Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan Negara yang kaya akan budaya dimana beragam suku dan berbagai budaya

ada, itulah sebabnya semboyan Negara kita adalah “Bhinneka Tunggal Ika”. Berbedanya kebudayaan ini

menyebabkan banyaknya mitos mengenai masa persalinan dan nifas. Mitos-mitos yang lahir

dimasyarakat ini kebenarannya kadang tidak masuk akal dan bahkan dapat berbahaya bagi ibu dan bayi.

Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang , masa persalinan dan nifas. Masa

persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun kedalam jalan lahir. Kelahiran

adalah proses dimana janin dan ketuban didorong keluar melalui jalan lahir , Sedangkan masa nifas

dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan pulih kembali seperti
keadaan sebelum hamil. Secara tradisional, upaya perawatan masa nifas telah lama dilakukan
dengan berdasar kepada warisan leluhur dan hal tersebut bervariasi sesuai adat dan kebiasaan
pada masing-masing suku, misalnya saja suku Jawa yang memiliki aneka perawatan selama
masa postpartum. Namun, tidak semua perawatan yang dilakukan oleh masyarakat suku Jawa
tersebut dapat diterima bila ditinjau dari aspek medis. Oleh sebab itu, informasi tentang
perawatan masa nifas pada suku Jawa merupakan salah satu aspek penting diketahui para
pelayan kesehatan untuk lebih memudahkan memberikan pendekatan dalam pelayanan
kesehatan. Desain penelitian yang digunakan adalah kualitatif fenomenologi, yang bertujuan
untuk mengidentifikasi perawatan masa nifas menurut perspektif budaya Jawa di Desa Sei Rejo
Kecamatan Sei Rampah Kabupaten Serdang Bedagai. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah
delapan orang. Pengumpulan data berlangsung dari tanggal 01 Oktober 2008 - 01 Maret 2009 .
Proses pengumpulan data melalui kuesioner data demografi sebagai data dasar dan wawancara
mendalam dengan menggunakan alat perekam suara. Untuk analisa data digunakan metode
Parse. Adapun hasil penelitian yang didapat mengenai tradisi perawatan masa nifas menurut adat
Jawa meliputi: (1) perawatan pemeliharaan kebersihan diri, terdiri dari: mandi wajib nifas, irigasi
vagina dengan menggunakan rebusan air daun sirih, dan menapali perut sampai vagina dengan
menggunakan daun sirih, (2) perawatan untuk mempertahankan kesehatan tubuh, terdiri dari:
perawatan dengan pemakaian pilis, pengurutan, walikdada, dan wowongan, (3) perawatan untuk
menjaga keindahan tubuh, terdiri dari: perawatan dengan pemakaian parem, duduk senden, tidur
dengan posisi setengah duduk, pemakaian gurita, dan minum jamu kemasan, (4) perawatan
khusus, terdiri dari: minum kopi dan minum air jamu wejahan. Hasil dari penelitian ini
diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi petugas pelayan kesehatan khususnya bidan
untuk mempermudah memberikan pelayanan tanpa mengabaikan aspek sosiokultural.

B. Tujuan

1. Mengetahui Upacara kebudayaan Jawa mengenai kehamilan, masa persalinan

dan nifas.

2. Menghubungkan mitos-mitos pada kebudayaan Jawa dengan fakta kesehatan.

3. Mengetahui cara dalam mengubah/memperbaiki suatu mitos yang dapat

merugikan ibu, janin dan bayi.

BAB II

C. Cara menanggulagi
Setelah melahirkan atau setelah operasi, ibu hanya boleh makan tahu dan tempe tanpa

garam atau biasa disebut dengan ngayep, dilarang banyak makan dan minum, dan makanan

harus disangan / dibakar sebelum dikonsumsi.

a. Adapun dampak negative : pada ibu apabila setelah melahirkan atau di operasi

hanya dapat mengkonsumsi tahu dan tempe tanpa garam dan makanan harus

dibakar sebelum di konsumsi adalah dapat merugikan karena dapat menghambat

penyembuhan luka karena pada dasarnya makanan yang sehat akan mempercepat

penyembuhan luka dan

b. Dampak positif : Dari larangan ini tidak ada.

Pada masa nifas, ibu dilarang tidur siang

Adapun dampak negative : Dari dilarangnya seorang ibu tidur siang, ibu menjadi kurang

istirahat sedangkan pada masa ini seorang ibu harus cukup istirahat dan mengurangi kerja

berat karena tenaga yang tersedia sangat bermanfaat untuk kesehatan ibu dan bayi dan

dampak akan dilarangnya seorang ibu untuk tidur siang tidak ada.\

Pada masa nifas dan saat menyusui, ibu harus puasa, tidak makan makanan yang padat

setelah waktu maghrib.

Dampak positif : Hal ini dibenarkan karena dalam faktanya masa nifas setelah maghrib

dapat menyebabkan badan masa nifas mengalami penimbunan lemak,disamping itu organ-

organ kandungan pada masa nifas belum pulih kembali.

Dampak negative : ibu menjadi kurang nutrisi sehingga produksi ASI menjadii berkurang.

Masa nifas tidak boleh keluar rumah sebelum 40 hari.

Dampak positif : tidak ada


Dampak negative : Hal ini tidak perlu karena masa nifas dan bayi baru lahir (pemberian

imunisasi) harus periksa kesehatannya sekurang-kurangnya 2 kali dalam bulan pertama

yaitu umur 0-7 hari dan 8-30 hari

ibu setelah melahirkan dan bayinya harus dipijat/ diurut, diberi pilis / lerongan dan

tapel.

Dampak positif : jika pijatannya benar maka peredaran darah ibu dan bayi menjadii lancar

Dampak negative : pijatan yang salah sangat berbahaya karena dapat merusak kandungan.

Pilis dan tapel dapat merusak kulit bagi yang tidak kuat / menyebabkan alergi.

Masa nifas harus minum abu dari dapur dicampur air, disaring, dicampur garam dan

asam diminumkan supaya ASI banyak.

Dampak positif : tidak ada

Dampak negative : karena abu, garam dan asam tidak mengandung zat gizi yang diperlukan

oleh ibu menyusui untuk memperbanyak produksi ASI nya.

Masa nifas tidak diperbolehkan berhubungan intim

Dampak positif : dari sisi medis, sanggama memang dilarang selama 40 hari pertama usai

melahirkan. Alasannya, aktivitas yang satu ini akan menghambat proses penyembuhan

jalan lahir maupun involusi rahim, yakni mengecilnya rahim kembali ke bentuk dan ukuran

semula. Contohnya infeksi atau malah perdarahan. Belum lagi libido yang mungkin

memang belum muncul ataupun pengaruh psikologis, semisal kekhawatiran akan robeknya

jahitan maupun ketakutan bakal hamil lagi.

dampak negative : tidak ada


Selain pada masa hamil, pantangan-pantangan atau anjuran masih diberlakukan juga pada

masa pasca persalinan. Pantangan ataupun anjuraan ini biasanya berkaitan dengan proses

pemulihan kondisi fisik misalnya, ada makanan tertentu yang sebaiknya dikonsumsi

untuk memperbanyak produksi ASI; ada pula makanan tertentu yang dilarang karena

dianggap dapat mempengaruhi kesehatan bayi. Secara tradisional, ada praktek-praktek

yang dilakukan oleh dukun beranak untuk mengembalikan kondisi fisik dan kesehatan si

ibu , Misalnya mengurut perut yang bertujuan untuk mengembalikan rahim ke posisi

semula; memasukkan ramuan-ramuan seperti daun-daunan kedalam vagina dengan

maksud untuk membersihkan darah dan cairan yang keluar karena proses persalinan; atau

memberi jamu tertentu untuk memperkuat tubuh.


BAB II

HISTORIS / KEPUSTAKAAN

BAB III

PEMBAHASAN

A. Cara penangulangan adat istiadat di hubungkan dengan kesehatan.

Dalam menghadapi budaya-budaya ini baik budaya Jawa maupun budaya lainnya. Kita harus
mengadakan adanya suatu promosi kesehatan, salah satunya berupa penyuluhan. Yang kita beri
penyuluahn ini adalah mitos-mitos yang merugikan sedangkan yang mitos yang baik kita beri
bimbingan lagi agar ketidak adanya kesimpangsiuran dalam mengartikanny.

Terdapat lima pendekatan dalam suatu promosi kesehatan, yaitu[3]:

1. Pendekatan medik
2. Pendekatan perubahan perilaku

3. Pendekatan edukasional

4. Pendekatan berpusat pada klien

5. Pendekatan perubahan sosietal

Penyuluhan kesehatan adalah suatu kegiatan pendidikan kesehatan, yang dilakukan dengan
menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu dan
mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungan dengan
kesehatan. Dengan pengertian seperti ini maka petugas penyuluhan kesehatan, disamping harus
menguasai ilmu komunikasi juga harus pemahaman yang lengkap tentang pesan yang
disampaikan.
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Masa Nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat

kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6

minggu. Oleh sebab itu, informasi tentang perawatan masa nifas pada suku Jawa

merupakan salah satu aspek penting diketahui para pelayan kesehatan untuk lebih
memudahkan memberikan pendekatan dalam pelayanan kesehatan