Anda di halaman 1dari 11

Jurnal Nutrisi Ternak Tropis Maret 2019

Vol 2 No 1 pp 42-52

PENGARUH PENAMBAHAN FERMENTASI KULIT PISANG KEPOK


(Musa Paradisiaca L.) PADA PAKAN LENGKAP TERHADAP
KANDUNGAN NUTRISI DAN KECERNAAN SECARA IN VITRO

Effect of Addition Banana Peel (Musa paradisiaca L.) Fermentation in A


Complete Feed on The Nutrient Contents and Digestibility by in Vitro

Gassa Yanuar Putra1), Herni Sudarwati2) dan Mashudi2)


1)
Mahasiswa Fakultas Peternakan Univeristas Brawijaya Jalan Veteran, Ketawanggede, Kec. Lowokwaru, Kota
Malang, Jawa Timur 65145
2)
Dosen Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Jalan Veteran, Ketawanggede, Kec. Lowokwaru, Kota
Malang, Jawa Timur 65145
Email : gassayanuar6@gmail.com

ABSTRAK

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan nutrien dan daya cerna pakan
lengkap dengan penambahan fermentasi kulit pisang kepok. Bahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah pakan lengkap dengan penambahan fermentasi kulit pisang kepok.
Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental, menggunakan Rancangan Acak Kelompok
(RAK) dengan 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan yang digunakan terdiri dari P0: 0%,
P1: 5%, P2: 10%, P3: 15%, dan P4: 20%. Data dianalisis menggunakan analisis ragam
dengan pola RAK, diikuti oleh Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penambahan fermentasi kulit pisang kepok berpengaruh sangat nyata
(P<0,01) terhadap serat kasar, protein kasar, dan lemak kasar. Sedangkan terhadap bahan
organik dan abu berpengaruh nyata (P<0,05). Kecernaan bahan kering dan bahan organik
menunjukkan hasil berpengaruh sangat nyata (P<0,01) dengan penambahan fermentasi kulit
pisang kepok. Kesimpulan penelitian ini adalah pakan lengkap tanpa penambahan fermentasi
kulit pisang kepok memiliki kandungan nutrisi dan kecernaan terbaik secara in vitro.

Kata kunci : Kulit pisang kepok terfermentasi, pakan lengkap, kandungan nutrisi, kecernaan
bahan kering dan kecernaan bahan organik

How to Cite : *Corresponding author :

Putra, G. Y., Sudarwati, H., & Mashudi. (2019). Gassa Yanuar Putra
Pengaruh Penambahan Fermentasi Kulit Pisang Email : gassayanuar6@gmail.com
Kepok (Musa Paradisiaca L.) pada Pakan Lengkap Fakultas Peternakan Univeristas Brawijaya Jalan
Terhadap Kandungan Nutrisi dan Kecernaan Secara Veteran, Ketawanggede, Kec. Lowokwaru, Kota
In Vitro. Jurnal Nutrisi Ternak Tropis, 2 (1) 42-52 Malang, Jawa Timur 65145

42
Gassa Yanuar Putra, Dkk. 2019

ABSTRACT

The purpose of this research were to determine of nutrient contents and digestibility
complete feed with addition of banana peel fermentation. The material used in the study was
complete feed with addition banana peel fermentation. The research conducted with the
experimental method, using a Randomized Block Design (RBD) with 5 treatments and 3
replications. The treatments used consist of P0: 0%, P1: 5%, P2: 10%, P3: 15%, and P4: 20%
of banana peel fermentation. The data were analyzed using analysis of variance, followed by
Duncan Multiple Range Test (DMRT’s). The results showed that addition of banana peel
fermentation was highly significant (P<0.01) on crude fiber, crude protein, and crude fat. The
results also showed on organic matter and ash were significant (P<0.05). Dry matter and
organic matter digestibility showed highly significant (P<0.01) with addition of banana peel
fermentation. The conclusion of this research was the complete feed without addition of banana
peel fermentation has the best on nutrient contents and digestibility by in vitro.

Keywords : Banana peel fermentation, complete feed, nutrient contents, dry matter and
organic matter digestibilty

PENDAHULUAN 3,63%, LK 2,52%, SK 18,71%, Ca 7,18%,


dan P 2,06% (Koni, 2013). Penggunaan
Keberhasilan sektor peternakan limbah perkebunan sebagai pakan untuk
dipengaruhi oleh 3 aspek salah satunya ternak diperlukan strategi pengolahan
adalah pakan. Pakan memiliki persentase dengan tujuan memperbaiki kandungan
sebesar 70% dari total biaya produksi. nutrisi.
Pemilihan bahan pakan yang mudah Fermentasi merupakan perombakan
didapat, dari segi harga murah, dan substrat organik melalui enzim yang
ketersedian secara kontinyu menjadi hal dihasilkan mikroorganisme untuk
terpenting pada pakan dalam menunjang menghasilkan senyawa sederhana. Salah
produktivitas ternak. Permasalahan pakan satu jenis mikroorganisme yang dapat
yang ada dipeternakan Indonesia adalah digunakan dalam proses fermentasi adalah
ketersediaan hijauan yang fluktuatif. EM4 (effective microorganism-4). EM4
Hijauan pada musim kemarau akan menjadi merupakan suatu kultur campuran berbagai
terbatas ketersediaannya begitu pula mikroorganisme antara lain bakteri
sebaliknya. Hal tersebut mendorong para fotosintetik, bakteri asam laktat
peternak untuk memanfaatkan pakan (Lactobacillus sp), actinomycetes, dan ragi
alternatif demi memenuhi kebutuhan pakan yang dapat digunakan sebagai inokulum
pada ternak yang dipeliharanya. Pakan (Has, Indi, dan Pagala, 2017). Keuntungan
alternatif dapat diperoleh dari limbah fermentasi dengan EM4 antara lain
pertanian, perkebunan maupun agroindustri. memperbaiki kandungan nutrisi,
Salah satu limbah perkebunan atau mendegradasi serat kasar, memperbaiki rasa
agroindustri yang bisa dimanfaatkan adalah dan aroma pakan. Kulit pisang kepok yang
limbah dari buah pisang. Pada tahun 2016 difermentasi dengan menggunakan EM4
produksi pisang nasional sebesar 7.007.125 meningkatkan protein kasar sebesar 14,14%
ton/tahun (Anonimus, 2016). Hal tersebut dan menurunkan serat kasar sebesar 18,58%
menandakan potensi untuk memanfaatkan (Agustono, Herviana dan Nurhajati, 2011).
limbah dari buah pisang sebagai pakan Penambahan sumber karbohidrat
alternatif. Salah satu jenis limbah dari buah mudah larut dalam proses fermentasi dapat
pisang yang bisa dimanfaatkan adalah meningkatkan aktivitas mikroorganisme
limbah kulit pisang kepok. Kandungan sehingga proses fermentasi dapat berjalan
nutrisi kulit pisang kepok antara lain lain PK optimal. Daun ubi kayu yang difermentasi

43
Gassa Yanuar Putra, Dkk. 2019

dengan penambahan dedak mampu P2: Konsentrat 40% + Hijauan 60% (30%
meningkatkan protein kasar hingga 26,34% rumput gajah dan 30% daun gamal) +
(Santoso dan Aryani, 2007). Keberhasilan K. Pisang Terfermentasi 10%
proses fermentasi dipengaruhi oleh P3: Konsentrat 40% + Hijauan 60% (30%
beberapa faktor antara lain ketersediaan rumput gajah dan 30% daun gamal) +
substrat, dosis inokulum, jenis K. Pisang Terfermentasi 15%
mikroorganisme, waktu fermentasi, pH, dan P4: Konsentrat 40% + Hijauan 60% (30%
suhu (Astuti, Sari, dan Zulkarnain, 2013). rumput gajah dan 30% daun gamal) +
Kulit pisang terfermentasi mampu K. Pisang Terfermentasi 20%
menggantikan rumput lapangan dalam
pakan lengkap sampai 40% dengan Variabel Penelitian
kecernaan bahan kering 74,58% dan Variabel penelitian yang diukur
kecernaan bahan organik berkisar 72,63% meliputi kandungan nutrisi (BK, BO, PK,
(Astuti, 2015). Berdasarkan uraian tersebut SK, LK, dan Abu), kecernaan bahan kering,
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan kecernaan bahan organik. Kandungan
pengaruh penambahan fermentasi kulit nutrisi dilakukan dengan menggunakan
pisang kepok (Musa paradisiaca L.) dalam analisis proksimat, sedangkan kecernaan
pakan lengkap terhadap kandungan nutrisi, bahan kering dan kecernaan bahan organik
kecernaan bahan kering, dan kecernaan menggunakan metode produksi gas .
bahan organik secara in vitro.
Analisis Data
MATERI DAN METODE Data dianalisis dengan menggunakan
Analisis Ragam pola RAK dengan bantuan
Penelitian ini dilaksanakan di Microsoft Excel 2010, apabila terdapat
Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, pengaruh dilanjutkan Uji Jarak Berganda
Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya Duncan (UJBD). Analisis Regresi Linear
Malang dengan periode penelitian dari menggunakan bantuan SPSS.
Januari sampai Maret 2018. Materi
penelitian yang digunakan adalah kulit HASIL DAN PEMBAHASAN
pisang kepok merah, konsentrat, rumput
gajah, daun gamal, pollard, EM4 peternakan. Kandungan Nutrisi Kulit Pisang Kepok
Kulit pisang kepok di oven 60oC selama 4 Sebelum dan Sesudah Difermentasi
jam, kemudian kulit pisang difermentasi Kandungan nutrisi kulit pisang kepok
dengan penambahan pollard 10% terdapat perbedaan sebelum dan sesudah
(berdasarkan BK) dan EM4 6% kemudian fermentasi. Hasil kandungan nutrisi kulit
diinkubasi selama 1 minggu secara anaerob. pisang kepok disajikan dalam Tabel 1.
Kulit pisang yang telah terfermentasi Kandungan bahan kering (BK)
kemudian dikeringkan. Penyusunan mengalami peningkatan sebesar 4,64%.
proporsi pakan lengkap berdasarkan bahan Peningkatan bahan kering disebabkan oleh
kering pada setiap bahan pakan penyusun. kandungan air dalam produk fermentasi
Metode yang digunakan adalah lebih sedikit dibandingkan sebagian air yang
metode percobaan dengan Rancangan Acak keluar dari produk fermentasi (Mookolang,
Kelompok (RAK) 5 perlakuan dan 3 Wolayan, Imbar, dan Loar, 2018).
ulangan, sebagai berikut: Kandungan bahan organik (BO) mengalami
P0: Konsentrat 40% + Hijauan 60% (30% peningkatan sebesar 4,11%. Peningkatan
rumput gajah dan 30% daun gamal) bahan organik disebabkan oleh adanya
P1: Konsentrat 40% + Hijauan 60% (30% peningkatan biomassa dari aktivitas
rumput gajah dan 30% daun gamal) + mikroorganisme selama proses fermentasi
K. Pisang Terfermentasi 5% (Suprayogi, 2010).

44
Gassa Yanuar Putra, Dkk. 2019

Tabel 1. Kandungan Nutrisi Kulit Pisang Kepok (Musa paradisiaca L.) dan Hasil Fermentasi
Kandungan Nutrisi Kulit Pisang tanpa fermentasi Kulit Pisang Terfermentasi
(%)* (%) (%)
BK 14,76 19,40
BO 84,34 88,45
PK 4,52 5,92
SK 12,36 10,92
LK 15,58 11,62
Abu 15,66 11,55
Keterangan : *) Berdasarkan 100% BK
- Hasil analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan,
Universitas Brawijaya Tahun 2018

Peningkatan protein kasar (PK) pada kandungan bahan organik yang terdegradasi
kulit kepok terfermentasi hanya sebesar maka kandungan abu yang turun relatif kecil
0,97% dan tergolong rendah. Peningkatan secara proporsional, apabila kandungan
protein kasar yang tinggi disebabkan organik terdegradasi semakin besar maka
mikroorganisme dalam EM4 terdapat kenaikan kandungan abu menjadi lebih
mikroorganisme yang menghasilkan enzim besar secara proporsional (Styawati,
selulase dan protease yang mampu Muhtarudin, dan Liman, 2014).
memecah ikatan protein. Selain itu,
peningkatan protein kasar disebabkan Kandungan Nutrisi Bahan Pakan
protein sel tunggal dari mikroorganisme Penyusun Pakan Lengkap
yang berkembang selama proses fermentasi Pakan lengkap merupakan pakan yang
(Has, Indi, dan Pagala, 2017). Kandungan disusun dari beberapa bahan pakan dan
serat kasar (SK) kulit pisang kepok diformulasikan sesuai dengan kebutuhan
terfermentasi mengalami penurunan cukup ternak. Pakan lengkap disusun dari rumput
rendah sebesar 1,44%. Mikroorganisme gajah, daun gamal, konsentrat, dan kulit
dalam EM4 menghasilkan enzim selulase pisang kepok terfermentasi. Kandungan
dan ligninase yang digunakan untuk nutrisi pada bahan pakan penyusun pakan
merombak selulosa dan lignin (Nuraini, lengkap ditampilkan pada Tabel 2. pakan
Mahata, dan Djulardi, 2014). lengkap yang baik dari segi nutrisi mampu
Penurunan lemak kasar (LK) pada memenuhi kebutuhan ternak untuk produksi
kulit pisang kepok terfermentasi sebesar maupun hidup pokok.
3,96%. Penurunan kandungan lemak ini Protein kasar (PK) pada pakan
disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme lengkap minimal >7%, kandungan protein
dalam merombak substrat yang ada. Hal ini kasar pada pakan lengkap <7%
sesuai dengan pendapat Manorek, Wolayan, menyebabkan aktivitas mikroba rumen
Untu, dan Liwe (2018) bahwa dalam mendegradasi pakan menjadi
meningkatnya aktivitas mikroba dalam terhambat akibat kurangnya pasokan
merombak senyawa kompleks menjadi nitrogen yang diperlukan mikroba untuk
senyawa sederhana sehingga lemak kasar menunjang pertumbuhannya (Permana,
mudah didegradasi selama fermentasi Chuzaemi, Marjuki, dan Mariyono, 2014).
berlangsung. Kandungan abu kulit pisang Kandungan serat kasar (SK) pada
kepok terfermentasi mengalami penurunan pakan lengkap minimal >15%. Kandungan
berkisar 4,11%. Penurunan kandungan abu serat kasar yang terlalu rendah pada pakan
memiliki korelasi yang positif dengan akan mempengaruhi aktivitas mikroba di
kandungan bahan organik. Korelasi dalam rumen. Serat kasar diperlukan ternak
kandungan abu dengan kandungan bahan ruminansia untuk merangsang aktivitas
organik dapat diartikan semakin sedikit mikroba di dalam rumen. Serat kasar yang

45
Gassa Yanuar Putra, Dkk. 2019

terlalu tinggi akan menimbulkan masalah P4 -0,13%, sedangkan pada perlakuan P2


yaitu menurunnya konsumsi pakan mengalami peningkatan +0,27% dan P3
dikarenakan pakan sulit didegradasi oleh +0,19%. Perbedaan kandungan bahan
mikroba rumen. Menurut Wina dan Susana organik disebabkan oleh kandungan abu
(2013) menyatakan bahwa tingginya kadar pada tiap perlakuan. Hal ini sesuai dengan
lemak kasar (>5%) dalam pakan akan pendapat Fariani, Astuti, Muslim, dan Abrar
menyebabkan pengaruh negatif lemak (2014) bahwa bahan organik berkaitan erat
terhadap kecernaan serat kasar di dalam dengan bahan kering dan perbedaan
rumen. kandungan bahan organik disebabkan oleh
kandungan abu yang terkandung dalam
Kandungan Nutrisi Pakan Lengkap suatu pakan.
Dengan Penambahan Kulit Pisang Kepok Protein Kasar
Terfermentasi Hasil analisis ragam pada Tabel 3.
Bahan Kering. menunjukkan bahwa penambahan kulit
Hasil analisis ragam pada Tabel 3. pisang kepok terfermentasi memberikan
menunjukkan bahwa penambahan kulit hasil berpengaruh sangat nyata (P<0,01)
pisang kepok terfermentasi memberikan terhadap kandungan protein kasar pakan
hasil berpengaruh sangat nyata (P<0,01) lengkap. Penurunan kandungan protein
terhadap kandungan bahan kering pakan kasar berkisar 0,29-1,1%. Penurunan
lengkap. Penurunan kandungan bahan kandungan protein kasar disebabkan oleh
kering berkisar 0,62-1,99%. Penurunan rendahnya kandungan protein kasar kulit
kandungan bahan kering disebabkan oleh pisang kepok terfermentasi (5,92%) jika
rendahnya kandungan bahan kering kulit dibandingkan kandungan protein kasar P0
pisang kepok terfermentasi (19,40%) jika (15,9%). Semakin besar penambahan kulit
dibandingkan dengan kandungan bahan pisang kepok terfermentasi maka semakin
kering pakan P0 (21,30%). Semakin besar menurunkan kandungan protein kasar pada
penambahan kulit pisang kepok tiap perlakuan.
terfermentasi maka semakin menurunkan Menurut penelitian Fitriani dan Asyari
perlakuan. (2017) bahwa kandungan protein kasar
Bahan Organik pakan komplit dengan penambahan azolla
Hasil analisis ragam pada Tabel 3. mengalami peningkatan sebesar 9,45-
menunjukkan bahwa penambahan kulit 10,50%. Pada level penambahan azolla 25%
pisang kepok terfermentasi memberikan meningkatkan kandungan protein kasar
hasil berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap sebesar 10,50%. Hal ini disebabkan oleh
kandungan bahan organik pakan lengkap. tingginya kandungan protein kasar pada
Kandungan bahan organik mengalami azolla 24% serta banyaknya level yang
penurunan pada perlakuan P1 -0,11% dan ditambahkan.

Tabel 2. Kandungan Nutrisi Bahan Pakan Penyusun Pakan Lengkap dan Pakan Lengkap
Kandungan nutrisi (%)*
Bahan Pakan
BK BO PK SK LK Abu
Rumput Gajah 13,82 82,23 7,51 34,57 2,71 17,77
Daun Gamal 22,29 89,85 15,54 17,12 5,69 10,15
Konsentrat 88,30 83,53 16,86 14,03 3,85 16,47
Kulit Pisang Fermentasi 19,40 88,45 5,92 10,92 11,62 11,55
Pakan Lengkap 21,30 89,74 15,90 23,18 3,54 10,27
Sumber : *) Berdasarkan 100% BK
Hasil analisa proksimat Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas
Peternakan, Universitas Brawijaya Tahun 2018

46
Gassa Yanuar Putra, Dkk. 2019

Tabel 3. Kandungan Nutrisi Pakan Lengkap dengan Penambahan Kulit Pisang Kepok
Terfermentasi
Perl Kandungan Nutrisi (%)
akua BK BO PK SK LK Abu
n
P0 21,30d ±0,06 89,74ab±0,08 15,90c ± 0,21 23,18b±0,81 3,54a ±0,26 10,27bc ± 0,08
P1 20,62cd±0,06 89,63a±0,17 15,61bc ± 0,29 22,92b±0,25 4,29b ±0,10 10,38c ± 0,17
P2 20,47c±0,05 90,01c±0,14 15,21abc ± 0,29 22,29b ±0,62 5,19c ±0,13 9,99a ± 0,14
P3 19,60b±0,09 89,93bc±0,11 14,12a ± 0,57 21,33ab ±0,71 5,23c ±0,47 10,07ab ± 0,11
P4 19,31a ±0,05 89,61a±0,07 14,66ab ± 0,57 19,92a ±0,32 5,45c ±0,05 10,39c ± 0,07
Keterangan : - superskrip yang berbeda pada kolom BO dan Abu menunjukkan berbeda nyata
(P<0,05)
- superskrip yang berbeda pada kolom BK, PK, SK dan LK menunjukkan
berbeda sangat nyata (P<0,01)

Serat Kasar terhadap kecernaan serat kasar di dalam


Berdasarkan hasil analisis ragam pada rumen.
Tabel 3. menunjukkan bahwa penambahan Abu
kulit pisang kepok terfermentasi Berdasarkan analisis ragam pada
memberikan hasil berpengaruh sangat nyata Tabel 3. menunjukkan bahwa penambahan
(P<0,01) terhadap kandungan serat kasar fermentasi kulit pisang kepok memberikan
pakan lengkap. Penurunan kandungan serat hasil berbeda nyata (P>0,05) terhadap
kasar berkisar 0,26-3,26%. Penurunan kandungan abu pakan lengkap. Perubahan
kandungan serat kasar disebabkan oleh kandungan abu tiap perlakuan masing-
rendahnya kandungan serat kasar kulit masing sebesar +0,11% (P1); -0,27% (P2); -
pisang kepok terfermentasi (10,92%) jika 0,20% (P3); dan +0,12% (P4). Penurunan
dibandingkan kandungan serat kasar P0 kandungan abu terjadi pada perlakuan P2
(23,18%). Semakin besar penambahan kulit dan P3 tetapi mengalami peningkatan pada
pisang kepok terfermentasi semakin perlakuan P1 dan P4. Perbedaan kandungan
menurunkan kandungan serat kasar pada abu pada tiap perlakuan berkorelasi positif
tiap perlakuan. dengan kandungan bahan organik pada tiap
Lemak Kasar perlakuanBerdasarkan hasil penelitian
Hasil analisis ragam pada Tabel 3. Wulandari, Fathul, dan Liman (2015) bahwa
menunjukkan bahwa penambahan kandungan abu yang baik untuk pakan
fermentasi kulit pisang kepok memberikan ternak tidak lebih dari 15%, hal tersebut
hasil berpengaruh sangat nyata (P<0,01) sebagai acuan dalam pembuatan pakan
terhadap kandungan lemak kasar pakan ternak sehingga dapat meningkatkan
lengkap. Peningkatan kandungan lemak pertumbuhan menjadi lebih optimal.
kasar pakan lengkap berkisar 0,93-2,25%. Kecernaan Bahan Kering dan Kecernaan
Peningkatan kandungan lemak kasar pada Bahan Organik Pakan Lengkap dengan
tiap perlakuan disebabkan oleh tingginya Penambahan Kulit Pisang Kepok
kandungan lemak kasar kulit pisang Terfermentasi
terfermentasi (11,62%) jika dibandingkan Hasil analisis pengaruh penambahan
kandungan lemak kasar P0 (3,54%). kulit pisang kepok (Musa paradisiaca L.)
Menurut Wina dan Susana (2013) terfermentasi dalam pakan lengkap terhadap
menyatakan bahwa tingginya kadar lemak nilai kecernaan bahan kering dan kecernaan
kasar (>5%) dalam pakan akan bahan organik secara in vitro ditampilkan ke
menyebabkan pengaruh negatif lemak dalam Tabel 4.

47
Gassa Yanuar Putra, Dkk. 2019

Tabel 4. Nilai KcBK dan KcBO Pakan Lengkap dengan Penambahan Kulit Pisang Kepok
Terfermentasi
Variabel
Perlakuan
KcBK KcBO
c
P0 53,54 ± 1,08 60,51c ± 2,39
b
P1 49,31 ± 2,88 58,48bc ± 1,70
a
P2 47,28 ± 1,62 56,18abc ± 2,28
P3 47,12a ± 1,54 55,65ab ± 2,16
a
P4 46,18 ± 1,97 53,66a ± 2,38
Keterangan: superskrip yang berbeda pada kolom KcBK dan KcBO menunjukkan berbeda
sangat nyata (P<0,01)

60
55
50
45
Nilai KcBO (%)

40
35
30 y = -0,365x + 52,204
25 R² = 0,686
20
15
10
5
0
0 5 10 15 20 25
Penambahan Kulit Pisang Kepok
Terfermentasi (%)

Gambar 1. Grafik Regresi Liniear KcBK

Kecernaan Bahan Kering (KcBK) (KcBK) sebesar 0,365. Menurut pendapat


Berdasarkan hasil analisis ragam pada Suprapto, Suhartati, dan Widiyastuti (2013)
Tabel 4. menunjukkan bahwa penambahan bahwa protein pakan berperan terhadap
kulit pisang kepok terfermentasi dalam pertumbuhan mikroba dalam rumen.
pakan lengkap berpengaruh sangat nyata Semakin banyak protein yang dimanfaatkan
(P<0,01) terhadap nilai kecernaan bahan oleh mikroba rumen maka pertumbuhan
kering. Penurunan nilai kecernaan bahan mikroba menjadi optimum. Seiring
kering pakan lengkap tiap perlakuan meningkatknya populasi rumen akan
masing-masing sebesar 4,21% (P1); 6,26% meningkatkan aktivitas mikroba rumen
(P2); 6,42% (P3); dan 7,36% (P4). Pada yang akan memproduksi enzim selulolitik
grafik regresi linear nilai KcBK (Gambar 1) yang lebih tinggi sehingga mikroba akan
memiliki nilai R2 sebesar 68,6%, hal lebih mudah dan cepat untuk mencerna serat
tersebut menandakan bahwa pengaruh kasar. Serat kasar merupakan salah satu
pemberian kulit pisang kepok terfermentasi faktor yang berpengaruh terhadap nilai
dalam pakan komplit berpengaruh 68,6% kecernaan bahan kering suatu bahan pakan
terhadap nilai KcBK. dikarenakan lamanya degradasi serat kasar
Setiap kenaikan penambahan kulit oleh mikroba rumen.
pisang kepok terfermentasi sebesar 1% Menurut pendapat Nawaz and Ali
dalam pakan lengkap menyebabkan (2016) bahwa lemak memiliki beberapa
penurunan nilai kecernaan bahan kering manfaat salah satunya adalah menaikkan

48
Gassa Yanuar Putra, Dkk. 2019

densitas energi dalam pakan. Lemak masing-masing sebesar 2,03% (P1); 4,33%
terabsorbsi dalam partikuler rumen (P2); 4,86% (P3); dan 6,85% (P4). Adanya
memproteksi serat kasar terhadap penurunan terhadap nilai KcBK berkorelasi
fermentasi dalam rumen serta bersifat toksik positif pada nilai KcBO yang menunjukkan
terhadap mikroba selulotik sehingga penurunan pada tiap perlakuan.
menurunkan daya cerna pakan. Hal ini Nilai kecernaan bahan organik lebih
senada dengan pendapat Harvantine and tinggi dibandingkan nilai kecernaan bahan
Allen (2005) bahwa lemak tidak jenuh kering disebabkan dalam kecernaan bahan
majemuk berdampak negatif terhadap kering masih mengandung abu dan pada
mikroba rumen tertentu dikarenakan bersifat kecernaan bahan organik sudah tidak
toksik dan berdampak terhadap populasi mengandung abu. Abu dalam bahan kering
mikroba rumen. Populasi mikroba rumen berdampak terhadap lambatnya daya cerna
berpengaruh terhadap aktivitas untuk bahan kering pakan, sehingga bahan organik
mendegradasi nutrisi dalam pakan. tanpa kandungan abu lebih mudah dicerna
oleh mikroba rumen. Penurunan kecernaaan
Kecernaan Bahan Organik (KcBO) bahan organik diduga karena kemampuan
Berdasarkan hasil analisis ragam pada mikroba rumen dalam menerima nutrisi
Tabel 4. menunjukkan bahwa pemberian telah melebihi batas maksimal sehingga
kulit pisang kepok terfermentasi dalam mikroba rumen tidak mampu memanfaatkan
pakan lengkap berpengaruh sangat nyata berdampak pada penurunan aktivitas
(P<0,01) terhadap kecernaan bahan organik. mikroba rumen (Dewi, Mukodiningsih, dan
Penurunan nilai KcBO tiap perlakuan Sutrisno, 2012).

70
65
Nilai KcBO (%)

60
55
50
45
40
35
30 y = -0,3306x + 60,205
25 R² = 0,6175
20
15
10
5
0
0 5 10 15 20 25
Penambahan kulit pisang kepok
terfermentasi (%)

Gambar 2. Grafik Regresi Liniear KcBO

Pada grafik regresi linear nilai KcBO sebesar 0,311. Menurut penelitian
(Gambar 2) memiliki nilai R2 sebesar Pramudiyawati dan Muhtarudin (2006)
61,8%, hal tersebut menandakan bahwa bahwa kandungan protein kasar
pengaruh penambahan kulit pisang kepok berpengaruh terhadap nilai KcBO.
terfermentasi dalam pakan komplit Kandungan protein kasar suatu bahan pakan
berpengaruh 61,8% terhadap nilai KcBO. sangat berpengaruh terhadap kecernaan baik
Setiap kenaikan penambahan kulit pisang secara jumlah maupun komposisi kimia.
kepok terfermentasi sebesar 1% dalam Seiring meningkatnya kandungan protein
pakan lengkap menyebabkan penurunan kasar dalam pakan menyebabkan kenaikan
nilai kecernaan bahan organik (KcBO) kecernaan bahan organik berkisar 15,50-

49
Gassa Yanuar Putra, Dkk. 2019

51,77%. Protein kasar mengalami hidrolisis DAFTAR PUSTAKA


menjadi peptida oleh enzim yang dihasilkan
mikroba rumen dan diubah menjadi asam Agustono, A., Herviana, W., & Nurhajati, T.
amino. Asam amino sebagian dirombak (2011). Kandungan protein kasar dan
menjadi amonia (NH3) dalam proses serat kasar kulit pisang kepok (musa
amoniasi dan digunakan oleh mikroba paradisiaca) yang difermentasi dengan
rumen sebagai penyusun protein tubuh trichoderma viride sebagai bahan
sehingga banyak bahan organik dapat pakan alternatif pada formulasi pakan
terdegradasi. ikan mas (cyprinus carpio). Jurnal
Lemak kasar juga berperan dalam Kelautan: Indonesian Journal of
menurunkan kecernaan bahan organik Marine Science and Technology, 4(1),
pakan lengkap. Seiring dengan 53–59. https://doi.org/10.21107/jk.v4i1.890
meningkatnya kandungan lemak kasar
kecernaan bahan organik mengalami Anonimus. (2011). Badan Pusat Statistik
penurunan. Hal ini sesuai dengan pendapat Indonesia Produksi Buah Tanaman
Priyanto, dkk. (2017) bahwa penggunaan Pisang Tahun 2016.
minyak jagung sebesar 2 dan 4% dalam
konsentrat dan ditambahkan kedalam pakan Astuti, T. (2016). Digestibility of Ration
lengkap menurunkan kecernaan bahan Base on Banana Peel Bioprocessed
organik. with Local Microorganism. Bengkulu:
International Seminar on Promoting
KESIMPULAN Local Resources for Food and Health.

1. Penambahan kulit pisang kepok (Musa Astuti, T., Sari, Y., & Zulkarnain. (2013).
paradisiaca L.) terfermentasi sampai Pengaruh Fermentasi kulit pisang
20% menurunkan kandungan BK, BO, dengan mikroorganisme lokal (mol)
PK, SK, dan Abu tetapi meningkatkan pada lama pemeraman dan sumber
kandungan LK pada pakan lengkap. MOL yang berbeda terhadap
2. Semakin besar penambahan kulit pisang kandungan fraksi serat sebagai pakan
kepok (Musa paradisiaca L.) ternak. Jurnal Ipteks Terapan, 7(3), 19–25.
terfermentasi dalam pakan lengkap
menurunkan kecernaan bahan kering dan Dewi, N. K., Mukodiningsih, S., & Sutrisno,
kecernaan bahan organik. Penggunan C. I. (2012). Pengaruh fermentasi
kulit pisang kepok terfermentasi dalam kombinasi jerami padi dan jerami
pakan lengkap optimum pada jagung dengan aras isi rumen kerbau
penambahan 5%. terhadap kecernaan bahan kering dan
bahan organik secara in vitro. Animal
UCAPAN TERIMA KASIH Agriculture Journal, 1(2), 134–140.

Penulis mengucapkan terima kasih Fariani, A., Astuti, W., Muslim, G., &
kepada Dr. Ir. Herni Sudarwati, MS. dan Dr. Abrar, A. (2014). Kualitas Kecernaan
Ir. Mashudi, M.Agr,Sc. yang telah Complete Feed Block (CFB) Berbasis
membimbing selama penelitian ini, serta Limbah Industri Gula Sebagai Pakan
beberapa pihak yang telah membantu Ternak Ruminansia Secara In Vitro.
selama penelitian. Palembang: Prosiding Seminar
Nasional Lahan Suboptimal.

50
Gassa Yanuar Putra, Dkk. 2019

Fitriani, F., & Asyari, H. (2017). Kandungan neurospora crassa sebagai pakan
protein kasar dan serat kasar pakan ternak. Jurnal Peternakan, 11(1), 22–28.
komplit berbasis tongkol jagung https://doi.org/10.24014/JUPET.V11I1.2324
dengan penambahan azolla sebagai
pakan ruminansia. Jurnal Galung Paiva, P. G., Valle, T. A. Del, Jesus, E. F.,
Tropika, 6(1), 12–18. Bettero, V. P., Almeida, G. F., Bueno,
https://doi.org/10.31850/JGT.V6I1.181 I. C. S., Rennó, F. P. (2016). Effects of
crude glycerin on milk composition,
Harvatine, K., & Allen, M. (2005). The nutrient digestibility and ruminal
effect of production level on feed fermentation of dairy cows fed corn
intake, milk yield, and endocrine silage-based diets. Animal Feed
responses to two fatty acid Science and Technology, 212, 136–142.
https://doi.org/10.1016/J.ANIFEEDSCI.2015.12.016
supplements in lactating cows.
Journal of Dairy Science, 88(11), 4018–
4027. https://doi.org/10.3168/jds.S0022-0302(05)73088-5 Permana, H., Chuzaemi, S., Marjuki, &
Mariyono. (2014). Pengaruh Pakan
Has, H., Indi, A., & Pagala, A. (2017). Dengan Level Serat Kasar Berbeda
Karakteristik Nutrien Kulit Pisang Terhadap Konsumsi, Kecernaan dan
Sebagai Pakan Ayam Kampung Karakteristik VFA Pada Sapi
Dengan Perlakuan Pengolahan Peranakan Ongole. Malang: Fakultas
Pakan Yang Berbeda. Kendari: Peternakan Universitas Brawijaya.
Seminar Nasional Riset Kuantitatif
Terapan. Prayuwidayati, M., & Muhtarudin, M.
(2006). Pengaruh berbagai proporsi
Koni, T. (2013). Pemanfaatan limbah kulit dedak gandum dalam fermentasi
pisang lilin (musa paradisiaca) sebagai terhadap kadar protein dan kecernaan
pakan alternatif ayam pedaging secara in vitro. Jurnal Indonesia
(gallus galus domesticus). JITV, 18(2), Tropical Animal Agriculture, 31(3), 147–151.
153–157. https://doi.org/10.14710/jil.14.1.11-17
Priyanto, A., Endraswati, A., Febriyani, N.
Manorek, J. M., Wolayan, F. R., Untu, I. M., C., Nopiansyah, T., & Nuswantara, L.
& Liwe, H. (2017). Biokonversi kulit K. (2017). Pengaruh pemberian
pisang raja (musa paradisiaca) dengan minyak jagung dan suplementasi urea
rhizopus oligosphorus terhadap pada ransum terhadap profil cairan
perubahan kandungan abu, serat kasar rumen (KcBK, KcBO, pH, N-NH3
dan lemak kasar. ZOOTEC, 38(1), 66–76. dan Total Mikroba Rumen) (the effect
of corn oil and urea supplementation
Mookolang, M. C., Wolayan, F. R., Imbar, on rations to the rumen liquid (KcBK,
M. R., & Toar, W. L. (2018). KcBO, pH, n-NH3 and Total
Bionkonversi kulit pisang raja (musa Microbial Rumen)). Jurnal Ilmu
paradisiaca) dengan rhizopus Ternak, 17(1), 1–9.
oligosporus terhadap perubahan https://doi.org/10.24198/JIT.V17I1.14794
kandungan bahan kering, bahan
organik dan protein kasar. ZOOTEC, Styawati, N. E., Muhtarudin, & Liman.
38(1), 56–65. (2014). Pengaruh lama fermentasi
trametes sp. terhadap kadar bahan
Nuraini, N., Mahata, M. E., & Djulardi, A. kering, kadar abu, dan kadar serat
(2016). Peningkatan kualitas kasar daun nenas varietas smooth
campuran kulit pisang dengan ampas cayene. Jurnal Ilmiah Peternakan
tahu melalui fermentasi dengan Terpadu, 2(1), 19–24.
phanerochaete chrysosporium dan https://doi.org/10.23960/JIPT.V2I1.P%P

51
Gassa Yanuar Putra, Dkk. 2019

Suprapto, H., Suhartati, F. M., & Wina, E., & Susana, W. R. (2013). Manfaat
Widyastuti, T. (2013). Kecernaan lemak terproteksi untuk meningkatkan
serat kasar dan lemak kasar complete produksi dan reproduksi ternak
feed limbah rami dengan sumber ruminansia. Wartazoa, 23(4), 177–
berbeda pada kambing peranakan 184.
etawa lepas sapih. Jurnal Ilmiah
Peternakan, 1(3), 936–946. Wulandari, S., Fathul, F., & Liman. (2015).
Pengaruh berbagai komposisi limbah
Suprayogi, W. P. S. (2010). Inkorporasi pertanian terhadap kadar air, abu dan
sulfur dalam protein onggok melalui serat kasar pada wafer. Jurnal Ilmiah
teknologi fermentasi menggunakan Peternakan Terpadu, 3(3), 104–109.
saccaromyces cerevisae. Caraka Tani,
25(1), 33–37.

52