Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN ABORTUS

A. Abortus
1. Pengertian
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram,
sebelum janin mampu hidup diluar kandungan (Nugroho, 2010).
2. Macam-macam
a. Abortus Spontan
Adalah terminasi kehamilan sebelum periode viabilitas janin atau sebelum
gestasi minggu ke 20 atau berat badan 500 gram (Varney, 2007). Abortus
spontan dibagi menjadi:
1) Abortus Imminens
Abortus imminen adalah perdarahan bercak yang menunjukkan
ancaman terhadap kelangsungan sauatu kehamilan. Dalam kondisi
seperti ini kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan.
(Syaifudin, 2006)
2) Abortus Insipiens
Ialah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu
dengan adanya dilatasi servik uteri yang meningkat, tetapi hasil
konsepsi masih dalam uterus. (Varney, 2007).
3) Abortus Inkompletus
Ialah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20
minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Terjadi ketika
plasenta tidak dikeluarkan bersama janin pada saat terjadi aborsi
(Varney, 2007).
4) Abortus Kompletus
Perdarahan pada kehamilan muda dimana seluruh hasil konsepsi telah
dikeluarkan dari kavum uteri (Saifuddin, 2006).
b. Abortus Infeksiosa
Adalah abortus yang diserta komplikasi infeksi. Adanya penyebaran kuman
atau toksin kedalam sirkulasi dan kavum peritoneum dapat menimbulkan
septikemia, sepsis atau peritonitis. Atau disebut juga abortus yang disertai
infeksi pada genetalia sedang (Sarwono, 2008).
c. Missed Abortion (Retensi Janin Mati)
Perdarahan pada kehamilan muda disertai dengan retensi hasil konsepsi
yang telah mati hingga 8 minggu atau lebih. Kematian janin berusia 20
minggu, tetapi janin mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih
(Sarwono, 2008)
d. Abortus Habitualis
Ialah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turut (Manuaba,
2001).

B. Abortus Insipiens
1. Pengertian
Abortus Insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan
sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat tetapi
hasil konsepsi masih dalam uterus. Dalam hal ini rasa mules menjadi lebih
sering dan kual perdarahan bertambah. Pengeluaran hasil konsepsi dapat
dilaksanakan dengan kuret vakum atau dengan cunam ovum, disusul dengan
kerokan.
Perdarahan saat awal kehamilan di mana walaupun belum ada jaringan yang
keluar namun mulut rahim sudah terbuka. Pada keadaan seperti ini, kehamilan
ini tidak dapat dipertahankan. Jaringan di dalam rahim harus dibersihkan, baik
dengan pemberian obat ataupun dengan cara kuret. Perdarahan tersebut
ringan hingga sedang pada kehamilan muda dimana hasil konsepsi masih
berada dalam kavum uteri kondisi ini menunjukkan proses abortus sedang
berlangsung dan akan berlanjut menjadi abortus inkomplit atau komplit selain
itu Abortus Insipien. Ialah buah kehamilan yang mati di dalam kandungan-
lepas dari tempatnya- tetapi belum dikeluarkan. Hampir serupa dengan itu, ada
yang dikenal missed Abortion, yakni buah kehamilan mati di dalam kandungan
tetapi belum ada tanda-tanda dikeluarkan (Saifuddin, 2006).

2. Etiologi
Penyebab keguguran sebagian tidak diketahui secara pasti tetapi terdapat
beberapa faktor sebagai berikut :
a. Faktor pertumbuhan hasil konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menimbulkan kematian janin
dan cacat bawaan yang menyebabkan hasil konsepsi dikeluarkan.
Gangguan pertumbuhan dapat terjadi karena:
b. Kelainan kromosom
Kelainan yang sering terjadi pada abortus spontan ialah: trisomi poliploidi
dan kemungkinan pula kelainan kromosom seks (Sarwono, 2008).
c. Lingkungan kurang sempurna
Bila lingkungan di endometrium di sekitar tempat implantasi kurang
sempurna, sehingga pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi
terganggu.
d. Pengaruh dari luar
Radiasi, virus, obat-obatan dan sebagainya dapat mempengaruhi baik hasil
konsepsi maupun lingkungan hidupnya dalam uterus. Pengaruh ini
umumnya dinamakan pengaruh teratogen (Sarwono, 2008).
e. Kelainan pada placenta
Endarteritis dapat terjadi dalam vili koriales dan menyebabkan oksigenasi
placenta terganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan
kematian janin.Keadaan ini bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya
karena hipertensi menahun. (Sarwono, 2008) Gangguan pembuluh darah
placenta, di antaranya pada DM (Manuaba, 2001).
f. Penyakit ibu
Penyakit mendadak seperti tifus abdominalis, pielonefritis, malaria dan lain-
lain dapat menyebabkan abortus toxic, virus dan plasmodium dapat melalui
placenta masuk ke janin, sehingga menyebabkan kematian janin kemudian
terjadilah abortus. Anemia berat, keracunan, toksoplasmosis juga dapat
menyebabkan abortus walaupun lebih jarang (Sarwono, 2008).
g. Kelainan tractus genitalis
Retroversio uteri, mioma uteri atau kelainan bawaab uterus dapat
menyebabkan abortus.Tetapi harus diingat bahwa retroversio uteri gravidi
inkarserata atau mioma submukosa yang memegang peranan penting.
Sebab lain abortus ialah servik inkompeten yang dapat disebabkan oleh
kelemahan bawaan pada servik, dilatasi berlebihan, amputasi atau robekan
servik luas yang tidak dijahit.

3. Gambaran klinis
a. Terlambat haid atau amenorrhea kurang dari 20 minggu.
b. Pada pemeriksaan fisik keadaan umum tapak lemah, kesadaran menurun,
tekanan darah normal atau menurun, tekanan nadi cepat dan kecil, suhu
badan normal atau meningkat.
c. Perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil
konsepsi.
d. Rasa mulas atau kram perut di daerah sympisis, sering nyeri pinggang
akibat kontraksi uterus.
e. Pemeriksaan dalam :
1) Servik masih membuka, mungkin teraba jaringan sisa
2) Perdarahan mungkin bertambah setelah pemeriksaan dalam
f. Pembesaran uterus sesuai usia kehamilan
g. Tes kehamilan mungkin masih positif akan tetapi kehamilan tidak dapat
dipertahankan (Manuaba, 2001).
.
4. Patofisiologi
Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti dengan
nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan
dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk
mengeluarkan benda asing tersebut (Nugroho, 2010).
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis belum menembus
desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada
kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga
plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan.
Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu
daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong
amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blighted ovum),janin lahir
mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus
papiraseus ( Mochtar, 2001).

5. Komplikasi abortus
Komplikasi yang berbahaya pada abortus adalah perdarahan, perforasi, infeksi
dan syok.
a. Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil
konsepsi dan jika perlu pemberian tranfusi darah. Kematian karena
perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada
waktunya.
b. Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam
posisi hiperrentrofleksi.
c. Infeksi
Pada abortus septic virulensi bakteri tinggi dan infeksi menyebar ke
miometrium, tuba, parametrium dan peritoneum. Apabila infeksi menyebar
lebih jauh, terjadilah peritonitis umum atau sepsis dan kemungkinan diikuti
oleh syok.
d. Syok
Pada abortus biasanya terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan
karena infeksi berat (Sarwono, 2008).

6. Penatalaksanaan
a. Abortus inkompletus
1) Bila disertai syok karena perdarahan segera pasang infuse dengan
cairan NaCl fisiologis atau cairan Ringer Laktat, bila perlu disusul
dengan transfuse darah.
2) Setelah syok teratasi, lakukan kerokan.
3) Pasca tindakan berikan injeksi metil ergometrin maleat intra muscular
untuk mempertahankam kontraksi otot uterus.
4) Perhatikan adanya tanda – tanda infeksi.
5) Bila tak ada tanda – tanda infeksi berikan antibiotika prifilaksis
(ampisilin 500 mg oral atau doksisiklin 100 mg).
6) Bila terjadi infeksi beri ampisilin I g dan metronidazol 500 mg setiap 8
jam. Abortus komplit tidak memerlukan pengobatan khusus, cukup
uterotonika atau kalau perlu antibiotika.
7) Apabila kondisi pasien baik, cukup diberikan tablet ergometrin 3×1
tablet/hari untuk 3 hari (Nugroho, 2010).
8) Apabila pasien mengalami anemia sedang, berikan tablet sulfas
Ferosus 600 mg/hari selama 2 minggu disertai anjuran mengkonsumsi
makanan bergizi (susu, sayuran segar, ikan, daging, telur). Untuk
anemia berat berikan transfusi darah.

b. Abortus iminens
1) Istirahat baring agar aliran darah ke uterus bertambah dan rangsang
melanik berkurang.
2) Periksa denyut nadi dan suhu badan dua kali sehari bila pasien tidak
panas dan tiap 4 jam bila pasien panas.
3) Tes kehamilan dapat dilakukan. Bila hasil negatif, mungkin janin sudah
mati. Pemeriksaan USG untuk menentukan apakah janin masih hidup.
4) Berikan obat penenang, biasanya fenobarbital 3x30 mg. berikan
preparat hematinik misalnya sulfas ferosus 600-1000 mg.
5) Diet tinggi protein dan tambahan vitamin C.
6) Bersihkan vulva minimal dua kali sehari dengan cairan antiseptic untuk
mencegah infeksi terutama saat masih mengeluarkan cairan coklat.

c. Abortus insipiens
1) Bila perdarahan tidak banyak, tunggu terjadinya abortus spontan tanpa
pertolongan selama 36 jam dengan diberikan morfin.
2) Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, yang biasanya disertai
perdarahan, tangani dengan pengosongan uterus memakai kuret
vakum atau cunam abortus, disusul dengan kerokan memakai kuret
tajam. Suntikkan ergometrin 0,5 mg intramuscular.
3) Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan infuse oksitosin 10 IU
dalam dekstrose 5% 500 ml dimulai 8 tetes per menit dan naikkan
sesuai kontraksi uterus sampai terjadi abortus komplit.
4) Bila janin keluar, tetapi plasenta masih tertinggal di dalam , lakukan
pengeluaran plasenta dengan cara manual.
d. Missed abortion
1) Bila kadar fibrinogen normal, segera keluarkan jaringan konsepsi
dengan cunam ovum lalu dengan kuret tajam.
2) Bila kadar fibrinogen rendah, berikan fibrinogen kering atau segar
sesaat sebelum atau ketika mengeluarkan konsepsi.
3) Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, lakukan pembukaan serviks
dengan gagang laminaria selama 12 jam laulu dilatasi serviks dengan
dilatator Hegar. Kemudian hasil konsepsi diambil engan cunam ovum
lalu dengan kuret tajam.
4) Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan diestilstilbestrol 3x5 mg
lalu infuse oksitosin 10 IU dalam dekstrose 5% sebanyak 500 ml mulai
20 tetes per menit dan naikkan dosis sampai ada kontraksi uterus.
Oksitosin dapat diberikan sampai 100 IU dalam 8 jam. Bila tidak
berhasil, ulang infus oksitosin setelah pasien istirahat 1 hari.
5) Bila tinggi fundus uteri sampai 2 jari bawah pusat, keluarkan hasil
konsepsi dengan menyuntik larutan garam 20% dalam kavum uteri
melalui dinding.
e. Abortus Habitualis
Pengobatan pada kelainan endometrium pada abortus habitualis lebih
besar hasilnya jika dilakukan sebelum ada konsepsi daripada sesudahnya
. merokok dan minum alkohol sebaiknya dikurangi atau dihentikan. Pada
serviks inkompeten terapinya adalah operatif : SHIRODKAR atau
MCDONALD (cervical cerclage).

7. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


a. Pengkajian
Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan
menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan
perawatan bagi klien. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :
1) Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ;
nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status
perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat
2) Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya
perdarahan pervaginam berulang
3) Riwayat kesehatan , yang terdiri atas :
a) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi
ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan
pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari
usia kehamilan.
b) Riwayat kesehatan masa lalu
c) Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah
dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di
mana tindakan tersebut berlangsung.
d) Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang
pernah dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi ,
masalah ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-
penyakit lainnya.
e) Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram
dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit
turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.
f) Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus
menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan
adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala
serta keluahan yang menyertainya
g) Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan
anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana
keadaan kesehatan anaknya.
h) Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis
kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya.
i) Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-
obatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.
j) Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan
elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene,
ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit.
4) Pemeriksaan fisik, meliputi :
 Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya
terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran
dan penghidung.
Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap
warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola
pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh,
pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya
keterbatasan fifik, dan seterusnya
 Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh
dengan jari. Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan,
mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau
menentukan kekuatan kontraksi uterus. Tekanan : menentukan
karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin
atau mencubit kulit untuk mengamati turgor. Pemeriksaan dalam :
menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal
 Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung
pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi
tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya. Menggunakan
jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan
ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi. Menggunakan palu
perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada
kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi
dinding perut atau tidak
 Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan
bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan
menginterpretasikan bunyi yang terdengar. Mendengar :
mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada
untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut
jantung janin. (Johnson & Taylor, 2005 : 39)
5) Pemeriksaan laboratorium : Darah dan urine serta pemeriksaan
penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap smear.

b. Diagnosa Keperawatan
1) Devisit Volume Cairan s.d perdarahan
2) Intoleransi Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi
3) Nyeri s.d kerusakan jaringan intrauteri
4) Resiko Infeksi faktor berhubungan perdarahan, kondisi vulva lembab
5) Cemas s.d kurang pengetahuan

c. Intervensi Keperwatan
1) Devisit Volume Cairan b.d Perdarahan
Tujuan : Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan
output baik jumlah maupun kualitas.
Intervensi :
a) Kaji kondisi status hemodinamika
Rasional : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus
memiliki karekteristik bervariasi
b) Ukur pengeluaran harian
Rasional : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian
ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginal
c) Berikan sejumlah cairan pengganti harian
Rasional : Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan
massif
d) Evaluasi status hemodinamika
Rasional : Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui
pemeriksaan fisik

2) Intorelansi Aktivitas b.d kelemahan, penurunan sirkulasi


Tujuan : Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi
Intervensi :
a) Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas
Rasional : Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi
perdarahan masif perlu diwaspadai untuk menccegah kondisi klien
lebih buruk
b) Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandungan
Rasional : Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan
pulsasi organ reproduksi
c) Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari
Rasional : Mengistiratkan klilen secara optimal
d) Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan
kemampuan/kondisi klien
Rasional : Mengoptimalkan kondisi klien, pada abortus imminens,
istirahat mutlak sangat diperlukan
e) Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas
Rasional : Menilai kondisi umum klien

3) Nyeri b.d Kerusakan jaringan intrauteri


Tujuan : Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami
Intervensi :
a) Kaji kondisi nyeri yang dialami klien
Rasional : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan
skala maupun dsekripsi.
b) Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya
Rasional : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance
mengatasi nyeri
c) Kolaborasi pemberian analgetika
Rasional : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan
dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum
luas/spesifik

4) Resiko tinggi Infeksi b.d perdarahan, kondisi vulva lembab


Tujuan : Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan
Intervensi :
a) Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau
Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat
dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak
enak mungkin merupakan tanda infeksi
b) Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa
perdarahan
Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital
yang lebih luar
c) Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart
Rasional : Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart
d) Lakukan perawatan vulva
Rasional : Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat
menyebabkan infeksi.
e) Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi
Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda
nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin
merupakan gejala infeksi
f) Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama
se;ama masa perdarahan
Rasional : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk
kebaikan ibu; senggama dalam kondisi perdarahan dapat
memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus
meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.
5) Cemas b.d kurang pengetahuan
Tujuan : Tidak terjadi kecemasan, pengetahuan klien dan keluarga
terhadap penyakit meningkat
Intervensi :
a) Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap
penyakit
b) Rasional : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa
cemas
c) Kaji derajat kecemasan yang dialami klien
d) Rasional : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan
penialaian objektif klien tentang penyakit
e) Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan
f) Rasional : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan
merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan
meningkatkan kesadaran diri klien
g) Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama
h) Rasional : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi
menurunkan kecemasan
i) Terangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui oleh klien dan
keluarga
j) Rasional : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk
meningkatkan pengetahuan dan membangun support system
keluarga; untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga.
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda, (2001), Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Penerbit Buku


Kedokteran EGC, Jakarta

Hamilton, C. Mary, 1995, Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, edisi 6, EGC, Jakarta

Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I. Media Aesculapius.
Jakarta

Cunningham FG, MacDonald PC,Gant NF. Abortion. In Williams Obstetrics 20th Ed.
Appleton Lange, 1997, p 579

Arias F. Early pregnancy loss. In Practical Guide to High Risk Pregnancy and
Delivery. St Louis, Mosby Year Book,1993, p57ng