Anda di halaman 1dari 3

ALL ABOUT PARE

1. DESKRIPSI
Perawakan terna setahun, merambat atau memanjat dengan alat pembelit atau
sulur berbentuk spiral, banyak bercabang, berbau tidak enak. Batang berusuk lima,
panjang 2-5 m, yang muda berambut rapat. Daun tunggal, panjang tangkai 1.5 – 5.3
cm, letak berseling, bentuk bulat telur sampai bulat memanjang, panjang 3.5 – 8.5 cm,
lebar 4 cm, berbagi menjadi 4 – 7, pangkal berbentuk jantung, hijau tua. Taju bergigi
kasar sampai berlekuk menyirip. Bunga tunggal, berkelamin dua dalam satu pohon,
bertangkai panjang, berwarna kuning. Buah bulat memanjang, dengan 8-10 rusuk
memanjang, berbintil-bintil tidak beraturan, panjang buah 8-30 cm, pahit. Warna buah
hijau, bila masak menjadi jingga yang pecah dengan 3 katup. Biji banyak, coklat
kekuningan, bentuknya pipih memanjang, keras (BBPPTOOT, 2012).
2. NAMA DAERAH
Prieu (Sumatra), Papare (Jakarta), Paria (Sunda), Pare (Jawa), Paya (Bali),
Belenggede (Gorontalo), Papariane (Maluku) (BBPPTOOT, 2012).
3. KANDUNGAN KIMIA
Buah pare mengandung steroid, karantin, momordikosid, asil glikosil sterol,
asam amino dan asam fenolat. Senyawa triterpen yang telah dilaporkan antara lain
momordikosid (AL), goya glikosida (A-H), momordisin, momordisinin, kukurbitan I-
III, dan goya saponoin I-III. Bijinya mengandung lektin, terpenoid, momordikosid (A-
E), visin, asam amino dan asam lemak, serta polipeptida-p (protein mirip insulin).
Senyawa yang telah diisolasi dari herba adalah saponin,sterol, glikosida steroid,
alkaloid, asam amino dan protein. Selain itu telah diisolasi triterpenoid lainnya, yaitu
momordikosida dan goya glikosida. Komponen ekstrak pare dengan elektroforesis
dan analisis spektrum infra merah, mirip dengan struktur insulin binatang (Permenkes,
2016).
4. PENGGUNAAN
Secara empiris, buah pare digunakan sebagai penambah nafsu makan,obat
sariawa, obat perut kembung, penurun gula darah. Biji dapat digunakan sebagai obat
luar (luka). Daun sebagai obat cacing, peluruh haid dan penurun panas (BBPPTOOT,
2012).
5. DATA KEAMANAN
LD50 jus buah: 91,9 mg/100 g BB dan LD50 ekstrak alkohol per oral 362 mg/
100 g BB pada tikus. Momorcharins, diisolasi dari biji menginduksi aborsi pada
kehamilan muda dan midterm pada mencit dan teratogenik pada kultur embrio tikus
pada tahap awal organogenesis (Permenkes, 2016).
6. EFEK FARMAKOLOGIS
Pada uji aktivitas antiulcer ekstrak minyak buah pare pada dosis 5 dan 10
mL/kgbb po pada tikus jantan galur Sprague Dawley yg diinduksi indometasin 25
mg/kgbb, setelah pemberian ekstrak menunjukkan dapat menghambat ulcer masing
masing sebesar 53,8% dan 98,04% dibanding kontrol positif famotidin 40 mg/kgbb
sebesar 91,54% (Badan POM RI, 2010).
7. KONTRAINDIKASI
Pare banyak digunakan untuk abotivum sehingga dikontraindikasikan untuk
ibu hamil. Tanaman ini dapat menurunkan fertilitas sehingga dikontraindikasikan
untuk pria dan wanita yang sedang program kehamilan dan treatment fertiitas.
Senyawa kimia dapat ditransfer ke dalam ASI sehingga dikontraindikasikan untuk ibu
menyusui. Pasien hipoglikemia dan hipokolesterol karena seluruh bagian tanaman
pare dapat menurukan kadar gula dan kolesterol (BBPPTOOT, 2012).
8. PERINGATAN
Konsumsi pare jangka panjang dapat menyebabkan matinya bakteri baik dan
menyebabkan penghambatan pertumbuhan jamur dan yeast secara berlebihan
sehingga perlu penghentian konsumsi selama 1 minggu setiap 1 bulan pemakaian dan
perlu penambahan konsumsi probiotik jika akan digunakan > 1 bulan. Efek yang tidak
diinginkan adalah hypoglycemic shock (BBPPTOOT, 2012).
9. DOSIS
 Ekstrak air buah pare 15 g/hari
 Jus buah pare segr 10-15 ml
 2-15 simplisia kering buah pare

(Badan POM RI, 2010).


DAFTAR PUSTAKA

Permenkes. (2016) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2016
tentang Formularium Obat Herbal Asli Indonesia. Jakarta : Mentri Kesehatan Republik
Indonesia.

BBPPTOOT.(2012) Vademekum Tanaman Obat untuk Saintifikasi Jamu. Jakarta :


Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Badan POM RI. (2010) Acuan Sediaan Herbal. Volume kelima. Edisi pertama. Jakarta:
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.