Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN BBLR DI

PERINATALOGI RSUD SANJIWANI


GIANYAR

Oleh :

Ni Putu Regina Padma Kaputra

16C11778

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bali

Tahun Ajaran 2018


LAPORAN PENDAHULUAN BBLR (BERAT BAYI LAHIR RENDAH)
DI PERINATALOGI RSUD SANJIWANI GIANYAR

1. Definisi
BBLR merupakan bayi berat lahir rendah dengan berat kelahiran
di bawah normal yaitu kurang dari 2500 gram tanpa memandang massa
kehamilan yang terjadi akibat dari prematuritas (persalinan kurang
bulan atau premature) atau persalinan dengan bayi kecil masa kehamilan
(Proverawati, dkk, 2010 dalam Suci, 2017).
BBLR dapat terjadi pada bayi kurang bulan (<37 minggu)atau
pada bayi cukup bulan (intrauterine growth restriction) (Pudjiadi, dkk,
2010 dalam Yulia, 2015).
Bayi yang dilahirkan dengan BBLR umumnya kurang mampu
meredam tekanan lingkungan yang baru sehingga dapat mengakibatkan
pada terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan, bahkan dapat
mengganggu kelangsungan hidupnya (Prawirohardjo, 2006 dalam
Yulia, 2015).
Ada 2 macam BBLR yaitu :
a. Prematuritas murni/ bayi yang kurang bulan : bayi yang
dilahirkan dengan umur kurang dari 37 minggu dengan berat
badan sesuai.
b. Dismaturitas : Bayi lahir dengan berat badan kurang dari
seharusnya untuk masa gestasi itu, bayi mengalami retardasi
pertumbuhan intra uterin dan merupakan bayi yang kecil untuk
masa kehamilannya tersebut (Aditya, 2015).
2. Etiologi
Penyebab etiologi BBLR biasanya adalah kelahiran premature.
Menurut Proverawati dan Ismawati (2010) dalam Suci (2017) terdapat
beberapa faktor yaitu ibu, penyakit ibu, keadaan sosial ekonomi, faktor
janin meliputi : kelainan kromosom, infeksi janin kronik (inklusi
sitomegali, rubela bawaan), gawat janin dan kehamilan kembar, faktor
plasenta disebabkan oleh : hidramnion, plasenta previa, solutio plasenta,
sindrom tranfusi bayi kembar (sindrom parabiotik), ketuban pecah dini,
faktor lingkungan yang berpengaruh antara lain : tempat tinggal dataran
tinggi, terkena radiasi, serta terpapar zat beracun.
3. Patofisiologi
Patofisiologi yang dapat terjadi pada bayi BBLR adalah resiko
gizinya tinggi hal ini dikarenakan bayi yang lahir dengan BBLR dan
premature memiliki simpanan cadangan lemak yang sedikit, karena
cadangan makanan yang dapat disimpan oleh bayi sedikit, jadi bayi
memiliki potensi terhadap peningkatan hipoglikemi, anemi dan lain-
lain. Sehingga jika bayi terkena hipoglikemi dapat menyebabkan bayi
kejang.
BBLR memiliki kemampuan yang kurang dalam mencerna
makanan karena garam empedu yang disimpan untuk mencerna
makanan lebih sedikit sehingga tidak bisa mengabsorpsi lemak. BBLR
berpotensi untuk kehilangan panas akibat luas permukaan tubuh yang
tidak sebanding dengan jaringan lemak yang ada di bawah kulit,
sehingga jika bayi kehilangan panas maka kalori yang dikeluarkan oleh
bayi menjadi meningkat (Yulia, 2015).
4. Manifestasi Klinis

Menurut Jumiarni (2006) dalam Yulia (2015) adapun


manifestasi klinis dari BBLR adalah sebagai berikut:

a. Preterm : sama dengan bayi prematuritas murni


b. Term dan Posterm :
1. Kulit berselubung verniks kaseosa tipis atau tidak ada
2. Kulit pucat atau bernoda mekonium, kering keriput tipis
3. Jaringan lemak dibawah kulit tipis
4. Bayi tampak gelisah, kuat dan aktif
Tanda dan gejala bayi premature menurut Surasmi (2005) dalam Yulia
(2015) adalah :

1. Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu


2. Berat badan sama dengan atau kurang dari 2.500 gr
3. Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm
4. Lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm
5. Lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm
6. Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang
7. Alat kelamin :
- Pada bayi lai-laki pigmentasi dan rugae pada skrotum kurang,
testis belum turun ke dalam skrotum.
- Pada bayi perempuan klitoris menonjol dan labia minora tertutup
dengan labia mayora.
8. Tonus otot lemah sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannya
lemah
9. Fungsi syaraf yang belum atau kurang matang, mengakibatkan
refleks hisap, menelan dan batuk masih lemah atau tidak efektif dan
tangisannya lemah.
5. Penatalaksanaan
a. Penanganan bayi
Semakin kecil bayi dan semakin premature bayi, maka semakin
besar perawatan yang diperlukan, karena kemungkinan terjadi
serangan sianosis lebih besar. Semua perawatan bati harus dilakukan
di dalam inkubator.
b. Pelestarian suhu tubuh
BBLR mempunyai kesulitan dalam mempertahankan suhu
tubuh. Suhu perawatan harus diatas 25 0 C, bagi bayi yang berat
sekitar 2000 gram, dan sampai 300 C untuk bayi dengan berat
kurang dari 2000 gram. Untuk mencegah hipotermi, diperlukan
lingkungan yang cukup hangat dan istirahat konsumsi O2 yang
cukup. Bila dirawat dalam inkubator maka suhunya untuk bayi
dengan BB 2 kg adalah 35°C dan untuk bayi dengan BB 2 – 2,5 kg
adalah 34°C. Bila tidak ada inkubator, pemanasan dapat dilakukan
dengan membungkus bayi dan meletakkan botol-botol hangat yang
telah dibungkus dengan handuk atau lampu petromak di dekat tidur
bayi. Bayi dalam inkubator hanya dipakaikan popok untuk
memudahkan pengawasan mengenai keadaan umum, warna kulit,
pernafasan, kejang dan sebagainya sehingga penyakit dapat dikenali
sedini mungkin.
c. Inkubator
Bayi dengan berat badan lahir rendah, dirawat didalam
incubator. Sebelum memasukkan bayi kedalam incubator, incubator
terlebih dahulu dihangatkan, sampai sekitar 29,4⁰ C, untuk bayi
dengan berat 1,7 kg dan 32,2⁰C untuk bayi yang lebih kecil. Bayi
dirawat dalam keadaan telanjang, hal ini memungkinkan pernafasan
yang adekuat, bayi dapat bergerak tanpa dibatasi pakaian, observasi
terhadap pernafasan lebih mudah.
d. Pemberian Oksigen
Ekspansi paru yang buruk merupakan masalah serius bagi bayi
preterm BBLR, akibat tidak adanya alveoli dan surfaktan.
Konsentrasi O2 yang diberikan sekitar 30- 35 % dengan
menggunakan head box, konsentrasi O2 yang tinggi dalam masa
yang panjang akan menyebabkan kerusakan pada jaringan retina
bayi yang dapat menimbulkan kebutaan.
e. Pencegahan Infeksi
Bayi prematur mudah terserang infeksi. Hal ini disebabkan
karena daya tubuh bayi terhadap infeksi kurang antibodi relatif
belum terbentuk dan daya fagositosis serta reaksi terhadap
peradangan belum baik. Untuk mencegah infeksi, perawat harus
menggunakan gaun khusus, cuci tangan sebelum dan sesudah
merawat bayi, memakai masker, gunakan gaun/jas, lepaskan semua
asessoris dan tidak boleh masuk kekamar bayi dalam keadaan
infeksi dan sakit kulit.
Prosedur pencegahan infeksi adalah sebagai berikut:
1. Mencuci tangan sampai ke siku dengan sabun dan air mengalir
selama 2 menit sebelum masuk ke ruang rawat bayi.
2. Mencuci tangan dengan zat anti septic/ sabun sebelum dan
sesudah memegang seorang bayi.
3. Mengurangi kontaminasi pada makanan bayi dan semua benda
yang berhubungan dengan bayi.
4. Membatasi jumlah bayi dalam satu ruangan.
5. Melarang petugas yang menderita infeksi masuk ke ruang rawat
bayi.
f. Pemberian makanan
Pemberian makanan secara dini dianjurkan untuk membantu
mencegah terjadinya hipoglikemia dan hiperbillirubin. ASI
merupakan pilihan pertama, dapat diberikan melalui kateter ( sonde
), terutama pada bayi yang reflek hisap dan menelannya lemah. Bayi
berat lahir rendah secara relative memerlukan lebih banyak kalori,
dibandingkan dengan bayi preterm. Prinsip utama pemberian
makanan pada bayi prematur adalah sedikit demi sedikit. Secara
perlahan-lahan dan hati-hati. Pemberian makanan dini berupa
glukosa, ASI atau PASI atau mengurangi resiko hipoglikemia,
dehidrasi atau hiperbilirubinia.
Bayi yang daya isapnya baik dan tanpa sakit berat dapat dicoba
minum melalui mulut. Umumnya bayi dengan berat kurang dari
1500 gram memerlukan minum pertama dengan pipa lambung
karena belum adanya koordinasi antara gerakan menghisap dengan
menelan. Dianjurkan untuk minum pertama sebanyak 1 ml larutan
glukosa 5 % yang steril untuk bayi dengan berat kurang dari 1000
gram, 2 – 4 ml untuk bayi dengan berat antara 1000-1500 gram dan
5-10 ml untuk bayi dengan berat lebih dari 1500 gram. Apabila
dengan pemberian makanan pertama bayi tidak mengalami
kesukaran, pemberian ASI/PASI dapat dilanjutkan dalam waktu 12-
48 jam (Aditya, 2015).
6. Pemeriksaan penunjang
Menurut Pantiawati (2010) dalam Yulia (2015) pemeriksaan penunjang
yang dapat dilakukan antara lain :
a. Pemeriksaan skor ballard merupakan penilaian yang
menggambarkan reflek dan maturitas fisik untuk menilai reflek pada
bayi tersebut untuk mengetahui apakah bayi itu prematuritas atau
maturitas.
b. Tes kocok (shake test) dianjurkan untuk bayi kurang bulan
merupakan tes pada ibu yang melahirkan bayi dengan berat kurang
yang lupa kapan haid terakhirnya.
c. Darah rutin, glukosa darah, kalau perlu dan tersedia fasilitas
diperiksa kadar elektrolit dan analisa gas darah.
d. Foto dada ataupun babygram merupakan foto rontgen untuk melihat
bayi lahir tersebut diperlukan pada bayi lahir dengan umur
kehamilan kurang bulan dimulai pada umur 8 jam atau dapat atau
diperkirakan akan terjadi sindrom gawat nafas (Yulia, 2015).
Asuhan Keperawatan Teoritis

1. Pengkajian
a. Riwayat Maternal
1. Umur ibu dalam resiko kehamilan (<16 tahun atau >35 tahun)
2. Kehamilan ganda
3. Status ekonomi rendah dan malnutrisi
4. Adanya riwayat kelahiran premature sebelumnya
5. Infeksi : penyakit kelamin
6. Kondisi kehamilan : toksemia gravidarum, plasenta previa, dll.
7. Penggunaan narkoba, alkohol dan rokok
b. Riwayat Kelahiran
1. Gestasi : 24-37 minggu
2. BB < 2500 gram
3. APGAR SKORE
TANDA NILAI : O NILAI : 1 NILAI : 2
Appearance Pucat /biru Tubuh merah, Seluruh tubuh
(Warna Kulit) seluruh ekstremitas kemerahan
tubuh biru
Pulse (denyut Tidak ada <100 >100
jantung)
Grimace (tonus Tidak ada Ekstremitas Gerakan aktif
otot) sedikit fleksi
Activity Tidak ada Sedikit gerak Langsung
(aktifitas) mennagis
Respiratori Tidak ada Lemah atau Menangis
(pernapasan) tidak teratur
Apabila nilai APGAR :
7-10 : bayi mengalami asfiksia ringan atau bayi dalam keadaan
normal
4-6 : bayi mengalami asfiksia sedang
0-3 : bayi mengalami asfiksia berat
Apabila ditemukan apgar skor bayi di bawah 6 bayi
membutuhkan tindakan resusitasi (Sari , 2011 dalam Maulidha,
2017).
c. Sistem Kardiovaskuler
1. HR : 120-160 x/menit
2. Saat lahir mungkin terdapat murmur, indikasi adanya shunt ke
kiri dan tekanan paru yang masih tinggi atau adanya atelektasis.
d. Sistem Gastrointestinal
1. Abdomen menonjol
2. Pengeluaran mekonium : 12-24 jam
3. Refleks hisap lemah, koordinasi menghisap dan menelan lemah.
4. Anus : paten, jika tidak pertanda kelainan kongenital
5. Berat badan kurang 2500
e. Sistem Integumen
1. Kulit : pucat, sianosis, ikterik, kutis marmorata atau kemerahan
2. Kulit tipis, transparan, halus dan licin
3. Terdapat edema umum atau lokal
4. Kuku pendek
5. Rambut sedikit dan halus
6. Garis tangan sedikit dan halus
f. Sistem Muskuloskeletal
1. Tulang rawan telinga (cartilago ear) belum berkembang, telinga
halus dan lunak
2. Tulang kepala dan tulang rusuk lunak
3. Reflek kurang dan letargi
g. Neurosensori
Refleks tergantung pada usia gestasi ; rooting terjadi dengan
baik pada gestasi minggu 32; koordinasi refleks untuk menghisap,
menelan, dan bernafas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke
32; komponen pertama dari refleks Moro (ekstensi lateral dari
ekstremitas atas dengan membuka tangan) tampak pada gestasi
minggu ke 28; komponen keduaa (fleksi anterior dan menangis yang
dapat didengar) tampak pada gestasi minggu ke 32. Pemeriksaan
Dubowitz menandakan usia gestasi antara minggu 24 dan 37.
h. Pernapasan
Skor apgar mungkin rendah. Pernafasan mungkin dangkal, tidak
teratur; pernafasan diafragmatik intermiten atau periodik(40-
60x/mt). Mengorok, pernafasan cuping hidung, retraksi suprasternal
dan substernal, atau berbagai derajat sianosis mungkin ada.
i. Seksualitas
Genetalia : Labia minora wanita mungkin lebih besar dari labia
mayora, dengan klitoris menonjol ; testis pria mungkin tidak turun,
rugae mungkin banyak atau tidak ada pada skrotum.
2. Diagnosa Yang Mungkin Muncul
a. Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan imaturitas pusat
pernafasan, keterbatasan perkembangan otot, penurunan
energi/kelelahan, ketidak seimbangan metabolik.
b. Risiko ketidakseimbangan temperatur tubuh berhubungan dengan
BBLR, usia kehamilan kurang, paparan lingkungan dingin/panas.
c. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan immaturitas organ tubuh.
d. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan usia
dan berat badan extreme (premature, dibawah 2.500 grm).
e. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan
dengan kapiler rapuh dekat permukaan kulit.
f. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan respon imun imatur.
3. Perencanaan
a. Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan maturitas pusat
pernafasan, keterbatasan perkembangan otot, penurunan energi/kelelahan,
ketidakseimbangan metabolik.
Tujuan : Menjaga dan memaksimalkan fungsi paru.
INTERVENSI RASIONAL
Kumpulkan data yang berkaitan Riwayat ibu atas penggunaan
dengan kegawatan nafas obat atau kondisi tidak normal
selama kehamilan dan proses
persalinan
Waspada episode apnea yang Deteksi dini dalam menentukan
berlangsung lebih dari 20 detik tindakan selanjutnya.
Memberi bantuan pernapasan Membantu mencukupi supplai
Seperti oksigen oksigen
Pantau kajian gas darah untuk Deteksi dini untuk mencegah
mengetahui asidosis pernapasan hipoksia
metabolik

b. Risiko ketidakseimbangan temperatur tubuh b/d BBLR, usia


kehamilan kurang, paparan lingkungan dingin/panas.
Tujuan : tidak terjadi hipotermia/hypertermia
INTERVENSI RASIONAL
Monitor suhu minimal tiap 2 jam Untuk memonitor suhu
Jaga temperature ruang Ruangan yang terlalu panas
perawatan 25⁰C menyebabkan perpindahan panas
Ukur suhu rektal terlebih dahulu, Deteksi dini dalam menentukan
kemudian suhu aksila setiap 2 tindakan selanjutnya
jam atau setiap kali diperlukan
Lakukan prosedur penghangatan Mencegah pengeluaran suhu
setelah bayi lahir lewat evaporasi
Ganti pakaian atau linen tempat Menurunkan kehilangan panas
tidur bila basah, pertahankan melalui evaporasi
kepala bayi tetap tertutup
c. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan immaturitas organ tubuh.
Tujuan : Meningkatkan dan menjaga asupan kalori dan statusnya
gizi bayi
INTERVENSI RASIONAL
Awasi reflek menghisap bayi Kemampuan menghisap dan
dan kemampuan menelan menelan yang lemah dapat
menyebabkan kebutuhan nutrisi
tidak terpenuhi
Awasi dan hitung kebutuhan Mengetahui kebutuhan kalori
kalori bayi yang dibutuhkan bayi
Kebutuhan ASI 60/kg BB/24 ASI mnegandung zat gizi yang
jam dengan kenaikan 30 cc/hari, diperlukan tubuh
dipertahankan pada hari ke-7
sampai 1 bulan
Timbang bayi setiap hari, Mengetahui perkembangan dan
bandingkan berat badan dengan kemungkinan terjadinya
asupan kalori yang diberikan penurunan BB yang pathologis

d. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan usia


dan berat badan extreme (premature, dibawah 2.500 gram).
INTERVENSI RASIONAL
Timbang berat badan setiap hari Berat badan adalah indikator
paling sensitive dari
keseimbangan cairan
Bandingkan masukkan keluaran Berat badan adalah indikator
cairan setiap sip dan paling sensitive dari
keseimbangan kumulatif setiap keseimbangan cairan
periode 24 jam
Evaluasi turgor kulit, membran Cadangan cairan dibatasi pada
mukosa, keadaan fontanel bayi praterm
anterior
Berikan ASI/PASI tiap 2 jam Pemberian ASI/PASI tiap 2 jam
sebanyak 35 cc lewat sonde dapat memenuhi kebutuhan
cairan dalam tubuh bayi
Pantau pemeriksaan Dehidrasi meningkatkan kadar
laboratorium sesuai indikasi diatas niali normal (45-53%)

e. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan


dengan kapiler rapuh dekat permukaan kulit.
Tujuan : tidak terjadi infeksi
INTERVENSI RASIONAL
Inspeksi kulit, perhatikan area Mengidentifikasi area potensial
kemerahan atau tekanan kerusakan dermal yang dapat
mengakibatkan sepsis
Berikan perawatan mulut Membantu mencegah kekeringan
dengan menggunakan gliserin dan pecah pada bibir berkenaan
dengan tidak adanya masukan
oral
Berikan latihan rentan gerak, Membantu mencegah
perubahan posisi rutin dan kemungkinan nekrosis
bantal yang terbuat dari bahan berhubungan dengan edema
yang lembut dermis
Memandikan bayi dengan Mandi sering menggunakan sabun
menggunakan air hangat dan atau pelembab dapat
sabun menggunakan ph kulit,
menurunkan flora normal dan
pertahanan/melindungi pathogen
infasif
Berikan salep antibiotik pada Meningkatkan pemulihan pecah-
hidung, mulut dan bibir bila pecah iritasi dan dapat membantu
pecah/teriritasi mencegah infeksi

f. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan respon imun imatur.


Tujuan :selama perawatan tidak terjadi komplikasi/infeksi
Hasil yang diharapkan :tidak ada tanda tanda infeksi.
INTERVENSI RASIONAL
Tingkatkan cara mencuci tangan Mencuci tangan adalah praktik
yang paling penting untuk
mencegah kontaminasi silang
serta mengontrol infeksi dalam
ruang perawatan
Kaji bayi terhadap tanda-tanda Bermanfaat dalam mendiagnosis
infeksi seperti ketidakstabilan infeksi
suhu (Hipotermia dan
Hipertemia), letargi atau
perubahan perilaku distres
pernapasan
Lakukan perawatan tali pusat Penggunaan bethadine dan
sesuai dengan protokol Rumah berbagai anti mikroba yang
Sakit membantu mencegah klonisasi
Gunakan teknik aseptik selama Menurunkan kesempatan untuk
penghisapan, pemasangan NGT masuknya bakteri yang dapat
dll mengakibatkan infeksi
pernafasan
Gunakan antiseptik sebelum Mencegah terjadinya infeksi
membantu dalam prosedur invasi nosokomial dari prosedur invasi
Pantau pemeriksaan Sepsis menyebabkan jumlah
laboratorium sesuai indikasi : trombosit menurun tetapi pada
jumlah trombosit bayi pra term rentan trombosit
normal mungkin hanya 60.000

(Aditya, 2015).
4. Pelaksanaan
Pelaksanaan dilakukan sesuai dengan perencanaan yang sudah di
rencanakan.
5. Evaluasi
Hasil evaluasi dari penatalaksanaan adalah tercapainya tujuan yang telah
ditetapkan.
DAFTAR PUSTAKA

Amalia, Suci.2017. Asuhan Keperawatan Klien yang Mengalami BBLR Dengan


Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh di RSUD Dr. Soedirman
Kebumen.
dalam:http://elib.stikesmuhgombong.ac.id/647/1/SUCI%20AMAL
IA%20NIM.%20A01401978.pdf. Diakses pada tanggal 17
Desember 2018.

Azizah, Maulidha Faiq. 2017. Ballad score.dalam :


https://docuri.com/download/ballard-
score_59c1ec81f581710b286e55c8_pdf . Diakses pada tanggal 21
Desember 2018.

Nugarah, Aditya Dwi. 2015. Laporan Pendahuluan BBLR. Surakarta. dalam


:file:///C:/Users/user/Downloads/nanopdf.com_bblr-distrodoc.pdf.
Diakses pada tanggal 17 Desember 2018.

Wardah.2015. Laporan Pendahuluan (LP) Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)


di Ruang Perinatologi RSUD Kota Semarang. dalam
https://www.academia.edu/17021064/LAPORAN_PENDAHULU
AN_LP_BERAT_BADAN_LAHIR_RENDAH_BBLR_. Diakses
pada tanggal 17 Desember 2018.
Denpasar, Desember 2018

Lembar Pengesahan

Mengetahui CI Ruangan Mahasiswa

( ) ( )

Mengetahui Pembimbing Akademik

( )