Anda di halaman 1dari 13

Critical Book Report

“Sistem Perencanaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan


Pengelolaan Daerah Aliran Sungai”

Mata Kuliah : Evaluasi Sumber Daya Lahan Dan Air


Dosen Pengampu : Drs. Nahor Manahat Simanungkalit, M.Si.

Oleh :

TAMIMA AZRI ADILA


NIM : 3161131050
C Reguler 2016

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI


FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat Karunia
dan rahmat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Evaluasi SD Lahan
dan Air ini dengan baik dan tepat waktu. Adapun judul buku yang akan saya kritik yaitu
“Sistem Perencanaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Pengelolaan Daerah Aliran
Sungai”.
Pembuatan Critical Book Report ini bertujuan sebagai tugas individu mata kuliah
Evaluasi SD Lahan dan Air.
Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Bapak Nahor Simanungkalit selaku
dosen pengampu yang telah membimbing saya dalam pembuatan Critical Book Report ini.
Critical Book Report ini saya yakini jauh dari kesempurnaan dan masih banyak
kekurangannya seperti pepatah yang mengatakan “tak ada gading yang tak retak”, baik isi
maupun penyusunannya. Atas semua itu dengan rendah hati saya harapkan kritik dan saran
yang membangun guna menyempurnakan tugas Critical Book Report ini. Semoga tugas
Critical Book Report ini dapat bermanfaat.

Lubuk Pakam, April 2019

Tamima Azri Adila

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................ i


DAFTAR ISI...................................................................................................... ii
IDENTITAS BUKU ......................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
A. Latar Belakang ........................................................................................... 1
B. Tujuan ........................................................................................................ 1
C. Manfaat ...................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................... 3
A. Ringkasan Buku Utama ............................................................................. 3
B. Ringkasan Buku Pembanding .................................................................... 4
BAB III KELEBIHAN BUKU ......................................................................... 7
BAB IV KELEMAHAN BUKU ....................................................................... 8
BAB V PENUTUP............................................................................................. 9
A. Kesimpulan ................................................................................................ 9
B. Saran .......................................................................................................... 9

ii
IDENTITAS BUKU

IDENTITAS BUKU UTAMA


Judul Buku : Sistem Perencanaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Penulis : Naharuddin. Dkk
ISBN : 978-602-6619-45-7
Penerbit : Untad Press
Tahun terbit : 2018
Kota Terbit : Sulawesi Tengah
Tebal buku : ix + 81 Halaman

IDENTITAS BUKU PEMBANDING


Judul Buku : Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Penulis : Paimin. Dkk
ISBN : 978-602-99218-2-3
Penerbit : Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS
(BPTKPDAS)
Tahun Terbit : 2012
Kota Terbit : Bogor
Halaman Buku : 100 Halaman

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan ekosistem yang unsur-unsur
utamanya terdiri atas sumberdaya alam tanah, air dan vegetasi serta sumberdaya manusia
sebagai pelaku pemanfaat sumberdaya alam tersebut. DAS di beberapa tempat di
Indonesia memikul beban amat berat sehubungan dengan tingkat kepadatan penduduknya
yang sangat tinggi dan pemanfaatan sumberdaya alamnya yang intensif sehingga terdapat
indikasi belakangan ini bahwa kondisi DAS semakin menurun dengan indikasi
meningkatnya kejadian tanah longsor, erosi dan sedimentasi, banjir, dan kekeringan. Disisi
lain tuntutan terhadap kemampuannya dalam menunjang system kehidupan, baik
masyarakat di bagian hulu maupun hilir demikian besarnya.
Sebagai suatu kesatuan tata air, DAS dipengaruhi kondisi bagian hulu khususnya
kondisi biofisik daerah tangkapan dan daerah resapan air yang di banyak tempat rawan
terhadap ancaman gangguan manusia. Hal ini mencerminkan bahwa kelestarian DAS
ditentukan oleh pola perilaku, keadaan sosial-ekonomi dan tingkat pengelolaan yang
sangat erat kaitannya dengan pengaturan kelembagaan (institutional arrangement).
Daerah Aliran Sungai merupakan suatu megasistem kompleks yang dibangun atas
sistem fisik (physical systems), sistem biologis (biological systems) dan sistem manusia
(human systems) dimana setiap sistem dan sub-sub sistem di dalamnya saling
berinteraksi. DAS sebagai suatu sistem akan memelihara keberadaannya dan berfungsi
sebagai sebuah kesatuan melalui interaksi antar komponennya. Kualitas output dari suatu
ekosistem sangat ditentukan oleh kualitas interaksi antar komponennya, sehingga dalam
proses ini peranan tiap-tiap komponen dan hubungan antar komponen sangat menentukan
kualitas ekosistem DAS (Senge, 1994 dan Kartodihardjo et al., 2004).

B. Tujuan
1. Mengulas isi sebuah buku.
2. Mencari dan mengetahui informasi yang ada dalam buku.
3. Melatih diri untuk berpikir kritis dalam mencari informasi yang diberikan oleh setiap
bab dari sebuah buku

1
C. Manfaat
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Evaluasi SD Lahan dan Air
2. Untuk mengembangkan bakat dan mengkritik buku
3. Untuk meningkatkan kita dalam berfikir rasional
4. Untuk meningkatkan pola pikir kita dalam menganalisa buku

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Ringkasan Buku Utama


Sistem Perencanaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Daerah aliran sungai (DAS) merupakan ruang di mana sumberdaya alam, terutama
vegetasi, tanah dan air, berada dan tersimpan serta tempat hidup manusia dalam
memanfaatkan sumberdaya alam tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebagai
wilayah, DAS juga dipandang sebagai ekosistem dari daur air, sehingga DAS
didefinisikan sebagai suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai
dan anakanak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air
yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami. Batas di darat merupakan
pemisah topografi dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih
terpengaruh aktivitas daratan (UU No. 7 Tahun 2004). Dengan demikian DAS merupakan
satuan wilayah alami yang memberikan manfaat produksi serta memberikan pasokan air
melalui sungai, air tanah, dan atau mata air, untuk memenuhi berbagai kepentingan hidup,
baik untuk manusia, flora maupun fauna. Untuk memperoleh manfaat yang optimal dan
berkelanjutan perlu disusun sistem perencanaan pengelolaan DAS yang obyektif dan
rasional. Perencanaan pengelolaan DAS bersifat dinamis karena dinamika proses yang
terjadi di dalam DAS, baik proses alam, politik, sosial ekonomi kelembagaan, maupun
teknologi yang terus berkembang.
Pemanfaatan air bagi kehidupan antara lain untuk kebutuhan irigasi, pertanian,
industri, konsumsi rumah tangga, wisata, transportasi sungai, dan kebutuhan lainnya.
Namun, air yang dihasilkan dari DAS juga bisa merupakan ancaman bencana seperti
banjir dan sedimentasi hasil angkutan partikel tanah oleh aliran air. Potensi air yang
dihasilkan dari suatu DAS perlu dikendalikan melalui serangkaian pengelolaan sehingga
ancaman bencana banjir pada musim penghujan dapat ditekan sekecil mungkin dan
jaminan pasokan air pada musim langka hujan (kemarau) tercukupi secara berkelanjutan.
Sejalan dengan prinsip tersebut maka salah satu tujuan penyelenggaraan kehutanan adalah
untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan dengan
meningkatkan daya dukung DAS (UU No. 41 Tahun 1999). Pengelolaan lahan yang
produktif dengan memperhatikan asas konservasi dan ekologi tata air perlu disusun dalam
suatu sistem perencanaan dalam satuan pengelolaan DAS.

3
Perencanaan pengelolaan DAS merupakan salah satu bentuk perencanaan
pembangunan sumberdaya alam (vegetasi, tanah, dan air) dengan menggunakan satuan
atau unit pengelolaan daerah tangkapan air (catchment area) atau daerah aliran sungai
dengan bagian-bagian wilayahnya. Salah satu acuan utama peraturan perundangan yang
mendasari penyusunan perencanaan pembangunan di Indonesia adalah Undang-Undang
(UU) No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Oleh
karena itu sistem perencanaan pengelolaan DAS yang dibangun harus kompatibel dengan
sistem perencanaan nasional.
Menurut Dixon (1986), pengelolaan DAS didefinisikan sebagai proses formulasi
dan implementasi dari suatu rangkaian kegiatan yang menyangkut sumberdaya alam dan
manusia dalam suatu DAS dengan memperhitungkan kondisi sosial, politik, ekonomi dan
faktor-faktor institusi yang ada di DAS dan di sekitarnya untuk mencapai tujuan sosial
yang spesifik. Sedang dalam Peraturan Pemerintah No. 37 tahun 2012, pengelolaan DAS
adalah upaya manusia dalam mengatur hubungan timbal balik antara sumber daya alam
dengan manusia di dalam DAS dan segala aktivitasnya, agar terwujud kelestarian dan
keserasian ekosistem serta meningkatnya kemanfaatan sumberdaya alam bagi manusia
secara berkelanjutan.
Pengelolaan DAS bukan hanya hubungan antar biofisik, tetapi juga merupakan
pertalian dengan faktor ekonomi dan kelembagaan. Dengan demikian perencanaan
pengelolaan DAS perlu mengintegrasikan faktor-faktor biofisik, sosial ekonomi dan
kelembagaan untuk mencapai kelestarian berbagai macam penggunaan lahan di dalam
DAS yang secara teknis aman dan tepat, secara lingkungan sehat, secara ekonomi layak,
dan secara sosial dapat diterima masyarakat (Brooks, et al., 1990). Selain itu pengelolaan
DAS juga bertujuan untuk mencegah kerusakan (mempertahankan daya dukung) dan
memperbaiki yang rusak (pemulihan daya dukung).

B. Ringkasan Buku Pembanding


Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Daerah aliran sungai (DAS) adalah suatu wilayah yang merupakan kesatuan
ekosistem yang dibatasi oleh pemisah topografis dan berfungsi sebagai pengumpul,
penyimpan dan penyalur air, sedimen, unsur hara melalui sistem sungai, megeluarkannya
melalui outlet tunggal yaitu ke danau/laut. Apabila turun hujan di daerah tersebut, maka
air hujan yang turun akan mengalir ke sungai-sungai yang ada disekitar daerah yang
dituruni hujan. Menurut PP No 37 tentang Pengelolaan DAS, Pasal 1, Daerah Aliran
4
Sungai yang biasa disebut DAS adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu
kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung,
menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara
alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan
daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. DAS dalam bahasa Inggris
disebut Watershed atau dalam skala luasan kecil disebut Catchment Area adalah suatu
wilayah daratan yang dibatasi oleh punggung bukit atau batas-batas pemisah topografi,
yang berfungsi menerima, menyimpan dan mengalirkan curah hujan yang jatuh di atasnya
ke alur-alur sungai dan terus mengalir ke anak sungai dan ke sungai utama, akhirnya
bermuara ke danau/waduk atau ke laut. Berikut ini dicontohkan beberapa definisi DAS
yang dikemukakan oleh para ahli. Linsley dkk., (1980) DAS adalah keseluruhan daerah
yang diatus oleh sistem sungai sehingga seluruh aliran dan daerah tersebut dikeluarkan
melalui outlet tunggal.
Kata pengelolaan banyak digunakan dalam berbagai bidang keilmuan. Kita juga
mengenal pengelolaan yang berkaitan dengan pemanfaatan lahan atau tata-guna lahan
seperti pengelolaan hutan produksi, pengelolaan bidang pertanian, pengelolaan hutan
lindung, pengelolaan DAS. Pengelolaan DAS didefinisikan sebagai proses perumusan dan
pelaksanaan serangkaian tindakan yang melibatkan manipulasi dan sistem alam dan suatu
DAS untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu ke arah pembangunan yang
berkesinambungan (lestari). Suyono (1996) P-DAS terpadu adalah serangkaian kegiatan
dengan berbagai eara yang saling terkait dengan penuh pertimbangan untuk mencapai
suatu tujuan. Adapun tujuan P-DAS adalah untuk mencapai kelestarian DAS agar dapat
memberikan manfaat yang maksimal dan berkesinambungan bagi kesejahteraan manusia.
Pengelolaan DAS adalah suatu proses formulasi dan implementasi kegiatan atau program
yang bersifat menipulasi sumberdaya alam dan manusia yang terdapat di daerah aliran
sungai untuk memperoleh manfaat produksi dan jasa tanpa menyebabkan terjadinya
kerusakan sumberdaya air dan tanah. (Asdak, 2010). Kajian berlanjut kepada alokasi
sumberdaya alam di daerah aliran sungai termasuk pencegahan banjir dan erosi, serta
perlindungan nilai keindahan yang berkaitan dengan sumberdaya alam, antara lain dengan
jalan identifikasi keterkaitan antara tataguna lahan, tanah dan air serta keterkaitan antara
daerah hulu dan hilir suatu DAS. Pertimbangan aspek sosial, ekonomi, budaya serta
kelembagaan yang beroperasi di dalam dan si luar daerah aliran sungai yang bersangkutan.
(Asdak, 2010).

5
Menurut Asdak, 2010 dalam konteks DAS, pembangunan yang berkelanjutan
(sustainable development) dapat dicapai apabila perangkat kebijaksanaan yang akan
diterapkan pada pengelolaan DAS telah mempertimbangkan beberapa hal seperti di bawah
ini :
1. Pengelolaan DAS dan konservasi tanah dan air merupakan “alat” untuk tercapainya
pembangunan sumberdaya air dan tanah yang berkelanjutan;
2. Pengelolaan sumberdaya alam yang tidak memadai (pada skala DAS) telah
menyebabkan degradasi tanah dan air, pada gilirannya menurunkan tingkat
kemakmuran rakyat pedesaan;
3. Kurangnya pemahaman mengenai keterkaitan biogeofisik antara daerah hulu-hilir DAS
merupakan alasan yang sangat relevan dimana pengelolaan DAS yang ada tidak
memadai. Oleh karena itu produk kebijaksanaan yang dihasilkan tidak atau kurang
memadai untuk dijadikan landasan pengelolaan DAS;
4. Adanya ketidaksesuaian antara batas alamiah (ekologi) serta batas administrative
(politik) suatu DAS seringkali menjadi kendala bagi tercapainya usaha pengelolaan
DAS yang komprehensif dan efektif. Tantangan kebijakan dalam pengelolaan DAS
yang cukup mendesak adalah mengusahakan tercapainya keselarasan antara dua sudut
pandang tersebut.
5. “Aktor” yang terlibat dalam pengelolaan kebijakan serta realisasi pengelolaan DAS
harus menyeluruh. Dengan demikian, dapat dilakukan evaluasi dini terhadap
gejalagejala terjadinya degradasi lingkungan dan tindakan perbaikan yang diperlukan
dapat segera dilaksanakan. Sesuai dengan perkembangan keilmuan khususnya dalam
kesesuaian lahan serta kegiatan pengelolaan tanah dan air, maka alokasi lahan di DAS
dapat dikelompokkan ke dalam lima bidang, yaitu: a. kawasan lindung b. kawasan
budidaya tanaman semusim c. kawasan penyangga (buffer area) d. kawasan kota dan
industri e. kawasan pemukiman
Tujuan umum pengelolaan DAS terpadu adalah :
1. Terselenggaranya koordinasi, keterpaduan, keserasian dalam perencanaan, pelaksanaan,
pengendalian, monitoring dan evaluasi DAS.
2. Terkendalinya hubungan timbal balik sumberdaya alam dan lingkungan DAS dengan
kegiatan manusia guna kelestarian fungsi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

6
BAB III
KELEBIHAN BUKU

A. Kelebihan Buku Utama (Sistem Perencanaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai)


1. Cover buku menarik.
2. Buku mencatumkan identitas yang lengkap, tidak menyulitkan pembaca untuk
mengetahui informasi bibliografi.
3. Di beberapa BAB di dalam buku terdapat gambar sehingga lebih memudahkan
pembaca untuk memahami penjelasan isi buku di beberapa bagian.

B. Kelebihan Buku Pembanding (Pengelolaan Daerah Aliran Sungai)


1. Menurut saya buku ini sudah bagus karena di dalam buku terdapat banyak gambar yang
mempermudah memahami isi buku.
2. Buku mencatumkan identitas yang lengkap, tidak menyulitkan pembaca untuk
mengetahui informasi bibliografi.
3. Di dalam setiap BAB juga menambahkan sub-sub judul yang secara rinci yang terkait
dengan BAB tersebut.

7
BAB IV
KELEMAHAN BUKU

A. Kelemahan Buku Utama (Sistem Perencanaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai)


1. Terdapat kata-kata yang sulit dipahami.
2. Terlalu banyak menggunakan bahasa baku.

B. Kelemahan Buku Pembanding (Pengelolaan Daerah Aliran Sungai)


1. Terdapat kata-kata di dalam buku pengelolaan daerah aliran sungai yang masih
bersalahan penulisannya.
2. Cover buku yang kurang menarik sehingga tidak telalu menarik minat pembaca untuk
membacanya.

8
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Buku yang memilki banyak ilmu adalah buku yang patut dibaca oleh mahasiswa,
dan menjadi sumber belajar yang baik dalam perkuliahan.
Buku ini layak dibaca karena di dalamnya memuat ilmu pendidikan. Buku ini akan
sangat membantu serta memenuhi kebutuhan para peminat peningkatan mutu pengajaran,
baik dari kalangan mahasiswa, calon guru, maupun guru terutama bagi mereka yang ingin
meningkatkan profesional mereka dalam hal pendidikan dan pengajaran.

B. Saran
Saran yang akan saya berikan tentang buku ini yaitu menurut saya buku ini sudah
sangat lengkap dan bagus ,namun saran saya akan lebih baik lagi jika buku ini dipadukan
dengan warna-warna sehingga menarik.
Penjelasan dalam buku ini telah baik tapi akan jauh lebih baik apabila mengunakan
kata-kata yang sesederhana mungkin guna mencapai pemahaman yang lebih. Namun
apabila ingin melampirkan kata-kata asing sebaiknya diberi keterangan khusus agar
pembaca lebih memahami.
Dan Sebaiknya kita lebih dalam lagi mempelajari tentang Evaluasi SD Lahan dan
Air. Dan semoga dengan adanya tugas critical book report ini dapat menambah wawasan
dan pengetahuan kita mengenai tentang Evaluasi SD Lahan dan Air terkhusus bagi
jurusan pendidikan geografi dan bagi siapa saja yang membacanya.