Anda di halaman 1dari 2

2.

3 Terminal Penumpang
Terminal Penumpang adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan
menurunkan dan menaikkan penumpang, perpindahan intra dan/atau antar moda
transportasi serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum.

2.3.1 Tipe Terminal Penumpang


Berdasarkan Keputusan menteri perhubungan tahun 1995 tentang terminal, terminal
penumpang dibagi menjadi 3 tipe yaitu:
1) Terminal tipe A
Merupakan terminal yang paling lengkap dari segi fasilitasnya serta memerlukan lahan
yang cukup luas sekurang-kurangnya 5 hektar. Terminal ini melayani kendaraan umum
antar kota antar provinsi + bus malam, angkutan kota dalam provinsi dan angkutan
pedesaan. kotamadya atau kabupaten dalam jaringan trayek antar kota antar propinsi
dan/atau angkutan lintas batas negara. Syarat terminal tipe A terletak di ibu kota provinsi,
kotamadya selain itu lokasinya harus terletak di jalan arteri dengan kelas jalan III A, yakni
jalan arteri yang dapat dilalui kendaraaan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar
tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 18.000 milimeter dan muatan
sumbu terberat tidak melebihi 8 ton. (Tipe A dapat menampung 50-100 angkutan tiap jam).

2) Terminal tipe B
Terminal tipe B setingkat dibawah terminal tipe A, kebutuhan lahannya sekitar 3 hektar
dan berfungsi untuk melayani kendaraan umum angkutan antar kota antar provinsi, antar
kota dalam provinsi, angkutan kota dan angkutan pedesaan. Syarat lokasi terminal tipe B
diantaranya terletak di kotamadya atau kabupaten dan dalam jaringan trayek AKDP. Syarat
lainnya adalah terminal tipe ini harus terletak di jalan arteri atau kolektor dengan kelas jalan
sekurang-kurangnya kelas III B, yakni jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan 6 bermotor
termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2500 milimeter, ukuran panjang tidak
melebihi 12.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat (dapat menampung 25-50 angkutan
tiap jam).

3) Terminal tipe C
Terminal tipe B setingkat dibawah terminal tipe B. Terminal ini melayani kendaraan
umum untuk angkutan pedesaan. Syarat lokasi terminal ini terletak di dalam wilayah
Kabupaten Daerah Tingkat II dan dalam jaringan trayek angkutan pedesaan. Selain itu,
terminal ini harus terletak di jalan kolektor atau lokal dengan kelas jalan paling tinggi III A.
Terminal ini juga harus mempunyai jalan akses masuk atau keluar ke dan dari terminal,
sesuai kebutuhan untuk kelancaran lalu lintas sekitar terminal. (hanya menampung dari 25
angkutan tiap jam ).
Untuk lebih jelasnya akan ditampilkan tabel tentang karakteristik terminal penumpang
menurut kelas terminal dan hubungan terminal dengan pelayanan angkutan penumpang,
berikut merupakan tabel tersebut:
Tabel 2.x Karakteristik Terminal Menurut Kelas Terminal
No. Kriteria Terminal Tipe A Terminal Tipe B Terminal Tipe C
1 Jaringan Trayek AKAP + Tipe B AKDP + Tipe C Angdes/Angkot
2 Lokasi Jl. Arteri Primer Jl. Arteri/Kolektor Jl. Kolektor/lokal
Primer sekunder
3 Kelas Jalan Minimal III A Minimal III B Minimal III B
4 Jarak minimal antar 2 Minimal 20 Km Minimal 15 Km -
(dua) terminal
5 Luas lahan Minimal 5 Ha Minimal 3 Ha Sesuai
permintaan
6 Akses keluar masuk Minimal 100 m Minimal 50 m Sesuai
terminal kebutuhan
Sumber: Departemen Perhubungan, 1996

Tabel 2.x Hubungan Terminal dengan Pelayanan Angkutan Penumpang


No. Pelayanan Angkutan Tipe Terminal Trayek
1 Lintas batas Negara A; Pemberangkatan –
Persinggahan - Tujuan
2 Antar kota antar Provinsi B; Pemberangkatan –
Persinggahan - Tujuan
3 Antar kota dalam Provinsi A&B, Pemberangkatan -
Persinggahan-Tujuan
4 Kota Utama Cabang
Ranting
5 Pedesaan C. Pemberangkatan –
Persinggahan - Tujuan
Sumber: Departemen Perhubungan, 1996