Anda di halaman 1dari 10

TEKNIK PEMBENIHAN UDANG GALAH

(Macrobrachium rosenbergii)

A. Latar Belakang
Udang galah (Macrobrachium rosenbergii) merupakan salah satu komoditas
perikanan yang bernilai ekonomis tinggi baik untuk konsumsi dalam negeri
maupun ekspor. Permintaan pasarnya pun sampai saat ini cenderung meningkat,
sedangkan penangkapan udang galah di alam semakin sulit, sehingga perlu
dikembangkan usaha budidayanya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut
diperlukan benih dalam jumlah yang cukup dan kualitas yang baik.
Udang galah merupakan salah satu komoditas perikanan yang banyak
dibudidayakan karena memiliki beberapa kelebihan antara lain memiliki prospek
pasar yang cerah, bernilai ekonomis tinggi, mudah dibudidayakan serta
memberikan keuntungan usaha yang cukup tinggi. Berdasarkan informasi dari
pembudidaya udang galah di Bali, permintaan ekspor udang galah cukup besar
datang dari Jepang, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Selain pasar
ekspor, prospek pasar udang galah di dalam negeri pun cukup menjanjikan.
Saat ini, potensi pasar udang galah mencapai 10.500 ton per tahun. Jika total
lahan budidaya udang galah di kolam air tawar seluas 500 hektar, rata-rata panen
setiap hektarnya sebanyak 4 ton, sehingga pembudidaya udang galah di kolam air
tawar baru bisa memasok udang galah sebanyak 2.000 ton per tahun atau 5,4 ton
per hari untuk kebutuhan seluruh Indonesia. Angka ini masih sangat rendah dan
jauh di bawah tingkat kebutuhan udang galah yang mencapai 28,7 ton per hari.
Tingginya permintaan pasar terhadap udang galah perlu diimbangi dengan
ketersediaan pasokan benih sehingga perlu dilakukan kegiatan pembenihan udang
galah untuk memenuhi permintaan pasar tersebut. Namun demikian, penerapan
teknologi dan pengelolaan budidaya yang kurang tepat hanya akan menurunkan
kualitas induk yang selanjutnya juga akan mempengaruhi kualitas larva yang
dihasilkan. Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mendapatkan induk
udang galah yang unggul dalam jumlah yang memadai adalah melalui program
pemuliaan, baik melalui seleksi, domestikasi, sex reversal maupun hibridisasi.
Domestikasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk
mengatasi masalah kurangnya pasokan benih udang galah. Berdasarkan penelitian
populasi udang galah Thailand yang telah mengalami domestikasi cenderung
menghasilkan larva dengan keragaan yang lebih baik dibandingkan dengan larva
yang dihasilkan oleh populasi induk udang galah Vietnam yang langsung diambil
dari alam. Keberhasilan pembenihan beberapa strain udang galah dengan tujuan
domestikasi diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan produktivitas
pembenihan sehingga permintaan pasar dapat terpenuhi.
B. Tujuan
Mengetahui teknik pembudidayaan udang galah (Macrobrachium
rosenbergii).
C. Pembahasan
1. Klasifikasi udang galah
klasifikasi Udang Galah adalah sebagai berikut:
Phyllum : Arthropoda
Subphyllum : Mandibulata
Kelas : Crustacea
Subkelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Famili : Palamonidae
Subfamili : Palamoniae
Genus : Macrobrachium
Species : Macrobrachium rosenbergii, de Man
2. Morfologi Udang Galah
Seperti udang lain pada umumnya, badan udang galah terdiri dari
ruas-ruas yang ditutupi dengan kulit keras. Bagian kulit tersebut cukup
keras, tidak elastis dan terdiri dari zat “chitin” yang tidak dapat mengikuti
pertumbuhan dagingnya. Badan udang galah terdiri tiga bagian, yaitu bagian
kepala dan dada yang bersatu membentuk satuan kepala-dada
(cephalothorax), bagian badan (abdomen), dan bagian ekor yang biasa
disebut uropoda. Bagian cephalothorax dibungkus oleh kulit keras yang
disebut carapace.
Pada bagian depan kepala terdapat tonjolan carapace yang bergerigi
dan disebut rostrum. Walaupun kegunaan yang pasti belum diketahui,
namun secara taksonomis rostrum tersebut mempunyai fungsi penting, yaitu
sebagai penunjuk jenis (species). Dalam penentuan jenis, bentuk rostrum
dan jumlah gigi yang terdapat pada rostrum merupakan petunjuk penting.
Ciri khusus udang galah yang membedakannya dari jenis udang lainnya
adalah bentuk rostrum yang panjang dan melengkung seperti pedang dengan
jumlah gigi bagian atas berjumlah 11-13 gigi dan 8-14 buah gigi rostrum
bagian bawah.
Pada bagian dada terdapat lima pasang kaki jalan (periopoda). Pada
udang jantan dewasa, pasangan kaki jalan kedua tumbuh sangat panjang dan
besar, panjangnya dapat mencapai 1,5 kali panjang badannya. Ciri ini juga
merupakan khas udang galah yang secara tepat dapat dikenali. Namun pada
udang betina, pertumbuhan kaki jalan kedua ini tumbuh tidak begitu
mencolok. Bagian badan (abdomen) terdiri dari lima ruas, masing-masing
dilengkapi dengan sepasang kaki renang (pleipoda). Pada udang betina
bagian ini agak melebar membentuk semacam ruangan untuk mengerami
telurnya (broodchamber).
Bagian ekor (uropoda) merupakan ruas terakhir dari ruas badan yang
kaki renangnya berfungsi sebagai pengayuh atau yang biasa disebut ekor
kipas. Uropoda terdiri dari bagian luar (exopoda) dan bagian ujungnya
meruncing disebut telson. Umumnya warna kulit udang galah adalah biru
kehijau-hijauan, namun kadang-kadang ditemukan pula udang galah yang
warna kulitnya agak kemerah-merahan. Warna kulit udang galah dapat juga
dipengaruhi oleh lingkungan setempat.

3. Habitat dan Penyebaran Udang Galah


Udang galah hidup di sungai, danau, rawa dan perairan umum yang
bermuara ke laut. Pada satadium larva hingga benur (juvenil) udang galah
hanya ditemukan di air payau. Setelah itu, udang galah muda dan dewasa
akan bermigrasi dan berkembang biak di air tawar. ebagai hewan yang
bersifat "euruhaline" mempunyai toleransi yang tinggi terhadap salinitas air,
yaitu antara 0-20 per mil. Hal ini berhubungan erat dengan siklus hidupnya.
Udang galah berkembang biak di daerah air tawar pada jarak 100 km
dari muara, lalu telurnya terbawa aliran sungai hingga ke laut. Larva yang
menetas dari telur paling lambat 3-5 hari harus mendapatkan air payau.
Kemudian larva berkembang dan melakukan metamorfosis hingga mencapai
pascalarva di perairan payau. Stelah tumbuh menjadi udang galah muda dan
dewasa, udang galah akan kembali bermigrasi ke parairan tawar untuk
tumbuh dan kembali berkembang biak. Penyebaran udang galah mulai dari
Indo-Pasifik, yaitu dari bagian Timur Benua Afrika sampai Semenanjung
Malaya. termasuk Indonesia. Di Indonesia udang galah terdapat di
Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Irian.
4. Teknik Pembenihan Udang Galah
a. Persyaratan Induk
Induk yang baik menunjang dihasilkannya benih yang cukup banyak dan
kualitasnya memenuhi syarat sebagai benih sebar.
1) Persyaratan kualitatif:
a) Induk berasal dari hasil pembesaran benih sebar yang berasal dari induk
kelas induk dasar;
b) Warna kulit biru kehijau-hijauan, kadang ditemukan kulit agak
kemerahan, warna kulit juga dipengaruhi oleh lingkungan.
c) Kesehatan baik, yaitu :anggota atau organ tubuh lengkap, tubuh tidak
cacat dan tidak ada kelainan bentuk, alat kelamin tidak cacat (rusak),
tubuh tidak ditempeli oleh jasad patogen, tidak bercak hitam, tidak
berlumut, insang bersih.
d) Gerakannya aktif.
2) Persyaratan kuantitatif
Tabel kriteria kuantitatif sifat reproduksi
Parameter Satuan Kriteria
jantan Betina
Umur Bulan 8 – 20 8 – 20
Bobot tubuh gr > 50 > 40
Fekunditas butir/gr bobot tubuh - 30.000-70.000
Diamater telur mm - 0,6 – 0,7
b. Pengelolaan Induk
Prinsip-prinsip dalam pengelolaan induk:
1) Kepadatan 2-3 ekor/m²;
2) Sebaiknya induk jantan dan betina dipelihara dalam kolam terpisah;
3) Pakan cukup gizi (protein 25-30 %, dan lemak 5%);
4) Dosis pemberian pakan adalah 3-5 %, frekuensi 4 kali sehari;
5) Pembersihan kotoran dalam bak induk dilakukan setiap dua hari
bersamaan dengan pergantian air (untuk kolam tembok/beton).
6) Pakan yang bergizi dan cukup menunjang perkembangan gonad/
produksi telur
c. Pemijahan dan Penetasan Larva
Udang galah betina yang telah matang, gonadenya akan terlihat merah
oranye yang meliputi sebagian besar dari bagian cephalothorax dorsal.
Sebelum terjadi perkawinan udang betina terlebih dahulu berganti kulit.
Pada saat ini udang relatif lemah dan terjadi pemijahan. Spermatozoa dari
udang jantan akan tertampung dalam spermatheca menunggu saatnya telur
keluar melalui organ tersebut. Pada saat perjalanan telur dari ovarium
ketempat pengeraman inilah tejadi pembuahan. Sesuai dengan sifatnya,
pemijahan udang galah lebih sering berlangsung pada malam hari dibanding
dengan siang hari. Udang galah berpijah sepanjang tahun, artinya udang
galah tidak mempunyai musim tertentu untuk melangsungkan perkawinan
baik di alam maupun pada kolam-kolam pemeliharaan. (Satyani, 1981)

SELEKSI INDUK

MEMIJAHKAN

PEMERIKSAAN PEMBUAHAN

MENETASKAN TELUR

PEMANENAN NAUPLI
1) Seleksi Induk : seleksi induk matang gonad adalah dengan mengamati
tingkat perkembangan gonad yang dapat dilihat pada punggung induk
betina bagian rostrum. Bila sudah terlihat merah oranye pada sebagian
besar gonad hingga cephalothorax, pertanda bahwa udang tersebut siap
memijah
2) Pemijahan : Induk-induk yang telah matang gonad dimasukkan ke dalam
kolam pemijahan dengan padat tebar 4-5 ekor/m² dan perbandingan antara
jantan dan betina 1:3. Proses pemijahan juga disajikan pada Gambar 9.
Setelah pembuahan, telur diletakkan pada ruang pengeraman
(broodchamber) yang terdapat di antara kaki renang induk betina hingga
saatnya menetas.
3) Pemeriksaan Pembuahan : Induk yang matang telur dapat dilihat dari
telurnya yang berwarna abu-abu. Induk-induk yang kemudian matang telur
dipindahkan ke bak penetasan. Jumlh telur merupakan indikator kualitas
induk. Cara menghitung telur dapat menggunakan formulasi sebagai
berikut:
N:n=V:v

Dimana : N : Jumlah telur


n : Jumlah telur contoh
V : volume telur total
v : volume telur contoh
4) Menetaskan telur : tahapan penetasan telur adalah: menyiapkan media
penetasan; induk-induk disuci-hamakan, induk diberi pakan dan aerasi,
telur akan menetas 6 – 12 jam, induk yang telurnya belum menetas
dipindahkan ke bak penetasan lainnya, karena perbedaan umur larva yang
terlalu jauh menyebabkan pertumbuhannya akan berbeda besar,
memperpanjang waktu pemeliharaan dan merangsang terjadinya
kanibalisme.
5) Pemanenan Naupli : pemanenan naupli harus dipilih naupli yang bagus
untuk pembesaran, sedangkan yang tidak bagus akan dibuang karena tidak
akan mendapatkan larva yang bagus, ciri-ciri naupli yang berkualitas
adalah:
a) Warna tubuh kehitaman, keabu-abuan dan tidak pucat
b) Berenang aktif, periode bergerak lebih lama daripada periode diam
c) Sehat terlihat bersih, tidak berlumut dan organ tubuh normal
d) Secara visual ukuran naupli seragam
e) Bersifat fototaksis positif atau respon terhadap cahaya
f) Dengan mematikan aerasi sesaat naupli yang sehat akan berenag
kepermukaan.
d. Pemeliharaan Larva
Bak pemeliharaan larva berupa fiber kapasitas 1 – 2 ton. Air
pemeliharaan larva dengan salinitas 5 ppt dan dinaikkan setiap hari hingga
salinitas pemeliharaan antara 10 – 15 ppt. Larva yang telah dihitung
dimasukkan kedalam bak pemeliharaan dengan cara diadaptasikan perlahan-
lahan. Kapadatan larva dalam bak pemeliharaan yaitu 50 – 75 ekor/liter.
Perkembangan larva terdiri dari 11 stadia sebelum bermetamorfosis menjadi
post larva. Sifat larva yang umum adalah planktonis, aktif berenang dan
tertarik oleh sinar tetapi menjauhi sinar matahari yang kuat. Pada fase larva
cenderung bersifat berkelompok, namun semakin lanjut umurnya akan
semakin menyebar dan individual serta bersifat bentik.
1) Penyiapan kolam dan air media pemeliharaan
Tahapan:
a) Bak dicuci bersih;
b) Disuci-hamakan, bisa dengan dijemur dibawah terik Matahari atau
dengan desinfektan (misalnya kaporit 50-100 mg/liter air (50-100
ppm);
c) Dibilas dengan air sabun kemudian dicuci bersih;
d) Air bersih dari tandon dimasukkan ke dalam bak dengan disaring
menggunakan filterbag, hingga tinggi air 70-80 cm,
e) Diaerasi.
2) Penebaran naupli
Setelah satu hingga dua hari di bak penetasan, larva dipindahkan
ke dalam bak pemeliharaan larva. Padat penebaran larva antara 100–
150 ekor/liter. Kualitas air dipertahankan pada kondisi optimum, yaitu
pada suhu 29 - 31°C, pH 7,5 – 8, salinitas 5 – 6 ppt dan oksigen terlarut
5 – 6 ppm. (Sharshar, 2008)
3) Pemberian / pengelolaan pakan
a) Pakan Alami: Pakan larva harus (a) berkualitas tinggi, (b) ukuran
sesuai bukaan mulut larva dan (c) mudah tecerna. Pakan alami yang
terbaik untuk larva udang galah adalah naupliii Artemia salina;
selain itu juga dapat digunakan Moina sp. atau dikenal sebagai kutu
air. Langkah awal adalah penentuan jumlah nauplii yang dibutuhkan;
kebutuhan jumlah naupli dapat dihitung dengan rumus yaitu:
Jumlah nauplii artemia = jumlah larva x kebutuhan naupli perhari
b) Pakan Buatan: Pakan buatan sebagai pakan tambahan perlu
diberikan untuk melengkapi kebutuhan gizi bagi larva udang,
diberikan pada masa akhir stadia larva.
4) Pengelolaan kualitas air
Kualitas air merupakan faktor penting selama pembenihan
berlangsung. Baik buruknya kualitas air akan sangat menentukan hasil
yang akan dicapai. Air yang digunakan harus memenuhi kriteria fisik,
kimia, dan biologi. Beberapa parameter kualitas air yang perlu dipantau
antara lain oksigen terlarut (DO), salinitas, derajat keasaman (pH) dan
suhu.
5) Monitoring Pertumbuhan
Monitoring pertumbuhan larva secara berkala sangat penting
dilakukan. Maksud pekerjaan ini adalah guna mengetahui apakah
perkembangan larva normal, atau kah ada kelainan (kurang baik).
Monitoring pertumbuhan adalah dengan mengukur panjang larva
(panjang total atau total length / TL) paling tidak setiap 5 hari. Jumlah
larva yang diambil sebagai contoh minimal 30 ekor. Hasil pengukuran
kemudian dianalisis apakah ada kecenderungan perbedaan yang
mencolok. Bila kurang baik maka perlu diketahui faktor-faktor yang
kiranya berpengaruh terhadap hal tersebut. Faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap laju pertumbuhan larva/benih udang galah pada
dasarnya meliputi empat golongan yaitu: (1) mutu telur/naupliii, (2)
lingkungan/kualitas air media pemeliharaan, (3) pakan, serta (4) ada
tidaknya serangan penyakit.
6) Pemanenan
Panen seleksi dilakukan pada hari ke 28-30 dengan syarat larva
yang sudah menjadi pasca larva (PL) atau ukuran 1-3 cm sekitar 30-
75% jumlah total larva. Panen menggunakan serokan berukuran mesh
size mesh 50 setelah air diturunkan hingga tersisa 30%. Larva yang
sudah ditampung selanjutnya diseleksi (grading) dengan cara
merendam seser dalam air. Secara biologis udang galah yang sudah
mencapai PL akan menempel pada seser tersebut. Selanjutnya larva
dimasukkan dalam wadah yang telah disiapkan.
7) Penyakit
Penyakit merupakan salah satu faktor pembatas keberhasilan
pembenihan udang galah. Penyakit yang biasa timbul adalah penyakit
bakterial yang berasal dari air laut yaitu berupa Vibro sp dengan
ditandai semacam stress, Fluorisensi pada larva yang mati dan terjadi
kematian massal dalam waktu yang singkat.
Untuk mencegah terjadinya serangan bakterial perlu adanya "
Chlorinisasi " media dan pengeringan fasilitas selama 7 hari, jika sudah
terserang pengobatannya menggunakan Furozolidone dengan dosis 11 -
13 ppm, dengan cara perendaman selama 3 hari.
D. Kesimpulan
Udang galah (Macrobrachium rosenbergii) merupakan salah satu
komoditas yang paling digemari dewasa ini. Upaya pembenihan merupakan
salah satu langkah yang penting dalam memenuhi kebutuhan pasar yang tinggi.
Hal yang harus diperhatikan dalam pembenihan udang galah yaitu pemelihan
dan pengelolaan induk, pemijahan, penetasan dan pemeliharaan larva,
pemanenan serta perawatan agar terhindar dari penyakit
E. Daftar Pustaka
http://bbat-sukabumi.tripod.com/t_benihudang.html. Diakses pada 15 juni
2019.

https://www.dunia-perairan.com/2012/11/udang-galah-macrobrachium-
rosenbergii.html. Diakses pada 15 juni 2019.

Khotimah, husnul. 2014. Teknik pembenihan udang galah (macrobrachium


rosenbergii) sistem intensif di instalasi budidaya air payau (ibap)
kabupaten probolinggo, jawa timur. Praktek kerja lapangan. Jurusan
perikanan fakultas pertanian-peternakan universitas muhammadiyah
malang. Malang
Maryam, Siti. Dkk. 2009. Teknologi Pembenihan Udang Galah
Macrobrachium Rosenbergii De Man Strain Gimacro, Medan, Ciasem,
Dan Barito Di Loka Riset Pemuliaan Dan Teknologi Budidaya Perikanan
Air Tawar Sukamandi, Subang, Jawa Barat. PKM. Institut Pertanian
Bogor

Anda mungkin juga menyukai