Anda di halaman 1dari 20

BAB II

Pembahasan

A. Larangan Pejabat Menerima Hadiah


1. Penjelasan singkat

Dalam islam, hadiah merupakan hal yang dianggap perlu untuk


mempererat tali persaudaraan dan tali silaturahmi. Dan Rasulullahpun
menganjurkan kita untuk memberikan hadiah kepada seseorang untuk
memperkuat silaturahmi.1 Sebagaimana yang telah disabdahkan oleh rasulullah
yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Abu Hurairah, Rasaul beersabda:

)‫( رواه البخرى‬.‫ْر‬


َ ‫صد‬
َّ ‫ال‬ ُ ‫ان ال َه ِد يَّةَ ت َ ْده‬
‫َب َو َح َر‬ َّ ِ ‫تَـ َهادَوافَإ‬
Artinya: hendakhnya kalian saling memberi hadiah karna sesungguhnya hadiah
itu akan menghilangkan kedengkian. (HR. Bukhari).2
Pada dasarnya memberikan hadiah adalah suatu perbuatan yang akan
membawa suatu kebahagiaan bagi orang yang diberi hadiah maupun orang yang
memberi hadiah. Akan tetapi, islam memberikan rambu-rambu tentang hal
memberi hadiah baik itu dari sang pemberi hadiah maupun sang penerima hadiah.
Dengan kata lain pemberian hadiah tidak bisa diberikan kepada semua orang.3
Contohnya : memberi hadiah kepada seorang pejabat ataupun orang
mempunyai kekuasaan disuatu daerah. Hal ini dikarenakan akan timbulnya
pemikiran atau prasangka buruk, baik dari sipejabatnya ataupun yang
memberinya. Dengan demikian memberikan hadiah kepada pejabat biasanya
didasari atas dasar sogokan. Dengan kata lain, hadiah yang diberikan kepada para
pejabat sebenarnya bukanlah haknya. Di samping itu, niat orang-orang yang
memberikan hadiah kepada para pejabat atau para pegawai, dipastikan tidak
didorang dan didasarkan pada keikhlasan sehingga perbuatan mereka jadi sia-sia
dihadapan Allah SWT.4

1
Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’i, AL-hadist, ( Bandunng: CV Pustaka Setia, 2000), h.161
2
Ibid.
3
Ibid.
4
Ibid.

1|Larangan Pejabat Menerima Hadiah, Tengkulak, Menimbun


Barang Pokok, Buruk Sangka
Sebagaimana yang disabdahkan oleh nabi:

‫ع ْن أ َ ِب ْي ُح َم ْي ٍد‬ ُ ‫ أ َ ْخبَ َرنِ ْي‬:‫ي قَا َل‬


َ ،ُ‫ع ْر َوة‬ ُ ‫ع ِن‬
َ ‫الز ْه ِر‬ َ ،‫ْب‬
ٌ ‫شعَي‬ ِ ‫َحدَّثَنَا أَب ُْو ْالي َم‬
ُ َ ‫ أ َ ْخبَ َرنا‬:‫ان‬
ُ ‫ فَ َجا َءه‬،ً‫امال‬ِ ‫ع‬َ ‫سلَّ َم ا ُ ْستَ ْع َم َل‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ ِ ‫صلَى‬
َ ‫هللا‬ َ ِ‫س ْو َل هللا‬ ُ ‫ي أَنَّهُ أ َ ْخ َب َرهُ أ َ َّن َر‬ ِِّ ‫سا ِع ِد‬َّ ‫ال‬
َ ‫ َهذَا لَ ُك ْم َو َهذَا أ َ ْهد‬،‫هللا‬
:ُ‫ فَ َقا َل َله‬.‫ِي ِلي‬ ُ ‫ َيا َر‬:‫ فَقَا َل‬،‫ع َم ِل ِه‬
ِ ‫س ْو َل‬ َ ‫غ ِم ْن‬ َ ‫ام ُل ِحيْنَ فَ َر‬ ِ ‫ْال َع‬
‫صلَى‬
َ ِ‫س ْو ُل هللا‬ َ َ‫)ث ُ َّم ق‬.‫ى َل َك أ َ ْم الَ؟‬
ُ ‫ام َر‬ ْ َ‫ت أَيُ ْهد‬ َ َ‫ َفن‬،‫ت أ َ ِبي َْك َوأ ُ َّم َك‬
َ ‫ظ ْر‬ َ ‫(أَفَالَ قَ َعد‬
ِ ‫ْت فِي َب ْي‬
:‫ ث ُ َّم قَا َل‬،ُ‫هللا ِِ ِب َما ُه َو أ َ ْهلُه‬
َ ‫علَى‬ َ ‫ش َّهدَ َوأَثْنَى‬ َ َ ‫ فَت‬،ِ‫صالَة‬ َّ ‫ع ِشيَّةَ َب ْعدَ ال‬ َ ‫سلَّ َم‬
َ ‫ع َل ْي ِه َو‬
َ ُ‫هللا‬
َ ‫ َو َهذَا أ ُ ْهد‬،‫ع َم ِل ُك ْم‬
،‫ِي ِل ْي‬ َ ‫ َهذَا ِم ْن‬:ُ‫ فَيَأْتِ ْينَا َفيَقُ ْول‬،ُ‫ام ِل نَ ْست َ ْع ِملُه‬
ِ ‫ فَ َما بَا ُل ْال َع‬،ُ ‫(أ َ َّما َب ْعد‬
ُ ‫ِي نَ ْف‬
َ‫ ال‬،ِ‫س ُم َح َّم ٍد ِبيَ ِده‬ َ َ‫ت أ َ ِب ْي ِه َوأ ُ ِ ِّم ِه فَن‬
ْ ‫ فَ َوالَّذ‬،َ‫ ه َْل يُ ْهدَى لَهُ أَ ْم ال‬:‫ظ َر‬ ِ ‫أَفَالَ قَ َعدَ فِي ِ ِْ َب ْي‬
‫ ِإ ْن َكانَ َب ِعيْرا ً َجا َء‬،‫عنُ ِق ِه‬
ُ ‫علَى‬ َ ‫يَغُ ُّل أ َ َحدُ ُك ْم ِم ْن َها‬
َ ُ‫شيْئا ً ِإالَّ َجا َء بِ ِه يَ ْو َم اْل ِقيَا َم ِة َي ْح ِملُه‬
‫ َفقَ ْد‬،‫شاة ً َجا َء بِ َها تَ ْيعَ ُر‬ ْ ‫ َوإِ ْن َكان‬،‫ار‬
َ ‫َت‬ ٌ ‫َت َبقَ َرة ً َجا َء بِ َها لَ َها ُخ َو‬ ْ ‫ َوإِ ْن َكان‬،‫بِ ِه لَهُ ُرغَا ٌء‬
ُ ‫ى إِنَّا لَنَ ْن‬
‫ظ ُر‬ َّ ‫ َحت‬،ُ‫سلَّ َم يَدَه‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬
َ ُ‫صلَى هللا‬َ ِ‫س ْو ُل هللا‬ ُ ‫ ث ُ َّم َرفَ َع َر‬:ٍ‫)فَقَا َل أَب ُْو ُح َم ْيد‬. ُ‫بَلَّ ْغت‬
‫صلَى‬ َ ‫ي‬ َ ‫ َوقَ ْد‬:ٍ‫ أَب ُْو ُح َم ْيد‬:‫ قَا َل‬.‫ط ْي ِه‬
ِِّ ‫ ِمنَ النَّ ِب‬،ٍ‫س ِم َع ذَ ِل َك َم ِع ْي زَ ْيد ُ ْب ُن ثَا ِبت‬ َ ‫ع ْف َرةِ إِ ْب‬
ُ ‫إِلَى‬
)‫م‬.‫سلُوه (صحيح البخاري كتاب اإليْمان والنذور باب كيف يمين النبي ص‬
َ َ‫ف‬ ،‫سلَّ َم‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬
َ ُ‫هللا‬
Artinya :

Diceritakan dari Abu Yamin telah mengabarkan kepadaku dari Syu’aib dari
Zuhriy berkata: Urwah telah mengabarkan kepadaku dari Abu Humaid As- sa’idi
ra bahwasanya dia memberi kabar bahwa Rasulullah SAW mengangkat seorang
aamil atau pegawai untuk menerima shadaqah/ zakat, kemudian sesudah selesai
ia datang kepada Nabi SAW dan berkata: “Ya Rasulullah ini utnukmu dan ini
hadiah yang diberikan orang kepadaku, maka Nabi SAW bersabda kepadanya:
mengapakah engkau tidak duduk saja dirumah ayah atau ibu untuk melihat
apakah diberi hadiah atau tidak? Kemudian rasulullah berdiri pada sore hari
sesudah shalat lalu beliau membaca tasyahud dan memuji Allah SWT yang sudah
selayaknya disandangNya kemudian bersabda: : Ammaba’du, mengapakah
seorang aamil yang diserahi amal, kemudian ia datang lalu berkata: ini hasil
untuk kamu dan ini aku diberi hadiah, mengapa ia tidak duduk saja dirumah ayah
atau ibunya untuk mengetahui Apakah diberi hadiah atau tidak, demi Allah yang
jiwa Muhammad ditangan-Nya, tiada seseorang yang menyembunyikan sesuatu

2|Larangan Pejabat Menerima Hadiah, Tengkulak, Menimbun


Barang Pokok, Buruk Sangka
(korupsi) melainkan ia akan menghadap dihari kiamat memikul diatas lehernya,
jika berupa unta bersuara, atau lembu yang menguak atau kambing yang
mengembek, maka sungguh aku telah menyampaikan. Abu Hamid berkata:
kemudian Nabi SAW mengangkat kedua tangannya sehingga aku dapat melihat
kedua ketiaknya. Berkata Abu Humaid, benar saya mendengar hal itu bersama
Zaid bin Tsabit dari Nabi SAW. Maka tanyalah kepada Zaid bin Tsabit.5

Selain itu, seorang pejabat yang menerima hadiah dari orang, berarti dia
mendekatkan diri kepada kolusi dan neptisme. Dalam pelaksaan kewajiban
khususnyan misalnya dalam pengaturan tender, penempatan pegawai, dan lain-
lain, bukan lagi didasarkan pada aturan yang ada, namun lebih didasarkan pada
apa yang diberikan orang kepadanya dan seberapa dekat hubungannya dengan
orang tersebutf.6

Dengan demikian akan berpengaruh terhadap kinerjanya. Apalagi kalau ia


menempatkan bawahannyadengan didasarkan pada uang yang diterimanya hal ini
akan menyebabkan adanya orang-orang yang tidak pantas menduduki tempat
tersebut karena tidak sesuai dengan kualitas dan kemampuannya.7
Dengan demikian, sangatlah pantas kalau Rasulullah melarang seorang
pegawai atau npetugas negara untuk menerima hadiah karena akan menimbulkan
kemudharatan walaupun pada dasarnya menerima hadiah itu dianjurkan. Dalam
kaidah Ushul Fiqh dinyatakan bahwa “suatu perantara yang akan menimbulkan
suatu kemudharatan, tidak boleh dilakukan”,8
Dari penjelasan diatas, maka dapat buktikan secara historis bahwa gejala
terjadinya perubahan substansi hadiah kepada risywah telah berlangsung dimasa
khalifah Umar Bin Abdul Al-Aziz. Dalam hal ini ia tidak mau menerimanya
karena praktek hadiah ditengah-tengah masyarakat telah terjadinya pergeseran
saubstansi, yaitu dari hadiah untuk mendapatkan persahabatan berupa menjadi
suap atau sogok. Karena itulah didalam didalam kitab-kitab fiqih islam dijelaskan
bahwa seorang pejabat tidak diperkenankan untuk menerima hadiah dari pihak

5
Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’i, AL-hadist, ( Bandunng: CV Pustaka Setia, 2000), h.162
6
Ibid.
7
Ibid.
8
Ibid.

3|Larangan Pejabat Menerima Hadiah, Tengkulak, Menimbun


Barang Pokok, Buruk Sangka
yang memberi hadiah tersebut. Hal itu untuk menjaga agar ia tidak terjerumus
kedalam hal suap yang dilatar belakangi oleh pemberian hadiah tersebut.9
2. Dasar tasyri’/ dasar hukum dalam Al-Qur’an
Di dalam Al-Qur’an Allah juga telah berfirman :

‫اط ِل َوت ُ ْدلُوا ِب َها ِإلَى ْال ُح َّك ِام ِلتَأ ْ ُكلُوا فَ ِريقًا ِ ِّم ْن أ َ ْم َوا ِل‬
ِ َ‫َو َال تَأ ْ ُكلُوا أ َ ْم َوالَ ُكم َب ْي َن ُكم ِب ْالب‬
َ‫اإلثْ ِم َوأَنت ُ ْم تَ ْعلَ ُمون‬
ِ ْ ‫اس ِب‬ ِ َّ‫الن‬
Artinya : Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian lain di
antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan)
harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta
benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.[Al-
Baqarah : 188]10
Dalam menafsirkan ayat di atas, al Haitsami rahimahullah berkata :
“Janganlah kalian ulurkan kepada hakim pemberian (hadiah) kalian, yaitu dengan
cara mengambil muka dan menyuap mereka, dengan harapan mereka akan
memberikan hak orang lain kepada kalian, sedangkan kalian mngetahui hal itu
tidak halal bagi kalian”.11

Allah juga menyebutkan bahwa kaum yahudi merupakan kaum yang


melakukan praktek suap menyuap dan memakan yang haram seraya melarangnya,
Allah berfirman yang artinya : “dan kamu akan melihat kebanyakan daari mereka
(orang-orang yahudi) bersegera melakukan dosa, permusuhan dan memakan
yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka kerjakan itu. (Q.S. Al-
Maidah : 62)
3. Macam-macam Hadiah Bagi Pejabat Dan Hukumnya
Dalam pemberian suatu hadiah atau parsel kepada pegawai atau pejabat
dapat di bagi menjadi tiga bagian:
1. Hadiah yang diharamhan bagi yang memberi maupun yang menerimanya
yaitu hadiah yang di berikan dengan tujuan untuk mewujudkan atau

Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’i, AL-hadist, ( Bandunng: CV Pustaka Setia, 2000), h.162
9
10
Mada Md, Larangan Pejabat Menerima Hadiah,
Mada165.Blogspot.Com/2015/06/Larangan-Pejabat-Menerima-Hadiah_4.Html, Minggu, 10
Desember 2017, 19.20 WIB.
11
Ibid

4|Larangan Pejabat Menerima Hadiah, Tengkulak, Menimbun


Barang Pokok, Buruk Sangka
membiarkan sesuatu yang batil maka hukum hadiah ini haram dan tidak
boleh di terima, hal ini sebagai mana yang dilakukan nabi Sulaiman As. Dia
menolak hadiah dari ratu Bilqis di karnakan ia merupakan suap-menyuap di
dalam perkara agama agar nabi Sulaiman As diam darinya dan membiarkan
dia beribadah kepada matahari sebagai sesembahan selain Allah swt. Yang
termasuk hadiah yang di haramkan bagi pemberi dan penerimanya adalah
hadiah yang di peruntukkan para pemimpin mentri dan pejabat atas sebuah
tugas yang memang wajib dilakukan oleh merekah atau agar merekah
memberimu sesuatu yang bukan menjadi hak mu. Demikian pula
memberikan hadiah kepada mereka dengan tujuan mengambil hati mereka
tanpa hak baik utuk kepentingan sekarang maupun masa yang akan datang
yaitu dengan memalsukan data. Maka ketika itu haram bagimu memberikan
hadiah kepada mereka dan haram pula bagi mereka menerima hadiah
tersebut dikarnakan itu suap-menyuap.
2. Hadiah yang di haram kan bagi yang menerimany dan di beri keringanan
bagi yang membrikanya. Yaitu pemberian hadiahyang dilakukan secara
terpaksa karna apa yang menjadi haknya tidak dikerjakan atau disengaja di
perlambat oleh pegawai bersangkutan yang seharusnya memberika
pelayanan. Sebagi misal pemberian seseorang kapada pegawai atau pejabat
yang ia lakukan karna untuk mengambil kembali haknya atau untuk
menjegah kedholiman terhadpa dirinya apalagi ia melihat jika sang pegawai
tersebut tidak di beri uang pelicin atau sesuatu harta lainya maka ia akan
malalaikan atau memperlambat dan mempersulit prosesnya. Syeh Ilsam Ibnu
Taimiyah Rahima Hullah berkata: “jika seseorang memberi hadiah dengan
maksud untuk menghentikan sebuah kedholiman atau menakihaknya yang
wajib maka hadiah ini haram bagi yang mengambil dan boleh bagi yang
memberi.
3. Hadiah yang di perbolehkan bahkan yang di anjurkan agar memberi dan
menerimanya yaitu suatu pemberia hadiah dengan tujuan mengharapkan
ridho Allah swt untuk memperkuat tali silaturrahmi kasih sayang dan rasa

5|Larangan Pejabat Menerima Hadiah, Tengkulak, Menimbun


Barang Pokok, Buruk Sangka
cinta atau menjalin ukuah islamiah dan bukan bertujuan memperoleh
keuntungan duniawi.12
Berikut ini kami akan sebutkan beberapa permasalahan yang hukumnya
masuk dalam bagian ini sekalipun yang lebih utama dan lebih ati-ati bagi pejabat
atu pegawai tidak menerima hadiah atu parsel tersebut sebagai upaya untuk
menjauhkan diri dari tuduhan atau pandangan negativ dan dalam rangka
membendung jalan bagi dirinya dari pemberian yang haram.13
1. Hadiah seseorang yang tidak mempunyai kaitan dengan jabatan atau
pekerjaanya sebelum orang tersebut menjabat yang seudah sering juga
memberi hadiah karna hbungan kerabat atau yang lainya dan pemberian itu
tidak bertambah meskipun orang yang ia beri sekarang sedang menjadi
pejabat atau pegawai.
2. Hadiah orang yang tidak biasa memberi hadiah kepada seorang pegawai
yang tidak berlaku persaksianya seperti hakim bersaksi untuk anaknya dan
hadiah tersebut tidak ada hubungan dengan jabatan atau usahanya.
3. Hadiah yang telah mendapat izin dan oleh permerintahanya atau instansinya.
4. Hadiah atasan kepada bawahanya dengan kata lain hadiah dari orang yang
mengangkatnya sebagai pegawai dan orang yang jabatannya lebih tinggi
darinya bukan sebaliknya.
5. Hadiah di berikan ia meninggalkan jabatannya dan lain-lain.14
Hukum hadiah yang di tunjukan kepada pejabat biasa di bahas para
ulamak ketika membijarakan hukum hadiah untuk seorang hakim. Namun
ketentuan ini juga berlaku untuk semua pejabat Negara angota DPR dan lain-lain.
Dalam Duror Al-Hukkam fi syarah Majalah Al-Ahkam Al-Adliyah disebutkan:
“Hukum menerima hadiah yang diberikan karna yang di beri hadiah punya jabatan
tertentu hukumnya adalah haram karna ketika Rasulullah saw. Mengetahui ada
seorang pegawai baitulmall menerima hadiah nabi berhudbah di atas mimbar
seraya berkata andai dia duduk dirumah ibu dan bapaknya apakah dia

12
Mada Md, Larangan Pejabat Menerima Hadiah,
Mada165.Blogspot.Com/2015/06/Larangan-Pejabat-Menerima-Hadiah_4.Html, Minggu, 10
Desember 2017, 19.20 WIB.
13
Hukum-Hukum Islam, Http://Ghofur-Ulya.Blogspot.Co.Id/2012/05/Hukum-Pejabat-
Menerima-Hadiah.Html, Minggu, 10 Desember 2017, 19.50 WIB
14
Ibid.

6|Larangan Pejabat Menerima Hadiah, Tengkulak, Menimbun


Barang Pokok, Buruk Sangka
mendapatkan hadiah, dengan pertimbangan tersebut maka tidak di perbolehkan
bagi pejabat untuk menerima hadiah yang bukan berasal dari orang yang telah
menjadi teman dan kolegannya sebelum ia punya jabatan”.15
4. Peraturan Pemerintah
Semua hadiah yang di terima pejabat Negara itu hukumnya sama dengan
hadiah yang diterima oleh seorang hakim. Apabila seorang hakim diberi hadiah
maka hadiah tersebut hak masyarakat umum oleh karna itu wajib di letakkan di
baitulmall yang memang dimaksudkan untuk kepentingan umum, namun setatus
barang ini di babaitulmall adalah barang temuan artinya “Jika yang punya sudah
diketahui maka barang tersebut akan diserahkan kepada pemiliknya”.16
Bukan hanya dari pandangan islam, tetapi juga dari pandangan hukum di
Indonesia “Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 53 Tahun 2010 tentang
Disiplin PNS pada Pasal 4 Angka 8 dinyatakan, PNS dilarang menerima hadiah
atau suatu pemberian apa saja dari siapapun juga yang berhubungan dengan
jabatan dan/atau pekerjaannya,” kata Yuddy di Jakarta, seperti yang dilansir dari
situs resmi setkab.go.id pada Rabu (22/6/2016).17
Menteri PANRB, Yuddy menambahkan, menerima hadiah atau pemberian
tersebut masuk dalam kategori gratifikasi atau pemberian dalam arti luas, yakni
meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga,
tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma,
dan fasilitas lainnya.18
Landasan hukum tindak gratifikasi diatur dalam UU Nomor 31 Tahun
1999 dan UU Nomor 20 Tahun 2001 Pasal 12 dimana ancamannya adalah
dipidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan
paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit 200 juta rupiah dan paling banyak 1
miliarrupiah.19

15
Hukum-hukum islam, http://ghofur-ulya.blogspot.co.id/2012/05/hukum-pejabat-
menerima-hadiah.html, Minggu, 10 Desember 2017, 19.50 WIB
16
Ibid.
17
Irvan Bagus Santoso, Pns Dilarang Terima Hadiah,
Https://Media.Iyaa.Com/Article/2016/06/PNS-Dilarang-Terima-Hadiah, Kamis, 07 Desember
2017, 13.02 WIB.
18
Ibid.
19
Irvan Bagus Santoso, Pns Dilarang Terima Hadiah,
Https://Media.Iyaa.Com/Article/2016/06/PNS-Dilarang-Terima-Hadiah, Kamis, 07 Desember
2017, 13.02 WIB.

7|Larangan Pejabat Menerima Hadiah, Tengkulak, Menimbun


Barang Pokok, Buruk Sangka
Pada UU Nomor 20 Tahun 2001 setiap gratifikasi yang diperoleh pegawai
negeri atau penyelenggara negara dianggap suap, namun ketentuan yang sama
tidak berlaku apabila penerima melaporkan gratifikasi yang diterimanya kepada
Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) yang wajib dilakukan
paling lambat 30 hari kerja terhitung sejak tanggal gratifikasi tersebut diterima.20
B. Larangan Terhadap Tengkulak

‫ ال تلقوا‬:‫ قال رسول هللا صلى هللا عليه وسلم‬:‫عن طاوس عن ابن عباس قال‬
,‫ وال يبع حاضر لباد‬: ‫ ما قوله‬: ‫ قلت البن عباس‬,‫الركاب وال يبع حاضر لباد‬
)‫اليكون له سمسارا (متفق عليه واللفظ البخارى‬

Dari Thawus dari Ibnu Abbas ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah


SAW:Jangan lah kamu mencegat kafilah-kafilah dan janganlah orang kota
menjualkan kepada orang buat orang desa”, saya bertanya kepada Ibnu Abbas
apa arti sabdanya, “Janganlah kamu mencegat kafilah-kafilah dan janganlah orang
kota menjualkan kepada orang buat orang desa”. Ia menjawab, “Artinya jangan
menjadi perantara baginya”.21

Mencegat maksudnya perdi menjumpai sebelum kafilah mereka sampai di : ‫تلقى‬


kota dan sebelum mereka mengetahui harga pasar.22

: ‫الركاب‬

Para pedagang yang biasanya menunggang unta dan disebut kafilah

: ‫سمسار‬

Makelar

: ‫حاضر‬

Penduduk setempat23

20
Ibid.
21
Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’i, AL-hadist, ( Bandunng: CV Pustaka Setia, 2000), h.165
22
A. Hasan, Terjemah Bulughul Maram, Cet: XVI, (Bandung: Cv. Diponegoro, 1972),
h.398

8|Larangan Pejabat Menerima Hadiah, Tengkulak, Menimbun


Barang Pokok, Buruk Sangka
Thawus bin Kaisan Al-Yamany Al-Hamiry Al-Jundi. Ia adalah maula
Bahar Ibn Risan dan dikatakan pula sebagai maula Hamdan. Ia banyak
meriwayatkan hadis dari Al-‘Ubadalah Al-Arba’ah, Zaid Ibn Aisyah, Abu
Hurairah dan lain-lain. Ia juga dikenal sebagai orang yang wara’ dan terpercaya
sehingga Ibn Abbas berkata “ saya kira, Thawus itu adalah ahli surge”. Begitu
juga Amr Ibn Dinar berkata “saya tidak melihat seorangpun seperti Thawus”. 24

Ibnu Abbas nama lengkapnya Abdullah Ibn Abbas Ibn Abdul Muthalib al-
Madani al- Thaifi al-Hasyimi dikenal sebagai seorang shabat yang luas ilmunya.
Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan Ibn Umar, menyatakan Ibn Abas
sebagai tinta dan lautan karena kedalaman ilmunya.25

Ia menerima hadis dari Rasulullah SAW, dari ayah dan ibu (Ummu Al-
Fadl), saudaranya (Al-Fadl) bibnya (Maimunah), Abu Bakar, Usman, Ali,
Abdurrahman bin Auf, Muazd bin Jabal, Abu Dzar, Ubay bin Ka’ab, Tamim Ad-
Dary, Khalid bin Walid, Usamah Bin Zaid, Haml Bin Malik, Abu Said Al-
Khudry, Abu Hurairah, Muawiyan Ibn Abu Sufyan, Aisyah, dan jamaahnya.26

Diriwaystksn dari Gandar bahwa Ibn Abbas hanya mendengar sebilan


hadis dari Nabi, sedangkan dari Yahya al-Qatha. Ia mendengar 10 hadis. Al-
Ghazali mengatakan dalam kitab Al- Mustashfa fil ilm Al-Usul, jumlah hadisnya
empat puluh buah itu masih menganding polemic.27

Subhi ash-shalih mencatat bahwaa hadis yang diriwayatkan Ibn Abbas


berjumlah 1660 hadis. An-Nasa’I menyebutkan , sanad yang paling shahih
terdapat dalam hadis yang diriwayatkan A-Zuhei dari Ubaidillah Ibn Abdullah ibn
‘Atabah dari Ibn Abbas. Sanadnya yang paling dhaif sebagaimana yang
diriwayatkan Muhammad Ibn Marwan As-Suda Ash-Shaghir dari Al- Kalbi dari
Abi Shalih.28 An-Nasa’I menyebutkan hadisnya matruk al-Hadis29 karena
Muhammad Marwan termasuk orang yang dituduh berdusta oleh sebagian ahli

23
Prof. H. Muhammad Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: Hidakarya Agung,1989)
24
Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’i, AL-hadist, ( Bandunng: CV Pustaka Setia, 2000), h.166
25
Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’i, h. 167
26
Ibid.
27
Ibid, h.168
28
Dr. Nuruudin ’Itr, Ulumul Hadis, cet,II, (Jakarta: Rosda,2012), h.137
29
Lihat kitab Adh-Dhuafa Wa Al-Matrukian no. 565/219

9|Larangan Pejabat Menerima Hadiah, Tengkulak, Menimbun


Barang Pokok, Buruk Sangka
hadis. Al-Bukhari berkata “mereka mendalami hadisnya tidak ditulis sama
sekali”.30

Diantara kebiasaan masyarakat Arab adlah berdagang ke negri-negri


tetangga. Dari Mekkah, mereka membwa barabg-barabg hasil pekerjaan penduduk
Mekkah untuk dijual kenegeri lain danpulangnya meraka membawa barang-
barang dari Negara lain yang sangat diperlukan penduduk Mekkah atau kota-kota
lainnya di Negara Arab. Ada juga pedangang yang sengaja dadang ke kota
Mekkah atau kota-kota lainnya di arab untuk memperdagangkan barabg-barabg
meraka kepada penduduk Mekkah.31

Sebetulnya para kafilah tersebut sudah terbiasa berhenti dipasar dan


tempat berkumpulnya penduduk. Harga yang dibawa rombongan ini tentu saja
murah karena mereka merupakan pedagang pertama. Akan tetapi, penduduk
sering kali tidak mendapatkan barang langsung dari tangan kafilah karena barang
tersebut telah dicegat dan diborong oleh para tengkulak atau makelar. Mereka
memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendapatkan keuntungan besar, dengan
cara menjual barang mereka beli dengan harga yang lebih tinggi kepada penduduk
yang tidak dapat membeli langsung dari kafilah. Dengan begitu kafilah tidak
dapat lagi datang ke pasar atau ke tempat-tempat yang biasa dipakai untuk jual
beli karena barang sudah habis atau penduduk desa sudah membeli barang dari
para tenkulak.32

a. Larangan Mencegat Para Kafilah

Maksud para kafilah disini, bai ia sendiri ataupun dalam rombonga


banyak. Begitu juga, baik ia memakai kendaraan ataupun berjalan. Akan tetapi,
biasanya para kafilah itu dating dengan rombongan banyak dan memakai unta.
Tempat yang dilarang mencegat adalah di;uar pasar atau di luar tempat menjual
menjual barang.33

Sebagaimana di lafalkan dalam hadis lain:

30
Ibid, h.169
31
Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’i, AL-hadist, ( Bandunng: CV Pustaka Setia, 2000), h.169
32
Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’i.
33
Ibid, h.170

10 | L a r a n g a n Pejabat Menerima Hadiah, Tengkulak, Menimbun


Barang Pokok, Buruk Sangka
‫ كنا نتلقى الركبان فنشترى منهم الطعام فنهانا رسول هللا صلى هللا‬:‫عن ابن عمر‬
)‫عليه وسلم ان نبيعه حتى يبلغ به سوقالطعام (رواه البخارى‬

“Dari Ibn Umar: kami semua mencegat para kafilah, kemudian membeli makanan
dari mereka, maka Rasulullah melarang bertransaksi barang sehingga para kafilah
sampai di pasar makanan” (H.R. Bukhari)

Menurut Hadawiyah dan Asy-Syafi’iyah, larangan mencegat barang


adalah diluar daerah. Dengan alasan bahwa larangan tersebut erat kaitannya
dengan penipuan terhadap para kafilah. Apabila para kafilah sudah sampai
didaerah maka ia akan mengetshui harga yang sebenarnya. Sedangkan ulama
Malikiyah, Ahmad, Ishaq berpendapat bahwa hadis itu melarang mencegat para
kafilah diluar pasar secara mutlak, dengan mengamalkan zahir hadis.34

Adapun hokum menemui kafilah menurut al-Kahlany adalah haram jika


sudah mengetahui menemui kafilah tersebut. Kendati demikian, dikalangan ulama
terjadi perbedaan pendapat. Menurut ulama Hanafiah dan al-Auja’I dibolehkan
mencegat para kafilah jika tidak memudharatkan penduduk, tetapi jika
memudharatkan penduduk maka hukumnya makruh. Menurut para ulama lainnya
transaksi yang dilakukan saat mencegat para kafilah adalah rusak (fasid), karena
larangan menurut meraka membawa kepada kerusakan dan itulah arti yang paling
dekat.35

C. Larangan Menimbun Barang Pokok


1. Terjemah hadis:

‫عن معمر بن عبدهللا عن رسول هللا صل هللا عليه وسلم ال يحتكر اال خطئ‬

“Dari Ma’mar Bin Abdillah. Rosulullah saw. Bersabda: ”tidaklah seorang


menimbun (makanan pokok),melainkan iya berdosa’’. (H.R. Muslim)

2. Tujuan bahasa

34
Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’i, AL-hadist, ( Bandunng: CV Pustaka Setia, 2000), h.170
35
Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’I, h.171-172

11 | L a r a n g a n Pejabat Menerima Hadiah, Tengkulak, Menimbun


Barang Pokok, Buruk Sangka
‫يحتكر‬

Menimbun orang yang melakukan kesalahan(dosa)

3. Biografi perawi:

Ma’mar Ibnabdullah Ibn Naïf’ Ibnu Fadlah Ibn ‘Auf Ibn ‘Ubaid Ibn
‘Uwaih Ibn ‘Ady Ibnka’ab Ibn Galib Al-Quraisy Adalah Ma’mar Ibn Abu
Ma’mar. Ia termasuk sahabat yang paling duluan masuk islam dan pertama hijrah
ke habasyah .iya meriwayat kan hadis nabi saw. Umar bin Khattab , dan lain-lain,
sedangkan orang orang yang meriwayatkan hadis darinya adalah Sa’id Ibn
Musyyab, Basyir Ibn Sa’ Adalah Abdurrohman Ibn Jabir Al Mishry Dan Basir Ibn
Afiyah Al-Adawy (maulanya).36

4. Penjelasan singkat

Menimbun artinya membeli barang dengan jumlah yang banyak kemudian


menyimpan nya dengan maksud menjual nya dengan harga yang tinggi kepada
penduduk ketika mereka sangat membutuh kan nya.biasa barang barang yang di
timbun biasanya barang barang yang di timbut adalah barang sedang melimpah
dan harganya murah.ketika barang sudah jarang dan harganya tinggi,si penimbun
mengeluarkan barang nya dengan harga tinggi sehingga iya memperoleh
keuntungan yang berlipat.walau pun harganya tinggi,karena pembeli sangat
membutuhkan-biasanya barang kebutuhan pokok maka dengat sangat terpaksa
pembelipun membelinya.37

Hadis diatas tidak dijelaskan barang yang dilarang untuk di timbun,


sehingga kalangan ulama berbeda pendapat. Diantara mereka ada yang
berpendapat bahwa diharamkan menimbun barang apa saja yang dapat
memudharatkan orang lain. Salah satunya adalah Abu Yusuf yang mengatakan
bahwa barang ap saja dilarang untuk ditimbun kalau akan menyebabkan
kemudaratan kepada manusia walaupun barang tersebut emas dan perak.38

36
Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’i, AL-hadist, ( Bandunng: CV Pustaka Setia, 2000), h.174
37
Ibid.
38
Ibnu Hajar Al-Asqalani, Subulus Salam, juz III, h. 25

12 | L a r a n g a n Pejabat Menerima Hadiah, Tengkulak, Menimbun


Barang Pokok, Buruk Sangka
Pendapat ini disepakati sebagian ulama terakhir dari Hunabilah, Ibn Abidin
Syaukani, dan sebagian ulama Malikiyah.39

Adapun menurut Syafi’iyyah dan Hanabilah, barang yang dilarang


ditimbun adalah barang kebutuhan primer, sedangkan kebutuhan barang sekunder
tidaklah diharamkan. Ulama lain sependapaat bahwa penimbunan yang dilarang
adalah barang-barang yang bisa diperdagangkan karena akan menimbunkan
ketidak stabilan harga.40

Pendapat ulama Hanafiyah tidak menimbulkan sanksi hokum karena


hanya makruh tahrim saja. Padahal penimbun barang demi keuntungan pribadi
sangatlah tercela karena ia berusaha mengeruk keuntungan ketika orang lain
sangat kesusahan atau menari diatas penderitaan orang lain41

D. Buruk Sangka

Akhlak terbagi dua:1. Akhlakul karimah(mulia). 2.Akhlakul


mazmumah(tercela). Salah satu akhlak yang Mazmumah (tercela) adalah buruk
sangka (‫)سؤ الظن‬. Buruk sangka merupakan salah satu akhlak tercela yang selalu
menghampiri manusia. Sejelek-jelek buruk sangka ialah buruk sangka kepada
Allah SWT.42

Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap Allah
SWT. Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah SWT seperti sangkaan
jahiliyah. Mereka menduga bahwa Allah SWT tidak berpihak terhadap orang-
orang yang beriman karena kematian yang menghampiri mereka. Padahal Allah
SWT (berbuat demikian) untuk menguji mereka. Bagi yang berburuk sangka yang
demikian Allah SWT membalas mereka dengan Neraka Jahannam.43

‫ إَيَّا ُك ْم‬:‫سلَّ َم‬ َ ُ‫صلَّى َّلَّلا‬


َ ‫ع َل ْي ِه َو‬ َ ِ‫س ْو َل َّلَّلا‬ ُ ‫ أ َ َّن َر‬:‫حديث أبى هريرة رضى هللا عنه‬
‫سد ُْوا‬ َ ‫التَ َحا‬َ ‫ش ْوا َو‬
ُ ‫س ْوا َو َالتَنَا َج‬ َّ ‫س ْوا َو َال تَ َج‬
ُ ‫س‬ َّ ‫ث َو َال تَ َح‬
ُ ‫س‬ ُ َ‫الظنَ أ َ ْكذ‬
ِ ‫ب ال َح ِد ْي‬ َّ ‫الظ َّن فَإ ِ َّن‬
َّ ‫َو‬
39
Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’i, AL-hadist, ( Bandunng: CV Pustaka Setia, 2000), h.174-
175
40
Sayyid Sabik, Fikih Sunnah, Juz III, (Libanon: Daru Fikr, 1981), h. 98
41
Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’i, AL-hadist, ( Bandunng: CV Pustaka Setia, 2000), h.176
42
Dr. H. Miswar, dkk, Akhlak Tasawwuf, (Perdana Publishing, 2015), h.13
43
Ibid.

13 | L a r a n g a n Pejabat Menerima Hadiah, Tengkulak, Menimbun


Barang Pokok, Buruk Sangka
ْ ‫ا‬
‫باب‬72:‫كتاب األدب‬-75:‫(اخرجه البخارى فى‬.‫ِخ َوانًا‬ َّ َ‫ض ْوا َوالَتَدَا َب ُر ْوا َو ُك ْونُ ْو ِع َباد‬
ِ‫لَّلا‬ َ ‫َوالَتَبِّا‬
ُ ‫غ‬
.(‫ اليحل لرجل أن يهجر أخاه فوق ثالث‬:‫الهجرة وقول رسول هللا‬

Artinya: Abu Hurairoh r.a. berkata, Rasulullah SAW. Bersabda,” Berhati-


hatilah kalian dari buruk sangka sebab buruk sangka itu sedusta-dusta
cerita(berita); jangan menyelidiki; jangan memata-matai(mengamati) hal orang
lain; jangan tawar-menawar untuk menjerumuskan orang lain, jangan hasut-
menghasut; jangan benci-membenci; jangan belakang membelakangi dan jadilah
kalian sebagai hamba Allah itu bersaudara.” (Dikeluarkan oleh Bukhari dalam
(78) kitab “ Al-adab” (62) bab: “ Hijrah dan Rasulullah SAW,Tidak dihalalkan
bagi seorang laki-laki (seseorang) menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari).44

Kata ini digunakan untuk :‫اِيَّاكُم‬

Permintaan agar menghindari atau menjauhi

Prasangka, maksud dalam hadist diatas adalah buruk sangka ّ ‫اَال‬


: َّ‫ظن‬

Menurut sebagian ulama artinya mendengar perkataan orang :‫س‬ َّ ‫ت َ َح‬


َ ‫س‬

Mencari-cari kejelekan orang lain atau rahasia orang lain :‫س‬ َّ ‫ت َ َج‬
َ ‫س‬

َ ‫تَنَا َج‬
:‫اش‬

Menawar barang bukan ada tujuan untuk membeli tapi menjerumuskan orang lain

Saling membenci :‫ض‬ َ ‫تَبَا‬


َ ‫غ‬

Saling membelakangi45 :‫تَدَابَ َر‬

Amirul Mukminin Umar bin Khattab berkata,” Janganlah engkau


perangsaka yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu
kepada prasangka-prasangka yang baik. Ibn Katsir menyebutkan perkaan Umar di
atas ketika menafsirkan sebuah ayat dalam surah Al-hujurat. Bakar bin Abdullah

44
Diriwatkan oleh Al-bukhari Hadist no.6064 dan Muslim hadist no.2563
45
Prof. H. Muhammad Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: Hidakarya Agung,1989),
h.182

14 | L a r a n g a n Pejabat Menerima Hadiah, Tengkulak, Menimbun


Barang Pokok, Buruk Sangka
Al-Muzapini yang biograpinya bisa kita dapatkan dalam kitab Tahdzib At-
Tahdzib berkata: ” Hati-hatilah kalian terhadap yang sekalipun benar kalian tidak
diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut
adalah buruk terhadap saudaramu”.46

Disebutkan dalam kitab Al-hilyah karya Abu Nu’aim (II/285) bahwa Abu
Qilabah Abdullah bin Yazid Al-jurmi berkata: “ Apabila ada berita tentang
tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mencari
alasan keras untuknya. Apabila kamu tidak mendapatkan alasan keras untuknya,
maka katakanlah pada dirimu sendiri, ”Saya kira saudaraku itu mempunyai
alasan yang tepat sehingga ia memperbuat perbuatan tersebut”.47

Dalam Hadist dan keterangan di atas terdapat beberapa pembahasan yang


berkaitan dengan akhlak yang tercela yang harus dihindari oleh kaum muslim di
antanranya adalah:

1. Larangan Buruk Sangka

Buruk sangka merupakan salah satu akhlak tercela yang selalu


menghampiri manusia. Buruk sangka adalah menyangka seseorang berbuat
kejelekan atau menyangka jelek tanpa adanya sebab-sebab yang jelas untuk
memperkuat perasangkaan tersebut.48 Perbuatan seperi itu sangat dilarang oleh
Allah SWT. Orang yang melakukannya berarti dia telah berbuat dosa:

)12:‫(الحجرات‬ ‫الظ ِِّن اِثْ ٌم‬


َّ ‫ض‬ َّ َ‫َياأَيُّ َها الَّ ِذيْنَ ا َ َمنُ ْوا ْجتَ ِنبُوا َك ِثي ًْرا ِمن‬
َ ‫الظ ِِّن اِ َّن َب ْع‬
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari perasangka,
sesungguhnya sebagian perasangka itu adalah dosa” ( Q.S Al-hujurat:12).49

Dan juga disebutkan dalam surah Yunus ayat 60:

46
Ibn Katsir, Bidayah Wa Nihayah, (Beirut: Dar Al-qu’an Al-karim 1982) Jilid XIII/121
47
Ibn Katsir, Bidayah Wa Nihayah.
48
Prof. H. Muhammad Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: Hidakarya Agung,1989),
h.183
49
Al-Qur’an Terjemah MUI Indonesia Surah Al-Hujrat

15 | L a r a n g a n Pejabat Menerima Hadiah, Tengkulak, Menimbun


Barang Pokok, Buruk Sangka
ِ َّ‫علَى الن‬
‫اس‬ َ ‫ض ٍل‬ َّ ‫ِب َي ْو َم ا ْل ِق َي َم ِة ا َِّن‬
ْ َ‫لَّلاَ لَذُ ْواف‬ َ ‫لَّلاِ ْال َكذ‬
َّ ‫علَى‬َ َ‫ظ ُّن الَّ ِذيْنَ َي ْفت َ ُر ْون‬ َ ‫َو َما‬
ُ ‫َولَ ِك َّن ا َ ْكث َ َر ُه ْم الَ َي ْش ُك‬
)60:‫ر ْونَ (يونس‬

”Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali dengan perasangka saja.


Sesungguhnya perasangka itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai
kebenaran. Sesungguh allah lecbih tau apa yang mereka lakukan”. ( Q.S Yunus
60).50

Apalagi kalau berburuk sangka tersebut terhadap masalah-masalah aqidah


yang harus di yakini apa adanya. Buruk sangka dalam masalah ini adalah haram.
Sebaliknya, berburuk sangka terhadap masalah kehidupan agar memiliki semangat
untuk menyelidikinya, adalah dibolehkan.51

Buruk sangka dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai sedusta


telah menganggap jelek kepadanya padahal ia tidak memiliki dasar sama sekali.
Buruk sangka biasa timbul dari sendiri. Hal itu sangat berbahaya karna akan
mengganggu hubungannya dengan orang yang dituduh jelek, padahal belum tentu
tersbut sejelek persangkaannya. Itulah sebabnya, berburuk sangka berbahaya,
bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa berburuk sangka lebih berhaya dari
pada berbohong.52

Larangan memata-matai disini adalah menyelidiki atau memata-matai


kekurangan dan aib orang lain, baik melalui pendengaranya maupun sengaja
menyelidikinya, terutama hal-hal yang tersembunyi yang tidak pantas untuk
diketahuinya. Selain orang itu sendiri dan Allah SWT.53

Cukuplah mengetahui orang lain dari hal-hal yang zahir saja sedangkan
untuk urusan bathin yang tidak tampak, biarlah Allah SWT saja dan orang yang
bersangkutan yang menbgetahui. Allah SWT berfirman:

50
Al-Qur’an Terjemah MUI Indonesia Surah Yunus
51
Prof. H. Muhammad Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: Hidakarya Agung,1989),
h.183
52
Ibid.
53
Ibid, h.184

16 | L a r a n g a n Pejabat Menerima Hadiah, Tengkulak, Menimbun


Barang Pokok, Buruk Sangka
ُ‫ضا أَي ُِحبُّ أ َ َحدُ ُك ْم أ َ ْن َيأ ْ ُك َل لَ ْح َم أ َ ِخ ْي ِه َم ْيتًا َف َك ِرهت ُ ُم ْوه‬
ً ‫ض ُك ْم َب ْع‬
ُ ‫س ْوا َو َال َي ْغتَبْ َب ْع‬ َّ ‫َو َالت َ َج‬
ُ ‫س‬
)12:‫(الحجرات‬ ٌ ‫لَّلا تَ َّو‬
‫اب َّر ِح ْي ٌم‬ َّ ‫َواتَّقُ ْوا‬
َ َّ ‫لَّلاَ إ َ َّن‬

”Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian
kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah seorang diantara kamu memakan
daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu akan merasa jijik
kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha menerima
taubat”. ( Q.S. Al-hujurat:12).54

Sewaktu menafsirkan ayat ini Al-baidhawi mengatakan bahwa orang-


orang ber iman itu laksana satu jiwa. Oleh sebab itu, antara satu dengan lainnya
tidak layak untuk memata-matai saudarnya. Dalam apapun hati yang bersih tidak
akan menimbulkan iri dan dengki dengan mencari- cari kesalahan saudaranya
tersebut. Hanya hati yang rusak dan kotor yang mau menyimpan perasaan itu.
Hati yang demikian adalah hati yang fasiq dan maksiat bukan hati yang benar-
benar beriman. 55

Dalam ayat ini juga terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan


berperasangka, karna sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan
perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus. Tajassus
ialah mencari kesalah dan kejelekan orang lain, yang biasanya epek dari
perasangka yang buruk.56

Namun demikian, dibolehkan menyelidiki orang lain demi kemaslahatan l-


masyarakat. Misalnya, menyelidi dan memata-matai orang yang akan membunuh
atau yang akan mencuri. Menyelidi perbuatan itu memang boleh bahkan tidak di
haramkan. 57

Arti hasud secara umum adalah iri hati, yakni menginginkan agar
kesukaan dan kesenangan yang sedang dimiliki oleh orang lain lenyap, baik
berupa harta atau yang lainnya. Perbuatan tersebut sangan bertentangan sekali

54
Al-Qur’an Terjemah MUI Indonesia Surah Al-Hujraat
55
Al-baidhawi, Tafsir Al-baidhawi (tp., tt), Juz II,
56
Dr. Abdurrahman, M.A, Sifat-sifat tercela,( DJogja: Setia Budi 2001), h. 43
57
Ibid 45

17 | L a r a n g a n Pejabat Menerima Hadiah, Tengkulak, Menimbun


Barang Pokok, Buruk Sangka
dengan norma-norma ajaran islam, yang mengajarkan agar di antara sesame
muslim saling tolong menolong. Sebagaimana Alla jelas menyindir hal yang
demikian tersebut dalam Al-qur’an.58

‫اء‬
ِ ‫س‬َ ِّ‫ب َو ِلل ِن‬ َ َ ‫ب ِم َّما ا ْكت‬
ُ ‫س‬ ٌ ‫َص‬ ِ ‫ض ِلل ِ ِّر َجا ِل ن‬ ِ ‫علَى َب ْع‬ َ ‫ض ُك ْم‬
َ ‫لَّلاُ ِب ِه َب ْع‬ َّ َ‫َوالَتَتَ َمنَّ ْوا َماف‬
َّ ‫ض َل‬
)32:‫ع ِل ْي ًما ( النساء‬
َ ٍ‫ش ْيء‬َ ‫لَّلا َكانَ ِب ُك ِِّل‬
َ َّ ‫ض ِل ِه ِإ َّن‬ َّ ‫سبْنَ َوسْألُ ْو‬
ْ َ‫لَّلاَ ِم ْن ف‬ َ َ ‫ب ِم َّماا ْكت‬
ٌ ‫َص‬ ِ ‫ن‬

”Dan jangan kamu iri hati terhadap apa yang di anugrahkan Allah kepada
sebagian kaum lebih banyak daripada sebagian kaum. (Karena) bagi orang laki-
laki ada bahagian dari apa yang ia usahakan, dan bagi wanita (pun) ada bagian
dari apa yang ia usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari
karunianya. Sesungguhnya Allah maha mengetahui atas segala sesuatu”. (Q.S.
An-nisa’:32).59

Dalam ayat yang lain Allah menyuruh kita untuk berlindung kepadanya
dan berlindung dari yang demikian dan perbuatan-perbuatan orang yang suka
hasad:

)5:‫( الفالق‬ َ ‫َو ِم ْن ش ِ َِّر َحا ِس ٍد ِإذَا َح‬


َ ‫سد‬

”Dan (katakanlah, aku berlindung kepada tuhan yang menguwasai subuh) dari
kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”. ( Q.S. Al-falaq:5).60

Buruk sangka, menyelidiki, memata-matai rahasia dan kejelekan orang


lain, menawar, dan menjerumuskan orang lain, hasud menghasud, benci
membenci dll. Adalah sifat-sifat yang dilarang dalam islam bahkan para imam-
imam mujtahidpun sepakat bahwa perbuatan yang demikian adalah perbuatan
yang haram.61 Oleh sebab itu kita selaku ummat muslim harus menghindari dan
membuang jauh-jauh sifat-sifat tersebut.

58
Al-baidhawi, Tafsir Al-baidhawi (tp., tt), Juz II,
59
Al-Qur’an Terjemah MUI Indonesia Surah an-Nas
60
Al-Qur’an Terjemah MUI Indonesia Surah Al-Falaq
61
Berpahala meninggalkannya, dan berdosa bagi orang yang melakukannya.

18 | L a r a n g a n Pejabat Menerima Hadiah, Tengkulak, Menimbun


Barang Pokok, Buruk Sangka
Bab III

Penutup

Kesimpulan

Pada dasarnya memberikan hadiah adalah suatu perbuatan yang akan


membawa suatu kebahagiaan bagi orang yang diberi hadiah maupun orang yang
memberi hadiah. Akan tetapi, islam memberikan rambu-rambu tentang hal
memberi hadiah baik itu dari sang pemberi hadiah maupun sang penerima hadiah.
Dengan kata lain pemberian hadiah tidak bisa diberikan kepada semua orang.
Menurut Hadawiyah dan Asy-Syafi’iyah, larangan mencegat barang
adalah diluar daerah. Dengan alasan bahwa larangan tersebut erat kaitannya
dengan penipuan terhadap para kafilah. Apabila para kafilah sudah sampai
didaerah maka ia akan mengetshui harga yang sebenarnya. Sedangkan ulama
Malikiyah, Ahmad, Ishaq berpendapat bahwa hadis itu melarang mencegat para
kafilah diluar pasar secara mutlak, dengan mengamalkan zahir hadis.
Adapun menurut Syafi’iyyah dan Hanabilah, barang yang dilarang
ditimbun adalah barang kebutuhan primer, sedangkan kebutuhan barang sekunder
tidaklah diharamkan. Ulama lain sependapaat bahwa penimbunan yang dilarang
adalah barang-barang yang bisa diperdagangkan karena akan menimbunkan
ketidak stabilan harga.

Pendapat ulama Hanafiyah tidak menimbulkan sanksi hokum karena


hanya makruh tahrim saja. Padahal penimbun barang demi keuntungan pribadi
sangatlah tercela karena ia berusaha mengeruk keuntungan ketika orang lain
sangat kesusahan atau menari diatas penderitaan orang lain.

Buruk sangka dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai sedusta


telah menganggap jelek kepadanya padahal ia tidak memiliki dasar sama sekali.
Buruk sangka biasa timbul dari sendiri. Hal itu sangat berbahaya karna akan
mengganggu hubungannya dengan orang yang dituduh jelek, padahal belum tentu
tersbut sejelek persangkaannya. Itulah sebabnya, berburuk sangka berbahaya,
bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa berburuk sangka lebih berhaya dari
pada berbohong.

19 | L a r a n g a n Pejabat Menerima Hadiah, Tengkulak, Menimbun


Barang Pokok, Buruk Sangka
Daftar Pustaka

 Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’i, AL-hadist, Bandunng: CV Pustaka Setia, 2000


 Mada Md, Larangan Pejabat Menerima Hadiah, Mada165 Blogspot
Com/2015/06/Larangan-Pejabat-Menerima-Hadiah_4.Html
 Hukum-Hukum Islam, Http://Ghofur-Ulya.Blogspot.Co.Id/2012/05/Hukum-
Pejabat-Menerima-Hadiah.Html, Minggu, 10 Desember 2017, 19.50 WIB
 Irvan Bagus Santoso, Pns Dilarang Terima Hadiah,
Https://Media.Iyaa.Com/Article/2016/06/PNS-Dilarang-Terima-Hadiah.
 A. Hasan, Terjemah Bulughul Maram, Cet: XVI, (Bandung: Cv. Diponegoro,
1972), h.398
 Prof. H. Muhammad Yunus, Kamus Arab Indonesia, Jakarta: Hidakarya
Agung,1989
 Dr. Nuruudin ’Itr, Ulumul Hadis, cet,II, Jakarta: Rosda, 2012
 Ibnu Hajar Al-Asqalani, Subulus Salam, juz III.
 Sayyid Sabik, Fikih Sunnah, Juz III, Libanon: Daru Fikr, 1981
 Ibn Katsir, Bidayah Wa Nihayah, Jilid XIII , Beirut: Dar Al-qu’an Al-karim
1982
 Al-baidhawi, Tafsir Al-baidhawi (tp., tt), Juz II
 Dr. Abdurrahman, M.A, Sifat-sifat tercela, DJogja: Setia Budi 2001

20 | L a r a n g a n Pejabat Menerima Hadiah, Tengkulak, Menimbun


Barang Pokok, Buruk Sangka