Anda di halaman 1dari 85

MOJAKOE

Perpajakan 2

Dilarang memperbanyak MOJAKOE ini tanpa


seizin SPA FEUI. Mojakoe dapat didownload di
www.spa-feui.com

Official Learning Partner: Official Media Partner:

@spafeui SPA FEUI www.spa-feui.com


UNIVERSITAS INDONESIA
Program Studi S-1 Akuntansl

Ujian Tengah Semester Gasal 2013/2014

Mata Kuliah : PERPAJAKAN 2


Hari/Tanggal : Rabu I 23 Oktober 2013
Do sen : PARALEL ;,EMUA KELAS
1. Tubagus Chairul Amachi
2. Novita Budi Sulistyarini
Waktu :150 menit
Sifat : Open All Printed Materials

Petunjuk:
1. Jawablah setiap soal dengan jelas dan sistematis
2. Selalu cantumkan referensi peraturan/undang-undang yang menjadi dasar jawaban
and a
3. Apabila terdapat keterangan yang tidak disebutkan di soal, gunakan asumsi anda
yang sesuai dengan peraturan perpajakan.

SOAL I (25%)

1. Jelaskan perbedaan antara pajak daerah dengan pajak pusat, dilihat dari fungsi, cara
pemungutan, dan jenis-jenis pajaknya.

2. Jelaskan fun gsi dari bea materai, besar tarifnya serta konsekuensi apabila suatu
dokum en tidak dibubuhi materai. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pemeteraian
kemudian.

3. Jelaskanlah pengaturan terkait PBB sebelum dan sesudah diterbitkannya UU No. 28


Tahun 2009 mengenai Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

4. Pada tahun 2013, Bapak Husen memiliki dua aset berupa tanah dan bangunan di daerah
Jakarta Timur, yaitu:

a. Rumah tinggal
Luas Tanah 200m2
Luas bangunan 150m2
Luas jalan masuk dari pagar ke pintu rumah 20m2

b. Hotel
Luas Tanah 800m2
Luas Bangunan 1500m2.
Fasilitas hotel :
- Kolam renang 25m2
- Jalan masuk menuju bangunan hotel 100m2

NJOP tanah dan bangunan untuk kedua objek tersebut adalah sama, yaitu:
NJOP Tanah Rp5juta/m2
NJOP Bangunan Rp2juta/m2

Hitunglah PBB yang harus dibayar Bapak Husen di tahun 2013.

Asumsi:
Berdasarkan Perda DKI Jakarta No. 16 Tahun 2011:
NJOPTKP Rp15.000.000
Tarif PBB:
NJOP Tanah dan bangunan < Rp200 juta 0,01%
NJOP Tanah dan bangunan ~ Rp200 juta dan< Rp2M 0,1%
NJOP Tanah dan bangunan ~ Rp2M dan< Rp10M 0,2%
NJOP Tanah dan bangunan ~ Rp10M 0,3%

SOAL II (40%)

PT Handayani {"Perusahaan") merupakan perusahaan yang bergerak dalam industri pembuatan


sepeda fixie yang memiliki kantor pemasa ran yang t ersebar di beberapa kota besar di indonesia.
Kantor pusat Perusahaan berlokasi di Bintaro . Perusahaan berdiri pada tahun 2010 dan terdaftar di
KPP Tangera ng dengan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan No mor Pengukuhan Pengusaha Kena
Pajak (NPPKP) 01.234.567.8.090.000.

Di tahun 2012, Pe rusahaan mengalami penu runan l aba karena turunnya nilai penjualan dan
meningkatnya biaya produksi. Ka rena penurunan tersebut, Perusahaan mengalami lebih bayar
dalam SPT Tahunan PPh Badan tahun 2012 yang dilaporkan tanggal 15 April 2013 dan mengajukan
restitusi atas kelebihan baya r t erseb ut.

Karena Perusaha an melaporkan SPT Lebih Bayar, KPP Tangerang metaku kan pemeriksaan atas
semua perpajakan Perusahaan yang dimulai di bulan Juni 2013. Pemeriksaan dilakukan kurang leb ih
5 bulan. Pemeriksa memberitahukan Hasil Pemeriksaannya pada tanggal 5 November 2013 dan
ditanggapi oleh Perusahaan pada tanggat 10 November 2013. Pada tanggal 15 November 2013, KPP
Tangerang mengeluarkan SKPKB sebagai berikut:
1. SKPKB PPh Badan sebesar Rp225 juta (Pokok Rp200juta, bunga Rp25juta)
2. SKPKB PPh Pasal 21 sebesar Rp55juta (Pokok Rp50 juta, bunga Rp5juta)
3. SKPKB PPN sebesar Rp18juta (Pokok Rp15juta, Bunga Rp3juta)
Berikut adalah sebagian koreksi yang dilakukan fiskus berkaitan dengan penerbitan SKPKB di atas:
)
1. SKPKB PPh Badan ·.
- Fiskus melakukan koreksi atas biaya penyis ihan piutang sebesar Rp 200juta karena menurut
f iskus biaya penyisihan piutang meru pakan non deductible expense .
- Selain itu, berkaitan dengan biaya gaji, di dalamnya termasu k medical expense sebesar
Rp600juta yang menurut fiskus tidak boleh dijadikan biaya oleh perusah aa n.

2. SKPKB PPh Pasal 21/26


Berdasarkan hasil pengujian fisku s atas SPT PPh Pasal 21, daftar gaji/u pah dan hasil equalisasi
dengan pemeriksaan PPh Badan, diketahui terdapat Objek PPh Pasal 21 yang belum dilaporkan
Perusahaan. Menu rut fiskus, seharu snya biaya-biaya di bawah ini masu k sebagai Objek PPh Pasal
21:
- Biaya PPh Karyawan
M enurut fiskus, biaya PPh karyawan merupakan Objek PPh Pasal 21 karena Perusahaan t idak
mela kukan koreksi atas biaya tersebut dalam perhit ungan PPh badannya.
- Biaya Direksi
Biaya direksi m erupakan beban yang dibiayakan oleh Perusahaan dalam perhitungan PPh
badannya sehingga menu rut Fiskus biaya tersebut merupakan Objek PPh Pasal 21.

3. SKPKB PPN
Berdasa rkan pengujian fi skus atas SPT PPN dan transaksi di laporan keuangan, Fiskus
menemukan bahwa terda pat penjualan aset tetap berupa mobil sedan yang sebelum nya
digunakan untuk kendaraan dinas, dengan harga jual Rp150juta . Perusahaan tidak memungut
PPN atas tra nsaksi penjualan tersebut. Menurut fiskus, Perusahaan seharusnya memungut PPN
10% atas transaksi tersebut .

Berikut adalah informasi-informasi dari sehubungan dengan akun-a kun yang dikoreksi oleh Fiskus :
- dari ledger tahu n 2012 (sebelum j urnal penutup ) diketahui hal-hal sebagai berikut:
Sal do awal 2012 akun allowance for doubtful acccount: RpSOjuta
Saldo akhir 2012 akun allowance for doubtful acccount: Rp150juta
Saldo akhir 2012 akun bad debt expense: Rp300j uta
Perusahaan melakukan penghapusan piutang sebesar Rp200j uta (sudah sesuai dengan
peraturan)
medico( expense diberikan dengan 3 skema, yaitu:
a. Berupa reimbursement (penggantian ) biaya pengobatan karyawa n level manager sebesar
Rp150juta. Jumlah tersebut tidak dimasukkan ke dalam komponen gaji karyawan dalam
menghitung PPh Pasal 21.
b. Berupa reimbursement (penggantia n) biaya pengobatan Direksi sebesar Rp250juta. Jumlah
tersebut t elah dimasukkan ke dalam komponen gaji karyawan dalam menghitung PPh Pasal
21
c. Berupa pengobatan Cuma-Cuma untuk level staf sebesar Rp200juta. Jumlah t ersebut t idak
dimasukkan ke dalam kom ponen gaji karyawan dalam menghitung PPh Pasal 21

biaya direksi adalah penggantian biaya yang tel ah dikeluarkan oleh direksi ya ng melakukan
perjalanan se hubungan dengan kegiatan operasional perusahaan seperti biaya tiket, akomodasi
dan sebagainya. Bukti pendukung atas semua pengeluaran tersebut diberikan oleh direksi
kepada Perusaha an.

Berdasarkan informasi sebagian koreksi di atas:


a. Menu rut anda, Perusahaan kemungkinan akan mengajukan keberatan atas SKPKB yang mana?
b. Berikan alas an atas jawaban and a di no. a secara lengkap dan dengan dasa r hukumnya!

Dalam tanggapannya pada tanggal10 November 2013, Perusahaan hanya menyetujui bahwa kurang
bayar PPh Badan senilai RplOOjuta sedangkan kurang bayar PPh Pasal 21 sebesar Rp25juta dan PPN
tidak ada yang disetujui. Oleh karen a itu, Perusahaan mengajukan keberatan atas SKPKB PPh
Badan, SKPKB PPh Pasal 21/26, dan SKPKB PPN dalam satu Surat Keberatan yang diserahkan pada
tanggal 10 Februari 2014. Sebelum mengajukan Surat Keberatan, Perusahaan telah membayar
sejumlah yang dia setujui pada tanggal1 Februari 2014.

Berdasarkan informas di atas:


c. Apakah ketentuan formal Surat Keberatan telah dipenuhi oleh Perusahaan? Berikan penjelasan
jawaban and a!
d. Apakah Perusahaan akan dikenakan denda terkait dengan pembayaran 1 Fe bruari 2014?
Sebutkan dasar hu kumnya!
e. Jika jawaban anda di no. d adalah ya, berapa denda yang harus dibayar Perusahaan? Berikan
perhitungannya!
Jika jawaban anda di no. d adalah tidak, abaikan pertanyaan no. e ini!

Asumsikan Surat Keberatan Perusahaan diproses. Setelah mempelajari kasusnya maka Dirjen Pajak
mengeluarkan Keputusan Keberatan pada tanggal1 Mei 2014 dengan hasil sebagai berikut:
Menerima sebagian surat keberatan atas SKPKB PPh Badan sebesar Rp150 juta
Menolak seluruhnya surat keberatan atas SKPKB PPh Pasal 21
Berdasarkan informasi di atas:
f. Jika Perusahaan akhirnya menyetujui hasil dari Keputusan Keberatan maka kapan dan berapa
Perusahaan harus membayar pajak kurang bayar (pokok dan sanksi) tersebut?
g. Jika Perusahaan akhirnya menyetujui hasil dari Keputusan Keberatan dan membayar pajak
kurang bayar pada tanggal10 Juni 2014 maka berapa denda yang harus dibayar Perusahaan?
h. Jika Perusahaan menolak seluruh Keputusan Keberatan dan mengajukan banding, dan oleh
Pengadilan Pajak bandingnya ditolak seluruhnya, berapakah pajak kurang bayar (pokok dan
sanksi) yang harus di bayar Perusahaan.

SOAL Ill (35%)

PT Juara Abadi adalah perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan sepatu dengan
peredaran usaha bruto per tahun rata-rata sebesar RpS0-60 Milyar. Pada bulan Februari
2013, KPP Pratama Grogol, tempat PT Juara Abadi terdaftar, melakukan pemeriksaan untuk
semua pajak PT Juara Abadi tahun 2012 karena KPP Pratama Grogol melihat bahwa hasil
kinerja PT Juara Abadi yang direfleksikan dalam laporan keuangan, memiliki perbedaan
signifikan dengan rata-rata perusahaan lainnya yang sejenis.
Sebelum menyerahkan data-data yang diminta oleh pemeriksa, PT Juara Abadi melakukan
review atas SPT PPh Badan tahun 2012. Berdasarkan review tersebut, PT Juara Abadi
menemukan bahwa terdapat penjualan sepatu di akhir Desember 2012 yang be!um
dilaporkan di SPT Badan "P h Tahun 2012 sebesar RpSOO Juta. Seluruh biaya dari penjualan
tersebut sudah dibukukan dan dilaporkan dalam SPT PPh Badan t ahun 2012 . Kare na
kesadarannya sendiri, PT Juara Abadi langs ung melakukan pembetulan SPT PPh Bad an tahun
2012.

Pemeriksaan pajak akhirnya selesai pada bulan Agustus 2013, dan berdasarka n Pe mbetulan
SPT PPh Badan tahun 2012, Pemeriksa menemukan bahwa t erda pat beberapa biaya
PT Juara Abadi yang seharusnya tidak dapat dibiayakan karena tidak berhubungan dengan
kegiatan usaha PT Juara Abadi, sehingga PT Juara Abadi mem iliki kekurangan pembayaran
PPh Bada n sebesar Rp250juta. Atas keku ra ngan pembayaran te rsebut, Pemeriksa
menerbitkan SKP KB PPh Badan pada ta nggal 12 Sept ember 2013.

Terkait dengan hal tersebut, Pemeri ksa juga mengkoreksi PPN Masukan dari biaya-biaya
t ersebut yang sebelumnya dikompensasi ke PPN keluaran, karena menurut pemeriksa, PPN
Masukan tersebut seharusnya tidak dikompensasi dengan PPN keluaran karena t id ak
berhubungan langsung dengan kegiatan usaha. Atas koreksi PPN Masu kan tersebut,
pemeriksa menetapkan kurang bayar PPN sebesar Rp25juta dan atas kekurangan tersebut,
pemeriksa menerbitkan SKPKB PPN pada tangga l12 September 2013 .

Setelah SKPKB diterbitkan, pada bulan Desem ber 2013, PT Juara Abadi menemukan bahwa
masih terdapat penjualan yang belum dibuku kan, karena tagihannya t erselip, sebesar
Rp300juta. Karena ingin menjadi waji b pajak yang patuh, PT Juara Abadi berenca na untuk
mel akuka n pembetulan kembali.

Pertanyaan:
1. Apakah PT Juara Abadi dapat melakukan pembetulan sedangkan KPP telah
melakukan pemeriksaan atas SPT Tahunan PPh Badan tersebut? Jelaskan
konsekuensi apabila PT Juara Abadi melakukan pembetulan dalam kondisi tersebut.
2. Hitunglah SKPKB (pokok dan bunga) yang diterbitkan ber dasa rkan hasil peme riksaan
3. Apakah PT Juara Abadi dapat melakukan pembetula n sedangkan KP P t elah
menyelesaikan pemeriksaan atas SPT Tahunan PPh Badan tersebut dan SKPKB t elah
diterbitkan? Jelaskan konsekuensi apabila PT Juara Abadi melakukan pembetulan
dalam kondisi tersebut.
Dilarang memperbanyak Mojakoe ini tanpa seizin SPA FEUI
 
 

Jawaban UTS Pajak2 Ganjil 2013/2014


Soal 1 (20%)

1. Perbedaan Pajak Pusat dan Pajak Daerah


Pajak Pusat Pajak Daerah
Fungsi Untuk membiayai pengeluaran Untuk membiayai pengeluaran
dan pembangunan negara dan pembangunan daerah
Cara Dipungut oleh pemerintah pusat Dipungut oleh pemerintah
Pemungutan (Direktorat Jenderal Pajak) daerah (Dinas Pendapatan
Daerah)
Jenis PPN, PPh, PPnBM, Bea Pajak Provinsi: Pajak Rokok,
Meterai Pajak Kendaraan Bermotor
Pajak Kabupaten/Kota: Pajak
Reklame, Pajak Hiburan, Pajak
Restoran

2. Fungsi Bea Meterai:


‐ Sebagai pajak/penghimpun dana dari masyarakat
‐ Sebagai penguat hukum atas dokumen yang penting dan berharga

Konsekuensi jika dokumen tidak dibubuhi Bea Meterai:


Dokumen yang tidak dibubuhi meterai tetap sah. Namun, jika dokumen tersebut akan
dijadikan alat bukti dalam proses pengadilan, maka harus dilunasi bea meterainya
dahulu sehingga pada akhirnya kekuatan pembuktiannya akan sama dengan dokumen
yang telah bermeterai.

Pemeteraian kemudian:
Pemeteraian kemudian adalah suatu cara pelunasan Bea Meterai yang dilakukan oleh
Pejabat Pos atas permintaan pemegang dokumen yang Bea Meterainya belum dilunasi
sebagaimana mestinya. (Pasal 1 ayat (2) huruf d)

     
 
MOJAKOE Perpajakan 2 UTS Semester Genap 2013/2014
Dilarang memperbanyak Mojakoe ini tanpa seizin SPA FEUI
 
 

Tarif Bea Meterai: (PP No.24 tahun 2000)

Jenis Dokumen Tarif


- surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan Rp 6.000,00
tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai
perbuatan, kenyataan atau keadaan yang bersifat perdata;
- akta-akta Notaris termasuk salinannya;
- akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah
(PPAT) termasuk rangkap-rangkapnya;
- dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di
muka Pengadilan, yaitu:
1) surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan;
2) surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai
berdasarkan tujuannya, jika digunakan untuk tujuan lain
atau digunakan oleh orang lain, selain dari maksud semula.
- surat yang memuat jumlah uang, yaitu: ≤ Rp 250.000 :
tidak kena bea
1) yang menyebutkan penerimaan uang;
meterai
2) yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan > Rp 250.000 dan
uang dalam rekening di Bank; ≤ Rp 1.000.000 :
3) yang berisi pemberitahuan saldo rekening di Bank; atau Rp 3.000
4) yang berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya > Rp 1.000.000 :
atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan; Rp 6.000
- surat berharga seperti wesel, promes, dan aksep
Cek dan bilyet giro Rp 3.000
Efek atau sekumpulan efek ≤ Rp 1.000.000 :
Rp 3.000
> Rp 1.000.000 :
Rp 6.000

3. Perbedaan Pengaturan PBB Sebelum dan Sesudah UU No.28 tahun 2009


Sebelum terbit UU No.28 tahun 2009, PBB merupakan pajak pusat. Namun, setelah
terbit UU tersebut, BPHTB dan PBB Perdesaan dan Perkotaan yang sebelumnya
menjadi bagian tak terpisahkan dari PBB, menjadi pajak daerah.
Dengan pengalihan ini maka kegiatan proses pendataan, penilaian, penetapan,
administrasi, pemungutan/penagihan dan pelayanan PBB-P2 akan diselenggarakan
oleh Pemerintah Daerah (Kabupaten/Kota). Pada prinsipnya secara administrasi, terjadi
perpindahan pencatatan hasil pemungutan PBB, jika sebelumnya penerimaan PBB
tercatat pada keuangan negara (APBN) dalam penerimaan perpajakan, kemudian
setelah mekanisme peralihan berjalan akan masuk dalam PAD khususnya pajak daerah.

     
 
MOJAKOE Perpajakan 2 UTS Semester Genap 2013/2014
Dilarang memperbanyak Mojakoe ini tanpa seizin SPA FEUI
 
 

4. Perhitungan PBB
Item Penghitungan Jumlah
NJOP Bumi
Rumah Rp 5.000.000 x 200 Rp 1.000.000.000
Hotel Rp 5.000.000 x 800 Rp 4.000.000.000
Total NJOP Bumi Rp 5.000.000.000

NJOP Bangunan
Rumah Rp 2.000.000 x 150 Rp 300.000.000
Jalan ke pintu rumah Rp 2.000.000 x 20 Rp 40.000.000
Hotel Rp 2.000.000 x 1500 Rp 3.000.000.000
Jalan ke hotel Rp 2.000.000 x 100 Rp 200.000.000
Kolam renang hotel Rp 2.000.000 x 25 Rp 50.000.000
Total NJOP Bangunan Rp 3.590.000.000

Total NJOP Rp 8.590.000.000


NJOPTKP Rp 15.000.000
NJOPKP Rp 8.575.000.000
PBB terutang 0,2% x Rp 8.575.000.000 Rp 17.150.000

Soal 2 (40%)

a. Keberatan atas: b. Alasan


1. SKPKB PPh Badan Medical expense dengan sistem reimbursement merupakan
deductible expense, sehingga perusahaan akan mengklaim boleh
membebankan medical expense sebesar 400 juta.
Sedangkan medical expense dalam bentuk pengobatan cuma-
cuma (natura) merupakan nondeductible expense (Pasal 9 ayat 1
huruf e)
Cadangan piutang tak tertagih memang merupakan nondeductible
expense (Pasal 9 ayat 1 huruf c)
Perusahaan menyetujui koreksi fiskal (+) sebesar 400juta (dari
cadangan piutang tak tertagih dan pengobatan cuma-cuma) -> PPh
badan kurang bayar 100 juta (25% x 400juta)
2. SKPKB PPh Pasal Meskipun biaya direksi merupakan deductible expense bagi
21/26 perusahaan, tetapi bagi direksi hal ini merupakan natura, sehingga
bukan merupakan objek PPh 21 (Pasal 4 ayat 3 UU PPh)
3. SKPKB PPN Mobil sedan yang sebelumnya digunakan untuk kendaraan dinas
bukan merupakan Barang Kena Pajak (PPN).
Pasal 1A ayat 2 huruf e UU PPN
‘Yang tidak termasuk dalam penyerahan Barang Kena Pajak
adalah:
Barang Kena Pajak berupa aktiva yang menurut tujuan semula
tidak untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat
pembubaran perusahaan, dan yang Pajak Masukan atas
perolehannya tidak dapat dikreditkan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 ayat (8) huruf b dan huruf c.’

     
 
MOJAKOE Perpajakan 2 UTS Semester Genap 2013/2014
Dilarang memperbanyak Mojakoe ini tanpa seizin SPA FEUI
 
 

c. Ketentuan formal Surat Keberatan belum sepenuhnya dipenuhi oleh perusahaan. Salah
satu yang terlihat jelas di soal adalah satu surat keberatan untuk semua surat ketetapan
pajak (dalam hal ini PPh Badan, PPh 21/26, PPN), padahal seharusnya satu surat untuk
satu surat ketetapan pajak. (PMK No. 194/PMK.03/2007)

d. Terkait pembayaran 1 Februari 2014, perusahaan tidak dikenakan denda. Dalam hal ini
perusahaan mengajukan keberatan, sehingga batas waktu pembayaran kekurangan
pajak tertangguh sampai dengan satu bulan sejak terbitnya Surat Keputusan Keberatan,
sesuai Pasal 25 ayat (7) UU KUP berikut,
“Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan, jangka waktu pelunasan pajak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) atau ayat (3a) atas jumlah pajak yang
belum dibayar pada saat pengajuan keberatan, tertangguh sampai dengan 1 (satu)
bulan sejak tanggal penerbitan Surat Keputusan Keberatan.”
Akan tetapi, perusahaan dikenakan sanksi administrasi berupa bunga atas pajak kurang
bayar yang disetujuinya.
Bunga = 2% x 10 (dari 15 april-1 februari) x Rp 100.000.000 = Rp 20.000.000

e. Abaikan.

f. Perusahaan harus membayar pajak kurang bayar paling lambat satu bulan sejak
terbitnya Surat Keputusan Keberatan (dalam hal ini 1 Juni 2014)
Besaran yang harus dibayar perusahaan:
Pajak Kurang Bayar
PPh Badan = Rp 150.000.000 – Rp 100.000.000 = Rp 50.000.000
PPh 21 = Rp 50.000.000
Total Pajak Kurang Bayar = Rp 100.000.000
Denda = 50% x Rp 100.000.000 = Rp 50.000.000
Total yang harus dibayar = Rp 150.000.000

g. Denda= 50% x Rp 100.000.000 = Rp 50.000.000


Bunga= 2% x 1 x Rp 100.000.000 = Rp 2.000.000
Total sanksi administrasi = Rp 52.000.000
h. Besaran yang harus dibayar perusahaan:
Pajak Kurang Bayar
PPh Badan = Rp 150.000.000 – Rp 100.000.000 = Rp 50.000.000
PPh 21 = Rp 50.000.000
Total Pajak Kurang Bayar = Rp 100.000.000
Denda = 100% x Rp 100.000.000 = Rp 100.000.000
Total yang harus dibayar = Rp 200.000.000

     
 
MOJAKOE Perpajakan 2 UTS Semester Genap 2013/2014
Dilarang memperbanyak Mojakoe ini tanpa seizin SPA FEUI
 
 

Soal 3

1. PT Juara Abadi masih bisa melakukan pembetulan meskipun DJP telah melakukan
pemeriksaan, asalkan DJP belum menerbitkan Surat Ketetapan Pajak (Pasal 8 ayat 4 UU
KUP)
Konsekuensi: pajak yang kurang dibayar yang timbul sebagai akibat dari pengungkapan
ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
beserta sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 50% dari pajak yang kurang dibayar
harus dilunasi oleh Wajib Pajak sebelum laporan tersendiri dimaksud disampaikan (Pasal 8
ayat 5 UU KUP).
Besar pajak kurang dibayar= 150% x (25% x Rp 500.000.000) = Rp 187.500.000
Namun, pemeriksaan tetap dilanjutkan. Apabila hasil pemeriksaan terbukti bahwa laporan
pengungkapan ternyata tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, atas ketidakbenaran
pengungkapan tersebut dapat diterbitkan surat ketetapan pajak.

2. SKPKB PPh Badan = 150% x Rp 250.000.000 = Rp 375.000.000


SKPKB PPN = 150% x Rp 25.000.000 = Rp 37.500.000
Total Pajak Kurang Bayar (beserta sanksi kenaikan) = Rp 412.500.000

3. PT Juara Abadi masih bisa melakukan pembetulan meskipun DJP telah menyelesaikan
pemeriksaan dan menerbitkan SKPKB
Konsekuensi: …., terhadap ketidakbenaran perbuatan Wajib Pajak tersebut tidak akan
dilakukan penyelidikan, apabila Wajib Pajak mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya
tersebut dengan disertai pelunasan kekurangan pembayaran jumlah pajak yang sebenarnya
terutang beserta sanksi administrasi berupa denda sebesar 150% dari jumlah pajak kurang
dibayar (Pasal 8 ayat 3 UU KUP).
Besar pajak kurang dibayar = Rp 300.000.000 + 150% x Rp 300.000.000
= Rp 750.000.000

     
 
MOJAKOE Perpajakan 2 UTS Semester Genap 2013/2014
MOJAKOE

PAJAK 2

Dilarang memperbanyak mojakoe ini tanpa seijin SPA FEUI

Mojakoe dapat didownload di www.spa-feui.com

FB: SPA FEUI Twitter: @spafeui


Presented by: SPA-Tax Study Division Mojakoe Pajak 2

Ujian Tengah Semester


Semester Genap 2009/2010

MATA KULIAH : PERPAJAKAN 2


DOSEN : YULIANTI
WAKTU : 150 MENIT
SIFAT UJIAN : OPEN BOOKS

Soal 1 (10%)
Adinda mendapat hibah wasiat dari kakeknya sebuah rumah yang terletak di daerah Cikarang
dengan NJOP PBB senilai Rp. 600.000.000. Nilai pasar atas properti tersebut adalah sebesar Rp.
750.000.000.
a. Berapakah BPTHB yang terhutang oleh Bapak Semar ketika mendaftarkan perolehan
haknya tersebut?
b. Berapakah PBB yang terhutang oleh Bapak Semar dari objek pajak tersebut? (Asumsi
NJOPTKP adalah sebesar Rp. 12.000.000)

Soal 2 (15%)
PT Dunia Indah bergerak dalam bidang konsultasi perpajakan yang berlokasi di Cilandak Jakarta
Selatan. Pada bulan Maret 2010 PT Dunia Indah berniat membuka dua cabang baru di Bandung
dan Surabaya.
Berdasarkan keterangan di atas, jelaskan:
1. Bagaimana ketentuan mengenai keharusan NPWP bagi PT Dunia Indah dan cabang-
cabangnya!
2. Bagaimana PT Dunia Indah menjalankan kewajiban penyetoran dan pelaporan pajaknya!

Soal 3 (30%)
Pada bulan Agustus 2011, PT Bintang Kejora diperiksa oleh KPP untuk PPh Badan dan PPh 21
tahun 2009. Dalam SPT PPh Badan 2009 perusahaan melaporkan PPh terhutang sebesar Rp 200
juta dan PPh 21 selama tahun 2009 adalah sebesar 150 juta.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, diterbitkan SKPKB secara jabatan karena pihak pemeriksa
menganggap PT Bintang Kejora tidak kooperatif dalam pemeriksaan. Besarnya pajak yang kurang
dibayar adalah:
PPh Badan Rp 300 juta
PPh 21 Rp 180 juta
Perusahaan memutuskan untuk tidak mengajukan keberatan atas SKPKB tersebut. Pada bulan
Desember 2011, seorang pegawai baru perusahaan menemukan bahwa perusahaan melakukan
kesalahan dalam penghitungan PPh 21 di mana perusahaan tidak memasukkan premi asuransi
yang ditanggung perusahaan ke dalam objek PPh 21. Berdasarkan perhitungan ulang yang
dilakukan ditemukan bahwa terjadi kekurangan pembayaran pajak sebagai berikut:
- Untuk PPh 21 2009, masih terdapat kurang bayar Rp 20 juta dibandingkan hasil
pemeriksaan
- Untuk PPh 21 2010, terdapat kurang bayar Rp 50 juta. Belum dilakukan pemeriksaan
pajak untuk PPh 21 2010

Berdasarkan Informasi di atas, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:


1. Tentukanlah besarnya jumlah yang ditagih dalam SKPKB dan kapan sebaiknya perusahaan
melunasinya apabila diketahui SKPKB tersebut diterbitkan pada tanggal 19 September
2011!
2. Jelaskan apa yang harus dilakukan oleh PT Bintang Kejora menyangkut ditemukannya
kesalahan dalam penghitungan PPh 21 2009 dan 2010! Jelaskan juga tax exposure atas
tindakan perusahaan tersebut!

Soal 4 (45%)
PT Indah merupakan sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang pabrikan olahraga. Pada
tanggal 15 Agustus 2010 perusahaan mendapat surat perintah pemeriksaan dari KPP tempatnya
terdaftar untuk PPh Badan tahun pajak 2009 dan pemeriksaan tersebut selesai pada tanggal 20
Oktober 2010. SKPKB diterbitkan 25 Oktober 2010 dengan koreksi sebagai berikut:
 Pemeriksa melakukan koreksi positif atas penghasilan usaha sebesar Rp 800 juta karena
terdapat perbedaan jumlah penghasilan usaha dalam PPh Badan dengan total omset PPN
Januari-Desember 2009. Perusahaan berstatus PKP dan seluruh produknya adalah BKP.
 Pemeriksa melakukan koreksi positif berupa pengurangan beban pegawai sebesar Rp 500
juta dikarenakan pemeriksa menganggap beban tersebut tergolong natura. Beban yang

Semester Genap 2010/2011 Page 2


Presented by: SPA-Tax Study Division Mojakoe Pajak 2

dikoreksi oleh pengusaha tersebut adalah pajak penghasilan yang ditanggung oleh
perusahaan. Perusahaan menganggap beban ini adalah tunjangan pajak dan telah
memasukkannya ke dalam perhitungan PPh 21 tahun 2009
 Pemeriksa melakukan koreksi positif sebesar Rp 100 juta atas beban jamuan tamu karena
perusahaan tidak mencantumkan instansi tamu yang dijamu dalam daftar yang dibuatnya.
Perusahaan tidak mengetahui bahwa hal tersebut harus dicantumkan dalam daftar
norminatif
 Pemeriksa melakukan koreksi atas beban bonus pegawai sebesar Rp 100 juta karena
beban ini dianggap merupakan penyisihan perusahaan dan bonus sebenarnya baru
dibayarkan pada tahun 2010
 Kredit pajak PPh 23 perusahaan sebesar Rp 10 juta tidak diakui karena konfirmasi yang
dikirimkan KPP kepada pemotong pajak tidak dijawab

Perusahaan berniat mengajukan keberatan atas SKPKB yang diterbitkan tersebut karenanya dalam
pembahasan akhir hasil pemeriksaan perusahaan hanya bersedia membayar sebesar 20%. Surat
keberatan dikirimkan perusahaan pada tanggal 5 November 2010, karena direktur utama
perusahaan tidak ada di tempat, surat tersebut ditandatangani oleh manager keuangan
perusahaan.

Berdasarkan informasi di atas, tentukanlah:


1. Untuk setiap koreksi yang dilakukan pemeriksa pajak, jelaskan:
a. Apakah Anda akan mengajukan keberatan atas koreksi yang dilakukan pemeriksa pajak?
Jelaskan alasan Anda!
b. Sebutkan bukti-bukti yang akan Anda sertakan apabila Anda berniat mengajukan
keberatan
2. Jelaskan apakah surat keberatan yang disusun perusahaan telah memenuhi syarat formal untuk
pengajuan keberatan menurut Undang-Undang? Jelaskan jawaban Anda.
3. Jelaskan risiko yang dihadapi perusahaan dengan melunasi hanya 20% dari jumlah yang ditagih
dalam SKPKB!
4. Apabila perusahaan melunasi 100% jumlah dalam SKPKB, jelaskan apa yang akan terjadi
apabila ternyata keberatan perusahaan diterima sebagian oleh KPP!

Jawaban:

Soal 1
a. BPTHB yang terhutang = 5% * (NPOP-NPOPTKP) * 50%
= 5% * (750.000.000-300.000.000) * 50%
= 22.500.000 * 50%
= 11.250.000
Note: 50% dikarenakan hibah wasiat

b. PBB yang terhutang = 0.5% * (20% * (600.000.000-12.000.000))


= 0.5% * (20% * 588.000.000)
= 0.5% * 117.600.000
= 588.000

Soal 2
1. PT Dunia Indah dalam kasus ini telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif. Oleh karena
itu PT Dunia Indah wajib mendaftarkan diri ke KPP wilayah tempat menjalankan usaha (sesuai
dengan UU KUP No 28 Tahun 2007 yang telah direvisi menjadi UU pasal 16 Tahun 2009, pasal 2
ayat 1). Setelah itu, PT Dunia Indah akan diberikan NPWP. Jadi, NPWP dari PT Dunia Indah akan
berstatus di wilayah Cilandak.
Adapun Fungsi dari NPWP ini adalah untuk sarana dalam administrasi perpajakan, identitas
wajib pajak, dan menjaga ketertiban pembayaran pajak.
Dalam kasus ini, PT Dunia Indah berniat membuka 2 cabang baru di Bandung dan Surabaya.
Dan pusat serta cabang pada prinsipnya adalah satu entitas. Oleh karena itulah ketika pusat telah
dikukuhkan/memperoleh NPWP, maka cabang hanya perlu meminta NPWP tersebut. Apabila WP
pemohon berstatus cabang, maka harus melampirkan fotokopi kartu NPWP atau bukti pendaftaran
WP kantor pusatnya untuk dapat memperoleh NPWP.
Digit NPWP:
xx (Jenis WP) xxxxxx (Kode WP) x (Cek Digit) xxx (Kode KPP) xxx (Kode Cabang)
Dari digit NPWP ini, cabang dari PT Dunia Indah (di Bandung dan Surabaya) akan terlihat dari
digit kode KPP atau digit kode cabang.

Semester Genap 2010/2011 Page 3


Presented by: SPA-Tax Study Division Mojakoe Pajak 2

2. Pembayaran dan penyetoran pajak diatur dalam UU KUP pasal 9 dan 10, serta diatur lebih
lanjut dalam PMK No. 184/ PMK. 03/2007.
Dalam PMK No. 184/ PMK. 03/2007, dijelaskan bahwa pembayaran dan penyetoran pajak
dilakukan di kantor pos atau bank yang ditunjuk oleh Mentri Keuangan. Dalam KUP pasal 10 ayat
1, dijelaskan bahwa pembayaran dan penyetoran pajak harus dilakukan dengan menggunakan
formulir surat setoran pajak (SSP) atau sarana administrasi lain yang disamakan dengan SSP. Lalu
dalam KUP pasal 10 ayat 2 juga dijelaskan mengenai fungsi SSP untuk bukti pembayaran pajak
hanya apabila telah disahkan oleh pejabat kantor penerima pembayaran yang berwenang atau
apabila telah medapatkan validasi dan menjadi dianggap sah apabila telah divalidasi dengan NTPN
(Nomor Transaksi Penerimaan Pajak).
Dalam pasal 9 ayat 1 UU KUP No 28 Tahun 2007 yang telah direvisi menjadi UU No 16 Tahun
2009, dijelaskan bahwa jatuh tempo pembayaran dan penyetoran pajak adalah paling lama 15
hari setelah saat terhutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak. Dalam pasal 3 ayat 1 PMK No.
184/ PMK. 03/2007, yaitu dalam hal tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak
bertepatan dengan hari libur, maka pembayaran atau penyetoran dapat dilakukan pada hari kerja
sebelumnya.

PT Dunia Indah wajib menyampaikan SPT (pelaporan) ke KPP tempat PT Dunia Indah terdaftar.
Batas waktu penyampaian SPT diatur dalam UU KUP pasal 3 ayat 3:
1. SPT Masa : paling lama 20 hari setelah akhir tahun pajak
2. SPT Tahunan PPh Orang Pribadi : paling lama 3 bulan setelah akhir tahun pajak
3. SPT Tahunan Badan : paling lama 4 bulan setelah akhir tahun pajak

Jadi, PT Dunia Indah harus melakukan pelaporan SPT-nya paling lambat 4 bulan setelah akhir
tahun pajak. Dalam pasal 6, dijelaskan bahwa SPT dapat disampaikan secara langsung ataupun
melalui pos.
Pasal 8 ayat 2 PMK No. 184/ PMK. 03/ 2007, yaitu dalam hal batas akhir pelaporan bertepatan
dengan hari libur, maka pelaporan dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.
Dalam UU KUP pasal 3 ayat 4, PT Dunia Indah dapat memperpanjang jangka waktu pelaporan
paling lama 2 bulan dengan cara menyampaikan pemberitahuan secara tertulis Kepada Direktur
Jendral Pajak dan juga penghitungan sementara pajak terhutang berdasarkan ketentuan Peraturan
Menteri Keuangan.

Soal 3

1. Berdasarkan soal, dijelaskan bahwa SKPKB diterbitkan secara jabatan dan besarnya pajak yang
kurang dibayar adalah PPh Badan 300 juta dan PPh 21 180 juta.

Atas kurang bayar inilah, perusahaan akan dikenakan sanksi administrasi berupa bunga 2%
(sesuai dengan pasal 13 ayat 2) serta dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan 50% untuk
PPh Badan dan kenaikan 100% untuk PPh 21-PPh Potput (sesuai dengan pasal 13 ayat 3).
Jumlah yang ditagih dalam SKPKB:
1. PPh Badan = 300 juta + (2% * 17 bulan * 300 juta) + (50% * 300 juta)
= 300 juta + 102 juta + 150 juta
= 552 juta
2. PPh 21 = 180 juta + (2% * 17 bulan * 180 juta) + (100% * 180 juta)
= 180 juta + 61.2 juta + 180 juta
= 421.2 juta
*asumsi refer ke UU baru – PPh badan jatuh tempo 4 bulan setelah akhir tahun pajak
Menurut UU KUP pasal 9 ayat 3, dijelaskan bahwa perusahaan harus melunasi dalam jangka waktu
1 bulan sejak tanggal SKPKB tersebut diterbitkan. Jadi paling lama harus dilunasi sebelum 19
Oktober 2011.

2. Untuk PPh 21 tahun 2009, menurut pasal 15 ayat 3 UU KUP, dijelaskan bahwa kenaikan sebesar
100% atas terbitnya SKPKBT tidak akan dikenakan kepada WP apabila SKPKBT tersebut
dikeluarkan berdasarkan keterangan tertulis dari WP atas kehendak sendiri, dengan syarat DJP
belum melakukan pemeriksaan lagi.

Jadi, jika perusahaan melakukan pemberitahuan bahwa masih terdapat kurang bayar 20 juta
untuk PPh 21 tahun 2009, maka DJP akan tetap mengeluarkan SKPKBT, namun perusahaan tidak
dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan 100% (dalam soal dijelaskan bahwa DJP belum
melakukan pemeriksaan lagi).

Semester Genap 2010/2011 Page 4


Presented by: SPA-Tax Study Division Mojakoe Pajak 2

Berdasarkan pasal 8 ayat 1a, dijelaskan bahwa SPT dapat dibetulkan paling lama 2 tahun
sebelum daluwarsa penetapan (belum ada pemeriksaan – pasal 8 ayat 1).
Kasus untuk PPh 2010 ini belum dilakukan pemeriksaan, jadi perusahaan masih dapat
melakukan pembetulan SPT (selain itu, masih belum melewati jangka waktu 2 bulan sebelum
daluwarsa penetapan). Namun, karena pembetula ini menyebabkan hutang pajak menjadi lebih
besar 50 juta, maka kepada perusahaan tersebut dikenai sanksi berupa bunga sebesar 2% atas
jumlah pajak yang kurang dibayar, dihitung sejak saat penyampaian surat pemberitahuan berakhir
sampai dengan tanggal pembayaran. Hal ini sesuai dengan UU KUP pasal 8 ayat 2.

Soal 4
1. ~ Mengajukan keberatan
- pemeriksaan hanya membandingkan antara jumlah penghasilan usaha dengan total omset
PPN. Perusahaan bisa saja memperoleh penghasilan usaha lain, selain dari omset PPN
tersebut. Dalam UU PPh pasal 4 ayat 1, dijelaskan berbagai macam jenis pendapatan. Oleh
karena itu, perusahaan seharusnya mengajukan keberatan.
- bukti yang akan disertakan : tanda bukti/ hasil penerimaan (print out) yang menunjukkan
bahwa perusahaan memperoleh penghasilan lain selain dari omset PPN.
~ Tidak mengajukan keberatan
- Pemeriksaan yang dilakukan oleh pemeriksa sudah tepat karena sesuai dengan UU PPh pasal
9 ayat 1 huruf h, yakni pajak penghasilan itu merupakan objek pajak yang tidak boleh
dikurangkan dalam menghitung PKP dari wajib pajak.
~ Mengajukan keberatan
- Beban jamuan tamu tersebut dilakukan oleh perusahaan dengan diberikan kepada semua
karyawan (pengeluaran untuk penyediaan makanan/minuman bagi seluruh karyawan) sesuai
dengan 466/ KMK. 04/ 2000
- Bukti yang akan disertakan : bukti yang menunjukkan bahwa jamuan tersebut berlaku umum.
~ Tidak mengajukan keberatan
- Sebenarnya jika bonus tersebut dibayarkan pada tahun 2009, perusahaan harus mengajukan
keberatan karena bonus adalah salah satu yang boleh dibebankan (UU PPh pasal 6 ayat 1
huruf a(2)). Namun, karena ini adalah bonus untuk tahun 2010, maka pemeriksaan sudah
tepat.
~ Mengajukan keberatan
- Jika perusahaan sudah benar-benar membayar, maka kredit pajak tersebut seharusnya
diakui.
- Bukti yang disertakan : tanda bukti/fotokopi bukti telah dilakukannya pemotongan atas PPh
23.

2. Berdasarkan PMk No 194/ PMK. 03/ 2007, dijelaskan bahwa surat keberatan ditandatangani
oleh WP, dan dalam hal surat keberatan ditandatangani oleh bukan WP, surat keberatan tersebut
harus dilampiri dengan surat kuasa khusus.
Surat keberatan dari PT Indah yang ditandatangani oleh manager keuangan perusahaan harus
disertai dengan surat kuasa khusus agar surat keberatan tersebut diterima dan akan
dipertimbangkan oleh DJP.

3. Perusahaan hanya membayar 20% dari jumlah yang ditagih dalam SKPKB ini akan memiliki
resiko yang sangat besar bagi perusahaan jika keputusan dari keberatan tersebut adalah menolak
atau hanya diterima sebagian. Menurut UU KUP pasal 25 ayat 9, dijelaskan bahwa keberatan WP
yang ditolak atau dikabulkan sebagian, maka WP tersebut akan dikenai sanksi administrasi berupa
denda sebesar 50% dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dengan pajak yang telah
dibayar sebelum mengajukan keberatan.
Oleh karena itu, resiko terbesar yang akan dihadapi oleh perusahaan adalah sanksi denda
sebesar 50% jika keberatan ditolak atau diterima sebagian.

4. Yang akan terjadi adalah DJP melakukan restitusi pajak dan adanya imbalan bunga. Sesuai
dengan UU KUP pasal 27 a ayat 1, WP akan diberikan imbalan bunga sebesar 2% per bulan untuk
paling lama 24 bulan. Dan karena ini adalah masalah SKPKB, maka imbalan bungan tersebut
dihitung sejak tanggal pembayaran yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak sampai
dengan diterbitkannya surat keputusan keberatan.

“In SPA, we believe that associates are our most valuable assets, that’s why we transform
them from good to become excellent”

Semester Genap 2010/2011 Page 5


Presented By Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2

MOJAKOE

PERPAJAKAN 2

Dilarang Memperbanyak Mojakoe ini tanpa seijin SPA FEUI


Mojakoe dapat didownload di www.spa-feui.com

Fb: SPA FEUI Twitter: @spafeui


Presented By Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2
Presented By Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2
Presented By Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2
Presented By Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2
Presented By Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2

Jawaban :

Soal 1
a)

Deskripsi a b c cara
Rp
Tanah 10,000 394000 3,940,000,000.00 axb
Tipe
Rp
21 300 21 365000 2,299,500,000.00 axbxc
Rp
36 200 36 365000 2,628,000,000.00 axbxc
Rp
48 100 48 365000 1,752,000,000.00 axbxc
Sarana
Rp
Tangga + Lobi 1,500 365000 547,500,000.00 axb
Area jalan + tempat Rp
parkir 2,000 365000 730,000,000.00 axb
Rp
NJOP Gabungan 11,897,000,000.00

Total Luas All tipe 18,300


Type 21
Rp
NJOP 21 / 18300 x 11,897,000,000 = 13,652,295.08
Rp
NJOPTKP 15,000,000.00
Rp
NJOPKP (1,347,704.92)
Rp
PBB Terutang -
Type 36
Rp
NJOP 36 / 18300 x 11,897,000,000 = 23,403,934.43
Rp
NJOPTKP 15,000,000.00
Rp
NJOPKP 8,403,934.43
Rp
PBB Terutang 8,403,934 x 0,25% 21,009.84
Type 48
Rp
NJOP 48 / 18300 x 11,897,000,000 = 31,205,245.90
Rp
NJOPTKP 15,000,000.00
Presented By Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2

Rp
NJOPKP 16,205,246 x 0,25% 16,205,245.90
Rp
PBB Terutang 40,513.11

b)

NPOP Rp 800,000,000.00
NPOPTKP Rp 100,000,000.00
Rp 700,000,000.00
5%
Rp 35,000,000.00

Bea
Materai 6000

Soal 2
1. KUP Pasal 3 ayat 4 dan 5
Ahmadi dapat memperpanjang jangka waktu penyaimpaian SPT paling lama 2 bulan.
Cara nya menyampaikan pemberitahuan tertulis kepada DJP. Dimana Ahmadi harus
menyertakan perhitungan sementara pajak yang terutang dalam 1 tahun pajak dan
SSP sebagai bukti pelunasan kekurangan pajak yang terutang.

2. 20 Juta
3. KUP Pasal 9 ayat 2b
Iya ada sanksi, sebesar 2% . Jadi sanksi -> 2%*1*20.000.000 = 400.000
4. Iya Berpengaruh. Ahmadi harus melakukan pembetulan SPT.
Ada sanksi atas hal ini yaitu 2% sebulan atas pajak yang kurang bayar. (KUP Pasal 8 Ayat 2)
Perhitungan tidak dapat dilakukan , karena informasi mengenai jumlah kredit pajak tidak
tersedia.
5. Tidak, karena setiap wajib pajak yang memenuhi persyaratan subjektif dan objektif wajib
mendaftarkan diri untuk mendapat NPWP. KUP Pasal 2 ayat 1
6. Bisa, dasar hukumnya KUP Pasal 13 ayat 1 e
7. Yang harus dilakukan oleh fiskus adalah menerbitkan STP (Pasal 14 atat 1 KUP)
8. Sanksi telat bayar

Lama telat Jumlah kurang Denda


Pasal Bayar bayar perbulan Denda
21/26 Rp1 Rp10,000,000 2% Rp200,000
23/26 - - - -
4(2) - - - -
PPN Rp1 Rp75,000,000 2% Rp1,500,000
Presented By Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2

Sanksi telat lapor SPT Masa

Pasal Denda
Rp
21/26 100,000.00
Rp
23/26 100,000.00
Rp
4(2) 100,000.00
Rp
PPN 500,000.00

Soal 3
a)
1. Pendapatan dari beda kurs bukan merupakan pajak final, jadi jumlap pendapatan
kena pajaknya Understated
2. Pasal 8 KUP ayat 1
Wajib pajak dapat membetulkan sendiri SPT dengan syarat menyampaikan
peraturan tertulis ke DJP

b)
1. Pengantian biaya berobat ini bukan natura. Jadi dari sisi pegawai ini menambah
penghasilan (Taxable), dan dari sisi perusahaan ini Deductable. Pasal 4 Ayat dan 9 ayat 1
e UU PPH
2. Berdasarkan pasal 9 ayat 1 g UU PPH, pajak penghasilan adalah non deductable
expense. Selain itu beban yang terkait dengan pajak final juga tidak boleh dibebankan.

c) J
1. Dengan asumsi perusahaan belum melakukan pembetulan SPT, maka karena sudah
dilakukan pemeriksaan denda nya adalah 150% . Pasal 8 ayat 3 KUP
2. Koreksi pertama diterima, karena pajak untuk pendapatan perbedaan kurs bukan
pajak final. Koreksi kedua tidak diterima, karena biaya pengobatan tersebut dapat
dibebankan oleh perusahaan.
3.

Item Perusahaan ABC Koreksi Hasil Koreksi


Rp Rp
Pendapatan Usaha 6,567,402,499.00 6,567,402,499.00
Rp Rp Rp
Beda Kurs 150,528,325.00 1,268,378,422.00 1,418,906,747.00
Rp Rp
Jumlah Pendapatan 6,717,930,824.00 7,986,309,246.00
Rp Rp Rp
Biaya Langsung 3,268,542,335.00 120,402,379.00 3,148,139,956.00
Biaya tidak Rp Rp
langsung 2,328,432,648.00 2,328,432,648.00
Presented By Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2

Rp Rp
Jumlah biaya 5,596,974,983.00 5,476,572,604.00
Rp Rp
Laba Kena Pajak 1,120,955,841.00 2,509,736,642.00
Rp Rp
Pajak Terutang 280,238,960.25 627,434,160.50
Rp
PPh 23-dipotong 120,402,379.00
Rp
Sisa utang pajak 507,031,781.50
Presented By Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2

MOJAKOE

PERPAJAKAN 2

Dilarang Memperbanyak Mojakoe ini tanpa seijin SPA FEUI


Mojakoe dapat didownload di www.spa-feui.com

Fb: SPA FEUI Twitter: @spafeui


Presented By Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2
Presented By Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2
Presented By Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2
Presented By Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2
Presented By Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2

Jawaban :

Soal 1
a)

Deskripsi a b c cara
Rp
Tanah 10,000 394000 3,940,000,000.00 axb
Tipe
Rp
21 300 21 365000 2,299,500,000.00 axbxc
Rp
36 200 36 365000 2,628,000,000.00 axbxc
Rp
48 100 48 365000 1,752,000,000.00 axbxc
Sarana
Rp
Tangga + Lobi 1,500 365000 547,500,000.00 axb
Area jalan + tempat Rp
parkir 2,000 365000 730,000,000.00 axb
Rp
NJOP Gabungan 11,897,000,000.00

Total Luas All tipe 18,300


Type 21
Rp
NJOP 21 / 18300 x 11,897,000,000 = 13,652,295.08
Rp
NJOPTKP 15,000,000.00
Rp
NJOPKP (1,347,704.92)
Rp
PBB Terutang -
Type 36
Rp
NJOP 36 / 18300 x 11,897,000,000 = 23,403,934.43
Rp
NJOPTKP 15,000,000.00
Rp
NJOPKP 8,403,934.43
Rp
PBB Terutang 8,403,934 x 0,25% 21,009.84
Type 48
Rp
NJOP 48 / 18300 x 11,897,000,000 = 31,205,245.90
Rp
NJOPTKP 15,000,000.00
Presented By Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2

Rp
NJOPKP 16,205,246 x 0,25% 16,205,245.90
Rp
PBB Terutang 40,513.11

b)

NPOP Rp 800,000,000.00
NPOPTKP Rp 100,000,000.00
Rp 700,000,000.00
5%
Rp 35,000,000.00

Bea
Materai 6000

Soal 2
1. KUP Pasal 3 ayat 4 dan 5
Ahmadi dapat memperpanjang jangka waktu penyaimpaian SPT paling lama 2 bulan.
Cara nya menyampaikan pemberitahuan tertulis kepada DJP. Dimana Ahmadi harus
menyertakan perhitungan sementara pajak yang terutang dalam 1 tahun pajak dan
SSP sebagai bukti pelunasan kekurangan pajak yang terutang.

2. 20 Juta
3. KUP Pasal 9 ayat 2b
Iya ada sanksi, sebesar 2% . Jadi sanksi -> 2%*1*20.000.000 = 400.000
4. Iya Berpengaruh. Ahmadi harus melakukan pembetulan SPT.
Ada sanksi atas hal ini yaitu 2% sebulan atas pajak yang kurang bayar. (KUP Pasal 8 Ayat 2)
Perhitungan tidak dapat dilakukan , karena informasi mengenai jumlah kredit pajak tidak
tersedia.
5. Tidak, karena setiap wajib pajak yang memenuhi persyaratan subjektif dan objektif wajib
mendaftarkan diri untuk mendapat NPWP. KUP Pasal 2 ayat 1
6. Bisa, dasar hukumnya KUP Pasal 13 ayat 1 e
7. Yang harus dilakukan oleh fiskus adalah menerbitkan STP (Pasal 14 atat 1 KUP)
8. Sanksi telat bayar

Lama telat Jumlah kurang Denda


Pasal Bayar bayar perbulan Denda
21/26 Rp1 Rp10,000,000 2% Rp200,000
23/26 - - - -
4(2) - - - -
PPN Rp1 Rp75,000,000 2% Rp1,500,000
Presented By Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2

Sanksi telat lapor SPT Masa

Pasal Denda
Rp
21/26 100,000.00
Rp
23/26 100,000.00
Rp
4(2) 100,000.00
Rp
PPN 500,000.00

Soal 3
a)
1. Pendapatan dari beda kurs bukan merupakan pajak final, jadi jumlap pendapatan
kena pajaknya Understated
2. Pasal 8 KUP ayat 1
Wajib pajak dapat membetulkan sendiri SPT dengan syarat menyampaikan
peraturan tertulis ke DJP

b)
1. Pengantian biaya berobat ini bukan natura. Jadi dari sisi pegawai ini menambah
penghasilan (Taxable), dan dari sisi perusahaan ini Deductable. Pasal 4 Ayat dan 9 ayat 1
e UU PPH
2. Berdasarkan pasal 9 ayat 1 g UU PPH, pajak penghasilan adalah non deductable
expense. Selain itu beban yang terkait dengan pajak final juga tidak boleh dibebankan.

c) J
1. Dengan asumsi perusahaan belum melakukan pembetulan SPT, maka karena sudah
dilakukan pemeriksaan denda nya adalah 150% . Pasal 8 ayat 3 KUP
2. Koreksi pertama diterima, karena pajak untuk pendapatan perbedaan kurs bukan
pajak final. Koreksi kedua tidak diterima, karena biaya pengobatan tersebut dapat
dibebankan oleh perusahaan.
3.

Item Perusahaan ABC Koreksi Hasil Koreksi


Rp Rp
Pendapatan Usaha 6,567,402,499.00 6,567,402,499.00
Rp Rp Rp
Beda Kurs 150,528,325.00 1,268,378,422.00 1,418,906,747.00
Rp Rp
Jumlah Pendapatan 6,717,930,824.00 7,986,309,246.00
Rp Rp Rp
Biaya Langsung 3,268,542,335.00 120,402,379.00 3,148,139,956.00
Biaya tidak Rp Rp
langsung 2,328,432,648.00 2,328,432,648.00
Presented By Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2

Rp Rp
Jumlah biaya 5,596,974,983.00 5,476,572,604.00
Rp Rp
Laba Kena Pajak 1,120,955,841.00 2,509,736,642.00
Rp Rp
Pajak Terutang 280,238,960.25 627,434,160.50
Rp
PPh 23-dipotong 120,402,379.00
Rp
Sisa utang pajak 507,031,781.50
 
 
   
MOJAKOE  
Perpajakan   2  

Dilarang memperbanyak MOJAKOE ini tanpa


seizin SPA FEUI. Mojakoe dapat didownload di
www.spa-feui.com

Official Learning Partner: OfficialMedia Partner:

@spafeui SPA FEUI www.spa-feui.com


Dilarang memperbanyak Mojakoe ini tanpa seizin SPA FEUI
 

MOJAKOE Perpajakan 2
Ujian Tengah Semester
Semester Gasal Tahun 2012/2013
 
Soal  1  
Pak  Waluyo  yinggal  di  Jalan  Harapan  I,  Depok.  Rumahnya  memiliki  luas  120  m2  dan  berdiri  di  
atas   tanah   seluas   200   m2.   NJOP   bangunan   untuk   rumahnya   adalah   Rp   1.650.000/m2  
sementara  NJOP  atas  tanahnya  adalah  Rp  600.000/m2.  Selain  itu,  Pak  Waluyo  juga  memiliki  
sebidang   lahan   di   Jalan   Kekupu,   Depok   seluas   100   m2   dengan   NJOP   Rp   820.000/m2.   Pak  
Waluyo  telah  melaporkan  seluruh  propertinya  ini  dalam  SPOP-­‐PBB  sesuai  kondisi  1  Januari  
2011.  Pada  tanggal  3  Maret  2011,  Pak  Waluyo  selesai  melakukan  perluasan  rumah  dengan  
menambahkan   sebuah   kamar   seluas   10   m2.   Meskipun   penambahan   kamar   ini   belum  
dilaporkan   dalam   SPOP-­‐PBB   2011   namun   Pak   Waluyo   telah   melunasi   SPPT-­‐PBB   2011   tepat  
pada   waktunya.   Pemerintah   Kota   Depok   telah   menetapkan   peraturan   PBB   sebagai   pajak  
daerah  dengan  ketentuan  NJOPTKP  Rp  120.000.000,  tidak  ada  NJKP,  dan  tarif  PBB  0,3%.  
 
Pada  pertengahan  tahun  2011,  Pak  Waluyo  menerima  warisan  berupa  tanah  seluas  500  m2  
di   Ungaran   dari   orang   tuanya   yang   baru   saja   meninggal   dunia.   Nilai   pasar   untuk   tanah  
warisan  tersebut  adalah  Rp  450.000.000  sementara  NJOP  nya  Rp  800.000/m2.  Di  atas  tanah  
warisan  tersebut  berdiri  rumah  seluas  150  m2  dengan  NJOP  bangunan  Rp  1.460.000/m2  yang  
menjadi   hak   waris   Ibu   Widyawati,   adik   Pak   Waluyo.   Berdasarkan   kesepakatan,   rumah  
warisan   tersebut   dijual   oleh   Ibu   Widyawati   kepada   Pak   Waluyo   seharga   Rp   500.000.000.  
Dokumen-­‐dokumen   terkait   transaksi   ini   seperti   akta   waris,   akta   jual   beli,   bukti   transfer   uang  
melalui   bank,   dan   Izin   Mendirikan   Bangunan   (IMB)   telah   lengkap.   Pemerintah   Kabupaten  
Ungaran  telah  menetapkan  BPHTB  sebagai  pajak  daerah  dengan  ketentuan  NPOPTKP  untuk  
hak   waris   sebesar   Rp   300.000.000   dan   NPOPTKP   untuk   selain   hak   waris   sebesar   Rp  
60.000.000.  
 
Setelah   membeli   rumah   dari   adiknya,   Pak   Waluyo   memutuskan   untuk   pindah   ke   Ungaran  
dan  menjual  seluruh  propertinya  di  Depok  pada  akhir  tahun  2011.  Harga  penjualan  seluruh  
properti   Pak   Waluyo   di   Depok   tersebut   adalah   Rp   600.000.000.   Dahulu,   Pak   Waluyo  
menghabiskan  biaya  sebesar  Rp  260.000.000  untuk  membeli  tanah  dan  membangun  rumah  
di  Jalan  Harapan  I,  sedangkan  lahan  di  Jalan  Kekupu  sebelumnya  dibeli  Pak  Waluyo  seharga  
Rp  125.000.000.  Dari  transaksi  penjualan  ini  Pak  Waluyo  telah  menerima  uang  muka  sebesar  
Rp   400.000.000.   Dokumen-­‐dokumen   terkait   transaksi   ini   seperti   kuitansi   penerimaan   uang  
muka,  akta  jual  beli,  dan  IMB  telah  lengkap.  
 
Pertanyaan:  
A. Hitung   PBB   yang   terutang   atas   properti   Pak   Waluyo   di   Depok   sebelum   akhirnya  
dijual.  
B. Hitung   BPHTB   yang   terutang   atas   transaksi   penerimaan   tanah   warisan   dan  
pembelian  rumah  dari  Ibu  Widyawati.  

MOJAKOE Perpajakan 2 2 UTS Semester Gasal 2012/2013


Dilarang memperbanyak Mojakoe ini tanpa seizin SPA FEUI
 
C. Hitung  PPHTB  yang  terutang  atas  transaksi  penjualan  properti  Pak  Waluyo  di  Depok  
pada  akhir  tahun  2011  dan  bagaimana  pelaporan  PPHTB  tersebut  dalam  SPT  PPh  Pak  
Waluyo?  
D. Identifikasikan   dokumen-­‐dokumen   yang   terutang   bea   materai   dalam   kasus   di   atas  
dan  tentukan  besarnya  bea  materai  yang  terutang  untuk  setiap  dokumen.  
 
Soal  2  
Pada   bulan   Maret   2012   CV   Ibuku,   perusahaan   yang   bergerak   di   bidang   manufaktur  
memperkirakan  SPT  PPh  tahun  pajak  2011  nya  tidak  akan  selesai  tepat  waktu,  oleh  karena  
itu  perusahaan  mengajukan  permohonan  penundaan  penyampaian  SPT.  Dalam  perhitungan  
sementaranya,   pajak   yang   terhutang   menurut   perhitungan   perusahaan   adalah   75   juta  
Rupiah,  dan  telah  dilunasi  oleh  perusahaan.  
 
Pada   bulan   Juni   2012   akhirnya   laporan   keuangan   perusahaan   selesai,   dan   ternyata   pajak  
yang  terhutang  adalah  100  juta  Rupiah.  Perusahaan  melunasi  kekurangan  pajak  sebesar  25  
juta  Rupiah  tersebut  pada  bulan  Juli  2012.  
 
Pertanyaan:  
1. Apakah  ada  sanksi  yang  akan  diterima  perusahaan?  Berapa  besarnya?  
 
Pada   bulan   Agustus   2012,   perusahaan   menerima   Surat   Ketetapan   untuk   tahun   pajak   2008  
yang   menyatakan   bahwa   perusahaan   lebih   bayar   sebesar   20   juta   Rupiah   saja,   padahal  
perusahaan   telah   mengompensasikan   kelebihan   bayar   tahun   2008   sebesar   50   juta   Rupiah  
untuk  tahun  pajak  2009.  
 
Pertanyaan:  
2. Apa  yang  harus  dilakukan  perusahaan  setelah  mengetahui  bahwa  kerugian  yang  dapat  
dikompensasi   sebenarnya   hanya   20   juta   Rupiah?   Apakah   ada   sanksi   yang   akan   diterima  
perusahaan?  
 
Pada   bulan   November   2012,   perusahaan   diperiksa   untuk   SPT   PPh   tahun   pajak   2010.   Pada  
saat   dilakukan   pemeriksaan,   perusahaan   menyadari   bahwa   pajak   yang   dibayarnya  
sebenarnya   kurang   bayar   50   juta   Rupiah.   Salah   seorang   pegawai   bagian   perpajakan  
menyarankan   perusahaan   membetulkan   sendiri   SPT   tahun   2010   tersebut   sebelum   DJP  
mengeluarkan  SKPKB.  
Pertanyaan:  
3. Berapa   sanksi   yang   akan   diterima   CV   Ibuku   jika   perusahaan   membetulkan   sendiri   SPT  
nya  pada  bulan  November  2012?  
4. Berapa   sanksi   yang   akan   diterima   CV   Ibuku   jika   DJP   menerbitkan   SKPKB   pada   bulan  
Desember  2012  tanpa  perusahaan  membetulkan  SPT  nya  sendiri?  
5. Menurut  anda  langkah  mana  yang  sebaiknya  diambil  oleh  perusahaan?  
 
Soal  3  
PT.  Burito  Food  Indonesia  (“Perusahaan”)  merupakan  sebuah  perusahaan  yang  bergerak  di  
bidang   produksi   bahan   baku   makanan   cepat   saji   yang   berkantor   pusat   di   Jakarta   dan  

MOJAKOE Perpajakan 2 3 UTS Semester Gasal 2012/2013


Dilarang memperbanyak Mojakoe ini tanpa seizin SPA FEUI
 
memiliki   pabrik   di   kawasan   industri   Cikarang.   Saat   ini,   Perusahaan   baru   saja   menerima  
SKPKB   dari   hasil   pemeriksaan   PPh   Badan   tahun   2010.   SKPKB   tersebut   tertanggal   10   Februari  
2012  dan  terdapat  cap  pos  pengiriman  tertanggal  15  Februari  2012,  serta  jumlahnya  adalah  
Kurang   Bayar   termasuk   sanksi   sebesar   Rp   2,1   Miliar.   Perusahaan   tidak   setuju   dengan  
penerbitan   SKPKB   tersebut,   karena   berdasarkan   pembahasan   akhir   hasil   pemeriksaan  
seharusnya   Kurang   Bayar   tahun   2010   menurut   Perusahaan   adalah   Rp   450   juta.   Maka   dari  
itu,  Perusahaan  bermaksud  untuk  mengajukan  keberatan  kepada  DJP.  
 
Pertanyaan:  
1. Kapankah  batas  waktu  terakhir  Perusahaan  mengajukan  permohonan  keberatan?  
2. Adakah   jumlah   kurang   bayar   yang   harus   dibayar   oleh   Perusahaan   dalam   proses  
mengajukan  permohonan  keberatan  tersebut?  
3. Jika   keberatan   tersebut   ditolak,   berapakah   sanksi   perpajakan   yang   akan   dikenakan  
kepada  Perusahaan?  
4. Adakah  upaya  hukum  lain  jika  permohonan  keberatan  Perusahaan  ditolak  karena  tidak  
memenuhi   ketentuan   formal   mengenai   jangka   waktu   pengajuan   permohonan?  
Sebutkan  dasar  hukumnya.  
5. Hal   apa   sajakah   yang   perlu   dipertimbangkan   oleh   Perusahaan   jika   ingin   mengajukan  
banding  apabila  keberatan  Perusahaan  ditolak?  
 
Soal  4  
Tuan   Amir   mempunyai   beberapa   kegiatan   dalam   usahanya,   yaitu   bergabung   dalam   suatu  
Firma   untuk   usaha   jasa   konsultan   (Firma   ABC),   kemudian   usaha   jasa   lainnya   di   Jakarta  
maupun  di  Malaysia,  dan  pemborong  bangunan  yang  dilakukan  secara  perorangan  punya  ijin  
pemborong.  
 
Dalam  tahun  2011  (1  Januari  –  31  Desember)  perhitungan  dari  rugi  laba  dari  firma  sebagai  
berikut:  
 
Revenue           Rp  4.500.400.700,-­‐  
Biaya  operasional:  
  Gaji  Tenaga  Ahli         Rp  750.000.000,-­‐  
  Gaji  Karyawan         Rp  500.000.000,-­‐  
  Biaya  Perjalanan       Rp  200.000.000,-­‐  
  Biaya  Komisi         Rp  150.000.000,-­‐  
  Sewa  Ruang  Kantor       Rp  100.000.000,-­‐  
  Gaji  Amir  (partner)       Rp  300.000.000,-­‐  
  Gaji  Basri  (partner)       Rp  300.000.000,-­‐  
  Gaji  Christian  (partner)       Rp  300.000.000,-­‐  
  Jamuan  Kantor         Rp  11.000.000,-­‐  
  Penggantian  Berobat  (pegawai)     Rp  45.000.000,-­‐  
            Rp  2.656.000.000,-­‐  
Laba  Firma           Rp  1.844.400.700,-­‐  
 
Dari  hasil  usaha  sendiri  diperoleh  rugi  laba  1  Januari  –  31  Desember  sebagai  berikut:  

MOJAKOE Perpajakan 2 4 UTS Semester Gasal 2012/2013


Dilarang memperbanyak Mojakoe ini tanpa seizin SPA FEUI
 
Pendapatan:   Pemborong  konstruksi     Rp  1.159.856.755,-­‐  
    Jasa  di  Indonesia  non  final   Rp  2.154.091.963,-­‐  
    Jasa  di  Malaysia  (cabang)   Rp  1.759.268.555,-­‐  
    Bunga  deposito  dan  jasa  giro   Rp  500.000.000,-­‐  
            Rp  5.573.217.273,-­‐  
Biaya  langsung           Rp  3.422.583.000,-­‐  
Biaya  tidak  langsung  (admin  dan  umum)     Rp  1.450.000.555,-­‐  
Laba  perusahaan         Rp  700.633.718,-­‐  
 
1. Biaya  langsung  yang  dikeluarkan  untuk  masing-­‐masing  usaha:  
Usaha  yang  dipotong  final:  net  Rp  450.455.650,-­‐  
(yang   terdiri   dari   biaya   usaha   Rp   950.253.450,   dan   keuntungan   kurs   sebesar   Rp  
499.869.800,-­‐)  
Usaha  jasa  Rp  1.635.265.100  dan  usaha  di  LN  biaya  langsung  sebesar  Rp  1.336.862.250,-­‐  
2. Pendapatan   DN   dari   jasa   ternyata   termasuk   PPN,   dan   atas   nilai   jasanya   sudah  
dipungut  PPh  23  sebesar  2%  
3. PPh   25   yang   dibayarkan   s/d   Desember   Rp   36.480.000,-­‐   dan   di   LN   dipotong   pajak  
atas  laba  sebesar  Rp  87.963.427,-­‐  
 
Pertanyaan:  
a. Hitung   laba   kena   pajak   dari   Firma   tersebut,   dan   sebutkan   pasal-­‐pasal   (UU   PPh)   yang  
mendasari  perhitungan  Anda  (untuk  setiap  koreksi)  
b. Tn  Amir  akan  melaporkan  sisa  laba  rugi  setelah  pajak  yang  menjadi  bagiannya  dari  
firma  di  dalam  SPT  nya  karena  harus  demikian,  hitunglah  terlebih  dulu  berapa  Pajak  
atas   laba   dari   Firma   tersebut,   dan   bagian   Tn   Amir   adalah   sebesar   35%   dan   berapa  
sisa  laba  setelah  pajak  dan  dapatkan  jumlah  pembagian  laba  dari  Firma  untuk  Tuan  
Amir.  
c. Hitunglah   berapa   laba   kena   pajak   untuk   usaha   Tn   Amir   yang   dikerjakan   sendiri  
(perorangan)   dan   berapa   pajak   terutangnya,   dengan   memperlihatkan   perhitungan  
kredit  PPh  ps  24  nya,  dan  berapa  penghasilan  dan  pajak  yang  harus  diperhitungkan  
untuk   tahun   2011,   apakah   penghasilan   dari   Firma   masuk   dalam   perhitungan   laba  
kena  pajak?  Jelaskan  jawaban  Anda.  
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

MOJAKOE Perpajakan 2 5 UTS Semester Gasal 2012/2013


Dilarang memperbanyak Mojakoe ini tanpa seizin SPA FEUI
 
Jawaban  
Soal  1  
A.  PBB  yang  terutang  
Rumah  Jalan  Harapan  I  
Jenis   Luas      NJOP        Total      
Tarif    PBB  terutang  
Bangunan   120    Rp1,650,000      Rp198,000,000            
Tanah   200    Rp600,000      Rp120,000,000            
Total    Rp318,000,000            
NJOPTKP    Rp120,000,000            
NJOP  PBB    Rp198,000,000     0,3%    Rp594,000.0    
Jenis   Luas    NJOP      Total     Tarif      
Bangunan   130    Rp1,650,000      Rp214,500,000            
Tanah   200    Rp600,000      Rp120,000,000            
Total    Rp334,500,000            
NJOPTKP    Rp120,000,000            
NJOP  PBB    Rp214,500,000     0,3%    Rp643,500.0    
Sisa  PBB  Terutang    Rp49,500.0    

 
Tanah    
Jalan  Kekupu          
Jenis   Luas      NJOP        Total      
Tarif    PBB  terutang  
Tanah   100    Rp820,000      Rp82,000,000            
NJOPTKP    Rp120,000,000            
NJOP  PBB    Rp-­‐     0,3%    Rp-­‐      
 
B.  BPHTB  Warisan  dan  Pembelian  Rumah  
Tanah  Warisan  
       BPHTB  
Jenis   Luas    NJOP      Total     Tarif   terutang  
Tanah   500    Rp800,000      Rp400,000,000            
NPOPTKP    Rp300,000,000            
NPOP    Rp100,000,000     5%  x  50%    Rp2,500,000.0    
*Tarif  BPHTB  
warisan  =  50%  x  
tarif  5%  
Pembelian  Bangunan            
       BPHTB  
Jenis   Luas    NJOP      Total     Tarif   terutang  
Rumah   150    Rp1,460,000      Rp219,000,000            
NPOPTKP    Rp60,000,000            
NPOP      Rp159,000,000     5%    Rp7,950,000      
 
C.  PPh  
Harga  Jual     Tarif      
 Rp600,000,000     5%    Rp30,000,000    

MOJAKOE Perpajakan 2 6 UTS Semester Gasal 2012/2013


Dilarang memperbanyak Mojakoe ini tanpa seizin SPA FEUI
 
Menurut   pasal   4   ayat   2   d,   penghasilan   dari   pengalihan   harta   berupa   tanah   dan   bangunan  
dikenakan   pajak   final   sebesar   5%.   Penghasilan   tersebut   dilaporkan   dalam   SPT   dan  
dilampirkan  SSP  atas  penjualan  tanah  tersebut  sebagai  penghasilan  yang  bersifat  final,  yang  
tidak  diperhitungkan  lagi  dalam  perhitungan  pajak  penghasilan  di  akhir  tahun.  
 
D.  Bea  Materai  
Akta  Waris            Rp6,000    
Akta  Jual  Beli  Properti  Ungaran    Rp6,000    
Akta  Jual  Beli  Rumah  Depok    Rp6,000    
Akta  Jual  Beli  Tanah  Depok    Rp6,000    
Kuitansi  Uang  Muka  Rumah  Depok    Rp6,000    
Kuitansi  Uang  Muka  Tanah  Depok    Rp6,000    
Total    Rp36,000    
 
Soal  2  
1.   Berdasarkan   Pasal   3   ayat   3   Undang-­‐Undang   Nomor  28   Tahun   2007,   batas   waktu  
penyampaian   SPT   PPh   untuk   badan   adalah   paling   lama   4   bulan   setelah   akhir   Tahun   Pajak.  
Dan   menurut   Pasal   (4)   dan   (5),     Wajib   Pajak   dapat   memperpanjang   jangka   waktu  
penyampaian   Surat   Pemberitahuan   Tahunan   Pajak   Penghasilan     untuk   paling   lama   2   (dua)  
bulan   dengan   menyertai   perhitungan   pajak   sementara   yang   terutang   dan   bukti   pelunasan  
pajak  terutang.      
Batas   awal   penyampaian   SPT   adalah   akhir   bulan   April   2012,   dan   karena   perusahaan   telah  
meminta   permohonan   perpanjangan   waktu   penyampaian   SPT,   maka   batas   akhir  
penyampaian  SPT  adalah  akhir  bulan  Juni  2012.  
Menurut   pasal   9   ayat   2b,   pembayaran   pajak   yang   dilakukan   setelah   tanggal   jatuh   tempo  
penyampaian  SPT  akan  dikenai  sanksi  administrasi  sebesar  2%  per  bulan.  Karena  perusahaan  
bare   membayar   pajaknya   pada   bulan   Juli,   maka   sanksi   yang   dikenakan   pada   perusahaan  
adalah:  2%  x  1  bulan  x  Rp  25.000.000,-­‐  =  Rp  500.000,-­‐  
 
2.  Wajib  Pajak  perlu  melakukan  pembetulan  atas  SPT  dan  dikenakan  sanksi  sebesar  2%  dari  
pajak  yang  kurang  dibayar  sejak  diterimanya  SPT.  
 
3.  Berdasarkan  Pasal  8  ayat  2  Undang-­‐Undang  Nomor  28  Tahun  2007,  dalam  hal  Wajib  Pajak  
membetulkan  sendiri  SPT  nya,  dikenai  sanksi  sebesar  2%  setiap  bulannya  dari  jumlah  pajak  
yang  kurang  dibayar,  dihitung  sejak  saat  penyampaian  SPT  berakhir  sampai  dengan  tanggal  
pembayaran.  Batas  akhir  penyampaian  SPT  badan  adalah  akhir  bulan  April,  maka  sanksi  yang  
diterima:  
Mei  –  November  =  7  bulan  (bagian  dari  bulan  dihitung  penuh)  
2%  x  7  x  Rp  50.000.000,-­‐  =  Rp  7.000.000,-­‐  
 
4.   Berdasarkan   Pasal   13   ayat   1   a   dan   2   Undang-­‐Undang   Nomor  28   Tahun   2007,   dalam   hal  
DJP   menerbitkan   SKPKB   dikenai   sanksi   sebesar   2%   setiap   bulannya   dari   jumlah   pajak   yang  
kurang  dibayar,  dihitung  sejak  saat  berakhirnya  Tahun  Pajak  sampai  dengan  diterbitkannya  
SKPKB.   Batas   akhir   Tahun   Pajak   adalah   akhir   bulan   Desember   dan   SKPKB   diterbitkan  
Desember,    maka  sanksi  yang  diterima:  

MOJAKOE Perpajakan 2 7 UTS Semester Gasal 2012/2013


Dilarang memperbanyak Mojakoe ini tanpa seizin SPA FEUI
 
Januari  –  Desember  =  12  bulan  (bagian  dari  bulan  dihitung  penuh)  
2%  x  12  x  Rp  50.000.000,-­‐  =  Rp  12.000.000,-­‐  
 
5.   Perusahaan   lebih   baik   melakukan   pembetulan   SPT   nya   sendiri   sebelum   DJP   melakukan  
pemeriksaan  dan  menerbitkan  SKPKB,  karena  sanksi  yang  dibayarkan  atas  pembetulan  SPT  
sendiri  akan  lebih  kecil.  
 
Soal  3  
1.   Permohonan   keberatan   harus   dilaksanakan   dalam   waktu   tiga   bulan   sejak   tanggal  
dikirimnya  SKPKB.  (UU  KUP  Pasal  25  ayat  3)  
 
2.  Wajib  pajak  melunasi  pajak  yang  masih  harus  dibayar  paling  sedikit  sejumlah  yang  telah  
disetujui  Wajib  Pajak  dalam  pembahasan  akhir  hasil  pemeriksaan  sebelum  surat  keberatan  
disampaikan  (UU  KUP  Pasal  25  ayat  3a),  berarti  sejumlah  Rp  450.000.000,-­‐  
 
3.   Jika   ditolak,   Wajib   Pajak   harus   membayar   denda   sebesar   50%   dari   jumlah   pajak  
berdasarkan   keputusan   keberatan   dikurangi   dengan   pajak   yang   telah   dibayar   sebelum  
mengajukan  keberatan  (UU  KUP  Pasal  25  ayat  9).    
Jumlah  pajak  kurang  bayar  termasuk  sanksi  =  2.100.000.000  
Jumlah  sanksi  Jan  2011-­‐Feb  2012  =  2%  x  14  bulan  x  dasar  pajak  terutang  
Dasar  pajak  terutang  +  sanksi  =  nilai  SKPKB  
X  +  (2%  x  14  bulan  x  X)  =  2.100.000.000  
X  +  0.28  X  =  2.100.000.000  
1.28X  =  2.100.000.000  
X  =  1.640.625.000  
Maka,  denda  yang  dikenakan  adalah  sebesar:  
50%  x  (1.640.625.000  -­‐    450.000.000)  =  595.312.500  
 
4.   Jika   keterlambatan   tidak   dikarenakan   hal   yang   diluar   kuasa,   maka   keterlambatan  
keberatan  tidak  dipertimbangkan  (UU  KUP  Pasal  25  ayat  3  dan  4).  Jika  tidak  ada  keberatan  
yang   dipertimbangkan,   maka   DJP   tidak   menerbitkan   Surat   Keputusan   Keberatan.   Proses  
Banding   hanya   dapat   dilakukan   atas   Surat   Keputusan   Keberatan   (UU   KUP   Pasal   27   ayat   1),  
sehingga   jika   penolakan   keberatan   karena   tidak   memenuhi   syarat   formal   jangka   waktu,  
maka  tidak  ada  proses  hukum  lain  yang  dapat  ditempuh.  
 
5.  Yang  perlu  diperhatikan  adalah  permohonan  banding  harus  diajukan  secara  tertulis  dalam  
waktu   tiga   bulan   sejak   keputusan   keberatan   diterima   (pasal   27   ayat   3   UU   KUP)   dan   wajib  
pajak  dikenai  sanksi  administrasi  berupa  denda  100%  dari  jumlah  pajak  berdasarkan  putusan  
banding   dikurangi   dengan   pembayaran   pajak   yang   telah   dibayar   sebelum   mengajukan  
keberatan  apabila  permohonan  banding  ditolak  atau  dikabulkan  sebagian  (pasal  27  ayat  5d  
UU  KUP).  
 
Soal  4  
a.  

MOJAKOE Perpajakan 2 8 UTS Semester Gasal 2012/2013


Dilarang memperbanyak Mojakoe ini tanpa seizin SPA FEUI
 
 Koreksi  
                 Koreksi  +     -­‐      Fiskal     Dasar  
Revenue            Rp4,500,400,700      Rp-­‐      Rp-­‐      Rp4,500,400,700        
Biaya  
operasional:                              

    Gaji  Tenaga  Ahli    Rp750,000,000          Rp-­‐      Rp-­‐      Rp750,000,000        

    Gaji  Karyawan    Rp500,000,000          Rp-­‐      Rp-­‐      Rp500,000,000        


Biaya  
    Perjalanan    Rp200,000,000          Rp-­‐      Rp-­‐      Rp200,000,000        

    Biaya  Komisi    Rp150,000,000          Rp-­‐      Rp-­‐      Rp150,000,000        


Sewa   Ruang  
    Kantor    Rp100,000,000          Rp-­‐      Rp-­‐      Rp100,000,000        
Gaji   Amir    
    (partner)    Rp300,000,000         Rp300,000,000      Rp-­‐      Rp-­‐    
UU  PPh  Pasal  
Gaji   Basri    
    (partner)    Rp300,000,000         Rp300,000,000      Rp-­‐      Rp-­‐     9   Ayat  1  Huruf  
J  
Gaji   Christian    
    (partner)    Rp300,000,000         Rp300,000,000      Rp-­‐      Rp-­‐    
(asumsi  ada  
Jamuan  Kantor    Rp11,000,000     daftar  
         Rp-­‐      Rp-­‐      Rp11,000,000     nominatif)  
Penggantian   Bukan  
Berobat   termasuk  
    (pegawai)    Rp45,000,000          Rp-­‐      Rp-­‐      Rp45,000,000     natura  

         Rp2,656,000,000                  Rp1,756,000,000        
Laba  Firma            Rp1,844,400,700              Rp2,744,400,700        
 
 
b.   Karena   peredaran   bruto   di   bawah   Rp   4.800.000.000,-­‐   sehingga   tarif   PPh   Badan   sebesar  
50%  x  25%  (Pasal  31E  UU  PPh)  
Pajak  Firma:  25%  x  50%  x  Rp  2.744.400.700,-­‐  =  Rp  343.050.087,50  
Laba  setelah  pajak:  Rp  2.744.400.700  –  Rp  343.050.087,50  =  Rp  2.401.350.612,50  
Bagian  Pak  Amir:  35%  x  Rp  2.401.350.612,50  =  Rp  840.472.714,38  
 
c.  
PPh  untuk  jasa  konstruksi  bersifat  final  (UU  PPh  pasal  4  ayat  2).  
Bunga  deposito  dan  giro  bersifat  final  (UU  PPh  pasal  4  ayat  2).  
        +   -­‐   Fiskal  
Konstruksi    Rp1,159,856,755      Rp-­‐      Rp1,159,856,755      Rp-­‐    
Indo  non  final    Rp2,154,091,963      Rp-­‐      Rp195,826,542      Rp1,958,265,421    
Malaysia    Rp1,759,268,555      Rp-­‐      Rp-­‐      Rp1,759,268,555    
Deposito  giro    Rp500,000,000      Rp-­‐      Rp500,000,000      Rp-­‐    
     Rp5,573,217,273              Rp3,717,533,976    
Biaya  
langsung    Rp3,422,583,000      Rp450,455,650      Rp-­‐      Rp2,972,199,350    
Tidak  
langsung    Rp1,450,000,555              Rp1,450,000,555    
Laba    Rp700,633,718              Rp(704,665,929)  

MOJAKOE Perpajakan 2 9 UTS Semester Gasal 2012/2013


Dilarang memperbanyak Mojakoe ini tanpa seizin SPA FEUI
 
            Pajak  terutang    Rp-­‐    
            Kredit  PPh  23    Rp39,964,600    
            Kredit  PPh  24    Rp87,963,427    
            Kredit  PPh  25    Rp36,480,000    
            Total  Kredit    Rp164,408,027    
            Lebih  bayar    Rp164,408,027    
 
Penghasilan   dari   Firma   tidak   masuk   ke   dalam   perhitungan   laba   kena   pajak,   karena  
penghasilan  dari  firma  tidak  tergolong  sebagai  obyek  pajak  (pasal  4  ayat  3  I  UU  PPh).  

MOJAKOE Perpajakan 2 10 UTS Semester Gasal 2012/2013


MOJAKOE
MOdul JAwaban KOEliah

Perpajakan 2
UTS Semester Genap 2013/2014

@spafebui SPA FEB UI


Dilarang memperbanyak MOJAKOE ini tanpa seijin SPA FEB UI.
Download MOJAKOE dan SPA Mentoring di http://spa-feui.com

Official Partners: Official Media Partner:


SOAL 1
1. Diketahui :
Luas rumah 171 m2
NJOP rumah Rp 1.800.000/m2
Luas tanah 209 m2
NJOP tanah Rp 780.000/m2
Tambahan kamar 20 m2
Harga bangunan Rp 3.500.000/m2
Harga tanah Rp 1.560.000/m2
NJOPTKP Rp 15.000.000

NJOP tanah (209 x Rp780.000) 163,020,000


(171 x Rp1.800.000)+(20 x
NJOP rumah Rp3.500.000) 377,800,000

NJOP DPP 540,820,000

NJOPTKP   (15,000,000)

NJOP Pajak 525,820,000

DPP PBB (20% x Rp 525.820.000) 105,164,000

PBB terutang (0.25% x Rp 105.164.000) 262,910


Tarif PBB 0,25%

2. Tanah WARNO
Luas tanah 600m2
Nilai pasar (600m2) Rp 600.000.000
NJOP Rp 880.000/m2
Pembebasan lahan 300m2
NPOPTKP Rp 325.000.000 ! karena tanah merupakan warisan langsung kepada Warno

TANAH WIWIK
Luas tanah 650m2
NJOP Rp 760.000/m2
Harga transaksi/jual Rp 540.000.000
Nilai pasar Rp 430.000.000
NPOPTKP (waris) Rp 310.000.000
NPOPTKP (jual) Rp 61.000.000

PERHITUNGAN BPHTB TANAH BOGOR (sebelum terkena pembebasan lahan)

(yang lebih tinggi antara NJOP atau nilai


NPOP pasar) 600,000,000

NPOPTKP (NPOPTKP hak waris) (325,000,000)

NPOPKP 275,000,000

BPHTB** (50% x 5% x Rp 275.000.000) 6,875,000

PERHITUNGAN BPHTB TANAH BOGOR (setelah terkena pembebasan lahan)

(yang lebih tinggi antara NJOP atau nilai


NPOP pasar) 300,000,000

NPOPTKP (NPOPTKP hak waris) (325,000,000)

NPOPKP (25,000,000)

BPHTB** (50% x 5% x -Rp25.000.000) -


PERHITUNGAN BPHTB TANAH SUKABUMI (sebelum dijual kepada Warno)

(yg lebih tinggi antara NJOP atau nilai


NPOP transaksi) 494,000,000

NPOPTKP (NPOPTKP hak waris) (310,000,000)

NPOPKP 184,000,000

BPHTB** (50% x 5% x Rp 184.000.000) 4,600,000

**menurut PP No. 111 Tahun 2000, BPHTB atas waris hanya dikenakan sebesar 50% dari NPOPKP

PERHITUNGAN BPHTB TANAH SUKABUMI (setelah dijual kepada Warno)

(yg lebih tinggi antara NJOP atau nilai


NPOP transaksi) 540,000,000

NPOPTKP (NPOPTKP non-hak waris) (61,000,000)

NPOPKP 479,000,000

BPHTB (5% x Rp 433.000.000) 23,950,000

3. Identifikasi dokumen-dokumen yang terutang bea materai


a. Pembayaran PBB atau BPHTB :
Tidak ada dokumen terutang Bea Materai (karena Pajak ! masuk ke kas negara)
b. Membangun kamar tambahan
IMB Rp 0 (non-objek bea materai)
c. Penyerahan warisan
Akta waris : Rp 6.000
Sertifikat tanah Rp 6.000
d. Penjualan :
Akta jual beli Rp 6.000
Bukti transfer uang melalui bank Rp 6.000 (berdasarkan S-965/PJ.32/2004)
Kuitansi Rp 6.000
TOTAL BEA MATERAI Rp 30.000
! untuk transaksi yang masuk ke kas negara tidak termasuk objek yang dikenakan bea materai (pasal 4
UU Bea Materai)
SOAL 2
1. Data pembayaran dan pelaporan pajak:

SPT Masa Maret-April 2014 Terbengkalai Bayar Lapor


1 PPh 21/26 Mar dan April 20,000,000 2-Jun 1-Jul
2 PPh 23/26 Mar dan April 10,000,000 2-Jun 1-Jul
3 PPh 25 Mar dan April 15,000,000 2-Jun 1-Jul
4 PPN Mar dan April 25,000,000 30-Jun 1-Jul

Penjelasan u/ PPh 25 :
a. SPT Tahunan selesai akhir bulan April.
b. Sebelum Bulan April, PPh mengikuti PPh 25 Tahun sebelumnya.
c. Sementara mulai bulan April sampai seterusnya, mengikuti PPh 25 baru.
d. Asumsi perhitungan PPh 25 tahun 2014 telah selesai sebelum membayar PPh 25 Masa April, sehingga besaran
PPh 25 April adalah Rp 0 (NIHIL).
PPh dan PPN dibayarkan dengan jumlah yang sama setiap bulannya, kecuali dikatakan lain.

Jenis Lapo Batas Batas Sanksi


No. Masa Besaran Bayar Sanksi Bunga
Pajak r Bayar* Lapor* Denda
10,000,00 2% x 3 x Rp
Maret 2-Jun 1-Jul 10-Apr 20-Apr 100,000 600,000
PPh 0 10.000.000
1
21/26 10,000,00 2% x 2 x Rp
April 2-Jun 1-Jul 10-May 20-May 100,000 400,000
0 10.000.000
2% x 3 x Rp
Maret 5,000,000 2-Jun 1-Jul 10-Apr 20-Apr 100,000 300,000
PPh 5.000.000
2
23/26 2% x 2 x Rp
April 5,000,000 2-Jun 1-Jul 10-May 20-May 100,000 200,000
5.000.000
15,000,00 2% x 3 x Rp
PPh Maret 2-Jun 1-Jul 15-Apr 20-Apr 100,000 900,000
3 0 15.000.000
25
April 0 2-Jun 1-Jul 15-May 20-May 100,000 2% x 2 x Rp 0 -
12,500,00 30- 2% x 2 x Rp
Maret 1-Jul 30-Apr 30-Apr 500,000 500,000
0 Jun 12.500.000
4 PPN
12,500,00 30- 2% x 1 x Rp
April 1-Jul 31-May 31-May 500,000 250,000
0 Jun 12.500.000

*) data diambil dari www.pajak.go.id/content/pelaporan-pajak

2. Perusahaan melaporkan SPT PPh Badan tahun 2013 pada tanggal 1 Mei 2014 karena tanggal 30 April 2014
merupakan hari libur.
a. Tidak ada sanksi berkaitan dengan tanggal pelaporan pajak yang dilakukan oleh perusahaan, karena tanggal
30 April 2014 adalah hari libur, sehingga perusahaan dapat melaporkan pajak tersebut di 1 hari kerja
berikutnya setelah hari libur tersebut.
b. Saat perusahaan melaporkan terjadinya lebih bayar atas PPh 25, maka akan dilakukan pemeriksaan oleh
fiskus untuk membuktikan adanya lebih bayar tersebut.
Jika terbukti benar bahwa lebih bayar, maka fiskus akan mengeluarkan SKP LB dan perusahaan bisa
mendapatkan restitusi atau pengembalian atas jumlah yang lebih bayar tersebut (dengan tambahan imbalan
bunga jika fiskus mengembalikan pajak lebih bayar tersebut diatas 1 bulan setelah SKP LB dikeluarkan).
Jika tidak terbukti terjadi lebih bayar, maka fiskus dapat mengeluarkan Surat Ketetapan Pajak (SKP) untuk
menagih pajak jika malah terjadi kurang atau belum dibayarkan oleh perusahaan, sehingga perusahaan
harus melunasi pajak yang tertera di SKP beserta dengan sanksi-nya.
SOAL 3
1. Apabila perusahaan ingin melakukan keberatan, surat-surat yang manakah yang dapat diajukan keberatan?
Tanggal berapa surat pengajuan harus diajukan? Berapa jumlah pajak yang harus disetorkan sebelum keberatan
diajukan?
a. Surat-surat yang dapat diajukan keberatan :
SKP KB PPN
SKP KB PPh 21
SKP LB PPh Badan
b. Tanggal pengajuan keberatan :
Paling lambat 3 bulan setelah diterima SKP
Tanggal penerimaan SKP : 15 Maret 2013
Batas pengajuan keberatan : 15 Juni 2013
c. Jumlah yang harus disetorkan sebelum keberatan diajukan :
Harus menyetorkan sesuai dengan kesepakatan pada pembahasan sebelum mengajukan kebeatan
PPN (Kurang Bayar) 150.000.000
PPh 21 (Kurang Bayar) 25.000.000
PPh Badan (Lebih Bayar) 0

2. Apabila perusahaan kemudian berubah pikiran dan tidak jadi mengajukan keberatan dan kemudian melakukan
pembayaran pajak yang ditagih dengan SKP KB dan STP tersebut pada tanggal 13 Juli 2013, apakah ada
konsekuensinya?
Jika Perusahaan ingin mencabut pengajuan keberatan, harus menyampaikan permohonan ke DJP sebelum
tanggal diterimanya Surat Pemberitahuan untuk Hadir oleh WP sesuai pasal 11 PMK No.9/PMK.03/2013.
Konsekuensinya, pajak yang masih harus dibayar dalam SKPKB atau SKPKBT yang tidak disetujui dalam
pembahasan akhir hasil pemeriksaan/pembahasan akhir hasil verifikasi, menjadi utang pajak sejak
tanggal penerbitan surat ketetapan pajak; dan perusahaan tidak dapat lagi mengajukan keberatan atas
SKP yang sama dikemudian hari.
Perusahaan melunasi SKP pada tanggal 13 Juli 2013.
Jika tidak mengajukan keberatan, seharusnya pembayaran dilakukan paling lambat 1 bulan setelah
diterimanya SKP.
Akan tetapi, perusahaan baru melunasi SKP pada tanggal 13 Juli 2013 (3 bulan setelah batas akhir
pelunasan pajak dalam SKP).
Oleh karena itu, perusahaan terkena sanksi bunga :
SKP KB PPN (2% x 3 x Rp 750.000.000) Rp 45.000.000
SKP KB PPh 21 (2% x 3 x Rp 250.000.000) Rp 15.000.000
STP PPN (2% x 3 x Rp 15.000.000) Rp 900.000
TOTAL SANKSI BUNGA Rp 60.900.000
Dan mendapatkan imbalan bunga :
SKP LB PPh Badan (2% x 3 x Rp 500.000.000) Rp 30.000.000 ! asumsi DJP mengembalikan jumlah
yang lebih bayar tersebut pada tanggal 13 Juli juga.
3. Hitunglah sanksi / imbalan bunga terkait penerbitan Surat Keputusan Keberatan :
a. PPh Badan (lebih bayar) ! tidak mendapatkan imbalan bunga, karena keberatan ditolak seluruhnya;
sehingga
perusahaan hanya mendapat pengembalian atas pokok lebih bayar sebesar Rp
500.000.000.
b. PPN (kurang bayar) ! terkena sanksi sebesar Rp 200.000.000 [50% x
(550.000.000-150.000.000)]
c. PPh 21 (kurang bayar) ! terkena sanksi sebesar Rp 25.000.000 [50%*(75.000.000-25.000.000)]
**Sanksi (dan imbalan bunga) tidak perlu dibayarkan apabila perusahaan mengajukan banding.

4. Apabila perusahaan ingin mengajukan banding, tanggal berapa surat pengajuan harus diajukan? Berapa jumlah
pajak yang harus disetorkan sebelum banding diajukan?
a. Tanggal pengajuan banding :
Paling lambat 3 bulan setelah diterima Surat Keputusan Keberatan
Tanggal penerimaan SKK : 20 Desember 2013
Batas pengajuan banding : 20 Maret 2014
b. Jumlah yang harus disetorkan sebelum banding diajukan :
Rp 0, karena jumlah pajak yang harus disetorkan hanya saat mengajukan keberatan saja (pasal 25 ayat (3a)
UU KUP).
Di soal disebutkan bahwa perusahaan membayar Rp 200.000.000 untuk PPN sebelum mengajukan
banding. Hal tersebut diperbolehkan, jika memang perusahaan ingin membayar; akan tetapi bukan
merupakan keharusan karena tidak diatur dalam UU.

5. Hitunglah sanksi / imbalan bunga terkait penerbitan Surat Keputusan Banding


a. PPh Badan (lebih bayar) ! imbalan bunga sebesar Rp 360.000.000 (2% x 18 x Rp 1.000.000.000) karena
banding
dikabulkan seluruhnya, sehingga diberikan imbalan bunga 2% untuk pajak yang
lebih bayar Rp 1.000.000.000 (1.200.000.000-200.000.000), dan pihak DJP
terlambat mengembalikan pajak selama 18 bulan terhitung sejak penerbitan SKP
LB hingga penerbitan SK Banding (termasuk bagian dari bulan dihitung 1 bulan
penuh)
! berdasarkan UU KUP pasal 27A ayat 1 huruf b
b. PPN (kurang bayar) ! sanksi sebesar Rp 350.000.000 [100%*(500.000.000-150.000.000)]

Good luck for MID TERM test! ☺


2
UNIVERSITAS INDONESIA
Program Studi S-1 Akuntansi

Ujian Akhir Semester Gasal 2013/2014

M at a Kuliah : PERPAJAKAN 2
Hari/Tanggal : Seni n I 23 Desem ber 2013
Dosen : PARALEL SEMUA KELAS
1. Tub agus Chairul Amachi
2. Novita Budi Su list yarini
Waktu : 180 menit
Sif at : Open All Printed M aterials

Petunjuk :
1. Jawabl ah setiap soal dengan jelas dan sistem atis
2. Selalu ca nt umkan ref erensi peraturan/ undang-undang yang menjadi dasar jawaban
and a
3. Apabila terdapat keterangan yang t idak disebutka n di soal, gunaka n asumsi and a
yang sesuai dengan perat uran perpajaka n.

SOAL 1- Pajak Penghasilan dan Akuntansi Perpajakan (35%}

PT Bangun Karya ("Perusah aan" ) adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa konstru ksi
dan penjual an material bangunan dan memulai kegiatan operasinya di ta hun 2011.

Berikut ini adalah lapo ran keuangan Peru sahaa n t ahun 2012 dan 2013 (dalam Rupiah):
. 2012 2013

Pendapatan
Jasa Konstruksi 2.500.000.000 6.000.000.000
Penjua la n Materia l Ba ng una n 1.000.000.000 4.000.000.000
3.500.000.000 10.000.000.000

HPP
Jasa Konstruksi 2.000.000.000 2.500.000.000
Penjua la n Ma te rial Ba ng una n 850.000.000 1.500.000.000
2.850 .000.000 4.000.000.000
La ba ko tor 650.000.000 6.000.000.000

Beban Umum dan Admi nistras i


Gaji dan tunja nga n 750.000.000 1.250.000.000
PPh 21 ditanggung perusahaa n 35.000.000 60 .000.000
Penyusutan 244.000.000 244.000.000
Sumba ng a n 10.000.000 25.000 .000
Sewa me sin fotokopi 40.000. 000 60. 000 .000
Konsultan paja k 60.000.000 120.000.000
1.234.000.000 1.929.000.000
Pendapatan lain-lai n
Bunga tabunga n dan de posito 20.000.000 40.000.000
Laba penjua lan aset 15.000.000 40.000.000
35.000.000 80.000.000
Be ba n La in-lain
Bunga 0 15.000 .000
PPh Fina l 60.000.000 75.0 00.000
l ain-lain 2.000.000 8.000.000
62.000.000 98.000.000
La ba/(rugi) seb elum p aja k (611.000.000! 4.053.000.000
Keterangan tambahan:
1. HPP adalah merupakan beban langsung dari masing-masing divisi
2. Beban umum dan administrasi adalah beban-beban untuk aktivit as administrasi
Perusahaan (beban t idak langsung)
3. Gedung kantor y ang dipakai Perusahaan terdiri dari 3 lantai, dimana 2 lantai dipaka i
oleh divisi Jasa Konstruksi, 1 lantai dipakai secara bersama -sama antara divisi
penjualan dengan divisi umum (termasuk ruang Direksi}
4. Data penyusutan tahun 2012 dan 2013, dimana seluruh aset diperoleh di tahun
2012.
Masa Penyusut an
Jenis Nilai ·p erolehan Golongan
Manfaat l!ertahun
Bangunan
Bangunan kantor 2.000.000.000 permanen 20 100.000.000
lnventari s kantor
- Divi si Konstru ksi 80.000.000 5 ·;)'1 16.000.000 1 0 t:t ' ,.,. ..FJ ·"\_.CCO.o:ev

- Divisi penjua la n 40.000 .000 5 -)'' 8 .000.000 io .c'" ~ :;:.·1 ) -?.., L\1Dc-\,;.b

Kendaraan
- Sedan dinas Direks i 400.000.000 II 5 .:\ r 80.000.000 'c c.C':· v·:... \ ; ·\: (.'(: .:.. ('t...

- Minibus anta r jemput karyawan -') ~ Tee,._"""


200.000.000 II 5 40.000.000 ) ~') t)l·,·l (.">i.:,

244.000.000

5. Pad a tahun 2013 Perusahaan melakukan pmJaman ke bank dengan rata-rata


pinjaman sebesar Rp125.000.000 dengan rate 12% dan deposito denga n rata-rata
• <;" \.9<rl c w
RpSO.OOO.OOO dengan rate 6%. ' ) <> ·

6. Rugi fiskal tahun 2011 adalah sebesar Rp250.000.000 dim lebih bayar Rp30.000.000
7. PPh Pasal 25 yang dibayarkan di t ah un 2012 sebesar Rp75.000.000 dan STP sebesa r
Rp25.000.000 (termasuk sanksi RpS.OOO.OOO)

Pertanyaan:
1. Hitun glah Beban PPh Badan dan PPh terutang/lebih bayar untu k tahun 2012 dan
2013 dengan menggunakan tarif PPh Badan yang berlaku dan buatlah jurnal t erkait.
2. Hitunglah aset/kewajiban paja k tangguh an dan penghasilan/beban pajak tangguhan
untuk tahun 2012 dan 2013 dengan menggunakan asumsi tarif PPh 25% dan buatlah
jurnal terkait.

SOAL II - Pajak Pertambahan Nilai dan Akuntansi Perpajakan (35%)

PT Gemar Membaca ("Perusahaan") ada lah perusahaan yang bergerak di bidang publ ikasi
bu ku-b uku umum. Perusahaan mendistribusikan buku-bukunya melalui toko bukunya
sendiri dan toko buku lain. Untuk t oko buku lain, Perusahaan menggunakan skema
konsinyasi dan beli putus. Kantor pusat Perusahaan berada di Jaka rta dan toko bukunya
bera da di Bandung dan Surabaya. Perusa haan melakukan pemusatan untuk ka ntor pusat
dan toko buku di Bandung. Bi aya produksi per buku adalah Rp20.000 dengan harga jual ke
konsumen sebesar RpSO.OOO
Berikut ini adalah transaksi Perusahaan di bulan Januari dan Februari 2013.

5 Januari 2013
1. Mengirim 1000 buku ke toko buku di Bandung -) 'r. ,t~· '"-
2. Mengirim 3000 buku ke toko buku di Surabaya ·) \--~-- u __
3. Mengirim 2000 buku ke toko buku Grademia dengan sistem pembayaran 30% di
1
akhir bulan dan 70% di bulan berikutnya -"1 !l.J- .,.,.c,· ·
4. Mengirim 1000 buku ke toko buku Berjaya dengan sistem konsinyasi, dimana
pembayaran untuk buku yang terjual akan dilakukan di akhir bulan berikutnya
dengan kom isi 30% -) IJ, \ ,.. ~~ A·1o"-1~·- ~ ,_J_ 13,_, c J-c '4"'-~~ ok ~.1.--~-v>t.....
5. Menerima DP sebesar 20% dari Yayasan Berbagi Buku untuk pemesanan 500 buku
dengan diskon 10% dari harga jual
6. Membeli tunai kertas dari PT Pulp Fiction (PKP) dengan tagihan sebesar
Rp100.000.000 (belum termasuk PPN)
7. Membayar biaya-biaya impor atas impor tinta dari China dengan nilai pembelian
RpSO.OOO.OOO

30 Januari 2013
1. Menerima pembayaran DP dari toko buku Grademia

5 Februari 2013
1. Mengirimkan buku pesanan Yayasan Berbagi Buku sebanyak 500 buku dan menerima
pelunasannya
2. Menerima uang hasil penjualan dari toko buku di Bandung, dimana terdapat 300
buku yang terjual
3. Menerima uang hasil penjualan dari toko buku di Surabaya, dimana terdapat 500
buku yang terjual
4. Menerima uang hasil penjualan dari toko buku Berjaya, setelah dipotong komisi,
dimana terdapat 200 buku yang terjual
5. Menerima retur dari toko buku Berjaya sebanyak 100 buku karena rusak
. . - - __

28 Februari 2013
1. Menerima pelunasan dari toko buku Grademia, namun ternyata terdapat 50 buku
yang covernya agak lecek1 sehingga Perusahaan setuju untuk memberikan diskon
sebesar 20% kepada toko buku Grademia atas ke-50 buku tersebut.
2. Mengembalikan kertas kepada PT Pulp Fiction senilai RplO.OOO.OOO karena rusak dan
langsung menerima uang pengembalian.
--------
Pertanyaan:
1. Untuk masing-masing transaksi di masing-masing tanggal:
a. Jetaskan aktivitas Perusahaan yang terkait dengan penerbitan faktur pajak dan
nota retur dan pembetutan faktur pajak (jika ada)
b. buatlah jurnal terkait
2. Berapakah PPN yang harus disetor Perusahaan untuk masa Januari dan Februari
2013 (serta pembetutannya, jika ada).
Soallll- Pajak Untuk lndustri Migas (30%)

1. Jelaskan kewajiban NPWP bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama Migas


2. Jelaskan perlakuan tarif PPh Badan dan PPh untuk Dividen unt uk Kontraktor Kontrak
Kerja Sarna Migas
3. Jelaskan mekanisme dan perh itungan PPh Pasal 25 untuk Kont raktor Kontrak Kerja
Sarna Migas yang berada di indu stri hulu
4. Jelaska n yang disebut dengan Uniformity Principle
5. Jelaskan cara penentuan NJOP untuk objek PBB industri Migas
Problem 1. Pajak Penghasilan dan Akuntansi Perpajakan (35%)
Tabel Perhitungan Koreksi Fiskal

2012 2013

Buku Fiscal Keterangan Buku Fiscal Keterangan


Pendapatan
Jasa Konstruksi 2.500 0 PPh 23 Final 6.000 0 PPh 23 Final
Penjualan Material Bangunan 1.000 1.000 4.000 4.000

3.500 1.000 10.000 4.000


HPP
Jasa Konstruksi 2.000 0 HPP untuk PPh Final 2.500 0 HPP untuk PPh Final
Penjualan Material Bangunan 850 850 1.500 1.500

2.850 850 4.000 1.500

Laba Kotor 650 150 6.000 2.500

Beban Umum dan Administrasi


Gaji dan Tunjangan 750 750 1.250 1.250
PPh 21 ditanggung perusahaan 35 0 PPh = non-deductible 60 0 PPh = non-deductible
Penyusutan 244 93,3 Lihat Keterangan 2 244 93,3 Lihat Keterangan 2
Sumbangan 10 0 Lihat Keterangan 3 25 0 Lihat Keterangan 3
Sewa Mesin Fotokopi 40 40 60 60
Konsultan Pajak 60 0 Lihat Keterangan 4 120 0 Lihat Keterangan 4
Beban Lain 95 0 Lihat Keterangan 1 170 0 Lihat Keterangan 1

1.234 883,3 1.929 1.403


Pendapatan Lain-lain
Bunga Tabungan dan Deposito 20 0 PPh 4 ayat 2, Final 40 0 PPh 4 ayat 2, Final
Laba Penjualan Aset 15 15 40 40
Pendapatan Restitusi 30 30 Lihat Keterangan 6 75 75 Restitusi Lebih Bayar

65 45 155 115
Beban Lain-lain
Bunga 0 0 15 9 Lihat Keterangan 5
PPh Final 60 0 PPh = non-deductible 75 0 PPh = non-deductible
Lain-lain 2 2 8 8

62 2 98 17

Laba (Rugi) sebelum Pajak (581) (690,3) 4.128 1.195

Rugi Fiscal 2011 (250) (250)


Rugi Fiscal 2012 (690,3) (690,3)
Laba Fiscal 2013 1.195

Sisa Laba (Rugi) Fiscal (940) 254


PPh Terutang (25%) 0 63,6
Kredit Pajak:
PPh 25 75 0 Lihat Keterangan 8

Kurang (Lebih) Bayar (75) Lihat Keterangan 7 63,6

1
MOJAKOE Perpajakan 2 UAS Semester Gasal 2013/2014
Keterangan:
1. Beban Lain-Lain muncul karena jumlah dari semua beban umum dan adm tidak sesuai dengan jumlah yang
diberikan di soal. Namun demikian, perhitungan akhir (laba/rugi) sesuai apabila menggunakan jumlah yang
diberikan di soal. Maka dari itu, secara diasumsikan kesalahan terjadi pada item beban. Asumsi: Beban lain-
lain non-deductible.
2. Penyusutan: Penyusutan atas Divisi Konstruksi tidak boleh dibebankan karena penghasilan atas konstruksi
dikenakan pajak Final. (Peraturan terkait: PP 94 Tahun 2010).
a. Penyusutan Bangunan
Depresiasi yang diakui = 1/3 x 2.000.000.000/20 = Rp 33.333.333/tahun
b. Inventaris Kantor
Depresiasi yang diakui = Rp 0
c. Sedan Dinas Direksi
Depresiasi yang diakui = (400.000.000/8) x 50% = Rp 25.000.000/tahun
d. Minibus antar Jemput Karyawan
Depresiasi yang diakui = 200.000.000/8 = Rp 25.000.000/tahun
>> Dasar Hukum: KEP - 220/PJ./2002
Total Penyusutan = Rp 93,3 Juta
3. Hanya sumbangan tertentu, seperti sumbangan atas bencana nasional, penelitian, dsb. yang deductible
(Pasal 6 UU PPh). Karena tidak ada keterangan dengan jelas, maka di asumsikan sumbangan tersebut sebagai
sumbangan biasa dan dengan demikian non-deductible.
4. Seluruh beban jasa konsultan adalah deductible kecuali jasa konsultan Hukum dan Pajak. (Dasar Hukum: PP
No.138 Tahun 2000 dan Kep-170/PJ./2002)
5. Pinjaman Rp 125.000.000
Deposito (Tabungan) Rp 50.000.000
Pinjaman yang benar-benar dibutuhkan Rp 75.000.000
Bunga Pinjaman yang diakui = 12% x Rp 75.000.000 = Rp 9.000.000
6. Diasumsikan bahwa kelebihan bayar pajak selalu di restitusi. Restitusi Pajak merupakan objek pajak (Pasal 4
ayat 5e UU PPh) dengan demikian diperhitungkan dalam laba fiskal.
7. Karena tidak diberi keterangan dengan jelas mengenai pajak apa, maka diasumsikan STP tersebut atas
angsuran PPh 25. Karena perusahaan mengalami rugi fiskal pada tahun 2012, maka STP tersebut tidak perlu
dibayarkan, namun demikian, hal ini tidak berarti perusahaan tidak perlu menghiraukan SPT tersebut.
Perusahaan butuh untuk memberikan surat permohonan pembatalan STP tersebut. Jika tidak, maka
Direktorat Jenderal Pajak akan terus mengejar perusahaan untuk melunasi SPT tersebut, terlepas dari
keadaan rugi fiskal. Mengenai ketentuan tata cara pembatalan SPT dapat dilihat pada PMK
No.8/PMK.03/2013.
8. Karena perusahaan mengalami rugi fiskal, dan tidak ada informasi atas rutinitas pendapatan maupun biaya,
maka angsuran PPh 25 untuk tahun 2013 diasumsikan nihil atau 0.

Jurnal:
31 Des 11 Aset Pajak Tangguhan Rp 62.500.000
Deferred Tax Revenue Rp 62.500.000
2012 Kas Rp 30.000.000
Pendapatan Restitusi Pajak Rp 30.000.000
31 Des 12 Aset Pajak Tangguhan Rp 172.575.000
Deferred Tax Revenue Rp 172.575.000
2012 Kas Rp 75.000.000
Pendapatan Restitusi Pajak Rp 75.000.000
31 Des 13 Income Tax Expense Rp 298.675.000
Benefit due to loss carryfoward Rp 235.075.000
Income Tax Payable Rp 63.600.000

2
MOJAKOE Perpajakan 2 UAS Semester Gasal 2013/2014
2. Deferred Tax
Akun Deferred Tax adalah akun yang muncul akibat adanya perbedaan temporer antara akuntansi (komersil)
dan peraturan perpajakan (fiskal). Sesuai dengan namanya, perbedaan ini hanyalah bersifat sementara sehingga
suatu saat nanti keduanya akan mencapai suatu titik di mana pencatatan secara komersil dan fiskal akan bernilai
sama.

Secara umum, ada dua kategori atas deferred tax, yakni:


a. Deferred Tax Liability (Utang Pajak Tangguhan): Utang pajak tangguhan adalah akun yang muncul karena
perlakuan yang berbeda antara komersil dan fiskal yang mengakibatkan income (pendapatan)
perusahaan secara komersil lebih besar dibandingkan dengan income menurut fiskal. Contohnya adalah
pengakuan income secara akrual pada akuntansi, laju depresiasi secara fiskal yang lebih besar
ketimbang laju depresiasi secara komersil.
Key Point: Perbedaan menyebabkan laba akuntansi lebih besar dibanding laba fiskal.
b. Deferred Tax Asset (Aset Pajak Tangguhan): Aset pajak tangguhan adalah akun yang muncul karena perlakuan
yang berbeda antara komersil dan fiskal yang mengakibatkan income (pendapatan) perusahaan secara
komersil lebih kecil dibandingkan dengan income menurut fiskal. Contohnya adalah pengakuan beban
secara akrual pada akuntansi, rugi fiskal yang dapat dikompensasikan pada laba fiskal tahun-tahun
berikutnya (Tax Loss CarryFoward), dsb.
Key Point: Perbedaan menyebabkan laba akuntansi lebih kecil dibanding laba fiskal.

Perbedaan Temporer (Fiskal – Komersil)


Penyusutan Inventaris div. Penjualan: 10.000.000 – 8.000.000 = Rp 2.000.000
Penyusutan Minibus: 25.000.000 – 40.000.000 = (Rp 15.000.000)

Deferred Tax Liability:


Penyusutan Inventaris div. Penjualan = Rp 2.000.000 x 25% = Rp 500.000

Deferred Tax Asset:


Penyusutan Minibus: Rp 15.000.000 x 25% = Rp 3.750.000
Loss CarryFoward 2011: Rp 250.000.000 x 25% = Rp 62.500.000
Loss CarryFoward 2012: Rp 690.300.000 x 25% = Rp 172.575.000
Total = Rp 238.825.000

Jurnal sebelumnya.. (Jawaban No. 1)


31 Des 11 Aset Pajak Tangguhan Rp 62.500.000
Deferred Tax Revenue Rp 62.500.000
31 Des 12 Aset Pajak Tangguhan Rp 172.575.000
Deferred Tax Revenue Rp 172.575.000

Jurnal
31 Des 12 Aset Pajak Tangguhan Rp 3.750.000
Deferred Tax Expense Rp 500.000
Utang Pajak Tangguhan Rp 500.000
Deferred Tax Revenue Rp 3.750.000

3
MOJAKOE Perpajakan 2 UAS Semester Gasal 2013/2014
Problem 2. Pajak Pertambahan Nilai dan Akuntansi Perpajakan (35%)
1a. aktivitas Perusahaan
Faktur/ Nota/ PK/
No. DPP PPN Keterangan
Pembetulan PM
05 Januari 2013
1 Faktur PK 1.000 x 20.000 2.000.000 Pengiriman dari Pusat ke Cabang
2 Faktur PK 3.000 x 20.000 6.000.000 Pengiriman dari Pusat ke Cabang
3 Faktur PK 2.000 x 50.000 10.000.000 Penjualan secara kredit
4 Faktur PK 1.000 x 50.000 5.000.000 Konsinyasi
20% x 90% x 500
5 Faktur PK 450.000 Penerimaan Pembayaran Termin
x 50.000
6 Faktur PM 100.000.000 10.000.000 Pembelian Kertas
7 Faktur PM 50.000.000 5.000.000 Pembelian Tinta dari China
30 Januari 2013
Faktur telah dibuat atas seluruh
1 Tidak ada entry
transaksi sejak penyerahan barang
05 Februari 2013
80% x 90% x 500 Penyerahan seluruh barang (DP telah
1 Faktur PK 1.800.000
x 50.000 diterima)
2 Tidak ada entry
3 Tidak ada entry
Faktur telah dibuat sejak barang
4 Tidak ada entry
diserahkan
5 Nota Retur PK 100 x 50.000 500.000 Retur Buku Rusak
28 Februari 2013
Diskon setelah pembuatan faktur tidak
1 Tidak ada entry dapat mengurangi DPP. Asumsi tidak
ada FP pengganti.
2 Nota Retur PM 10.000.000 1.000.000 Retur kertas rusak

1b. Jurnal Akuntansi


5 Januari 2013:
1. Inventori Cabang Bandung Rp 20.000.000
Inventori Pusat Rp 20.000.000
Kas Rp 2.000.000
PPN Keluaran Rp 2.000.000
PPN Masukan Cabang Bandung Rp 2.000.000
Kas Cabang Bandung Rp 2.000.000
(Pengiriman Barang ke Cabang di Bandung)
2. Inventori Cabang Surabaya Rp 60.000.000
Inventori Pusat Rp 60.000.000
Kas Rp 6.000.000
PPN Keluaran Rp 6.000.000
PPN Masukan Cabang Surabaya Rp 6.000.000
Kas Cabang Surabaya Rp 6.000.000
(Pengiriman Barang ke Cabang di Surabaya)
3. Piutang Usaha Rp 110.000.000
Penjualan Rp 100.000.000
PPN Keluaran Rp 10.000.000
Harga Pokok Penjualan Rp 40.000.000
Inventori Pusat Rp 40.000.000
(Penjualan Buku secara Kredit oleh Grademia)
4. Inventori Konsinyasi – Berjaya Rp 20.000.000
Inventori Pusat Rp 20.000.000

4
MOJAKOE Perpajakan 2 UAS Semester Gasal 2013/2014
Kas Rp 5.000.000
PPN Keluaran Rp 5.000.000
(Pengiriman barang konsinyasi)
5. Kas Rp 4.950.000
Pendapatan diterima di muka Rp 4.500.000
PPN Keluaran Rp 450.000
(Penerimaan Pembayaran DP dari Yayasan berbagi buku)
6. Persediaan Kertas Rp 100.000.000
PPN Masukan Rp 10.000.000
Kas Rp 110.000.000
(Pembelian kertas)
7. Persediaan Tinta Rp 50.000.000
PPN Masukan Rp 5.000.000
Kas Rp 55.000.000
(Pembelian tinta)

30 Januari 2013
1. Kas Rp 40.000.000
Piutang Usaha Rp 40.000.000
(Penerimaan Pembayaran pertama, 30%, dari Grademia. Jumlah: 30% pembayaran + Pajak Terutang)

5 Februari 2013
1. Harga Pokok Penjualan Rp 10.000.000
Inventori Pusat Rp 10.000.000
Kas Rp 15.300.000
Pendapatan diterima di muka Rp 4.500.000
Pajak Keluaran Rp 1.800.000
Penjualan Rp 18.000.000
(Pengiriman Barang yang telah dipesan oleh Yayasan Berbagi Buku)
2. Kas Rp 15.000.000
Kas Cabang Bandung Rp 15.000.000
Harga Pokok Penjualan Rp 6.000.000
Inventori Cabang Bandung Rp 6.000.000
(Penyerahan hasil penjualan dari Cabang di Bandung)
3. Kas Rp 25.000.000
Kas Cabang Surabaya Rp 25.000.000
Harga Pokok Penjualan Rp 10.000.000
Inventori Cabang Surabaya Rp 10.000.000
(Penyerahan hasil penjualan dari Cabang di Surabaya)
4. Kas Rp 7.000.000
Pendapatan Konsinyasi (neto) Rp 7.000.000
Harga Pokok Penjualan Rp 4.000.000
Inventori Konsinyasi – Berjaya Rp 4.000.000
(Penyerahan hasil penjualan konsinyasi dari Berjaya)
5. Inventori Pusat Rp 2.000.000
Inventori Konsinyasi – Berjaya Rp 2.000.000
Pajak Keluaran Rp 500.000
Kas Rp 500.000
(Retur barang konsinyasi)

28 Februari 2013
1. Kas Rp 69.500.000
Diskon Penjualan Rp 500.000
Piutang Usaha Rp 70.000.000
(Pelunasan dari Grademia – Diskon karena rusak)
2. Kas Rp 11.000.000
Persediaan Kertas Rp 10.000.000
Pajak Masukan Rp 1.000.000
(Retur Pembelian Kertas)

5
MOJAKOE Perpajakan 2 UAS Semester Gasal 2013/2014
2. PPN disetor

Bulan Januari
PPN Keluaran = Rp 23.450.000 (2.000rb + 6.000rb + 10.000rb + 5.000rb + 450rb)
PPN Masukan = Rp 15.000.000 (10.000rb + 5.000rb)
PPN yang masih harus di setor = Rp 8.450.000

Bulan Februari
PPN Keluaran = Rp 1.300.000 ...............................(1.800rb – 500rb)
PPN Masukan = Rp (1.000.000) .............................(-1.000rb)
PPN yang masih harus di setor = Rp 2.300.000

Problem 3
Problem 3 ini tergantung dari pertemuan khusus yang dibawakan di masing-masing kelas perpajakan 2. Untuk
Perpajakan 2 (3 sks) mungkin mengenai materi perpajakan oleh industri tertentu. Sementara untuk Perpajakan 2
(2 sks) mungkin mengenai perpajakan di UMKM. Kemungkinan yang lain adalah mengenai etika dalam
perpajakan.

Untuk Jawaban Problem 3 ini, silahkan mereferensi sendiri ke:


- Undang-undang Ketentuan Umum Tata Cara Perpajakan (KUP)
- http://hitungpajak.wordpress.com/category/pajak/
- Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.79 Tahun 2010
- Dan sumber lainnya jika mau lebih lengkap.

--- Well, Selamat Belajar dan Good Luck! ---


Tax Study Division, SPA FEUI 2014

6
MOJAKOE Perpajakan 2 UAS Semester Gasal 2013/2014
Presented By: SPA-Tax Study Division Perpajakan 2

MOJAKOE

PERPAJAKAN 2

Dilarang Memperbanyak Mojakoe ini tanpa seijin SPA FEUI


Mojakoe dapat didownload di www.spa-feui.com

Fb: SPA FEUI Twitter: @spafeui

www.spa-feui.com Twitter :@spafeui FB: SPA FEUI


Presented By: SPA-Tax Study Division Perpajakan 2

Ujian Akhir Semester Gasal 2009/2010

Mata Kuliah : Perpajakan 2

Sifat : Open All

Waktu : 150 menit

Soal :

PT Indoelectric Persada (“Perusahaan”) didirikan berdasarkan akta notaris Dude Herlambang, S.H. No 103
tanggal 02/01.th 96 tanggal 15 oktober 2006 adan dimumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia
N0. 25, Tambahan No.2245 tanggal 3 November 2006. Perusahaan berkedudukan di Jalan Jendral
Sudirman No. 21, Jakarta Pusat sedangkan pabrik berada di Karawang Industri Cikarang. NPWP dan
NPPKP perusahaan :01.550.056.9.022.000. Pembukuan dilakukan dengan menggunakan Bahasa Indonesia
dan mata uang rupiahdengan metode akrual. Ruang lingkup kegiatan usaha perusahaan meliputi bidang
produksi dan penjualan alat-ala elektronik ke pasar domestik.

Pada Juni 2010, Dwi Darmawan bekerja di Perusahaan sebagai manajer pajak. Masuknya dwi bertepatan
dengan dimulainya pemeriksaan pajak penghasilan Perusahaan untuk tahun 2009 oleh KPP (fiskus).

Pemeriksaan dilakukan kurang lebih 6 bulan. Pada tanggal 15 Desember 2010, KPP mengeluarkan SKPKB
sebagai berikut:

1. SKPKB PPh Badan sebesar 400 juta


2. SKPKB PPh Pasal 23/26 sebesar 80 juta
3. SKPKB PPh Pasal 4(2) sebesar 35 juta

Berikut keterangan yang diberikan oleh fiskus berkaitan dengan penerbitan SKPKB di atas:

 SKPKB PPh Badan, berikut sebagian koreksi yang dilakukan fiskus:


1. Berkaitan dengan biaya gaji, didalamnya termasuk biaya pengobatan yang menurut fiskus
tidak boleh dijadikan biaya oleh perusahaan sekitar 90 juta
2. Berkaitan dengan biaya pemeliharaan fiskus melakukan koreksi sebesar 50 juta karena
menurut fiskus biaya pemeliharaan tersebut non deductible expense
3. Berkaitan dengan biaya beasiswa, fiskus melakukan koreksi sebesar Rp 50 juta karena
menurut fiskus biaya beasiswa untuk selain pegawai perusahaan merupakan non
deductible expense
 SKPKB PPh Pasal 23/26, timbul sebagian karena :
 Perusahaan belum memotong PPh Pasal 23 yang terutang atas pembayaran bunga
pinjaman kepada PT Bank ABC (salah satu bank BUMN) seniali 40 juta
 Perusahaan belum memotong PPh Pasal 26 yang terutang atas pembayaran bunga
pinjaman kepada Bank of London (salah satu bank di Inggris) senilai 40 juta
 Perusahaan belum memotong pajak atas pembayaran dividen kepada para pemegang
sahamnya dengan total deviden yang dibayarkan sebesar 150 juta
 SKPKB PPh Pasal 4(2), timbul sebagian karena Perusahaan belum memotong pajak atas
pembayaran deviden kepada para pemegang sahamnya

www.spa-feui.com Twitter :@spafeui FB: SPA FEUI


Presented By: SPA-Tax Study Division Perpajakan 2

Berikut adalah informasi-informasi dari staf Dwi sehubungan dengan akun-akun yang dikoreksi oleh
Fiskus:

 Biaya pengobatan merupakan akun untuk biaya yang naturenya adalah biaya pengobatan
karyawan di klinik yang dimiliki perusahaan. Perusahaan menganggap bahwa biaya kesehatan
karyawan adalah deductible expense karena berhubungan dengan kondisi karyawan yang
akan mempengaruhi kegiatan operational perusahaan
 Biaya pemeliharaan merupakan akun biaya pemeliharaan gedung , kendaraan, dan mesin-
mesin yag dimiliki. Termasuk didalamnya biaya pemeliharaan gedung yang disewakan kepada
pihak ketiga senilai 50 juta
 Akun biaya beasiswa merupakan biaya beasiswa yang diberikan Perusahaan,baik kepada
pegawai perusahaan maupun kepada mahasiswa dan pelajar di institusi-institusi pendidikan.
 Para pemegang saham perusahaan adalah sebagai berikut:
Pemegang Saham Kepemilikan
XYZ (Perusahaan asing) 45%
Tuan X 30%
PT HIJ 15%
Tuan Y 10%

Berdasarkan informasi di atas :

Berikan pendapat anda (setuju atau tidak setuju) atas koreksi yang dilakukan fiskus terhadap masing-
masing item ang menimbulkan SKPKB si atas! Jelaskan alasan yang melatarbelakangi pendapat anda
tersebut serta jangan lupakan berikan dasar hukumnya.

Jawaban :

1. Berkaitan dengan SKPKB PPh Badan sebesar 400 juta yang dikeluarkan fiskus untuk koreksi :
 Berkaitan dengan biaya gaji, didalamnya termasuk biaya pengobatan yang menurut fiskus tidak
boleh dijadikan biaya oleh perusahaan sekitar 90 juta. Dimana Biaya pengobatan merupakan
akun untuk biaya yang naturenya adalah biaya pengobatan karyawan di klinik yang dimiliki
perusahaan. Perusahaan menganggap bahwa biaya kesehatan karyawan adalah deductible
expense karena berhubungan dengan kondisi karyawan yang akan mempengaruhi kegiatan
operational perusahaan. Maka dengan asumsi bahwa biaya pengobatan adalah natura, koreksi
fiskus pajak sudah tepat karena pada dasarnya natura adalah non deductible expense, kecuali
natura yang sesuai dengan PMK No.83/PMK.03/2009.
Di peraturan tersebut, biaya pengobatan tidak termasuk dalam kategori natura di pasal 2(c) dan
pasal 5 PMK diatas tentang pemberian natura dan kenikmatan yang merupakan keharusan dalam
pelaksanaan pekerjaan sebagai sarana keselamatan kerja atau karena sifat pekerjaan tersebut
mengharuskan. Biaya pengobatan ini juga tidak memenuhi kondisi sebagaimana dalam pasal 2 (b)
dan pasal 4 PMK diatas, karena letak perusahaan yang berada di Jakarta tidak memenuhi kondisi
sebagai “daerah tertentu” sebagaimana dalam PMK diatas.

www.spa-feui.com Twitter :@spafeui FB: SPA FEUI


Presented By: SPA-Tax Study Division Perpajakan 2

 Berkaitan dengan biaya pemeliharaan fiskus melakukan koreksi sebesar 50 juta karena menurut
fiskus biaya pemeliharaan tersebut non deductible expense. dimana Biaya pemeliharaan
merupakan akun biaya pemeliharaan gedung , kendaraan, dan mesin-mesin yag dimiliki.
Termasuk didalamnya biaya pemeliharaan gedung yang disewakan kepada pihak ketiga senilai 50
juta. Maka dengan asumsi bahwa koreksi 50 juta oleh fiskus hanya terkait dengan biaya
pemeliharaan gedung yang disewakan kepada pihak ketiga senilai 50 juta, maka dengan
beberapa dasar hukum yang akan dijelaskan lebih lanjut, koreksi fiskus sudah tepat.
Berdasarkan pasal 4 ayat 2 huruf d UU No 36 th 2008 tantang pajak penghasilan, “penghasilan
dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha
real estate, dan pesewaan tanah dan/atau bangunan” termasuk penghasilan yang dapat
dikenakan pajak bersifat final. Dimana dalam kasus gedung perusahaan disewakan kepada pihak
ketiga sehingga memenuhi kondisi untuk dikenalan PPh Final. Dan semua beban yang terkait
dengan penghasilan yang dikenakan PPh final pada dasarnya adalah non deductible expense.

 Berkaitan dengan biaya beasiswa, fiskus melakukan koreksi sebesar Rp 50 juta karena menurut
fiskus biaya beasiswa untuk selain pegawai perusahaan merupakan non deductible expense,
dimana Akun biaya beasiswa merupakan biaya beasiswa yang diberikan Perusahaan,baik kepada
pegawai perusahaan maupun kepada mahasiswa dan pelajar di institusi-institusi pendidikan.
Maka dengan asumsi biaya beasiswa ini adalah dalam rangka peningkatan SDM, nilai nya sudah
wajar dan berdasarkan dasar hukum yang akan dijelaskan lebih lanjut, maka koreksi fiskus atas
hal ini tidak tepat.
Dalam penjelasan pasal 6 ayat 1 huruf g UU No 36 th 2008, dijelaskan bahwa “biaya yang
dikeluarkan untuk keperluan beasiswa, magang, dan pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas
sumber daya manusia dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan dengan memperhatikan
kewajaran, termasuk beasiswa yang dapat dibebankan sebagai biaya adalah beasiswa yang
diberikan kepada pelajar, mahasiswa dan pihak lain”.

2. Berkaitan dengan SKPKB PPh Pasal 23/26 sebesar 80 juta tentang koreksi oleh fiksus , kerana:
 Perusahaan belum memotong PPh Pasal 23 yang terutang atas pembayaran bunga pinjaman
kepada PT Bank ABC (salah satu bank BUMN) senilai 40 juta, koreksi fiskus tidak tepat karena
berdasarkan pasal 23 ayat 4 huruf a UU No 36 th 2008, pemotongan pajak untuk bunga tidak
dilakukan atas penghasilan yang dibayarkan atau terutang kepada bank.
 Perusahaan belum memotong PPh Pasal 26 yang terutang atas pembayaran bunga pinjaman
kepada Bank of London (salah satu bank di Inggris) senilai 40 juta, koreksi fiskus sudah tepat
karena berdasarkan pasal 26 ayat 1 huruf b UU No 36 th 2008, bunga yang dibayarkan kepada
wajib pajak luar negeri selain BUT tetap di Indonesia dipotong pajak 20% bruto oleh pihak yang
membayarkan.
 Perusahaan belum memotong pajak atas pembayaran dividen kepada para pemegang sahamnya
dengan total deviden yang dibayarkan sebesar 150 juta. Dimana :
Pemegang Saham Kepemilikan
XYZ (Perusahaan asing) 45%
Tuan X 30%
PT HIJ 15%
Tuan Y 10%

www.spa-feui.com Twitter :@spafeui FB: SPA FEUI


Presented By: SPA-Tax Study Division Perpajakan 2

Maka dalam hal ini karena pembahasan adalah terkait dengan PPh 23 /26 maka yang akan diperhatikan
adalah deviden ke Perusahaan XYZ dan PT HIJ.

Terkait dengan kewajiban perusahaan untuk memotong PPh 23 atas deviden ke PT HIJ, koreksi fiskus
sudah tepat karena berdasarkan pasal 4 ayat 1 huruf g serta pasal 23 ayat 1 huruf a (1), deviden yang
kepada wajib pajak dalam negeri dipotong pajak oleh pihak yang membayarkan sebesar 15 % bruto.

Terkait dengan kewajiban perusahaan untuk memotong PPh 26 atas deviden ke Perusahaan XYZ , koreksi
fiskus sudah tepat karena berdasarkan karena berdasarkan pasal 26 ayat 1 huruf a UU No 36 th 2008,
deviden yang dibayarkan kepada wajib pajak luar negeri selain BUT tetap di Indonesia dipotong pajak 20%
bruto oleh pihak yang membayarkan.

3. Berkaitan dengan SKPKB PPh Pasal 4(2) sebesar 35 juta, karena :


Perusahaan belum memotong pajak atas pembayaran deviden kepada para pemegang sahamnya, dan
dengan kondisi :
Pemegang Saham Kepemilikan
XYZ (Perusahaan asing) 45%
Tuan X 30%
PT HIJ 15%
Tuan Y 10%
maka dalam hal ini karena pembahasan terkait dengan PPh Final, pembayaran deviden yang dimaksud
adalah deviden kepada WPDN OP, yaitu Tuan X dan Tuan Y.
Terkait dengan kondisi dimana perusahaan belum memotong pajak atas pembayaran deviden ini,
koreksi fiskus sudah tepat, karena berdasarkan Pasal 17 ayat 2c penghasilan berupa deviden yang
dibagikan kepada WPDN OP dikenakan pajak paling tinggi 10% dan bersifat final.

www.spa-feui.com Twitter :@spafeui FB: SPA FEUI


MOJAKOE

PAJAK 2

Dilarang memperbanyak mojakoe ini tanpa seijin SPA FEUI

Mojakoe dapat didownload di www.spa-feui.com

FB: SPA FEUI Twitter: @spafeui


Presented by: SPA-Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2

FINAL EXAM
SEMESTER GASAL 2010/2011

MATA KULIAH : PERPAJAKAN 2


WAKTU : 180 MENIT
SIFAT : OPEN ALL (PARALEL)

Soal 1 (30%)

a. Pada tahun 2010, PT Imporindo, yang memiliki Angka Pengenal Impor (API), membeli suku
cadang kendaraan bermotor dengan nilai Rp100.000.000. Asuransi yang dibayar di luar
negeri sebesar 2% dari harga impor dan bea masuk yang dikenakan sebesar 4% dari harga
impor. Berapa PPh pasal 22 Impor?
b. Membayar tagihan (Tidak termasuk PPN) kepada PT Indah atas pengerjaan konstruksi
pembuatan gedung dengan perincian sebagai berikut:
 Material/ bahan bangunan sebesar Rp160.000.000
 Jasa Pelaksanaan konstruksi sebesar Rp80.000.000
Jumlah tagihan belum termasuk PPN.
Jelaskan aspek pemotongan PPh-nya dan hitung berapa PPh yang harus dipotong apabila
diketahui PT Indah adalah perusahaan konstruksi yang memiliki kualifikasi usaha kecil? Dan
apakah perbedaannya apabila PT Indah memiliki tidak memiliki sertifikasi usaha konstruksi?
c. PT Jaya menyewa truk kontainer dari CV. Angkutan Kota untuk keperluan perusahaan dengan
total sewa Rp5 juta. Jelaskan aspek pemotongan PPh-nya!
d. PT Bosung Indonesia membayar gaji kepada salah seorang Expatriate dari Jepang, Mr.
Ajinomoto yang dikontrak perusahaan untuk selama 2 bulan. Gaji yang dibayarkan kepada Tn.
Ajinomoto untuk bulan September adalah US$ 7,000 (Kurs Menteri Keuangan yang berlaku
adalah Rp9.200/ US$ 1, sedangkan kurs tengah Bank Indonesia adalah Rp9.700/ US$1).
Jelaskan aspek pemotongan PPh-nya!
e. Donny bekerja sebagai pegawai tetap pada PT Utama sejak 1 April 2007, menikah tanpa anak
memperoleh gaji sebulan Rp5.000.000. PT Utama mengikuti program Jamsostek, premi
Jaminan Kecelakaan Kerja dan Premi Jaminan Kematian dibayar oleh pemberi kerja dengan
jumlah masing-masing 0,5% dan 0,3% dari gaji. PT Utama menanggung iuran jaminan Hari
Tua setiap bulan sebesar 3,7% dari gaji sedangkan Donny membayar Iuran Jaminan hari Tua
setiap bulan sebesar 2,00% dari gaji setiap bulan.
Di samping itu PT Utama juga mengikuti program pensiun untuk pegawainya. PT Utama
membayar iuran pensiun untuk Donny ke dana pensiun, yang pendiriannya telah disahkan
oleh Menteri Keuangan, setiap bulan sebesar Rp70.000.000 sedangkan Donny membayar
iuran pensiun sebesar Rp50.000. Bonus dibagikan di bulan Desember 2007 sebesar Rp10 juta.
a. Hitunglah PPh Pasal 21 yang terutang atas seluruh penghasilan Donny di tahun 2010
b. Hitunglah PPh Pasal 21 atas bonus yang diterima Donny di tahun 2010.

Soal 2 (30%)
Berikut ini adalah informasi terkait transaksi PT ABC selama tahun 2010:

 Pemegang saham PT ABC adalah PT DEF (Konsultan manajemen) dengan kepemilikan saham
60% dan PT GHI (perusahaan pemasaran) dengan kepemilikan 40%.
 Besarnya penghasilan usaha yang dilaporkan dalam laporan laba rugi perusahaan tahun 2010
adalah Rp8 milyar.
 Omset PPN yang dilaporkan PT Bintang Kejora selama tahun 2010 adalah Rp9 milyar.
 Pada bulan Desember 2009 perusahaan membuat kontrak senilai Rp800 juta yang sampai
dengan akhir Desember 2009 belum diterima pembayarannya. Faktur pajak dibuat perusahaan
pada bulan Januari 2010.

Semester Genap 2010/2011 Page 2


Presented by: SPA-Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2

 Pada bulan Juli 2010, perusahaan menyumbangkan barang produksi senilai Rp100 juta kepada
SMK Pelangi.
 Jumlah penyerahan konsinyasi yang dilakukan perusahaan pada tahun 2010 adalah sebesar
Rp500 juta dan jumlah pembayaran yang diterima perusahaan atas penyerahan konsinyasi
tahun 2010 tersebut adalah sebesar Rp400 juta. Perusahaan telah membuatkan faktur pajak
untuk seluruh penyerahan konsinyasi di tahun 2010.
 Perusahaan memiliki rata-rata deposito selama tahun 2010 sebesar Rp2 milyar dengan tingkat
suku bunga 10%. Sedangkan rata-rata pinjaman yang dimiliki perusahaan senilai Rp2,5 Milyar
dengan tingkat suku bunga 12%.
 Perusahaan menyediakan makan siang untuk seluruh karyawannya di kantin, namun biasanya
para direksi dan manajer tidak ikut makan siang bersama di kantin melainkan membeli sendiri
makan siangnya. Besarnya beban terkai dengan makan siang karyawan selama tahun 2010
adalah Rp200 juta. Jumlah direksi dan manajer PT ABC adalah 15 orang. Sementara jumlah
karyawan lain adalah 185 orang.
 Perusahaan tidak pernah memberikan dividen kepada para pemegan sahamnya. Namun
perusahaan selalu menggunakan jasa dari para pemegang sahamnya, dan memberikan fee
yang lebih besar dibandingkan fee jasa sejenis di pasaran.

Pertanyaan :
1. Jelaskan hal-hal yang menyebabkan terjadinya perbedaan omset usaha perusahaan dalam
laporan laba rugi dengan yang terdapat di SPT PPN. Apakah diperlukan koreksi fiskal atas
penghasilan usaha yang dilaporkan dalam laporan laba rugi perusahaan? Jelaskan jawaban
anda!
2. Berapa beban bunga dan beban makan siang karyawa yang boleh dibebankan perusahaan?
3. Bagaimana perlakuan pembebanan fee jasa yang dibayarkan kepada para pemegang saham?

Soal 3 (10%)

1. Jelaskan beberapa konsep-konsep dasar yang digunakan dalam pemungutan PPN, yaitu :
 Indirect Substraction Method
 Destination Principle
 Consumption Tax
2. Berikan contoh penerapan masing-masing konsep tersebut dalam pasal-pasal UU PPN yang
berlaku sekarang!

Soal 4 (30%)

PT Matsui Indonesia, perusahaan PMA dari Jepang, telah memutuskan untuk menempatkan salah
satu direktur dari Perusahaan Holdingnya, Tn. Nakamura yang tinggal di Kyoto untuk ditempatkan
di lokasi pabriknya di Semarang. Untuk itu, Nakamura akan membawa peralatan kerja khususnya
untuk Quality Control dan barang-barang pribadi lainnya. Untuk memindahkan barang-barang
tersebut ke Semarang kantor Pusat PT Matsui Indonesia di Jakarta menunjuk PT Lancar Angkut
Forwarder (PT LAF) untuk mengurus pemindahan barang Nakamura. PT. LAF kemudian
rekanannya di Jepang Tokai Maru Forwarder, Inc. untuk membantu melakukan pengerjaan
pengepakan dsb di Jepang, kemudian mengurus pengangkutannya ke Jakarta, dari Jakarta sampai
Semarang dan penataan di Semarang akan dikerjakan oleh PT LAF. Untuk tanggung jawab
pelaksanaan keseluruhan tetap tanggung jawab PT LAF, dan pembayaran kepada Tokai Maru
Forwarder juga melalui PT. LAF. Tokai Maru akan menagih US$ 10.000 (melalui PT. LAF), yang
kemudian kaan menagih kepada PT Matsui Indonesia, dengan fee sebesar Rp30 juta ditambah
supervision fee sebesar 2% atas fee dari Tokai Maru Inc. PT LAF akan membuat kontrak kerja
dengan PT Matsui Indonesia untuk pekerjaan tersebut dengan cara cost plus fee, yang telah
disetujui oleh kedua bela pihak. Berarti pembayaran oleh PT LAF ke Nakamura akan digantikan/di-
reimburse oleh PT Matsui Indonesia.

Semester Genap 2010/2011 Page 3


Presented by: SPA-Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2

Pertanyaan:
1. Apakah pada waktu PT LAF membayar ke Nakamura harus membayar PPN dan memotong
PPh 26? Jelaskan alasan saudara!
2. Pada saat membayar tersebut bagaimana pencatatan dan pembukuan PT LAF (buatlah
jurnalnya!)
3. Pada saat penagihan dilakukan oleh PT LAF ke PT Matsui Indonesia, bagaimana jurnalnya dan
pajak apa yang sudah harus dicatat oleh kedua belah pihak?
4. Dokumen apa saja yang harus diserahkan kepada PT Matsui Indonesia pada saat penagihan
terkait permintaan reimbursemen biaya Nakamura?
5. Pada saat pembayaran kepada PT LAF oleh PT Matsui Indonesia, bagaimana jurnalnya di
kedua belah pihak dan dokumen apa saja yang penting harus diterima oleh PT LAF?

Semester Genap 2010/2011 Page 4


Presented by: SPA-Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2

Jawaban:
Soal 1 (30%)

a. Harga suku cadang kendaraan bermotor = Rp 100.000.000


Asuransi yang dibayar di luar negeri = 2% * Rp 100.000.000
= Rp 2.000.000
Bea masuk = 4% * Rp 100.000.000
= Rp 4.000.000
Perusahaan memiliki API, jadi kena rate 2,5% sehingga:
PPh Pasal 22 = 2.5% * (100.000.000+2.000.000+4.000.000)
= 2.5% * 106.000.000
= Rp 2.650.000

b. Berdasarkan PP No 51 Tahun 2008, maka untuk pengusaha konstruksi yang memiliki


kualifikasi usaha kecil, maka akan dikenakan tarif PPh sebesar 2%. Dengan demikian,
maka besarnya PPh final yang harus dipotong dari PT. Indah adalah sebesar:
Material/bahan baku = Rp 160.000.000
Jasa Konstruksi = Rp 80.000.000
Total = Rp 240.000.000
PPh Final yang dipotong atas jasa konstruksi PT Indah yang memiliki kualifikasi usaha kecil
adalah:
2% * Rp 240.000.000 = Rp 4.800.000
Sedangkan apabila PT Indah tidak memiliki sertifikasi, maka akan dikenakan tarif PPh final
sebesar 4% atas pelaksanaan konstruksi PT Indah. Dengan demikian, aka besarnya PPh
yang akan dipotong adalah:
4% * Rp 240.000.000 = Rp 9.600.000

c. Penyewaan truk kontainer dari PT CV Angkutan Kota ke PT Jaya yang digunakan untuk
keperluan perusahaan dikenakan tarif PPh sebesar 2%, sebagaimana diatur dalam pasal
23 ayat 1 (c1). Dengan demikian, maka PPh yang dipotong oleh PT Jaya selaku penyewa
akan memotong PPh atas penyewaan sebesar:
2% * Rp 5.000.000 = Rp 100.000

d. Berdasarkan PPh pasal 26 ayat 1, maka atas upah yang dibayarkan kepada Mr. Ajinomoto
akan dipotong tarif PPh sebesar 20%, sehingga:
PPh yang dipotong = 20% * ($7000*Rp 9.200/ US$1)
= Rp 12.880.000

e. PPh 21 terhutang:

Gaji sebulan Rp 5.000.000


Premi Jaminan Kecelakaan Rp 25.000 (0.5% * 5.000.000)
Premi Jaminan Kematian Rp 15.000 (0,5% * 5.000.000)
Jumlah Penghasilan Bruto Rp 5.040.000

Pengurang:
1.Biaya Jabatan Rp 252.000 (5% * 5.040.000)
2.Iuran Pensiun Rp 50.000
3.Iuran Jaminan Hari Tua Rp 100.000
Jumlah Pengurang (Rp 402.000)

Penghasilan Netto Sebulan Rp 4.638.000


Penghasilan Neto Setahun Rp 55.656.000

Semester Genap 2010/2011 Page 5


Presented by: SPA-Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2

PTKP:
Dari WP Sendiri Rp 15.840.000
Status Kawin Rp 1.320.000
Jumlah PTKP Rp17.160.000

PKP setahun Rp 38.496.000

PPh pasal 21 setahun:


5% * 38.496.000 = Rp 1.924.800
PPh pasal 21 sebulan:
Rp 1.924.800/12 = Rp 160.400

PPh pasal 21 atas bonus:

Gaji sebulan Rp 5.000.000


Premi Jaminan Kecelakaan Rp 25.000 (0.5% * 5.000.000)
Premi Jaminan Kematian Rp 15.000 (0,5% * 5.000.000)
Bonus Rp10.000.000
Jumlah Penghasilan Bruto Rp15.040.000

Pengurang:
1.Biaya Jabatan Rp 252.000 (5% * 5.040.000)
2.Iuran Pensiun Rp 50.000
3.Iuran Jaminan Hari Tua Rp 100.000
Jumlah Pengurang (Rp 402.000)

Penghasilan Netto Sebulan Rp14.638.000


Penghasilan Neto Setahun Rp175.656.000

PTKP:
Dari WP Sendiri Rp 15.840.000
Status Kawin Rp 1.320.000
Jumlah PTKP Rp17.160.000

PKP setahun Rp158.496.000

PPh pasal 21 setahun:


5% * 50.000.000 = Rp 2.500.000
15% * 108.496.000 = Rp 16.274.400
Total PPh pasal 21 = Rp 18.774.400

PPh pasal 21 sebulan:


Rp 18.774.400/12 = Rp 1.564.533,33

Soal 2 (30%)

1. Pada dasarnya omset usaha dalam SPT PPN adalah besarnya Dasar Pengenaan Pajak yang
akan dikalikan dengan tarif PPN untuk mendapatkan nilai PPN Keluaran. DPP ini
merupakan jumlah Barang dan Jasa Kena Pajak yang dijual perusahaan. Apabila ada
bagian dari penjualan perusahaan bukan merupakan Barang dan Jasa Kena Pajak (Pasal
4A UU PPN) maka nilai barang ini dapat menjadi perbedaan omset dalam L/R dan SPT PPN

Semester Genap 2010/2011 Page 6


Presented by: SPA-Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2

Perbedaannya dapat diakibatkan :

Kesalahan waktu dalam penerbitan faktur pajak atau faktur pajak dibuat sebelum penyerahan
barang. Omset perusahaan ditentukan oleh nominal yang tercatat dalam faktur pajak. Jika
faktur pajak dibuat melintasi tahun seperti jika ada pembayaran dimuka di tahun sebelumnya
akan menyebabkan pendapatan diakui PPN sebelum pendapatan menurut Laba Rugi.
1. Adanya transaksi antar cabang ketika menganut prinsip desentralisasi. Jika
membandingkan consolidated L/R perusahaan dengan omset PPN akan mengalami
perbedaan karena PPN akan mengakui pendapatan yang berasal dari transfer antar cabang
sedangkan L/R perusahaan tidak.
2. Adanya pemakaian sendiri. Pemakaian sendiri menurut PPN merupakan suatu komponen
yang terkena PPN sebesar tarif dikalikan dengan HPPnya. Sehingga dengan kata lain
perusahaan memasukkan pemakaian sendiri sebagai komponen pendapatan perusahaan.
3. Adanya pemberian cuma-cuma. Pemberian ini merupakan komponen penjualan
perusahaan menurut PPN yang harus dikenakan PPN Keluaran. Hal ini tidak diakui dalam
laporan laba rugi perusahaan sebagai pendapatan
4. Adanya barang konsinyasi yang tidak diakui sebagai pendapatan dalam L/R tetapi diakui
dalam SPT PPN
Penghasilan berdasarkan PPh Badan 8.000.000.000

Penghasilan tahun 2009 yang diakui di 2010 800.000.000

Sumbangan barang produksi 100.000.000

Konsinyasi tahun 2010 100.000.000

Penghasilan berdasar SPT PPN 2010 9.000.000.000

 Faktur pajak dikoreksi dari omset PPN karena pendapatan tersebut merupakan pendapatan
untuk tahun 2009. Namun secara PPN diakui tahun 2010 karena faktur pajaknya baru
dibuat januari.
 Dalam UU PPN pasal 1A ayat 1 huruf d, sumbangan yang merupakan pemberian cuma-
cuma. Pemberian ini merupakan komponen penjualan perusahaan menurut PPN yang
harus dikenakan PPN Keluaran. Hal ini tidak diakui dalam laporan laba rugi perusahaan
sebagai pendapatan

 Barang konsinyasi tidak diakui sebagai pendapatan dalam L/R tetapi diakui dalam SPT PPN
(UU PPN pasal 1A ayat 1 huruf a). Hal ini dikarenakan barang konsinyasi sudah diserahkan
dan atas penyerahan tersebut dibuatkan faktur pajak.

2. Beban bunga:

Berdasarkan SE-46/PJ.04/1995 yang berbunyi:

“Apabila jumlah rata-rata pinjaman lebih besar dari jumlah rata-rata dana yang
ditempatkan dalam bentuk deposito atau tabungan lainnya, maka bunga atas pinjaman
yang boleh dibebankan sebagai biaya adalah bunga yang dibayar atau terutang atas rata-

Semester Genap 2010/2011 Page 7


Presented by: SPA-Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2

rata pinjaman yang melebihi jumlah rata-rata dana yang ditempatkan sebagai deposito
berjangka atau tabungan lainnya.”

Maka bunga yang dapat dibebankan sebagai biaya adalah sebesar:

12% * (2,5M – 2M) = 12% * 500.000.000

= 60.000.000

Beban makan siang karyawan:

Dalam Soal:

“ Perusahaan menyediakan makan siang untuk seluruh karyawannya di kantin, namun


biasanya para direksi dan manajer tidak ikut makan siang bersama di kantin melainkan
membeli sendiri makan siangnya. Besarnya beban terkait dengan makan siang
karyawan selama tahun 2010 adalah Rp200 juta. Jumlah direksi dan manajer PT ABC
adalah 15 orang. Sementara jumlah karyawan lain adalah 185 orang”

Artinya:
Perusahaan telah menyediakan makan siang pada seluruh karyawan, baik Direksi, manajer
sampai karyawan level bawah. (deductible exp). Sehingga yang dibebankan adalah
seluruhnya Rp 200.000.000. asalkan dalam biaya tersebut tidak termasuk membelikan
makan siang secara khusus pada direksi dan manajer perusahaan.

Jadi, biaya makan siang karyawan yang dapat dibebankan adalah sebesar Rp
200.000.000.

3. Dalam UU PPh pasal 9 ayat 1 (f) disebutkan bahwa jumlah yang melebihi kewajaran yang
dibayarkan kepada pemegang saham atau kepada pihak yang mempunyai hubungan
istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan merupakan objek
pajak yang tidak boleh dikurangkan (non-deductible expense).

Selain itu, atas selisih antara fee yang lebih besar dibandingkan fee jasa sejenis di pasaran
juga diperlakukan sebagai deviden mengingat bahwa pada tahun tersebut perusahaan
tidak membagikan deviden sehingga selisih tersebut dianggap sebagai deviden
terselubung yang harus dipotong PPh Pasal 23.

Soal 3 (10%)

1. Konsep-konsep dasar yang digunakan dalam pemungutan PPN:

a. Indirect Substraction Method : perhitungan PPN berdasarkan selisih pajak dari


harga jual (pajak keluaran) atas pajak yang sudah dibayar saat perolehan barang
tersebut (pajak masukan). Metode ini disebut juga invoice method, yaitu output tax
invoice dikurangi dengan input tax invoice. Jika pajak keluaran lebih besar dari pajak
masukan maka selisih tersebut disetor ke Kas Negara dan jika terjadi sebaliknya maka
selisih tersebut dapat diminta kembali (restitusi) atau dikompensasikan dengan pajak
keluaran masa pajak berikutnya.

Atau Indirect Substraction Method adalah metode penghitungan PPN yang akan disetor
ke kas Negara dengan cara mengurangkan pajak atas perolehan dengan pajak atas
penyerahan barang dan jasa

Semester Genap 2010/2011 Page 8


Presented by: SPA-Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2

b. Destination Principle : konsumsi barang dan jasa yang dapat dikenakan


PPN hanyalah konsumsi yang terjadi di daerah pabean Indonesia. sebagaimana kita
ketahui, PPN menganut tarif tunggal 10%. Akan tetapi, karena UU PPN menganut asas
destination principle, maka untuk kegiatan ekspor dikenakan tarif 0% atas ekspor BKP
yang dimaksudkan agar dalam harga barang yang diekspor tidak terkandung PPN.

Apabila barang atau jasa itu akan dikonsumsi di luar negeri, tidak dikenakan PPN di
Indinesia. Ini sesuai dengan destination principle (prinsip tempat tujuan) yang
digunakan dalam pengenaan PPN yaitu PPN dikenakan di tempat tujuan barang atau
jasa akan dikonsumsi.

c. Consumption Tax : seluruh biaya yang dikeluarkan untuk perolehan


barang modal dapat dikurangi dari dasar pengenaan pajak. Pajak masukan atas
perolehan barang modal dapat dikreditkan dengan pajak keluaran sehingga barang
modal dikenakan PPN hanya satu kali. Dalam tipe konsumsi ini, kemungkinan terjadi
pengenaan pajak berganda atas barang modal dapat dihindari sehingga mendorong
setiap pengusaha yang dikenakan PPN melakukan peremajaan barang modalnya
secara berkala.

PPN sebagai pajak atas konsumsi memberikan indikasi bahwa PPN bukan pajak atas
kegiatan bisnis. Sifat ini menunjukkan perbedaan yang mendasar dengan Pajak
penghasilan yang merupakan pajak yang dikenakan atas kegiatan bisnis.

2. Contoh Penerapan atas:

a. Indirect Substraction Method: Contoh lihat skema gambar berikut ini

PPN
Sistem Pemungutan
PPN atas

Nilai Tambah
Harga Beli Harga Jual
Bh Baku = 500
Bh Pembantu
Biaya
1.700
Suku Cadang = 300 Penyusutan = 100
Dll = 200 Bunga = 150
Jumlah 1.000 Manajemen = 150
Gaji/Upah = 200
Laba Usaha =100
Jumlah 700
Nilai Tambah
700
Subtraction Addition
Indirect Subtraction/
Credit/Invoice
Dalam skema diatas digambarkan proses produksi suatu barang oleh pengusaha di
bidang industry. Untuk menghasilkan produknya, membeli bahan baku, bahan
pembantu suku cadang dan lain-lain yang terkait sebanyak 1.000, sedangkan biaya
yang dikeluarkan dan laba yang diperhitungkan sebesar 700, supaya tidak mengalami
kerugian maka produknya akan dijual dengan harga jual 1.700.
Angka 700 itulah yang dinamakan “nilai tambah”, nilai tambah adalah penjumlahan
unsur-unsur biaya dan laba dalam rangka proses produksi atau distribusi barang atau

Semester Genap 2010/2011 Page 9


Presented by: SPA-Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2

jasa. Jadi nilai tambah tidak semata-mata dihasilkan dari perubahan bentuk atau sifat
suatu barang dalam kegiatan produksi.
Nilai tambah sebesar 700 inilah yang menjadi sasaran pengenaan PPN, bukan harga
jual sebesar 1.700. Untuk mengenakan PPN atas nilai tambah ini dapat dilakukan
melalui tiga metode, yaitu:
1. Substraction method (metode pengurangan secara langsung) yaitu dengancara
mengalikan tariff PPN dengan selisih antara harga jual dan harga beli.
2. Indirect subtraction method (metode pengurangan secara tidak langsung), yait
dengan cara mengurangkan PPN yang dipungut oleh penjual atau pengusaha
jasa atas penyerahan barang atau jasa, dengan PPN yang dibayar kepada
penjual atau pengusaha jasa lain atas perolehan barang atau jasa.
3. Additional method (metode penghitungan nilai tambah), yaitu mengalikan
tariff PPN dengan hasil penjumlahan unsure-unsur nilai tambah.:

Cara kerja ketiga metode ini dapat disimak pada skema gambar berikut ini

PPN
Metodepenghitungan
(calculation method)

Subtraction Method Indirect Sbstraction


Haga Jual =1.700 Addition Method
Haga Jual =1.700
Harga Beli = 1.000 Penyusutan = 100 PPN= 10%x1.700
Bunga = 150
DPP = 700 Manajemen = 150
PPN 10% = 70 Harga Beli = 1.000
Gaji/Upah = 200
Laba Usaha =100 PPN= 10%x1.000
Jumlah 700
PPN terutang untuk
PPN 10% = 70 disetor ke kas negara = 70

Diantara tiga metode tersebut, UU PPN Indonesia menanut indirect substraction


method (metode pengurangan tidak langsung). Untuk mendeteksi kebenaran jumlah
pajak yang terutang atas perolehan dan jumlah pajak yang terutang atas penyerahan
tersebut diperlukan suatu dokumen pendukung. Dokumen ini dinamakan Tax Invoice
(Faktur Pajak), sehingga metode ini dinamakan juga Invoiced Method. Oleh karena itu,
Faktur Pajak merupakan persyaratan mutlak dalam indirect substraction method.
Dalam hukum pajak, kegiatan mengurangkan pajak dengan pajak dinamakan “tax
credit”, oleh karena itu metode ini juga dinamakan “credit method” yaitu
mengkreditkan pajak yang dibayar kepada penjual atau pengusaha jasa yang
dinamakan “Pajak Masukan” (input tax) dengan pajak yang dipungut dari pembeli atau
penerima jasa yang dinamakan “Pajak Keluaran” (output tax).

b. Destination Principle: Impor komputer dari luar negeri dikenakan PPN, karena akan
dikonsumsi di dalam negeri. Demikian pula komputer produksi dalam negeri yang
dijual di dalam negeri dikenakan PPN. Dengan destination principle, PPN tidak bersifat
diskriminatif. Produk domestic atau komoditi impor, sama-sama dikenakan PPN.

Semester Genap 2010/2011 Page 10


Presented by: SPA-Tax Study Division Mojakoe Perpajakan 2

Dengan menerapkan detination principle ini, PPN dapat menunjukkan netralitasnya di


dunia perdagangan international.

c. Consumption Tax:

PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

SISTEM PEMUNGUTAN
PAJAK PENJUALAN

PAJAK ATAS KONSUMSI

BARANG JASA

NETRAL

INTERNAL EKSTERNAL
NEUTRALITY NEUTRALITY

DESTINATION
CONSUMPTION
PRINCIPLE
PRODUCTION
&DISRTRIBUTION

Pada gambar diatas, PPN mampu merealisasi dirinya netral dalam dunia perdagangan
baik domestic maupun internasional. PPN tidak menghendaki dirinya mempengaruhi
kompetisi dalam dunia bisnis. Salah satu legal karakter PPN adalah pajak atas
konsumsi. Karena yang dapat dikonsumsi bukan hanya barang, tetapijuga jasa, maka
PPN memberikan perlakuan yang sama terhadap konsumsi barang dan konsumsi jasa,
yaitu kedua-duanya dikenakan PPN. Jadi meskipun nilai tambah jasa sebenarnya sulit
diukur atau dihitung , PPN tetap dikenakan atas konsumsi jasa. Bahkan secara ideal,
sebenarnya PPN tidak menghendaki adanya pengecualian atau pembebasan, atau
fasilitas. Oleh karena itu, dalam UU PPN 1984, dikenal ada pengecualian objek dan
sejak 1 Januari 1995 mulai diatur secara transparan tentang fasilitas di bidang PPN
meskipun akibatnya menurunkan prosi netralitas PPN.

Soal 4 (30%)

Soal nomor 4 silahkan dicari solusinya sendiri ya.. :)

“In SPA, we believe that associates are our most valuable assets, that’s why we
transform them from good to become excellent”

Semester Genap 2010/2011 Page 11

Anda mungkin juga menyukai