Anda di halaman 1dari 4

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyebabkan Acquired
Immuno Deficiency Syndrome (AIDS). AIDS adalah suatu kumpulan gejala berkurangnya
kemampuan pertahanan diri yang disebabkan oleh masuknya virus HIV dalam tubuh
seseorang. Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) adalah orang yang telah terinfeksi virus
HIV (Kementerian Kesehatan RI, 2013).
Gejala HIV bervariasi tergantung pada tahap infeksi. Orang yang hidup dengan HIV
cenderung paling menular dalam beberapa bulan pertama, akan tetapi banyak yang tidak
mengetahui status mereka sampai tahap selanjutnya. Beberapa minggu pertama setelah
infeksi awal, orang mungkin tidak mengalami gejala atau penyakit seperti influenza termasuk
demam, sakit kepala, ruam, atau sakit tenggorokan. Ketika infeksi semakin melemahkan
sistem kekebalan tubuh, seseorang dapat mengalami tanda dan gejala lain, seperti
pembengkakan kelenjar getah bening, penurunan berat badan, demam berkepanjangan, diare
kronik dan batuk. Tanpa pengobatan, mereka juga dapat mengalami suatu penyakit yang
parah seperti TB, meningitis kriptokokus, infeksi bakteri yang parah dan kanker seperti
limfoma dan sarkoma Kaposi (World Health Organization, 2017a)
HIV dapat ditularkan melalui hubungan seksual tanpa kondom (vaginal atau anal), dan
seks oral dengan orang yang terinfeksi; transfusi darah yang terkontaminasi; dan berbagi
jarum suntik yang terkontaminasi, alat suntik, peralatan bedah atau instrumen tajam lainnya.
Hal ini juga dapat ditularkan antara ibu dan bayinya selama kehamilan, persalinan dan
menyusui (World Health Organization, 2017a). Populasi kunci dalam penularan HIV/AIDS
meliputi pengguna NAPZA suntik (Penasun); Wanita Pekerja Seks (WPS) langsung maupun
tidak langsung; pelanggan/pasangan seks WPS; gay, waria, dan Laki pelanggan/pasangan
Seks dengan sesama Laki (LSL); dan warga binaan lapas/rutan (Kementerian Kesehatan RI,
2013). Menurut perkiraan WHO dan Joint United Nations Programme on HIV and AIDS
(UNAIDS), 36,7 juta orang hidup dengan HIV di seluruh dunia pada akhir tahun 2016
(World Health Organization, 2017b).
HIV/AIDS di Indonesia merupakan salah satu epidemi pertumbuhan tercepat di Asia.
Pada tahun 2007, Indonesia berada di peringkat 99 dunia dengan tingkat prevalensi, namun
karena rendahnya pemahaman akan gejala penyakit dan stigma sosial yang tinggi yang
menyertainya, hanya 5-10% penderita HIV/AIDS yang benar-benar didiagnosis dan dirawat
(UNAIDS, 2018).
Sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 hingga Desember 2017, HIV/AIDS telah
dilaporkan oleh 421 (81,9%) dari 514 kabupaten/kota di seluruh propinsi di Indonesia.
Jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Desember 2017 sebanyak
280.623 orang, sementara jumlah kumulatif AIDS yang dilaporkan sampai dengan Desember
2017 sebanyak 102.667 orang (Kementerian Kesehatan RI, 2018a).
Hingga bulan Desember 2017, jumlah ODHA yang masuk perawatan sebanyak 275.987
orang dan yang pernah mendapatkan pengobatan sebanyak 180.843 orang. Jumlah ODHA
yang sedang mendapatkan pengobatan antiretrovirus (ARV) sampai dengan Desember 2017
sebanyak 91.369 orang, diantaranya terdapat ODHA yang gagal follow up (putus obat)
sebanyak 39.542 orang (21,87%) (Kementerian Kesehatan RI, 2018a).
Berdasarkan laporan perkembangan HIV-AIDS dan PIMS di Indonesia Triwulan IV
Tahun 2017, dari bulan Oktober sampai dengan Desember 2017 persentase infeksi HIV
tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 25-49 tahun (69,2%), diikuti kelompok umur 20-24
tahun (16,7%), dan kelompok umur ≥50 tahun (7,6%), dengan rasio HIV antara laki-laki dan
perempuan 2:1. Persentase faktor risiko penularan HIV tertinggi adalah hubugan seks
berisiko pada heteroseksual (22%), homoseksual (21%), dan penasun (2%) (Kementerian
Kesehatan RI, 2018a).
Persentase AIDS tertinggi pada kelompok umur 30-39 tahun (35,2%), diikuti kelompok
umur 20-29 tahun (29,5%), dan kelompok umur 40-49 tahun (17,7%), dengan rasio AIDS
antara laki-laki dan perempuan 2:1, dan faktor risiko tertinggi adalah hubungan seks berisiko
pada heteroseksual (71%), homoseksual (LSL) (20%), perinatal (3%) dan IDU (2%)
(Kementerian Kesehatan RI, 2018a).
Menurut penelitian yang dilakukan di RSUP. Dr. M. Djamil Padang tahun 2015,
dilaporkan bahwa dari 89 data pasien HIV/AIDS, didapatkan bahwa 76,4% merupakan pasien
laki-laki, dengan persentase tertinggi pada kelompok umur 26-35 tahun (41,57)%, diiukiti
kelompok umur 36-45 tahun (31,46%). Didominasi oleh pasien yang menikah (58,43%) dan
berpendidikan SMA (56,18%), serta sebagian besar penyakit ini diperoleh melalui hubungan
seksual (61,8). (Yuliandra, Nosa, Raveinal, & Almasdy, 2017)

Jumlah kasus HIV di Kalimantan Timur tahun 2017 sebanyak 1.202 orang, dengan
jumlah total kumulatif kasus HIV hingga tahun 2017 sebanyak 5.257 orang. Kalimantan
Timur termasuk peringkat 8 tertinggi di Indonesia dengan 439 laporan kasus HIV pada
triwulan keempat tahun 2017. Sementara itu jumlah kasus AIDS di Kalimantan Timur tahun
2017 sebanyak 358 orang, dengan jumlah total kumulatif kasus AIDS hingga tahun 2017
sebanyak 1.401 orang. Kalimantan Timur termasuk peringkat 5 tertinggi di Indonesia dengan
230 laporan kasus AIDS pada triwulan keempat tahun 2017. Saat ini di Kalimantan Timur
terdapat 1.116 kasus hidup AIDS dan 285 kasus meninggal AIDS, dengan case rate 30,9 per
100.000 penduduk (Kementerian Kesehatan RI, 2018a).

Permasalahan hingga saat ini adalah jumlah kasus HIV yang ditemukan dan yang
dilaporkan masih jauh dari jumlah kasus HIV yang diperkirakan. Estimasi kasus ODHA tahun
2016 sebanyak 640.443 orang, sementara yang dilaporkan hingga Desember 2017 sebanyak
280.623 orang. Selain itu belum semua orang yang terdiagnosis HIV mendapatkan terapi ARV,
masih tingginya angka putus obat ARV, serta masih terbatasnya fasilitas pelayanan kesehatan
yang mampu melakukan layanan perawatan, dukungan dan pengobatan ARV (Kementerian
Kesehatan RI, 2018a).
Langkah-langkah yang telah dilakukan antara lain adalah meningkatkan penemuan
kasus HIV dengan cara memperbanyak fasilitas pelayanan kesehatan yang dapat melakukan
tes HIV, penguatan jejaring dan rujukan layanan, serta melakukan tes HIV pada kelompok
populasi untuk diagnosis dini HIV. Selain itu juga dilakukan peningkatan pemberian terapi
ARV dengan cara memperbanyak fasilitas pelayanan kesesehatan yang dapat memberikan
layanan terapi ARV, memperluas sosialisasi Pedoman Pengobatan Antiretroviral, serta
memperluas kriteria memulai terapi ARV dan menyusun langkah-langkah untuk segera
memulai kebijakan test and treat bagi ODHA. Selanjutnya juga dilakukan upaya untuk
mengurangi jumlah ODHA yang putus obat ARV dengan cara mendekatkan akses ARV
sampai puskesmas, penggunaan nomor KTP untuk mengidentifikasi besaran putus obat
ARV, serta memperkuat pelibatan keluarga dan orang terdekat (Kementerian Kesehatan RI,
2018a).
Adapun Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) yang melakukan Perawatan, Dukungan dan
Pengobatan (PDP) di Indonesia sebanyak 641 unit beserta satelitnya, ditotalkan menjadi 896
layanan ARV. Di Kalimantan Timur terdapat 9 UPK PDP yang berada di Kabupaten Paser,
Kutai Barat, Kutai Timur, Kota Balikpapapn, Samarida, dan Bontang. Tiga UPK diantaranya
berada di Kota Samarinda, yaitu RSUD Abdul Wahab Sjahranie, RSUD I.A. Moeis, dan RS
Dirgahayu, dengan 9 layanan satelitnya di Puskesmas Temindung, Sempaja, Bengkuring,
Sidomulyo, Palaran, Bantuas, Trauma Center, Sungai Siring, dan Karang Asam. Perluasan
akses layanan ketingkat puskesmas bertujuan agar lebih mudah dijangkau oleh masyarakat
untuk menjaga ketersinambungan perawatan dan pengobatan pasien. Berdasarkan penjelasan
diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai gambaran karakteristik pasien
HIV/AIDS yang mendapat terapi antiretroviral (ART) di Puskesmas Samarinda.