Anda di halaman 1dari 8

Pengembangan Livelihood dalam Program KOTAKU

Ditulis oleh: Budi Yana Saifullah, TA Livelihood KMP KOTAKU Wilayah 1

A. Konsep dan Pengembangan Kegiatan Livelihood dalam Program KOTAKU


1. Konsep Dasar
Pengembangan ekonomi lokal menjadi prasyarat kunci untuk memperbaiki kondisi
ketertinggalan dan ketimpangan penghidupan kelompok Masyarakat Berpenghasilan
Rendah (MBR) yang umumnya dimanifestasikan oleh rendahnya kemampuan
ekonomi dan akses mereka terhadap permukiman yang layak huni dan
berkelanjutan. Secara umum kelompok MBR tersebut dapat bertahan hidup di
kawasan permukiman kumuh dengan mengandalkan pada kegiatan usaha skala
mikro dan pekerja rendahan/buruh.
Livelihood (penghidupan masyarakat) merupakan pendekatan dalam pemberdayaan
ekonomi lokal yang dilakukan Program KOTAKU dalam upaya meningkatkan
kesejahteraan dan kualitas penghidupan MBR di kawasan permukiman kumuh.
Grand strategy pemberdayaan ekonomi lokal (economic empowerment) bagi MBR
yang dikembangkan Program KOTAKU adalah mengintegrasikan kegiatan
pemberdayaan ekonomi masyarakat di level komunitas/kelurahan dengan level
kabupaten/kota, sebagai berikut:
a. Pengembangan kapasitas dan akses ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah
melalui strategi pengembangan kelembagaan dan kegiatan usaha Kelompok
Swadaya Masyarakat (KSM) di level komunitas/kelurahan melalui kegiatan
Peningkatan Penghidupan Masyarakat berbasis Komunitas (PPMK), serta
pengembangan akses pasar, produk dan kapasitas SDM bagi KSM pada level
kabupaten/kota melalui kegiatan Pusat Pengembangan Usaha (Business
Development Center/BDC).
b. Dalam mendukung pengembangan kapasitas dan akses ekonomi masyarakat
berpenghasilan rendah tersebut, maka dirumuskan strategi perluasan akses
pembiayaan bagi masyarakat miskin/berpenghasilan rendah melalui kegiatan
pengembangan layanan Keuangan Mikro UPK-BKM di level komunitas/kelurahan
melalui pendekatan konvensional/syariah dan pengembangan kemudahan akses
transaksi dan layanan melalui Digital Financial Services (DFS), serta
pengembangan layanan keuangan mikro di level kabupaten/kota melalui Federasi
UPK.
2. Pengembangan Kapasitas dan Akses Ekonomi Masyarakat Berpenghasilan Rendah
a. Peningkatan Penghidupan Masyarakat berbasis Komunitas (PPMK)
Pembelajaran (lesson learned) dari kegiatan ekonomi pada Program ICDD
bahwa pendekatan dalam mengembangkan penghidupan masyarakat tidak
bisa hanya pendekatan akses terhadap financial capital melalui kegiatan
pinjaman dana bergulir semata tetapi juga harus secara bersamaan
(terintegrasi) dengan penguatan akses terhadap sumber daya lainnya yang
disebut livelihood asset, meliputi: sumber daya manusia (human capital),
sumber daya sosial (social capital), sumber daya alam (natural capital), sumber
daya fisik (physical capital) dan sumberdaya keuangan (financial capital).
Pendekatan livelihood pada ICDD dilakukan melalui kegiatan PPMK. Kegiatan
PPMK sudah berjalan di 1.441 kelurahan (596 kelurahan tahun 2012 dan 845
kelurahan tahun 2014) yang tersebar di 14 provinsi. Kegiatan PPMK ini cukup
efektif memberikan dampak terhadap:
1) Penguatan kelompok dalam menumbuhkan nilai-nilai sosial dan kearifan
lokal (social capital) melalui kegiatan pertemuan rutin dan menabung, serta
akses terhadap pinjaman dan bergulir UPK-BKM (financial capital) melalui
kegiatan pinjaman dan angsuran rutin;
2) Penguatan usaha KSM melalui peningkatan kapasitas SDM (human capital)
melalui pelatihan vocational, sumber daya alam (natural capital) melalui
kegiatan pengembangan produksi berbasis sumber daya alam, dan sumber
daya fisik (phisical capital) melalui kegiatan fisik/infrastruktur yang
mendukung ekonomi masyarakat seperti pembangunan akses jalan
lingkungan ke tempat-tempat produksi masyarakat, pertanian dan lain
sebagainya.
PPMK akan terus dikembangkan dalam Program KOTAKU sebagai pendekatan
dan tools untuk meningkatkan penghidupan dan kesejahteraan masyarakat
berpenghasilan rendah yang tergabung dalam KSM di seluruh lokasi
kelurahan/desa program, baik lokasi peningkatan kualitas (kumuh) maupun
lokasi pencegahan.
b. Business Development Center (BDC)
Keberlanjutan pengembangan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah
yang tergabung dalam KSM melalui kegiatan PPMK di level kelurahan secara
bertahap memiliki potensi dan kebutuhan untuk dikembangkan lebih lanjut
pada skala wilayah yang lebih luas (minimal kota). Kebutuhan pengembangan
tersebut akan efektif bila didukung dan sinergi dengan kebijakan dan program
Pemerintah Daerah (Pemda) dalam mengembangkan ekonomi daerah.
Pelaksanaan Pilot BDC di 15 Kabupaten/Kota pada Program ICDD memberikan
pembelajaran bahwa melalui BDC, Pemda dan kelompok peduli (stakeholders)
dapat berperan aktif dalam mendukung pengembangan usaha KSM melalui
program-program SKPD terkait, pengembangan akses pasar, teknologi dan lain
sebagainya. Lebih dari 200 KSM di 15 Kabupaten/Kota lokasi BDC sudah
mendapatkan layanan BDC diantaranya berupa promosi dan pemasaran
produk, pengembangan kemasan produk, pengembangan desain dan
difersifikasi produk, fasilitasi akses perizinan usaha, fasilitasi kemudahan
mendapatkan bahan baku dan lain sebagainya.
BDC akan terus dikembangkan sedikitnya di 15 Kab/Kota baru dalam Program
KOTAKU sebagai simpul kolaborasi dan kemitraan dalam pengembangan
ekonomi lokal di level kota untuk mendukung pengembangan potensi usaha
dan akses masyarakat berpenghasilan rendah yang tergabung dalam KSM
sebagai keberlanjutan dari kegiatan PPMK di level kelurahan.
c. Pengembangan Kapasitas Masyarakat dalam PPMK
Pengembangan kapasitas masyarakat dalam PPMK dilakukan melalui
pendampingan dan pelatihan. Pengembangan kapasitas ini bertujuan untuk
meningkatkan kapasitas masyarakat khususnya KSM agar memiliki kesadaran,
motivasi dan pemahaman yang baik dalam manfaat berkelompok,
menemukenali potensi dan sumberdaya penghidupannya (livelihood asset),
meningkatkan enterpreuneurship (motivasi usaha), manajemen usaha,
keterampilan produksi dan akses/kemitraan yang dapat mendukung
kemandiriannya.
Kurikulum pelatihan yang dikembangkan dalam PPMK terdiri atas tiga tahap
yaitu: 1) Pelatihan Orientasi dan Perencanaan Usaha; 2) Pelatihan Penguatan
dan Pengembangan; dan 3) Pelatihan Vocational.
Materi dari masing-masing pelatihan adalah sebagai berikut:
1) Pelatihan Orientasi dan Perencanaan
Dalam Pelatihan ini diberikan materi antara lain:
 Pemahaman tentang konsep dasar, kententuan umum dan tahapan
pelaksanaan PPMK;
 Pemetaan usaha produktif di kelurahan dan usaha mikro KSM peserta
PPMK;
 Pemahaman tentang manajemen organisasi dan keuangan.
Khusus bagi KSM diberikan juga materi tentang:
 Kelembagaan KSM yang sehat yaitu adanya aturan kelompok, pertemuan
rutin, Pengelolaan Ekonomi Rumah Tangga (PERT), tabungan, pinjaman,
angsuran dan tanggung renteng;
 Perencanaan usaha; dan
 Pembukuan KSM.
2) Pelatihan Penguatan dan Pengembangan
Dalam pelatihan ini diberikan materi untuk penguatan pemahaman tentang
PPMK serta materi lanjutan yaitu:
 Review kelembagaan KSM dan UP terkait fungsi pelayanan terhadap
KSM;
 Identifikasi kebutuhan KSM untuk dapat berkembang dan potensi mitra;
 Merumuskan perencanaan dan strategi kemitraan;
 Review perkembangan usaha KSM, manajemen organisasi dan keuangan.
Khusus bagi KSM diberikan juga materi tentang:
 Review perkembangan kelembagaan KSM;
 Pengelolaan usaha, pengembangan produk dan strategi pemasaran;
 Reveiw penerapan pembukuan usaha;
 Strategi kemitraan usaha bagi KSM.
3) Pelatihan Vocational
Pelatihan ini diberikan khusus buat KSM sesuai dengan kebutuhan dalam
meningkatkan keterampilan usahanya. Contoh jenis pelatihan vocational
diantaranya: pelatihan meningkatkan keterampilan teknik produksi
makanan olahan (seperti keripik aneka rasa, abon ikan, kue basah dan lain-
lain), kerajinan (seperti daur ulang sampah, kerajinan berbahan baku
bambu, kayu dan lain-ain), tenun, bordir, sepatu/sendal kulit dan lain
sebagainya.
3. Perluasan Akses Pembiayaan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah
a. Kegiatan Layanan Keuangan Mikro UPK-BKM
Kegiatan pinjaman dana bergulir (PDB) dengan pendekatan Reguler yang sudah
dilaksanakan sejak ICDD I tahun 2009 dan pendekatan PPMK dilaksanakan
mulai ICDD II tahun 2012 sudah memberikan dampak positif dalam kemudahan
akses layanan pembiayaan bagi masyarakat miskin. Sampai saat ini penerima
manfaat PDB dari masyarakat miskin yang tergabung dalam KSM mencapai
110.505 KSM aktif yang tersebar di 14 Provinsi (Data SIM KM status Nov 2016).
Pembelajaran dari kegiatan PDB dengan pendekatan Reguler dan PPMK
diantaranya adalah, bahwa skim pinjaman akan lebih tepat dan sesuai
kebutuhan masyarakat bila ada pilihan-pilihan bagi masyarakat sesuai dengan
karakteristik pendapatan usahanya yang bervariasi, ada yang harian/mingguan,
bulanan dan musiman. Maka skim yang erkait frekwensi pengembalian
pinjaman dapat dikembangkan dengan pilihan mingguan, bulanan atau
musiman.
Setelah mengembangkan skema dari reguler ke PPMK dengan pola
konvensional, selanjutnya ICDD III juga memberikan kesempatan pembelajaran
juga kepada masyarakat melalui kegiatan pinjaman dana bergulir dengan
sistem syariah. Sistem syariah merupakan salah satu alternatif layanan
pinjaman dana bergulir oleh UPK-BKM kepada masyarakat. Pengenalan dan
penerapan sistem syariah ini diawali dengan pilot project di 15 kelurahan yang
ada di 3 Kabupaten/Kota, yaitu Kota Bogor Jawa Barat, Kota Tengerang Selatan
Banten, dan Kota Pariaman Sumatera Barat pada tahun 2014.
Kegiatan pilot keuangan mikro syariah di 3 Kab/Kota memberikan
pembelajaran baik prosedur maupun skim pinjaman yang dapat mendorong
tanggung jawab bersama masyarakat lebih baik seperti pelatihan wajib
kelompok sebelum mendapat pembiayaan (pinjaman), pembacaan ikrar secara
rutin dalam pertemuan kelompok, skim pinjaman mingguan dan
pengembangan model kelompok masyarakat yang menerapkan mekanisme
pertemuan rutin mingguan dan tanggung renteng antar anggota kelompok
(model grameen).
Pembelajaran positif dari pelaksanaan model PDB, PPMK dan Pilot Keuangan
Mikro Syariah pada program ICDD menjadi konsep pengembangan keuangan
mikro pada Program KOTAKU yang lebih terintegrasi dan sesuai kebutuhan
masyarakat (baik untuk usaha maupun non usaha) serta dapat memperluas
akses dan pilihan masyarakat terhadap layanan keuangan mikro dengan sistem
kovensional atau syariah.
b. Kegiatan Digital Financial Services (DFS)
Kegiatan layanan keuangan mikro yang dilaksanakan di tingkat masyarakat
masih menggunakan model transaksional antara petugas UPK dengan anggota
KSM sehingga dari sisi waktu dan prosesnya pun cukup lama, oleh karena itu
perlu mengembangkan konsep yang dapat mempermudah transaksi dan
layanan bagi masyarakat mengikuti perkembangan era digital. Untuk
mendukung hal tersebut Program KOTAKU akan menginisiasi konsep dan
strategi Digital Financial Services (DFS) yang dapat diterapkan di masyarakat.
DFS adalah layanan finansial atau perbankan yang dapat dinikmati secara
digital oleh masyarakat dalam rangka keuangan inklusif untuk mendekatkan
layanan perbankan kepada masyarakat terutama di daerah pelosok dan
mendorong masyarakat terutama anggota KSM untuk membuka tabungan dan
melakukan transaksi dengan berbagai pihak.
c. Federasi UPK
Dalam upaya meningkatkan kinerja dan memperluas akses layanan keuangan
mikro bagi masyarakat miskin dan berpenghasilan rendah, selain layanan
keuangan mikro di level kelurahan yang dilakukan oleh UPK-BKM, Program
KOTAKU juga menginisiasi dan mengembangkan layanan keuangan mikro di
level kabupaten/kota melalui kegiatan Pilot Federasi Unit Pengelola Keuangan
(Federasi UPK) di kab/kota terpilih.
Federasi UPK adalah suatu konsep kelembagaan dan pelayanan yang
mensinergikan UPK-UPK untuk lebih efisien dan memberdayakan. Dengan
adanya Federasi UPK, maka beberapa fungsi yang seharusnya ada di tingkat
kelurahan (UPK) dilakukan kantor Federasi yang ada di tingkat Kota sehingga
lebih efisien.
B. Capaian Pelaksanaan Kegiatan Ekonomi/Livelihood dalam ICDD
1. Jumlah KSM yang sudah mendapat layanan pinjaman dana bergulir secara
keseluruhan (Reguler dan PPMK) status data SIM KM bulan Nopember 2016,
sejumlah 219.725 KSM dengan jumlah anggota 1.122.593 orang dengan nilai
pinjaman sebesar Rp1.155.519.489.316. Selanjutnya sampai dengan saat ini KSM
yang aktif sejumlah 110.505 KSM dengan jumlah anggota KSM sebanyak 575.212
orang dengan saldo pinjaman sebesar Rp336.674.797.868.
2. Kinerja Pinjaman dana bergulir (PAR) sebagai berikut:
Kinerja secara keseluruhan (reguler dan PPMK)

Sumber SIM KM

Kinerja PDB lokasi PPMK

Sumber : Data Manual


Kinerja PDB lokasi Syariah

Sumber: Data Manual

Bila melihat indikator kinerja Pinjaman dana bergulir, kinerja PDB secara menyeluruh
(Reguler dan PPMK) masuk katagori Penundaan (Suspend) dan katagori kinerja PPMK
juga Penundaan (Suspend) sedangkan kinerja KMS berkategori Minimum.
3. Capaian Pelaksanaan Pilot BDC
Pelaksanaan Pilot BDC sudah berjalan di 15 kabupaten/kota. Sampai saat ini sedang
proses pelaksanaan kegiatan dan usaha dalam meningkatkan kapasitas sumberdaya
dan usaha KSM.
Bentuk-bentuk kegiatan BDC meliputi: fasilitasi pengembangan usaha KSM
(diantaranya pemasaran, pengembangan produksi dan kualitas produk KSM),
penguatan kapasitas serta kegiatan advokasi kebijakan. Jumlah KSM dan anggota
KSM yang sudah fasilitasi BDC per tanggal 31 Desember 2016 secara rinci sebagai
berikut :
JUMLAH JUMLAH ANGGOTA JUMLAH
JUMLAH JUMLAH
No KOTA / KABUPATEN ANGGOTA KSM YANG SUDAH TENAGA
KELURAHAN KSM
KSM DIFASILITASI BDC KERJA
1 KOTA MEDAN 5 8 28 8 35
2 KOTA PARIAMAN 6 6 30 22 30
3 KOTA JAMBI 8 9 12 12 17
4 KOTAPAGAR ALAM 5 5 35 28 6
5 KOTA PALEMBANG 3 4 20 20 21
6 KOTA BANDAR LAMPUNG 9 15 92 38 22
7 KOTA METRO 6 8 35 10 34
8 KABUPATEN PRINGSEWU 3 12 60 42 118
9 KABUPATEN TANGGERANG 24 38 233 39 205
10 KOTA PONTIANAK 9 23 107 34 79
11 KOTA BANDUNG 24 29 130 37 82
12 KABUPATEN BOGOR 4 6 35 6 72
13 KOTA TASIKMALAYA 12 13 75 15 33
14 KABUPATEN GARUT 6 7 45 9 28
15 KABUPATEN PANGANDARAN 5 29 54 54 74
JUMLAH TOTAL 129 212 991 374 856
Sumber : Data Manual

4. Capaian Pelaksanaan Pilot Federasi UPK


Capaian pelaksanaan Pilot Federasi UPK sampai saat ini sudah dilakukan Feasibility
Study dalam rangka memastikan kesiapan konsep dan implementasi Pilot Federasi
UPK di 3 Kota yaitu: Kota Bogor, Kota Tangerang Selatan dan Kota Pariaman.
5. Analisis
Secara konsep, baik di PPMK dan Keuangan Mikro Syariah (KMS) lebih bagus
dibanding dengan reguler namun kinerja PPMK juga tidak baik sedangkan di KMS
nilai PAR di 3 bulan terakhir juga naik walaupun masih berkatagori minimum. Kondisi
ini disebabkan:
a. Pendampingan kelembagaan dan usaha di KSM masih lemah oleh UPK dan tim
korkot, terutama fasilitator termasuk pelibatan relawan atau kelompok peduli
dalam pendampingan KSM kurang;
b. Pengendalian belum berjalan optimal;
c. Tim korkot terutama fasilitator belum memiliki jiwa/pengalaman dalam
berwirausaha.
Sementara dalam pelaksanaan Pilot BDC:
a. Secara umum BDC belum optimal dalam mengelola usahanya dan memfasilitasi
kebutuhan peningkatan usaha KSM potensial, khususnya masalah pemasaran;
b. BOP BDC mendekati habis dan belum mampu membiayai kebutuhannya secara
mandiri.