Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN

KEPERAWATAN BRONKOPNEUMONIA

OLEH :

NI WAYAN SATYA ASIH

P07120012033

2.1 REGULER

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

JURUSAN KEPERAWATAN

2014
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN
KEPERAWATAN PADA PASIEN ANAK DENGAN
BRONKOPNEUMONIA

I. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. DEFINISI
Bronchopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu
atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak
Infiltrat (Whalley and Wong, 1996).
Bronchopneumonia adalah radang pada paru-paru yang
mempunyai penyebaran berbercak, teratur dalam satu area atau lebih yang
berlokasi di dalam bronki dan meluas ke parenkim paru (Brunner dan
Suddarth, 2001).
Bronchopneumonia disebut juga pneumoni lobularis, yaitu radang
paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan benda-benda
asing (Sylvia Anderson, 1994).
Bronchopneumina adalah frekwensi komplikasi pulmonary, batuk
produktif yang lama, tanda dan gejalanya biasanya suhu meningkat, nadi
meningkat, pernapasan meningkat (Suzanne G. Bare, 1993).
Bronkopneumonia adalah pneumonia yang terdapat di daerah
bronkus kanan maupun kiri atau keduanya. Bronkopneumonia (pneumonia
lobularis) adalah peradangan pada parenkim paru yang awalnya terjadi di
bronkioli terminalis dan juga dapat mengenai alveolus sekitarnya.
Bronkiolus terminalis menjadi tersumbat dengan eksudat mukopurulen
membentuk bercak-bercak konsolidasi di lobulus yang bersebelahan.
Penyakit ini seringnya bersifat sekunder, mengikuti infeksi dari saluran
nafas atas, demam pada infeksi spesifik dan penyakit yang melemahkan
sistem pertahanan tubuh. Pada bayi dan orang-orang yang lemah,
pneumonia dapat muncul sebagai infeksi primer.
Bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis yaitu suatu
peradangan pada parenkim paru yang terlokalisir yang biasanya mengenai
bronkiolus dan juga mengenai alveolus disekitarnya. Bronkopneumonia
lebih sering merupakan infeksi sekunder terhadap berbagai keadaan yang
melemahkan daya tahan tubuh tetapi bisa juga sebagai infeksi primer yang
biasanya kita jumpai pada anak-anak dan orang dewasa.

B. PENYEBAB
Secara umum bronkopneumonia diakibatkan penurunan
mekanisme pertahanan tubuh terhadap virulensi pathogen. Orang normal
dan sehat mempunyai mekanisme pertahanan tubuh terhadap organ
pernafasan yang terdiri atas : reflek glottis dan batuk, adanya lapisan
mucus, gerak silia yang menggerakkan kuman keluar dari organ dan
sekresi humoral setempat
Timbulnya broncopneumonia disebabkan oleh virus, bakteri,
jamur, protozoa, mikrobakteri, mikoplasma, dan riketsia ( Sandra M.
Nettria, 2001:682) amtara lain :
1. Bakteri : Streptococcus , Staphylococcus, H Influenzae, Klebsiella
2. Virus : Legionela Pneumonia
3. Jamur : Aspergillus Spesies, Candida albicans
4. Aspirasi makanan, sekresi orofaringetal atau isi lambung kedalam
paru – paru
5. Terjadi karena kongesti paru yang terlalu lama

Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya Bronchopnemonia adalah


1. Faktor predisposisi
a. Usia/umur
b. Genetik
2. Faktor pencetus
a. Usia
b. Gizi buruk/kurang
c. Berat badan lahir rendah (bblr)
d. Tidak mendapatkan asi yang memadai
e. Imunisasi yang tidak lengkap
f. Polusi udara
g. Kepadatan tempat tinggal

C. PATOFISIOLOGI
Bronkopneumonia merupakan infeksi pulmonal pada bagian
bronchus dan alveoli. Proses bronkopneumonia dimulai ketika kuman
pathogen yaitu protozoa, virus dan bakteri terutama bakteri golongan
coccus (Pneumococcus, Streptococcus) dan basil gram negative atau jamur
berhasil menembus mucus jalan nafas sehingga merusak bagian alveolar.
Selain karena tersebut di atas aspirasi benda asing dapat menyebabkan
terjadinya bronkopneumonia.
Masuknya agen infeksius ke mucus jalan nafas karena lolos dari
sistem pertahanan tubuh yaitu bulu hidung, mucus silia dan antibodi
menetap dalam bronchus dan alveolus. Leukosit bermigrasi ke dalam
alveoli sehingga timbul respon peradangan dan menyebabkan penebalan
dinding alveoli. Cairan yang mengisi alveoli (peningkatan hasil mukus
dari peradangan) melindungi arganisme dari pagositosis leukosit dan
fasilitasi pergerakan organisme alveoli lain. Infeksi menyebar jika kuman
bronkopneumonia telah mencapai aliran darah menyebabkan septicemia
atau keracunan darah. Empat tahap respon yang khas setelah bakteri
mencapai alveoli yaitu :
1. Kongesti (4 sampai 12 jam pertama) : eksudat serosa masuk
kedalam alveoli melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan
bocor.
2. Hepatisasi merah (48 jam berikutnya) : paru-paru tanpak merah dan
bergranulasi (hapatisasi= seperti hepar) karena sel-sel darah merah,
fibrin, dan leukosit polimorfonuklear mengisi alveoli.
3. Hepatisasi kelabu (3 sampai 8 hari) : paru- paru tampak kelabu
karena leukosit dan fibrin mengalami konsolidasi di dalam alveoli
yang terserang.
4. Resolusi (7 sampai 11 hari) : eksudat mengalami lisis dan
direabsorpsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali pada
struktur semula.
Dengan adanya peradangan pada bronchus dan parenkim akan
menyebabkan pertukaran gas antara udara bebas dan paru- paru menjadi
tidak efektif, hal ini dikarenakan adanya penumpukan sekret pada jalan
nafas dan penebalan membran respirasi sehingga kecepatan difusi
menurun yang menyebabkan pemenuhan oksigen tubuh menjadi
berkurang sehingga akan timbul sesak nafas.

D. KLASIFIKASI
1. Bronkopneumonia sangat berat :
Bila terjadi sianosis sentral dan anak tidak sanggup minum,maka anak
harus dirawat di rumah sakit dan diberi antibiotika.
2. Bronkopneumonia berat :
Bila dijumpai adanya retraksi, tanpa sianosis dan masih sanggup
minum,maka anak harus dirawat di rumah sakit dan diberi antibiotika.
3. Bronkopneumonia :
Bila tidak ada retraksi tetapi dijumpai pernafasan yang cepat :
> 60 x/menit pada anak usia < 2 bulan
> 50 x/menit pada anak usia 2 bulan – 1 tahun
> 40 x/menit pada anak usia 1 – 5 tahun.
4. Bukan bronkopenumonia :
Hanya batuk tanpa adanya tanda dan gejala seperti diatas, tidak perlu
dirawat dan tidak perlu diberi antibiotika. Diagnosis pasti dilakukan
dengan identifikasi kuman penyebab:
1. Kultur sputum atau bilas an cairan lambung
2. Kultur nasofaring atau kultur tenggorokan (throat swab),
terutama virus
3. Deteksi antigen bakteri

E. GEJALA KLINIS
Bronkopneumonia biasanya didahului oleh suatu infeksi di saluran
pernafasan bagian atas selama beberapa hari. Pada tahap awal, penderita
broncopneumonia mengalami tanda dan gejala yang khas seperti
menggigil, demam, nyeri dada pleuritis, batuk produktif, hidung
kemerahan, saat bernafas menggunakan otot aksesorius dan bisa timbul
sianosis ( Barbara C.Long, 1996 :35 )
Adapun gejala klinis dara bronkopneumonia ialah :
1. Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan
a. Nyeri pleuritik
b. Nafas dangkal dan mendengkur
c. Takipnea
2. Bunyi nafas di atas area yang menglami konsolidasi
a. Mengecil, kemudian menjadi hilang
b. Krekels, ronki,
3. Gerakan dada tidak simetris
4. Menggigil dan demam 38,8 ° C sampai 41,1°C, delirium
4. Diaforesis
5. Anoreksia
6. Malaise
7. Batuk kental, produktif Sputum kuning kehijauan kemudian
berubah menjadi kemerahan atau berkarat.
8. Gelisah
9. Sianosis Area sirkumoral, dasar kuku kebiruan
10. Masalah-masalah psikososial : disorientasi, ansietas, takut mati

F. PEMERIKSAAN FISIK
Pada stadium awal sukar dibuat diagnosis dengan pemeriksaan
fisik, tapi dengan adanya nafas cepat dan dangkal, pernafasan cuping
hidung dan sianosis di sekitar mulut harus dipikirkan kemungkinan
penumonia. Pada bronkopneumonia, hasil pemeriksaan fisis tergantung
dari luas daerah terkena pada perkusi ; toraks sering tidak ditemukan
kelainan ; pada auskultasi ditemukan nafas vesikuler melemah, juga
terdapat ronkhi basah halus / sedang dan nyaring. Bila sarang
bronkopneumonia menjadi satu (konfluens) mungkin pada perkusi
terdengar redup dan suara pernafasan pada auskultasi mengeras. Pada
stadium resolusi ronkhi dapat terdengar lagi dan biasanya tanpa
pengobatan, penyembuhan dapat terjadi 2 – 3 minggu.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Untuk dapat menegakkan diagnosa keperawatan dapat digunakan cara:
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan darah
Pada kasus bronchopneumonia oleh bakteri akan terjadi
leukositosis (meningkatnya jumlah neutrofil).
b. Pemeriksaan sputum
Diambil dengan biopsi jarum, untuk mengetahui
mikroorganisme penyebab dan obat yang cocok untuk
menanganinya. Bahan pemeriksaan yang terbaik diperoleh dari
batuk yang spontan dan dalam. Digunakan untuk pemeriksaan
mikroskopis dan untuk kultur serta tes sensitifitas untuk
mendeteksi agen infeksius.
c. Analisa gas darah untuk mengevaluasi status oksigenasi dan
status asam basa.
d. Kultur darah untuk mendeteksi bakteremia
e. Sampel darah, sputum, dan urin untuk tes imunologi untuk
mendeteksi antigen mikroba.
2. Pemeriksaan Radiologi
a. Rontgenogram Thoraks
Terdapat bercak – bercak pada bronkus hingga lobus.
Menunjukkan konsolidasi lobar yang seringkali dijumpai pada
infeksi pneumokokal atau klebsiella. Infiltrat multiple
seringkali dijumpai pada infeksi stafilokokus dan haemofilus.
b. Laringoskopi/ bronkoskopi untuk menentukan apakah jalan
nafas tersumbat oleh benda padat.

H. KRITERIA DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan bila ditemukan 3 dari 5 gejala berikut (Bradley
et.al., 2011):
1. Sesak napas disertai dengan pernafasan cuping hidung dan tarikan
dinding dada
2. Panas badan
3. Ronkhi basah halus-sedang nyaring (crackles)
4. Foto thorax meninjikkan gambaran infiltrat difus
5. Leukositosis (pada infeksi virus tidak melebihi 20.000/mm3 dengan
limfosit predominan, dan bakteri 15.000-40.000/mm3 neutrofil yang
predominan)

I. TINDAKAN PENANGANAN / TERAPI


1. Medik
a. Penisillin 50.000 u/kg BB/hr ditambah dengan klomfenikol 50-70
mg/kg BB/hr atau diberikan antibiotik yang mempunyai spektrum
luas seperti ampisillin. Pengobatan ini diteruskan sampai bebas
demam 4-5 hari.
b. Pemberian O2 dan cairan intravena biasanya diperlukan campuran
glukosa 5% dan NaCl 0,9% dalam perbandingan 3:1 ditambah
dengan larutan KCl 10mEg/500 ml/botol infus.
c. Karena sebagian besar pasien jatuh ke dalam asidosis metabolik
akibat kurang makan dan hipoksia, maka dapat diberikan koreksi
sesuai dengan analisa hasil gas darah arteri.
d. Kemotherapi untuk mycroplasma pneumonia, dapat diberikan
Eritromicin 4 X 500 mg sehari atau Tetrasiklin 3 – 4 mg sehari.
e. Bila terdapat obstruksi jalan napas, dan lendir serta ada febris,
diberikan broncodilator.

2. Keperawatan
a. Menjaga kelancaran pernapasan
b. Kebutuhan istirahat
c. Kebutuhan nutrisi dan cairan
d. Mengontrol suhu tubuh
e. Mencegah komplikasi atau gangguan rasa nyaman dan aman
f. Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit.
g. Mencegah kecemasan pada anak dan orang tua

J. KOMPLIKASI
1. Atelektasis
Adalah pengembangan paru yang tidak sempurna atau kolaps paru
merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk hilang.
Apabila penumpukan secret akibat berkurangnya daya kembang paru-
paru terus terjadi dan penumpukan secret ini menyebabkan obstruksi
bronkus intrinsik
2. Empisema
Adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga
pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura. Terjadi di
mulai adanya gangguan pembersihan jalan napas akibat penutupan
sputum, peradangan yang menjalar ke bronkhiolus menyebabkan
dinding bronkhiolus mulai melubang dan membesar.
3. Abses paru
Adalah pengumpulan pus dalam paru yang meradang. Di dalam paru-
paru berdinding tebal, nanah mengisi rongga yang dibentuk ketika
infeksi atau peradangan merusak jaringan paru. Bisul sering
merupakan hasil dari bunyi aspirasi radang paru-paru ketika
campuran organisme masuk ke dalam paru-paru bisul dapat
menyebabkan haemorhagic di dalam paru-paru jika tidak
diperlakukan, tetapi atibiotik yang khusus membunuuh bakteri
anaerobic dan organisme lain secara cepat dapat mengurangi bahaya.
4. Infeksi sitemik
5. Endokarditis
Adalah peradangan pada endokardial
6. Meningitis
Adalah infeksi yang menyerang selaput otak. Penyebaran virus
haemofillus influenza melalui hematogen ke system saraf sentral.
Penyebarannya juga bisa di mulai saat terjadi infeksi saluran
pernapasan atau dimana manifestasi klinik meningitis menyerupai
pneumonia.

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
1. Identitas
2. Riwayat Keperawatan.
a. Keluhan utama.
Anak sangat gelisah, dispnea, pernapasan cepat dan dangkal,
diserai batuk yang tidak sembuh – sembuh, pernapasan cuping
hidung, serta sianosis sekitar hidung dan mulut. Kadang disertai
muntah dan diare., tinja berdarah dengan atau tanpa lendir,
anoreksia dan muntah.
b. Riwayat penyakit sekarang.
Bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi saluran
pernapasan bagian atas selama beberapa hari. Suhu tubuh dapat
naik sangat mendadak sampai 39-40oC dan kadang disertai kejang
karena demam yang tinggi.
c. Riwayat penyakit dahulu.
Pernah menderita penyakit infeksi yang menyebabkan sistem imun
menurun
d. Riwayat kesehatan keluarga.
Anggota keluarga lain yang menderita penyakit infeksi saluran
pernapasan dapat menularkan kepada anggota keluarga yang
lainnya.
e. Riwayat kesehatan lingkungan.
Menurut Wilson dan Thompson, 1990 pneumonia sering terjadi
pada musim hujan dan awal musim semi. Selain itu pemeliharaan
ksehatan dan kebersihan lingkungan yang kurang juga bisa
menyebabkan anak menderita sakit. Lingkungan pabrik atau
banyak asap dan debu ataupun lingkungan dengan anggota
keluarga perokok.
f. Riwayat Imunisasi.
Anak yang tidak mendapatkan imunisasi beresiko tinggi untuk
mendapat penyakit infeksi saluran pernapasan atas atau bawah
karena system pertahanan tubuh yang tidak cukup kuat untuk
melawan infeksi sekunder.
g. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan.
h. Nutrisi.

3. Data Bio, Psiko, Sosial, Spiritual


a. Sistem kardiovaskuler.
Takikardi, iritability.
b. Sistem pernapasan.
Sesak napas, retraksi dada, melaporkan anak sulit bernapas,
pernapasan cuping hdidung, ronki, wheezing, takipnea, batuk
produktif atau non produktif, pergerakan dada asimetris,
pernapasan tidak teratur/ireguler, kemungkinan friction rub, perkusi
redup pada daerah terjadinya konsolidasi, ada sputum/sekret. Orang
tua cemas dengan keadaan anaknya yang bertambah sesak dan
pilek.
c. Sistem pencernaan.
Anak malas minum atau makan, muntah, berat badan menurun,
lemah. Pada orang tua yang dengan tipe keluarga anak pertama,
mungkin belum memahami tentang tujuan dan cara pemberian
makanan/cairan personde.
d. Sistem eliminasi.
Anak atau bayi menderita diare, atau dehidrasi, orang tua mungkin
belum memahami alasan anak menderita diare sampai terjadi
dehidrasi (ringan sampai berat).
e. Sistem saraf.
Demam, kejang, sakit kepala yang ditandai dengan menangis terus
pada anak-anak atau malas minum, ubun-ubun cekung.
f. Sistem lokomotor/muskuloskeletal.
Tonus otot menurun, lemah secara umum
g. Sistem endokrin.
Tidak ada kelainan.
h. Sistem integumen.
Turgor kulit menurun, membran mukosa kering, sianosis, pucat,
akral hangat, kulit kering
i. Sistem penginderaan.
Tidak ada kelainan.
Riwayat gizi buruk atau meteorismus (malnutrisi energi protein =
MEP).

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan inflamasi
trakeobronkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran
alveolus kapiler, gangguan kapasitas pembawa oksigen darah,
gangguan pengiriman oksigen.
3. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam
dan proses infeksi, anoreksia yang berhubungan dengan toksin bakteri
bau dan rasa sputum, distensi abdomen atau gas.
4. Resiko ketidakseimbangan elektrolit berhubungan dengan kehilangan
cairan berlebih, penurunan masukan oral.
5. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi O2 untuk
aktifitas sehari – hari.
6. Ansietas (anak & orang tua ) berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan tentang kondisi anak dan rawat inap di rumah sakit

C. RENCANA KEPERAWATAN

DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI


NO
KEPERAWATAN (NOC) (NIC)
1 Ketidakefektifan NOC: NIC :
bersihan jalan nafas Respiratory status : Ventilation Airway suction
berhubungan dengan Respiratory status : Airway 1. Pastikan kebutuhan
inflamasi patency oral/tracheal suctioning.
Aspiration Control 2. Berikan O2 3liter/mnt,
trakeobronkial,
Kriteria Hasil : metode dengan
pembentukan edema,
1. Mendemonstrasikan batuk pemasangan nasal kanul.
peningkatan produksi
3. Anjurkan pasien untuk
efektif dan suara nafas
sputum.
istirahat dan napas dalam
yang bersih, tidak ada
4. Posisikan pasien untuk
sianosis dan dyspneu
memaksimalkan ventilasi
(mampu mengeluarkan 5. Lakukan fisioterapi dada
sputum, bernafas dengan jika perlu
6. Keluarkan sekret dengan
mudah, tidak ada pursed
batuk atau suction
lips)
7. Auskultasi suara nafas,
2. Menunjukkan jalan nafas
catat adanya suara
yang paten (klien tidak
tambahan
merasa tercekik, irama
8. Berikan bronkodilator
nafas, frekuensi pernafasan 9. Monitor status
dalam rentang normal, hemodinamik
10. Berikan antibiotik
tidak ada suara nafas
11. Atur intake untuk cairan
abnormal)
mengoptimalkan
3. Mampu
keseimbangan.
mengidentifikasikan dan
12. Monitor respirasi dan
mencegah faktor yang
status O2
penyebab. 13. Pertahankan hidrasi yang
adekuat untuk
mengencerkan sekret
14. Jelaskan pada pasien dan
keluarga tentang
penggunaan peralatan :
O2, Suction, Inhalasi.
2 Gangguan pertukaran NOC: NIC :
gas berhubungan 1. Respiratory Status : 1. Posisikan pasien untuk
dengan perubahan Gas exchange memaksimalkan ventilasi
2. Keseimbangan asam 2. Pasang mayo bila perlu
membran alveolus
3. Lakukan fisioterapi dada
Basa, Elektrolit
kapiler, gangguan
3. Respiratory Status : jika perlu
kapasitas pembawa 4. Keluarkan sekret dengan
ventilation
oksigen darah, 4. Vital Sign Status batuk atau suction
5. Auskultasi suara nafas,
gangguan pengiriman Kriteria hasi:
catat adanya suara
oksigen. 1. Mendemonstrasikan
tambahan
peningkatan ventilasi dan
6. Berikan bronkodilator
oksigenasi yang adekuat 7. Barikan pelembab udara
2. Memelihara kebersihan 8. Atur intake untuk cairan
paru paru dan bebas dari mengoptimalkan
tanda tanda distress keseimbangan.
9. Monitor respirasi dan
pernafasan
3. Mendemonstrasikan batuk status O2
10. Catat pergerakan
efektif dan suara nafas
dada,amati kesimetrisan,
yang bersih, tidak ada
penggunaan otot
sianosis dan dyspneu
tambahan, retraksi otot
(mampu mengeluarkan
supraclavicular dan
sputum, mampu bernafas
intercostal
dengan mudah, tidak ada
11. Monitor suara nafas,
pursed lips)
seperti dengkur
4. Tanda tanda vital dalam
12. Monitor pola nafas :
rentang normal
bradipena, takipenia,
5. AGD dalam batas normal
6. Status neurologis dalam kussmaul, hiperventilasi,
batas normal cheyne stokes, biot
13. Auskultasi suara nafas,
catat area penurunan /
tidak adanya ventilasi dan
suara tambahan.
14. Monitor TTV, AGD,
elektrolit dan ststus
mental
15. Observasi sianosis
khususnya membran
mukosa
16. Jelaskan pada pasien dan
keluarga tentang
persiapan tindakan dan
tujuan penggunaan alat
tambahan (O2, Suction,
Inhalasi)
17. Auskultasi bunyi jantung,
jumlah, irama dan denyut
jantung.
3 Ketidak seimbangan NOC : NIC:
nutrisi kurang dari  Nutrition status : food and Nutrition Management
kebutuhan tubuh fluid intake 1. Kolaborasi dengan ahli
berhubungan dengan  Nutrition status : nutrien gizi untuk menentukan
kebutuhan metabolik intake jumlah kalori dan nutrisi
 Weight control
sekunder terhadap yang dibutuhkan pasien.
Kriteria hasil :
demam dan proses 2. Yakinkan diet yang
1. Adanya peningkatan berat
infeksi, anoreksia dimakan mengandung
badan sesuai dengan
yang berhubungan tinggi serat untuk
tujuan
dengan toksin bakteri mencegah konstipasi
2. Mampu mengidentifikasi
bau dan rasa sputum, 3. Berikan makanan yang
kebutuhan nutrisi
distensi abdomen atau dipilih ( sudah
3. Tidak ada tanda-tanda
gas. dikonsultasikan oleh
malnutrisi
ahli gizi)
4. Tidak terjadi penurunan
4. Monitor jumlah nutrisi
berat badan yang berarti dan kandungan kalori
5. Berikan informasi
tentang kebutuhan
nutrisi
6. Kaji kemampuan pasien
untuk mendapatkan
nutrisi yang dibutuhkan
Nutrition Monitoring
1. BB pasien dalam batas
normal
2. Monitor adanya
penurunan berat badan
3. Monitor lingkungan
selama makan
4. Monitor kulit kering dan
perubahan pigmentasi
5. Monitor turgor kulit
6. Monitor mula dan
muntah
7. Monitor pucat,
kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjunctiva.
4 Resiko NOC : NIC :
 Fluid balance Fluid manajemen
ketidakseimbangan
 Hydration 1. Timbang popok atau
elektrolit berhubungan  Nutrisional status : food
pembalut jika diperlukan
dengan kehilangan and fluid intake 2. Pertahankan catatan
cairan berlebih, Kriteria hasil : intake dan out put yang
1. Mempertahankan urine out
penurunan masukan akurat
put sesuai dengan usia, BB, 3. Monitor status hidrasi
oral.
BJ urine normal, HT ( kelembaban membran
normal mukosa, nadi adekuat,
2. TTV dalam batas normal
3. Tidak ada tanda – tanda tekanan darah ), jika
dehidrasi, elastisitas, turgor
diperlukan
4. Monitor vital sign
kulit baik, membran
5. Monitor masukan
mukosa lembab, tidak ada
makanan, cairan dan
rasa haus yang berlebihan
hitung intake kalori harian
6. Kolaborasi pemberian
cairan IV
7. Monitor status nutrisi
8. Monitor tingkat Hb dan
hematokrit
9. Monitor berat badan
10. Anjurkan pasien untuk
menambah intake oral
11. Monitor adanya gagal
ginjal.
5 Intoleransi aktifitas NOC: NIC:
berhubungan dengan  Energy coservative 1. Kolaborasi dengan tenaga
insufisiensi O2 untuk  Activity tolerance rehabilitasi medik dalam
 Self care ADL’s
aktifitas sehari – hari. merencanakan program
Kriteria hasil :
terapi yang tepat.
1. Mampu melakukan 2. Bantu klien
aktivitas sehari – mengidentifikasi aktivitas
hari secara mandiri yang mampu dilakukan
2. Berpatisipasi dalam 3. Bantu untuk memilih
aktivitas fisik tanpa aktivitas konsisten yang
disertai peningkatan sesuai dengan kemampuan
tekanan darah, nadi fisik, psikologis, dan
dan RR. sosial
4. Bantu untuk mendapatkan
3. Sirkulasi status baik
alat bantuan aktivitas
status
seperti kursi roda, krek.
kardiopulmonari 5. Bantu klien membuat
adekuat jadawal latihan diwaktu
4. Energy psikomotor luang
6. Bantu pasien untuk
mengembangkan motivasi
diri dan penguatan
7. Bantu pasien/keluarga
untuk mengidentifikasi
kekuaranagn dalam
beraktivitas.
Ansietas (anak & NOC : NIC :
orang tua )  Anxiety self-control Anxiety Reduction
berhubungan dengan  Anxiety level (penurunan kecemasan)
kurangnya  Coping 1. Gunakan pendekatan yang
pengetahuan tentang menenangkan
kondisi anakdan Kriteria Hasil : 2. Pahami persepektif pasien
rawat inap di rumah 1. Mampu mengidentifikasi terhadap situasi stress
sakit dan mengungkapkan yang dirasakan

gejala cemas 3. Temani pasien untuk

2. Vital sign dalam batas memberikan keamanan

normal dan mengurangi rasa takut

3. Postur tubuh, ekspresi 4. Dorong keluarga agar

wajah, Bahasa tubuh dan selalu menemani anaknya

tingkat aktivitas 5. Dorong pasien dan

menunjukkan keluarga untuk

berkurangnya kecemasan mengungkapkan perasaan,


ketakutan, dan
keinginannya

6. Berikan HE kepada
keluarga mengenai kondisi
/ penyakit yang dialami
anaknya

7. Beri dukungan emosional


kepada orang tua selama
anak dirawat di RS
D. IMPLEMENTASI
Implementasi merupakan pelaksanaan rencana keperawatan oleh
perawat terhadap pasien. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pelaksanaan rencana keperawatan diantaranya : Implementasi dilaksanakan
sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi ; ketrampilan
interpersonal, teknikal dan intelektual dilakukan dengan cermat dan efisien
pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan psikologis klien dilindungi
serta dokumentasi intervensi dan respon pasien.
Pada tahap implementasi ini merupakan aplikasi secara kongkrit
dari rencana intervensi yang telah dibuat untuk mengatasi masalah
kesehatan dan perawatan yang muncul pada pasien (Budianna Keliat,
1994,4).

E. EVALUASI
Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan,
dimana evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus
dengan melibatkan pasien, perawat dan anggota tim kesehatan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddrath. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. jakarta.: EGC

Dongoes. Marlym.2000.Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3 Jakarta : EGC.

Katbleen Morgan Speer.2002. Rencana Asuhan Keperawatan Pediatrik. Jakarta :


EGC

Nanda NIC-NOC.2013.Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa


Medis Edisi Revisi Jilid 2. Jakarta : ECG
Smeltzer, Suzanne.2000. Buku Ajar Keperawatan Medikal bedah.Vol 1.Jakarta :
EGC

Sylvia A. Price & Lorraine M.W. 2006.Patofisiologi konsep klinis dan proses-
proses penyakit. EGC: Jakarta.

Ditya Didit. Laporan pendahuluan bronkopneumonia. Dalam :


(http://dityanurse.blogspot.com/2012/02/laporan-pendahuluan-
bronchopneumonia.html ) Diakses pada tanggal 08 Mei 2014 Pukul 18.00
wita

Lukman Febrianto. Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan.


(http://lukmanfebriantonurse.blogspot.com/2013/04/laporan-pendahuluan-
asuhan-keperawatan_3741.html ) Diakses pada tanggal 08 Mei 2014 Pukul
17.00 wita
Yongke Putra . Askep Bronkopneumonia. Dalam : (http://yongke-putra
.blogspot.com/2013/10/askep-bronkopneumonia.html) Diakses pada
tanggal 08 Mei 2014 *ukul . 17.05 wita

Denpasar, 09 Mei 2014

Mengetahui Mahasiswa
Pembimbing Praktik

Ni Wayan Satya Asih


NIP. NIM. P07120012033

Pembimbng Akademik
Ns. I Nyoman Ribek, S.Pd, S.Kep, M.Pd
NIP. 196106061988031002