Anda di halaman 1dari 18

Kata Pengantar

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Mata Kuliah
Keperawatan HIV/AIDS berjudul “Tren dan Isu Perilaku yang Berisiko Tertular atau
Menularkan HIV/AIDS”.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal. Terlepas dari itu, kami menyadari bahwa
masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu,
kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah
ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah Komunikasi dalam Keperawatan HIV/AIDS
berjudul “Tren dan Isu Perilaku yang Berisiko Tertular atau Menularkan HIV/AIDS”,
ini bermanfaat bagi para pembaca.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Jakarta, 18 Maret 2018

Kelompok 1

1
Daftar Isi

Kata Pengantar…………………………………………………………………….…………...1

Daftar Isi……………………………………………………………….……………………....2

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………….……………………….3

1.1 Latar Belakang……………………………………………….………………………...3


1.2 Rumusan Masalah………….………...…………………….……….…………...…..…4
1.3 Tujuan…………………………............................................................……….……....4
1.4 Manfaat………………….……………............……………………………..………...4

BAB II PEMBAHASAN..........................................................................................................5

2.1 Defini HIV/AIDS…………………………………………….……………….….…...5


2.2 Tren dan Isu Perilaku Penularan HIV/AIDS………………….…………….….…......5
2.3 Pendapat yang Salah Mengenai Penulara HIV/AIDS……….………………….…….8
2.4 Isu Gender: masalah wanita dan laki-laki…….......……...............................................8
2.5 Pencegahan Penularan HIV/AIDS………………………….………….……………..9
2.6 Jurnal Penelitian Trend an Isu Perilaku yang Berisiko Penularan HIV/AIDS………11
2.7 Jurnal Penelitian Manajemen HIV/AIDS……………………………………………13

BAB III PENUTUP………………………………………………………………………….17

3.1 Kesimpulan……………………………………….…....……………………………..17
3.2 Saran………………………………………………………………………………….17

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………….…………….........18

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit AIDS pertama kali ditemukan pada tahun 1981 di Amerika Serikat yang
kemudian dengan pesatnya menyebar ke seluruh dunia. Di Negara-negara Amerika Latin
dilaporkan 7.215 kasus AIDS melanda kaum muda berusia 20-49 tahun yang sebagian besar
adalah kaum homoseksual dan penggunaan obat-obat suntik ke pembuluh darah (Soekidjo
Notoatmodjo, 2007:310).
Pravalensi global HIV tetap stabil dan jumlah infeksi HIV menurun sekitar 15% dari
tahun 2001 sampai 2008. Pada tahun 2008 terdapat 280.000 orang meninggal dari 430.000
penderita HIV/AIDS, dan tahun 2009 terdapat 33.300.000 penderita (WHO, 2009:7).
Pada tahun 2001 dan 2010, jumlah orang yang baru terinfeksi HIV menurun tajam
sebesar 34% di Asia Tenggara. Menurut WHO, dengan perluasan fasilitas serta penyediaan
layanan pengujian dan konseling, sekitar 16 juta orang telh diuji untuk HIV/AIDS di seluruh
Asia Tenggara tahun 2011, 3,5 juta orang diperkirakan hidup dengan HIV AIDS di tahun
2010, diantaranya 140 ribu anak-anak dan perempuan (37% dari populasi penderita).
Pada zaman globalisasi seperti saat ini mempengaruhi dan bahkan membuat nilai-nilai
moral dalam kehidupan menjadi kurang diperhatikan lagi. Pergaulan semakin bebas sehingga
memicu terjadinya perbuatan yang tidak baik bagi kesehatan, hal tersebut misalnya terjadinya
penularan HIV AIDS. Banyak faktor yang melandasi hal tersebut, seperti faktor pergaulan
yang tidak sehat, ingin coba-coba, dan lain sebagainya. Selain itu, faktor lainnya yaitu tidak
adanya atau kurangnya pengetahuan siswa mengenai efek samping atau akibat yang dapat
ditimbulkan dari perilaku tersebut.
Maraknya perilaku yang menyebabkan penularan HIV/AIDS misalnya penggunaan
narkoba dan seks bebas saat ini tidak hanya tren di kalangan para pemuda yang sudah tidak
menduduki bangku sekolah lagi, saat ini perilaku tersebut telah merajalela di kalangan para
pelaja. Semua itu dikarenakan kurangnya pengetahuan mengenai bahaya dan penularan HIV
AIDS.

3
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, dapat dirumuskan masalah yaitu “Bagaimana perilaku seseorang
sehingga menyebabkan tertular Human Immunodeficiency Virus (HIV).
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah “Untuk mengetahui perilaku Penularan
Human Immunodeficiency Virus (HIV)
1.4 Manfaat
1. Mahasiswa dapat mengetahui, dan mengerti tentang Tren dan Isu Perilaku yang Berisiko
Tertular atau Menularkan HIV/AIDS
2. Mahasiswa dapat mengetahui dan mengerti cara pencegahan HIV/AIDS

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi HIV/AIDS

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah retrovirus yang mempunyai RNA-nya dan
DNA pejamu untuk membentuk virus DNA dan dikenali selama periode inkubasi yang
panjang. HIV menyebabkan kerusakan system imun dan menghancurkannya. Hal tersebut
terjadi dengan menggunakan DNA dari CD4+ dan limfosit untuk mereplikasi diri. Dalam
proses itu, virus tersebut menghancurkan CD4+ dan limfosit.

AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome, yang berarti
kumpulan gejala atau sindroma akibat menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan infeksi
virus HIV. Tubuh manusia mempunyai kekebalan untuk melindungi diri dari serangan luar
seperti kuman, virus, dan penyakit. AIDS melemahkan atau merusak sistem pertahanan tubuh
ini, sehingga akhirnya berdatanganlah berbagai jenis penyakit lain.

Seseorang menderita AIDS bukan karena keturunan dari penderita AIDS, melainkan
terjangkit atau terinfeksi virus penyebab AIDS. Oleh karena itu AIDS dapat juga diartikan
sebagai kumpulan tanda gejala penyakit akibat hilangnya atau menurunnya sistem kekebalan
tubuh seseorang. Jika sistem kekebalan tubuhnya dirusak oleh virus AIDS, maka serangan
penyakit yang biasa dan tidak bahaya pu bisa menyebabkan meninggal. Penderita AIDS yang
meninggal, bukan semata-mata disebabkan oleh virus, tapi oleh penyakit lain yang bisa
ditolak seandainya daya tahan tubuhnya tidak dirusak oleh virus AIDS. AIDS merupakan
fase terakhir dari HIV.

3.2 Tren dan Isu Perilaku Penularan HIV/AIDS


Hal-hal yang Menularkan HIV / AIDS Penularan akan terjadi bila ada kontak atau
percampuran dengan cairan dalam tubuh yang menggandung HIV, yaitu:
1) Melalui hubungan seksual dengan pengidap HIV Hubungan seksual ini bisa homoseksual
ataupun heteroseksual. Hubungan seksual, baik secara vaginal, oral, maupun anal dengan
seorang pengidap. Ini adalah cara yang paling umum terjadi, meliputi 80-90% dari total
kasus sedunia. Kontak seksual merupakan salah satu cara utama transmisi HIV diberbagi
belahan dunia. Virus ini dapat ditemukan dalam cairan semen, cairan vagina, cairan

5
serviks. Transmisi infeksi HIV melalui hubungan seksual lewat anus lebih mudah karena
hanya terdapat membrane mukosa rectum yang tipis dan mudah robek, anus sering terjadi
lesi. Penularan mudah terjadi apabila terdapat lesi penyalit kelamin dengan ulkus atau
peradangan jaringan seperti herpes genetalis, sifilis, gonorea, klamidia, kankroid, dan
trikomoniasis. Risiko pada seks anal lebih besar dibandingkan seks vagina, dan risiko
lebih besar pada reseptif daripada insertif (Soekidjo Notoatmodjo, 2007: 315).
2) Melalui tranfusi darah dan transplantasi organ yang tercemar oleh HIV secara langsung
akan menularkan HIV ke dalam sistem peredaran darah si penerima. Transfusi darah atau
produk darah yang tercemar mempunyai risiko sampai >90%, ditemukan 3-5% total
kasus sedunia. Suatu penelitian di amerika serikat melaporkan risiko infeksi HIV-1
melalui transfuse darah dari donor yang terinveksi HIV berkisar antara 1 per 750.000
hingga 1 per 835.000(Nasronudin,2007).Pemeriksaan antibody HIV pada donor darah
sangat mengurangi transmisi melalui transfusi darah dan produk darah (contoh,
konsentrasi factor VIII yang digunakan untuk perawatan hemophilia) (Lange,2011)
3) Melalui jarum suntik atau alat tusuk lainnya (jarum akupuntur, tindik atau tato) yang
tercemar oleh virus HIV. Entah kapan praktek suntik menyuntik mulai disenangi oleh
masyarakat Indonesia. Tetapi yang jelas cara pengobatan modern ini telah berkembang
subur terutama di desa-desa karena cara ini dianggap cukup “ampuh” sebagai senjata
pamungkas “semua jenis penyakit”. Suntikan sudah menjadi trade mark pelayanan
kesehatan. Pasien belum merasa “puas” kalau belum disuntik, kadang tidak mau bayar
kalau hanya diperiksa dan dinasehati saja. Petugas pun merasa sudah menjalankan
misinya memberikan pengobatan yang memang didambakan oleh pasien. Tetapi di balik
praktek yang disenangi i, mengintip juga bahaya yang mungkin fatal. Mungkin karena
kurang disadari dan kurang diketahui, penggunaan alat injeksi yang tidak steril akan
memberikan risiko penularan penyakit seperti AIDS, Hepatitis, dan penyakit infeksi
lainnya di masyarakat. Fenomena salah persepsi inilah yang berkembang di tempat-
tempat pelayanan kesehatan. Lalu siapa yang bertanggungjawab? Negosiasi tidak akan
terjadi kalau salah sam pihak tidak menghendakinya. OIeh karena itu yang bertanggung
jawab menghentikan praktek ini juga harus datang dari kedua belah pihak, baik petugas
kesehatan maupun pasien. Petugas kesehatan yang dianggap Iebih mengerti diharapkan
akan lebih dahulu menyadari, kemudian mengembangkan konseling untuk menghentikan

6
kebiasaan masyarakat ingin disuntik. Maka dari itu pemakaian jarum suntik secara
bersamaan oleh para pecandu narkotika akan lebih mudah menularkan HIV. Pemakaian
jarum suntik tidak steril atau pemakaian bersama jarum suntik dan spuitnya pada pecandu
narkotik berisiko 0,5-1%, ditemukan 5-10% total kasus sedunia. Penularan melalui
kecelakaan tertusuk jarum pada petugas kesehatan mempunyai risiko 0,5%, dan
mencakup <0,1% total kasus sedunia (Arif Mansjoer, 1977: 163).
4) Penularan HIV dari ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada janinnya sewaktu hamil,
persalinan, dan setelah melahirkan melalui pemberian Air Susu Ibu (ASI). Angka
penularan selama kehamilan sekitar 5-10% (saat bayi masih berada didalam
rahim,melalui plasenta), sewaktu persalinan 10-20% (saat proses persalinan,bayi terpapar
darah ibu atau cairan vagina), dan saat pemberian ASI 10-20%. Kemungkinan penularan
dari ibu ke bayi (mother-to-child transmission) berkisar antara 30%, artinya dari setiap 10
kehamilan ibu HIV positif kemungkinan ada 3 bayi yang lahir dengan HIV positif
(Komisi Penanggulangan AIDS, 2010). Ibu yang positif HIV-1 tidak boleh menyusui
bayinya karena iya dapat menambah penularan perinatal. Selama beberapa tahun terakhir,
ditemukan bahwa penularan HIV perinatal dapat dikaitkan lebih akurat dengan
pengukuran jumlah RNA- virus di dalam plasma. Penularan ini lebih sering terjadi pada
kelahiran preterm, terutama yang berkaitan dengan ketuban pecah dini
(Cunningham,2004)
5) Potensi transmisi melalui cairan tubuh lain
Walaupn HIV pernah ditemukan dalam air liur pada sebagian kecil orang yang terinfeksi,
tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa air liur dapat menularkan infeksi HIV baik
melalui ciuman biasa maupun paparan lain misalnya sewaktu bekerja bagi petugas
kesehatan. Selain itu, air liur dibuktikan mengandung inhibitor terhadap aktivitas HIV,
demikian juga belum ada bukti bahwa cairan tubuh lain misalnya air mata, keringat dan
urin dapat merupakan media transmisi HIV (Nasronudin,2007).
6) Transmisi pada petugas kesehatan dan petugas laboratorium
Berbagai penelitian multi insitusi menyatakan bahwa risiko penularan HIV setelah kulit
tertusuk jarum atau benda tajam lainnya yang tercemar oleh darah yang terinveksi HIV
adalah sekitar 0,3% sedangkan resiko penularan HIV ke membrane mukosa atau kulit
yang mengalami erosi adalah sekitar 0,09%.

7
3.3 Beberapa pendapat yang salah mengenai penularan HIV
1) HIV/AIDS menular melalui hubungan kontak sosial biasa dari satu orang ke orang
lain dirumah, tempat kerja atau tempat umum lainnya.
2) HIV/AIDS menular melalui makanan HIV/AIDS menular melalui udara dan air
(kolam renang,toilet,dll)
3) HIV/AIDS menular melalui serangga/nyamuk
4) HIV/AIDS menular melalui batuk,bersin,meludah
5) HIV/AIDS menular melalui bersalaman, menyentuh, berpelukan atau cium pipi.
3.4 Isu Gender: masalah wanita dan laki-laki
Wanita lebih mudah menjadi HIV-positif dan lebih terpengaruh dampak buruk epidemi
dibandingkan laki-laki, karena alasan biologis, sosio-kultural dan ekonomi. Sektor kesehatan
merupakan pengusaha utama dari pekerja wanita, pada beberapa kasus sekitar 80% pekerja
sektor kesehatan adalah wanita. Dalam keadaan demikian, sangat penting untuk
memperhatikan sepenuhnya dimensi gender dari K3 dan HIV/AIDS, dan bahwa pekerja
kesehatan laki-laki dan wanita menjadi sensitif gender, yang diberikan melalui informasi,
pendidikan dan pelatihan.
Pengusaha harus menjamin bahwa upaya-upaya berikut ini diperhatikan dan ditampung
dalam merancang dan menerapkan kebijakan dan program di tempat kerja:
a. Semua program sektor kesehatan harus sensitif gender, sebagaimana juga sensitif
terhadap etnis, usia, ketidak-mampuan, agama, status sosio-ekonomi, budaya dan
orientasi seksual. Hal ini diwujudkan dengan secara jelas mentargetkan laki-laki maupun
wanita dalam program, dan melibatkan mereka dalam program yang mengakui jenis dan
tingkat risiko yang berbeda bagi laki-laki dan wanita.
b. Informasi bagi wanita, khususnya wanita muda, perlu untuk mengingatkan dan
menjelaskan risiko mereka yang lebih tinggi untuk penularan HIV. Pendidikan harus
membantu wanita dan laki-laki untuk mengerti dan bertindak atas hubungan kekuatan
yang tidak setara diantara mereka dalamlapangan pekerjaan dan situasi personal;
pelecehan dan kekerasan harus diutarakan secara khusus, tidak hanya dalam tempat
kerja tapi juga dalam situasi rumah tangga (domestik).

8
c. Program tempat kerja harus membantu wanita mengerti hak-hak mereka, baik dalam
tempat kerja maupun diluar tempat kerja, dan memberdayakan mereka untuk melindungi
diri mereka sendiri.
d. Pendidikan bagi laki-laki harus mencakup peningkatan kesadaran, penilaian risiko dan
strategi untuk mempromosikan tanggung jawab laki-laki berkaitan dengan pencegahan
HIV/AIDS, dan faktor-faktor lingkungan yang dapat mendukung perilaku pencegahan
yang bertanggung jawab.
e. Pelatihan HIV/AIDS bagi pekerja sektor kesehatan harus memberikan pengertian
tentang kebutuhan fisik dan psikologis khusus dari wanita HIV-positif, termasuk
masalah-masalah spesifik yang mereka hadapi dalam kesehatan reproduksi dan anak.
Pelatihan juga harus menjelaskan hambatan-hambatan untuk membuka status HIV,
seperti ketakutan terhadap stigma, diskriminasi atau kekerasan.
3.5 Pencegahan Penularan HIV/AIDS
1. Secara umum
Lima pokok untuk mencegah penularan HIV (A, B, C, D, E) yaitu :
A: Abstinence, yaitu memilih untuk tidak melakukan hubungan seks berisiko tinggi,
terutama seks pranikah
B: Be Faithful, yaitu saling setia
C: Condom, yaitu menggunakan kondom secara konsisten dan benar
D: Drugs, yaitu tolak penggunaan NAPZA
E: Equipment, yaitu jangan pakai jarum suntik bersama
2. Pencegahan transmisi HIV dari Ibu ke Anak
Pemberian antiretrovirus direkomendasikan untuk semua ibu hamil terinfeksi untuk
mengurangi risiko transmisi HIV perinatal dengan cara menurunkan kadar HIV serendah-
rendahnya dan untuk memaksimalkan kesehatan ibu. Pada kehamilan, keuntungan
pemberian antiretrovirus harus dipertimbangkan terhadap potensi toksisitas,
teratogenesis, serta efek samping jangka lama. Berdasarkan hasil tes klinis di AS dan
Perancis (1994) menunjukkan bahwa pemberian ZDV oral pada ibu hamil saat antenatal
(usia kehamilan 14-34 bulan hingga saat melahirkan) serta neonatal selama usia enam
minggu pertama dapat mengurangi risiko transmisi vertical. Pemberian antiretrovirus

9
untuk mengurangi transmisi perinatal pada beberapa situasi kehamilan yang
direkomendasikan Perinatal HIV Guidelines Working Group di AS.
3. Pemberian penyuluhan kesehatan di sekolah dan di masyarakat harus menekankan bahwa
mempunyai pasangan seks yang berganti-ganti serta menggunakan obat suntik bergantian
dapat meningkatkan resiko infeksi HIV. Pelajar juga harus dibekali ilmu pengetahuan
bagaimana untuk menghindari atau mengurangi kebiasaan yang mendatangkan resiko
terkena infeksi HIV.
4. Satu-satunya jalan agar tidak terinfeksi adalah dengan tidak melakukan hubungan seks
atau hanya berhubungan seks dengan satu orang yang diketahui tidak mengidap infeksi.
Kondom lateks harus digunakan dengan benarsetiap kali seseorang melakukan hubungan
seks secara vaginal, anal atau oral.
5. Memperbanyak fasilitas pengobatan bagi pecandu obat terlarang akan mengurangi
penularan HIV. Begitu pula program “Harm reduction’’ yang menganjurkan para
penggunaan jarum suntik untuk menggunakan metode dekontaminasi dan menghentikan
penggunaan jarum bersama telah terbukti efektif.
6. Menyediakan fasilitas konseling HIV dimana identitas penderita dirahasiakan serta
menyediakan tempat-tempat untuk melakukan pemeriksaan darah.
7. Setiap wanita hamil sebaiknya sejak awal kehamilan disarankan untuk melaukan tes HIV
sebagai kegiatan rutin dan standar keperawatan kehamilan. Ibu dengan HIV positif harus
di evaluasi untuk memperkirakan kebutuhan mereka terhadap terapi zidovudine (ZDV)
untuk mencegah penularan HIV melalui uterus dan perinatal.
8. Berbagai peraturan dan kebijakan telah dibuat oleh USFDA, untuk mencegah
kontaminasi HIV pada plasma dan darah, Semua darah donor harus di uji antibodi HIV-
nya. Hanya darah dengan hasil tes negatif yang digunakan.
9. Jika hendak melakukan transfusi Dokter harus melihat kondisi pasien dengan teliti
apakah ada indikasi medis untuk transfusi. Transfusi otolagus sangat dianjurkan.
10. Hanya produk faktor pembekuan darah yang sudah di seleksi dan yang telah diperlakukan
dengan semestinya untuk dengan menonaktifkan HIV yang bisa digunakan.
11. Sikap hati-hati harus dilakukan pada waktu penanganan, pemakaian dan pembuangan
jarum suntik atau semua jenis alat-alat yang berujung tajam lainnya agar tidak tertusuk.
Petugas kesehatan harus menggunakan sarung tangan lateks, pelindung mata, dan alat

10
pelindung lainnya untuk menghindari kontak dengan darah atau cairan yang mengandung
dengan darah.
12. WHO merekomendasikan pemberian imunisasi bagi anak-anak dengan infeksi HIV tanpa
gejala dengan vaksin-vakain EPI (Expanded Programme on Innunization); anak-anak
yang menunjukkan gejala sebaiknya tidak mendapatkan vaksin BCG. BCG dan vaksin
oral polo di AS tidak direkomendasikan untuk diberikan kepada anak-anak yang
terinfeksi HIV tidak perduli terhadap ada tidaknya gejala, sedangkan vaksin MMR
(measles mumps-rubella) dapat diberikan kepada anak dengan infeksi HIV.
13. Untuk pengguna NAPZA. Pecandu yang IDU dapat terbebas dari penularan HIV/AIDS,
jika: Mulai berhenti menggunakan NAPZA, sebelum terinfeksi HIV. Atau paling tidak,
tidak memakai jarum suntik atau paling tidak, sehabis dipakai, jarum suntik langsung
dibuang atau paing tidak kalau menggunakan jarum yang sama, sterilkan dulu, yaitu
dengan merendam pemutih (dengan kadar campuran yang benar) atau direbus dengan
ketinggian suhu yang benar. Proses ini biasa disebut bleaching (sterilisasi dengan
pemutih)

3.6 Jurnal Penelitian Trend an Isu Perilaku yang Berisiko Penularan HIV/AIDS

Trends in HIV incidence in homosexual men in developed countries (Tren kejadian


HIV pada pria homoseksual di negara maju)
Andrew E. GrulichA,B and John M. KaldorA ANational Centre in HIV Epidemiology and
Clinical Research, University of New South Wales,
Sydney, NSW 2010, Australia.

Pada jurnal ini dapat di simpulkan bahwa , ada peningkatan mendekati


universal pemberitahuan diagnosis HIV pada pria homoseksual didunia maju. Berdasarkan data
yang tidak lengkap, nampak kemungkinan bahwa peningkatan kejadian HIV yang benar mendasari
peningkatan dalam diagnosis HIV di sebagian besar lokasi. Menentukan tingkat dan tingkat
kenaikan kejadian pada pria homoseksual tersebut mendapatka isu yang sangat penting dalam
mengembangkan masyarakat yang tepat tentang tanggapan kesehatan dalam epidemi HIV yang
sedang berkembang. Meningkat perhatian terhadap surveilans kejadian HIV diperlukan, termasuk
pengumpulan data berkala mengenai tingkat tes HIV, Koleksi data yang lebih universal mengenai

11
diagnosis HIV yang baru investigasi penggunaan tes biologis untuk kejadian HIV, dan studi
epidemiologi spesifik untuk memeriksa kejadian HIV pada populasi laki-laki homoseksual. Selain
itu ada juga peningkatan notifikasi HIV pada pria homoseksual di hampir semua negara maju,
dimulai pada akhir tahun 1990an dan berlanjut sampai tahun 2006. Meskipun peningkatan tes HIV
mungkin berkontribusi terhadap peningkatan beberapa orang pengaturan, data kohort terbatas
memang mendukung adanya peningkatan kejadian HIV yang sesungguhnya di Eropa dan Amerika
Utara negara. Peningkatan pemantauan kejadian HIV pada laki-laki homoseksual di tingkat
populasi diperlukan untuk memungkinkan lebih banyak penilaian tepat waktu dari para pendorong
yang mendasari tren tersebut. Selain itu pada trend dan isu yg kita dapat dari jurnal ini yaitu
Ketersediaan data surveilans HIV jangka panjang sangat bervariasi. Namun, hampir di semua
yurisdiksi dimana data tersebut tersedia, pemberitahuan diagnosis HIV baru di antara laki-laki
homoseksual miliki meningkat, terutama sejak akhir 1990an. Besarnya kenaikan ini bervariasi,
namun lebih dari 50% di banyak negara. Ada lebih sedikit data yang tersedia mengenai
kecenderungan pengukuran langsung kejadian HIV pada pria homoseksual, dan meningkat pada
tahun 2008 Tingkat tes HIV mungkin telah berkontribusi terhadap peningkatan diagnosis HIV di
banyak negara. Namun, sejak akhir 1990an, beberapa studi kohort berbasis klinik dan masyarakat
di Eropa dan Amerika Utara melaporkan peningkatan kejadian. Lambat taun semakin banyak sekali
penyebaran HIV melalui homoseksual terutama di negara maju ini.

12
3.7 Jurnal Penelitian Manajemen HIV/AIDS

Hasil pengobatan antiretroviral dari perawat, program pengobatan HIV / AIDS yang
didukung masyarakat di pedesaan Lesotho: penilaian kohort observasional pada dua
tahun Hasil pengobatan antiretroviral dari perawat, program pengobatan HIV / AIDS
yang didukung masyarakat di pedesaan Lesotho: penilaian kohort observasional pada
dua tahun
Rachel Cohen*1, Sharonann Lynch1, Helen Bygrave1, Evi Eggers1,Natalie Vlahakis1,
Katherine Hilderbrand2,3, Louise Knight2, Prinitha Pillay1,Peter Saranchuk1, Eric
Goemaere2, Lipontso Makakole4 and Nathan Ford2
Journal of the International AIDS Society 2009, 12:23 doi:10.1186/1758-2652- 12-23

Pengantar

Lesotho memiliki prevalensi HIV tertinggi ketiga di dunia (setelah Swaziland dan
Botswana), di 23,2% di antara orang dewasa berusia 15 sampai 49 tahun, dan merupakan yang
termiskin dari ketiga Negara tersebut, peringkat 138 dari 177 negara pada Indeks Perkembangan
Manusia. Lebih dari separuh dari Lesotho 1,8 juta penduduk hidup di bawah garis kemiskinan .
Menurut data sensus terbaru yang tersedia, populasi Lesotho adalah menurun drastis, sebagian
besar akibat HIV / AIDS.

Pemerintah Lesotho telah menunjukkan komitmen yang kuat untuk menangani HIV /
AIDS dan TB. Namun, kesehatan pengiriman perawatan telah sangat dibatasi oleh sumber daya
utama kendala, khususnya kekurangan profesional yang mengerikan Petugas kesehatan: hanya
ada lima dokter dan 62 perawat per 100.000 penduduk di Lesotho.

Pada bulan Januari 2006, Médecins Sans Frontières (MSF) dan Kementerian Kesehatan
dan Kesejahteraan Sosial (MOHSW) meluncurkan program percontohan bersama untuk
menyediakan perawatan dan pengobatan HIV / AIDS yang layak untuk kesehatan primer tingkat
perawatan. Programnya, yang mengandalkan perawat-driven pendekatan, diluncurkan pada apa
yang sebelumnya disebut Scott Area Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit.

13
Pendekatan program

Pada awal program, kira-kira 30.000 orang diperkirakan hidup dengan HIV / AIDS di
Scott daerah tangkapan air Pengetahuan tentang manajemen klinis HIV terbatas dan sedikit obat
untuk mengobati oportunistik infeksi tersedia; ART sama sekali tidak tersedia. Membangun
pengalaman MSF sebelumnya di Afrika Selatan, perawat didukung untuk memulai dan
mengelola HIV perawatan dan ART di puskesmas.

Membekali perawat dengan keterampilan untuk memenuhi tanggung jawab baru ini,
kebaktian in-service teoritis dan praktis pelatihan diberikan pada pengelolaan terkait HIV kondisi
dan ART. Ini termasuk pelatihan &quot;out-of- service&quot; kuartalan, yang berlangsung satu
minggu, yang bersifat pelatihan klinis yang diadaptasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
Manajemen Terpadu Remaja dan Penyakit Dewasa (IMAI).

Setiap klinik dikelola oleh hanya satu atau dua perawat (seringkali, mereka adalah asisten
perawat hanya dengan dua tahun pelatihan), siapa menyediakan berbagai kegiatan perawatan
primer. Pekerjaan mereka didukung oleh dokter atau perawat berpengalaman, yang berkunjung
setiap minggu atau setiap dua minggu untuk memberikan bimbingan klinis kepada perawat
mengenai isu-isu seperti: diagnosis dan pengelolaan kondisi HIV yang rumit, efek samping
antiretroviral (ARV), dan tantangan klinis lainnya; dukungan rujukan untuk kasus yang rumit;
dan membantu manajemen klinik umum, termasuk tugas monitoring dan evaluasi.

Beban kerja perawat tinggi. Penilaian pada bulan Agustus 2006 menemukan bahwa
perawat melakukan hingga 45 konsultasi per hari, jauh lebih besar daripada yang
direkomendasikan WHO maksimal 30 konsultasi per hari (tidak termasuk HIV konsultasi).
Mengakui bahwa semakin meningkat Kebutuhan ART tidak bisa terpenuhi karena kelangkaan
dokter, perawat dan staf kesehatan profesional lainnya, MSF dan Scott Rumah sakit membentuk
kader konselor HIV/TB memperkuat kapasitas untuk memberikan layanan HIV dan TB.

Berbeda dengan model tradisional berbasis masyarakat dukungan pekerja kesehatan,


konselor awam ini (biasanya orang yang hidup secara terbuka dengan HIV / AIDS) berbasis
fasilitas, menerima pelatihan terstruktur tentang HIV dan TB dan konseling, memiliki deskripsi
tugas yang jelas, dan diberi kompensasi untuk mereka bekerja,

14
Diskusi dan Evaluasi

Hasil ART

ART diperkenalkan di tingkat perawatan primer di Scott daerah tangkapan air pada bulan
Maret 2006. Mulai Juli 2009, 13.243 orang telah terdaftar dalam perawatan HIV (5% anak-
anak), dan 5376 memulai ART (6,5% anak-anak), 80% di sekolah dasar tingkat perawatan.
Secara keseluruhan, empat dari lima orang diinisiasi di tingkat puskesmas. Pendaftaran telah
meningkat secara substansial dari tahun ke tahun, sementara proporsi orang dewasa yang tiba
sakit (dengan jumlah CD4 kurang dari 50) telah berkurang dua kali lipat, dari 22,2% di tahun
2006 menjadi 11,9% di tahun 2008, merupakan indikasi bahwa orang mencari pengobatan lebih
awal.

Hasil untuk dua tahun pertama memuaskan, dengan 80% pasien masih hidup dan dalam
perawatan (yaitu, masih menerima ART) pada 12 bulan, dan 76,5% pasien yang masih dalam
perawatan di 24 bulan. Data ini dibandingkan dengan Hasil dari program lain di Afrika:
sistematis meninjau kohort HIV dari 13 negara di sub-Sahara Afrika melaporkan tingkat retensi
yang lebih rendah pada enam bulan (79% vs 89% di daerah tangkapan Scott), 12 bulan (75% vs
80%) dan 24 bulan (61,6% vs 77%).

Hasil pada anak juga sangat memuaskan, dengan 89,4% sisanya dirawat di 12 bulan dan
87,5% pada usia 24 tahun bulan. Data ini lebih baik dibandingkan dengan prosa lainnya di
Afrika bagian selatan (Rwanda: 95%; Malawi: 72%) dan data dari kohort multicentrik (14 negara
menjawab: 89%). Ini memberikan bukti kuat bahwa pemberian ART kepada anak-anak oleh
perawat pada perawatan primer tingkat layak dan efektif, dan tidak memerlukan kehadiran
spesialis anak. Mantap peningkatan pendaftaran anak-anak - pendaftaran tahunan lebih dari dua
kali lipat dalam dua tahun, dari 54 di tahun 2006 menjadi 116 pada tahun 2008 – mencerminkan
peningkatan kepercayaan dan keterampilanPerawat untuk memulai perawatan pada anak-anak,

Kesimpulan

Program yang didukung MSF di daerah tangkapan Scott memberikan bukti lebih lanjut
bahwa perawatan dan perawatan HIV dapat dilakukan diberikan secara efektif di tingkat
perawatan primer, ke manfaat layanan kesehatan primer. Ini juga memvalidasi beberapa area

15
kritis untuk pengalihan tugas yang sedang diujicobakan di banyak negara di Afrika bagian
selatan dan sekitarnya, termasuk ART berbasis perawat untuk orang dewasa dan anak-anak, dan
berbaring konseling yang didukung konselor, konseling dan manajemen kasus. Selain cepat
meningkat cakupan ART dan layanan terkait, program ini memiliki berhasil menggabungkan
beberapa nasional terbaru dan pedoman internasional untuk PMTCT dan ART yang mendukung
perbaikan penting dalam kualitas perawatan.

Tujuan dari Program yang didukung MSF di Scott adalah untuk mengembangkan sebuah model
yang bisa ditiru dan berkelanjutan.

16
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Penyebaran HIV/AIDS berlangsung dengan cepat. Sampai sekarang belum ada obat yang
bisa menyembuhkan HIV/AIDS, bahkan penyakit yang saat ini belum bisa dicegah dengan
vaksin. HIV/AIDS merupakan penyakit yang sangat berbahaya, maka dari itu kita harus
waspada terhadap virus tersebut. Sebaiknya kita menghindari perilaku yang dapat
menularkan penyakit tersebut.

3.2 Saran
Agar terhindar dari HIV/AIDS sebaiknya tkita menghindari perilaku yang dapat menularkan
penyakit tersebut.

17
Daftar Pustaka

Masriadi. 2017. Epidimiologi Penyakit Menular Ed. 1 Cet. 2. Depok: Rajawali Pers

Siyoto & Rohan. 2013. Buku Ajar: Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Nuha Medika

Jurnal : Ika Yuli Kumalasari. 2013. PERILAKU BERISIKO PENYEBAB HUMAN


IMMUNODEFICIENCY VIRUS (HIV) POSITIF (Studi Kasus di Rumah Damai). Semarang

Journal of the International AIDS Society 2009, 12:23 doi:10.1186/1758-2652- 12-23

Andrew E. GrulichA,B and John M. KaldorA ANational Centre in HIV Epidemiology and
Clinical Research, University of New South Wales, Sydney, NSW 2010, Australia.

18