Anda di halaman 1dari 3

1.

jelaskan hubungan antara penilaian awal risiko pengendalian, pengujian pengendaliandan pengujian subtantif
transaksi untuk pengeluaran kas, danj pengujian rinci saldo kas.Berikan satu contoh dimana kesimpulan yang
dicapai tentang pengendalian internaldalam pengeluaran kas akan berpengaruh terhadap pengujian saldo
kas

Jawab: kesimpulan yang di capai tentang pengendalian internal dalam pengeluaran kas.Mempertimbangkan
komponen pengendalian internal.1.Lingkungan pengendalian pemahaman tentang bagaimana manajemen
bertanggungjawab atas penggunaan sumber daya2.Penilaian risiko manajemen terhadap kemampuan
perusahaan dalam memenuhikebutuhan kas untuk transaksi pembelian3.Penilaian awal atas resiko
pengendalian auditor dapat melaksanakan beberapapengujian pengendalian secara berbarengan jelaskan
hubungan antara penilaian awal resiko pengendalian, pengujian pengendalianpengujian substantive transaksi
untuk penerimaan kas, dan pengujian rinci saldo kas.Jawab:Hubungannya terlihat dari prosedur pengukuran
risiko dilakukan untuk menilai risiko salahsaji material dalam laporan keuangan. Auditor melakukan pengujian
pengendalian,pengujian substantif transaksi, prosedur analitis, serta pengujian atas perincian saldo
dalammelakuan penilaian terhadap salah saji material sebagaimana diharuskan dalam PSA 26 (SA350).
Gabungan dari keempat jenis prosedur audit lanjutan ini akan memberikan dasar bagi opini auditor. Bagian
terbesar dari prosedur pengukuran risiko dilakukan untuk mendapatkansuatu pemaham atas pengendalian
internal, serta digunakan untuk mengukur risikopengendalian untuk setiap tujuan audit terkait transaksi.
Auditor memverifikasi pencatatandan pengikhtisaran transaksi penjualan dan penerimaan kas dengan
melakukan pengujiansubstantif transaksi.Dimana auditor dapat melakukan pengujian pengendalian secaar
terpisahdari semua pengujian lainnya, namun sering kali lebih efisien untuk melakukan bersamaandengan
pengujian substantif transaksi.Metodologi untuk mengevaluasi risiko pengendalianakan diterapkan baik pada
penjualan maupun penerimaan kas dalam audit piutang dagang.Pengendalian yang elektif akan mengurangi
risiko pengendalian dan, demikian pula jumlahbukti yang diperlukan untuk pengujian substantif transaksi dan
pengujian terperinci saldoakan berkurang. Sebaliknya, pengendalian yang tidak memadai akan menaikkan
jumlahbukti substantif yang diperlukan.

2. A. Adapun tujuan utama pemeriksaan persediaan adalah untuk menentukan bahwa :


-Persediaan secara fisik benar-benar ada
-Prosedur pisah batas (cut-off) persediaan telah dilakukan dengan memuaskan
-Persediaan telah dinilai sesuai dengan Prinsip Akuntansi Berlaku Umum (PSAK) yang diterapkan secara
konsisten
-Persediaan yang bergerak lambat (slow moving), usang, rusak, dapat diidentifikasika dengan tepat dan
dicadangkan dalam jumlah yang memadai
-Penghitungan matematis dalam daftar persediaan telah dibuat dengan cermat
-Persediaan yang dijaminkan telah diidentifikasikan dan diungkapkan dengan jelas dalam catatan atas
laporan keuangan

B. Observasi penghitungan fisik merupakan prosedur pemeriksaan umum. Keikutsertaan auditor pemeriksa
dalam penghitungan fisik dan observasinya akan memberikan kepuasan dalam menilai metode penghitungan
fisik yang dilakukan dan ketaatan perusahaan atas penyajian kuantitas serta kondisi fisik persediaan. Apabila
auditor tidak dapat melakukan observasi atsa penghitungan fisik persediaan karena adanya pembatasan
pemeriksaan, maka auditor dapat memberikan pendapat dengan kualifikasi atau tidak memberikan pendapat
sama sekali atas laporan keuangan perusahaan yang diperiksanya.

C.

3. Contoh peristiwa kemudian dan apa yg harus dilakukan oleh auditor, dan sebutkan prosedur audit yg
digunakan auditor mwmperoleh peristiwa kemudian.

-contoh peristiwa

Dua jenis kejadian setelah tanggal neraca (subsequent events) yang membutuhkan pertimbangan manajemen dan
membutuhkan penilaian oleh auditor adalah :

1) Peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah tanggal neraca yang mempunyai efek langsung terhadap ikhtisar
keuangan dan memerlukan penyesuaian.
Contoh peristiwa subsequent event jenis ini antara lain :
-Pernyataan pailit yang disebabkan karena memburuknya kondisi keuangan seorang klien dengan saldo piutang yang
belum tertagih.
-Penjualan barang-barang investasi dengan harga lebih rendah dari biaya yang dibukukan.
-Penjualan peralatan (equipment) yang belum pernah digunakan dalam operasi perusahaan dengan harga di bawah
harga (nilai) buku.
-Keputusan penyelesaian suatu perkara pengadilan atas perbedaan jumlahnya dari jumlah yang dicatat dalam
pembukuan.
-Penjualan barang dagangan dengan harga dibawah biaya yang termasuk dalam penilaian persediaan pada akhir
tahun.
2) Peristiwa-peristiwa setelah tanggal neraca yang tidak mempunyai efek langsung pada ikhtisar keuangan tetapi
dianjurkan untuk melakukan pengungkapan atas hal-hal tersebut.
Contoh peristiwa subsequent events yang tidak mempunyai efek langsung adalah :
-Pengeluaran obligasi atau surat-surat berharga.
-Penurunan nilai pasar atas surat-surat berharga yang merupakan investasi sementara atau untuk dijual.
-Kerugian persediaan yang tidak diasuransikan karena terjadinya kebakaran.
-Penyelesaian perkara pengadilan dimana kejadian yang menyebabkan perkara itu berada pada masa setelah -
tanggal neraca.
-Penurunan dalam nilai pasar atas persediaan sebagai konsekuensi dari kebijaksanaan pemerintah yang membatasi
penjualan suatu produk lebih lanjut.
-Keberhasilan perdagangan.
-Kerugian dari suatu operasi franchise (hak pendahulu).

-apa yg harus dilakukan auditor


Dapat dilihat bahwa terdapat peristiwa yang berhubungan dengan tanggal neraca dan peristiwa yang tidak ada pada
tanggal neraca tetapi muncul setelah tanggal neraca. Peristiwa seperti inilah yang harus diperhatikan oleh auditor
dalam melakukan audit di suatu perusahaan, karena bisa saja hal tersebut berdampak material bagi laporan
keuangan. Berikut merupakan contoh peristiwa yang memerlukan penyesuaian dan pengungkapan :
1. Penyesuaian
Auditor perlu melakukan penyesuaian terhadap peristiwa/transaksi yang terjadi pada tanggal sesudah tanggal neraca,
yang berkaitan dengan akun yang ada pada laporan keuangan tanggal neraca. Hal ini dapat membuat terjadinya
perbedaan angka antara laporan keuangan dengan keadaan yang sebenarnya.
Contoh : “Pengakuan Penjualan”
2. Pengungkapan
Auditor perlu melakukan pengungkapan terhadap peristiwa/transaksi yang terjadi di perusahaan auditee pada tanggal
sesudah tanggal neraca. Di karenakan tidak adanya hal tersebut dalam laporan keuangan tanggal neraca.
Contoh : “Debitor Bangkrut”

-prosedur audit yg digunakan auditor


Sesudah tanggal neraca, auditor masih membutuhkan waktu untuk melengkapi berbagai tahap pekerjaan audit.
Periode ini disebut periode kemudian (subsequent period) dan diperluas sampai saat atau tanggal diterbitkannya
laporan audit. Lama periode ini tergantung atas praktik pelaksanaan audit dan bervariasi mulai dari periode yang
relatif singkat (pendek) sampai ke periode satu atau beberapa bulan. Tidak semua prosedur audit dilaksanakan pada
waktu yang bersamaan dan beberapa tahap audit dilaksanakan selama periode kemudian, sedangkan tahap-tahap
lain sebagian besar telah dilaksanakan pada atau sebelum tanggal neraca. Pada saat audit mendekati tahap
penyelesaian, auditor akan memusatkan perhatiannya terhadap masalah-masalah auditing dan pelaporannya yang
belum dapat diselesaikan dan auditor sudah tidak diharapkan untuk melaksanakan review lanjutan atas berbagai
masalah yang sudah dapat diselesaikan melalui penerapan prosedur audit sebelumnya.
Beberapa prosedur khusus diterapkan untuk transaksi yang terjadi sesudah tanggal neraca seperti :
• pengujian data untuk meyakinkan bahwa penentuan pisah bata (cutoff) telah dilakukan dengan semestinya dan
• pengujian data yang memberikan informasi yang dapat membantu auditor dalam mengevaluasi aktiva dan utang
pada tanggal neraca.

Di samping itu, auditor harus melaksanakan prosedur audit lain dalam hubungannya dengan periode sesudah tanggal
neraca dengan tujuan untuk memastikan terjadinya peristiwa kemudian yang mungkin memerlukan penyesuaian atau
pengungkapan yang cukup penting untuk kewajaran penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi
yang berlaku umum di Indonesia. Prosedur ini harus dilaksanakan pada saat atau mendekati saat penyelesaian
pekerjaan lapangan. Secara umum auditor harus:
1. Membaca laporan keuangan interim yang terakhir;membandingkan laporan keuangan interim dengan laporan
keuangan yang akan dilaporkan; dan membuat berbagai perbandingan lainnya yang dipertimbangkan cukup memadai
sesuai dengan kondisi yang ada.
2. Meminta keterangan dan membicarakan dengan pejabat atau eksekutif yang bertanggung jawab atas masalah
keuangan dan akuntansi (terbatas pada lokasi utama, jika semestinya demikian) tentang:
·Apakah ada utang bersyarat yang cukup besar atau komitmen yang terjadi pada tanggal neraca yang dilaporkan atau
pada tanggal pertanyaan diajukan.
·Apakah ada perubahan yang cukup signifikan dalam modal saham, utang jangka panjang, atau modal kerja sampai
pada tanggal pertanyaan diajukan.
·Status sekarang mengenai unsur, dalam laporan keuangan yang dilaporkan, yang dipertanggungjawabkan
berdasarkan data sementara, awal, atau data yang tidak konklusif.
·Apakah penyesuaian (adjustment) yang tidak biasanya terjadi telah dibuat selama periode dari tanggal neraca
sampai dengan tanggal pertanyaan diajukan.
3. Membaca notulen rapat para pemegang saham, direktur, komite resmi lainnya; apabila notulen rapat tidak
tersedia, auditor meminta keterangan mengenai masalah yang dibicarakan dalam rapat tersebut.
4. Meminta keterangan kepada konsultan hukum klien tentang adanya tuntutan hukum, klaim, dan keputusan
pengadilan.
5. Mendapatkan surat representasi dari pejabat yang berwenang, umumnya adalah presiden direktur dan direktur
keuangan, yang bertanggal sama dengan tanggal laporan audit, tentang apakah setiap peristiwa yang terjadi setelah
tanggal laporan keuangan yang dilaporkan oleh auditor independen, menurut pandangan para eksekutif tersebut akan
memerlukan penyesuaian atau pengungkapan dalam laporan-laporan tersebut.

6. Meminta keterangan tambahan atau melaksanakan beberapa prosedur yang dipertimbangkan perlu dan
semestinya untuk menjawab pertanyaan yang timbul sehubungan dengan pelaksanaan prosedur, permintaan
keterangan, dan pembicaraan yang telah dilaksanakan.

4. .Jasa Review

Sebuah penugasan jasa reviewmemungkinkan keterlibatan akuntan dalam memberikan assurance terbatas bahwa
laporan keuangan telah sesuai degan SAK, termasuk pengungkapan informatif yang tepat atau basis akuntansi
komprehensif yang lain seperti basis kas akuntansi. Akuntan publik harus independen dari klien untuk dapat
melakukan jasa review.
Sebuah penugasan untuk jasa kompilasi didefinisikan dalam PSAR sebagai salah satu hal yang dipersiapkan akuntan
saat membuat dan menyajikan laporan keuangan kepada klien atau pihak ketiga tanpa memberikan assurance dari
akuntan publik tentang laporan tersebut. Laporan ini biasanya digunakan oleh manajemen untuk urusan internal,
meskipun dapat juga diberikan kepada pengguna eksternal. Akuntan publik tidak perlu menjadi independen dalam
melakukan kompilasi dan laporan keuangan tersebut dapat ditebitkan tanpa adanya penjelasan tambahan.

5.Lapping adalah suatu ketidakberesan yang dilakukan dengan sengaja untuk menyalahgunakan penerimaan kas
untuk sementara waktu atau secara permanen. Lapping dapat dilakukan kalau seseorang memiliki wewenang
menerima kas dan menyelenggarakan buku piutang. Auditor harus menilai kemungkinan terjadinya lapping dengan
memperoleh pemahaman tentang pemisahan tugas dalam penerimaan dan pencatatan penagihan dari pelanggan.

Tanda-tanda Lapping :
Berlebihan kesalahan penagihan Memperlambat perputaran piutang Berlebihan writeoffs piutang Keterlambatan
dalam posting Akun tentang rincian piutang tidak sama dengan buku besar Penurunan pembayaran piutangBanyak
keluhan dari pelanggan.
Prosedur audit untuk menemukan lapping:
- Lakukan konfirmasi piutang usaha
- Lakukan penghitungan kas secara mendadak
- Bandingkan rincian jurnal penerimaan kas dengan rincian slip setoran harian

Kitting merupakan transfer uang dari satu bank ke bank lain dan pembukuan transfer yang tidak semestinya
sehingga jumlah yang dibukukan sebagai aktiva di dalam kedua akun itu; praktek ini digunakan dengan
penyelewengan guna menyembunyikan defalkasi kas.

Pendekatan yang umumnya dilakukan auditor untuk pengujian kitting adalah membuat skedul transfer antar bank.
Daftar transfer antar bank dibuat auditor berdasarkan informasi yang diperoleh dari laporan bank (bank statement),
konfirmasi dari bank, serta informasi lain yang diperoleh
Usaha untuk mendeteksi kemungkinan adanya kitting adalah sebagai berikut:

-Buatalah cut off bank statement, dari daftar ini akan terlihat cek yang clearing ternyata tidak cocok dengan daftar cek
yang masih dalam peredaran.
- Membuat cut of test, dari daftar ini akan diketahui pengeluaran terakhir sebelum tanggal neraca tidak akan dicatat
dalam register cek
- Siap proff of cash