Anda di halaman 1dari 19

TEORI PSIKOANALISIS ERIK ERIKSON

A. SEJARAH TEORI

Erik Erikson lahir pada tanggal 15 Juni 1902, di Selatan Jerman. Erikson
dibesarkan oleh ibu (Karla) dan ayah tirinya (Theodor Homburger). Ayah kandung
Erikson menelantarkan ibunya, Karla, dan menceraikannya sebelum Erikson lahir.
Kemudian ibunya menikah lagi dengan Theodor Homburger, deorang dokter, juga
sebelum Erikson lahir.

Saat Erikson telah berumur 3 tahun, kadang-kadang ia berkembang dari


identitas krisisnya. Intensifikasi lebih lanjut dari identitas krisisnya dihasilkan ketika,
seperti pada murid laki-laki, dia dipanggil “goy” (kafir) di kuil ayah tirinya, dan dia
dipanggil Yahudi oleh teman sekelasnya. Erikson juga merasa dirinya berbeda dari
anak lain dan dia berkhayal menjadi anak dari orang tua yang lebih baik dan tidak
seperti orang tua yang telah menelantarkannya. Karena ibu dan ayah tirinya, Dr.
Homburger adalah Yahudi, Erikson Skandinavia mewarisi mata biru, rambut panjang,
dan badan yang sangat tinggi yang membuat dia merasa dia bukan bagian dari
keluarganya. Dengan demikian, warisan keluarga yang bertentangan, harapan social
yang bertentangan dan prasangka, serta perasaannya yang berkata bahwa dia bukan
bagian dari keluarganya dimana dia dibesarkan, semua bergabung dan membuat
Erikson merasa kebingungan identitas yang akut.

Dengan bantuan temannya, Peter Blus, yang kemudian menjadi ahli


psikoanalitik remaja, Erikson akhirnya mengatasi krisisnya. Erikson bergabung di
fakultas dari sekolah di Vienna, dan bertemu Anna Freud dan ayahnya, Sigmund
Freud. Erikson pasti adalah pemuda yang brilian dan mengesankan, sebuah kejutan
untuknya, dia diterima dengan cepat dalam bagian psikoanalitik Freud.

B. STRUKTUR KEPRIBADIAN

Erikson memberikan padangan baru pada teori psikoanalisa Freud, dengan


lebih memberikan perhatian terhadap ego dibadingkan id dan superego. Erikson
mengemukakan bahwa struktur kepribadian manusia dibagi menjadi tiga bagian,
yaitu:
1. Ego Kreatif
Ego kreatif merupakan ego yang dianggap mampu memecahkan masalah baru secara
kreativitas pada setiap tahap kehidupan. Ketika ego menemukan hambatan atau
konflik pada suatu fase, ego tidak menyerah tetapi bereaksi dengan menggunakan
kombinasi antara kesiapan batin dan kesempatan yang disediakan lingkungan.
Menurut Erikson ego yg sempurna memiliki 3 dimensi, yaitu:
a. Faktualisasi
Fakualisasi merupakan dimensi dari kumpulan data, fakta, dan metode yang dapat
dicocokkan atau diverifikasi dengan metode yang sedang digunakan pada suatu
peristiwa. Dalam hal ini, ego berisikan kumpulan hasil interaksi individu dengan
lingkungannya yang dikemas dalam bentuk data dan fakta.
b. Universalitas
Universalitas merupakan dimensi yang mirip dengan prinsip realita yang
dikemukakan oleh Freud. Dimensi ini berkaitan dengan sens of reality yang
menggabungkan pandangan alam semesta dengan sesuatu yang dianggap konkrit dan
praktis.

c. Aktualitas
Aktualitas merupakan dimensi yang berisi metode baru yang digunakan individu
untuk berinteraksi dengan orang lain demi mencapai tujuan bersama. Dalam hal ini,
ego merupakan realitas masa kini yang berusaha mengembangankan cara baru untuk
dapat memecahkan masalah yang dihadapi, menjadi lebih efektif, progresif, dan
prospektif.
Erikson berpendapat bahwa sebagian ego yang ada pada individu bersifat tak
sadar, mengorganisir pengalaman yang terjadi pada masa lalu dan pengalaman yang
akan terjadi pada masa mendatang. Dalam hal ini, Erikson menemukan tiga aspek ego
yang saling berhubungan, yang umumnya akan mengalami perkembangan pesat pada
masa dewasa meskipun ketiga aspek tersebut terjadi pada setiap fase kehidupan,
yaitu:
a. Body ego merupakan suatu pengalam individu terkait dengan tubuh atau
fisiknya sendiri. Individu cenderung akan melihat fisiknya berbeda dengan
fisik tubuh orang lain.
b. Ego ideal merupakan suatu gambaran terkait dengan konsep diri yang
sempurna. Individu cenderung akan berimajinasi untuk memiliki konsep ego
yang lebih ideal dibanding dengan orang lain.
c. Ego identity merupakan gambaran yang dimiliki individu terkait dengan diri
yang melakukan peran sosial pada lingkungan tertentu.
2. Ego Otonomi Fungsional
Ego otonomi fungsional merupakan ego yang berfokus pada penyesuaian ego
terhadap realita. Contohnya yaitu hubungan ibu dan anak. Meskipun Erikson
sependapat dengan Freud mengenai hubungan ibu dan anak mampu memengaruhi
serta menjadi hal terpenting dari perkembangan kepribadian anak, tetapi Erikson
tidak membatasi teori teori hubungan id-ego dalam bentuk usaha memuaskan
kebutuhan id oleh ego. Erikson menganggap bahwa proses pemberian makanan pada
bayi merupakan model interaksi sosial antara bayi dengan lingkungan sosialnya.
Lapar adalah menifestasi biologis, dan konsekuensinya akan menimbulkan
kesan terhadap dunia luar bayi ketika mendapat pemuasan id yang dilakukan oleh ibu.
Bayi belajar untuk mengantisipasi interaksi dalam bentuk basic trust pada saat diberi
makan oleh ibunya. Basic trust yang dimaksud yaitu suatu kepercayaan dasar anak
yang memandang kontak dengan manusia dan dunia luar adalah hal yang sangat
menyenangkan karena pada masa lalu (bayi) hubungan tersebut menimbulkan rasa
aman dan menyenangkan terhadap dirinya.
3. Pengaruh Masyarakat
Pengaruh masyarakat merupakan pembentuk bagian tersebesar ego,
mesikipun kapasitas yang dibawa sejak lahir oleh individu juga penting dalam
perkembangan kepribadian. Erikson mengemukakan faktor yang memengaruhi
kepribadian yang berbeda dengan Freud. Meskipun Freud menyatakan bahwa
kepribadian dipengaruhi oleh biologikal, Erikson memandang kepribadian
dipengaruhi oleh faktor sosial dan historikal. Erikson menyatakan bahwa potensi
yang dimiliki individu adalah ego yang muncul bersama kelahiran dan harus
ditegakkan dalam lingkungan budaya. Anak yang diasuh dalam budaya masyakarat
berbeda, cenderung akan membentuk kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai dan
kebutuhan budaya sendiri.

C. DINAMIKA KEPRIBADIAN
Feist dan Feist menyatakan bahwa perwujudan dinamika kepribadian adalah
hasil interaksi antara kebutuhan biologis yang mendasar dan pengungkapannya
melalui tindakan-tindakan sosial. Hal ini berarti bahwa perkembangan kehidupan
individu dari bayi hingga dewasa umumnya dipengaruhi oleh hasil interaksi sosial
dengan individu lainnya sehingga membuat individu menjadi matang baik secara fisik
maupun secara psikologis. Erikson menyatakan bahwa ego adalah sumber kesadaran
diri indvidu. Ego mengembangkan perasaan yang berkelanjutan diri antara masa lalu
dengan masa yang akan datang selama proses penyesuaian diri dengan realita.
Friedman dan Schustack mengemukakan bahwa ego berkembang mengikuti tahap
epigenik, artinya tiap bagian dari ego berkembang pada tahap perkembangan tertentu
dalam rentang waktu tertentu. Menurutnya, semua yg berkembang mempunyai
rencana dasar, dan dari perencanaan ini muncul bagian-bagian, masing-masing bagian
mempunya waktu khusus utk menjadi pusat perkembangan, sampai semua bagian
muncul untuk membentuk keseluruhan fungsi.

D. INTI TEORI

Delapan tahap perkembangan yang dilalui oleh setiap manusia menurut


Erikson adalah sebagai berikut :

1. Trust vs Mistrust (Kepercayaan vs Kecurigaan)

Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. Perilaku


bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di
sekitarnya. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya, tetapi orang yang
dianggap asing dia tidak akan mempercayainya.

Kepuasaan yang dirasakan oleh seorang bayi terhadap sikap yang diberikan
oleh ibunya akan menimbulkan rasa aman, dicintai, dan terlindungi. Melalui
pengalaman dengan orang dewasa tersebut bayi belajar untuk mengantungkan
diri dan percaya kepada mereka. Hasil dari adanya kepercayaan berupa
kemampuan mempercayai lingkungan dan dirinya serta juga mempercayai
kapasitas tubuhnya dalam berespon secara tepat terhadap lingkungannya.
Sebaliknya, jika seorang ibu tidak dapat memberikan kepuasan kepada bayinya,
maka bayi akan lebih mengembangkan rasa tidak percaya, dan dia akan selalu
curiga kepada orang lain.

2. Otonomi vs Perasaan Malu dan Ragu-ragu


Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan
autonomy – shame, doubt. Pada masa ini dia telah mulai memiliki rasa malu dan
keraguan dalam berbuat, sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan
dari orang tuanya.

Pada tahap kedua adalah tahap anus-otot (anal-mascular stages). Tugas yang
harus diselesaikan pada masa ini adalah kemandirian (otonomi) sekaligus dapat
memperkecil perasaan malu dan ragu-ragu. Apabila dalam menjalin suatu relasi
antara anak dan orangtuanya terdapat suatu sikap/tindakan yang baik, maka dapat
menghasilkan suatu kemandirian. Namun, sebaliknya jika orang tua dalam
mengasuh anaknya bersikap salah, maka anak dalam perkembangannya akan
mengalami sikap malu dan ragu-ragu.

3. Inisiatif vs Kesalahan

Ketiga ini juga dikatakan sebagai tahap kelamin-lokomotor (genital-locomotor


stage) atau yang biasa disebut tahap bermain. Tahap ini pada suatu periode tertentu
saat anak menginjak usia 3 sampai 5 atau 6 tahun, dan tugas yang harus diemban
seorang anak pada masa ini ialah untuk belajar punya gagasan (inisiatif) tanpa
banyak terlalu melakukan kesalahan.

Dikarenakan sikap inisiatif merupakan usaha untuk menjadikan sesuatu yang


belum nyata menjadi nyata, sehingga pada usia ini orang tua dapat mengasuh
anaknya dengan cara mendorong anak untuk mewujudkan gagasan dan ide-idenya.

Ketidakpedulian (ruthlessness) merupakan hasil dari maladaptif yang keliru, hal


ini terjadi saat anak memiliki sikap inisiatif yang berlebihan namun juga terlalu
minim. Orang yang memiliki sikap inisiatif sangat pandai mengelolanya, mereka
tidak akan peduli terhadap pendapat orang lain dan jika ada yang menghalangi
rencananya apa dan siapa pun yang harus dilewati dan disingkirkan demi
mencapai tujuannya itu. Akan tetapi bila anak saat berada pada periode mengalami
pola asuh yang salah yang menyebabkan anak selalu merasa bersalah akan
mengalami malignansi yaitu akan sering berdiam diri (inhibition).

4. Kerajinan vs Inferioritas

Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority.


Tahap keempat ini dikatakan juga sebagai tahap laten yang terjadi pada usia
sekolah dasar antara umur 6 sampai 12 tahun. Salah satu tugas yang diperlukan
dalam tahap ini ialah adalah dengan mengembangkan kemampuan bekerja keras
dan menghindari perasaan rasa rendah diri. Saat anak-anak berada tingkatan ini
area sosialnya bertambah luas dari lingkungan keluarga merambah sampai ke
sekolah, sehingga semua aspek memiliki peran, misalnya orang tua harus selalu
mendorong, guru harus memberi perhatian, teman harus menerima kehadirannya,
dan lain sebagainya.

5. Identitas vs Kekacauan identitas

Tahap kelima merupakan tahap remaja yang ditandai adanya kecenderungan


identity – Identity Confusion. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung
pula oleh kemampuan dan kecakapan-kecakapan yang dimilikinya dia berusaha
untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri yang khas dari
dirinya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitasdiri ini, pada para
remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan, sehingga tidak jarang
dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. Anak pada
usia ini dituntut untuk dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil, apakah itu di
sekolah atau ditempat bermain. Melalui tuntutan tersebut anak dapat
mengembangkan suatu sikap rajin. Berbeda kalau anak tidak dapat meraih sukses
karena mereka merasa tidak mampu (inferioritas), sehingga anak juga dapat
mengembangkan sikap rendah diri.
6. Keintiman vs Isolasi

Periode diperlihatkan dengan adanya hubungan spesial dengan orang lain yang
biasanya disebut dengan istilah pacaran guna memperlihatkan dan mencapai
kelekatan dan kedekatan dengan orang lain. Di mana muatan pemahaman dalam
kedekatan dengan orang lain mengandung arti adanya kerja sama yang terjalin
dengan orang lain. Akan tetapi, peristiwa ini akan memiliki pengaruh yang
berbeda apabila seseorang dalam tahap ini tidak mempunyai kemampuan untuk
menjalin relasi dengan orang lain secara baik sehingga akan tumbuh sifat merasa
terisolasi. Sementara dari segi lain/malignansi Erikson menyebutnya dengan
keterkucilan, yaitu kecenderungan orang untuk mengisolasi/menutup diri sendiri
dari cinta, persahabatan dan masyarakat, selain itu dapat juga muncul rasa benci
dan dendam sebagai bentuk dari kesendirian dan kesepian yang dirasakan. Oleh
sebab itu, kecenderungan antara keintiman dan isoalasi harus berjalan dengan
seimbang guna memperoleh nilai yang positif yaitu cinta.

7. Generativitas vs Stagnasi

Masa Dewasa ditandai adanya kecenderungan generativity-stagnation. Pada


tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala
kemampuannya.

Harapan yang ingin dicapai pada masa ini yaitu terjadinya keseimbangan antara
generativitas dan stagnansi guna mendapatkan nilai positif yang dapat dipetik
yaitu kepedulian. Ritualisasi dalam tahap ini meliputi generasional dan otoritisme.
Generasional ialah suatu interaksi/hubungan yang terjalin secara baik dan
menyenangkan antara orang-orang yang berada pada usia dewasa dengan para
penerusnya.

8. Integritas vs Keputusasaan
Masa hari tua ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. Pada
masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi, semua yang
telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Pribadi yang telah
mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. Mungkin ia
masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi
karena faktor usia, hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Dalam
situasi ini individu merasa putus asa. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada,
tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan
tersebut, sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya

E. PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

1. Prinsip Epigenetik
Menurut Erikson, ego berkembang melalui berbagai tahap kehidupan mengikuti
prinsip epigenetik, istilah yang dipinjam dari embriologi. Perkembangan
epigenetik adalah perkembangan tahap demi tahap dari organ-organ embrio. Ego
berkembang mengikuti prinsip epigenetik artinya tiap bagian dari ego berkembang
pada tahap perkembangan tertentu dalam rentangan waktu tertentu. Erikson
menjelaskan prinsip epigenetiknya sebagai berikut: “semua yang berkembang
mempunyai rencana dasar, dan dari perencanaan ini muncul bagian-bagian,
masing-masing bagian mempunyai waktu khusus untuk menjadi pusat
perkembangan, sampai semua bagian muncul untuk membentuk keseluruhan
fungsi.”
2. Aspek Psikoseksual
Teori perkembangan dari Erikson melengapi dan menyempurnakan teori Freud
dalam dua hal, pertama melengkapi tahapan perkembangan menjadi delapan tahap
yakni tahap bayi (infancy), anak (early childhood), bermain (play age), sekolah
(school age), remaja (adolesence), dewasa awal (young adulthood), dan tua
(mature). Kedua, memakai analisis konflik untuk mendeskripsi perkembangan
kepribadian. Erikson mengakui adanya aspek psikoseksual dalam perkembangan,
yang menurutnya bisa berkembang positif (aktualisasi seksual yang dapat
diterima) atau negatif (aktualisasi ekspresi seksual yang tidak dikehendaki). Dia
memusatkan perhatiannya kepada mendeskripsi bagaimana kapasitas kemanusiaan
mengatasi aspek psikoseksual itu, bagaimana mengembangkan insting seksual
menjadi positif.
FASE BAYI (0–1 TAHUN)
Bagi erikson kegiatan bayi tidak terikat dengan mulut semata, bayi adalah saat untuk
memasukkan bukan hanya melalui mulut tetapi juga dari semua indera.
1. Aspek Psikososial : Sensori Oral
Tahap sensori oral ditandai oleh dua jenis inkorporasi: mendapat dan
menerima. Mendapat adalah memperoleh sesuatu tanpa ada yang memberi
bernafas, atau melihat obyek berarti menerima stimulus tanpa kehadiran orang
lain. Menerima adalah memperoleh sesuatu melalui konteks sosial.
2. Krisis Psikososial : Kepercayaan versus Kecurigaan
Tahun pertama kehidupannya, bayi memakai sebagian besar waktunya untuk
makan, eliminasi (buang kotoran) dan tidur. Ketika ia menyadari ibu akan
memberi makan atau minum secara teratur, mereka belajar dan memperoleh
kualitas ego dan identitas ego yang pertama, perasaan kepercayaan dasar. Jika
pola untuk inkorporasi sesuai dengan perlakuan lingkungan kulturalnya, anak
akan mengembangkan kepercayaan dasar (sintonik). Sebaliknya kalau tidak
ada kesesuaian antara kebutuhan sensori-oral dengan lingkungan, mereka
akan mengembangkan ketidakpercayaan dasar (distonik).
3. Virtue : Harapan
Konflik antara kepercayaan dan tidak kepercayaan memunculkan harapan.
Tanpa hubungan bertentangan antara percaya dan tidak percaya, orang tidak
dapat mengembangkan virtue harapan.
4. Ritualisasi-ritualisme : Keramat versus Pemujaan
Bayi menangkap hubungannya dengan ibu sebagai sesuatu yang keramat
(numinous). Pola interaksi numenous membuat bayi sangat menghargai
ibunya dan mudah diatur sehingga dapat mendukung tugas perkembangannya.
Numinous akhirnya akan menjadi dasar bagaimana orang
menghadapi/berkomunikasi dengan orang lain, dengan penuh penerimaan,
penghargaan tanpa ada ancaman dan perasaan takut. Interaksi interpersonal
menjadi pemujaan (idolism). Ada dua sisi idolisme akibat penolakan ibu:
membuat anak memuja diri sendiri, atau sebaliknya anak memuja orang lain.

FASE ANAK-ANAK (1–3 TAHUN)


Teori erikson lebih luas; anak memperoleh kepuasan bukan hasil dari keberhasilan
mengontrol otot-otot anus saja, tetapi juga dari keberhasilan mengontrol fungsi tubuh
yang lain.
1. Aspek Psikoseksual : Otot Anal – Uretrai
Menurut erikson, masa anak disamping toilet training, juga masalah belajar
berjalan, lari memeluk orang tuanya, dan memegang mainan atau obyek
lainnya. Pada tahap ini anak belajar untuk menjadi cenderung keras kepala
dan rela/lembut, menjadi impulsif, menjadi senang bekerja sama dan benci.
2. Krisis Psikososial : Otonomi versus Malu dan Ragu
Anak mengembangkan otonomi dan malu-ragu dalam perimbangan yang
lebih kuat ke otonomi sebagai kualitas sintonik. Kalau anak hanya
mengembangkan otonomi dalam jumlah terbatas, dia akan mengalami
kesulitan pada tahap perkembangan berikutnya. Dia menjadi tidak mempunyai
inisiatif yang dibutuhkan pada tahap usia-bermain, dan selanjutnya terus
mengalami hambatan pada perkembangan berikutnya. Malu adalah perasaan
yang tidak disadari, merasa diamati dan dibuka aibnya, sedang ragu adalah
perasaan tidak pasti.
3. Virtue : Kemauan
Krisis otonomi versus malu-ragu adalah kekuatan dasar kemauan. Ini adalah
permulaan dari kebebasan kemauan dan kekuatan kemauan, yang menjadi
dasar wujud virtue kemauan didalam egonya. Dasar-dasar kemauan dapat
muncul hanya kalau anak diizinkan kalau melatih mengontrol sendiri otot-
ototnya. Kemauan yang kurang baik diekspresikan dalam bentuk kompulsi,
sumber patologi pada masa anak.
4. Ritualisasi-ritualisme : Bijaksana versus Legalisme
Pada tahap ini pola komunikasi mengembangkan penilaian benar atau salah
dari tingkah laku diri dan orang lain, disebut bijaksana. Penilaian yang adil,
tidak memihak, tidak mementingkan diri sendiri dan orang lain, dan lebih
mementingkan moral, dipakai untuk membangun interaksi yang memuaskan
pihak yang terkait dengan interaksi itu.

USIA BERMAIN (3–6 TAHUN)


Menurut Erikson ada banyak perkembangan penting pada fase bermain ini, yakni:
identifikasi dengan orang tua, mengembangkan gerakan tubuh, keterampilan bahasa,
rasa ingin tahu, dan kemampuan menentukan tujuan.
1. Aspek Psikososial : Perkelaminan-Gerakan
Erikson mengakui gejala odipus sebagai dampak dari fase psikososial genital-
locomotor, namun odipusitu di beri makna yang berbeda. Odipus menurut
Erikson adalah interkasi seksual yang dipicu oleh budaya kehidupan sosial,
atau dipicu oleh penyiksaan seksual oleh orang dewasa. Kedua, odipus
kompleks tidak mempunyai dampak yang berbahaya pada perkembangan
kepribadian yang akan datang.

2. Konflik Psikososial : Inisiatif versus Perasaan berdosa


Inisiatif digunakan oleh anak untuk memilih dan mengejar berbagai tujuan.
Tujuan yang harus dihambat akan menimbulkan rasa berdosa (guilt). Konflik
antara inisiatif dengan berdosa menjadi krisis psikososial yang dominan pada
usia bermain. Apabila inisiatif berkembang tanpa kekang perasaan dosa, akan
terjadi chaos (hura-hura) dan kurangnya prinsip moral. Sebaliknya kalau
berdosa menjadi elemen dominan, anak menjadi moralistik yang kompulsif,
atau terlalu terkekang..
3. Virtue : Tujuan – Sengaja
Konflik antara inisiatif dengan berdosa menghasilkan kekuatan dasar pupose,
anak kini bermain dengan tujuan, terutama permainan kompetisi dan mengejar
kemenangan. Jenis kelamin memberi arah dan ayah atau ibu menjadi objek
dari keinginan seksualnya. Mereka menetapkan apa yang akan dicapai dan
berusaha mencapainya dengan purpose. Usia bermain juga merupakan tahap
dimana anak mulai mengembangkan konsensia dan mulai memberi label
“benar” atau “salah” terhadap tingkah lakunya. Konsensia akan menjadi awal
perkembangan moralitas.
4. Ritualisasi – Ritualisme : Dramatik versus Impersonasi
Tahap ini dipenuhi dengan fantasi anak, menjadi ayah, ibu. Mereka
berinteraksi dengan memakai fantasinya, disebut dramatik. Anak memainkan
peran tentang apa yang seharusnya berani mereka lakukan, dan apa yang
menimbulkan perasaan bersalah/berdosa. Kalau permainan peran itu menjadi
kompulsi, orang tidak menjadi dirinya sendiri tetapi hanya memainkan peran-
peran sesuai dengan fantasinya, akan timbul interaksi yang menyimpang
disebut impersonasi (impersonation). Impersonasi adalah permainan peran
yang negatif, dalam bentuk yang ekstrim orang memainkan peran yang
membahayakan sampai membunuh karakter orang lain atau diri sendiri.

USIA SEKOLAH (6–12 TAHUN)


Pada usia ini dunia sosial anak meluas keluar dari dunia keluarga, anak bergaul
dengan teman sebayanya, guru, dan orang dewasa lainnya. Pada usia ini
keingintahuan menjadi sangat kuat dan hal itu menjadi berkaitan dengan perjuangan
dasar menjadi berkemampuan. Anak yang berkembang normal akan tekun belajar
membaca dan menulis, belajar berburu dan menangkap ikan, atau belajar
keterampilan yang dibutuhkan masyarakat.
1. Aspek Psikososial : Terpendam (Laten)
Memendam insting seksual sangat penting karena akan membuat anak dapat
memakai energinya untuk mempelajari teknologi dari budayanya, dan
mempelajari strategi interaksi sosialnya. Ketika anak bermain dan bekerja
keras mempelajari dua hal itu, mereka mulai membentuk gambaran tentang
diri sendiri, sebagai berkemampuan atau tidak berkemampuan.
2. Krisis Psikososial : Ketekunan versus Inferiorita
Krisis psikososial pada tahap ini adalah antara ketekunan dengan perasaan
inferior. Ketekunan adalah kualitas sintonik yang berarti tekun, bersedia tetap
sibuk dengan satu kegiatan sampai selesai.. Jika anak belajar mengerjakan
sebaik-baiknya, berarti mereka mengembangkan perasaan ketekunan, tetapi
kalau pekerjaanya tidak cukup untuk mencapai tujuan, mereka mendapat
perasaan inferiorita-kualitas distonik dari usia sekolah.
3. Virtue : Kompetensi
Dari konflik antara ketekunan dengan inferiorita, akan mengembangkan
kekuatan dasar kemampuan. Virtue itu diperoleh melalui latihan kecakapan
gerak dan kecerdasan untuk menyelesaikan tugas. Anak membutuhkan
perintah dan metode, tetapi yang lebih penting adalah pemanfaatan
kecerdasan dan pemanfaatan energi fisik yang berlimpah untuk melaksanakan
kegiatan nya. Kalau perjuangan tahap usia sekolah cenderung memenangkan
inferioriti atau sebaliknya, ketekunan menang secara berlebihan (tanpa
inferioriti), anak menjadi mudah menyerah dan regresi ke tahap
perkembangan sebelumnya.

4. Ritualisasi – ritualisme
Ritualisasi formal: interaksi yang mementingkan metode atau cara yang tepat,
untuk memperoleh hasil yang sempurna. Melalui ritualisasi formal anak
belajar mengerjakan sesuatu dengan metode yang standar. Ini akan menjadi
metode awal dari interaksi anak dengan dunia kerja.

ADOLESEN (12–20 TAHUN)


Tahap ini merupakan tahap yang paling penting diantara tahap perkembangan lainnya,
karena pada akhir tahap ini orang harus mencapai tingkat identitas ego yang cukup
baik. Adolesen adalah fase adaptif dari perkembangan kepribadian, fase mencoba-
coba.
1. Fase Psikososial : Pubertas
Perkembangan psikoseksual pubertas adalah tahap kemasakan seksual. Bagi
Erikson, pubertas penting bukan karena kemasakan seksual, tetapi karena
pubertas memacu harapan peran dewasa pada masa yang akan datang. Peran
yang sangat penting secara sosial itu hanya dapat dipenuhi melalui perjuangan
mencapai identitas ego pada tahap pubertas.
2. Fase Psikososial : Identitas dan Kecanduan Identitas
Menurut Erikson identitas muncul dari dua sumber: pertama, penegasan atau
penghapusan identitas pada masa kanak-kanak, dan kedua, sejarah yang
berkaitan dengan kesediaan menerima standar tertentu. Identitas bisa positif
bisa juga negative. Kekacauan identitas adalah sindrom masalah-masalah
yang meliputi; terbaginya bagian diri, ketidakmampuan membina
persahabatan yang akrab, kurang memahami pentingnya waktu, tidak bisa
konsentrasi pada tugas yang memerlukan hal itu, dan menolak standar
keluarga atau standar masyarakat. Keseimbangan antara identitas dan
kekacauan identitas yang cenderung positif ke identitas, akan menghasilkan:
a. Kesetiaan terhadap prinsip idiologi tertentu
b. Kemampuan untuk memutuskan secara bebas apa yang akan dilakukan.
c. Kepercayaan kepada teman sebaya dan orang dewasa yang memberi nasehat
mengenai tujuan dan cita-cita.
d. Pilihan pekerjaan.
3. Virtue : Kesetiaan
Kekuatan dasar yang muncul dari krisis identitas pada tahap adolesen adalah
kesetiaan (fidelity); yaitu setia dalam beberapa pandangan idiologi atau visi
masa depan. Kekuatan dasar kepercayaan yang diperoleh semasa infantile
menjadi dasar fidelity masa adolesen.
4. Ritualisasi – Ritualisme : Ediologi versus Totalisme
Ritualisasi ediologi adalah gabungan dari ritualisasi-ritualisasi tahap
sebelumnya, menjadi keyakinan atau ide-ide. Pilihan ediologi yang sempit
dan tertutup adalah ciri idiologi negatif atau ritualisme totalisme.

DEWASA AWAL (20–30 TAHUN)


Tahap ini ditandai dengan perolehan keintiman pada awal periode, dan ditandai
perkembangan berketurunan pada akhir periode. Bagi sebagian dewasa awal periode
ini cukup singkat, mungkin hanya beberapa tahun, tetapi bagi beberapa dewasa awal
yang lain bisa membutuhkan waktu puluhan tahun.
1. Tahap psikoseksual : perkelaminan
Perkembangan psikoseksual pada tahap ini disebut perkelaminan. Aktifitas
seksual selama tahap adolesen adalah ekspresi pencarian identitas yang
biasanya dipuaskan sendiri. Perkelaminan sebenarnya baru dikembangkan pada
tahap dewasa awal, ditandai dengan saling percaya dan berbagi kepuasan
seksual secara permanen dengan orang yang dicintai.

2. Krisis psikososial : keakraban/keintiman versus isolasi


Keakraban adalah kemampuan untuk menyatukan identitas diri dengan identitas
orang lain tanpa ketakutan kehilangan identitas diri itu. Isolasi adalah
ketidakmampuan untuk bekerja sama dengan identitas orang lain melalui
berbagi intimasi yang sebenarnya.
3. Virtue : cinta
Cinta adalah kesetiaan yang sebagai dampak dan perbedaan dasar antara pria
dan wanita. Cinta disamping bermuatan intimasi juga membutuhkan sedikit
isolasi karena masing-masing partner tetap boleh memiliki identitas yang
terpisah. Dalam pandangan Erikson, seksualitas genital sehat ditandai dengan
beberapa tahapan yang harus dilalui:
1. Mutualitas orgasme
2. Dengan mencintai pasangan
3. Dari seks lainnya
4. Hubungan dengan seseorang yang mampu dan bersedia untuk berbagi rasa
saling percaya
5. Dan dengan seseorang yang mampu dan bersedia untuk mengatur siklus:
kerja, penghasilan, dan rekreasi
6. Jadi, untuk mengamankan keturunan, semua tahapan perkembangan harus
memuaskan.
4. Ritualisasi – ritualisme : afiliasi versus etilism
Ritualisasi pada tahap ini adalah afiliasi, refleksi dari kenyataan adanya cinta,
mempertahankan persahabatan, ikatan kerja. Afiliasi mendorong orang untuk
berbagi dengan orang lain. Elitisme memandang orang luar dengan penuh
curiga, merendahkan.
DEWASA (30–65 TAHUN)
Tahap dewasa adalah waktu menempatkan diri di masyarakat dan ikut bertanggung
jawab terhadap apapun yang dihasilkan dari masyarakat.
1. Aspek Psikoseksual : prokeativita
Menurut Erikson manusia mempunyai insiting untuk mempertahankan jenisnya.
Insting itu disebut prokreativita yang mencakup kontak seksual dengan partner
intimasi dan tanggung jawab untuk merawat anak keturunan hasil kontak seks
itu.
2. Krisis psikososial : generativita versus stagnasi
Generativita, yaitu penurunan kehidupan baru, serta produk dan ide baru.
Antitesis dari generativita adalah stagnasi. Siklus generativitas dari
produktivitas dan kreatifitas bakal lumpuh kalau orang terlalu mementingkan
diri sendiri dan perkembangan budaya menjadi mandeg, stagnasi. Kegagalan
pada fase ini ditandai ketidakmampuan orang dewasa untuk membimbing
generasi berikutnya.
3. Virtue : kepedulian
Kepedulian adalah perluasan komitmen untuk merawat orang lain, merawat
produk dan ide yang membutuhkan perhatian. Lawan dari kepeduliaan adalah
penolakan, yang menjadi sumber patologis orang dewasa. Penolakan adalah
tidak mau memperhatikan merawat orang lain atau kelompok tertentu..
4. Ritualisasi – ritualisme : gerasional versus ctoritisme
Ritualisasi generasional adalah interaksi antara orang dewasa dengan generasi
penerusnya, misalnya sebagai orang tua, guru, anggota masyarakat yang
meneruskan nilai-nilai etik atau budaya. Ritualisme atau ritisme mengandung
pemaksaan.
USIA TUA (>65 TAHUN)
Menjadi tua bukan berarti menjadi tidak generatif. Usia tua bisa menjadi waktu yang
orang senang bermain, menyenangkan, dan keajaiban, tetapi juga bisa menjadi tempat
orang pikun, depresi dan putus asa.
1. Aspek psikoseksual : generalisasi sensualitas
Tahap terakhir dari psikoseksual adalah generalisasi sensualitas : memperoleh
kenikmatan dari berbagai sensasi fisik, penglihatan, pendengaran, kecakapan
bau, pelukan, dan bisa juga stimulasi genital.
2. Krisis psikososial : intergritasi versus putus asa
Integritas adalah perasaan menyatu atau utuh, kemampuan untuk menyatukan
perasaan keakuan, dan mengurangi kekuatan fisik dan intelektual. Integritas ego
sering sukar dipertahankan ketika orng telah kehilangan aspek yang akrab
dengan dirinya. Putus asa berarti tanpa harapan. Putus asa ini menjadi lawan
dari kualitas distonik tahap bayi, yakni harapan. Kalau harapan hilang akan
muncul putus asa, dan ini bisa terjadi ditahap perkembangan yang manapun.
3. Virtue : kebijaksanaan
Wisdom memelihara dan meneruskan kumpulan pengetahuan tradisional dari
generasi terdahulu kegenarasi penerus. Pada usia tua orang akan peduli dengan
isu terakhir, yakni kematian. Antitesis dari kebijaksanaan adalah penghinaan,
reaksi terhadap perasa terkalahkan, bingung dan tak tertolong yang semakin
tinggi. Penghinaan merupakan kelanjutan dari penolakan, sumber patologi dari
fase dewasa. Kegagalan pada fase ini menyebabkan ketakutan akan kematian.
4. Ritualisasi – ritualisme : integral versus sapentisme
Ritualisasinya adalah integral; ungkapan kebijaksanaan dan pemahaman makna
kehidupan. Interaksi yang tidak mementingkan keinginan dan kebutuhan
duniawi, menyerahkan diri dan seluruh kemampuannya kepada kemaslahatan
kemanusiaan. Ritualism sapentism; bergaya bijaksana, memberi petuah-petuah
dogmatis untuk menyembunyikan diri bahwa dirinya tidak memiliki sifat bijak,
mungkin juga menyembunyikan perasaan putus asa.

F. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN

Kelebihan :
a. Erikson menekankan kesadaran individu untuk menyesuaikan diri dengan
pengaruh sosial.
b. Erikson memandang ego sebagai struktur kepribadian yang otonom, serta
berfokus pada kualitas ego yang muncul di setiap periode perkembangan.
c. Tahap perkembangan lebih kompleks karena mengembangkan teori insting
Freud. Namun Erikson tidak memusatkan seks sebagai hal yg mendasari
manusia.
d. Menekankan bahwa perubahan pada setiap tahap perkembangan sangat
penting sehingga individu berusaha semampu mungkin untuk melewatinya.
Kelemahan :
Nilai ilmiah penelitian yang dilakukan Erikson tidak begitu akurat. Observasi dan
analisis penelitian hanya dilakukan secara subjektif seperti halnya tokoh psikoanalisis
yang lain
DAFTAR PUSTAKA

Monte, C. F. & Sollod, R. N. (2003). Beneath the Mask: An Introduction to Theoris of


Personality (7th ed.). Amerika: John Willey & Sons, Inc.

Feist, J. & Feist, G. (2008). Theories of Personality (Edisi keenam). Yogyakarta:


Pustaka Pelajar.

Friedman, H. S. & Schuctack M. W. (2006). Kepribadian: Teori klasik dan riset modern
(edisi ketiga). Jakarta: Erlangga.

Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian (edisi revisi). Malang: UMM Press.


PSIKOLOGI KEPRIBADIAN
ERIK ERIKSON

Oleh:

Septiana Hasmita (1371041030)

Sarah Safira (1471042041)

Ermiana Ummareng (1471042055)

Kelas E

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

2015/2016
A. Evaluasi
Teori jung berpengaruh luas, dan lembaga yang melatih model analisis dan
terapi jung didirikan dibanyak negara. Pengikut-pengikut Jung, seperti
Gerhard Adler, Michael Fordham, Sir Herbert Read, Ester Harding, dan
Jolande Jacobi, melanjutkan eksplorasi teori Jung dan elaborasi dari berbagai
konsep Jung.
Pengaruhnya terhadap psikologi modern tampak pada pengembangan riset
asosiasi kata, dan konsepnya mengenai type introversi dan ekstraversi.
Konsep Jung mengenai realisasi-diri muncul dalam teori dan aplikasinya
kepribadian dari Horney, Allport, Rogers, Maslow, dan banyak pakar lainnya,
namun Jung jarangdisebut/diakui sebagai penemu dari konsep ini. Teori jung
banyak menyentuh dunia religius, baik memakai pandangan agam untuk
memahami kehidupan jiwa manusia, atau sebaliknya memakai pendekatan
fenomenologik dari psikologi untuk memahami agama. Teori Jung masih
bersifat konsep-konsep yang membutuhkan banyak hipotesa dan uji
eksperimen. Fikiran-fikiran dan konsep-konsep Jung yang orisinil dan berani
dalam mengungkapkan isi-isi niwa manusia, setara dengan karya Freud.