Anda di halaman 1dari 11

KORUPSI E-KTP

DISUSUN OLEH :
RISKIADEN MARKUS
1317021

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM


FAKULTAS ILMU-ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS KRISTEN WIRA WACANA SUMBA
TAHUN 2018/2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejak dahulu kala manusia hidup dibawah hukum. Pada mulanya hukum
betepatan dengan adat-istiadat yang disah kan oleh sesepu kelompok tertentu.
Kemudian hukum dibentuk dalam undang-undang oleh para penguasa Negara.
Sejak dahulu kala juga orang berpikir tentang masalah-masalah pokok yang
dibangkitkan oleh munculnya gejala ini. Timbullah pertanyaan: apa artinya
hukum? Mengapa orang menaati hokum yang berlaku? Pertanyaan senantiasa
menggerakkan daya pikir manusia sejak dahulu kala sampai sekarang.1

Transformasi tata kelola pemerintahan saat ini semakin mengarah pada


penyelenggara pemerintah yang berbasis tata kelola pemerintahan yang baik
(the principles of good administration). Pengaturan dalam system hokum
keuangan Negara berbasis tata kelola keuangan Negara yang baik merupakan
suatu condition sine qua non untuk mengawal reformasi birokrasi.2 Makalah ini
merupakan pembahasan tentang masalah keuangan Negara mengenai
penerapan kartu tanda penduduk elektronik. Dalam kasus E-KTP ini, BPK
menemukan kasus kerugian Negara senilai Rp 24,90 miliar dan ketidak-
efektifan senilai Rp357,2 miliar dari 11 kasus (Kasus E-KTP Setya Nofanto). Dari
makalah ini dengan harapan agar makalah ini semakin komprehensif dalam
memenuhi kebutuhan akademisi para pembaca dan peminat hokum keuangan
Negara.

Diharapkan makalah ini bias dimanfaatkan secara luas baik oleh


komunitas kampus maupun praktisi pemerintahan sebagai salah satu
pegangan dalam memahami maupun mengelolah keuangan Negara. Semoga
makalah ini bias turut memberikan dorongan secara teoritis dalam membawa

1
Theo huberjs, Filsafat hukum dalam lintasan sejarah, P.T Kanisius, 1982, hlm.18

2
Dr. W. Riawan Tjandara, Hukum Keuangan Negara, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 2014, hlm, vi
system pemerintahan Negara ini menjadi lebih baik berdasarkan prinsip-prinsip
tata kelola pemerintahan yang baik. Makalah ini didedifikasikan untuk
pengembangan akademik dan keilmuan hokum administrasi Negara khususnya
di bidang hokum keuangan Negara.

Tentu makalah ini tidak lepas dari kekurangan disana sini, meskipun
penulis mencoba menggarap penulisannya secara berhati-hati. Masukan
konstruktif dari siding pembaca yang budiman akan menyempurnakan
makalah ini dalam proses revisi selanjutnya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan atas pemaparan latar belakang di atas, secara lebih rinci


perumusan masalah diatas beberapa pembahasan sebagai berikut :

1. Pengertian Keuangan Negara?


2. Bagaimana Peran Hukum Keuangan Negara Menghadapi
masalah-masalah keuangan Negara Mengenai Penerapan
Kartu Tanda Penduduk Elektronik E-KTP (Setya Novanto)?
3. Apa Sajah Dasar Hukum Yang Seharusnya Digunakan
Untuk Menghukum Pelanggar Hukum Tata Usaha Negara?
C. Tujuan
1. Untuk Mengetahui Apa Pengertian Keuangan Negara
Menurut Hukum Keuangan Negara.
2. Untuk Memahami Bagaimana Keuangan Negara
Menghadapi Masalah-masalah Keuangan Negara Mengenai
Penerapan Kartu Tanda Penduduk Elektronik E-KTP (Setya
Novanto).
3. Untuk Mengetahui Apa Sajah Dasar Hukum Yang
Seharusnya Digunakan Untuk Menghukum Pelanggar
Hukum Tata Usaha Negara.
D. Manfaat
1. Manfaat Teoritis

Meningkatkan pengetahuan bagi pembaca agar dapat berpikir secara rasional


tantang Bagaimana Peran Hukum Keuangan Negara Menghadapi masalah-
masalah keuangan Negara Mengenai Penerapan Kartu Tanda Penduduk
Elektronik E-KTP di Indonesia, diharapkan setelah membaca makalah ini,
pembaca tidak salah menfsirkan cara pemerintah menjatuhkan hukuman pada
pelanggar hokum tata usaha Negara mengenai pelanggar E-KTP. Secara teoritis
juga diharapkan dapat semakin memperkaya khazanah keilmuan pada
umumnya dan bagi civitas akademika Universitas Kristen Wira Wacana Sumba
pada khususnya.

2. Manfaat Praktis
Makalah ini secara praktis diharapkan dapat menambah wawasan bagi
berbagai pihak:
a) Bagi mahasiswa, diharapkan dapat menambah wawasan
pembelajaran Hukum Dan Ham.
b) Bagi penulis yang akan datang, makalah ini diharapkan bisa
memberikan konstribusi dalam penulisan makalah selanjutnya
sebagai bahan reverensi.3

3
Muhammad Khalid Masud, 1996: 12-13)., www. Wikipedia.com
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka Tentang Keuangan Negara Menurut Hukum Keuangan


Negara.

Pasal 1.1 UU Keuangan Negara

Semua hak dan kewajiban Negara yang dapat dinilai dengan uang,
serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat
dijadikan milik Negara berhubungan dengan pelaksanaan Negara hak dan
kewajiban tersebut.4

Pendekatan yang dipergunakan untuk merumuskan untuk


merumuskan definisi stipulatif keuangan Negara adalah dari sisi obyek,
subyek, proses dan tujuan.

Dari Sisi Obyek

Keuangan Negara meliputi semua hak dan kewajiban yang dapat


dinilai dengan uang, termasuk kebijakan dan kegiatan dalam bidang
fiksal, moneter dan pengelolaan kekayaan Negara yang dipisahkan, serta
segala sesuatu baik berupa uang, maupun berpa barang yang dapat
dijadikan milik Negara berhubungan dengan pelaksanaan hak dan
kewajiban tersebut.

Dari Sisi Subyek

Keuangan Negara meliputi obyek sebagaimana tersebut diatas yang


dimiliki Negara, dan/atau dikuasai oleh pemerintah pusat, pemerintah
daerah perusahan Negara/Daerah, dan bukan lain yang ada kaitan nya
dengan keuangan Negara.

4
Dr. W. Riawan Tjandara, Op.Cit, hlm, 3
Dari Sisi Proses

Keuangan Negara mencakup seluruh rangkaian kegiatan yang


berkaitan dengan pengelolaan obyek sebagaimana tersebut diatas dimulai
dari perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan sampai dengan
pertanggungjawaban.

Dari Sisi Tujuan

Keuangan Negara meliputi seluruh kebijakan, kegiatan dan


hubungan hokum yang berkaitan dengan pemilikan dan/atau penguasa
obyek sebagaimana tersebut diatas dalam rangka penyelenggaraan
pemerintahan Negara.5

B. Tunjauan Pustaka Tentang Peran Hukum Keuangan Negara Menghadapi


masalah-masalah keuangan Negara Mengenai Penerapan Kartu Tanda
Penduduk Elektronik E-KTP.
Usaha pemerintah tata usaha Negara selama ini adalah membuat
UU secara terus-menerus dengan efek jerah yang menurut mereka sangat
baik untuk diterapkan khususnya falam khasus E-KTP contohnya UU
NO. 31 tahun 1999 dan pengembangannya UU NO 20 tahun 2001.
C. Tinjauan Pustaka Tentang Dasar Hukum Untuk Menghukum Setya
Novanto.
Pasal 2 ayat (1) UU NO. 31 tahun 1999 dan pengembangannya pasal
3 UU NO 20 tahun 2001.

5
Dr. W. Riawan Tjandara, Op.Cit, hlm,4
BAB III

PEMBAHASAN

A. Pengertian Keuangan Negara

Pasal 1.1 UU Keuangan Negara

Semua hak dan kewajiban Negara yang dapat dinilai dengan uang,
serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat
dijadikan milik Negara berhubungan dengan pelaksanaan Negara hak dan
kewajiban tersebut.6 Pendekatan yang dipergunakan untuk merumuskan
untuk merumuskan definisi stipulatif keuangan Negara adalah dari sisi
obyek, subyek, proses dan tujuan.

Dari Sisi Obyek

Keuangan Negara meliputi semua hak dan kewajiban yang dapat


dinilai dengan uang, termasuk kebijakan dan kegiatan dalam bidang
fiksal, moneter dan pengelolaan kekayaan Negara yang dipisahkan, serta
segala sesuatu baik berupa uang, maupun berpa barang yang dapat
dijadikan milik Negara berhubungan dengan pelaksanaan hak dan
kewajiban tersebut.

Dari Sisi Subyek

Keuangan Negara meliputi obyek sebagaimana tersebut diatas yang


dimiliki Negara, dan/atau dikuasai oleh pemerintah pusat, pemerintah
daerah perusahan Negara/Daerah, dan bukan lain yang ada kaitan nya
dengan keuangan Negara.

Dari Sisi Proses

Keuangan Negara mencakup seluruh rangkaian kegiatan yang


berkaitan dengan pengelolaan obyek sebagaimana tersebut diatas dimulai

6
Dr. W. Riawan Tjandara, Op.Cit, hlm, 3
dari perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan sampai dengan
pertanggungjawaban.

Dari Sisi Tujuan

Keuangan Negara meliputi seluruh kebijakan, kegiatan dan


hubungan hokum yang berkaitan dengan pemilikan dan/atau penguasa
obyek sebagaimana tersebut diatas dalam rangka penyelenggaraan
pemerintahan Negara.7
B. Peran Hukum Keuangan Negara Menghadapi masalah-masalah
keuangan Negara Mengenai Penerapan Kartu Tanda Penduduk
Elektronik E-KTP (Setya Novanto).
Jaksa menuntut setya novanto 16 tahun penjara dan denda Rp1
miliar dan pengembalian uang US$ 7,3 juta jaksa juga menolak
permintaan setya novanto untuk diperlakukan sebagai justice
collaborator. Aksa menilai setya novanto memiliki peran penting dalam
skandal korupsi yang merugikan Negara sebesar Rp2,3 triliun. Karena
dianggap merugikan Negara maka peran hokum keuangan Negara
berperan menghukum setya novanto dengan Pasal 2 ayat (1) UU NO.
31 tahun 1999 dan pengembangannya pasal 3 UU NO 20 tahun 2001.
PASAL 2:1 UU NO.31 TAHUN 1999 Karena hendak memperkaya
diri yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian
Negara maka setya novanto diancam akan di hokum 20tahun penjara.
Dan pada Pasal 3 UU NO. 20 TAHUN 2001 juga menyebutkan barang
siapa yang dengan sengaja salah menggunakan wewenang dan
merugikan Negara dan perekonomian Negara dipidana 20 tahun
penjara dan atau denda paling sedikit Rp50 juta rupiah dan maksimal
Rp 1 miliar rupiah. Hal ini patut diterapkan pada setya novanto karena
melanggar 2 pasal tersebut yang mengakibat kerugian besar untuk
Negara.

7
Dr. W. Riawan Tjandara, Op.Cit, hlm,4
C. Dasar Hukum Yang Seharusnya Digunakan Untuk Menghukum
Pelanggar Hukum Tata Usaha Negara (Setya Novanto)
PASAL 2:1 UU NO.31 TAHUN 1999 dan Pasal 3 UU NO. 20 TAHUN
2001.
BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN

Jadi sebenarnya penerapan hokum seperti ini lah yang patut di berikan
bagi pelanggar hokum, agar menimbulkan efek jerah yang besar bagi pelaku
kejahatan dan mencegah kejahatan seperti ini terulang kembali.

SARAN

Sebaiknya pemerintah terus lagi memperketat hokum dan menghukum


orang yang benar-benar bersalah seperti setya novanto ini, tanpa memandang
status dan golongan, agar keadilan dimata masyarakat benar-benar Nampak.
Daftar bacaan

Theo huberjs, Filsafat hukum dalam lintasan sejarah, P.T Kanisius, 1982,

Dr. W. Riawan Tjandara, Hukum Keuangan Negara, PT Gramedia Widiasarana


Indonesia, Jakarta, 2014

Muhammad Khalid Masud, 1996: 12-13)., www. Wikipedia.com