Anda di halaman 1dari 28

WALK THROUGH SURVEY DI PERUSAHAAN

PT. NEXUS ENGINEERING INDONESIA

TANGGAL 22 JUNI 2019

KELOMPOK 1

HYGIENE INDUSTRI

dr. Adhi Marfitra dr. Gandes Vetro Salim


dr. Afif Zikri dr. Faris Irfan Pramasubakti
dr. Ahmad Faiz Rizky dr. Leo Pratama Agung
dr. Afratsin Maisya Rahman dr. Yose Dodi Pratama
dr. Dedi Anwar Nasution dr. Yunita Hartini
dr. Deden Habibrata dr. Rian Hidayat
dr. Darrinh Rosharia

PELATIHAN HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA

KEMENTERIAN TENAGA KERJA RI.

UNIVERSITAS BATAM

PERIODE 17-22 JUNI 2019

BATAM
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Higiene perusahaan adalah suatu upaya pemeliharaan lingkungan kerja (fisik, kimia,
radiasi dan sebagainya) dan lingkungan perusahaan.Upaya ini terutama dilakukan dalam hal
pengamatan, pengumpulan data, merencanakan, dan melaksanakan pengawasan terhadap
segala kemungkinan gangguan kesehatan tenaga kerja dan masyarakat di sekitar perusahaan.
Dengan demikian, sasaran kegiatan perusahaan adalah lingkungan kerja dan lingkungan
perusahaan. Penyehatan lingkungan kerja dan perusahaan merupakan upaya pencegahan
timbulnya penyakit akibat kerja dan pencemaran lingkungan proses produksi perusahaan.
Sedangkan menurut Sumakmur, higiene perusahaan adalah spesialisasi dalam ilmu higiene
beserta praktiknya dengan mengadakan penilaian kepada faktor-faktor penyebab penyakit
kualitatif dan kuantitatif dalam lingkungan kerja dan perusahaan melalui pengukuran yang
hasilnya dipergunakan untuk dasar tindakan korektif kepada lingkungan tersebut, serta apabila
diperlukan berupa tindakan pencegahan agar pekerja dan masyarakat sekitar perusahaan
terhindar dari bahaya akibat kerja, serta diharapkan dapat mencapai derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya.
Setiap perusahaan diharapkan mampu menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan
dan Kesehatan dan Kerja (SMK3) dalam perusahaannya masing-masing, di mana sistem
tersebut menjadi suatu siklus yang tidak terputus dan berkesinambungan.SMK3 dimulai
dengan penerapan K3, evaluasi dan peninjauan ulang hingga pada akhirnya peningkatan
berkelanjutan. Salah satu tahapan yang paling penting dari siklus tersebut adalah penentuan
hazard (potensi bahaya) yang terdapat pada perusahaan dan dapat menjadi faktor risiko bagi
tenaga kerja, baik itu dari faktor fisik, kimia maupun biologi.
Melihat pentingnya penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan dan
Kerja (SMK3) dan higiene perusahaan sebagai bentuk upaya pencegahan timbulnya penyakit
akibat kerja dan pencemaran lingkungan akibat proses produksi perusahaan, maka pada hari
Jum’at, 21 Juni 2019 telah dilakukan kunjungan ke sebuah perusahaan yang terletak di daerah
Batam, yaitu PT. Nexus Engineering Indonesia. Kunjungan perusahaan bagi tim penyusun ini
lebih difokuskan untuk:

1
1. Mengetahui pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di PT.
Nexus Engineering Indonesia
2. Mengidentifikasi potensi bahaya faktor fisik, kima, dan biologis di PT. Nexus
Engineering Indonesia
3. Mengetahui pengelolaan limbah industri di PT. Nexus Engineering Indonesia
Selanjutnya, dilakukan analisis masalah terhadap data-data yang diperoleh di lapangan
dan kemudian dilakukan upaya alternatif pemecahan masalah yang ada di PT. Nexus
Engineering Indonesia. Diharapkan alternatif pemecahan masalah yang ditawarkan dalam
proses tersebut dapat diterapkan kepada seluruh karyawan yang terlibat sehingga dapat
mengurangi potensi adanya kecelakaan dan penyakit akibat kerja guna memaksimalkan
kinerja para karyawan.

1.2 DASAR HUKUM

1. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 27 Ayat 2


2. Undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan pada pasal 86 dimana
dikatakan bahwa pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas
keselamatan dan kesehatan kerja.
3. UU No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja
4. UU No. 3 Tahun 1969 tentang persetujuan konvensi organisasi perburuhan
international No. 120 mengenai higine dalam perniagaan dan kantor-kantor
5. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. Kep. 187/MEN/1999 tentang Bahan Kimia
Berbahaya.
6. Permenakertrans No. 13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan
Faktor Kimia di Tempat Kerja.

1.3 PROFIL PERUSAHAAN


1. Nama Perusahaan: PT. Nexus Engineering Indonesia
2. Alamat: Jl. Pattimura RT-01 RW-04 Kp.Panau Kel. Kabil Kec. Nongsa Batam Phone
: 62-778-711188
3. Sejarah dan Perkembangan : PT. Nexus Engineering Pte Ltd didirikan pada tahun
1992 sebagai anak perusahaan dari PT. Nexus Engineering Corporation untuk
mengoperasikan bisnis galangan kapal. Perusahaan ini beroperasi pada 2 fasilitas
produksi , PT.Nexus Engineering Shipyard Pte Ltd di Singapura dan PT.Nexus

2
Engineering Indonesia di Batam, Indonesia. PT.Nexus Engineering Group memiliki
reputasi internasional yang sangat baik di ketiga bidang shiprepair, konversi kapal, dan
pembuatan kapal. Sebagai perusahaan layanan kelautan & teknik lengkap, PT.Nexus
Engineering Shipyard memberikan solusi khusus yang berkualitas tinggi kepada
pemilik kapal di seluruh dunia dari dua fasilitas produksinya di Singapura dan Batam.
Kedua perusahaan telah mendapatkan sertifikasi ISO 9001 pembangunan, konversi,
dan perbaikan kapal.
4. Kegiatan Usaha: PT. Nexus Engineering Indonesia memiliki kegiatan usaha Repairing
and Building Shipyard dan bahan baku OffShore Oil and Gas
5. Jumlah Karyawan: Total karyawan di adalah 100 orang, terdiri dari 74 orang
karyawan pria dan 26 orang karyawan wanita.
6. Jam Kerja Karyawan:
 Factory:
Senin-Jumat (Project saat ini)
Jam operasional : 07.30 – 16.30 (8 Jam Kerja, 1 Jam Istirahat)
 Office : 08.00 - 16.30
7. Jaminan Asuransi Kesehatan: BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.

1.4 LANDASAN TEORI

A. Hygiene Industri
Hygiene adalah suatu ilmu kesehatan yang mengajarkan tata cara untuk
mempertahankan kesehatan jasmani, rohani, dan sosial untuk mencapai tingkat
kesejahteraan yang lebih tinggi, serta sebagai suatu usaha pencegahan penyakit yang
menitikberatkan pada usaha kesehatan perseorangan atau manusia beserta
lingkungannya.

B. Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Kerja


Beberapa faktor mempengaruhi kesehatan kerja daripada tenaga kerja antara lain
faktor fisik, faktor biologis, faktor kimia, sanitasi industri, dan pengolahan limbah.

Faktor Fisik
1) Bising:

3
Kebisingan diartikan sebagai suara yang tidak dikehendaki, misalnya yang
merintangi terdengarnya suara-suara, musik dan sebagainya atau yang
menyebabkan rasa sakit atau yang menghalangi gaya hidup.
 Jenis kebisingan:
- Kebisingan terus-menerus: dihasilkan oleh mesin-mesin yang berputar;
- Kebisingan terputus-putus: seperti suara pesawat terbang di udara;
- Kebisingan menghentak: seperti suara dentuman meriam, bom meledak.
 Akibat kebisingan:

Tipe Uraian
Perubahan ambang batas sementara
Kehilangan
akibat kebisingan, perubahan ambang
pendengaran
Akibat batas permanen akibat kebisingan
lahiriah Rasa tidak nyaman atau stress meningkat,
Akibat fisiologis tekanan darah meningkat, sakit kepala,
bunyi dering
Gangguan
Kejengkelan, kebingungan
emosional
Gangguan tidur atau istirahat, hilang
Gangguan
Akibat konsentrasi waktu bekerja, membaca dan
gaya hidup
psikologis sebagainya.
Merintangi kemampuan mendengarkan
Gangguan
TV, radio, percakapan, telpon dan
pendengaran
sebagainya.

Kebisingan yang dapat diterima oleh tenaga kerja tanpa mengakibatkan


penyakit atau gangguan kesehatan dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu
tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu, yaitu 85 dB (A)
(Permenakertrans No. 13/MEN/X/2011). Agar kebisingan tidak mengganggu
kesehatan atau membahayakan, perlu diambil tindakan seperti penggunaan
peredam pada sumber bising, penyekatan, pemindahan, pemeliharaan,
penanaman pohon, pembuatan bukit buatan ataupun pengaturan tata letak
ruang dan penggunaan alat pelindung diri sehingga kebisingan tidak
mengganggu kesehatan atau membahayakan.’

2) Getaran:
Yang dimaksud dengan getaran adalah gerakan yang teratur dari benda atau media
dengan arah bolak-balik dari kedudukan keseimbangan. Getaran terjadi saat mesin
atau alat dijalankan dengan motor sehingga pengaruhnya bersifat mekanis.

4
 Jenis getaran:
- Getaran seluruh tubuh, mempunyai frekuensi 1-80 Hz;
- Vibrasi segmental, dapat memapari tubuh pekerja seperti lengan dan
tangan. Getaran ini mempunyai frekuensi 5 – 1500 Hz.

3) Iklim dan Suhu:


Seorang tenaga kerja akan mampu bekerja secara efisien dan produktif bila
lingkungan tempat kerjanya nyaman. Suhu nyaman bagi orang Indonesia adalah
24°C-26°C. Bila iklim kerja panas dapat menimbulkan ketidaknyamanan dalam
bekerja dan gangguan kesehatan.

4) Pencahayaan:
 Sifat-sifat pencahayaan yang baik:
- Pembagian iluminasi pada lapangan penglihatan;
- Pencegahan kesilauan;
- Arah sinar;
- Warna;
- Panas penerangan terhadap keadaan lingkungan.
 Pengaruh pencahayaan yang kurang terhadap penglihatan:
- Iritasi, mata berair dan mata merah
- Penglihatan rangkap
- Sakit kepala
- Ketajaman penglihatan menurun, begitu juga sensitifitas terhadap kontras
warna juga kecepatan pandangan
- Akomodasi dan konvergensi menurun
 Intensitas cahaya di ruang kerja adalah sebagai berikut.
Tingkat
Jenis
pencahayaan Keterangan
Kegiatan
minimal (Lux)
Ruang penyimpanan dan ruang
Pekerjaan
peralatan/instalasi yang
kasar & tidak 100
memerlukan pekerjaan yang
terus-menerus
kontinyu
Pekerjaan
Pekerjaan dengan mesin dan
kasar dan 200
perakitan kasar
terus-menerus

5
Pekerjaan kantor/administrasi,
Pekerjaan rutin 300 ruang kontrol dan pekerjaan mesin
dan perakitan atau penyusun
Pembuatan gambar atau bekerja
Pekerjaan agak dengan mesin kantor pekerja
500
halus pemeriksaan atau pekerjaan dengan
mesin
Pemilihan warna, pemrosesan,
Pekerjaan
1000 tekstil, pekerjaan mesin halus dan
halus
perakitan halus
1500
Mengukir dengan tangan, pekerjaan
Pekerjaan amat (tidak
mesin dan perakitan yang sangat
halus menimbulkan
halus
bayangan)
3000
Pekerjaan (tidak Pemeriksaan pekerjaan, perakitan
detail menimbulkan sangat halus
bayangan)

 Beberapa hal yang dapat menurunkan intensitas penerangan:


- Adanya debu atau kotoran pada bola lampu;
- Bola lampu yang sudah lama;
- Kotornya kaca jendela, untuk penerangan alami;
- Perubahan letak barang-barang.

Faktor Biologis
Dasar hukum faktor biologis yang mempengaruhi lingkungan kerja adalah Kepres No.
22/1993 tentang penyakit yang timbul karena hubungan kerja (point) penyakit infeksi
yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit yang didapat dalam suatu pekerjaan
yang memiliki resiko kontaminan khusus.

Biological hazard adalah semua bentuk kehidupan atau mahkluk hidup dan produknya
yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Faktor biologis dapat
dikategorikan menjadi:
1. Mikroorganisme dan toksinnya (virus, bakteri, fungi, dan produknya);
2. Arthopoda (crustacea, arachmid, insect);
3. Alergen dan toksin tumbuhan tingkat tinggi (dermatitis kontak, rhinitis, asma);
4. Protein alergen dari tumbuhan tingkat rendah (lichen, liverwort, fern) dan hewan
invertebrata (protozoa, ascaris).

6
 Faktor biologis dapat masuk ke dalam tubuh dengan cara:
1. Inhalasi/ pernafasan (udara terhirup)
2. Ingesti/ saluran pencernaan
3. Kontak dengan kulit
4. Kontak dengan mata, hidung, mulut.
 Faktor biologi dan juga bahaya-bahaya lainnya di tempat kerja dapat dihindari
dengan pencegahan antara lain dengan:
1. Administrasi kontrol seperti administrasi kesehatan awal karyawan baru,
pemeriksaaan kesehatan secara berkala bagi karyawan lama;
2. Dilarang makan dan minum di area produksi;
3. Menjaga kebersihan kebersihan perseorangan/individu;
4. Penggunaan masker yang baik untuk pekerja yang berisiko tertular lewat debu
yang mengandung organisme patogen dengan cara menutupi hidung dan mulut
dengan tujuan untuk menghindari debu respirabel (< 10 mikrometer);
5. Menggunakan sarung tangan yang menutupi sampai siku saat menuangkan
bahan baku;
6. Desinfeksi secara teratur terhadap lantai, dinding dan peralatan produksi.
7. Membersihkan semua debu yang ada di sistem pendingin paling tidak satu kali
setiap bulan;
8. Membuat sistem pembersihan yang memungkinkan terbunuhnya
mikroorganisme yang patogen pada sistem pendingin;
9. Menggunakan alas kaki dan baju khusus dalam area produksi untuk
menghindari kontaminasi mikroorganisme dari luar;
10. Sebelum dan sesudah bekerja dalam area produksi diharuskan mencuci tangan
di air mengalir dan sabun;
11. Pengontrolan suhu dan kelembaban udara dengan menggunakan pendingin
ruangan untuk menekan pertumbuhan dari mikroorganisme;
12. Melakukan pengolahan terhadap limbah produksi.

Dengan mengenal bahaya dari faktor biologi dan bagaimana mengotrol dan mencegah
penularannya diharapkan efek yang merugikan dapat dihindari. Salah satunya kantin
atau tempat makan para pekerja berada di ruangan tertutup sehingga lalat tidak dapat
keluar masuk dan hinggap pada makanan pekerja.

7
Faktor Kimia
Faktor kimia merupakan salah satu sumber bahaya potensial bagi pekerja. Bahan
kimia yang didefinisikan sebagai unsur kimia, senyawa, dan campurannya yang
bersifat alami maupun buatan (sintetis) selalu terdapat di setiap proses industri.
Paparan terhadap zat-zat kimia tertentu di tempat kerja dapat mengakibatkan
gangguan kesehatan, baik dalam jangka waktu pendek maupun panjang. Untuk
memahami faktor kimia di tempat kerja, seorang ahli K3 harus memiliki pengetahuan
tentang efek toksik dan sifat dari suatu zat kimia. Identifikasi zat kimia berbahaya
dapat dilakukan dengan melihat pelabelan bahan kimia dan Material Safety Data Sheet
(MSDS).
1) Klasifikasi (berdasarkan bentuknya):
 Partikulat, yaitu setiap sistem titik-titik cairan atau debu yang mendispersi di
udara yang mempunyai ukuran demikian lembutnya sehingga kecepatan
jatuhnya mempunyai stabilitas cukup sebagai suspensi di udara. Bentuk ini
memiliki ukuran 0.02-500µm. Yang termasuk dalam bentuk partikulat
diantaranya adalah sebagai berikut.
- Debu: merupakan suspensi partikel benda padat di udara. Butiran debu ini
dihasilkan oleh pekerjaan mekanisasi, seperti pekerjaan yang berkaitan
dengan gerinda, pemboran, pemecahan, dan penghancuran material padat.
Ukuran debu dapat bervariasi mulai dari yang dapat terlihat dengan mata
telanjang (50µm) sampai dengan yang tidak terlihat. Partikel debu yang
berukuran kurang dari 10µm dapat membahayakan kesehatan karena dapat
terhirup dan masuk ke dalam paru-paru, dan yang berukuran 0.5 – 4 µm
dapat terdeposit pada alveolus paru, seperti debu kapas, silica, dan asbes.
- Fume: adalah partikel-partikel benda padat hasil kondensasi bahan-bahan
dari bentuk uap, biasanya terjadi setelah penguapan dari logam cair. Uap
dari logam cair terkondensasi menjadi partikel-partikel padat di dalam
ruangan logam cair tersebut, misalnya pada pekerjaan penyolderan,
pengelasan, atau peleburan logam. Contoh: metal fume pada peleburan
logam seperti ZnO dan PbO.
- Kabut (fog): adalah sebaran partikel-partikel cair di udara sebagai hasil
proses kondensasi dari bentuk uap atau gas melalui proses electroplanting
dan penyemprotan di mana cairan tersebar, terpercik atau menjadi busa

8
partikel buih yang sangat kecil. Contoh: kabut minyak yang dihasilkan
selama operasi memotong dan gerinda.
- Asap (smoke): adalah partikel-partikel karbon yang mempunyai ukuran
kurang dari 0.5µm dan bercampur dengan senyawa hidrolarbon sebagai
hasil pembakaran tidak sempurna dari bahan bakar, seperti hasil
pembakaran batubara.
- Smog: adalah bentuk suspense antara smoke dan fog bersama di udara.
Smog terdapat pada pekerjaan pembuihan.
 Non Partikulat
- Gas adalah molekul dalam udara yang menempati ruang yang tertutup dan
dapat diubah menjadi cairan atau keadaan padat dengan pengaruh dari
gabungan kenaikan tekanan dan pengurangan suhu. Gas dapat berdifusi
dengan cara menjalar atau menyebar. Contoh : bahan seperti oksigen,
nitrogen, atau karbon dioksida dalam bentuk gas pada suhu dan tekanan
normal, dapat diubah bentuknya hanya dengan kombinasi penurunan suhu
dan penambahan tekanan.
- Uap adalah bentuk gas dari suatu bahan yang dalam keadaan normal
berbentuk padat atau cairan pada suhu dan tekanan ruang. Uap dapat
dirubah kembali menjadi padat atau cair dengan menambah tekanan atau
menurunkan suhu. Bahan-bahan yang memiliki titik didih yang rendah
lebih mudah menguap dari pada yang memiliki titik didih yang tinggi.
Contoh bentuk uap adalah uap air, uap minyak, uap merkuri, uap toluen.

2) Pengaruh Fisiologis dan Patologis Bahan Kimia:


 Bahan kimia iritatif adalah bahan kimia yang dapat menyebabkan iritasi atau
menimbulkan bahaya apabila tubuh kontak dengan bahan kimia. Bagian tubuh
yang terkena biasanya kulit, mata, dan saluran pernapasan.
- Iritasi melalui kulit  apabila terjadi kontak antara bahan kimia tertentu
dengan kulit, bahan itu akan merusak lapisan yang berfungsi sebagai
pelindung. Keadaan ini disebut dermatitis (peradangan kulit).
- Iritasi melalui mata  kontak yang terjadi antara bahan-bahan kimia
dengan mata bisa menyebabkan rusaknya mulai yang ringan sampai
kerusakan permanen.

9
- Iritasi saluran pernapasan oleh karena bahan-bahan kimia berupa bercak-
bercak cair, gas atau uap akan menimbulkan rasa terbakar apabila terkena
pada daerah saluran pernapasan bagian atas (hidung dan kerongkongan).
 Bahan kimia bersifat asfiksian merupakan bahan kimia yang dapat
menyebabkan asfiksia, yaitu keadaan sesak napas dihubungkan dengan
gangguan proses oksigensi dalam jaringan tubuh, sehingga menimbulkan
sensasi tercekik dan dapat menyebabkan kematian. Terdapat dua jenis
asfiksia, yakni:
- Simple asphyxiation (sesak napas yang sederhana) karena ini berhubungan
dengan kadar oksigen di udara yang digantikan dan didominasi oleh gas
seperti nitrogen, karbon dioksida, ethane, hydrogen atau helium yang
kadar tertentu mempengaruhi kelangsungan hidup.
- Chemical asphyxiation (sesak napas karena bahan-bahan kimia). Pada
situasi ini, bahan-bahan kimia langsung dapat mempengaruhi dan
mengganggu kemampuan tubuh untuk mengangkut dan menggunakan zat
asam, sebagai contoh adalah karbon monoksida, nitrogen, propan, argon,
dan metana.

 Bahan kimia bersifat zat pembius dapat mehilangkan kesadaran dan mati rasa.
Paparan terhadap konsentrasi yang relatif tinggi dari bahan kimia tertentu
seperti ethyl dan prophyl alcohol (aliphatic alcohol), dan methylethyl keton
(aliphatic keton), acetylene hydrocarbon ethyl dan isoprophyl ether, dapat
menekan susunan syaraf pusat.
 Bahan kimia beracun/toksin merupakan bahan kimia yang dalam kosentrasi
relatif sedikit dapat mempengaruhi kesehatan manusia atau bahkan
menyebabkan kematian. Manusia memiliki sistem yang komplek. Keracunan
sistemik dihubungkan dengan reaksi dari salah satu sistem atau lebih dari
tubuh terhadap bahan-bahan kimia yang mana reaksi ini merugikan dan dapat
menyebar keseluruh tubuh. Contoh bahan kimia toksin antara lain pestisida,
benzene, dan sianida.
 Bahan kimia karsinogenik. Paparan bakan-bahan kimia tertentu bisa
menyebabkan pertumbuhan sel-sel yang tidak terkendali, menimbulkan tumor
(benjolan-benjolan) yang bersifat karsinogen. Tumor tersebut mungkin baru
muncul setelah beberapa tahun bevariasi antara 4 tahun sampai 40 tahun.
10
Bahan kimia seperti arsenic, asbestos, kromium, nikel dapat menyebabkan
kanker paru-paru.
 Bahan kimia fibrotic merupakan bahan kimia yang bila masuk ke dalam tubuh
dapat menyebabkan terbentuknya jaringan fibrotik, seperti pneumoconiosis.
Pneumoconiosis adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh mengendapnya
partikel-partikel debu halus daerah pertukaran gas dalam paru-paru dan adanya
reaksi dari jaringan paru dan membentuk jaringan fibrotik. Contoh bahan-
bahan yang menyebabkan pneumoconiosis adalah crystalline silica, asbestos,
talc, batubara dan beryllium.

3) Pengukuran:Untuk mengetahui kondisi real tentang kadar kontaminan kimiawi di


tempat kerja, maka perlu dilakukan pengukuran/pengujian terhadap faktor kimia
yang memapari tempat tersebut dengan cara pengambilan sample yang selanjutnya
akan dianalisa. Dalam melakukan pengukuran pada lingkungan kerja diperlukan
pengambilan sample yang dapat dilakukan secara terus menerus dalam kurun
waktu tertentu yang pada prinsipnya harus representatif dalam 8 jam kerja. Metode
yang digunakan antara lain Standar Nasional Indonesia (SNI), NIOSH, AIHA, dan
lain-lain. Beberapa instrument analisis yang digunakan dalam pengujian faktor
kimia adalah AAS untuk analisis kadar logam, GC untuk kadar hidrokarbon,
spectrophotometer UV/Vis untuk analisis gas organic, dan X-Ray
deffractometer.Nilai Ambang Batas (NAB), diatur berdasarkan surat edaran
Permenakertrans No.13/MEN/X/2011 tentang NAB faktor kimia dan faktor
fisikadi tempat kerja.Kategori nilai ambang batas:
 NAB rata-rata selama jam kerja
 NAB pemaparan singkat
 NAB tertinggi
4) Pengendalian: Pengendalian potensi bahaya kimia dapat dilakukan dengan
berbagai cara seperti:
 Pemberian label dan simbol pada wadah untuk bahan yang berisikan tentang:
nama bahan kimia, resiko yang ditimbulkan, jalan masuknya ke tubuh, efek
paparan, cara penggunaan yang aman dan pertolongan pertama keracunan.
 Memiliki MSDS, yaitu semua informasi mengenai suatu bahan kimia yang
dibuat oleh suatu perusahaan, berisikan antara lain kandungan/komposisi, sifat
fisik dan kmia, cara pengankutan dan penyimpanan, informasi APD sesuai
11
NAB, efek terhadap kesehatan, gejala keracunan, pertolongan pertama
keracunana, alamat dan nomer telepon pabrik pembuat atau distributor.
 Memiliki petugas K3 kimia dan ahli K3 kimia yang mempunyai kewajiban ,
melakukan identifikasi bahaya melaksanakan prosedur kerja aman,
penganggulangan keadaan darurat dan mengembankan pengetahuan K3 di
bidang kimia.
 Prinsip pengendalian bahan kimia di lungkungan kerja dilakukan dengan
tahapan sebaai berikut:
- Pengendalian secara teknis
a. Substitusi
b. Isolasi
c. Ventilasi (alamiah dan buatan)
- Pengendalian administrasi
a. Pemilihan bahan produksi potensi bahaya serendah mungkin
b. Labelling. Telah dijelaskan sebelumnya.
c. Penyimpanan bahan sesuai dengan kelompok sifat dan besar potensi
bahaya
d. Penanganan limbah dan sampah kimia secara khusus dan benar.
Dasar hukum yang mengatur pengendalian bahan kimia berbahaya adalah
keputusan menteri tenaga kerja RI, No.Kep.187/MEN/1999.

Sanitasi Industri
Prinsip dasar sanitasi terdiri dari:
 Sanitasi adalah serangkaian proses yang dilakukan untuk menjaga kebersihan;
 Sanitasi ini merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh industri dalam
menerapkan Good Manufacturing Practices (GMP);
 Sanitasi dilakukan sebagai usaha mencegah penyakit pada tenaga kerja dan
lingkungan sekitar perusahaan;
 Manfaat yang diperoleh bagi konsumen bila industri pangan adalah, konsumen
terhindar dari penyakit atau kecelakaan karena keracunan makanan;
 Manfaat yang diperoleh bagi produsen adalah produsen dapat meningkatkan mutu
dan umur simpan produk, mengurangi komplain dari konsumen;
 Mengurangi biaya recall.

12
 Praktik sanitasi meliputi pembersihan, pengelolaan limbah, dan higiene pekerja
yang terlibat.

Sanitasi industri meliputi:


1) Water supply: Suplai air dibagi menjadi dua berdasarkan penggunaannya, yaitu:
 Domestik  untuk karyawan, makan, minum, dll
 Proses produksi
2) Pembuangan kotoran dan sampah: Sampah dibagi menjadi dua, yaitu:
 Domestik  berasal dari karyawan, bukan dari proses produksi
 Sampah industri  padat, cair
Sampah ini memerlukan manajemen khusus dalam pengelolaannya.Sampah dapat
diolah kembali untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat ataupun sudah tidak
bisa dimanfaatkan lagi dan dikembalikan ke alam sebagai bahan yang tidak
berbahaya dan mudah terurai.
3) Sanitasi makanan: Sanitasi makanan memegang peranan penting dalam proses
produksi. Sanitasi makanan berhubungan langsung kepada tenaga kerja ataupun
proses produksi dalam industri pangan. Sanitasi makanan merupakan usaha
pencegahan penyakit, dapat menjadi pertimbangan ekonomi dalam penyediaan
makanan dan merupakan pencegahan penyakit yang efektif. Hal–hal yang
diperhatikan dalam sanitasi makanan adalah:
 Kebersihan makanan  penyediaan bahan makanan, pengolahan makanan,
pengangkutan bahan makanan dan penyajian makanan
 Kebersihan peralatan
 Kebersihan fasilitas
 Kantin dan ruang makan
 Keracunan makanan
4) Pencegahan dan pembasmian vektor dan roden: Vektor adalah binatang yang
berperan dalam pemindahan penyakit dari sumbernya ke manusia. Contoh-contoh
vektor seperti tikus, lalat, nyamuk, kecoa, kutu dan lain-lain. Masing-masing
vektor membawa penyakit tertentu dan dapat mengenai tenaga kerja, sehingga
dapat menurunkan produktivitas. Pengendalian vektor dapat dilakukan oleh pihak
perusahaan sendiri ataupun memakai jasa pengendalian vektor profesional.

13
5) Penyediaan fasilitas kebersihan: Fasilitas kebersihan merupakan hal yang mutlak
harus tersedia dalam industri. Memgang peranan penting dalam proses produksi.
Fasilitas kebersihan menjamin tenaga kerja untuk menjalankan fungsi-fungsi
biologis seperti buang air kecil, buang air besar, makan, tempat ganti pakaian, dan
lain-lain. Hal – hal yang termasuk fasilitas kebersihan, yaitu:
 WC (kakus)  memenuhi syarat-syarat wc sehat, jumlah wc sebanding dengan
jumlah pekerja.
 Tempat cuci.
 Tempat mandi  membersihkan badan sebelum pulang.
 Tempat baju kerja (locker)  tempat ganti pakaian sebelum dan sesudah kerja.
 Ruang makan dan kantin  memenuhi syarat – syarat rumah makan sehat atau
kantin sehat.

Pengolahan Limbah
Limbah industri merupakan buangan yang keberadaannya di tempat tertentu tidak
dikehendaki lingkungannya karena tidak mempunyai nilai ekonomi. Limbah industri
tersebut dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu yang memiliki nilai ekonomis
berupa limbah yang dengan melakukan proses lanjut akan memberi nilai tambah, serta
limbah yang tidak mempunyai nilai ekonomis berupa limbah yang diolah dalam
bentuk proses apapun tidak dapat memberikan nilai tambah tetapi hanya dapat
mempermudah sistem pembuangan.
Limbah padat dan cair yang dihasilkan akibat proses produksi sebaiknya ditempatkan
pada bak sampah tersendiri yang telah dipilah-pilah berdasarkan jenisnya serta apakah
termasuk limbah B3 atau bukan. Untuk limbah yang bukan termasuk B3 perlu dipilah
lagi apakah bisa didaur ulang atau bisa langsung dibakar atau dikubur. Yang termasuk
kedalam limbah B3 adalah limbah industri yang mengandung bahan pencemar yang
bersifat racun dan berbahaya, dimana limah B3 tersebut merupakan bahan dalam
jumlah sedikit tetapi mempunyai potensi mencemari dan merusak lingkungan hidup
dan sumber daya.Limbah cair yang dihasilkan industri harus diolah terlebih dahulu
sesuai dengan spesifikasinya.Kontainer tempat menampung limbah yang termasuk
kategori B3 tidak boleh bocor, sampah tidak boleh tercecer pada waktu pengumpulan
dan penyimpanan sementara sebelum dibawa ke tempat pembuangan akhir B3. Secara
umum, pengolahan limbah industri dapat dilakukan melalui 3 proses, yaitu:
1) Proses pengolahan secara fisika:
14
 Sedimentasi,yaitu suatu proses pemisahan bahan padat dari cairan secara
gravitasi.
 Flotasi, yaitu memisahkan partikel dengan densitasnya, menggunakan aliran
udara yang dimasukkan kedalam sistim.
 Separasi minyak-air, yaitu dengan memisahkan bagian terbesar minyak dari
aliran limbah dengan menggunakan prinsip dasar perbedaan spesifitas gravities
anatara air dan minyak yang dibuang.
2) Proses pengolahan secara kimiawi:
 Koagulasi-presipitasi, yaitu pencampuran bahan kimia secara merata menjadi
gumpalan-gumpalan yang cukup besar.
 Netralisasi, yaitu proses untuk menurunkan sifat asam atau basa dalam air.
3) Proses pengolahan secara biologi:
 Aerobic suspended growth process, yaitu memasukkan air limbah kedalam
reaktor concrete steel earthen tank dengan aliran konsentrasi yang sangat
tinggi.
 Aerobic attached growth process, yaitu proses mikroorganisme dimasukkan
kedalam beberapa media.
 Aerobic lagoons (kolam stabilisasi), yaitu kolam tanah yang luas dan dangkal
untuk mengolah air limbah dengan menggunakan proses alami dengan
melibatkan ganggang dan bakteri.
 Anaerobic lagoons, yaitu air limbah mentah bercampur dengan massa
microbial aktif dalam lapisan sludge.
Pengolah limbah gas secara teknis dilakukan dengan menambahkan alat bantu yang
dapat mengurangi pencemaran udara. Pencemaran udara sebenarnya dapat berasal dari
limbah berupa gas atau materi partikulat yang terbawah bersama gas tersebut. Berikut
akan dijelaskan beberapa cara menangani pencemaran udara oleh limbah gas dan
materi partikulat yang terbawah bersamanya.
1) Mengontrol Emisi Gas Buang:
 Gas-gas buang seperti sulfur oksida, nitrogen oksida, karbon monoksida, dan
hidrokarbon dapat dikontrol pengeluarannya melalui beberapa metode. Gas
sulfur oksida dapat dihilangkan dari udara hasil pembakaran bahan bakar
dengan cara desulfurisasi menggunakan filter basah (wet scrubber);
 Mekanisme kerja filter basah ini akan dibahas lebih lanjut pada pembahasan

15
berikutnya, yaitu mengenai metode menghilangkan materi partikulat, karena
filter basah juga digunakan untuk menghilangkan materi partikulat;
 Gas nitrogen oksida dapat dikurangi dari hasil pembakaran kendaraan
bermotor dengan cara menurunkan suhu pembakaran. Produksi gas karbon
monoksida dan hidrokarbon dari hasil pembakaran kendaraan bermotor dapat
dikurangi dengan cara memasang alat pengubah katalitik (catalytic converter)
untuk menyempurnakan pembakaran;
 Selain cara-cara yang disebutkan diatas, emisi gas buang jugadapat dikurangi
kegiatan pembakaran bahan bakar atau mulai menggunakan sumber bahan
bakar alternatif yang lebih sedikit menghasilkan gas buang yang merupakan
polutan.
2) Menghilangkan Materi Partikulat Dari Udara Pembuangan:
 Filter Udara:
Filter udara dimaksudkan untuk yang ikut keluar pada cerobong atau stack,
agar tidak ikut terlepas ke lingkungan sehingga hanya udara bersih yang saja
yang keluar dari cerobong. Filter udara yang dipasang ini harus secara tetap
diamati (dikontrol), kalau sudah jenuh (sudah penuh dengan abu/ debu) harus
segera diganti dengan yang baru.Jenis filter udara yang digunakan tergantung
pada sifat gas buangan yang keluar dari proses industri, apakah berdebu
banyak, apakah bersifat asam, atau bersifat alkalis dan lain sebagainya
 Pengendap Siklon:
Pengendap Siklon atau Cyclone Separators adalah pengedap debu / abu yang
ikut dalam gas buangan atau udara dalam ruang pabrik yang berdebu. Prinsip
kerja pengendap siklon adalah pemanfaatan gaya sentrifugal dari udara / gas
buangan yang sengaja dihembuskan melalui tepi dinding tabung siklon
sehingga partikel yang relatif “berat” akan jatuh ke bawah.Ukuran partikel /
debu / abu yang bisa diendapkan oleh siklon adalah antara 5 µ - 40 µ. Makin
besar ukuran debu makin cepat partikel tersebut diendapkan.
 Filter Basah:
Nama lain dari filter basah adalah Scrubbers atau Wet Collectors. Prinsip kerja
filter basah adalah membersihkan udara yang kotor dengan cara
menyemprotkan air dari bagian atas alt, sedangkan udara yang kotor dari
bagian bawah alat. Pada saat udara yang berdebu kontak dengan air, maka
debu akan ikut semprotkan air turun ke bawah.Untuk mendapatkan hasil yang
16
lebih baik dapat juga prinsip kerja pengendap siklon dan filter basah
digabungkan menjadi satu. Penggabungan kedua macam prinsip kerja tersebut
menghasilkan suatu alat penangkap debu yang dinamakan:
 Pegendap Sistem Gravitasi:
Alat pengendap ini hanya digunakan untuk membersihkan udara kotor yang
ukuran partikelnya relatif cukup besar, sekitar 50 µ atau lebih. Cara kerja alat
ini sederhana sekali, yaitu dengan mengalirkan udara yang kotor ke dalam alat
yang dibuat sedemikian rupa sehingga pada waktu terjadi perubahan kecepatan
secara tiba-tiba (speed drop), zarah akan jatuh terkumpul di bawah akibat gaya
beratnya sendiri (gravitasi).
 Pengendap Elektrostatik:
Alat pengendap elektrostatik digunakan untuk membersihkan udara yang kotor
dalam jumlah (volume) yang relatif besar dan pengotor udaranya adalah
aerosol atau uap air. Alat ini dapat membersihkan udara secara cepat dan udara
yang keluar dari alat ini sudah relatif bersih.Alat pengendap elektrostatik ini
menggunakan arus searah (DC) yang mempunyai tegangan antara 25-100 kv.
Alat pengendap ini berupa tabung silinder di mana dindingnya diberi muatan
positif, sedangkan di tengah ada sebuah kawat yang merupakan pusat silinder,
sejajar dinding tabung, diberi muatan negatif. Adanya perbedaan tegangan
yang cukup besar akan menimbulkan corona discharga di daerah sekitar pusat
silinder. Hal ini menyebabkan udara kotor seolah-olah mengalami ionisasi.
Kotoran udara menjadi ion negatif sedangkan udara bersih menjadi ion positif
dan masing-masing akan menuju ke elektroda yang sesuai. Kotoran yang
menjadi ion negatif akan ditarik oleh dinding tabung sedangkan udara bersih
akan berada di tengah-tengah silinder dan kemudian terhembus keluar.

17
BAB II
PELAKSANAAN

2.1 TANGGAL DAN WAKTU PENGAMATAN

Dilakukan pengamatan pada hari Jum’at. 21 Juni 2019, pukul 09:00 – 11:30 WIB oleh
kelompok I (Hygiene Industri).

2.2 LOKASI PENGAMATAN

Jl. Pattimura RT-01 RW-04 Kp.Panau Kel. Kabil Kec. Nongsa Batam.
Phone : 62-778-711188

18
BAB III
HASIL PENGAMATAN

Pengamatan dilakukan di PT. Nexus Engineering Indonesia tepatnya pada lokasi


pengolahan kapal tersebut dengan denah sebagai berikut:

1.4 FAKTOR FISIK

1) Bising
Berdasarkan hasil pengamatan secara langsung, alat-alat yang digunakan untuk
menunjang kegiatan perusahaan, baik dalam proses produksi, penyimpanan maupun
pengangkutan di PT. Nexus Engineering Indonesia merupakan alat-alat berat yang
berpotensi menimbulkan kebisingan bagi para pekerjanya. Alat yang dimaksud ialah
alat pengelasan dari wielder dan blasting. Pengamatan yang dilakukan secara
langsung, sehingga pengamat dapat mendengar bising yang berasal dari alat-alat
produksi tersebut secara langsung. Berdasarkan informasi yang didapat dari
narasumber bahwa pihak perusahaan sudah melakukan pengukuran untuk intensitas
kebisingan di lingkungan kerja sesuai dengan Permenakertrans No. 13/MEN/X/2011
tentang Nilai Ambang Batas. Menurut pekerja disana, mereka tidak terganggu oleh
bising dari mesin-mesin tersebut, karena para pekerja memakai ear plug.
2) Pencahayaan
Berdasarkan hasil pengamatan secara langsung, penerangan di tempat kerja di PT.
Nexus Engineering Indonesia sumber pencahayaan alami dan buatan karena cahaya
matahari dapat masuk dan para pekerja yang bekerja dalam ruangan dibantu oleh
beberapa lampu neon. Menurut informasi yang diperoleh dari narasumber bahwa
belum dilakukan pengukuran terhadap intensitas pencahayaan di tempat kerja yang
mengacu kepada Peraturan Menteri Perburuhan No. 7 Tahun 1964 tentang Syarat
Kesehatan, Kebersihan, serta Penerangan dalam Tempat Kerja. Menurut pengamatan
yang kami lakukan di tempat kerja secara langsung, para pekerja tidak tampak
mengalami gangguan dalam hal pencahayaan/penerangan di tempat kerja mereka,

19
tetapi di tempat blasting tidak ada cahaya seperti lampu maupun matahari yang ada di
dalam ruangan itu, dikarenakan hal tersebut PT. Nexus Engineering Indonesia
menyediakan kompressor oksigen khusus untuk pekerjanya.

3) Getaran
Berdasarkan hasil pengamatan secara langsung, beberapa alat yang digunakan untuk
menunjang kegiatan perusahaan, baik dalam proses produksi, penyimpanan maupun
pengangkutan PT. Nexus Engineering Indonesia berpotensi menimbulkan getaran di
dalam penggunaannya oleh para pekerja. Salah satunya adalah alat pengelas. Alat-alat
ini berpotensi menimbulkan getaran segmental pada tangan pekerja.Dari pengamatan
yang dilakukan, para pekerja terlihat tidak mengalami masalah dengan getaran yang
ditimbulkan oleh alat-alat produksi tersebut dan pekerja memakai APD (alat pelindung
diri) yang lengkap.
4) Radiasi
Berdasarkan hasil pengamatan secara langsung, terdapat sumber radiasi non pengion
yang ada di tempat kerja PT. Nexus Engineering Indonesia yaitu sinar tampak yang
berasal dari lampu, percikan mesin las dan matahari. Menurut pengamatan kami para
pekerja menggunakan kacamata pelindung sehingga risiko terpapar percikan mesin las
jarang terjadi. Terdapat radiasi dari X-Ray yang gunakan untuk uji kelayakan terhadap
bahan produksi.
5) Iklim Kerja
Berdasarkan hasil pengamatan secara langsung, iklim tempat kerja di PT. Nexus
Engineering Indonesia termasuk beriklim panas. Namun, terdapat bangunan yang
beratap dan berdinding terbuka untuk menunjang pekerjaan para pekerja. Hanya
sebagian kecil pekerja yang bekerja pada tempat yang terbuka, seperti pekerja yang
bekerja di tempat penarikan dan penurunan setelah perbaikan kapal.

1.5 FAKTOR KIMIA

Untuk faktor bahaya kimia yang ada di lingkungan kerja PT. Nexus Engineering
Indonesia salah satunya adalah tenaga kerja dalam bidang pengecatan kapal. Pengecetan kapal
berguna untuk melindungi kulit kapal (Mesin, dek, bagian atas kapal) dari proses pengkaratan,
karena hampir semua material penyusun kapal adalah logam (pelat baja). Mengingat daerah
kerja kapal adalah di laut maka sifat logam reaktif dengan korosi.

20
Dari hasil pengamatan secara langsung dapat dilihat bahwa di PT. Nexus Engineering
Indonesia memiliki lembar data keamanan (Safety Data Sheet) dan produk atau jenis cat yang
digunakan. Bahan baku jenis cat tersebut adalah xylene, etil benzene, dan propilen glikol
monometil eter yang memiliki potensi bahaya yaitu :
1. Mudah terbakar
2. Iritasi kulit dan mata
3. Uapnya menyebabkan pusing
4. Beracun untuk kehidupan akuatik dengan efek jangka panjang

1.6 FAKTOR BIOLOGI

Pada kunjungan PT. Nexus Engineering Indonesia ditemukan bahwa pihak perusahaan
belum mengerti dengan jelas mengenai bahaya biologis yang mungkin dialami oleh para
pekerja. Dari pengamatan yang dilakukan didapatkan bahwa belum tersedia dengan lengkap
kantin perusahaan. Perusahaan hanya menyediakan tempat, sementara pekerja maupun
makanan bagi para pekerja belum tersedia. Perusahaan memberikan uang untuk membeli
makanan untuk para pekerja tersebut. Para pekerja membeli makanan diluar dari perusahaan,
sehingga belum terjamin kebersihan dari makanan tersebut. Makanan dari luar diduga
mengandung banyak mikroorganisme yang dapat membahayakan para pekerja.

1.7 KEBERSIHAN

Dilihat dari pengamatan selama berada di lingkungan kerja PT. Nexus Engineering
Indonesia, secara umum dapat dikatakan, kebersihan didalam perusahaan seperti dinding,
lantai, dan daerah tempat bekerja tampak baik. Menurut sumber yang didapat setiap selesai
bekerja pekerja diwajibkan membersihkan tempat tersebut. Pembersihan ruangan kerja
dilakukan rutin pada pukul 16.00 WIB. Tersedia toilet di 16 titik dengan setiap titik terdapat
minimal 10 toilet. Dari pengamatan terdapat toilet yang tidak terpakai, rusak dan kurang
bersih.
Penyediaan kebutuhan air ditempat pekerja menggunakan air penyulingan. Tetapi
penempatan lokasi penyediaan air kurang tepat. Penyediaan ditempatkan dekat dengan daerah
pekerja sehingga kemungkinan terpapar mikroorganisme lebih besar pada para pekerja. Dari
hasil pengamatan didapatkan pembuangan sampah yang telah dipisah, ada 5 warna yaitu
merah, hijau, kuning, biru, hitam, dan abu-abu. Merah untuk sampah berupa kaleng-kaleng
cat, hijau untuk sampah organik, kuning untuk sampah non organik, biru untuk sampah plat-
21
plat besi, hitam untuk sampah sisa-sisa oli, dan abu-abu untuk sampah kabel-kabel. Tetapi
masih terdapat tempat sampah yang belum teratur. Untuk pengolahan limbah telah dilakukan
dengan baik, untuk limbah diperusahaan diantar seminggu sekali. Sementara untuk limbah
yang dapat diolah untuk menjadi semen, dan olahan lainnya diantar untuk diolah sekurang-
kurangnya paling lambat 3 bulan.

1.8 PETUGAS HIGIENE INDUSTRI

Berdasarkan hasil pengamatan secara langsung, petugas kebersihan hanya ada 3 orang
dan hanya fokus membersihkan office sehingga kebersihan di tempat lain kurang di
perhatikan. Mengingat luas lokasi PT kurang lebih 4 hektar sehingga di butuhkan petugas
kebersihan yang lebih banyak dan merat

1.9 PENGOLAHAN LIMBAH

1) Pengolahan Limbah Cair


Limbah cair yang dihasilkan oleh PT. Nexus Engineering Indonesia dibagi menjadi
limbah kategori Bahan Buangan Berbahaya (B3) dan bukan B3 yang di tempatkan.
2) Pengolahan Limbah Padat
 Pasir yang langsung dikirim ke PT. Bosowa untuk dijadikan bahan dasar
semen.
 Scrub besi bisa dijual
3) Pengolahan Limbah Sampah
Sampah yang tidak bisa didaur ulang akan di ambil oleh petugas kebersihan setial 1x
seminggu.

22
BAB IV
PEMECAHAN MASALAH

4.1 FAKTOR FISIK

1) Bising
 Dilakukan pengukuran secara berkala untuk kebisingan di tempat kerja
 Dipastikan kembali berapa nilainya dari alat alat berat yang menimbulkan bising.
 Sebaiknya diberikan tanda peringatan untuk alat-alat berat yang intensitas bising
melebihi 85 dB.
 Pemeriksaan berkala pada pekerja yang bekerja di tempat bising minimal 1 tahun
1 kali.
 Melakukan rotasi kerja kepada para pekerja untuk menghindari penurunan
pendengaran.
 Peletakan fan dari air conditioner harus diatur jaraknya atau diberi peredam agar
tidak menimbulkan bising.
2) Pencahayaan
 Pencahayaan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan pencahayaan di masing-
masing ruangan/ tempat kerja dengan memperhatikan detail pekerjaan yang akan
dilakukan oleh para pekerja, di mana pekerjaan yang membutuhkan ketelitian
tinggi.
 Dibutuhkan exelroof di tempat kerja yang menggunakan cahaya matahari untuk
pencahayaan, sehingga ruangan yang digunakan cukup pencahayaannya.
3) Getaran
 Sebaiknya dilakukan pengukuran getaran pada setiap alat penghasil getaran seperti
forklift yang telah dijelaskan sebelumnya. Jika alat tersebut menghasilkan getaran
melebihi nilai ambang batas, maka perlu diberi peredam pada alat tersebut.
 Melakukan rotasi jam kerja pada para pekerja.
 Pemberian APD secara cuma-cuma sebagai cara terakhir.
4) Radiasi

23
Apabila terdapat sumber radiasi yang berpotensi memberikan paparan terhadap para
pekerja, maka dapat dilakukan beberapa upaya pengendalian, yaitu:
 Mengisolasi peralatan dan daerah radiasi dengan cara penyekatan.
 Menjauhkan tenaga kerja dari sumber radiasi.
 Membatasi waktu pemajanan.
 Memasang label dan tanda peringatan bahaya radiasi.
 Penggunaan alat pelindung diri (APD) seperti pakaian, kacamata, dan lainnya
sebagai cara terakhir.
 Pelatihan dan pengawasan tenaga kerja terhadap bahaya radiasi.
5) Iklim kerja
 Sebaiknya dilakukan pengukuran suhu di tempat kerja, terutama di tempat kerja
dengan banyak lampu, agar para pekerja dapat melakukan pekerjaannya dengan
aman dan nyaman.
 Menyediakan penyejuk ruangan di tempat kerja yang panas.
 Menjaga kebersihan exhaust fan untuk menjaga sistem sirkulasi di ruang kerja.

4.2 FAKTOR KIMIA

Sesuai dengan hasil pengamatan di tempat kerja PT. Alakasa Extrusindo Tbk, untuk
menghindari penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh faktor kimia, perlu dilakukan:
1) Promosi kepada tenaga kerja berupa pengenalan terhadap:
 Bahan-bahan kimia apa saja yang dapat terpapar pada tubuh pekerja di masing-
masing sektor produksi, termasuk tingkat potensi bahaya dari masing-masing
bahan tersebut;
 Efek yang dapat ditimbulkan apabila pekerja terpapar bahan tersebut, baik efek
jangka pendek maupun jangka panjang;
 Tindakan yang sebaiknya dilakukan untuk terhindar dari paparan bahan kimia
tersebut;
 Tindakan yang dapat segera dilakukan apabila terpapar bahan kimia yang
berbahaya;
2) Pelabelan bahan baku sesuai dengan potensi bahaya agar pekerja lebih aware.
3) Sistem ventilasi dan sirkulasi agar lebih diperhatikan dan dilakukan kontrol rutin
terutama dijaga kebersihannya.

24
4.3 FAKTOR BIOLOGI

Sesuai dengan hasil pengamatan di tempat kerja PT. Alakasa Extrusindo Tbk., untuk
menghindari penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh faktor kimia, perlu dilakukan:
1) Identifikasi faktor biologis yang ada di tempat kerja mengingat penyakit terbanyak
yang dialami oleh pekerja berupa infeksi saluran pernapasan dan radang tenggorokan.
2) Menyediakan tempat penampungan air tetesan dari fan air conditioner yang tertutup
agar tidak terdapat genangan air, sebagai upaya pengendalian vektor penyakit.
3) Membersihkan sistem ventilasi berupa exhaust fan yang berdebu.

4.4 SANITASI

Sesuai dengan hasil pengamatan di tempat kerja PT. Alakasa Extrusindo Tbk., untuk
menghindari penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh faktor sanitasi, perlu dilakukan:
1) Menyediakan ruang penyimpanan terpisah untuk bahan baku/ kardus-kardus dan hasil
produksi agar tidak terjadi kesalahan atau kerusakan pada barang yang sudah jadi,
selain agar terlihat lebih rapi.
2) Pembersihan exhaust fan yang berdebu.
3) Pengamatan fasilitas sanitasi yang disediakan yaitu toilet, ruang ganti baju, dan kantin
perusahaan secara berkala.
4) Perlu diadakan jadwal pembersihan rutin pada fasilitas pabrik atau bila sudah ada
dapat diperbanyak jadwal pembersihan tersebut.
5) Pemberian reward bagi petugas cleaning service yang bekerja dengan baik.

4.5 PENGOLAHAN LIMBAH

Sesuai dengan hasil pengamatan di tempat kerja PT. Alakasa Extrusindo Tbk, untuk
menghindari penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh pengolahan limbah, perlu dilakukan:
1) Memindah tempat pengolahan limbah ke tempat yang tidak banyak dilewati orang
untuk menghindari terhirupnya racun limbah atau bau dari limbah tersebut
2) Menutup, memberi tanda peringatan, dan memperluas pagar pembatas dari tempat
pengolahan limbah jika cara pertama tidak mungkin dilakukan.
3) Membuat plan of action bencana banjir untuk fasilitas pengolahan limbah agar
pencemaran limbah dapat diatasi dengan cepat dan baik jika fasilitas pengolahan
limbah sampai terendam banjir.

25
4) Pengamatan cara penyimpanan dan transportasi limbah industri dimana sebaiknya
setiap wadah dipastikan tidak bocor dan diberikan tanda/ label.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

PT. Nexus Engineering Indonesia yang bergerak pada bidang repairing and building
shipyard dan pengembangan prouek gas dan oil. Secara umum PT. Nexus Engineering
Indonesia dari penilaian higien Industri sudah dilakukan dengan baik meskipun belum sesuai
dari segi penyediaan dan penggunaan APD. Sedangkan untuk kelengkapan organisasi K3
hanya terdapat satu orang bagian safety, tidak terdapat P2K3 maupun dokter dan tenaga medis
Cairary, padahal terdapat 100 orang karyawan aktif di dalam PT.
Pada alat operasional, pesawat proyek, APAR dll tidak terdapat SOP penggunaan, SOP
apabila terjadi keadaan emergency dan lain-lain. Untuk fasilitas evakuasi terdapat 4 master
point yang ditempatkan di tempat yang aman dan terjangkau.
Berdasarkan pengamatan dalam bidang hygiene industri yang telah dilakukan ke PT.
Nexus Engineering Indonesia didapatkan adanya faktor risiko baik dibidang fisika, kimia, dan
biologi. Adanya faktor risiko di lingkungan kerja terebut belum diiringi dengan kesadaran
baik dari pihak manajemen maupun pekerja terbukti dari belum dijalankannya SMK3 di
perusahaan tersebut. Sanitasi tempat kerja juga dianggap masih perlu perbaikan dilihat dari
genangan air, cahaya yang cukup , serta tempat penyimpanan dan pengolahan limbah yang
masih terletak di lingkungan terbuka tanpa penutup.

5.2 . SARAN
1) Memberi penyuluhan berkala tentang Sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja
terutama terkait lima faktor yang dibahas diatas kepada tenaga kerja mengenai
pemaparan faktor tersebut dan dampak kesehatan yang dapat ditimbulkan.
2) Menyediakan lebih banyak media dan sarana untuk mempromosikan Kesehatan dan
Keselamatan Kerja.
3) Peningkatanpengawasan dan penerapanSistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja
(SMK3), serta higiene industri, dengan melakukan identifikasi hazard dan
pengendalian hazard.
26
4) Penyediaan sarana Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai standar untuk kondisi
pekerjaan tenaga kerjaserta meningkatkan APD dari segi kualitas dan kuantitas.
5) Penyediaan lingkungan kerja dan fasilitas sanitasi yang bersih dan aman bagi para
perkerja.
BAB VI
PENUTUP

Demikian laporan kunjungan perusahaan mengenai higiene industri di PT. Nexus


Engineering Indonesia ini kami buat kami menyadari bahwa laporan ini masih banyak
kekurangan, baik dalam teknis penulisan maupun materi, mengingat kemampuan yang kami
miliki. Semoga apa yang tertuang di dalam laporan ini dapat bermanfaat bagi para
pembacanya pada umumnya dan PT. Nexus Engineering Indonesia khususnya agar dapat
lebih meningkatkan lagi penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja
(SMK3) dan higiene industri di lingkungan kerjanya sehingga dapat menjamin kesehatan dan
keselamatan para pekerjanya dan meningkatkan produktivitas perusahaan.

27