Anda di halaman 1dari 11

aAB 1

nBNEKOPONG SIS GELAP JIWA MANUSIA

ada bab sebelumnya penulis sudah mengajukan pandangan Adorno sebagaimana ditafsirkan

P oleh Peter Dews, bahwa kejahatan itu bersifat total, sosial, dan radikal. Artinya kejahatan itu
tidaklah terhindarkan. Manusia individual menjadi bagian darinya, walaupun ia tidak me-
nyadarinya. Akan tetapi apakah kejahatan itu melulu bersifat sosial? Jangan-jangan manusia memiliki
aspek kejahatan yang bersifat internal di dalam dirinya sendiri? Pada bab ini dengan berpijak pada
pemikiran Paul Ricoeur, penulis akan mencoba memaparkan aspek-aspek jahat di dalam diri manu-
sia.

Melanjutkan bab sebelumnya penulis ingin mengajukan beberapa pertanyaan mendasar,


apakah manusia memiliki sisi gelap yang mendorongnya untuk .bertindak jahat dan kejam? Apakah
kejahatan bermukim di dalam diri manusia, walaupun menurut tradisi religius, manusia itu adalah
mahluk yang diciptakan sesuai dengan citra Tuhan? Jawabannya jelas dan lugas, yakni YA! Pengan- ·
daian bahwa manusi 1 itu mahluk yang baik, yang ramah, yang jinak, seperti pada konsep kondisi
alarniahnya Jean-Jacques Rousseau, ataupun pengandaian antropologis tradisi-tradisi religius, tampak
terlalu berlebihan, jika dihadapkan pada fakta begitu banyaknya kejahatan terjadi setiap detiknya di
muka bumi ini.

Di dalam tulisannya di rubrik Bentara Kompas beberapa tahun lalu, Thomas Hidya Tjaya ber-
u~~~a rnemaparkan argumen-argumen yang menunjukkan bahwa setiap orang itu punya sisi imoral.
Sis1 Irn ora I itulah yang merupakan ruang-ruang kosong tempat keJa· hatan bermuk'1m. KeJa . hatan 'tI u
sendir'
• 1 b'Isa mengambil beragam rupa, mulai· dan· pembunu h an massa I sampa1. pencunan
. ayam, mu-
la, .dar·1Pemerkosaan sampai pencurian roti. Ada keJahatan
· yang su d ah d'1rencanakan, d an ad a yang
teriadi secara spontan. Tindak pembobolan bank-bank besar adalah kejahatan yang sudah diren-
canakan. Hal ini, menurut Hidya TJ'aya menunjukkan baga:mana manusia ,mampu merencanakan
secara
d k nyaris sempurna kejahatan mereka. ' Ada dua kecenderungan daIam d'1n,manus1a,
· · yakni· kehen-
a · • baik dan keinginan untuk memburu k eni'kmatan )·
untuk men1ad1
Menjadi Manu .
66
s,a 0
tem;k

Setiap orang, siapapun dia, jika ~ihadapkan. pada kekayaan dan ke


h menjadi tidak berdaya. lnilah yang d1sebut godaan (tem ~ua.
saan, seo 1a k . b Ptat,on)
dan god aan ini tampaknya merupa an pmtu ger ang pertama menuju k . '
d b' kl k . e1ahat
odaan ini menyerang siapapun, an 1sa mena u an s1apapun rnul . •
an. G . , a1 dari
pemuka agama yang paling saleh, sampa1 orang yang memang pada dasa
haus akan kekuasaan. Menangga~i hal ini Arist~teles pernah berpendapat, ~:~
wa pada hakekatnya, kejahatan 1tu merusak 11wa pelakunya. Jadi jika orang
berbuat jahat, hanya tampaknya sajalah ia menang dan berkuasa, sebenarn
jiwanya menderita. Dengan kata lain orang yang berbuat jahat sebenarnya te~~
menghancurkan jiwanya sendiri. Oleh karena itu jika orang ingin jiwanya se-
lamat, maka mereka harus memilih menderita daripada melakukan kejahatan.
Rumusan ini memang positif dan ideal, tetapi apakah sesuai dengan
kenyataan? Jika anda ditawari kekuasaan dan kekayaan yang meliputi selu-
ruh dunia ini, apakah anda dengan mudah akan menolak tawaran itu? Untuk
membedah masalah ini, Thomas Hidya Tjaya menggunakan contoh kisah Dr.
Faust yang ditulis oleh Johann Wolfgang von Goethe. Di dalam kisah ini, Setan
mengunjungi Faust, dan berniat membuat perjanjian dengannya. Setan berjanji
memberikan kepada Faust semua pengetahuan dan kekuatan magis yang tidak
dimiliki manusia lainnya. Dengan ini Faust bisa memenuhi semua keinginan-
nya, yakni menjadi berkuasa dan kaya raya. Setan pun mengajukan satu syarat,
setelah meninggal, Faust harus menyerahkan jiwanya kepada Setan. Untuk
· memenuhi tujuan itu, Setan mengirimkan anak buahnya yang bernama Me-
phistopheles. Anak buahnya inilah yang akan memberikan pengetahuan serta
kekuasaan kepada Faust. Memang pada akhirnya Faust rela menyerahkan ji-
wanya kepada Setan demi keinginan duniawinya.

Hidya Tjaya pun mengajukan pertanyaan, mengapa manusia bisa dengan


mudah menjual harga diri, integritas, dan bahkan jiwanya demi kekayaan dan
k~untungan _material? Singkat kata mengapa manusia begitu mudah terjerumus
di d~l~m ke!ahatan, walaupun kejahatan itu pada akhirnya menyiksa jiwanya
sendm? Tuhsa_n kecil ini tidak berpretensi untuk menjawab pertanyaan besar
terseb~t, .melamk~n lebih ingin mendekati problem persentuhan manusia den·
:a~ keJahatan dan sudut pandang pemikiran Paul Ricoeur terutama di dala~
uhunya yang ~erjudul Symbolism of Evil. Argumen yang i~gin diajukan ad~la
ba wa akar keJahatan d ' d I
d k . 1 a am d.in. manusia terletak pada persentuhan dinnYa.
· engan eJahatan itu send' · p · hatan ,tu
· d" b k . in. engalaman bersentuhan dengan keJa .
IJa ar an R1coeur den . • bol1sr11e
noda jiwa (defilem g~n me~ggunakan tiga simbolisme, yakni sim salah
ent), simbohsme dosa (sin), dan simbolisme rasa ber
onB Sisi Gelap Kejiwaan Manusia 67
Menerop

1,gui/t). Di dal~m tiga pengalaman primordial inilah kejahatan di dalam diri ma-
nusia bermuk1m.

symbolism of Evil
Ricoeur menu Iis karyanya yang paling termasyur berjudul The Symbolism
of Evil pada 1960. lni adalah karya awalnya yang berkaitan dengan hermeneu-
tika. Penulis menggunakan buku The Symbolism of Evil terjemahan Emerson
Buchanan yang diterbitkan pada 1967. Sebagai teks pembantu penulis meng-
gunakan tulisan Theodoor Marius Van Leeuwen yang berjudul The Surplus of
Meaning. Di dalam Symbolism of Evil, Ricoeur banyak menulis tentang hakekat
dari bahasa. Baginya bahasa simbolik adalah "bahasa yang paling mungkin un-
tuk terjadinya kejahatan" (SE 9; fr. 16). Artinya bahasa selalu dalam tegangan di-
alektis dengan realitas. Bahasa tidak mampu mengungkapkan realitas seakurat-
akuratnya. Di sinilah celah dari bahasa yang akhirnya justru menjadi ruang bagi
kejahatan. Hal yang sama juga terjadi dengan hakekat dari kejahatan itu sendiri.

Bagi Ricoeur hakekat dari kejahatan bersifat konfliktual, dan tidak pernah
stabil. Dimensi konfliktual dari kejahatan tersebut paling tampak memang di
dalam bahasa simbol. la pun menambahkan bahwa ada tiga metafor simbolik
yang menjadi fondasi dari semua kejahatan, yakni Noda jiwa (defilement), dosa
(sin), dan rasa bersalah (guilt). "Di sini", demikian tulis Ricoeur, "kita berbi-
cara kejahatan dalam arti metaforik, yakni sebagai keterasingan (estrangement),
perbudakan (bondage), dan beban hidup (burden)." (seperti dikutip Leeuwen,
1981, 136.) Nah, ia kemudian berpendapat bahwa symbolism of evil meru-
pakan totalitas dari tiga fondasi itu. Yang paling mendasar disebutnya sebagai
simbol-simbol primer (primary symbols). Pada level ke dua adalah narasi-narasi
(narratives), di mana berbagai mitos tentang dosa, Noda jiwa manusia, dan rasa
bersalah ditafsirkan. Yang ketiga disebutnya sebagai simbol-simbol spekulatif
(speculative symbols), di mana berbagai argumen teologis-religius yang ada di
dalam tradisi diangkat ke level reflektif, dan kemudian ditafsirkan. (ibid)

Di dalam melihat berbagai mitos dan cerita tentang kejahatan di berbagai


tradisi, Ricoeur membedakan tiga macam level tafsiran. Yang pertama adalah
simbol-simbol primordial (primordial symbols). Yang ke dua adalah tafsiran lev-
el Pertama (first degree hermeneutics), dan yang ketiga adalah tafsiran level ke
dua (second degree hermeneutics) . Leeuwen memberikan contoh tentang hal
ini. Misalnya kita berupaya memahami hakekat dari dosa di dalam agama Kris-
ten. Di sini, dari sudut pandang Ricoeur, kita bisa membagi tiga hal. Yang per-
tama adalah simbol-simbol primordial tentang dosa. lni disebut sebagai simbol-
Menjadi Manusia 0
tentik
68

. d' k ,i level pertama tafsiran . Yang ke dua adalah bag .


simbol pnmor ia'1 ya I • d I k' b . . a1mana
. . b Id tersebut ditafsirkan d1 a am ita KeJad1an sebagai .
s1mbol-s1m o osa . Jatuh.
dosa lni adalah tafs1ran level pertama. Yang ketiga ad
nya Adam ke d aIam · . . . a1ah
. dosa Adam tersebut d1tafs1rkan sebaga1 dosa asali man .
tentang baga1mana . . . usIa,
yakni suatu tafsiran yang melekat erat pa~a trad1s1 mau~un ~tontas religius Ge-
reja Katolik abad pertengahan . lni yang d1sebut sebaga1 tafs1ran level kedua.

Nah, argumen yang diajukan Ricoeur a?alah, bahw~ tiga level tafsiran
tersebut haruslah dimengerti sebagai suatu tafs1ran yang salmg terkait. "Adalah
keseluruhan lingkaran," demikian tulisnya, "yang terdiri dari pengakuan, mitos
dan spekulasilah yang harus kita mengerti." (SE 9; fr. 17, seperti dikutip Leeu~
wen, ibicfJ. Artinya mitos dan spekulasi teologis-religius harus selalu dimengerti
dalam kaitannya dengan bahasa simbolik-metaforik yang ada di dalam tradisi,
terutama tradisi tulisan . lni salah satu kontribusi penting pemikiran Ricoeur,
yakni mengajak kita untuk menempatkan kembali berbagai mitos maupun spe-
kulasi teologis di dalam konteks yang lebih luas, yakni dalam arti simbolik-
metaforik. Jadi buku Symbolism of Evil mau menganalisis berbagai simbol keja-
hatan di dalam tradisi teologis-religius yang diturunkan di dalam bentuk tulisan.
Kelebihan dari tafsiran ini adalah kemampuannya untuk kurang lebih dapat
mencapai obyektifitas penafsiran, terutama tentang pengalaman akan kejahatan
yang dialami manusia di dalam sejarah. Tafsiran tersebut dapat didasarkan lang-
sung pada teks, di mana makna dan tafsiran baru dapat memperkaya pemaha-
man manusia akan dirinya sendiri secara otoritatif.

Noda Jiwa
Seperti sudah disinggung sebelumnya, pengalaman primordial manusia
bersentuhan langsung dengan kejahatan dapat dilihat dalam tiga simbolisme
menda_
sar, yakni Noda jiwa, dosa, dan rasa bersalah . Noda j iwa berkaitan den·
gan keJahatan sebagai sesuatu yang ditularkan dari luar diri manusia ke dalarn
ji_wanya. Dosa berkaitan dengan kejahatan sebagai rusaknya hubungan rnanu·
s1a dengan Tuhan · Dan rasa b ersa Iah sebaga1. rasa tanggung 1awab
• rnanus,·a
terhadap kesalahan personalnya.

'.iga pe~g~laman ini juga menyangkut tiga dimensi mendasar kehidupan


manus1a, yakni d1mensi ko 'k ( . lam·
k smi cosmic dimension) yang merupakan penga
anka an yang kudu s (sacred), dimensi on-eirec (on-eirec dimension ) yang rneru·
pa an suatu bentuk reak 51· f ·k
d' . ) isi terhadap kej ahatan dan dimensi puitis (poe
tic
1mens1on yang merupaka k 51. ' bar·
gambar' d an kata-kata d1. daln rea drnanusia
' • .
terhadap m etafor-rnetafor, garn
am tra 1s1 m,tolog is. (Leeuwen, 138).
Meneropong Sisi Gelap Kejiwaan Manusia 69

Sirnbolisrne (symbolism) pertama adalah simbolisme yang berkaitan de-


ngan dimensi kosmik dari diri manusia. Simbolisme ini berakar pada budaya-
budaya mistis di dalam sejarah peradaban. Dari sudut pandang ini, kejahatan
dipandang sebagai pelanggaran obyektif yang dilakukan manusia terhadap yang
kudus. Manusia pun dianggap telah menjadi bagian dari yang "tidak murni#
(the impure). Kejahatan pun dipandang sebagai sesuatu yang bersifat pra-etis,
yakni belum mendapatkan penilaian baik ataupun buruk. Kesalahan manusia
yang bersifat aktif maupun _ketidakberuntungan manusia yang bersifat pasif pun
belum dibedakan. Reaksi manusia atas hal ini pun masih singular, yakni keta-
kutan. Setiap tindakan yang mengacaukan tatanan yang telah diciptakan yang
kudus dianggap akan menciptakan ketidakberuntungan. Oleh karena itu manu-
sia mulai membuat ritus-ritus, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dianggap
tabu. Ritus diperlukan supaya manusia bisa memurnikan dirinya. Ritus ada-
lah suatu tindak purifikasi manusia terhadap Noda jiwanya. Di sini purifika-
si kejahatan pun diartikan secara simbolik, yakni sebagai ritus simbolik untuk .
membersihkan manusia dari kejahatan, yakni kejahatan yang_dianggap sebagai
sesuatu __yang datang dari luar (ibid).
!•.

Simbol-simbol dari kejahatan dapat dilihat langsung di dalam kebudaya-


an manusia. Kejahatan pun dianggap sesuatu yang datang dari luar. Anggapan
ini' masih ada di dalam pemahaman kolektif masyarakat kita. Untuk itu pulalah
manusia membuat ritual, yakni untuk melawan dan membersihkan diri dari
kejahatan. Freud menyebut ini sebagai suatu momen neurotik obsesional. Jadi
di satu sisi simbolisme menjadi suatu bentuk pengalaman langsung manusia
bersentuhan dengan kejahatan. Di sisi lain simbolisme juga merupakan suatu
tanda adanya keinginan di dalam diri manusia untuk bergerak dari leve pra-etis
ke level etis. Menurut Leeuwen pergerakan ini terjadi, ketika manusia mencoba
men.terjemahkan pelanggaran dan ketakutannya ke dalam bentuk kata-kata.
•Adalah mulai dari kata-kata, # demikian Ricouer, "kejahatan menampakan sisi
etisnya daripada dalam bentuk fisik." (SE 42; fr. 46) Di titik ini manusia mulai
menimbang-nimbang kembali semua kemalangan yang ia derita. la pun mulai
melihat kemalangan sebagai suatu hukuman dari kejahatan yang ia lakukan.
•Jika manusia dihukum karena ia berdosa," demikian tambahnya, "maka ia ha-
ruslah dihukum karena ia memang berdosa." (ibid, 42, fr. 47) Dengan argumen
ini Ricoeur tampak mau berpendapat, bahwa setiap kemalangan dan penderi-
taan pasti memiliki alasan, yakni sebagai suatu peringatan untuk kembali me-
mulihkan apa yang sebelumnya tidak tertata. Artinya ada perubahan pemaham-
an di sini. Kekuatan kosmik yakni relasi manusia dengan yang kudus, tidak lagi
d' ' .
ianggap menakutkan, melainkan dianggap sebaga, sesuatu yang agung dan
bermakna.
f
i
~

70 Menjadi Manusia Ot
entik

Doaa
Walaupun memiliki kaitan dengan Noda jiwa, konsep dosa sebagai pen •
-
alaman primordial manusia berhadapan dengan kejahatan tetap harus ditaf ~
Slr-
kan secara independen. Sebelumnya, yakni di dalam konsep Noda 1'iwa ke·
' Ja-
hatan dianggap sebagai sesuatu yang obyektif. Manusia hidup di dalam kosmos
yang memiliki perbedaan yang jelas antara apa yang murni dan apa yang tidak
mumi (impure). Kejahatan dianggap memiliki status ontologis yang jelas dan
berada di luar manusia. Di dalam simbolisme dosa (sin), kategori sentral yang
digunakan Ricoeur sebagai pisau analisis adalah bahwa manusia merupakan
•mahluk-ciptaan-Tuhan". Tuhan berbicara kepada manusia, dan manusia harus
menjawab. Di sini kejahatan diartikan secara religius, dan bukan secara moral.
(Leeuwen, hal. 139).

Salah satu contoh paling jelas tentang simbolisme ke dua ini adalah tradi-
si Perjanjian Lama di dalam Kitab Suci Kristen. Di dalam perjanjian lama, cinta
Tuhan kepada manusia haruslah dibalas dengan kesetiaan serta kepercayaan
manusia kepada Tuhan. Menurut tafsiran Leeuwen, Ricoeur di sini hendak me-
maparkan simbolisme tentang dosa (symbolism of sin) dengan dua cara. Perta-
ma, manifestasi dari yang kudus tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang ada
di dalam alam, tetapi berada di dalam sejarah antara Tuhan dan manusia. Selu-
ruh tradisi Yudaisme didasarkan pada satu pengandaian bahwa Tuhan bekerja
di dalam sejarah manusia. Kedua, kejahatan lalu dipahami sebagai tanggung-
jawab manusia. Akan tetapi kejahatan ini belum dianggap sebagai sesuatu yang
personal, sehingga belum menciptakan rasa bersalah. Sejarah, dengan derniki-
an, dipandang sebagai sejarah Tuhan dan umatNya. Dosa pun dipahami seba-
gai "'ketidakpatuhan umat" (ibid).
Di dalam tradisi Yudaisme, cinta Tuhan kepada manusia haruslah dibalas
dengan komitmen penuh. Di sini cinta Tuhan itu mengambil dua bentuk, yakni
aspek ketidakterbatasannya, dan aspek keterbatasannya yang terwujud dalam
bentuk hukum-hukum. Di dalam hukum-hukum itu, Tuhan menuntut kepatuh•
an total dan kesetiaan penuh dari manusia. Seorang pendosa adalah seseorang
yang melanggar hukum-hukum Tuhan. Pelanggaran itulah yang mencip · takan
rasa takut di dalam diri manusia. Awalnya di dalam simbolisme Noda jiwa,
manusia takut akan kejahatan yang berada di luar dirinya. Kini di dalam simbo-
.
11sme dosa, manus1a
· ta kut a kan Tuhan yang begitu mencintainya. Manu sia takut
akan murka Tuhan.
Nabi-nabi Yudaisme mengklaim bahwa pada hari terakhir, Tuhan akan
datang ke b um,. dan membalas semua ketidakadilan yang ddaku
. k manu-
an
Meneropong Sisi Gelap Kejiwaan Manusia 71

sia dengan murkaNya. "Kesedihan yang mendalamn, demikian tulis Ricoeur,


"rnendramatisir Perjanjian tanpa pernah mencapai tahap patahan di mana yang
lain absolut akan hilang dari relasi." (SE 69, fr. 71) Dunia akan mengalami hari
terakhir. Hari terakhir ini tidaklah terelakkan. Walaupun begitu manusia masih
bisa berperan aktif. Jadi manusia masih punya pilihan, bahkan ketika hari terak-
hir akan terjadi. Dalam hal ini Leeuwen mengutip tulisan Amos dari kitab suci,
"jika kamu bertindak adil, mungkin Tuhan akan mengampuni kamu." (Amos
5:15, seperti dikutip Leeuwen, 140, dan Ricoeur SE 68;fr. 70).
Dengan demikian ada dua hal yang menandai pemaparan Ricoeur ten-
tang dosa. Di satu sisi pengakuan dosa dianggapnya sebagai transisi dari pema-
haman pra-etis menuju ke pemahaman etis. Di sisi lain kesadaran akan dosa
belumlah menjadi bagian dari refleksi personal individu, melainkan masih di
level kesadaran kolektif. Pendosa adalah bagian dari orang-orang yang tern yata
juga "berdosa". Pada titik ini yang pertama-tama harus disadari adalah, dosa
merupakan sebuah patahan relasi (rupture of relation). Dosa adalah suatu ben-
tuk pemberontakan manusia terhadap Tuhannya. Di dalam dosa manusia ter-
asing dari Tuhan. Manusia menjadi lupa akan Tuhan penciptanya.
Pada hakekatnya dosa bukanlah suatu bentuk ketiadaan (nothingness).
Ricoeur justru melihat dosa sebagai sesuatu yang positif, yakni di mana ma-
nusia menemukan dirinya sendiri. Manusia selalu hidup di dalam komunitas-
komunitas pendosa. Oleh karena itu dosa adalah sesuatu yang "sudah-ada-
disana". lni menujukkan adanya kontinuitas antara simbolisme noda jiwa dan
simbolisme dosa. Pada titik ini kejahatan dapat dipahami sebagai kekerasan hati
(hard-heartedness) dan rasa sakit (pain) . "lmaji dari dosa", demikian Ricoeur,
"menunjukkan pengalaman pasivitas, keterasingan, yang secara paradoks ber-
campur dengan pengalaman penyimpangan, yakni sesuatu yang didorong oleh
kejahatan itu sendiri" (SE 89; fr. 90 dalam Leeuwen, 140).
Bagi Ricoeur bentuk pengalaman paling ekstrem dari pasivitas dosa ada-
lah keterkurungan (capitivity). "Keterkurungan", demikian tulisnya, "adalah
simbol yang paling kuat dari kondisi manusia dalam pengaruh dari kejahatan "
(ibid, 93;fr. 93). Sejarah menunjukkan hal ini, terutama dalam konteks pena-
hanan bangsa Israel di Mesir dan Babilonia. Oleh karena itu di dalam bahasa
lbrani, dosa juga berarti "dalam keadaan terikat" (ibid). Ricoeur juga menamba-
hkan bahwa pengalaman akan dosa memiliki aspek yang bersifat supra-perso-
nal, Dosa dianggap sebagai "simbol dari penebusan" (SE 91 ; fr 91 ). "Manusia
Yang berada di dalam penahanan", demikian tulisnya, "adalah manusia yang
akan dibebaskan" (ibid 93; fr 94). Dengan demikian pemahaman tentang dosa
sebagai "aktivitas" juga didukung oleh pengalaman kolektif di dalam sejarah
72 Me11j:idi M,11111 ,. .
.1/,1 ()1
(>lltik

manusia. Orang yang berdosa ad,1lah orang yang terkurung. Sernentar,1or


yang terkurung adalah orang yang sedang membayar denda-dend.1 dosatR
Jadi orang itu sebenarnya berada di a~bang ~~beb~s~n. : en~ampun,111 c1:•:;
Tuhan dan aktivitas penebusan dosa da_n ma~t~s1,1 berJalcm sc!ardh, yakni sarna.
sama sebagai tanda kernbr1 linya mariusra dan Jalan yang salah. (leeuw<m, hal.
141 ).
· Pada akhirnya dosa tetaplah merupakan bagian dari fenomena di dala
ranah teologis-religius. Dosa kepada Tuhan pada akhirnya dilampaui denga~
momen kembalinya manusia kepada Tuhan. Tuhan memberikan maaf. .,Dosa•
demikian Ricoeur, "adalah dosa di bawah sudut pandang absolut dari Tuhan;
(SE 84; fr. 85). Kriteria dari dosa adalah apakah perbuatan itu sesuai dengan
kehendak Tuhan atau tidak. Akan tetapi manusia tetap harus berefleksi terhadap
tindakan-tindakannya, terutama terhadap dosa-dosanya, motif-motif tindakan-
nya, sehingga ia bisa sampai pada kesadaran diri. "Pengamatan terhadap di-
riku sendiri", demikian tulisnya, " adalah suatu upaya dari kesadaran diri untuk
mendapatkan sudut pandang yang absolut" (SE 85; fr. 86 dalam Leeuwen, 141).
Dengan demikian pengakuan dosa selalu sudah melibatkan kesadaran akan
adanya tanggung jawab personal.

Rasa Bersalah
Seperti sudah disinggung sebelumnya, noda jiwa mendominasi dimensi
kosmik (cosmic dimension) manusia, sementara dimensi manusiawi (human di-
mension) manusia didominasi oleh 'rasa bersalah'. Jika noda jiwa dan dosa ma-
sih berada di level pra-etis, maka menurut Ricoeur, rasa bersalah sudah berada
di tahap etis. Rasa bersalah tidak lagi berkaitan dengan Tuhan yang menuduh
manusia atas kejahatannya. Pada titik ini manusia sadar akan tanggungjawab
pribadinya. la pun menuduh dirinya sendiri. t<riteria pengukuran rasa bersa·
lah adalah kesadarannya sendiri. 0engan demikian perasaan bersalah adalah
sesuatu yang bersifat individL•alistik. "Sementara manusia secara radikal dan
~enyeluruh adalah seorang pendosa," demikian tulis Ricoeur, • ia kurang lebih
. . R'rcoeur memberr'kan satu
Juga seorang yang bersalah • " (SE 108·, fr • 10G) 0 1. smr
c~ntoh tentang orang-orang Phariaism di dalam tradisi Yudaisme. Di dalarn
et1ka .Y_udarsme,
· · me l1hat
ia · adanya ~egangan antara hukum-hukum positif· d',
satu s1s1, dan tuntutan t•a 1I-d · . but
. . . ' ng a~ mungkm dicapa i dari hukum-hukum terse ·
Set1ap nab, dr dalam y d · ~ _ , d · Tu·
h . u arsm.__ :.,e,alu ~ er,ekankan tuntutan mutlak arr .
an. Akan tetap1 di dalam - ., 4 an d1

B b·1 d pros~.,nya, .erutama oada masa-masa pengasing


a 'on an penahanan d i fv'• . . ' I k pada
T h d .eSrr, iman dan kepercayaan rakyat lsrae e ..
u an su ah hancur Et'k . . ,t,f,

1
a pun trdak lag, d iatur dalam suatu rumusan po5
Meneropong Sisi Gelap Kejiwaan Manusia 73

tetapi menjadi masalah individual saja. "Jika salah dan dosa adalah masalah
individual,* demikian tulis Ricoeur, "maka penyelamatan juga merupakan ma-
salah individual" (SE 105; fr. 104 dalam Leeuwen, 142). Pada titik ini dosa tidak
lagi menjadi masalah kolektif, t.etapi menjadi masalah individual.

Tujuan dasar dari Pharisaisme adalah untuk mematuhi perintah Tuhan


yang terdapat di dalam Torah secara mutlak. Torah pun menjadi panduan hi-
dup yang mengatur semua dimensi kehidupan manusia. "Hukum itu", demi-
kian Ricoeur, "bukanlah suatu batas ideal, melainkan suatu program praktis
untuk orang-orang yang hidup." (SE 129; fr. 125) Torah ditafsirkan, dipecah ke
dalam beragam aturan, dan atura,n-aturan inilah yang menjadi panduan prak-
tis kehidupan. Dalam proses analisisnya Ricoeur me!ihat sekaligus kelebihan
maupun kekurangan dari etika semacam ini. Di satu sisi etika Yudaisme ini
mengandaikan bahwa pada hakekatnya, semua manusia bisa berbuat baik. Ar-
tinya kebaikan bisa dan sangat mungkin untuk dilakukan. Setiap orang memiliki
kebebasan untuk memilih apakah ia akan berbuat baik atau tidak. Etika yang di-
dasarkan pada kebebasan ini pun menjadi awal bagi etika suara hati. Di sisi lain
fanatisme di dalam mengikuti aturan dan hukum justru menciptakan bahaya.
Niat untuk mematuhi aturan menjadi satu-satunya tujuan. Orang pun jatuh ke
dalam ritualisme dan formalisme etika, di mana aturan menjadi satu-satunya to-
lok ukur. Bahaya pertama ini menciptakan bahaya kedua, yakni eksklusifisme,
di mana orang-orang tertentu menciptakan kelompok-kelompok orang-orang
murni (pure man) yang mengikuti aturan, dan orang-orang tidak murni (impure
man) yang dianggap tidak patuh pada aturan.
Jadi menurut Ricoeur pengalaman akan kejahatan dalam simbolisme rasa
bersalah mencapai puncaknya pada kesadaran yang bersifat skrupel, yakni ke-
sadaran yang terlalu patuh pada aturan. Di sini rasa bersalah adalah konsekuen-
si dari pilihan, yakni konsekuensi dari suatu tindakan bebas. Tindakan manusia
pun tidak lagi didorong oleh rasa takut terhadap kekuatan jahat ataupun rasa
takut kepada Tuhan, seperti pada dua simbolisme sebelumnya. Suara hati men-
jadi satu-satunya panduan bagi manusia. Rasa bersalah menjadi pengalaman
yang sepenuhnya individual. Pada titik ini sifat individualistik dari pengalaman
rasa bersalah bisa menuntun orang pada sifat individualistik etis, yakni ketika
orang hidup sepenuhnya demi kemurnian dirinya sendiri. Hukum menjadi ja-
Ian bagi manusia untuk mencapai kejahatan baru, yakni kehendak untuk rrie-
nyelamatkan diri sendiri demi kepentingan diri sendiri pula. Hal ini terjadi pada
I orang-orang yang skrupel.
I Di dalam diri orang yang skrupel, hukum menjadi penjajah bagi kebebas-
J annya. Karena kelemahan dan ketidakmampuannya mematuhi hukum, ia mulai
j
74 Menjadi Manusia
Otefltik

merasa bersalah pada dirinya sendiri. la seolah menjadi hakim bagi d· .


. d k ·, k •nnya
diri dan secara konstan mengecek tm a annya, apa ah sudah ses . sen.
' . . . d ua, huk
atau belum. (Leeuwen, 143) D, sm1lah para oksnya kembali tamp k lJfll
yang hendak hidup dengan mempraktekkan hukum setepat-tepatna ' ?rang
· h k ·t d. ·
menjadi menjadi ~orban d~n teror u um I u sen m. la telah terja• h
Ya JUstru
·t·k· b I h b Ja oleh
hukum. ote~--~~reo~ i:\ u-_ia m.em1 1. 1_rasa ersa a . yang esar, karena bagairna.
napun ia berusaha, la t1dak akan b1sa mematuh1 hukum sepenuh-penuh
. .,, d .k. R. " I ·
"Orang semacam m1 , em1 1an 1coeur, menga am1 momen penuduhan-d· .
nya.
1
ia terjebak di dalam dosa dari semua dosa, yakni kesedihan karena telah di n,
matkan." (SE 146; fr. 141, dalam Leeuwen, , ,
.b .d) sea-
1

Jadi pretensi untuk mematuhi hukum secara mutlak, menurut Ricoeur


adalah suatu bentuk bentuk kebohongan. Pretensi ini juga sekaligus merupaka~
akar dari semua kejahatan (root of all evil). Di sini manusia lebih percaya pada
dirinya sendiri ketimbang percaya kepada Tuhan. Apa yang tadinya merupakan
bentuk dedikasi kepada Tuhan justru pada akhirnya menjadi penghinaan kepa-
daNya. "Bukan hukum", demikian Leeuwen, "tetapi kepercayaan pada keadi-
lanlah yang membuat kita bebas." (Leeuwen, ibid)

Ketika sedang membaca ini, penulis jadi teringat argumen menarik yang
pernah dipaparkan Budi Hardiman di dalam bukunya yang berjudul Mema-
hami Negativitas. Di dalam buku itu, ia mengutip dari C.P Snow begini, •Bila
orang menelusuri sejarah umat manusia yang panjang dan kelabu", demikian
Snow, • orang akan menemukan bahwa lebih banyak ·kejahatan yang menji-
jikan dilakukan atas nama kepatuhan daripada atas nama pembangkangan.'
(Budi Hardiman, hal. 115) Kiranya kutipan ini mempertegas apa yang ingin
disampaikan Ricoeur dengan simbolisme rasa bersalahnya (symbolism of guilt).

Penulis hendak menyimpulkan beberapa hat tetang simbolisme kejaha·


tan yang dirumuskan Ricoeur untuk menjelaskan akar-akar kejahatan. Untuk
bagian ini penulis terinspirasi dari pemaparan Kees Bertens di dalam bukunya
yang berjudul Filsafat Barat Kontemporer: Prancis. Simbolisme pertama adalah
noda jiwa. Di dalam simbolisme ini, kejahatan dihayati sebagai sesuatu yan~
ada pada dirinya sendiri. Kejahatan dilihat sebagai sesuatu yang data~~ d~r~
101
Iuar, dan dengan beg1tu
· menc1ptakan
· · pada t1t1k
penderitaan bagi manus1a. . b r·
kejahatan masih merupakan sesuatu yang obyektif. Bertindak jahat bera_rt, er
t.mdak merusak tatanan dan harmoni yang ada. Di dalam pemikiran
•· R1coeu '

k · h d' 5
ra-et1 •
. eJa atan I dalam simbolisme noda jiwa ini masih berada di tahap P
S· bol' k dOsa (symlfr
. •~ ism~ e dua yang ia rumuskan adalah simbolisme an, pada
hsm of sm), yakni ketika manusia melakukan kejahatan di hadapan Tuh
Meneropong Sisi Gelap Keji1vaan Man usia
75

titik ini, bertindak jahat bukaniah berarti melakukan tindakan yang merusak
tatanan, melainkan melakukan tindakan yang melanggar perintah Tuhan . Sim-
bol ini pertama kali tampak di dalam kesadaran religius bangsa Israel pada
jaman nabi-nabi (Bertens, 264). Dosa merupakan tanda pengkhianatan orang
pada Tuhannya. Oleh karena itu, hukuman bagi seorang pendosa adalah mur-
ka dari Tuhan. Dosa adalah momen, ketika hati seseorang menjadi keras, dan
tidak lagi mampu mendengar sapaan Tuhan. Simbolisme ketiga adalah rasa
bersalah. Rasa bersalah ini muncul, karena manusia menjadi fanatik terl 1adap
hukum-hukum dan aturan-aturan. Melalui sikap fanatiknya itu, ia menjadikan
hukum sebagai Tuhan. Padahal manusia itu pada dasarnya selalu tidak mampu
mematuhi hukum secara mutlak. la selalu mempunyai kelemahan . Maka ketika
ia tidak mampu mematuhi hukum, ia menjadi merasa bersalah pada dirinya
sendiri. la mengutuk dirinya sendiri. Niat awalnya adalah patuh pada hukum.
Akan tetapi hasil akhirnya adalah kejahatan itu sendiri.
0engan tiga simbol isme kejahatan ini, Ricoeur mencoba mengangkat
akar-akar dari kejahatan itu sendiri, baik sebagai kejahatan obyektif, kejahatan
terhadap Tuhan, maupun kejahatan personal manusia terhadap dirinya sendiri.
Apakah pemaparannya ini cukup memadai? Jawabannya bisa beragam. Mung-
kin sisi gelap manusia merupakan bagian dari diri manusia yang terus menjadi
misteri, dan karena itu selalu disebut sebagai "gelap", karena pada dasarnya,
kita hanya bisa meraba dan mengais, tanpa bisa memahaminya secara mutlak.
Mungkin ... • • •

Pertanyaan-pertanyaan Reflektif
1. Di mana akar kejahatan, menurut Paul Ricoeur? Jelaskan jawabanmul
2. Apa yang dimaksud dengan kejahatan yang terkandung di dalam simbol
t.:\. nodajiwa?
~ Apa yang dimaksud dengan kejahatan yang terkandung di dalam simbol
r-~ dosa dan rasa bersalah?
\ : ) Mengapa Paul Ricoeur ingin melukiskan kejahatan melalui simbol? Jelas-
kan jawabanmul

-ooOoo-