Anda di halaman 1dari 8

PENDAHULUAN

Usia gestational dapat ditentukan pada saat masa prenatal dengan menggunakan teknik sebagai berikut:
hari pertama haid terakhir, hari saat pertama kali terjadi aktifitas dari fetus (paling cepat muncul pada
usia 16-18 minggu), saat pertama kali terdengar bunyi jantung (usia 10-12 minggu dengan pemeriksaan
menggunakan ultrasound Doppler), dan pemeriksaan ultrasonografi (sangat akurat bila dilakukan
sebelum usia kehamilan 20 minggu). American Academy of Pediatrics merekomendasikan bahwa semua
bayi baru lahir di klasifikasikan dengan berat lahir dan usia gestasi. Bayi < 37 minggu diklasifikasikan
sebagai premature, matur adalah 37-41 6/7 minggu, dan postmatur adalah ± 42 minggu. Usia
gestasional yang paling sesuai didefinisikan dengan berat antara 10-90 persentil pada kurva Lubchenco.

Meconium Aspiration Syndrome (MAS) terjadi pada 10-15% kelahiran hidup di Amerika Serikat
(400.000-600.000/tahun). Meconium Aspiration Syndrome (MAS) adalah kelainan respiratorik yang
disebabkan oleh karena inhalasi dari meconium ke dalam tracheobronchial. MAS merupakan diagnosis
masuk pada 1,8% bayi matur pada suatu studi retrospektif skala besar dari tahun 1997-2007. Studi
kohort nasional di Amerika Serikat dilakukan pada bayi tunggal hidup matur keturunan non-Hispanik
(1995-2001) menunjukkan bahwa angka terjadinya MAS meningkat sesuai usia gestasional, yaitu, dari
0,10% pada usia gestasional 37 sampai 0,22 dan 0,31% pada usia gestasional 40 dan 41 secara
berurutan.

Meconium adalah kotoran pertama yang berasal dari usus bayi baru lahir dan merupakan campuran sel-
sel epitel, rambut fetal, mucus, dan cairan empedu. Stress intrauterine dapat menyebabkan masuknya
mekonium secara in utero kedalam cairan amnion. Cairan amnion yang bercampur meconium dapat
terinspirasi oleh fetus saat fetus bernapas cepat atau menarik napas panjang yang distimulasikan karena
terjadinya hipoksia dan hiperkapnea. Keberadaan meconium di trakea dapat menyebabkan obtruksi
jalan napas beserta reaksi inflamasi, sebagai hasil dari gangguan respirasi yang parah. Adanya meconium
pada cairan amnion meruakan tanda peringatan adanya gangguan pada fetus tetapi bukan merupakan
tanda yang berdiri sendiri dari adanya gangguan fetus.

Infeksi neonatus yang disebut sepsis neonatal adalah penyakit yang sangat berbahaya dan
menyebabkan angka morbiditas dan mortilitas yang tinggi. Sepsis neonatal adalah sindrom klinik dari
penyakit sistemik disertai bakterimia yang muncul pada bulan pertama kehidupan. Insiden terjadinya
sepsis neonatal diperkirakan 7,1 sampai 38 kasus per 1000 kelahiran hidup di Asia, 3.5 sampai 8.9 per
1000 kelahiran hidup di Amerika Selatan dan Karibia. Angka insiden terjadinya infeksi neonatal di
beberapa rumah sakit di Indonesia diperkirakan 8.76-30.28%, dengan angka mortalitas 13.86%. Di divisi
Neonatolgi bagian ilmu kesehatan anak, fakultas kedokteran/RSCM pada tahun 2003 tercatat bahwa
sepsis neonatal terjadi 56.1 per 1000 kelahiran hidup. Di Indonesia, secara nasional, insiden terjadinya
sepsis belum dilaporkan. Di RS Dr. Soetomo telah dilaporkan bahwa 49 dari 2416 pasien menunjukkan
positif bakteri pada kultur darah (bukti adanya sepsis bacteremia). Mortalitas yang berhubungan dengan
sepsis dapat dicegah secara luas dengan terapi antimikroba yang rasional dan perawatan penunjang
yang agresif. Di negara-negara berkembang, insidensinya diperkirakan sekitar 3-4 kali lebih tinggi dan
sepsis neonatal tetap merupakan penyebab yang paling sering untuk dirawat pada unit neonatal. Hal ini
paling utama disebabkan oleh kurangnya edukasi tentang kesehatan, buruknya perawatan antenatal
dan kurangnya petugas kesehatan yang terlatih untuk persalinan. Gabungan antara infeksi saluran
kemih saat kehamilan, pireksia, cairan vaginal dan pemeriksaan vaginal yang kurang bersih saat
persalinan dan perkembangan awal sepsis neonatal merupakan sepsis neonatorum dapat dikategorikan
dengan onset awal dan akhir.

Laporan kasus ini akan memaparkan sebuah kasus perinatology dari seorang bayi yang didiognosis
dengan bayi cukup bulan sesuai masa kehamilan, Meconium Aspiration Syndrome dan sepsis e.c
Enterobacter aerogenes.

Laporan kasus

Seorang bayi perempuan, denga inisial LP dirujuk dari RS Pancaran Kasih dengan takipneu. Pada bayi
telah terpasang IV line, diberi injeksi antibiotik (amoksisilin dan gentamisin) dan O2 lewat kanul nasal
beberpa jam setelah bayi lahir di RS Pancaran Kasih dengan keluhan utama pernapasan cepat,
mendengkur dan sianosis. Napas yang cepat semakin memburuk pada bayi ini, sehingga kemudian bayi
dirujuk ke RS RD Kandou pada tanggal 8 Agustus 2014 pada pukul 17.00

Riwayat ANC dan kelahiran

Kehamilan merupakan kehamilan kedua. Ibu control rutin pada bisan dan menerima imunisasi TT
sebanyak 2 kali. Riwayat mengkonsumsi jamu-jamuan, merokok, dan alcohol selama kehamilan
disangkal. Saat hamil ibu hanya minum vitamin yang diberikan oleh bidan dan tidak ada riwayat
mengkonsumsi obat lainnya. Riwayat infeksi saluran kemih disangkal. Ibu mempunyai riwayat keluar
cairan berbau dan gatal di kemaluan dan mempunyai riwayat demam saat hamil.

Riwayat persalinan

Bayi dilahirkan pada tanggal 8 Agustus 2014 pada pukul 14.00 secata Sectio Cesaria atas indikasi gawat
janin, dengan berat lahir: 2600 gram, panjang lahir: 46 cm. Apgar score: 3-5-7. Bayi dilahirkan dari ibu
G2P1A0 umur 25 tahun, usia kehamilan 39-40 minggu. Factor resiko sepsis: meconium hijau, ibu dengan
cairan vagina berbau dan gatal dan gawat janin dengan BJJ > 160x/m

Riwayat kebiasaan sosial, ekonomi dan lingkungan

Orang tua tinggal di rumah denga atap seng, berdinding beton dan berlantaikan semen. Terdiri dari 1
kamar tidur, yang dihuni oleh 2 orang dewasa dan seorang anak. Kamar mandi berada di dalam rumah.
Sumber air minum dari sumur, sumber listrik, dan sampah dibuang di temapt pembuangan sampah.
Pemeriksaaan fisik
Diskusi

Meconium manusia adalah zat yang kental dan tidak berbau yang terdiri dari air, lanugo, sel-sel
deskuamasi, vernix, cairan ketuban, enzim-enzim pancreas dan pikmen empedu. Meconium adalah
media yang cocok untuk pertumbuhan bakteri, terutama untuk bakteri basil gram negative. Beberapa
bahan pembentuk meconium, khususnya asam lemak bebas dan garam-garam empedu, dapat
mempengaruhi tegangan permukaan alveoli dengan cara menyingkirkan atau menginhibisi surfaktan.

Aspirasi meconium akan membentuk sindrom yang dicirikan dengan hipoksia, hiperkapnea dan asidosis.
Hipoksia perinatal, obstruksi akut jalan napas, inflamasi pulmonal, vasokonstriksi pulmonal, hipertensi
pulmonal, dan inkativasi surfaktan semuanya hal tersebut diatas mempunyai peran penting dalam
pathogenesis dari sindrom aspirasi meconium (MAS).

Sebagaian besar dari kasus aspirasi meconium kemungkinan terjadi sebelum lahir. Karena teraspirasi,
maka meconium dapat bermigrasi ke jalan napas bagian perifer, yang dapat menyebabkan obstruksi
jalan napas dan disusul terjadinya inflamasi paru dan hipertensi pulmonal. Meskipun mekanisme
masuknya meconium secara in utero belum terlalu dipahami secara utuh, hal tersebut bergantung pada
peningkatan gerakan peristaltic usus, relaksasi dari spinkter anal dan umur kehamilan lebih dari 34
sampai 35 minggu. Sebelum usia kehamilan 34 minggu, meconium biasanya tidak ada pada kolon
desenden dan rectum. Peningkatan peristaltic bisa disebabkan oleh peningkatan konsentrasi dari motilin
(2) atau dipicu oleh infeksi (3) hipoksia, atau stimulasi vagal yang dihasilkan oleh kompresi tali pusat
yang jarang atau berulang, apapun yang bisa menyebabkan dilatasi spinkter.

Penegakan diagnosis MAS khususnya berdasarkan pada kriteria berikut: 1) cairan ketuban bercampur
meconium atau meconium pada bayi ataupun keduanya 2) gagal napas saat lahir atau beberapa saat
setelah lahir, dan 3) gambaran radiografi yang positif. Apabila bayi membutuhkan intubasi, maka
meconium yang ditemukan pada saat dilakukan penghisapan pada endotrakeal secara otomatis
menegakkan diagnosis. Bayi dengan MAS mungkin lahir dengan kuku-kuku, tali pusat dan kulit yang
berwarna hijau kekuningan. Pada bayi postmatur bisa didapatkan kulit yang terkelupas, kuku yang
panjang, dan kurangnya vernix. Temuan lain yang bisa didapatkan termasuk takipneu, retraksi,
dengkuran dan dada berbentuk tong.

Bayi dirujuk dari RS Pancaran Kasih denga napas cepat, retraksi dada, mendengkur dan ronkhi kasar
pada kedua paru. Pada bayi juga didapatkan tanda meconium pada tali pusat, kulit dan kuku. Gambran
radiologi pada foto thoraks menunjukkan kumpulan infiltrate dan hiperareasi tanpa kebocoran udara
sehingga kita dapat menentukan MAS sebagai diagnosis.

Meskipun tanda meconium dan MAS merupakan masalah yang palin umum terjadi, penanganan yang
sesuai di ruang bersalin dan hal yang sesudahnya masih menjadi pertentangan. Pengosongan jalan
napas: penghisapan orofaringeal dan nasofaringeal segera setelah kepala lahir tetapi sebelum lahirnya
punggung dan dada merupakan praktik yang biasa dilakukan pada 2 dekade terakhir, menunjukkan
penurunan insiden dan tingkat keparahan MAS. Namun demikian, sebuah studi multisenter terbaru
menunjukkan bahwa cara ini tidak dapat mencegah MAS. Para peneliti juga menunjukkan bahwa hal
tersebut tidak dapat mengurangi angka mortalitas, durasi ventilasi dan pemberian oksigen, atau
diperlukan atau tidaknya ventilasi mekanik. Oleh sebab itu, suctioning tidak direkomendasikan lagi,
meskipun hal tersebut masih direkomendasikan pada kasus-kasus tertentu, seperti pada kasus dengan
meconium yang tebal dan banyak. Perawatan penunjang dengan ventilator: sepertiga dari bayi dengan
mAS membutuhkan ventilator. Hal ini karena kebocoran udara adalah masalah yang utama pada kondisi
ini, konsentrasi oksigen yang tinggi sanagat diperlukan sedini mungkin. Continous Positive Airway
Pressure (CPAP) / Bubble CPAP dapat berguna bila udara yang terperangkap bukan merupakan masalah
utama. Apabila CPAP tidak memadai, ventilasi mekanik yang menggunakan tekanan inspirasi rendah,
waktu inspirasi pendek dan inspirasi panjang dan kecepatan pernapasan merupakan penunjang untuk
mempertahankan gas darah pada nilai normal. Peningkatan positive end expiratory pressure (PEEP) saat
perbaikan oksigenasi dapat memperburuk terjadinya air trapping dan resiko terjadinya pneumothoraks.
Oleh karena itu PEEP yang rendah tampaknya dapat menjadi pilihan yang menguntungkan. Terapi
surfaktan. Surfaktan dapat diberikan secara bolus atau sebagai lavage. Pada sebuah studi percobaan
controlled random skala internasional yang multisenter, menyimpulkan bahwa pengganti surfaktan
dengan dua aliquots 15 mL/kg surfaktan bovine yang dicairakan dengan larutan salin menjadi
konsentrasi fosfolipid 5 mL/kg dengan waktu pemberian kurang dari 24 jam setelah lahir dapat
meningkatkan oksigenasi dan menurunkan keperluan perawatan ECMO, menurunkan hasil akhir berupa
kematian yang disebabkan oelh kebocoran udara, dan tingkat keparahan morbiditas pulmoner. Hasil
dari meta-analisis juga memberi kesan bahwa surfaktan lavage mempunyai efek yang signifikan pada
mortalitas dan morbiditas yang disebabkan oleh MAS. Terapi steroid: meconium pada jalan napas
mencetuskan reaksi inflamasi yang dikarakterisasi dengan adanya peningkatan jumlah sel dan
interleukin pro inflamasi sitokin (IL-1B), IL-6, tumor necrosis factor (TNF-α). Pengurangan tingkat sitokin
tersebut diatas didapatkan mempunyai korelasi dengan peningkatan fungsi paru. Steroid dengan
pemberiaan secara intravena dan juga secara inhalasi telah diamati dapat menekan respons inflamasi
sehingga dapat meningkatkan fungsi paru pada bayi denga MAS. Perawatan penunjang: hal ini sangat
diperlukan untuk mempertahankan lingkungan termal yang optimal dan penanganan minimal karena
bayi-bayi ini dapat dengan mudah terganggu dan bisa menjadi hipoksemi dan asidotik dengan cepat.
Berdasarkan tinjauan dari sumber data Cochrane yang berasal dari percobaan yang dilakukan secara
random dan terkontrol, dua studi membandingkan lavage menggunakan surfaktan yang diencerkan
dengan penanganan standar. Meta-analisis dari ke dua studi ini tidak menunjukkan efek yang signifikan
pada mortalitas atau pada penggunaan ECMO. Untuk hasil gabungan dari kematian dan penggunaan
ECMO, sebuah efek yang signifikan pada grup lavage. Pada studi lain yang telah dipublikasikan
membandingkan surfaktan lavage diikuti dengan bolus surfaktan dengan penggunaan bolus surfaktan
pada MAS yang dipersulit dengan hipertensi pulmonal. Tidak ada pengaruh yang berarti pada mortilas,
pneumotoraks, lamanya penggunaan mekanikal ventilasi, atau lamanya waktu rawat yang terpantau.

Penanganan rutin pada bayi telah dilakukan pada bayi ini, orofaringeal dan nasofaringeal suction masih
dilakukan pada bayi segera setelah persalinan dan terdapat meconium yang tebal dan berwarna
kehijauan. CPAP dilakukan pada hari kedua perawatan karena CPAP sementara digunakan pada pasien
yang lain, dan sementara menunggu, bayi ini diberikan 1 L/menit oksigen melalui nasal kanul yang
menyuplai 53% oksigen. Steroid tidak diberikan dikarenakan minimnya bukti klinik dan penggunaannya
di Indonesia masih kontroversial. Surfaktan juga tidak diberikan pada pasien ini karena kerterbatasan
ketersediannya, tetapi kami melakukan perawatan penunjang pada bayi ini dengan menempatkannya
didalam incubator untuk mempertahankan kondisi tubuh dan menstabilkan suhu tubuhnya.

Sepsis neonatal didefinisikan sebagai sindrom klinis yang disebabkan oleh serangan mikroorganisme ke
dalam aliran darah selama bulan pertama kehidupan. Pada sepsis neonatal terdapat infeksi aliran darah
yang invasive, yang ditandai dengan ditemukannya bakteri pada cairan tubuh seperti darah, cairan
sumsum tulang dan urin. Namun, sejak konsensus dari American College of Chest Physicians/Society of
Critical Care Medicine (ACPP/SCCM) memunculkan beberapa pengertian seperti sepsis adalah fetal
inflammatory response syndrome (FIRS) yang muncul sebagai akibat dari bakteri, virus, jamur atau
parasite.

Insidens terjadinya sepsis pada negara-negara berkembang masih sangat tinggi (1.8-18/1000) bila
dibandingkan dengan negara maju (1-5/1000 kelahiran). Insidens di Asia tenggaara berkisar antara 2.4-
16 per 1000 kelahiran hidup, sedangkan pada divisi neonatologi bagian ilmu kesehatan anak fakultas
kedokteran/RSCM pada tahun 2003 mencapai 56.1 per 1000 kelahiran hidup. Secara nasional, di
Indonesia, insidens terjadinya sepsis belum dilaporkan. Insidens sepsis neonatal di rumah sakit
menunjukkan hasil yang tinggi, terutama pada rumah sakit rujukan. Sebagai contohnya di RSCM,
insidens sepsis neonatal menunjukkan nilai yang tinggi dan mencapai 13.7% sementara angka mortalitas
mencapai 14%. Meskipun infeksi bacterial mempunyai peranan yang pentingpada sepsis neonatal,
infeksi yang disebabkan oleh virus juga perlu dipertimbangkan. Dari tahun ke tahun, insidens sepsis
neonatal tidak mengalami kemajuan, sementara angka mortalitas memperlihatkan peningkatan yang
signfikan. Angka mortalitas bisa mencapai 50% pada bayi-bayi yang tidak mendapat perawatan. Hal ini
terjadi karena semakin majunya teknologi medis dan penemuan berbagi antibiotic yang baru.

Sepsis neonatal dapat dibagi menjadi Early Onset neonatal Sepsis (EOS) dan Late Onset Neonatal Sepsi
(LOS). Keduanya dibedakan berdasarkan pathogenesis, mikroorganisme penyebab, penanganan dan
prognosisnya. EOS terjadi pada usia <72 jam, biasanya disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal
dari ibu, saat kehamilan maupun saat persalinan. LOS terjadi pada usia >72 jam, bisa disebabkan oleh
mikroorganisme yang didapat saat persalinan tetapi pengaruhnya lebih lambat (setelah 3 hari) atau
umumnya muncul pada bayi yang sementara dirawat (infeksi nosocomial).

Banyak factor resiko pada EOS yang dapat dikelompokkan menjadi resiko mayor dan minor. Faktor
resiko mayor terdiri dari ketuban pecah >12 jam, demam saat hamil >37.3°C, APGAR skor rendah (1
menit <5, 5 menit <7), berat lahir sangat rendah (<1500 g), umur kehamilan <37 minggu, cairan vagina
pada wanita yang tidak dirawat, multipara, wanita dengan suspek UTI atau UTI yang tidak diobati.

Sindrom klinis pada bayi dengan sepsis didapatkan adanya gangguan pada system respirasi (RR takipneu
>60x/menit, bradipneu RR <30x/menit, apneu >20 detik atau terjadi 2 kali dalam 1 jam, dengan episode
apneu berat yang membutuhkan ventilasi tekanan positif), system kardiovaskuler (bradikardi <100
x/menit, takikardi >160x/menit, penurunan perfusi dengan CRT >3 detik atau ekstrimitas dingin dan
sianosis), system metabolic (hipotermia pada pengukuran suhu aksila <36.5°C, hipertermia pada
pengukuran suhu aksila >37.5°C dan ketidakstabilan kadar gula darah (gula darah <45mg/dL atau
>125mg/dL), status neurologis (letargi, hipotonik,penurunan aktivitas, kejang), gastrointestinal (muntah,
diare, perut kembung, ileus, intake makanan yang kurang, intoleransi makanan (residual gaster >20%
dalam 24 jam), system hematologi (anemia, jaundice, petekie, purpura).

Pemeriksaan lanjut perlu dilakukan sebagai penanda seperti hitung leukosit (<5000/mm3 atau
>25.000/mm3), hitung trombosit (<100.000 /mm3), IT ratio (rasio dari neutrophil imatur terhadap
neutrophil total >0.2), dan CRP (C-Reactive Protein) >1 mg/dL atau 10 mg/L). sampai saat ini, kultur
darah masih merupakan gold standard untuk mendiagnosis sepsis neonatal, tetapi hasilnya baru
didapatkan setelah 7 hari kemudian.

Kultur darah dengan hasil positif ditemukan antara 25-54%. Teknik imunologi yang cepat seperti CRP
bisa membantu penegakan diagnosis septicemia. Kultur darah dilakukan untuk mengisolasi pathogen
penyebab tetap menjadi baku emas dalam penegakan diagnosis definitive dari septicemia tetapi
hasilnya bisa memakan waktu selama beberapa jam sampai berhari-hari, sehingga dibutuhkan
penanganan awal yang bersifat empiris pada kasus yang dicurigai. Trombositopenia merupakan hal yang
sering ditemukan pada septik neonatal. Sekitar 60% bayi baru lahir yang terbukti infeksi menjadi
trombositopenik dengan jumlah trombosit kurang dari 100.000/uL. Insidens terjadinya trombositopenia
pada sepsis neonatorum dapat menjadi 80% bila kita mengecilkan sampai 150.000/uL. Mekanisme yang
terjadi kemungkinan karena adanya gabungan dari kekurangan produksi, peningkatan penghancuran
trombosit, dan sekuestrasi pada limpa yang membesar dan mekanisme mayor lainnya yang menjadi
penyebab terjadinya trombositopenia pada sepsis neonatal adalah penghancuran trombosit yang cepat.
Munculnya kedua parameter tersebut dihubungkan dengan sensitivitas 93-100%, spesifitas 83%, 27%
dan 100% dari nilai perkiraan positif dan negative, secara berurutan untuk mendeteksi sepsis.

Untuk menentukan diagnosis dari sepsis, dibutuhkan tiga poin diagnosis yang terdiri dari factor resiko,
gejala klinis, dan pemeriksaan yang telah disebutkan diatas. Diagnosis dapat ditegakkan apabila terdapat
factor resiko terdiri dari 1 faktor resiko mayor dan 2 faktor resiko minor, adanya gejala klinik, dan
pemeriksaan klinis yang didapatkan ketidaknormalan setikdaknnya pada 2 macam pemeriksaan,
diagnosis sepsis dapat segera ditegakkan sementara menunggu hasil kultur darah.

Enterobacter aerogenes adalah bakteri komensal yang umum terdapat pada usus manusia dan biasanya
terdapat pada feses bayi. Hygiene yang tidak adekuat dari petugas kesehatan, ditambah dengan
penuhnya ruang perawatan NICU, dapat meningkatkan kolonisasi dari bakteri ini pada neonates. Bakteri
ini berada di peringkat ke empat (setelah Pseudomonas spp, E.coli, A.anitratus, Burklorderia cepacia).
Cuci tangan dapat menghilangkan sementara dan beberapa flora pathogen yang potensial. Beberapa
studi menunjukkan bahawa peningkatan beban kerja menggiring terjadinya peningkatan ketidakpatuhan
dalam mencuci tangan. Ruangan yang terlalu padat dan jumlah petugas yang kurang di NICU
menyulitkan petugas untuk mencuci tangan setiap kali kontak dengan setiap pasien. Juga kegagalan
untuk mendesinfeksi bagian yang berkaret pada jalur intravena dapat memindahkan pathogen antara
pasien dan dapat menimbulkan infeksi pada neonates. Enterobacter adalah pathogen yang oportunis
dan pasien yang dengan mudah terinfeksi Enterobacter adalah pasien yang sakit berat,
imunocompromised, dan atau sementara menerima perawatan yang invasive, seperti intubasi dan
kanulasi intravena.
Pada pasien ini dikelompokkan sebagai onset awal dari sepsis neonatal karena gejala klinis muncul <72
jam dan riwayat penyakit terdiri dari 2 faktor resiko mayor (tanda meconium dan bunyi jantung >160
denyut per menit) dan resiko minor (cairan vagina yang berbau dan gatal serta riwayat demam saat
hamil). Sementara itu gejala klinis yang didapatkan berupa gangguan jalan napas (RR 74x/menit), system
metabolic (suhu badan 36.4°C), dan status neurologi (kurang aktif dan kurang reflex). Pada pemeriksaan
penanda sepsis, ditemukan CRP 12 mg/dL. Karena pada pasien ini ditemukan 2 faktor resiko mayor,
bersamaan dengan adanya gejala klinik, ditunjang dengan pemeriksaan klinis sehingga pasien ini
didiagnosis sebagai sepsis neonatal.

Sepsis neonatal dapat menjadi lebih parah bila dibiarkan, terapi antibiotic yang sangat efektif harus
digunakan dan keterlambatan penanganan harus diminimalkan. Penanganan harus efektif dalam
melawan pathogen, aman untuk bayi, dan mudah ditemukan di rumah sakit dan sekitarnya. Regimen
parenteral (intravena atau intramuscular) pada sepsis neonatal yang saat ini direkomendasikan oleh IDAI
adalah kombinasi penisilin/ampisilin dan gentamisin, atau sefalosporin generasi ketiga (misalnya
seftriakson atau sefotkasim) pemberian selama 10-14 hari. Beberapa penulis setuju pemberian penisilin
atau penisilin semisintetik (ampisilin) bersamaan dengan aminoglikosida melindungi dari
mikroorganisme yang menyebabkan sepsis onset awal (Streptokokus grup B, enterokoki,
enterobactericeae, listeria monocytogenes) sehingga bisa dipertimbangkan sebagai regimen empiris
yang terbaik. Selain terapi dengan antibiotic, masih ada terapi tambahan lainnya yang telah dilaporkan
dapat mengurangi mortalitas dari sepsis neonatal, seperti transfuse tukar, immunoglobulin intravena,
granulocyte-macrophage colony stimulating factor (GM-CSF), tetapi semuanya itu masih dalam tahap
penelitian.

Sesuai dengan protocol di bagian neonatologi RS Kandou, antibiotic pilihan pertama adalah kombinasi
antara amoksisilin dengan gentamisin. Apabalia tidak ada perbaikan, kombinasi tersebut dapat diganti
dengan ceftazidim dan amikasin. Untuk infeksi yang sudah parah kita dapat menggunakan meropenem
atau imipenem. Untuk infeksi fungal dapat diberikan amphoterisin B atau flukonazol. Pada saat pasien
masuk rumah sakit, diberikan injeksi 2 x 150mg amoksisilin dan injeksi gentamisin 15 mg setiap 36 jam.
Bila dalam 3 hari dalam pengawasan tidak ada perubahan klinis, maka pemberian antibiotic diganti
dengan ceftazidim dan amikasin, dan menghasilkan perbaikan klinis.

Prognosis pada pasien ini adalah ad bonam karena pada pasien ini kami telah melakukan pemeriksaan
untuk sepsis dan pemberian terapi antibiotic secara empiris karena sudah dicurigai menderita sepsis
neonatal sejak hari pertama dirawat. Saat dilakukan observasi, setelah antibiotic telah diganti, pasien
menunjukkan perbaikan yang signifikan yang dicirikan dengan pperbaikan aktifitas dan reflex tanpa
takipneu dan demam. Berdasarkan literatur, prognosis sepsis neonatal bisa ditingkatkan bisa penyakit
dapat dideteksi sejak awal sehingga antibiotic yang sesuai dapat diberikan.