Anda di halaman 1dari 19

Kata Pengantar

Segala puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya kepada
kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang Sistem Imun Spesifik dan
Non Spesifik dari Mata Kuliah Ilmu Biomedik Dasar.

Makalah ini telah kami susun semaksimal mungkin dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga memperlancar pembuatannya. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pembuatan makalah ini.

Dari semua itu, kami sadar masih banyak kekurangan baik dari segi kalimat
maupun tata bahasa, oleh karena itu kami menerima segala saran dan kritik dari
pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata, kami berharap agar makalah ini dapat memberikan manfaat maupun
inspirasi kepada pembaca sekalian

Samarinda, 27 Agustus 2019

Kelompok Tiga

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................1

DAFTAR ISI................................................................................................................2

BAB I : Pendahuluan

A. Latar Belakang.............................................................................................3
B. Rumusan Masalah........................................................................................4
C. Tujuan..........................................................................................................4

BAB II : Pembahasan

A. Sistem Imun Non Spesifik.........................................................................5


1. Pertahanan Fisik/Mental........................................................................6
2. Pertahanan Biokimiawi..........................................................................8
3. Pertahanan Humoral..............................................................................8
4. Pertahanan Seluler...............................................................................10
B. Sistem Imun Spesifik...............................................................................13
1. Sistem Imun Spesifik Humoral............................................................14
2. Sistem Imun Spesifik Seluler...............................................................15
C. Interaksi Sistem Imun Non Spesifik dengan Sistem Imun Spesifik....17

BAB III : Penutup

A. Kesimpulan................................................................................................18
B. Saran..........................................................................................................18

Daftar Pustaka...........................................................................................................19

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lingkungan di sekitar manusia mengandung berbagai jenis unsur mikroba


patogen, misalnya bakteri, virus, fungus, protozoa dan parasit yang dapat
menyebabkan infeksi pada manusia. Mikroba dapat hidup ekstraseluler, melepas
enzim dan menggunakan makanan yang banyak mengandung gizi yang
diperlukannya. Mikroba lain menginfeksi sel pejamu dan berkembang biak
intraseluler dengan menggunakan sumber energi sel pejamu. Baik mikroba
ekstraseluler maupun intraseluler dapat menginfeksi subyek lain, menimbulkan
penyakit dan kematian, tetapi banyak juga yang tidak berbahaya bahkan berguna
untuk pejamu.

Infeksi yang terjadi pada manusia normal umumnya singkat dan jarang
meninggalkan kerusakan permanen. Hal ini disebabkan tubuh manusia memiliki
suatu sistem yaitu sistem imun yang melindungi tubuh terhadap unsur-unsur
patogen. Sistem ini mendeteksi berbagai macam pengaruh biologis luar yang luas,
melindungi tubuh dari infeksi bakteri, virus, fungus, protozoa dan parasit serta
menghancurkan zat-zat asing lain dan memusnahkan mereka dari sel yang sehat
dan jaringan agar tetap dapat berfungsi seperti biasa. Sistem imun yang sehat
adalah jika dalam tubuh bisa membedakan antara diri sendiri dan benda asing
yang masuk ke dalam tubuh. Biasanya ketika ada benda asing yang memicu
respons imun masuk ke dalam tubuh (antigen) dikenali maka terjadilah proses
pertahanan diri.

Sistem imun dapat dibagi menjadi menjadi dua yaitu sistem imun non-spesifik
dan sistem imun spesifik. Mekanisme imunitas spesifik timbul atau bekerja lebih
lambat dibanding imunitas non spesifik. Pembagian sistem imun dalam sistem

3
imun spesifik dan non-spesifik hanya dimaksudkan untuk mempermudah
pengertian saja. Sebenarnya antara kedua sistem imun tersebut terjadi kerja sama
yang erat, yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lain. Pada makalah ini akan
dijelaskan tentang sistem imun spesifik dan sistem imun non-spesifik, pembagian
serta mekanisme kerja masing-masing secara ringkas.

B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Imunitas?
2. Apa itu Sistem Imun Non Spesifik?
3. Apa itu Sistem Imun Spesifik?

C. Tujuan

Untuk mengetahui sistem imun pada tubuh, yaitu sistem imun non-spesifik
maupun sistem imun spesifik, mekanisme kerja masing-masing sistem imun serta
interaksi antar kedua sistem imun tersebut.

4
BAB II

SISTEM IMUN SPESIFIK DAN NON SPESIFIK

Imunitas adalah resistensi terhadap penyakit terutama infeksi. Sementara


sistem imun itu sendiri adalah sel, molekul dan jaringan yang berperan dalam
resistensi terhadap infeksi. Reaksi yang dikoordinasi sistem imun tersebut terhadap
mikroba disebut respons imun. Sistem imun diperlukan tubuh untuk mempertahankan
keutuhannya terhadap bahaya yang ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan
hidup (Bratawidjaja dan Rengganis, 2009).

Sistem imun berdasarkan fungsinya terdiri dari 2 tipe, yaitu respon imun
alamiah atau non-spesifik (innate immunity) dan respon imun adaptif atau spesifik
(acquired immunity). Respon imun non-spesifik dan spesifik pada kenyataannya tidak
terjadi secara terpisah, tetapi terjadi dengan saling melengkapi dan mempengaruhi
satu sama lain (Darwin, 2005).

A) Sistem Imun Non-Spesifik (Innate Immunity)

Sistem imun non-spesifik merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam


menghadapi serangan berbagai mikroorganisme, karena dapat memberikan respon
langsung terhadap antigen. Sistem tersebut disebut non-spesifik karena tidak
ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu. (Bratawidjaja dan Rengganis, 2009).
Sebagai elemen pertama dari sistem imun untuk menemukan agen penyerang,
respon imun non-spesifik diaktifkan lebih cepat daripada respon imun spesifik
namun dengan durasi yang lebih singkat (Delves and Ivan, 2000).

5
Komponen-kompenen sistem imun non-spesifik terdiri atas:

a. Pertahanan fisik/mekanik

b. Pertahanan biokimiawi

c. Pertahanan humoral

d. Pertahanan selular (Baratawidjaya dan Rengganis, 2009)

a) Pertahanan Fisik/Mekanik
Dalam sistem pertahanan fisik atau mekanik ini, kulit, selaput lendir, silia
saluran napas, batuk dan bersin akan mencegah masuknya berbagai kuman
patogen ke dalam tubuh. Kulit yang rusak misalnya oleh luka bakar dan
selaput lendir yang rusak oleh asap rokok akan meninggikan risiko infeksi
(Baratawidjaja dan Rengganis, 2009).
Menurut Baratawidjaja dan Rengganis (2010), mekanisme imunitas
non-spesifik terhadap bakteri pada tingkat sawar fisik seperti kulit atau
permukaan mukosa:
1. Bakteri yang bersifat simbiotik atau komensal yang ditemukan pada
kulit menempati daerah terbatas pada kulit dan menggunakan hanya
sedikit nutrient, sehingga kolonisasi kolonisasi oleh mikroorganisme
patogen sulit terjadi.
2. Kulit merupakan sawar fisik efektif dan pertumbuhan bakteri dihambat
sehingga agen patogen yang menempel akan dihambat oleh pH rendah
dari asam laktat yang terkandung dalam sebum yang dilepas kelenjar
keringat.
3. Sekret dipermukaan mukosa mengandung enzim destruktif seperti
lisozim yang menghancurkan dinding sel bakteri.

6
4. Saluran napas dilindungi oleh gerakan mukosiliar sehingga lapisan
mukosa secara terus menerus digerakkan menuju arah nasofaring.
5. Bakteri ditangkap oleh mukus sehingga dapat disingkirkan dari saluran
napas.
6. Sekresi mukosa saluran napas dan saluran cerna mengandung peptida
antimikrobial yang dapat memusnahkan mikroba pathogen.
7. Mikroba patogen yang berhasil menembus sawar fisik dan masuk ke
jaringan dibawahnya dapat simusnahkan dengan bantuan komplemen dan
dicerna oleh fagosit.

Gambar 2. Mekanisme pertahanan oleh sel epitel (Abbas et al., 2000


dalam Engelhardt, 2009).

7
b) Pertahanan Biokomiawi

Pertahanan biokimiawi adalah seperti asam hidroklorida dalam lambung,


enzim proteolitik dalam usus, serta lisozim dalam keringat, air mata, dan
air susu (Baratawidjaja dan Rengganis, 2009). Lisozim dalam keringat,
ludah, air mata dan air susu ibu, melindungi tubuh terhadap berbagai
kuman postif-Gram oleh karena dapat menghancurkan lapisan
peptidoglikan dinding bakteri. Air susu ibu juga mengandung
laktooksidase dan asam neuraminik yang mempunyai sifat antibakterial
terhafap E.koli dan stafilokokus (Baratawidjaja dan Rengganis, 2010).

c) Pertahanan Humoral
1) Komplemen

Sistem komplemen tersusun lebih dari 20 protein plasma. Sistem ini


mempunyai fungsi antimikroba non-spesifik dan merupakan sistem
aplikasi yang efektif untuk memperkuat mekanisme pertahanan non-
spesifik dan spesifik (Wahab dan Julia, 2002). Berbagai bahan seperti
antigen dan kompleks imun dapat mengaktivsi komplemen sehingga
menghasilkan berbagai mediator yang mempunyai sifat biologi yang
aktif, yang menyebabkan lisis bakteri atau sel, memproduksi mediator
pro-inflamasi yang dapat memperkuat proses dan solubilisasi
kompleks antigen-antibodi. Komplemen memiliki 3 jalur, yaitu jalur
klasik, alternatif dan membrane attack pathway. (Darwin, 2005).

Gambar 3. Jalur aktivasi komplemen


(Abbas et al., 2000 dalam Engelhardt,
2009).

8
2) Interferon
Interferon adalah sitokin berupa glikoprotein yang diproduksi
makrofag yang diaktifkan, sel NK dan berbagai sel tubuh yang
mengandung nukleus dan dilepas sebagai respons terhadap infeksi
virus. IFN mempunya sifat antivirus dan dapat menginduksi sel-sel
sekitar sel yang terinfeksi virus menjadi resisten terhadap virus. Di
samping itu,IFN juga adapat mengaktifkan sel NK. Sel yang diinfeksi
virus atau menjadi ganas akan menunjukkan perubahan pada
permukaannya yang akan dikenal dan dihancurkan sel NK. Dengan
demikian penyebaran virus dapat dicegah (Baratawidjaja dan
Rengganis, 2010).

3) C-Reactive Protein

CRP merupakan salah satu protein fase akut, termasuk golongan


protein yang kadarnya dalam darah meningkat pada infeksi akut
sebagai respons imunitas non-spesifik. CRP mengikat berbagai
mikroorganisme yang membentuk kompleks dam mengaktifkan
komplemen jalur klasik. Pengukuran CRP berguna untuk menilai
aktivitas penyakit inflamasi. CRP dapat meningkat 100x atau lebih dan
berperan pada imunitas non-spesifik yang dengan bantuan Ca++ dapat
mengikat berbagai molekul antara lain fosforilkolin yang ditemukan
pada permukaan bakteri/jamur dan dapat mengaktifkan komplemen
(jalur klasik). CRP juga mengikat protein C dari pneumokok dan
berupa opsonin. Peningkatan sintesis CRP akan meningkatkam
viskositas plasma sehingga laju endap darah juga akan meningkat.
Adanya CRP yang tetap tinggi menunjukan infeksi yang persisten
(Baratawidjaja dan Rengganis, 2009).

9
d) Pertahanan Seluler
1) Fagosit

Sel utama yang berperan dalam pertahanan nons-pesifik adalah sel


mononuklear (monosit dan makrofag) serta sel polimorfonuklear atau
granulosit. Sel-sel ini berperan sebagai sel yang menangkap antigen,
mengolah dan selanjutnya mempresentasikannya kepada sel T, yang
dikenal sebagai sel penyaji atau APC. Kedua sel tersebut berasal dari
sel asal hemopoietik. Granulosit hidup pendek, mengandung granul
yang berisikan enzim hidrolitik. Beberapa granul berisikan pula
laktoferin yang bersifat bakterisidal (Baratawidjaja dan Rengganis,
2009).

Gambar 4. Proses fagositosis dalam berbagai tahap (Baratawidjaja


dan Rangganis, 2009).

10
2) Makrofag

Monosit ditemukan dalam sirkulasi, tetapi dalam jumlah yang lebih


sedikit dibanding neutrofil. Monosit bermigrasi ke jaringan dan di sana
berdiferensiasi menjadi makrofag yang seterusnya hidup dalam
jaringan sebagai makrofag residen. Sel kuppfer adalah makrofag
dalam hati, histiosit dalam jaringan ikat, makrofag alveolar di paru, sel
glia di otak, dan sel langerhans di kulit.
Makrofag dapat hidup lama, mempunyai beberapa granul dan melepas
berbagai bahan, antara lain lisozim, komplemen, interferon dan sitokin
yang semuanya memberikan kontribusi dalam pertahanan nonspesifik
dan spesifik (Mardjono dan Shidarta, 2006).
3) Sel NK (Natural Killer)
Jumlah sel NK sekitar 5-15% dari limfosit dalam sirkulasi dan 45%
dari limfosit dalam jaringan. Sel tersebut berfungsi dalam imunitas
nonspesifik terhadap virus dan sel tumor. Secara morfologis sel NK
merupakan limfosit dengan granul besar. Ciri-cirinya yaitu memiliki
banyak sekali sitoplasma (limfosit T dan B hanya sedikit), granul
sitoplasma azurofilik, pseudopodia dan nukleus eksentris
(Baratawidjaja dan Rengganis, 2009).
Pertemuan antara hospes dengan benda asing menimbulkan respon
elemen fagosit ke daerah tempat benda asing tersebut masuk. Hal ini
dapat terjadi sebagai bagian dari respon inflamatoris.

1. Inflamasi

Setelah ancaman injuri jaringan, terjadi perluasan seluler dan


sistematik, dimana hospes mencaba unutuk menormalkan dan
memelihara homeostatis dari lingkungan yang merugikan. Bersamaan
dengan respon inflamatoris timbul beberapa kejadian sistematik yang

11
melibatkan demam dan beberapa fenomena hematologik. Respon
demam ini diduga menggambarkan peningkatan aktifitas metabolik
setelah injuri. Mekanisme terjadinya demam diduga akibat lepasnya
pirogen endogen dari leukosit hospes. Kenaikan angka leukosit pada
saat infeksi bakteri atau ada injuri jaringan.

2. Fagositosis

Sekali begerak sel-sel fagositosis melakukan serangan pada sasarannya


dengan proses yang disebut fagositosis yaitu suatu upaya multiphase
yang memerlukan langkah-langkah sebagai berikut: pengenalan
(recognition) dari benda yang akan dicerna, gerakan ke arah obyek
(kemotaksis), perlekatan, penelanan (ingestion) intraseluler oleh
mekanisme mikroba-mikroba. Banyak mikroorganisme menghasilkan
faktor kemotaksis yang menarik sel-sel fagositosit. Kerusakan dalam
kemotaksis mungkin menyebabkan kerentangan yang luar biasa
terhadap infeksi tertentu (Wahab dan Julia, 2002).

12
B) Sistem Imun Spesifik (Aquired Immunity)

Sistem imun spesifik mempunyai kemampuan untuk mengenal


benda yang dianggap asing bagi dirinya. Benda asing yang pertama kali
terpajan dengan tubuh segera dikenal oleh sistem imun spesifik. Pajanan
tersebut menimbulkan sensitifitatasi, sehingga antigen yang sama dan
masuk tubuh untuk kedua kali akan dikenal lebih cepat dan kemudian
dihancurkan. Oleh karena itu, sistem tersebut disebut spesifik. Untuk
menghancurkan benda asing yang berbahaya bagi tubuh, sistem imun
spesifik dapat bekerja tanpa bantuan sistem imun nonspesifik. Namun pada
umumnya terjalin kerjasama yang baik antara sistem imun nonspesifik
dan spesifik seperti antara komplemen-fagosit-antibodi dan antara
makrofag dengan sel T (Baratawidjaja dan Rengganis, 2010).

Sistem pertahanan spesifik terutama tergantung pada sel-sel limfoid.


Ada dua populasi utama sel limfoid, yaitu sel T dan sel B. Rasio sel T
terhadap sel B sekitar 3 : 1. Limfosit berkembang pada organ limfoid primer,
sel T berkembang di timus, sedangkan sel B di hepar janin atau di sumsum
tulang. Kedua jenis sel tersebut kemudian akan bermigrasi ke jaringan limfoid
sekunder, tempatnya merespon antigen (Wahab dan Julia, 2002).

Sistem imun spesifik terdiri atas sistem humoral dan sistem seluler. Pada
imunitas humoral, sel B melepas antibodi untuk menyingkirkan mikroba
ekstraselular. Pada imunitas seluler, sel T mengaktifkan makrofag sebagai
efektor untuk menghancurkan mikroba atau mengaktifkan sel CTC/Tc
sebagai efektor yang menghancurkan sel terinfeksi (Baratawidjaja dan
Rengganis, 2010).

13
a) Sistem Imun Spesifik Humoral

Limfosit B atau sel B berperan dalam sistem imun spesifik humoral. Sel B
tersebut berasal dari sel asal multipoten. Pada unggas sel asal tersebut
akan berdiferensiasi menjadi sel B di dalam alat yang disebut Bursa
Fabricius yang terletak dekat kloaka. Bila sel B dirangsang oleh benda
asing, maka sel tersebut akan berproliferasi dan berkembang menjadi sel
plasma yang dapat membentuk zat antibodi. Antibodi yang dilepas dapat
ditemukan di dalam serum. Fungsi utama antibodi ini ialah untuk
pertahanan terhadap infeksi virus, bakteri (ekstraselular), dan dapat
menetralkan toksinnya.

Sel B merupakan asal dari sel plasma yang membentuk imunoglobulin


(Ig) yang terdiri atas IgG, IgM, IgA, IgE dan IgD. IgD berfungsi sebagai
opsonin, dapat mengaglutinasikan kuman/virus, menetralisir toksin dan
virus, mengaktifkan komplemen (jalur klasik) dan berperanan pada
Antibody Dependent Cellular Cytotoxicity (ADCC). ADCC tidak hanya
merusak sel tunggal tetapi juga mikroorganisme multiselular seperti
telur skistosoma, kanker, penolakan transplan, sedang ADCC melalui
neutrofil dan eosinofil berperan pada imunitas parasit. IgM dibentuk
terdahulu pada respons imun primer sehingga kadar IgM yang tinggi
menunjukkan adanya infeksi dini. IgM merupakan aglutinator antigen
serta aktivator komplemen (jalur klasik) yang poten. IgA ditemukan
sedikit dalam sekresi saluran napas, cerna dan kemih, air mata,
keringat, ludah dan air susu ibu dalam bentuk IgA sekretori (sIgA).
IgA dan sIgA dapat menetralisir toksin, virus, mengaglutinasikan
kuman dan mengaktifkan komplemen (jalur alternatif). IgE berperanan
pada alergi, infeksi cacing, skistosomiasis, penyakit hidatid,
trikinosis. Peranan IgD belum banyak diketahui dan diduga mempunyai
efek antibodi pada alergi makanan dan autoantigen (Baratawidjaja, 1993).

14
Sel B mengenali epitop pada permukaan antigen dengan menggunakan
molekul antibodi. Jika dirangsang melalui kontak langsung, sel B
berproliferasi, dan klon yang dihasilkan dapat mengeluarkan antibodi
yang spesifisitas adalah sama dengan reseptor permukaan sel yang
mengikat epitop tersebut. Tanggapan biasanya melibatkan klon yang
berbeda dari limfosit dan oleh karena itu disebut sebagai poliklonal. Untuk
setiap epitop terdapat beberapa klon limfosit yang berbeda dengan
berbagai sel B reseptor, yang masing-masing mengenali epitop dengan
cara yang sedikit berbeda dan dengan kekuatan mengikat yang berbeda
pula (afinitas) (Delves and Ivan, 2000).

b) Sistem Imun Spesifik Seluler

Imunitas seluler ditengahi oleh sekelompok limfosit yang berdiferensiasi


di bawah pengaruh timus (Thymus), sehingga diberi nama sel T. Cabang
efektor imunitas spesifik ini dilaksanakan langsung oleh limfosit yang
tersensitisasi spesifik atau oleh produk-produk sel spesifik yang dibentuk
pada interaksi antara imunogen dengan limfosit-limfosit tersensitisasi
spesifik. Produk-produk sel spesifikasi ini ialah limfokin-limfokin
termasuk penghambat migrasi (migration inhibition factor = MIF),
sitotoksin, interferon dan lain sebagainya yang menjadi efektor molekul-
molekul dari imunitas seluler (Delves and Ivan, 2000).

Sel T merupakan 65-80% dari semua limfosit dalam sirkulasi.


Kebanyakan sel T mempunyai 3 glikoprotein permukaan yang dapat
diketahui dengan antibodi monoklonal T11, T1 dan T3 (singkatan T
berasal dari Ortho yang membuat antibodi tersebut) (Delves and Ivan,
2000). Fungsi sel T umumnya ialah:

15
1. Membantu sel B dalam memproduksi antibodi

2. Mengenal dan menghancurkan sel yang diinfeksi virus

3. Mengaktifkan makrofag dalam fagositosis

4. Mengontrol ambang dan kualitas sistem imun (Baratawidjaya dan


Rengganis, 2009).

Pada tubuh ditemui beberapa jenis sel T, yaitu T”helper” atau Th;
T”inducer”, T”delayed hypersensitivity” atau Td, T”cytotoxic” atau Tc
dan T”supressor” atau Ts. T”helper” atau Th membantu sel B dalam
pembuatan “antibodi”. Untuk membuat antibodi terhadap kebanyakan
antigen, baik sel B maupun sel T harus mampu mengenali kembali bagian-
bagian tertentu dari antigennya. Th bekerja sama juga dengan Tc dalam
pengenalan kembali sel-sel yang dilanda infeksi viral dan jaringan
cangkokan alogenik.

Th membuat dan melepaskan limfokin yang diperlukan untuk


menggalakkan makrofag dan tipe sel lainnya. T”inducer” adalah istilah
yang digunakan untuk Th yang sedang menggalakkan jenis sel T lainnya.
T”delayed hypersensitivity” atau Td adalah sel T yang bertanggungjawab
atas pengarahan makrofag dan sel-sel inflamasi lainnya ke tempat-tempat
dimana terjadi reaksi hipersensitivitas yang terlambat. Mungkin sekali Td
bukan suatu sub jenis sel T melainkan kelompok Th yang sangat aktif.
T”citotoxic” atau Tc adalah sel T yang bertugas memusnahkan sel atau
jaringan cangkokan alogenik dan sel-sel yang dilanda infeksi viral, yang
dikenali kembali dalam interaksi dengan berbagai antigen dalam MHC
molekul pada permukaaan sel tujuannya. T”supressor” atau Ts mengatur
kegiatan sel T lain dan sel B. Sel tersebut dapat dikelompokkan dalam 2

16
golongan , yaitu Tc yang dapat menekan aktivitas sel yang memiliki
reseptor antigen spesifik atau yang non-spesifik (Black, 2002).

C) Interaksi Sistem Imun Non-Spesifik dengan Sistem Imun Spesifik

Imunitas non-spesifik berperan sebagai pertahanan pertama terhadap


agen infeksius, dimana mikroorganisme patogen akan dihancurkan sebelum
berkembang biak dan sebelum menimbulkan infeksi. Apabila pertahanan
pertama tidak dapat mencegah infeksi sehingga menimbulkan penyakit, maka
sistem imun spesifik akan diaktivasi. Penyembuhan melalui respon imun
spesifik akan meninggalkan memori imunologi yang spesifik sehingga infeksi
selanjutnya dengan agen infeksius yang sama tidak akan menimbulkan
penyakit (Darwin, 2005).

Sistem kekebalan tubuh non-spesifik menyediakan sinyal, yang bersama-sama


dengan proliferasi antigen spesifik dan aktivasi limfosit T dan B,
menyebabkan sinyal dari sistem imun non-spesifik meningkatkan dan
memodulasi respon imun spesifik. Sistem kekebalan tubuh non-spesifik
memainkan peran sebagai adjuvant pada aktivasi sistem kekebalan tubuh
spesifik (Engelhardt, 2009).

Gambar 7. Stimulasi yang terbentuk dari respon imun non-spesifik kepada respon
imun spesifik (Abbas et al., 2000 dalam Engelhardt, 2009).

17
BAB III

PENUTUP

A) Kesimpulan
Sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang
dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem
kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap
infeksi. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya melindungi tubuh
juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus yang
menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Jika sistem ini
terlalu aktif akan terjadi autoimunitas seperti alergi atau hipersensitivitas.
Sistem imun non-spesifik merupakan pertahanan tubuh terdepan
dalam menghadapi serangan berbagai mikroorganisme, karena dapat
memberikan respon langsung terhadap antigen sedangkan sistem imun
spesifik mempunyai kemampuan untuk mengenal benda yang dianggap
asing bagi dirinya. Benda asing yang pertama kali terpajan dengan tubuh
segera dikenal oleh sistem imun spesifik. Pajanan tersebut menimbulkan
sensitifitatasi, sehingga antigen yang sama dan masuk tubuh untuk kedua
kali akan dikenal lebih cepat dan kemudian dihancurkan.

B) Saran
Setelah mengetahui teori dasar tentang imunologi, sistem imun non
spesifik dan sistem imun spesifik, kita diharapkan mampu meningkatkan atau
mempertahankan kekebalan tubuh kita dengan menjalankan gaya hidup yang
sehat agar terhindar dari berbagai macam infeksi.

18
DAFTAR PUSTAKA

https://dokumen.tips/documents/sistem-imun-spesifik-dan-non-spesifik-
55cf4a76cf9c7.html

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/67530/Chapter%2
0I.pdf?sequence=5&isAllowed=y

http://eprints.undip.ac.id/43998/2/Josephine_Rahma_G2A009055_BabIKTI.
pdf

19