Anda di halaman 1dari 6

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEMBUHAN LUKA

TUGAS MATA KULIAH DASAR KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

Dosen Pengampu : Ns. Nur Widayati, MN.

oleh

Anisa Fitriana 162310101190


Falita Raudina 162310101192
Yeti Novitasari 162310101193
Muh. Afif Dede 162310101195
Riza Asmaul Husnah 162310101196
Munazillatul Chasanah 162310101199
Agel Dinda T. 162310101201

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2017
a. Faktor-Faktor yang mempercepat Penyembuhan Luka menurut
Kozier (1995) & Taylor (1997), diantaranya :
1. Pertimbangan Perkembangan
Luka pada anak dan pada dewasa lebih cepat daripada lansia. Hal ini
dikarenakan pada lansia terjadi perubahan karakteristik, termasuk
peningkatan agregasi platelet, peningkatan sekresi mediator inflamasi,
tertundanya infiltrasi magrofag dan limfosit, gangguan fungsi makrofag,
tertundanya perbaikan jaringan epitel, tertundanya angiogenesis, dan
deposisi kolagen, berkurangnya perubahan dan re-modelling dari kolagen,
dan penurunan kekuatan luka.
2. Nutrisi
Penyembuhan luka memerlukan makanan yang kaya protein, karbohidrat,
vitamin A dan C, lemak, mineral seperti zat besi. Klien kurang nutrisi
memerlukan waktu untuk memperbaiki status nutrisi mereka setelah
pembedahan jika mungkin. Klien yang gemuk meningkatkan resik infeksi
luka dan penyembuhan lama karena supply darah jaringan adipose tidak
adekuat.
3. Infeksi
Ada tidaknya infeksi pada luka merupakan penentu dalam percepatan
penyembuhan luka. Sumber utama infeksi adalah bakteri. Dengan adanya
infeksi maka fase-fase dalam penyembuhan luka akan terhambat.
4. Sirkulasi dan Oksigenasi
Sejumlah kondisi fisik dapat mempengaruhi penyembuhan luka. Saat
kondisi fisik lemah atau letih maka oksigenasi dan sirkulasi jaringan sel
tidak berjalan lancar. Adanya sejumlah besar lemak subkutan dan jaringan
lemak yang memiliki sedikit pembuluh darah berpengaruh terhadap
kelancaran sirkulasi dan oksigenisasi jaringan sel.
Pada orang gemuk penyembuhan luka lambat karena jaringan lemak lebih
sulit menyatu, lebih mudah Infeksi dan lama untuk sembuh. Aliran darah
dapat terganggu pada orang dewasa yang mederita gangguan pembuluh
darah prifer, hipertensi atau DM. Oksigenasi jaringan menurun pada orang
yang menderita anemia atau gangguan pernafasan kronik pada perokok.
5). Keadaan luka
Keadaan kusus dari luka mempengaruhi kecepatan dan efektifitas
penyembuhan luka. Beberapa luka dapat gagal untuk menyatu dengan
cepat. Misalnya luka kotor akan lambat penyembuhannya dibanding
dengan luka bersih.
6). Obat
Obat anti inflamasi (seperti aspirin dan steroid), heparin dan anti
neoplasmik mempengaruhi penyembuhan luka. Penggunaan antibiotik
yang lama dapat membuat tubuh seseorang rentan terhadap Infeksi luka.
Dengan demikian pengobatan luka akan berjalan lambat dan
membutuhkan waktu yang lebih lama.

a. Faktor yang memperlambat penyembuhan luka


Tidak adanya penyembuhan luka akibat dari kerusakan pada satu atau
lebih dari proses penyembuhan normal. Proses ini diklasifikasikan menjadi
faktor Intrinsik dan ekstrinsik (Black & Jacob’s, 1997).
1) Faktor Intrinsik
Ketika luka terinfeksi, respon inflamatori berlangsung lama dan
penyembuhan luka terlambat. Luka tidak akan sembuh selama ada
infeksi. Infeksi dapat berkembang saat pertahanan tubuh lemah. Benda
asing dalam luka adalah sumber infeksi.
Suplai darah yang adekuat perlu bagi tiap aspek penyembuhan. Suplai
darah dapat terbatas karena kerusakan pada pembuluh darah Jantung/
Paru. Hipoksia mengganggu aliran oksigen dan nutrisi pada luka, serta
aktifitas dari sel pertumbuhan tubuh. Neutropil memerlukan oksigen
untuk menghasilkan oksigen peroksida untuk membunuh patogen.
Demikian juga fibroblast dan fagositosis terbentuk lambat. Satu-
satunya aspek yang dapat meningkatkan penyembuhan luka pada
keadaan hipoksia adalah angio genesis.
2) Faktor ekstrinsik
Faktor ektrinsik dapat memperlambat penyembuhan luka meliputi
malnutrisi, perubahan usia dan penyakit seperti diabetes melitus.
a. Malnutrisi dapat mempengaruhi beberapa area dari proses
penyembuhan. Kekurangan protein menurunkan sintesa dari kolagen
dan leukosit. Kekurangan lemak dan karbohidrat memperlambat
semua fase penyembuhan luka. Kekurangan Vitamin menyebabkan
terlambatnya produksi dari kolagen, respon imun dan respon
koagulasi.
b. Lansia mengalami penurunan respon inflamatori yang memperlambat
proses penyembuhan dan penurunan sirkulasi migrasi sel darah putih
pada sisa luka dan fagositasis terlambat.
c. Diabetes Melitus adalah gangguan yang menyebabkan banyak pasien
mengalami kesulitan dalam proses penyembuhan karena gangguan
sintesa kolagen, angiogenesis dan fagositosis. Hiperglikemi juga
menurunkan leukosit kemotaktis, arterosklerosis, kususnya pembuluh
darah kecil, juga pada gangguan suplai oksigen jaringan. Neurapati
diabetik merupakan gangguan penyembuhan lebih lanjut dengan
mengganggu komponen neurologis dari penyembuhan. Kontrol dari
gula darah setelah operasi memudahkan penyembuhan luka secara
normal.
d. Merokok adalah gangguan Vaso kontriksi dan hipoksia karena kadar
Co2 dalam rokok serta membatasi suplai oksigen ke jaringan. Merokok
meningkatkan arteri sklerosis dan platelet agregasi. Lebih lanjut
kondisi ini membatasi jumlah oksigen dalam luka.
e. Penggunaan steroid memperlambat penyembuhan dengan menghambat
kologen sintesis, Pasien yang minum steroid mengalami penurunan
kekuatan luka, menghambat kontraksi dan menghalangi epitilisasi.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Sumatera Utara : Universitas Sumatera Utara.


http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/31496/Chapter%20II.pdf;j
sessionid=47D222BE91FDDB294096FDF3E0676642?sequence=6. Diakses pada
11 Oktober 2017.

Baroroh, Dewi. 2011. Konsep Luka. Malang : Basic Nursing Departement.


http://s1-keperawatan.umm.ac.id/files/file/konsep%20luka.pdf. Diakses pada 11
Oktober 2017.

Rosdahi dan Kowalski. 2008. Textbook of Basic Nursing. Philadelphia : Lippincot