Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

MATA KULIAH: PENYAKIT BAKTERIAL DAN MIKAL


ASPERGILOSIS

Dosen Penanggung Jawab Praktikum:

Drh. Agustin Indrawati, M. Biomed

KELOMPOK 3

Avrita Reza Melyana B04160159


Bagus Wibisono B04160162
Priya D B

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT HEWAN DAN KESMAVET


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2019
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Satu-satunya sumber energi pokok bagi manusia dan hewan merupakan makanan,
makanan yang mengandung nilai gizi tinggi dapat bersumber dari makanan hewani salah
satunya adalah daging ayam broiler. Daging ayam broiler merupakan bahan makanan
yang mengandung gizi tinggi, rasa dan aroma yang enak, tekstur yang lunak dan harga
yang relatif murah. Komposisi kimia daging ayam terdiri dari protein 18.6%, lemak
15.06%, air 65.95%, dan abu 0.79% (Suradi 2006). Daging ayam broiler merupakan
media serta sarana yang potensial bagi penyebaran bakteri dan cendawan pathogen
selama kebersihan tidak dijaga dengan baik, pencemaran pada daging ayam terjadi mulai
dari berbagai sumber seperti bulu ayam, kulit ayam, air, tanah, debu, manusia, peralatan
dan udara selama proses pemotongan hingga proses konsumsi . Adanya bakteri dan
cendawan pathogen yang berkembang pada ayam menyababkan daging tidak layak untuk
dikonsumsi (Wijastutik 2012).

Cendawan patogen dan toksigenik dapat menimbulkan kerugian ekonimi yang


besar, specimen yang paling banyak diperiksa terhadap adanya kontaminasi cendawan
jenis kapang berasal dari ternak ungags berupa organ alat pernapasan yaitu paru-paru,
trachea, dan selaput kantung hawa (Gholib 2014). Indonesia sebagai Negara tropis sangat
cocok untuk pertumbuhan berbagai maca jamur termasuk Aspergillus. Aspergillus
merupakan spesies yang telah menyebar luas, karena spora jamur yang mudah disebarkan
oleh angin, mudah tumbuh pada bahan-bahan organic atau produk hasil pertanian. Litter
dan pakan yang bahannya merupakan produk dari pertanian dapat berperan sebagai
sumber infeksi Aspergillus, sehingga prevalensi kejadian aspergilosis pada peternakan
ungas cukup tinggi (Hayani 2017).

Aspergillus merupakan jamur yang mampu hidup pada medium dengan derajat
keasaman dan kandungan gula yang tinggi. Apergillus yang bersifat parasite dapat
menyebabkan aspergilosis pada ungags karena mengeluarkan hasil metabolit sekunder
yang bersifat racun dan karsinogenik berupa aflatoksin (Karmara 2007). Aspergilosis
merupakan penyakit sistem pernafasan yang disebabkan oleh infeksi jamur dari genus
Aspergillus. Penyakit ini sering menyerah ayam, kalkun, burung liar dan burung yang
disangkarkan. Aspergilosis di Indonesia disebabkan oleh beberapa spesies Aspergillus
yaitu Aspergillis fumigatus, Aspergillus flavus, Aspergillus niger, Aspergillus vesicolor
(Hayani 2017). Aspergillus memiliki kempuan menyebabkan mikosis, mikotoksikosis,
dan alergi.
Tujuan

Tujuan dari pengamatan ini adalah mengatahui cara untuk menguji, mengisolasi,
dan mengidentifikasi jenis cendawan yang berasal dari sampel paru-paru, hati, dan
kantong hawa ayam diduga menderita aspergillosis.

MATERIAL DAN METODE KERJA

Alat dan bahan

Peralatan dan bahan yang digunakan untuk pengamatan cendawan kapang pada
sampel organ ayam antara lain cawan petri, scissors, rat thoot tissue forceps, spidol/kertas
label, ose, penanggas, kapas, objek glass, kaca penutup, mikroskop, pipet tetes, kertas
saring, pipa U, scalpel, dan pinset steril. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain
ayam yang diduga menderita aspergilosis, alkohol 70%, KOH, Sabouroud Dextrose Agar
(SDA), aquadest, dan Lactophenol Cotton Blue (LCB).

Metode

Pengambilan sample
Sample yang digunakan pada praktikum yaitu ayam muda yang diduga menderita
aspergilus dari peternakan. Sample Organ Paru-paru, hati dan kantung hawa di insisi dan
diletakan pada objek glass dan dibiakan dalam SDA. Pengambilan sample dilakukan
dengan mencukir atau memotong bulu ayam bagian abdomen hingga bersih untuk
menghindari kontaminan serta di oleskan alkohol 70% menggunakan kapas. untuk
mencapai organ dilakukan pembukaan bagian abdomen dengan menggunakan rat thoot
tissue forceps dan scissors dimulai dari bagian bawah hingga bagian thorax.

Isolasi kapang
Sample organ paru-paru, hati, dan kantong hawa diambil secara aseptic dengan
menggunakan rat thoot tissue forceps dan scissors, dipotong kecil untuk diamati langsung
secara mikroskopis dan di idolasi pada SDA. Sample organ sebelum dilakukan
pengamatan secara mikroskopis dengan penambahan KOH akan diisolasi pada Saboraud
Dextrose Agar (SDA). Isolasi dilakukan secara aseptis dengan mendekatkan cawan petri
berisi SDA ke penanggas untuk menghindari kontaminan, ketiga sample organ
disentuhkan pada media dan ditandai dengan memberikan nama setiap organ agar tidak
tertukar. Cawan petri diberi nama berdasrkan kelompok praktikum, setelah itu SDA di
inkubasi pada suhu 25 oC – 30 oC selama 1 minggu. Sample organ yang telah dipotong
kecil diletakan pada objek glass dan ditambahkan KOH ditunggu hingga 30 menit untuk
memastikan bahwa hasil sempurna. Tiga sample organ yang telah didiamkan selama 30
menit ditutup dengan kaca penutup dan diamati dengan menggunaakan mikroskop
perbesaan 40x.
Identifikasi kapang
Untuk pengidentifikasi kapang yang diduga Aspergillus sp maka harus dilakukan
penanaman pada slide culture. Sebelumnya, isolate yang telah diisolasi selama 1 minggu
diamati dibawah mikroskop untuk memastikan bahwa kapang dugaan tepat. Pengamatan
pada mikroskop dilakukan dengam mengambil sedikit isolate setiap sample organ yang
diletakan pada objek glass yang ditambahkan Lactophenol Cottob Blue (LCB) dan
ditutup menggunakan kaca penutup. Pengamatan dilakukan menggunakan mikroskop
perbesaran 40x. Pengamatan juga dilakukan secara makroskopis dengan elihat
warna/pigmen, tekstur, dan topografi untuk memperkuat dugaan.
slide culture dibuat secara aseptis dengan meletakan susunan alat pada cawan
petri secara berurutan yait potingan kertas saring, pipa U, gelas objek, media SDA dan
kaca penutup. Media SDA dipotong berukuran 1 x 1 cm2 atau lebih kecil dari ukuran
gelas penutup kemudian diletakan diatas gelas objek. Dengan menggunakan needle
diambil isolate kapang dari media isolate biakan kapang disentuhkan pada keempat titik
dari setiap sisi potongan SDA dan menggunakan pinset media SDA ditutup menggunakan
kaca penutup. Untuk menjaga kelembaban kertas saring yang terdapat didalam cawan
petri dibasahi dengan aquadest steril kemudiaan di beri label nama kelompok dan dugaan
kapang. Media diinkubasi pada suhu ruangan selama 2-3 hari. Pengamatan atau
identifikasi kapang harus dilakukan pewarnaan dengan Lactophenol Cotton Blue (LCB).
Pewarnaan dengan LCB dilakukan dengan menyiapkan gelas objek yang telah
dibersihkan dengan alkohol 70% dan dikeringkan. Gelas objek bersih ditetesi LCB
secukupnya, dengan menggunakan pinset gelas penutup pada slide culture diambil dan
diletakan pada permukaan gelas objek yang telah ditetesi dengan LCB. Kemudian,
dilakukan pengamatan menggunakan mikroskop perbesaran 10 x dan 40 x.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengamatan pada 3 organ nekropsi pada ayam yaitu paru-paru, hati dan kantong
hawa didapatkan hasil adanya aspergiloma dan kumpulan serat jamur pada paru-paru,
nodul putih pada hati, dan kekeruhan pada selaput kantong hawa. Aspergiloma
merupakan tempat jamur memasuki paru-paru dan kelompok bersama untuk membentuk
serat simpul padat jamur yang disebut dengan bola jamur. Aspergiloma merupakan
kondisi jinak yang awalnya tidak menimbulkan gejala namun pada kondisi tertentu dapat
memburuk dan mengakibatkan batuk darah (hemoptysis), mengi, sesak napas, penurunan
beratbadan, dan kelelahan. Kumpulan serat jamur dapat terbentuk di patu-paru yang
memiliki rongga, rongga paru-paru dapat terjadi pada unggas yang mengalami emfisem,
tuberculosis, dan sarcoidosis (Hasanah 2017).
Hasil isolasi jamur dugaan Aspergillus sp terhadap 3 sample organ ayam yaitu
paru-paru, hati, dan kantong hawa pada media biakan Sabouraud Dextrose Agar (SDA)
dengan masa inkubasi 2-3 hari suhu kamar didapatkan hasil kapang Aspergillus
fumigatus. Biakan kapang berwarna hijau kebiruan dan bagian sebaliknya berwarna putih
tulang (ivory), tekstur velvety, tan topografi rughose. Pengamatan ini sesuai dengan hasil
pengamatan yang dilakukan oleh Gholib (2005), bahwa Aspergillus fumigatus yang
tumbuh berwarna hijau kebiruan, diameter 1-2 cm, permukaaan koloni seperti beludru
(Velvety).
(a) (b)
Gambar 1. Biakan pada media SDA (a) tampak depan dan (b) tampak belakang

Pemeriksaan mikroskopis dengan penambahan LCB pada isolate terlihat adanya


hifa bersepta, tonjolan vesikel di ujung hifa, konidiospora, dan fialid yang menumpuk.
Hal ini sesuai dengan hasil pengamatan Gholib (2005), pemeriksaan mikrokopis
menunjukan adanya tangkai konidia (konidiofora) pendek dan halus, vesikel berbentuk
seperti gada dan bulat, dan menjadi columnar atau lonjong dengan bertambahnya umur
koloni. Sterigmata tampak menutupi setengah bagia atas dari vesikel, dan spora/konidia
berbentuk bulat.

Gambar 2. Pemeriksaan mikroskopis isolate dari sediaan SDA

Pemeriksaan mikroskopis dari identifikasi menggunakan slide culture didapatkan


hasil yang lebih jelas dari setiap susunan kapang serta didapatkan tumpukan kontaminan
di kapang. Hasil yang didapatkan semakin jelas mengarah pada species Aspergillus
fumigatus dengan susunan konidiofora (hifa bersepta), vesikel, fialid, dan konidiospora.
Kapang yang didapatkan dalam slide culture bermacam-macam dari kapang yang masih
sangat muda, muda, dan dewasa siap melepaskan spora.

(a) (b) (c)


(d) (e)

Gambar 3. Slide culture (a) kapang sangat muda (b) kapang muda (c) kapang dewasa
siap melepaskan spora (d) konidiospora dan (e) kapaang terkontaminasi

Hasil dugaan kapang merujuk ke spesies Aspergillus fumigatus, sehingga hewan


diduga menderita aspergilosis. Aspergillosis disebut juga Brooder Pneumonia, Mycotic
Pneumonia, atau Pneumomycosis. Aspergillosis juga merupakan penyakit sistem
pernapasan yang disebabkan oleh infksi kapang dari genus Aspergillus sp. Aspergillus
berkembang biak dengan pembentukan hifa atau tunas dan menghasilkan konidiofora
pembentuk spora yang tersebar bebas di udara terbuka sehingga inhalasinya tidak dapat
dihindarkan dan masuk melalui saluran pernafasan ke paru-paru. Faktor pendukung
timbulnya infeksi jamur Aspergillus terutama berhubungan dengan aspek lingkungan dan
menejemen, kandang dengan ventilasi kurang memadahi, berdebu, kelembaban dan
temperature yang sesuai untuk pertumbuhan jamur, litter basah dan lembab, pakan
lembab, dan berjamur (Tabbu 2000). Tedapat empat jenis utama pathogenesis dari
Aspergilosis Alergi Bronchopulmonary Aspergillosis (ABPA), aspergilloma, Kronis
Necrotizing Aspergillosis (CAN), dan Aspergillosis Paru Invasif (IPA). Gejala dan tanda-
tanda aspergillosis antara lain reaksi alergi, kumpulan serat jamur, dan infeksi (Hasanah
2017).
Menurut Fadilah (2013) pencegahan infeksi Aspergillusi dilakukan dengan cara
menjaga kebersihan dilingkungan atau kandng peliharaan, pakan dan peralatan kandang
yang terkontaminasi jamur harus dibuang, payan yang diberikan harus bebas dari jamur,
peralatan produksi seperti tempat pakan dan minum harus dibersihkan dan di desinfeksi.
Sebaiknya, sekam yang digunakan dlam kondisi kering, bersih, dan segar. Tingkatkan
sirkulasi udara dalam kandang dan control kelembaban untuk menghambat pertumbuhan
dan penyebaran spora di udara.

SIMPULAN
Ayam diduga mengalami aspergillosis ditandai dengan adanya serat kumpulan
jamur di paru-paru, penebalan pada kantong hawa, dan nodular putih pada hati. Pada
identifikasi isolate ditemukan cendawan kapang species Aspergillus fumigatus yang
merupakan kapang patogen penyebab aspergilosis. Kapang pada media SDA memiliki
warna hijau kebiruan, topografi rhugose, dan tekstur velvety sedangkan pada Slide culture
ditemukan morfologi kapang lengkap yaitu konidiofore (hifa bersepta), konidiofora,
vesikel, dan fialid.
DAFTAR PUSTAKA

Fadilah R, Fatkhuroji. 2013. Memaksimalkan Produksi Ayam Ras Petelur. Jakarta(ID):


Agromedia Pustaka
Gholib D, Ahmad, Istiana.2004. Evaluasi hasil pemeriksaan laboratorium mikologi pada
sampel bahan pakan, litter, dan organ. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan
Veteriner. 2(5): 776-781.
Gholib D. 2005. Pengembahan teknik serologi untuk pemeriksaan aspergillosis ayam. Jurnal
Ilmu Ternak dan Veteriner. 10(2): 143-149.
Hasanah U. 2017. Mengenal aspergillosis, infeksi jamur genus aspergillus. Jurnal Keluarga
Sehat Sejahtera. 15(30): 76-86.
Hayani N, Eriana, Darniati. 2017. Isolasi Aspergillus sp pada paru-paru ayam kampong
(Gallus domesticus). JIMVET. 1(4): 637-643.
Karmana O. 2007. Cerdas Belajar Biologi. Bandung(ID): Grafindo Media Pratama.
Suradi K. 2006. Perubahan sifat fisik daging ayam broiler post mortem selama penyimpanan
temperature ruang. Jurnal Ilmu Ternak. 6(1): 23-27.
Tabbu CR. 2000. Penyakit Ayam dan Pennggulangannya. Yogyakarta(ID): Kanisius.