Anda di halaman 1dari 25

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI....................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... ii
BAB I .................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1
BAB II ................................................................................................................................ 2
Tinjauan Pustaka .......................................................................................................... 2
A. Pemeriksaan Hidung ........................................................................................... 2
B. Penyakit sumbat hidung ...................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 23

i
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan
rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan Refreshing “
Pemeriksaan Fisik Hidung dan Sumbat Hidung” ini tepat pada waktunya.

Dalam penulisan laporan ini, tidak lepas dari bantuan dan kemudahan yang
diberikan secara tulus dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr. Rini Febrianti, Sp. THT-KL, sebagai
dokter pembimbing.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam pembuatan laporan ini masih


jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun dari semua pihak yang membaca ini, agar penulis dapat
mengoreksi dan dapat membuat laporan ini yang lebih baik kedepannya.

Demikianlah laporan Refreshing ini dibuat sebagai tugas dari kegiatan klinis
di Stase THT serta untuk menambah pengetahuan bagi penulis khususnya dan bagi
pembaca pada umumnya.

Banjar, 20-12-2018

Penulis

ii
BAB I
PENDAHULUAN

Hidung merupakan salah satu organ penting dalam kehidupan. Hidung berfungsi
untuk menyaring udara yang masuk. Sehingga kotoran atau debu yang masuk ke
dalam hidung tidak mencapat sistem pernapasan kita. Hidung merupakan
alat indra manusia yang menanggapi rangsang berupa bau atau zat kimia yang
berupa gas. Di dalam rongga hidung terdapat serabut saraf pembau yang dilengkapi
dengan sel-sel pembau. Setiap sel pembau mempunyai rambut-rambut halus (silia
olfaktori) di ujungnya dan diliputi oleh selaput lendir yang berfungsi sebagai
pelembab rongga hidung.

Tujuan pembuatan materi refreshing ini adalah untuk memahami mengenai


pemeriksaan pada hidung dan sumbat hidung, serta cara menegakkan diagnosis
yang baik.

1
BAB II
Tinjauan Pustaka

A. Pemeriksaan Hidung

Hanya sedikit keraguan bahwa hidung dan sinus merupakan organ yang paling
sering terserang penyakit dalam tubuh manusia dan pasien yang menderita gangguan
daerah ini menyita waktu yang cukup banyak dari seorang dokter. Umumnya penyakit-
penyakit hidung dapat diatasi dengan terapi definitif. Mayoritas pasien dengan penyakit
hidung atau sinus mengeluhkan satu atau lebih gejala berikut:1

 Ingusan
 Hidung tersumbat
 Pilek
 Sakit kepala atau nyeri lainnya
 Epistaksis
 Serangan bersin
 Terkadang pembengkakan hidung luar
 Hilangnya atau perubahan penciuman
 Alergi

Jika ditemukan salah satu keluhan ini, maka harus dicirikan secara rinci. Berikut
ini adalah suatu panduan praktis untuk menyelidiki keluhan-keluhan tersebut. Keterangan
lebih lanjut yang perlu dipertimbangkan dalam anamnesis dapat ditemukan dalam bab-bab
yang membahas tentang hidung dan sinus paranasal.1

 Anamnesis1

Sekret

1. Apakah dari satu sisi atau keduanya?


2. Lamanya? Terus menerus atau intermiten, dan bagaimana terjadinya? Usia saat
awitan?
3. Apakah encer atau kental? Purulen atau berdarah?
4. Apakah ada hubungannya dengan perubahan lingkungan atau musim?

Hidung tersumbat

1. Apakah satu sisi atau keduanya?

2
2. Lamanya? Terus menerus atau intermiten, dan bagaimana terjadinya? Usia saat
awitan?
3. Adakah riwayat trauma?
4. Adakah riwayat operasi hidung atau operasi THT lainnya?
5. Adakah riwayat gangguan alergi terutama yang berkaitan dengan perubahan
musim? Bila ya, maka diperlukan riwayat alergi yang lengkap.
6. Apakah pasien menggunakan semprotan hidung atau obat-obatan?

Perdarahan

1. Berap lama? Frekuensi? Kapan serangan terakhir?


2. Apakah perdarahan unilateral atau bilateral?
3. Apakah perdarahan berasal dari nares anterior, posterior, atau keduanya?
4. Apakah hanya terjadi pada musim dingin?
5. Adakah riwayat trauma?
6. Apakah pasien mempunyai kecendrungan berdarah?
7. Apakah pasien menggunakan suatu pengobatan?
8. Apakah ada hipertensi?

Kehilangan atau perubahan dalam menghidu (anosmia)

1. Apakah berkaitan dengan trauma, infeksi saluran nafas bagian atas, atau penyakit
sistemik?
2. Apakah kehilangan atau perubahan penghiduan sebagian atau sama sekali?
3. Adakah riwayat penyakit hidung atau sinus?
4. Apakah ada gejala sistemik lainnya?

 Pemeriksaan fisik2

Inspeksi:

 Bentuk hidung dari luar : apakah terdapat cacat bawaan, trauma, atau
tumor.
 Warna hidung : apakah terdapat kemerahan akibat infeksi atau
hematom.
 Apakah terdapat pembengkakan: furunkel, trauma.

Palpasi:

 Palpasi dorsum nasi : menilai adanya krepitasi, deformitas.

3
 Palpasi ala nasi : menilai adanya furunkel vestibulum (jika nyeri)
 Palpasi regio frontalis :
 Menekan lantai sinus frontalis dengan ibu jari ke arah mediosuperior, dengan
tenaga yang optimal dan simetris (tenaga kiri=kanan). Hasil pemeriksaan
bermakna jika terdapat perbedaan reaksi. Sinus yang lebih sakit adalah sinus
yang patologis.
 Menekan dinding mukosa sinus frontalis, dengan ibu jari menekan ke arah
medial dengan tenaga yang optimal dan simetris. Jangan menekan foramen
supraorbitalis sebab disana terdapat N. supraorbitalis.
 Menekan fossa kanina dengan ibu jari ke arah media superior untuk menilai
sinus maksilaris.
 Rinoskopi anterior2

Alat-alat yang digunakan : spekulum hidung, lampu kepala

Teknik pemeriksaan :

 Spekulum hidung dipegang dengan tangan kiri


 Spekulum dalam posisi horizontal, tangkai lateral, mulut medial
 Spekulum dimasukkan ke cavum nasi dalam keadaan tertutup, setelah berada
dalam cavum nasi, spekulum dibuka perlahan.
 Spekulum dikeluarkan dengan cara mulut spekulum ditutup 90% lalu dikeluarkan.
Jangan menutup spekulum 100% sebab dapat menyebabkan terjepitnya bulu
hidung dan ikut tercabut keluar sehingga pasien merasa nyeri.

hal-hal yang dapat dinilai:

 pemeriksaan awal : bibir, sekitar lubang hidung (krusta), posisi


septum nasi
 pemeriksaan vestibulum : krusta, sekret, bisul
 pemeriksaan cavum nasi bawah : warna mukosa konka inferior, besarnya lumen
cavum nasi, lantai cavum nasi, deviasi septum.
 Pemeriksaan cavum nasi bagian atas: kaput konka media, meatus medius (pus,
polip), mukosa septum, fissura olfaktoria
 Pemeriksaan septum nasi : nilai adanya defiasi septum
 Fenomena palatum molle

Cara melakukan pemeriksaan fenomena palatum molle:

4
a. Cahaya lamu diarahkan ke dinding belakang nasofaring. Pada keadaan normal
nasofaring terlihat terang karna cahaya lampu tegak lurus pada dinding belakang
nasofaring.
b. Minta pasien mengucapkan hurup “iiii”
Interpretasi:
 Fenomena palatum molle (+) jika sewaktu melakukan langkah b, palatum
molle bergerak sehingga tampak benda gelap bergerak ke atas
 Fenomena palatum molle (-) jika sewaktu melakukan langkah b, palatum
molle tidak bergerak sehingga nasofaring tetap terang.
 Fenomena palatum molle (-) pada: paralisis palatum molle (post difteri),
spasme palatum molle (abses peritonsil), sikatriks, tumor nasofaring
(KNF, abses retrofaring, adenoid)
Bila terdapat pembengkakan mukosa sehingga menghalangi pemeriksaan, dapat
dipakai obat anestesi lokal yang ditambah vasokonstriktor (efedrin, adrenalin) yang
diaplikasikan ke hidung dengan kapas. Dengan demikian mukosa akan mengecil
dan pemeriksaan tidak terganggu lagi.

 Rinoskopi posterior2

Alat-alat yang digunakan: spatel lidah, kaca nasofaring, lampu kepala, spiritus, tetrakain.

Teknik pemeriksaan:

 Tangan kanan memegang kaca nasofaring dan tangan kiri memegang spatel lidah
 Minta pasien membuka mulut lebar-lebar, lalu spatel lidah ditekan pada 2/3 bagian
dorsum lidah
 Kaca nasofaring dimasukkan secara perlahan hingga terlihat bayangan hidung
bagian belakang (jangan sampai menyentuh dinding posterior faring).
 Dengan perlahan-lahan putar tangkai kaca nasofaring ke kanan dan kiri untuk
mengamati struktur dalam hidung.
 Selama pemeriksaan, lidah dijaga agar tetap berada didalam mulut dan pasien
diminta bernapas melalui hidung.

Hal-hal yang dapat dinilai saat pemeriksaan rinoskopi posterior.

 Bagian pertama yang dapat dievaluasi adalah bagian belakang septum dan koana.
 Kemudian kaca diputar kearah lateral untuk melihat konka superior, media, dan
inferior serta meatus superior dan media.

5
 Kaca diputar lebih ke lateral lagi untuk mengidentifikasi torus tubarius, muara tuba
eustachius, dan fossa rossenmuler.

Pada pasien yang sensitif, pemeriksaan rinoskopi posterior dimulai 5 menit setelah faring
disemprotkan tetrakain 1%.

Sebelum kaca dimasukkan, kaca harus dihangatkan terlebih dahulu menggunakan api
bunsen/spiritus untuk mencegah kaca berembun ketika dimasukkan ke dalam mulut.
Setelah itu suhu kaca dites terlebih dahulu dengan menempelkan pada kulit punggung
tangan pemeriksa.

 Nasoendoskopi2
Pemeriksaan menggunakan teknologi canggih dengan menggunakan alat yang
dimasukkan melalui hidung dan dapat mengidentifikasi seluruh rongga hidung
beserta seluruh struktur yang terdapat di dalamnya dan daerah nasofaring.
 Pemeriksaan fungsi hidung2

Pemeriksaan Fungsi Udara Hidung

1. Metode Kualitatif
Perhatikan cuping hidung pada waktu ekspirasi. Dengan kaca atau spatel lidah
yang diletakkan didepan lubang hidung, akan ada penyemburan udara atau bercak
pada kaca atau logam, kemudian bandingkan antara kanan dan kiri.
2. Metode Kuantitatif
Digunakan rhinomanometer yang mampu mengukur tekanan pada rongga hidung
dan nasofaring waktu inspirasi dan ekspirasi yang dicatat secara otomatis.
Dengan demikian akan diketahui hidung sebelah mana yang mengalami
gangguan.

Pemeriksaan Fungsi Pembau

1. Metode Kualitatif.
Cara melakukan:
a. Didepan lubang hidung diberi bahan pembau misalnya vanili, teh, kopi,
tembakau, dsb.
b. Jangan menggunakan zat yang dapat merangsang mukosa hidung
seperti mentol, amoniak, alkohol, dan cuka.
c. Tiap lubang hidung diperiksa satu persatu dengan cara menutup lubang
hidung lainnya dengan tangan.

6
d. Pada tes ini dapat ditentukan apakah terdapat enosmia, hiposmia, atau
parasmia.
2. Metode Kuantitatif
Dengan menggunakan olfaktometri untuk menentukan gangguan pembauan yang
absolut dan relatif.

 Pemeriksaan Transluminasi Sinus2

Alat: Lampu listrik 6 volt bertangkai panjang (Heyman)

Pemeriksaan Transluminasi Sinus Frontalis

Cara:

a. Lampu ditekan pada lantai sinus frontalis

b. Lampu ditekankan ke arah media superior

c. Cahaya yang memancar ke depan ditutup dengan tangan kiri

Sinus normal bila dinding depan kelihatan terang.

Permeriksaan Transluminasi Sinus Maksilaris

Cara I:

a. Mulut dibuka lebar

b. Lampu diletakkan pada manga inferior arbita ke arah inferior.

c. Cahaya yang memancar ke depan ditutup dengan tangan kiri.

Sinus normal bila palatum durum homolateral tampak terang

Cara II:

a. Mulut dibuka lalu dimasukkan lampu ke dalam mulut

7
b. Mulut ditutp rapat

c. Cahaya yang memancar dari mulut ke bibir atas ditutup dengan tangan
kiri.

Sinus maksilaris normal bila pada daerah dinding depan dibawah arbita
terlihat bayangan terang berbentuk bulan sabit

Interpretasi

Pemeriksaan hanya mempunyai nilai bila terdapat perbedaan antara sinus kiri dan
kanan.

Bila kedua sinus terang, maka:

- Pada pria: sinus normal

- Pada wanita: sinus normal / keduanya berisi cairan (karena tulan tipis)

Bila sama gelap, maka:

- Pada pria: sinus normal (karena tulang tebal)

 Pemeriksaan X-Ray Sinus2

Pemeriksaan X-Ray standar sinus paranasatis biasanya dilakukan dalam beberapa


proyeksi untuk menilai adanya inflamasi akut pada sinus

Proyeksi Occipitomental (Waters) : untuk evaluasi sinus maksilaris

Proyeksi Occipitafrontal (Caldwell) : untuk evaluasi sinus frontalis &


etmoidalis

Proyeksi Lateral: untuk evaluasi sinus sfenoid.

8
B. Penyakit sumbat hidung
1. Polip hidung
Definisi
Polip nasal adalah suatu proses inflamasi kronis pada mukosa hidung dan sinus
paranasal yang ditandai dengan adanya massa yang edematous pada rongga
hidung. Polip nasal juga dapat pula didefinisikan sebagai kantong mukosa yang
edema, jaringan fibrosus, pembuluh darah, sel-sel inflamasi dan kelenjar. Polip
nasal muncul seperti anggur pada rongga hidung bagian atas, yang berasal dari
dalam kompleks ostiomeatal. Polip nasal terdiri dari jaringan ikat longgar,
edema, sel-sel inflamasi dan beberapa kelenjar dan kapiler dan ditutupi dengan
berbagai jenis epitel, terutama epitel pernafasan pseudostratified dengan silia
dan sel goblet.3

Etiologi
Banyak teori yang menyatakan bahwa polip merupakan manifestasi utama dari
inflamasi kronis, oleh karena itu kondisi yang menyebabkan inflamasi kronis
dapat menyebabkan polip nasal. Beberapa kondisi yang berhubungan dengan
polip nasal seperti alergi dan non alergi, sinusitis alergi jamur, intoleransi
aspirin, asma, sindrom Churg-Strauss (demam, asma, vaskulitis eosinofilik,
granuloma), fibrosis kistik, Primary ciliary dyskinesia, Kartagener syndrome
(rinosinusitis kronis, bronkiektasis, situs inversus), dan Young syndrome
(sinopulmonary disease, azoospermia, polip nasal).4

Gejala klinis
Gejala utama dari polip nasal adalah sumbatan hidung yang terus menerus
namun dapat bervariasi tergantung dari lokasi polip. Pasien juga mengeluh
keluar ingus encer dan post nasal drip. Anosmia dan hiposmia juga menjadi
ciri dari polip nasal. Sakit kepala jarang terjadi pada polip nasal.5

Diagnosis

a. Pemeriksaan Rhinoskopi
Pada pemeriksaan rhinoskopi anterior dan posterior dapat dijumpai massa
polipoid, licin, berwarna pucat keabu-abuan yang kebanyakan berasal dari meatus
media dan prolaps ke kavum nasal. Polip nasal tidak sensitif terhadap palpasi dan
tidak mudah berdarah.5

9
Gambar 1. Polip nasal.

b. Pemeriksaan Nasoendoskopi
Pemeriksaan nasoendoskopi memberikan visualisasi yang baik terutama pada
polip yang kecil di meatus media. Penelitian Stamberger pada 200 pasien polip
nasal yang telah dilakukan bedah sinus endoskopik fungsional ditemukan polip
sebanyak 80% di mukosa meatus media, processus uncinatus dan infundibulum.5

Stadium polip berdasarkan pemeriksaan nasoendoskopi menurut Mackay dan


Lund dibagi menjadi:
Stadium 0: tanpa polip
Stadium 1: polip terbatas di meatus media
Stadium 2: polip di bawah meatus media
Stadium 3: polip masif.

Polip nasal hampir semuanya bilateral dan bila unilateral membutuhkan


pemeriksaan histopatologi untuk menyingkirkan keganasan atau kondisi lain
seperti papiloma inverted.5

10
Gambar 2. Polip nasal yang terlihat dengan nasoendoskopi.

Gambar 3. Polip nasal yang terlihat dengan nasoendoskopi

11
c. Pemeriksaan Histopatologi
Pada pemeriksaan histopatologi, polip nasal ditandai dengan epitel kolumnar
bersilia, penebalan dasar membran, stoma edematous tanpa vaskularisasi dan
adanya infiltrasi sel plasma dan eosinofil. Eosinofil dijumpai sebanyak 85% pada
polip dan sisanya merupakan neutrofil.5

Berdasarkan penemuan histopatologi, Hellquist HB mengklassifikasikan polip


nasal menjadi 4 tipe yaitu:
(I) Eosinophilic edematous type (stroma edematous dengan eosinofil yang
banyak)
(II) Chronic inflammatory or fibrotic type (mengandung banyak sel inflamasi
terutama limfosit dan neutrofil dengan sedikit eosinofil)
(III) Seromucinous gland type (tipe I + hiperplasia kelenjar seromucous)
(IV) Atypical stromal type.4

d. Pemeriksaan Laboratorium
Anak-anak dengan polip nasal yang berhubungan dengan rhinitis alergi harus
dievaluasi dengan pemeriksaan serologi radioallergosorbent test (RAST) dan
beberapa bentuk allergic skin test.5

Tes Sweat Chloride atau tes genetic untuk cystic fibrosis (CF) dilakukan pada
setiap anak-anak dengan polip nasal benigna multipel.5

Nasal smear dilakukan untuk mencari tahu ada tidaknya eosinofil untuk
membedakan antara penyakit sinus alergi atau nonalergi untuk mengindikasikan
pemberian glukokortikoid. Adanya neutrofil menunjukkan sinusitis kronis.5

e. Pencitraan
Kriteria standar untuk mengevaluasi lesi pada nasal, khususnya polip nasal atau
sinusitis adalah dengan menggunakan CT Scan maxillofacial, axial sinus dan
coronal plane. Foto polos tidak memiliki hasil yang signifikan setelah polip telah
terdiagnosis.5

Pemeriksaan MRI dilakukan apabila ada kemungkinan keterlibatan atau ekstensi


intrakranial dari polip nasal.5

12
Gambar 4. CT Scan coronal menunjukkan setengah dari cavum nasal sinistra diisi oleh
polip.

Gambar 5. MRI coronal menunjukkan ekspansi dari sinus dengan polip.

13
2. Rinitis Alergi
Definisi
Merupakan penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien
atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama serta
dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulang dengan
alergen spesifik tersebut.
Definisi menurut WHO ARIA 2001: rinitis adalah kelainan pada hidung
dengan gejala bersin-bersin, rinorea, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa
hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.5

Etiologi5
 Inhalan (melalui udara pernapasan) : debu rumah, tungau, jamur,
bulu hewan.
 Ingestan (melalui makanan) : susu, telur, kacang tanah,
udang, ikan laut, dll
 Injektan (melalui suntikan atau tusukan) : penisilin, sengatan lebah
 Kontaktan (melalui kontak kulit atau mukosa) : bahan kosmetik dan
perhiasan.

Gejala klinis1

Gejala klinis pada rinitis alergi adalah bersin berulang pada pagi
hari, keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak, hidung
tersumbat, hidung dan mata gatal, yang kadang-kadang disertai dengan
banyak keluar air mata (lakrimasi).

Awitan gejala timbul cepat setelah paparan allergen dapat berupa


bersin, mata atau palatum yang gatal berair, rinore, hidung gatal,
hidung tersumbat.

P a d a m a t a d a p a t menunjukkan gejala berupa mata merah, gatal,


conjungtivitis, mata terasa terbakar, danlakrimasi.

14
Pada telinga bisa dijumpai gangguan fungsi tuba, efusi telinga bagian tengah

Diagnosis5
 Anamnesis
Gejala-gejala yang dialami pasien dan riwayat penyakit atopi dalam keluarga
 Rinoskopi anterior-nasoendoskopi
Mukosa konka edema, berwarna pucat, dan disertai sekret encer yang banyak.
 Pemeriksaan laboratorium

In vitro:

Sitologi sekret hidung (eosinofil)

Darah: eosinofil, IgE total dan IgE spesifik

In vivo:

Prick tes

SET (Skin Endpoint Titration)

3. Rinitis vasomotor
Defnisi
Rinitis vasomotor adalah terdapatnya gangguan fisiologi lapisan mukosa
hidung yang disebabkan peningkatan aktivitas saraf parasimpatis. Penyakit ini
termasuk dalam penyakit rinitis kronis selain rinitis alergika.5

Rinitis vasomotor adalah inflamasi kronis lapisan mukosa hidung yang


disebabkan oleh terganggunya keseimbangan sistem saraf parasimpatis dan
simpatis. Parasimpatis menjadi lebih dominan sehingga terjadi pelebaran dan
pembangkakan pembuluh darah di hidung. Gejala yang timbul berupa hidung
tersumbat, bersin dan ingus yang encer.
Rinitis vasomotor adalah kondisi dimana pembuluh darah yang terdapat di
hidung menjadi membengkak sehingga menyebabkan hidung tersumbat dan
kelenjar mukus menjadi hipersekresi.5

Etiologi

15
Etilogi pasti rinitis vasomotor belum diketahui dan diduga akibat gangguan
keseimbangan sistem saraf otonom yang dipicu oleh zat-zat tertentu. Beberapa
faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor :5
I. Obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis,
seperti ergotamin, chlorpromazin, obat anti hipertensi dan obat
vasokonstriktor topikal.
II. Faktor fisik, seperti iritasi oleh asap rokok, udara dingin, kelembaban
udara yang tinggi dan bau yang merangsang.
III. Faktor endokrin, sepeti keadaan kehamilan, pubertas, pemakaian pil
anti hamil dan hipotiroidisme.
IV. Faktor psikis, seperti stress, ansietas dan fatigue.

Gejala klinis

Gejala yang dijumpai pada rinitis vasomotor kadang-kadang sulit dibedakan


dengan rinitis alergi seperti hidung tersumbat dan rinore. Rinore yang hebat
dan bersifat mukus atau serous sering dijumpai. Gejala hidung tersumbat
sangat bervariasi yang dapat bergantian dari satu sisi ke sisi yang lain, terutama
sewaktu perubahan posisi.5

Keluhan bersin-bersin tidak begitu nyata bila dibandingkan dengan rinitis


alergi dan tidak terdapat rasa gatal di hidung dan mata. Gejala dapat memburuk
pada pagi hari waktu bangun tidur oleh karena adanya perubahan suhu yang
ekstrim, udara lembab, dan juga oleh karena asap rokok dan sebagainya.Selain
itu juga dapat dijumpai keluhan adanya ingus yang jatuh ke tenggorok ( post
nasal drip ).5

Diagnosis5
Diagnosis umumnya ditegakkan dengan cara eksklusi, yaitu menyingkirkan
adalanya rinitis infeksi, alergi, okupasi, hormonal, dan akibat obat.
 Anamnesis
Faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor
Rinoskopi anterior
 Edema konka
Konka berwarna merah gelap atau merah tua (karakteristik) tetapi dapat
pula pucat.

16
Permukaan konka dapat licin atau berbenjol
 Sekret serous atau mukus
Laboratorium: IgE normal, skin test (-), eusinofil normal
4. Rinitis medikamentosa
Definisi
Rinitis medikamentosa dikenal juga dengan rebound rhinitis atau rinitis kimia
karena menggambarkan kongesti mukosa hidung yang diakibatkan
penggunaan vasokontriksi topikal yang berlebihan. Obat-obatan lain yang bisa
mempengaruhi keseimbangan vasomotor adalah antagonis ß-adrenoreseptor
oral, inhibitor fosfodiester, kontrasepsi pil, dan antihipertensi. Tetapi
mekanisme terjadinya kongesti antara vasokontriktor hidung dengan obat-obat
di atas berbeda sehingga istilah rinitis medikamentosa hanya digunakan untuk
rinitis yang disebabkan oleh penggunaan vasokontiktor topikal sedangkan
yang disebabkan oleh obat-obat oral dinamakan rhinitis yang dicetuskan oleh
obat (drug-induced rhinitis).5

Etiologi
Obat vasokonstriktor topikal dari golongan simpatomimetik akan
menyebabkan siklus nasal terganggu dan akan berfungsi kembali bila
pemakaian dihentikan. Pemakaian vasokontriktor topikal yang berulang dan
waktu lama akan menyebabkan terjadinya fase dilatasi ulang (rebound
dilatation) setelah vasokontriksi, sehingga timbul obstruksi. Bila pemakaian
obat diteruskan maka akan terjadi dilatasi dan kongesti jaringan, pertambahan
mukosa jaringan dan rangsangan sel-sel mukoid sehingga sumbatan akan
menetap dan produksi sekret berlebihan.1
Selain vasokontriktor topikal, obat-obatan yang dapat menyebabkan edema
mukosa diantaranya adalah asam salisilat, kontrasepsi oral, hydantoin,
estrogen, fenotiazin, dan guanetidin. Sedangkan obat-obatan yang
menyebabkan kekeringan pada mukosa hidung adalah atropin, beladona,
kortikosteroid dan derivat katekolamin.1
Penyakit rinitis medikamentosa disebabkan oleh pemakaian obat sistemis yang
bersifat sebagai antagonis adreno-reseptor alfa seperti anti hipertensi dan
psikosedatif . Selain itu aspirin, derivat ergot, pil kontrasepsi , dan anti
cholinesterasi yang digunakan secara berlebihan juga dapat menyebabkan
gangguan hidung. Obat vasokonstriktor topikal sebaiknya isotonik dengan

17
sekret hidung yang normal, dengan pH antara 6,3 dan 6,5, serta pemakaiannya
tidak lebih dari satu minggu. Jika tidak, akan terjadi kerusakan pada mukosa
hidung berupa:5
1. Silia rusak
2. Sel goblet berubah ukurannya
3. Membran basal menebal
4. Pembuluh darah melebar
5. Stroma tampak edema
6. Hipersekresi kelenjar mukus
7. Lapisan submukosa menebal
8. Lapisan periostium menebal

Antihipertensi Phosphodiesterase Hormon


type 5 inhibitors

 Amiloride  Sildenafil  Estrogen


 Angiotensin-converting enzyme  Tadalafil Eksogenous
inhibitors  Vardenafil  Pil kontrasepsi
 ß-blockers
 Chlorothiazide
 Clonidine
 Hydralazine
 Hydrochlorothiazide
 Prazosin
 Reserpine
Anti-nyeri Psikotropik Lain- lain

 Aspirin  Chlordiazepoxide-  Kokain


 NSAIDs amitriptyline  Gabapentin
 Chlorpromazine
 Risperidone
 Thioridazine

Obat yang menyebabkan Drug-Induced Rhinitis5

18
Dekongestan Imidazolines
– Simpatomimetik :
 Amfetamin  Klonidin
 Benzedrine  Naphazolin
 Kafein  Oxymetazolin
 Ephedrin  Xylometazolin
 Mescalin
 Phenylephrin
 Phenylpropanolamin
 Pseudoephedrin

Dekongestan yang menyebabkan Rhinitis Medikamentosa5

Gejala klinis
Pada rhinitis medikamentosa terdapat gejala hidung tersumbat terus menerus, berair.
Pada pemeriksaan edema/hipertrofi konka dengan secret hidung berlebihan. Apabila diberi
tampon adrenalin, edema konka tidak berkurang.5
Keluhan utama pasien adalah hidung tersumbat secara terus menerus tanpa
mengeluarkan sekret. Penampakan pada pemeriksaan fisis bagi rhinitis medikamentosa
tidak jauh bedanya dengan infeksi atau rhinitis alergi. Mukosa hidung kelihatan kemerahan
( beefy-red ) dengan area bercak pendarahan dan sekret yang minimal atau udem. Selain
itu juga, mukosanya bisa tampak pucat dan udem, juga bisa menjadi atrofi dan berkrusta
disebabkan penggunaan dekongestan hidung dalan jangka waktu yang lama.5

Diagnosa
Pada rhinitis medikamentosa terdapat gejala hidung tersumbat terus menerus, berair. Pada
pemeriksaan edema/hipertrofi konka dengan secret hidung berlebihan. Apabila diberi
tampon adrenalin, edema konka tidak berkurang.5
Keluhan utama pasien adalah hidung tersumbat secara terus menerus tanpa mengeluarkan
sekret. Penampakan pada pemeriksaan fisis bagi rhinitis medikamentosa tidak jauh
bedanya dengan infeksi atau rhinitis alergi. Mukosa hidung kelihatan kemerahan ( beefy-
red ) dengan area bercak pendarahan dan sekret yang minimal atau udem. Selain itu juga,
mukosanya bisa tampak pucat dan udem, juga bisa menjadi atrofi dan berkrusta disebabkan
penggunaan dekongestan hidung dalan jangka waktu yang lama .5

19
Deviasi septum
Definisi

Deviasi septum ialah suatu keadaan dimana terjadi peralihan posisi septum nasi
dari letaknya yang berada di garis medial tubuh. Deviasi septum menurut Mladina dibagi
atas beberapa klasifikasi berdasarkan letak deviasi, yaitu :1
1. Tipe I : benjolan unilateral yang belum mengganggu aliran udara.
2. Tipe II : benjolan unilateral yang sudah mengganggu aliran udara, namun masih
belum menunjukkan gejala klinis yang bermakna.
3. Tipe III : deviasi pada konka media (area osteomeatal dan meatus media).
4. Tipe IV : “S” septum (posterior ke sisi lain, dan anterior ke sisi lainnya).
5. Tipe V : tonjolan besar unilateral pada dasar septum, sementara di sisi lain masih
normal.
6. Tipe VI : tipe V ditambah sulkus unilateral dari kaudal-ventral, sehingga
menunjukkan rongga yang asimetri.
7. Tipe VII : kombinasi lebih dari satu tipe, yaitu tipe I-tipe VI.

20
Gambar 6. Klasifikasi Deviasi Septum Nasi Menurut Mladina
1
Etiologi
 Trauma : paling sering menyebabkan kerusakan pada kartilago septum
 Ketidakseimbangan pertumbuhan

Gejala klinis1

Jadi deviasi septum dapat menyebabkan satu atau lebih dari gejala berikut ini :
♣ Sumbatan pada salah satu atau kedua nostril
♣ Kongesti nasalis biasanya pada salah satu sisi
♣ Perdarahan hidung (epistaksis)
♣ Infeksi sinus (sinusitis)
♣ Kadang-kadang juga nyeri pada wajah, sakit kepala, dan postnasal drip.
♣ Mengorok saat tidur (noisy breathing during sleep), terutama pada bayi dan anak.

Pada beberapa kasus, seseorang dengan deviasi septum yang ringan hanya
menunjukkan gejala ketika mengalami infeksi saluran pernapasan atas, seperti common
cold. Dalam hal ini, adanya infeksi respiratori akan mencetuskan terjadinya inflamasi pada
hidung dan secara perlahan-lahan menyebabkan gangguan aliran udara di dalam hidung.
Kemudian terjadilah sumbatan/obstruksi yang juga terkait dengan deviasi septum nasi.

21
Namun, apabila common cold telah sembuh dan proses inflamasi mereda, maka gejala
obstruksi dari deviasi septum nasi juga akan menghilang.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Higler, adam boies. BOIES BUKU AJAR PENYAKIT THT. (EGC, 1997).

2. Rukmini, S. & Herawati, S. Teknik Pemeriksaan Telinga, Hidung, dan Tenggorok.


(EGC, 2000).

3. Erbek. The Role of Allergy in the severity of nasal polyposis. Am. J. Rhinol. 21,
686–90 (2007).

4. Kirtreesakul, V. Update on nasal polyps: etiopathogenesis. J. Med Assoc Thai


1966–72 (2002).

5. Shurti, D. & PL, D. Disease of Ear, Nose, Throat, Head and Neck Surgery.
(Elsevier, 2014).

23