Anda di halaman 1dari 9

M4 FOKAL INFEKSI

A. DEFINISI
Proses penyebaran dari kuman atau toksinnya dari fokus infeksi ke tempat lain
yang jauh letaknya dari asal fokus infeksi, sehingga mampu mengakibatkan
kerusakan jaringan yg dpt berupa infeksi baru maupun kelainan baru (drg.
Theodora sp.ort universitas wijaya kusuma Surabaya 2012 “infeksi fokal”)
Fokal infeksi merupakan suatu tempat yang dinyatakan sebagai pusat penyebaran
suatu infeksi yang dapat mempengaruhi/menggangu organ lain dalam tubuh bila
kondisi jaringan setempat memungkinkan. (namawi sutomo 1992, kedokteran gigi
pencegahan bidang studi periodontology FKG UGM Yogyakarta)
Fokal infeksi adalah suatu infeksi local yang biasanya dalam jangka waktu cukup
lama (kronis), dimana hanya melibatkan bagian kecil dari tubuh, yang kemudian
dapat menyebabkan suatu infeksi atau kumpulan gejala klinis pada bagian tubuh
yang lain. Teori fokal infeksi sangat erat hubungannya dengan bagian gigi,
dimana akan mempengaruhi fungsi sistemik seseorang seperti system sirkulasi,
skeletal, dan system syaraf. Hal ini disebabkan oleh penyebaran mikroorganisme
atau toksi yang dapat berasal dari gigi, akar gigi, atau gusi yang terinfeksi. (shafer
William G, Hine Maynard K, Levy Barnet M, A textbook of oral pathology,
chapter 9. Philadelphia: W.B. Saunders 1974)
Sepsis arising from a focus of infection that initiates a secondary infection in a
nearby or distant tissue or organs (ADA) american dental association  kondisi
medis serius dimana terjadi peradangan yang timbul dari focus infeksi yang
memulai infeksi sekunder pada jaringan atau organ yang berdekatan maupun
berjauhan.
B. JENIS
Jenis-jenis penyakit akibat fokal infeksi: (moestopo 1982 pemeliharaan gigi
dimulai dari kandungan sang ibu)
1. demam rheumatic
2. rheumatoid arthritis (rematik pada persendian)
3. poly arthritis, ini mempunyai gejala ngilu banyak persendian, sehingga sering
dikacaukan dengan syphilis stadium kedua yang mempunyai gejala sama
4. sub acute bacterial endocarditis (infeksi pada katup jantung) biasanya
penyakit ini terjadi karena didalam rongga mulut ada gigi yang busuk atau
terinfeksi sehingga kuman-kuman tersebar melalui aliran darah
5. penyakit tertentu pada saluran pencernaan
C. PENYEBAB (putri amelia 2017 fokal infeksi)
1. faktor agen
meliputi jenis bakteri dan virulensinya, dapat menyebar secara cepat dan
difusi melalui jaringan, infeksi ini dapat disebabkan oleh anaerob dengan
coccus gram (-), menyebar dengan masuk pembuluh darah dan membentukj
penyebaran sistemik dari komples imun, komponen dan produk bakteri
2. faktor pejamu
meliputi pertahanan tubuh terhadap penetrasi bakteri dari plak gigi ke jaringan
yaitu penghalang fisik yang dibentuk oleh permukaan epitel, defesins
(antibiotic peptide yang dibentuk pejamu di mukosa epitelium), penghalang
elektrik, penghalang imunologis sel pembentuk antibody dan system
retikuloendotelial (penghalang fagosit), mekanisme dapat menyebar dan
menyebabkan infeksi akut dan kronik
3. oral hygiene yang buruh
jumlah bakteri yang berkolonisasi di gigi (supragingiva)meningkat 2-10 x
lipat dan memungkinkan lebih banyak bakteri melewati jaringan dan masuk
ke pembuluh darah, menimbulkan pengingkatan prevalensi dan besarnya
bakterimia
4. faktor lingkungan meliputi status sosioekonomi
dilihat dari asupan gizinya serta kebersihan diri yang tidak terjaga
D. MEKANISME
Mekanisme infeksi local: (drg. Theodora sp.ort universitas wijaya kusuma
Surabaya 2012 “infeksi fokal”)
1. penyebaran mikroorganisme dari focus infeksi ke jaringan yang lebih jauh
letaknya melalui aliran darah atau aliran limfe
2. difusi toksin atau produk mikroorganisme yang toksik ke pembuluh darah atau
limfe, sehingga sampai ke bagian tubuh yang jauh letaknya. Di tempat baru
tersebut dapat menimbulkan reaksi hypersensitive pada jaringan yang
bersangkutan
Mekanisme penyebaran: (Lix, Koltveit, Tronstad L, Olsen I. systemic diseases
caused by oral infection. Clinical microbiology reviews 2000)
1. transmisi melalui sirkulasi darah (hematogen)
gingiva, gigi, tulang penyangga, dan stroma jaringan lunak di sekitarnya
merupakan area yang kaya dengan suplai darah, hal ini meningkatkan
kemungkinan masuknya organisme dan toksi dari daerah yang terinfeksi ke
dalam sirkulasi darah. Karena peruahan tekanan dan edema menyebabkan
penyempitan pembuluh vena dank arena vena pada daerah ini tidak berkatup,
maka aliran darah di dalamnya dapat berlangsung dua arah, memungkinkan
penyebaran infeksi langsung dari focus di dalam mulut ke kepala atau faring
sebelum tubuh mampu membentuk respon perlawanan terhadap infeksi tsb.
2. transmisi melalui aliran limfatik (limfogen)
banyaknya hubungan antara berbagai kelenjar getah bening memfasilitasi
penyebaran infeksi sepanjang rute ini dan infeksi dapat mengenai kepala atau
leher melalui duktus torasikus dan vena subklavia ke bagian tubuh lainnya.
Weinmann mengatakan bahwa inflamasi gingiva yang menyebar sepanjang
krista alveolar dan sepanjang jalur pembuluh darah ke sumsum tulang.
3. peluasan langsung infeksi dalam jaringan
dapat terjadi melalui penjalaran material septik atau organism eke dalam
tulang atau sepanjang bidang fasial dan jaringan penyambung di daerah yang
paling rentan.
 Perluasan didalam tulang tanpa pointing
Area yang terkena terbatas hanya di dalam tulang, menyebabkan
osteomyelitis
 Perluasan di dalam tulang dengan pointing
Perluasan tidak terlokalisis melainkan melewati tulang menuju
jaringan lunak dan kemudian membentuk abses
 Perluasan sepanjang bidang fasial
Menurut HJ Burman, fasia memegang peranan penting karena
fungsinya yang membungkus berbagai otot, kelenjar, pem darah, dan
saraf. Serta karena adanya ruang interfasial yang terisi oleh jaringan
ikat longgar sehingga infeksi dapat menurun
4. penyebaran ke traktus gastrointestinal dan pernapasan
Bakteri yang tertelan dan produk-produk septik yang tertelan dapat
menimbulkan tonsilitis, faringitis, dan berbagai kelainan pada lambung.
Aspirasi produk septik dapat menimbulkan laringitis, trakeitis, bronkitis, atau
pneumonia. Absorbsi limfogenik dari fokus infeksi dapat menyebabkan
adenitis akut dan selulitis dengan abses dan septikemia. Penyebaran
hematogen terbukti sering menimbulkan infeksi lokal di tempat yang jauh
E. PENCEGAHAN
Pencegahan terjadinya infeksi fokal akibat focus infeksi di rongga mulut: (drg.
Theodora sp.ort universitas wijaya kusuma Surabaya 2012 “infeksi fokal”)
1. pelihara kesehatan gigi dan mulut dengan cara menggosok gigi secara teratur
minimal 2x sehari
2. kurangi frekuensi makanan yang bersifat kariogenik, seperti makan yang
berasal dari karbohidrat olahan (refined carbo) yang bersifat manis dan
lengket
3. segera kunjungi dokter gigi jika ada masalah dengan gigi dan mulut
4. kunjungi dokter gigi secara rutin tiap 6 bulan sekali

M4 FOKUS INFEKSI
A. DEFINISI
Suatu daerah local jaringan yang terinfeksi olek mikroorganisme pathogen,
biasanya terletak di permukaan kulit atau mukosa (guyton & woods)
A circumscribed area infected with microorganisms which may or may not give
rise to clinical manifestations (ADA)  area terbatas yang terinfeksi
mikroorganisme yang mungkin atau mungkin tidak menimbulkan manifestasi
klinis
Focus infeksi yaitu pusat suatu daerah di dalam tubuh darimana kuman dapat
menyebar jauh ke tempat lain di dalam tubuh dan bisa menyebabkan penyakit.
(Muhammad farhan, 2018 fokal infeksi)
Sumber (focus) infeksi dalam rongga mulut ,terutama yang berhubungan erat
dengan gigi dapat berada di jaringan-jaringan (moestopo 1982 pemeliharaan gigi
dimulai dari kandungan sang ibu)

 Periodontium,yaitu jaringan untuk mengikat gigi didalam tulang


alveolus,jika serabut periodontium ini rusak,gigi akan goyang,dan
kuman-kuman akan lebih mudah mencapai daerah ujung akar gigi dan
masuk saluran darah. Keadaan ini yang biasa disebut pyorhoea yaitu
gejala keluarnya nanah dari saku gusi yang berasal dari peradangan
karena rusaknya periodontium

 periapikal,yaitu ujung akar gigi.

 pulpa gigi.
Bahkan dapat berasal dari kuman-kuman penyakit di aderah gusi,juga sisa-sisa fragemen
gigi yang tertinggal,gigi dan lubang-lubang baru setelah pencabutan,bekas akar gigi
(Socket) dapat pula merupakan focus infeksi.
B. MIKROORGANISME PENYEBAB
Rongga mulut merupakan tempat hidup bakteri aerob dan anaerob yang berjumlah lebih
dari 400 ribu spesies bakteri. Ratio antara bakteri aerob dengan anaerob berbanding 10:1
sampai 100:1. Organisme-organisme ini merupakan flora normal dalam mulut yang
terdapat dalam plak gigi, cairan suluks gingiva, mucus membrane, dorsum lidah, saliva
dan mukosan mulut. Kekomlekan flora rongga mulut dan gigi dapat menjelaskan etiologi
spesifik dari beberapa tipe terjadinya infeksi gigi dan infeksi dalam rongga mulut, tetapi
lebih banyak disebabkan oleh adanya gabungan antara bakteri gram ppositif yang aerob
11
dan anaerob. Dalam cairan gingival kira-kira ada 1.8 x 10 anaerobs/gram. (putri amelia
2017 fokal infeksi)

M4 INFEKSI ODONTOGEN
A. DEFINISI
Infeksi odontogenik merupakan suatu infeksi polimikrobial dan campuran. Infeksi
tersebut merupakan hasil dari perubahan bakteri, huubungan antar bakteri dengan
morfotipe yang berbeda dan peningkatan jenis bakteri. Perubahan bakteri yang
terjadi berupa perubahan yang pada awalnya predominan gram +, fakultatif dan
sakarolitik menjadi predominan gram -, anaerobic dan proteolitik (sandler NA.
odontogenic infections)
Infeksi odontogenik merupakan infeksi akut atau kronis yang berasal dari gigi
yang berhubungan dengan patologi mayoritas infeksi yang bermanifestasi pada
region orofacial adalah odontogenik. Infeksi odontogenik merupakan penyakit
yang paling umum sedunia dan merupakan alasan mencari perawatan dental
(Fragiskos, 2007)
B. JENIS
Berdasarkan tipe infeksinya, infeksi odontogen bisa dibagi menjadi: (putri amelia
2017 fokal infeksi)
1. infeksi odontogen local.terlokalisir misalnya abses periodontal akut, peri
implantitis
2. infeksi odontogen luas/ menyebar misalnya early cellulitis, deep-space
infection
3. life-threatening misalnya facilitis dan ludwig’s angina

jenis jenis: (Muhammad farhan 2018 fokal infeksi)


o Periodontitis Marginalis
Infeksi dari marginal gusi,umunya berjalan kronis.inflamasi
dimulai dari gingivitis marginalis,tanda-tandanya gusi
hiperemis,edema,mudah berdarah,kalkulus,hilangnya
puncak tulang muscular,terbentuknya poket.
o Pericoronitis
-Infeksi pada jaringan lunak perikoronal yang bagian paling
besar/utama dari jaringan lunak tersebut berada di atas/menutupi
mahkota gigi.
-disebabkan oleh adanya mikroorganisme dan debris yang
terperangkap diantara mahkota gigi dan jaringan lunak di atasnya.

Pericoronitis dapat dibagi menjadi 3,yaitu:


▪ Pericoronitis Akut
Rasa sakit spontan(rasa sakit tekan memancar),tidak ada
pengaruh suhu/ruangan,menelan sakit,bengkak sekitar gigi
dan bewarna merah.
▪ Pericoronitis Subakut
Tidak ada pembengkakan pipi,tidak ada trismus,untuk
gerakan mengunyah sakit,ada pus dari poket,operculum
dari jaringan sekitarnya bengkak serta skit,dan terkadang
ada ulserasi(abses perikoroner)
▪ Pericoronitis Kronis
-Bergaranulasi
Bengkak kecil pada pipi dan rahang,bila di palpasi
terasa elastic dan seperti berpasir-pasir.
-Berosifikasi
Bengkak kecil pada pipi dan rahang,bila di palpasi
terasa keras,bentuknya bulat.
o Abses Periodontal
-Inflamasi pada jaringan periodontal yang terlokalisasi dan
mempunyai daerah yang virulen.
-Perkembangan abses terjadi ketika poket menjadi bagian dari
sumber infeksi. Type dari infeksi ini biasanya dimulai pada
gingival crevice pada permukaan akar,sering sampai ke permukaan
apeks. Merupakan serangan yang tiba-tiba dan sakit yang teramat
sangat.
-Suatu proses periodontal dapat dihubungkan dengan gigi nonvital
tau trauma. Abses periodontal dapat meluas dari gigi penyebab
melalui tulang alveolar ke gigi tetangga, dan menyebabkan
goyangnya gigi tersebut.
o Abses Periapikal
-Dimulai di region periapika dari akar gigi,dan sebgian akibat dari
pulpa yang non vital/pulpa yang mengalami degenerasi. Dapat juga
terjadi setalah adanya trauma jaringan pulpa baik langsung terjadi
atau beberapa waktu kemudian.
-Dapat terjadi eksasebasi akut(kambuh lagi) yang diikuti dari
gejala-gejala dari infeksi akut.
o Phlegmon
-Selulitis akut,hebat,toksik,melibatkan secra bilateral,spasia
submandibula,submental,sublingual.
-Terjadi karena gigi posterior rahang bawah dan fraktur
mandibula,gejalanya seperti: pembengkakan keras,sakit,bewarrna
kemerahan,lidah terangkat,trismus,hipersalivasi.

C. PENYEBAB
Infeksi odontogenik dapat disebabkan karena trauma, infeksi post-operasi dan
sekunder dari infeksi jaringan periodontal atau perikoronal. Bakteri penyebab
infeksi umumnya bersifat endogen dan bervariasi berupa bakteri aerob, anaerob
maupun infeksi campuran bakteri aerob dan anaerob. Disebutkan mikroba
penyebab tersering yaitu Streptococcus mutans dan Lactobacillus sp yang
memiliki aktivitas produksi asam yang tinggi.
infeksi odontogenik berasal dari bakteri komensal yang berproliferasi dan
menghasilkan enzim. Pada saat bayi baru dilahirkan, proses kolonisasi bakteri
dimulai dan dikatakan predominan terdiri atas Streptococcus salivarius. Pada saat
gigi pertama tumuh, yaitu pada saat bayi berusia 6 bulan, komunitas bakteri
berubah menjadi predominan S.sanguis dan S.mutans dan pada saat gigi selesai
tumbuh terdapat komunitas heterogen antara bakteri aerobik dan anaerobik.
Diperkirakan terdapat 700 spesies bakteri yang berkolonisasi di mulut dimana 400
dari spesies tersebut dapat ditemukan pada area subgingival.
Infeksi odontogenik juga dapat berasal dari jaringan periodontal. Ketika bakteri
subgingival berkembang dan membentuk kompleks dengan bakteri periodontal
patogen yang mengekspresikan faktor virulensi, maka akan memicu respon imun
host yang secara kronis dapat menyebabkan periodontal bone loss. (Sonis ST,
Fazio RC, Fang L. Principles and practice of oral medicine. 2nd ed. Philadelphia:
WB Saunders Company; 1995)
D. MEKANISME
Mekanisme tersering terjadinya infeksi odontogenik berawal dari karies dentis.
Proses demineralisasi enamel gigi akan merusak enamel yang selanjutnya
melanjutkan invasi bakteri ke pori/ trabekula dentin yang kemudian menyebabkan
pulpitis hingga nekrosis pulpa. Dari Pulpa maka infeksi dapat menyebar ke akar
gigi dan selanjutnya menyebar ke os maksila atau mandibula, menyebabkan
osteomyelitis. Kerusakan ini dapat menyebabkan perforasi sehingga melibatkan
pula mukosa mulut maupun kulit wajah (Peterson LJ. Odontogenic infections)
Infeksi odontogenik umumnya melewati tiga tahap sebelum mereka menjalani
resolusi: (putri amelia 2017 fokal infeksi)
1. selama 1-3 hari : pembengkakan lunak, ringan, lembut, dan adonannya
konsisten
2. antara 5-7 hari : tengahnya mulai melunak dan abses merusak kulit atau
mukosa sehingga membuatnya dapat di tekan. Pus mungkin dapat dilihat
lewat lapisan epitel, membuatnya berfluktuasi
3. akhirnya abses pecah, mungkin secara spontan atau setelah pembedahan
secara drainase, selama fase pemecahan, region yang terlibat kokoh/tegas saat
dipalpasi disebabkan oleh proses pemisahan jaringan dan jaringan bakteri
E. PENCEGAHAN
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan perawatan gigi dan mulut yang
teratur dan dimulai sejak dini.Apabila saat masih berusia muda kurang menjaga
kebersihan gigi dan mulut maka seiring bertambahnya usia akan lebih rentan
mengalami infeksi gigi yang dapat menyebakan timbulnya abses. Selain itu, dapat
diberikan edukasi dan motivasi mengenai cara menjaga kebersihan rongga mulut
guna mencegah kebutuhan akan tindakan yang lebih agresif atau mencegah
terjadinya komplikasi (Nawaz, K.K., 2016. Management of Facial Space Infection
in a 9-Year-Old Child - A Case Report. International Journal of Clinical Oral and
Maxillofacial Surgery, 2(1), 1-4.)

Tindakan pemberian edukasi dan motivasi tidak hanya diberikan kepada pasien,
namun perlu melibatkan pihak keluarga agar tidak hanya pasien melainkan pihak
keluarga pun sadar akan kebersihan gigi dan mulut. Peran dokter gigi untuk
mencegah penyebaran infeksi sangat penting. Dalam masyarakat kita, perhatian
lebih harus diberikan pada kebersihan gigi terutama pada kelompok sosial
ekonomi menengah dan rendah (Kataria, G., Saxena, A., Bhagat, S., Singh, B.,
Goyal, I., Vijayvergia, S., Sachdeva P., 2015. Prevalence of odontogenic deep
neck space infections (DNSI): a retrospective analysis of 76 cases of DNSI.
International Journal of Otorhinolaryngology and Head and Neck Surgery, 1(1),
11-16.)

M4 INFEKSI NON ODONTOGEN


A. DEFINISI
Merupakan infeksi yang bukan berasal dari gigi tersebut.
B. JENIS (infeksi odontogen dan non odontogen oleh adiska arisanty fkg univ sam
ratulangi manado 2011)
a. osteomilitis
keadaan infeksi akut /kronik pada tulang rahang, biasanya disebabkan oleh bakteri
dan terkadang jamur
gejalanya :
1. sakit gigi dan terjadi pembengkakan disekitar pipi dan akhirnya bersifat kronik
membentuk fistel
2. Kelelahan dan nyeri pada sendi/ edema
b. candidiasis
gejala :
plak putih dan rapuh yang melekat di lidah, mukosa gigi, gingival, dan palatum dengan
eritema dibawahnya.
c. actynomikosis
menyebabkan abses di beberapa tempat
gejala :
- Disebut juga lumpy jaw, Dimulai dengan pembengkakan kecil , datar dank eras di
dalam mulut, kulit leher/bawah rahang. Menimbulkan nyeri
- Terbentuk daerah lunak yang menghasilkan cairan yang mengandung butiran
belerang bulat dan kecil berwarna kekuningan
C. PENYEBAB
a. osteomilitis
Penyebabnya :
- Penyakit periodontal seperti gingivitis, pyorrhea/periodontitis, serta sariawan
- Gangren radiks
- Trauma patah tulang
b. Candidiasis
Penyebab :
- Terjadi di lingkungan abnormal tergantung pada kelembapan/panas
- Antibiotik sistemik
c. actynomikosis
Penyebab :
Bakter i Achynomyces israelli
D. MEKANISME
Presentasi klinis nyeri non-odontogenik bervariasi dan dapat meniru gangguan
nyeri lainnya yang mungkin tidak berasal dari daerah orofasial. Tingkat nyeri
dapat bervariasi dari rasa sakit yang sangat ringan dan intermiten hingga berat,
tajam, dan berkesinambungan. Selain itu, rasa sakit yang dirasakan di gigi tidak
selalu berasal dari struktur gigi, sehingga sangat penting untuk membedakan
antara situs dan sumber nyeri untuk memberikan diagnosis yang benar dan
perawatan yang tepat. Situs nyeri adalah tempat rasa sakit yang dirasakan oleh
pasien, sedangkan sumber rasa sakit adalah struktur dari mana rasa sakit
sebenarnya berasal. Dalam sakit primer, situs dan sumber rasa sakit yang
kebetulan dan di lokasi yang sama. Artinya, nyeri terjadi di mana kerusakan
struktur telah terjadi (prevelensi infeksi oromaksilofasial yang disebabkan oleh
infeksi odontogenik di RS Ibnu Sina pada tahun 2011-2015 oleh ainun ramadhany
natsir univ hasanuddin Makassar 2015)
E. PENCEGAHAN
Mencegah atau membatasi penularan infeksi di sarana pelayanan kesehatan
memerlukan penerapan prosedur dan protokol yang disebut sebagai
"pengendalian". Secara hirarkis hal ini telah ditata sesuai dengan efektivitas
pencegahan dan pengendalian infeksi (Infection Prevention and Control– IPC),
yang meliputi: pengendalian bersifat administratif, pengendalian dan 10 rekayasa
lingkungan, dan alat pelindung diri (DA Hayati 2016 pencegahan dan
pengendalian infeksi (PPI) univ muhammadiyah yogya)

M4 KONTROL INFEKSI DAN REGULASI


Tujuan utama kontrol infeksi adalah untuk menghilangkan atau mengurangi penyebaran
infeksi dari semua jenis mikroorganisme. Merupakan kewajiban operator untuk
melakukan kontrol infeksi yang efektif untuk melindungi pasien lain dan seluruh anggota
dental team. (putri Amelia 2017)

Ada dua faktor yang penting dalam control infeksi :

o Mencegah penyebaran mikroorganisme dari hostnya.


o Membunuh atau menghilangkan mikroorganisme dari objek dan


permukaannya.

Jalur penyebaran infeksi :

o Patient to Dental Health Care Worker.
Penyebaran dapat melalui kontak langsung


pada luka di kulit atau kontak langsung dengan membrane mukosa tenaga kesehatan.
Dapat juga melalui kontak tidak langsung melalui instrumen tajan dan jarum spuit.

o Dental Health Care Worker to Patient.
Penyebaran dapat melalui kontak langsung


pada luka di kulit atau kontak langsung dengan membrane mukosa tenaga kesehatan.
Dapat juga melalui kontak tidak langsung melalui instrumen tajan dan jarum spuit.

o Patient to Patient.
Penyebaran terjadi melalui penggunaan instrumen yang


terkontaminasi dan nondisposable.

o Dental Office to Community: Penyebaran terjadi ketika cetakan terkontaminasi atau


alat terkontaminasi lain mengkontaminasi teknisi laboratorium dental.

o Community to Patient: Penyebaran melibatkan masuknya mikroorganisme ke suplai air


dental unit. Mikroorganisme ini berkoloni di dalam air dan karenanya membentuk
biofilm yang bertanggung jawab untuk menyebabkan infeksi.

Terdapat beberapa strategi yang harus diikuti untuk mengurangi risiko infeksi dan
penyebarannya dikarenakan patogen pada darah seperti HBV dan HIV. Prosedur control
infeksi yang harus diikuti dan dilakukan pada semua pasien itu yang dinamakan
“Universal Precaution”, meliputi :

§ Imunisasi. Semua anggota dental team harus divaksin hepatitis B.

§ Gunakan barrier perlindungan, seperti gaun bedah, masker, kaca mata, sarung tangan,
dll.


§ Menjaga kebersihan tangan.