Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Post partum merupakan suatu periode dalam minggu-minggu pertama setelah
kelahiran. Lamanya “periode” ini tidak pasti, sebagian besar mengganggapnya antara 4
sampai 6 minggu. Walaupun merupakan masa yang relatif tidak komplek dibandingkan
dengan kehamilan, nifas ditandai oleh banyaknya perubahan fisiologi. Beberapa dari
perubahan tersebut mungkin hanya sedikit mengganggu ibu baru, walaupun komplikasi
serius juga sering terjadi. (Cunningham, F, et al, 2013)
Asuhan keperawatan pasca persalinan diperlukan untuk meningkatkan status
kesehatan ibu dan anak. Masa nifas di mulai setelah dua jam lahirnya plasenta atau
setelah proses persalinan kala 1 sampai IV selesai. Berakhirnya proses persalinan bukan
berarti ibu terbebas dari bahaya atau komplikasi. Berbagai komplikasi dapat dialami ibu
pada masa nifas dan bila tidak tertangani dengan baik akan memberi kontribusi yang
cukup besar terhadap tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia. Ketuban pecah
dini (KPD) merupakan pecahnya ketuban sebelum waktu melahirkan terjadi pada fase
laten yaitu pembukaan < 4 cm. Ketuban pecah dini termasuk dalam kehamilan beresiko
tinggi, kesalahan dalam mengelola 2 KPD akan membawa akibat meningkatnya angka
morbiditas dan mortalitas ibu maupun bayinya. ( Nugroho, T, 2012)
Komplikasi potensial KPD yang sering terjadi adalah resiko infeksi, prolaps tali
pusar, gangguan janin, kelahiran premature dan pada usia kehamilan 37 minggu sering
terjadi komplikasi syndrom distress pernafasan (RDS, Respiratory Distrees Syndrome)
yang terjadi pada 10-40% bayi baru lahir. Apabila terjadi pada usia kehamilan lebih dari
36 minggu dan belum ada tanda-tanda persalinan maka dilakukan persalinan induksi.
Pada kasus tertentu bila induksi partus gagal, maka dilakukan tindakan operasi caesaria.
Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukkan bahwa secara
nasional Angka Kematian Ibu di Indonesia adalah 226/100.000 kelahiran hidup. Angka
ini masih jauh dari target tujuan pembangunan milenium (Millenium Development
Goals/MDGs), yakni hanya 102/100.000 kelahiran tahun 2015. Rendahnya kesadaran
masyarakat tentang kesehatan ibu hamil menjadi factor penentu angka kematian,
meskipun masih banyak faktor yang harus diperhatikan untuk menangani masalah ini.
Persoalan kematian yang terjadi lantaran indikasi yang lazim muncul, yakni 28 %
pendarahan, 5% aborsi, 24% eklamsi, 5% persalinan lama/macet, 8% komplikasi masa
nifas, 11% infeksi dan 14% lain-lain. Menurut Depkes RI tahun 2011 menjelaskan sekitar
30% kejadian mortalitas pada bayi preterm dengan ibu yang mengalami ketuban pecah
dini adalah akibat infeksi, biasanya infeksi saluran pernafasan (asfiksia). Selain 3 itu,
akan terjadi prematuritas. Sedangkan, prolaps tali pusat dan malpresentrasi akan lebih
memperburuk kondisi bayi preterm dan prematuritasAngka Kematian Ibu (AKI) adalah
salah satu indikator penting dari derajat kesehatan masyarakat. AKI menggambarkan
jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan
kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama
kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (Kementrian kesehatan RI. 2013).
Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menyatakan
bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia mencapai 359/100.000 kelahiran hidup
(Depkes RI, 2012). Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan
(28%), eklamsi (24%), infeksi (11%), komplikasi masa nifas (8%), untuk emboli
obstetric, abortus, trauma obstetric, persalinan macet masing-masing 5%, penyebab lain
(11%) (Sulistyawati, 2013).
Masa nifas merupakan hal penting untuk diperhatikan guna menurunkan angka
kematian ibu dan bayi di Indonesia. Dari berbagai pengalaman dalam menanggulangi
kematian ibu dan bayi di banyak Negara, para pakar kesehatan menganjurkan upaya
pertolongan difokuskan pada periode intrapartum (Saleha, 2009).
Masa nifas adalah dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat- alat
kandungan kembali seperti keadaan semula. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6
minggu (Ambarawati dan Wulandari,2010).

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu “Bagaimana Asuhan Keperawatan Klien
Nifas Normal?”.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui asuhan keperawatan pada post parum normal.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui konsep dasar teori dari post parum normal.
b. Mengatahui asuhan keperawatan post parum normal.

D. Manfaat
1. Bagi Penulis
Diharapkan agar penulis mempunyai tambahan wawasan dan pengetahuan
tentang asuhan keperawatan post parum normal.
2. Bagi Institusi Pelayanan
Menjadi acuan dalam memberikan wawasan tentang asuhan keperawatan post
parum normal.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai sumber bacaan atau referensi untuk meningkatkan kualitas pendidikan
keperawatan tentang asuhan keperawatan post parum normal.

E. Sistematika Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini dibagi dalam beberapa bab, yaitu:
Bab I : Berisi pendahuluan yang terdiri dari latar belakang belakang,
rumusan masalah, tujuan dan sistematika penulisan.
Bab II : Berisi tinjauan pustaka yang terdiri dari penjelasan post parum
normal..
Bab III : Berisi asuhan keperawatan
Bab IV Berisi penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Postpartum adalah masa pulih kembali seperti pra hamil yang dimulai setelah
partus selesai atau sampai kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat kandungan pulih
kembali seperti semula. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Sarwono,
2008).
Postpartum adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta, serta
selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum
hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu (Siti Saleha, 2019).
Postpartum mulai setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu
(Saifuddin, 2016).

B. PERIODE MASA NIFAS


1. Periode Immediate Postpartum
Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam. Pada masa ini sering
terdapat banyak masalah, misalnya perdarahan karena atonia uteri. Oleh karena itu,
bidan dengan teratur harus melakukan pemeriksaan kontraksi uterus, pengeluaran
loche, tekanan darah, dan suhu.
2. Periode Early Postpartum (24 jam-1 minggu)
Pada fase ini bidan memastikan involusi uteri dalam keadaan normal, tidak ada
perdarahan, lochea tidak berbau busuk, tidak demam, ibu cukup mendapatkan
makanan dan cairan, serta ibu dapat menyusui dengan baik.
3. Periose Late Postpartum (1 minggu-5 minggu)
Pada periode ini bidan tetap melakukan perawatan dan pemeriksaan sehari-hari
serta konseling KB (Siti Saleha, 2019).
C. ADAPTASI FISIOLOGI POST PARTUM
1. Involusio uterus
Secara berangsur – angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali
seperti sebelum hamil, setelah plasenta lahir uterus merupakan alat yang keras,
karena kontraksi dan retraksi otot-ototnya. Fundus uteri  3 jari dibawah pusat.
Selama 2 hari berikutnya, besarnya tidak seberapa berkurang tetapi sesudah 2 hari ini
uterus mengecil dengan cepat sehingga pada hari ke-10 tidak teraba dari luar. Setelah
6 minggu tercapainya lagi ukurannya yang normal. Epitelerasi siap dalam 10 hari,
kecuali pada tempat plasenta dimana epitelisasi memakan waktu tiga minggu.
2. Serviks
Setelah persalinan, bentuk serviks agak mengganggu seperti corong berwarna
merah kehitaman. Konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat perlukaan-
perlukaan kecil setelah bayi lahir, tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah 2
jam dapat dilalui oleh 2-3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari.
3. Payudara
Konsentrasi hormone yang menstimulasi perkembangan payudara selama wanita
hamil (estrogen, progesterone, HCG, prolaktin, kortisol dan insulin) menurun dengan
cepat setelah bayi lahir. Waktu yang dibutuhkan hormone-hormon ini untuk kembali
ke kadar sebelum hamil sebagian ditentukan oleh apakah ibu menyusui atau tidak.
4. Sistem Urinary
Saluran kencing kembali normal dalam waktu 2-8 minggu, tergantung pada (1)
Keadaan/status sebelum persalinan (2) lamanya partus kala II dilalui (3) besarnya
tekanan kepala yang menekan pada saat persalinan. Disamping itu, dari hasil
pemeriksaan sistokopik segera setelah persalinan tidak menunjukkan adanya edema
dan hyperemia diding kandung kemih, akan tetapi sering terjadi exstravasasi
(extravasation, artinya keluarnya darah dari pembuluh-pembuluh darah di dalam
badan) kemukosa. (Suherni, 2019).
5. Sistem Endokrin
Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan pada sistem
endokrin, terutama pada hormon-hormon yang berperan dalam proses tersebut.
Oksitosin diseklerasikan dari kelenjer otak bagian belakang. Selama tahap ketiga
persalinan, hormon oksitosin berperan dalam pelepasan plasenta dan
mempertahankan kontraksi, sehingga mencegah perdarahan. Isapan bayi dapat
merangsang produksi ASI dan sekresi oksitosin. Hal tersebut membantu uterus
kembali ke bentuk normal.
Pada wanita yang menyusui bayinya, kadar prolaktin tetap tinggi dan pada
permulaan ada rangsangan folikel dalam ovarium yang ditekan. Pada wanita yang
tidak menyusui bayinya tingkat sirkulasi prolaktin menurun dalam 14-21 hari setelah
persalinan, sehingga merangsang kelenjer bawah depan otak yang mengontrol
ovarium kearah permulaan pola produksi estrogen dan progesteron yang normal,
pertumbuhan folikel, ovulasi, dan menstruasi.
Selama hamil volume darah normal meningkat walaupun mekanismenya secara
penuh belum dimengerti. Di samping itu, progesteron mempengaruhi otot halus yang
mengurangi perangsangan dan peningkatan pembuluh darah. Hal ini sangat
mempengaruhi saluran kemih, ginjal, usus, dinding vena, dasar panggul, perineum
dan vulva, serta vagina.
6. Sistem gastrointestinal
Sering terjadi konstipasi pada ibu setelah melahirkan.Hal ini umumnya karena
makan padat dan kurangnya berserat selama persalinan. Seorang wanita dapat
merasa lapar dan siap menyantap makanannya dua jam setelah persalinan. Kalsium
sangat penting untuk gigi pada kehamilan dan masa nifas, dimana pada masa ini
terjadi penurunan konsentrasi ion kalsium karena meningkatnya kebutuhan kalsium
pada ibu, terutama pada bayi yang dikandungnya untuk proses pertumbuhan juga
pada ibu dalam masa laktasi (Saleha, 2019).
7. Sistem muskuloskeletal
Beberapa gejala sistem muskuloskeletal yang timbul pada masa pasca partum
antara lain:
a. Nyeri punggung bawah
Nyeri punggung merupakan gejala pasca partum jangka panjang yang sering
terjadi. Hal ini disebabkan adanya ketegangan postural pada sistem
muskuloskeletal akibat posisi saat persalinan.
Penanganan: Selama kehamilan, wanita yang mengeluh nyeri punggung
sebaiknya dirujuk pada fisioterapi untuk mendapatkan perawatan. Anjuran
perawatan punggung, posisi istirahat, dan aktifitas hidup sehari-hari penting
diberikan. Pereda nyeri elektroterapeutik dikontraindikasikan selama kehamilan,
namun mandi dengan air hangat dapat menberikan rasa nyaman pada pasien.
b. Sakit kepala dan nyeri leher
Pada minggu pertama dan tiga bulan setelah melahirkan, sakit kepala dan
migrain bisa terjadi. Gejala ini dapat mempengaruhi aktifitas dan
ketidaknyamanan pada ibu post partum. Sakit kepala dan nyeri leher yang
jangka panjang dapat timbul akibat setelah pemberian anestasi umum.
c. Nyeri pelvis posterior
Nyeri pelvis posterior ditunjukan untuk rasa nyeri dan disfungsi area sendi
sakroiliaka. Gejala ini timbul sebelum nyeri punggung bawah dan disfungsi
simfisis pubis yang ditandai nyeri di atas sendi sakroiliaka pada bagian otot
penumpu berat badan serta timbul pada saat membalikan tubuh di tempat tidur.
Nyeri ini dapat menyebar ke bokong dan paha posterior.
Penanganan: pemakaian ikat (sabuk) sakroiliaka penyokong dapat
membantu untuk mengistirahatkan pelvis. Mengatur posisi yang nyaman saat
istirahat maupun bekerja, serta mengurangi aktifitas dan posisi yang dapat
memacu rasa nyeri.
d. Disfungsi simfisis pubis
Merupakan istilah yang menggambarkan gangguan fungsi sendi simfisis
pubis dan nyeri yang dirasakan di sekitar area sendi. Fungsi sendi simfisis pubis
adalah menyempurnakan cincin tulang pelvis dan memindahkan berat badan
melalui pada posisis tegak. Bila sendi ini tidak menjalankan fungsi semestinya,
akan terdapat fungsi/stabilitas pelvis yang abnormal, diperburuk dengan
terjadinya perubahan mekanis, yang dapat mrmpengaruhi gaya berjalan suatu
gerakan lembut pada sendi simfisis pubis untuk menumpu berat badan dan
disertai rasa nyeri yang hebat.
Penanganan: tirah baring selama mungkin; pemberian pereda nyeri;
perawatan ibu dan bayi yang lengkap; rujuk ke ahli fisioterapi untuk latihan
abdomen yang tepat; latihan meningkatkan sirkulasi; mobilisasi secara bertahap;
pemberian bantuan yang sesuai.
e. Diastasis rekti
Diastasis rekti adalah pemisahan otot rektus abdominis lebih dari 2,5 cm
pada tepat setinggi umbilikus (Noble, 1995) sebagai akibat pengaruh hormon
terhadap linea alba serta akibat perenggangan mekanis dinding abdomen. Kasus
ini sering terjadi pada multi paritas, bayi besar, poli hidramnion, kelemahan otot
abdomen dan postur yang salah. Selain itu, juga disebabkan gangguan kolagen
yang lebih ke arah keturunan, sehingga ibu dan anak mengalami diastasis.
Penanganan: melakukan pemeriksaan rektus untuk mengkaji lebar celah
antara otot rektus; memasang penyangga tubigrip (berlapis dua jika perlu), dari
area xifoid sternum sampai di bawah panggul; latihan transversus dan pelvis
dasar sesering mungkin, pada semua posisi, kecuali posisi telungkup-lutut;
memastikan tidak melakukan latihan sit-up atau curl-up; mengatur ulang
kegiatan sehari–hari, menindaklanjuti pengkajian oleh ahli fisioterapi selama
diperlukan.
f. Osteoporosis akibat kehamilan
Osteoporosis timbul pada trimester ketiga atau pasca natal. Gejala ini
ditandai dengan nyeri, fraktur tulang belakang dan panggul, serta adanya
hendaya (tidak dapat berjalan), ketidakmampuan mengangkat atau menyusui
bayi pasca natal, berkurangnya tinggi badan, postur tubuh yang buruk. .
8. Lochea
Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam
masa nifas. Pada hari pertama dan kedua lochea rubra atau lochea cruenta, terdiri
atas darah segar bercampur sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, sisa-sisa
verniks kaseosa, lanugo dan mekonium.
a. Lochea Rubra (cruenta) : Berisi darah segar dan sisa selaput ketuban, sel-sel dari
desidua, verniks kaseosa, lanugo dan mekonium.
b. Lochea Sanguinolenta : Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir hari ke
3-7 pasca persalinan
c. Lochea Serosa : berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7-14
pasca persalinan.
d. Lochea Alba : cairan putih setelah 2 minggu.
e. Lochea Purulenta : terjadi infeksi, keluaran cairan seperti nanah berbau busuk.
f. Lochea stasis : lochea tidak lancar keluarnya.
9. Pembuluh Darah Rahim
Dalam kehamilan, uterus mempunyai banyak pembuluh-pembuluh darah yang
besar, karena setelah persalinan tidak diperlukan lagi peredaran darah yang banyak.
Bila pembuluh darah yang besar, tersunbat karena perubahan pada dindingnya dan
diganti oleh pembuluh-pembuluh yang kiri.
10. Vagina dan perineum
Setelah persalinan dinding perut longgar karena disebabkan lama, tetapi
biasanya akan pulih kembali dalam 6 minggu. Pada wanita yang asthenis menjadi
diastasis dari otot-otot rectus abnominis sehingga sebagian dari dinding perut di garis
tengah terdiri dari perineum, fascia tipis dan kulit. Tempat yang lemah dan menonjol
kalau berdiri atau mengejan.
Perubahan vagina, vagina mengecil dan timbul rugae (lipatan-lipatan atau
kerutan-kerutan) kembali. Terjadi robekan perineum pada hampir semua persalinan
pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Bila ada laserasi jalan
lahir atau luka bekas episiotomi (penyayatan mulut serambi kemaluan untuk
mempermudah kelahiran bayi) lakukanlah penjahitan dan perawatan dengan baik
(Suherni, 2009).
11. Sistem Kardiovaskuler
a. Volume Darah

Perubahan volume darah tergantung pada beberapa factor misalnya


kehilangan darah selama melahirkan dan mobilisasi serta pengeluaran cairan
ekstravaskuler. Kehilangan darah merupakan akibat penurunan volume darah
total yang cepat tetapi terbatas. Pada minggu ketiga dan keempat setelah bayi
lahir, volume darah biasanya menurun sampai mencapai volume sebelum hamil.
Hipervolemia yang diakibatkan kehamilan menyebabkan kebanyakan ibu bisa
mentoleransi kehilangan darah saat melahirkan. Pasca melahirkan, shunt akan
hilang dengan tiba-tiba. Volume darah ibu relatif akan bertambah. Keadaan ini
akan menimbulkan dekompensasi kordis pada penderita vitum cordia. Hal ini
dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi dengan timbulnya hemokonsentrasi
sehingga volume darah kembali seperti sediakala. Pada umumnya, hal ini terjadi
pada hari ketiga sampai kelima post patum.

Tiga perubahan fisiologis pascapartum yang melindungi wanita :

1.1.Hilangnya sirkulasi uteroplasenta yang mengurangi ukuran pembuluh darah


maternal 10%-15%.
1.2.Hilangnya fungsi endokrin plasenta yang menghilangkan stimulus
vasodilatasi
1.3.Terjadinya mobilisasi air ekstravaskuler yang disimpan selama wanita
hamil.

b. Curah Jantung

Denyut jantung, volume sekuncup, dan curah jantung meningkat selama


masa hamil. Segera setelah wanita melahirkan, keadaan ini akan meningkat
bahkan lebih tinggi selama 30-60 menit karena darah yang biasanya melintasi
sirkuit uteroplasenta tiba-tiba kembali ke sirkulasi umum.

12. Tanda-tanda Vital


Selama 24 jam pertama, suhu mungkin meningkat menjadi 38ºC, sebagai akibat
meningkatnya kerja otot, dehidrasi dan perubahan hormonal jika terjadi peningkatan
suhu 38ºC yang menetap 2 hari setelah 24 jam melahirkan, maka perlu dipikirkan
adanya infeksi seperti sepsis puerperalis (infeksi selama post partum), infeksi saluran
kemih, endometritis (peradangan endometrium), pembengkakan payudara, dan lain-
lain.
Dalam periode waktu 6-7 jam sesudah melahirkan, sering ditemukan adanya
bradikardia 50-70 kali permenit (normalnya 80-100 kali permenit) dan dapat
berlangsung sampai 6-10 hari setelah melahirkan. Takhikardia kurang sering terjadi,
bila terjadi berhubungan dengan peningkatan kehilangan darah dan proses persalinan
yang lama.
Selama beberapa jam setelah melahirkan, ibu dapat mengalami hipotensi
orthostatik (penurunan 20 mmHg) yang ditandai dengan adanya pusing segera
setelah berdiri, yang dapat terjadi hingga 46 jam pertama. Hasil pengukuran tekanan
darah seharusnya tetap stabil setelah melahirkan. Peningkatan tekanan sisitolik 30
mmHg dan penambahan diastolik 15 mmHg yang disertai dengan sakit kepala dan
gangguan penglihatan, bisa menandakan ibu mengalami preeklamsia dan ibu perlu
dievaluasi lebih lanjut.
Fungsi pernafasan ibu kembali ke fungsi seperti saat sebelum hamil pada bulan
ke enam setelah melahirkan (Maryunani, 2009).
13. Endometrium
Timbul trombosis, degenerasi dan nekrosis, di tempat implantasi plasenta. Pada
hari-hari pertama, endometrium setebal 12,5 mm akibat pelepasan desidua dan
selaput janin.

D. PERUBAHAN PSIKOLOGIS
Adaptasi psikologis post partum menurut teori rubin dibagi dalam 3 periode yaitu
sebagai berikut ;
1. Periode Taking In
a. Berlangsung 1-2 hari setelah melahirkan
b. Ibu pasif terhadap lingkungan. Oleh karena itu, perlu menjaga komunikasi yang
baik.
c. Ibu menjadi sangat tergantung pada orang lain, mengharapkan segala sesuatru
kebutuhan dapat dipenuhi orang lain.
d. Perhatiannya tertuju pada kekhawatiran akan perubahan tubuhnya
e. Ibu mungkin akan bercerita tentang pengalamannya ketika melahirkan secara
berulang-ulang
f. Diperlukan lingkungan yang kondusif agar ibu dapat tidur dengan tenang untuk
memulihkan keadaan tubuhnya seperti sediakala.
g. Nafsu makan bertambah sehingga dibutuhkan peningkatan nutrisi, dan kurangnya
nafsu makan menandakan ketidaknormalan proses pemulihan
2. Periode Taking Hold
a. Berlangsung 3-10 hari setelah melahirkan
b. Pada fase ini ibu merasa khawatir akan ketidakmampuannya dalam merawat bayi
c. Ibu menjadi sangat sensitive, sehingga mudah tersinggung. Oleh karena itu, ibu
membutuhkan sekali dukungan dari orang-orang terdekat
d. Saat ini merupakan saat yang baik bagi ibu untuk menerima berbagai penyuluhan
dalam merawat diri dan bayinya. Dengan begitu ibu dapat menumbuhkan rasa
percaya dirinya.
e. Pada periode ini ibu berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya, misalkan
buang air kecil atau buang air besar, mulai belajar untuk mengubah posisi seperti
duduk atau jalan, serta belajar tentang perawatan bagi diri dan bayinya
3. Periode Letting Go
a. Berlangsung 10 hari setelah melahirkan.
b. Secara umum fase ini terjadi ketika ibu kembali ke rumah
c. Ibu menerima tanggung jawab sebagai ibu dan mulai menyesuaikan diri dengan
ketergantungan bayinya
d. Keinginan untuk merawat bayi meningkat
e. Ada kalanya ibu mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya, keadaan
ini disebut baby blues (Herawati Mansur, 2009).

E. PERAWATAN MASA NIFAS


1. Mobilisasi
Jelaskan bahwa latihan tertentu sangat membantu seperti :
a. Dengan tidur terlentang dengan lengan disamping, menarik otot perut selagi
menarik nafas, tahan nafas ke dalam dan angkat dagu ke dada : tahan satu
hitungan sampai 5, rileks dan ulangi 10 x.
b. Untuk memperkuat tonus otot vagina (latihan kegel).
c. Berdiri dengan tungkai dirapatkan kencangkan otot-otot, pantat dan pinggul dan
tahan sampai 5 hitungan kendurkan dan ulangi latihan sebanyak 5 kali.
d. Mulai mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap gerakan setiap minggu naikkan 5
kali. Dan pada 6 minggu setelah persalinan ibu harus mengerjakan sebanyak 30
kali.
2. Diet
Ibu menyusui harus mengkonsumsi tambahan kalori 500 tiap hari. Makanan
harus diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup.
Pil besi harus diminum minimal 40 hari pasca melahirkan. Minum sedikitnya 3 liter,
minum zat besi, minum kapsul vitamin A dengan dosis 200.000 unit.
3. Miksi hendaknya dapat dilakukan sendiri mungkin karena kandung kemih yang
penuh dapat menyebabkan perdarahan.
4. Defekasi
Buang air besar harus dapat dilakukan 3-4 hari pasca persalinan, bila tidak bisa
maka diberi obat peroral atau perektal atau klisma.
5. Perawatan Payudara
a. Menjaga payudara tetap bersih dan kering terutama puting susu
b. Menggunakan BH yang menyokong payudara
c. Apabila puting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada sekitar
puting susu setiap kali selesai menyusui. Menyusui tetap dilakukan dari puting
susu yang tidak lecet.
d. Apabila lecet berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI dikeluarkan dan
diminum dengan menggunakan sendok.
e. Untuk menghilangkan nyeri ibu dapat minum parasetamol 1 tab setiap 4-6 jam.
f. Apabila payudara bengkok akibat pembendungan ASI, lakukan :
1) Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat selama
5 menit.
2) Urut payudara dari arah pangkal menuju puting atau menggunakan sisir untuk
mengurut arah Z pada menuju puting.
3) Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga puting susu
menjadi lunak.
4) Susukan bayi setiap < 3 jam. Apabila tidak dapat menghisap seluruh ASI
sisanya dikeluarkan dengan tangan.
5) Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui.
6. Laktasi
ASI mengandung semua bahan yang diperlukan bayi, mudah dicerna, memberi
perlindungan terhadap infeksi, selalu segar, bersih dan siap untuk diminum.
Tanda ASI cukup :
a. Bayi kencing 6 kali dalam 24 jam.
b. Bayi sering buang air besar berwarna kekuningan
c. Bayi tampak puas, sewaktu-waktu merasa lapar, bangun dan tidur cukup.
d. Bayi menyusui 10-11 kali dalam 24 jam.
e. Payudara ibu terasa lembut dan kosong setiap kali menyusui.
f. Ibu dapat merasakan geli karena aliran ASI.
g. Bayi bertambah berat badannya.
ASI tidak cukup :
a. Jarang disusui.
b. Bayi diberi makan lain.
c. Payudara tidak dikosongkan setiap kali habis menyusui (Sarwono, 2002).

F. TANDA-TANDA BAHAYA MASA NIFAS


1. Perdarahan pervaginam yang luar biasa atau tiba-tiba bertambah banyak (lebih dari
perdarahan haid biasa atau bila memerlukan pergantian pembalut-pembalut 2 kali
dalam setengah jam).
2. Pengeluaran cairan vagina yang berbau busuk.
3. Rasa sakit dibagian bawah abdomen atau punggung.
4. Sakit kepala yang terus menerus, nyeri ulu hati, atau masalah penglihatan.
5. Pembengkakan diwajah atau ditangan.
6. Demam, muntah, rasa sakit sewaktu BAK atau jika merasa tidak enak badan.
7. Payudara yang bertambah atau berubah menjadi merah panas dan atau terasa sakit.
8. Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama.
9. Rasa sakit merah, lunak dan atau pembengkakan dikaki.
10. Merasa sangat sedih atau tidak mampu mengasuh sendiri bayinya atau dirinya
sendiri.
11. Merasa sangat letih dan nafas terengah-engah. (Siti Saleha, 2019)
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Biodata klien
Klien bernama Ny. R yang berusia 36 tahun, klien bekerja sebagai ibu rumah
tangga, klien beragama Islam dan pendidikan terakhir klien adalah SD. Klien
menikah dengan Tn. M yang berusia 46 tahun yang bekerja sebagai buruh dan
pendidikan terakhirnya adalah SMP. Klien tinggal di Jln. Sultaan Alimudin
RT.31, Samarinda. Klien masuk RS pada tanggal 29 Juli 2019 jam 01.10 WITA
dan tanggal pengkajian pada klien adalah 29 Juli 2019 pada pukul 12.00 WITA.

B. Riwayat Kesehatan Klien


1. Keluhan Utama/Alasan MRS
Nyeri pada luka bekas jahitan
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Satu minggu SMRS Ny. R merasa perutnya kencang-kencang daan
pergerakan janinnya menurun. Pada tangga 28 Juli 2019, NNy. R muntah-
muntah dan sempat pingsan. Ny. R di bawa ke RS Dxxxx dan didapatkan
detak jantung janinnya tidak dapat terdeteksi disertai dengan tidak terdapat
pergerakan dari si janin. Kemudian Ny.R dirujuk ke RSUD AWS melalui
IGD dengan kondisi pembukaan 3, perdaraahan pervagina, HIS 4x 10
menit 30 detik, tidak ada DJJ.
3. Riwayat Kesehatan Yang Lalu
Ny. R dengan G4P4-2A0, rutin memriksakan kesehatan dan kehamilannya
di Puskesmas dan dokter klinik. Memasuki trimester 3 Ny. R suka
mengkonsumsi makanan dan minuman manis dalam jumlah banyak dan
tidak terkontrol.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Ny. R mengatakan, keluarga dari pihak suami memiliki riwayat penyakit
keturunan DM dan Hipertensi.
C. Riwayat anak dan KB
Anak KB
JK BB PB Umur Jenis KB Lama Masalah Selama
Sekarang Penggunaan KB
P 3500 52 10 Th Kb suntik Tidak ada
L 3000 45 6 th Kb suntik Tidak ada
P 4100 52 meninggal Kb suntik Tidak ada
L 4100 52 meninggal

D. Pemeriksaan Fisik
1. Payudara
Putting menonjol, warna aerola hitam, ada pngeluaran kolostum, tidak ada
masalah pada payudara.
2. Abdomen
Bentuk abdomen cembung, striae gravida ada, tidak ada bekas operasi,
TFU 2 jari dibawah pusat, Kontraksi uterus baik, teraba kesras dan
membulat.
3. Genetalia
Tidak ada vulva oedema, tidak ada varises, terrdapat luka pada perineum,
tidak ada bekas episiotomy, terdapat jahitan
Jumlah lokia 25cc, jenis rubra berarna merah. Konsistensi cair, berbau
amis khas darah, dan tidak terdapat hemoroid.
4. Ekstremitas
Tidak ada oedema,tidak ada varises, dan human sign negative
E. Data penunjang
Pemeriksaan lab:
Leukosit : 9.190/uL
Eritrosit : 6.010.000/uL
Hb : 18,5g/dL
Ht : 54,2 %
PLT : 224.000/uL
Gula darah sewaktu : 394 mg/dL

USG : (29 Juli 2019) menunjukkan tidak ada pergerakan janin

F. Terapi
Asam traneksamat 1000mg
RL 500 mL
DIAGNOSA TUJUAN DAN INTERVENSI IMPLEMEENTASI EVALUASI
KEPERAATAN KRITERIA HASIL
JAM TINDAKAN

Senin 29 Juli 2019 Tujuan : Manajemen nyeri Memperkenalkan S:


diri,membinan
Dx 1 Setelah dilakukan 1.1. Identifikasi lokasi, hubungan saling Ny. R mengatakan
asuhan keperawatan karakteristik, durasi, percaya dan nyeri pada luka
Nyeri akut b/d agen selama 1x 8 jam, frekuensi, kualitas bekas jahitan
pencidera fisik menjelaskan tujuan
diharapkan nyeri dan intensitas nyeri asuhan keperawatan
(D.0077) berkurang 1.2. Identifikasi skala Pengkajian nyeri

Kategori : nyeri 1.1.Mengidentifika P : jika banyak


Kriteria hasil : 1.3. Identifikasi si lokasi,
psikologis, gerak
subkategori : nyeri - Keluhan pengetahaun dan karakteristik,
dan kenyamanan nyeri keyakinan tentang durasi, Q : seperti teriris
menurun nyeri frekuensi,
R : Vagina
- Gelisah 1.4. Jelaskan penyebab, kualitas dan
menurun periode dan pemicu intensitas nyeri S : Sedang (3-4)
- Frekuensi nyeri 1.2.Mengidentifika
1.5. Jelaskan strategi si skala nyeri T : Terus-menerus
nadi
membaik meredakan nyeri 1.3.Mengidentifika
- Tekanan 1.6. Berikan teknik si pengetahaun
darah nonfarmakologi untuk dan keyakinan O:
membaik meredakan nyeri tentang nyeri
1.4.Menjelaskan - Terdapat
penyebab, luka jahitan
periode dan grade 2 pada
pemicu nyeri perineum
1.5.Mengajarkan - Ny.R terlihat
teknik meringis
nonfarmakologi - Ny.R
untuk mencari
meredakan posisi yg
nyeri nyaman
(Tapaslam) - Ny.R
mampu
mendemonst
rasikan tarik
napas dalam

A:

Masalah nyeri akut


belum teratasi

P:

Lanjutkan intervensi

1.5.Menjelaskan
strategi
meredakan
nyeri