Anda di halaman 1dari 22

PORTOFOLIO

TENSION PNEUMOTHORAX

Oleh:
dr. Nisa Auliya

Pendamping:
dr. Andriany Putri
dr. Nike Anggreni

Konsulen Pembimbing:

dr. Rahmens Syamun, SpB

RSUD AROSUKA
KABUPATEN SOLOK
2018
BORANG PORTOFOLIO

Nama Peserta : dr. Nisa Auliya


Nama Wahana : RSUD Arosuka
Topik : Tension Pneumothorax
Tanggal (Kasus) : 9 Maret 2019
Nama Pasien : Tn. SJ
Tanggal Presentasi :
Nama Pendamping : dr. Adriany Putri, dr. Nike Anggreni
Tempat Presentasi : Ruang Komite Medik RSUD Arosuka
Objektif Presentasi : - Keilmuan
- Diagnostik
- Kasus Kegawatdaruratan
Bahan Bahasan : Kasus
Cara Membahas : Presentasi dan diskusi
BAB I
LAPORAN KASUS

1.1. IDENTITAS PASIEN


Nama Pasien : Tn. SJ
Umur : 40 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Lubuk Batu Gajah, Aie Dingin
Agama : Islam
Tanggal Masuk : 9 Maret 2019
Nomor RM : 922606

1.2. PRIMARY SURVEY


o Airway
Jalan nafas paten
o Breathing
RR 44x/menit, SpO2 87% dengan NRM 10 liter per menit
Inspeksi : paradadoxal movement (+), jejas (+) pada hemithorax
sinistra
Palpasi : stem fremitus sulit dinilai, krepitasi (+) multipel,
Perkusi : menurun pada hemithorax kiri.
Auskultasi : vesikuler kanan dominan dari kiri
o Circulation
Nadi 106 x/menit, TD 136/81 mmHg, CRT < 2”, dipasang kateter fooley
untuk menilai produksi urin.
o Disability
Kesadaran: compos mentis
GCS: 15 (E4M6V5)
o Exposure
T: 37ºC

1.3. SECONDARY SURVEY


1.3.1. ANAMNESIS (Alloanamnesis)
o Keluhan Utama
Sesak nafas tiba-tiba dan nyeri dada bila bergerak setelah kecelakaan
mobil tunggal dengan posisi dada terjepit di setir mobil dua jam SMRS.

o Riwayat Penyakit Sekarang


 Dua jam SMRS pasien mengalami kecelakaan mobil tunggal dengan
posisi dada terjepit di setir mobil. Sesak (+). Sesak dirasakan tiba-
tiba. Dada terasa nyeri bila pasien bergerak. Memar di dada (+),
perdarahan (-).
 Luka robek pada dahi kanan (+), perdarahan aktif (-), nyeri (+)
 Posisi leher tidak simetris

o Riwayat Penyakit Dahulu


 Riwayat hipertensi (-)
 Riwayat kencing manis (-)

o Riwayat Penyakit Keluarga


 Tidak ada anggota keluarga yang menderita kelainan seperti ini
sebelumnya.

1.3.2. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan Umum dan Tanda Vital (9 Maret 2019)
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : kompos mentis
Tekanan Darah : 136/81 mmHg
Frekuensi Nadi : 106 kali/menit
Frekuensi Nafas : 44 kali/menit
Suhu : 37,0 ºC
BB : 65 kg
TB : 165 cm
BMI (Body Mass Index) : 23,88 kg/m2 (overweight)

Status Generalis
o Kulit : dalam batas normal
o Kepala : bentuk dan ukuran normal
o Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil bulat,
isokor, Ø 3 mm/ 3 mm, refleks cahaya (+/+) normal
o Leher : tidak teraba pembesaran KGB, trakea terdorong ke kanan
o Thoraks
Pulmo : Inspeksi : pergerakan hemithorax kiri tertinggal
Jejas (+) pada hemithorax kiri
Palpasi : Krepitasi (+) pada ICS II, III, IV, V kiri,
stem fremitus hemithorax kanan normal,
hemithorax kiri menurun
Perkusi : redup pada hemithorax kiri
Auskultasi : suara napas vesikuler (+/↓), ronkhi -/-,
wheezing -/-

Cor : Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat


Palpasi : ictus cordis tidak teraba
Perkusi : batas jantung normal
Auskultasi : bunyi jantung I dan II reguler, heart rate
106 kali/menit, murmur (-), gallop (-)

o Abdomen : Inspeksi : distensi (-)


Palpasi : supel, bising usus (+) normal, nyeri tekan
(-) pada seluruh lapangan abdomen
Timpani : timpani pada seluruh lapangan abdomen

o Genitalia : tidak ditemukan kelainan


o Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 detik

Status Lokalis
Regio frontalis dekstra:
Tampak luka robek ukuran 4 x 0,5 cm, dasar jaringan, tepi rata, perdarahan
aktif (-), krepitasi (-), nyeri (+)

1.3.3. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Laboratorium
Tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium. Pasien dirujuk ke RSUP M.
Djamil Padang.
Rontgen (9 Maret 2019)

Rontgen thorax AP:


Tampak perselubungan homogen pada hemithorax kiri dan trakea dan
mediastinum terdorong ke hemithorax kanan, tampak fraktur pada costae II,
III, IV, V sinistra.

1.3.4. DIAGNOSIS
Tension pneumothorax sinistra + hematothorax sinistra + fraktur costae II,
III, IV, V sinistra + flail chest

1.3.5. PENATALAKSANAAN
- O2 10 lpm via NRM
- Drip tramadol 1 amp dalam NaCl 0,9% 1 kolf
- Inj. Ketorolac 1 amp
- Needle thoracentesis
- Rujuk RSUP M. Djamil

1.3.6. PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad malam

FOLLOW UP
Tanggal Subjective Objective Assessment Planning
9 Maret Sesak (+) KU: sakit Tension - O2 10 lpm via NRM
berat
Kes: CM - Drip tramadol 1 amp dalam
TD: 136/81 hemopneumothora NaCl 0,9% 1 kolf
Nyeri pada
mmHg x sinistra + fraktur - Inj. Ketorolac 1 amp
dada saat
2019 N: 106 kali/ costae II, III, IV, V - Needle thoracentesis
bernafas
menit sinistra + flail dengan pemasangan WSD
(+)
RR: 44 kali/ chest (Water Sealed Drainage)
menit - Rujuk RSUP M. Djamil
T: 37,0 ºC

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio


1. Subjektif:
Seorang pasien laki-laki umur 40 tahun datang diantar keluarga ke IGD
RSUD Arosuka pada tanggal 9 Maret 2019 pukul 9.30 WIB. Setelah diterima dan
diperiksa di IGD RSUD Arosuka, pasien didiagnosa dengan Tension
pneumothorax sinistra + hematothorax sinistra + fraktur costae II, III, IV, V
sinistra + flail chest. Pasien mengeluhkan sesak nafas tiba-tiba dan nyeri dada bila
bergerak setelah kecelakaan mobil tunggal dengan posisi dada terjepit di setir
mobil dua jam SMRS.
Dua jam SMRS pasien mengalami kecelakaan mobil tunggal dengan posisi
dada terjepit di setir mobil. Sesak (+). Sesak dirasakan tiba-tiba. Dada terasa nyeri
bila pasien bergerak. Memar di dada (+), perdarahan (-).
Luka robek pada dahi kanan (+), perdarahan aktif (-), nyeri (+)
2. Objektif:
Pada pemeriksaan fisik yang presentan lakukan didapatkan keadaan umum
tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis cooperatif, tekanan darah 136/81
mmHg, frekuensi nadi 106 x/menit, frekuensi nafas 44 kali/menit, suhu 37,00C.
Pada inspeksi regio thorax tampak pergerakan hemithorax kiri tertinggal,
jejas (+) pada hemithorax kiri. Pada palpasi didapatkan krepitasi (+) pada ICS II,
III, IV, V kiri, stem fremitus hemithorax kanan normal, hemithorax kiri menurun.
Pada perkusi didapatkan redup pada hemithorax kiri. Pada auskultasi didapatkan
suara napas vesikuler (+/↓), ronkhi -/-, wheezing -/-.
Pada regio frontalis dekstra tampak luka robek ukuran 4 x 0,5 cm, dasar
jaringan, tepi rata, perdarahan aktif (-), krepitasi (-), nyeri (+).
Pemeriksaan laboratorium tidak dilakukan karena pasien akan dirujuk ke
RSUP M. Djamil Padang.
Pada pemeriksaan rontgen pedis AP didapatkan kesan tampak
perselubungan homogen pada hemithorax kiri serta trakea dan mediastinum
terdorong ke hemithorax kanan, tampak fraktur pada costae II, III, IV, V sinistra.
3. Assesment (penalaran klinis):
Pada pasien ini data-data yang mendukung diagnosis Tension
pneumothorax sinistra + hematothorax sinistra + fraktur costae II, III, IV, V
sinistra + flail chest adalah adanya keluhan sesak tiba-tiba dan nyeri dada bila
bergerak setelah kecelakaan mobil tunggal dengan posisi dada terjepit di setir
mobil dua jam SMRS. Pemeriksaan tanda vital mulai menunjukkan adanya
ketidakstabilan hemodinamik yang ditandai dengan frekuensi nadi dan pernafasan
yang cenderung meningkat. Hal ini disebut pre syok, terjadi akibat penekanan
vena cava oleh mediastium yang terdorong ke kanan akibat tekanan udara di
cavum pleura menekan paru sinistra. Saturasi oksigen pada saat pasien datang
87% menunjukkan bahwa perfusi oksigen ke jaringan sudah mulai berkurang.
Pemeriksaan fisik thorax didapatkan pergerakan hemithorax kiri tertinggal
menandakan bahwa kemungkinan terjadi kolaps paru kiri sehingga paru kiri tidak
dapat mengembang dan pergerakannya tertinggal. Pada palpasi didapatkan
krepitasi pada ICS II, III, IV, V kiri, hal ini menandakan bahwa kemungkinan
terdapat fraktur pada ICS II, III, IV, V akibat benturan di hemithorax sinistra; stem
fremitus hemithorax kiri menurun menunjukkan kolaps paru sehingga udara di
paru tidak dapat digetarkan ke dinding dada saat pemeriksaan stem fremitus. Pada
perkusi didapatkan redup pada hemithorax kiri, seharusnya pada pneumothorax
murni saat perkusi akan didapatkan hipersonor pada paru yang terkena karena
rongga pleura terisi penuh dengan udara, namun hasil redup pada perkusi ini
kemungkinan dapat menandakan bahwa terdapat cairan (darah) pada hemithorax
sinistra. Pada auskultasi didapatkan suara napas vesikuler (+/↓), menandakan paru
yang kolaps sehingga pada saat auskultasi suara nafas vesikuler terdengar
melemah. Temuan-temuan ini dikonfimasi dengan pemeriksaan foto thorax yang
menunjukkan tampak perselubungan homogen pada hemithorax kiri, hal tersebut
kemungkinan terdapat darah di rongga pleura sinistra, serta trakea dan
mediastinum terdorong ke hemithorax kanan akibat tekanan pada rongga pleura
sinistra, tampak fraktur pada costae II, III, IV, V sinistra.
Penatalaksaan harus segera dilakukan karena tension pneumothorax
bersifat life threatening. Jika tidak segera ditatalaksana gejala pre syok yang
terjadi akan terus berlanjut. Penekanan vena cava akan menyebabkan syok
distributif yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian. Pemberian oksigen
via NRM perlu diberikan untuk membantu tercukupinya perfusi oksigen ke
jaringan. Pada pasien ini segera dilakukan pemasangan WSD untuk membantu
mengeluarkan udara dari cavum pleura.
4. Plan:
Diagnosis klinis: Tension pneumothorax sinistra + hematothorax sinistra +
fraktur costae II, III, IV, V sinistra + flail chest
Tatalaksana:
- O2 10 lpm via NRM
- Drip tramadol 1 amp dalam NaCl 0,9% 1 kolf
- Inj. Ketorolac 1 amp
- Needle thoracentesis
- Rujuk RSUP M. Djamil
Edukasi:
Peranan edukasi sangat penting dalam mengurangi morbiditas dan
mortalitas akibat penyakit yang diderita pasien. Edukasi yang dapat
diberikan antara lain:
 Menjelaskan pada pasien dan keluarga tentang kondisinya sekarang
 Menjelaskan tentang komplikasi yang bisa terjadi
 Menjelaskan prognosis penyakitnya.
 Menjelaskan cara pencegahan serta tatalaksana pada pasien
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. DEFINISI
Pneumothorax adalah suatu keadaan terdapatnya udara atau gas di dalam
pleura yang menyebabkan kolapsnya paru yang terkena. 1 Tersering disebabkan
oleh ruptur spontan pleura visceralis yang menimbulkan kebocoran udara ke
rongga thorax. Pneumothorax dapat terjadi berulang kali.2

2.2. KLASIFIKASI
Menurut penyebabnya, pneumothorax dapat dikelompokkan menjadi dua,
yaitu:1,3
a. Pneumothorax spontan
Pneumothorax spontan adalah pneumothorax yang terjadi secara tiba-tiba.
Pneumothorax tipe ini dapat diklasifikasikan lagi ke dalam dua jenis:
i. Pneumothorax spontan primer, yaitu pneumothorax yang terjadi secara
tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya.
ii. Pneumothorax spontan sekunder, yaitu pneumothorax yang terjadi
dengan didasari oleh riwayat penyakit paru yang telah dimiliki
sebelumnya, misalnya fibrosis kistik, penyakit paru obstruktik kronis
(PPOK), kanker paru-paru, asma, dan infeksi paru.
b. Pneumothorax traumatik
Pneumothorax traumatik adalah pneumothorax yang terjadi akibat
adanya suatu trauma, baik trauma penetrasi maupun bukan, yang
menyebabkan robeknya pleura, dinding dada maupun paru.
Pneumothorax tipe ini juga dapat diklasifikasikan lagi ke dalam dua
jenis, yaitu:
i. Pneumothorax traumatik non-iatrogenik, yaitu pneumothorax yang
terjadi karena jejas kecelakaan, misalnya jejas pada dinding dada,
barotrauma.
ii. Pneumothorax traumatik iatrogenik, yaitu pneumothorax yang terjadi
akibat komplikasi dari tindakan medis. Pneumothorax jenis ini
dibedakan menjadi dua:
1) Pneumothorax traumatik iatrogenik aksidental
Adalah suatu pneumothorax yang terjadi akibat tindakan medis
karena kesalahan atau komplikasi dari tindakan tersebut, misalnya
pada parasentesis dada, biopsi pleura.
2) Pneumothorax traumatik iatrogenik artifisial (deliberate)
Adalah suatu pneumothorax yang sengaja dilakukan dengan cara
mengisikan udara ke dalam rongga pleura. Biasanya tindakan ini
dilakukan untuk tujuan pengobatan, misalnya pada pengobatan
tuberkulosis sebelum era antibiotik, maupun untuk menilai
permukaan paru.

Berdasarkan jenis fistulanya, maka pneumothorax dapat diklasifikasikan ke


dalam tiga jenis:4
a. Pneumothorax Tertutup (Simple Pneumothorax)
Pada tipe ini, pleura dalam keadaan tertutup (tidak ada jejas terbuka
pada dinding dada), sehingga tidak ada hubungan dengan dunia luar.
Tekanan di dalam rongga pleura awalnya mungkin positif, namun lambat
laun berubah menjadi negatif karena diserap oleh jaringan paru disekitarnya.
Pada kondisi tersebut paru belum mengalami re-ekspansi, sehingga masih
ada rongga pleura, meskipun tekanan di dalamnya sudah kembali negatif.
Pada waktu terjadi gerakan pernapasan, tekanan udara di rongga pleura tetap
negatif.
b. Pneumothorax Terbuka (Open Pneumothorax),
Yaitu pneumothorax dimana terdapat hubungan antara rongga pleura
dengan bronkus yang merupakan bagian dari dunia luar (terdapat luka
terbuka pada dada). Dalam keadaan ini tekanan intrapleura sama dengan
tekanan udara luar. Pada pneumothorax terbuka tekanan intrapleura sekitar
nol. Perubahan tekanan ini sesuai dengan perubahan tekanan yang
disebabkan oleh gerakan pernapasan.4
Pada saat inspirasi tekanan menjadi negatif dan pada waktu ekspirasi
tekanan menjadi positif.4 Selain itu, pada saat inspirasi mediastinum dalam
keadaan normal, tetapi pada saat ekspirasi mediastinum bergeser ke arah sisi
dinding dada yang terluka (sucking wound).3
c. Pneumothorax Ventil (Tension Pneumothorax)
Adalah pneumothorax dengan tekanan intrapleura yang positif dan
makin lama makin bertambah besar karena ada fistel di pleura viseralis yang
bersifat ventil. Pada waktu inspirasi udara masuk melalui trakea, bronkus
serta percabangannya dan selanjutnya terus menuju pleura melalui fistel
yang terbuka. Waktu ekspirasi udara di dalam rongga pleura tidak dapat
keluar.4 Akibatnya tekanan di dalam rongga pleura makin lama makin tinggi
dan melebihi tekanan atmosfer. Udara yang terkumpul dalam rongga pleura
ini dapat menekan paru sehingga sering menimbulkan gagal napas.3
Menurut luasnya paru yang mengalami kolaps, maka pneumothorax dapat
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:4
a. Pneumothorax parsialis, yaitu pneumothorax yang menekan pada sebagian
kecil paru (< 50% volume paru).

b. Pneumothorax totalis, yaitu pneumothorax yang mengenai sebagian besar


paru (> 50% volume paru).
2.3. ETIOLOGI
Terdapat beberapa jenis pneumothorax yang dikelompokkan berdasarkan
penyebabnya:4
a. Pneumothorax primer: terjadi tanpa disertai penyakit paru yang
mendasarinya.
b. Pneumothorax sekunder: merupakan komplikasi dari penyakit paru
yang mendahuluinya.
c. Pneumothorax traumatik: terjadi akibat cedera traumatik pada
dada. Traumanya bisa bersifat menembus (luka, tusuk, peluru atau tumpul
(benturan pada kecelakaan bermotor). Pneumothorax juga bisa merupakan
komplikasi dari tindakan medis tertentu (misal thoraxosentesis).

2.4. PATOFISIOLOGI
Paru-paru dibungkus oleh pleura parietalis dan pleura visceralis. Di antara
pleura parietalis dan visceralis terdapat cavum pleura. Cavum pleura normal berisi
sedikit cairan serous jaringan. Tekanan intrapleura selalu berupa tekanan negatif.
Tekanan negatif pada intrapleura membantu dalam proses respirasi. Proses
respirasi terdiri dari 2 tahap: fase inspirasi dan fase eksprasi. Pada fase inspirasi
tekanan intrapleura -9 s/d -12 cmH2O; sedangkan pada fase ekspirasi tekanan
intrapleura: -3 s/d -6 cmH2O. Pneumothorax adalah adanya udara pada cavum
pleura. Adanya udara pada cavum pleura menyebabkan tekanan negatif pada
intrapleura tidak terbentuk. Sehingga akan mengganggu pada proses respirasi.2,5,6
Secara garis besar semua jenis pneumothorax mempunyai dasar
patofisiologi yang hampir sama. Pneumothorax spontan, closed pneumothorax,
simple pneumothorax, tension pneumothorax, dan open pneumothorax.
Pneumothorax spontan terjadi karena lemahnya dinding alveolus dan pleura
visceralis. Apabila dinding alveolus dan pleura viceralis yang lemah ini pecah,
maka akan ada fistel yang menyebabkan udara masuk ke dalam cavum pleura.
Mekanismenya pada saat inspirasi rongga dada mengembang, disertai
pengembangan cavum pleura yang kemudian menyebabkan paru dipaksa ikut
mengembang, seperti balon yang dihisap. Pengembangan paru menyebabkan
tekanan intraalveolar menjadi negatif sehingga udara luar masuk. Pada
pneumothorax spontan, paru-paru kolaps, udara inspirasi ini bocor masuk ke
cavum pleura sehingga tekanan intrapleura tidak negatif. Pada saat inspirasi akan
terjadi hiperekspansi cavum pleura akibatnya menekan mediastinal ke sisi yang
sehat. Pada saat ekspirasi mediastinal kembali lagi ke posisi semula. Proses yang
terjadi ini dikenal dengan mediastinal flutter. 2,5,6
Pneumothorax ini terjadi biasanya pada satu sisi, sehingga respirasi paru sisi
sebaliknya masih bisa menerima udara secara maksimal dan bekerja dengan
sempurna.2,5,6
Terjadinya hiperekspansi cavum pleura tanpa disertai gejala pre-shock atau
shock dikenal dengan simple pneumothorax. Berkumpulnya udara pada cavum
pleura dengan tidak adanya hubungan dengan lingkungan luar dikenal dengan
closed pneumothorax. Pada saat ekspirasi, udara juga tidak dipompakan balik
secara maksimal karena elastic recoil dari kerja alveoli tidak bekerja sempurna.
Akibatnya jika proses ini semakin berlanjut, hiperekspansi cavum pleura pada
saat inspirasi menekan mediastinal ke sisi yang sehat dan saat ekspirasi udara
terjebak pada paru dan cavum pleura karena luka yang bersifat katup tertutup
terjadilah penekanan vena cava, shunting udara ke paru yang sehat, dan obstruksi
jalan napas. Akibatnya dapat timbulah gejala pre-shock atau shock oleh karena
penekanan vena cava. Kejadian ini dikenal dengan tension pneumothorax. 2,5,6
Pada open pneumothorax terdapat hubungan antara cavum pleura dengan
lingkungan luar. Open pneumothorax dikarenakan trauma penetrasi. Perlukaan
dapat inkomplit (sebatas pleura parietalis) atau komplit (pleura parietalis dan
visceralis). Jika terjadi open pneumothorax inkomplit pada saat inspirasi udara
luar akan masuk ke dalam cavum pleura. Akibatnya paru tidak dapat mengembang
karena tekanan intrapleura tidak negatif. Efeknya akan terjadi hiperekspansi
cavum pleura yang menekan mediastinal ke sisi paru yang sehat. Saat ekspirasi
mediastinal bergeser ke mediastinal yang sehat. Terjadilah mediastinal flutter. Jika
open pneumothorax komplit maka saat inspirasi dapat terjadi hiperekspansi
cavum pleura mendesak mediastinal ke sisi paru yang sehat dan saat ekspirasi
udara terjebak pada cavum pleura dan paru karena luka yang bersifat katup
tertutup. Selanjutnya terjadilah penekanan vena cava, shunting udara ke paru
yang sehat, dan obstruksi jalan napas. Akibatnya dapat timbulah gejala pre-shock
atau shock oleh karena penekanan vena cava. Kejadian inidikenal dengan tension
pneumothorax.2,5,6

2.5. GEJALA KLINIS


Berdasarkan anamnesis, gejala dan keluhan yang sering muncul adalah:3,4,7
a. Sesak napas, didapatkan pada hampir 80-100% pasien. Seringkali sesak
dirasakan mendadak dan makin lama makin berat. Penderita bernapas
tersengal, pendek-pendek, dengan mulut terbuka.
b. Nyeri dada, yang didapatkan pada 75-90% pasien. Nyeri dirasakan tajam
pada sisi yang sakit, terasa berat, tertekan dan terasa lebih nyeri pada gerak
pernapasan.
c. Batuk-batuk, yang didapatkan pada 25-35% pasien.
d. Denyut jantung meningkat.
e. Kulit mungkin tampak sianosis karena kadar oksigen darah yang kurang.
f. Tidak menunjukkan gejala (silent) yang terdapat pada 5-10% pasien,
biasanya pada jenis pneumothorax spontan primer.

2.6. PEMERIKSAAN FISIK


Pada pemeriksaan fisik thorax didapatkan:1,4
a. Inspeksi:
i. Dapat terjadi pencembungan pada sisi yang sakit (hiper ekspansi
dinding dada)
ii. Pada waktu respirasi, bagian yang sakit gerakannya tertinggal
iii. Trakea dan jantung terdorong ke sisi yang sehat
b. Palpasi:
i. Pada sisi yang sakit, ruang antar iga dapat normal atau melebar
ii. Iktus jantung terdorong ke sisi thorax yang sehat
iii. Fremitus suara melemah atau menghilang pada sisi yang sakit
c. Perkusi:
i. Suara ketok pada sisi sakit, hipersonor sampai timpani dan tidak
menggetar
ii. Batas jantung terdorong ke arah thorax yang sehat, apabila tekanan
intrapleura tinggi
d. Auskultasi:
Pada bagian yang sakit, suara napas melemah sampai menghilang suara
vokal melemah dan tidak menggetar serta bronkofoni negatif.

2.7. PEMERIKSAAN PENUNJANG


a. Foto Röntgen
Gambaran radiologis yang tampak pada foto röntgen kasus pneumothorax
antara lain:8
i. Bagian pneumothorax akan tampak lusen, rata dan paru yang kolaps
akan tampak garis yang merupakan tepi paru. Kadang-kadang paru
yang kolaps tidak membentuk garis, akan tetapi berbentuk lobuler
sesuai dengan lobus paru.
ii. Paru yang mengalami kolaps hanya tampak seperti massa radio
opaque yang berada di daerah hilus. Keadaan ini menunjukkan kolaps
paru yang luas sekali. Besar kolaps paru tidak selalu berkaitan dengan
berat ringan sesak napas yang dikeluhkan.
iii. Jantung dan trakea mungkin terdorong ke sisi yang sehat, spatium
intercostals melebar, diafragma mendatar dan tertekan ke bawah.
Apabila ada pendorongan jantung atau trakea ke arah paru yang sehat,
kemungkinan besar telah terjadi pneumothorax ventil dengan tekanan
intra pleura yang tinggi.
iv. Pada pneumothorax perlu diperhatikan kemungkinan terjadi keadaan
sebagai berikut:1
1) Pneumomediastinum, terdapat ruang atau celah hitam pada tepi
jantung, mulai dari basis sampai ke apeks. Hal ini terjadi apabila
pecahnya fistel mengarah mendekati hilus, sehingga udara yang
dihasilkan akan terjebak di mediastinum.
2) Emfisema subkutan, dapat diketahui bila ada rongga hitam
dibawah kulit. Hal ini biasanya merupakan kelanjutan dari
pneumomediastinum. Udara yang tadinya terjebak di
mediastinum lambat laun akan bergerak menuju daerah yang
lebih tinggi, yaitu daerah leher. Di sekitar leher terdapat banyak
jaringan ikat yang mudah ditembus oleh udara, sehingga bila
jumlah udara yang terjebak cukup banyak maka dapat mendesak
jaringan ikat tersebut, bahkan sampai ke daerah dada depan dan
belakang.
3) Bila disertai adanya cairan di dalam rongga pleura, maka akan
tampak permukaan cairan sebagai garis datar di atas diafragma
Foto Rö pneumothorax (PA), bagian yang ditunjukkan dengan anak panah

merupakan bagian paru yang kolaps

b. Analisa Gas Darah


Analisis gas darah arteri dapat memberikan gambaran hipoksemi
meskipun pada kebanyakan pasien sering tidak diperlukan. Pada pasien
dengan gagal napas yang berat secara signifikan meningkatkan mortalitas
sebesar 10%.
c. CT-scan thorax
CT-scan thorax lebih spesifik untuk membedakan antara emfisema
bullosa dengan pneumothorax, batas antara udara dengan cairan intra dan
ekstrapulmoner dan untuk membedakan antara pneumothorax spontan
primer dan sekunder.
2.8. TATALAKSANA
Tujuan utama penatalaksanaan pneumothorax adalah untuk mengeluarkan
udara dari rongga pleura dan menurunkan kecenderungan untuk kambuh lagi.
Pada prinsipnya, penatalaksanaan pneumothorax adalah sebagai berikut:
a. Observasi dan Pemberian O2
Apabila fistula yang menghubungkan alveoli dan rongga pleura telah
menutup, maka udara yang berada didalam rongga pleura tersebut akan
diresorbsi. Laju resorbsi tersebut akan meningkat apabila diberikan
tambahan O2. Observasi dilakukan dalam beberapa hari dengan foto thorax
serial tiap 12-24 jam pertama selama dua hari.3 Tindakan ini terutama
ditujukan untuk pneumothorax tertutup dan terbuka.4
b. Tindakan dekompresi
Hal ini sebaiknya dilakukan seawal mungkin pada kasus
pneumothorax yang luasnya >15%. Pada intinya, tindakan ini bertujuan
untuk mengurangi tekanan intra pleura dengan membuat hubungan antara
rongga pleura dengan udara luar dengan cara:3
i. Menusukkan jarum melalui dinding dada terus masuk rongga pleura,
dengan demikian tekanan udara yang positif di rongga pleura akan
berubah menjadi negatif karena mengalir ke luar melalui jarum
tersebut.3,4
ii. Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontra ventil:
1) Dapat memakai infus set
Jarum ditusukkan ke dinding dada sampai ke dalam rongga pleura,
kemudian infus set yang telah dipotong pada pangkal saringan
tetesan dimasukkan ke botol yang berisi air. Setelah klem
penyumbat dibuka, akan tampak gelembung udara yang keluar dari
ujung infus set yang berada di dalam botol.4
2) Jarum abbocath
Jarum abbocath merupakan alat yang terdiri dari gabungan jarum
dan kanula. Setelah jarum ditusukkan pada posisi yang tetap di
dinding thorax sampai menembus ke rongga pleura, jarum dicabut
dan kanula tetap ditinggal. Kanula ini kemudian dihubungkan
dengan pipa plastik infus set. Pipa infuse ini selanjutnya
dimasukkan ke botol yang berisi air. Setelah klem penyumbat
dibuka, akan tampak gelembung udara yang keluar dari ujung
infuse set yang berada di dalam botol.4
3) Pipa water sealed drainage (WSD)
Pipa khusus (thorax kateter) steril, dimasukkan ke rongga pleura
dengan perantaraan troakar atau dengan bantuan klem penjepit.
Pemasukan troakar dapat dilakukan melalui celah yang telah dibuat
dengan bantuan insisi kulit di sela iga ke-4 pada linea mid aksilaris
atau pada linea aksilaris posterior. Selain itu dapat pula melalui sela
iga ke-2 di garis mid klavikula.
Setelah troakar masuk, maka thorax kateter segera dimasukkan ke
rongga pleura dan kemudian troakar dicabut, sehingga hanya
kateter thorax yang masih tertinggal di rongga pleura. Selanjutnya
ujung kateter thorax yang ada di dada dan pipa kaca WSD
dihubungkan melalui pipa plastik lainnya. Posisi ujung pipa kaca
yang berada di botol sebaiknya berada 2 cm di bawah permukaan
air supaya gelembung udara dapat dengan mudah keluar melalui
perbedaan tekanan tersebut.1,4
Penghisapan dilakukan terus-menerus apabila tekanan intrapleura
tetap positif. Penghisapan ini dilakukan dengan memberi tekanan
negatif sebesar 10-20 cm H2O, dengan tujuan agar paru cepat
mengembang. Apabila paru telah mengembang maksimal dan
tekanan intra pleura sudah negatif kembali, maka sebelum dicabut
dapat dilakukuan uji coba terlebih dahulu dengan cara pipa dijepit
atau ditekuk selama 24 jam. Apabila tekanan dalam rongga pleura
kembali menjadi positif maka pipa belum bisa dicabut. Pencabutan
WSD dilakukan pada saat pasien dalam keadaan ekspirasi
maksimal.3

c. Thorakoskopi
Yaitu suatu tindakan untuk melihat langsung ke dalam rongga thorax dengan
alat bantu thorakoskop.
d. Thoraxotomi
e. Tindakan bedah.4
i. Dengan pembukaan dinding thorax melalui operasi, kemudian dicari
lubang yang menyebabkan pneumothorax kemudian dijahit
ii. Pada pembedahan, apabila ditemukan penebalan pleura yang
menyebabkan paru tidak bias mengembang, maka dapat dilakukan
dekortikasi.
iii. Dilakukan resesksi bila terdapat bagian paru yang mengalami robekan
atau terdapat fistel dari paru yang rusak
iv. Pleurodesis. Masing-masing lapisan pleura yang tebal dibuang,
kemudian kedua pleura dilekatkan satu sama lain di tempat fistel.
f. Pengobatan Tambahan
i. Apabila terdapat proses lain di paru, maka pengobatan tambahan
ditujukan terhadap penyebabnya. Misalnya: terhadap proses TB paru
diberi OAT, terhadap bronkhitis dengan obstruksi saluran napas diberi
antibiotik dan bronkodilator.4
ii. Istirahat total untuk menghindari kerja paru yang berat.4
iii. Pemberian antibiotik profilaksis setelah setelah tindakan bedah dapat
dipertimbangkan, untuk mengurangi insidensi komplikasi, seperti
emfisema.1

Rehabilitasi4
a) Penderita yang telah sembuh dari pneumothorax harus dilakukan
pengobatan secara tepat untuk penyakit dasarnya.
b) Untuk sementara waktu, penderita dilarang mengejan, batuk atau
bersin terlalu keras.
c) Bila mengalami kesulitan defekasi karena pemberian antitusif,
berilah laksan ringan.
d) Kontrol penderita pada waktu tertentu, terutama kalau ada
keluhan batuk, sesak napas.
DAFTAR PUSTAKA

1. Bowman, Jeffrey, Glenn. Pneumothorax, Tension and Traumatic. Updated:


2010 May 27; cited 2011 January 10. Available from
http://emedicine.medscape.com/article/827551.
2. Srillian, Vera (2011). Pneumothorax. Diakses 19 Juni 2019.
http://ad.z5x.net/...,http://scribd.com/doc/.
3. Sudoyo, Aru, W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. K, Marcellus,
Simadibrata. Setiati, Siti. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi IV.
Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2006. p. 1063.
4. Alsagaff, Hood. Mukty, H. Abdul. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru.
Surabaya : Airlangga University Press; 2009. p. 162-179.
5. Fahmi (2010). Kolaps Paru-Paru (Pneumothorax), Diakses 19 Juni 2019
Universitas Negeri Malang : http://forum.um.ac.id/.
6. Bowman, Jeffrey, Glenn. Pneumothorax, Tension and Traumatic. Cited:
2019 June 19. Available from http://emedicine.medscape.com/.
7. Schiffman, George. Stoppler, Melissa, Conrad. Pneumothorax (Collapsed
Lung). Cited: 2019 June 19. Available from: http://www.medicinenet.com/
8. Malueka, Rusdy, Ghazali. Radiologi Diagnostik. Yogyakarta : Pustaka
Cendekia Press; 2007. p. 56.