Anda di halaman 1dari 153

Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK)

5
Contractor-EPC Energy & Steel Construction RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

Nama Proyek : Pembangunan Gedung Kuliah Terpadu Dan Hotel Praktek


Lokasi : Jalan Sapta Pesona No.10, Silaberanti, Seberang Ulu I, Kota Palembang, Sumatera Selatan
Tahun Anggaran : 2019

Ofiice : Jl. Veteran No. 112 Bekasi 17141


Phone : 021-8842315 (Hunting), Fax. 021-8842313
E-mail : amka@amartakarya.co.id
Website : www.amartakarya.co.id
Contractor-EPC Energy & Steel Construction RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

DAFTAR ISI

A. Kepemimpinan dan Partisipasi Pekerja dalam Keselamatan Konstruksi


A.1. Kepedulian Pimpinan Terhadap Isu Eksternal dan Internal
A.2 . Komitmen Keselamatan Konstruksi
B. Perencanaan Keselamatan Konstruksi
B.1. Identifikasi bahaya, Penilaian risiko, Pengendalian dan Peluang
B.2. Rencana tindakan (sasaran & program)
B.3. Standar dan peraturan perundangan
C. Dukungan Keselamatan Konstruksi
C.1. Sumber Daya
C.2. Kompetensi
C.3. Kepedulian
C.4. Komunikasi
C.5. Informasi Terdokumetnasi
D. Operasi Keselamatan Konstruksi
D.1. Perencanaan Operasi
E. Evaluasi Kinerja Keselamatan Konstruksi
E.1. Pemantauan dan Evaluasi
E.2. Tinjauan Manajemen
E.3. Peningkatan Kinerja Keselamatan Konstruksi
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

Contractor-EPC Energy & Steel Construction

Kepemimpinan dan Partisipasi Pekerja dalam Keselamatan Konstruksi


A.

PT Amarta Karya (Persero)


Jl. Veteran No. 112 Bekasi 17141 Telp. 021-08842315 (Hunting)
Fax. 021-8842313 e-mail : operation@amka.co.id
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

Contractor-EPC Energy & Steel Construction

Kepedulian Pimpinan Terhadap Isu Eksternal dan Internal


A.1.

PT Amarta Karya (Persero)


Jl. Veteran No. 112 Bekasi 17141 Telp. 021-08842315 (Hunting)
Fax. 021-8842313 e-mail : operation@amka.co.id
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

Contractor-EPC Energy & Steel Construction

Komitmen Keselamatan Konstruksi


A.2 .

PT Amarta Karya (Persero)


Jl. Veteran No. 112 Bekasi 17141 Telp. 021-08842315 (Hunting)
Fax. 021-8842313 e-mail : operation@amka.co.id
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

Contractor-EPC Energy & Steel Construction

Perencanaan Keselamatan Konstruksi


B.

PT Amarta Karya (Persero)


Jl. Veteran No. 112 Bekasi 17141 Telp. 021-08842315 (Hunting)
Fax. 021-8842313 e-mail : operation@amka.co.id
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

Contractor-EPC Energy & Steel Construction

Identifikasi bahaya, Penilaian risiko, Pengendalian dan Peluang


B.1.

PT Amarta Karya (Persero)


Jl. Veteran No. 112 Bekasi 17141 Telp. 021-08842315 (Hunting)
Fax. 021-8842313 e-mail : operation@amka.co.id
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

Contractor-EPC Energy & Steel Construction

Rencana tindakan (sasaran & program)


B.2.

PT Amarta Karya (Persero)


Jl. Veteran No. 112 Bekasi 17141 Telp. 021-08842315 (Hunting)
Fax. 021-8842313 e-mail : operation@amka.co.id
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI
(RKK)
Contractor-EPC Energy & Steel Construction

B.2. Rencana Tindakan (Sasaran & Program)


TABEL PENYUSUNAN SASARAN DAN PROGRAM K3

Nama Perusahaan : PT. Amarta Karya (Persero)


Kegiatan : Pembangunan Gedung Kuliah Terpadu Dan Hotel Praktek
Lokasi : Jalan Sapta Pesona No.10, Silaberanti, Seberang Ulu I, Kota Palembang, Sumatera Selatan
Tanggal Dibuat : 2019

Sasaran Khusus Program


No. Uraian Pekerjaan Pengendalian Risiko
Penanggung
Uraian Tolak Ukur Sumber Daya Jangka Waktu Indikator Pencapaian Monitoring
Jawab
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

Tidak terjadi kecelakaan saat


Koordinasi dengan pengawas lapangan
1 PEKERJAAN MOBILISASI Koordinasi dengan pihak terkait sebelum perjalanan Terlaksananya koordinasi Komunikasi langsung oleh tim proyek Ssi Schedule perjalanan mobilisasi dari dan ke Check list Petugas K3
serta pihak kepolisian yg terkait
area proyek

Minimnya kemacetan lalu-lintas


Sosialisasi kepada pihak keamanan
Pengaturan dan sosialisasi terkait jadwal mobilisasi Terlaksananya sosialisasi Acara sosialisasi oleh tim proyek Ssi Schedule dan keluhan masyarakat terkait Check list Petugas K3
lingkungan dan masyarakat sekitar
pekerjaan yang sedang berjalan

Seluruh pekerja menggunakan APD


2 PEKERJAAN BETON Full body harnest SNI utk APD Pengadaan APD Ssi Schedule 100% SNI Check list Petugas K3
Standart
Terpasang ditempat yg telah Pengawas/
Pasang rambu-rambu Seluruh pekerja memahami rambu2 Penggunaan rambu2 sudah standart mataerial dan SDM ssi kebutuhan Ssi Schedule Check list
ditentukan Petugas Terkait
Terpasang dg benar & aman
Pengaturan dan sosialisasi jam kerja Tersedianya IK Scaffolding Pemasangan scaffolding ssi standar SNI Pengadaan Scaffolding Standart dan IK Ssi Schedule Check list Petugas K3
digunakan

Seluruh pekerja menggunakan APD


PEKERJAAN PEMBESIAN Full body harnest SNI utk APD Pengadaan APD Ssi Schedule 100% SNI Check list Petugas K3
Standart
Terpasang ditempat yg telah Pengawas/
Pasang rambu-rambu Seluruh pekerja memahami rambu2 Penggunaan rambu2 sudah standart mataerial dan SDM ssi kebutuhan Ssi Schedule Check list
ditentukan Petugas Terkait
Seluruh pekerja menggunakan APD
Menggunakan APD SNI utk APD Pengadaan APD Ssi Schedule 100% SNI Check list Petugas K3
Standart

Seluruh pekerja menggunakan APD


PEKERJAAN BEKISTING Full body harnest SNI utk APD Pengadaan APD Ssi Schedule 100% SNI Check list Petugas K3
Standart
Terpasang ditempat yg telah Pengawas/
Pasang rambu-rambu Seluruh pekerja memahami rambu2 Penggunaan rambu2 sudah standart mataerial dan SDM ssi kebutuhan Ssi Schedule Check list
ditentukan Petugas Terkait
Seluruh pekerja menggunakan APD
Menggunakan APD SNI utk APD Pengadaan APD Ssi Schedule 100% SNI Check list Petugas K3
Standart

Seluruh pekerja menggunakan APD


PEKERJAAN PLAT LANTAI BETON Full body harnest SNI utk APD Pengadaan APD Ssi Schedule 100% SNI Check list Petugas K3
Standart
Terpasang ditempat yg telah Pengawas/
Pasang rambu-rambu Seluruh pekerja memahami rambu2 Penggunaan rambu2 sudah standart mataerial dan SDM ssi kebutuhan Ssi Schedule Check list
ditentukan Petugas Terkait
Seluruh pekerja menggunakan APD
Menggunakan APD SNI utk APD Pengadaan APD Ssi Schedule 100% SNI Check list Petugas K3
Standart

Seluruh pekerja menggunakan APD


PEKERJAAN STRUKTUR BETON KOLOM Full body harnest SNI utk APD Pengadaan APD Ssi Schedule 100% SNI Check list Petugas K3
Standart
Terpasang ditempat yg telah Pengawas/
Pasang rambu-rambu Seluruh pekerja memahami rambu2 Penggunaan rambu2 sudah standart mataerial dan SDM ssi kebutuhan Ssi Schedule Check list
ditentukan Petugas Terkait
Seluruh pekerja menggunakan APD
Menggunakan APD SNI utk APD Pengadaan APD Ssi Schedule 100% SNI Check list Petugas K3
Standart

Seluruh pekerja menggunakan APD


PEKERJAAN STRUKTUR BETON TANGGA Full body harnest SNI utk APD Pengadaan APD Ssi Schedule 100% SNI Check list Petugas K3
Standart
Terpasang ditempat yg telah Pengawas/
Pasang rambu-rambu Seluruh pekerja memahami rambu2 Penggunaan rambu2 sudah standart mataerial dan SDM ssi kebutuhan Ssi Schedule Check list
ditentukan Petugas Terkait
Seluruh pekerja menggunakan APD
Menggunakan APD SNI utk APD Pengadaan APD Ssi Schedule 100% SNI Check list Petugas K3
Standart
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

Contractor-EPC Energy & Steel Construction

Standar dan peraturan perundangan


B.3.

PT Amarta Karya (Persero)


Jl. Veteran No. 112 Bekasi 17141 Telp. 021-08842315 (Hunting)
Fax. 021-8842313 e-mail : operation@amka.co.id
Nomor Dokumen AMKA-PU-MK3L-04 Revisi ke 01

Tanggal Berlaku 04 Februari 2013 Halaman 1 dari 4

UNDANG-UNDANG, PERATURAN DAN PERSYARATAN LAINNYA

DOKUMEN
Tanggal Disetujui Nama Jabatan Tanda Tangan

04 Februari 2013 Ir. M. Husaini Basri, SH, MM Wakil Manajemen

DISTRIBUSI DOKUMEN
Status Dokumen Penerima Dokumen
Jabatan :

……………………..........
Nama :

…………………..........….

1. Tujuan
Memastikan :
a. Persyaratan hukum & persyaratan lainnya diidentifikasi, ditentukan dan selalu edisi
terbaru.
b. Persyaratan yang berkaitan dengan produk ditetapkan, dikomunikasikan kepada
karyawan & pihak terkait serta diimplementasikan kepada aktivitas, produk, fasilitas
dan jasa yang dilakukan

2. Ruang Lingkup
Prosedur ini berlaku untuk lokasi Pusat, Divisi, Proyek.

3. Referensi
a. ISO 9001:2008, Penetapan Persyaratan yang Berkaitan dengan Produk (7.2.1.)
b. SMK3 PP RI 50 tahun 2012, Peraturan Perundangan dan Persyaratan Lain
dibidang K3 (2.3.)
c. OHSAS 18001:2007, Persyaratan hukum dan persyaratan lainnya (4.3.2.).
d. ISO 14001:2004, Persyaratan hukum dan persyaratan lainnya (4.3.2.).

4. Definisi
a. Persyaratan Hukum dan Persyaratan Lainnya : adalah Undang-undang, Peraturan
dan Persyaratan Lainnya.
b. Undang-undang / Peraturan :
Ketentuan Pemerintah (Undang-undang, Peraturan / Kebijakan Pemerintah) yang
terkait dengan kegiatan usaha Perusahaan, yang mengatur agar :
b.1. Produk yang dihasilkan & diserahkan kepada pelanggan terjamin mutu /
kwalitasnya.
b.2. Keselamatan Kerja dan Kesehatan pegawai di setiap usaha yang dilakukan
terjamin dengan baik
b.3. Dampak usaha tidak mencemari / merusak Lingkungan.

c. Persyaratan lainnya :
Ketentuan selain undang-undang, peraturan / kebijakan pemerintah yang terkait
dengan kegiatan, produk, fasilitas dan jasa, seperti : Peraturan / Keputusan Menteri,
Keputusan Kepala Bapedal, Peraturan Daerah (Perda), Perijinan dan Peraturan /
Kebijakan PT. Amarta Karya (Persero) Bidang Mutu, Keselamatan & Kesehatan
Kerja dan Lingkungan.

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :C:\Users\Aspire\AppData\Local\Temp\a. PU no 04 Peraturan & Persyaratan Lain_38E5CB.docx
Nomor Dokumen AMKA-PU-MK3L-04 Revisi ke 01

Tanggal Berlaku 04 Februari 2013 Halaman 2 dari 4

UNDANG-UNDANG, PERATURAN DAN PERSYARATAN LAINNYA

5. Ketentuan Umum :
a. Menggunakan Undang-undang, Peraturan dan Persyaratan lainnya sebagai acuan
dalam implementasi Prosedur PT. Amarta Karya (Persero) di Bidang MK3L.
b. Akses untuk mendapatkan informasi mengenai Undang-undang, Peraturan dan
Persyaratan lainnya yang berlaku atau jika ada perubahan, dapat dilakukan /
informasi dapat diperoleh dengan berbagai cara seperti :
b.1. Melalui internet, buku, majalah, bulletin dan asosiasi MK3L serta media
komunikasi lainnya.
b.2. Menghubungi instansi pemerintah atau lembaga terkait.
b.3. Khusus untuk memperoleh informasi mengenai perubahan yang ada pada
Undang-undang, Peraturan dan Persyaratan lainnya sebaiknya menghubungi
instansi / lembaga terkait.
c. Setiap judul Undang-undang, Peraturan dan Persyaratan Lainnya, dibuat daftarnya
sesuai kelompok bidangnya, yaitu : Mutu, K3 dan Lingkungan, dengan
memperhatikan hal-hal sbb :
c.1. Daftar semua Persyaratan Hukum dan Persyaratan Lainnya yang berlaku tersebut
diatas harus relevan dengan masalah mutu, potensi bahaya / resiko dan aspek
lingkungan serta relevan dengan persyaratan pelanggan.
c.2. Untuk memastikan bahwa Undang-undang, Peraturan & Persyaratan Lainnya
terkait dengan mutu, potensi bahaya / resiko dan aspek lingkungan, maka saat di
identifikasi, nomor undang-undang, peraturan dan persyaratan lainnya serta
nomor pasal-pasal & perihal-nya agar dicantumkan dalam formulir Dok.No.
AMKA-PU-MK3L-04,F01 s/d F03
c.3. Jika ada perubahan terhadap undang-undang, peraturan dan persyaratan lainnya
maka ”Daftar Undang-undang, Peraturan dan Persyaratan lainnya”, harus di
update / daftar harus selalu terkini dan setiap 6 (enam) bulan sekali harus
dilakukan peninjauan secara keseluruhan.
d. Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang dibuat oleh
Pengguna Jasa sesuai ketentuan dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 86 Tahun 2002.
Dokumen Amdal berisi: Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL), Rencana
Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).
e. ” Undang-undang, Peraturan dan Persyaratan lainnya” termasuk Perubahannya
disampaikan ke seluruh satuan kerja atau calon pengguna yang memerlukan, dapat
mengajukan permintaan kepada Petugas Pengendali di masing-masing tingkat.
f. ”Undang-undang, Peraturan dan Persyaratan Lainnya”, yang sudah tidak berlaku lagi
ditarik atau dapat disimpan di masing-masing satuan kerja dengan diberi identifikasi
/ cap “ Kadaluarsa”.

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :C:\Users\Aspire\AppData\Local\Temp\a. PU no 04 Peraturan & Persyaratan Lain_38E5CB.docx
Nomor Dokumen AMKA-PU-MK3L-04 Revisi ke 01

Tanggal Berlaku 04 Februari 2013 Halaman 3 dari 4

UNDANG-UNDANG, PERATURAN DAN PERSYARATAN LAINNYA

6. Uraian Prosedur.
BAGAN ALIR URAIAN PJ DOKUMEN
Penggunaan Undang-undang, Peraturan dan
Persyaratan lainnya
Mulai
Mulai
6.1.1. Mengidentifikasi kebutuhan Undang- WM / P2K3 / Rekaman
6.1.1 undang, Peraturan serta persyaratan K3
lainnya yang berkaitan dengan Prosedur
PT Amarta Karya (Persero) di Bidang
Mutu, Keselamatan & Kesehatan Kerja
dan Lingkungan (MK3L), termasuk
standar dan kode lainnya.
6.1.2. Menentukan Undang-undang, Peraturan Rekaman
6.1.2 WM / P2K3 /
dan Persyaratan lainnya yang berlaku
atau terkait dengan kegiatan K3
perusahaan, dengan melihat keterkaitan
nya dengan aspek mutu, potensi bahaya
/ risiko dan potensi terhadap
pencemaran / kerusakan lingkungan.
6.1.3. Mencari dan memperoleh Undang- Rekaman
6.1.3
undang, Peraturan dan Persyaratan
lainnya yang berkaitan dengan MK3L BSSU
edisi terbaru / masih berlaku yang
menjadi Persyaratan Hukum dan
Persyaratan lainnya.
6.1.4 6.1.4. Memperoleh dokumen Analisis Mengenai Rekaman
Dampak Lingkungan (AMDAL) sesuai
ketentuan butir 5.4. WM / P2K3 /
6.1.5
K3
6.1.5. Menghimpun dan update Undang-
Rekaman
Undang, Peraturan & Persyaratan lain
yang berhubungan dengan MK3L. sesuai
ketentuan butir 5.3. WM / P2K3 /
6.1.6. Membuat daftar dan mencatat setiap K3 Rekaman
6.1.4
judul Undang-undang, Peraturan dan
Persyaratan Lainnya, sesuai ketentuan
butir 5.3.
Rekaman
6.1.7. Mendistribusikan ” Undang-undang, WM / P2K3 /
6.1.5
Peraturan dan Persyaratan lainnya” K3
termasuk perubahannya sesuai
ketentuan butir 5.5. disertai lembar tanda
terima dokumen.
WM / P2K3 /
6.1.6 6.1.8. Menyimpan Dokumen asli edisi terbaru Rekaman
K3
pada tempat yang terjaga dengan baik.

Selesai Selesai

WM / P2K3 /
K3

7. Pengecualian : Tidak ada.

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :C:\Users\Aspire\AppData\Local\Temp\a. PU no 04 Peraturan & Persyaratan Lain_38E5CB.docx
Nomor Dokumen AMKA-PU-MK3L-04 Revisi ke 01

Tanggal Berlaku 04 Februari 2013 Halaman 4 dari 4

UNDANG-UNDANG, PERATURAN DAN PERSYARATAN LAINNYA

8. Lampiran :
8.1. AMKA-PU-MK3L-04, F01 : Daftar Legislasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
8.2. AMKA-PU-MK3L-04, F02 : Daftar Legislasi Lingkungan.

9. Daftar Istilah :
- MK3L : Mutu, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Lingkungan
- WM : Wakil Manajeman
- P2K3 : Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja
- K3 : Keselamatan dan Kesehatan Kerja

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :C:\Users\Aspire\AppData\Local\Temp\a. PU no 04 Peraturan & Persyaratan Lain_38E5CB.docx
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

Contractor-EPC Energy & Steel Construction

Dukungan Keselamatan Konstruksi


C.

PT Amarta Karya (Persero)


Jl. Veteran No. 112 Bekasi 17141 Telp. 021-08842315 (Hunting)
Fax. 021-8842313 e-mail : operation@amka.co.id
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

Contractor-EPC Energy & Steel Construction

Sumber Daya
C.1.

PT Amarta Karya (Persero)


Jl. Veteran No. 112 Bekasi 17141 Telp. 021-08842315 (Hunting)
Fax. 021-8842313 e-mail : operation@amka.co.id
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

Contractor-EPC Energy & Steel Construction

Kompetensi
C.2.

PT Amarta Karya (Persero)


Jl. Veteran No. 112 Bekasi 17141 Telp. 021-08842315 (Hunting)
Fax. 021-8842313 e-mail : operation@amka.co.id
Contractor-EPC Energy & Steel Construction

C. DUKUNGAN KESELAMATAN KOSTRUKSI


C.2 KOMPETENSI

Goals Zero Accident

Safety Induction All Staff & Employer/ worker

Safety Inspection Daily by Safety Oficer

Equipment Induction Bi- Weekly

Tool Box Meeting Weekly Morning Time

Safety Patrol & Meeting Monthly

Fogging And General


Bi - Weekly
Cleaning

Traning Safety Basic Safety


Fire Fighting
First Aid
Rigging
Welding

Monthly Report Recorded by Office

Aktifitas Program K3
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

Contractor-EPC Energy & Steel Construction

Kepedulian
C.3.

PT Amarta Karya (Persero)


Jl. Veteran No. 112 Bekasi 17141 Telp. 021-08842315 (Hunting)
Fax. 021-8842313 e-mail : operation@amka.co.id
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

Contractor-EPC Energy & Steel Construction

Komunikasi
C.4.

PT Amarta Karya (Persero)


Jl. Veteran No. 112 Bekasi 17141 Telp. 021-08842315 (Hunting)
Fax. 021-8842313 e-mail : operation@amka.co.id
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

Contractor-EPC Energy & Steel Construction

Informasi Terdokumetnasi
C.5.

PT Amarta Karya (Persero)


Jl. Veteran No. 112 Bekasi 17141 Telp. 021-08842315 (Hunting)
Fax. 021-8842313 e-mail : operation@amka.co.id
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

Contractor-EPC Energy & Steel Construction

Operasi Keselamatan Konstruksi


D.

PT Amarta Karya (Persero)


Jl. Veteran No. 112 Bekasi 17141 Telp. 021-08842315 (Hunting)
Fax. 021-8842313 e-mail : operation@amka.co.id
Contractor-EPC Energy & Steel Construction

D. OPERASI KESELAMATAN KONSTRUKSI


RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

Contractor-EPC Energy & Steel Construction

Perencanaan Operasi
D.1.

PT Amarta Karya (Persero)


Jl. Veteran No. 112 Bekasi 17141 Telp. 021-08842315 (Hunting)
Fax. 021-8842313 e-mail : operation@amka.co.id
Contractor-EPC Energy & Steel Construction PRA RK3K

D.1 PERENCANAAN OPERASI


PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-28-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
IDENTIFIKASI BAHAYA, Status : ASLI / COPY
PENILAIAN & Tanggal Review : 10 Oktober 2018
PENGENDALIAN RESIKO Halaman : 2 dari 11

DAFTAR ISI
Lembar pengesahan ................................................................................................................. 1
Daftar isi ................................................................................................................................... 1
1. Tujuan ................................................................................................................................ 3
2. Ruang Lingkup ................................................................................................................... 3
3. Referensi ............................................................................................................................ 3
4. Defenisi .............................................................................................................................. 3
5. Ketentuan Umum .............................................................................................................. 3
6. Uraian Prosedur............................................................................................................... 10
7. Pengecualian ................................................................................................................... 11
8. Lampiran .......................................................................................................................... 11
9. Daftar Istilah .................................................................................................................... 11

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 28 Identifikasi Bahaya.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-28-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
IDENTIFIKASI BAHAYA, Status : ASLI / COPY
PENILAIAN & Tanggal Review : 10 Oktober 2018
PENGENDALIAN RESIKO Halaman : 3 dari 11

1. Tujuan
Memastikan bahwa :
a. Langkah-langkah pelaksanaan Sistem Manajemen MK3L melalui kegiatan identifikasi
potensi bahaya, penilaian risiko dan pengendalian resiko sudah dilakukan
Perusahaan.
b. Aspek-aspek lingkungan dari aktivitas, produk dan jasa teridentifikasi.
a. Dampak – dampak signifikan sudah dilakukan antisipasi.

2. Ruang Lingkup
Prosedur ini berlaku untuk lokasi Kantor Pusat, workshop dan Proyek.

3. Referensi
a. ISO 9001 : 2015, Fokus kepada Pelanggan (5.1.2.); Menentukan Persyaratan
Produk dan Jasa (8.2.2.); Tinjauan Persyaratan Produk dan Jasa (8.2.3.).
b. SMK3 PP RI 50 tahun 2012, Perencanaan Identifikasi Bahaya, Penilaian Resiko dan
Pengendalian Resiko (2.1.).
c. OHSAS 18001:2007, Identifikasi Bahaya, Penilaian Resiko dan Penentuan
Pengendalian (4.3.1.).
d. ISO 14001:2015, Aspek Lingkungan (6.1.2).

4. Definisi
a. Bahaya adalah sumber atau situasi potensi celaka yang dapat menimbulkan luka,
gangquan kesehatan kepada manusia, gangguan pekerjaan, kerusakan aset (tempat
kerja, bahan / material, peralatan), pencemaran / kerusakan lingkungan kerja atau
kombinasl darl hal-hal tersebut.
b. Identifikasi bahaya adalah proses mengenali adanya potensi bahaya dan
karakteristik darl potensi bahaya itu.
c. Risiko adalah kombinasi dari kemungkinan dan konsekuensi dari bahaya yang
terjadi.
d. Penilaian Resiko adalah keseluruhan proses untuk memperkirakan keseriusan resiko
dan keputusan apakah resiko tersebut dapat ditangani atau tidak.

5. Ketentuan Umum
a. Identifikasi Potensi Bahaya & Aspek Lingkungan.
a.1. Input penentuan Potensi Bahaya berupa : UU, KepMen, Perda, Bapedal, Dokumen
Kontrak, dan dokumen lain yang terkait.
a.2. Identifikasi bahaya, aspek dan dampak lingkungan dibuat untuk : pekerjaan rutin,
non rutin, baik dalam kondisi normal, abnormal maupun darurat. Indentifikasi aspek
lingkungan mencakup produk & jasa.
a.3. Identifikasi harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
1) Melihat kondisi saat ini, masa lampau dan pekerjaan yang akan dilakukan,
meliputi :
- Ada proses tahapan pekerjaan.
- Identifikasi pekerjaan / aktivitas, bila perlu diurai menjadi sub-sub aktivitas.
- Lokasi / ruangan / kondisi tempat kerja secara geografis maupun kondisi
lingkungan.
2) Sumber daya yang akan dipergunakan termasuk sumber daya manusia, energi,
peralatan, perkakas dan infrastruktur
3) Kapan pekerjaan akan di laksanakan / skedul pelaksanaan.

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 28 Identifikasi Bahaya.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-28-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
IDENTIFIKASI BAHAYA, Status : ASLI / COPY
PENILAIAN & Tanggal Review : 10 Oktober 2018
PENGENDALIAN RESIKO Halaman : 4 dari 11

4) Keterkaitan dengan kontraktor lain, dengan masyarakat, tamu, pengunjung dan


para pengguna area kerja lainnya yang mungkin bisa terkena efek / dampak
dari aktivitas kita.
5) Cuaca dan kondisi lingkungan kerja.
6) Amdal/UKL/UPL

a.4. Tinjauan awal untuk mengidentifikasi semua potensi bahaya yang terkandung
dalam suatu aktivitas, adalah dengan memperkirakan potensi bahaya yang akan
terjadi dan unsur dari suatu aktivitas yang dapat berinteraksi dengan lingkungan.
Hal tersebut dikelompokkan sebagai berikut :
1) Fisika : seperti: kebisingan, ergonomic, runtuhnya konstruksi bangunan,
kualitas udara, kualitas tanah, kualitas air dsb.
2) Kimia : ledakan, terbakar dsb
3) Elektrikal : kontak langsung dengan aliran listrik, hubungan arus pendek dsb.
4) Biologi : penanganan air limbah, kotoran rumah sakit, dsb.
5) Radiasi : sinar ultra violet, laser dsb.
6) Psikologi : bekerja di ketinggian, bekerja di daerah terpencil dsb.

a.5. Memperkirakan aspek lingkungan yang berpotensi / mengakibatkan dampak ke


lingkungan, yang berasal dari kegiatan produksi dan jasa, baik saat kondisi normal,
abnormal maupun darurat.
Identifikasi mencakup aspek lingkungan yang dapat dikendalikan oleh organisasi
secara langsung maupun yang dipengaruhinya.
Untuk mengidentifikasi aspek lingkungan, pendekatan yang dipilih dapat
mempertimbangkan :
1) Emisi ke udara,
2) Pembuangan ke air,
3) Pembuangan ke tanah,
4) Penggunaan bahan baku dan sumberdaya alam,
5) Penggunaan energi,
6) Pancaran energi, misal: panas, radiasi, getaran,
7) Limbah dan produk samping
8) Atribut fisik, misal: ukuran, bentuk, warna, bau dan penampilan.
9) Isu lingkungan lokal dan masyarakat sekitar.

a.6. Identifikasi perlu melihat kondisi lapangan / ruangan / tempat kerja dan lingkungan
sekitarnya serta memperhitungkan kondisi desain sebelum dilakukan pencegahan
nantinya.
a.7. Untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam mengenai kemungkinan
adanya bahaya, aspek dan dampak lingkungan yang akan terjadi, perlu ada
observasi dan wawancara kepada personil terkait dalam suatu kegiatan dimaksud.
a.8. Diperkirakan risiko / dampak, jika terjadi kecelakaan kerja atau perubahan pada
lingkungan dari suatu aktifitas perusahaan. Risiko yang terjadi dapat berupa :
1) Kematian
2) Cidera
3) Sakit
4) Hilang hari kerja atau proses kerja
5) Kerusakan properti atau kerugian materiil.
6) Kerusakan lingkungan
a.9. Potensi bahaya di identifikasi / di susun sesuai prioritas tingkat keparahannya.

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 28 Identifikasi Bahaya.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-28-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
IDENTIFIKASI BAHAYA, Status : ASLI / COPY
PENILAIAN & Tanggal Review : 10 Oktober 2018
PENGENDALIAN RESIKO Halaman : 5 dari 11

b. Penilaian Resiko.
b.1. Identifikasi diperoleh dari peraturan dan perundangan yang berlaku serta
persyaratan lainnya yang berkaitan dengan implementasi MK3L, jika terdapat
peraturan, perundangan dan persyaratan lainnya yang terkait dengan aktivitas
implementasi Sistem Manajemen K3, maka risiko yang terjadi dianggap signifikan.
b.2. Penilaian risiko setiap aktifitas potensi bahaya, mempertimbangkan faktor- faktor
sebagai berikut :
1) Kemungkinan (probability)
2) Keparahan (severity)

Kriteria faktor–faktor kemungkinan dan keparahan ditetapkan sbb :


1. Kemungkinan (Probability), nilainya 1 s/d 3
- Nilai 1 = belum pernah / hampir tidak pernah terjadi / sangat
kecil kemungkinannya terjadi.
- Nilai 2 = mungkin terjadi , pernah / jarang terjadi (kurang dari 3x
dalam 1 th.), dan masih ada kemungkinan terjadi.
- Nilai 3 = hampir pasti terjadi / sangat besar kemungkinannya
terjadi, sering terjadi (lebih dari 3x dalam 1 th.) & masih
ada kemungkinan terjadi atau terus menerus terjadi.

2. Keparahan (Severity), nilainya 1s/d 3


- Nilai 1 = Ringan, Luka ringan / sakit yang dapat diobati dengan
pertolongan pertama / kerusakan property atau
kerugian materil kurang dari Rp. 1 juta.
- Nilai 2 = Sedang : Hilang hari kerja/ sakit yang dapat diobati
dengan pertolongan medis tetapi tidak mengakibatkan
cacat permanen / kerusakan properti atau kerugian
materil Rp. 1 juta - Rp. 100 juta.
- Nilai 3 = Berat : Luka berat / Luka yang dapat mengakibatkan
cacat permanen / sakit yang tidak dapat diobati
kematian / kerusakan property atau kerugian materil
lebih dari Rp. 100 juta.

b.3. Penilaian risiko setiap aktifitas aspek lingkungan, mempertimbangkan faktor- faktor
sebagai berikut :
1) Frekuensi Dampak (FD), dan
2) Tingkat Dampak (TD)

Kriteria faktor-faktor Frekuensi Dampak & Tingkat Dampak ditetapkan sbb :


3. Frekuensi Dampak (FD), nilainya 1 s/d 4
- Nilai 1 = tidak mungkin / tidak pernah (dampak belum pernah
terjadi atau sangat tidak mungkin terjadi).
- Nilai 2 = jarang (dampak terjadi lebih dari sekali setahun,kurang
dari sekali dalam sebulan).
- Nilai 3 = sering (dampak berlangsung lebih dari sekali dalam
sebulan).
- Nilai 4 = kontinyu (dampak berlangsung secara terus-menerus).

4. Tingkat Dampak (TD), nilainya 1s/d 4

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 28 Identifikasi Bahaya.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-28-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
IDENTIFIKASI BAHAYA, Status : ASLI / COPY
PENILAIAN & Tanggal Review : 10 Oktober 2018
PENGENDALIAN RESIKO Halaman : 6 dari 11

- Nilai 1 = tidak ada dampak (diperkirakan tidak menyebabkan


dampak terhadap kesehatan manusia maupun
lingkungan).
- Nilai 2 = kurang (diperkirakan menyebabkan kerusakan ringan /
kerusakan property atau kerugian materil kurang dari
Rp.1 juta.
- Nilai 3 = sedang (diperkirakan menyebabkan kerusakan tidak
terlalu besar/kerusakan properti atau kerugian materil
antara Rp.1 juta - Rp. 100 juta.
- Nilai 4 = serius (diperkirakan menyebabkan kerusakan besar
dan luas terhadap kesehatan manusia maupun
lingkungan / kerusakan property atau kerugian materil
lebih dari Rp.100 juta).

b.4. Penilaian risiko dilakukan melalui suatu pertemuan /rapat /brainstorming untuk
menetapkan rating dan score / nilai pada setiap potensi bahaya dan aspek
lingkungan yang telah dicatat dalam Form Identifikasi Bahaya (AMKA-PU-MK3L-
01,F01) dan Form Identifikasi Lingkungan (AMKA-PU-MK3L-01,F02), dengan
menggunakan pendekatan sebagai berikut :

5. Penilaian risiko untuk Sistem Manajemen K3 (SMK3), resiko dinilai sbb :


Risiko = Kemungkinan (M) X Keparahan (P)

Hasil score / nilai - nya akan diperoleh antara 1 s/d 9, hasil tersebut
dikategorikan sebagai berikut :
- Nilai 1 = Trivial risk (risiko yang tidak berpengaruh/kurang
berarti)
- Nilai 2 = Acceptable risk (risiko yang masih dapat diterima).
- Nilai 3 sd 6 = Moderate risk (risiko sedang).
- Nilai > 6 sd 7 = Substansial risk (risiko yang berpengaruh).
- Nilai > 7 sd 9 = Intolerable risk (risiko yang tidak dapat ditolerir / risiko
tinggi)

Berdasarkan hasil penilaian resiko diatas, nilai resiko (MxP) yang lebih
besar dari 1, ditentukan sebagai "Resiko Penting". Selanjutnya setiap
"Resiko Penting" harus ditetapkan langkah-langkah pengendaliannya.

6. Penilaian risiko untuk Sistem Manajemen Lingkungan (SML).


Secara garis besar nilai, jenis & sifat aspek risiko digolongkan sbb :
Nilai Jenis Resiko Sifat Aspek
1-2 Resiko yang tidak berpengaruh tidak signifikan/ tidak penting (TP), selama
/ kurang berarti tidak ada peraturan hukum atau persyaratan
lain yang berlaku
3-6 Resiko yang sedang signifikan/ penting (P)
7-9 Resiko yang tidak dapat signifikan/ penting (P)
diterima

Jenis resiko & sifat aspek menjadi “tidak penting / penting” disebabkan oleh
beberapa aspek sbb :
- Kondisi :

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 28 Identifikasi Bahaya.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-28-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
IDENTIFIKASI BAHAYA, Status : ASLI / COPY
PENILAIAN & Tanggal Review : 10 Oktober 2018
PENGENDALIAN RESIKO Halaman : 7 dari 11

x Normal : kondisi rutin, kejadian umum, berulang setiap hari, tidak


berdampak / dampaknya rendah.
x Ab normal : kejadian tidak setiap hari, berdampak sedang, seperti
kondisi saat maintenance / perbaikan alat terjadi tumpahan / oli
berceceran.
x Emergency : kejadian se-sekali, tetapi berdampak tinggi & membuat
kondisi menjadi darurat, kebakaran, ledakan dan sejenisnya.
- Aspek Legal (sifatnya kualitatif) :
x Hukum lingkungan yang berlaku di Indonesia (U.U., peraturan) yang
mengatur lingkungan agar bebas dari pencemaran / polusi.
x Kebijakan Lingkungan, yang dibuat oleh Perusahaan.
- Frekuensi Dampak & Tingkat Dampak (butir 5.2.3.)

c. Pengendalian Resiko.
Hirarki Pengendalian sbb :
c.1. Desain & proses:
Perubahan desain / perubahan proses kegiatan kearah yang lebih aman, bertujuan
untuk menghilangkan semua potensi bahaya dan sumber bahaya bila
memungkinkan, atau dengan mengganti unsur / proses yang lebih aman.
Contoh:
1) Perubahan desain : asbes diganti dengan genteng.
2) Perubahan proses : Penggunaan tenaga manusia diganti dengan peralatan
untuk angkat beban berat.
c.2. Engineering control.
Engineering control, bertujuan untuk mengurangi risiko, yaitu menggunakan unsur
(peralatan /material) yang lebih aman.
c.3. Administratif dan pengendalian prosedur.
1) Pengendalian secara administratif, seperti penggunaan ijin kerja, dsb.
2) Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan, sosialisasi, bimbingan fungsional,
safety morning meeting, induksi, briefing dsb.
3) Pembuatan prosedur & instruksi kerja yang dilaksanakan secara konsisten.
4) Penyelenggaraan inspeksi MK3L.
5) Peralatan MK3L (safety equipment)
6) Memberi proteksi pada daerah atau lokasi yang berpotensi bahaya, misalnya:
memasang pagar pengaman, barikade, rambu-rambu dan tanda peringatan
seperti: “Selain petugas / yang berkepentingan dilarang masuk”.
c.4. Alat pelindung diri (APD)
Wajib penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai dengan potensi bahaya
yang ada, seperti helm, safety harness, sarung tangan, sepatu safety dsb.

c.5. Rencana tindak darurat


Tersedia fasilitas pencegahan, memasang denah evakuasi, menentukan daerah
yang aman untuk berkumpul (master point / assembly point), dsb.

d. Ketentuan Pengendalian Risiko Bidang K3.


d.1. Risiko kerja yang signifikan atau intolerable risk, tindakan pengendaliannya harus
dilakukan sesegera mungkin untuk mengurangi risiko sampai tingkat dibawahnya.
Sebelum risiko dikurangi, pekerjaan tidak boleh dikerjakan atau dilanjutkan. Jika
risiko tidak memungkinkan untuk dikurangi maka pekerjaan harus dihentikan.

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 28 Identifikasi Bahaya.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-28-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
IDENTIFIKASI BAHAYA, Status : ASLI / COPY
PENILAIAN & Tanggal Review : 10 Oktober 2018
PENGENDALIAN RESIKO Halaman : 8 dari 11

d.2. Risiko yang berpengaruh (substantial risk), tindakan pengendaliannya harus


dilakukan sesegera mungkin untuk mengurangi risiko. Pekerjaan belum dapat
dimulai sebelum risiko dikurangi sampai tolerable.
d.3. Risiko sedang (moderate risk), pelaksanaan pengendaliannya bisa dibuatkan
jadwal waktu untuk mengurangi risiko sehingga sampai ke tingkat risiko yang dapat
diterima.
d.4. Risiko yang dapat diterima (acceptable risk), tidak diperlukan kontrol tambahan,
cukup dengan pelaksanaan / kontrol yang sudah ada, antara lain : memberikan
pelatihan, briefing dan sosialisasi, memasang rambu dan tanda peringatan,
mewajibkan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai dengan bahaya yang
ada, menyediakan kotak P3K, APAR dsb.
d.5. Risiko yang tidak berpengaruh (trivial risk), tidak perlu tindakan pengendalian dan
tidak perlu arsip dokumen (prosedur), cukup dengan mewajibkan penggunaan alat
pelindung diri, seperti helm, safety harness, sarung tangan, kacamata pelindung,
sepatu safety dsb, sesuai dengan hazard yang ada, menyediakan kotak P3K,
APAR dan memasang rambu/tanda peringatan.
d.6. Penentuan Pengendalian risiko akan dilakukan berdasarkan urutan prioritas mulai
dari yang tinggi, sedang dan rendah (intolerable, substansial, moderate, acceptable
dan trivial risk).
d.7. Tindakan pengendalian ditentukan dengan mempertimbangkan tingkat
pengendalian yang paling atas, dan jika tidak dapat dipenuhi oleh perusahaan
maka diupayakan untuk menggunakan tingkat pengendalian selanjutnya atau
dapat dilakukan dengan menggabungkan beberapa tingkat pengendalian untuk
mencapai tingkat pengendalian.
d.8. Semua kegiatan atau aktifitas yang diatur oleh Peraturan atau Undang-undang
yang berlaku akan dikontrol meskipun risikonya tidak berpengaruh / tidak berarti
(trivial risk).

e. Ketentuan Pengendalian Risiko Bidang Lingkungan.


Metodologi pengendalian dampak lingkungan dilakukan berdasarkan pendekatan
sebagai berikut :
e.1. Pengendalian operasi untuk menjamin dampak negatif terhadap lingkungan
dikendalikan dengan cara menetapkan prosedur atau instruksi kerja.
e.2. Penanggulangan kondisi darurat, adalah penanggulangan untuk dampak
lingkungan penting yang berasal dari kondisi darurat.
Pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan jika terjadi kondisi darurat
dilakukan dengan cara menetapkan prosedur atau instruksi kerja kondisi darurat.
e.3. Menetapkan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan pengendalian
terhadap aspek atau dampak lingkungan penting.
e.4. Lain-lain, misalnya pemantauan atau pengukuran, pelatihan, penggunaan APD,
penyediaan alat atau fasilitas dan lain-lain.

f. Pemantauan Tindakan Pengendalian Risiko.


f.1. Menyiapkan Rencana Inspeksi dan Tes Mingguan berdasar pada :
1) Rencana MK3L
2) Identifikasi Bahaya, Penilaian & Pengendalian Risiko.
3) Identifikasi Aspek & Dampak Lingkungan, Penilaian Risiko & Penentuan
Pengendalian Risiko
4) Rencana Kerja Sub Kontraktor dan Mandor Borong.
5) Rencana Kerja Mingguan, dengan cara memberi notasi-notasi Inspeksi dan
Tes pada Rencana Kerja Mingguan.

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 28 Identifikasi Bahaya.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-28-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
IDENTIFIKASI BAHAYA, Status : ASLI / COPY
PENILAIAN & Tanggal Review : 10 Oktober 2018
PENGENDALIAN RESIKO Halaman : 9 dari 11

f.2. Melakukan inspeksi MK3L pada saat sebelum mulai bekerja, yang berguna untuk
memantau kondisi berbahaya (unsafe condition), inspeksi pada saat puncak
pekerjaan untuk memantau kondisi berbahaya, dan tindakan berbahaya (unsafe
action), ketidaksesuaian / cacat pekerjaan, tumpahan / ceceran limbah bahan
berbahaya & beracun (B3), kebisingan, getaran, debu dan masalah-masalah MK3L
lainnya serta pada saat sebelum pekerjaan berakhir untuk memantau kondisi area
kerja benar-benar sehat, aman dan lingkungan tidak tercemar.

f.3. Inspeksi MK3L juga digunakan untuk memantau tindakan Penentuan Pengendalian
Risiko yang dilaksanakan dibandingkan dengan rencana Penentuan Pengendalian
Risiko yang telah ditetapkan dalam Form Identifikasi Bahaya (AMKA-PU -01,F01)
dan Form Identifikasi Lingkungan (AMKA-PU-01,F02). Jika ditemukan
penyimpangan dalam pelaksanaannya maka akan dikomunikasikan kepada pihak
yang terkait untuk dilakukan tindakan perbaikannya. Hasil pemantauannya dicatat
dalam lembar inspeksi dan penyimpangan yang signifikan dijadikan agenda dalam
Rapat K3.
Jika ada perubahan dalam identifikasi bahaya atau ditemukan potensi bahaya
dan aspek lingkungan yang baru dan belum tercatat dalam penilaian risiko
Identifikasi Bahaya (AMKA-PU-01,F01) dan Form Identifikasi Lingkungan
(AMKA-PU-01,F02) maka penilaian risiko tersebut harus di update / direvisi.

f.4. Ketidaksesuaian atau cacat pekerjaan yang ditemukan, segera di sampaikan ke


pihak yang terkait untuk diperbaiki dan dicatat dalam register ketidaksesuaian atau
daftar cacat pekerjaan.

f.5. Penilaian risiko dilakukan secara on going, dimana sewaktu-waktu terjadi


perubahan yang signifikan terhadap organisasi, baik itu perubahan aktifitas, proses,
peralatan, prosedur dan personel, maka dibuat penilaian risiko yang baru atau yang
lama direview, jika perlu direvisi.

f.6. Hasil identifikasi risiko, penilaian dan Pengendalian Risiko, disetujui oleh pimpinan /
manajer terkait di masing-masing tingkat dalam organisasi perusahaan.

f.7. Hasil penilaian risiko secara periodik direview minimal 6 bulan sekali.

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 28 Identifikasi Bahaya.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-28-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
IDENTIFIKASI BAHAYA, Status : ASLI / COPY
PENILAIAN & Tanggal Review : 10 Oktober 2018
PENGENDALIAN RESIKO Halaman : 10 dari 11

6. Uraian Prosedur.

BAGAN ALIR URAIAN PJ DOKUMEN

6.1. Identifikasi Potensi Bahaya & Aspek


Lingkungan
Mulai

Mulai
6.1.1 6.1.1. Menentukan identifikasi potensi bahaya Koordinator Rekomendasi
sesuai ketentuan a.1. K3/ Kepala
Base Camp
6.1.2 /SM
Koordinator
6.1.2. Mengidentifikasi potensi bahaya sesuai K3/ Kepala Rekaman / RKABP
T ketentuan a.2. - a.9. Base Camp
/SM
6.1

Y
6.1.3. Mengevaluasi, apakah setiap identifikasi Koordinator
yang dibuat sudah sesuai dengan Rekaman
K3/ Kepala
ketentuan & batasan Identifikasi Potensi Base Camp
Selesai Bahaya & Aspek Lingkungan?. /SM
x Jika Tidak, kembali ke langkah 6.1.2.
x Jika Ya, selesai.
Selesai

6.2. Penilaian Resiko

Mulai Mulai

6.2.1. Identifikasi penilaian resiko sesuai Koordinator Rekomendasi


ketentuan b.1. K3/ PJ
6.2.1 Proyek /
Group

6.2.2 Koordinator
6.2.2. Menilai resiko setiap aktivitas, potensi K3/ PJ Rekaman
bahaya & aspek lingkungan sesuai Proyek /
ketentuan b.2. Group
T
6.2
Koordinator
6.2.3. Mengevaluasi, apakah Penilaian Resiko K3/ PJ Rekaman
Y sudah sesuai dengan ketentuan butir b.3. Proyek /
?. Group
x Jika Tidak, kembali ke langkah 6.2.2.
Selesai x Jika Ya, selesai.

Selesai

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 28 Identifikasi Bahaya.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-28-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
IDENTIFIKASI BAHAYA, Status : ASLI / COPY
PENILAIAN & Tanggal Review : 10 Oktober 2018
PENGENDALIAN RESIKO Halaman : 11 dari 11

BAGAN ALIR URAIAN PJ DOKUMEN

6.3. Pengendalian Resiko

Mulai
Mulai
6.3.1. Penentuan identifikasi pengendalian Koordinator Rekomendasi
resiko sesuai ketentuan c. K3/ PJ
Proyek /
6.3.1 Group

Koordinator
6.3.2. Mengendalikan resiko bidang K3 & K3/ PJ Rekaman
6.3.2 Lingkungan sesuai ketentuan d.& f. Proyek /
Group

T
6.3 Koordinator
6.3.3. Mengevaluasi, apakah Pengendalian K3/ PJ Rekaman
Y Resiko sudah sesuai dengan ketentuan Proyek /
butir f. ?. Group
x Jika Tidak, kembali ke langkah 6.3.2.
x Jika Ya, selesai.
Selesai

Selesai

7. Pengecualian : Tidak ada.

8. Lampiran :
8.2. AMKA-PU-28, F01 : Identifikasi Bahaya, Penilaian & Pengendalian Resiko.
8.3. AMKA-PU-28, F02 : Identifikasi Aspek & Dampak Lingkungan.
8.4. Panduan Pengisian Formulir Identifikasi Aspek & Dampak Lingkungan

9. Daftar Istilah :
- MK3L : Mutu, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Lingkungan
- K3 : Keselamatan dan Kesehatan Kerja
- APD : Alat Pelindung Diri
- APAR : Alat Pemadam Api Ringan

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 28 Identifikasi Bahaya.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-29-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status : ASLI / COPY
IJIN KERJA Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 2 dari 5

DAFTAR ISI
Lembar pengesahan ................................................................................................................. 1
Daftar isi ................................................................................................................................... 1
1. Tujuan ................................................................................................................................ 3
2. Ruang Lingkup ................................................................................................................... 3
3. Referensi ............................................................................................................................ 3
4. Defenisi .............................................................................................................................. 3
5. Ketentuan Umum .............................................................................................................. 3
6. Uraian Prosedur................................................................................................................. 4
7. Pengecualian ..................................................................................................................... 4
8. Lampiran ............................................................................................................................ 4
9. Daftar Istilah ...................................................................................................................... 5

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 29 Ijin Kerja.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-29-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status : ASLI / COPY
IJIN KERJA Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 3 dari 5

1. Tujuan
Memberikan perlindungan bagi pekerja terhadap cidera atau kerusakan properti akibat
suatu proses kerja yang mengandung risiko tinggi melalui ijin kerja dengan pemenuhan
persyaratan yang telah ditetapkan.

2. Ruang Lingkup
Prosedur ini berlaku untuk semua area PT. AMKA (Persero) di workshop dan proyek.

3. Referensi
a. ISO 9001:2015, Penetapan Persyaratan Produk dan Jasa (8.2.3.).
b. SMK3 PP RI 50 tahun 2012, Sistem Kerja (6.1), Area Terbatas (6.2).
c. OHSAS 18001:2007, Pengendalian Operasional (4.4.6.).
d. ISO 14001:2015, Perencanaan dan Pengendalian Operasional (8.1).

4. Definisi
Pelaksana pekerjaan : subkontraktor atau karyawan internal perusahaan yang ditunjuk
untuk melaksanakan pekerjaan yang membutuhkan ijin kerja.

5. Ketentuan Umum
a. Koordinator K3 bertanggung jawab untuk menjamin bahwa prosedur Ijin Kerja
diijalankan di seluruh unit kerja dan ditinjau ulang.
b. Petugas K3 bertanggung jawab untuk mengeluarkan surat ijin kerja dan menyetujui
pelaksanaan pekerjaan tersebut di unit kerjanya dan memeriksa pelaksanaan
pekerjaan.
c. Pelaksana pekerjaan bertanggung jawab untuk mematuhi ketentuan dalam prosedur
ini sebelum & selama melaksanakan pekerjaan.
d. Pekerjaan yang berpotensi bahaya dan berisiko tinggi, antara lain tetapi tidak
terbatas pada kegiatan :
1) Bongkar Pasang Begesting/scaffolding.
2) Penggalian > 2 M
3) Pengelasan, Pemotongan, & Penggerindaan.
4) Pekerjaan di Ketinggian
5) Pekerjaan yang berhubungan dengan sumber listrik
6) Penggunaan Bahan Mudah Terbakar
7) Penggunaan Bahan Kimia
8) Penggunaan Bahan Mudah Meledak
9) Penggunaan Ruang Terbatas (Confined Space)
e. Persetujuan ijin kerja yang menyangkut pengamanan peralatan, diberlakukan
penguncian dan penandaan (Lock Out Tag Out/LOTO).
f. Wajib melaksanakan pekerjaan sesuai ijin kerja yang diberikan dan mematuhi
norma-norma / ketentuan K3 sesuai dengan sifat pekerjaannya.

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 29 Ijin Kerja.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-29-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status : ASLI / COPY
IJIN KERJA Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 4 dari 5

6. Uraian Prosedur.

BAGAN ALIR URAIAN PJ DOKUMEN

Ijin Kerja
Mulai Mulai

6.1. Menerima perintah kerja. Pelaksana Rekaman


6.

6.2. Mengajukan permohonan ijin kerja Pelaksana Rekaman


6..2 kepada Petugas K3 untuk pekerjaan
yang berpotensi bahaya dan berisiko
tinggi sesuai ketentuan umum butir d.
T 6.3. Melaksanakan pengecekan apakah Petugas K3 Rekaman / RKABP
6.3 permohonan sudah sesuai dengan
cheklist yang telah ditetapkan /
membuat checklist tambahan sesuai
Y
norma-norma / ketentuan K3 :
x Jika Tidak, kembali ke langkah 6.2.
x Jika Ya, lanjut ke butir 6.4.
6.4. Memberikan ijin kerja jika semua Petugas K3 Rekaman
6..4 ketentuan telah di penuhi
6.5. Ijin kerja yang menyangkut Pelaksana Rekaman
pengamanan peralatan, diberlakukan
6..5 penguncian dan penandaan (Lock Out
Tag Out / LOTO)
6.6. Melaksanakan pekerjaan sesuai ijin Pelaksana Rekaman
6..6 kerja yang diberikan dan mematuhi
norma-norma / ketentuan K3 sesuai
dengan sifat pekerjaannya
6..7 6.7. Melakukan pemantauan selama Petugas K3 Rekaman
pelaksanaan pekerjaan untuk
memastikan ketentuan K3 dipatuhi

Selesai Selesai

7. Pengecualian : Tidak ada.

8. Lampiran :
8.1. AMKA-PU-29, F01 : Ijin Kerja Bongkar Pasang Begesting/scaffolding
8.2. AMKA-PU-29, F02 : Ijin Kerja Penggalian > 2 M.
8.3. AMKA-PU-29, F03 : Ijin Kerja Pengelasan, Pemotongan & Penggerindaan
8.4. AMKA-PU-29, F04 : Ijin Kerja Pekerjaan di Ketinggian.
8.5. AMKA-PU-29, F05 : Ijin Kerja Pekerjaan yang Berhubungan dengan
Sumber Listrik.
8.6. AMKA-PU-29, F06 : Ijin Kerja Penggunaan Bahan Mudah Terbakar.
8.7. AMKA-PU-29, F07 : Ijin Kerja Penggunaan Bahan Kimia.
8.8. AMKA-PU-29, F08 : Ijin Kerja Penggunaan Bahan Mudah Meledak.
8.9. AMKA-PU-29, F09 : Ijin Kerja Penggunaan Ruang Terbatas.

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 29 Ijin Kerja.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-29-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status : ASLI / COPY
IJIN KERJA Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 5 dari 5

9. Daftar Istilah :
- LOTO : Lock Out – Tag Out.

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 29 Ijin Kerja.docx
PT AMARTA KARYA
Group / Proyek ……………………

IJIN KERJA
PEKERJAAN BONGKAR PASANG BEGESTING/SCAFOLDING

Permintaan Ijin Kerja (Diisi oleh Pelaksana terkait pada lokasi kerjanya)
Diminta oleh : Nama Subkon : Jumlah Personil :
Nama Personil
1 5 9
2 6 10
3 7 11
4 8 12

Jenis Pekerjaan : Pekerjaan diijinkan dimulai pada :


Lokasi Pekerjaan : Tanggal : ………………. s/d
Peralatan yang dibunakan : Mulai Pukul : ……………….
Selesai Pukul :
Catatan Lain :

Checklist Keselamatan (Diisi oleh Petugas K3 dan atau Ahli K3)


YA TDK YA TDK
1 Apakah rencana kerja sudah didiskusikan ? 9 Apakah barikade/tanda peringatan sudah
2 Apakah pekerja sudah dijelaskan bahaya dipasang ?
yang ada 10 Apakah perlu lampu penerangan ?
3 Apakah pekerja sudah pengalaman ? 11 Apakah jalur lalu lintas orang sudah
4 Apakah hasil test beton sudah memenuhi ? dipindahkan ?
(untuk bongkar bekisting) 12 Apakah tempat penumpukan hasil
5 Apakah tahapan pembongkaran/ bongkaran disiapkan ?
pemasangan sudah diketahui ? 13 Apakah paku yang berceceran akan
6 Apakah tangga kerja sudah disiapkan ? dikumpulkan & disingkirkan ?
7 Apakah sudah ditunjuk petugas untuk 14 Apakah pijakan pekerjaan cukup aman ?
mengawasi ? 15 Apakah scafolding rusak sudah tidak dipakai
8 Apakah peralatan yang digunakan sudah ?
layak ?
APD yang wajib dipakai

Safety Shoes Safety Helm Safety Belt Sarung Tangan ---------------------------------------


Pengesahan dan Penerimaan Ijin Kerja

Pelaksana Petugas K3 Sub Kontraktor/Mandor

Nama : ………………………………….. Nama : ………………………………….. Nama : …………………………………..

Tanda Tangan : Tanda Tangan : Tanda Tangan :

Saya setuju dengan semua kondisi sesuai ijin kerja untuk melaksanakan pekerjaan

Sub Kontraktor/Mandor

Nama : ………………………………….. Tanggal : …………………………………..

Tanda Tangan : Waktu :

AMKA-PU-29, F01
PT AMARTA KARYA
Group / Proyek ……………………

IJIN KERJA
PEKERJAAN PENGGALIAN > 2 M

Permintaan Ijin Kerja (Diisi oleh Pelaksana terkait pada lokasi kerjanya)
Diminta oleh : Nama Subkon : Jumlah Personil :
Nama Personil
1 5 9
2 6 10
3 7 11
4 8 12

Jenis Pekerjaan : Pekerjaan diijinkan dimulai pada :


Lokasi Pekerjaan : Tanggal : ………………. s/d
Peralatan yang dibunakan : Mulai Pukul : ……………….
Selesai Pukul :
Catatan Lain :

Checklist Keselamatan (Diisi oleh Petugas K3 dan atau Ahli K3)


YA TDK YA TDK
1 Apakah rencana kerja sudah didiskusikan ? 9 Apakah barikade/tanda peringatan sudah
2 Apakah pekerja sudah dijelaskan bahaya dipasang ?
yang ada ? 10 Apakah perlu lampu penerangan ?
3 Apakah pekerja sudah pengalaman ? 11 Apakah ruang galian cukup unuk ruang
4 Apakah peralatan yang digunakan sudah gerak pekerja ?
layak ? 12 Apakah tangga, tali dan pengamanan
5 Apakah jenis tanah sudah diketahui ? lainnya sudah tersedia ?
6 Apakah muka air tanah diketahui ? Apakah 13 Apakah sudah ditunjuk petugas untuk
ada rembesan dalam galian ? mengawasi ?
7 Apakah sudah dilakukan penyelidikan tanah 14 Apakah lokasi ada diarea lalu lintas umum?
? 15 Apakah jarak buang cukup aman ?
8 Apakah ada jalur instalasi (listrik, gas, air)
dalam galian ? Apakah sdh diamankan ?
APD yang wajib dipakai

Safety Shoes Safety Helm Safety Belt Sarung Tangan ---------------------------------------


Pengesahan dan Penerimaan Ijin Kerja

Pelaksana Petugas K3 Sub Kontraktor/Mandor

Nama : ………………………………….. Nama : ………………………………….. Nama : …………………………………..

Tanda Tangan : Tanda Tangan : Tanda Tangan :

Saya setuju dengan semua kondisi sesuai ijin kerja untuk melaksanakan pekerjaan

Sub Kontraktor/Mandor

Nama : ………………………………….. Tanggal : …………………………………..

Tanda Tangan : Waktu :

AMKA-PU-29, F02
PT AMARTA KARYA
Group / Proyek ……………………

IJIN KERJA
PEKERJAAN PENGELASAN, PEMOTONGAN & PENGGERINDAAN

Permintaan Ijin Kerja (Diisi oleh Pelaksana terkait pada lokasi kerjanya)
Diminta oleh : Nama Subkon : Jumlah Personil :
Nama Personil
1 5 9
2 6 10
3 7 11
4 8 12

Jenis Pekerjaan : Pekerjaan diijinkan dimulai pada :


Lokasi Pekerjaan : Tanggal : ………………. s/d
Peralatan yang dibunakan : Mulai Pukul : ……………….
Selesai Pukul :
Catatan Lain :

Checklist Keselamatan (Diisi oleh Petugas K3 dan atau Ahli K3)


YA TDK YA TDK
1 Apakah rencana kerja sudah didiskusikan ? 9 Apakah barikade/tanda peringatan sudah
2 Apakah pekerja sudah dijelaskan bahaya dipasang ?
yang ada ? 10 Apakah sudah dilakukan cek bocoran
3 Apakah tukang las bersertifikasi ? hydrocarbon ?
4 Apakah keadaan sekitas sudah diperiksa 11 Apakah regulator masih berfungsi & utuh ?
dan aman ? 12 Apakah flash back aristor sudah terpasang
5 Apakah bahan mudah terbakar sudah dengan benar ?
diamankan ? 13 Apakah jarak tabung O2 dan acetylin sudah
6 Apakah lokasi mesin las aman, digrounding cukup (+ 3 m) ?
& percikan api las diamankan ? 14 Apakah pemantik untuk menyalakan sudah
7 Apakah petugas pemadam kebakaran siap ?
diperlukan ? 15 Apakah tabung O2 & acetylin sdh tegak ?
8 Apakah alat pemadam siap pakai diperlukan 16 Apakah ampere mesin sesuai kawat las
? yang dipakai ?
APD yang wajib dipakai

Safety Shoes Safety Helm Safety Belt Sarung Tangan ---------------------------------------


Pengesahan dan Penerimaan Ijin Kerja

Pelaksana Petugas K3 Sub Kontraktor/Mandor

Nama : ………………………………….. Nama : ………………………………….. Nama : …………………………………..

Tanda Tangan : Tanda Tangan : Tanda Tangan :

Saya setuju dengan semua kondisi sesuai ijin kerja untuk melaksanakan pekerjaan

Sub Kontraktor/Mandor
Nama : ………………………………….. Tanggal : …………………………………..

Tanda Tangan : Waktu :

AMKA-PU-29, F03
PT AMARTA KARYA
Group / Proyek ……………………

IJIN KERJA
PEKERJAAN DIKETINGGIAN

Permintaan Ijin Kerja (Diisi oleh Pelaksana terkait pada lokasi kerjanya)
Diminta oleh : Nama Subkon : Jumlah Personil :
Nama Personil
1 5 9
2 6 10
3 7 11
4 8 12

Jenis Pekerjaan : Pekerjaan diijinkan dimulai pada :


Lokasi Pekerjaan : Tanggal : ………………. s/d
Peralatan yang dibunakan : Mulai Pukul : ……………….
Selesai Pukul :
Catatan Lain :

Checklist Keselamatan (Diisi oleh Petugas K3 dan atau Ahli K3)


YA TDK YA TDK
1 Apakah rencana kerja sudah didiskusikan ? 9 Apakah barikade/tanda peringatan sudah
2 Apakah pekerja sudah dijelaskan bahaya dipasang ?
yang ada ? 10 Apakah perlu lampu penerangan ?
3 Apakah pekerja sudah pengalaman ? 11 Apakah perlu alat komunikasi ?
4 Apakah pekerja sehat dan berani 12 Apakah rencana evakuasi sudah disiapkan
diketinggian ? ?
5 Apakah keadaan sekitar sudah diperiksa 13 Apakah sudah ditunjuk petugas untuk
dan aman ? mengawasi ?
6 Apakah tangga kerja sudah disiapkan ? 14 Apakah lokasi cukup aman untuk bekerja ?
7 Apakah platform cukup kuat dan luas untuk 15 Apakah perlu jaring pengaman ?
peralatan dan diberi pagar ?
8 Apakah tali penggantung pengaman sudah
dipasang ?
APD yang wajib dipakai

Safety Shoes Safety Helm Safety Belt Sarung Tangan ---------------------------------------


Pengesahan dan Penerimaan Ijin Kerja

Pelaksana Petugas K3 Sub Kontraktor/Mandor

Nama : ………………………………….. Nama : ………………………………….. Nama : …………………………………..

Tanda Tangan : Tanda Tangan : Tanda Tangan :

Saya setuju dengan semua kondisi sesuai ijin kerja untuk melaksanakan pekerjaan

Sub Kontraktor/Mandor

Nama : ………………………………….. Tanggal : …………………………………..

Tanda Tangan : Waktu :

AMKA-PU-29, F04
PT AMARTA KARYA
Group / Proyek ……………………

IJIN KERJA
PEKERJAAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN LISTRIK

Permintaan Ijin Kerja (Diisi oleh Pelaksana terkait pada lokasi kerjanya)
Diminta oleh : Nama Subkon : Jumlah Personil :
Nama Personil
1 5 9
2 6 10
3 7 11
4 8 12

Jenis Pekerjaan : Pekerjaan diijinkan dimulai pada :


Lokasi Pekerjaan : Tanggal : ………………. s/d
Peralatan yang dibunakan : Mulai Pukul : ……………….
Selesai Pukul :
Catatan Lain :

Checklist Keselamatan (Diisi oleh Petugas K3 dan atau Ahli K3)


YA TDK YA TDK
1 Apakah rencana kerja sudah didiskusikan ? 9 Apakah barikade/tanda peringatan sudah
2 Apakah pekerja sudah dijelaskan bahaya dipasang ?
yang ada ? 10 Apakah perlu lampu penerangan ?
3 Apakah pekerja sudah pengalaman ? 11 Apakah panel terjaga aman ?
4 Apakah keadaan sekitar sudah diperiksa 12 Apakah aliran listrik perlu dipadamkan
dan aman ? sementara ?
5 Apakah pekerja sehat dan berani 13 Apakah perlu APAR ?
diketinggian ? 14 Apakah perlu tangga kerja/platform ?
6 Apakah jaringan inst. Listrik sdh diamankan ? 15 Apakah lag out & tag out sudah dipasang ?
7 Apakah sudah ditunjuk petugas untuk
mengawasi ?
8 Apakah peralatan yang digunakan sudah
layak ?
APD yang wajib dipakai

Safety Shoes Safety Helm Safety Belt Sarung Tangan ---------------------------------------


Pengesahan dan Penerimaan Ijin Kerja

Pelaksana Petugas K3 Sub Kontraktor/Mandor

Nama : ………………………………….. Nama : ………………………………….. Nama : …………………………………..

Tanda Tangan : Tanda Tangan : Tanda Tangan :

Saya setuju dengan semua kondisi sesuai ijin kerja untuk melaksanakan pekerjaan

Sub Kontraktor/Mandor

Nama : ………………………………….. Tanggal : …………………………………..

Tanda Tangan : Waktu :

AMKA-PU-29, F05
PT AMARTA KARYA
Group / Proyek ……………………

IJIN KERJA
PENGGUNAAN BAHAN MUDAH TERBAKAR

Permintaan Ijin Kerja (Diisi oleh Pelaksana terkait pada lokasi kerjanya)
Diminta oleh : Nama Subkon : Jumlah Personil :
Nama Personil
1 5 9
2 6 10
3 7 11
4 8 12

Jenis Pekerjaan : Pekerjaan diijinkan dimulai pada :


Lokasi Pekerjaan : Tanggal : ………………. s/d
Peralatan yang dibunakan : Mulai Pukul : ……………….
Selesai Pukul :
Catatan Lain :

Checklist Keselamatan (Diisi oleh Petugas K3 dan atau Ahli K3)


YA TDK YA TDK
1 Apakah rencana kerja sudah didiskusikan ? 9 Apakah barikade/tanda peringatan sudah
2 Apakah pekerja sudah dijelaskan bahaya dipasang ?
yang ada ? 10 Apakah perlu lampu penerangan ?
3 Apakah lokasi jauh dari sumber api ? 11 Apakah penel terjaga aman ?
4 Apakah keadaan sekitar sudah diperiksa 12 Apakah aliran listrik perlu dipadamkan
dan aman ? sementara ?
5 13 Apakah perlu APAR ?
Apakah tumpahan dilokalisir dengan aman ?
14 Apakah perlu tangga kerja/platform ?
6 Apakah mesin sudah dimatikan ? 15 Apakah lag out & tag out sudah dipasang ?
7 Apakah sudah ditunjuk petugas untuk
mengawasi ?
8 Apakah tangki sudah diperiksa terhadap
kebocoran ? Dan ditempatkan diarea aman
APD yang wajib dipakai

Safety Shoes Safety Helm Safety Belt Sarung Tangan ---------------------------------------


Pengesahan dan Penerimaan Ijin Kerja

Pelaksana Petugas K3 Sub Kontraktor/Mandor

Nama : ………………………………….. Nama : ………………………………….. Nama : …………………………………..

Tanda Tangan : Tanda Tangan : Tanda Tangan :

Saya setuju dengan semua kondisi sesuai ijin kerja untuk melaksanakan pekerjaan

Sub Kontraktor/Mandor

Nama : ………………………………….. Tanggal : …………………………………..

Tanda Tangan : Waktu :

AMKA-PU-29, F06
PT AMARTA KARYA
Group / Proyek ……………………

IJIN KERJA
PENGGUNAAN BAHAN KIMIA

Permintaan Ijin Kerja (Diisi oleh Pelaksana terkait pada lokasi kerjanya)
Diminta oleh : Nama Subkon : Jumlah Personil :
Nama Personil
1 5 9
2 6 10
3 7 11
4 8 12

Jenis Pekerjaan : Pekerjaan diijinkan dimulai pada :


Lokasi Pekerjaan : Tanggal : ………………. s/d
Peralatan yang dibunakan : Mulai Pukul : ……………….
Selesai Pukul :
Catatan Lain :

Checklist Keselamatan (Diisi oleh Petugas K3 dan atau Ahli K3)


YA TDK YA TDK
1 Apakah rencana kerja sudah didiskusikan ? 9 Apakah barikade/tanda peringatan sudah
2 Apakah pekerja sudah dijelaskan bahaya dipasang ?
yang ada ? 10 Apakah perlu lampu penerangan ?
3 Apakah pekerja sudah pengalaman ? 11 Apakah wadah bahan tersebut aman
4 Apakah keadaan sekitar sudah diperiksa terhadap kebocoran ?
dan aman ? 12 Apakah rencana evakuasi sudah disiapkan
5 Apakah pekerja sehat ? ?
6 Apakah pekerja tahu cara penggunaan 13 Apakah wadah bahan tersebut masih baik
bahan kimia ? ?
7 Apakah sudah ditunjuk petugas untuk 14 Apakah area kerja jauh dari api ?
mengawasi ? 15 Apakah kotak P3K disiapkan ?
8 Apakah bahan kimia menimbulkan bau atau
gas beracun ?
APD yang wajib dipakai

Safety Shoes Safety Helm Safety Belt Sarung Tangan ---------------------------------------


Pengesahan dan Penerimaan Ijin Kerja

Pelaksana Petugas K3 Sub Kontraktor/Mandor

Nama : ………………………………….. Nama : ………………………………….. Nama : …………………………………..

Tanda Tangan : Tanda Tangan : Tanda Tangan :

Saya setuju dengan semua kondisi sesuai ijin kerja untuk melaksanakan pekerjaan

Sub Kontraktor/Mandor

Nama : ………………………………….. Tanggal : …………………………………..

Tanda Tangan : Waktu :

AMKA-PU-29, F07
PT AMARTA KARYA
Group / Proyek ……………………

IJIN KERJA
PENGGUNAAN BAHAN MUDAH MELEDAK

Permintaan Ijin Kerja (Diisi oleh Pelaksana terkait pada lokasi kerjanya)
Diminta oleh : Nama Subkon : Jumlah Personil :
Nama Personil
1 5 9
2 6 10
3 7 11
4 8 12

Jenis Pekerjaan : Pekerjaan diijinkan dimulai pada :


Lokasi Pekerjaan : Tanggal : ………………. s/d
Peralatan yang dibunakan : Mulai Pukul : ……………….
Selesai Pukul :
Catatan Lain :

Checklist Keselamatan (Diisi oleh Petugas K3 dan atau Ahli K3)


YA TDK YA TDK
1 Apakah rencana kerja sudah didiskusikan ? 9 Apakah barikade/tanda peringatan sudah
2 Apakah pekerja sudah dijelaskan bahaya dipasang ?
yang ada ? 10 Apakah perlu lampu penerangan ?
3 Apakah pekerja sudah pengalaman ? 11 Apakah lokasi jauh dari sumber api ?
4 Apakah keadaan sekitar sudah diperiksa 12 Apakah pengamanan bahan tersebut cukup
dan aman ? ?
5 Apakah ada petunjuk penggunaannya ? 13 Apakah rencana evakuasi sudah disiapkan
6 Apakah pekerja tahu cara penggunaan ?
bahan tersebut ? 14 Apakah perlu alat pemadam kebakaran ?
7 Apakah sudah ditunjuk petugas untuk 15 Apakah rencana tindakan darurat sudah
mengawasi ? disiapkan ?
8 Apakah perlu petugas khusus ?

APD yang wajib dipakai

Safety Shoes Safety Helm Safety Belt Sarung Tangan ---------------------------------------


Pengesahan dan Penerimaan Ijin Kerja

Pelaksana Petugas K3 Sub Kontraktor/Mandor

Nama : ………………………………….. Nama : ………………………………….. Nama : …………………………………..

Tanda Tangan : Tanda Tangan : Tanda Tangan :

Saya setuju dengan semua kondisi sesuai ijin kerja untuk melaksanakan pekerjaan

Sub Kontraktor/Mandor

Nama : ………………………………….. Tanggal : …………………………………..

Tanda Tangan : Waktu :

AMKA-PU-29, F08
PT AMARTA KARYA
Group / Proyek ……………………

IJIN KERJA
PENGGUNAAN RUANG TERBATAS (CONFINED SPACE)

Permintaan Ijin Kerja (Diisi oleh Pelaksana terkait pada lokasi kerjanya)
Diminta oleh : Nama Subkon : Jumlah Personil :
Nama Personil
1 5 9
2 6 10
3 7 11
4 8 12

Jenis Pekerjaan : Pekerjaan diijinkan dimulai pada :


Lokasi Pekerjaan : Tanggal : ………………. s/d
Peralatan yang dibunakan : Mulai Pukul : ……………….
Selesai Pukul :
Catatan Lain :

Checklist Keselamatan (Diisi oleh Petugas K3 dan atau Ahli K3)


YA TDK YA TDK
1 Apakah rencana kerja sudah didiskusikan ? 9 Apakah barikade/tanda peringatan sudah
2 Apakah pekerja sudah dijelaskan bahaya dipasang ?
yang ada ? 10 Apakah perlu lampu penerangan ?
3 Apakah lokasi kerja sudah diuji terhadap 11 Apakah lokasi jauh dari sumber api ?
kandungan gas ?
4 Apakah ventilasi cukup ?
5 Apakah pengamanan cukup (tali, tangga,
dsb) ?
6 Apakah pekerja tahu cara penggunaan
bahan tersebut ?
7 Apakah perlu alat komunikasi ?
8 Apakah penjaga confined space sudah
ditunjuk ?
APD yang wajib dipakai

Safety Shoes Safety Helm Safety Belt Sarung Tangan ---------------------------------------


Pengesahan dan Penerimaan Ijin Kerja

Pelaksana Petugas K3 Sub Kontraktor/Mandor

Nama : ………………………………….. Nama : ………………………………….. Nama : …………………………………..

Tanda Tangan : Tanda Tangan : Tanda Tangan :

Saya setuju dengan semua kondisi sesuai ijin kerja untuk melaksanakan pekerjaan

Sub Kontraktor/Mandor

Nama : ………………………………….. Tanggal : …………………………………..

Tanda Tangan : Waktu :

AMKA-PU-29, F09
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-30-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status : ASLI / COPY
KEADAAAN DARURAT Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 2 dari 13

DAFTAR ISI
Lembar pengesahan ................................................................................................................. 1
Daftar isi ................................................................................................................................... 1
1. Tujuan ................................................................................................................................ 3
2. Ruang Lingkup ................................................................................................................... 3
2. Referensi ............................................................................................................................ 3
3. Defenisi .............................................................................................................................. 3
4. Ketentuan Umum .............................................................................................................. 3
5. Uraian Prosedur................................................................................................................. 8
4. Pengecualian ................................................................................................................... 13
6. Lampiran .......................................................................................................................... 13
7. Daftar Istilah .................................................................................................................... 13

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 30 Keadaan Darurat.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-30-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status : ASLI / COPY
KEADAAAN DARURAT Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 3 dari 13

1. Tujuan
a. Untuk mengatasi produk yang tidak sesuai dengan persyaratan ditandai &
dikendalikan.
b. Untuk meminimalkan dampak akibat kejadian keadaan darurat terhadap semua
personil dan harta benda.
c. Untuk menetapkan, memelihara, mengendalikan prosedur guna mengetahui potensi /
situasi tindak darurat / insiden / yang mempunyai dampak lingkungan dan cara
mengatasinya.

2. Ruang Lingkup
Prosedur ini berlaku untuk lokasi Kantor Pusat, Workshop, Proyek.

3. Referensi
a. ISO 9001:2015, Pengendalian output yang tidak sesuai (8.7.)
b. SMK3 PP RI 50 tahun 2012, Prosedur menghadapi Keadaan Darurat atau Bencana
(6.7.) dan Rencana Pemulihan Kondisi Darurat (6.9).
c. OHSAS 18001:2007, Kesiagaaan dan tindak Darurat (4.4.7.)
d. ISO 14001:2015, Kesiagaaan dan tindak Darurat (8.2.)

4. Definisi
a. Tim Tanggap Darurat (TTD) : Adalah sekelompok orang yang ditunjuk dipilih sebagai
pelaksana penanggulangan Keadaan Darurat.
b. Keadaan darurat (emergency) : Adalah suatu keadaan tidak normal tidak ingin terjadi
pada tempat kegiatan, membahayakan manusia, merusak peralatan/benda, atau
lingkungan.

5. Ketentuan Umum :
a. Prosedur ini diberlakukan terhadap semua anggota PT Amarta Karya (Persero)
maupun pekerja sub kontraktor, dan tamu yang berada di lokasi di bawah
pengendalian PT Amarta Karya (Persero).

b. Perencanaan penanganan keadaan darurat.


b.1. Informasi untuk mengatasi situasi darurat / emergency berisikan, antara lain :
1). Pengenalan situasi darurat: jenis dan prakiraan dampaknya
2). Pengkajian akibat/dampak dan menyiapkan pengendalian dan
pencegahannya
3). Prosedur penanggulangan situasi darurat
4). Sistem komunikasi dalam situasi darurat
5). Struktur organisasi yang bertanggung jawab jika terjadi situasi darurat.
6). Tata cara pemberitahuan situasi darurat
7). Petunjuk komunikasi : Nama, Instansi, Alamat, Nomor telpon Pejabat terkait
8). Peta situasi dalam kondisi darurat.
9). Program evakuasi dalam situasi darurat.
10). Penyediaan ruangan medis / P3K dan tenaga medis jika diperlukan serta
perlengkapan medis yang diperlukan.
11). Penyediaan peralatan yang yang diperlukan untuk situasi darurat.
12). Peta daerah aman untuk evakuasi.
13). Peta tempat / titik berkumpul (muster point /centre point / assembly point).
14). Program pelatihan dan simulasi situasi darurat.
15). Rencana tempat untuk pengamanan dokumen penting.

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 30 Keadaan Darurat.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-30-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status : ASLI / COPY
KEADAAAN DARURAT Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 4 dari 13

16). Pengakhiran situasi darurat dan tindak lanjut.


17). Program pemulihan dari situasi darurat.
18). Tempat sementara untuk operasional usaha, setelah terjadi situasi darurat.

b.2. Klasifikasi tingkatan situasi darurat yang mungkin terjadi


b.2.1. Tingkat Darurat besar.
1). Kebakaran atau ledakan
2). Gempa bumi
3). Huru – hara
4). Banjir
5). Keracunan makanan secara masal
6). Sabotase atau ancaman Bom
7). Tumpahan minyak atau bahan kimia berbahaya lainnya atau limbah B3
dalam jumlah besar
8). Insiden yang dapat berakibat korban jiwa dengan jumlah korban > 3 orang,
9). Ketidaksesuaian yang fatal, contoh : gagal konstruksi (robohnya bangunan)

b.2.2. Tingkat Darurat Sedang.


1). Insiden yang dapat berakibat korban jiwa < 3 orang.
2). Luka berat.
3). Luka yang dapat mengakibatkan cacat permanen.
4). Sakit yang tidak dapat diobati.
5). Insiden yang dapat berakibat hilang hari kerja.
6). Tumpahan minyak atau bahan kimia berbahaya lainnya atau limbah B3
dalam jumlah sedang.
7). Ketidaksesuaian sedang, contoh: gagal konstruksi sebagian (robohnya
sebagian bagian bangunan pada saat pengecoran / pada saat
pembongkaran support bekisting).

b.2.3. Tingkat Darurat Rendah.


1). Sakit yang dapat diobati dengan pertolongan medis tetapi tidak
mengakibatkan cacat permanen.
2). Sakit yang dapat diobati dengan pertolongan pertama.
3). Luka ringan.

b.3. Ketua P2K3 menetapkan kewenangan dan tanggungjawab petugas yang


ditunjuk sebagai penanggung jawab dalam situasi darurat sebelum pejabat yang
berkompeten tiba di lokasi mengambil alih tanggung jawab.
Semua pegawai termasuk pengunjung harus mengikuti komando yang diberikan
oleh petugas tersebut. Apabila ada perubahan petugas maka daftar petugas
harus direvisi dan disampaikan ke P2K3 atau Unit K3

c. Penanganan Situasi Darurat.


c.1. Kesiagaan & tindak Darurat Kebakaran
c.1.1. Dalam keadaan darurat kebakaran, semua pegawai termasuk tamu atau
pengunjung dikumpulkan di daerah yang aman dengan cara diberi komando :
1) Tidak boleh Panik
2) Berkumpul bersama-sama membentuk kelompok-kelompok kecil
3) Tinggalkan tempat kerja sesuai arah peta daerah aman (jalur evakuasi)
menuju ke titik kumpul

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 30 Keadaan Darurat.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-30-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status : ASLI / COPY
KEADAAAN DARURAT Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 5 dari 13

4) Jangan buru-buru sewaktu menuju daerah aman dan sewaktu menuruni


tangga darurat.

c.1.2. Ada upaya penyelamatan antara lain :


1) Mencari sumber penyebab bahaya dan melakukan tindakan pengamanan
2) Melokalisir lokasi bahaya
3) Memberikan pertolongan pertama.

c.2. Kesiagaan & tindak Darurat Gempa Bumi


Dalam keadaan darurat gempa bumi, pengarahan kepada semua pegawai
dilakukan melalui radio atau pengeras suara untuk melakukan hal-hal sebagai
berikut :
1) Saat terjadi goncangan, langsung merunduk atau berlindung di bawah meja
atau disudut ruangan)
2) Menjauhi jendela, dinding dan jaringan / instalasi listrik.
3) Jangan berjalan kea rah jalur evakuasi selama goncangan.
4) Jangan panik, selalu berkumpul bersama dalam kelompok-kelompok kecil.
5) Jangan terburu-buru mengungsi, kecuali bangunan ada kecenderungan
akan mengalami kerusakan yang parah serta pada posisi didaerah yang
berisiko tinggi.
6) Jika goncangan sudah berhenti, segera menuju ke titik kumpul dengan
melewati jalur evakuasi yang tersedia.

c.3. Kesiagaan & tindak Darurat Banjir


Untuk tindak penyelamatan dalam keadaan darurat banjir, agar ada pengarahan
kepada semua pegawai melalui pengeras suara untuk melakukan hal-hal sebagai
berikut :
1) Segera mengungsi / mencari tempat berlindung yang aman, yaitu di daerah
yang tinggi, atau daerah yang diperkirakan tidak terkena banjir.
2) Jangan panik, selalu berkumpul bersama dalam kelompok-kelompok kecil.

c.4. Kesiagaan & Tindak Darurat Ancaman Bom


c.4.1. Ancaman Bom Melalui Telepon
1) Dalam keadaan darurat ancaman bom melalui telepon, penerima telpon di
Perusahaan agar mengupayakan si-penelpon terus bicara dan mencatat
seluruh percakapan :
x Dimana bom dipasang
x Berapa banyak bom yang dipasang
x Kapan bom akan meledak

2) Memberikan penjelasan kepada semua pegawai mengenai langkah-langkah


yang harus dilakukan dalam menghadapi situasi darurat akibat ancaman
bom.

c.4.2. Ancaman Bom melalui Surat


Dalam keadaan darurat ancaman bom melalui surat, penerima surat segera
melakukan langkah-langkah :
1) Menghubungi pejabat atau petugas yang ditunjuk
2) Menindak lanjuti laporan yang diterima dengan segera melakukan tindakan
penanganan situasi darurat
PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141
Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 30 Keadaan Darurat.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-30-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status : ASLI / COPY
KEADAAAN DARURAT Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 6 dari 13

c.5. Menemukan Obyek Yang Mencurigakan


Laporan atas temuan obyek yang mencurigakan kepada pejabat atau petugas
yang ditunjuk menjelaskan hal – hal sebagai berikut :
1). Identitas pelapor / penemu obyek
2). Lokasi obyek
3). Ciri-ciri obyek

d. Struktur Organisasi Keadaan Darurat


Menetapkan Organisasi untuk menangani situasi darurat yang mungkin dapat terjadi di
semua Satuan Kerja. Organisasi ini mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai
berikut :
d.1. Ketua P2K3 / Tim MK3L memimpin dan mengkoordinir semua kegiatan tindak
darurat di AMKA. Ketua P2K3 dijabat oleh :
1) Pusat : Direktur Operasi.
2) Proyek : Project Manager

d.2. Petugas K3 merupakan anggota K3 yang ditunjuk atau Unit K3 yang ditunjuk.
Petugas K3 bertugas:
1) Memimpin kegiatan tindak darurat di lapangan
2) Mengarahkan semua personil ke arah jalur evakuasi untuk menuju ke titik
kumpul
3) Menginformasikan kepada publik dan lembaga / instansi yang terkait
(kepolisian, dinas pemadam kebakaran, Rumah sakit , pers dll )
4) Melakukan kegiatan pemadaman api dan tindakan penyelamatan.
5) Memberikan pertolongan pertama kepada korban sampai bantuan medis
datang atau mengantar korban ke rumah sakit terdekat.
6) Berkoordinasi dengan teknisi mematikan aliran listrik sewaktu terjadi
kebakaran, gempa bumi dan situasi bahaya lainnya. Teknisi terdiri dari
petugas maintenance AMKA.
7) Melakukan pengecekan jumlah orang dengan menghitung kembali jumlah
orang yang berada di tempat titik berkumpul (centre point) dengan
membandingkan jumlah orang yang terdaftar sebelum kejadian. Jumlah
orang yang dihitung termasuk tamu, pengunjung dan siapapun yang
sebelum kejadian diketahui berada di daerah kejadian. Pengecekan ini
dimaksudkan untuk mengetahui apakah seluruh orang yang berada di
daerah kejadian sudah dievakuasi.
8) Melakukan investigasi setelah kondisi darurat dinyatakan aman.
9) Membuat rekomendasi kepada manajemen atas hasil investigasi yang
dilakukan.
10) Membuat laporan kepada pihak eksternal yang terkait.
d.3. Tim Pengaman / Satpam mengamankan lokasi kantor selama situasi darurat
terjadi.

e. Tahap Pemulihan
Setelah situasi darurat dinyatakan aman, maka jika bangunan kantor tidak bisa
dimanfaatkan lagi untuk tempat kerja, perlu ditetapkan tempat kerja sementara untuk
pusat kendali usaha.
Pejabat yang berwenang untuk mengambil keputusan itu adalah sebagai berikut :

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 30 Keadaan Darurat.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-30-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status : ASLI / COPY
KEADAAAN DARURAT Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 7 dari 13

1) Penetapan tempat kerja sementara sebagai pengganti Kantor Pusat & Work
shop ditetapkan oleh Direksi.
2) Penetapan tempat kerja sementara sebagai pengganti Kantor Proyek
ditetapkan oleh Project Manajer seijin Group Head.

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 30 Keadaan Darurat.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-30-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status : ASLI / COPY
KEADAAAN DARURAT Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 8 dari 13

6. Uraian Prosedur

BAGAN ALIR URAIAN PJ DOKUMEN

A
6.1.1. Menyusun petunjuk penggunaan K3 Rekaman
6.1.9 peralatan yang diperlukan berkaitan
dengan keaadaan darurat di semua
satuan kerja koordinasi dengan Ka.DKM
/ Ka.Biro / GH / PM
6.1.10
6.1.2. Menjelaskan tata cara evakuasi dalam K3 Rekaman
situasi darurat ke semua satuan kerja.
6.1.3. Mendistribusikan rencana kesiagaan & K3 Rekaman
6.1.11
tindak darurat ke semua petugas terkait
dan Satuan Kerja.
K3 Rekaman
6.1.4. Memberikan pelatihan tindak darurat
6.1.12 terutama pada situasi darurat yang
paling memungkinkan terjadi di Kantor /
lokasi pekerjaan.
6.1.5. Mengevaluasi ke-efektifan dari rencana K3 Rekaman
6.1.12 tindak darurat setelah dilakukan
pelatihan secara periodik dan simulasi
serta setelah terjadinya suatu situasi
darurat yang sesungguhnya.
6.1.12 6.1.6. Merevisi prosedur jika diperlukan, sesuai K3 Rekaman
kebutuhan.

Selesai
Selesai

6.2. Penanganan Keadaan Darurat,


Kesiagaan & tindak Darurat Kebakaran
Mulai
Mulai
6.2.1. Memberikan penjelasan mengenai P2K3 / K3
6.2.1 langkah-langkah yang harus dilakukan
dalam menghadapi situasi darurat akibat
kebakaran.
6.2.2 6.2.2. Menyusun prosedur tindak darurat untuk P3K3 / K3
situasi kebakaran.
6.2.3. Pegawai atau orang yang pertama kali Saksi
yang mengetahui / melihat kebakaran
6.2.3 segera mengambil APAR yang terdekat
dan berusaha memadamkan api sambil
berteriak memberitahukan kepada
karyawan lainnya untuk segera me-
laporkan adanya kebakaran kepada Unit
K3LM atau petugas yang ditunjuk.
6.2.4
6.2.4. Membunyikan alarm atau tanda bahaya Satpam
secara terus menerus dengan jeda
disertai dengan pemberitahuan adanya
A kebakaran melalui pengeras suara.

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 30 Keadaan Darurat.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-30-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status : ASLI / COPY
KEADAAAN DARURAT Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 9 dari 13

BAGAN ALIR URAIAN PJ DOKUMEN

A
6.2.5. Memberitahukan kepada petugas K3
pemeliharaan / teknisi untuk me-
madamkan aliran listrik yang tidak
6.2.5
dibutuhkan atau yang dapat menim-
bulkan peningkatan bahaya yang ada.
6.2.6. Memberitahukan kepada semua pegawai K3
termasuk tamu atau pengunjung untuk
6.2.6 menuju kedaerah yang aman dengan
cara memberikan komando sesuai
ketentuan butir c.1.1.
6.2.7 6.2.7. Menghubungi Dinas Pemadam K3
Kebakaran

6.2.8 6.2.8. Menghubungi pejabat yang berkompeten, K3


untuk segera datang ke lokasi kejadian
dan mengambil alih kendali.
6.2.9. Mengupayakan penyelamatan sesuai
6.2.9 K3
ketentuan butir c.1.2.
6.2.10. Menghubungi pihak kepolisian dan
K3 Rekaman
Lembaga / Instansi yang terkait
6.2.10 sehubungan dengan kebakaran yang
terjadi.

Selesai
Selesai

6.3. Penanganan Keadaan Darurat,


Kesiagaan & tindak Darurat Gempa Bumi
Mulai
Mulai P2K3 /K3
6.3.1. Memberikan penjelasan mengenai
6.3.1 langkah-langkah yang harus dilakukan
dalam menghadapi keadaan darurat
akibat Gempa Bumi. P2K3 /K3
6.3.2 6.3.2. Menyusun prosedur kesiagaan & tindak
darurat untuk situasi gempa bumi.
Semua Rekaman
6.3.3. Mengambil langkah penyelamatan sesuai karyawan
6.3.3
prosedur yang dimiliki jika terjadi keadaan
darurat akibat gempa bumi.
6.3.4 6.3.4. Membunyikan alarm atau tanda bahaya Satpam
secara terus menerus dengan jeda
disertai dengan pemberitahuan adanya
6.3.5
gempa bumi melalui pengeras suara.
6.3.5. Memberikan pengarahan melalui radio Petugas yang
atau pengeras suara kepada semua ditunjuk
pegawai untuk melakukan hal-hal sesuai
A ketentuan butir c.2.

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 30 Keadaan Darurat.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-30-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status : ASLI / COPY
KEADAAAN DARURAT Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 10 dari 13

BAGAN ALIR URAIAN PJ DOKUMEN

A
6.3.6. Memberitahukan kepada semua pegawai Petugas yang
untuk berlindung di tempat yang aman. ditunjuk
6.3.6
6.3.7. Memberitahukan kepada petugas Petugas yang
pemeliharaan / teknisi.untuk ditunjuk
memadamkan aliran listrik yang tidak
6.3.7 dibutuhkan
6.3.8. Menghubungi pejabat yang berkompeten, Petugas yang
untuk segera datang ke lokasi kejadian ditunjuk
6.3.8 dan mengambil alih kendali.
6.3.9. Melakukan upaya – upaya penyelamatan Petugas yang
dengan memberikan pertolongan ditunjuk
6.3.9
pertama.
6.3.10. Menghubungi pihak kepolisian dan
Petugas yang
6.3.10 Lembaga / Instansi yang terkait dengan
ditunjuk
gempa bumi yang terjadi.
6.3.11. Membuat laporan terjadinya gempa bumi Petugas yang Rekaman
6.3.11 termasuk kerusakan dan korban bila ada ditunjuk
kepada pihak-pihak yang terkait.

Selesai Selesai

Mulai 6.4. Penanganan Keadaan Darurat,


Kesiagaan & tindak Darurat Banjir
Mulai
6.4.1
6.4.1. Memberikan penjelasan mengenai Koordinator K3
langkah-langkah yang harus dilakukan
dalam menghadapi situasi darurat akibat
6.4.2 banjir
6.4.2. Menyusun prosedur kesiagaan & tindak Koordinator K3
darurat untuk situasi banjir
6.4.3 Semua
6.4.3. Mengambil langkah penyelamatan sesuai
prosedur yang dimiliki jika terjadi situasi pegawai
darurat akibat banjir.
6.4.4
6.4.4. Membunyikan alarm atau tanda bahaya
secara terus menerus dengan jeda Satpam
disertai dengan pemberitahuan adanya
6.4.5
banjir melalui pengeras suara.
6.4.5. Memberikan pengarahan melalui
6.4.6 pengeras suara kepada semua pegawai Petugas yang
untuk melakukan hal-hal sesuai ketentuan ditunjuk
butir b.1.6) Memberitahukan kepada
semua pegawai untuk menuju kedaerah
A yang aman dari banjir.
Petugas
evakuasi

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 30 Keadaan Darurat.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-30-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status : ASLI / COPY
KEADAAAN DARURAT Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 11 dari 13

BAGAN ALIR URAIAN PJ DOKUMEN

A
6.4.6. Memberitahukan kepada petugas Petugas yang
ditunjuk
pemeliharaan/ teknisi untuk memadam-
6.4.7
kan aliran listrik di daerah yang akan
tergenang air.
Petugas yang
6.4.7. Menghubungi pejabat AMKA yang
6.4.8 ditunjuk
berkompeten, untuk segera datang ke
lokasi kejadian dan mengambil alih
6.4.9 kendali.
P3K
6.4.8. Melakukan upaya – upaya penyelamatan
dengan memberikan pertolongan
6.4.10 pertama. Petugas yang
ditunjuk
6.4.9. Menghubungi pihak kepolisian dan
6.4.11 Lembaga/ Instansi yang terkait dengan
bahaya banjir yang terjadi. Petugas yang Rekaman
ditunjuk
6.4.10. Membuat laporan terjadinya banjir
Selesai termasuk kerusakan dan korban bila ada
kepada pihak-pihak yang terkait.
Selesai

6.5. Penanganan Keadaan Darurat,


Mulai Kesiagaan & tindak Darurat Ancaman
Bom via telepon
Mulai
6.5. 6.5.1. Selama menerima telepon dari orang/si- Penerima
penelpon diusahakan tetap tenang. telepon
6.5.2 6.5.2. Mengupayakan agar si-penelpon terus
bicara dan mencatat seluruh percakapan Penerima
sesuai butir c.4.1. telepon
6.5.3 6.5.3. Segera melapor kepada pejabat yang
terkait atau petugas yang ditunjuk.
Penerima
6.5.4. Memberikan penjelasan kepada semua telepon
6.5.3
pegawai mengenai langkah-langkah yang
harus dilakukan dalam menghadapi
keadaan darurat akibat ancaman bom K3
6.5.3
6.5.5. Menindak lanjuti laporan yang diterima Rekaman
dengan segera melakukan tindakan
penanganan situasi darurat
K3
Selesai Selesai

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 30 Keadaan Darurat.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-30-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status : ASLI / COPY
KEADAAAN DARURAT Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 12 dari 13

BAGAN ALIR URAIAN PJ DOKUMEN

Mulai
6.6. Penanganan Situasi Darurat, Kesiagaan
& tindak Darurat Ancaman Bom via surat
Mulai
6.6.
6.6.1. Penerima surat segera menghubungi Penerima Rekaman
pejabat atau petugas yang ditunjuk surat

6.6.2 6.6.2. Memberikan penjelasan kepada semua


pegawai mengenai langkah-langkah yang K3
harus dilakukan dalam menghadapi
keadaan darurat akibat ancaman bom
6.6.3
6.6.3. Menindak lanjuti laporan yang diterima Rekaman
K3
dengan segera melakukan tindakan
penanganan situasi darurat
Selesai
Selesai

6.7. Penanganan Situasi Darurat, atas


Mulai penemuan Obyek yang Mencurigakan.
Mulai
6.7.1. Temuan obyek yang mencurigakan, Saksi
6.7. (Penemu / orang pertama yang
mengetahui obyek yang mencurigakan
dilarang menyentuh)
6.7.2 6.7.2. Penemu segera menghubungi kepada Saksi
pejabat atau petugas yang ditunjuk
dengan menjelaskan hal – hal sebagai
pada butir c.5
6.7.3
6.7.3. Semua pegawai yang berada disekitar Petugas yang
lokasi obyek tersebut supaya menjauhi ditunjuk
6.7.4 area / lokasi obyek
6.7.4. Menghubungi pihak kepolisian dan Rekaman
lembaga / instansi yang terkait K3
6.7.5
6.7.5. Memasang tanda peringatan “ Jangan Rekaman
mendekat “ dan memasang pagar / Petugas yang
pembatas sekeliling area / lokasi obyek ditunjuk
6.7.6
6.7.6. Menempatkan petugas keamanan untuk
menjaga area / lokasi obyek agar orang
tidak mendekat. P2K3/ K3
6.7.7
6.7.7. Jika dipandang perlu dilakukan tindakan Rekaman
evakuasi
K3
6.7.8 6.7.8. Menghubungi pejabat yang berkompeten
untuk segera datang ke lokasi kejadian
dan mengambil alih kendali. K3

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 30 Keadaan Darurat.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-30-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status : ASLI / COPY
KEADAAAN DARURAT Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 13 dari 13

BAGAN ALIR URAIAN PJ DOKUMEN

6.7.9 6.7.9. Melakukan upaya – upaya penyelamatan K3


dengan memberikan pertolongan
pertama.
6.7.10
6.7.10. Menghubungi pihak kepolisian atau K3 Rekaman
pihak yang berwajib.

Selesai Selesai

6.8. Penanganan Pemulihan Situasi.


Mulai Mulai
6.8.1. Menerima informasi bahwa situasi darurat Koordinator Rekaman
sudah teratasi. K3/ Group
6.8.1 Headi//SM
Koordinator
6.8.2. Menentukan apakah lokasi kejadian K3/ Group Rekaman
6.8.2 sudah aman untuk dimasuki kembali Headi//SM
dengan mempertimbangkan hasil
pemeriksaan pihak yang berwajib, jika
lokasi tidak bisa digunakan, maka Direksi /
6.8.3 Menetapkan dan menempati lokasi baru GHKT/GHFI Rekomendasi
untuk tempat kendali usaha sementara.

6.8.4 6.8.3. Memberi pengumuman bahwa lokasi Koordinator


kejadian sudah aman & bisa untuk K3/ Group Rekaman
melakukan aktivitas kembali atau Headi//SM
6.8.5 Menempati lokasi baru sebagai tempat
kendali usaha sementara.

6.8.4. Membentuk tim investigasi untuk Rekaman


Selesai melakukan penyelidikan dan pendataan Tim investigasi
semua kerugian yang diderita / bila ada
korban dan memberikan rekomendasi
atas hasil ivestigasi yang dilakukan

Direksi /
6.8.5. Mengambil langkah-langkah mengaktif- Rekomendasi
GHKT/GHFI
kan kembali kegiatan perusahaan sesuai
ketentuan butir e.
Selesai

7. Pengecualian : Tidak ada.

8. Lampiran :
8.1. AMKA-PU-30, F01: Daftar Nomor Telepon Keadaan Darurat
8.2. AMKA-PU-30, F02 : Daftar Petugas Keadaan Darurat
8.3. AMKA-PU-30, F03 : Daftar Kondisi Darurat.
8.4. AMKA-PU-30, F04 : Berita Acara Penanganan Kondisi Darurat

9. Daftar Istilah : -

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 16-30\PU 30 Keadaan Darurat.docx
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
JOB SAFETY ANALYSIS (JSA) Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 2 dari 2

Job Safety Analysis (JSA)

JSA merupakan analisa keamanan terhadap pekerjaan langkah demi langkah secara
spesifik dengan memberikan informasi bahaya dan risiko yang ada dan cara
pengendaliannya.

Pekerjaan yang telah dinilal risikonya

x Apabila hasil identifikasi bahaya dan penilaian risiko, dihasilkan suatu penilaian resiLo
yang tinggi dan salah satu langkah pengendaliannya membutuhkán “Instruksi Kerja”
maka perlu untuk disusun langkah-langkah pelaksanaan aktivitas tersebut, dengan
menggunakan form JSA,

x Buatlah uraian terhadap kegiatan yang dinilai tinggi risikonya, uraikan kegiatan tersebut :
menjadi beberapa langkah yang berurutan dan lengkap,

x Kemudian setiap langkah tersebut diidentifikasi bahayanya dan ditentukan langkah-


langkah pengendalian terhadap bahaya tersebut,

x Hasil dari identifikasi bahaya dan pengendaliannya (JSA) yang telah dilakukan hasilnya
adalah merupakan Instruksi Kerja yang telah memenuhi unsur-unsur K3 di dalamnya,

Pekerjaan non rutin

x Terhadap pekerjaan yang bersifat non rutin dan atau emergency yang dinilai mempunyai
risiko tinggi, harus dibuatkan analisa kerja aman atau Job Safety Analysis sebelum
pekerjaan itu dilaksanakan.

x JSA harus dikomunikasikan kepada pihak-pihak terkait seperti pekerja, pekerja


subkontraktor yang akan melakukan pekerjaan tersebut.

Tinjauan JSA

JSA harus dilakukan tinjauan sesuai kebutuhan untuk memastikan kesesuaian JSA dengan
kondsi terakhir akibat perubahan-perubahan material, metode, peralatan dan kemampuan
pekerja.

Lampiran

Formulir AMKA-IK-15-01,F-01 Job Safety Analysis (JSA)


INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-03
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
SAFETY MEETING Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 2 dari 2

SAFETY MEETING

1. Rapat-rapat keselamatan kerja harus dilakukan oleh setiap satuan kerja (kantor pusat,
base camp, & proyek-proyek) yang dipimpin oleh Koordinator K3/kepala yang
bersangkutan di satuan kerjanya masing-masing.

2. Rapat seperti ini harus diadakan secara berkala, sekurang-kurangnya sekali dalam
sebulan dan berlangsung selama 60 menit.

3. Unit K3 akan memberikan petunjuk dan saran serta informasi tentang kampanye K3
apabila diminta.

4. Safety meeting digunakan sebagai suatu forum untuk membahas kesehatan,


keselamatan kerja antara para manajer/kepala dan bawahan
mereka.

5. Safety meeting digunakan juga untuk mendapatkan saran-saran perbaikan,


mengembangkan lingkungan kerja yang aman dan baik.

6. Safety meeting digunakan untuk membicarakan dan memberi saran-saran tentang


kasus kecelakaan, insiden dan memberi cara yang terbaik untuk pencegahannya.

7. Safety meeting digunakan untuk mengkoordinasikan suatu pelaksanaan latihan


penanggulangan keadaan darurat dan mendorong agar karyawan dapat melakukan
kebiasaan bekerja dengan baik dan aman serta teratur sesuai dengan ketentuan yang
ada.

8. Safety meeting digunakan Untuk menentukan praktek-praktek kerja dan kondisi yang
tidak aman serta mengambil tindakan atau langkah-langkah perbaikan yang diperlukan.

9. Safety meeting digunakan untuk mendukung pelaksanaan program K3 di lingkungan


operasi PT Amarta Karya.

10. Hasil Safety Meeting dituangkan dalam formulir Risalah Rapat dan disimpan oleh Unit
K3 setempat.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-04
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
VEHICLE SAFETY Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 2 dari 3

VEHICLE SAFETY
1. Transportasi Darat

a) Pedoman Bagi Pengemudi

Ö Teliti kendaraan sebelum dihidupkan dan jaga kebersihannya.


Ö Rencanakan perjalanan anda. Gunakan peta dan beritahukan kepergian anda
kepada pihak berkepentingan.
Ö Pastikan anda dalam kondisi sehat, waspada dan kendaraan telah dilengkapi
dokumen seperti STNK dan Surat jalan.
Ö Jalankan kendaraan apabila semua penumpang sudah mengenakan sabuk
pengaman. Jika ada yang tidak patuh segera laporkan.
Ö Beristirahatlah setelah mengemudi selama 3 jam.
Ö Nyalakan lampu depan pada saat fajar dan senja hari minimal 30 menit sebelum
matahari terbenam dan 30 menit setelah fajar.
Ö Gunakan handphone dan radio panqqil hanya pada saat berhenti. Dilarang
minum, makan dan merokok pada saat mengemudi.
Ö Jalankan kendaraan pada kecepatan yang aman sesuai rambu-rambu.
Ö Jaga jarak aman antar kendaraan. Hormati penumpang, pengendara lain dan
pejalan kaki.
Ö Laporkan segera apabila terjadi kecelakaan. Beri keterangan secara rinci untuk
memudahkan penyelidikan.
Ö Membuat pernyataan “Tekad Keselamatan Mengemudi” yang ditandatangani
operator dan manajer ybs. dan disimpan oleh Unit K3.

b) Pedoman Bagi Penumpang

Ö Selalu menggunakan sabuk pengaman. Pastikan sabuk pengaman berfungsi


dan dalam keadaan baik.
Ö Letakkan barang-barang di tempat yang aman. Barang yang bertebaran dapat
menjadi benda yang membahayakan.
Ö Tepat waktu untuk menghindari pengemudi tidak berhati-hati/ tergesa-gesa.
Ö Bila merasa ragu, tanyakan ke pengemudi apakah kendaraan telah dicek.
Ö Tidak merokok selama dalam kendaraan.
Ö Ingatkan pengemudi jika menjalankan kendaraan terlalu cepat atau tidak
rnelaksanakan pedoman yang aman.
Ö Bila bepergian keluar kota, pastikan pengemudi telah membuat rencana
penjalanan termasuk istirahatnya.
Ö Siap memberikan petunjuk yang jelas bagi pengemudi.
Ö Bantu pengemudi saat akan menyeberang, mundur, parkir di tempat berbahaya
atau terbatas.

2. Tranportasi Udara

a) Pesawat

Ö Semua personil yang bepergian dengan pesawat harus menerima pengarahan


safety sebelum lepas landas.
Ö Jangan dekati pesawat sampai diberitahukan oleh crew/pegawai.
Ö Dilarang merokok didalam pesawat.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-04
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
VEHICLE SAFETY Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 3 dari 3

Ö Tidak seorang pun yang dibawah pengaruh alkohol atau obat-obatan terlarang
diijinkan masuk pesawat.
Ö Dilarang membawa cairan/gas yang mudah terbakar dan material yang dapat
meledak ke dalam pesawat.
Ö Dilarang membawa senjata kecuali yang berwenang.

b) Helikopter

Jika anda melakukan perjalanan dengan menggunakan helikopter, anda harus


mengetahui bagaimana harus berperilaku pada saat naik, turun, di dqlam helicopter
atau hal-hal yang harus dilakukan dalam keadaan darurat.

Berikut ini adalah hal-hal yang BOLEH dan TIDAK BOLEH dilakukan untuk
keselamatan selama penerbangan dengan helikopter.

Ö Jangan mendekat helikopter sebelum pilot atau awak landasan memberi tanda.
Ö Jangan mendekati helikopter dari/di sekitar ekor. Hati-hati terhadap rotor ekor.
Ö Jangan mengenakan topi pengaman (atau topi apa pun) ketika naik ke atau
turun dan helikopter. Peganglah topi tersebut jika harus memakainya.
Ö Jangan membawa benda yang lebih tinggi dan bahu anda ketika naik atau turun
helikopter. Barang-barang yang panjang harus senantiasa dibawa secara
horisontal.
Ö Jangan meniup jacket pelampung anda di dalam heli pada saat terjadi keadaan
darurat helikopter terjatuh ke dalam air.
Ö Jangan panik dalam keadaan darurat, ikuti petunjuk kapten pilot.
Ö Jangan merokok di dalam helikopter.
Ö Pasang sabuk pengaman ketika duduk di dalam helikopter.
Ö Kenakan jacket pelampung yang disediakan sebelum anda naik ke helikopter.
Ö Kenakan pelindung telinga yang disediakan ketika helikopter sedang berjalan.
Ö Dekati helikopter dan bagian depan atau pinggir

3. Transportasi Laut

Ö Kapal laut harus dilengkapi dengan radio yang mempunyai frekuensi sama
dengan frekuensi anjungan atau darat.
Ö Kapal laut harus dilengkapi dengan jaket pelampung yang mencukupi.
Ö Semua personil yang dipindahkan dengan kapal harus memakai, jaket
pelampung selama pemindahan.
Ö Hanya personil yang akan dipindahkan yang boleh berada di dek kapal.
Ö Selama kondisi berangin atau berombak dilarang melakukan pemindahan
personil.
Ö Semua personil harus mengerti dan mematuhi prosedur pemindahan personil
dengan menggunakan personil basket antara anjungan, rig, barge dan kapal.
Ö Dilarang melakukan pemindahan dan kapal ke kapal kecuali dalam keadaan
darurat.

4. Lampiran

Formulir AMKA-IK-15-04,F-01 Tekad Keselamatan Mengemudi.


TEKAD KESELAMATAN MENGEMUDI
COMMITMENT TO SAFE DRIVING

Saya yang bertanda tangan dibawah ini sebagai pemegang Surat Ijin
Mengemudi kendaraan ataupun peralatan milik perusahaan, akan selalu :
As a holder of a Driving Permit for company vehicles or equipment, I the undersigned
shall always undertake to :

Mematuhi semua peraturan lalu lintas yang berlaku


Abide by all traffic regulations

Melakukan tindakan pencegahan terhadap terjadinya kecelakaan


Drive defensively to prevent accidents

Mengendarai kendaraan sesuai batas kecepatan yang diijinkan


Abide by the allowable vehicle speed limit

Memberikan contoh yang baik dalam mengemudikan kendaraan


Demonstate role model behavior in driving

Membuat perencanaan yang baik sebelum melakukan perjalanan


Carefully plan the journey before every trip

Mengerti tentang tanggung jawab pengemudi terhadap kendaraan


perusahaan yang dikemudikan
Understand my responsibility as a driver of a company vehicle

Berlaku dan bertindak santun dalam mengemudikan kendaraan


Display appropriate courtesy to other drivers on the road

Berperan aktif dalam mempromosikan keselamatan mengemudi


Actively promote safe driving practices

Dalam hal saya melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan deklarasi ini dan
berakibat berupa pelanggaran peraturan lalu lintas ataupun kecelakaan, maka
saya bersedia menerima tindakan disiplin yang diberlakukan sesuai dengan
peraturan perusahaan yang berlaku.
I hereby declare that I will accept any disciplinary action according to company policy
and regulation, if I am involved in a traffic violation or a motor vehicle accident as a
result of disregarding the above ‘Commitment to safe driving’

Name : _________________
Operator Alat : _________________ Disaksikan oleh Pimpinan

Tanda tangan :

___________________ _____________________

F-01/AMKA-IK-15-04
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-05
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
INDUSTRIAL HYGIENE Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 2 dari 3

INDUSTRIAL HYGIENE

1. Kesehatan

x Semua karyawan harus menjaga kondisi kesehatan mereka dalam keadaan yang
baik.
x Orang yang bekerja dilapangan secara teratur (waktu yang lama) harus
melakukan tes kesehatan di instansi yang berwenang (rumah sakit, laboratorium
klinik, dan lain-lain yang ditetapkan).
x Hasil tes kesehatan harus dikeluarkan oleh instansi yang menyelenggarakan tes
kesehatan tersebut.

2. Kebersihan Personil

Setiap orang yang berada di proyek PT Amarta Karya harus memenuhi standar
kebersihan perorangan, seperti mandi secara teratur, berganti pakaian, bercukur,
mengobati luka yang ringan dan menggunakan fasilitas dengan semestinya
(kebersihan, kamar mandi, pembuangan).

3. Kebersihan Makanan

x Makanan harus dibawa di dalam tempat makanan dan tidak dicampur dengan
barang-barang lain.
x Tempat makanan harus segera dibersihkan setelah dikosongkan.
x Tempat makanan kering harus dijaga tetap kering, dingin, diberi ventilasi,
kedap/bebas dan binatang-binatang kecil, bersih dan rapi.
x Detejen, sabun, pembunuh serangga dan produk/bahan kimia harus disimpan di
tempat terpisah.
x Makanan yang mudah rusak (cepat basi) harus didinginkan pada temperatur di
bawah 5 °C (1°C - 4 °C).
x Makanan beku di atas temperatur -10° C atau mencair tidak diperbolehkan
disimpan di freezer, tetapi diprioritaskan untuk dimasak.
x Makanan beku yang masih baru harus selalu ditempatkan di bawah stock
sebelumnya, untuk memastikan pergantian stock (cadangan).

4. Pencegahan Malaria

x Semua karyawan yang bekerja pada suatu tempat yang terjangkit malaria harus
diberi penjelasan tentang malaria sebelum keberangkatannya.
x Mencegah digigit nyamuk adalah langkah pertama dalam pencegahan melawan
malaria ini mencakup tindakan-tindakan sebagal benikut :

Di dalam Ruangan:
- Jaga supaya pintu dan jendela selalu tertutup,
- Pasang screen/saringan yang rapat (misal : 16 lubang tiap luas 6 mm x 6
mm).
- Gunakan pengusir serangga seperti Allethrind, Pyrethroide, dll.

Di luar Ruangan.
- Lindungi kulit dengan pakaian/ lengan panjang.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-05
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
INDUSTRIAL HYGIENE Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 3 dari 3

- Lindungi kulit yang terbuka dengan cream penolak nyamuk.

5. Pengendalian Hama

x Keberadaan hama (binatang pengerat, serangga) di tempat kerja, tempat


penyimpanan makanan, dapur, harus segera dilaporkan.
x Pengontrolan hama harus dilakukan secara teratur.
x Jika diperlukan pembunuh serangga, perangkap binatang pengerat atau alat
control lainnya yang sejenis dapat digunakan di tempat kerja, tempat
penyimpanan makanan dan dapur.
x Didalam kasus dimana gangguan hama ada terus menerus, mungkin diperlukan
bantuan dan pihak-pihak khusus.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-06
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
MATERIAL SAFETY DATA SHEET Status / Tanggal : ASLI / COPY
(MSDS) Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 2 dari 10

MATERIAL SAFETY DATA SHEET (MSDS)

x Bahan kimia yang digunakan harus didaftar untuk memudahkan pergendalian. Gunakan
formulir daftar bahan kimia

x Penanggunjawab terhadap pengendalian bahan kimia harus ditetapkan

x MSDS harus disediakan ditempat penggunaan bahan kimia yang bersangkutan

x MSDS harus diinformasikan kepada personal yang menggunakan bahan kimia dalam
aktivitasnya.

x MSDS harus dilakukan tinjauan untuk memastikan informasinya masih


sesuai dengan perkembangan material B3

x Jika MSDS dibuat sendiri harus mencakup informasi sebagai berikut :

- Nama Bahan
- Rumus Kimia
- Sifat-sifat fisik dan Kimia
- Bahaya kebakaran / peledakan
- Daya reaksi
- Bahaya kesehatan
- Penanganan dan transportasi
- P3K

BAHAN - BAHAN KIMIA

1. NITROGEN (Zat Lemas)

Rumus : N2
Bentuk : - Gas
- Cairan (liquid)
Berat molekul : 28.02
Berat jenis cairan : 0.808
Berat jenis gas : 0.976
Titik leleh : - 209.86 °C.
Titik didih : - 195.8 °C.

Sifat-sifat Fisik dan Kimiawi

x Udara bebas terkandung ± 4/5 nitrogen.


x Tidak dapat terbakar.
x Gas yang tidak berwarna.
x Cairan yang tidak berbau.
x Gas/cairan yang tidak berbau.
x Gas/cairan yang tidak berasa.
x Larut dalam air.
x Sedikit sekali larut dalam alkohol.
x Sedikit lebih ringan dan udara.
x Memadamkan kebakaran.
x Bukan racun.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-06
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
MATERIAL SAFETY DATA SHEET Status / Tanggal : ASLI / COPY
(MSDS) Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 3 dari 10

x Affinitet (daya gabung) terhadap unsur-unsur lain sangat kecil.


x Dapat bereaksi dengan beberapa logam pada suhu yang tinggi.

Khusus cairan Nitrogen

x Cairannya tidak terbakar.


x Gas atau uapnya merupakan insert (kotoran) bagi tubuh kita, yang mana dapat
menggantikan 02 untuk pernafasan.
x Menyebabkan merasa pedas terhadap kulit atau terbakar.

Tempat/Fungsi

x Diperoleh dari hasil Proses Reforming di Ammonia Plant, sebagai bahan dasar proses
pembuatan gas Ammonia.
x Di produksi di Air-Plant dengan sistim penyulingan.
x Dipakai diseluruh Plant untuk flushing/purging dan blanketing di Vessel-Vessel yang
memerlukannya.

Bahaya-bahaya dan Pengontrolan

x Bahan ini bukan racun.


x Pada kosentrasi yang tinggi dapat menyebabkan pingsan, karena berfungsi
menggantikan 02 untuk pernafasan.
x Cairan atau gasnya yang dingin/lembab dapat menyebabkan kulit dan mata merasa
pedas dan terbakar.
x Hindarkanlah bahan-bahan ini dari bahaya kerusakan.

Pertolongan Pertama

x Si korban yang kena bahan ini, segera bawa ketempat yang aman dan berudara segar.
x Jika si korban pingsan berikan pernafasan buatan atau dengan peralatan oxygen.
x Buka semua pakaian si korban yang terkena bahan tersebut.
x Siram dengan air sebanyak mungkin jika terkena bahan tersebut.
x Segera si korban bawa ke dokter/rumah sakit yang terdekat.

2. HYDROGEN-SULFIDE

Rumus : H2S
Bentuk : Gas
Berat molekul : 34.08
Titik leleh : - 85.5 °C.
Titik didih : - 60.4 °C.
Batas peledakan diudara : 4.3% —46% (by-volume).
Suhu terbakar sendiri : 500 °F.

Sifat-sifat Fisik dan Kimiawi

x Gas yang tidak berwarna.


x Baunya tajam tidak enak (berbau seperti telur busuk).
x Sedikit larut dalam air.
x Larut dalam alkohol.
x Gas yang sangat beracun.
x Gas yang dapat terbakar.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-06
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
MATERIAL SAFETY DATA SHEET Status / Tanggal : ASLI / COPY
(MSDS) Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 4 dari 10

Tempat/Fungsi

x Kalau mungkin terdapat dalam gas alam yang kemudian dipisahkan dalam drum
belerang (desulfurization drum) dan unsur sulfur seperti H2S dan COS sebelum dijadikan
bahan proses di Reforming untuk pembentukan gas sintesa. Karena sifatnya H2S ni
adalah merupakan racun bagi semua kasilator yang dipergunakan di seluruh area
Ammonia.

Bahaya-bahaya Kesehatan dan Pengontrolannya

x Maximum yang diizinkan berada diudara atmosfir adalah 20 ppm atau 28 miligram per
cubic meter untuk bekenja selama 8 jam.
x Konsentrasi 20 ppm sampai 150 ppm dapat menyebabkan iritasi mata.
x Sedikit lebih tinggi dan konsentrasi di atas dapat mengganggu/ merusak jalan/saluran
pernafasan bagian atas.
x Tanpa perlindungan pada konsentrasi 500 ppm - 100 ppm akan menyebabkan fatal atau
kematian.
x Ventilasi diruangan tertutup/setengah tertutup adalah penting sekali untuk pencegahan
bahaya-bahaya keracunan.

Bahaya-bahaya Kebakaran dan Peledakan

x Pada 4.3% sampai dengan 46% by-volume diudara atmosfir dapat terbakar dan meledak
sendiri.
x Gas ini sangat berbahaya kena panas atau api terbuka.
x Tempat peyimpanannya hindarkan dan kerusakan-kerusakan.
x Gas ini dapat bereaksi kuat sekali dengan bahan-bahan yang dapat beroksidasi.
x Gas ini dapat terbakar.

Pertolongan Pertama

x Segera si korban bawa ke tempat yang berudara segar dan


x Berikan pernafasan buatan jika si korban pingsan. Jika perlu berikan dengan oxygen.
x Si korban harus tetap dalam keadaan nyaman dan panas.
x Segera bawa ke dokter/rumah sakit yang terdekat.

3. OXYGEN

Rumus : 02
Bentuk : - Gas
: - Cairan (liquid)
Berat Molekul : 32,0
Titik Leleh : 223,8 °C.
Titik didih : 44,8 °C.
Berat jenis gas : 1.10535
Serat jenis cairan : 1.14 (pd.-182,96 °C).
Suhu kritis : 18°C.
Tekanan Kritis : 50 kg/cm2.

Sifat-sifat Fisik dan Kimiawi


INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-06
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
MATERIAL SAFETY DATA SHEET Status / Tanggal : ASLI / COPY
(MSDS) Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 5 dari 10

x Bebas di udara ± 20%


x Sedikit terdapat dalam air sebagai larutan.
x Gas tidak berwarna.
x Gas atau cairan yang tidak berbau.
x Gas atau cairan yang tidak berasa.
x Sedikit larutan dalam air.
x Larutan dalam silver-cair. Tidak terbakar, tetapi perlu untuk menyelenggarakan
pembakaran.
x Dapat bereaksi dengan hampir semua unsur-unsur kecuali dengan gas mulia.
x Cairan berwarna biru tua dan mempunyal sifat-sifat magnet.
x Bercampur dengan bahan-bahan yang dapat terbakar, dapat menyebabkan kebakaran.

Tempat/Fungsi

x Diperoleh dan udara bebas yang dikompresikan dengan multi-service compressor untuk
bahan proses Reforming II, guna memperoleh penyediaan Nitrogen N2 dalam
pembuatan gas sintesa cli Ammonia Plant.
x Dibentuk juga di “Air-Plant” dergan diadakan penyulingan.

Pemakaian umum

x Dipakai dalam bidang Kedokteran untuk melancarkan pernapasan dalam pembedahan.


x Dipakai dalam penerbangan tinggi dan penerbangan luar angkasa untuk pernafasan.
x Dipakai di bidang Keselamatan Kerja.
x Dipakai dalam pekerjaan memotong/mengelas besi dan dicampur dengan Accetylene
(CH2) karena nyala api dengan suhu yang tinggi ± 3500 °C.
x Dipakai untuk membuat gas letus dengan dicampur H2.

Khusus untuk Oxygen cair

x Cairannya tidak terbakar.


x Cairannya dapat meledak kalau kena/bercampur dengan bahan-bahan yang dapat
beroksidasi, terutama pada suhu yang tinggi.

Kebocoran dan Tumpahan

x Tutup sumber kebocoran tersebut dengan alat memakai alat keselamatan.


x Memperbaiki kebocoran bahan tersebut kita harus tetap berada diatas/pangkal angin.
x Bersihkanlah areal kebocoran tersebut dan orang-orang yang tidak berkepentingan.
x Bersihkanlah areal kebocoran/tumpahan dengan air sebanyak mungkin.
x Dilarang merokok/membuat api.
x Tidak diperbolehkan membuat kembang api atau api terbuka sebelum diperiksa oleh
yang bersangkutan.
x Tidak diperbolehkan menggelindingkan barang-barang yang terbuat dari besi di areal
tersebut.
x Tidak diperbolehkan orang-orang lain memasuki areal tersebut sebelum dinyatakan
aman oleh pihak yang berwenang.

Bahaya-bahaya Kebakaran dan Peledakan


INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-06
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
MATERIAL SAFETY DATA SHEET Status / Tanggal : ASLI / COPY
(MSDS) Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 6 dari 10

x Cairan oxygen dapat menimbulkan ledakan kalau kena bahan-bahan yang dapat
beroksidasi, terutama pada suhu yang tinggi.
x Hindarkanlah oxygen cair itu dan unsur/bahan-bahan kimia yang dapat beroksidasi.
x Tidak diperbolehkan menempakan bahan tersebut di tempat yang bersuhu tinggi.

Kebakaran

x Stop/hentikan dengan segera aliran gas/cairan tersebut.


x Pergunakanlah air atau tabung racun api yang tersedia.
x Lindungilah/dinginkan wadah (tangki) atau sejenisnya yang terbakar tersebut dengan air
guna pencegahan bahaya-bahaya yang lebih besar.
x Segera panggil/hubungi petugas kebakaran dan keselamatan kerja untuk
pemadamannya.

Bahaya-bahaya Keselamatan

x Cairan ataupun uapnya dapat merusak/membakar kulit atau mata.


x Terhisap/tersedot dengan ukuran yang pekat dapat merusak jalannya pernafasan dan
jaringan-jaringan tubuh lainnya.
x Gas bukan racun.

4. KARBON MONOXIDE

x Rurnus : Co.
x Bentuk : Gas
x Berar Molukel : 28.01
x Berat Jenis : 0.96716
x Titik Didih : - 30. derajat F
x Suhu terbakar sendiri : 120.4 derajat Celcius
x Batas-batas peledakan : 125% - 74.2% (by-volume)

Sifat-Sifat Fisik dan Kimiawi

x Gas yang tidak berwarna


x Gas tidak berbau
x Gas yang tidak berasa apa-apa
x Hampir sama berat dengan udara
x Sangat beracun
x Dapat bereaksi kuat sekali dengan bahan-bahan yang dapat beroksidasi.
x Tidak larut dalam air.

Tempat/Fungsi

Diperoleh dan proses pembuatan gas sintesa yang terbentuk pada proses Reforming I dan II
di Ammonia Plant.

Bahaya-bahaya Kebakaran/Peledakan

x Campuran-campuran udara dengan range - O 12.5% - 74.2% (by volume) akan


menyebabkan terbakar/meledak.
x Kebakaran akan menjadi lebih besar dengan banyaknya oxygen yang tercampur.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-06
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
MATERIAL SAFETY DATA SHEET Status / Tanggal : ASLI / COPY
(MSDS) Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 7 dari 10

x Dapat bereaksi kuat sekali dengan bahan-bahan yang dapat teroksidasi.

Bahaya-bahaya Kesehatan

x Efek-efek fisik dan bahan ini terutama dalam pernafasan sangat berbahaya sekali
karena ia merupakan racun yang keras sekali.
x Tanda-tanda/gejala-gejala dan yang terkena bahan ini pada konsentrasi yang masih
rendah, pertama kepala merasa sakit dan pusing-pusing.
x Terhisap/tersedot pada konsentrasi yang agak tinggi Si korban merasa mual dan
kemudian diikuti dengan muntah-muntah.
x Pada jumlah/konsentrasi yang terlalu tinggi akan menyebabkan pingsan dan kematian.

Pertolongan Pertama

x Seseorang yang mendapat keracunan CO, segera dibawa ke suatu tempat yang
berudara segar.
x Suruh ia berbaring dan segera berikan pertolongan pertama menurut prosedur.
x Jika si korban pingsan berikan pernafasan buatan.
x Si korban harus tetap dalam keadaan panas dan berikan oxygen.
x Segera bawa ke dokter/rumah sakit.

5. AMMONIA (ANHYDROUS) NH2

Nama Lain

x Liquid ammonia

Sifat Umum

x Gas atau cairan yang tidak berwarna dengan bau yang sangat menyengat (sangat tajam
sekali).
x Titik didih - 33,40 C.
x Titik beku - 77,70 C.

Bahaya Kebakaran dan Peledakan

x Gas yang mudah terbakar (merambat secara horizontal dengan batas mudah terbakar
15% - 28%).
x Kehadirannya didalam minyak atau bahan mudah terbakar lainnya akan meningkatkan
bahaya kebakaran.
x Dapat terbakar sendiri pada suhu 650° C.
x Gas ammonia lebih ringan dan pada udara.

Bahaya terhadap Manusia

x Nilai ambang batas TWA 25 ppm dan nilai ambang batas STEL 35 ppm.
x Menyebabkan bermacam-macam tingkat iritasi pada mata, kulit atau selaput lendir.
x Bahan beracun dan dapat menyebabkan gangguan yang hebat pada saluran
pernapasan dan berakhir dengan kematian.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-06
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
MATERIAL SAFETY DATA SHEET Status / Tanggal : ASLI / COPY
(MSDS) Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 8 dari 10

x Bila terkena cairan ammonia anhydrous akan mengalami luka bakar yang hebat.

Pertolongan Pertama

x Bila cairan ammonia mengenai mata, segera dibilas dengan air yang banyak, usahakan
mata tetap terbuka. Mintalah segera pertolongan dokter.
x Bila cairan ammonia mengenai kulit, segera dicuci dengan air minum selama 10 menit.
Mintalah segera pertolongan dokter. Pakaian yang terkena cairan ini harus dicuci terlebih
dahulu sebelum dipakai lagi.
x Bila terhirup, pindahkan Si korban ke udara segar. Jaga agar tubuh tetap hangat. Apa
bila ada gangguan pernafasan berikan oksigen. Apabila tidak bernafas sama sekali,
lakukan pernafasan buatan. Mintalah segera pertolongan dokter.

Alat Pelindung Diri

x Bila ammonia berbentuk gas, pakailah alat bantu pernafasan (breathing apparatus)
x Bila dalam bentuk cairan, pakailah pakaian pelindung lengkap, kacamata khusus untuk
bahan kima, sarung tangan karet, sepatu karet, selt contained breathing apparatus.

Tahap Pemadam Kebakaran

x Hentikan aliran gas tersebut.


x Gunakan air untuk menjaga meluasnya api serta untuk mendinginkan bejanannya juga
untuk melinidungi petugas yang menutup aliran gas tersebut.
x Padamkan kebakaran dengan rnenggunakan semprotan air, carbon dioxide atau halon.
x Petugas pemadam kebakaran harus memakai pakaian pelindung lengkap dan breathing
apparatus.
x Tahap Penanggulangan Tumpahan/Bocoran.
x Hindari kontak dengan cairan yang akan menguap dengan cepat.
x Bendung tumpahan tersebut dengan menggunakan tanah atau pasir.
x Orang-orang yang tidak berkepentingan agar menjauhi tumpahan.
x Apabila terjadi tumpahan dalam jumlah besar, pertimbangkan kemungkinan untuk
mengungsikan orang-orang yang berada dibawah angin.

Penyimpanan dan Handling

x Lindungi terhadap kerusakan phisik dan kontainer harus selalu tertutup rapat
x Simpanlah di tempat yang ventilasinya baik dan daerah yang bebas dan sumber
penyalaan sendiri, terpisah dan bahan-bahan kimia lain, khususnya gas-gas oksidasi,
Clorine, Bromine, Iodine dan asam.
x Bahan-bahan yang cocok untuk keperluan penyimpanan dan handling adalah mildsteel,
stainless steel, neoprene and polyethylene. Sedangkan bahan-bahan yang tidak boleh
digunakan untuk keperluan penyimpanan dan handling adalah capper and its alloys,
almunium and its alloys, bahan-bahan yang permukaannya digalvanised, phenolic atau
polyester resins, PVC.
x Tempat penyimpanan bahan kimia ini harus dilengkapi dengan safety shower dan eye
washer.

Reaksi
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-06
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
MATERIAL SAFETY DATA SHEET Status / Tanggal : ASLI / COPY
(MSDS) Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 9 dari 10

x Bereaksi hebat dengan bahan-bahan oksidasi, asam, acetaldehyde, acrotein, ethylene


oxide, mercury, halogens, aldehydes, ketones.
x Bereaksi dengan alcohols, glycols, esters, halocarbons.
x Larut dengan cepat dalam air tawar dan air asin dengan mengeluarkan panas.
x Tidak bereaksi hebat dengan alkalis, udara.

6. CARBON DIOXIDE

Rumus : CO2
Bentuk : - Gas
- Cairan
- Padat (dry-ice seperti white-snow)
Berat Molekul : 44.01
Titik leleh : - 56.6 derajat c
Titik Didih : : - 78.5 derajat c
Suhu Kritis : 31.35 derajat c.

Sifat-sifat Fisik dan Kimiawi

x Gas yang tdak berwarna.


x Gas tidak berbau.
x Larut dalam air.
x Tidak dapat terbakar.
x Corrosive.
x Salju CO2 akan merusak kulit/terbakar.

Tempat/Fungsi

x Diperoleh dan gas proses yang dibentuk di Reforming I dan II diserap/dipisahkan dan
gas proses dengan larutan Monoethanol - Ammonia (Mea) di Absorber I dan II dan
langsung dipisahkan pada Amine Regenerator di Ammonia Plant.
x Dipergunakan sebagai bahan dasar untuk proses pembuatan Urea di Urea Synthesis.

Bahaya-bahaya Kesehatan

x Dalam keadan biasa tidak berbahaya terhadap kesehatan.


x Maksimum yang diizinkan di udara atmosfir adalah 5.000 ppm.
x Bila berada pada konsentrasi lebih tinggi 5.000 ppm di udara atmosfir, itu berarti
kekurangan 02 untuk pernafasan, hingga akan timbul gejala-gejala pusing sesak,
gelisah, lemas dsbnya.
x Salju CO2 diatas 25% akan menyebabkan kematian.

Pertolongan Pertama

x Jika seseorang terkena dari bahan ini segera dibawa ketempat yang berudara segar.
x Bila si korban pingsan berikan pernafasan buatan secepatnya dan berikan oxigen bila
perlu segera si korban dibawa ke dokter/rumah sakit yang terdekat.

Penyimpangan dan Pengendalian

x CO2 yang berbentuk cairan atau gas yang bertekanan harus disimpan di tempat yang
dingin.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-06
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
MATERIAL SAFETY DATA SHEET Status / Tanggal : ASLI / COPY
(MSDS) Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 10 dari 10

x Cylinder-cylindernya tidak diperbolehkan dijatuhkan.


x Orang-orang yang mengendalikan CO 2 cair atau yang berbentuk padat harus memakai
alat Keselamatan Kerja.
x Tidak diperbolehkan disimpan di tempat yang bersuhu tinggi.

LAMPIRAN :

- Formulir AMKA-IK-15-06,F-01 Daftar Bahan Kimia


- Contoh Lembar MSDS
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-07
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
ANCAMAN BOM Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 2 dari 3

ANCAMAN BOM
Berikut ini adalah langkah-langkah yang harus dilakukan dan diperhatikan oleh OPERATOR
TELEPON / TIM TANGGAP DARURAT / KARYAWAN / PENGUNJUNG apabila menerima
Ancaman Bom;

KETIKA MENERIMA SEBUAH ANCAMAN

- Anggaplah serius bom tersebut.


- Setelah menerima ancaman maka gunakan Check List dibawah ini dan segera laporkan
ke Security/

Jawaban atas Pertanyaan Suara Ancaman


(diisi) (beri tanda V)
# Dimana Anda meletakan bom ? ………. # Pria …….
# Kapan akan meledakan ? ………. # Wanita …….
# Bentuknya seperti apa ? ………. # Diucapkan dgn baik …….
# Apa jenisnya ? ………. # Kasar …….
# Mengapa anda melakukan ini ? ………. # Tidak jelas …….
# Siapa aanda ? Gerakan apa ? ………. # Tidak rasional (mabuk) …….
# Dimana anda ? ………. …….

Logat/Dialek
Bahasa Asing (beri tanda V) Bahasa Daerah (beri tanda V)
# Inggris ………. # Jawa ……….
# Jerman ………. # Sunda ……….
# Cina ………. # Batak ……….
# Malaysia ………. # Padang ……….
# Arab ………. # Madura ……….
# Eropa Timur ………. # Bugis ……….
# Jepang ………. # Ambon ……….
# Lain-lain (tulis) ………. # Lain-lain (tulis) ……….
Suara Latar Belakang (beri tanda V)
# Hening / sepi ………. # Kereta Api ……….
# Musik ………. # Pesawat Udara ……….
# Suara manusia ………. # Mesin ……….
# Kantor ………. # Anak-anak ……….
# Lalu Lintas ………. # Suara Binatang ……….
# Ombak Air Laut ………. # Lain-lain (tulis) ……….
# Keramaian / Pasar ……….
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-07
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
ANCAMAN BOM Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 3 dari 3

Tindakan Orang yang Menghimpun


Daftar Periksa (diisi)
Jangan menutup telepon ………. Jam : ………. Tgl. : ……….
Biarkan jalur tetap terbuka dan laporkan No. yang dapat dihubungi : ……….
segera kepada : Nama Penerima : ……….
Nama : ………. Pekerjaan : ……….
Lokasi : ………. Lokasi : ……….
No. Telepon : ……….
Apakah kira-kira si penelpon mengerti/familiar dengan kondisi kantor ?
(kalau jawaban anda “ya” coba jelaskan) :

KETIKA MENEMUKAN BENDA YANG MENCURIGAKAN :

- Jangan menyentuh benda yang mencurigakan atau disinyalir sebagai bom.


- Kosongkan daerah sekelilingnya.
- Laporkan kepada atasan anda.
PT AMARTA KARYA

FORM ANCAMAN BOM

Jawaban atas Pertanyaan (diisi) Suara Ancaman (beri tanda V)

# Dimana Anda meletakan bom ? ………. # Pria ……………..


# Kapan akan meledak ? ………. # Wanita ……………..
# Bentuknya seperti apa ? ………. # Diucapkan dgn baik …….…….…
# Apa jenisnya ? ………. # Kasar ….…….…….
# Mengapa anda melakukan ini ? ………. # Tidak jelas ………….......
# Siapa anda ? Gerakan apa ? ………. # Tidak rasional (mabuk)
# Dimana anda ? ……….

Logat/Dialek

Bahasa Asing (beri tanda V) Bahasa Daerah (beri tanda V)

# Inggris …………… # Jawa ……….……….


# Jerman ………..... # Sunda ……….….…….
# Cina …….….… # Batak ……….……….
# Malaysia …….…… # Padang ………..………
# Arab ….………. # Madura ……………..….
# Eropa Timur ……….… # Bugis
# Jepang ….….…… # Ambon
# Lain-lain (tulis) …………… # Lain-lain (tulis)
.

Suara Latar Belakang (beri tanda V)

# Hening / sepi …..….……. # Kereta Api …….….……….


# Musik …………… # Pesawat Udara ……….……….
# Suara manusia ……..……. # Mesin ………………..
# Kantor ….….……. # Anak-anak ….…………….
# Lalu Lintas ……..….… # Suara Binatang
# Ombak Air Laut …………… # Lain-lain (tulis)
# Keramaian / Pasar .

Tindakan Orang yang Menghimpun Daftar Periksa


(diisi)
Jangan menutup telepon ………. Jam : ………. Tgl. : ……….
Biarkan jalur tetap terbuka dan laporkan segera No. yang dapat dihubungi : ……….
kepada : Nama Penerima : ……….
Nama : …………………………….. Pekerjaan : ………..…….
Lokasi : ……………………………. Lokasi : ……………….….
No. Telepon : ……………….……..
Apakah kira-kira si penelpon mengerti/familiar dengan kondisi kantor ?
(kalau jawaban anda “ya” coba jelaskan) :

AMKA-IK-15-07, F-01
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-08
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
GEMPA BUMI Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 2 dari 3

GEMPA BUMI
Saat Gempa Berlangsung

Jika posisi anda sangat memungkinkan untuk dapat dengan cepat keluar dari gedung, maka
lakukan :
1. Segera keluar dan gedung dengan cara berjalan cepat mengikuti jalur evakuasi (Jangan
berlari !)
2. Selama menuju luar gedung harus tetap waspada/berhati-hati, jangan sampai anda
justru menabrak sesuatu atau tertimpa sesuatu barang.
3. Berkumpul pada Titik Kumpul.

Namun, Jika posisi anda cukup jauh untuk keluar gedung untuk menuju titik kumpul, maka
sebaiknya tetap di dalam gedung dan mengambil langkah-langkah sebagai berikut :
1. Berlindunglah di bawah meja dan berpegangan kuat-kuat ! Lindungi KEPALA, LEHER &
MATA.
2. Jangari berdiri di bawah rangka pintu.
3. Di gang-gang/lorong, jongkoklah ke tanah dengan punggung merapat ke dinding.
Lingkari kepala dengan tangan silang menjepit menutup leher.
4. Hindari partisi kaca, jendela, filling cabinet, rak gantung, kabel listrik dan peralatan
kantor yang dapat menindih anda.
5. Guncagan dapat terjadi beberapa menit atau lebih. Pada lantai yang tinggi akan
bergoyang mengakibatkan pusing/mabuk.

Setelah Gejala Gempa Berhenti

1. Pada qempa yang besar, goncangannya dapat menghidupkan alarm dan air bocor dan
sprinkler. Alat penerangan dan AC dapat jatuh tetapi masih menggantung. Lampu di
kantor mati, kaca jendela pecah dan perabot kantor dapat roboh menimpa anda.
2. Ingat, adalah lebih aman tetap berada di dalam kantor dari pada ingin cepat-cepat
keluar, karena anda berisiko tertimpa benda-benda.
3. Tetaplah di lantai anda berada, beritahu petugas Tim Tangap Darurat (TTD) dengar
fasilitas telepon atau teriak bila ada orang yang terluka, terjadi kebakaran, asap atau
sesuatu yang berbahaya.
4. Bantulah regu TTD untuk mengatasi tiap kemungkinan yang membahayakan setelah
çoncangan berhenti dan buatlah tempat pertolongan medis. Pakailah Handy Talky/Hand
Phone untuk berkomunikasi.
5. Hindari genangan air, DAPAT BERMUATAN LISTRIK !
6. JANGAN MEMAKAI PEMANTIK API ATAU MEROKOK !
7. Jangan memperparah suasana karena sembrono atau bersikap semaunya yang dapat
mengakibatkan jatuhnya korban.

EVAKUASI GEMPA

LANGKAH-LANGKAH YANG HARUS DILAKUKAN DI DALAM GEDUNG

1. Pasca gempa, Semua personil yang ada di dalam gedung berjalan menuju ke Titik
Kumpul mengikuti jalur-jalur Evakuasi.

LANGKAH-LANGKAH YANG HARUS DILAKUKAN DI LUAR GEDUNG

1. Jauhi gedung dan area yang mudah terkena reruntuhan atau kawat/sengatan listrik.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-08
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
GEMPA BUMI Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 3 dari 3

2. Hindari genangan air karena dapat bermuatan listrik.


3. Menuju Titik Kumpul
SELANJUTNYA :

1. Bantulah Tim Tanggap Darurat untuk mengurangi tiap kemungkinan yang


membahayakan setelah goncangan berhenti
2. Jika diperlukan, membuat tenda perlindungan untuk tempat pertolongan medis atau
tempat perlindungan sementara, jika masih dimungkinkan terdapat gempa susulan.
Kekuatan gempa susulan biasanya lebih kecil dan gempa pertama.
3. Pakailah Handy Talky/Hand Phone untuk berkomunikasi.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-09
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
KEBAKARAN Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 2 dari 3

KEBAKARAN

Kebakaran dapat diketahui dari :

x Visual/langsung
x Sirine/Alarm dan peralatan/daerah yang mengalami kebakaran
x Teriakan karyawan/pengunjung yang mengetahui adanya kebakaran

Jika terjadi keadaan darurat kebakaran,

1). Personil-personil yang pertama mengetahui harus:

x Berteriak “Kebakaran”.
x Jika mampu, menggunakan APAR terdekat untuk memadamkan api, sebelum
TTD (tim APAR) datang.
x Jika tidak mampu menggunakan APAR, harus segera memberitahukan ke TTD
(tim APAR) atau Satpam, termasuk menjelaskan lokasi tempat kejadian.
x Segera meninggalkan area yang terbakar, jika api tidak bisa dipadamkan.

2). Tim Tanggap Darurat (TTD) harus segera bertindak:

x Tim APAR segera melakukan pemadaman api, setelah mendapat laporan


kebakaran.
x Jika api semakin membesar/meluas, ketua TTD memutuskan meminta bantuan
pihak luar (Dinas Pemadam Kebakaran), dan memerintahkan tim evakuasi untuk
mengkoordinir proses evakuasi.
x Tim evakuasi harus segera mengarahkan dan memimpin semua personil untuk
proses evakuasi menuju Titik Kumpul dan penyelamatan dokumen dan arsip
penting.
x Tim keamanan/Satpam melakukan penutupan/isolasi lingkungan instansi dan
orang-orang yang tidak berkepentingan/orang lain yang tidak ada kaitannya
dengan penanggulangan kebakaran.
Tim keamanan/satpam memandu aparat keamanan/polisi dan Dinas Pemadam
Kebakaran beserta peralatannya yang akan membantu penanggulangan
kebakaran dan pengamanan lokasi.
x Tim Keamanan/Satpam melokalisir/mengisolasi peralatan yang terbakar/rusak
dan kemungkinan bahaya arus listrik atau ledakkan.

3). Semua Personil harus mengikuti petunjuk-petunjuk dan tim evakuasi :

x Menuju tangga darurat terdekat, jika di lantai atas untuk bangunan bertingkat.
x Dilarang menggunakan lift, jika ada lift.
x Berjalan cepat, tidak boleh lari.
x Menuju tempat berkumpul sementara (Titik Kumpul).
x Jangan kembali untuk mengambil barang-barang anda yang tertinggal.
x Tunqgu petunjuk lebih lanjut

4). Apabila usaha penanggulangan sudah selesai, maka TTD dan pihak terkait :
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-09
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
KEBAKARAN Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 3 dari 3

x Menormalkan kembali pengoperasian unit/peralatan lainnya.


x Mengamankan/melokalisir unit/peralatan yang mengalami kebakaran.
x inventarisasi peralatan yang rusak dan atau personil yang mengalami musibah
(luka atau meninggal), serta APAR yang digunakan/rusak.
x Pembersihan sampah/kotoran akibat kebakaran dan merapikan kembali situasi
lingkungan kerja.
x Penempatan dan kesiapan kembali APAR dalam kondisi siap pakai.
x Melaksanakan pelaporan peristiwa kebakaran ke pihak Jamsostek, guna
keperluan asuransi.

5). Setelah selesai penanganan keadaan darurat kebakaran harus dibuatkan Laporan
kebakaran.

Lampiran:

Formulir F-01/AMKA-IK-15-09, Laporan Kebakaran.


INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-10-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
PENGELASAN Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 2 dari 2

PENGELASAN

1. Periksa air, bahan bakar, Battery accu sebelum menghidupkan mesin.

2. Periksa sambungan elektroda dengan kabel sudah diisolasi dan aman.

3. Periksa kondisi kabel dan sambungan-sambungan.

4. Pastikan area kerja bersih, bebas minyak/oli dan material mudah terbakar.

5. Pengelasan hanya boleh dilakukan oleh operator las kompeten.

6. Selama pengelasan, welder harus didampingi oleh helper untuk mengawasi situasi.

7. Welder harus dilengkapi dengan alat pelindung diri yang layak.

8. Logam terkena minyak atau pipa saluran bahan kimia tidak boleh digunakan untuk
grounding.

9. Gunakan ventilasi dan blower jika pengelasan dilakukan dalam ruangan tertutup.

10. Matikan mesin jika pengelasan dihentikan untuk sementara waktu.

11. Pastikan APAR tersedia di tempat kerja pengelasan.

12. Kembalikan semua peralatan ke gudang atau tempat penyimpanan dan bersihkan
area kerja setelah selesai bekerja.

Catatan :

Dilarang mengelas di area penyimpanan bahan bakar / oli… !!!


INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-11
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
INSTRUKSI KERJA BASIC SAFETY Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 2 dari 18

PENANGANAN BAHAYA

Setiap karyawan bertanggung jawab untuk memastikan bahwa tindakannya dan kondisi
tempat kerja selama melakukan pekerjaan selalu aman. Bila menemukan praktek dan
kondisi berbahaya, adalah merupakan tanggung jawab setiap karyawan untuk
menanggulanginya dengan berpedoman pada petunjuk-petunjuk berikut ini :

1. Apabila menemukan suatu praktek atau kondisi berbahaya di tempat kerja, segera
laporkan kepada atasan anda langsung atau kepada Petugas K3.
2. Apabila kondisi atau praktek berbahaya tersebut nyata-nyata dapat mengganggu atau
bahkan mencelakakan kehidupan atau bisa menyebabkan cidera, seperti adanya gas
atau hydrocarbon yang muncul selama berlangsungnya suatu pekerjaan khusus
(misalnya pengelasan), atau pada saat menggerinda tanpa menggunakan pelindung
mata, bekerja pada ketinggian tertentu yang tidak menggunakan sabuk pengaman
atau perancah yang sesuai, anda harus memberhentikan pekerjaan tersebut dan
melaporkannya kepada atasan langsung atau kepada Petugas K3.
3. Atasan langsung bertanggung jawab untuk menindak lanjuti setiap keadaan atau
praktek berbahaya yang dilaporkan oleh bawahannya.
4. Adakan konsultasi untuk menindak lanjuti keadaan berbahaya tersebut kepada
petugas K3, selanjutnya petugas K3 dengan berkonsultasi dengan manajemen den
memastikan tindakan yang sesuai telah diambil.
5. Semua laporan tentang kondisi-kondisi berbahaya harus disimpan sebagai bahan
dokumentasi.

TANGGAP BAHAYA KEBAKARAN DAN KEWASPADAAN


MENGHADAPI KEADAAN DARURAT

Mencegah suatu kejadian adalah lebih baik dari pada membatasi dan mengendalikan suatu
peristiwa apapun bentuknya. Sebelum suatu peristiwa kebakaran terjadi, maka usaha-usaha
pencegahan harus dilakukan dan hal ini dapat dilaksanakan dengan cara :

x Mengadakan inspeksi pada daerah-daerah yang dianggap potensial terhadap bahaya


kebakaran secara teratur dan berkelanjutan.
x Mengadakan inspeksi dan pemeliharaan terhadap alat pemadam kebakaran yang
tersedia.
x Mengadakan pelatihan pemadaman kebakaran secara berkala.
x Melakukanhousekeeping dengan baik dan benar.
x Membuat sistim kerja yang aman.
x Mengenali petunjuk dan mengikuti prosedur-prosedur bila terjadi kebakaran.

Ikutilah petunjuk-petunjuk mengenai cara melaporkan kebakaran seperti yang telah


dipasang pada tiap papan pengumuman. Jika ada kebakaran, usahakanlah agar semua
karyawan selamat, kemudian pergunakanlah alat-alat pemadam kebakaran yang tersedia
sampai datangnya pertolongan.
1. Bila anda pernah menjadi seorang sukarelawan pemadam kebakaran atau
mempunyai pengalaman dalam memadamkan api, beritahukanlah kepada petugas
keselamatan anda. Mungkin anda diajak untuk menggabungkan diri dengan Pasukan
Pemadam Kebakaran dan Perusahaan.
2. Ketahui benar-benar letak semua alat pemadam api.
3. Jangan bermain-main dengan alat pemadam api dan bila ketahuan bermain-main
dengan alat pemadam api tersebut anda dapat dikenakan sanksi sesuai dengan
Peraturan Perusahaan yang berlaku.
4. Ketahuilah penggolongan kebakaran seperti tersebut di bawah ini :
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-11
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
INSTRUKSI KERJA BASIC SAFETY Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 3 dari 18

x Kelas A : Kebakaran yang terjadi karena bahan-bahan biasa seperti kayu, kertas
atau kain-kain yang pemadamannya adalah dengan cara membasahi atau
mendinginkan.
x Kelas B:Kebakaran yang terjadi berasal dari minyak atau cairan-cairan lain yang
mudah terbakar, yang pemadamannya adalah dengan cara menghilangkan
oxygen.
x Kelas C: Kebakaran yang terjadi karena alat-alat yang beraliran listrik. Dan
penggunaan air untuk jenis kebakaran ini sangat berbahaya. Oleh karena itu
maka sarana pemadaman yang sebaiknya digunakan adalah jenis carbon dioxide.
5. Jagalah agar tempat pekerjaan selalu rapi. Tempat kerja yang tertib dan rapi akan
mengurangi bahaya terhadap api dan kecelakaan.
6. Bila terdapat kemungkinan besar akan bahaya kebakaran, sediakanlah alat pemadam
api secukupnya.
7. Jika harus melakukan pengelasan atau membakar di dekat bahan yang mudah
terbakar, pindahkan bahan-bahan tersebut, tutupilah dengan kain tahan api atau
basahilah dengan air. Bila ragu-ragu rundingkanlah dengan atasan yang
bersangkutan.
8. Cairan-cairan yang mudah terbakar atau menyala harus disimpan dalam kaleng-
kaleng pengaman yang telah disetujui dengan diberi tanda-tanda sebagaimana
seharusnya.
9. Taruhlah sobekan-sobekan kain yang berminyak di dalam tong logam tertutup yang
telah disetujui.
10. Jangan sekali-kali mencoba melakukan pekerjaan yang berupa sumber percikan api
di dekat lobang besar, selokan, lobang masuk orang, parit atau ruangan tertutup
dimana mungkin terdapat gas yang mudah menyala. Tunggulah sampai selesai
pengujian yang dilakukan dengan menggunakan alat petunjuk gas (gas detector) oleh
bagian yang berwenang dan tempat kerja tersebut telah dinyatakan aman untuk
pekerjaan yang menggunakan panas.
11. Pemakaian api terbuka tidak diperbolehkan, kecuali jika secara khusus telah diberi ijin
oleh atasan yang bertanggung jawab.
Dalam keadaan darurat semua karyawan harus mengikuti petunjuk-petunjuk sesuai IK
Kebakaran.

TINDAKAN DISIPLIN

Adalah merupakan ketentuan dan Perusahaan untuk melakukan tindakan disiplin. Apabila
peraturan dan prosedur bekerja dengan aman yang telah dikeluarkan oleh perusahaan tidak
diindahkan dan tidak diikuti oleh setiap karyawan, maka karyawan yang melakukan
pelanggaran akan mendapat tindakan disiplin.
Hal ini bertujuan untuk mengembangkan dan menjaga perilaku dalam bekeja sedemikian
rupa, sehingga setiap orang akan mengikuti instruksi dan atasan mereka dengan senang
hati dan membuat mereka bisa beradaptasi dengan panduan yang dibuat oleh manajemen
guna menciptakan situasi kerja yang aman, dimana setiap karyawan dapat melakukan
pekerjaannya dengan aman.

ALAT PELINDUNG DIRI PERORANGAN


(PERSONAL PROTECTIVE EQUIPMENT)

Adalah kewajiban bagi setiap karyawan untuk selalu menggunkan alat pelindung
diriperorangan dimana daerah itu merupakan keharusan untuk menggunakannya.Banyak
karyawan yang mendapat cidera langsung akibat suatu benturan yang berakibat kecelakaan
yang seharusnya hal itu tidak perlu terjadi.
Alat pelindung diri perorangan bukan merupakan suatu alat yang dapat mencegah terjadinya
suatu kecelakaan akan tetapi dia berfungsi untuk mengurangi tingkat keparahan apabila
terjadi suatu kecelakaan”.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-11
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
INSTRUKSI KERJA BASIC SAFETY Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 4 dari 18

Berikut ini beberapa petunjuk tentang berbagai alat pelindung diri perorangan :
Pelindung Kepala (Hard Hat)
x Semua karyawan harus menqgunakan topi keselamatan apabila bekerja di daerah
konstruksi dimana bahaya dan atas mungkin terjadi termasuk atasan lapangan.
x Topi jenis lain, selain topi keselamatan tidak diperbolehkan dipakai dikawasan operasi
dan konstruksi.

Pelindung Kaki
Setiap karyawan harus memakai sepatu keselamatan dengan pelindung besi pada bagian
ujung ketika berada di daerah konstruksi.

Pelindung Telinga
Pelindung telinga harus selalu dipergunakan apabila berada di tempat kerja yang telah
ditetapkan sebagai daerah dimana tingkat kebisingannya melampaui nilai ambang atas yang
telah diijinkan, atau di dalam kegiatan operasi dimana memungkinkan terjadinya gangguan
pada pendengaran.

Pelindung Mata
Pelindung mata yang dirancang khusus untuk suatu pekerjaan tertentu harus digunakan
apabila mengerjakan hal-hal berikut ini :
x Kacamata dengan pengaman samping harus selalu dipakai oleh karyawan yang kecil
dapat menyebabkan cidera, khususnya pada bagian mata.
x Kacamata khusus harus dipergunakan oleh pekerja yang melakukan pengelasan,
bekerja dalam terik matahari dan lain-lainnya.

Pelindung Tangan
Semua karyawan harus memakai sarung tangan yang sesuai dengan pekerjaannya
bilamana pekerjaan yang dilakukan memungkinkan cidera pada tangan.

Sabuk Pengaman
x Sabuk pengaman harus digunakan apabila diperkirakan dalam melaksanakan pekerjaan
ada kemungkinan jatuh.
x Setiap karyawan yang bekerja pada ketinggian melebihi 6 feet harus memakai sabuk
pengaman dan sabuk pengaman tersebut harus benar-benar diikatkan pada karyawan
yang bersangkutan serta diyakinkan bahwa kondisi sabuk pengaman tersebut dalam
keadaan baik.
x Setiap menggunakan sabuk pengaman pada ketinggian tertentu, sabuk pengaman
tersebut harus diikatkan ke peralatan atau kerangka/struktur.

CARA MENANGANI BARANG

Semua barang-barang harus disusun dengan baik dan diatur sedemikian rupa agar tidak
merosot atau jatuh.

Gang-gang, tangga-tangga dan jalanan-jalanan harus dijaga agar selalu bersih supaya
karyawan dan alat-alat dapat bergerak dengan aman dan dapat digunakan bagi jalan
keluar/masuk dalam keadaan darurat.

Pengangkatan Barang Dengan Tangan

Pengangkat barang dengan tangan merupakan pekerjaan sehari-hari.


INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-11
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
INSTRUKSI KERJA BASIC SAFETY Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 5 dari 18

Akan tetapi apabila melakukan pengangkatan tanpa perhitungan atau dilakukan dengan
cara yang salah akan menimbulkan cidera otot, penyakit tulang punggung dan hernia.

Untuk menghindari terjadinya cidera tersebut, berikut disampaikan bagaimana cara


mengangkat barang dengan benar :

x Renggangkan kaki, yang satu lebih dekat kepada benda yang akan diangkat, dan kaki
lainnya berada di belakang benda itu.
x Lakukan posisi jongkok dengan tulang belakang lurus, namun bukan vertical.
x Gunakan sarung tangan bila menangani barang-barang yang kasar atau terdapat
serpihan.
x Pegang benda tersebut dengan kedua tangan (telapak tangan) dan jangan dengan jari.
x Lipat siku guna mendapatkan tenaga yang lebih kuat.
x Konsentrasikan berat badan pada kedua kaki dan mengangkat dengan kaki, usahakan
punggung lurus dan jangan menggunakan otot punggung.
x Memutar tubuh ketika sedang mengangkat barang biasanya akan berakibat dengan
sakit punggung. Hal ini bisa dihindari dengan dengan memutar kaki yang berada pada
posisi lebih di depan ke arah yang diinginkan.
x Sebelum diangkat, ambil keputusan ke arah mana barang tersebut akan dibawa tanpa
adanya halangan.
x Dapatkan perkiraan berat barang yang akan diangkat. Jika berat barang sangat
berlebihan atau tidak dapat diangkat sendirian, anda harus mencari bantuan.

Perhatian :
Hirdari pengangkatan alat/bahan/material dengan menggunakan tenaga manusia seminimal
mungkin.
Kalau penangkatan secara manual dilakukan, gunakan pengangkat barang dengan teknik
pengangkatan.
Sebisa mungkin, gunakan tenaga mekanis, hidrolik atau alat angkat bertenaga listrik,
seperti, forklift, crane dan push-cart (kereta dorong).

Mengangkat Barang Dengan Mekanis


Alat-alat dibuat untuk melakukan suatu pekerjaan dengan aman dan ekonomis namun
keselamatan dalam pemakaian alat-alat tersebut tergantung kepada operator dan alat-alat
tersebut.

Mesin Derek (Crane)


Operator mesin penggerak utama pada saat mulai bertugas harus memeriksa dan
memastikan bahwa :
x Ruang operator bersih dan minyak, pelumas dan kotoran lainnya.
x Semua sarena pemberi peringatan dini seperti klakson, bel, emergency stop, dan
system komunikasi lainnya harus benar-benar berfungsi dengan baik.
x Satu unit alat pemadam api ringan yang berkapasitas minimal 5 lbs. Jenis tepung kering
atau carbon dioxide harus ditempatkan di cabin pada setiap unit crane.
x Petunjuk muatan yang aman, radius, rem-rem, lampu, tombol pembatas boom stop dan
sebagainya harus dalam keadaan baik.
x Semua peralatan yang rusak harus segera diberitahukan kepada atasan untuk dilakukan
penggantian sebelum crane tersebut digunakan.
x Tempat-tempat yang terjangkau oleh radius perputaran semua mesin derek (crane)
harus diberi perintang guna mencegah agar para karyawan tidak memasuki daerah
radius tersebut, dengan demikian karyawan tidak dapat kejatuhan benda yang diangkat.
x Semua pancing (hook) harus dilengkapi dengan kunci pengaman (safety latch).
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-11
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
INSTRUKSI KERJA BASIC SAFETY Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 6 dari 18

x Sebelum mengangkat, berat dan keseimbangan dan keseluruhan beban harus


ditetapkan. Pastikan bahwa alat angkat yang digunakan tidak melebihi kapasitas daya
angkat crane itu sendiri.
x Hanya karyawan berwenang saja yang diperbolehkan untuk memberi tanda (isyarat)
kepada operator crane dan tanda-tanda (signal) yang digunakan harus standar (sudah
dibakukan).
x Ketika melakukan pengangkatan atau menurunkan barang, jangan melakukan sentakan
yang tiba-tiba. Sentakan pada muatan yang sedang diangkat akan menyebahkan
terjadinya penambahan beban. Angkat dan turunkanlah barang-barang muatan dengan
perlahan-lahan.
x Hanya operator crane berwenang saja yang boleh mengoperasikan crane. Pada saat
mengoperasikan crane, SlO (Surat Ijin Mengoperasikan) harus selalu dibawa oleh
operator.
x Mesin harus selalu dimatikan apabila sedang diberi pelumasan, ditambah bahan
bakarnya atau bila seseorang sedang mengerjakan bagian yang bergerak.
x Jangan sekali-kali mengangkat dua atau lebih muatan yang terpisah dalam satu kali
pengangkatan meskipun berat muatannya masih dalam batas kemampuan kapasitas
pengangkatan.
x Jangan menggunakan boom untuk melakukan penarikan muatan ke samping.
x Pada saat akan melakukan pengangkatan, aturlah posisi crane sedemikian rupa pada
posii yang aman. Lakukan posisi pengangkatan dan titik lemah ke titik terkuat.
x Gunakan sling yang sesuai dengan jenis muatan yang diangkat.
x Jangan menggunakan sling yang sudah aus untuk mengikat muatan.

TANGGA DAN PERANCAH

Semua jenis tangga dan perancah yang disediakan di tempat kerja adalah untuk
dipergunakan.
Tidak ada alasan apapun untuk menggunakan sesuatu alat yang bersifat sementara untuk
mencapai suatu tempat kerja.

TANGGA – TANGGA
x Tangga-tangga harus diperiksa sebelum dan setelah dipakai. Kerusakan-kerusakan
yang ditemukan harus segera dilaporkan kepada atasan.
x Tangga yang patah atau rusak tidak boleh dipakai. Perbaiki atau hancurkanlah segera
tangga semacam itu. Tangga-tangga yang akan diperbaiki harus diberi tulisan JANGAN
DIPAKAI.
x Tangga-tangga tidak boleh disandarkan pada tempat yang bergerak.
x Tempat di-sekeliling bagian atas dan bagian bawah tangga harus bebas dari bahaya
tersandung, seperti pada benda-benda yang terlepas, sampah dan kabel-kabel listrik.
x Tangga-tangga yang dipergunakan untuk pekerjaan listrik harus terbuat dan bahan yang
tidak menghantar arus listrik.
x Tangga-tanqga harus memiliki kaki yang anti licin, kerangkanya harus kuat dan dalam
keadaan baik.
x Ketika meniki atau menuruni tangga, tidak diperkenankan membawa barang, sehingga
kedua tangan kita tidak dapat berpegang pada tangga.
x Tangga lipat harus dibuka sepenuhnya agar perentangnya terkunci.
x Setiap orang yang akan menggunakan tangga harus:
- Menghadap ketangga ketika menaiki dan menuruninya.
- Mengenakan sepatu keselamatan yang tidak licin.
- Menarik muatan dengan seutas tali atau dengan cara lain yang sesuai.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-11
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
INSTRUKSI KERJA BASIC SAFETY Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 7 dari 18

PERANCAH

Setiap perancah harus diperiksa dan disetuju oleh atasan yang bertanggung jawab sebelum
dipergunakan untuk pertama kalinya dan termasuk setelah dirobah atau dipindahkan.

x Tidak ada istilah yang disebut dengan perancah sementara. Semua perancah harus
dibuat dan dipelihara agar sesuai dengan pedoman-pedoman yang telah ditetapkan.
x Papan perancah harus dilihat dan diperiksa setiap kali hendak dipergunakan. Papan
perancah yang rusak harus segera diganti.
x Tangga untuk turun dan naik harus disediakan pada setiap perancah. Turun dan ujung
kerangka tidak diperbolehkan, kecuali jika perancah tersebut telah dilengkapi dengan
tangga yang telah disetujui.
x Sebelum mulai bekerja dengan menggunakan perancah, pemakai harus memeriksanya
untuk menetapkan bahwa handrails, toeboards dan working platform board tersedia.
x Semua perancah harus dipasang oleh karyawan yang mampu dan ditunjuk oleh atasan.
x Perancah-perancah jangan dimuati teratu berat. Bahan-bahan yang dinaikkan
seperlunya saja. Perancah tidak boteh dimuati melebihi kapasitas yang direncanakan
untuknya.
x Kotak-kotak, tong-tong dan benda-benda sejenis yang tidak stabil tidak boleh digunakan
sebagai alas berdiri untuk bekerja atau menyanggah perancah.

PERANCAH BERODA

x Rem-rem roda haruus dikunci pada waktu perancah dalam keadaan tidak bergerak.
x Mintalah bantuan jika menggerakkan perancah-perancah beroda. Periksalah dengan
baik apakah jalanan yang hendak dilalui bebas dari penghalangan-penghalangan.
Perhatikan lobang-lobang dan keadaan sekitarnya cukup aman untuk dilalui.
x Ikatkan atau pindahkan semua benda atau alat-alat yang lepas sebelum menggerakkan
perancah.

PERANCAH BALOK KAYU

x Semua perancah balok kayu harus dibuat sedemikian rupa hingga dapat menahan
muatan yang direncanakan untuknya.
x Semua karyawan yang bekerja pada perancah balok kayu harus memakal ikat pinggang
pengaman dan tali-tali penolong.
x Balok-balok kayu harus paling sedikit berukuran 4 x 6 mm, dan panjangnya tidak boleh
melebihi 10 kaki.

Petunjuk berikut ini dibuat untuk menjaga agar kondisi semua jenis perancah tetap dalam
keadaan baik dan aman untuk digunakan

x Semua rangka perancah harus diperiksa sekurang-kurangnya sekali dalam sehari oleh
atasan yang bersangkutan.
x Dalam melakukan penggantian bagian manapun dari suatu perancah tidak boleh
dilakukan, terkecuali ada persetujuan dan atasan yang berwenang dan seorang rigger
yang telah terlatih untuk itu tersedia.
x Barang-barang yang tidak dipergunakan harus disingkirkan dan tidak boleh dibiarkan
berserakan pada perancah.
x Rangka perincah harus dilindungi dan kendaraan-kendaraan yang bergerak yang dapat
menyebabkan terjadinya kerusakan pada perancah.
x Kebersihan platform harus selalu dijaga setiap saat serta bersih dari minyak pelumas
dan sebagainya.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-11
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
INSTRUKSI KERJA BASIC SAFETY Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 8 dari 18

x Dilarang membuat api terbuka pada atau di dekat perancah, kecuali untuk tujuan
pengelasan atau melakukan pemotongan yang menggunakan api.
x Dalam segala hal, sabuk pengaman harus selalu dipakai apabila bekerja pada platform-
platform yang tinggi.

KESELAMATAN KERJA PADA PEKERJAAN LISTRIK

Pendahuluan

Pemasangan dan pengoperasian sistim listrik harusmemperhatikan National ElectricalCode


(NEC) edisi terakhir. Lihat pula API 500 B RecommendedPractice for Classification of Areas
for Electrical Installations at Drilling Rigs and Production Facilities on Land.

Para pekerja yang ditugaskan bekerja di sirkuit listrik dan para pembantunya harus dilatih
dan dipersiapkan untuk dapat melakukan teknik bantuan pernafasan dan mulut ke mulut dan
resuscitasi jantung dan paru-paru.

Umum

x Pekerja yang tidak berwenang dilarang melakukan perbaikan peralatan istrik.


x Semua perlengkapan, kabel dan alat listrik yang tidak aman harus segera dilaporkan
kepada tukang listrik atau Supervisor.
x Harus diambil tindakan pencegahan khusus bila bekerja dengan listrik bertegangan
tinggi.
x Peralatan yang diinsulasi dan yang terlindung karet harus diperiksa dan dibersihkan
secara periodik. Bila kondisi meragukan, pekerjaan tersebut harus diuji dengan
tegangan tinggi.
x Sentuhlah pelindung semua alat listrik, skakelar, dan lainnya dengan punggung tangan
anda. Jangan menggunakan telapak tangan. Shock listrik membuat otot berkosentrasi
dan dapat menyebabkan tangan anda mencengkeram peralatan.
x Jangan menginjak atau memegang kabel, alat penerangan atau lampu rusak yang
masih beraliran listrik yang terletak di lantai atau tanah. Singkirkan bahaya tersebut
dengan memutus sumber arus dan simpan benda tersebut di tempatnya.
x Pada waktu bekerja dengan peralatan listrik tangan, sepatu dan pakaian harus kering.
Perhiasan yang dapat menghantarkan arus listrik harus dilepas atau diinsulasi dengan
sarung tangan atau alat lainnya.
x Bekerjalah sesuai dengan instruksi pengoperasian peralatan listrik. Jangan melakukan
eksperimen jika peralatan tidak berfungsi dengan baik, konsultasikan dengan tukang
listrik.
x Kabel-kabel peralatan listrik yang rusak harus diperbaiki atau diganti.
x Stop Kontak tidak boleh diberi beban lebih. Semua Stop Kontak harus dihubungkan ke
tanah. Stop Kontak pemberi daya ke peralatan listrik portable, baik dipasang di luar
bangunan atau di tempat basah harus dilengkapi pelindung sirkuit hubung tanah
pemutus. Jangan memasang beban melebihi kapasitas yang dirancang.
x Penggunaan Accu harus memenuhi Article 480 dan NEC. Ruang Accu harus mendapat
ventilasi yang cukup memadai untuk mencegah akumulasi zat-zat yang eksplosive.

Pembersihan Alat-Alat Listrik

x Untuk membersihkan motor-motor listrik atau peralatan lain disarankan menggunakan


metil kloroform (1,1,1-trichloro ethane), bila diinginkan tidak terdapat sisa minyak
sebagaimana bila dilakukan dengan menggunakan kerosin atau varsol. Nilai Ambang
Batas/NAB (TLV) racun dan pelarut yang mudah menguap dan tidak mudah terbakar,
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-11
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
INSTRUKSI KERJA BASIC SAFETY Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 9 dari 18

yaitu metil kloroform, adalah 350 ppm. Jangan menggunakan metil kloroform untuk
membersihkan peratatan aluminium, karena metil kloroform akan merusaknya.
x Jangan mengggunakan karbon tetraklorida sebagai cairan pembersih, karena sangat
beracun.
x Air atau uap tidak boleh digunakan untuk membersihkan tempat-tempat di dekat motor
listrik atau peralatan listrik lainnya, kecuali jika peralatan listrik tersebut sudah dimatikan.
x Kutub-kutub accu yang aus harus dibersihkan dengan larutan encer soda kue dan air.
Koneksi-koneksi harus dipasang dengan erat, dan kutub-kutubnya dilumasi dengan
petroleum jelly atau pelumas ringan yang sejenis.
x Putus/matikan aliran listrik sebelum membersihkan panel-panel kontrol atau skakelar
pengaman.

Kotak Pelindung Alat-Alat Listrik

x Pintu-pintu dan penutup alat-alat listrik harusselalu tertutup kecuali pada saat dilakukan
perbaikan.
x Jika kotak atau rangka pelindung alat-alat listrik didapati beraliran listrik, harus segera
diberitahukan kepada tukang listrik agar diperbaiki. Lihat aturan tentang jalur kabel
listrik.
x Pintu kotak pelindung alat listrik yang terletak di luar bangunan harus dipalang atau
diikat pada waktu alat-alat listrik tersebut diperbaiki atau disetel.
x Bagian flerisa dan kotak pelindung alat-alat listrik tahan ledakan tidak boleh dicat atau
diberi penyekat sedemikian rupa sehingga menghalangi terbuangnya tekanan dan gas
di dalamnya.
x Antara papan skakelar (switch board) dengan sumur pompa listrik submersible harus
dipasang kotak penghubung (juction box). Kotak penghubung harus dihubungtanahkan
dan berventilasi. Papan kakelar setidaknya harus berjarak 35 (tiga puluh lima) feet dan
kotak penghubung dan 50 (lima puluh) feet kepalasumur. Pipa-pipa pembungkus kabel
harus diberi penyekat untuk mencegah gas masuk ke dalam kotak penghubung atau
papan skakelar.

Sekering

x Sebelum mengganti sekering, selalu pastikan bahwa aliran sudah diputus. Hanya
petugas yang berwenang yang boleh mengganti sekering primer misalnya pada travo,
pemutus arus dan kotak sekering. Tidak seorangpun diizinkan mengganti sekering
primer kecuali telah diberitahu secara lengkap tentang prosedur keselamatan kerja
untuk pekerjaan tesebut. Prosedur ini harus mencakup pula tentang penggunaan
pencabut sekering.
x Berdirilah menyamping pada waktu membuka atau menutup skakelar pengaman.
Jangan berdiri di depan skakelar. Buka atau tutup skakelar dengan gerakan cepat.
x Lepaslah sekering dengan pencabut sekering. Ganti dengan sekering baru yang
ukurannya sama. Pastikan bahwa sekering terpasang di klem sekering dengan erat.
x Jagalah agar pencabut sekering selalu bersih dan kering. Meskipun terbuat dan material
insulator, jika basah, berminyak atau kotor, kelembaban atau kotoran yang lengketdapat
menjadi penghantar listrik.
x Dilarang menggunakan sekering dengan elemen yang dapat diganti, di bawah 100
Ampere.
x Dilarangmenggunakan logam, timah atau benda lain sebagai pengganti sekering.

Alat-Alat Penerangan

x Pada waktu mengganti bola lampu yang pecah atau putus di tempat yang berbahaya,
aliran listrik harus diputus dan pekerja harus memakai pelindung mata. Jangan
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-11
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
INSTRUKSI KERJA BASIC SAFETY Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 10 dari 18

memegang pecahan bola lampu. Bola lampu yang putus harus dibuang di tempat yang
aman.
x Jagalah kaca kap lampu di tempat kerja selalu bersih untuk menjamin penerangan
secara maksimum. Jangan melepas kaca pelindung bola lampu yang kedap uap atau
tahan ledakan tanpa pemutus aliran listrik lebih dulu. Kap lampu hanya boleh dilepas
ketika dibersihkan atau diganti bola lampunya
x Lampu-lampu keselamatan dan kabel penyambung harus selalu dijaga dalam keadaan
baik. Mereka harus sering diperiksa insulasinya dan terhadap adanya kemungkinan
kaca pelindung yang retak atau pecah. Kabel yang rusak tidak boleh digunakan. Jangan
melilitkan kabel ke lengan atau bagian tubuhlainnya.
x Jangan berdiri di tempat yang basah pada waktu menyentuh kabel atau lampu. Jangan
menggulung kabel penyambung sebelum dilepas dan sumber arus. Melepas steker
harus menarik stekernya, bukan kabelnya.
x Tempat kerja yang tidak mendapat penerangan cukup harus segera dilaporkan.
x Pekerja yang melewati daerah bukan tempat kerja dimalam hari harus membawa lampu
portable untuk mendapatkan penerangan yang cukup.
x Lampu tangan portable yang digunakan di lokasi berbahaya harus tahan terhadap
ledakan.
x Lampu tangan portable tidak boleh digunakan jika tidak ada kaca pelindungnya.

Motor Listrik

Selalu hidupkan motor listrik dengan menggunakan starternya. Jangan mematikan motor
listrik dan skakelar induk kecuali dalam keadaan darurat.
Lihat aturan tentang larutan pembersih yang dianjurkan untuk motor listrik.

PROSEDUR KESELAMATAN UNTUK


MENGHIDUPKAN DAN MEMATIKAN MESIN

x Semua kanyawan harus dipandu oleh atasan mereka dalam hal prosedur dan tata kerja
yang aman.
x Selain petugas yang berwenang tidak diizinkan untuk menggunakan peralatan,
menghidupkan atau mematikan mesin, pasokan listrik atau panel. Semua peralatan
harus dalam keadaan baik, aman dan semua breaker harus selalu terpasang.
x Tidak seorangpun, kecuali petugas yang berwenang diizinkan untuk melepaskan
breaker untuk maksud perbaikan atau pemeliharaan. Dan breaker tersebut harus
dipasang kembali setelah semua pekejaan selesai dilaksanakan.
x Para pekerja harus tahu lokasi dan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dan
penempatannya tidak boleh menghalangi pintu keluar.
x Setiap karyawan harus mengenakan pakaian pelindung diri yang sesuai dengan jenis
pekerjaannya yang telah disediakan di tempat kerja.
x Setiap karyawan harus melaporkan setiap kondisi yang tidak aman, tindakan tidak aman
dan peralatan yang tidak aman secepatnya kepada atasan yang bersangkutan.

PELINDUNG MESIN

Pelindung mesin yang dipasang pada suatu peralatan maksudnya adalah untuk melindungi
orang dan cidera yang disebabkan oleh karena adanya bagian-bagian mesin yang bergerak,
disamping itu juga berfungsi untuk mencegah kontak antara pakaian dan alat-alat dengan
mesin yang sedang beroperasi.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-11
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
INSTRUKSI KERJA BASIC SAFETY Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 11 dari 18

Peralatan yang memerlukan perlindungan :

x Semua bagian-bagian mesin yang bergerak dan berbahaya dalam jarak jangkauan
harus diberi pelindung atau pagar keseluruhannya.
x Peralatan pemotong seperti gergaji atau gergaji putar, mesin bor, mesin bubut, roda
pengasah dan kipas.
x Peralatan yang berputar seperti pully atau sabuk adalah bagian-bagian yang berbahaya.
Cidera yang disebabkan oleh peralatan semacam ini sangat jarang terjadi. Akan tetapi
apabila terjadi biasanya mengakibatkan luka yang bersifat parah atau bahkan fatal.
x Tempat-tempat dimana pergesekan sering terjadi seperti roda gigi, V-belt, pada bagian
penutup pully rantai dan roda gigi lainnya yang dekat dengan bagian yang tidak
bergerak. Tempat-tempat tersebut berbahaya sebab dapat menarik benda lain dan
menghancurkannya. Bila suatu benda tertangkap oleh bagian mesin yang berputar
sangat sulit bahkan tidak mungkin untuk dilepaskan. Tangan yang menggunakan sarung
tangan dan pakalan yang longgar dapat dengan mudah tersangkut pada bagian-bagian
ini.
x Motor atau setiap bagian dan pembangkit listrik yang tidak dilindungi merupakan sumber
bahaya yang sangat potensial.

PEKERJAAN PENGELASAN DAN PEMBAKARAN

Semua pekerjaan pengelasan dan pembakaran merupakan pekerjaan yang sangat


berbahaya dan bisa mendatangkan suatu kecelakaan apabila tidak ditangani dengan benar.
Oleh karena itu setiap akan memulai pekerjaan tersebut, anda harus mengikuti petunjuk-
petunjuk berikut ini :

Sebelum memulai pekerjaan pengelasan atau pembakaran, tempat kerja harus diperiksa
untuk memastikan bahwa percikan-percikan api atau logam-logam yang meleleh tidak akan
jatuh pada benda-benda yang mudah terbakar.
Bila alat-alat pengaman yang diperlukan tidak tersedia, rundingkanlah dengan atasan anda.
Jangan sekali-kali melakukan pengelasan atau membakar di tempat yang berbahaya tanpa
mendapat persetujuan dan pihak-pihak yang berwenang.
Pastikan bahwa alat pemadam api ringan yang sesuai harus disediakan sebelum pekerjaan
pengelasan dimulai dan alat pemadam api tersebut berfungsi dengan baik.

Adalah merupakan tanggung jawab dan setiap juru las (Welder) untuk melakukan
pemeliharaan atas peralatan las. Peralatan tersebut harus selalu dalam keadaan baik untuk
dipergunakan. Apabila rusak segera sampaikan kepada atasan untuk mendapatkan
penggantian.

Pada saat melakukan pengelasan atau membakar, alat pelindung mata yang telah
ditentukan harus dipakai.
Semua kabel-kabel las dan selang-selang pembakar harus dalam keadaan baik dan diatur
sedemikian rupa agar tidak menjadi penghalang bagi pelaksana kerja yang berada di
sekitarnya.
Jangan sekali-kali melakukan pngelasan atau membakar tangki, tong atau pipa atau benda-
benda lainnya yang mungkin berisikan atau bekas berisikan bahan bakar atau bahan yang
tidak diketahui lainnya.

Mintalah ijin terlebih dahulu kepada petugas keselamatan atau pihak-pihak yang
bertanggung jawab lainnya apabila akan melakukan pengelasan atau pemotongan.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-11
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
INSTRUKSI KERJA BASIC SAFETY Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 12 dari 18

Mengelas

Bila berhadapan dengan benda-benda yang beterbangan berupa serpihan-serpihan atau


benda-benda akibat pembersihan las yang lain, alat pelindung mata yang telah ditentukan
harus dipakai.

Bila melakukan pengelasan listrik yang berdekatan dengan pekerja-pekerja lain, mereka
harus dilindungi terhadap sinar-sinar listrik dengan layar yang tidak dapat terbakar atau
dengan alat pelindung mata yang cukup memberi perlidungan.Semua kerangka dan mesin
las harus dihubungkan dengan tanah.

Membakar

Jangan menggunakan korek api untuk menyalakan suluh las, gunakanlah pemantik api.
Suluh-suluh las tidak boleh dipakai untuk menyalakan benda-benda yang berasap.

Gunakanlah sarung tangan yang sesuai untuk pekerjaan tersebut.

Bila kunci khusus dipergunakan untuk membuka atau menutup katup tabung acetylene,
kunci tersebut harus tetap dibiarkan pada posisinya di katup tersebut.

Cara Menyimpan Dan Menangani Tabung-Tabung

Kerudung-kerudung pelindung (Protective Caps) harus tetap berada di atas semua tabung
yang tidak dipakai.

Semua tabung harus diamankan sebagaimana mestinya agar tidak terguling.

Tabung oxygen dan acetylene yang disimpan harus dipisahkan satu dengan yang lainnya
dengan jarak 20 feet atau dengan suatu rintangan sepanjang 5 feet yang mempunyai tingkat
pembakaran (Fire Rating) satu jam.

Ventilasi Dan Perlindungan

Hubungi petugas keselamatan sebelum memulai pekerjaan pengelasan, pembakaran, atau


pemanasan yang dilakukan di dalam ruangan tertutup, yang mungkin memerlukan ventilasi
mekanis biasa atau ventilasi pembuangan udara setempat untuk mengurangi konsentrasi
uap dan asap-asap sampai pada tingkat yang dapat diterima.

Jika ventilasi yang cukup tidak bisa disediakan, pekerja harus dilengkapi dengan dan
diharuskan memakai alat-alat untuk bernafas yang berisikan udara.

Jika melakukan pengelasan, memotong atau memanaskan logam-logam yang mengandung


bahan-bahan beracun seperti seng, timah hitam, cadmium atau logam-logam yang
mengandung bahan beracun lainnya di udara terbuka, harus memakai alat bernafas jenis
penyaring udara.

PROSEDUR DAN PETUNJUK MEMASUKI RUANG TERBATAS

Tujuan :
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-11
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
INSTRUKSI KERJA BASIC SAFETY Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 13 dari 18

Menyediakan Prosedur dan Petunjuk untuk melindungi pegawai dan karyawan Perusahaan,
bila bertugas di dalam ruangan terbatas atau tertutup.

Definisi :

Ruangan terbatas adalah setiap ruangan yang mempunyai jalan keluar-masuk yang
terbatas, umumnya tidak mempunyai ventilasi yang baik, dan biasanya mengandung
bahaya, baik yarg sudah ketahuan maupun yang potensial.

Contoh-contoh ruangan terbatas :


x Tabung-tabung proses dan peralatan yang terkait, seperti Ketel Uap, Cerobong asap,
Dapur, Kolom dan Separator.
x Kontainer, seperti : Tangki Penimbun, Peti Kemas, Truk Tangki.
x Ruangan tidak beratap misalnya : Sumur, Palung, Floading Roof Tank pada situasi
tertentu dapat dianggap sebagai ruangan terbatas, meskipun terbuka di udara luar.

Persyaratan Umum

x Dilarang masuk ke Ruangan Terbatas dengan alasan apapun tanpa ada Surat Izin yang
ditandatangani oleh Supervisor yang bersangkutan. Dilarang masuk ke Ruangan
Terbatas apabila masih ada cara untuk melaksanakan pekerjaan dariluar.
x Harus dilakukan usaha-usaha yang memungkinkan, untuk menghilangkan kondisi yang
berbahaya yang mengharuskan pemakaian alat pernafasan. Dan segi perlindungn
terhadap pekerja, jauh lebih baik menghilangkan sumber bahaya sehingga kehandalan
alat-alat penlindungan tidak begitu diperlukan.
x Dilarang masuk ke dalam Ruangan Terbatas sebelum persyaratan yang tercantum dan
Prosedur ini terpenuhi.

Potensi Bahaya Ruangan Terbatas

x Mungkin terdapat uap-uap atau gas mudah terbakar/meledak.


x Udara di dalam Ruangan Terbatas mungkin kekurangan oksigen.
x Ruangan Terbatas mungkin mengandung zat-zat beracun, menyebabkan rasa sakit,
atau korosif, yang jika bersentuhan atau terhirup dapat menyebabkan cidera,
menggangu kesehatan atau mematikan.
x Bahaya fisik mungkin terdapat daam bentuk : Tekanan, Uap, Pipa, Permukaan yang
licin, Tidak cukup cahaya, Ruang Kerja terlalu sempit, Permukaaan yang panas atau
sangat dingin, sirkuit listrik dan lain-lain.

Persyaratan Sebelum Masuk

Kondisi-kondisi yang diperlukan untuk dapat bekerja di dalam dan di sekitar Ruangan
Terbatas, sangat tergantung pada lokasi, konfigurasi dan jenis pekerjaan. Sesudah
Supervisor mengiventarisasi kemungkinan bahaya dia harus meyakinkan bahwa tindakan
berikut ini diambil :

Isolasi

x Tindakan-tindakan seperti pemasangan barikade untuk mencegah masuknya orang-


orang yang tidak berkepentingan ke daerah berbahaya harus dilaksanakan.
x Semua Tabung, Pipa, Saluran yang menuju ke luar dan ke dalam dan Ruangan
Terbatas harus ditutup, disumbat atau dibungkus sedekat mungkin dan Ruangan
Terbatas tersebut. Seluruh penutup tersebut harus dicatat untuk meyakinkan bahwa
setelah pekerjaan selesai penutup tersebut dilepas kembali. Penutup tersebutjuga harus
diberi label.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-11
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
INSTRUKSI KERJA BASIC SAFETY Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 14 dari 18

x Semua peralatan listrik, mekanik, pneumatic maupun hydrolic yang dapat menimbulkan
bahaya harus dimatikan disegel dan diberi label.

Pembuangan Isi

x Cairan hydrocarbon, air dan zat-zat lain seperti sulfida besi harus dibuang seluruhnya
sebelum pekerja masuk. Ini mungkin memerlukan pembersihan dengan uap panas atau
pencucian dengan air.
x Zat-zat padat seperti yang terdapat di dalam Treater dan Dry-bed dehydrator harus
dikeluarkan setelah pembilasan seperti diuraikan kemudian. Zat-zat ini mungkin jenuh
dengan hydrocarbon harus ditempatkan di dalam kontainer tertutup atau dengan cara
pembuangan lain yang aman, sehingga mencegah terbebasnya hydrocarbon di daerah
kerja.

Pembilasan

x Jika udara di dalam Ruangan Tertutup mengandung gas atau uap yang mudah terbakar,
harus dilakukan pembilasan dengan gas innert atau uap untuk mengusir gas-gas
berhahaya tersebut dan mencegah terbentuknya campuran yang dapat meledak di
dalam Ruangan Terbatas.
x Pada Dry-bed dehydrator atau Treater tertentu, hydrocarbon cair dalam jumlah besar
yang masih tertinggal dalam Treating-bed setelah pembilasan akan tidak praktis. Pada
keadaan semacam ini mungkin perlu pembilasan volume tabung untuk mengeluarkan
isinya supaya masuknya udara ke dalam tabung dapat dicegah.

Ventilasi

x Uap-uap dan gas-gas harus dibuang dengan jalan pemberian ventilasi sebaik mungkin.
Ventilasi dengan bantuan alat-alat (fan, blower dan lain-lain) lebih baik daripada veritilasi
secara alamiah.
x Untuk mencegah campuran dalam Dry-bed dehydrator atau Treater, ventilasi tidak boleh
dimulai sebelum semua zat-zat jenuh hydrocarbon dipindahkan dan dalam tabung ke
tempat yang aman.

Penyajian/ Pemantauan

x Udara di dalam Ruangan Tertutup harus diuji/ dipantau sebelum pekerja masuk dan
selama bekerja di dalam Ruangan Terbatas, untuk menentukan apakah masuk dan atau
bekerja terus menerus dapat diizinkan.
x Udara harus diperiksa kembali setiap hari, sesudah jam makan, pergantian shift, dan
atau interupsi lainnya.
x Jika pekerja harus berada di dalam tangki untuk waktu yang panjang, padahal kondisi di
dalam tangki memungkinkan peningkatan konsentrasi gas beracun, atau penurunan
konsentrasi oksigen, maka disarankan untuk memeriksa kadar H 2S, hydrocarbon dan
oksigen secara periodik selama pekerja ada di dalam Ruangan Terbatas tersebut.

Izin

x Masuk ke dalam Ruangan Terbatas hanya diperbolehkan jika sudah mendapat Surat
Izin Masuk Ruangan Terbatas. Setiap area production Foreman, Offshore Operation
Supervisor atau Gas Plant Supervisor atau Designer, mempunyai tanggung jawab
langsung untuk menjamin diambilnya langkah-langkah yang diperlukan, seperti yang
tercantum dalam surat izin tersebut.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-11
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
INSTRUKSI KERJA BASIC SAFETY Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 15 dari 18

x Supervisor yang bertugas atau petugas yang ditunjuk hendaknya menjadi pejabat yang
berwenang untuk memberi persetujuan pada izin tersebut.
x Copy izin hendaknya diberikan kepada Penjaga Pintu Masuk.

Peralatan Perlindungan Perorangan

x Pelindung kulit dan mata harus tersedia jika diperlukan.


x Jika kondisi tempat udaranya kekurangan oksigen atau mengandung gas-gas beracun,
harus digunakan alat pernafasan jenis Pressure Demand, Self Contained atau Hoseline.
x Sabuk pengaman dan tali pengaman juga harus digunakan pada tempat kerja yang
memerlukan alat pernafasan, kecuali jika menurut Supervisor penggunaan alat-alat
tersebut menimbulkan bahaya yang lebih besar bagi pekerja.

Pekerja Siap

x Paling tidak harus ditunjuk satu orang yang selalu memantau pekerjaan dalam Ruangan
Terbatas untuk memberikan bantuan. Pekerja slap harus dilengkapi dengan alat
pernafasan jenis Pressure Demand, Alat Pemadam Kebakaran, dan harus selalu
berkomunikasi dengan pekerja yang berada di dalam Ruangan terbatas.
x Jika ada lebih dan seorang bekerja di Ruangan Terbatas atau jika potensi bahaya
sangat besar, perlu dipertimbangkan apakah perlu tambahan Pekerja Siap.
x Pekerja Siap harus dilatih untuk dapat melakukan dengan tepat bantuan pernafasan
baik melalui Resuscitasi mulut ke mulut, maupun dengan menggunakan resuscitasi
mekanik yang tersedia.

Persyaratan Lain

x Peralatan listrik yang digunakan di dalam Ruangan Terbatas harus bertegangan rendah
(maximum 12 Volt) atau harus menggunakan Ground Fault CircuIt Interrupters.
x Pengelasan/pemotongan atau pekerjaan lain yang dapat menghasilkan sumber api di
dalam ruangan terbatas, hanya boleh dilakukan jika ada Surat Izin Pekerjaan panas.
x Harus ditentukan metode yang efektif untuk mengeluarkan pekerja dalam keadaan
darurat sebelum pekerja masuk ke ruang terbatas.

Perkecualian

x Pada kasus-kasus yang sangat jarang, mungkin diperlukan untuk melakukan pekerjaan
di tempat-tempat dimana kadar oksigen kurang dan 15%. Pada peristiwa semacam ini,
situasinya harus dibahas secara menyeluruh dan harus mendapat persetujuan dan
manajemen dan Unit K3.
x Masuk dan bekerja dl dalam Ruangan Terbatas dapat menimbulkan masalah khusus
karena situasi yang tidak biasa. Tindakan pengamanan dan Prosedur khusus yang tidak
terdapat di dalam prosedur ini mungkin masih ada yang diperlukan. Jika ada pertanyaan
yang belum terjawab dalam prosedur ini, harap disampaikan ke Unit K3.

SAND BLASTING

x Peralatan sand blasting harus diperiksa sebelum digunakan dan kondisinya harus
benar-benar dalam keadaan baik. Selang untuk sand blasting harus diperiksa dan
bahannya tidak menimbulkan arus listrik statis. Semua selang yang bersambung harus
dalam keadaan baik dan tidak ada yang bocor termasuk pada pegangan nozzle tersebut
harus dilengkapi dengan katup manual.
x Kompresor udara, corong pengisi pasir dan permukaan benda yang akan disemprot
harus digrounded ke tanah yang basah dengan kedalaman yang sesuai.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-11
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
INSTRUKSI KERJA BASIC SAFETY Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 16 dari 18

x Pada saat melakukan pekerjaan sand blasting, posisinya tidak boleh dekat dengan
bahan yang mudah terbakar, motor listrik, lubang isapan udara pada motor bakar yang
sedang bekerja.
x Pada saat menggunakan peralatan sand blasting, operator sand blasting harus selalu
memakai alat saringan debu untuk melindungi debu-debu yang tajam.
x Sand blasting digolongkan pada jenis pekerjaan panas. Oleh karena itu setiap akan
melaksanakan pekerjaan sand blasting di daerah tertentu harus menggunakan surat ijin
kerja panas (Hot Work Permit).
x Alat pemadam api ringan yang sesuai untuk itu harus tersedia di tempat dimana
dilakukan pekerjaan sand blasting. Kotak untuk pertolongan pertama pada kecelakaan
(P3K) juga harus tersedia di tempat kerja.

KESELAMATAN KERJA DI KANTOR

Resiko bekerja di kantor apabila dibandingkan dengan bekerja di lapangan dapat dikatakan
relatif lebih aman, namun demikian kecelakaan yang cukup parah dapat saja terjadi. Agar
tempat kerja selalu aman, ikutilah petunjuk-petunjuk berikut ini:

x Hati-hatilah apabila menggunakan kursi putar. Jangan merebahkan diri di kursi tersebut
sebelum menguji berat badan dengan perlahan-lahan.
x Bacalah surat-surat atau bacaan lain di meja, jangan membaca sambil berjalan.
x Periksalah perabot kantor secara teratur, kalau-kalau ada sudut yang tajam atau
serpihan yang runcing atau baut yang longgar.
x Simpanlah benda-benda tajam pada tempat yang aman dan telah ditentukan. Pakailah
benda-benda tersebut dengan hati-hati.
x Laporkan segera semua cidera/luka-luka yang terjadi di tempat kerja kepada atasan dan
mintalah pertolongan pertama apabila diperlukan.

PERALATAN YANG MENGGUNAKAN TENAGA LISTRIK

x Tempatkanlah mesin tik, komputer pada tempat yang kuat.


x Jangan mencoba memperbaiki sendiri alat-alat listrik. Panggilah teknisi listrik untuk
memperbaikinya.
x Jangan menyetel atau membersihkan mesin-mesin kantor yang dijalankan dengan listrik
pada saat sedang berjalan
x Jangan membiarkan kabel-kabel listrik, telepon, dimana seseorang bisa tersandung.
Segera laporkan kabel-kabel yang terkelupas atau yang sudah rusak untuk segera
diperbaiki atau diganti.
x Matikan dan cabut colokan listrik dan outletnya pada malam hari apabila tidak
dipergunakan lagi.

PROSEDUR PENYEGELAN

Tujuan dan prosedur ini adalah untuk memberikan petunjuk yang benar tentang penyegelan
dan pelabelan peralatan atau energi tersimpan.

Prosedur berikut ini harus diperhatikan jika suatu perabotan distop dan disegel untuk
pemeliharaan :

x Beritahu Supervisor yang bersangkutan tentang rencana kapan dimulai dan perkiraan
waktu untuk dapat diselesaikan, sebelum pekerjaan itu dimulai.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-11
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
INSTRUKSI KERJA BASIC SAFETY Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 17 dari 18

x Pada saat melakukan pekerjaan di dalam rumah kruk silinder kompresor, rumah pompa,
motor hidrolik, motor pneumatik, fan dan lain-lain, motor penggerak harus disegel. Istilah
segel yang dimaksudkan di sini adalah mengunci switch utama, breaker, atau kran
dengan menggunakan gembok khusus, yang kuncinya harus selalu dipegang oleh orang
yarg mengerjakan reparasi.
x Peralatan yang disegel harus diberi label oleh orang yang memasang segel, dimana
label tersebut mencantumkan tanggal, jam, alasan dan nama serta jabatan orang yang
memasang segel. Gunakan label hanya untuk satu kali.
x Ujilah metode penyegelan dengan jalan berusaha menutup pemutus sirkuit pada saat
segel terpasang.
x Ujilah sirkuitnya untuk meyakinkan bahwa tidak ada arus listrik dengan jalan menutup
switch setempat untuk melihat apakah mesin hidup. Kemudian kembalikan switch pada
posisi “off”. Jika cara ini tidak mungkin dilakukan, gunakan alat yang benar untuk
menguji sirkuit.
x Tutup dan segel atau ben label semua kran hisap dan buang.
x Tutup dan segel atau beri label semua lubang cerat/ventiasi yang dihubungkan ke flare
header, tutup cerat dan atau pompa penekan.
x Buka semua lubang ventilasi atau kran cerat.
x Pasang alat penyegel roda gila atau poros utama.

CATATAN:

Banyak kompresor yang digerakkan listrik yang tidak mempunyai fasilitas penyegelan as
kruk. Sehingga penyegelan dilakukan dengan cara mengganjalkan balok kayu ke dalam
salah satu silindernya yang sempit antara piston dengan silinder blok, sehingga mencegah
terputarnya poros secara tak sengaja.

x Jika yang mengerjakan reparasi pada suatu peralatan lebih dan satu jenis klasifikasi
pekerja, masing-masing harus memasang label dan segel mereka pada alat pengunci
prime mover sebelum dimulal pekerjaan dan melepas segel serta label mereka begitu
pekerjaan itu selesai.
x Jika Reparasi dikerjakan secara aplosan dimana pekerja yang mengawali pekerjaan
tersebut belum tentu dapat menyelesaikan pekerjaannya, dan selanjutnya dan pekerja
dan shift berikutnya, maka masing-masing shift harus mempunyai segel sendiri-sendiri.
x Setiap Superintendent lapangan atau instalasi harus menyimpan kunci cadangan untuk
seluruh segel.
x Tidak seorangpun diperbolehkan untuk memotong atau melepas setiap segel pengaman
tanpa izin khusus dan Supervisor lapangan atau instalasi, kecuali orang yang
memasang segel tersebut ada penggantinya.

AKSES

Jagalah agar tempat kerja selalu dalam keadaan bersih dan rapi. Banyak kecelakaan di
tempat ini terjadi karena jatuh, tergelincir atau tersandung.

x Jagalah agar laci-laci meja, laci arsip dan pintu lemari kecil selalu tentutup bila tidak
dipakai. Bukalah hanya satu laci file atau laci meja pada satu saat.
x Berjalan, jangan berlari di gang atau ditangga gedung. Berpeganglah pada susuran
tangga.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-11
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
Status / Tanggal : ASLI / COPY
INSTRUKSI KERJA BASIC SAFETY Tanggal Review : 10 Oktober 2018
Halaman : 18 dari 18

x Jangan berdiri atau bercakap-cakap di depan pintu tertutup. Pintu-pintu tersebut dapat
dibuka sewaktu-waktu secara mendadak.

BAHAN YANG BERBAHAYA

Ikutilah petunjuk pabrik untuk semua bahan sepenti cairan pembersih mesin tik, arutan
penghapus, toner untuk mesin fotokopi dan sebagainya.Bacalah petunjuknya / MSDS
dengan baik.

KESIMPULAN

Betapapun baiknya suatu panduan tentang keselamatan kerja, kecelakaan dapat saja terjadi
dimana juga.Meskipun kecelakaan tidak dapat dihilangkan secara menyeluruh, namun hal
ini setidak-tidaknya dapat dikurangi dan dapat dilakukan dengan cara mencegah kecelakaan
sedini mungkin.

Adapun cara pencegahan kecelakaan antara lain dapat dilakukan melalui:

x Mengetahui daerah-daerah yang berpotensi terhadap kecelakaan dengan


menghilangkan bahaya tersebut.
x Memberikan pelatihan kepada semua karyawan.
x Melakukan induksi dan orientasi keselamatan kepada setiap karyawan baru atau
karyawan yang baru dipindahkan dan satu bagian ke bagian lainnya.
x Memasang pelindung-pelindung pada mesin.
x Melakukan pertemuan kelompok (group meeting) secara teratur.
x Melakukan kampanye keselamatan dengan memasang poster, spanduk, safety flash
dan lain-lain.
x Memakai alat pelindung diri yang telah disediakan.
x Melaporkan dan melakukan penyelidikan terhadap kecelakaan, dan nyaris celaka serta
menindak lanjuti semua saran-saran yang telah diberikan.
x Melaksanakan latihan tentang rencana keadaan darurat.
x Melakukan inspeksi dan internal audit secara teratur serta menindak lanjuti hasil
temuannya.

Semua itu akan berhasil dengan baik apabila semua karyawan berperan aktif dalam
melaksanakan usaha-usaha ini, dan tentu saja keterlibatan dan seluruh jajaran struktur
manajemen adalah faktor yang sangat menentukan dalam mencapai sasaran Perusahaan
yang diinginkan.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-12
INSTRUKSI KERJA PENANGANAN, Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
PENYIMPANAN DAN Status / Tanggal : ASLI / COPY
PENGANGKUTAN BAHAN KIMIA Tanggal Review : 10 Oktober 2018
BERBAHAYA Halaman : 2 dari 4

DEFINISI

Bahana Kimia Berbahaya adalah semua bahan atau barang yang


mengandung zat kimia yang mempunyai sifat mudah terbakar, mudah
meledak, mengandung bahan radioaktif (efek radiasi) dan beracun yang
berbentuk padat, bubuk, cair maupun gas.

PENANGANAN

Sebelum melakukan kegiatan yang berkaitan dengan bahan kimia


berbahaya, harus dilakukan hal-hal sebagai berikut :

1. Melakukan identifikasi terhadap semua bahan kimia berbahaya


yang akan digunakan dalam pekerjaan.

2. Memastikan adanya petunjuk kerja MSDS (Material Safety Data


Sheet) atas barang berbahaya tersebut, jika belum ada maka
segera membuat petunjuk kerja penanganannya.

3. Menyiapkan peralatan yang sesuai untuk penanganannya.

4. Menyiapkan APD (Alat Pelindung Diri) yang sesuai penggunaannya.

5. Memberikan pelatihan/penjelasan kepada pekerja yang bertugas


menangani bahan kimia berahaya meliputi : identifikasi potensi
bahaya, penilaian dan penanganan resiko, analisa keselamatan
kerja, petunjuk kerja penanganan dan pemakaian alat pelindung
diri yang sesuai.

6. Memberi label/identitas yang jelas dan mudah dibaca yang


menempel/berdekatan dengan barang berbahaya tersebut.

7. Menyiapkan tempat yang terpisah (terlindung dari sinar matahari


langsung) dengan barang yang lain dan diberi pembatas yang jelas
untuk menghindarkan dari hal-hal berbahaya yang ditimbulkan
akibat tercampurnya barang tersebut.

8. Membuat dan melaksanakan jadwal inspeksi berkala.

9. Siapkan tempat khusus untuk menampung bahan kimia berbahaya


yang ditimbulkan akibat tercampurnya barang tersebut.

10.Memasang tanda/rambu peringatan misalnya : Awas Bahan


Kimia Berbahaya , Gunakan APD dengan benar dsb.

11.Siapkan alat-alat penanggulangan bahaya di sekitar bahan kimia


berbahaya, misalnya : APAR, kantong pasir, kran air, kain lap dsb.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-12
INSTRUKSI KERJA PENANGANAN, Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
PENYIMPANAN DAN Status / Tanggal : ASLI / COPY
PENGANGKUTAN BAHAN KIMIA Tanggal Review : 10 Oktober 2018
BERBAHAYA Halaman : 3 dari 4

PENYIMPANAN

Untuk bahan yang mudah terbakar dan mudah meledak :

- Tempat penyimpanan harus jauh dari sumber api, terhindar dari


sinar matahari langsung dan berventilasi cukup.

- Tempat penyimpanan harus kuat dan rata sehingga tidak mudah


keropos dan terguling

- Dipasang rambu/tanda “Dilarang Merokok”

- Diberi label “Bahan Mudah Terbakar” atau “Bahan Mudah


Meledak”, diberi label “Isi” atau Kosong” dan label “masa
kadaluarsa bahan”

- Dipasang lembar MSDS bahan

- Menyediakan alat pemadam api yang sesuai

Untuk bahan yang mengandung radioaktif (radiasi) dan bahan yang


beracun :

- Disimpan di tempat terpisah, pada suhu tertentu, tidak mudah


dijangkau, jauh dari aktivitas & fasilitas/tempat makanan.

- Diberi label “Bahan Mengandung Radioaktif” atau “Bahan Beracun”

- Dipasang lembar MSDS bahan

PENGANGKUTAN

1. Pastikan bahwa petugas gudang telah dilatih untuk melakukan


penanganan, penyimpanan dan pengangkutan atas bahan kimia
berbahaya.

2. Bacalah dengan seksama petunjuk kerja MSDS sebelum


melakukan kegiatan pengangkutan.

3. Gunakan APD yang sesuai sebelum melakukan kegiatan.

4. Gunakan alat pengangkut yan dianjurkan dengan manual, trolley,


alat angkat forklift atau crane.

5. Pastikan bahan dalam keadaan/posisi yang sesuai petunjuk, tidak


terbalik, terikat rapat dan kemasan dalam keadaan tidak
bocor/rusak.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-12
INSTRUKSI KERJA PENANGANAN, Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
PENYIMPANAN DAN Status / Tanggal : ASLI / COPY
PENGANGKUTAN BAHAN KIMIA Tanggal Review : 10 Oktober 2018
BERBAHAYA Halaman : 4 dari 4

6. Gunakan surat keluar masuk barang untuk mengontrol bahan


kimia berbahaya yang beredar di lapangan/workshop.

7. Setelah kegiatan proses selesai, pastikan limbah kemasan masuk


pada tempat sampah yang sesuai peruntukannya.
INSTRUKSI KERJA No. Dokumen : AMKA-IK-15-13
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
INSTRUKSI KERJA Status / Tanggal : ASLI / COPY
PELAPORAN KONDISI Tanggal Review : 10 Oktober 2018
DARURAT Halaman : 2 dari 2

DEFINISI

Pelaporan Kondisi Darurat :

Kegiatan menyusun kronologi terjadinya suatu keadaan tidak normal,


tidak ingin terjadi pada tempat kegiatan, membahayakan manusia,
merusak peralatan/benda, atau lingkungan dan melaporkan kepada
instansi lain yang terkait (internal dan eksternal).

PELAPORAN

Yang harus dilakukan untuk kegiatan pelaporan kondisi darurat adalah


sebagai berikut :

1. Melakukan identifikasi terhadap semua


kerusakan/kecelakaan/kehilangan baik sumber daya manusia,
peralatan, material, asset property dan lingkungan akibat kondisi
darurat.

2. Menyusun kronologi kejadian kondisi darurat termasuk langkah-


langkah yang dilakukan untuk melakukan pertolongan pertama.

3. Menyusun foto/ dokumentasi kegiatan.

4. Menyusun laporan dan meminta verifikasi kepada Ketua Tim


Tanggap Darurat sebelum melaporkannya kepada instansi terkait
lainnya (internal dan eksternal).

1. Melaporkan kondisi darurat yang terjadi dan penanganannya


kepada instansi/pihak terkait lainnya (internal dan eksternal)
dengan berdasar pada :

- Prosedur Umum Pengendalian Produk Tidak Sesuai, Tindakan


Perbaikan dan Pencegahan AMKA-PU-20

- Prosedur Umum Keadaan Darurat AMKA-PU-30.


PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-08-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
PEMELIHARAAN DAN Status : ASLI / COPY
Tanggal Review : 10 Oktober 2018
PERBAIKAN ALAT Halaman : 2 dari 5

DAFTAR ISI
Lembar pengesahan ................................................................................................................. 1
Daftar isi ................................................................................................................................... 1
1. Tujuan ................................................................................................................................ 3
2. Ruang Lingkup ................................................................................................................... 3
2. Referensi ............................................................................................................................ 3
3. Defenisi .............................................................................................................................. 3
4. Ketentuan Umum .............................................................................................................. 3
5. Uraian Prosedur................................................................................................................. 7
4. Pengecualian ..................................................................................................................... 8
6. Lampiran ............................................................................................................................ 8
7. Daftar Istilah ...................................................................................................................... 9

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 08 Pemeliharaan dan Perbaikan Alat.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-08-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
PEMELIHARAAN DAN Status : ASLI / COPY
Tanggal Review : 10 Oktober 2018
PERBAIKAN ALAT Halaman : 3 dari 5

1. Tujuan
a. Menjamin semua peralatan / mesin yang mendukung proses produksi / pekerjaan
dipelihara dan diperbaiki sesuai persyaratan.
b. Mencegah timbulnya ketidaksesuaian produksi / pekerjaan akibat kegagalan fungsi
peralatan / mesin.
c. Meningkatkan Sistem Manajemen MK3L.

2. Ruang Lingkup
Prosedur ini berlaku untuk lokasi , Proyek.

3. Referensi
a. ISO 9001 : 2015, Prasarana (7.1.3.).
b. SMK3 PP RI 50 tahun 2012, Pemeliharaan, Perbaikan dan Perubahan Sarana
Produksi (6.5).
c. OHSAS 18001:2007, Sumberdaya, peran, akuntabilitas tanggung jawab dan
wewenang (4.4.1).
d. ISO 14001:2015, Sumberdaya, (7.1.).

4. Definisi : -

5. Ketentuan Umum

- Daftar Induk Peralatan / Mesin Produksi dan data pemeliharaan berkala selalu
dalam keadaan terkini.

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 08 Pemeliharaan dan Perbaikan Alat.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-08-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
PEMELIHARAAN DAN Status : ASLI / COPY
Tanggal Review : 10 Oktober 2018
PERBAIKAN ALAT Halaman : 4 dari 5

6. Uraian Prosedur.
BAGAN ALIR URAIAN PJ DOKUMEN
Mulai
Mulai 6.1. Membuat Daftar Induk Peralatan / Mesin Koordinator AMKA-PU-08,F01
Produksi. Mekanik GFI
6.1 6.2. Meninjau ulang Peralatan / Mesin Koordinator Catatan
Produksi. Mekanik GFI Rekomendasi
6.3. Membuat / memperbaharui Jadwal Koordinator AMKA-PU-08,F02
6.2 Pemeliharaan Peralatan / Mesin Produksi Mekanik GFI
disesuaikan kebutuhan.

6.3 6.4. Meminta persetujuan kepada Kepala Unit, Koordinator Catatan


apakah Daftar Induk dan Jadwal Mekanik GFI Rekomendasi
Pemeliharaan Peralatan / Mesin Produksi
T
disetujui ?.
6.4
x Jika tidak, kembali ke 6.1.
Y x Jika ya, lanjut ke 6.5

6.5 6.5. Melaksanakan pemeliharaan secara Mekanik GFI Rekaman


berkala.
6.6. Mengevaluasi, apakah kondisi Peralatan / Koordinator Catatan
Y
6.6 Mesin Produksi sesuai dengan kebutuhan? Mekanik GFI Rekomendasi
x Jika Tidak, lanjut 6.7.
T x Jika Ya, Selesai
6.7 6.7. Mengajukan Permintaan Perbaikan ke Mekanik GFI AMKA-PU-08,F03
Koordinator Mekanik.
Y Catatan
6.8. Mengevaluasi, apakah internal mampu GHFI Rekomendasi
6.8 untuk memperbaiki ?.
x Jika Tidak, lanjut 6.9.
x Jika Ya, lanjut 6.10.
6.9
6.9. Menggunakan pemasok untuk pelaksanaan
T perbaikan. Pengadaan/
Proyek
6.10 6.10. Melaksanakan perbaikan Peralatan / AMKA-PU-08,F04
Mesin Produksi dan diberi Label Mekanik GFIi
Pemeliharaan.
6.11 Koordinator
6.11. Melaksanakan uji unjuk kerja Peralatan /
T Mesin Produksi. Mekanik GFI
Catatan
6.12 6.12. Mengevaluasi, apakah unjuk kerja sesuai GHFI
Rekomendasi
dengan persyaratan ?.
Y x Jika Tidak, kembali 6.10.
6.13 x Jika Ya, lanjut 6.13.
AMKA-PU-08,F05
6.13. Membuat Berita Acara Unjuk Kerja Koordinator
Peralatan / Mesin Produksi. Mekanik GFI
6.14 AMKA-PU-08,F06
6.14. Mencatat hasil perbaikan ke dalam Koordinator
Riwayat Pemeliharaan Peralatan / Mesin Mekanik GFI
6.15 Produksi. Rekaman
Koordinator
6.15.Menyimpan rekaman hasil perbaikan,
Mekanik GFI
Selesai
sesuai prosedur.
Selesai.

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 08 Pemeliharaan dan Perbaikan Alat.docx
PROSEDUR No. Dokumen : AMKA-PU-08-01
Tanggal Berlaku : 10 Oktober 2017
PEMELIHARAAN DAN Status : ASLI / COPY
Tanggal Review : 10 Oktober 2018
PERBAIKAN ALAT Halaman : 5 dari 5

7. Pengecualian
Dalam keadaan mendesak, operator Peralatan / Mesin Produksi dapat mengajukan
permintaan perbaikan melalui telepon untuk segera ditindaklanjuti oleh mekanik. Mekanik
mencatat permintaan tersebut dalam form permintaan perbaikan setelah peralatan /
mesin produksi diperbaiki.

8. Lampiran .
8.1. AMKA-PU-08, F01: Form Daftar Induk Peralatan / Mesin Produksi.
8.2. AMKA-PU-08,F02 : Form Jadwal Pemeliharaan Peralatan/ Mesin Produksi.
8.3. AMKA-PU-08,F03 : Form Permintaan Perbaikan.
8.4. AMKA-PU-08,F04 : Form Label Pemeliharaan Peralatan / Mesin Produksi.
8.5. AMKA-PU-08 F05 : Form Berita Acara Unjuk Kerja Peralatan/Mesin Produksi.
8.6. AMKA-PU-08,F06 : Form Riwayat Pemeliharaan Peralatan/Mesin Produksi.

9. Daftar Istilah
- MK3L : Mutu, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Lingkungan

PT Amarta Karya (Persero), Jl. Veteran no 112 Bekasi 17141


Kode File :D:\DATA D\DATA\PT. Amarta Karya\PU\prosedur ridho\wildan\PU 08 Pemeliharaan dan Perbaikan Alat.docx
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

Contractor-EPC Energy & Steel Construction

Evaluasi Kinerja Keselamatan Konstruksi


E.

PT Amarta Karya (Persero)


Jl. Veteran No. 112 Bekasi 17141 Telp. 021-08842315 (Hunting)
Fax. 021-8842313 e-mail : operation@amka.co.id
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

Contractor-EPC Energy & Steel Construction

Pemantauan dan Evaluasi


E.1.

PT Amarta Karya (Persero)


Jl. Veteran No. 112 Bekasi 17141 Telp. 021-08842315 (Hunting)
Fax. 021-8842313 e-mail : operation@amka.co.id
Contractor-EPC Energy & Steel Construction

E.1 PEMANTAUAN DAN EVALUASI

BAGAN ALIR URAIAN

MULAI Mulai

1
1. Menerima Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja dari pihak yang terkait (internal maupun eksternal).

2
2. Melakukan Identifikasi terhadap resiko bahaya yang dapat timbul pada setiap lingkup pekerjaan

3
3. Melaksanakan Inspeksi dan pengendalian terhadap resiko-resiko bahaya yang timbul akibat pelaksanaan pekerjaan

4 4. Membuat laporan hasil Inspeksi K3 untuk setiap pekerjaan yang memiliki potensi bahaya.

Y 5. Memverifikasi laporan hasil Inspeksi, apakah sesuai dengan sasaran dan program K3 yang telah dibuat ?
5
• Jika tidak, lanjut ke 6
T • Jika ya, lanjut ke 10

6 6. Melakukan penghentian pekerjaan.

7 7. Membuat laporan pelanggaran K3

8
8. Melaksanakan Tindakan Perbaikan dan penanganan sebagai tindakan pencegahan.

T
9 9. Memverifikasi pelaksanaan tindakan perbaikan , apakah sudah sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan ?.
• Jika tidak, kembali ke 6
Y • Jika ya, lanjut ke 10

10 10. Mengkomunikasikan status pekerjaan dapat dilaksanakan ke pihak terkait (internal / eksternal)

SELESAI
Selesai
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

Contractor-EPC Energy & Steel Construction

Tinjauan Manajemen
E.2.

PT Amarta Karya (Persero)


Jl. Veteran No. 112 Bekasi 17141 Telp. 021-08842315 (Hunting)
Fax. 021-8842313 e-mail : operation@amka.co.id
Contractor-EPC Energy & Steel Construction

E.2 Tinjauan Manajemen

Hasil pemeriksaan dan evaluasi K3 diklarifikasi apakah sudah sesuai dengan tolak ukur yang telah ditetapkan pada bagian sasaran dan program K3. Jika

Tinjauan Manajemen fokus terhadap keseluruhan kinerja Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1 Kesesuaian Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja terhadap operasional dan aktivitas Perusahaan.
2 Kecukupan pemenuhan penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja terhadap Kebijakan K3 Perusahaan.
3 Keefektivan penyelesaian tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan serta hasil-hasil lain yang dicita-citakan.

Tinjauan Manajemen dilaksanakan oleh Pimpinan Perusahaan dan dilaksanakan secara berkala yang secara umum dilaksanakan minimal 1 (satu) tahun sekali
Hal-hal yang dapat dijadikan acuan dalam melaksanakan Tinjauan Manajemen antara lain :
1 Laporan keadaan darurat (termasuk kejadian serta pelatihan/simulasi/pengujian tanggap darurat).
2 Survey kepuasan tenaga kerja terhadap penerapan K3 di tempat kerja.
3 Statistik insiden kerja (termasuk kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja).
4 Hasil-hasil inspeksi.
5 Hasil dan rekomendasi pemantauan dan pengukuran kinerja K3 di tempat kerja.
6 Kinerja K3 kontraktor.
7 Kinerja K3 pemasok.
8 Informasi perubahan peraturan perundang-undangan dan persyaratan lain yang berkaitan dengan penerapan K3 di tempat kerja.
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)

Contractor-EPC Energy & Steel Construction

Peningkatan Kinerja Keselamatan Konstruksi


E.3.

PT Amarta Karya (Persero)


Jl. Veteran No. 112 Bekasi 17141 Telp. 021-08842315 (Hunting)
Fax. 021-8842313 e-mail : operation@amka.co.id
Contractor-EPC Energy & Steel Construction

E.3 PENINGKATAN KINERJA KESELAMATAN KONSTRUKSI

No. Jenis Peningkatan Kinerja Upaya Peningkatan Kinerja Penanggung Jawab


1 Umum 1 Semua pekerja dan semua orang wajib mematuhi semua tanda-tanda / rambu-rambu Pelaksana Supervisi/K3
2 Pekerja harus memperhatikan dan mengindahkan petunjuk-petunjuk yang
diberikan oleh atasan dan harus berhati-hati terhadap semua orang yang berada dalam
ruang kerjanya;
3 Sebelum memulai pelaksanaan suatu pekerjaan, harus dipastikan bahwa pekerja telah
mendapatkan pengenalan / sosialisasi mengenai peraturan umum keselamatan dari
petugas K3 di tempat kegiatan kerja;
4 Pekerja, tamu dan umum selama berada di area proyek PT. Amarta Karya tidak diijinkan
mengadakan permainan judi dan / atau perjudian lainnya, mabuk dan mengkonsumsi
narkoba yang membuat situasi cenderung membuat keonaran sehingga mengganggu
ketentraman dan ketertiban bekerja;
5 Semua peralatan dan alat bantu kerja harus telah dipastikan keamanannya untuk
digunakan;
6 Setiap pekerja wajib memakai alat pelindung diri / keselamatan kerja

2 Kesehatan Kerja 1 Pemeriksaan Kesehatan sebelum pekerjaan dimulai (tenaga kerja mulai dipekerjakan) Pelaksana Supervisi/K3
dengan menugaskan atau menunjuk dokter yang berkompeten sesuai dengan peraturan
yang berlaku;
2 Melakukan pemeriksaan kesehatan dan membuat rencana pemeriksaan
kesehatan berkala dan pemeriksaan khusus sebelum bekerja;
3 Untuk pekerjaan – pekerjaan tertentu perlu dilaku-kan pemeriksaan yang sesuai dengan
kebutuhan guna mencegah bahaya yang diperkirakan timbul (misal : jantung, mata, dll.)

4 Jika 3 ( tiga ) bulan sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan oleh dokter dan tidak ada
keragu – raguan maka tidak perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan sebelum kerja.

3 Kebersihan Lokasi Kerja 1 Bahan – bahan yang tidak terpakai dan tidak diperlukan lagi harus dipindahkan ke tempat Pelaksana Supervisi/K3
yang aman.
2 Bahan bongkaran dan lain-lain yang sudah tidak terpakai tersebut harus dibuang /
diangkut ke luar lokasi pekerjaan atau ke tempat pembuangan yang aman;
3 Tidak diperbolehkan membuang bahan kimia dan bahan beracun dan berbahaya atau
bahan / sisa bahan yang mengandung zat tersebut yang dapat mencemari tanah dan air
dan lingkungan;
4 Tidak diijinkan membuang sisa material ke dalam saluran drainase alami
5 Limbah sebelum dibuang harus dipisahkan dan diperlakukan sesuai
peraturan penanganan limbah

4 Kebisingan 1 Kebisingan harus diidentifikasi dan diukur sesuai persyaratan perundangan. Orang yang Pelaksana Supervisi/K3
terkena kebisingan harus didata agar mudah menentukan peserta pelatihan penilaian dan
pngendalian resiko di tempat kerja dan juga rencana pemeriksaan kesehatan.

2 Kebisingan yang membahayakan bagi tenaga kerja harus dikurangi sampai di bawah nilai
ambang batas.
3 Kebisingan tempat kerja tidak boleh melebihi ketentuan Nilai Ambang Batas yang berlaku.

4 Jika bekerja pada atau dekat mesin yang bising, yakinkan bahwa mesin yang bising
diisolasi untuk sedapat mungkin mengisolasi kebisingan dari pekerja.
5 Kebisingan diatas nilai ambang batas tidak boleh terpapar secara terusmenerus selama 8
jam .. Pada setiap jangka waktu tertentu harusdiistirahatkan
6 Jika kebisingan tidak dapat diatasi secara teknis maka tenaga kerja harus memakai alat
pelindung telinga (ear protectors)

5 Penanganan Keadaan Darurat 1 Evakuasi untuk keadaan darurat dan pertolongan pertama harus dibuat sebelumnya untuk Pelaksana Supervisi/K3
setiap daerah tempat bekerja meliputi seluruh pegawai / petugas, pertolongan pertama
pada kecelakaan (P3K) dan peralatan, alat – alat komunikasi, alat – alat jalur transportasi
harus telah dipersiapkan dan tersedia;
2 Isi kotak obat diidentifikasi dari potensi bahaya di area kerja
3 Petunjuk / informasi harus diumumkan ditempel di tempat yang baik (strategis) yang
memberitahukan : (1) Tempat yang terdekat dengan kotak obat – obatan, alat – alat P3K,
ruang P3K, ambulans, kereta untuk orang sakit dan tempat dimana dapat dicari orang
yang bertugas untuk urusan kecelakaan; (2) Nama, alamat, nomor telpon dokter, rumah
sakit dan tempat penolong yang dapat segera dihubungi dalam keadaan darurat /
emergency.

6 Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Semua supervisor di tempat kerja harus dilatih P3K dan mempunyai sertifikat P3K yang Pelaksana Supervisi/K3
bertaraf nasional. Sejumlah karyawan yang memenuhi syarat harus dilatih P3K.
Fasilitas P3K harus dapat dilaksanakan pada tempat yang nyaman pada tiap tempat kerja.
Pusat P3K harus dibangun pada tiap tempat kerja yang luas / besar dengan peralatan yang
memadai dan harus mudah diidentifikasikan, dijaga kebersihannya, dicatat yang baik, dan
penerangan dan ventilasi yang mencukupi / cocok. Penyediaan sediaan medis yang cukup
untuk pengobatan, bidai, tandu dan obat – obatan harus disediakan. Pusat P3K harus
mempunyai air mengalir yang bersih.
Perlengkapan keadaan darurat misalnya tandu / usungan, dan telephone harus tersedia di
Pusat P3K.
Kotak – kotak P3K yang mencukupi berisi perlengkapan dan persediaan obat – obatan
harus disediakan di tempat kerja di bawah pengawasan supervisor.
Contractor-EPC Energy & Steel Construction

Cara – cara harus ditentukan dan dipublikasikan untuk keadaan darurat dari pada
karyawan yang cedera dari tempat kerja, persiapan P3K dan dimana perlu, untuk medis
atau pengobatan rumah sakit / dokter setempat .
Pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan atau penyakit yang tiba – tiba, harus dilakukan
oleh dokter, Juru Rawat atau seorang yang terdidik dalam pertolongan pertama pada
kecelakaan (P3K)

7 Tempat Kerja dan Alat-alat Kerja 1 Disetiap tempat kerja harus dilengkapi dengan sarana untuk keperluan keluar masuk bagi Pelaksana Supervisi/K3
pekerja dan karyawan yang bekerja ditempat tersebut
2 Tempat – tempat kerja, tangga – tangga, lorong – lorong dan gang – gang tempat orang
bekerja atau tempat-tempat yang sering dilalui, harus diberi penerangan yang cukup .

3 Semua tempat kerja harus mempunyai ventilasi yang cukup sehingga dapat mengurangi
bahaya akibat debu, uap dan bahaya lainnya.

8 Pencegahan Dari Bahaya Kejatuhan Benda 1 Tindakan pencegahan harus dilakukan untuk menjamin bahwa peralatan perancah, alat – Pelaksana Supervisi/K3
alat kerja, bahan – bahan dan benda – benda lainnya tidak dilemparkan, diluncurkan atau
dijatuhkan ke bawah yang dapat menyebabkan kecelakaan.
2 Di lokasi yang mungkin terjadi seperti itu, harus diberi pagar / tali / tanda pengaman dan
rambu-rambu
3 Di lokasi yang mungkin terjadi seperti itu, harus diberi pagar / tali / tanda pengaman dan
rambu-rambu
4 Pengamanan pada daerah terbuka / lubang, diberikan, rambu-rambu peringatan, batasan
masuk ke lokasi / atau daerah terlarang

9 Larangan Memasuki Lokasi Kerja 1 Pengamanan pada daerah terbuka / lubang, diberikan, rambu-rambu peringatan, batasan Pelaksana Supervisi/K3
masuk ke lokasi / atau daerah terlarang
2 Apabila karena alasan tertentu harus memasuki / melewati tempat kerja harus : (1)
Memakai Alat Pelindung Diri (APD); (2) Ada ijin dari petugas atau didampingi petugas
yang lebih mengetahui kondisi tempat kerja; (3) Tidak boleh membawa benda atau
peralatan yang dapat menimbulkan bahaya.

10 Tanda Peringatan, Rambu-Rambu dan Alat 1 Tanda keselamatan kerja yang standar harus digunakan ditempat kerja : (1) Di tempat Pelaksana Supervisi/K3
Pelindung Diri dimana bahaya tidak mudah di ketahui seperti pada pekerjaan penggalian dan kegiatan –
kegiatan di bagian atas; (2) Di tempat dimana terdapat sudut / bagian tersembunyi di
lapangan yang mungkin menimbulkan bahaya (tikungan ) bagi kendaraan harus dipasang
kaca.
2 Penempatan Tanda Bahaya
3 Papan pengumuman atau rambu petunjuk dipasang pada tempat – tempat yang menarik
perhatian; tempat yang strategis yang menyatakan dimana kita dapat menemukan Alarm
kebakaran serta Nomor telpon dan alamat – alamat Dinas Pemadam Kebakaran yang
terdekat.

11 Alat Pelindung Diri 1 Alat pelindung diri harus di identifikasi berdasarkan tabel penilaian resiko dan dibuat data Pelaksana Supervisi/K3
pajanan karyawan di area yang membutuhkan APD.
2 Alat pelindung diri (APD) harus diberikan oleh Pengurus kepada pekerja, dan harus
dengan kualitas yang baik dan cocok untuk dapat memberikan perlindungan yang cukup,
dan dipelihara oleh pekerja;
3 Pengenalan dan pelatihan tentang penggunaan dan pemeliharaan alat pelindung diri harus
dilaksanakan.
4 Helm harus diberikan kepada semua pekerja yang tidak terlindung dari bahaya jatuhnya
benda atau kemungkinan terkena benturan.
5 Helm harus diberikan kepada semua pekerja yang tidak terlindung dari bahaya jatuhnya
benda atau kemungkinan terkena benturan.
6 Dalam menangani bahan yang kasar, sarung tangan harus diberikan dan dipakai;
7 Dalam menangani bahan yang kasar, sarung tangan harus diberikan dan dipakai;
8 Dalam menangani bahan yang kasar, sarung tangan harus diberikan dan dipakai;
9 Sarung tangan kulit dengan insulasi listrik digunakan pekerja yang
berhubungan dengan pekerjaan listrik;
10 Alat pelindung kaki (safety shoes) harus diberikan pada semua pekerja yang tak
terlindung dari bahaya terhadap kaki dengan ukuran yang cocok dan enak dipakai
11 Sabuk pengaman harus diberikan apabila peralatan lain tidak memungkinkan. Titik
angkur penguat dan tali pengaman keduanya diberikan untuk mengaitkan sabuk tersebut
hingga mempunyai kekuatan yang cukup. Tali pusat harus dipasang dengan ketentuan
bahwa pemakai akan tertahan oleh sabuk pengaman dengan jatuh bebas tidak lebih dari
1,5 (satu koma lima) meter
12 Penahan kebisingan (ear plugs atau ear muffs) harus diberikan untuk tempat kerja dimana
tingkat kebisingan melebihi 85 dB (A)
13 Alat pelindung pernapasan harus diberikan oleh pengusaha dan dipakai oleh pekerja pada
tempat kerja dengan tingkat debu yang tinggi, berasap / uap logam (cat) dan bilamana
kontrol terhadap sumbernya tidak dapat dilaksanakan.
14 Pakaian tahan air (mantol) digunakan pekerja yang bekerja di terowongan yang terdapat
curahan air, bekerja ditempat terbuka pada saat hujan, di tempat yang terdapat curahan
bahan kimia bersifat asam.

12 Alat Angkat 1 Alat–alat angkat harus direncanakan dipasang, dilayani dan dipelihara sedemikian rupa Pelaksana Supervisi/K3
sehingga terjamin keselamatan dalam pemakaiannya;
2 Peralatan dari alat alat angkat harus direncanakan dengan matang, agar tidak
menimbulkan kecelakaan. Kecelakaan yang mungkin terjadi antara lain :
a. Muatan yang melebihi kapasitas
b. Kerusakan mesin
c. Kabel baja pengangkat putus
d. Terjepit
Contractor-EPC Energy & Steel Construction

3 Kran angkat yang dipakai, dibuat dan dipertimbangkan terhadap :


a. Perimbangan dari setiap bagian peralatan bantu yang besarnya muatan yang
diangkat;
b. Pengaruh, kondisi dan ragamnya muatan dan kekuatannya;
c. Perpasang;
d. Mempertimbangkan tegangan :
e. Setiap kran angkat yang tidak direncanakan untuk mengangkut muatan kerja
maksimum yang diijinkan pada semua posisi yang dapat dicapai, harus
mempunyai petunjuk radius muatan;
f. Derek (Derricks) harus direncanakan dan dibangun sedemikian rupa sehingga
terjamin kestabilannya waktu bekerja;
g. Kaki rangka yang berbentuk segitiga, harus terbuat dari bahan yang memenuhi syarat
dan terjamin keamanannya waktu mengangkat beban maksimum
4 Memperhatikan Persyaratan Operator Alat Angkat
5 Operator keran angkat (crane) harus memenuhi kompetensi operator keran
angkat sesuai peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per. 01/MEN/1989, tentang
klasifikasi syarat-syarat Operator Keran Angkat;
6 Setiap operator keran angkat harus memiliki SIO (Surat Ijin mengoperasikan) alat, yang
dikeluarkan oleh badan yang berwenang;
7 Operasi keran angkat harus oleh operator yang telah mendapatkan sertifikasi
pelatihan dan mempunyai SIO
8 Penempatan Operator di pesawat angkat harus sesuai dengan kelas / tingkatan
kemampuan angkat keran tersebut.

13 Bengkel dan Motor Pool 1 Hal - hal yang perlu diperhatikan untuk pekerjaan ini adalah: Pelaksana Supervisi/K3
a. Pemasangan dan pembongkaran peralatan / suku cadang (parts) harus dikomando/
diperintah oleh foreman;
b. Bila melakukan pengecekan boom dan mengangkat body dump truck untuk
keselamatan harus dipasang ganjal dengan kayu atau balok yang kuat;
c. barang - barang yang ada di atas truk atau trailer harus diikat dengan jaring atau
rantai terhadap body truk agar tidak terjadi kecelakaan. Bila membongkar barangbarang
berat agar ditempat yang rata dan aman;
d. Alat Pelindung Diri berupa kacamata debu, kaos tangan dan pelindung yang lain
bila anda sedang melaksanakan pekerjaan pengelasan dengan asitilin atau listrik.
Pangaman di sekitar tempat kerja harus dipasang untuk mencegah masuknya
orang yang tidak berkepentingan;
e. Pengaman atau pagar harus dipasang pada turbine shaft, puli mesin grinda, dan bagian
berputar lainnya;
f. Semua alat-alat listrik agar diberi / dipasang kabel aarde / grounding;
g. alat pemadam kebakaran harus disediakan bila terdapat bahan bakar dan
memasang tanda / rambu “Barang Mudah Terbakar”.