Anda di halaman 1dari 3

Perawatan NUP

Perawatan NUP dilakukan secara bertahap. Pada sesi pertama, pereda nyeri simtomatik dicapai
dengan irigasi dengan 10% povidone-iodine, atau 2% natrium iodida dicampur dalam proporsi
yang sama dengan volume air teroksigenasi. Zat ini memiliki aktivitas antimikroba dan segera
mengurangi ketidaknyamanan. Instruksi kebersihan mulut bersama dengan analgesik seperti
parasetamol 500mg setiap 4 jam dan obat antiinflamasi seperti ibuprofen 400-600mg setiap 8
jam, dapat diberikan untuk meredakan demam, nekrosis, paparan tulang, atau nyeri hebat10.
Antibiotik pilihan adalah metronidazole 500 mg setiap 12 jam atau 250 mg setiap 6 jam, selama
7 hari. Mencuci mulut dengan 0,12% chlorhexidine gluconate setiap 8 jam juga harus
direkomendasikan untuk mencegah dan mengontrol pembentukan plak. Tahap kedua meliputi
debridemen mekanik untuk menghilangkan kalkulus dan jaringan nekrotik6. Tahap ketiga terdiri
dari pemeliharaan dan tindak lanjut. Tindak lanjut dilakukan pada awalnya setiap bulan, yang
dapat ditunda setiap tiga bulan setelah stabilisasi kondisi periodontal.
Selain terapi di atas terdapat juga metode lain yang dapat digunakan yaitu laser, laser digunakan
dalam kedokteran gigi sebagai tambahan terapi baru untuk mendapatkan hasil yang lebih baik,
perawatan yang lebih baik, dan akibatnya penyembuhan lebih cepat dari jaringan yang terluka.
Terapi laser tingkat rendah telah terbukti efisien dalam kicatriisasi, mengurangi kondisi inflamasi
dan mempercepat perbaikan jaringan. Laser dapat bermanfaat pada pengurangan rasa sakit yang
parah dan tidak terkendali dengan efek analgesik dan anti-inflamasi. Efek penyembuhan laser
mungkin didasarkan pada peningkatan sirkulasi mikro lokal dan stimulasi proliferasi fibroblast,
menghasilkan produksi serat kolagen yang lebih terorganisir, meningkatkan jaringan granulasi,
dan mempromosikan penyembuhan epitel yang bersamaan dan cepat (Syed, 2014).
Syed, W. P., Ramalingam, K., Syed, A. P., & Elsadek, Y. E. (2014) Necrotizing Ulcerative
Periodontitis in a HIV Seronegative Patient – A Case Report. Case Reports in Odontology. 1(1),
05-09

Diagnosa Banding
Diagnosis banding NUP dapat mencakup gingivostomatitis herpetik akut, gingivitis deskuamatif,
Agranulositosis, Leukemia, Noma & stomatitis Nekrotikans (Syed, 2014).

1. Gingivostomatitis Herpetika Primer adalah infeksi yang ditandai dengan timbulnya luka
yang disertai rasa nyeri pada bibir atau bagian lain dari mulut di sebabkan oleh Herpes
Simplex Virus tipe I ( HSV tipe I)
2. Gingivitis deskuamatif (DG) ditandai dengan gingiva eritematosa, deskuamasi, dan erosi
epitel gingiva, dan pembentukan lepuh. Manifestasi klinis umum pada beberapa penyakit.
Kontak reaksi alergi terhadap berbagai kebersihan mulut produk dan agen kimia juga
telah dilaporkan untuk mewakili sebagai DG
3. Agranulositosis atau yang lebih dikenal granulocytopenia atau granulopenia merupakan
kondisi akut dari leukopenia, lebih umum terjadi pada neutrofilsehingga
dinamakan neutropenia. Sel darah putih dapat berkurang akibat infeksi dari patogen
khususnya mikroorganisme. Akibatnya tubuh menjadi lebih rentan terhadap infeksi
sekunder.

Faktor Predisposisi
Faktor yang dapat mempengaruhi tingkat keparahan dari kondisi tersebut adalah (Brooks, 2002)
(Syed, 2014) (Carranza, 2006):
1. Host response pasien, yang dimana akan menunjukan ketidaknormalan kondisi tubuh
penderita dalam menghadapi suatu infeksi yang biasanya dapat ditandai dari menurunnya
PMN dan pengaruh dari mononuclear sitokin sel, kurang sel CD4+ akibat kurangnya
penanganan kesehatan gigi
2. Bad Habite adalah kondisi dimana keparahan pasien disebabkan oleh perilaku penderita
yang buruk dan tidak memerhatikan tubuhnya seperti: merokok berat, kurang tidur,
penggunaan alcohol ataupun obat-obatan
3. Peningkatan level stres, dimana kondisi ini dipicu oleh lingkungan social disekitar pasien
yang kurang baik
4. Flora normal rongga mulut yang meningkat dan besifat pathogen
5. Malnutrisi

Brooks GF, Butel JS, Morse SA. Medical microbiology. Lange medical book, 2002: 516-529.
Carranza FA, Newman MG, Takei HH, Klokkevold PR. Carranza’s Clinical Periodontology. 10th
ed. Missouri: Saunders Elsevier, 2006: 46-92,100-69,721-47.

Komplikasi
1. infeksi oportunistik adalah infeksi serius yang terjadi pada sistem kekebalan tubuh yang
lemah, seperti pada penderita HIV. Sebaliknya, infeksi ini tidak menimbulkan masalah
pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat. Biasanya infeksi oportunistik baru
menyerang penderita HIV ketika sudah menjadi HIV/AIDS atau sel CD4 di bawah 200.
Hampir semua penyakit infeksi dapat menjadi infeksi oportunistik,
seperti candidiasis, Cryptococcus neoformans, Herpes simplex, Toxoplasmosis, dan
lainnya.

2. Penderita HIV/AIDS yang mengalami kerusakan pada jaringan periodontalnya juga


rentan menjadi kanker, terutama kanker Non-Hodgkin’s lymphoma (NHL) dan Kaposi’s
sarkoma (KS). NHL adalah kanker sel darah putih limfosit yang dimulai pada sistem
kelenjar getah bening. Sehingga sel kanker mudah menyebar ke organ lain seperti hati,
tulang, otak, perut, dan lainnya. Pasien HIV yang memiliki jumlah CD4 tinggi dan belum
menjadi AIDS juga dapat menderita kanker NHL. KS adalah kanker dengan pembuluh
darah kecil baru tumbuh di bawah kulit dan dalam membran mulut, hidung, mata dan
anus. Kanker ini dapat menyebar hingga ke paru-paru, hati, perut, usus, dan kelenjar
getah bening.

(Murtiastutik, 2008)(Maurer ,2005)

Reynolds, C.P. dan Maurer, B.J., 2005. Evaluating Response to Antineoplastic Drug
Combinations in Tissue Culture Models, dalam: Chemosensitivity. Humana Press, New
Jersey. 173–184.

Murtiastutik D. 2008, HIV & AIDS In : Buku Ajar Infeksi Menular Seksual. Surabaya :
Airlangga University Press,pp. 211-231