Anda di halaman 1dari 24

Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department

Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Deformation of Curved Axes Beams tipe FL 170 memungkinkan
pengukuran penipisan balok dengan kelengkungan kecil, seperti balok
lingkaran, balok setengah lingkaran dan balok seperempat lingkaran. Deformasi
tersebut dihitung dalam petunjuk yang menggunakan prinsip kekuatan virtual.
Namun, penggunaan dapat dilakukan dari semua metode matematika lain untuk
tujuan pengajaran.
Dimensi dari FL 170 membuatnya cocok untuk eksperimen peserta
pelatihan dan aplikasi demonstrasi. Fitur utama dari set adalah sebagai berikut:
1. Tiga bentuk balok (melingkar, semi-sirkular, kuadran).
2. Memuat dengan mengatur bobot.
3. Pengukuran deformasi melintang dan longitudinal dengan dial gauge.
4. Balok memiliki penampang konstan dan momen geometrik inersia konstan
untuk menyederhanakan perhitungan deformasi.
Deformation of Curved Axiz Beams adalah suatu alat untuk menguji
kekuatan tekuk atau ketahanan beban yang dapat ditampung oleh balok (beam)
yang berbentuk melengkung ketika deformasi elastis terjadi. Alat ini banyak
digunakan untuk pengaplikasian pada benda-benda atau balok yang berbentuk
melengkung. Misalnya saja, pembuatan jembatan, penyangga pada bangunan,
pembuatan dan penyangga terowongan, pembuatan pipa gas dan sebagainya.
Gaya (force) didefinisikan sebagai tarikan atau dorongan yang bekerja pada
sebuah benda yang dapat mengakibatkan perubahan gerak. Biasanya, gaya
mengakibatkan dua pengaruh, pertama menyebabkan sebuah benda bergerak,
dan kedua menyebabkan terjadinya deformasi pada benda. Pengaruh pertama
disebut juga pengaruh luar (external effect) dan yang kedua disebut pengaruh
dalam (internal effect).
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

B. Tujuan Percobaan
1. Untuk mengetahui kekuatan lentur dari:
a. Balok bundar (Circular Beam)
b. Balok setengah lingkaran (Semi-Circular Beam)
c. Balok seperempat lingkaran (Quadrant Beam)
2. Untuk mengetahui penerapan prinsip kekuatan virtual (the force method) untuk
menghitung deformasi;
3. Untuk mengetahui perbandingan deformasi yang dihitung dan diukur.

C. Manfaat Percobaan
1. Agar pembaca dapat menjadikan laporan praktikum ini sebagai acuan untuk
percobaan yang terkait dengan Deformation of Curved Axiz Beams.
2. Agar dapat dijadikan sebagai referensi untuk precobaan yang terkait dengan
Deformation of Curved Axiz Beams.
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

BAB II
LANDASAN TEORI

Deformation of Curved Axiz Beams adalah suatu alat untuk menguji kekuatan
tekuk atau ketahanan beban yang dapat ditampung oleh balok (beam) yang
berbentuk melengkung ketika deformasi elastis terjadi. Alat ini banyak digunakan
untuk pengaplikasian pada benda-benda atau balok yang berbentuk melengkung.
Misalnya saja, pembuatan jembatan, penyangga pada bangunan, pembuatan dan
penyangga terowongan, pembuatan pipa gas dan banyak lagi.
FL 170 mencakup tiga balok berbeda, yang ditopang pada penopang yang statis:
sebuah balok melingkar, setengah lingkaran dan balok seperempat.
Balok yang sedang diuji dimuat dengan beban. Dial Gauge menampilkan nilai
deformasi horizontal dan vertikal.

A. Balok (Beam)
Balok (beam) adalah suatu batang struktural yang didesain untuk menahan
gaya-gaya yang bekerja dalam arah transversal terhadap sumbunya. Jadi,
berdasarkan pada arah bekerjanya beban yang diberikan, maka balok berbeda
dari batang yang mengalami tarik dan batang yang mengalami puntiran. Pada
batang yang mengalami tarik, maka bebannya diarahkan sepanjang sumbunya,
dan pada batang yang mengalami puntiran maka vektor momen putarannya
mengarah sepanjang sumbu batang. Sebaliknya, beban-beban pada sebuah
balok diarahkan tegak lurus terhadap sumbunya.

B. Deformasi
Dalam ilmu material, deformasi adalah perubahan bentuk atau ukuran dari
sebuah objek karena sebuah diterapkan gaya (energi deformasi dalam hal ini
ditransfer melalui kerja) atau perubahan suhu (energi deformasi dalam hal ini
ditransfer melalui panas). Kasus pertama dapat menjadi akibat dari kekuatan
tarik, kekuatan tekan, geser, lipatan atau torsi (memutar).
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

Dalam kasus kedua, faktor yang paling signifikan, yang utamanya


ditentukan oleh suhu adalah pergerakan cacat struktural seperti adanya batas
butir (grain boundaries), titik kekosongan, garis dan dislokasi ulir, salah susun
dan ganda pada padatan kristal dan non-kristal. Pergerakan atau perpindahan
cacat seperti ini diaktifkan secara termal dan dengan demikian dibatasi oleh laju
difusi atom.
Deformasi sering digambarkan sebagai regangan. Ketika deformasi terjadi,
gaya internal antar-molekul muncul melawan gaya yang diberikan. Jika gaya
yang diberikan tidak terlalu besar maka kekuatan ini mungkin cukup untuk
melawan gaya yang diberikan, yang memungkinkan objek untuk mencapai
keadaan setimbang baru dan kembali ke kondisi semula ketika beban akan
dihapus. Jika gaya yang lebih besar diberikan maka dapat menyebabkan
deformasi permanen dari objek atau bahkan menyebabkan kegagalan struktural.

C. Defleksi
Defleksi adalah perubahan bentuk pada balok dalam arah y akibat adanya
pembebanan vertical yang diberikan pada balok atau batang. Deformasi pada
balok secara sangat mudah dapat dijelaskan berdasarkan defleksi balok dari
posisinya sebelum mengalami pembebanan. Defleksi diukur dari permukaan
netral awal ke posisi netral setelah terjadi deformasi. Konfigurasi yang
diasumsikan dengan deformasi permukaan netral dikenal sebagai kurva elastis
dari balok. Gambar 2.1 (a) memperlihatkan balok pada posisi awal sebelum
terjadi deformasi dan Gambar 2.1 (b) adalah balok dalam konfigurasi
terdeformasi yang diasumsikan akibat aksi pembebanan

Gambar 2.1 (a) Sebelum Deformasi Gambar 2.1(b) Sedang Deformasi


Sumber : http://bambangpurwantana.staff.ugm.ac.id/KekuatanBahan
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

Jarak perpindahan y didefinisikan sebagai defleksi balok. Dalam penerapan,


kadang kita harus menentukan defleksi pada setiap nilai x disepanjang balok.
Hubungan ini dapat ditulis dalam bentuk persamaan yang sering disebut
persamaan defleksi kurva (atau kurva elastis) dari balok. Hal-hal yang
mempengaruhi terjadinya defleksi yaitu:
1. Kekakuan batang
Semakin kaku suatu batang maka lendutan batang yang akan terjadi
pada batang akan semakin kecil
2. Besarnya kecil gaya yang diberikan
Besar-kecilnya gaya yang diberikan pada batang berbanding lurus
dengan besarnya defleksi yang terjadi. Dengan kata lain semakin besar
beban yang dialami batang maka defleksi yang terjadi pun semakin kecil
3. Jenis tumpuan yang diberikan
Jumlah reaksi dan arah pada tiap jenis tumpuan berbeda-beda. Oleh
Karena itu besarnya defleksi pada penggunaan tumpuan yang berbeda-beda
tidaklah sama. Semakin banyak reaksi dari tumpuan yang melawan gaya
dari beban maka defleksi yang terjadi pada tumpuan rol lebih besar dari
tumpuan pin (pasak) dan defleksi yang terjadi pada tumpuan pin lebih besar
dari tumpuan jepit.
4. Jenis beban yang terjadi pada batang
Beban terdistribusi merata dengan beban titik, keduanya memiliki kurva
defleksi yang berbeda-beda. Pada beban terdistribusi merata slope yang
terjadi pada bagian batang yang paling dekat lebih besar dari slope titik. Ini
karena sepanjang batang mengalami beban sedangkan pada beban titik
hanya terjadi pada beban titik tertentu saja.
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

D. Kurva Tegangan Regangan

Gambar 2.2 Kurva tegangan regangan

Gambar 2.2 Kurva Tegangan Regangan


Sumber : https://rudydwi.wordpress.com/2010/03/28/mengetahui-sifat-mekanik-
material-dengan-uji-tarik/

Tegangan adalah besaran yang menunjukan gaya internal antar partikel dari
suatu bahan terhadap partikel lainnya. Seperti contoh, batang padat vertikal yang
menyokong beban, setiap partikel dari batang mendorong partikel lainnya yang
berada di atas dan dibawahnya. Gaya makroskopik yang terukur sebenarnya
merupakan rata-rata dari sejumlah besar tumbukan dan gaya antarmolekul di dalam
batang tersebut.
Tegangan di dalam suatu benda bisa terjadi oleh berbagai mekanisme, seperti
reaksi terhadap gaya eksternal (misal gravitasi) yang diaplikasikan ke bahan curah,
juga reaksi terhadap gaya yang diaplikasikan ke permukaannya seperti gaya kontak,
tekanan eksternal, dan gesekan. Setiap deformasi dari benda padat menghasilkan
tegangan elastis, mirip dengan reaksi gaya pada pegas yang selalu kembali ke
bentuk semula. Pada cairan dan gas, tegangan elastis hanya terjadi ketika deformasi
mengubah volume. Namun deformasi akan selalu berubah seiring dengan waktu,
termasuk cairan (misal pelumas yang viskositasnya berubah sehingga harus diganti
secara periodik).
Sejumlah tegangan yang signifikan dapat terjadi bahkan ketika deformasi
hampir tidak terlihat. Tegangan dapat terjadi tanpa adanya gaya dari luar, yang
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

disebut dengan built-in stress atau tegangan dari dalam seperti pada manufaktur
beton pracetak dan kaca tempa. Tegangan juga dapat terjadi tanpa adanya gaya
kontak sama sekali, baik dari dalam maupun dari luar, misal karena perubahan
temperatur, perubahan komposisi kimia, dan paparan gaya magnet.
Regangan adalah bagian dari deformasi, yang dideskripsikan sebagai perubahan
relatif dari partikel-partikel di dalam benda yang bukan merupakan benda kaku.
Definisi lain dari regangan bisa berbeda-beda tergantung pada bidang apa istilah
tersebut digunakan atau dari dan ke titik mana regangan terjadi.
Daerah plastis adalah daerah dimana apabila suatu benda diberikan suatu
tegangan atau tarikan ataupun gaya maka benda tersebut akan kembali ke
bentuknya semula jika tegangan atau tarikan ataupun gaya yang diberikan
sebelumnya dihilangkan.
Titik luluh adalah titik atau batas benda mengalami plastis, maka apabila benda
melewati titik ini maka benda tersebut tidak dapat lagi ke bentuknya semula
walaupun gaya yang diberikan sebelumnya dihilangkan.
Titik batas adalah titik dimana suatu benda memiliki tegangan regangan yang
paling tinggi. Apabila benda melewati titik ini maka nilai tegangan maupun
regangannya akan menurun.
Titik putus atau titik patah adalah titik batas dimana benda tersebut dapat
menerima gaya atau tarikan ataupun tegangan. Apabila sebuah benda diberikan
sebuah gaya yang melebihi titik patah, maka pasti benda tersebut akan mengalami
kepatahan.
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan


1. Plat dasar dengan 4 kaki karet.
2. Bak bantalan.
3. Balok berbentuk lingkaran penuh.
4. Balok berbentuk setengah lingkaran.
5. Balok berbentukseperempat lingkaran.
6. Dua penyangga yang berbeda.
7. Batang Penyangga.
8. Dial Gauge dngan penjepit.
9. Gantungan dengan beban.

A. Prosedur Percobaan
1. Percobaan Circular Beam
a. Memasang circular beam berbentuk lingkaran ke kolom alat.
b. Memasang dudukan pengukur sambungan.
c. Memasang kait alat untuk gantungan berat kebalok bundar.
d. Memasang balok lingkaran ke pendukung.
e. Memasang dial indikator nomor 1 untuk mengukur deformasi dalam
arah vertikal (variabel w). pengukur dial bersentuhan dengan tool hook.
2. Percobaan Semi-Circular Beam
a. Memasang semi circular beam berbentuk setengah lingkaran ke kolom
alat.
b. Memasang dudukan pengukur sambungan.
c. Memasang pengukur dial nomor 1 untuk mengukur deformasi dalam
arah vertikal (variabel w).
d. Memasang pengukur dial nomor 2 untuk mengukur deformasi dalam
arah horizontal (variabel U) kedudukan pengukur sambungan.
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

e. Memasang kait pahat dengan plat pengukur pra-baut ke balok setengah


bundar.
f. Memasang balok semi bundar ke dudukan dukungan rata.
3. Percobaan Quadrant Beam
a. Memasang Quadrant Beam berbentuk seperempat lingkaran ke kolom
alat.
b. Memasang dudukan pengukur sambungan.
c. Memasang pengukur dial nomor 1 untuk mengukur deformasi dalam
arah vertikal (variabel W).
d. Memasang pengukur dial nomor 2 untuk mengukur deformasi dalam
arah horizontal (variabel U).
e. Memasang kait alat dengan plat pengukur pra-baut ke balok seperempat
lingkaran.
f. Memasang balok seperempat lingkaran ke blok bantalan.
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
1. Data
a. Circular Beams

Force Wmeas Wcalc Difference


F in N In mm In mm In%

15 0,18 0,16 12,5

25 0,3 0,27 11,11

41 0,48 0,44 9,09

53 0,63 0,57 10,52

60 0,72 0,64 12,5

70 0,84 0,75 12

85 1,02 0,91 12,08

b. Semi – Circular Beam

Force Wmeas Wcalc Difference Umeas Ucalc Difference


F in N In mm In mm In% In mm Inmm In%

12 1,41 1,45 2,75 2,08 1,85 12,43

18 2,21 2,18 1,37 3,22 2,77 16,24

28 3,44 3,39 1,47 4,9 4,32 13,42

32 3,86 3,87 0,25 5,69 4,93 15,41

40 4,76 4,84 1,65 6,82 6,17 10,53

48 5,83 5,81 0,34 7,2 7,4 2,7

52 6,15 6,29 2,22 8,58 8,02 6,98


Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

c. Quadrant Beam
Force Wmeas Wcalc Difference Umeas Ucalc Difference
F in N In mm In mm In% In mm Inmm In%

12 0,85 1,05 19,04 0,47 0,83 43,37

18 1,25 1,58 20,88 0,69 1,24 44,35

28 1,96 2,45 20 1,09 1,94 43,81

32 2,23 2,81 20,64 1,26 2,22 43,24

40 2,80 3,51 20,22 1,59 2,77 42,59

58 4,06 5,09 20,23 2,34 4,02 41,79

60 4,15 5,26 21,1 2,41 4,16 42,06

2. Analisis Percobaan Secara Teoritis


a. Circular Beams
2.𝐹.𝑟 3 𝜋 1 2.15.1503 3.14 1
 𝑤1 = ( 8 − 𝜋) = 21x109 .208,33 ( − 3.14)
𝐸.𝐼𝑦 8

10125x104 9,85 − 8
= ( )
4374,93x109 25,12
= 2,31x10−5 (0,073)
= 0,16 𝑚𝑚

0,21 − 0,18
𝑃𝐾1 = | | x 100%
0,21
= 12,5 %
2.𝐹.𝑟 3 𝜋 1 2.25.1503 3.14 1
 𝑤2 = (8 − 𝜋) = 21x109 .208,33 ( − 3.14)
𝐸.𝐼𝑦 8

16875x104 9,85 − 8
= ( )
4374,93x109 25,12
= 3,85x10−5 (0,073)
= 0,27 𝑚𝑚

0,27 − 0,3
𝑃𝐾2 = | | x 100%
0,27
= 11,11 %
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

2.𝐹.𝑟 3 𝜋 1 2.41.1503 3.14 1


 𝑤3 = (8 − 𝜋) = 21x109 .208,33 ( − 3.14)
𝐸.𝐼𝑦 8

27675x104 9,85 − 8
= ( )
4374,93x109 25,12
= 6,32x10−5 (0,073)
= 0,44 𝑚𝑚

0,44 − 0,48
𝑃𝐾3 = | | x 100%
0,4
= 0,09 %
2.𝐹.𝑟 3 𝜋 1 2.53.1503 3.14 1
 𝑤4 = (8 − 𝜋) = 21x109 .208,33 ( − 3.14)
𝐸.𝐼𝑦 8

40500x104 9,85 − 8
= ( )
4374,93x109 25,12
= 8,17x10−5 (0,073)
= 0,57 𝑚𝑚

0,57 − 0,63
𝑃𝐾4 = | | x 100%
0,57
= 10,52 %
2.𝐹.𝑟 3 𝜋 1 2.60.1503 3.14 1
 𝑤5 = (8 − 𝜋) = 21x109 .208,33 ( − 3.14)
𝐸.𝐼𝑦 8

40500x104 9,85 − 8
= ( )
4374,93x109 25,12
= 9,25x10−5 (0,073)
= 0,64 𝑚𝑚

0,64 − 0,72
𝑃𝐾5 = | | x 100%
0,64
= 12,5 %
2.𝐹.𝑟 3 𝜋 1 2.70.1503 3.14 1
 𝑤6 = (8 − 𝜋) = 21x109 .208,33 ( − 3.14)
𝐸.𝐼𝑦 8

47250x104 9,85 − 8
= ( )
4374,93x109 25,12
= 10,8x10−5 (0,073)
= 0,75 𝑚𝑚
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

0,75 − 0,84
𝑃𝐾6 = | | x 100%
0,75
= 12 %
2.𝐹.𝑟 3 𝜋 1 2.85.1503 3.14 1
 𝑤7 = (8 − 𝜋) = 21x109 .208,33 ( − 3.14)
𝐸.𝐼𝑦 8

57375x104 9,85 − 8
= ( )
4374,93x109 25,12
= 13,1x10−5 (0,073)
= 0,91 𝑚𝑚

0,91 − 1,02
𝑃𝐾7 = | | x 100%
0,27
= 12,08 %
b. Semi-Circular Beams
𝜋.𝐹.𝑟 3 3,14.12.1503
 𝑤1 = = 2.21x109 .208,33
2.𝐸.𝐼𝑦
12717x104
=
874,986x109
= 1.45 𝑚𝑚
0,45 − 0,41
𝑃𝐾1 = | | x 100%
0,45
= 2,75 %
2. 𝐹. 𝑟 3 2.12. 1503
𝑢1 = =
𝐸. 𝐼𝑦 21x109 . 208,33
81x106
=
4374,93x109
= 1,85 𝑚𝑚
1,85 − 2,08
𝑃𝐾1 = | | x 100%
1,85
= 12,43 %
𝜋.𝐹.𝑟 3 3,14.18.1503
 𝑤2 = = 2.21x109 .208,33
2.𝐸.𝐼𝑦
190755x104
=
874,986x109
= 2,18 𝑚𝑚
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

2,18 − 2,21
𝑃𝐾2 = | | x 100%
2,18
= 1,37 %
2. 𝐹. 𝑟 3 2.18. 1503
𝑢2 = =
𝐸. 𝐼𝑦 21x109 . 208,33
1215x106
=
4374,93x109
= 2,77 𝑚𝑚
2,77 − 3,22
𝑃𝐾2 = | | x 100%
2,77
= 16,24 %
𝜋.𝐹.𝑟 3 3,14.28.1503
 𝑤3 = = 2.21x109 .208,33
2.𝐸.𝐼𝑦
29673x104
=
874,986x109
= 3,39 𝑚𝑚
3,39 − 3,44
𝑃𝐾3 = | | x 100%
3,39
= 1,47 %
2. 𝐹. 𝑟 3 2.28. 1503
𝑢3 = =
𝐸. 𝐼𝑦 21x109 . 208,33
189x106
=
4374,93x109
= 4,32 𝑚𝑚
4,32 − 4,9
𝑃𝐾3 = | | x 100%
4,32
= 13,42 %
𝜋.𝐹.𝑟 3 3,14.32.1503
 𝑤4 = =
2.𝐸.𝐼𝑦 2.21x109 .208,33
4
33912x10
=
874,986x109
= 3,87 𝑚𝑚
3,87 − 3,86
𝑃𝐾4 = | | x 100%
3,87
= 0,25 %
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

2. 𝐹. 𝑟 3 2.32. 1503
𝑢4 = =
𝐸. 𝐼𝑦 21x109 . 208,33
216x106
=
4374,93x109
= 4,93 𝑚𝑚
4,93 − 5,69
𝑃𝐾4 = | | x 100%
4,93
= 15,41 %
𝜋.𝐹.𝑟 3 3,14.40.1503
 𝑤5 = = 2.21x109 .208,33
2.𝐸.𝐼𝑦
4239x104
=
874,986x109
= 4,84 𝑚𝑚
4,84 − 4,76
𝑃𝐾5 = | | x 100%
4,84
= 1,65 %
2. 𝐹. 𝑟 3 2.40. 1503
𝑢5 = =
𝐸. 𝐼𝑦 21x109 . 208,33
270x106
=
4374,93x109
= 6,17 𝑚𝑚
6,17 − 6,82
𝑃𝐾5 = | | x 100%
6,17
𝜋.𝐹.𝑟 3 3,14.48.1503
 𝑤6 = = 2.21x109 .208,33
2.𝐸.𝐼𝑦
50868x104
=
874,986x109
= 5,81 𝑚𝑚
5,81 − 5,83
𝑃𝐾6 = | | x 100%
5,81
= 0,34 %

2. 𝐹. 𝑟 3 2.48. 1503
𝑢6 = =
𝐸. 𝐼𝑦 21x109 . 208,33
324x106
=
4374,93x109
= 7,4 𝑚𝑚
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

7,4 − 7,2
𝑃𝐾6 = | | x 100%
7,4
= 2,7 %
𝜋.𝐹.𝑟 3 3,14.52.1503
 𝑤7 = = 2.21x109 .208,33
2.𝐸.𝐼𝑦
529875x104
=
874,986x109
= 6,29 𝑚𝑚
6,29 − 6,15
𝑃𝐾7 = | | x 100%
6,29
= 2,22 %
2. 𝐹. 𝑟 3 2.52. 1503
𝑢7 = =
𝐸. 𝐼𝑦 21x109 . 208,33
351x106
=
4374,93x109
= 8,02 𝑚𝑚
8,02 − 8,58
𝑃𝐾7 = | | x 100%
8,02
= 6,98 %
c. Quadrant Beam
𝐹.𝑟 3 .𝜋 12.1503 .3,14
 𝑤1 = . 𝑘𝑤 = 4.21x109 .208,33 . 1,45
4.𝐸.𝐼
12717x104
= . 1,45
17499,72x109
= 1,05 𝑚𝑚
1,05 − 0,85
𝑃𝐾1 = | | x 100%
1,05
= 19,04 %
𝐹. 𝑟 3 12. 1503
𝑢1 = . 𝑘𝑢 = . 1,80
2. 𝐸. 𝐼 2.21x109 . 208,33
405x105
=
8749,33x109
= 0,83 𝑚𝑚
0,83 − 0,47
𝑃𝐾1 = | | x 100%
0,83
= 43,47 %
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

𝐹.𝑟 3 .𝜋 18.1503 .3,14


 𝑤2 = . 𝑘𝑤 = 4.21x109 .208,33 . 1,45
4.𝐸.𝐼
15805x104
= . 1,45
17499,72x109
= 1,58 𝑚𝑚
1,58 − 1,25
𝑃𝐾2 = | | x 100%
1,58
= 20,88 %

𝐹. 𝑟 3 18. 1503
𝑢2 = . 𝑘𝑢 = . 1,80
2. 𝐸. 𝐼 2.21x109 . 208,33
245x105
=
8749,33x109
= 1,24 𝑚𝑚
1,24 − 0,69
𝑃𝐾2 = | | x 100%
1,24
= 44,35 %
𝐹.𝑟 3 .𝜋 28.1503 .3,14
 𝑤3 = . 𝑘𝑤 = 4.21x109 .208,33 . 1,45
4.𝐸.𝐼
24586x104
= . 1,45
17499,72x109
= 2,45 𝑚𝑚
2,45 − 1,96
𝑃𝐾3 = | | x 100%
2,45
= 20 %
𝐹. 𝑟 3 28. 1503
𝑢3 = . 𝑘𝑢 = . 1,80
2. 𝐸. 𝐼 2.21x109 . 208,33
194x105
=
8749,33x109
= 0,83 𝑚𝑚
1,94 − 1,09
𝑃𝐾3 = | | x 100%
1,94
= 43,81 %
𝐹.𝑟 3 .𝜋 32.1503 .3,14
 𝑤4 = . 𝑘𝑤 = 4.21x109.208,33 . 1,45
4.𝐸.𝐼
28098x104
= . 1,45
17499,72x109
= 2,81 𝑚𝑚
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

2,81 − 2,23
𝑃𝐾4 = | | x 100%
2,81
= 20,64 %
𝐹. 𝑟 3 32. 1503
𝑢4 = . 𝑘𝑢 = . 1,80
2. 𝐸. 𝐼 2.21x109 . 208,33
222x105
=
8749,33x109
= 2,22 𝑚𝑚
2,22 − 1,26
𝑃𝐾4 = | | x 100%
2,22
= 43,24 %

𝐹.𝑟 3 .𝜋 40.1503 .3,14


 𝑤5 = . 𝑘𝑤 = 4.21x109 .208,33 . 1,45
4.𝐸.𝐼
35123x104
= . 1,45
17499,72x109
= 3,51 𝑚𝑚
3,51 − 2,80
𝑃𝐾5 = | | x 100%
3,51
= 20,22 %
𝐹. 𝑟 3 40. 1503
𝑢5 = . 𝑘𝑢 = . 1,80
2. 𝐸. 𝐼 2.21x109 . 208,33
277x105
=
8749,33x109
= 2,77 𝑚𝑚
2,77 − 1,59
𝑃𝐾5 = | | x 100%
2,77
= 42,59 %
𝐹.𝑟 3 .𝜋 58.1503 .3,14
 𝑤6 = . 𝑘𝑤 = 4.21x109 .208,33 . 1,45
4.𝐸.𝐼
50929x104
= . 1,45
17499,72x109
= 5,09 𝑚𝑚
5,09 − 4,06
𝑃𝐾6 = | | x 100%
5,09
= 20,23 %
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

𝐹. 𝑟 3 58. 1503
𝑢6 = . 𝑘𝑢 = . 1,80
2. 𝐸. 𝐼 2.21x109 . 208,33
402x105
=
8749,33x109
= 4,02 𝑚𝑚
4,02 − 2,34
𝑃𝐾6 = | | x 100%
4,02
= 41,79 %
𝐹.𝑟 3 .𝜋 60.1503 .3,14
 𝑤7 = . 𝑘𝑤 = 4.21x109 .208,33 . 1,45
4.𝐸.𝐼
52685x104
= . 1,45
17499,72x109
= 5,26 𝑚𝑚
5,26 − 4,15
𝑃𝐾7 = | | x 100%
5,26
= 21.1 %
𝐹. 𝑟 3 60. 1503
𝑢7 = .𝑘 = . 1,80
2. 𝐸. 𝐼 𝑢 2.21x109 . 208,33
416x105
=
8749,33x109
= 4,16 𝑚𝑚
4,16 − 2,41
𝑃𝐾7 = | | x 100%
4,16
= 42,06 %

Keterangan:
Muh. Algifary Haska
Hisbullah
Zulfadli
Andrew Cruzanto Edward
Indar Arvito Arman
Imam Rizqi
Vita Iftitah
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

3. Gambar Grafik
a. Circular Beam

1.2
1.02
1
0.84
0.8 0.72 0.91
0.63
W (mm)

0.75
0.6 Teori
0.48
0.64
0.57 Praktek
0.4 0.3
0.44
0.18
0.2 0.27
0.16
0
0 20 40 60 80 100
Force (N)

b. Semi-Circular Beam

7.06 7.26
7
6.15 6.29
6 5.83 5.81
5 4.84
4.76
W (mm)

4 Teori
3.86 3.87
3.44 3.39 Praktek
3

2 2.21 2.18
1.41 1.45
1

0
0 20 40 60 80
F (N)
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

10
8.58
9
8 7.2
6.82
7 8.02
5.69 7.4
6
W (mm)

4.9
6.17 Teori
5
4 3.22 4.93 Praktek
4.32
3 2.08
2 2.77
1 1.85
0
0 10 20 30 40 50 60
F (N)

c. Quadrant Beam

6
5.26
5.09
5

4 3.51 4.15
4.06
W (mm)

2.81 Teori
3 2.45
Praktek
2.8
2 1.58
2.23
1.05 1.96
1
1.25
0.85
0
0 20 40 60 80
F (N)
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

4.5 4.16
4 4.02

3.5
3
2.77
W (mm)

2.5 2.41 Teori


2.22
2 1.94 2.34 Praktek
1.5
1.24 1.59
1 1.26
0.83 1.09
0.5
0.69
0 0.47
0 20 40 60 80
F (N)

B. Pembahasan
Pada kurva balok melingkar (circular beam), nilai-nilai gaya yang diberikan
pada circular beam secara praktek dan teori yaitu 15, 25, 41, 53, 60, 70, dan 85.
Secara praktek, ketika sebuah gaya diberikan pada beam maka akan
menghasilkan deformasi vertikal (w) senilai 0.18, 0.30, 0.48, 0.63, 0.72, 0.84,
dan 1.02 yang dilihat pada dial meter. Sedangkan secara teori, deformasi
vertikal (w) yang dihasilkan senilai 0.31, 0.52, 0.86, 1.11, 1.26, 1.47, dan 1,79.
Berdasarkan data tersebut, kita dapat mengetahui bahwa semakin besar gaya
yang diberikan pada beam maka semakin besar pula deformasi vertikal (w) pada
beam tersebut. Sehingga hubungan antara deformasi vertikal (w) dengan gaya
(F) adalah berbanding lurus.
Pada kurva balok setengah melingkar (semi-circular beam), nilai-nilai gaya
yang diberikan pada semi-circular beam secara praktek dan teori yaitu 12, 18,
28, 32, 40, 48, dan 52. Secara praktek, ketika sebuah gaya yang diberikan pada
beam maka akan menghasilkan deformasi vertikal (w) senilai 1.41, 2.21, 3.44,
3.86, 4.76, 5.83, dan 6.15. Pada semi-circular beam ini juga menghasilkan
deformasi horizontal (u) senilai 2.08, 3.22, 4.90, 5.69, 6.82, 7.20, dan 8.58 yang
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

dilihat pada dial meter. Sedangkan secara teori, deformasi vertikal (w) yang
dihasilkan senilai 2.83, 4.25, 6.62, 7.56, 9.46, 11.35, dan 12.30 serta juga
deformasi horizontal (u) yang dihasilkan senilai 3.16, 5.42, 8.43, 9.64, 12.05,
14.46, dan 15.66. Berdasarkan data tersebut, kita dapat mengetahui bahwa
semakin besar gaya yang diberikan pada semi-circular beam maka semakin
besar pula deformasi vertikal (w) dan deformasi horizontalnya (u). Sehingga
hubungan antara deformasi vertikal (w) dan deformasi horizontal (u) dengan
gaya (F) adalah berbanding lurus.
Pada kurva balok kuadran (quadrant beam), nilai nilai gaya yang diberikan
pada quadrant beam secara praktek dan teori yaitu 12, 18, 28, 32, 40, 58, dan
60. Secara praktek, ketika sebuah gaya yang diberikan pada beam maka akan
menghasilkan deformasi vertikal (w) senilai 0.85, 1.25, 1.96, 2.23, 2.80, 4.06,
dan 4.15, pada quadrant beam ini sama dengan semi-circular beam yang juga
menghasilkan deformasi horizontal (u) namun nilai yang dihasilkan berbeda
yaitu 0.47, 0.69, 1.09, 1.26, 1.59, 2.34, dan 2.41 yang dilihat pada dial meter,
karena gaya diberikan yang berbeda dan bentuk beam yang berbeda. Sedangkan
secara teori, deformasi vertikal (w) yang dihasilkan senilai 2.04, 3.07, 4.79,
5.48, 6.85, 9.93, dan 10.28 dan juga deformasi horizontal (u) yang dihasilkan
senilai 1.62, 2.44, 3.79, 4.33, 5.42, 7.86, dan 8.13. Berdasarkan data tersebut,
kita dapat mengetahui bahwa semakin besar gaya yang diberikan pada quadrant
beam maka semakin besar pula deformasi vertikal (w) dan deformasi
horizontalnya (u). Sehingga hubungan antara deformasi vertikal (w) dan
deformasi horizontal (u) dengan gaya (F) adalah berbanding lurus. Kita juga
dapat mengetahui bahwa hubungan antara deformasi dan gaya pada masing-
masing beam adalah sama, yaitu berbanding lurus.
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity of Hasanuddin Univeristy

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pada praktikum kali ini kita dapat membenarkan teori bahwa gaya
berbandung lurus dengan defleksi yang terjadi, artinya semakin besar gaya
yang diberikan maka semakin besar pula defleksi yang terjadi pada batang.
2. Pada praktikum kali ini kita hanya menggunakan satu jenis bahan percobaan
namun memiliki bentuk yang berbeda-beda yaitu circular bemas, semi-
circular beam dan quadrant beam.
3. Pada praktikum kali ini perbedaan antara teori dan praktik merupakan
kesalahan para praktikan karena kurangnya keterampilan praktikan dalam
menggunakan alat (human error)

B. Saran
1. Saran untuk Laboratorium
a. Senantiasa tetap menjaga kebersihan laboratorium.
b. Sebaiknya menyiapkan rak sepatu agar sepatu praktikan tidak
berhamburan.
2. Saran untuk Asisten
a. Telah memberikan penjelasan dengan metode yang mudah dimengerti,
namun masih perlu ditingkatkan lagi.
b. Ketika praktikum sedang berlangsung, agar dapat selalu mengawasi
praktikan sehingga kesalahan bisa diminimalisir.