Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN


ISTIRAHAT TIDUR

OLEH :

NI GUSTI AYU SANTIKA DEWI


NIM. P07120319042

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
PROFESI NERS
2019
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN KEBUTUHAN
ISTIRAHAT TIDUR

A. Konsep Dasar Kebutuhan Dasar


1. Definisi
Menurut Potter & Perry (2005), tidur merupakan proses fisiologis yang
bersiklus bergantian dengan periode yang lebih lama dari keterjagaan. Tidur
adalah keadaan gangguan kesadaran yang dapat bangun dikarakterisasikan
dengan minimnya aktivitas.
Tidur adalah suatu keadaan relative tanpa sadar yang penuh ketenangan
tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan masing-
masing menyatakan fase kegiatan otak dan badaniah yang berbeda. Istirahat
adalah suatu keadaan di mana kegiatan jasmaniah menurun yang berakibat
badan menjadi lebih segar (Tarwoto, 2006).
Gangguan pola tidur adalah keadaan ketika individu mengalami atau
berisiko mengalami suatu perubahan dalam kuantitas atau kualitas pola
istirahatnya yang menyebabkan rasa tidak nyaman atau mengganggu gaya
hidup yang diinginkannya. Gangguan pola tidur adalah gangguan kualitas dan
kuantitas waktu tidur akibat faktor eksternal (Herdman, 2013).

2. Fisiologi
Tidur terjadi dalam siklus yang diselingi periode terjaga. Siklus tidur atau
terjaga umumnya mengikuti irama circadian atau 24 jam dalam siklus
siang/malam. Selain siklus tidur/terjaga, tidur terjadi dalam tahapan yang
berlangsung dalam suatu kondisi siklis. Ada lima tahapan tidur. Tahap 1
hingga tahap 4 mengacu pada tidur dengan gerakan mata tidak cepat (NREM-
Non Rapid Eye Movement) dan berkisar dari kedaan tidur sangat ringan di
tahap 1 hingga keadaan tidur nyenyak di tahap 3 dan 4. Selama tidur NREM,
seseorang biasanya mengalami penurunan suhu, denyut, tekanan darah,
pernapasan, dan ketegangan otot. Penurunan tuntutan fungsi tubuh dianggap
melakukan tindakan responsif, baik secara fisiologi maupun psikologi. Tahap
5 disebut tidur dengan gerak mata cepat (REM- Rapid Eye Movement). Tahap
tidur REM dikarakterisasikan dengan meningkatnya level aktivitas
dibandingkan pada tahap NREM. Manfaat tidur REM berkaitan dengan
perbaikan dalam proses mental dan kesehatan emosi. (Tarwoto dan Wartonah,
2010).
a. Non Rapid Eye Movement (NREM)
Terjadi kurang lebih 90 menit pertama setelah tertidur. Terbagi menjadi
empat tahapan yaitu:
1) Tahap I
Merupakan tahap transisi dari keadaan sadar menjadi tidur. Berlangsung
beberapa menit saja, dan gelombang otak menjadi lambat. Tahap I ini
ditandai dengan :
a) Mata menjadi kabur dan rileks.
b) Seluruh otot menjadi lemas.
c) Kedua bola mata bergerak ke kiri dan ke kanan.
d) Tanda-tanda vital dan metabolisme menurun.
e) EEG: penurunan Voltasi gelombang-gelombang Alfa.
f) Dapat terbangun dengan mudah.
g) Bila terbangun terasa sedang bermimpi.

2) Tahap II
Merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus menurun.
Berlangsung 10-20 menit, semakin rileks, mudah terjaga, dan gelombang
otak menjadi lebih lambat. Tahap II ini ditandai dengan :
a) Kedua Bola mata berhenti bergerak.
b) Suhu tubuh menurun.
c) Tonus otot perlahan-lahan berkurang.
d) Tanda-tanda vital turun dengan jelas.
e) EEG: Timbul gelombang beta Frekuensi 15-18 siklus / detik yang disebut
gelombang tidur.
3) Tahap III
Merupakan awal tahap tidur nyenyak. Tahap ini berlangsung 15-30
menit. Tahap III ini ditandai dengan:
a) Relaksasi otot menyeluruh.
b) Tanda-tanda vital menurun tetapi tetap teratur.
c) EEG: perubahan gelombang Beta menjadi 1-2 siklus / detik.
d) Sulit dibangunkan dan digerakkan.

4) Tahap IV
Tahap Tidur Nyenyak, berlangsung sekitar 15-30 menit. Tahap ini
ditandai dengan:
a) Jarang bergerak dan sangat sulit dibangunkan.
b) Tanda-tanda vital secara signifikan lebih rendah dari pada jam bangun
pagi.
c) Tonus Otot menurun (relaksasi total).
d) Denyut jantung dan pernapasan menurun sekitar 20-30 %.
e) EEG: hanya terlihat gelombang delta yang lambat dengan frekwensi 1-2
siklus/detik.
f) Gerak bola mata mulai meningkat.
g) Terjadi mimpi dan terkadang tidur sambil berjalan serta enuresis
(mengompol).

b. Rapid Eye Movement (REM)


Tahap tidur yang sangat nyenyak. Pada orang dewasa REM terjadi 20-
25% dari tidurnya.
1) Tahap REM ditandai dengan:
a) Bola mata bergerak dengan kecepatan lebih tinggi dari tahap-tahap
sebelumnya.
b) Mimpi yang berwarna dan nyata muncul.
c) Tahap ini biasanya dimulai sekitar 90 menit setelah tidur dimulai.
d) Terjadi kejang otot kecil, otot besar imobilisasi.
e) Ditandai oleh respons otonom yaitu denyut jantung dan pernapasan yang
berfluktuasi, serta peningkatan tekanan darah yang berfluktuasi.
f) Metabolisme meningkat.
g) Lebih sulit dibangunkan.
h) Sekresi lambung meningkat.
i) Durasi tidur REM meningkat dengan setiap siklus dan rata-rata 20 menit.
2) Karakteristik tidur REM
a) Mata : Cepat tertutup dan terbuka.
b) Otot-otot : Kejang otot kecil, otot besar immobilisasi.
c) Pernapasan : tidur teratur, kadang dengan apnea.
d) Nadi : Cepat dan ireguler.
e) Tekanan darah : Meningkat atau fluktuasi.
f) Sekresi gaster : Meningkat.
g) Metabolisme : Meningkat, temperatur tubuh naik.
h) Gelombang otak : EEG aktif.
i) Siklus tidur : Sulit dibangunkan.
3. Pohon Masalah

Gangguan
Istirahat dan Tidur

1) Bangun terlalu dini


2) Gangguan pola tidur
3) Gangguan status
kesehatan
4) Kesulitan tidur nyenyak
5) Perubahan konsentrasi
6) Perubahan mood
7) Tidak tidur memuaskan

Terjaga

Tidak terjadi penurunan


respon terhadap
rangsangan luar

RAS tetap memproduksi


enzim katekolamin

1) Ansietas Ketidaknyamanan
Faktor lingkungan fisik (mis., kebisingan 2) Berduka fisik
lingkungan sekitar, pajanan terhadap 3) Ketakutan
cahaya/gelap, suhu kelembaban lingkungan 4) Depresi
sekitar, tatanan yang tidak familier)

Sumber: Mubarak (215). Padila (2013).


3.Pohon Masalah

KELETIHAN
4. Klasifikasi
Ganguan tidur adalah suatu kondisi yang jika tidak diobati, umunya
menyebabkan tidur terganggu yang menghasilkan salah satu dari tiga masalah
insomnia yaitu gerakan abnormal atau sensasi saat tidur atau ketika terbangun
di malam hari, atau kantuk yang berlebihan di siang hari (Tarwoto dan
Wartonah, 2010)
a. Insomnia
Insomnia adalah gejala yang dialami klien ketika mereka mengalami
kesulitan tidur kronis, sering terbangun dari tidur, dan atau tidur pendek atau
tidur non retoratif. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan tidur, baik secara
kualitas maupun kuantitas. Umumnya ditemui pada individu dewasa.
Penyebabnya bisa karena gangguan fisik atau karena faktor mental seperti
perasaan gundah dan gelisah. Ada tiga jenis insomnia yaitu Initial insomnia
adalah kesulitan untuk memulai tidur, Intermitten insomnia adalah kesulitan
untuk tetap tertidur karena seringnya terjaga, terminal insomnia adalah bangun
terlalu dini dan sulit untuk tidur kembali.
b. Parasomnia
Adalah perilaku yang dapat mengganggu tidur atau muncul saat
seseorang tidur, dan bisanya terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa.
Misalnya tidur berjalan, mengigau, teror malam, mimpi buruk, nokturnal,
enuresis (mengompol), badan goyang, dan bruksisme (gigi bergemeretak).
c. Hipersomnia
Adalah kebalikan dari insomnia, yaitu tidur yang berlebihan terutama
pada siang hari.
d. Narkolepsi
Gelombang kantuk yang tak tertahankan yang muncul secara tiba-tiba
pada siang hari. Seseorang dengan narkolepsi sering mengalami mimpi seperti
nyata yang terjadi ketika seseorang tertidur. Mimpi-mimpi ini sulit dibedakan
dari kenyataan. Kelumpuhan tidur, perasaan tidak mampu bergerak, atau
berbicara sesaat sebelum bagun atau tidur adalah gejala lainnya (Guilleminault
dan Bassiri, 2005).
e. Apnea saat Tidur dan Mendengkur
Merupakan gangguan yang ditandai oleh kurangnya aliran udara
melalui hidung dan mulut untuk periode 10 detik atau lebih pada saat tidur.
Ada tiga jenis tidur apnea yaitu apnea sentral, obstruktif, dan campuran. Bentuk
yang paling umum adalah apnea obstruktif atau Obstruktif Sleep Apnea (OSA).
OSA mempengaruhi 10-15% dari dewasa menengah. OSA terjadi ketika otot
atau struktur dari rongga mulut atau tenggorakan mengalami relaksasi saat
tidur. Saluran napas tersumbat sebagian atau seluruhnya, mengurangi aliran
udara hidung (hiponea) atau menghentikannya (apnea) selama 30 detik
(Guilleminault dan Bassiri, 2005). Seseorang masih mencoba untuk bernapas
karena dada dan perut terus bergerak, sehingga sering menghasilkan dengkuran
keras dan suara mendengus atau mendengkur. Ketika pernapasan menjadi
sebagian atau seluruhnya berkurang, setiap gerakan diafragma berturut-turut
menjadi kuat sampai penyumbatan terbuka. Mendengkur bukan dianggap
sebagai gangguan tidur, namun bila disertai apnea maka bisa menjadi masalah.
f. Mengigau
Hampir semua orang pernah mengigau, hal itu terjadi sebelum tidur REM.

5. Gejala Klinis
a. Dewasa
1) Data Mayor : Kesulitan untuk tertidur atau tetap tidur
2) Data Minor
a) Keletihan saat bangun atau letih sepanjang hari
b) Perubahan mood
c) Agitasi
d) Mengantuk sepanjang hari
b. Anak
1) Gangguan pada anak sering kali dihubungkan dengan ketakutan, enuresis,
atau respons tidak konsisten dari orang tua terhadap permintaan anak
untuk mengubah peraturan dalam tidur seperti permintaan untuk tidur
larut malam.
2) Keengganan untuk istirahat, keinginan untuk tidur bersama orang tua.
3) Sering bangun saat malam hari.

6. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Mubarak (2015), pemeriksaan diagnosis pada gangguan
istirahat dan tidur meliputi;
1. Pemeriksaan fisik:
1) Tingkat kesadaran
2) Tremor
3) Kemampuan berdiri
4) Electroencephalogram (EEG), alat yang digunakan untuk mengukur
aktivitas listrik otak dengan hasil berupa lembaran kertas.
5) Electromyogram (EMG), alat yang digunakan untuk merekam aktivitas
listrik otot rangka.
6) Electroocologram (EOG), alat yang digunakan untuk mengetahui gerakan
bola mata.

7. Komplikasi
Pasien mengeluh lemah, letargi (terjadinya penurunan kesadaran dan
pemusatan perhatian, serta kesiagaan), lingkaran hitam di sekitar mata,
kongjungtiva kemerahan, kelopak mata bengkak, apnea tidur (henti nafas atau
jeda saat tidur). Individu yang tidak menerima jumlah yang cukup tidur akan
mengalami stress, depresi, dan cemas (Carpenito, 1995).

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian Keperawatan
Menurut pola fungsi Gordon 1982, terdapat 11 pengkajian pola fungsi
kesehatan :
a. Pola Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan
Pola ini tidak menjadi fokus pengkajian pada pola persepsi dan
pemeliharaan kesehatan kaji pasien mengenai:
1) Apakah pendapat pasien mengenai gangguan pola tidur yang dialami?
2) Menurut pasien apa yang menyebabkan pasien mengalami gangguan pola
tidur?
b. Pola nutrisi
Pola ini tidak menjadi fokus pengkajian, dalam pola nutrisi kaji pasien
mengenai:
1) Pola makan
a) Bagaimana nafsu makan pasien selama sakit?
b) Berapakah porsi makan pasien per sekali makan?
2) Pola Minum
a) Berapakah frekuensi minum pasien selama sakit?

c. Pola eliminasi
Pada pola eliminasi kaji pasien mengenai:
1) Buang air besar
a) Berapakah frekuensi setiap kali buang air besar?
b) Bagaimanakah konsistensi pasien dalam buang air besar?
2) Buang air kecil
a) Berapakah frekuensi serta jumlah urine pasien setiap buang air kecil?

d. Aktivitas dan Latihan


Pola ini akan menjadi fokus pengkajian, dalam pola aktivitas dan latihan
kaji pasien mengenai:
1) Kebersihan diri (tidak menjadi fokus pengkajian)
2) Aktivitas sehari-hari
3) Bagaimanakah pasien beraktifitas dalam pekerjaannya? Serta apakah jenis
pekerjaan pasien akan mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit
pasien?
4) Rekreasi (tidak menjadi fokus pengkajian)
5) Olah raga
a) Apakah pasien bisa melakukan kegiatan olah raga? Jika iya, jenis olah raga
apa yang dilakukan pasien?
e. Tidur dan Istirahat
Pola ini akan menjadi fokus pengkajian, dalam pola aktivitas dan latihan
kaji pasien mengenai:
1) Pola tidur
Bagaimanakah pola tidur pasien selama sakit? Yang digambarkan dengan
pukul berapa pasien mulai tidur dan sampai pukul berapa pasien tidur saat
malam hari?
2) Frekuensi tidur
Bagaimana frekuensi tidur pasien selama sakit? Yang digambarkan
dengan berapa lama pasien tidur malam?
3) Intensitas tidur
a) Apakah pasien mengalami pola tidur NREM (Non-Rapid Eye Movement)
lebih dominan? Ataukah pasien mengalami pola tidur REM (Rapid Eye
Movement) yang lebih dominan?

f. Sensori, Presepsi dan Kognitif


Pola ini tidak menjadi focus pengkajian, pola ini akan mengkaji pasien
mengenai:
1) Bagaimana cara pembawaan pasien saat bicara? Apakah normal, gagap,
atau berbicara tak jelas?
2) Bagaimanakah tingkat ansietas pada pasien?
3) Apakah pasien mengalami nyeri?
Jika iya, lakukan pengkajian dengan menggunakan:
P (provoking atau pemacu)
Q (quality atau kualitas)
R (region atau daerah)
S (severity atau keganasan)
T (time atau waktu)
g. Konsep diri
Pola ini tidak menjadi focus pengkajian, pola ini akan mengkaji pasien
mengenai:
1) Body image/gambaran diri
a) Adakah prosedur pengobatan yang mengubah fungsi alat tubuh?
b) Apakah pasien memiliki perubahan ukuran fisik?
c) Adakah perubahan fisiologis tumbuh kembang?
d) Adakah transplantasi alat tubuh?
e) Apakah pernah operasi?
f) Bagaimana proses patologi penyakit?
g) Apakah pasien menolak berkaca?
h) Apakah fungsi alat tubuh pasien terganggu?
i) Adakah keluhan karena kondisi tubuh?
2) Role/peran
a) Apakah pasien mengalami overload peran?
b) Adakah perubahan peran pada pasien?
3) Identity/identitas diri
a) Apakah pasien merasa kurang percaya diri?
b) Mampukah pasien menerima perubahan?
c) Apakah pasien merasa kurang memiliki potensi?
d) Apakah pasien kurang mampu menentukan pilihan?
4) Self esteem/harga diri
a) Apakah pasien menunda tugas selama sakit?
b) Apakah pasien menyalahgunakan zat?
5) Self ideals/ideal diri
a) Apakah pasien tidak ingin berusaha selama sakit

h. Seksual dan Reproduksi


Pola ini tidak menjadi focus pengkajian, pola peran hubungan akan
mengkaji pasien peran hubungan pasien mengenai:
1) Apakah pasien mengalami gangguan seksualitas saat sakit?
i. Pola Peran Hubungan
Pola ini tidak menjadi fokus pengkajian, pola peran hubungan pasien
mengenai:
1) Apakah pekerjaan pasien?
2) Bagaimanakah kualitas pekerjaan pasien?
3) Bagaimanakah pasien berhubungan dengan orang lain?

j. Manajemen Koping Setress


Pola ini menjadi fokus pengkajian, pola ini menggambarkan bagaimana
pasien menangani stress yang dimilikinya serta apakah kalien
menggunakan sistem pendukung dalam menghadapi stres. Apakah
gangguan pola tidur pasien berhubungan dengan stress yang dialami
pasien.

k. Sistem Nilai Dan Keyakinan


Pola ini tidak menjadi focus pengkajian, pola ini menggambarkan
bagaimana keyakinan serta spiritual klien terhadap penyakitnya

2. Diagnosa Keperawatan
Menurut SDKI (2016) diagnosa keperawatan pada pasien dengan gangguan
kebutuhan istirahat tidur, yaitu:
a. Gangguan pola tidur
Definisi : Gangguan kualitas dan kuantitas waktu tidur akibat faktor
eksternal
Penyebab :
1) Hambatan lingkungan (mis., kelembaban lingkungan sekitar, suhu
lingkungan, pencahayaan, kebisingan, bau tidak sedap, jadwal
pemantauan/pemeriksaan/tindakan)
2) Kurang control tidur
3) Kurang privasi
4) Restraint fisik
5) Ketiadaan teman tidur
6) Tidak familiar dengan peralatan tidur
Gejala dan Tanda Mayor (Subjektif) :
1) Mengeluh sulit tidur
2) Mengeluh sering terjaga
3) Mengeluh tidak puas tidur
4) Mengeluh pola tidur berubah
5) Mengeluh istirahat tidak cukup
Gejala dan Tanda Minor (Subjektif) :
1) Mengeluh kemampuan beraktivitas menurun
Kondisi Klinis Terkait :
1) Nyeri
2) Hipertiroidisme
3) Kecemasan
4) Penyakit paru obstruktif kronis
5) Kehamilan
6) Periode pasca partum
7) Kondisi pasca operasi

b. Keletihan
Definisi : Penurunan kapasitas kerja fisik dan mental yang tidak pulih
dengan istirahat
Penyebab :
1) Gangguan tidur
2) Gaya hidup monoton
3) Kondisi fisiologis (mis., penyakit kronis, penyakit terminal, anemia,
malnutrisi, kehamilan)
4) Program perawatan atau pengobatan jangka Panjang
5) Peristiwa hidup negative
6) Stress berlebihan
7) Depresi
Gejala dan Tanda Mayor :
Subjektif
1) Merasa energi tidak pulih walaupun telah tidur
2) Merasa kurang tenaga
3) Mengeluh lelah
Objektif
1) Tidak mampu mempertahankan aktivitas rutin
2) Tampak lesu
Gejala dan Tanda Minor :
Subjektif
1) Merasa bersalah akibat tidak mampu menjalankan tanggung jawab
2) Libido menurun
Objektif
1) Kebutuhan istirahat meningkat
Kondisi Klinis Terkait :
2) Anemia
3) Kanker
4) Hipotiroidisme atau Hipertiroidisme
5) AIDS
6) Depresi
7) Menopause
3. Rencana Asuhan Keperawatan

No. Diagnosa Kriteria Hasil Intervensi


Keperawatan
1. Gangguan pola Setelah dilakukan asuhan a. Terapi Relaksasi
tidur keperawatan selama … x Observasi
24 jam diharapkan pola 1) Identifikasi penurunan
tidur membaik, dengan tingkat energi,
kriteria hasil; ketidakmampuan
a. Pola Tidur berkonsentrasi, atau
1) Keluhan sulit tidur gejala lain yang
menurun mengganggu
2) Keluhan sering kemampuan kognitif
terjaga menurun 2) Identifikasi teknik
3) Keluhan tidak puas relaksasi yang pernah
tidur menurun efektif digunakan
4) Keluhan pola tidur 3) Identifikasi kesediaan,
berubah menurun kemampuan dan
5) Keluhan istirahat penggunaan teknik
tidak cukup menurun sebelumnya
6) Kemampuan 4) Periksa ketegangan
beraktivitas otot, frekuensi nadi,
meningkat tekanan darah, dan suhu
sebelum dan sesudah
latihan
5) Monitor respon
terhadap terapi
relaksasi
Terapeutik
1) Ciptakan lingkungan
tenang dan tanpa
gangguan dengan
pencahayaan dan suhu
ruang nyaman, jika
memungkinkan
2) Berikan informasi
tertulis tentang
persiapan dan prosedur
teknik relaksasi
3) Gunakan pakaian
longgar
4) Gunakan nada suara
lembut dengan irama
lambat dan berirama
5) Gunakan relaksasi
sebagai strategi
penunjang dengan
analgetik atau tindakan
medis lain, jika sesuai
Edukasi
1) Jelaskan tujuan,
manfaat, batasan, dan
jenis relaksasi yang
tersedia (mis. musik,
meditasi, nafas dalam,
relaksasi otot progresif)
2) Jelaskan secara rinci
intervensi relaksasi
yang dipilih
3) Anjurkan mengambil
posisi yang nyaman
4) Anjurkan rileks dan
merasakan sensasi
relaksasi
5) Anjurkan sering
mengulangi atau
melatih teknik yang
dipilih
6) Demonstrasikan dan
latih Teknik relaksasi
(mis. napas dalam,
peregangan, atau
imajinasi terbimbing)
2. Keletihan Setelah dilakukan asuhan a. Terapi Relaksasi Otot
keperawatan selama … x Progresif
24 jam diharapkan tingkat Observasi
keletihan pasien 1) Identifikasi tempat
menurun, dengan kriteria yang tenang dan
hasil; nyaman
a. Verbalisasi lelah 2) Monitor secara berkala
menurun untuk memastikan otot
b. Lesu menurun rileks
c. Gangguan 3) Monitor adanya
konsentrasi menurun indikator tidak rileks
d. Sakit kepala (mis. adanya gerakan,
menurun pernapasan yang berat)
e. Sakit tenggorokan Terapeutik
menurun 1) Atur lingkungan agar
f. Mengi menurun tidak ada gangguan saat
g. Sianosis menurun terapi
h. Gelisah menurun 2) Berikan posisi
i. Frekuensi nafas bersandar pada kursi
dalam batas normal atau posisi lainnya yang
j. Selera makan nyaman
membaik 3) Hentikan sesi relaksasi
k. Pola nafas membaik secara bertahap
l. Pola istirahat 4) Beri waktu
membaik mengungkapkan
perasaan tentang terapi
Edukasi
1) Anjurkan memakai
pakaian yang nyaman
dan tidak sempit
2) Anjurkan melakukan
relaksasi otot rahang
3) Anjurkan menegangkan
otot selama 5 sampai 10
detik, kemudian
dianjurkan untuk
merilekskan otot 20-30
detik, masing-masing 8
sampai 16 kali
4) Anjurkan menegangkan
otot kaki selama tidak
lebih dari 5 detik untuk
menghindari kram
5) Anjurkan fokus pada
sensasi otot yang
meegang
6) Anjurkan fokus pada
sensasi otot yang rileks
7) Anjurkan bernapas
dalam dan perlahan
8) Anjurkan berlatih di
antara sesi regular
dengan perawat
Badung, Agustus 2019
Nama Pembimbing / CI Nama Mahasiswa

Ni Gusti Ayu Santika Dewi


NIP. NIM. P07120319042

Nama Pembimbing / CT

NIP.