi
Asihterkait penanggulangan kebakaran dan bencana
3. Meminta data dan informasi yang berhubungan dengan pemantauan
program kerja P2K3 di unit-unit RS.

3.1 Kualifikasi Sumber Daya Manusia

Dalam melaksanakan kegiatan K3 di Rumah Sakit dilaksanakan secara


terintegrasi oleh P2K3RS.
Distribusi tenaga kualifikasi dijabarkan dalam tabel berikut :

Tabel . Pola Ketenagaan P2K3RS

Nama Jabatan Pendidikan Sertifikasi


Ketua P2K3 Dokter Pelatihan K3 umum atau
Rumah Sakit Pelatihan K3
lanjutan
Sekretaris S1/D3 semua jurusan Pelatihan K3 umum
Pelatihan Ahli K3 umum
Bidang 1 D3 Elektromedik /sederajat Pelatihan K3 umum
Pelatihan K3 lanjutan
Bidang 2 minimal SMK Pelatihan K3 umum
listrik/mekanik Pelatihan K3 lanjutan
Bidang 3 S1 Kesling/sederajat Pelatihan K3 umum
Pelatihan K3 lanjutan
Bidang 4 S1/D3 Keperawatan Pelatihan K3 umum
Pelatihan K3 lanjutan
Komandan Satgas D3 Keperawatan Pelatihan K3 umum
Evakuasi Pelatihan K3 lanjutan
Komandan Satgas SMA/sederajat Pelatihan K3 umum
Penanggulangan Pelatihan K3 lanjutan
Kebakaran dan
Bencana

3.2 Distribusi Ketenagaan

Ketua P2K3 dalam menjalankan kegiatan K3 rumah sakit berkoordinasi


dengan sekretaris dan dibantu oleh tim. Kegiatan surveilens, audit,
pelaporan KAK (Kecelakaan Akibat Kerja) & PAK (Penyakit Akibat Kerja)
dilakukan oleh sekretaris melalui koordinasi dengan Ketua P2K3. Untuk
pengumpulan data sekretaris juga mengumpulkan dari masing – masing
bidang & komandan satgas. Tiap bidang & komandan satgas wajib
membuat program kerja & SPO terkait jobdesknya masing – masing.
Dalam pelaksanaannya dibantu oleh Ketua & Sekretaris P2K3.

29
3.3 Pengaturan Jaga

Untuk jadwal P2K3RS sesuai dengan jadwal jaga/jam kerja masing –


masing personil atau dipanggil sewaktu-waktu bila ada masalah tentang K3.
Tabel . Pengaturan Jaga P2K3RS
Definisi Waktu Kerja Jumlah Kebutuhan
Nama Jabatan Waktu Kerja
KetuaP2K3 1

Sekretaris 1

Bidang 1 1

Bidang 2 2

Bidang 3 sesuai dengan 2


jadwal jam kerja
masing – masing
Bidang 4 1

Komandan Satgas 1
Evakuasi
Komandan Satgas 1
Penanggulangan
Kebakaran dan
Bencana purna waktu

30
BAB IV
MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN

4.1 Monitoring
Monitoring dilakukan oleh seluruh anggota P2K3

4.2 Evaluasi
Evaluasi dilakukan oleh P2K3 minimal setiap 3 bulan sekali .

4.3 Laporan
Membuat laporan tertulis 3 bulan sekali yang ditujukan kepada Direktur RS.

Ditetapkan di Trenggalek
Pada tanggal 20 Mei 2019
Direktur Rumah Sakit Budi
Asih,

dr. Rendra Andriawan, MM


NIP : 01.04.19.0085

31

Anda mungkin juga menyukai