Anda di halaman 1dari 6

Penggunaan Darah Kadarluarsa Sebagai Media Isolasi

dan Identifikasi Streptococcus faecalis

(The Usage of Expired Blood as isolation media and identification of Streptococcus faecalis)

Mudatsir
Staf Pengajar pada Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala
Darussalam Banda Aceh

Abstract

Efforts to find microbes in microbiological examination of material are carried out by means of
isolation and identification of microorganisms from the examination material. Isolation was
carried out using culture medium. Use a medium for the isolation and identification are closely
related with one of Koch's postulates, that is causing the infection must be cultured in the
laboratory. Research on the use of expired blood as a medium of isolation and identification of
Streptococcus pyogenes has been performed. The aim study is to determine the viability of the
colony and the size of the zone of hemolysis of Streptococcus pyogenes in the blood as a medium
expired. Materials use is expired blood 1, 2, 3 and 4 weeks. Isolation procedures and identification
of Streptococcus pyogenes include Gram stain, type of hemolysis, catalase test, and test basitrasin.
The results showed the blood expired before four weeks show the number of colonies was almost
the same viability with sheep blood agar medium and large blood hemolysis zone are also nearly
equal to expire so that the blood of sheep prior to 4 weeks. Thus the blood is exceeded before the 4
weeks can be used as media for the isolation and identification of Streptococcus pyogenes

Key Words: blood expired, Streptococcus pyogenes, hemolysis

PENDAHULUAN mulanya untuk memperkaya medium


digunakan darah kuda, tetapi karena darah
Untuk menemukan mikroba dalam kuda banyak mengandung faktor V (piridin
bahan pemeriksaan secara mikrobiologi nukleotida) maka darah ini lebih baik untuk
dilakukan dengan cara mengisolasi dan pertumbuhan Haemphylus haemolyticus,
mengidentifikasi mikroorganisme dari bahan sedangkan untuk pertumbuhan kuman lainya,
pemeriksaan. Isolasi mikroba tersebut seperti Stretococcus lebih baik menggunakan
dilakukan dengan menggunakan medium darah domba, terutama untuk mengamati
biakan. Penggunaan medium untuk isolasi adanya hemolisis (Facklam dan Washington,
dan identifikasi ini berkaitan erat dengan 1991 dan Ellen dkk, 2009).
salah satu postulat Koch, yaitu Sebenarnya penggunaan darah
mikroorganisme penyebab infeksi harus dalam medium lebih baik menggunakan
dapat diisolasi di laboratorium (Murray dkk, darah manusia, karena darah manusia kaya
2007). akan nutrisi bagi pertumbuhan bakteri. Di
Untuk mengisolasi bakteri tertentu samping itu, manusia merupakan hospes bagi
memerlukam media yang kompleks atau bakteri patogen untuk menimbulkan infeksi
media yang diperkaya. Hal ini sangat penting Shulman dkk., 1994; Mudatsir dkk., 1999).
karena menumbuhkan bakteri secara optimal Tetapi penggunaan darah manusia untuk
dan dapat pula menunjukkan karakteristik pembuatan medium agar darah menemui
koloni yang spesifik pada medium biakan beberapa kendala, seperti sulit mendapatkan
tersebut. darah donor karena lebih diutamakan untuk
Menurut American Public Health kepentingan kemanusiaan, oleh karena itu
Association (APHA) bahwa penambahan darah domba masih tetap dipertahankan
darah atau serum ke dalam medium penggunannya untuk medium biakan.
menyebabkan medium kaya akan nutrisi yang Untuk mendapatkan darah domba
dibutuhkan mikroba, salah satunya adalah diperlukan pengadaan domba sendiri dan
menumbuhkan kuman-kuman patogen sarana pemeliharaan, hal ini merupakan
‘fastidious’ (Neema dkk, 2008). Pada masalah tersendiri bagi beberapa

36
laboratorium. Di samping itu saat ini telah dimanfaatkan untuk pembuatan medium agar
ada darah domba yang difibrinasi dijual darah untuk mengisolasi dan
secara komersial dipasaran umum namun mengidentifikasi bakteri Streptococcus
harganya masih sangat mahal (Andrew dkk, pyogenes.
2007). Pada sisi lain darah kadaluarsa
pengadaannya lebih praktis dan murah,
karena darah kadaluarsa selalu tersedia di METODE PENELITIAN
bank-bank darah Palang Merah Indonesia
(PMI) setempat. Bahan Penelitian
Pada bank darah, darah donor Bahan penelitian adalah
biasanya ditampung dalam kantong plastik Streptococcus pyogenes yang diperoleh dari
dengan teknik aseptik. Antikoagulan yang hasil isolasi usap tenggorok penderita
biasa diberikan adalah citrate-fosfat dekstose tersangka faringitis pada Puskemasa
(CPD). Bila waktu penyimpanannya Darussalam Jln. Inong Balee Darussalam
terlewati, maka darah menjadi kadaluarsa, Banda Aceh. Selanjutnya bahan pemeriksaan
darah sering terbuang percuma. Hal ini diperiksa di laboratorium Mikrobiologi
disebabkan darah tersebut tidak mungkin lagi Fakultas Kedokteran Unsyiah. Darah
ditransfusikan ke resipien karena beberapa kadaluarsa untuk pembuatan medium agar
faktor antara lain rendahnya daya hidup darah sebanyak 1 ampul (500 cc) diperoleh
eritrosit dan terjadinya perubahan transportasi dari PMI Cabang Banda Aceh.
oksigen serta telah sangat berkurangnya Teknik dan Prosedur Penelitian
faktor pembekuan, yaitu faktor V dan faktor Bahan pemeriksaan diambil dari
VIII (Wintobe dkk., 1991). ternggorokan dengan usap kapas steril
Isolasi Streptococcus dengan cara, lidah dijulurkan dan ditekan
betahaemolyticus (Streptococcus pyogenes) dengan spatel. Usapkan kapas steril pada
harus dipakai medium yang mengandung tonsil dan bagian belakang faring, hindarkan
darah atau serum. Pada pembenihan biasa, sentuhan pada lidah dan gigi.
pertumbuhannya kurang subur jika medium Bahan pemeriksaan selanjutnya
dasar tidak diperkaya (Warsa, 1993). Setelah ditanam pada medium agar darah domba
diinkubasi 18-24 jam pada suhu 370 C, kuman dengan cara goresan (treaking), selanjutnya
ini akan menyebabkan lisis sempurna pada diinkubasi dalam inkubator pada suhu 370C
medium agar darah, sehingga akan terlihat selama 24 jam.
zona bening di sekitar koloni kuman
beberapa kali diameter koloni kuman (Willet, Prosedur Identifikasi Streptococcus
1992 dan Russel dkk, 2006)) pyogenes
Streptococcus berdasarkan Setelah bakteri tumbuh pada media
karakteristik pertumbuhannya pada medium kemudian diidentifikasi. Prosedur identifikasi
agar darah memperlihatkan berbagai tipe Streptococcus pyogenes adalah pewarnaan
hemolisis, yaitu hemolisis alfa, beta, dan Gram, tipe hemolisis, uji katalase, dan
gamma, Darah homba dan darah manusia basitrasin (Mc Faddin, 1980; Treagen dan
mempunyai komposisi yang hampir sama. Pulliam, 1982;Holt et al, 1994).
Darah kadaluarsa masih memperlihatkan
warna seperti darah segar diharapkan dapat Pewarnaan Gram
dijadikan alternatif untuk pembuatan agar Pertama-tama dibuat sediaan oles
darah bila pengadaan darah domba tidak dan selanjutnya pada sediaan oles diruangi
tersedia atau sulit pengadaannya. zat warna Kristal violet selama 1 menit.
Selanjutnya zat warna tersebut dibuang/cuci,
Tujuan Penelitian kemudian ditetesi larutan lugol dan dibiarkan
Tujuan penelitian ini adalah untuk selama 1 menit. Lugol dibuang dan dibilas
mengetahui viabilitas koloni dan besarnya dengan air, setelah itu sediaan diteteskan
zona hemolisis darah kadaluarsa sebagai alkohol 96% dan dibiarkan selama 6-10 detik.
medium pembiakan bakteri Streptococcus Sediaan dicuci dengan air, kemudian ditetesi
pyogenes larugan safranin dan dibiarkan selama 1
menit. Sediaan dicuci dengan air, lalu
Manfaat Penelitian dikeringkan, dan terakhir diperiksa dengan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mikroskop dengan menggunakan minyak
memberikan informasi dan masukan tentang emersi dengan pembesaran 1000 kali.
darah kadaluarsa dapat digunakan dan

37
Tipe Hemolisis pembuatan agar darah kadaluarsa 2, 3 dan 4
Bahan pemeriksaan yang telah minggu kemudian medium dituang ke dalam
diisolasi dan diidentifikasi ditanam pada cawan petri steril sebanyak 10-15 ml ke
medium agar darah domba, kemudian dalam petridis steril (Nash dan Kres, 1991;
diinkubasikan dalam inkubator selama 24 jam Adlas, 1993).
pada suhu 370C. Setelah itu diamati adanya
tipe hemolisis pada masing-masing koloni Inokulasi Kuman pada Medium Agar
yang tumbuh. Tipe hemolisis beta ditandai Darah
dengan terbentuknya daerah zone hemolisis Beberapa koloni kuman dimasukkan
(daerah bening) di sekitar koloni kuman ke dalam 5 ml NaCl fisiologis, kemudian
dengan diameter 2 – 4 kali diameter koloni dibuat suspensi kuman dibandingkan dengan
kuman. Parameter penentuan zone hemolisis kekeruhan Brown III. Satu ml suspensi
adalah dengan cara mengukur daerah bening kuman yang sma dengan larutan Brown III
sekitar koloni kuman dengan menggunakan tersebut dimasukkan ke dalma 9 ml larutan
mistar (mm) (Washingtong, 1991; Almurdi, NaCl fisiologis sehingga didapatkan
1996). pengenceran 10-1. pengenceran dilanjutkan
sampai 10-4. pengenceran 10-4 ini dipakai
Uji Basitrasin untuk diinokulasikan pada masing-masing
Kuman yang telah dilakukan media dengan menggunakan ose steril yang
pewarnaan Gram, tipe hemolisis, dan uji ditanam dengan cara goresan pada masing-
katalase selanjutnya dibuat suspensi dengan masing media, yaitu :
kekeruhan McFarlan 0,5%. Kemudian Media A: medium agar darah domba
dilakukan penanaman pada medium agar Media B: medium agar darah kadalursa 1
darah dengan kapas lidi steril secara merata minggu
pada permukaan medium. Selanjutnya Media C: medium agar darah kadalursa 2
dengan menggunakan pinset steril dilakukan minggu
peletakan cakram kertas yang mengandung Media D: medium agar darah kadalursa 3
Basitrasin 0,05 unit pada permukaan medium minggu
perbenihan. Kemudian dieramkan pada suhu Media E: medium agar darah kadalursa 4
370C selama 24 jam, setelah diinkubasi minggu
selama 1 hari diamati daerah zona hambat
basistrasin terhadap pertumbuhan kuman.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembuatan Medium Agar Darah
Darah kadaluarsa yang diperoleh 1. Jumlah Koloni Streptococcus pyogenes
dari PMI dibawa ke laboratorium untuk Data mengenai viabilitas koloni
pembuatan medium agar darah. Pembuatan Streptococcus pyogenes pada masing-masing
medium agar darah dilakukan dengan cara darah kadaluarsa dapat dilihat pada tabel 1
menimbang 40 gram Blood Agar Base berikut ini.
(Oxoid). Selanjutnya ditambahkan aquades
hinga 1000 ml, setelah itu medium dasar Tabel 1. Jumlah koloni Streptococcus
tersebut disterilkan dengan autoklaf pada pyogenes pada masing-masing media
suhu 121 0C selama 15 menit. Pembuatan darah kadaluarsa
medium agar darah kadaluarsa dilakukan
sebanyak empat kali yaitu 1 minggu setelah No Media Darah Jumlah koloni
kadaluarsa, kemudian darah tersebut (CFU)
disimpan lagi dalam kulkas hingga darah 1 A 70
tersebut sudah kadaluarsa 2 minggu, begitu 2 B 67
juga untuk pembuatan agar darah kadaluarsa 3 C 65
3 dan 4 minggu. 4 D 60
Darah yang akan digunakan 5 E 58
sebelumnya, dilakukan defibrinasi,
selanjutnya ditambahkan ke dalam medium Bila dilihat tabel 1, ternyata pada
dasar tadi. Penambahan darah tersebut media agar darah domba (A) memberikan
dilakukan kira-kira pada suhu 45 – 60 0C jumlah koloni tertinggi yaitu 70 diikuti
sebanyak 5% dari total medium dasar (Blood medium agar darah 2 minggu, 3, dan 4
Agar Base) kemudian dikocok sampai minggu berturut-turut 67, 65, 60 dan 58 CFU
homogen. Hal yang sama dilakukan untuk

38
Tingginya jumlah koloni nikotinamid, asam pentotenat, dan vitaman C,
Streptococcus pyogenes yang tumbuh pada serta berbagai nukleotida.
media agar darah domba mungkin disebabkan Menurut Suharto dan Chatim (1993)
karena darah yang digunakan masih dalam untuk pertumbuhan kuman pada medium
keadaan segar, sehingga komponen- biakan adalah harus tersedianya sumber
komponen darah masih dalam keadaan utuh, nutrisi yang sesuai dan adanya kondisi
seperti haemoglobin dan eritrosit belum mati. lingkungan yang optimum. Selanjutnya
Menurut Ellen dkk (2009), darah domba Wilkinson (1992) menyatakan, nutrisi bakteri
yang di defrinasi adalah bahan yang terbaik yang dimetabolisme dapat berasal dari
untuk pembuatan medium agar darah dan substrak anorganik dan bahan organik yang
akan memberi zone hemolisis yang sempurna kompleks, seperti sumber karbon, energi, dan
Hasil penelitian ini tidak jauh sumber nitrogen. Di samping itu bakteri itu
berbeda seperti yang pernah dilakukan oleh membutuhkan air dan berbagai elemen
Almurdi (1996) bahwa koloni kuman pada tertentu seperti fosfur, sulfur, natrium,
medium agar darah kadaluarsa berkisar 67 kalium, magnesium, dan garam.
koloni pada medium agar darah kadaluarsa 1
minggu dan 68,3 kadaluarsa 2 minggu dan 66 2. Besar Zona Hemolisis
koloni pada agar darah kadaluarsa 3 minggu. Data mengenai besarnya zone
Pada penelitian ini ternyata darah kadaluarsa hemolisis Streptococcus pyogenes pada
4 minggu masih menunjukkan pertumbuhan masing-masing darah kadaluarsa dapat dilihat
koloni yang baik yaitu 58 koloni/CFU. pada tabel 2 berikut ini
Rendahnya koloni kuman pada
medium agar darah kadaluarsa dibandingkan Tabel 2. Besar zona hemolisis (mm)
dengan medium agar darah domba mungkin Streptococcus pyogenes pada masing-
karean penggunaan preservasi pada darah masing media darah kadaluarsa
kadaluarsa. Menurut Mudatsir dkk (1999)
dan Russel dkk (2006) penggunaan sitrat No Media Ukuran Zona
pada darah simpan yang digunakan untuk Darah Hemolisis (mm)
pembuatan medium agar darah dapat 1. A 1,76
menghambat pertumbuhan beberapa jenis 2. B 1,57
kuman. 3. C 1,55
Selain itu darah kadaluarsa telah 4. D 1,51
mengalami masa simpan yang cukup lama, 5 E 1,50
Menurut Haenan dkk (1980), pada darah Kerterangan :
simpan kadar ATP akan menurun dengan A = media agar darah domba
B = media agar darah kadaluarsa 1 minggu
perlahan-lahan, sehingga persediaan C = media agar darah kadaluarsa 2 minggu
energinya main berkurang. Hal ini akan D = media agar darah kadaluarsa 3 minggu
menyebabkan pompa K – Na tidak berfungsi E = media agar darah kadaluarsa 4 minggu
dan K akan bocor dari eritrosit sehingga
menyebabkan lisis. Dengan lisisnya sebagian Dari tabel di atas menunjukkan
eritrosit menyebabkan hemoglobin ke luar bahwa tidak tampak adanya perbedaan
dari sel, dan ini akan menyebabkan sumber mencolok besarnya zona hemolisis
nutrisi bagi pertumbuhan kuman akan Streptococcus pyogenes pada keempat
berkurang, karena lisisnya eritrosit. perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa ke
Jumlah koloni Streptococcus empat media memiliki kemampuan yang
pyogenes yang tumbuh pada keempat media hampir sama membentuk zona hemolisis oleh
kadaluarsa tidak berbeda, mungkin bakteri Streptococcus pyogenes
disebabkan karena darah kadaluarsa yang Hasil penelitian ini tidak begitu
digunakan masih mengandung nutrisi dan berbeda seperti yang didapatkan oleh
faktor pertumbuhan yang cukup untuk Almurdi (1996) di Bandung, bahwa zone
pertumbuhan dan perkembangbiakan kuman. hemolisis kuman paling baik pada darah
Menurut Betler dan Srivastava (1980) dan domba dan pada angar darah kadaluarsa 3
Hall (2006) eritrosit mengandung nutrisi dan minggu dalam 1,57 mm. Pada penelitian ini
faktor pertumbuhan yang sangat kompleks zone hemolisis pada medium agar darah
bagi kuman-kuman “fastidius” yaitu sekitar kadaluars antara 1,57 – 1,51 mm. Pada
27 macam asam amino, berbagai vitamin penelitian ini menunjukkan juga bahwa darah
antara lain: tiamin, riboflavin, peridoksin, kadalursa setelah 4 minggu masih
menunjukkan zone hemolisis 1,50 mm.

39
Terbentuknya zona hemolisis pada Almurdi, 1996. Penggunaan Darah
permukaan medium agar darah oleh Kadaluarsa Sebagai Medium
Streptococcus pyogenes karena kami kuman Biakan Streptococcus. Universitas
ini menghasilkan hemolisin, suatu produk Padjajaran.Bandung. 36-47.
ekstraseluler yang dapat melisiskan sel darah
merah. Menurut Ross (1992) kuman Andrew L, Stanley M, Reller, LB and
Streptococcus pyogenes Golongan A Melvin P. W. 2007. Detection of
menghasilkan suatu produk esktraseluler Bloodstream Infections in
yaitu streptolisin S dan streptolisin O yang Adults: How Many Blood
mengakibatkan lisis sel eritrosit. Streptolisin Cultures Are Needed?_J. Clin.
S adalah toksin stabil oksigen yang terdiri Microbiol. 45:3546-3548
dari polipeptida yang menyebabkan hemolisis
pada permukaan medium agar darah pada Beutler, E. dan SK. Srivastava., 1980.
keadaan aerob. Composition of The Erythrocyte.
Bila diamati ukuran koloni In: Wiliam, J.E; Beutrler, E.
Streptococcus pyogenes adalah 0,5 mm, Hematology. Second Edition.
sedangkan zone hemolisis yang terbentuk McGraw-Hill Book Company.
berkisar 1,5 – 2,0 mm. Adanya zona USA. 135-139.
hemolisis dengan ukuran beberapa kali
diameter koloni kuman merupakan ciri Ellen Yeh, Benjamin A. Pinsky1, Niaz
spesifik S. Betahaemolitycus (Hall dkk, Banaei, Ellen Jo Baron. 2009.
2006). Menurut Moffet (1994) untuk Hair Sheep Blood, Citrated or
membedakan Streptococcus yang hemolitik Defibrinated, Fulfills All
dengan kuman-kuman hemolitik lainnya Requirements of Blood Agar for
seperti Staphylococcus adalah dengan Diagnostic Microbiology
memperhatikan besarnya zona hemolisis Laboratory Tests. PLoS ONE. 4:
yang dibentuk. Pada Staphylococcus zona 1-8
hemolisis lebih kecil dibandingkan besar
koloni kuman, sedangkan pada Streptococcus Faclam, R.R dan J.A. Washington., 1991.
pyogenes ukuran zona hemolisis besarnya Streptococcus Realated Catalase-
beberapa kali diameter koloni kuman (Hall Negative Gram Positive Cocci. In:
dkk, 2006). Ballow, A; Hause, W; Herman K.
Reaksi hemolisis sangat bermanfaat dkk. Clinical Microbiology. 5th
untuk membedakan jenis-jenis tertentu Edition. American Society
Streptococcus. Adanya reaksi hemolisis Microbiology. Washington DC.
dalam medium biakan, serta dibantu data 238-256.
klinis sangat membantu klinisi dalam
menegakkan diagnosis penyakit infeksi Hall, KK anda Lyman JA. 2006. Updated
khususnya oleh S. Betahaemolitycus (Moffet, Review of Blood Culture
1994 dan Mudatsir dkk., 1999). Contamination. Clin Microbiol
Rev. 19: 788–802.
SIMPULAN
Holt. J.G; NR. Krieng; P.A Sneath; J.T
1. Medium agar darah kadaluarsa sebelum Staley, dan S.T William. 1994.
empat minggu memperlihatkan jumlah Bergery’s Mannual of
koloni Streptococcus pyogenes yang Determinative Bacteriology. Ninth
sama dengan medium agar darah domba Edition. William & Wilkins.
2. Medium agar darah kadaluarsa sebelum Baltimore. 532-555.
empat minggu memperlihatkan zone
hamolisis dan reaksi hemolisis yang Lay. B.W. 1994. Analisis Mikrobiologi di
sama dengan medium agar darah Laboratorium. PT. Gramedia.
domba. Jakarta 31-42.

DAFTAR PUSTAKA Levinson, W.E. dan E. Jawetz., 1994.


Medical Microbiology &
Adlas, RM. 1993. Handbook of Imunology. Third Editon. Printice
Microbiological Media. London CR Press Hall International. USA. 70-75.
533-542.

40
Mc.Faddin, J.P. 1980. Biochemical Test for Shulman, ST; J,P Phair; H.M Sommers.,
Identification of Medical Bacteria. 1994. Dasar Biologis dan Klinis
Second Edition. Williams & Penyakit Infeksi. Edisi Keempat.
Wilkins. London. 164-176 Penerjemah; Wahab, AS. Gajah
Mada University Press.
Murray PR, Baron EJ, Jorgensen JH, Landry Yogjakarta. 106-121.
ML, Pfaller MA .2007. Manual of
Clinical Microbiology 9th edition. Suharto dan A. Chatim., 1993. Fisiologi
Washington DC: American Pertumbuhan Kuman. Dalam :
Society of Microbiology Press. pp Mikrobiologi Kedokteran.
2256. Binarupa Aksara. Jakarta. 18-22.

Mudatsir; Zulfitri; dan Husna. 1999. Treagen, L dan L. Pulliam., 1982. Medical
Penggunaan Beberapa Medium Microbiology Laboratory
untuk Isolasi dan Identifikasi Procedures. WB Sounders
Enterococcus faecalis dan Pola Company. Philadelphia. 14-21.
Kepekaannya TerhadapBeberapa
Antibiotik. Lembaga Penelitian Warsa, UC. 1993. Kokus Positif Gram.
Universitas Syiah Kuala. Banda Dalam; Mikrobiologi Kedokteran.
Aceh. Binarupa Aksara. 112-122.

Nasp. P dan M.M Krenz., 1991. Culture Wilkinson,JF. 1992. Growt and Nutrition of
Media in ; Ballow A; E. Hasue; Microorganisms. In: Grenwood,
K.Herrman. Manual of Clinical D; RCB. Slank; J.P Peuthere, JP.
Microbiology. 5th Edition. Medical Microbiology. Churchill
American Society Microbiology. Livingstone. Hongkong/ 31-42.
Washington DC. 1226-1231.
Willett, HP. 1992. Steptococcus. In Zinsser
Neema M, Stephen B Gordon, Temwa Microbiology. 20th Edition.
Kusimbwe, Eduard E Zijlstra, Apleton & Lange California. 417-
Malcolm E Molyneux and Neil 431
French. 2008. Blood culture
collection technique and Wintrobe, MM; GR. Lee; DR. Boggs; R.
pneumococcal surveillance in Bitchell; J.W Foerster. 1991
Malawi during the four year Clinical Hematology. Eight.
period 2003–2006: an Edition. Lea & Febiger.
observational study. BMC Infect. Philadelphia. 88-104.
Diseases.8:1-6

Power, D.A dan P.J Mc Ciem., 1988. Manual


of BBL Product and Laboratory
Procedures Sixth Edition USA.
94-116.

Russell, FN, S. S. N. Biribo,G. Selvaraj, F.


Oppedisano , S. Warren, A.
Seduadua, E. K. Mulholland and
J. R. Carapetis. 2006. As a
Bacterial Culture Medium,
Citrated Sheep Blood Agar Is a
Practical Alternative to Citrated
Human Blood Agarin
Laboratories of Developing
Countries. J. Clin. Microbiol. 44:
3346-3351.

41