Anda di halaman 1dari 60

Laporan Kasus

CARCINOMA CERVIKS PADA KEHAMILAN

Disusun Oleh:

Heru Maranata Nababan

Pembimbing:

DR. dr.Donel S, Sp.OG(K)

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU

RSUD ARIFIN ACHMAD

PEKANBARU

2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kanker serviks atau kanker leher rahim atau disebut juga kanker mulut

rahim merupakan salah satu penyakit keganasan di bidang kebidanan dan penyakit

kandungan yang masih menempati posisi tertinggi sebagai penyakit kanker yang

menyerang kaum perempuan. Kanker serviks adalah kanker leher rahim / kanker

mulut rahim yang di sebabkan oleh virus Human Papiloma Virus (HPV). Hanya

beberapa saja dari ratusan varian HPV yang dapat menyebabkan kanker. Penularan

virus HPV yang dapat menyebabkan Kanker leher rahim ini dapat menular melalui

seorang penderita kepada orang lain dan menginfeksi orang tersebut. Penularannya

dapat melalui kontak langsung dan karena hubungan seks.1

Gejala yang mungkin timbul (umumnya pada stadium lanjut) adalah

perdarahan di luar masa haid, jumlah darah haid tidak normal, perdarahan pada

masa menopause (setelah berhenti haid), keputihan yang bercampur darah atau

nanah serta berbau, perdarahan sesudah senggama, rasa nyeri dan sakit di panggul,

gangguan buang air kecil sampai tidak bisa buang air kecil.2

Berdasarkan hasil survey kesehatan oleh Word Health Organitation

(WHO), (2010) dilaporkan kejadian kanker serviks sebesar 500.000 kasus baru di

Dunia. Kejadian kanker serviks di Indonesia, dilaporkan sebesar 20-24 kasus

kanker serviks baru setiap harinya. Kejadian kanker servik di Bali dilaporkan

2
telah menyerang sebesar 553.000 wanita usia subur pada tahun 2010 atau

43/100.000 penduduk WUS. Berdasarkan AOGIN. Angka ini mengalami

peningkatan sebesar 0,89% sejak tahun 2008.3 Angka kejadian kanker servik dalam

kehamilan ditemukan kira-kira 1 sampai 13 kasus dalam 10.000 kehamilan. Dan

pada sebuah studi kasus dikatakan bahwa 1 % wanita yang di diagnosa dengan

kanker serviks di temukan saat hamil.4

Sejak dahulu, hubungan karsinoma serviks dengan kehamilan merupakan

sesuatu yang diperdebatkan dalam hal pertumbuhan tumor, prognosis bagi

penderita, dan risiko penyebaran kanker selama persalinan pervaginam. Telah

dinyatakan bahwa faktor-faktor seperti perubahan hormonal, peningkatan

vaskularisasi, dan toleransi imunologi selama kehamilan mempengaruhi perubahan

tumor.5

1.2 Rumusan Masalah

 Apa saja faktor resiko kanker serviks pada kehamilan pasien ini?

 Bagaimana manajemen kanker serviks dan kehamilan pada pasien ini?

 Bagaimana prognosis ibu dan bayi ini?

1.3 Tujuan

 Mengetahui faktor resiko kanker serviks pada ibu hamil

 Mengetahui manajemen kehamilan pada kanker serviks

 Mengetahui prognosis ibu dan bayi pada kehamilan dengan kanker serviks

1.4 Manfaat

Manfaat dari laporan kasus ini, dapat meningkatkan pengetahuan mengenai

3
definisi, etiologi, patofisiologi, penegakan diagnosa, manajemen serta prognosis

pada kehamilan dengan kanker serviks

4
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kanker Leher Rahim

Kanker seviks adalah kanker yang paling sering ditemukan pada saat

kehamilan dan juga paling sering didiagnosa pada wanita sebagai kanker kedua

terbanyak sebelum kanker payudara. Tingkat kematian dan angka terjadinya kanker

serviks telah menurun pada negara-negara maju karena adanya pemeriksaan rutin

papanicolau smear atau biasa kita sebut pap smear dan juga skrining dari human

papillomavirus.7

2.2 Epidemiologi

Kurang lebih, 60% wanita yang didiagnosis dengan kanker serviks pada

negara-negara maju adalah mereka yang tidak melakukan skrining rutin seperti pap

smear. Umur rata-rata seorang wanita terkena kanker serviks adalah sekitar 52.2

tahun dan distribusi dari kejadian ini adalah bimodal, dimana dapat terjadi pada

umur 35-39 tahun dan 60-64 tahun.8

Angka kejadian seorang ibu yang sedang hamil dan didiagnosis menderita

kanker serviks adalah sekitar 1.5-12 kasus per 100.000 wanita hamil.7

2.3 Faktor Resiko

Faktor resiko utama terjadinya kanker serviks adalah adanya paparan

dengan HPV, merokok, paritas dan imunosupresan. Faktor-faktor lain telah

5
dihubungkan dengan kanker serviks adalah ras, sosio ekonomik dan infeksi menular

seksual. 8

Infeksi HPV terlihat pada 99,7% dari kanker serviks. Faktor resiko

tradisional yang dapat menyebabkan kanker serviks adalah usia muda saat

melakukan koitus pertama, pasangan sex yang berganti-ganti, multi paritas,

kurangnya kontrasepsi dan pernah mengalami penyakit menular seksual

sebelumnya.8

Merokok adalah faktor resiko yang mandiri pada perkembangan kanker

serviks. Perokok mempunyai faktor resiko terkena kanker seviks sebesar 4-5 kali

lebih besar daripada yang tidak merokok. Efek potensial dari rokok terlihat dalam

jumlah terbatas pada squamous cell carcinoma8

Keadaan imunosupresif dapat meningkatkan perkembangan terjadinya

kanker serviks lebih cepat dari periode pre-invasif sampai lesi invasif.8

2.4 Etiologi

Sel kanker serviks pada awalnya berasal dari sel epitel serviks yang mengalami

mutasi genetik sehingga mengubah perilakunya. Sel yang bermutasi ini melakukan

pembelahan sel yang tidak terkendali, imortal dan menginvasi jaringan stroma

dibawahnya. Keadaan ini yang menyebabkan mutasi genetik yang tidak dapat

diperbaiki akan menyebabkan terjadinya pertumbuhan kanker ini9

Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi virus HPV. Lebih dari 90%

kanker serviks jenis skuamosa mengandung DNA virus HPV dan 50% kanker

serviks berhubungan dengan HPV tipe 16. Penyebaran virus ini terutama melalui

hubungan seksual. Dari banyak tipe HPV, tipe 16 dan 18 mempunyai peranan

6
penting melalui sekuensi gen E6 dan E7 dengan mengkode pembentukan protein-

protein yang penting dalam replikasi virus.9

Onkoprotein dari E6 akan mengikatdan menjadikan gen penekan tumor

(P53) menjadi tidak aktif, sedangnkan onkoprotein E7 akan berikatan dan

menjadikan produk gen retinoblastoma (pRb) menjadi tidak aktif. 9

Faktor lain yang berhubungan dengan kanker serviks adalah aktivitas

seksual terlalu muda (<16 tahun), jumlah pasangan seksual yang tinggi (>4 orang)

dan adanya riwayat infeksi berpapil (warts). Karena hubungannya yang erat dengan

infeksi HPV, wanita yang mendapat atau menggunakan penekan kekebalan

(immunosuppresant) dan pendertita HIV beresiko menderita kanker serviks. Bahan

karsinogenik spesifik dari tembakau dijumpai dalam lendir serviks wanita perokok.

Bahan ini dapat merusak DNA sel epitel skuamosa dan bersama dengan infeksi

HPV mencetuskan transformasi maligna.9

Sampai saat ini penyebab kanker serviks belum diketahui secara pasti,tetapi

ditemukan beberapa faktor predisposisi yang berperan pada terjadinya kanker

serviks antara lain adalah10

1. Umur

Umur pertama kali saat berhubungan seksual. Penelitian menunjukkan bahwa

semakin muda seorang wanita melakukan hubungan seksual maka akan rentan

mengalami kanker serviks. Menikah pada usia 20 tahun masih dianggap terlalu

muda.

2. Jumlah Kehamilan dan Partus

Semakin sering partus, maka seorang wanita rentan terjadi kanker serviks

3. Infeksi Virus

7
Infeksi virus herpes simplex dan virus papiloma atau virus kondiloma akuinata

diduga sebagai penyebab terjadinya kanker serviks

4. Faktor umur dan paritas

Semakin tinggi paritas ibu akan makin mudah terjadi infeksi cairan amnion

akibat rusaknya struktur serviks pada persalinan sebelumnya.

5. Faktor tingkat sosio-ekonomi

Sosio-ekonomi yang rendah, status gizi yang kurang akan meningkatkan insiden

kanker serviks, lebih-lebih disertai dengan jumlah persalinan yang banyak, serta

jarak kelahiran yang dekat.

2.5 Patogenesis

Genom sel manusia, menyebabkan hilangnya kontrol normal dari

pertumbuhan sel serta ekspresi onkoprotein E6 atau E7 yang bertanggung jawab

terhadap perubahan maturasi dan differensiasi dari epitel serviks. Lokasi awal dari

terjadinya karsinoma serviks biasanya pada atau dekat dengan pertemuan epitel

kolumner di endoserviks dengan epitel skuamous di ektoserviks atau yang juga

dikenal dengan squamocolumnar junction. Terjadinya karsinoma serviks yang

invasif berlangsung dalam beberapa tahap. Tahapan pertama dimulai dari lesi pre-

invasif, yang ditandai dengan adanya abnormalitas dari sel yang biasa disebut

dengan displasia. Displasia ditandai dengan adanya anisositosis (sel dengan ukuran

yang berbeda-beda), poikilositosis (bentuk sel yang berbeda-beda), hiperkromatik

sel, dan adanya gambaran sel yang sedang bermitosis dalam jumlah yang tidak

biasa. Displasia ringan bila ditemukan hanya sedikit sel-sel abnormal, sedangkan

jika abnormalitas tersebut mencapai setengah ketebalan sel, dinamakan displasia

8
sedang. Displasia berat terjadi bila abnormalitas sel pada seluruh ketebalan sel,

namun belum menembus membrana basalis. Perubahan pada displasia ringan

sampai sedang ini masih bersifat reversibel dan sering disebut dengan Cervical

Intraepithelial Neoplasia (CIN) derajat 1-2. Displasia berat (CIN 3) dapat berlanjut

menjadi karsinoma in situ. Perubahan dari displasia ke karsinoma in situ sampai

karsinoma invasif berjalan lambat (10 sampai 15 tahun).10

Penyebab utama karsinoma serviks adalah infeksi virus Human Papilloma

yang onkogenik. Risiko terinfeksi HPV sendiri meningkat setelah melakukan

aktivitas seksual. Pada kebanyakan wanita, infeksi ini akan hilang dengan spontan.

Tetapi jika infeksi ini persisten maka akan terjadi integrasi genom dari virus ke

dalam genom sel manusia, menyebabkan hilangnya kontrol normal dari

pertumbuhan sel serta ekspresi onkoprotein E6 atau E7 yang bertanggung jawab

terhadap perubahan maturasi dan differensiasi dari epitel serviks. Lokasi awal dari

terjadinya karsinoma serviks biasanya pada atau dekat dengan pertemuan epitel

kolumner di endoserviks dengan epitel skuamous di ektoserviks atau yang juga

dikenal dengan squamocolumnar junction. Terjadinya karsinoma serviks yang

invasif berlangsung dalam beberapa tahap. Tahapan pertama dimulai dari lesi pre-

invasif, yang ditandai dengan adanya abnormalitas dari sel yang biasa disebut

dengan displasia. Displasia ditandai dengan adanya anisositosis (sel dengan ukuran

yang berbeda-beda), poikilositosis (bentuk sel yang berbeda-beda), hiperkromatik

sel, dan adanya gambaran sel yang sedang bermitosis dalam jumlah yang tidak

biasa. Displasia ringan bila ditemukan hanya sedikit sel-sel abnormal, sedangkan

jika abnormalitas tersebut mencapai setengah ketebalan sel, dinamakan displasia

sedang. Displasia berat terjadi bila abnormalitas sel pada seluruh ketebalan sel,

9
namun belum menembus membrana basalis. Perubahan pada displasia ringan

sampai sedang ini masih bersifat reversibel dan sering disebut dengan Cervical

Intraepithelial Neoplasia (CIN) derajat 1-2. Displasia berat (CIN 3) dapat berlanjut

menjadi karsinoma in situ. Perubahan dari displasia ke karsinoma in situ sampai

karsinoma invasif berjalan lambat (10 sampai 15 tahun). Gejala pada CIN

umumnya asimptomatik, seringkali terdeteksi saat pemeriksaan kolposkopi.

Sedangkan pada tahap invasif, gejala yang dirasakan lebih nyata seperti perdarahan

intermenstrual dan post koitus, discharge vagina purulen yang berlebihan berwarna

kekuning-kuningan terutama bila lesi nekrotik, berbau dan dapat bercampur dengan

darah , sistisis berulang, dan gejala akan lebih parah pada stadium lanjut di mana

penderita akan mengalami cachexia, obstruksi gastrointestinal dan sistem renal.12

2.6 Gejala Klinis

Gejala-gejala kanker rahim yang sering ditemui sebelum terserang adalah

perdarahan di luar masa haid yang berlebihan, siklus menstruasi yang abnormal,

nyeri perut bagian bawah atau kram panggul, keluar cairan putih yang encer atau

jernih (pada wanita pasca menopause), nyeri atau kesulitan saat berkemih, juga

timbulnya nyeri ketika melakukan hubungan seksual.10

Gejala pada CIN umumnya asimptomatik, seringkali terdeteksi saat

pemeriksaan kolposkopi. Sedangkan pada tahap invasif, gejala yang dirasakan lebih

nyata seperti perdarahan intermenstrual dan post koitus, discharge vagina purulen

yang berlebihan berwarna kekuning-kuningan terutama bila lesi nekrotik, berbau

dan dapat bercampur dengan darah , sistisis berulang, dan gejala akan lebih parah

10
pada stadium lanjut di mana penderita akan mengalami cachexia, obstruksi

gastrointestinal dan sistem renal.12

2.7 Stadium Kanker Serviks

Kanker serviks timbul di T-Zone atau squamous-collumnar junction (SCJ)

yaitu daerah peralihan epitel skuamosa yang terdapat di ektoserviks (porsio)

menjadi epitel kolumnar yang terdapat di endoserviks. Serviks yang normal, secara

alami mengalami proses metaplasia (erosion) akibat saling desak-mendesanya

kedua jenis epitel yang melapisi. Dengan masuknya mutagen, porsio yang

mengalami metaplasia fisiologik dapat berubah menjadi patologik (displastik-

diskariotik). Penyakit ini diawali oleh lesi prakanker, yang disebut juga neoplasia

interepitel serviks/NIS (Cervical Intraephitelial Neoplasia/CIN) dengan tingkatan

NIS-I, II, III, dan KIS (karsinoma in situ). Periode dari NIS-I s.d KIS disebut

periode laten atau fase prainvasif yang masih mengalami regresi spontan dengan

atau tanpa pengobatan. Namun bila lesi sudah menjadi mikro invasive atau

invasive, proses keganasan akan terus berlanjut. 8

Staging karsinoma seviks merunut pada sistem klasifikasi dari FIGO

(Federation of Gyenaecologic and Obstetrics) tahun 2000 dilihat berdasarkan lokasi

tumor primer, ukuran besar tumor, dan adanya penyebaran keganasan. Staging ini

dibuat untuk mempermudah perencanaan terapi yang efektif dan optimal bagi

pasien dan memperkirakan prognosis pasien.8

11
12
2.8 Diagnosis

Deteksi dini kanker serviks secara teratur sangat dianjurkan bagi setiap

wanita, biasanya dimulai tiga tahun setelah wanita aktif secara seksual atau berusia

lebih dari 21 tahun. Selain dari anamnesa dan pemeriksaan fisik, diperlukan deteksi

dini berupa:

1. Pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) merupakan

metode inspeksi yang sangat sederhana, murah, nyaman, praktis, dan

mudah. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengoleskan larutan asam

asetat 3% - 5% pada serviks sebelum melakukan inspeksi visual.

Pemeriksaan ini disebut positif bila terdapat area putih (acetowhite)

didaerah sekitar porsi serviks.10

2. Pemeriksaan pap smear, merupakan pemeriksaan sitologi untuk

mendeteksi karsinoma serviks uteri. Pemeriksaan ini dilakukan dengan

13
mengambil contoh sel epitel serviks melalui kerokan dengan spatula

khusus, kemudia hasil kerokan dihapuskan pada kaca objek. Apusan sel

pada kaca obejek tersebut selanjutnya diamati di bawah mikroskop oleh

ahli patologi10

3. Pemeriksaan DNA, HPV, merupakan suatu ter laboratorium yang dapat

mendeteksi tipe-tipe HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks10

Jika diperoleh hasil Pap Smear yang abnormal, maka dibutuhkan beberapa

pemeriksaan tambahan untuk mengkonfirmasi diagnosisi, mengetahui penyebaran

kanker, dan menentukan pilihan pengobatan.10

1. Kolposkopi, merupakan pemeriksaan visual serviks uteri dengan

menggunakan alat optic khusus yang disebut kolposkop. Pemeriksaan ini

dapat mengenali dysplasia maupun karsinoma, baik in situ maupun invasif,

dengan baik10

2. Biopsi, merupakan gold standart dalam menentukan diagnosis kanker yaitu

dengan mengambil sedikit jaringan lesi kemudia diperiksa secara

histopatologik . Jaringan yang diambil harus cukup dalam serta meliputi

beberapa area di empat kuadran serviks dan beberapa area vagina yang

dicurigai10

3. Pemeriksaan visual kandung kemih dan kolon dengan sitoskopi dan

protoskopi, serta pemeriksaan imejing seperti chest X-ray, CT, MRI, dan

PET untuk mengetahui penyebaran dari kanker ke organ-organ sekitar.10

2.9 Penatalaksanaan

14
Setelah diagnosis kanker serviks ditegakkan, harus ditemukan terapi apa

yang tepat untuk setiap kasus. Secara umum, jenis terapi yang tepat dapat diberikan

bergantung pada usia dan keadaan umum penderita, luasnya penyebaran, dan

komplikasi lain yang menyertai. Pada umumnya kasus stadium lanjut (stadium Iib,

III dan IV) dipilih pengobatan radiasi yang diberikan secara intrakaviter dan

eksternal, sedangkan stadium awal dapat diobati melalui pembedahan atau radiasi.

Pada dasarnya untuk stadium lanjut (IIb, III dan IV) diobati dengan kombinasi

radiasi eksterna dan intrakaviter. Kombinasi ini untuk mendapatkan dosis cukup

pada titik A. teknologi radiasi eksterna dimulai pada tahun 1954 dengan

ditemukannya alat radiasi Cobalt 60 yang sudah memberikan energi 1 cm dibawah

kulit. Akhir-akhir ini yang lebih disenangai adalah linear accelarator yang

menghasilkan energi foton dan mulai memberi energi 3-4 cm di bawah kulit.

Kombinasi pemberian sisplatin mingguan bersamaan dengan radiasi memberikan

respon yang cukup baik. Akan tetapi bila terjadi kekambuhan baik lokal maupun

jauh, setelah terapi kemoradiasi ini biasanya usaha pengobatan lain sering gagal. 9

Banyak penelitian tentang pemberian kemoterapi baik tunggal maupun

kombinasi untuk mengobati penderita kanker serviks stadium lanjut atau kasus

berualng yang tidak mungkin dilakukan terapi operatif atau radiasi. Kombinasi

antara bleomicin, sisplatin dan ifosfamid tampaknya memberi respons yang lebih

baik, tetapi efek samping pada sistem saraf pusat cukup menganggu. 9

Harapan hidup penderita akan menjadi lebih baik bila setelah pemberian

neoadjuvant, kemoterapi ini dapat dilanjutkan dengan operasi radikal. Evaluasi

respons kemoterapi neoadjuvan ini dengan bantuan MRI karena MRI dapat

membedakan antara gambaran jaringan fibrosis dan jaringan tumor. 9

15
Terdapat teknik operasi radikal kanker serviks stadium dini dengan

mempertahankan uterus. Operasi radikal ini dikenal sebagai trakhelektomi radikal,

dilakukan pada penderita kanker serviks stadium dini yang masih ingin hamil. Pada

saat itu trakhelektomi radikal, dilakukan pada penderita kanker serviks stadium dini

yang masih ingin hamil. Pada saat itu trakhelektomi radikal dilakukan melalui

vagina dan limpadenektomi dengan bantuan laparoskop. Trakhelektomi ini dapat

juga dilakukan melalui abdominal dengan cara dan peralatan yang sama dengan

operasi histerektomi radikal biasa. serviks dipotong setinggi orificium uteri

internum. Radikal trakhelektomi ini diindikasikan untuk stadium Ia2 dan Ib1 / Iia

dengan lesi kurang 2 cm dan tidak ada anak sebar pada kelenjar getah bening pelvis.
9

Pada tingkat klinik (KIS), tidak dibenarkan dilakukan elektrokoagulasi atau

elektrofulgerasi, bedah krio atau dengan sinar laser, kecuali penderitanya masih

muda dan belum memiliki anak. Biopsi kerucut juga bias digunakan baik sebagai

alat dianostik maupun terapi (Mardjikoen, 2007; Pitkin, 2003). Namun, bila

penderita sudah cukup tua dan sudah mempunyai cukup pemeriksaan, dapat

dilakukan histerektomi sederhana untuk mencegah kambuhnya penyakit. 10

Pada tingkat klinik Ia, umumnya ditangani sebagai kanker yang invasif. Bila

kedalaman invasif kurang dari atau hanya 1 mm dan tidak meliputi area yang luas

serta tidak melibatkan pembuluh limfa atau pembuluh darah, penanganannya

dilakukan seperti pada KIS di atas. 10

Pada tingkat Ib dan IIa dilakukan histerektomi radikal dengan

limfadenektomi. Pasca bedah biasanya dilanjutkan dengan penyinaran, tergantung

ada atau tidaknya sel tumor dalam kelenjar linfa regional yang diangkat. 10

16
Pada tingkat IIb, III, dan IV tidak dibenarkan melakukan tindakan bedah,

untuk primer adalah radioterapi. Menurut National Cancer Institute (2008),

penanganan standart untuk tingkat IIb sampai Iva adalah radiasi dan kemoterapi.

Pada tingkat IVb radiasi hanya bersifat paliatif. Pemberian kemoterapi dapat

dipertimbangkan, walaupun belum ada standart kemoterapi yang dapat diberikan.


10

Untuk mencegah rekuren, umumnya pasien akan menjalani pemeriksaan

rutin yang meliputi perabaan pembesaran kelenjar getah bening supraklavikula,

pemeriksaan rekto-vaginal, dan sitologi setiap 3-4 bulan dalam dua tahun pertama.

Setelah dua tahun, pemeriksaan dapat dilakukan lebih jarang, enam bulan hingga

lima tahun paska terapi, untuk selanjutnya satu tahun sekali.10

2.10 Komplikasi

Komplikasi berkaitan degan intervensi pembedahan sudah sangat menurun

yang berhubungan dengan peningkatan teknik-teknik pembedahan tersebut.

Komplikasi tersebut meliputi : fistula uretra, disfungsi kandung kemih, emboli

pulmonal, limfosit, infeksi pelvis, obstruksi usus besar dan fistula rektovaginal.

Komplikasi yang dialami segera saat terapi radiasi adalah reaksi kulit, sistisis,

radiasi dan enteritis. Komplikasi berkaitan pada kemoterapi tergantung pada

kombinasi obat yang digunakan. Masalah efek samping yang sering terjadi adalah

supresi sumsum tulang, mual dan muntah karena penggunaan kemoterapi yang

mengandung sisplatin. 9

17
2.11 Prognosis

Prognosis kanker serviks adalah buruk. Prognosis yang buruk tersebut

dihubungkan dengan 85-90 % kanker serviks terdiagnosis pada stadium invasif,

stadium lanjut, bahkan stadium terminal.3 Selama ini, beberapa cara dipakai

menentukan faktor prognosis adalah berdasarkan klinis dan histopatologis seperti

keadaan umum, stadium, besar tumor primer, jenis sel, derajat diferensiasi Broders.

Prognosis kanker serviks tergantung dari stadium penyakit. Umumnya, 5-years

survival rate untuk stadium I lebih dari 90%, untuk stadium II 60-80%, stadium III

kira - kira 50%, dan untuk stadium IV kurang dari 30%3

1. Stadium 0100 % penderita dalam stadium ini akan sembuh

2. Stadium 1

Kanker serviks stadium I sering dibagi menjadi IA dan IB. Dari semua

wanita yang terdiagnosis pada stadium IA memiliki 5-years survival rate

sebesar 95%. Untuk stadium IB 5-years survival rate sebesar 70 sampai

90%. Ini tidak termasuk wanita dengan kanker pada limfonodi mereka.

3. Stadium 2

Kanker serviks stadium 2 dibagi menjadi 2, 2A dan 2B. Dari semua

wanita yang terdiagnosis pada stadium 2A memiliki 5-years survival

rate sebesar 70-90%. Untuk stadium 2B 5-years survival rate sebesar 60

sampai 65%.

4. Stadium 3

Pada stadium ini 5-years survival rate-nya sebesar 30-50%.

5. Stadium 4

Pada stadium ini 5-years survival rate-nya sebesar 20-30%.

18
6. Stadium 5

Pada stadium ini 5-years survival rate-nya sebesar 5-10%.

2.12 Pencegahan

Sebagian besar kanker dapat dicegah dengan kebiasaan hidup sehat dan

menghindari faktor-faktor penyebab kanker meliputi :

1. Menghindari berbagai faktor risiko, yaitu hubungan seks pada usia muda,

pernikahan pada usia muda, dan berganti-ganti pasangan seks. Wanita yang

berhubungan seksual dibawah usia 20 tahun serta sering berganti pasangan

beresiko tinggi terkena infeksi. Namun hal ini tak menutup kemungkinan

akan terjadi pada wanita yang telah setia pada satu pasangan saja.

2. Wanita usia di atas 25 tahun, telah menikah, dan sudah mempunyai anak

perlu melakukan pemeriksaan pap smear setahun sekali atau menurut

petunjuk dokter. Pemeriksaan Pap smear adalah cara untuk mendeteksi dini

kanker serviks. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cepat, tidak sakit dengan

biaya yang relatif terjangkau dan hasilnya akurat. Disarankan untuk

melakukan tes Pap setelah usia 25 tahun atau setelah aktif berhubungan

seksual dengan frekuensi dua kali dalam setahun. Bila dua kali tes Pap

berturut-turut menghasilkan negatif, maka tes Pap dapat dilakukan sekali

setahun. Jika menginginkan hasil yang lebih akurat, kini ada teknik

pemeriksaan terbaru untuk deteksi dini kanker leher rahim, yang dinamakan

teknologi Hybrid Capture II System (HCII)

3. Pilih kontrasepsi dengan metode barrier, seperti diafragma dan kondom,

karena dapat memberi perlindungan terhadap kanker leher rahim.

19
4. Memperbanyak makan sayur dan buah segar. Faktor nutrisi juga dapat

mengatasi masalah kanker mulut rahim. Penelitian mendapatkan hubungan

yang terbalik antara konsumsi sayuran berwarna hijau tua dan kuning

(banyak mengandung beta karoten atau vitamin A, vitamin C dan vitamin

E) dengan kejadian neoplasia intra epithelial juga kanker serviks. Artinya

semakin banyak makan sayuran berwarna hijau tua dan kuning, maka akan

semakin kecil risiko untuk kena penyakit kanker mulut rahim.

5. Pada pertengahan tahun 2006 telah beredar vaksin pencegah infeksi HPV

tipe 16 dan 18 yang menjadi penyebab kanker serviks. Vaksin ini bekerja

dengan cara meningkatkan kekebalan tubuh dan menangkap virus sebelum

memasuki sel-sel serviks. Selain membentengi dari penyakit kanker serviks,

vaksin ini juga bekerja ganda melindungi perempuan dari ancaman HPV

tipe 6 dan 11 yang menyebabkan kutil kelamin.Yang perlu ditekankan

adalah, vaksinasi ini baru efektif apabila diberikan pada perempuan yang

berusia 9 sampai 26 tahun yang belum aktif secara seksual. Vaksin

diberikan sebanyak 3 kali dalam jangka waktu tertentu. Dengan vaksinasi,

risiko terkena kanker serviks bisa menurun hingga 75%.

20
BAB II
ILUSTRASI KASUS

2.1 Identitas Pasien


Nama : Ny. Rini Angriani
Umur : 33 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
Suku : Jawa
Status : Menikah
Alamat : Jl. Sri karya Rumbai-Pekanbaru
No RM : 01009031
Identitas Suami
Nama : Tn. Hamzah
Umur : 36 Tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Pedagang harian
Agama : Islam
Status : Menikah
Alamat : Kalimantan
Masuk RS tanggal 22 Februari 2019 pukul 14.49 WIB

2.2 Anamnesis
2.2.1 Anamnesis
Anamnesis (dilakukan tanggal 22 Februari 2019 secara autoanamnesis)
Keluhan utama
Keluar darah dari jalan lahir ± 2 bulan SMRS
Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengeluhkan keluar darah dari jalan lahir sejak ± 2 bulan ini sampai
ganti pembalut 3 kali dalam sehari. Darah bergumpal dan tidak berbau. Pasien hamil
anak ke 5, HPHT tanggal 10 November 2018. Pasien mengetahui bahwa pasien

21
hamil pada bulan 10 Desember 2018 (kontrol ke bidan), kontrol ke dokter
kandungan di RS di Kalimantan dikatakan plasenta di bawah dan periksa di RS lain
dengan dokter kandungan dan dikatakan hal yang sama. Dan pasien dikatakan hal
yang sama kembali di dokter kandungan lainnya. Pasien pindah ke Pekanbaru dan
dibawa ke RS Andini diperiksa oleh dokter kandungan dan dikatakan mioma
geburt. Satu hari yang lalu cek kerumah sakit Eria bunda dan dikatakan oleh dokter
kandungan pasien dengan suspek ca serviks.
Riwayat penyakit dahulu
Hipertensi (-), DM (-), asma (-), penyakit jantung (-), alergi (-), riwayat sakit
tumor/kanker tidak ada.
Riwayat haid
HPHT pasien 10 November 2018, Menarche usia 13 tahun, sebelum mengalami
penyakit inisiklus haid teratur 1x tiap bulan, siklus 28 hari, lama 5-7 hari,ganti
pembalut 2-3x/hari, nyeri (-).
Riwayat perkawinan
Menikah satu kali tahun 2004 saat usia18 tahun.
Riwayat persalinan
G5P4A0H4
1. 2005, perempuan, aterm, bidan, lahir normal, BBL 3500 gram, sehat
2. 2007, perempuan, aterm, bidan, lahir normal, BBL 3200 gr, sehat
3. 2011, laki-laki, aterm, bidan, lahir normal, BBL 3400 gr, sehat
4. 2015, laki-laki, aterm, bidan, lahir normal, BBL 3800 gr,sehat
5. Hamil saat ini
Riwayat pemakaian kontrasepsi
Pasien tidak pernah menggunakan KB selama ini
Riwayat operasi sebelumnya
Tidak ada
Riwayat sosial ekonomi
Pasien sering mengkonsumsi ayam dan daging. Setiap hari pasien juga sering
mengonsumsi sayur dan buah-buahan. Pasien saat ini merupakan Ibu rumah tangga.

22
2.2 Pemeriksaan Fisik (22/02/2019)
2.2.1 Status generalis
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Composmentis
TD : 107/60 mmHg
Nadi : 105 kali/menit
Napas :20 kali/menit
Suhu : 36,10C
BB : 64 kg
TB : 155 cm
Gizi : 26,6 (Overweight)
: Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-)
Thoraks : Paru  Gerakan dinding dada simetris, suara napas
vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Jantung  BJ 1 dan 2 reguler, takikardi, urmur (-), gallop (-)
Abdomen : Status ginekologis
Genitalia : Status ginekologis
Ekstremitas : Akral hangat, CRT >2 detik, edema (-/-)

2.2.2 Status ginekologi


Mammae : Dalam batas normal
Aksilla : Pembesaran KGB (-)
Abdomen :
Inspeksi  Perut sudah tampak membuncit
Palpasi  TFU setinggipertengahan pusat hingga simpisis pubis,nyeri tekan (-
), defans muskular (-)
Pemeriksaan ginekologi:
 Inspeksi : Vulva/uretra tampak darah
 Inspekulo : tampak massa padat, berbenjol-benjol, darah (+)
Portio :Portio tidak dapat dinilai

23
 Pemeriksaan dalam/ bimanual :
Vagina : Rugae(+),nyeri tekan (-).
Portio : Teraba massa padat, berbenjol-benjol, nyeri goyang
(-), nyeri tekan (+).
Korpus uteri : Antefleksi
Adneksa dan parametrium: Massa adneksa kanan dan kiri (-/-), parametrium
kanan dan kiri tidak teraba massa.
 Rectal Toucher : Tidak dilakukan

Poli Onkologi (23 Februari 2019) dr. Ari Hidayat, Sp/OG(K)


Vulva : Tenang
Vagina : Darah (-)
Portio : Bulking 5x4x4
Diagnosis : Ca Cervix IB2 (Bulking)
Gravid 14-15 minggu
Anemia ec perdarahan

24
2.2.3 Pemeriksaan Laboratoratorium
darah rutin (22/02/2019)
Hb : 7,4gr/dl
Ht : 23,1 %
Leukosit : 7.310 /ul
Trombosit : 293.000/ul MCV : 84,3 fl
MCH : 27 pg MCHC : 32 g/dl

25
2.2.4 Diagnosis Kerja
G5P4A0H4 Gravida 15-16 minggu dengan PUA ec. Mioma geburt DD Ca Serviks +
Anemia

2.2.5 Usulan Pemeriksaan Penunjang


 USG

Hasil :
USG (26/2/2019) :

Janin tunggal BPD gravid 15-16 minggu, tampak massa di depan serviks menutupi setengah
vagina
Kesan: Mioma intramural dengan submucosa

2.6 Diagnosis
G5P4A0H4 Gravida 15-16 minggu dengan PUA ec. Mioma geburt DD Ca
Serviks+Anemia

2.7 Tata Laksana


1. Observasi KU, TTV, perdarahan, tanda-tanda infeksi
2. IVFD RL  30tpm
3. Rencana transfusi PRC 3 labu

26
4. Atasi perdarahan : Inj. IV asam traneksamat 3x500 mg
5. Vitamin : Hemafort tablet 1x1
6. Pemasangan tampon untuk menghentikan perdarahan
2.8 Rencana : biopsi
2.9 Prognosis : dubia

Follow up pre op

Tgl/
Perjalanan Penyakit Tata Laksana
Jam
22- S: Perdarahan dari jalan lahir (+)  Observasi KU, TTV,
02- O: KU : tampak sakit sedang, kesadaran : compos perdarahan, tanda-tanda
2019 mentis infeksi.
18.30 TD: 104/75 mmHg; N: 112x/menit; RR: 18x/menit; S:  IVFD RL 30 tpm
WIB 36,70C  Inj. Asam traneksamat 3 x
St.generalis : 500 mg IV
Mata : Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-)  Hemafort 1x1 tab
Thorax: paru : vesikuler (+/+), ronkhi (-/-) wheezing  Transfusi PRC 3 lb
(-/-)  Besok pagi aff tampon
Jantung : S1 dan S2 reguler, murmur (-/-), gallop (-/-)  Konsul onkologi
Abdomen: BU (+),Supel, TFU setinggi pertengahan
pusat hingga simpisis pubis, nyeri tekan (-), defans
muskular (-)
St. ginekologi
Genitalia eksterna:V/U terlihat perdarahan aktif (+)

A: G5P4A0H4 Gravida 15-16 minggu dengan PUA


ec. Mioma geburt DD Ca Serviks+Anemia

23- S: Perdarahan dari jalan lahir (+)  Observasi KU, TTV,


02- O: KU : tampak sakit sedang, kesadaran : compos perdarahan, tanda-tanda
2019 mentis infeksi.
08.00 TD: 100/70 mmHg; N: 98x/menit; RR: 18x/menit; S:  IVFD RL 30 tpm
WIB 36,70C

27
St.generalis :  Inj. Asam traneksamat 3 x
Mata : Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-) 500 mg IV
Thorax: paru : vesikuler (+/+), ronkhi (-/-) wheezing  Hemafort 1x1 tab
(-/-)  Transfusi PRC 3 lb
Jantung : S1 dan S2 reguler, murmur (-/-), gallop (-/-)  Aff tampon hari ini
Abdomen: BU (+),Supel, TFU setinggi pertengahan  Jawaban konsul: rencana
pusat hingga simpisis pubis, nyeri tekan (-), defans dilakukan biopsy bila HB
muskular (-) >20 gr%
St. ginekologi
Genitalia eksterna:V/U terlihat perdarahan aktif (+)

A: G5P4A0H4 Gravida 15-16 minggu dengan PUA


ec. Mioma geburt DD Ca Serviks+Anemia

23- S: Pasien mengeluhkan menggigil saat dilakukan  Observasi KU, TTV,


02- transfusi (+) perdarahan, tanda-tanda
2019 O: KU : tampak sakit sedang, kesadaran : compos infeksi.
12.45 mentis  IVFD PRC II labu
WIB TD: 120/70 mmHg; N: 87x/menit; RR: 18x/menit; S: terpasang sisa 75 ml
36,90C  Stop tranfusi darah
St.generalis :  Menghubungi dr. Ruza
Mata : Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-) Rustam Sp.OG
Thorax: paru : vesikuler (+/+), ronkhi (-/-) wheezing menyarankan pasang
(-/-) tampon bulat + efinefrin ,
Jantung : S1 dan S2 reguler, murmur (-/-), gallop (-/-) dan besok aff tampon.
Abdomen: BU (+),Supel, TFU setinggi pertengahan  Inj. Asam traneksamat 3 x
pusat hingga simpisis pubis, nyeri tekan (-), defans 500 mg IV
muskular (-)  Inj. Ceftriaxon 2x1 gr
St. ginekologi
Genitalia eksterna:V/U terlihat perdarahan aktif (+)

A: G5P4A0H4 Gravida 15-16 minggu dengan PUA


ec. Mioma geburt DD Ca Serviks+Anemia

28
24- S: Pasien mengeluhkan badan lemas (+)  Observasi KU, TTV,
02- O: KU : tampak sakit sedang, kesadaran : compos perdarahan, tanda-tanda
2019 mentis infeksi.
03.00 TD: 90/60 mmHg; N: 90x/menit; RR: 20x/menit; S:  IVFD RL 30 tpm
WIB 36,60C  Tampon + efinefrin (
St.generalis : terpasang)
Mata : Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-)  Sedang tranfusi labu ke III
Thorax: paru : vesikuler (+/+), ronkhi (-/-) wheezing PRC
(-/-)  Inj. Asam traneksamat 3 x
Jantung : S1 dan S2 reguler, murmur (-/-), gallop (-/-) 500 mg IV
Abdomen: BU (+),Supel, TFU setinggi pertengahan
pusat hingga simpisis pubis, nyeri tekan (-), defans
muskular (-)
St. ginekologi
Genitalia eksterna: Inspeksi: V/U tenangterlihat
perdarahan aktif (+)
Inpekulo : tampak massa rapuh, mudah berdarah, tak
tampak OUE.
VT : Massa berbenjol, sulit dinilai adneksa
parametrium lemas.

A: G5P4A0H4 Gravida 15-16 minggu dengan PUA


ec. Mioma geburt DD Ca Serviks+Anemia

25- S: Pasien mengeluhkan keluar darah sedikit dari  Observasi KU, TTV,
02- kemaluan (+) perdarahan, tanda-tanda
2019 O: KU : Baik, kesadaran : compos mentis infeksi.
08.00 TD: 100/60 mmHg; N: 90x/menit; RR: 20x/menit; S:  IVFD RL30 tpm
WIB 36,60C  Post tranfusi labu ke III
St.generalis : => Hb 8,9
Mata : Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-)  Inj. As. Traneksamat 3 x
500 mg.

29
Thorax: paru : vesikuler (+/+), ronkhi (-/-) wheezing  Inj. Ceftriaxon 2x1 gr
(-/-)  Saran konfirmasi dengan
Jantung : S1 dan S2 reguler, murmur (-/-), gallop (-/-) onkologi.
Abdomen: BU (+),Supel, TFU setinggi pertengahan
pusat hingga simpisis pubis, nyeri tekan (-), defans
muskular (-)
St. ginekologi
Genitalia eksterna: Inspeksi: V/U tenangterlihat
perdarahan aktif (+)

A: G5P4A0H4 Gravida 15-16 minggu dengan PUA


ec. Mioma geburt DD Ca Serviks+Anemia

26- S: Pasien mengeluhkan keluar darah dari kemaluan (+)  Observasi KU, TTV,
02- O: KU : Baik, kesadaran : compos mentis perdarahan, tanda-tanda
2019 TD: 100/70 mmHg; N: 96x/menit; RR: 20x/menit; S: infeksi.
07.00 36,30C  R/Melanjutkan pemberian
WIB St.generalis : kalnex 3x1 ampul
Mata : Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-)  Konsul fetomaternal
Thorax: paru : vesikuler (+/+), ronkhi (-/-) wheezing pertimbangkan kelanjutan
(-/-) kehamilan
Jantung : S1 dan S2 reguler, murmur (-/-), gallop (-/-)
Abdomen: BU (+),Supel, TFU setinggi pertengahan
pusat hingga simpisis pubis, nyeri tekan (-), defans Jawaban konsul (Dr.dr.
muskular (-) Zulmaeta, Sp.OG(K) :
- Dilakukan USG dengan
A: G5P4A0H4 Gravida 15-16 minggu dengan PUA hasil : janin tunggal
ec. Mioma geburt DD Ca Serviks+Anemia gravid 15-16 minggu,
tampak massa di depan
serviks menutupi
setengah vagina
Status ginekologis:

30
Inspeksi : vulva uretra
tenang, perdarahan (+)
merembes
Inspekulo : tampak massa
bulat, diameter ±6-7 cm,
rapuh, mudah berdarah,
permukaan berbenjol-benjol
VT : teraba massa bulat,
lunak, teraba portio di
belakang massa teraba
bertangkai
Kesan : mioma geburt

- Saran: tunggu aterm lalu


terminasi, eksterpasi

31
27- S: Pasien mengeluhkan keluar darah sedikit dari  Observasi KU, TTV,
02- kemaluan (+) nyeri kepala (+), demam (+) perdarahan, tanda-tanda
2019 O: KU : Baik, kesadaran : composmentis infeksi.
07.00 TD: 120/80 mmHg; N: 80x/menit; RR: 20x/menit; S:  Tranfusi sampai dengan
WIB 39 0C Hb > 10 gr/dL. Tranfusi 1
St.generalis : labu PRC => cek DPL
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) ulang.
Thorax: paru : vesikuler (+/+), ronkhi (-/-) wheezing  Inj. Asam traneksamat 3 x
(-/-) 500 mg IV
Jantung : S1 dan S2 reguler, murmur (-/-), gallop (-/-)  Inj . Vit K 3 x 1 amp
Abdomen: BU (+),Supel, TFU setinggi pertengahan  Inf. Paracetamol 3 x 1 gr
pusat hingga simpisis pubis, nyeri tekan (-), defans
muskular (-)
St. ginekologi

A: G5P4A0H4 Gravida 15-16 minggu dengan PUA


ec. Mioma geburt DD Ca Serviks+Anemia

32
28- S: Demam sudah turun, lemas, mual, pusing kepala,  Observasi KU, TTV,
02- keluar darah dari kemaluan. perdarahan, tanda-tanda
2019 O: KU : Baik, kesadaran : composmentis infeksi.
07.00 TD: 120/80 mmHg; N: 80x/menit; RR: 20x/menit; S:  Tranfusi 1 labu PRC.
WIB 37,30C Hb : 8,9 g/dL  Inj. Asam traneksamat 3 x
St.generalis : 500 mg IV
Mata : Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-)  Inj . Vit K 3 x 1
Thorax: paru : vesikuler (+/+), ronkhi (-/-) wheezing
(-/-)
Jantung : S1 dan S2 reguler, murmur (-/-), gallop (-/-)
Abdomen: BU (+),Supel, TFU setinggi pertengahan
pusat hingga simpisis pubis, nyeri tekan (-), defans
muskular (-)
St. ginekologi
Genitalia eksterna: Inspeksi: V/U tenangterlihat
perdarahan aktif (+)

A: G5P4A0H4 Gravida 15-16 minggu dengan PUA


ec. Mioma geburt DD Ca Serviks+Anemia

33
01- S: Demam (-), perdarahan (-)  Observasi KU, TTV,
03- O: KU : Baik, kesadaran : composmentis perdarahan, tanda-tanda
2019 TD: 110/90 mmHg; N: 80x/menit; RR: 20x/menit; S: infeksi.
07.00 36,30C Hb St.generalis :  Inj. Asam traneksamat 3 x
WIB Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) 500 mg IV
Thorax: paru : vesikuler (+/+), ronkhi (-/-) wheezing  Inj . Vit K 3 x 1
(-/-)  Terpasang DC (+) post
Jantung : S1 dan S2 reguler, murmur (-/-), gallop (-/-) tranfusi labu ke IV sisa 1
Abdomen: BU (+),Supel, TFU setinggi pertengahan labu PRC
pusat hingga simpisis pubis, nyeri tekan (-), defans  Rencana pagi ini transfusi
muskular (-) 1 PRC
St. ginekologi
Genitalia eksterna: Inspeksi: V/U tenang, terlihat
perdarahan aktif (+)

A: G5P4A0H4 Gravida 15-16 minggu dengan PUA


ec. Mioma geburt DD Ca Serviks+Anemia

34
02- S: Demam (-), perdarahan (-)  Observasi KU, TTV,
03- O: KU : Baik, kesadaran : composmentis perdarahan, tanda-tanda
2019 TD: 110/70 mmHg; N: 82x/menit; RR: 20x/menit; S: infeksi.
07.00 36,40C Hb St.generalis :  IVFD RL 20 tpm
WIB Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)  Inj. Asam traneksamat 3 x
Thorax: paru : vesikuler (+/+), ronkhi (-/-) wheezing 500 mg IV
(-/-)  Inj . Vit K 3 x 1
Jantung : S1 dan S2 reguler, murmur (-/-), gallop (-/-)  Rencana besok ekstirpasi
Abdomen: BU (+),Supel, TFU setinggi pertengahan jam 13.00
pusat hingga simpisis pubis, nyeri tekan (-), defans  Sudah acc Anestesi
muskular (-)
St. ginekologi
Genitalia eksterna: Inspeksi: V/U tenangterlihat
perdarahan aktif (+)

A: G5P4A0H4 Gravida 15-16 minggu dengan PUA


ec. Mioma geburt DD Ca Serviks+Anemia

Laporan Tindakan :
TANGGAL DAN WAKTU RUANG KELAS
2 Maret 2019 Jam 13.30 WIB OK IGD
DIAGNOSIS PRA OPERASI :G5P4A0H4 Gravida 15-16 minggu dengan susp.
Mioma geburt + susp. Ca Serviks
DIAGNOSIS PASCA OPERASI :G5P4A0H4 Gravida 15-16 minggu post biopsi ec
susp. Ca Serviks
JARINGAN YANG DIEKSISI/ INSISI :
DIKIRIM UNTUK PEMERIKSAAN : Ya
NAMA JENIS OPERASI : Biopsi
TANGGAL JAM OPERASI LAMA ANESTESI BERLANGSUNG
OPERASI 13.30 WIB -

35
02-03-2019
1. Pasien terlentang di atas meja operasi dalam posisi litotomi dengan TIVA anestesi.
2. Asepsis dan antisepsis daerah genitalia
3. Dipasang duk steril, dipasang spekulum vagina
4. Tampak portio bulki, tampak bagian yang mudah berdarah
5. Dilakukan biopsi, perdarahan (+) ditampon dengan tapressure
6. Setelah dipastikan tidak ada perdarahan aktif, speculum dibuka tindakan selesai
INSTRUKSI PERAWATAN PASCA OPERASI
1. IVFD RL 20 tpm
2. Inj. IV ceftriaxon2 gr
3. Tunggu hasil biopsi
4. Jika didapatkan hasil biopsi keganasan konsul onkologi

Foto operasi

36
Follow up post op
Tgl/
Perjalanan Penyakit Tata Laksana
Jam
03- S: pasien mengeluhkan keluar darah (+), demam (-)  Observasi KU, TTV,
03- O: KU : Baik, kesadaran : composmentis perdarahan, tanda-tanda
2019 TD: 110/70 mmHg; N: 90x/menit; RR: 20x/menit; S: infeksi.
07.00 36,70C  Inj. Asam traneksamat 2 x
WIB St.generalis : 500 mg IV
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)  Inj . Vit K 1 x 1 amp
Thorax: paru : vesikuler (+/+), ronkhi (-/-) wheezing  Terpasang DC (+)
(-/-)
Jantung : S1 dan S2 reguler, murmur (-/-), gallop (-/-)
Abdomen: BU (+),Supel, TFU setinggi pertengahan
pusat hingga simpisis pubis, nyeri tekan (-), defans
muskular (-)

A: G5P4A0H4 Gravida 14-15 minggu post biopsi ec.


Susp. Ca cerviks hari ke- I

37
04- S: pasien mengeluhkan keluar darah (-), demam (-)  Observasi KU, TTV,
03- O: KU : Baik, kesadaran : composmentis perdarahan, tanda-tanda
2019 TD: 110/70 mmHg; N: 80x/menit; RR: 20x/menit; S: infeksi.
07.00 36,50C  Asam traneksamat 3 x 500
WIB St.generalis : mg p.o
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)  Aff DC dan infus
Thorax: paru : vesikuler (+/+), ronkhi (-/-) wheezing  Pasien boleh pulang
(-/-)
Jantung : S1 dan S2 reguler, murmur (-/-), gallop (-/-)
Abdomen: BU (+),Supel, TFU setinggi pertengahan
pusat hingga simpisis pubis, nyeri tekan (-), defans
muskular (-)

A: G5P4A0H4 Gravida 14-15 minggu post biopsi ec.


Susp. Ca cerviks hari ke-II

38
Advice dr.Ari Hidayat,Sp.OG(K):
Konservatif
Rencana Kemoterapi 3x/3minggu,mulai 22-4-2019
Rencana terminasi SC pada usia kehamilan 34 minggu atau tbj 2000 gram
Cek darah lengkap
Konferensi untuk penatalaksanaan = Onkologi+Fetomaternal+komite etik

USG dengan dr.Ari Hidayat,Sp.OG(K) 19/04/2019: Janin tunggal hidup intra uterin
BPD : 5,39 cm,FL: 3,72 cm AC: 17,30 cm
GA: 22w0d
Plasenta Corpus posterior ,maturasi grade 1-2
Ketuban cukup

Kemoterapi
1. 22/04/2019
2. 20/05/2019

39
40
24/05/2019:
Pasien masuk via IGD RSUD AA dengan keluhan utama : perdarahan dari jalan lahir

KU : Perdarahan dari jalan lahir


RPS : Pasien mengaku keluar darah dari jalan lahir sebanyak 1 pampers orang dewasa + 2
gumpalan darah sebesar tinju orang dewasa. Pasien merasa pusing, lemas, dan keringat dingin.
Perdarahan terjadi tiba-tiba sejak 5 jam yang lalu. Pasien diketahui menderita ca cerviks sejak
3 bulan yang lalu dan telah menjalani kemoterapi sebanyak 2 siklus (per 3 minggu), terakhir 4
hari yang lalu. Rencana kemoterapi per 3 minggu.
Keluar air-air (-), Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari (-) . Keputihan (-), demam selama hamil
(-), gigi berlubang (-), nyeri berkemih (-). Pasien mengaku hamil 7 bulan dengan HPHT 10-
11-2018. Pasien selama ini kontrol kehamilan setiap bulan dan dilakukan USG. Dari USG
dikatakan ada janin dalam keadaan baik.
RPD/RPK : HT(-), DM(-), keputihan(-), asma(-), alergi (-), peny. jantung: tidak ada,
riwayat keganasan (-).
Riw. Menstruasi: Menarche di usia 13 thn, teratur, lama haid 4-5 hari, ganti pembalut
2-3x/hr, nyeri haid (-)

41
Riw. Pernikahan :
2x. I. tahun 2004. II. Tahun 2018
Riw Obstetri :
1.2005/ aterm/bidan/ 3500 gr/ perempuan/normal
2.2007/aterm/bidan/3200 gr/ perempuan/normal
3.2011/aterm/bidan/3400 gr/ perempuan/normal
4.2015/aterm/bidan/3800 gr/perempuan/normal
5. hamil saat ini

Riw. Kontrasepsi : Tidak pernah


Riw. Sosial-Ekonomi : Istri IRT,suami swasta
Pemeriksaan Fisik : (setelah resusitasi)
KU : baik , compos mentis
BBSH: 57 kg, BBH : 62 kg, TB 155 cm, BMI : 26,2(overweight)
TD 110/80 mmHg, N 92 x/m, RR 18x/m, S 36,80C
Status Generalis :
Mata : Conjungtiva anemis +/+, sklera ikterik -/-
Thorax :
Cor : S1 dan S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
Pulmo : Simetris, vesikuler (+/+), wheezing -/-, ronkhi -/-
Abdomen : Status lokalis,
TFU 2 jari di atas pusat
TFU 22 cm TBJ klinis 1395 gram
DJJ 150 x/i
Balotement (+)
Extremitas : Akral hangat, CRT<2”, udem (-/-)
Inspeksi
Vulva : tampak darah pada kemaluan, perdarahan aktif (-), Uretra : tampak tenang
I/O : tidak dilakukan
VT : tidak dilakukan
Darah rutin (25/05/2019)
Hb : 9.1 gr/dl
Ht : 39.5 %
Leukosit : 13.280 /ul

42
Trombosit : 296.000/ul MCV : 82.9 fl
MCH : 28.5 pg MCHC : 34.4 g/dl
PT/APTT: 12.3/30.9
UR/CR: 17/10.7
OT/PT: 17/16
HIV/HbsAg : non reaktiv

WD/
G5P4A0H4 gravid 27-28 minggu + perdarahan pervaginam ec ca servix + anemia
normositik normokrom
Janin tunggal hidup intrauterine
Penatalaksanaan :
• Obs KU, TTV, kontraksi, DJJ, tanda fetal distress, tanda perdarahan
• IVFD RL loading 1 kolf  maintenance IVFD RL 20 tpm
• Inj asam traneksamat tab 3 x 1000 gram
• PRC 1 labu
• WB 1 labu
• Cek GDT sebelum transfusi
• Pasang tampon vagina

43
Interpretasi USG:
• Janin tunggal hidup intrauterine letak kepala
• Aktifitas dan gerak janin baik
• Biometri
– BPD 6,9 cm ~ 29 w
– AC 24 cm ~ 28 w
– FL 5 cm ~29 w
– EFW 1153 gram
• FM + FHR +

44
• Plasenta corpus anterior maturasi grade I
• Air ketuban jernih jumlah cukup MVP 5,61
Kesan : janin tunggal hidup intrauterine letak kepala 27-28 minggu

Hasil Gambaran darah tepi (25/5/19):


• Sediaan dipulas : wright giemsa
• Eritrosit : normokrom anisositosis, sigar (+)
• Leukosit : jumlah cukup, netrofilia shift to the right
• Trombosit : jumlah cukup, giant trombosit (+)
Kesan : anemia penyakit kronik ec susp infeksi/inflamasi
Saran : periksa CRP, ferritin, besi serum, TIBC

Follow up
Tgl/
Perjalanan Penyakit Tata Laksana
Jam
25- S: Perdarahan dari jalan lahir (-),Nyeri pinggang  Observasi KU, TTV,
05- menjalar ke ari-ari (-), keluar air-air (-), keluar lendir perdarahan, tanda-tanda
2019 darah (-), gerakan janin dirasakan aktif, infeksi.
06.00  IVFD RL : D5 = 2:1 / 24
O: KU : tampak sakit sedang, kesadaran : compos
WIB jam
mentis
 Inj.asam traneksamat 3 x
TD: 120/80 mmHg; N: 88x/menit; RR: 18x/menit; S:
1000 mg
36,70C
 Transfusi WB 1 labu
St.generalis :
Mata : Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-)  PRC 1 labu

Thorax: paru : vesikuler (+/+), ronkhi (-/-) wheezing  Diet TKTP


(-/-)
Jantung : S1 dan S2 reguler, murmur (-/-), gallop (-/-)
Abdomen: BU (+),Supel, TFU Dua jari diatas pusat,
nyeri tekan (-), defans muskular (-)
St. ginekologi
Genitalia eksterna:V/U terlihat perdarahan aktif (-)

45
A: G5P4A0H4 gravid 27-28 minggu + perdarahan
pervaginam ec ca servix Stadium IB (dalam
kemoterapi) + anemia normositik normokrom
Janin tunggal hidup intrauterine
25- S: Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari (-), keluar air-  Loading dose MgSO4
05- air (-), keluar lendir darah (-), gerakan janin dirasakan 40% dilanjutkan dengan
2019 aktif, kejang (+), hematemesis (+) maintenance dose 2 gr /
23.30 jam
O: KU : tampak sakit berat, kesadaran : Apatis
WIB  Cek Ureum/Creatinin
TD 110/80
 Cek urin rutin dan
N 86 x/I
elektrolit
RR 22x/m
 Cek GDS
T 37,4
Djj: 134x/i
Hasil:
St.generalis :
Hb: 7.4gr/dl
Mata : Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-)
Ht : 21.9%
Thorax: paru : vesikuler (+/+), ronkhi (-/-) wheezing
Leukosit : 4280/ul
(-/-)
Trombosit : 131.000/ul
Jantung : S1 dan S2 reguler, murmur (-/-), gallop (-/-)
MCV: 81.1fl
Abdomen: BU (+),Supel, TFU 2 jari diatas pusat ,
MCH : 27.8pg
nyeri tekan (-), defans muskular (-)
MCHC:34.2 g/dl
St. ginekologi
UR/CR: 17/0.78
Genitalia eksterna:V/U terlihat perdarahan aktif (-)
HIV/HbsAg : non reaktiv
Na+:140
A: G5P4A0H4 gravid 27-28 minggu + perdarahan
K+:3.5
pervaginam ec ca servix Stadium IB (dalam
Cl:108
kemoterapi) + anemia normositik normokrom
GDS:158
Seizure ec ?
Protein urine +1
Janin tunggal hidup intrauterine

46
CT SCAN:

Follow up
Tgl/
Perjalanan Penyakit Tata Laksana
Jam
26- S: Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari (-), keluar air-  Observasi KU, TTV,
05- air (-), keluar lendir darah (-), gerakan janin dirasakan perdarahan, tanda-tanda
2019 aktif, kejang (-), lemas (+), demam (+) infeksi.
06.00  Regimen MgSO4 di stop
O: KU Tampak sakit berat, Kes CM
WIB  Inj. Asam tranexamat 3 x
TD 120/80 500 mg
N 80 x/I

47
RR 20x/m  Inf. Paracetamol 3 x 1000
T 37,3 gram
St.generalis :  Transfusi 1 PRC bila
Mata : Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-) bebas demam
Thorax: paru : vesikuler (+/+), ronkhi (-/-) wheezing  Inj. Ceftriaxone 2 x 1
(-/-) gram iv
Jantung : S1 dan S2 reguler, murmur (-/-), gallop (-/-)  Obs KU, Kes, TV, DJJ,
Abdomen: BU (+),Supel, TFU Dua jari diatas pusat, tanda perdarahan, tanda
nyeri tekan (-), defans muskular (-) kejang
St. ginekologi  Aff tampon 27/4/2019
Genitalia eksterna:V/U terlihat perdarahan aktif (-)  konsul neurologi (sudah
telfon 3x tidak diangkat)
A: G5P4A0H4 gravid 27-28 minggu + perdarahan  Pasien pindah ICU begitu
pervaginam ec ca servix Stadium IB (dalam ada ICU yang kosong
kemoterapi) + anemia normositik normokrom +
seizure ec (?)
Janin tunggal hidup intrauterine

Ming dr.Ari Hidayat, SpOG(K) visite ke ICU  SC Cito, siapkan PRC 4


gu, 26 labu. Pertimbangan untuk
S: Penurunan kesadaran. Nyeri pinggang menjalar ke
Mei histerektomi durante
ari-ari (-), keluar air-air (-), keluar lendir darah (-),
2019 operasi
gerakan janin dirasakan aktif, kejang (-)
11.00  Regimen MgSO4 40%
WIB O: KU : tampak sakit berat,Kes Apatis E3M4V2 maintenance dose 1
(ICU) (GCS 9) gram/jam pre op
TD 90/60  Inj. Asam tranexamat 3 x
N 118 x/I 500 mg
RR 20x/m  Inf. Paracetamol 4 x 1000
T 37,3 gram
Djj: 134x/i  Inj. Ceftriaxone 2 x 1
St.generalis : gram iv (sekaligus
Mata : Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-) antibiotic pre op)
 Aff tampon 27/4/2019

48
Thorax: paru : vesikuler (+/+), ronkhi (-/-) wheezing  Post operasi ICU
(-/-)  Co anestesi dan anak : (+),
Jantung : S1 dan S2 reguler, murmur (-/-), gallop (-/-) acc
Abdomen: BU (+),Supel, TFU 2 jari diatas pusat ,
nyeri tekan (-), defans muskular (-)
St. ginekologi
Genitalia eksterna:V/U terlihat perdarahan aktif (-)

A: G5P4A0H4 gravid 27-28 minggu + perdarahan


pervaginam ec ca servix Stadium IB (dalam
kemoterapi) + eklampsia gravidarum, anemia
normositik normokrom
Janin tunggal hidup intrauterine

Laporan operasi: Dilakukan Sectio Caesarea ( 14.20-15.20 WIB)

 Pasien terlentang dimeja operasi dalam general anestesi


 Asepsis dan antisepsis daerah operasi dan sekitarnya dengan larutan betadin 10%
didaerah abdomen diperluas ke daerah genitalia eksterna dan 1/3 proksimal femur
bagian depan dan dalam.
 Daerah operasi diperkecil dengan menutupkan duk steril. Duk pertama dipasang
mulai setinggi simpisis pubis sampai kebawah menutupi ujung kaki, duk kedua
dipasang setinggi pusat sampai menutupi kepala, dua buah duk dipasang dikiri dan
kanan linea mediana inferior
 Di lakukan insisi mediana setinggi atas simfisis hingga bawah umbilikus, dinding
abdomen dibuka lapis demi lapis sampai peritoneum
 Setelah peritoneum dibuka, tampak uterus gravidus
 Dilakukan insisi semilunar, SBR disayat konkaf ke atas, ditembus dan dilebarkan
secara tumpul, air ketuban jumlah cukupp, jernih.
 Bayi dilahirkan dengan ekstraksi bokong. Pukul 14.25 WIB, lahir hidup bayi
perempuan BB 950 g, PB 34 cm, A/S 4/5, BS 26-28 minggu
 Dengan tarikan ringan pada tali pusat, lahir plasenta, selaput dan kotiledon lengkap
dengan berat 150 gr.

49
 OUI tidak dibuka oleh karena ada massa di serviks
 Uterus dikeluarkan dari rongga abdomen, kavum uterus dibersihkan dengan kasa dari
sisa selaput.
 Dilakukan penjahitan lapisan miometrium 2 lapis dengan jahitan jelujur, dengan
benang crhomic cat gut No. 1. Plika vesiko uterina dijahit jelujur dengan benang
chromic catgut no.1.
 Kedua tuba dan ovarium dalam batas normal
 Tampak invasi massa ca cervix isthmus- corpus lateral kiri dan corpus posterior,
perdarahan (+), tidak melekat dengan jaringan sekitarnya
 Dilakukan tubektomi pomeroy bilateral
 Dilakukan hemostasis perdarahan dari tumor bed lateral dan posterior dengan blood
absorber dan jahitan situasional
 Diyakini hemostasis baik, kontraksi uterus baik (diputuskan untuk tidak melakukan
histerektomi total)
 Dipastikan alat dan kassa lengkap, uterus dimasukkan kembali kedalam rongga
abdomen
 Dilakukan eksplorasi dan pembersihan rongga abdomen dari darah.
 Kontraksi uterus baik, dinding abdomen dijahit lapis demi lapis, sebagai berikut:
o peritoneum dijahit jelujur dengan plain cat gut no. 2/0.
o Otot dijahit satu persatu dengan plain catgut no 2/0
o Facia dijahit jelujur dengan vicril no 1
o Sub kutis dijahit satu satu dengan plain 2/0
o Kulit dijahit subkutikuler dengan vicril 3.0
Tindakan selesai
Perdarahan intra operatif 250 cc, urine jernih 300cc

50
• Diagnosa post op :
P5A0H5 post SCTPP ai eklampsia gravidarum
Post tubektomi pomeroy bilateral
Post hemostasis tumor bed
Anemia normositik normokrom ec perdarahan pada Ca cervix st 1B2
Instruksi post op :
1. Rawat ICU
2. Observasi TV per 4 jam
3. Observasi tanda-tanda perdarahan aktif, eklampsia, balance cairan. CM
= CK + 500 ml
4. IVFD aminofluid : RL 1:2 drip oksitosin 2 amp 10 tpm hingga 24 jam
post partum
5. Pasien dipuasakan hingga BU (+)
6. DC (+)
7. Transfusi PRC hingga Hb >10 gr/dl. Post transfusi 5 kantong darah, inj
ca glukonas 1 amp
8. Besok pagi cek DR, OT, PT, albumin, Ur, creatinine
9. Aff tampon senin 27/5/2019
10. Obat :
a. Drip SM 1 gram/jam selama 24 jam
b. Pronalges supp 3 x II
c. Inj asam tranexamat 3x500 mg

51
d. Inj vit K 3x1 amp
e. Inj Ceftriaxone 2x1 gram
f. Bila demam, PCT infus 3 x 1000 mg, pronalges tidak usah
Follow up
Tgl/
Perjalanan Penyakit Tata Laksana
Jam
27 S: Penurunan kesadaran (dalam sedasi midazolam),  Observasi KU, TTV,
Mei post operasi perdarahan,
2019  Observasi tanda-
O: KU : tampak sakit berat
06.00 tanda perdarahan
WIB Kes Apatis E3M4Vett aktif, eklampsia,
TD 120/80 balance cairan. CM =
N 118 x/I CK + 500 ml
RR 20x/m  IVFD aminofluid :
T 37,3 RL 1:2 drip oksitosin
St.generalis : 2 amp 10 tpm hingga
Mata : Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-) 24 jam post partum
Thorax: paru : vesikuler (+/+), ronkhi (-/-) wheezing  Pasien dipuasakan
(-/-) hingga BU (+)
Jantung : S1 dan S2 reguler, murmur (-/-), gallop (-/-)  DC (+)
Abdomen: BU (+),Supel, TFU tiga jari dibawah pusat  Transfusi PRC
St. ginekologi hingga Hb >10 gr/dl.
Genitalia eksterna:V/U terlihat perdarahan aktif (-) Post transfusi 5
kantong darah, inj ca
A: P5A0H5 post SCTPP ai eklampsia gravidarum. glukonas 1 amp.
Post tubektomi pomeroy bilateral (SUDAH
Post hemostasis tumor bed. Anemia normositik TRANSFUSI 5 labu
normokrom ec perdarahan pada Ca cervix st 1B2 PRC)
Pagi ini cek DR, OT, PT,
albuin, Ur, creatinine
Aff tampon senin 27/5/2019
Obat :

52
Drip SM 1 gram/jam
selama24 jam
Pronalges supp 3 x II
Inj asam tranexamat
3x500mg
Inj vit K 3x1 amp
Inj Ceftriaxone 2x1 gram
Bila demam, PCT infus 3 x
100 mg, pronalges tidak
perlu
Terapi anestesi: Miloz
1mg/jam

53
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Faktor Resiko Terjadinya Kanker Serviks pada Kehamilan


Beberapa penyebab atau faktor resiko terjadinya kanker serviks pada kehamilan adalah
:
 Wanita di atas usia 50 tahun
 Penderita Endometrial hyperplasia
Endometrial hyperplasia merupakan suatu peningkatan dalam jumlah sel-sel lapisan
rahim/uterus. Itu bukan kanker. Namun, terkadang itu dapat berkembang menjadi
kanker. Periode-periode menstruasi yang berat, perdarahan diantara periode-periode
dan setelah menopause adalah gejala-gejala umum dari hyperplasia.
 Terapi sulih hormon/HRT (Hormone replacement therapy)
Terapi ini, digunakan untuk mengatasi gejala-gejala menopause, mencegah
osteoporosis/pengeroposan tulang, dan mencegah resiko penyakit jantung dan stroke.
Wanita yang menggunakan hormon estrogen tanpa progesteron mempunyai suatu
peningkatan resiko kanker kandungan, terutama bagi yang menggunakannya dengan
dosis tinggi dalam jangka panjang
 Kelebihan berat badan
Sebagian estrogen dalam tubuh dibuat di dalam jaringan lemak sehingga wanita yang
gemuk memiliki kadar estrogen yang lebih tinggi. Tingginya kadar estrogen merupakan
penyebab meningkatnya resiko kanker rahim pada wanita obesitas
 Pemakaian tamoksifen
Tamoksifen biasanya digunakan untuk mencegah atau mengatasi kanker payudara.
Wanita yang menggunakan obat ini, mempunyai resiko yang lebih besar untuk
terserang kanker rahim. Tamoksifen memiliki efek antiestrogen pada sel kanker
payudara tetapi berefek estrogenik pada rahim sehingga penggunaan obat ini, menjadi
salah satu faktor resiko bagi seorang wanita terserang kanker rahim
 Wanita berkulit putih
 Menstruasi pertama sebelum usia 12 tahun

 Adanya polip pada endometrium.

54
Pada kasus ini, tidak didapatkan faktor resiko yang mungkin menyebabkan pasien ini
terkena kanker serviks. Ibu ini didiagnosis dengan kanker serviks pada saat kehamilan.
Kemungkinan hal yang dapat menyebabkan ibu ini terkena kanker serviks adalah karena virus
HPV. Hal ini tidak dapat dipastikan dengan pemeriksaan penunjang.

4.2 Penegakkan Diagnosis


Setiap perdarahan pervaginam pada wanita dalam masa reproduksi pertama-tasma harus
dipikirkan 2 penyebab utama: kehamilan dan kanker. Hampir selalu terjadi perdarahan pada
wanita hamil dengan kanker serviks. Oleh karena itu, setiap perdarahan pervaginam pada
wanita hamil harus mendapat cukup perhatian. Diagnosis karsinoma in-situ (KIS) pada
kehamilan sukar ditentukan, oleh karena pada kehamilan terjadi juga perubahan-perubahan
pada epitel serviks. Diagnosis KIS dapat ditegakkan dengan pemeriksaan sitologi dan
kolposkopi. Konisasi sering dilakukan untuk konfirmasi, tetapi tindakan ini sering
menyebabkan abortus (20%) dan partus prematurus (20%).Diagnosis kanker yang jelas secara
klinik, cukup dengan dibiopsi saja (punch biopsi).7
Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan biopsi untuk mengetahui jenis kanker yang
diderita. Hasil biopsi menunjukkan papil adenocarcinoma.

4.3 Penatalaksanaan Kehamilan dengan Kanker Serviks


Dalam merencanakan pengobatan ada 3 hal yang harus diperhatikan, yaitu:
1) usia kehamilan;
2) stadium klinik dan
3) keinginan penderita.
Tidak seperti pada beberapa keganasan lainnya, pada kanker serviks ini tidak ada risiko
metastasis kanker kepada hasil konsepsi. Pada karsinoma insitu, kehamilan dapat ditunggu
sampai aterm dan persalinan seperti biasa yaitu pervaginam, dan histerektomi dapat dilakukan
kemudian. Sedang pada ESI, konisasi dapat saja dilakukan setiap waktu dalam masa
kehamilan. Pada kanker yang invasif, pengobatan dilakukan tanpa memperhatikan janinnya,
kecuali kalau kehamilan sudah lebih dari 28 minggu.7
Pengobatan karsinoma serviks selama kehamilan menjadi individual, dengan
pertimbangan pada umur kehamilan, stadium karsinoma, dan keinginan ibu. Secara umum,
selama trimester pertama kehamilan, pengobatan dilakukan secara cepat, tanpa
mempertimbangkan fetus. Jika diagnosis dibuat setelah kehamilan 20 minggu, terapi dapat
dilakukan setelah persalinan. 7

55
Dari keterbatasan data yang tersedia, sedikit keterlambatan pada terapi awal tidak
menampakkan efek samping pada hasil akhir terapi. Pada 2 penelitian, tidak ada bukti bagi
perkembangan tumor yang dilaporkan selama keterlambatan pengobatan di antara 18 penderita
yang hamil. Walaupun terapi ditunda dari minggu ke 11 menjadi minggu ke 17 selama trimester
kedua kehamilan, 6 penderita dengan karsinoma serviks stadium I tetap bebas dari kelainan
untuk 3 sampai 10 tahun. Ibu yang meminta penundaan pengobatan sampai setelah persalinan
pada fetus yang viabel, sebagian saat keganasan didiagnosis selama trimester pertama
kehamilan, yang merupakan penundaan lamanya terapi, diberi pengarahan tentang risiko
perkembangan interval tumor.7
Persalinan biasanya dilakukan segera setelah tampak adanya data-data kematangan paru
dimana perkembangan tumor menunjukkan memang membutuhkan intervensi segera.
Penderita yang gelisah tentang penyakitnya, yang tidak ingin melanjutkan kehamilan, dan yang
tidak mempunyai tingkat fosfolipid cairan amnion yang immatur dapat diberikan terapi
kortikosteroid profilaksis 24 sampai 48 jam mendahului rencana persalinan. Walaupun
beberapa penelitian menunjukkan penurunan insiden dan sindroma kegawatan respirasi dengan
terapi kortikosteroid antenatal, efektifitas bahan ini saat digunakan untuk pengobatan pada
fetus sebelum umur kehamilan 26 minggu adalah tidak jelas.7
Ibu-ibu yang tidak yakin untuk memilih mengakhiri kehamilan, umumnya ketika
diagnosis dibuat sebelum 24 minggu, diberi informasi yang dibutuhkan untuk memperkirakan
keluaran fetus sebagai suatu proses dalam pengambilan keputusan. Berat lahir tampaknya
menjadi determinan yang paling penting bagi kelangsungan hidup neonatal. Data yang berasal
dari Chicago Lying-In Hospital, Universitas Chicago sama dengan dari institusi lain. Angka
kelangsungan hidup untuk bayi pada kelompok berat badan 500–899 gram adalah 28%,sedang
untuk kelompok 900 – 1199 gram dan 1200 – 1500 gram masing-masing 79% dan 86%.
Akurasi perkiraan berat badan fetus antenatal dapat dihitung.7
Stadium penyakit juga merupakan faktor penting dalam merencanakan terapi. Radikal
histerektomi dengan limpadenektomi pelvik tampaknya sesuai untuk penderita dengan tumor
stadium Ib dan IIa yang kecil dengan risiko minimal keterlibatan limfatik, masih
dibutuhkannya fungsi koital dan ovarian, riwayat divertikulitis atau peradangan pelvik, dan
keinginan untuk masa terapi yang pendek. Pembengkakan kehamilan memfasilitasi prosedur
operatif.7
Angka kesakitan berhubungan dengan bentuk terapi ini dapat diterima. Selama trimester
pertama kehamilan, radikal histerektomi dapat dilakukan dengan fetus di dalamnya, dimana
pada umur kehamilan lebih dari 20 minggu disarankan setelah histerotomi dengan irisan fundal

56
vertikal atau seksio sesarea klasik. Terapi radiasi adalah seefektif radikal histerektomi untuk
karsinoma serviks stadium awal yang kecil dan terapi pilihan untuk lesi lanjut yang lokal.7
Ketika diagnosis dibuat selama trimester pertama kehamilan, pengobatan dimulai
dengan irradiasi eksternal tanpa terminasi kehamilan. Selama trimester pertama, abortus
spontan biasanya terjadi sebelum brachyterapi (selama 4 – 7 minggu, rata-rata 33 hari). Jarak
waktu antara mulainya iradiasi dan abortus lebih lama pada trimester kedua (selama 5 – 9
minggu, rata-rata 44 hari). Jika abortus spontan tidak terjadi, uterus dievaluasi sebelum terapi
intra cavitary. Sebagai pilihan, kombinasi pembedahan dan radioterapi dapat dipilih untuk lesi
stadium awal yang menunjukkan respon yang sesuai dengan terapi radiasi; histerektomi ekstra
fascia dapat dilakukan setelah eksternal iradiasi dan satu insersi intracavitary.7
Terapi radiasi dihindari selama periode menunggu, jika ibu memutuskan untuk
melanjutkan kehamilan sampai fetus viabel. Kebanyakan bayi yang terpapar radiasi dengan
dosis di atas 250 cGy antara umur kehamilan 4 dan 11 minggu mempunyai malformasi berat
pada organ utama. Dengan dosis yang sama dimana persalinan antara umur kehamilan 11 dan
20 minggu berhubungan dengan keterbelakangan pertumbuhan, keterbelakangan mental dan
mikrosefalus. Setelah umur kehamilan 20 minggu risiko pada fetus sama seperti paparan pada
postpartum. Iradiasi dapat meningkatkan kemungkinan pembentukan bahan karsinogen di
kemudian hari.7
Pengobatan sebaiknya dilakukan selama kehamilan pada penderita dengan penyakit
lanjut dimana harapan hidup ibu terbatas, terutama jika diagnosis dibuat selama trimester
ketiga. Hanya satu kasus kelainan serviks ibu yang melibatkan plasenta yang dilaporkan; tidak
ada kasus metastasis ke fetus. Dengan demikian, abortus terapeutik tidak dilakukan untuk
indikasi fetus. Disarankan untuk melakukan pemeriksaan makroskopik dan mikroskopik
terhadap hasil konsepsi.7
Bila operasi yang akan dipilih, perencanaannya ialah sebagai berikut:
1. Trimester I dan awal trimester II: histerektomi radikal dan limfadenektomi dengan
janin in utero
2. Trimester II akhir: tunggu sampai matang kemudian lakukan seksio sesar Klasik,
dilanjutkan dengan histerektomi radikal dan limfadenektomi.
3. Trimester III: seksio sesar dilanjutkan dengan histerektomi radikal dan
limfadenektomi
4. Nifas: histerektomi radikal dan limfadenektomi.
Bila radiasi yang akan dipilih, perencanaannya sebagai berikut:

57
1. Trimester I dan awal trimester II: radiasi intrakaviter atau radiasi eksternal (3000
rads) dan tunggu abortus spontan, atau kalau perlu lakukan histerotomi dan
dilanjutkan dengan radiasi intrakaviter dan radiasi eksternal.
2. Trimester III : bila janin sudah matang lakukan seksio sesar, kemudian di berikan
radiasi eksternal dan dilanjutkan radiasi intrakaviter.
3. Nifas: radiasi diberikan sama seperti tidak hamil. Biasanya untuk mencegah infeksi
diberikan radiasi eksternal lebih dahulu, baru kemudian intrakaviter. Tidak ada
perbedaan hasil pengobatan kanker serviks dengan stadium yang sesuai antara
kehamilan dan tanpa kehamilan.
Pada pasien ini dilakukan terminasi kehamilan per abdominam setelah umur bayi cukup
minggu. Tidak dilakukan tindakan kemoterapi atau radiasi selama masa kehamilan.
Histerektomi akan dilaksanakan setelah ibu melewati masa nifas dengan baik dan kondisi ibu
cukup stabil untuk dilakukan operasi.

4.4 Jenis Persalinan


Seksio sesarea disarankan sebagai metode persalinan karena kemungkinan perdarahan.
Data yang disebarluaskan tidak memberikan pertimbangan peningkatan penyebaran tumor atau
efek samping prognosis dengan persalinan pervaginam. Angka harapan hidup 5 tahun setelah
persalinan pervaginam tampaknya sebaik atau lebih baik dibandingkan setelah persalinan
perabdominal.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

58
5.1 Kesimpulan
1. Manifestasi klinis pada pasien ini berupa keluhan keluarnya cairan dari jalan lahir.
Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya aliran cairan ketuban dan tampak genangan
cairan di forniks posterior. Tes lakmus juga menunjukkan perubahan warna.
2. Manajemen pada pasien ini adalah dilakukan perawatan konservatif seperti induksi
maturasi paru, pemberian antibiotik, pemberian tokolitik dan pemeriksaan leukosit.
Setelah itu, dilakukan terminasi kehamilan melalui seksio sesarea. Lalu dilakukan terapi
lanjutan untuk penanganan kanker.
3. Prognosis pada ibu dan bayi pada kasus ini baik, tidak didapatkan komplikasi pada bayi
dan ibu.

5.2 Saran
1. Pentingnya KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) tentang ca serviks pada
kehamilan, penanganannya serta komplikasi yang akan dihadapi oleh pasien.
2. Pentingya KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) pada pasien yang didiagnosa ca
serviks, derajat keparahan, penanganan serta komplikasi yang akan dihadapi.

59
DAFTAR PUSTAKA

1. Manuaba IBG. 2008.Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan &Keluarga Berencana


Untuk Pendidikan Bidan.Jakarta: EGC
2. Prawirohardjo S. 2005. Gangguan Bersangkutan dengan Konsepsi. Dalam: Ilmu
Kandungan. Edisi II. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo
3. Sankaranarayanan Rengaswamy et al. Effective screening programmes for cervical
cancer in low- and middle- income developing countries. Bulletin of the World Health
Organization.2010;79(10)
4. Suharto O. 2007. Hubungan Antara Karakteristik Ibu Dengan Partisipasi Ibu Melakukan
Pemeriksaan Papsmear di Klinik Adhiwarga PKBI Yogyakarta. (Skripsi) Yogyakarta :
Universitas Ahmad Dahlan.
5. Wiknjosastro, Ginekologi Onkologi , edisi ketiga, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta, 2008
6. Prayetni. 1996. Asuhan Keperawatan Ibu dengan Gangguan Reproduksi.Jakarta
7. Hurt, Joseph K. 2008. The Johns Hopkins Manual of Gynecology and Obstetrics.
America : Lippincot Williams and Wilkins
8. Koren, Gideon. 2007. Cancer in Pregnancy and Lactation: The Motherisk Guide.
Cambridge : Cambridge University Press
9. Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Onkologi dan Ginekologi. Jakarta: PT Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
10. Digilin. Kanker Leher Rahim. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/103/jtptunimus-gdl-
arifatulul-5137-2-bab2.pdf (diakses tanggal 13 Februari 2013)
11. Deherba. 2012. Gejala-Gejala Kanker Rahim. http://www.deherba.com/gejala-gejala-
kanker-rahim.html (diakses tanggal 13 Februari 2013)
12. USU. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26069/4/Chapter%20II.pdf
(diakses tanggal 13 Februari 2013).
13. Muniarti. 2011. Kanker Serviks dan Kehamilan.
http://munartiblog.multiply.com/journal/item/26?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal
%2Fitem (diakses tanggal 14 Februari 2013)

60