Anda di halaman 1dari 19

Laporan Praktikum 2 Senin, 26 Agustus 2019

Mata Kuliah Desain Kreatif Ekowisata

MENGENAL DAN MENGIDENTIFIKASI ASPEK MATERIAL


DAN IMMATERIAL DALAM SUATU BUDAYA
(Studi Kasus : Kalimantan Timur)

Disusun Oleh:
Dimas Firliantoro J3B917156

Dosen:
Kania Sofiantina Rahayu, SI.Kom, M.Par, MTHM
Asisten Dosen :
AH Auval Hadzazi, A.Md
Ira Kusumawati

PROGRAM STUDI EKOWISATA


SEKOLAH VOKASI
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2019
1

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR 2

1. PENDAHULUAN 3
1.1. Latar Belakang 3
1.2. Tujuan 3

2. TINJAUAN PUSTAKA 4
2.1. Identifikasi 4
2.2. Material 4
2.3. Immaterial 4
2.4 Budaya 4

3. METODE PRAKTIKUM 8
3.1. Lokasi dan Waktu 8
3.2. Alat dan Bahan 8
3.3. Pendekatan Metode Praktikum 8

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 9


4.1. Aspek Kebudayaan 9
4.1.1. Aspek Kebudayaan Material 9
4.1.2. Aspek Kebudayaan Immaterial 9
4.2. Karakteristik Aspek Kebudayaan 9
4.2.1. Karakteristik Aspek Kebudayaan Material 9
4.2.1.1. Talawang 10
4.2.1.2. Gayang 11
4.2.1.3. Mandau 11
4.2.2. Karakteristik Aspek Kebudayaan Immaterial 12
4.2.2.1. Tari Gong 12
4.2.2.2. Lagu Indung-Indung 13
4.2.2.3. Lagu Buah Bolok 14
4.3 Respon Psikologis 15
4.3.1 Respon Psikologis Aspek Kebudayaan Material 15
4.3.2 Respon Psikologis Aspek Kebudayaan Immaterial 15
4.4 Fungsi Pemanfaatan 15
4.4.1 Fungsi Pemanfaatan Aspek Kebudayaan Material 15
4.4.2 Fungsi Pemanfaatan Aspek Kebudayaan Immaterial 16

5. KESIMPULAN 17

DAFTAR PUSTAKA 18
2

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Talawang 10
Gambar 2. Gayang 11
Gambar 3. Mandau 12
Gambar 4. Tari Gong 13
3

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Manusia dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tak bisa
dipisahkan dalam kehidupan ini. Di dunia sosiologi manusia dengan kebudayaan
dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya walaupun keduanya berbeda tetapi
merupakan satu kesatuan yang utuh. Karena manusia menciptakan kebudayaan
dan kebudayaan itu tercipta oleh manusia. Manusia menciptakan kebudayaan
mereka sendiri dan melestarikannya secara turun menurun. Budaya tercipta dari
kegiatan sehari-hari dan juga dari kejadian-kejadian yang dilakukan setiap hari.
Manusia dan kebudayaan adalah satu hal yang tidak bisa di pisahkan karena
dimana manusia itu hidup dan menetap pasti manusia akan hidup sesuai dengan
kebudayaan yang ada di daerah yang di tinggalinya. Keragaman budaya sendiri
juga dikenal dengan istilah cultural diversity dan ini sudah menjadi sebuah
keniscayaan yang dimiliki oleh bangsa ini. Di Negara ini pula, keragaman budaya
merupakan sesuatu yang tidak dapat ditolak lagi keberadaannya. Indonesia
terkenal dengan keragaman budayanya. Indonesia adalah salah satu Negara
kesatuan yang di dalamnya dipenuhi dengan keragaman serta kekayaan. Ada
berbagai suku bangsa dan budaya serta ras, daerah dan juga kepercayaan agama.
Selain itu, masih banyak lagi keragaman budaya yang ada di Indonesia.
Salah satu provinsi dengan kebudayaan yang beragam dan menarik di
Indonesia adalah Kalimantan Timur. Kalimantan Timur atau biasa disingkat
Kaltim adalah sebuah provinsi Indonesia di Pulau Kalimantan bagian ujung timur
yang berbatasan dengan Malaysia, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah,
Kalimantan Selatan dan Sulawesi. Luas total Kalimantan Timur adalah
129.066,64 km² dan populasi sebesar 3.6 juta. Kalimantan Timur merupakan
wilayah dengan kepadatan penduduk terendah keempat di nusantara. Ibukotanya
adalah Samarinda. Kalimantan Timur merupakan provinsi terluas kedua di
Indonesia setelah Papua, dengan luas 194.489 km persegi yang hampir sama
dengan Pulau Jawa atau sekitar 6,8% dari total luas wilayah Indonesia.
Pada kesempatan ini, penulis mendapatkan studi kasus di Kalimantan Timur
untuk pemenuhan tugas prak. Diadakannya praktikum ini diharapkan mahasiswa
menjadi mengerti dan paham akan substansi aspek material dan immaterial pada
suatu budaya. Laporan praktikum ini dapat menjadi acuan untuk menilai
bahwasannya mahasiswa sudah dapat dikatakan paham dan mengerti mengenai
aspek material dan immaterial pada suatu budaya.
1.2. Tujuan
Praktikum mengenai Mengenal Dan Mengidentifikasi Aspek Material dan
Immaterial Dalam Suatu Budaya ini memiliki tujuan. Tujuan praktikum disusun
guna untuk mempermudah dalam proses pembahasan. Adapun tujuan
dilaksanakannya praktikum adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi Aspek Material dan Immaterial Dalam Suatu Budaya
2. Mengetahui karakteristik Aspek Material dan Immaterial Dalam Suatu Budaya
4

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Identifikasi
Identifikasi adalah suatu bentuk pengenalan terhadap suatu ciri-ciri fenomena
sosial secara jelas dan terperinci. Selain itu juga terdapat pengertian identifikasi
yang lain yaitu kecenderungan dalam diri individu untuk menjadi sama dengan
individu lain. Individu yang menjadi sasaran identifikasi dinamakan idola.
Perilaku, sikap, keyakinan, dan pola hidup yang menjadi idola akan melembaga
bahkan menjiwai para pelaku identifikasi sehingga sangat berpengaruh terhadap
pembentukan dan perkembangan kepribadiannya. (Koenjtaraningrat)
Proses indentifikasi dapat berlangsung dengan sendirinya atau tanpa disengaja
maupun dengan kesadaran penuh. Indentifikasi terjadi karena seseorang
memerlukan tipe-tipe ideal tertentu dalam proses hidupnya. Walaupun dapat
berlangsung tanpa disengaja, proses indentifikasi biasanya terjadi dalam suatu
keadaan dimana seseorang yang mengidentifikasi benar-benar pihak lain sehingga
pandangan maupun sikap yang ada pada pihak yang menjadi idealnya dapat
menjiwainya.
2.2. Material
Aspek kebudayaan material adalah aspek-aspek yang sifatnya material dan
dapat diraba atau dilihat secara nyata, seperti pakaian dan alat-alat kerja. Oleh
karena sifatnya material, maka aspek kebudayaan ini relatif cepat berubah. Aspek
material adalah kebudayaan yang mengacu pada semua ciptaan masyarakt yang
nyata dan konkret. Termasuk dalam kebudayaan material adalah temuan-temuan
yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi seperti mangkuk tanah liat,
perhiasan, dan senjata. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang,
seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar
langit, dan mesin cuci.
2.3. Immaterial
Aspek kebudayaan immaterial adalah aspek-aspek yang sifatnya immaterial
dan tidak dapat diraba atau dilihat secara nyata, ciptaan-ciptaan abstrak yang
diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan
lagu atau tarian tradisional. Aspek immaterial memiliki dampak yang besar pada
perubahan perilaku sosial budaya contohnya seperti Emansipasi wanita, kini
perempuan dapat bekerja sesuai kemampuan dan tingkat pendidikan yang telah ia
tempuh. Jadi tidak ada ungkapan lagi bahwa wanita itu kerjanya hanya di rumah
saja dan mendapatkan uang hanya melalui suaminya saja.
2.4 Budaya
Secara bahasa, kata “budaya” berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu
Buddhaya yang merupakan bentuk jamak dari kata Buddhi dimana artinya adalah
segala hal yang berhubungan dengan budi dan akal manusia. Dalam hal ini,
budaya sangat berkaitan dengan bahasa atau cara berkomunikasi, kebiasaan di
suatu daerah atau adat istiadat.adapun penjelasannya diantaranya:
5

1. Effat Al- Syarqawi


Pengertian budaya yang pertama adalah dari Effat Al – Syarqawi. Beliau
menjelaskan pengertian budaya dari sudut pandang agama islam. Pengertian
budaya menurut beliau adalah, suatu khasanah dalam sejarah dari sekelompok
masyarakat yang tercermin pada di kesaksian dan berbagai nilai kehidupan.
Menurut Al- Syarqawi suatu kehidupan harus memiliki makna dan nilai rohaniah,
yang memiliki tujuan sebagai pedoman hidup.
2. Soelaiman Soemardi & Selo Soemardjan
Dua tokoh ini merupakan ahli yang menekuni bidang ilmu kemasyarakatan
dan pengetahuan sosial, serta proses-prosesnya termasuk perubahan sosial.
Menurut mereka, pengertian budaya ialah sesuatu kebudayaan yang merupakan
hasil karya meliputi cipta dan rasa dari masyarakat. Budaya memang memiliki
keterkaitan yang sangat erat dengan masyarakat, sehingga masyarakat tersebutlah
yang menciptakannya.
3. Soekmono
Pengertian budaya selanjutnya datang dari ahli arkeolog Indonesia. Beliau
bahkan pernah menjadi pemimpin dalam pembenahan candi Borobudur selama 12
tahun, yaitu dari tahun 1971 hingga 1983. Menurut ia budaya adalah hasil
pekerjaan atau usaha dari manusia yang berwujud benda atau pemikiran manusia
pada masa hidup di kala itu. Pendapat ini hampir mirip dengan Soelaiman
Soemardi & Selo Soemardjan, yang mengambil pengertian budaya dari sisi
masyarakat atau manusia.
4. Parsudi Suparian
Parsudi Suparian merupakan salah satu tokoh di bidang antropolog
Indonesia. Beliau mempunyai ahli dalam masalah antropologi perkotaan,
multikultuarisme dan kemiskinan. Sedangkan menurut dia, pengertian budaya
adalah seluruh pengetahuan manusia yang di manfaatkan untuk mengetahui serta
memahami pengalaman dan lingkungan yang mereka alami. Sama dengan 3 tokoh
sebelumnya yang mendefinisikan budaya yang terdapat kaitannya dengan
masyarakat.
5. Lehman, Himstreet Dan Batty
Pengertian budaya berikutnya datang dari Lehman, Himstreet dan Batty.
Yang memberikan penjelasan, bahwa budaya adalah sekumpulan yang tersusun
dari pengalaman hidup dari berbagai masyarakat yang hidup pada masa itu.
Dalam hal ini pengalaman yang dimaksud bisa berupa perilaku, kepercayaan,
serta gaya hidup masyarakat itu sendiri.
6. Ki Hajar Dewantara
Tentu sudah tidak asing lagi ketika anda membaca atau melihat nama
tokoh ini. Pahlawan hebat dalam bidang pendidikan ini memang sudah terkenal
6

dikmana-mana. Ki Hajar Dewantara memiliki pendapat pula tentang pengertian


budaya. Bagi beliau, budaya ialah hasil dari usaha perjuangan masyarakat pada
alam serta zaman yang memberikan bukti kemakmuran dan kejayaan hidup.
Usaha perjuangan inilah yang mampu menghadapi serta menyikapi berbagai
kesulitan dalam mencapai kemakmuran dan kebahagiaan hidup masyarakat
tersebut. Bahkan Pendapat dari Ki Hajar Dewantara ini dianggap lebih tepat
dengan budaya di Indonesia. Hal ini disebabkan karena budaya di Indonesia
sangat dipengaruhi oleh perkembangan dari waktu ke waktu sehingga membuat
perubahan kondisi alam.
7. Koentjaraningrat
Koentjaraningrat juga memiliki pendapat tentang pengertian budaya.
Menurut ia sendiri, budaya adalah sebuah gagasan, rasa, tindakan serta karya dari
manusia selama hidupnya. Bagi koentjaranigrat semua hal tersebut dihasilkan dari
usaha manusia itu sendiri dalam bermasyarakat atau bersosialisi. Dengan hal
inilah mereka memiliki gagasan tentang kebudayaan dengan cara belajar satu
sama lain.
8. E. B. Taylor
E. B. Taylor memiliki nama panjang Edwart Burnett. Ia merupakan ahli
antropologi yang berasal dari Inggris. E. B Taylor juga memiliki pandangan atau
pendapat tentang pengertian budaya. Menurut tokoh antropolog ini, budaya adalah
keseluruhan yang meliputi kesusilaan, kesenian, kepercayaan, adat istiadat serta
kebiasaan dan kesanggupan. Hal ini terjadi disebabkan oleh berbagai hal yang di
pelajari oleh masyarakat.
9. Kluckkhohn Dan Kelly
Menurut pakar ini budaya adalah segala tatanan hidup yang terwujud
secara historis. Konsep hidup ini tercipta secara implisit atau eksplisit, rasional
maupun irasional. hal ini dijadikan sebagai acuan yang memiliki potensi pada
tingkah laku atau perilaku manusia.
10 . Linton
Pengertian budaya selanjutnya datang dari ahli kebudayaan asal negara
Amerika. Linton memberikan definisi tentang budaya. Bagi ia, budaya merupakan
seluruh bentuk sikap dan tingkah laku serta kebiasaan yang diwariskan. Maksud
dari pengertian ini, budaya ada karena adanya proses turun temurun dari para
leluhur. Hal inilah yang menjadi suatu yang dicontoh serta menjadikan suatu
kebiasaan. Sehingga dalam hal ini menjadikan budaya itu tumbuh di daerah
tertentu.
11. Jensen Dan Trenholm
Pakar ahli budaya ini mendefinisikan bahwa budaya merupakan
sekelompok norma atau aturan. Tidak hanya itu, budaya juga bisa berwujud
seperti nilai-nilai kepercayaan, adat istiadat serta kode. Semua hal tersebut
7

tercipta karena perolehan dari kegiatan sosial kelompok masyarakat yang


memiliki akibat saling mengikat satu sama lain, sehingga memberi mereka
kesadaran.
12. Geert Hoftstede
Greet Hoftstede memberikan penjelasan tentang pengertian budaya yang
memiliki kaitan dengan pemikiran. Menurut ia, budaya adalah terdiri dari
program-program kelompok yang tersusun dari pemikiran anggota suatu kategori
satu dengan yang lain. Selain itu, Greert juga memberikan penjelasan tentang nilai
suatu budaya. Baginya nilai budaya terletak pada inti budaya itu sendiri.
13. Croydon
Pengertian budaya terakhir adalah dari Croydon. Ia memberikan definisi
budaya yaitu sekumpulan pola terpadu yang sebagian berada pada di bawah
kesadaran. Akan tetapi secara keseluruhan mengatur tentang perilaku manusia
seperti senar yang dimanipulasi dari kontrol bonekanya.
Terdapat banyak ilmuwan dan ahli budaya yang memberikan pengertian
budaya yang bermacam-macam. Setiap pendapat yang mereka sampaikan
memiliki unsur-unsur tertentu menurut segi pandangannya. Hal itulah yang
membuat pemikiran mereka berbeda dalam menyimpulkan tentang pengertian dari
budaya. Namun secara umum pengertian budaya adalah sebuah cara yang dimiliki
bersama oleh sekelompok orang yang prosesnya terjadi secara turun temurun.
Sehingga diwariskan untuk generasi selanjutnya.
8

3. METODE PRAKTIKUM

3.1. Lokasi dan Waktu


Praktikum Mengenal Dan Mengidentifikasi Aspek Material dan Immaterial
Dalam Suatu Budaya dilaksanakan berdasarkan pada hasil studi literature. Waktu
pelaksanaannya studi literature dilakukan pada hari Rabu, 28 Agustus 2019 pada
pukul 16.30 WIB.
3.2. Alat dan Bahan
Praktikum Mengenal Dan Mengidentifikasi Aspek Material dan Immaterial
Dalam Suatu Budaya dilaksanakan dengan menggunakan beberapa alat dan bahan
guna untuk mendukung pelaksanaan praktikum hingga pengolahan data. Alat dan
bahan yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.
Alat dan Bahan
No Alat dan Bahan Fungsi
1. Alat tulis Sebagai sarana mencatat hasil observasi
2. Laptop Media untuk membuat laporan
3. Printer Mencetak laporan hasil observasi
4. Internet Mencari bahan studi literature
3.3. Pendekatan Metode Praktikum
Praktikum mengenai Mengenal Dan Mengidentifikasi Aspek Material Dan
Immaterial Dalam Suatu Budaya menggunakan beberapa metode tahapan kerja
dalam menyelesaikan kerja praktikum. Tahapan dan metode kerja praktikum ini
disusun agar mempermudah dalam mengidentifikasi motivasi wisatawan antara
pengamat dan penulis.
Tahapan Kerja Praktikum tersebut antara lain.
1) Menentukan lokasi untuk diamati.
2) Melakukan identifikasi dengan cara studi literature.
3) Membuat dokumentasi kegiatan.
4) Merekap data yang telah diperoleh
5) Membuat laporan praktikum sesuai dengan format yang telah ditentukan.
9

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Aspek Kebudayaan


Aspek kebudayaan yang telah diidentifikasi terbagi menjadi dua yakni yang
bersifat material dan immaterial. Aspek kebudayaan yang bersifat material
merupakan elemen yang diidentifikasi sebagai aspek kebudayaan yang sifatnya
material dan dapat diraba atau dilihat secara nyata, seperti pakaian dan alat-alat
kerja. Sementara elemen bersifat immaterial yang diidentifikasi merupakan aspek-
aspek yang sifatnya immaterial dan tidak dapat diraba atau dilihat secara nyata,
ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya
berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional. Keseluruhan
identifikasi dilakukan melalui studi literature.
4.1.1. Aspek Kebudayaan Material
Aspek kebudayaan material adalah aspek-aspek yang sifatnya material dan
dapat diraba atau dilihat secara nyata, seperti pakaian dan alat-alat kerja. Oleh
karena sifatnya material, maka aspek kebudayaan ini relatif cepat berubah. Aspek
material adalah kebudayaan yang mengacu pada semua ciptaan masyarakt yang
nyata dan konkret. Termasuk dalam kebudayaan material adalah temuan-temuan
yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi seperti mangkuk tanah liat,
perhiasan, dan senjata. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang,
seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar
langit, dan mesin cuci.
4.1.2. Aspek Kebudayaan Immaterial
Aspek kebudayaan immaterial adalah aspek-aspek yang sifatnya immaterial
dan tidak dapat diraba atau dilihat secara nyata, ciptaan-ciptaan abstrak yang
diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan
lagu atau tarian tradisional. Aspek immaterial memiliki dampak yang besar pada
perubahan perilaku sosial budaya contohnya seperti Emansipasi wanita, kini
perempuan dapat bekerja sesuai kemampuan dan tingkat pendidikan yang telah ia
tempuh. Jadi tidak ada ungkapan lagi bahwa wanita itu kerjanya hanya di rumah
saja dan mendapatkan uang hanya melalui suaminya saja.
4.2. Karakteristik Aspek Kebudayaan
Karakteristik elemen desain terbagi menjadi dua, yakni yang ada pada aspek
kebudayaan material dan dan aspek kebudayaan immaterial. Karakteristik desain
yang ada pada aspek kebudayaan material yang telah diidentifikasi terdapat tiga
elemen, begitu juga yang ada pada aspek kebudayaan immaterial. Pembahasan
lebih jelas dapat dilihat pada sub bab berikut.
4.2.1. Karakteristik Aspek Kebudayaan Material
Karakteristik aspek kebudayaan material terdiri dari karakteristik aspek
kebudayaan material yang terdapat di Provinsi Kalimantan Timur. Aspek
10

kebudayaan material tersebut diantaranya ialah Talawang, Gayang, dan bebatuan.


Setiap elemen desain tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
4.2.1.1. Talawang
Untuk melengkapi Mandau, masyarakat Suku Dayak menggunakan
Talawang (Tameng atau Perisai) dalam berperang. Sama halnya dengan Mandau,
Talawang merupakan benda budaya yang lahir dari kepercayaan masyarakat
Dayak terhadap kekuatan magis. Selain itu, senjata tersebut juga memiliki sisi
estetis yang ditunjukkan pada motif ukirannya.

Gambar 1. Talawang
Sumber : https://asyraafahmadi.com/in/pengetahuan/spesialisasi/persenjataan/senjata-
tradisional/talawang/

Dari segi bentuk, senjata ini berbentuk persegi panjang yang dibuat
meruncing pada bagian atas dan bawahnya. Panjang Talawang sekitar 1 sampai 2
m dengan lebar maksimal 50 cm. Sisi luar Talawang dihias dengan ukiran yang
mencirikan kebudayaan Dayak kemudian bagian dalamnya diberi pegangan.
Keseluruhan bidang depan Talawang biasanya diukir berbentuk topeng (Hudo).
Konon, ukiran pada Talawang ini memiliki daya magis yang mampu
membangkitkan semangat hingga menjadikan kuat orang yang menyandangnya.
Ukirannya pada umumnya bermotifkan burung Tinggang, yaitu burung
yang dianggap suci oleh Suku Dayak. Selain motif burung Tinggang, motif lain
yang sering digunakan adalah ukiran Kamang. Kamang merupakan perwujudan
dari roh leluhur Suku Dayak. Motif Kamang digambarkan dengan seseorang yang
sedang duduk menggunakan Cawat dan wajahnya berwarna merah. Walaupun
setiap sub Suku Dayak mengenal kebudayaan Mandau dan Talawang, ternyata
penggunaan warna dan motif ukirannya berbeda-beda.
Motif ukiran pada senjata ini juga yang kemudian banyak dijumpai
sebagai desain interior rumah serta bagian-bagian arsitektur dari kriya seni ukir
Dayak. Selain itu, Talawang ini bisa dijadikan sebagai simbol sosial, hal ini
terlihat bahwa terdapat ukiran yang menggambarkan flora dan fauna. Ini
menggambarkan bahwa kehidupan masyarkat Dayak sangat penting untuk
menjalin hubungan yang harmonis antara alam dan manusia.
11

4.2.1.2. Gayang
Suku Dayak Kadazandusun ini memiliki senjata yang mirip dengan
Mandau, Gayang namanya. Namun meskipun mirip tentu ada ciri yang bisa
membedakan keduanya. Perbedaannya terletak pada design bilah dan sarung yang
agak melengkung seperti Parang Ilang Dayak Iban. Dari segi ukuran senjata lebih
panjang dari Mandau pada umumnya ukurannya berkisar 800cm.

Gambar 2. Gayang
Sumber: https://folksofdayak.wordpress.com/2015/08/19/gayang-senjata-kaum-dayak-
kadazandusun/
Warna bilah pada gayang berwarna hitam dan gagang terbuat dari kayu
atau tulang. Konon katanya menurut orang tua dahulu, Gayang yang sudah
disubak dan dikoboh akan menjadi seperti makhluk yang bernyawa, yang
membutuhkan makan. Dan makanan senjata ini adalah darah dan otak manusia.
Sehingga, setiap kali seorang pahlawan membunuh musuhnya, mereka akan
mengambil otaknya dan memasukkan ke dalam satu lubang hulu Gayang dan juga
di dalam sarung Gayang. Dengan demikian, semangat musuh akan tinggal dalam
gayang tadi. Menurut beberapa sumber di Mandar juga dikenal dua jenis Gayang.
Yaitu Gayang Lekkong (Keris Luk) dan Sapukala (Keris yang bentuknya lurus).
Mengenai kedua jenis Keris ini, ada yang menyebutkan bahwa Gayang Lekkong
(Keris Luk) cocoknya untuk mereka yang memiliki rambut ikal atau keriting.
Sedang Sapukala cocoknya untuk mereka yang berambut lurus.
4.2.1.3. Mandau
Mandau adalah satu dari sekian banyak senjata tradisional Indonesia yang
sudah terkenal hingga keseluruh dunia. Dikenal sebagai senjata khas Kalimantan
khususnya suku Dayak yang tersebar diberbagai provinsi di Kalimantan. Suku
Dayak yang terkenal kehebatannya dalam bela diri dan menaklukkan alam
Kalimantan selalu membawa Mandau baik untuk keperluan bela diri jika terjadi
konflik antar suku, perjalanan dan berburu hingga dalam pertanian. Hingga kini
para kolektor internasional masih banyak yang berburu barang-barang suku Dayak
yang dikenal sebagai Headhunter (Pemburu Kepala) ini.
12

Gambar 3. Mandau
Sumber: https://asyraafahmadi.com/in/pengetahuan/spesialisasi/persenjataan/senjata-
tradisional/mandau/

Material yang digunakan dalam pembuatan Bilah Mandau tradisional


hingga kini masih perlu di teliti lebih jauh. Dalam beberapa artikel material yang
digunakan dalam pembuatan bilah ini dikenal dengan Besi Montallat dan Besi
Matikei yang ditambang dari sungai Matikei desa Tumbang Atei Sanaman
Matikei-Katingan. Sedang pada Mandau-mandau yang kini banyak ditemui sudah
menggunakan Stainless Steel, Baja Per kendaraan, bekas cakram kendaraan roda
dua dan bilah Circular Saw. Mandau dengan besi biasa ini sering dijuluki sebagai
Mandau Ambang. Sedangkan gagangnya dibuat dari tanduk rusa, babi hutan atau
tanduk kerbau bahkan tulang manusia yang diberi ukiran khas Dayak dan Bulu
atau Rambut Manusia serta pada pangkal gagangnya diberi tali seperti seperti tali
rotan dan cincin yang disebut Kamang/Sopak. Sedang pada Sarungnya
dipergunakan Kayu Garunggang agar tidak merusak mata bilah Mandau. Bagian
atasnya dilapisi dengan tulang berbentuk gelang, bagian tengahnya dililit dengan
rotan dan biasanya dihiasi dengan manik-manik, bulu burung bahkan jimat.
4.2.2. Karakteristik Aspek Kebudayaan Immaterial
Karakteristik aspek kebudayaan immaterial terdiri dari karakteristik aspek
kebudayaan immaterial yang terdapat di Provinsi Kalimantan Timur. Aspek
kebudayaan material tersebut diantaranya ialah Talawang, Gayang, dan bebatuan.
Setiap elemen desain tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
4.2.2.1. Tari Gong
Tari Gong atau dapat disebut juga Tari Kancet Ledo adalah salah satu
tarian Dayak Kalimantan Timur, tepatnya dari suku Dayak Kenyah. Tarian ini
ditarikan seorang gadis dengan gong digunakan sebagai alat musik pengiringnya.
Tari ini biasanya dipertunjukkan pada saat upacara penyambutan tamu agung atau
upacara menyambut kelahiran seorang bayi kepala suku. Gerakan dalam Tari
Gong mengekspresikan tentang kelembutan seorang wanita. Tari ini
mengungkapkan kecantikan, kepandaian dan lemah lembut gerakan tari. Sesuai
dengan nama tarinya, tari Gong ditarikan di atas sebuah Gong, diiringi dengan alat
musik Sampe.
13

Gambar 4. Tari Gong


Sumber: https://www.netralnews.com/news/rsn/read/98741/ingin-tahu-indahnya-
tari-gong-dari-suku-dayak-ini-dia

4.2.2.2. Lagu Indung-Indung


Indung indung adalah lagu yang berasal dari Kalimantan Timur, provinsi
paling Timur di Kalimantan Indonesia. Lagu ini bercerita tentang nasehat bahwa
tiada daya dan upaya selain dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena lagu ini sarat
akan makna, tidak heran orang tua sering menyanyikan lagu ini pada anak-anak
mereka. Berikut liriknya:
Indung-indung kepala lindung
Hujan di udik di sini mendung
Anak siapa pakai kerudung
Mata melirik kaki kesandung

La hawla walla quwwatta


Mata melihat seperti buta
Tiada daya tiada upaya
Melainkan tuhan yang maha esa

Aduh-aduh Siti Aishah


Mandi di kali rambutnya basah
Tidak sembahyang tidak puasa
Di dalam kubur mendapat siksa

Duduk goyang di kursi gorang


Beduk subuh hampir siang
Bangunkan Ibu suruh sembahyang
Jadilah anak yang tersayang
14

4.2.2.3. Lagu Buah Bolok


Buah Bolok adalah sejenis buah hutan yang buahnya berada dibandir dan pohon
bagian bawah sangat digemari oleh Pelanduk, Kijang dan Rusa. Buah ini pun saat ini
sudah semakin jarang, padahal buah bolok adalah buah khas dari Kutai Kartanegara -
kaltim yang sudah menjadi buah legendaris masyarakat kutai. Buah ini memiliki rasa
asam namun sedikit manis. Sangat disayangkan kalau buah ini menghilang dari
peredaran, karena buah ini sempat dibuatkan lagu daerah, jangan sampai buah ini
dikenang hanya lewat lagu karena punah di masa yang akan datang. Inilah lagu yang
menjadi nyanyian kalimantan yang enak di senandungkan di kutai ini, lagu khas melayu
kalimantan timur yang membuat telinga tersentuh. Berikut liriknya:

Buah bolok kuranji papan


Dimakan mabok dibuang sayang
Busu embok etam kumpulkan
Rumah-rumah jabok etam lestarikan

Buah salak muda diperam


Dimakan kelat dibuang sayang
Sepupu densanak etam kumpulkan
Untuk menyambut wisatawan

Buah terong di gangan nyaman


Jukut belanak tulung panggangkan
Musium tenggarong mulawarman
Yok densanak etam kerangahkan

Buah bolok kuranji papan


Dimakan mabok dibuang sayang
Keroan kanak sekampongan
Etam begantar bejepenan

Buah terong di gangan nyaman


Jukut belanak tulung panggangkan
Musium tenggarong mulawarman
Yok densanak etam kerangahkan

Buah bolok kuranji papan


Dimakan mabok dibuang sayang
Keroan kanak sekampongan
Etam begantar bejepenan

Keroan kanak sekampongan


Etam begantar bejepenan
15

4.3 Respon Psikologis

Respon merupakan istilah psikologi yang digunakan untuk menyebutkan


reaksi terhadap rangsang yang diterima oleh panca indera. Hal yang menunjang
dan melatar belakangi ukuran sebuah respon adalah sikap, persepsi, dan
partisipasi. Respon juga diartikan sebagai suatu tingkah laku atau sikap yang
berwujud baik sebelum pemahaman yang mendetail, penelitian, pengaruh atau
penolakan, suka atau tidak suka serta pemanfaatan pada suatu fenomena tertentu
(Sobur, 2003).
4.3.1 Respon Psikologis Aspek Kebudayaan Material
Terdapat respon psikologis yang diberikan oleh pengunjung terhadap
aspek kebudayaan material yang terdapat di Kalimantan Timur. Aspek
Kebudayaan Material yang menjadi ciri khas Kalimantan Timur dapat
mempengaruhi wisatawan untuk datang dan berkunjung. Kebanyakan aspek
kebudayaan material merupakan benda yang biasa digunakan masyarakat suku
dayak untuk kegiatan tertentu seperti perang ataupun sebagai pelengkap dari
pakaian adat yang digunakan sehari-hari. Benda benda tersebut memeliki nilai
estetikanya sendiri yang menjadikan benda-benda tersebut menjadi menarik.
Misalnya saja motif ukiran pada talawang yang menampakan wajah seram,
selain dapat mengintimidasi lawan dapat pula menimbulkan kesan magis yang
ditimbulkan dari motif yang menampakan wajah seram. Adapula Mandau yang
menjadi barang incaran kolektor karena keunikan desainnya. Selain itu ada juga
Gayang yang memiliki desain hamper mirip dengan Mandau hanya saja lebih
panjang dan terlihat lebih seram arena bilah yang berwarna hitam. Tapi hal
tersebut yang bagi sebagian orang justru menjadi daya tarik sehingga menjadikan
barang tersebut patut dimiliki.

4.3.2 Respon Psikologis Aspek Kebudayaan Immaterial


Respon psikologi yang ditimbulkan dari aspek kebudayaan immaterial
adalah beragam. Misalnya saja pada tarian gong, respon psikologis yang
ditimbulkan adalah rasa kegembiraan yang terpancar dari gerakan penari maupun
alunan musiknya. Adapula lagu indung-indung yang bernada melayu yang
mendayu serta pesan nasehat didalamnya membuat pendengarnya dapat
merenungi lagu ini. Adapula lagu buah bolok yang memeiliki nada lebih
menghentak dank eras menimbulkan rasa bersemangat.

4.4 Fungsi Pemanfaatan

Fungsi pemanfaatan merupakan fungsi dari penggunaan aspek kebudayaan


material dan immaterial. Fungsi pemanfaatan tersebut dapat berkaitan dengan
lingkungan sekitar maupun manfaat bagi penggunanya. Aspek kebudayaan
material dan immaterial biasanya memiliki fungsi untuk mempermudah aktivitas
manusia.
4.4.1 Fungsi Pemanfaatan Aspek Kebudayaan Material
Fungsi pemanfaatan pada aspek kebudayaan material adalah dijadikannya
alat-alat tersebut sebagai perlengkapan pada saat berperang maupun keperluan
16

lain, seperti keperluan untuk berburu. Talawang digunakan sebagai perisai saat
berperang sedangkan Mandau dan gayang dapat digunakan sebagai senjata saat
berperang maupun sebagai peralatan saat berburu. Pemanfaatan peralatan tersebut
mulai menyesuaikan seiiring berkembangnya zaman, karena sudah tak ada lagi
peperangan maka peralatan tersebut digunakan sebagai alat berburu atau sebagai
barang hiasan dan dinikmati dari segi estetikanya.
4.4.2 Fungsi Pemanfaatan Aspek Kebudayaan Immaterial
Fungsi pemanfaatan pada aspek kebudayaan immaterial dapat dilihat dari
penggunaan aspek immaterial tersebut dalam kehidupan yang dijalankan oleh
masyarakat Kalimantan Timur. Misalnya saja tari gong yang biasa digunakan
sebagai tarian untuk menymbut tamu penting atau merayakan kelahiran anak
kepala suku. Selain itu ada juga lagu indung-indung dan buah bolok yang biasa
dibawakan saat acara besar seperti pernikahan ataupun perayaan lain.
17

5. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum Mengenal Dan Mengidentifikasi Aspek Material
Dan Immaterial Dalam Suatu Budaya yang terdapat di Kalimantan Timur melalui
metode studi literature, dapat disimpulkan bahwa,
1. Berdasarkan hasil identifikasi mengenai aspek kebudayaan material di
Kalimantan Timur yang memiliki aspek material terdiri dari Talawang, Gayang,
dan mandau. Karakteristik aspek kebudayaan material terdiri dari Talawang,
Gayang, dan mandau memiliki keunikan tersendiri bagi potensi wisata di
Kalimantan Timur, baik dari warna, ukuran, bentuk, dan tekstur. Respon
psikologis manusia terhadap aspek kebudayaan material yang menimbukan kesan
seram, misterius, dan unik. Fungsi pemanfaatan aspek kebudayaan material bagi
lingkungan yaitu, sebagai peralaatan saat berperang dan berburu.
2. Berdasarkan hasil identifikasi mengenai aspek kebudayaan immaterial di
Kalimantan Timur memiliki aspek kebudayaan immaterial berupa Tari Gong,
Lagu Indung-Indung, Lagu Buah Bolok. Karakteristik aspek kebudayaan
immaterial yang terdiri dari Tari Gong, Lagu Indung-Indung, Lagu Buah Bolok.
Dan memiliki respon psikologis beragam seperti kegembiraan, perenungan, dan
semangat memikiki fungsi beragam pula berupa pelengkap perayaan khusus.
18

DAFTAR PUSTAKA

Sanjaya, Ade. 2015. Pengetian Identifikasi Definisi Menurut Para Ahli.


http://www.landasanteori.com/2015/08/pengetian-identifikasi-definisi-
menurut.html. [Diakses pada : Kamis, 29 Agustus 2019, 16.08 WIB]
Anonym. 2015. Tari Gong Kalimantan Timur.
http://www.negerikuindonesia.com/2015/03/tari-gong-kalimantan-
timur.html. [Diakses pada : Kamis, 29 Agustus 2019, 22.31 WIB]
Ahmadi, Asyraaf. 2017. Mandau.
https://asyraafahmadi.com/in/pengetahuan/spesialisasi/persenjataan/senjata
-tradisional/mandau/. [Diakses pada : Kamis, 30 Agustus 2019, 20.05
WIB]
Anonym. 2016. 4 Senjata Tradisional Kalimantan Timur Yang di Lestarikan di
Museum. https://disiniaja.net/senjata-tradisional-kalimantan-timur/.
[Diakses pada : Kamis, 30 Agustus 2019, 20.23 WIB]
Ahmadi, Asyraaf. 2017. Talawang Senjata Khas Kalimantan Timur.
https://asyraafahmadi.com/in/pengetahuan/spesialisasi/persenjataan/senjata
-tradisional/talawang/. [Diakses pada : Kamis, 31 Agustus 2019, 16.08
WIB]
Nugraha, Tega. 2014. Buah Bolok. https://budaya-indonesia.org/Buah-Bolok .
[Diakses pada : Minggu, 31 Agustus 2019, 18.29 WIB]