Anda di halaman 1dari 21

TOPIK PEMBAHASAN

No. Pembahasan Nomor Klasifikasi Hal.


1. 4.2. Pneumotoraks (No.ICD: S 27.0, J 93, P 25. 1, A 16.2) 55
2. 5.9. Peritonitis Umum ( No.ICD:K 65) 67
3. 11.10. Cidera Kepala Ringan (Commotio Cerebri ) ( No.ICD:S 60.0) 116
4. 11.11. Cidera Kepala Sedang (Focal Brain Injury) (No.ICD: S 06.03) 117
5. 11.14 . Luka Tusuk Dinding Toraks (No.ICD:S 21-29) 121
6. 11.15. Patah Tulang Iga (No.ICD: S 22.3,4) 123
7. 11.16. Flail Chest (No.ICD: S 22.5) 124
8. 11.18. Hematotoraks (No.ICD: S 27.1) 128
9. 11.19. Trauma Tajam Abdomen (No.ICD: S 27.8, S 31, S 36, S 37 130
10. 11.20. Trauma Tumpul Abdomen (No.ICD: S 27.8, S30.0,S 35, S 36, S 37) 134
11. 11.22. Cedera Limpa (No.ICD: S 36. 0) 140
12. 11.23. Cedera Hepar (No.ICD: S 36.1) 141
13. 11.24. Ruptur Buli-Buli (No.ICD: S 37.2) 143
14. 11.38. Trauma Ginjal (No.ICD: S 37.2) 157
15. 11. 39. Luka Bakar (No.ICD: T 20- T 31) 158
1. ICD : S 27. ) J93 P25.1 A16.2
2. Diagnosis : PNEUMOTORAKS
3. Kriteria diagnosis : Secara klinis pneumotoraks merupakan suatu keadaan dimana
terdapat udara didalam rongga pleura dan mengakibatkan paru
menjadi kolaps, hal ini disebabkan oleh trauma atau penyakit.
Tanda dan gejala klinis berupa : sesak nafas, pada inspeksi gerakan
hemitoraks berkurang atau menurun, pada perkusi hipersonor,
pada auskultasi suara nafas berkurang atau menurun, pada foto
polos toraks ada bayangan udara bebas pada hemioraks yang
bersangkutan dan paru tampak kolaps.
Pada keadaan Tension ditandai dengan trachea terdorong kontra
lateral, bendungan vena-vena di leher, CVP meningkat,
hemitoraks yang terkena lebih cembung.
4 Diagnosis banding : -
5. Pemeriksaan penunjang : Laboratorium : DL, BTA sputum
Radiologi : Foto polos toraks
6. Konsultasi : Bila perlu kepda dokter spesialis yang terkait
7. Perawatan RS : Rawat Inap untuk observasi atau tindakan
8. Terapi :
a. Non bedah : Oksigenasi, fisioterapi nafas, obat-obatan
b. Bedah : Jarum kontra ventil atau jarum terbuka dilanjutkan dengan pipa
drainase (WSD) untuk kasus pneumotoraks tension.
Punksi bila paru kolaps minimal < 30 %.
Bila Pneumotoraks terbuka, luka ditutup atau dijahit dan pasang
pipa toraks.
Torakotomi, bila paru yang kolaps persisten atau terdapat fistel
bronkho – pleural.
9. Tempat pelayanan : Minimal rumah sakit kelas – C
Rumah sakit lain yang mempunyai saran pembedahan yang
memadai
10. Penyulit : Empisema subkutis, Pnemonia, Shuting, Atelektasis, Infeksi
11. Informed consent : Perlu
12. Tenaga Standar : Dokter Umum ( pertolongan pertama, pasang WSD)
Dokter Spesialis Paru ( Non Trauma)
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Torak- Kardiovaskular
Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks.
13 Lama Perawatan : Minimal 7 hari
14. Masa Pemulihan : Minimal 2 minggu
15. Hasil : Bisa sembuh atau sembuh dengan kecacatan seperti
Schwartefiborosis paru.
16. Patologi : Perlu untuk diagnosis
17. Otopsi : Kadang-kadang perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak
wajar atau tidak jelas
18. Prognosis : Diharapkan baik untuk dubious atau jelek
19. Tindak lanjut : Evaluasi dan monitoring keadaan klinis
1. ICD : K. 65
2. Diagnosis : PERITONITIS UMUM
Keradangan peritoneum dapat karena kuman (septik) misalnya
pada apendisitis perforata, perforasi usus akibat tipus abdominalis
Sedang peritonitis kimiawi misalnya perforasi lambung
pankreatitis
3. Kriteria diagnosis : Nyeri tekan perut pada seluruh lapangan perut (defance muscular)
Riwayat trauma, riwayat infeksi
Pengukuran temperatur rektal dan temperatur axilar dengan
selisih lebih 1 derajat C
4 Diagnosis banding : Pankreatitis
Peritonis septik
Peritonis kimiawi
5. Pemeriksaan penunjang : DPL, foto polos abdomen berbaring/diafragma
6. Konsultasi : Dokter Spesialis lain yang terkait bila diperlukan
7. Perawatan RS : Rawat inap
8. Terapi : Operasi segera (cito)
Bedah : -
9. Tempat pelayanan : Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan fasilitas pembedahan yang memadai
10. Penyulit : Shock, sepsis, perlekatan usus
11. Informed consent : Perlu
12. Tenaga Standar : Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Digestif
13 Lama Perawatan : Minimal 7 hari
14. Masa Pemulihan : Minimal 2 minggu
15. Hasil : Bisa sembuh
16. Patologi : -
17. Otopsi : Diperlukan, untuk trauma bila pasien meninggal
18. Prognosis : Diharapkan baik untuk dubious atau jelek
19. Tindak lanjut : Evaluasi dan monitoring keadaan klinis
1. ICD : S. 06. 0
2. Diagnosis : CIDERA KEPALA RINGAN
(COMMOTIO CEREBRI)
3. Kriteria diagnosis : Adanya trauma dikepala
Kehilangan kesadaran kuran 15 menit
GCS 14-15
Lateralisasi (-)
4 Diagnosis banding : Cidera Kepala sedang
CVA-TIA
Mabuk
5. Pemeriksaan penunjang : Foto Ro servikal & foto RO kepala AP/ lat, bila diperlukan
6. Konsultasi : Dokter Spesialis lain yang terkait bila diperlukan
7. Perawatan RS : Rawat jalan
Rawat inap bila:
GCS menurun
Muntah, nyeri kepala dan vertigo bertambah berat
8. Terapi : Istirahat ditempat tidur
Observasi fungsi vital & neurologis
Obat simptomatis-supportif
9. Tempat pelayanan : Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan fasilitas pembedahan yang memadai
10. Penyulit : Tidak ada
11. Informed consent : Perlu
12. Tenaga Standar : Dokter Umum
Dokter Spesialis Saraf
Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah Saraf
13 Lama Perawatan : Minimal 2 hari
14. Masa Pemulihan : Minimal 1 minggu
15. Hasil : GCS membaik
16. Patologi : -
17. Otopsi : Kadang-kadang perlu untuk kasus kematian tidak wajar atau tidak
jelas
18. Prognosis : Diharapkan baik
19. Tindak lanjut : Evaluasi dan monitoring keadaan klinis
1. ICD : S. 06. 0
2. Diagnosis : CIDERA KEPALA SEDANG
(FOCAL BRAIN INJURY)
3. Kriteria diagnosis : Adanya trauma dikepala
Kehilangan kesadaran kuran 15 menit
GCS 9-13
Somnolen dan retrograde amnesia (+)
Lateralisasi (-)
4 Diagnosis banding : CVA
Mabuk
Intoksikasi
5. Pemeriksaan penunjang : Foto Ro servikal
Foto RO kepala AP/ lat,
CT scan kepala bila tersedia
6. Konsultasi : Dokter Spesialis lain yang terkait bila diperlukan
7. Perawatan RS : Segera rawat inap untuk observasi dan tindakan
8. Terapi

Non Bedah : Istirahat ditempat tidur


Observasi fungsi vital & neurologis
Pasang collar brace
Obat-obat supportif
Memperbaiki metabolisme otak
Kortikosteroid
Mannitol
Obat simptomatis
Antibiotika profilaksi
Bedah Bila ada tanda peradarahan intra kranial
9. Tempat pelayanan : Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan fasilitas pembedahan yang memadai
10. Penyulit : Edema otak
Herniasi otak
Dekubitus
Pneumonia
Cidera otak sekunder, cacat
11. Informed consent : Hanya bila dilakukan operasi
12. Tenaga Standar : Dokter Spesialis Saraf untuk non bedah saja
Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah Saraf
13 Lama Perawatan : Minimal 7 hari
14. Masa Pemulihan : Minimal 2 minggu
15. Hasil : GCS membaik
16. Patologi : -
17. Otopsi : Kadang-kadang perlu untuk kasus trauma dan kematian tidak
wajar atau tidak jelas
18. Prognosis : Diharapkan baik atau dubious ad bonam
19. Tindak lanjut : Evaluasi dan monitoring keadaan klinis
1. ICD : S. 21 -29
2. Diagnosis : LUKA TUSUK DINDING TORAKS
3. Kriteria diagnosis : Secara klinis luka tusuk dinding toraks berupa luka tembus dinding
toraks dan bisa melukai organ didalam rongga toraks atau rongga
abdomen.
Tanda dan gejala klinis berupa :
Jejas, luka tusuk dinding toraks dan daerah abdomen bagian atas.
Gejala dan tanda lainnya dapat berupa anemia, sesak, sucking
chest wound, jejas atau luka tusuk dinding toraks utama diantara
garis mid klavikularis kanan dan garis axillaris depan kiri dapat
melukai jantung dan pembuluh darah besar.
4 Diagnosis banding : Luka tusuk tembus & luka tusu tumpul
5. Pemeriksaan penunjang : Laboratorium : DL dan EKG untuk keperluan evaluasi klinis dan
persiapan operasi
6. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
7. Perawatan RS : Rawat inap untuk observasi dan tindakan
8. Terapi

a. Non Bedah : Farmakologi : Antibiotik, analgetik, antipiretika


b. Bedah Bila pasien dalam keadaan tidak stabil dan bila ada indikasi, segera
resusitasi cairan dan cardio pulmonal, berikan O2 (tindakan A,B,C).
Pasang pipa toraks WSD, bila perdarahan >800 cc pada saat
pemasangan pipa toraks setelah trauma atau 3-5 cc/Kg.BB. antero
lateral.
Bila ada sucking chest wound atau pneumotoraks terbuka, luka
ditutup dulu dengan bahan kedap udara lalu dipasang pipa
Pada luka tusuk daerah torakoabdominal, dibawah ICS VII, bila
tembus fascial dilakukan torakolaparotomi.
Bila trias Beck positip atau disertai syok berat dan perdarahan
masih dilakukan eksplorasi torakotomi kiri melalui ICS V dan
selanjutnya terapi definitif
9. Tempat pelayanan : Minimal rumah sakit kelas C
R.S. lain yang mempunyai sarana yang memadai
10. Penyulit : Tamponade jantung, Infeksi
Hematopneumotoraks
Pneumotoraks terbuka
Hematopneumotoraks dengan perdarahan intra abdominal.
Pneumotoraks tension
Perlukaan organ intra abdominal, apabila luka tersebut dibawah
ICS VII.
11. Informed consent : Perlu
12. Tenaga Standar : Dokter Umum (pertolongan pertama, pasang pipa toraks WSD)
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks
Dokter Spesialis Bedah (K) Digestif
Dokter Spesialis Bedah (K) Anak (usia<12 tahun)
13 Lama Perawatan : Minimal 4 hari
14. Masa Pemulihan : Minimal 2 minggu
15. Hasil : Bisa sembuh atau sembuh dengan kecacatan atau meninggal
16. Patologi : -
17. Otopsi : Kadang-kadang perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak
wajar atau tidak jelas
18. Prognosis : Diharapkan baik atau dubious atau jelek
19. Tindak lanjut : Evaluasi dan monitoring keadaan klinis
1. ICD : S. 22. 3,4
2. Diagnosis : PATAH TULANG IGA
3. Kriteria diagnosis : Secara klinis patah tulang iga merupakan terputusnya kontinuitas
jaringan tulang iga karena rudapaksa atau penyakit.
Tanda dan gejala klinis berupa: pada inspeksi gerakan dinding
toraks asimetris, deformitas, padapalpasi nyeri tekan, nyeri
sumbu, krepitasi dari fragmen tulang yang patah.
4 Diagnosis banding : Konstusio muskulorum
5. Pemeriksaan penunjang : Laboratorium : pemeriksaan darah dan EKG untuk evaluasi klinis
dan persiapan pembedahan.
6. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
7. Perawatan RS : Bila single, tanpa penyulit tak perlu rawat inap RS
Bila multiple dan atau bila terdapat penyulit perlu rawat inap di RS
untuk observasi dan tindakan.
8. Terapi

a. Non Bedah : Obat-obatan analgetika, anestesia infiltrasi atau blok, perawatan


konsevatif
b. Bedah Fiksasi internal daerah fraktur dengan memakai clip atau miniplate
atau wire dengan bantuan anestesi umum atau anestesi lokal atau
anestesi blok
Syarat faktur tersebut tidak lebih dari 2 (dua) minggu
9. Tempat pelayanan : Minimal rumah sakit kelas C
R.S. lain yang mempunyai sarana pembedahana yang memadai
10. Penyulit : Ruptur pleura parietalis dan empisema kutis
Ruptur jaringan paru. Pneumotoraks
Perdarahan dan hematotoraks atau hemotoraks. Osteomielitis..
11. Informed consent : Perlu
12. Tenaga Standar : Dokter Umum (pertolongan pertama, dan terapi konservatif)
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Toraks – Kardiovaskular.
Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks
13 Lama Perawatan : Minimal 7 hari pasca bedah bila tanpa penyulit
14. Masa Pemulihan : Minimal 2 minggu bila tanpa penyulit
15. Hasil : Bisa sembuh atau sembuh dengan kecacatan
16. Patologi : Khusus untuk fraktur patologis dan osteomielitis
17. Otopsi : Perlu untuk kasus trauma atau kematian tidak wajar atau tidak
jelas
18. Prognosis : Diharapkan baik atau dubious atau jelek
19. Tindak lanjut : Evaluasi dan monitoring keadaan klinis
1. ICD : S. 22.5
2. Diagnosis : FLAIL CHEST
3. Kriteria diagnosis : Secara klinis flail chest ditandai dengan gerakan paradoksal pada
dinding toraks karena patah tulang iga multiple dan segmental
atau lebih dari 2 garis fraktus, hal ini disebabkan oleh truauma.
Tanda dan gejala klinis berupa :
Gangguan respirasi dari ringan sampai berat.
Pada inspesksi deformitas dinding toraks disertai gerakan
Paradoksal dinding toraks yang patah.
Pada palpasi nyeri tekan dan nyeri tekan sumbu disertai krepitasi.
Segmental atau lebih dari 2 garis fraktur.
4 Diagnosis banding : -
5. Pemeriksaan penunjang : Laboratorium : DL, analisis gas darah, saturasi O2
Kardiologi : EKG
Radiologi : Foto polos toraks AP/lateral
6. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
7. Perawatan RS : Rawat inap untuk observasi, monitoring, pemasangan ventilator
dan tindakan.
8. Terapi

a. Non Bedah : Oksigenasi (O2)


Tidur miring kearah daerah yang sakit
Fiksasi daerah yang sakit tersebut dengan dengan plester lebar
yang elastis. (sementara)
Bila penderita dengan gangguan nafas berat segera di intubasi
Dan pernafasan buatan ambu bag atau segera pasangan
ventilator.
Obat-obatan analgetik, antibiotika dan resusitasi cairan
b. Bedah Fixasi tulang iga yang patah dengan clips “shapp”costafix atau
dengan wire atau mini plate
9. Tempat pelayanan : Minimal rumah sakit kelas C
R.S. lain yang mempunyai sarana yang memadai
10. Penyulit : Hematopneumotoraks
Konstusio paru
Pneumonia
Prolong Ventilator
Oeseomyelitis kosta
Empiema toraks, infeksi
11. Informed consent : Perlu
12. Tenaga Standar : Dokter Umum (pertolongan pertama)
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Toraks - Kardiovaskular
Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks
13 Lama Perawatan : Minimal 14 hari
14. Masa Pemulihan : Minimal 14 minggu
15. Hasil : Bisa sembuh atau sembuh dengan kecacatan atau meninggal
16. Patologi : -
17. Otopsi : Kadang-kadang perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak
wajar atau tidak jelas
18. Prognosis : Diharapkan baik atau dubious atau jelek
19. Tindak lanjut : Evaluasi dan monitoring keadaan klinis
1. ICD : S. 27. 1
2. Diagnosis : HEMATOTORAKS
3. Kriteria diagnosis : Secara klinis hematotoraks atau hemotoraks ditandai dengan
adanya darah didalam rongga pleura, hal ini dapat disebabkan
oleh trauma atau penyakit.
Tanda dan gejala klinis berupa :
Anemia, sesak nafas, syok hipovolemik, pada inspeksi gerakan
hemitoraks yang bersangkutan menurun, pada perkusi redup pada
sisi yang sakit, pada auskultatif suara nafas menurun, dan pada
foto polos toraks terdapat bayangan kesuraman disertai sudut
kosta frenikus tumpul, pada punksi keluar darah. Bila terdapat
perdarahan massif, pada foto polos toraks tampak trakhea devisiai
dan CVP meningkat.
4 Diagnosis banding : Atelektasis
5. Pemeriksaan penunjang : Laboratorium : pemeriksaan DL, saturasi O2
Radiologi : foto polos toraks
6. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
7. Perawatan RS : Rawat inap untuk observasi dan tindakan
8. Terapi

a. Non Bedah : Oksigenasi O2, transfusi darah bila perdarahan masif, obat-obatan
antibiotika, analgetik, antipiretika, fisio terapi nafas.
b. Bedah Pipa torkostomi atau WSD
Bila masif dilakukan torakotomi (perdarahan > 800 cc) langsung
atu 3-5 cc/kg b.b. perjam
9. Tempat pelayanan : Minimal rumah sakit kelas C
R.S. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai
10. Penyulit : Syok hipovelmik
Fibrotoraks atau schwarte
Empiema torakis, infeksi
11. Informed consent : Perlu
12. Tenaga Standar : Dokter Umum (pertolongan pertama,punksi rongga toraks
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Toraks- Kardiovaskular
Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks
Dokter Spesialis Paru (Non Trauama)
13 Lama Perawatan : Minimal 7 hari
14. Masa Pemulihan : Minimal 2 minggu
15. Hasil : Bisa sembuh atau sembuh dengan kecacatan
16. Patologi : -
17. Otopsi : Kadang-kadang perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak
wajar atau tidak jelas
18. Prognosis : Diharapkan baik atau dubious atau jelek
19. Tindak lanjut : Evaluasi dan monitoring keadaan klinis
1. ICD : S 27.8, S31, S36, S37
Cedera pada toraks bagian bawah, abdomen, pinggang,
collumna, vertebralis- lumbalis dan pelvis
2. Diagnosis : TRAUMA TAJAM ABDOMEN
Ruptur Diaphragma S 27.8.1
Luka tebuka bokong S 31.0
Luka Terbuka Abdomen, Pinggang dan Inguinal S 31.1
Luka Terbuka Penis S 31. 2
Luka Terbuka Skrotum dan Testis S 31. 3
Luka Terbuka Vagina dan Vulva S 31. 4
Luka Terbuka Multipel di Abdumen, Pinggang dan Pelpis
S 31. 7
Ruptur Aorta Abdominalis S 35.0
Ruptur V Kava inferior S 35.1
Ruptur a Soeliaka atau a. Mesenterika dan cabang-cabangnya
S 35.2
Ruptur V. Porta atau V.Lienalis dan cabang-cabangnya
S 35.3
Ruptur Vasa Renalis S 35.4
Ruptur Vasa liaka dan cabang-cabangnya S 35.5
Ruptur Pembuluh Darah di Abdomen, Pinggang dan rongga
Pelvis S 35.7
Reptur Pembuluh Darah Lainnya di Abdomen, Pinggang dan
Rongga Pelvis lainnya S 35.8
Ruptur Limpa S 36.0.1
Rutur Hepar & Kandung Empedu S 36.1.1
Ruptur Pangkreas S 36.2.1
Ruptur Lambung S 36.3.1
Ruptur Duodenum
Ruptur Jejunum S 36.4.1
Ruptur Ileum
Ruptur Colon S 36.5.1
Ruptur Rektum S 36.6.1
Ruptur Organ Intra abdomen Multiple S 36.7.1
Hematoma Retroperioneum S 36.8.1
Ruptur Ginjal S 37.0.1
Ruptur Ureter S 37.1.1
Ruptur Kandung Kemih S 37.2.1
Ruptur Uretra S 37.3.1
Ruptur Ovarium S 37.4.1
Ruptur Tuba Falopi S 37.5.1
Ruptur Uterus S 37.6.1
Ruptur Organ Intra Pelvis Multiple S 37.7.1
Ruptur Kelenjar Adrenal S 37.8.1
Ruptur Kelenjar Prostat S 37.8.1
Ruptur Vesikula Seminal S 37.8.1
Ruptur Vas Deferens S 37.8.1
3. Kriteria diagnosis : Mekanisme Trauma Trauma yang disebabkan senjata tajam :
Pisau, Sangkur, Celurit, Parang, Besi, Obeng. Gunting
Trauma yang disebabkan oleh senjata api, naik yang dengan
kecepatan rendah (Low energy velocity) pun dengan
kecepatan tinggi (high energy velocity)
Tanda klinis.
Sistim pernapasan dan hemodinamika.
Stabil
Tidak Stabil
Inspeksi:
Adanya luka atau luka-luka terbuka di regio toraks bagian
bawah, regio abdomen, pinggang dan atau pelvis.
Ada atau tidak ada distensi abdomen.
Pada luka tembak, khususnya luka tembak senjata api harus
ditentukan adanya luka tembak masuk dan apakan ada luka
tembak keluar.
Auskultasi:
Auskultasi regio toraks (kiri)
Suara napas menurun, bisa terdengar bising usus
Auskultasi regio abdomen :
Bising usus bisa normal, menurun atau hilang.
Palpasi: Nyeri tekan di kuadran tertentu atau seluruh regio
Abdomen, Defans muskuler, Nyeri tekan lepas.
Perkusi
Perkusi regio toraks bagian bawah bisa normal atau redup
atau timpani
Pekak hati bisa positif atau negatif
Nyeri ketok dinding abdomen
Tes undulasi atau tes shifting dullness bisa positip, bisa
negatip
Colok dubur:
Bisa Normal
Bisa ditemukan kelainan-kalainan:
Prostat yang melayang, laserasi pada dinding anorektum,
teraba fragmentasi tulang-tulang panggul,nyeri pada
perabaan di dinding anorektum, pada sarung tangan bisa
ditemukan tetesan atau noda darah, berarti positif ada
cedera pada saluran cerna.
4 Diagnosis banding : -
5. Pemeriksaan penunjang : Disesuaikan dengan fasilitas UGD/Rumah Sakit setempat.
Pilihan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi:
Foto toraks posisi AP, Foto toraks dengan pemasangan pipa
lambung,
Foto polos abdomen, Foto pelvis, USG
Lavase peritoneum diagnostik (DPL).IVP, Uretro-sistografi,
Foto kontras saluran cerna bagian atas, CT scan abdomen,
Angiografi, Indikasi USG sama dengan indikasi DPL:
Pasien trauma dengan:
Penurunan tingkat kesadaran
Perubahan/gangguan fungsi sensoris
Cedera pada organ-organ bertentangga
Pemeriksaan fisik abdomen yang meragukan
Kemungkinan dokter putus kontak dengan pasien untuk
waktu yang cukup panjang.
Hasil DPL yang meragukan (khusus untuk USG abdomen)
Yaitu Lekosit < 500 /mm3 eritrosit< 100.000mm3
6. Konsultasi : Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
7. Perawatan RS : Rawat inap untuk tujuan observasi
8. Terapi Tindakan resusitasi ABCD sesuai konsep ATLS kalau kondisi
pernapasan dan hemodinamika penderita tidak stabil.
Terapi konservatif :
Terapi konservatik dilakukan bila tidak ada indikasi
lapataratomi segera, atau hasil pemeriksaan penunjang tidak
mengungkapkan adanya cedera organ intra abdomen yang
nyata.
Terapi konservatif dengan cara observasi, dapat dilakukan
sampai 2 x 24 jam.
Terapi operatif:
Laparotomi eksplorasi dengan insisi median
Indikasi laparotomi eksplorasi :
Tanda-tanda pendarahan intra perioneal, yaitu adanya syok
hipovolemi dengan distensi abdomen yang progresif.
Tanda-tanda peritonitis generalista
Pneumoperitoneaum pada foto toraks
Pada foto toraks tampak gambaran hernia diafragmatika
(Ruptur Diafragma)
Cairan lavase keluar melalui pipa drenase rongga pleura
Pada tindakan DPL, keluar darah > 10 ml atau cairan usus
Hasil DPL positip berdasarkan analisa laboratoris, yaitu:
Jumlah eritrosit >100.000/mm3 cairan lavasejumlah lekosit
>500/mm cairan lavaseamilase > 20 IU/L cairan lavase
Eviserasi atau epiplosil
Luka tembak senjata api
9. Tempat pelayanan : Minimal rumah sakit kelas C
R.S. lain yang mempunyai sarana yang memadai
10. Penyulit : Perdarahan massif
Syok hipovolemik, yang bisa berakibat syok irreversibel
Koagulasi intra vaskular yang diseminasi(DIC)
Koagultopathi, Hipotermia, Asidosis.
Infeksi, SIRS-sepsis, ARDS, Pneumonia
Pankreatitis pasca trauma, perdarahan saluran cerna,
Gangguan fungsi hati.
ARF (gagal ginjal akut)
Gagal multi organ
11. Informed consent : Perlu
12. Tenaga Standar : Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah (K) Digestif
13 Lama Perawatan : Bervarisi, tergantung beratnya cedera
Bisa berlangsung anatara 10 hari- 3 bulan
14. Masa Pemulihan : Juga bervariasi, tergantung beratnya cedera
Bisa membutuhkan waktu antara 2 minggu – 3 bulan
15. Hasil : Cedera ringan : Bisa sembuh tanpa gejala sisa
Cedera berat:
Kalau tidak ada penyulit, dapat disembuhkan dengan atau
tanpa kecacatan
Kalau ada penyulit, bisa sembuh dengan atau tanpa
kecacatan atau meninggal dunia.
Cedera mengacam nyawa:
Bila timbul penyulit
Bisa sembuh dengan atau tanpa kecacatan, atau bisa
meninggal dunia
Angka kematian >70 %
16. Patologi : -
17. Otopsi : Kadang-kadang perlu untuk kasus trauma dan kematian yang
tidak wajar atau tidak jelas
18. Prognosis : Tergantung beratnya cedera, diharapkan baik atau jelek
19. Tindak lanjut : Evaluasi dan monitoring keadaan klinis
1. ICD : S 27.8, S30.0, S. 35, S 36, S 37,
Cedera pada toraks bagian bawah, abdomen, pinggang,
collumna, vertebralis- lumbalis dan pelvis
2. Diagnosis : TRAUMA TUMPUL ABDOMEN
Ruptur Diaphragma S 27.8.0
Kontusi Bokong dan Panggul S 30.0
Kontusio Abdomen, Pinggang dan Inguinal S 30.1
Kontusio Perineum dan Genital S 30. 2
Ekskoriasi, Laserasi superficial S 30. 7
multiple di Abdomen, Pinggang dan Panggul.
Ruptur Limpa S 36.0.0
Ruptur Hepar & Kandung Empedu S 36.1.0
Ruptur Pangkreas S 36.2.0
Ruptur Lambung S 36.3.0
Ruptur Duodenum
Ruptur Jejunum S 36.4.1
Ruptur Ileum
Ruptur Colon S 36.5.0
Ruptur Rectum S 36.6.0
Ruptur Organ Intra abdomen Multiple S 36.7.0
Hematoma Retroperioneum S 36.8.0
Ruptur Ginjal
S 37.0.0
Kontusio Ginjal
Hematoma retroperitoneum S 36.8.0
Ruptur Ginjal S 37.0.0
Ruptur Ureter S 37.1.0
Ruptur Kandung Kemih S 37.2.0
Ruptur Uretra S 37.3.0
Ruptur Ovarium S 37.4.0
Ruptur Tuba Falopi S 37.5.0
Ruptur Uterus S 37.6.0
Ruptur Organ Intra Pelvis Multiple S 37.7.0
Ruptur Kelenjar Adrenal S 37.8.0
Ruptur Kelenjar Prostat S 37.8.0
Ruptur Vesikula Seminal S 37.8.0
Ruptur Vas Deferens S 37.8.0
3. Kriteria diagnosis : Mekanisme Trauma
Jatuh dari ketiggian
Tindakan kekerasan atau penganiayaan
Cedera akibat hiburan atau wisata
Tanda klinis.
Stabil
Tidak Stabil
Inspeksi:
Dinding abdomen bisa tampak normal
Jejas pada dinding abdomen
Jejas pada dinding dada bagian bawah
Abdomen tampak distensi
Jejas dapat berupa : excoriasi, hematoma, Memar kulit, lacerasi
Auskultasi:
Auskultasi regio toraks (kiri)
Suara napas menurun, bisa terdengar bising usus
Auskultasi regio abdomen :
Bising usus bisa normal, menurun atau hilang.
Palpasi: Nyeri tekan di kuadran tertentu atau seluruh regio
Abdomen, Defans muskuler, Nyeri tekan lepas.
Perkusi
Perkusi regio toraks bagian bawah bisa normal atau redup atau
timpani
Pekak hati bisa positif atau negatif
Nyeri ketok dinding abdomen
Tes undulasi atau tes shifting dullness bisa positip, bisa negatip
Colok dubur:
Bisa Normal
Bisa ditemukan kelainan-kalainan:
Prostat yang melayang, laserasi pada dinding anorektum, teraba
fragmentasi tulang-tulang panggul,nyeri pada perabaan di dinding
anorektum, pada sarung tangan bisa ditemukan tetesan atau noda
darah, berarti positif ada cedera pada saluran cerna.
4 Diagnosis banding : -
5. Pemeriksaan penunjang : Disesuaikan dengan fasilitas UGD/Rumah Sakit setempat.
Pilihan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi:
Foto toraks posisi AP, Foto toraks dengan pemasangan pipa
lambung
Foto pelvis
USG
Lavase peritoneum diagnostik (DPL)
IVP
Uretro-sistografi,
Foto kontras saluran cerna bagian atas
CT scan abdomen,
Angiografi
Indikasi USG sama dengan indikasi DPL:
Pasien trauma dengan:
Penurunan tingkat kesadaran
Perubahan/gangguan fungsi sensoris
Cedera pada organ-organ bertentangga
Pemeriksaan fisik abdomen yang meragukan
Kemungkinan dokter putus kontak dengan pasien untuk waktu
yang cukup panjang.
Hasil DPL yang meragukan (khusus untuk USG abdomen) yaitu
Lekosit < 500 /mm3 eritrosit< 100.000mm3
6. Konsultasi : Bila diperlukan Konsultasikan Dokter Spesialis Bedah Toraks
Kardiovaskular.
7. Perawatan rumah sakit : Rawat inap untuk tujuan observasi
8. Terapi Tindakan resusitasi ABCD sesuai konsep ATLS kalau kondisi
pernapasan dan hemodinamika penderita tidak stabil.
Terapi konservatif :
Terapi konservatif dilakukan bila tidak ada indikasi lapataratomi
segera, atau hasil pemeriksaan penunjang tidak mengungkapkan
adanya cedera organ intra abdomen yang nyata.
Terapi konservatif dengan cara observasi, dapat dilakukan sampai
2 x 24 jam.
Terapi operatif:
Laparotomi eksplorasi dengan insisi median
Indikasi laparotomi eksplorasi :
Tanda-tanda pendarahan intra perioneal, yaitu adanya syok
hipovolemi dengan distensi abdomen yang progresif.
Tanda-tanda peritonitis generalisata
Pneumoperitoneaum pada foto toraks
Pada foto toraks tampak gambaran hernia diafragmatika (Ruptur
Diafragma)
Cairan lavase keluar melalui pipa drenase rongga pleura
Pada tindakan DPL, keluar darah > 10 ml atau cairan usus
Hasil DPL positip berdasarkan analisa laboratoris, yaitu: jumlah
eritrosit >100.000/mm3 cairan lava sejumlah lekosit >500/mm
cairan lavaseamilase > 20 IU/L cairan lavase
9. Tempat pelayanan : Minimal Rumah Sakit Kelas C atau Rumah Sakit yang ada fasilitas
pembedahan yang memadai
10. Penyulit : Perdarahan massif
Syok hipovolemik, yang bisa berakibat syok irreversibel
Koagulasi intra vaskular yang diseminasi(DIC)
Koagultopathi, Hipotermia, Asidosis.
Infeksi, SIRS-sepsis, ARDS, Pneumonia Pankreatitis pasca trauma,
perdarahan saluran cerna
Gangguan fungsi hati.
ARF (gagal ginjal akut)
Gagal multi organ
11. Informed consent : Perlu
12. Tenaga Standar : Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah Digestif
13 Lama Perawatan : Bervarisi, tergantung beratnya cedera
Bisa berlangsung anatara 10 hari- 3 bulan
14. Masa Pemulihan : Juga bervariasi, tergantung beratnya cedera
Bisa membutuhkan waktu antara 2 minggu – 3 bulan
15. Hasil : Cedera ringan : Bisa sembuh tanpa gejala sisa
Cedera berat: Kalau tidak ada penyulit, dapat disembuhkan
dengan atau tanpa kecacatan.
Kalau ada penyulit, bisa sembuh dengan atau tanpa kecacatan
atau meninggal dunia.
Cedera mengacam nyawa:
Bila timbul penyulit
Bisa sembuh dengan atau tanpa kecacatan, atau bisa meninggal
dunia
Angka kematian >70 %
16. Patologi : -
17. Otopsi : Kadang-kadang perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak
wajar atau tidak jelas
18. Prognosis : Tergantung beratnya cedera, diharapkan baik atau jelek
19. Tindak lanjut : Evaluasi dan monitoring keadaan klinis
1. ICD : S. 36.0
2. Diagnosis : CEDERA LIMPA
Penyebab : umumnya akibat trauma tumpul dan trauma tembus
abdomen
3. Kriteria diagnosis : Klinis
Anamnesa : terdapat trauma tumpul pada kiri atas atau trauma
dada kiri bawah dengan tanpa fraktur kosta, luka tusuk
abdomen/totakal bawah
Nyeri pada perut kiri atas, nyeri dapat menjalar pada bahu kiri
Tanda-tanda syok karena perdarahan
Terdapat tanda-tanda cairan bebas dalam rongga perut
4 Diagnosis banding : Trauma perut dengan cedera organ disertai perdarahan dalam
perut, antara lain cedera lambung, cedera ginjal kiri, cedera hepar
kiri.
5. Pemeriksaan penunjang : Dilakukan DL, yang positif
Pemeriksaan USG perut atau CT Scan
6. Konsultasi : Dokter Spesialis lain yang terkait bila diperlukan
7. Perawatan RS : Rawat inap
8. Terapi

Bedah Dilakukan laparotomi eksplorasi sito dengan insisi pada garis


tengah atas.
Tindakan terhadap limpa :
Cedera linier – dilakukan penjahitan secara matras
Cedera laserasi atau pedikel jika putus dilakukan pengangkatan
limpa (splenektomi) disertai tandur ulang jaringan limpa kedalam
bursa omentalis
9. Tempat pelayanan : Minimal rumah sakit kelas C
R.S. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai
10. Penyulit : Shock, perdarahan yang profus, Infeksi
11. Informed consent : Perlu
12. Tenaga Standar : Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Digestif
13 Lama Perawatan : Minimal 7 hari
14. Masa Pemulihan : Minimal 2 minggu
15. Hasil : Sembuh tanpa cacat karena trauma atau tidak wajar
16. Patologi : -
17. Otopsi : Kadang-kadang perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak
wajar atau tidak jelas
18. Prognosis : Diharapkan baik bila penanganan cepat dan tepat
19. Tindak lanjut : Evaluasi dan monitoring keadaan klinis
1. ICD : S. 36.1
2. Diagnosis : CEDERA HEPAR
Penyebabnya dapat berupa trauma tembus perut/trauma tajam,
maupun trauma tumpul.
3. Kriteria diagnosis : Anamnesa : terdapat trauma tembus perut atas atau trauma
tumpul pada perut kanan atas atau toraks kanan bawah
Nyeri pada daerah hipokondrium kanan dengan atau tanpa jejas
(trauma tumpul)
Terdapat dan tembus perut (pada trauma tembus)
Shock dengan tanda-tanda perdarahan dan tanda-tanda cairan
bebas dalam rongga peritoneum
4 Diagnosis banding : Trauma perut dengan cedera organ disertai perdarahan, antar lain
: cedera pankreas, cedera vaskular, cedera ginjal duodenum dan
limpa.
5. Pemeriksaan penunjang : Diagnostik Peritoneal Lavage (DPL)
Ultrasonografi (USG) abdomen/ CT Scan
6. Konsultasi : Dokter Spesialis terkait bila diperlukan
7. Perawatan RS : Rawat inap
8. Terapi
Bedah Segera sito laparotomi eksporasi dengan insisi pada garis tengah
sebelah atas.
Macam tindakan pada cedera hepar :
Cedera linier – dilakukan penjahitan secara matras dengan
benang yang tebal (no 1,0 atau 2,0) yang dapat diserap
Laserasi segmental : dapat dilakukan reseksi secara wedge atau
reseksi segmental dan ditutup dengan omentum
Laserasi yang luas dengan perdarahan profus dilakukan
pemasangan tampon (DCS) yang sulit dihentikan dan dalam 2x24
jam dilakukan stabilisasi kemudian dilakukan re ekplorasi
laparotomi untuk terapi definitif.
DCS : Damage control Surgery
Catatan :
Untuk mengatasi perdarahan yang hebat akibat saat melakukan
tindakan diatas, dapat dibantu dengan tindakan pringle
9. Tempat pelayanan : Minimal rumah sakit kelas C
Rumah Sakit lain dengan fasilitas pembedahan yang memadai.
10. Penyulit : Perdarahan hebat saat pembedahan
Perdarahan kembali pasca pembedahan
Shock hipovolemik
Peritonitis kimiawi
Hematobilia, Infeksi
TRIAS : Hipotermia Asidosis Gangguan Koagulopati
11. Informed consent : Perlu
12. Tenaga Standar : Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Digestif
13 Lama Perawatan : Minimal 7 hari
14. Masa Pemulihan : Minimal 2 minggu
15. Hasil : Sembuh
16. Patologi : -
17. Otopsi : Diperlukan kalau meninggal karena trauma atau tidak wajar
18. Prognosis : Diharapkan baik atau dubious
19. Tindak lanjut : Evaluasi dan monitoring keadaan klinis
1. ICD : S. 37.2
2. Diagnosis : RUPTUR BULI-BULI
3. Kriteria diagnosis : Trauma (+) langsung abdomen bagian bawah
Trauma tidak langsung akibat fraktur pelvis
Tidak bisa kencing
Massa suprapublik
Hematuria (+)
Tanda-tanda peritonitis (+)
Colok dubur : Prostat letaknya normal
4 Diagnosis banding : Ruptur uretra posterior
5. Pemeriksaan penunjang : Test buli-buli
Foto Pelvis
Urethrocytogram
6. Konsultasi : Dokter Spesialis terkait bila diperlukan
7. Perawatan RS : Rawat inap, segera
8. Terapi
a. Non Bedah Eksporasi, jahit buli-buli, pasang dauer kateter,
Suprapublik Cystostomi bila ruptur lebar
9. Tempat pelayanan : Minimal rumah sakit kelas C
Rumah Sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan memadai.
10. Penyulit : Infeksi
Kebocoran
11. Informed consent : Perlu
12. Tenaga Standar : Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Urologi
13 Lama Perawatan : Minimal 7 hari
14. Masa Pemulihan : Minimal 2 minggu
15. Hasil : Kencing bisa lancar
16. Patologi : -
17. Otopsi : -
18. Prognosis : Diharapkan baik atau dubious
19. Tindak lanjut : Evaluasi dan monitoring keadaan klinis
1. ICD : S. 37.2
2. Diagnosis : TRAUMA GINJAL
3. Kriteria diagnosis : Riwayat trauma langsung atau tidak langsung pada abdomen
Jejas pada abdomen
Adanya riwayat instabilitas hemodinamik
Hematoria dapat positif atau negatif
4 Diagnosis banding : Cidera organ intra abdomen lainnya
5. Pemeriksaan penunjang : IVP
CT Scan abdomen
6. Konsultasi : Dokter Spesialis terkait bila diperlukan
7. Perawatan RS : Rawat inap untuk observasi, bila perlu dilakukan operasi
8. Terapi
a. Non Bedah : Observasi di ICU atau ruang perawatan yang setara dengan ICU
b. Bedah : Laparotomi eksplorasi, repair ginjal, bila perlu dilakukan
nefrektomi
9. Tempat pelayanan : Minimal rumah sakit kelas C
10. Penyulit : Perdarahan intra abdominal, infeksi, kebocoran urin
11. Informed consent : Perlu
12. Tenaga Standar : Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Urologi
13 Lama Perawatan : Minimal 7 hari
14. Masa Pemulihan : Minimal 2 minggu
15. Hasil : Bisa sembuh
16. Patologi : -
17. Otopsi : Kadang-kadang perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak
wajar atau tidak jelas
18. Prognosis : Diharapkan baik bila penanganan cepat dan tepat
19. Tindak lanjut : Evaluasi dan monitoring keadaan klinis
1. ICD : T 20 – T 31
2. Diagnosis : LUKA BAKAR
3. Kriteria diagnosis : Luka bakar merupakan kerusakan pada jaringan karena pengaruh
suhu (baik panas maupun dingin) atau dari penyerapan energi fisik
dan dari kontak dengan bahan-bahan kimia. Setiap penyebab
mempunyai gambaran klinis yang khusus dan manajemen
pengelolaannya.
Pembagian derajat luka bakar
Derajat I : Hanya mengenal cairan epidermis luar, tampak
hiperemi dan eritema
Derajat II : Mengenai lapisan epidermis yang lebih dalam dan
sebagian dermis disertai lepuh, edema jaringan dan basah
Derajat III : Mengenai semua lapisan epidermis dan dermis,
biasanya tampak luka kering dengan vena koogulasi pada
permukaan kulit
Tanda dan gejala klinik : nyeri, cemas, dehidrasi
4 Diagnosis banding : -
5. Pemeriksaan penunjang : Laboratorium : DL, UL, RFT, elektrolit, protei darah
Mikrobiologi : Kultur dan tes kepekaan kuma
Radiologi : foto polos toraks AP
Jantung : EKG
6. Konsultasi : Dokter Spesialis terkait bila diperlukan
7. Perawatan RS : Rawat inap untuk luka bakar derajat II-III minimal 15 % luasnya
atau trauma didaerah muka atau trauma inhalasi
8. Terapi
a. Non Bedah : - Tindakan darurat ABC, retutilasi jantung, paru, otak
- Koreksi elektrolit dengan rumus Rule of nine dan koreksi
Hiperaktif
- Perawatan terhadap jantung, paru, ginjal, hati
- Terapi Suportif seperti nutrisi, protein
- Antibiotika, analgetika, antidiuretika
- Pertolongan pertama bisa diberikan air dingin (waktunya
singkat)
9. Tempat pelayanan : Minimal rumah sakit kelas C
Rumah Sakit dengan fasilitas perawatan luka bakar yang memadai
10. Penyulit : Gangguan elektrolit, gangguan fungsi jantung, paru, otak,
kontraktur hati dan ginjal, infeksi sepsis
11. Informed consent : Perlu
12. Tenaga Standar : Dokter Umum ( pertolongan pertama maupun terapi konservatif)
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Plastik
13 Lama Perawatan : Minimal 7 hari
14. Masa Pemulihan : Minimal 4 minggu
15. Hasil : Bisa sembuh atau sembuh dengan bercacat atau meninggal dunia
16. Patologi : -
17. Otopsi : Kadang-kadang perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak
wajar atau tidak jelas
18. Prognosis : Diharapkan baik atau dubious atau jelek
19. Tindak lanjut : Evaluasi dan monitoring keadaan klinis