Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRE PLANNING

PRAKEPANITRAAN KOMUNITAS KELUARGA

“INTERVENSI PADA KELUARGA DENGAN ANGGOTA KELUARGA


SAKIT TBC”
Diajukan untuk memenuhi ujian prakepanitraan komunitas keluarga

Oleh
Kelompok 5

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
Jl. Kalimantan No. 37 Kampus Tegal Boto Jember Telp./Fax (0331) 323450

1
BAB I. LATAR BELAKANG

1.1 Analisis Situasi


Penyakit Tuberkulosis paru (TB paru) merupakan penyakit infeksi kronik
menular masyarakat yang masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di
dunia termasuk Indonesia. Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi menular yang
disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. TB paru menjadi penyebab
kematian ketiga setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan
pada semua kelompok umur serta penyebab kematian nomor satu dari golongan
penyakit infeksi pernapasan (Departemen Kesehatan, 2007).
Menurut WHO (2015) total kasus TB adalah 9 juta orang di dunia. TBC juga
masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Jumlah kasus TBC ditemukan di
Indonesia adalah 330.910 orang pada 2015 dan meningkat dari 2014 bahwa 324.539
orang didiagnosis TBC. Jumlah Kasus TBC di Indonesia juga ditemukan sebanyak
10% dari semuanya kasus di dunia (Kemenkes RI, 2015).
Di Indonesia sendiri sedikitnya ada 3 faktor yang menyebabkan tingginya kasus
TB Paru yaitu, waktu pengobatan TB yang relative lama (6-8 bulan) menjadi
penyebab penderita TB sulit sembuh karena pasien TB berhenti berobat (drop) setelah
merasa sehat meski proses pengobatan belum selesai. Selain itu, masalah TB
diperberat dengan adanya peningkatan infeksi HIV/AIDS yang berkembang cepat dan
munculnya permasalahan TB-MDR (Multi Drugs Resistant atau kebal terhadap
bermacam obat). Masalah lain adalah adanya penderita TB laten, dimana penderita
tidak sakit namun akibat daya tahan tubuh menurun, penyakit TB akan muncul
(Kemenkes RI, 2011). Akibat yang sering terjadi pada penyakit TB Paru adalah
obstruksi jalan napas dimana paru-paru yang terinfeksi akan terjadi inflamasi atau
peradangan di paru-paru yang mengakibatkan terjadinya sekret yang lama kelamaan
akan menumpuk sehingga produksinya berlebih dan dapat juga menimbulkan
kematian.

1
TB merupakan penyakit yang dapat diobati dan disembuhkan. Penting bagi
penderita TB untuk tidak putus obat dan jika penderita putus obat maka bakteri TB
akan mulai berkembang biak lagi yang berarti penderita harus melakukan pengobatan
intensif selama 2 bulan pertama (WHO, 2013). Dukungan dari keluarga ikut
membantu keberhasilan pengobatan pasien TB dengan cara selalu mengingatkan
penderita agar minum obat. Dukungan keluarga diperlukan pasien TB dengan cara
menunjukkan kepedulian dan simpati dalam merawat (Septia, 2014).
Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas
Keperawatan Universitas Jember di Sumbersari pada hari Senin, 26 Agustus 2019
pada keluarga Tn.Y didapatkan data bahwa keluhan utama yang dirasakan oleh
keluarga klien yaitu TB dengan keadaan pasien saat ini sering batuk dan malas untuk
minum obat.

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan analisis situasi diatas, maka perumusan masalah dalam kegiatan
yang akan dilakukan adalah pendidikan kesehatan tentang manajemen TBC pada
keluarga Tn. Y.

BAB II. TUJUAN DAN MANFAAT

2.1 Tujuan
2.1.1 Tujuan Umum

2
Kegiatan pendidikan kesehatan ini bertujuan untuk memberi
pengetahuan pada keluarga tentang penyakit TBC dan mendorong keluarga
untuk merawat dan memberikan dukungan kepada anggota keluarga yang
menderita TBC..

2.1.2 Tujuan Khusus


Tujuan khusus dari pendudukan kesehatan ini adalah sebagai berikut:
1. Keluarga mampu menjelaskan tentang definisi dan penyebab TBC
minimal 80% benar
2. Keluarga mampu menjelaskan tentang tanda dan gejala penyakit TBC
minimal 85% benar
3. Keluarga mampu menjelaskan cara pencegahan dan penularan TBC
4. Keluarga mampu memberikan dukungan pada pasien TBC

2.2 Manfaat
Untuk menambah pengetahuan kelurga tentang konsep dasar dan pencegahan
penyakit TBC.

BAB III. KERANGKA PENYELESAIAN MASALAH

3.1 Dasar Pemikiran


Peningkatan tuberkulosis paru di tanggulangi dengan beberapa strategi dari
Kementrian Kesehatan, salah satunya yaitu meningkatkan perluasan pelayanan DOTS

3
Directly Observed Treatment Short-course). DOTS adalah salah satu strategi untuk
meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai TB paru melalui penyuluhan sesuai
dengan budaya setempat, mengenai TB paru pada masyarakat miskin,
memberdayakan masyarakat dan pasien TB paru, serta menyediakan akses dan
standar pelayanan yang diperlukan bagi seluruh pasien TB paru. Akan tetapi, menurut
penelitian sebelumnya, pelayanan kesehatan khususnya pelayanan untuk penyakit
tuberculosis tidak efektif dan terbatas. Petugas kesehatan baik dari pemerintah atau
swasta kurang dilatih dalam diagnosis dan pengobatan tuberculosis serta kurangnya
keterampilan komunikasi yang dibutuhkan untuk memotivasi pasien guna
meningkatkan kepatuhan dalam upaya penyembuhan tuberkulosis (Astutidkk, 2014)

TB paru merupakan penyakit yang sangat cepat ditularkan. Cara penularan TB


paru yaitu melalui percikan dahak (droplet nuclei) pada saat pasien batuk atau bersin
terutama pada orang di sekitar pasien seperti keluarga yang tinggal serumah dengan
pasien. Perilaku keluarga dalam pencegahan TB paru sangat berperan penting dalam
mengurangi resiko penularan TB paru. Meningkatnya penderita TB Paru di Indonesia
disebabkan oleh perilaku hidup yang tidak sehat. Hasil survey di Indonesia oleh
Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P2MPL) salah
satu penyebab tingginya anka kejadian TB Paru di sebabkan oleh kurangnya tingkat
pengetahuan (Kemenkes, 2015).

Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa semakin baik tingkat pengetahuan


keluarga semakin mecegah penularan tuberkulosis paru pada keluarga, hal ini dapat
dikarenakan pengetahuan yang dimiliki keluarga akan berpengaruh terhadap sikap
dan perilaku dalam pencegahan penularan tuberkulosis paru (Febriansyah, 2017).
Sejalan dengan penelitianoleh Rizana dkk 2016, terdapat pengarh pendidikan
pendidikan terhadap pengetahuan, sikap dan perkau keluarga dalam pencegahab
penularan tuberkulosis paru. Keluarga yang telah mendapat pendidikan kesehatan
mempunyai peluang 95,52 kali lebih dapat merubah sikap dalam pencegahan

4
penularan tuberkulosis paru dibandingkan dengan keluarga yang tidak diberi
pendidikan kesehatan.

3.2 Kerangka Penyelesaian Masalah


Kerangka penyelesaian masalah yang dapat dilakukan untuk mengatasi
keluhan yang dirasakan oleh keluarga Tn. X adalah dengan pemberian pendidikan
kesehatan serta demonstrasi batuk efektif dan juga penggunaan Alat Pelindung Diri
(APD) guna mencegah terjadinya penularan penyakit. Pendidikan kesehatan dapat
dilakukan diberikan dengan metode yang mudah diterima oleh keluarga tersebut.
Metode yang dapat dilakukan adalah pertemuan kelompok. Kemudian, untuk
mencegah penularan penyakit dapat diberikan pendidikan kesehatan mengenai
penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) guna meminimalisir terjadinya penularan
penyakit. Hal ini berguna untuk menurunkan prevalensi penderita TB paru di
lingkungan tersebut.

BAB 4. RENCANA PELAKSANAAN KEGIATAN

4.1 Realisasi Penyelesaian Masalah


Pendidikan kesehatan adalah suatu usaha atau kegiatan untuk membantu
individu, keluarga, dan masyarakat dalam meningkatkan kemampuannya untuk

5
mencapai kesehatan secara optimal. Pendidikan kesehatan ini dilakukan agar keluarga
mampu mengaplikasikan di kehidupan kesehariannya.
Pendidikan kesehatan juga merupakan upaya untuk memberikan pengetahuan
pada keluarga dengan penderita TBC agar dapat menerapkan gaya hidup sehat yang
dapat mengurangi penyebaran TBC. Pendidikan kesehatan dilakukan kepada keluarga
diharapkan dapat mengubah persepsi keluarga dan sikap keluarga yang kurang peduli
terhadap penderita TBC. Realisasi penyelesaian masalah mengenai TBC pada
keluarga yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pendidikan kesehatan
tentang gaya hidup sehat dan demonstrasi batuk efektif serta penggunaan alat
pelindung diri yang tepat pada keluarga dengan TBC yaitu pada keluarga Tn.X.
pendidikan kesehatan ini diharapkan dapat memotivasi keluarga untuk meningkatkan
dukungan koping keluarga kepada penderita TBC.

4.2 Khalayak Sasaran


Khalayak sasaran pada kegiatan pendidikan kesehatan dan demostrasi ini adalah
pada keluarga Tn X di Jl. Mawar RT 003 / RW 005 Jember sehingga dapat
mempraktikkan tentang batuk efektif serta penggunaan alat pelindung diri yang benar
dan dapat memodifikasi lingkungan rumah yang lebih sehat.

4.3 Metode Yang Digunakan


1. Jenis model pembelajaran : Ceramah dan praktik (batuk efektif dan
penggunaan APD)
2. Landasan teori : Diskusi (tanya jawab)
3. Langkah pokok
a. Menciptakan suasana pertemuan yang baik
b. Mengajukan masalah
c. Mengidentifikasi pilihan tindakan
d. Memberi komentar
e. Menetapkan tindakan lanjut

= Sasaran

= Pemateri

6
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, R. 2017. Analisis pengaruh supervisi kepala ruangan, beban kerja, dan
motivasi terhadap kinerja erawat dalam pendokumentasian asuhan keperaatan
di rumah sakit bhayangkara makassar. Jurnal Mirai Management. 2(2):369–
385.
Astuti, S. (2014). Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Masyarakat Terhadap
Upaya Pencegahan Penyakit Tuberkulosis di RW 04 Kelurahan Lagoa Jakarta
Utara Tahun 2013. Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

7
Depkes RI. 2002. Pedoman Pemberantasan Penyakit Saluran Pernapasan Akut.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Donna L. Wong (et al). 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong.Alih bahasa:
Agus Sutarna, Neti Juniarti, H.Y. kuncoro. Editor edisi bahasa Indonesia: Egi
Komara Yudha (et al). Edisi 6. Jakarta: EGC

Febriansyah, Rizki. (2017). Hubungan Tingkat Pengatahuan Keluarga Dengan Upaya


Pencegahan Penularan Tuberkulosis Paru Pada Keluarga Di Wilayah Kerja
Puskesmas Nguter Sukoharjo. Surakarta: Universitas Muhammadiyah
Surakarta. Program Studi Ilmu Keperawatan.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2015). Profil Kesehatan Indonesia


Tahun 2014. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia

Kemenkes RI. 2011. Profil Kesehatan Indonesia 2011.


Kementerian Kesehatan RI. 2015. Rencana Strategis Kementrian Kesehatan Tahun
2015- 2019. Pusat Komunikasi Publik
Rizana, Novia., Tahlil, Teuku., Mulyadi. (2016). Knowledge, Attitudes and Behavior
of Family in Prevention PulmonaryTuberculosis Transmission. Jurnal Ilmu
Keperawatan (2016) 4:2ISSN: 2338-6371.

Septia. 2014. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Minum Obat pada
Penderita TB Paru. JOM. 1(2): 1-10
Sitorus, R. dan R. Panjaitan. 2011. Manajemen Keperawatan: Manajemen
Keperawatan Di Ruang Rawat. Jakarta: CV Sagung Seto.
WHO. 2013. Defenition and Diagnosis of Pulmonari Tuberculosis.
https://mdgsgoals.com.who.int/sree/ [Diakses pada 24 Agustus 2019 pukul
20.20]
WHO. 2015. Global Tuberculosis Report. France: World Health Organization

8
Lampiran:
Lampiran 1 : Berita Acara
Lampiran 2 : Daftar Hadir
Lampiran 3 : Satuan Acara Penyuluhan (SAP)
Lampiran 4 : Standar Operasional Prosedur (SOP) bila ada
Lampiran 5 : Materi
Lampiran 6 : Media Flipchart

9
Jember, 26 Agustus 2019

Pemateri

Mahasiswa Fakultas
Keperawatan Universitas
Jember

Lampiran 1: Berita Acara

BERITA ACARA KEGIATAN PENDIDIKAN KESEHATAN


TENTANG “PENYAKIT TBC DAN PENTINGNYA DUKUNGAN
KOPING KELUARGA TERHADAP PENDERITA TBC”

Pada hari ini, Senin 26 Agustus 2019 pukul 08.00 s/d 08.30 WIB bertempat di Lab 2A
Fakultas Keperawatan Universitas Jember, telah dilaksanakan kegiatan pendidikan

10
kesehatan tentang “Penyakit TBC dan pentingnya Dukungan koping Keluarga
Terhadap Penderita TBC”. Kegiatan ini diikti oleh….orang.

Jember, 26 Agustus 2019


Mengetahui,
Penguji
Kepanitraan Komunitas Keluarga

Ns. Tantut Susanto M.Kep., P.hD


NIP. 19800105 200604 1 004

Lampiran 2: Daftar Hadir

DAFTAR HADIR KEGIATAN PENDIDIKAN KESEHATAN


TENTANG “PENYAKIT TBC DAN PENTINGNYA DUKUNGAN
KOPING KELUARGA TERHADAP PENDERITA TBC”

DAFTAR HADIR

11
No. NAMA ALAMAT TANDA
TANGAN

1.

2.

3.

4.

Jember, Agustus 2019


Mengetahui,
Penguji
Komunitas Keluarga

Ns. Tantut Susanto M.Kep., P.hD


NIP. 19800105 200604 1 004

Lampiran 3: Satuan Acara Penyuluhan (SAP)


SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Bidang Studi : Promosi Kesehatan


Topik : Penyakit TBC
Sub Topik : Penyakit TBC dan Pentingnya Dukungan Koping Keluarga Terhadap
Penderita TBC
Sasaran : Tn. X dan keluarga Tn. X
Jam : 08.00-08.30 WIB

12
Hari/Tanggal : Senin, 26 Agustus 2019
Tempat: Lab 2A Fakultas Keperawatan Universitas Jember
Penyuluh : Mahasiswi Fakultas Keperawatan Universitas Jember

I. Analisa Data
1. Kebutuhan peserta didik
Masyarakat kelurahan Sumbersari Kabupaten Jember merupakan salah
satu kelurahan yang warganya mayoritas suku Madura. Kelurahan tersebut
memiliki prevalensi penderita TBC yang cukup tinggi. Pada keluarga tuan
X terdapat anggota keluarganya yang menderita TBC yaitu tuan X. Tuan
X merasa tidak pernah diperdulikan oleh keluarganya dan dikucilkan
karena terdapat stigma bahwa penyakit TBC sangat menular dan penderita
harus dijauhi. Sehingga perlu dilakukan pendidikan kesehatan tentang
penyakit TBC dan pentingnya dukungan koping keluarga agar penderita
TBC merasa termotivasi untuk berobat.
2. Karakteristik peserta didik
Penderita TBC dan keluarga penderita TBC.
II. Tujuan Instruksi Umum (TIU)
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan, penderita, keluarga serta masyarakat
dapat memahami penyakit TBC, bagaimana proses penularannya, cara
mencegahnya, perawatannya (batuk efektif), dan pentingnya dukungan koping
keluarga pada penderita TBC.

III.Tujuan Instruksional Khusus (TIK)


Setelah mengikuti pendidikan kesehatan selama 1 X 30 menit tentang
“Penyakit TBC dan Pentingnya Dukungan Koping Keluarga Terhadap
Penderita TBC” diharapkan penderita TBC dan keluarga yang tinggal di
Kelurahan Sumbersari, Kabupaten Jember mampu menjelaskan:
1. Menjelaskan definisi TBC
2. Menjelaskan penyebab TBC
3. Menjelaskan tanda dan gejala TBC
4. Menjelaskan pencegahan TBC dengan memakai APD
5. Pengobatan TBC
6. Menjelaskan definisi teknik batuk efektif

13
7. Menjelaskan manfaat teknik batuk efektif
8. Mempraktekkan teknik batuk efektif
9. Keluarga dapat memberikan perawatan dan dukungan koping kepada
penderita TBC

IV. Materi (Terlampir)


1. Definisi TBC
2. Penyebab TBC
3. Tanda dan gejala TBC
4. Pencegahan TBC dengan memakai APD
5. Pengobatan TBC
6. Definisi teknik batuk efektif
7. Manfaat teknik batuk efektif
8. Langkah-langkah teknik batuk efektif
9. Pentingnya memberikan dukungan koping keluarga dan perawatan pada
penderita TBC

V. Metode
Ceramah, diskusi Tanya jawab dan demonstrasi

VI. Media
Flipchart

VII. Kegiatan Penyuluhan

No Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta


1 Pembukaan  Memberikan salam  Menjawab
08.00-08.05 WIB  Perkenalan
salam
 Menjelaskan TIU dan TIK  Mendengarkan
 Menjelaskan pokok bahasan  Memperhatikan
 Kontrak waktu

2. Inti  Menanyakan kepada  Menjawab


08.05-08.30 WIB
penderita dan keluarga pertanyaan
tentang TBC dan cara penyuluhan
menangananinya sesuai  Mendengarkan
 Memperhatikan
pengetahuan.  Bertanya pada
 Menjelaskan materi
penyuluh bila

14
tentang : masih ada yang
a. Menjelaskan definisi
belum jelas
TBC
b. Menjelaskan penyebab
TBC
c. Menjelaskan tanda
gejala TBC
d. Menjelaskan
pencegahan TBC
e. Menjelaskan
pengobatan penderita
TBC
f. Menjelaskan definisi
teknik batuk efektif
g. Menjelaskan Manfaat
teknik batuk efektif
h. Menjelaskan langkah-
langkah teknik batuk
efektif
i. Mempraktekan terapi
teknik batuk efektif
j. Menjelaskan
pentingnya dukungan
keluarga dan perawatan
pada penderita TBC

3 Penutup  Evaluasi  Menjawab


5 menit  Menyimpulkan pertanyaan
 Mengucapkan salam  Mempraktikan
penutup teknik batuk
efektif
 Memperhatikan
 Menjawab

15
salam

VIII. Evaluasi
1. Pasien dan keluarga dapat menjelaskan definisi TBC
2. Pasien dan keluarga dapat menjelaskan Penyebab TBC
3. Pasien dan keluarga dapat menjelaskan Tanda dan gejala TBC
4. Pasien dan keluarga dapat menjelaskan Pencegahan TBC dengan memakai
APD
5. Pasien dan keluarga dapat menjelaskan Pengobatan TBC
6. Pasien dan keluarga dapat mengetahui definisi, manfaat dan langkah-langkaj
batuk efektif
7. Pasien dapat mempraktekkan teknik batuk efektif
8. Keluarga dapat memberikan dukungan koping keluarga dan perawatan pada
penderita TBC

Lampiran 4: Standar Operasional Prosedur

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)

16
Batuk Efektif
FKEP
UNIVERSITAS
JEMBER
1. PENGERTIAN Cara batuk yang efektif mengeluarkan mucus dari
saluran pernapasan
2. TUJUAN 1. Mengeluarkan mucus dari saluran nafas
2. Mencegah penumpukan mucus dan komplikasinya
3. INDIKASI 1. Pasien dengan penumpukan mukus di jalan napas
2. Pasien dengan batuk berdahak
4. KONTRAINDIKASI 1. Kondisi akut medis dan bedah
2. Nyeri berat
3. Pasien hemaptoe
4. Pasien dengan gangguan kardiovaskuler
5. PERSIAPAN KLIEN Berikan penjelasan pada klien tentang tindakan yang
akan dilakukan dan jelaskan alasan tindakan dilakukan

3. PERSIAPAN ALAT 1. Masker


2. Sarung tangan
3. Tempat tidur
4. Bantal
5. Wadah tertutup berisi cairan antiseptik untuk
sputum
6. Tisu
7. Handuk pengalas
8. bengkok
4. PROSEDUR 1. kaji program terapi klien
2. cuci tangan
3. pakai sarung tangan dan masker
4. jelaskan tujuan tindakan pada klien
5. berikan posisi yang nyaman pada klien (semi
fowler, fowler, high fowler)
6. berikan bantal di bawah kepala dan lutut
7. minta klien menyilangkan kedua tangan di perut
8. minta klien menarik napas perlahan melalui hidung,
dan membuang napas melalui mulut (lakukan 2
kali)

17
9. minta klien menarik napas perlahan melalui hidung
10. minta klien menekan perut dengan tanagn dan
sedikit mencondongkan tubuh ke depan
11. minta klien batuk 2-3 kali
12. jika sputum keluar tampung di wadah sputum
13. istirahat
14. ulangi prosedur 7 s/d 10 beberapa kali
15. lakukan latihan sampai sputum bersih/berkurang
16. beritahu bahwa tindakan sudah selesai
17. bereskan alat-alat yang telah digunakan
18. beri posisi nyaman pada klien
19. kaji respon klien (subyektif dan obyektif)
20. berikan reinforcement positif pada pasien
21. buat kontrak pertemuan selanjutnya
22. lepas lepas sarung tangan dan masker
23. cuci tangan

HASIL Sputum bersih dan berkurang


8. HAL-HAL YANG 1. Selalu perhatikan respon klien selama
PERLU tindakan
DIPERHATIKAN 2. Jika kesulitan napas bertambah atau terjadi
nyeri berat hentikan tindakan

18
Laporan Pre-Planning Prakepanitraan Komunitas 2019
Keluarga –FKEP Universitas Jember

Lampiran 5: Materi
Lampiran Materi Penyuluhan

A. Definisi Penyakit TBC


Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan bakteri
Mycrobacterium tuberkulosis, yang dapat menyerang berbagai organ, terutama
paru-paru. TBC diperkirakan sudah ada sejak 500 tahun sebelum masehi,
namun kemajuan dalam pemenuhan dan pengendalian penyakit TBC baru
terjadi dalam 2 abad terakhir pada 1906 vaksin BCG berhasil ditemukan. Lama
sesudah itu, mulai ditemukan Obat Anti Tuberkolosis (OAT). Pada 1943
Streptomisin diterapkan sebagai TB pertama yang efektif. (Kemenkes,2015).
Tuberkulosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium
Tuberculosis yang dapat menyerang pada berbagai organ tubuh mulai dari paru
dan organ luar paru seperti kulit, tulang, persendian, selaput otak, usus serta
ginjal yang sering disebut dengan ekstrapulmonal TBC (Chandra B, 2012).
Tuberkulosis paru (TB paru) adalah penyakit infeksius yang terutama
menyerang parenkim paru. Nama tuberkulosis berasal dari tuberkel yang
berarti tonjolan kecil dan keras yang terbentuk saat sistem kekebalan
membangun tembok mengelilingi bakteri dalam paru. Penyakit ini bersifat
menahun dan secara khas ditandai oleh pembentukan granuloma dan
menimbulkan nekrosis jaringan. Penyakit ini dapat menular melalui udara saat
seseorang dekat atau berinteraksi dengan pasien tidak menggunakan masker
yang dapat menular saat pasien batuk, bersin atau berbicara.

B. Penyebab Penyakit TBC


Penyebab dari penyakit ini adalah bakteri Mycrobacterium tuberkolosis.
Ukuran dari bakteri ini cukup kecil yaitu 0,5-4 mikron x 0,3-0,6 mikron dan
berbentuk batang, tipis, lurus atau agak bengkok, bergranul, tidak mempunyai
selubung tetapi memiliki lapisan luar yang tebal yang terdiri dari lipoid
( terutama asam mikolat). Sifat dari bakteri ini istimewa karena bakteri ini
dapat bertahan terhadap pencucian warna dengan asam dan alkohol sehingga
sering disebut dengan bakteri tahan asam (BTA). Selain itu bakteri ini tahan
terhadap suasana kering dan dingin.bakteri ini dapat bertahan pada kondisi

19
Laporan Pre-Planning Prakepanitraan Komunitas 2019
Keluarga –FKEP Universitas Jember

rumah atau lingkungan yang lembab dan gelap sampai berbulan-bulan, tetapi
bakteri ini tidak tahan atau bisa mati apabila terkena cahaya matahari atau
aliran udara ( Widoyono, 2011). Penyebaran mycobacterium tuberculosis yaitu
melalui droplet nukles, kemudian dihirup oleh manusia dan menginfeksi
(Depkes RI, 2002).

C. Gejala Penyakit TBC


Ada beberapa tanda dan gejala pada pasien penderita TBC yaitu diantaranya:
a) Demam 40-41oC, serta ada batuk / batuk darah.
b) Sesak nafas dan nyeri dada
c) Malaise, keringat malam
d) Peningkatan sel darah puih dengan dominasi sel limfosit
e) Pada anak
1. Berkurangnya BB 2 bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas atau
gagal tumbuh.
2. Demam tanpa sebab yang jelas terutama jika berlanjut samapai 2
minggu
3. Batuk kronik lebih dari 3 minggu dengan atau tanpa wheezing.
4. Riwayat kontak dengan pasien TBC dewasa.

Menurut Donna L. Wong, et.al. 2008 tanda dan gejala tuberkulosis antara lain.
a. Demam
Umumnya subfebris (37,5oC – 38oC), kadang-kadang hiperpireksia (40oC
-41oC), keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh pasien dan
berat ringannya infeksi kuman tuberculosis yang masuk. Biasanya terjadi
demam persisten yang pada kasus ini terjadi akibat adanya infeksi saluran
pernanfasan.
b. Malaise
Penyakit TBC paru bersifat radang yang menahun. Gejala malaise sering
ditemukan anoreksia, berat badan makin menurun, sakit kepala, meriang,
nyeri otot dan keringat malam. Gejala semakin lama semakin berat dan hilang
timbul secara tidak teratur
c. Anoreksia
d. Penurunan berat badan
e. Batuk ada atau tidak
Terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Batuk ini diperlukan untuk
membuang produk radang. Sifat batuk dimulai dari batuk kering (non
produktif). Keadaan setelah timbul peradangan menjadi produktif
(menghasilkan sputum atau dahak). Keadaan yang lanjut berupa batuk kering

20
Laporan Pre-Planning Prakepanitraan Komunitas 2019
Keluarga –FKEP Universitas Jember

(non produktif). Keadaan setelah timbul peradangan menjadi produktif


(menghasilkan sputum atau dahak). Keadaan yang lanjut berupa batuk darah
(hemaptoe) karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan batuk
darah pada TBC terjadi pada dinding bronkus. (berkembang secara perlahan
selama berminggu – minggu sampai berbulan – bulan)
f. Peningkatan frekuensi pernapasan
g. Ekspansi buruk pada tempat yang sakit
h. Bunyi napas hilang dan ronkhi kasar, pekak pada saat perkusi
i. Manifestasi gejala yang umum : pucat, anemia, kelemahan, dan penurunan
berat
D. Penularan TBC
Penularan penyakit TBC bisa ditularkan dalam beberapa sebab yaitu :
a) Sumber penularan adalah pasien TB yang dahaknya mengandung kuman
TB BTA posistif
b) Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam
bentuk percikan dahak. Seklai batuk dapat mengandung 3.000 kuman
dalam percikan dahak
c) Penularan terjadi melalui percikan dahak yang dapat bertahan selama
beberapa jam dalam ruangan yang tidak terkena sinar matahari dan lembab.
d) Semakin banyak kuman yang ditemukan dalam tubuh berarti semakin besar
kemungkinan menularkan kepada orang lain.
E. Pencegahan TBC
Pencegahan TBC dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
a) Menutup mulut saat batuk dan bersin dengan sapu tangan
b) Jangan membuang ludah dan dahak di sembarang tempat. Buang dahak di
tempat khusus tertutup dan berisi air sabun kemudian buang di lubang WC
atau kubur di dalam tanah.
c) Cucilah tangan dengan air sabun, air mengalir dan dikeringkan
d) Mengkonsumsi makanan bergizi
e) Olah raga secara teratur
f) Membuka jendela dan pintu setiap pagi agar udara dan sinar matahri masuk
g) Tidak merokok dan hindari minuman beralkohol
h) Memakai APD (Masker)

F. Modifikasi Lingkungan
Penyakit TBC sangat penting untuk untuk dicegah agar tidak terjadi penularan
ke anggota keluarga lainnya. Tindakan yang dilakukan untuk mencegah
penularan penyakit TBC ke anggota keluarga dengan memodifikasi lingkungan
mengenai pencahayaan dengan cara membuka jendela kamar dan pintu rumah,
memasang genteng kaca, menjemur kasur yang dipakai penderita TBC secara

21
Laporan Pre-Planning Prakepanitraan Komunitas 2019
Keluarga –FKEP Universitas Jember

rutin 1 minggu sekali. Dengan membuka ventilasi rumah, pemasangan genteng


kaca serta menjemur kasur diharapkan bakteri tersebut dapat mati karena
terpapar sinar matahari secara langsung ( Families, 2006 ). Selain membuka
ventilasi rumah, tempat-tempat yang lembab juga harus dibersihkan karena
bakteri penyebab penyakit TBC sangat menyukai tempat yang lembab dan
berpotensi menjadi sarang bakteri TBC sehingga bisa berpotensi untuk
ditularkan ke anggota keluarga yang lain.

G. Pentingnya Dukungan koping keluarga pada penderita TBC

Dukungan keluarga sangat penting untuk diberikan secara penuh kepada


penderita TBC karena akan mempengaruhi kepatuhan pengobatan dari
penderita TBC. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Sholikhah, dkk (2019) yang menyebutkan bahwa tedapat hubungan antara
dukungan informasi dari keluarga dengan Self Efficacy penderita TBC. Self
Efficacy pada penderita TBC adalah kepercayaan seseorang atas
kemampuannya dalam melakukan pengobatan untuk mencapai kesembuhan.
Self Efficacy akan menentukan bagaimana kepatuhan klien untuk menjalani
pengobatan (Sholikhah, dkk., 2019). Keluarga juga mempunyai peran penting
dalam perawatan penderita TBC di rumah (Sholikhah, dkk., 2019). Ada
beberapa dukungan keluarga yang bisa diberikan kepada penderita TBC :

1. Memberikan dukungan informasi kepada klien


2. Memberikan motivasi kepatuhan minum obat
3. Melakukan pengawasan terhadap kepatuhan minum obat dan penggunaan
APD untuk mencegah penularan

H. Pengobatan TBC

Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian,


mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah
terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. Penatalaksanaan TB meliputi
penemuan pasien dan pengobatan yang dikelola dengan menggunakan strategi

22
Laporan Pre-Planning Prakepanitraan Komunitas 2019
Keluarga –FKEP Universitas Jember

DOTS. Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai


berikut:

1. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam
jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan
gunakan OAT tunggal (monoterapi) . Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis
Tetap (OAT – KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.
2. Menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan
langsung (DOTS) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) adalah nama untuk
suatu strategi yang dilaksanakan di pelayanan kesehatan dasar di dunia
untuk mendeteksi dan menyembuhkan pasien TB (Mansjoer,Arief (ed.)
dkk.2000). Strategi ini terdiri dari lima komponen, yaitu:
a. Dukungan politik para pimpinan wilayah di setiap jenjang sehingga
program ini menjadi salah satu prioritas dan pendanaan pun akan tersedia.
b. Mikroskop sebagai komponen utama untuk mendiagnosa TB melalui
pemeriksaan sputum langsung pasien tersangka dengan penemuan secara
pasif.
c. Pengawas Minum Obat (PMO) yaitu orang yang dikenal dan dipercaya
baik oleh pasien maupun petugas kesehatan yang akan ikut mengawasi
pasien minum seluruh obatnya sehingga dapat dipastikan bahwa pasien
betul minum obatnya dan diharapkan sembuh pada akhir masa
pengobatannya.
d. Pencatatan dan pelaporan dengan baik dan benar sebagai bagian dari
sistem survailans penyakit ini sehingga pemantauan pasien dapat berjalan.
e. Paduan obat TB jangka pendek yang benar, termasuk dosis dan jangka
waktu yang tepat, sangat penting untuk keberhasilan pengobatan.
Termasuk terjaminnya kelangsungan persedian paduan obat ini.

3. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.

a. Tahap awal (intensif)


1) Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi
secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.
2) Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien
menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.

23
Laporan Pre-Planning Prakepanitraan Komunitas 2019
Keluarga –FKEP Universitas Jember

3) Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2
bulan.
b. Tahap Lanjutan
1) Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam
jangka waktu yang lebih lama
2) Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah
terjadinya kekambuhan

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2002. Pedoman Pemberantasan Penyakit Saluran Pernapasan Akut.


Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Donna L. Wong (et al). 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong.Alih
bahasa: Agus Sutarna, Neti Juniarti, H.Y. kuncoro. Editor edisi bahasa
Indonesia: Egi Komara Yudha (et al). Edisi 6. Jakarta: EGC

Kementrian Kesehatan RI. 2014. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkolosis.


Jakarta. Kementrian Kesehatan RI.

Kementrian Kesehatan RI.2015. Pusat Data Dan Informasi Kementrian


Kesehatan RI. Jakarta. Kementrian Kesehatan RI.

Sholikhah, Maula M., Nursasi, Astuti Y., dan Wiarsih, Wiwin. (2019). The
realtionship between family’s informational support and self-efficacy of
pulmonary tuberculosis client. Enfermeria Clinica.
https://doi.org/10.1016/j.enfcti.2019.04.062

24
Laporan Pre-Planning Prakepanitraan Komunitas 2019
Keluarga –FKEP Universitas Jember

25
Laporan Pre-Planning Prakepanitraan Komunitas 2019
Keluarga –FKEP Universitas Jember

Lampiran 6: Media FlipChart

26