Anda di halaman 1dari 12

Abortus adalah suatu proses  Terlambat haid atau amenorhe kurang

berakhirnya suatu kehamilan, dimana janin dari 20 minggu


belum mampu hidup di luar rahin (belum  Pada pemeriksaan fisik seperti
viable) dengan criteria usia kehamilan kurang keadaan umum tampak lemah
20 minggu atau berat janin kurang dari 500 kesadaran menurun, tekanan darah
gram (WHO,2013) normal atau menurun, denyut nadi
Abortus incomplit merupakan perdarahan normal atau cepat dan kecil, suhu
pada kehamilan sebelum 20 minggu dimana badan normal atau meningkat.
sebagian dari hasil konsepsi telah keluar dari  Rasa mulas atau kram perut, didaerah
kavum uteri melalui kanalis serviks yang atas simfisis, sering nyeri pingang
tertinggal pada desidua atau plasenta (Kurdi, akibat kontraksi uterus
2014). Tatalaksana awal dengan melakukan
Faktor-faktor yang menyebabkan kematian penilaian secara cepat mengenai keadaan
fetus adalah: umum pasien, termasuk tanda-tanda vital,
 Faktor dari janin (fetal), yang terdiri pengawasan pernafasan, pemberian cairan
dari: kelainan genetic (kromosom) infus (D5% dan atau NaCl 0,9%),
 Faktor dari ibu (maternal), yang pemeriksaan laboratorium, observasi tanda-
terdiri dari: infeksi, kelainan tanda syok, aspirasi Vacum Manual (AVM)
hormonal, merokok, penggunaan atau kuretase (Kurdi, 2014).
obat-obatan, konsumsi alkohol, Anestesi merupakan cabang ilmu
faktor imunologis, defek anatomis, kedokteran yang mendasari tindakan
inkompetensia serviks. meliputi pemberian anestesi, penjagaan
 Faktor dari ayah (paternal): kelainan keselamatan penderita ketika pembedahan,
sperma pengobatan intensif pasien gawat, terapi
Diagnosis abortus inkompletus adalah : inhalasi, dan penanggulangan nyeri
menahun. Anestesi yang menyebabkan
 Kanalis servikalis terbuka
hilangnya kesadaran tanpa nyeri seluruh
 Dapat diraba jaringan dalam rahim
tubuh ecara sentral yang reversible disebut
atau kanalis servikalis
anestesi umum (Latief et al., 2009).
 Dengan pemeriksaan inspekulum
Sedangkan jenis anestesi yang hanya
perdarahan bertambah
menghilangkan nyeri dari bagian tubuh
tertentu namun pemakainya tetap sadar Seorang wanita usia 17 tahun, G1P0A0
disebut anestesi regional.Anestesi regional dengan usia kehamilan 13 +1 minggu, dating
terbagi atas anestesi spinal (anestesi blok ke IGD dengan keluhan nyeri perut dan
subaraknoid), anestesi epidural dan blok keluar darah dari jalan lahir sejak pukul 02.00
perifer. Anestesi spinal dan epidural telah WIB. Darah yang keluar mrongkol-
digunakan secara luas di bidang ortopedi, mrongkol. Tidak ada riwayat trauma maupun
obstetric dan ginekologi, operasi ekstremitas riwayat keluar jaringan seperti gajih. Pasien
bawah serta operasi abdomen bagian bawah pernah mondok sebelumnya di rumah sakit
(Latiefet al., 2009). ini dengan diagnose abortus imminen. Pasien
Anestesi blok subaraknoid atau biasa tidak memiliki riwayat sakit hipertensi, asma,
disebut anestesi spinal adalah tindakan DM maupun alergi. Pasien belum pernah
anestesi dengan memasukan obat analgetik menjalani operasi sebelumnya.
kedalam ruang subaraknoid di daerah Pada pemeriksaan fisik didapatkan sbb :
vertebra lumbalis yang kemudian akan terjadi Kondisi umum baik, CM. BB 50 kg, TB
hambatan rangsang sensoris mulai dari 155cm.
vertebra thorakal 4. Prinsip yang digunakan TD 120/80 mmHg. N 88 x/mnt, RR 18 x/mnt
adalah menggunakan obat analgetik local dan suhu 36,7 °C
untuk menghambat hantaran saraf sensorik K/L dbn
untuk sementara (reversible). Fungsi motoric Thorax dbn
juga terhambat sebagian. Dan pada teknik Abdomen didapatkan supel, tidak ada nyeri
anestesi ini, pasien tetap sadar. Kelebihan tekan, TFU teraba 2 jari diatas SOP.
utama tehnik ini adalah kemudahan dalam Pemeriksaan penunjang Lab darah rutin
tindakan, peralatan yang minimal, memiliki masih dbn. GDS 83 mg/dl.
efek minimal pada biokimia darah, menjaga Pemeriksaan fungsi hepar dan ginjal masih
level optimal dari analisa gas darah, pasien dbn
tetap sadar selama operasi dan menjaga jalan USG ginekolog didapatkan gambaran
nafas, serta membutuhkan penanganan post abortus inkompletus.
operatif dan analgesia yang minimal (Said, Pasien ditegakkan dengan diagnose Abortus
2002). inkompletus dan direncanakan tindakan
kuretase.
LAPORAN KASUS
Estimasi tindakan diperkirakan kurang lebih 1) Riwayat alergi : disangkal
15-20 menit. 2) Riwayat diabetes mellitu:
disangkal
A. PRE OPERATIF 3) Riwayat penyakit paru kronis :
1. IDENTITAS PASIEN tidak ada data
Nama : Ny. X 4) Riwayat penyakit jantung: tidak
Jenis Kelamin : Wanita ada data
Usia : 17 tahun 5) Riwayat hipertensi: disangkal
Diagnosispre-operatif: Abortus 6) Riwayat penyakit hati : tidak ada
inkompletus data
Macam operasi : Kuretase 7) Riwayat penyakit ginjal: tidak ada
2. ANAMNESIS data
Anamnesis dilakukan secara 8) Riwayat asma: disangkal
autoanamnesis. d. Riwayat penggunaan obat:
a. Keluhan utama 1) Riwayat alergi obat: tidak ada
nyeri perut 2) Riwayat pengobatan sebelumnya:
b. Riwayat penyakit sekarang riw mondok dengan abortus
Nyeri nyeri perut dan keluar darah dari imminens
jalan lahir sejak pukul 02.00 WIB. e. Riwayat anestesi/operasi :
Darah yang keluar mrongkol- 1) Riwayat anestesi sebelumnya:
mrongkol. Tidak ada riwayat trauma disangkal
maupun riwayat keluar jaringan 2) Riwayat operasi sebelumnya:
seperti gajih. Pasien pernah mondok disangkal
sebelumnya di rumah sakit ini dengan f. Riwayat kebiasaan
diagnose abortus imminen. Pasien 1) Riwayat merokok: tidak ada data
tidak memiliki riwayat sakit 2) Riwayat minum alcohol : tidak
hipertensi, asma, DM maupun alergi. ada data
Pasien belum pernah menjalani 3) Riwayat konsumsi narkotika:
operasi sebelumnya. tidak ada data
c. Riwayat penyakit dahulu atau penyulit g. Riwayat Keluarga
tindakan anestesi : 1) Riwayat asma : tidak ada data
2) Riwayat diabetes mellitus: tidak 3) Leher : gerakan leher
ada data normal (fleksi dan
ekstensi), gangguan
III. PEMERIKSAAN FISIK menelan (-), peningkatan
1. Status Generalis (Saat Masuk JVP (-), pembesaran
Rumah Sakit) KGB (-), pembesaran
a. Keadaan Umum : Baik kelenjar tyroid (-),
b. Kesadaran : gerakan leher (-),
Compos mentis (GCS: gangguan bernapas (-),
E4V5M6) deviasi trakea (-)
c. Skala Nyeri :4 c. Respirasi
d. Tekanan Darah : 1) Paru-paru : simetris
120/80 mmHg (+/+), ketertinggalan
e. Nadi : 88 gerak (-/-), fremitus paru
kali/menit kanan sama dengan paru
f. Respirasi : 18 kiri, sonor di kedua
kali/menit lapang paru, sdv (+/+),
g. Suhu : rhonki (-/-), wheezing (-/-
36,7oC )
2. Pemeriksaan Fisik d. Kardiovaskular
a. Status Gizi 1) Jantung : ictus cordis
1) BB : 50 kg tidak tampak, ictus cordis
2) TB : 155 cm teraba namun tidak kuat
b. Jalan Napas angkat, batas jantung
1) Kepala : keterbatasan normal, BJ I/II murni
membuka mulut (-), regular, murmur (-)
receding mandible (-), e. Abdomen : supel,
gigi palsu (-) peristaltik (+), BU (+), nyeri
2) Mulut : terlihat faring, tekan (-), TFU teraba 2 jari
palatum molle dan uvula diatas SOP
f. Sistem Saraf : gangguan 4) Intravena fluid drip (IVFD) RL 20
menelan (-) tpm dengan menggunakan IV
g. Sistem Muskuloskeletal cath no 20, dan dipasang dengan
1) Ekstremitas: Akral hangat menggunakan three way.
(+/+), jari tabuh (-/-), Terapi Cairan Prabedah
sianosis (-/-)
Kebutuh = kebutuhan cairan
2) Vertebra : Memar (-),
an dewasa x Berat
deformitas (-), bekas
Cairan badan
infeksi (-)
Basal
PEMERIKSAAN PENUNJANG = 2 ml/kgbb/jam
USG ginekologi : Abortus inkompletus
= 2x 50 kg
STATUS FISIK ASA
Perempuan 17 tahun menderita = 100 cc/jam
Abortus inkompletus usia gestasi 13 +1
minggu dengan status fisik ASA I (Pasien
dengan penyakit sistemik ringan dan
4. MASUKAN ORAL
tidak ada keterbatasan fungsional) (Latief
Pasien dipuasakan selama 6-8 jam.
et al,2009).
Makanan tidak berlemak diperbolehkan 5
jam sebelum induksi anestesi. Minuman
3. PENATALAKSANAAN
air putih diperbolehkan sampai 3 jam
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
sebelum induksi. (Latief et all,2009).
fisik, maka :
5. PREMEDIKASI
a. Diagnosis pre operatif: Abortus
Diberikan Diazepam oral 10mg diberikan
inkompletus
pada waktu malam hari sebelum pasien
b. Status Operatif: ASA I, Mallampati I
tidur.
c. Jenis Operasi: Kuretase
6. PRE ANESTESI
d. Jenis Anastesi : Spinal Anestesi
a. Persiapan peralatan anestesi
e. Penatalaksanaan yaitu :
1) Peralatan monitor anestesi
1) Pro Appendectomi
(tekanan darah, denyut nadi ,
2) Informed Consent Operasi
pulse oxymetri danEKG).
3) Informed Consent Pembiusan
2) Peralatan resusitasi
3) Jarum spinal dengan ujung tajam Analgesik : Inj Ketorolac 30 mg
(Quincke-Babcock) (Said et IV yang diberikan 10 menit sebelum
al,2002). operasi selesai
4) Lidokain 5 % (larutan hiperbarik) dan Inj Fentanyl 30 mcg IV yang
5) Oksimeter/saturasi diberikan 10 menit sebelum operasi
6) Infuse set selesai (Dosis profilaksis nyeri pasca
7) Kanul oksigen operasi = 0,5mcg/KgBB)
b. Persiapan pasien
1) Pemeriksaan konfirmasi identitas 2. Infus
pasien a. Ringer Laktat 20 tpm
2) Konfirmasi jenis operasi dan Selama Operasi
pemeriksaan lokasi operasi Kebutuhan Cairan = Operasi ringan x BB
3) Pemantauan peralatan yang Operasi = 2 x 50 kg
menempel pada pasien = 100 cc/jam
(sphygmomanometer digital, = 3x50cc
oxymetri) Kebutuhan =150 cc
4) Pemeriksaan akses IV Pengganti Darah
c. Persiapan Obat :
1) Analgetik: Ketorolac, Fentanyl a. Pemantauan Sistem Saraf Pusat
2) Anti emetik : Ondansetron - Pemantauan Tekanan Darah
3) Sedatif : Midazolam - Pemantauan Nadi
(Katzung,2011) - Pemantauan Pernapasan
7. INDUKSI ANESTESI - Pemantauan Refleks-refleks

Anestesi spinal: Lidokain 5 % tubuh

(larutan hiperbarik) 100mg b. Pemantauan Sistem


Kardiovaskular
1. Obat
- PemantauanWarna Kulit
a. Inj. Midazolam 3 mg IV setelah
- Pemantauan Suhu Tubuh
induksi anestesi
- Pemantauan Produksi Urin
Anti emetik : Inj Ondancetron 6
- Pemantauan EKG
mg IV yang diberikan 10 menit
e. Pemantauan Perdarahan
sebelum operasi selesai
- Perdarahan durante operasi:50 ml PEMBAHASAN
f. Durasi operasi A. PRE OPERATIF
Pasien, Nn X, 17 tahun G1P0A0
: 15-20 menit
dengan usia kehamilan 13 +1 minggu datang
g. Komplikasi selama pembedahan
ke ruang operasi untuk menjalani kuretase
: tidak ada
dengan diagnosis pre operatif abortus
C. PASCA OPERASI
inkompletus. Dari anamnesis terdapat
a. Posisi : Supine
keluhan nyeri perut dan keluar darah dari
b. Pemantauan : Tekanan Darah, Nadi,
jalan lahir sejak pukul 02.00 WIB. Darah
Suhu, RR, Saturasi O2 tiap 15 menit
yang keluar mrongkol-mrongkol. Tidak ada
selama 1 jam.
riwayat trauma maupun riwayat keluar
c. Keadaan pasca operasi
jaringan seperti gajih. Pasien pernah mondok
- Mual/ muntah : Ada
sebelumnya di rumah sakit ini dengan
- Sianosis : Tidak Ada
diagnose abortus imminen. Pasien tidak
- Skala nyeri : 5
memiliki riwayat sakit hipertensi, asma, DM
d. Obat-Obatan pasca operasi
maupun alergi. Pasien belum pernah
- Anti emetik : Inj Ondancetron 6
menjalani operasi sebelumnya. Pemeriksaan
mg IV extra
tanda vital pasien didapatkan keadaan umum
- Analgesik : Inj. Ketorolac 30 mg
pasien baik, compos mentis, tekanan darah:
/ 8jam
120/80 mmHg, nadi : 88 x/menit, S : 36,7˚C,
e. Terapi Cairan : Infus RL + Fentanyl
frekuensi napas: 18 x/menit.
120 mcg (Dosis continous infus 0,5-3
Pada pemeriksaan fisik abdomen didapatkan
mcg/kgBB/jam) + MetamizoleSodium 1gr
supel, tidak ada nyeri tekan, TFU teraba 2 jari
drip infus 20 tpm
diatas SOP. Pemeriksaan penunjang Lab
darah rutin masih dbn. GDS 83 mg/dl. USG
ginekolog didapatkan gambaran abortus
Pasca Bedah
inkompletus. Dari hasil anamnesis,
Kebutuhan air dalam Kebutuhan cairan pasien dalam
keadaan basal sehari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
= 50 cc/KgBB/hari penunjang disimpulkan bahwa pasien masuk
= 50 cc x 50 dalam ASA I.
= 2500 cc/hari
Pada pasien ini dilakukan operasi
kuretase, maka dokter anestesi memilih
menggunakan jenis anestesi spinal (blok pemilihan jenis anestesi pada kasus ini sudah
subaraknoid). Hal ini sesuai dengan indikasi tepat.
anestesi blok subaraknoid yang digunakan Penggunaan premedikasi pada pasien
pada: bedah ekstremitas bawah, bedah ini bertujuan untuk menimbulkan rasa
panggul, tindakan sekitar rektum perineum, nyaman pada pasien dengan pemberian
bedah obstetrik-ginekologi, bedah urologi, analgesia dan mempermudah induksi dengan
bedah abdomen bawah, pada bedah abdomen menghilangkan rasa khawatir. Pada pasien
atas dan bawah pediatrik biasanya ini diberikan premedikasi ansiolitik yaitu
dikombinasikan dengan anesthesia umum Diazepam 10 mg oral sesuai dengan dosis
ringan. Banyak keuntungan yang diperoleh dewasa untuk mengurangi kecemasan karena
dari teknik anestesi regional di antaranya pada pasien ini mengalami takikardi yang
relatif lebih murah, pengaruh sistemik lebih mungkin disebabkan oleh rasa cemas atau
kecil, menghasilkan analgesi adekuat, rasa nyeri yang muncul. Diazepam bekerja
mampu mencegah respons stres lebih pada reseptor Gamma Aminobutirik Acid
sempurna, mengurangi perdarahan selama (GABA) yaitu inhibitor utama
pembedahan, mengurangi lama perawatan di neurotransmitter di susunan saraf pusat (SSP)
rumah sakit, di samping itu juga memiliki melalui neuron-neuron modulasi GABA
efek anti-inflamasi dan antikanker (Harbi et ergik. Diazepam oral 10mg diberikan pada
al, 2013). Penggunaan spinal anestesi waktu malam hari sebelum pasien tidur.
dianggap merupakan pilihan yang tepat Dosis oral diazepam diserap cepat >90%,
karena mempunyai manfaat berupa analgesi efek puncak dapat terjadi setelah pemberian
yang adekuat pasca operasi dan tidak oral dalam waktu 0,5-1 jam pada orang
memerlukan intubasi yang dapat dewasa. Waktu paruh dari diazepam adalah
menyebabkan peningkatan respon simpatis 21-37 jam pada orang normal.
dan mengakibatkan nyeri post intubasi. Hal Untuk memberikan cairan pre operasi
ini tidak seperti pada teknik general anestesi diberikan terapi cairan basal yaitu kebutuhan
yang mengharuskan intubasi dan ketika obat cairan dewasa/kgBB yaitu 2ml/kgBB = 2 mlx
anestesi dihentikan, kemudian pasien 50 kg = 100 cc/jam. Sebelum dilakukan
diekstubasi maka pasien akan langsung operasi pasien dipuasakan selama 8 jam,
merasakan nyeri. Dengan demikian, tujuan puasa untuk mencegah terjadinya
aspirasi isi lambung karena regurgitasi atau
muntah pada saat dilakukannya tindakan sebagian besar dalam bentuk metabolitnya,
anestesi akibat efek samping dari obat- obat konsentrasi 0,25 – 0,75 %.
anastesi yang diberikan sehingga refleks Pada pasien digunakan obat anestesi
laring mengalami penurunan selama golongan amide yaitu lidocain (hiperbarik).
anestesia. Berdasarkan teori lidocain lama kerjanya 1-2
jam, onset anestesinya juga lebih cepat (5
B. DURANTE OPERATIF menit). Pada pasien digunakan lidocain 5%

Ada dua golongan besar obat anestesi dengan dosis 100mg untuk pembedahan

regional berdasarkan ikatan kimia, yaitu abdomen bagian bawah. Lamanya spinal

golongan ester dan golongan amide. anestesi tergantung dari obat yang digunakan

Keduanya hampir memiliki cara kerja yang dan adjuvantnya. Pada kasus ini digunakan

sama namun hanya berbeda pada struktur obat lidokain 5% hiperbarik.

ikatan kimianya. Mekanisme kerja anestesi Untuk pemeliharaan anestesi

lokal ini adalah menghambat pembentukan diberikan secara inhalasi. Zat yang diberikan

atau penghantaran impuls saraf. Tempat adalah O2 (Oksigen) 3 liter/menit nasal

utama kerja obat anestesi lokal adalah di canul. Pada pasien ini diberikan sedasi

membran sel. Kerjanya adalah mengubah midazolam 3mg IV untuk menidurkan pasien

permeabilitas membran pada kanal Na+ selama operasi. Tujuan pemberian sedasi ini

sehingga tidak terbentuk potensial aksi yang untuk menghilangkan kecemasan pasien.

nantinya akan dihantarkan ke pusat nyeri Sedangkan untuk mengganti kehilangan

(Samodro et al,2011). Berat jenis cairan cairan tubuh diberikan cairan kristaloid

cerebrospinalis pada 37 derajat celcius adalah ringer lactat untuk menjaga keseimbangan

1.003-1.008. Anastetik local dengan berat cairan selama operasi. Selama operasi tanda

jenis sama dengan LCS disebut isobaric. vital pasien juga dipantau setiap 5 menitt.

Anastetik local dengan berat jenis lebih besar Pemberian maintenance cairan sesuai dengan

dari LCS disebut hiperbarik. Anastetik local berat badan pasien yaitu kebutuhan cairan

dengan berat jenis lebih kecil dari LCS operasi (operasi sedang) 6cc/kgBB/jam,

disebut hipobarik. Sifat hambatan sensoris sehingga 6cc x 50 kg = 300 cc/jam. Selama

lebih dominan dibandingkan dengan operasi pasien kehilangan darah sebanyak 50

hambatan motorisnya, ekskresi melalui ginjal ml. Estimsi Blood Volume pasien tersebut

sebagian kecil dalam bentuk utuh, dan yaitu 65 cc/kgBB = 65 cc x 50 = 3250 cc.
Nilai 20% dai EBV yaitu 20/100 x 3250 = merangsang area post trema menimbulkan
650 cc. Dari nilai tersebut pasien hanya muntah. Ondansetron memblok reseptor di
kehilangan darah kurang dari 20% EBV gastrointestinal dan area postrema
sehingga pasien tidak memerlukan transfusi CNS.Pelepasan serotonin akan diikat
darah tetapi cukup diganti dengan cairan reseptor 5HT3 dan memicu aferen vagus
infus yang komposisi elektrolitnya sama untuk mengaktifkan refleks muntah.
dengan komposisi elektrolit serum, yaitu Serotonin juga diaktifkan akibat manipulasi
Ringer Lactat. Jumlah cairan pengganti pembedahan atau iriasi usus yang
sesuai jumlah perdarahan yaitu Kebutuhan merangsang distensi gastrointestinal. Kerja
cairan x 3 = 3x50 = 150 cc. obat ini adalah dengan memblokade sentral
Obat yang dapat diberikan 10 menit pada area post trema dan nukleus traktus
sebelum operasi selesai adalah Ketorolac 0,5 solitorius melalui kompetitif selektif di
mg/kgBB yaitu 0.5 x 50 = 25 mg IV yang reseptor 5HT3. Ondansetron juga
nantinya akan dikombinasikan dengan opioid memblokade reseptor perifer pada ujung
kuat dan obat analgesik adjuvan yang saraf vagus yaitu dengan menghambat ikatan
bermanfaat untuk mengurangi nyeri pasca serotonin dan reseptor pada ujung saraf vagus
operasi. Selain itu dapat diberikan (Samodro et al,2011)
Ondancetron 0,1mg/kgBB, sehingga
dosisnya pada pasien BB: 50 kg, yaitu 0,1 C. PASCA OPERASI
mgx 50 kg menjadi 5 mg IV sebagai Setelah pembedahan selesai
antiemetik, untuk mencegah efek samping dilakukan, dilakukan pemantauan akhir
dari obat anestesi yaitu mual dan muntah. TD, Nadi, dan SpO2. Pembedahan
Ondansetron merupakan obat selektif pada dilakukan selama 60 menit dengan
reseptor antagonis 5 hidroksi triptamin perdarahan ± 50cc. Pasien kemudian
(5HT3) di otak dan juga aferen saraf vagal dibawa ke ruang pemulihan (Recovery
saluran cerna. Obat ini selektif dan kompetitif Room). Selama di ruang pemulihan, jalan
untuk mencegah mual dan muntah setelah nafas dalam keadaan baik, pernafasan
operasi dan radioterapi. Obat anastesi akan spontan dan adekuat serta kesadaran
menyebabkan pelepasan serotonin dari sel- somnolen.
sel mukosa enterochromafin dan dengan Pasien diperbolehkan pindah ke
melalui lintasan yang melibatkan 5HT3 dapat bangsal apabila Score Bromage <2,
dengan Bromage score sebagai berikut analgetik opioid kuat untuk mengatasi
(Latief et al, 2009): nyeri berat dan diperkuat dengan injeksi
Ketorolac 0,5 mg/kgBB yaitu 0.5 x 50 =
No Kriteria Score
25 mg IV yang diberikan terlebih dulu 10
1. Dapat mengangkat tungkai 0 menit sebelum operasi selesai.
bawah
Pengelolaan nyeri pada pasien ini
2. Tidak dapat menekuk lutut 1 pada 24 jam pertama yaitu diberikan Infus
tetapi dapat mengangkat
RL+ Fentanyl 120mcg + Metamizole
kaki
Sodium 1gr drip infus 20 tpm. Hal ini
3. Tidak dapat mengangkat 2
bertujuan untuk mengurangi nyeri pasca
tungkai bawah tetapi
masih dapat menekuk lutut operasi pada 24 jam pertama sampai
dengan kurang dari 3 hari atau sebagai
4. Tidak dapat mengangkat 3
kaku sama sekali pengelolaan nyeri akut pasca operasi.
Selain itu kebutuhan cairan pasien harus
Setelah selesai operasi pasien
tetap diperhatikan untuk memenuhi
masih mengalami mual dan muntah
kebutuhan cairan pasien pasca operasi
sehingga diberikan tambahan
dalam sehari yaitu sebagai berikut 50
Ondancetron 0,1mg/kgBB, sehingga
cc/KgBB/hari, 50 cc x 50 = 2500 cc/hari.
dosisnya pada pasien BB: 50 kg, yaitu 0,1
mgx 50 kg menjadi 5 mg IV sebagai KESIMPULAN
antiemetik. Pada kasus ini, pasien
terdiagnosa Abortus inkompletus. Pada
Pasien juga mengalami nyeri pasca
pasien ini dilakukan operasi kuretase,
operasi dengan skala nyeri VAS 6 yaitu
maka dokter anestesi memilih
termasuk dalam skala nyeri berat sehingga
menggunakan jenis anestesi spinal (blok
dalam pengelolaan nyerinya menurut
subaraknoid). Hal ini sesuai dengan
“Three Step Analgesic Ladder WHO”
indikasi anestesi blok subaraknoid yang
sehingga pasien diberikan kombinasi
digunakan pada: bedah ekstremitas
opioid kuat ditambah NSAID ditambah
bawah, bedah panggul, tindakan sekitar
analgesik adjuvan. Injeksi Fentanyl untuk
rektum perineum, bedah obstetrik-
post operasi 1-2 mcg/kgBB yaitu (0,5-
ginekologi, bedah urologi, bedah
2)mcg x 50 kg = 25-100 mcg sebagai
abdomen bawah, pada bedah abdomen
atas dan bawah pediatrik biasanya dalam sehari yaitu sebagai berikut 50
dikombinasikan dengan anesthesia umum cc/KgBB/hari, 50 cc x 50 = 2500 cc/hari.
ringan. Pada pasien digunakan obat
Secara umum pelaksanaan operasi
anestesi golongan amide yaitu lidocain
dan penanganan anestesi berlangsung
(hiperbarik). Berdasarkan teori lidocain
dengan baik meskipun ada hal-hal yang
lama kerjanya 1-2 jam, onset anestesinya
perlu mendapat perhatian.
juga lebih cepat (5 menit). Pada pasien
digunakan lidocain 5% dengan dosis 75- DAFTAR PUSTAKA

100mg untuk pembedahan abdomen Kurdi MS. 2014 Ketamine:current


applications in anesthesia. Diunduh
bagian bawah (1-2ml).
dari www.ncbi.nlm.nih.gov, 1
september 2019.
Setelah operasi pasien diberikan
WHO. Buku saku pelayanan kesehatan ibu di
yang diberikan injeksi Ondancetron 6 mg fasilitas kesehatan daasar dan rujukan.
IV setelah pasien mengalami mual dan Jakarta: Kemenkes;2013.h.84-7.
Said A, Kartini A, Ruswan M. Petunjuk praktis
muntah post operasi, serta mendapatkan,
anestesiologi: anestetik lokal dan anestesia
fentanyl 120mcg drip infus RL 20 tpm, regional. Edisi ke-2. Jakarta: Fakultas
injeksi Ketorolac 30 mg IV/8 jam karena Kedokteran UI; 2002.
Samodro R, Sutiyono D, Satoto HH. Mekanisme
mengalami nyeri dengan skala nyeri VAS kerja obat anestesi lokal. Dalam: Jurnal
6. Anestesiologi Indonesia. Bagian
anestesiologi dan terapi intensif FK
Pengelolaan nyeri pada pasien ini UNDIP/RSUP Dr.Kariadi. 2011; 3(1): 48-
59.
pada 24 jam pertama yaitu diberikan Infus Latief, S. A., Suraydi, K. A. & Dachlan, M. R.,
RL+ Fentanyl 120mcg + Metamizole 2009. Petunjuk Praktis Anestesiologi. 2 ed.
Jakarta: Bagian Anestesi dan Terapi Inensif
Sodium 1gr drip infus 20tpm. Hal ini FK UI.
bertujuan untuk mengurangi nyeri pasca Handoko, Tony.Anestetik Umum. Dalam
:Farmakologi dan Terapi FKUI, edisi
operasi pada 24 jam pertama sampai ke- 4. Jakarta:Gaya baru. 1995
dengan kurang dari 3 hari atau sebagai
pengelolaan nyeri akut pasca operasi.

Selain itu kebutuhan cairan pasien


harus tetap diperhatikan untuk memenuhi
kebutuhan cairan pasien pasca operasi