Anda di halaman 1dari 8

TUGAS ANALISIS LANSKAP MINGGU KE 3

“Landform Vulkanik”

Oleh :
Nama : Shofie Rindi N
NIM : 155040200111185
Kelas : A

JURUSAN MANAGEMEN SUMBERDAYA LAHAN


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
LANDFORM VULKANIK (BENTUKAN LAHAN VULKANIS )
A. DEFINISI
Gunungapi adalah lubang kepundan atau rekahan dalam kerak bumi tempat keluarnya
cairan magma atau gas atau cairan lainnya ke permukaan bumi. Matrial yang dierupsikan
ke permukaan bumi umumnya membentuk kerucut terpancung. Very-long Baseline
Interferometer (VLBI) (Prat,2001) mengukur saat ini lempeng Samudra Indo-Australia
begerak ke utara dengan kecepatan rata rata 5,5-7 cm/tahun, lempeng samudera pasifik
bergerak ke barat laut dengan kecepatan >7cm/tahun dan Eurasia bergerak ke barat daya
dengan kecepatan 2,6-4,1 cm/tahun. Akibat dari adanya ergerakanlempeng tersebut adalah
adanya tumbukan lempang yang menyebabkan terjadinya gunung berapi. Gunung berapi
dikatakan aktif apabila terjadi aktivitas akibat berada di sepanjang lempeng tektonik yang
aktif. Indonesia memiliki 129 buah gunung aktif atau sekitar 13% dari gunung aktif di
dunia.

Gambar 1. Letak Gunung Api di Indonesia


B. PEMBENTUKAN GUNUNG API
Menurut Nandi,(2006) gunung api terbentuk karena danya aktivitas tumbukan tektonik
dan gaya endogen. Ativitas tumbukan tektonik terjadi karena adanya pergerakan lempeng
yang menjauh satu sama lain (Divergen) maupun saling mendekat (Confergen). Proses
pergeseran lempeng menyebabkan terbentuknya pegunungan api atau pegunungan tengah
samudra. Gaya endogen terjadi karena aktivitas magma yang mempunyai energi untuk
muncul ke permukaan melalui celah atau pipa pipa gunung berapi. Proses keluarnya
magma ke permukaan diseut dengan ekstrusi (erupsi) sementara magma yang keluar ke
permukaan bumi disebut dengan lava. Berdasarkan lubang keluarnya magma saat erupsi,
dibedakan menjadi dua tipe:
1. Erupsi Belahan
Magma keluar melalui celah atau retakan di permukaan bumi dengan sifat lava yangcair
dan mengandung sediit material lepas
2. Erupsi Central
Magma keluar melalui kepundan dan diaterma. Diaterma adalah lubang berupa pipa yang
berada didalam gunung api. Pipa tersebut menghuningkan dapur magma dengan
kepundan atau kawah gunung api. Berdasarkan tekanan, dalam erupsi central dibagi
menjadi:
1. Erupsi Efusif
Lelehan lava melalui retakan atau celah pada gunung api karena magma bersifat encer
dan bertekanan rendah.
2. Erupsi Ekflosif
Lava yang keluar dengan cara ledakan karena memiliki tekanan yang tinggi dengan
material yang dikeluarkan bersifat padat dan cair.
3. Erupsi Campuran
Gabungan dari Erupsi efusif dan Erupsi Eksflosif, biasanya membentuk stratovolkano

Gambar 2. Pembentukan Gunung Api


C. STRUKTUR GUNUNG API
Struktur gunung berapi ditentukan oleh wujud volkanik yang membentuk landform serta
batuan beku yang dihasilkan. Berdasarkan batuan beku yang dihasilkan, dibagi menjadi
batuan intrusif dan ekstrusif. Batuan Intrusif merupakan batuan beku yang terjadi karena
adanya penerobosan magma melalui celah kerak bumi, namun tidak sampai ke permukaan
bumi. Magma tersebut mengalami pembekuan dibawah lapisan permukaan bumi dengan
waktu yang lama sehingga umumnya tersusun atas mineral yang berukuran besar. Contoh
dari batuan beku intrusif adalah granite. Batuan beku ekstrusif adalah batuan beku yang
berasal dari lolosan magma melalui celah dan muncul ke pemukaan bumi. Perbedaan suhu
yang ekstrim antara bagian dapur magma dengan udara menyebabkan magma mengalami
pembekuan yang cepat dan membentuk batuan beku volkan.

Gambar 3.Struktur Gunung Api


Menurut Kementerian ESDM, Gunung api memiliki stuktur seperti pada gambar 1. Struktur
gunungapi, terdiri dari:
(1) Struktur kawah adalah bentuk morfologi negatif atau depresi akibat kegiatan suatu
gunungapi, bentuknya relatif bundar
(2) Kaldera, bentuk morfologinya seperti kawah tetapi garis tengahnya lebih dari 2 km. Kaldera
terdiri atas : kaldera letusan, terjadi akibat letusan besar yang melontarkan sebagian besar
tubuhnya; kaldera runtuhan, terjadi karena runtuhnya sebagian tubuh gunungapi akibat
pengeluaran material yang sangat banyak dari dapur magma; kaldera resurgent, terjadi akibat
runtuhnya sebagian tubuh gunungapi diikuti dengan runtuhnya blok bagian tengah; kaldera
erosi, terjadi akibat erosi terus menerus pada dinding kawah sehingga melebar menjadi kaldera
(3) Rekahan dan graben, retaka-retakan atau patahan pada tubuh gunungapi yang memanjang
mencapai puluhan kilometer dan dalamnya ribuan meter. Rekahan parallel yang
mengakibatkan amblasnya blok di antara rekahan disebut graben
(4) Depresi volkano-tektonik, pembentukannya ditandai dengan deretan pegunungan yang
berasosiasi dengan pemebentukan gunungapi akibat ekspansi volume besar magma asam ke
permukaan yang berasal dari kerak bumi. Depresi ini dapat mencapai ukuran puluhan kilometer
dengan kedalaman ribuan meter.
D. MAGMA
Magma adalah cairan silikat pijar dengan suhu yang tinggi didalam permukaan bumi di
bawah gunung api. Magma keluar melalui kepundan atau kawah yang ukurannya dipengaruhi
oleh kekuatan magma. Menurut sifatnya, magma terbagi menjadi dua macam yaitu:
1. Magma Graintik
Ciri ciri magma granitik antara lain adalah:
a. Magma sangat kental
b. Kecepatan aliran magma rendah
c. Kecepatan pembekuan magma relatif cepat
d. Mampu menghasilkan bahan piroklastik, yaitu bahan bahan kasar yang dikeluarkan oleh
erupsi gunung berapi dapat berupa debu halus hingga batuan besar.
Magma Granitik mampu membuat kerucut silinder dan kerucut komposit pada gunung
berapi. Kerucut silinder merupakan kerucut gunung berapi yang tingginya seperti bukit.
Rendahnya ketinggian kerucut dipengaruhi oleh dorongan magma granitik. Kerucut kompsit
merupakan kerucut volkan namun lebih tinggi. Kerucut volkanik sama dengan strativolcano,
karena ketinggiannya yang sama . Setiap kerucut volkan memiliki kepundan dan kaldera.
2. Magma Basaltik
Magma basaltik memiliki ciri ciri yang berbeda dengan magma granitik, yaitu:
a. Bersifat lebih cair daripada magma granitik sehingga kecepata mengalirnya lebih tinggi
b. Lava akan menyebar dengan lereng yang landai
c. Mampu membentuk gunung api tameng
d. Jika terjadi letusan, maka material akan tersebar.
E. TIPE LETUSAN GUNUNG API
Berdasarkan komposisi jenis magma, tipe letusan gunung berapi dibagi menjadi:
1. Ice Landic
Tipe ini memilki ciri ciri letusan yang merambat, melibatkan semburan lava yang agak
cair (Basaltik)
2. Volcanian
Tipe ini memiliki bahan material granitik, adanya wedus gembel atau awan panas
3. Strombolian
Gunung api tipe ini memiliki lava yang cair (Magma Basaltik) dengan kekentalan yang
agak tinggi
4. Hawaiian
Tipe ini dicikiran dengna erupsi eksplosif dari magma basaltic atau mendekati basalt,
umumnya berupa semburan lava pijar, dan sering diikuti leleran lava secara simultan,
terjadi pada celah atau kepundan sederhana
5. Plinian
Memiliki erupsi yang sangat ekslposif dari magma berviskositas tinggi atau magma
asam, komposisi magma bersifat andesitik sampai riolitik
6. Pelean
Lava yang dikeluarkakn kental karena memiliki magma granitik
Tipe tipe guung berapi ditunjukkan pada gambar 4 dibawah ini.

Gambar 4. Tipe Gunung Api Berdasarkan Jenis Magma


F. BAHAYA LETUSAN GUNUNG API
Gunung api menyebabkan bahaya baik langung maupun tidak langsung. Bahaya
langsung berupa bahan padatan dan gas beracun. Bahaya tidak langsung berupa lahar/ banjir
lahar dingin.
G. STUDI KASUS
MAGMATISME DAN STRATIGRAFI GUNUNG API PEGUNUNGAN SELATAN
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Pegunungan Selatan di Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat batuan gunung api berumur
Tersier (2 – 60 juta tahun lalu). Namun, permasalahan tentang genesis (sumber, sedimentasi,
umur dan lingkungan pengendapan) masih belum jelas, dan di antara para ahli geologi masih
terjadi perbedaan pendapat terhadap stratigrafi yang ada yang semata -mata berdasarkan
litostratigrafi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui geologi gunung api dan suksesi
pembentukan batuan gunung api di Pegunungan Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta
berdasar litostratigrafi yang dilandasi pemahaman volkanologi. Metode pen dekatan yang
dilakukan adalah penelitian geologi dengan menerapkan prinsip geologi ”The present is the
key to the past”.
Pegunungan Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan wilayah yang terpengaruh
oleh kegiatan volkanisme, hal ini ditunjukkan oleh keterdapatan banyak batuan hasil kegiatan
gunung api. Soeria-Atmadja, et al., (1994) melakukan penelitian batuan gunung api Tersier di
Pulau Jawa dan menyimpulkan keberadaan dua buah busur magma berumur Eosen-Miosen
Awal dan Miosen Akhir-Pliosen. Sementara itu, kegiatan volkanisme secara jelas dapat diamati
sejak Kala Oligosen, yaitu saat pembentukan Formasi Kebo-Butak hingga Kala Miosen dan
pembentukan Formasi Oyo.
Pegunungan Selatan ini dibangun oleh batuan gunung api berupa batuan intrusi, aliran lava,
breksi, dan kelompok batuan klastika gunung api. Secara umum, daerah tinggian tersebut
mempunyai kelerengan lebih dari 30º, dan disusun oleh perselingan batuan yang kedudukan
jurusnya mengikuti bentuk gawir dengan kemiringan antara 25o – 12o. Selain itu, bentuk bukit-
bukit intrusi melingkar seperti kubah, kerucut, dan memanjang pendek (elipsoidal), bukit
intrusi ini umumnya terletak di bagian dalam dari bentang alam setengah melingkar seperti
bulan sabit. Pola pengaliran Pegunungan Selatan dibangun oleh tiga sungai utama yaitu Sungai
Opak, Sungai Oyo, dan Sungai Ngalang. Sungai Opak berarah baratdaya – timurlaut mengikuti
arah gawir, Sungai Oyo berarah barat – timur dan membentuk meander, sedangkan Sungai
Ngalang berarah utara – selatan memotong tinggian Baturagung. Ketiga sungai utama tersebut
mengalir di atas batuan gunung api , dan alirannya bermuara di Pantai Parangtritis, Bantul.
Stratigrafi Pegunungan Selatan, Yogyakarta disusun oleh batuan gunung api baik yang
terdiri dari lava koheren (intrusi dangkal & batuan beku luar) maupun batuan klastika gunung
api, dan sebagian disusun oleh batuan sedimen. Formasi yang disusun oleh lava koheren
(Formasi Kebo-Butak, Formasi Wonolelo, Formasi Nglanggeran) berkembang dan tersebar di
bagian utara hingga di bagian selatan, sedangkan formasi yang disusun oleh batuan klastika
gunung api umumnya tersebar di bagian selatan yang membentang barat hingga timur (Formasi
Sindet, Formasi Semilir, Formasi Sambipitu, dan Formasi Oyo). Batuan beku terobosan,
sebagian tersingkap di bagian barat (G. Plencing, Pucung), sebagian tersingkap di bagian timur
(G. Watumanten, Kunden), dan di Dusun Dengkeng (Wukirsari, Imogiri) menerobos formasi
batuan yang disusun oleh batuan klastika gunung api (Formasi Sindet, Formasi Wonolelo, dan
Formasi Semilir). Batuan beku terobosan yang tersingkap di bagian paling selatan dijumpai di
G. Batur (Wediombo, Jepitu). Batuan beku terobosan tersebut berkomposisi andesit basal
hingga andesit, sama dengan komposisi lava dan komposisi batuan klastika gunung apinya.
Pada beberapa lokasi (di Watuadeg, di Kunden, dan di Kalinampu) tersingkap lava yang
membentuk struktur bantal (berasosiasi dengan air), komposisi basal – andesit basal, posisi
stratigrafi menempati bagian dari Formasi Kebo -Butak dan atau Formasi Wonolelo.
Data petrologi lapangan menunjukkan adanya variasi komposisi batuan gunung api mulai
dari basal hingga dasit. Batuan gunung api berkomposisi basal umumnya berupa aliran lava
berstruktur bantal, dan penyebaran litologi ini sang at terbatas yaitu di daerah Watuadeg
(Berbah, Sleman), Kalinampu dan G. Sepikul (Sumberan, Gunungkidul), Kaliopak (Punden,
Bantul). Penyebaran batuan gunung api berkomposisi andesit secara umum berupa lava
otoklastika, breksi, lapili, tuf, sill dan retas, dijumpai hampir di seluruh wilayah Pegunungan
Selatan, Yogyakarta , sedangkan batuan gunung api berkomposisi dasit dijumpai pada breksi
pumis dan tuf yang umumnya tersebar di bagian selatan.
Berdasarkan bentuk bentang alamnya, perkembangan bentang alam gunung api di
Yogyakarta telah mengalami beberapa tahap pembangunan dan perusakan yaitu bentang alam
yang diawali oleh gumuk gunung api baw ah muka air, kemudian kearah selatan berkembang
bentang alam khuluk gunung api. Magma yang membangun Pegunungan Selatan, Yogyakarta
berafinitas Tholeiit – Kapur Alkali, dan batuan gunung apinya berkomposisi basal – riolit.

Sumber:
Gendoet,H, Sutikno Bronto. 2008. Magmatisme Dan Stratigrafi Gunung Api Pegunungan
Selatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Peneliti pada Pusat Survei Geologi. Bandung.
Nandi. 2006. Vulkanisme. . Handout Geologi Lingkungan. Universitas Pendidikan indonesia
Pratt, M., 2006, Boundary- Making Challenges and Opportunities, International Symposium
on Land and River Boundaries Demarcation and Meintanance in Support of Borderland
Development, Bangkok, Thailand