Anda di halaman 1dari 13

Penggunaan Skema AGIL dalam Komunikasi

Apresiatif terhadap Kepercayaan diri


Remaja
Oleh:
1. Riansyah | 170310180025
2. Muhammad Fahrezi | 170310180041
3. Sonza Rahmanirwana F | 170310180074

Pendahuluan
Saat ini, krisis kepercayaan diri dalam remaja
mudah dijumpai. Dengan melihat contoh kecil, tetapi
benar adanya adalah ketakutan diri pelajar untuk
menjawab pertanyaan dari guru saat kegiatan belajar
mengajar berlangsung. Tentunya, kita menyadari bila
terjadi hal seperti itu atau mungkin kita adalah pelakunya.
Jika ditelusuri lebih lanjut, ketakutan pelajar tersebut
berkaitan dengan kepercayaan diri remaja tersebut.
Seperti yang kita ketahui, Remaja adalah fase
perkembangan yang akan dilalui oleh setiap manusia.
Mustahil apabila ada manusia yang langsung hidup di
masa dewasa tanpa mengalami fase remaja terlebih
dahulu. Dalam jurnalnya Emria, Zumi, dan Ifdil
menjelaskan bahwa fase remaja inilah, periode dalam
perkembangan individu yang merupakan masa mencapai
kematangan mental, emosional, sosial, fisik dan pola
peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa
(Hurlock, 1991; Malahayati 2010), sehingga
menimbulkan karakteristik (Zola, N., Ilyas, A., &
Yusri, Y., 2017) yang berbeda antara satu remaja dengan
remaja lain1 (Fitri, Zola, & Ifdil, 2018)

Sebaliknya Masa remaja merupakan fase


pembentukan karakter. Ketika fase tersebut berjalan
dengan baik dan mendapatkan dukungan dari
lingkungannya maka karakter remaja tersebut akan baik.
Namun, jika lingkungannya tidak mendukung
perkembangan remaja maka akan sulit berkembang secara
karakter dan emosionalnya.
Erat kaitannya antara kematangan emosional
dengan perilaku remaja dalam menghadapi lingkungan
sosialnya. Namun, tidak selalu fase remaja yang dilewati
ini mencapai kematangan emosional yang stabil. Maka,
akan sulit untuk meyesuaikan diri terhadap
lingkungannya dan remaja akan menjadi tidak percaya
diri untuk menghadapi kondisi yang ada di sekitarnya.
Permasalahan muncul dari berbagai berbagai
tempat. Permasalahan bisa muncul dari keluarga, sekolah
bahkan tempat bergaul remaja tersebut. Beberapa
kemungkinan terbesar lingkungan yang mempengaruhi,
seperti lingkungan luar, sekolah dan pergaulan. Namun,
lingkungan keluarga merupakan pondasi utama dalam
pembentukan karakter remaja.

1
Fitri, E., Zola, N., & Ifdil, I. (2018). Profil Kepercayaan Diri
Remaja serta Faktor-Faktor yang Mempengaruhi.
Jurnal Penlitian Pendidikan Indonesia.
Suatu ketika remaja merasa tidak diperhatikan.
Merasa sendiri dan tidak ada dukungan dari orang tua bisa
menjadi penyebab munculnya permasalahan pada remaja.
Kadang kali ketika berbicara tidak didengarkan bahkan
dihentikan langsung. Padahal mereka mungkin hanya
ingin sedikit bercerita atau mencari tempat untuk
bercerita. Oleh karena itu, mereka seringkali mencari
tempat lain untuk mencurahkan cerita dan kekesalan
remaja tersebut.
Kepercayaan diri adalah sebagai pengaruh dari
pembentukan kematangan emosional. Selama
pembentukan kematangan emosional tersebut pastinya
ada pihak-pihak yang berperan penting atau memiliki
pengaruh paling besar dalam hal tersebut, yakni orangtua.
Orangtua memiliki peran untuk membimbing anak-anak
dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi kondisi
atau situasi yang baru yang tentunya berbeda dengan
sebelumnya saat ia masih anak.
Berarti pola pengasuhan orangtua memiliki
pengaruh terhadap pembentukan kepercayaan diri si anak
dan orangtua harus menentukan pola pengasuhan seperti
apa agar sang anak dapat mencapai kematangan
emosional yang stabil sehingga tingkat kepercayaan diri
si anak tinggi. Apalagi tingkat kepercayaan diri juga akan
menentukan tingkat kesuksesan.
Beberapa fenomena yang terjadi dikalangan
remaja sangatlah berbeda-beda. Mulai dari remaja yang
berprestasi sampai remaja yang mempunyai masalah ada
disekitar lingkungan kita. Faktor secara internal dan
eksternal menjadi pengaruh dalam pola pengasuhan
remaja. Sejatinya sebagai keluarga harus tetap
mempunyai pola asuh yang tepat untuk anak-anaknya.
Seperti yang disinggung di atas dimana
kepercayaan diri yang tinggi hasil dari pola asuh orang tua
yang tepat akan mempengaruhi kesuksesan remaja.
Kesuksesan ini bisa dilihat dari pengalaman Maudy
Ayunda. Siapa yang tidak mengenal Maudy Ayunda?
Pemain film, penyanyi, dan penulis buku cantik ini sedang
mencapai kesuksesannya. Disamping Maudy Ayunda
sibuk di dunia hiburan, ia juga sibuk mengenyam
pendidikannya. Tidak tanggung-tanggung bahkan Maudy
Ayunda melanjutkan studinya di salah satu kampus
unggulan dunia, yaitu Oxford University. Dibalik
kesuksesannya ini, orang tua Maudy Ayunda memiliki
peran yang besar. Kesukaan Maudy Ayunda terhadap
belajar ini adalah hasil pola asuh orang tuanya dimana
sedari kecil Maudy Ayunda telah ditanamkan untuk
membaca, mengajarkan konsep keseimbangan, dan
menemukan dan mendukung minat Maudy Ayunda di
luar akademik.
Sedangkan, apabila orang tua tidak berhasil
memberikan pola asuh yang tepat terhadap anaknya, anak
akan tumbuh dengan emosi yang tidak stabil sehingga
perilaku anak bisa mengarah pada perilaku menyimpang.
Hal ini bisa dilihat dari kasus pembunuhan Ade Sara oleh
sang pacar. Pacar Ade Sara, Ahmad menjadi tersangka
atas pembunuhan yang dilakukannya kepada Ade Sara
dengan menggunakan alat kejut listrik. Psikolog menduga
bahwa apa yang telah dilakukan oleh Ahmad ini adalah
hasil pola asuh orang tua yang sering membentak,
memberi sindiran, dan membandingkan si anak dengan
orang lain.
Remaja sebagai usia merupakan fase peralihan
dari anak-anak menuju dewasa. Berbicara mengenai
remaja juga berhubungan dengan keseimbangan
emosional. Jika mendapatkan pendampingan yang baik
dari lingkungannya maka remaja akan memiliki
keseimbangan emosional yang baik. Keseimbangan
emosional inilah yang nantinya akan mempengaruhi
kepercayaan diri remaja.
Secara struktural sosial, keluarga mempunyai
peran yang penting bagi perkembangan anak. Keluarga
merupakan suatu sistem perkembangan bagi anak-
anaknya. Dari sistem inilah bisa menciptakan masalah
bagi anggota sistem atau sistem ini menciptakan sistem
yang mendukung. Analisis Sistem menjadi sumber
berdasarkan pendapat Soetomo, mengungkapkan :
“Masalah sosial pada Level Sistem yang
bersumber dari Sistem, dimana sistem sebagai
satuan identifikasi sekaligus sumber masalah2”.
(Soetomo, 2015)
2
Soetomo. (2015). Masalah Sosial dan Upaya
Pemecahannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sistem paling kecil sebagai pendukung pembentukan
karakter berasal dari keluarga. Pelaksanaan sistem dalam
keluarga diaplikasikan melalui pola asuh orang tua dan
keluarga.
Pola asuh orang tua dan keluarga sangat
berpengaruh. Dalam pola asuh ini juga orang tua
seharusnya mempunyai tujuan untuk perkembangan
anaknya sesuai dengan minat dan bakat dari anak.
Menurut teori sosiologi menggunakan pendekatan skema
AGIL, secara struktur orang tua dalam pola asuh harus
memberikan pembelajari mengenai kehidupan.
Analisis dari fenomena Maudy Ayunda, terdapat
beberapa pendukung dibelakangnya. Salah satunya pola
pembinaan dari sang ibu. Sang ibu ternyata menerapkan
komunikasi apresiatif melalui metode ngobrol. Dari salah
satu media mengatakan untuk menentukan tempat makan
pun harus berdikusi selama 30 menit. Fakta lain ternyata
sang ibu menerapkan konsep dari komunikasi apresiatif
dan mengkolaborasikan dengan skema AGIL dari
Talson3.
Dalam skema AGIL, adaptation atau adaptasi
merupakan skema awal yang diterapkan. Melalui strength
base yang dimiliki oleh Maudy Ayunda, ibunya berusaha

3
Ritzer, G. (2012). Teori Sosiologi Dari Sosiologi Klasik Sampai
Perkembangan Terakhir Posrmodern. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
mengadaptasikan kepadanya mengenai kelebihannya.
Selain itu, sang ibu menggunakan metode ngobrol dan
interaksi secara langsung untuk mengajarkan mereka
menemukan problem solving (pemecahan masalah) dalam
hal-hal sederhana.
Nilai komunikasi apresiatif pada bagian adaptasi
ini adalah menemukan kelebihan dan pemecahan
masalah. Sang ibu menggunakan metode interaksi secara
langsung melalui mengobrol untuk menumbuhkan
adaptasi terhadap kelebihan dan penyelesaian masalah
anak-anaknya.
Goal attainment (pencapain tujuan), penerapan
skema tujuan hidup. Pola asuh yang telah dilakukan dari
orang tua maudy ayunda menerapakan skema ini dengan
mengkomunikasikannya dengan baik. Sang ibu untuk
menentukan tempat makan saja memerlukan waktu 30
menit. Dapat diartikan sang ibu memberikan implus untuk
sang anak agar menemukan fashion dan tujuan hidupnya.
Ternyata melalui obrolan sederna dapat
memberikan implus dan dampak yang baik dalam proses
berpikir dengan melempar pertanyatan berbasis what
(apa) bukan why (mengapa). Dengan pertanyaan berbasis
what (apa) orientasinya adalah masa depan dan selalu
berusaha mencari jalan keluar atau pemecahan masalah.
Sedangkan pertanyaan berbasis why (mengapa) adalah
pertanyaan yang berorientasi alasan dan biasanya
berorientsi masa lalu.
Berikut kutipan dari sang ibu dalam sebuah
website online "Sampai sekarang mama saya selalu
meminta anak-anaknya untuk problem solving pada hal-
hal sangat kecil di rumah. Misal kita ada acara, mama
selalu tanya, 'Enaknya nanti makanan katering-nya apa
ya?'.
Cara komunikasi apresiatif yang dilakukan
dengan metode ngobrol santai. Tetapi bahan obrolan yang
dibawakan mengenai beberapa tujuan hidup dan
meningkatkan kemampuan berpikir kritis yang sifatnya
sepele. Selain itu, beliau selalu mendukung apapun yang
dipilihnya dengan memperhatikan dukungan untuk
orientasi kemajuan anaknya.
Interagtion (integrasi), integrasi adalah dimana
tahap dimana skema AGIL yang dibangun dapat bekerja
bersamaan. Maka, bentuk agar komponen-komponen
AGIL ini dapat berfungsi adalah dengan interkasi dimana
interaksi merupakan hubungan yang sosial yang harmonis
antarindividu atau kelompok. Interaksi yang dilalukan
secara langsung akan memberikan pemahaman yang baik
efisien dalam penggunaan waktu. Dalam berinteraksi ini
pula orang tua harus mampu memberikan dampak kepada
anak agar bisa lebih percaya diri. Proses permulaan paling
efektif adalah memulai komunikasi dengan mengobrol
santai saat waktu bersama keluarga. Mungkin dengan
membicarakan keadaan anak, tujuan anak atau hal-hal
yang bersifat sepele atau bisa juga hal yang penting, dan
yang paling penting kegiatan mengobrol ini terus
dilakukan. Tujuannya agar menciptakan keterbukaan bagi
anak dan menjadi tempat curhat mereka.
Selain itu, dalam berinteraksi juga harus
menjunjung tinggi saling menghargai atas sebuah
tindakan. Jika tindakan itu salah maka harus diluruskan
dan tidak menyalahkan sang anak. Mungkin bisa melalui
pendekatan pertanyaan what question. Akan lebih baik
lagi jika kesadaran mengakui kesalahan muncul dari sang
anak, oleh karena itu, orang tua harus mampu memahami
bagaimana interaksi yang baik.
Latency (latensi atau pemeliharaan pola), dalam
berkomunikasi dengan remaja perlunya sebuah
pemeliharaan pola. Pemeliharaan pola ini bisa didasarkan
pada kemampuan mendengarkan. Proses mendengarkan
harus lebih banyak dalam meningkatkan kepercayaan diri
remaja.
Mengapa proses mendegarkan harus banyak
dilakukan karena pada fase remaja ini mereka perlu
tempat yang selalu bisa mendengarkan apa masalah
mereka dan keinginan mereka. Disinilah peran orang tua
dalam memelihara pola asuh dan komunikasi.
Setelah mendengarkan beberapa curhatan sang
anak, tahapan selanjutnya merespon dengan baik dan
tidak menghakimi pembicaraan mereka. Jika topik
pembicaraan membicarakan beberapa masalah yang
dihadapi, maka orientasinya adalah penyelesaian
masalah. Jika dalam pembicaraan orang tua menemukan
potensi dari remaja maka orientasinya adalah peningkatan
dan mendukungnya. Tahapan awal dalam menanggapi
potensinya adalah berusaha membuatnya yakin dan
percaya diri.
Dalam komunikasi apresiatif bagi orang tua harus
menjunjung tinggi setiap orang mempunyai kelebihan
(strength base). Dalam membina pola asuh sang ibu tidak
membedakan sang kaka dan adik. Seperti hal yang
diucapkan sang ibu “Saya tidak pernah membandingkan
satu sama lain dan berusaha adil bersikap” ujarnya. Secara
langsung sang ibu menerapkan komunikasi apresiatif
dengan tidak membandingkan antar satu dengan lainnya
karena hal ini berdasarkan kelebihan dan kekurangan
masing-masing.
Rumah dan keluarga merupakan sebaik-baiknya
support system bagi perkembangan anak-anak khususnya
remaja. Parlindungan Marpaung (2009:22)
mengungkapkan :
“HOME sweet home, begitu pepatah popular
bertutur; bahwa rumah adalah segala-galanya bagi
keluarga”
Benang merah dapat diambil bahwa dalam menciptakan
anak-anak dan remaja menumbuhkan kepercayaan diri,
mulai dengan menciptakan suasana dalam keluarga yang
nyaman. cara menyampaikan gagasan harus sesuai dan
membangun.
PENUTUP
Dalam hal ini bisa dikatakan bahwa kepercayaan
diri pada anak sangat diperlukan dalam membangun
kepercayaan diri pada remaja yang mana dapat
mempengaruhi tingkah laku pada remaja itu sendiri,
khususnya dalam fase remaja ini lebih kepada
pembentukan atau mematangkan emosional di remaja itu
sendiri yang mana dalam fase mematangkan emosional
belum tentu berhasil atau stabil dan hal seperti itu
membuat masalah pada remaja itu sendiri yaitu membuat
remaja ini tidak percaya diri terhadap situasi di
lingkungan sekitarnya.
Masalah ketidak percayaan pada remaja harus ada
peran yang bisa mengurangi atau mencegah agar tidak
terjadi ketidakstabilan emosional pada remaja dan peran
itu adalah orang tua yang mana orang tua ini berperan
sangat penting untuk bisa mematangkan emosional
peralihan anak ke remaja selain itu juga selain orang tua
yang mana selau mengawasi remaja namun oran tua disin
juga sebagai pengawas terhadap remaja dalam
berinteraksi di masyarakat. Yang artinya orang tua juga
bisa membantu membangun kepercayaan dengan
mengawasi dari lingkungan sekitarnya.
Daftar Pustaka
Anna, L. K. (2018, Januari 10). Kesalahan Pola Asuh
yang Sering Dilakukan Orangtua "Zaman Now".
Retrieved from KOMPAS.com:
https://lifestyle.kompas.com/read/2018/01/10/121
158920/kesalahan-pola-asuh-yang-sering-
dilakukan-orangtua-zaman-now
detiknews. (2012, Juli 23). Komnas PA: Pola Asuh Ortu
Bisa Sebabkan Kenakalan Remaja. Retrieved
from detiknews:
https://news.detik.com/berita/1972852/komnas-
pa-pola-asuh-ortu-bisa-sebabkan-kenakalan-
remaja
Fitri, E., Zola, N., & Ifdil, I. (2018). Profil Kepercayaan
Diri Remaja serta Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi. Jurnal Penlitian Pendidikan
Indonesia.
Marpaung, P. (2009). Setengah Isi Setengah Kosong.
Bandung: MQS PUBLISHING.
Ritzer, G. (2012). Teori Sosiologi Dari Sosiologi Klasik
Sampai Perkembangan Terakhir Posrmodern.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Soetomo. (2015). Masalah Sosial dan Upaya
Pemecahannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Widiyani, R. (2014, Maret 10). Kasus Ade Sara,
Dampak Salah Asuuh Orangtua? Retrieved from
KOMPAS.com:
https://lifestyle.kompas.com/read/2014/03/10/145
5563/Kasus.Ade.Sara.Dampak.Salah.Asuh.Orang
tua.
Andayani, B., & Afiatin, T. (1996). Konsep Diri, Harga
Diri, dan Kepercayaan Diri. Jurnal Psikologi.
Fatchurahman, M. (2012). Kepercayaan Diri,
Kematangan Emosi, Pola Asuh Orang Tua
Demokratis dan Kenakalan Remaja. Jurnal
Psikologi Indonesia.
Felicia, A. H. (2018). Rahasia Ibunda Maudy Ayunda
Dalam Menerapkan Pola Asuh Anak. Majalah
Kartini. Retrieved from
https://majalahkartini.co.id/berita/rahasia-ibunda-
maudy-ayunda-dalam-menerapkan-pola-asuh-
anak/
Kusumawati, A. (n.d.). Maudy Ayunda jadi sosok
inspiratif, begini pola asuh yang dilakukan
orangtuanya. Retrieved from The Asian Parent
Indonesia: https://id.theasianparent.com/orang-
tua-maudy-ayunda