Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH KELOMPOK

SEMINAR AKUNTANSI MANAJEMEN

ACTIVITY BASED MANAGEMENT

Disusun oleh:

SONIA ELIZARNI (16105310

MONA ADILA PARDEDE (16105310

MARSHA DAVELA (16105310

ANNISA HAMIDA (1610531018)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ANDALAS

2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Permintaan akan informasi akuntansi manajemen yang lebih akurat dan relevan
telah mengarah pada perkembangan manajemen berdasarkan aktivitas. Manajemen
berdasarkan aktivitas adalah suatu pendekatan di seluruh sistem dan terintegrasi, yang
memfokuskan perhatian manajemen pada berbagai aktivitas, dengan tujuan
meningkatkan nilai untuk pelanggan (customer value) dan laba sebagai hasilnya.
Manajemen berdasarkan aktivitas menekankan pada biaya berdasarkan
aktivitas/Activity Based Costing (ABC) dan analisis nilai proses. Biaya berdasarkan
aktivitas meningkatkan keakuratan mengalokasikan biaya dengan pertama-tama
menelusuri biaya berbagai aktivitas, dan kemudian sampai pada produk atau pelanggan
yang menggunakan berbagai aktivitas tersebut.
Analisis nilai proses di lain pihak, menekankan pada analisis aktivitas, yaitu
mencoba untuk menetapkan mengapa melakukan aktivitas yang diperlukan secara lebih
efisien, dan untuk menghapus aktivitas yang tidak memberikan nilai bagi pelanggan.
Manajemen berdasarkan aktivitas memiliki tujuan untuk meningkatkan nilai bagi
pelanggan dengan mengelola aktivitas. Nilai bagi pelanggan adalah fokus utama karena
perusahaan dapat menciptakan keunggulan kompetitif dengan menciptakan nilai bagi
pelanggan yang lebih baik dengan biaya yang sama atau lebih rendah dari pesaing atau
menciptakan nilai yang sama dengan biaya lebih rendah dari pesaing.
Nilai bagi pelanggan adalah selisih antara apa yang pelanggan terima (realisasi
untuk pelanggan) dengan apa yang pelanggan serahkan (hal yang dikorbankan
pelanggan). Apa yang diterima, disebut sebagai produk total (total product). Produk
total seluruh manfaat baik wujud (tangible) maupun tidak berwujud (intangible) yang
pelanggan terima dari produk yang dibeli. Pengorbanan pelanggan meliputi biaya
meliputi biaya pembelian produk, waktu dan usaha yang dikeluarkan untuk
mendapatkan dan mempelajari cara menggunakan produk, dan biaya-biaya paska
pembelian, yang didefinisikan sebagai biaya penggunaan, pemeliharaan, dan menjual
kembali produk tersebut. Meningkatkan nilai bagi pelanggan berarti meningkatkan
realisasi untuk pelanggan, menurunkan pengorbanan pelanggan, atau keduanya.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan activity based manajemen ?
1.2.2 Bagaimana tujuan dan manfaat activity based management ?
1.2.3 Bagaimana model dimensi dan penerapan activity based manajemen ?
1.2.4 Bagaimana faktor-faktor yang mendukung keberhasilan penerapan activity based
management dalam suatu organisasi ?
1.2.5 Apa penyebab yang menimbulkan kegagalan dalam ABM?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Untuk memahami dan mendeskripsikan maksud dari activity based manajemen.
1.3.2 Untuk memahami dan mendeskripsikan tujuan dan manfaat activity based
management.
1.3.3 Untuk memahami dan mendeskripsikan model dan penerapan dimensi activity
based manajemen.
1.3.4 Untuk memahami dan mendeskripsikan faktor-faktor yang mendukung
keberhasilan penerapan activity based management dalam suatu organisasi.
1.3.5 Untuk mengetahui penyebab yang menimbulkan kegagalan dalam ABM
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Activity Based Management


Aktivitas utama manjemen adalah mancari laba untuk kelangsungan hidup
perusahaan. Setiap aktivitas harus memperoleh manfaat yang lebih besar daripada
pengorbanannya, karena setiap aktivitas adalah biaya. Manajemen
berdasarkan aktivitas adalah perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan
pengendalian aktivitas untuk mencapai sasaran kerja dan tujuan organisasi melalui
proses perbaikan terus menerus. Perbaikan itu meliputi bidang alat kerja, metode kerja,
tenaga kerja, sasaran kerja, tingkat harga, kualitas produk, dan kualitas pelanggan.
Semua aktivitas adalah biaya karena aktivitas adalah pengorbanan sumber-
sumber daya yang dapat diukur dengan satuan uang atau aktivitas adalah pengorbanan
input untuk memperoleh output dan keuntungan. Manajemen harus berusaha
meningkatkan aktivitas yang bernilai tambah dan mengurangi aktivitas yang tidak
bernilai tambah secara sistematis. Aktivitas bernilai tambah seperti riset pasar,
merancang dan mengembangkan produk, membuat dan menjual produk, serta
pelayanan purna jual produk. Sedangkan aktivitas yang tidak bernilai tambah seperti
pemeriksaan pekerjaan, pengerjaan ulang, memindahkan bahan baku dan barang
setengah jadi, penjadwalan, waktu tunggu, dan penyimpanan. Aktivitas ini harus
dikurangi kalau mungkin dihapuskan.
Activity–Based Management (ABM) adalah suatu pendekatan di seluruh sistem
dan terintegrasi, yang memfokuskan perhatian manajemen pada berbagai aktivitas,
dengan tujuan meningkatkan nilai untuk pelanggan dan laba sebagai hasilnya (Hansen
dan Mowen, 2006; 11). Menurut Mulyadi (2007; 731), Activity-Based Management
(ABM) adalah pendekatan manajemen yang memusatkan pengelolaan pada aktivitas
dengan tujuan untuk melakukan improvement berkelanjutan terhadap value yang
dihasilkan bagi customer, dan laba yang dihasilkan dari penyedia value tersebut.
Sedangkan menurut Blocher (2007; 239), Activity–Based Management (ABM) analisis
aktivitas yang digunakan untuk memperbaiki nilai produk atau jasa bagi pelanggan dan
meningkatkan keuntungan perusahaan.
Berdasarkan definisi-definisi diatas, ABM mempunyai dua frasa penting, yaitu
manajemen berbasis aktivitas berfokus pada pengelolaan aktivitas untuk meningkatkan
nilai yang diterima oleh konsumen, dan pemusatan pengelolaan pada aktivitas untuk
menghasilkan laba dari penyedia nilai tersebut.

2.2 Tujuan dan Manfaat Activity Based Management


ABM merupakan pusat dari sistem manajemen biaya oleh karena itu untuk
mengelola organisasi atau perusahaan dengan baik, harus menekankan pada ABM.
ABM bertujuan untuk meningkatkan nilai produk atau jasa yang diterima oleh para
konsumen, dan oleh karena itu dapat digunakan untuk mencapai laba dengan
menyediakan nilai tambah bagi konsumennya. Manfaat yang diperoleh dengan
menggunakan ABM adalah manajemen dapat menentukan wilayah untuk melakukan
perbaikan operasi, mengurangi biaya, atau meninggkatkan nilai bagi pelanggan.
Dengan mengidentifikasi sumber daya yang dipakai konsumen, produk, dan aktivitas,
ABM memperbaiki fokus manajemen atas faktor-faktor kunci perusahaan dan
meningkatkan keunggulan kompetitif (Blocher, 2007; 239).
Manfaat ABM menurut Supriyono (1999;356) adalah :
a. Mengukur kinerja keuangan dan pengoperasian (nonkeuangan) organisasi dan
aktivitas-aktivitasnya.
b. Menentukan biaya-biaya dan profitabilitas yang benar untuk setiap tipe produk
dan jasa.
c. Mengidentifikasikan aktivitas-aktivitas dan mengendalikannya.
d. Mengelompokkan aktivitas-aktivitas bernilai tambah dan tidak bernilai tambah.
e. Mengefisienkan aktivitas bernilai tambah dan mengeliminasi aktivitas-aktivitas
tidak bernilai tambah.
f. Menjamin bahwa pembuatan keputusan, perencanaan dan pengendalian
didasarkan pada isu-isu bisnis yang keluar dan tidak semata berdasar informasi
keuangan.
g. Menilai penciptaan rangkaian nilai tambah (value-added chain) untuk memenuhi
kebutuhan dan kepuasan konsumen.

2.3 Model Dimensi dan Penerapan Activity Based Manajemen


2.3.1 Model Dimensi Activity Based Management
Activity based management menekankan pada biaya berdasarkan aktivitas
atau Activity-Based Costing (ABC) dan analisis nilai proses. Jadi, Activity–Based
Management memiliki dua dimensi, yaitu dimensi biaya dan dimensi proses
(Hansen dan Mowen, 2006; 487).
a. Dimensi Biaya
Dimensi biaya adalah dimensi ABM yang memberikan informasi
biaya mengenai sumber, aktivitas, dan objek biaya seperti produk, dan
pelanggan. Dimensi biaya ini bertujuan untuk memperbaiki keakuratan
pembebanan biaya dengan cara :
 Sumber – sumber, tahap pertama ABC adalah
mengidentifikasi biaya sumber – sumber.
 Aktivitas – aktifitas, tahap kedua ABC adalah menelusuri
biaya sumber pada aktivitas – aktivitas di perusahaan tersebut.
 Objek biaya, tahap ketiga adalah membebankan biaya pada
objek – objek biaya misalnya berbagai produk atau konsumen
yang dikonsumsi di tiap aktivitas.
Sebagaimana sumber biaya ditelusuri pada aktivitas dan kemudian
biaya dibebankan pada produk dan pelanggan. Dimensi biaya atau dimensi
Activity-Based Costing (ABC), didasarkan pada ABC generasi kedua yang
merupakan perkembangan lebih lanjut dari ABC generasi pertama. ABC
generasi pertama adalah sistem penentuan biaya produk yang terdiri atas
dua tahap yaitu melacak biaya pada berbagai aktivitas dan membebankan
biaya pada produk.
ABC semula diakui sebagai metode untuk menyempurnakan
ketelitian biaya produk, namun ABC generasi kedua merupakan sistem
pengukuran kinerja yang bersifat komprehensif yang digunakan sebagai
sumber informasi utama Activity-Based Management (ABM). ABC
generasi kedua adalah metodologi untuk mengukur dan menyediakan
informasi mengenai biaya sumber-sumber, aktivitas-aktivitas, dan
pembebanan biaya pada objek-objek biaya. Asumsi yang mendasari adalah
objek-objek biaya menciptakan perlunya aktivitas-aktivitas dan aktivitas-
aktivitas menciptakan perlunya sumber-sumber. ABC juga merupakan
sistem yang bermanfaat untuk mengorganisasi dan mengkomunikasikan
informasi.
b. Dimensi Proses
Dimensi proses atau analisis nilai proses adalah dimensi ABM yang
memberikan informasi tentang aktivitas apa yang dikerjakan, mengapa
dikerjakan dan seberapa baik dikerjakannya. Tujuan dimensi proses adalah
pengurangan biaya. Dimensi inilah yang memberikan kemampuan untuk
mengukur perbaikan berkelanjutan. Dimensi proses adalah dimensi model
ABM yang berisi informasi kinerja mengenai pekerjaan yang dilaksanakan
dalam organisasi sehingga mencakup analisis penyebab biaya, analisis
aktivitas-aktivitas dan evaluasi kinerja dengan menggunakan informasi dari
ABC. Dimensi proses menyediakan informasi mengenai pekerjaan yang
dilakukan dalam suatu aktivitas dan hubungan antara pekerjaan tersebut
dengan aktivitas lainnya. Proses adalah serangkaian aktivitas yang terkait
untuk melaksanakan tujuan tertentu. Dimensi ini mengendalikan aktivitas
dengan cara :
 Menganalisis driver – driver biaya, analisis driver biaya
adalah mengidentifikasi faktor – faktor yang menyebabkan
biaya atau menjelaskan mengapa biaya aktivitas terjadi.
 Mengidentifikasi aktivitas, yaitu menilai aktivitas apa saja
yang dilaksanakan.
 Menganalisis kinerja, yaitu mengevaluasi aktivitas yang
dilaksanakan untuk menilai seberapa baiknya.
2.3.2 Penerapan Activity Based Manajemen
Activity based Management lebih komprehensive dibandingakn ABC.
ABM dapat dipandang sebagai suatu sistem yang memliki 2 tujuan utama, yaitu:
a. Meningkatkan kualitas pengambilan keputuan dengan menyajikan
informasi biaya yang lebih akurat.
b. Melakukan pengurangan biaya dengan mendorong dilakukannya program-
program pengurangan biaya.
Tujuan penting dari ABM adalah untuk mengidentifikasi dan
menghilangkan aktivitas dan biaya tak bernilai tambah. Aktivitas yang tidak
bernilai tambah adalah operasi yang tidak perlu dan tidak penting, perlu tapi tidak
efisien dan tidak dapat dikembangkan. Biaya yang tidak bernilai tambah adalah
hasil dari beberapa aktivitas, biaya dari beberapa aktivitas yang bisa dihilangkan
tanpa mengurangi kualitas produk, daya guna, dan nilai yang dirasakan. Berikut
adalah lima langkah yang menyediakan strategi untuk menghilangkan biaya tak
bernilai tambah pada perusahaan manufaktur dan jasa, yaitu:
a. Mengidentifikasi aktivitas, langkah pertama adalah analisis aktivitas, yang
mengidentifikasi semua aktivitas penting organisasi.
b. Mengidentifikasi aktivitas tak bernilai tambah, tiga kriteria untuk
menentukan aktivitas yang bernilai tambah adalah:
1) Apakah aktivitas tersebut perlu ?
2) Apakah aktivitas tersebut efisien ?
3) Apakah aktivitas tersebut kadang bernilai tambah, kadang tidak ?
c. Memahami rantai aktivitas, akar masalah, dan pemicunya, dalam
mengidentifikasi aktivitas yang tidak bernilai tambah, sangat penting untuk
memahami jalan dimana aktivitas terhubung bersama.
d. Menetapkan ukuran kinerja, dengan pengukuran kenerja secara terus-
menerus dan membandingkan kinerja dengan tolak ukur, perhatian
manajemen mungkin terarah pada aktivitas yang tidak perlu dan tidak
efisien.
e. Melaporkan biaya yang tidak bernilai tambah, biaya tak bernilai tambah
harus disoroti pada laporan pusat biaya. Dengan mengedintifikasi aktivitas
tak bernilai tambah, dan melaporkan biayanya, manajemen dapat bekerja
keras untuk mengembangkan proses dan menghilangkan biaya tak bernilai
tambah.

2.4 Faktor-faktor yang Mendukung Keberhasilan Penerapan ABM Dalam Suatu


Organisasi
Usaha perbaikan secara terus-menerus dengan cara penerapan system manajemen
biaya yang baru ke dalam suatu organisasi tidak secara otomatis bisa diterima oleh
organisasi tersebut. Karyawan dari organisasi tersebut umumnya cenderung untuk
menolak perubahan yang terjadi, karena perubahan dapat merupakan ancaman untuk
berbagai alasan. Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan penerapan activity based
management dalam suatu organisasi adalah sebagai berikut:
2.4.1 Budaya Organisasi
Budaya organisasi mencerminkan kerangka berpikir dari karyawan
termasuk perilaku, nilai, keyakinan yang dianut oleh karyawan. Budaya
organisasi menunjukkan keterlibatan, kerja sama serta partisipasi yang tinggi dari
seluruh karyawan. Budaya organisasi sangatlah mendukung keberhasilan dari
penerapan ABM di suatu organisasi.
2.4.2 Top management support and commitment
Penerapan suatu system manajemen biaya yang baru seperti ABM dan ABC
membutuhkan waktu dan sumber daya, oleh karena itu dukungan dan peran serta
top manajer sangatlah diperlukan untuk keberhasilan penerapannya.
2.4.3 Change process
Perubahan bisa terjadi apabila diterapkannya suatu proses yang sudah
dirancang untuk menghasilkan perubahan tersebut. Perbaikan dari proses yang
sudah ada sangat mendukung keberhasilan penerapannya. Elemen-elemen dari
proses diantaranya adalah daftar dari aktivitas, sekumpulan tujuan, dan tindakan
lanjutan.
2.4.4 Continuing education
Memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengikuti pelatihan serta
meningkatkan keahlian mereka terhadap lingkungan kerja yang cepat sangatlah
penting. Keberhasilan penerapan dari program manajemen biaya yang baru
membutuhkan keahlian, peran serta dan kerja sama dari karyawan suatu
organisasi.

2.5 Penyebab Implementasi ABM Gagal

ABM dapat gagal sebagai suatu sistem karena berbagai alasan. Salah satu alasan
utama adalah kurangnya dukungan manajemen tingkat yang lebih tinggi. Dukungan ini
tidak hanya harus diperoleh sebelum melakukan proyek implementasi, tetapi juga harus
dipertahankan. Kehilangan dukungan dapat terjadi jika implementasi terlalu lama atau
hasil yang diharapkan tidak terwujud. Hasil mungkin tidak terjadi seperti yang
diharapkan karena manajer operasi dan penjualan tidak memiliki keahlian untuk
menggunakan informasi aktivitas baru. Dengan demikian, upaya signifikan untuk
melatih dan mendidik perlu dilakukan. Keuntungan dari data baru perlu dijabarkan
dengan hati-hati, dan manajer harus diajari bagaimana data ini dapat digunakan untuk
meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Resistensi terhadap perubahan harus
diharapkan; bukan hal yang aneh bagi manajer untuk menerima informasi biaya baru
dengan skeptis. Menunjukkan bagaimana informasi ini memungkinkan mereka menjadi
manajer yang lebih baik harus membantu mengatasi penolakan ini. Melibatkan manajer
non finansial dalam tahap perencanaan dan implementasi juga dapat mengurangi
resistensi dan mengamankan dukungan yang diperlukan.

Kegagalan untuk mengintegrasikan sistem baru adalah alasan utama lainnya untuk
gangguan sistem ABM. Probabilitas keberhasilan meningkat jika sistem ABM tidak
bersaing dengan program peningkatan lainnya atau sistem akuntansi resmi. Penting
untuk mengomunikasikan konsep bahwa ABM melengkapi dan meningkatkan program
peningkatan lainnya. Selain itu, penting bahwa ABM diintegrasikan ke titik bahwa hasil
penetapan biaya kegiatan tidak bersaing langsung dengan angka akuntansi tradisional.
Manajer mungkin tergoda untuk terus menggunakan angka akuntansi tradisional
sebagai pengganti dari data baru.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Activity Based Management (ABM) adalah suatu pendekatan di seluruh sistem
dan terintegrasi yang memfokuskan perhatian manajemen pada berbagai aktivitas,
dengan tujuan meningkatkan nilai untuk pelanggan dan laba sebagai hasilnya (Hansen
dan Mowen, 2006; 11). Menurut Mulyadi (2007; 731) Activity-Based Management
(ABM) adalah pendekatan manajemen yang memusatkan pengelolaan pada aktivitas
dengan tujuan untuk melakukan improvement berkelanjutan terhadap value yang
dihasilkan bagi customer, dan laba yang dihasilkan dari penyedia value tersebut.
Sedangkan menurut Blocher (2007; 239), Activity–Based Management (ABM) analisis
aktivitas yang digunakan untuk memperbaiki nilai produk atau jasa bagi pelanggan dan
meningkatkan keuntungan perusahaan. Berdasarkan definisi-definisi diatas, ABM
mempunyai dua frasa penting, yaitu manajemen berbasis aktivitas berfokus pada
pengelolaan aktivitas untuk meningkatkan nilai yang diterima oleh konsumen, dan
pemusatan pengelolaan pada aktivitas untuk menghasilkan laba dari penyedia nilai
tersebut.
ABM bertujuan untuk meningkatkan nilai produk atau jasa yang diterima oleh
para konsumen, dan oleh karena itu dapat digunakan untuk mencapai laba dengan
menyediakan nilai tambah bagi konsumennya. Manfaat yang diperoleh dengan
menggunakan ABM adalah manajemen dapat menentukan wilayah untuk melakukan
perbaikan operasi, mengurangi biaya, atau meninggkatkan nilai bagi pelanggan.
Dengan mengidentifikasi sumber daya yang dipakai konsumen, produk, dan aktivitas,
ABM memperbaiki fokus manajemen atas faktor-faktor kunci perusahaan dan
meningkatkan keunggulan kompetitif (Blocher, 2007; 239).
Activity based management menekankan pada biaya berdasarkan aktivitas atau
Activity-Based Costing (ABC) dan analisis nilai proses. Jadi, activity based
management memiliki dua dimensi, yaitu dimensi biaya dan dimensi proses. Dimensi
biaya adalah dimensi ABM yang memberikan informasi biaya mengenai sumber,
aktivitas, produk, dan pelanggan. Dimensi biaya ini bertujuan untuk memperbaiki
keakuratan pembebanan biaya. Dimensi proses atau analisis nilai proses adalah dimensi
ABM yang memberikan informasi tentang aktivitas apa yang dikerjakan, mengapa
dikerjakan dan seberapa baik dikerjakannya. Tujuan dimensi proses adalah
pengurangan biaya.
Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan penerapan activity based
management dalam suatu organisasi adalah budaya organisasi, top management support
and commitment, Change process dan Continuing education.
DAFTAR PUSTAKA

D2bnuhatama.(2012), Activity Based Management (ABM). Tersedia


http://d2bnuhatama.blogspot.co.id/

Dwisetiati.(2012), Activity Based Management. Tersedia https://dwisetiati.wordpress.com/

Indri,Ramadhani.(2013), Activity Based Management. Tersedia


http://indriramadhaniekonomi.blogspot.co.id/

Jimfeb, Jimfeb Article File 143/110. Tersedia www.jimfeb.ub.ac.id/

Larasati, Anissa Yuniar.(2013), Makalah ABM. Tersedia https://www.academia.edu/