Anda di halaman 1dari 44

A. Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Pendidikan Agama Islam (PAI) di Perguruan Tinggi Umum (PTU) merupakan kelanjutan dari pengajaran yang diterima oleh peserta didik mulai dari Tingkat Dasar, Sekolah Menegah Pertama dan Atas. Namun berbagai persoalan muncul dalam proses pembelajaran PAI. Materi yang diajarkan boleh dikatakan sama secara nasional. Banyaknya materi ajar dan kurang berfariasinya pengajar dalam menyampaikannya, ditambah lagi dengan alokasi waktu yang kurang memadai, menjadikan peserta didik (mahasiswa) kurang bergairah dalam menyerap perkuliahan. Kesan yang sering muncul di kalangan mahasiswa adalah mata kuliah “wajib lulus” ini seakan berubah menjadi “wajib diluluskan” karena kalau tidak lulus akan menjadi hambatan bagi mata kuliah di atasnya. Secara sederhana bisa juga dikatakan bahwa mahasiswa “wajib lulus” dan sang dosen “wajib meluluskan”.

Tentu ini menjadi masalah yang cukup serius. Sepanjang yang saya ketahui, sudah sering dilakukan upaya peningkatan mutu PAI di PTU, baik bagi staf pengajarnya, materi kurikulum dan usulan penambahan jumlah SKS-nya. Namun selalu terkendala dilapangan oleh berbagai faktor, misalnya staf pengajar yang belum seragam dalam pendekatan pembelajaran PAI karena perbedaan latar belakang disiplin ilmu masing-masing dalam bidang keagamaan. Materi kurikulum yang ditetapkan secara nasional sering kali membuat staf pengajar tidak mampu melakukan improfisasi sehingga tidak jarang kelas menjadi monoton. Dilihat dari jumlah tatap muka sudah jelas tidak memadai hanya dengan 2 sks. Berbagai upaya dilakukan untuk menambah jam pelajaran PAI, namun jawaban yang sering didengar adalah “sudah begitu banyak beban mata kuliah masiswa yang harus diselesaikan, terutama mata kuliah Jurusan, sehingga tidak perlu diberi beban tambahan”.

Melihat perubahan pola pikir mahasiswa dan berkembangnya ilmu pengetahuan, perlu berbagai upaya untuk untuk mengoptimalkan buku IDI (Islam dan Disiplin Ilmu), perlu pengembangan PAI melalui pendekatan ilmu yang ditekuni oleh masing-masing program studi mahasiswa dengan melihat masing-masing sub pokok bahasan melalui disiplin ilmu tertentu sebagai pengayaan PAI di PTU. Untuk mahasiswa Politeknik, hal ini dirasakan masih belum memadai dan perlu dikembangkan.

Pendidikan agama merupakan upaya sadar untuk mentaati ketentuan Allah sebagai guidance dan dasar para peserta didik agar berpengetahuan keagamaan dan handal dalam menjalankan ketentuan-ketentuan Allah secara keseluruhan. Sebagian dari ketentuan- ketentuan Allah itu adalah memahami hukum-hukum-Nya di bumi ini yang disebut dengan ayat-ayat kauniyah. Ayat-ayat kauniyah itu dalam aktualisasinya akan bermakna Sunanatullah (hukum-hukum Tuhan) yang terdapat di alam semesta. Dalam ayat-ayat kauniyah itu terdapat ketentuan Allah yang berlaku sepenuhnya bagi alam semesta dan melahirkan ketertiban hubungan antara benda-benda yang ada di alam raya.(Dep. Agama, IDI EIII, 1996, h 4).

Untuk memahami hukum-hukum Tuhan itu, manusia perlu menggunakan akalnya yang dibimbing oleh tauhid sebagai pembeda manusia dengan makhluk lain (QS. 7:199). Karena itu pula hanya manusia yang dipersiapkan oleh Allah menjadi khalifah di muka bumi (QS.

2:30).

B. Kedudukan Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi Peran penting agama atau nilai-nilai agama dalam bahasan ini berfokus pada lingkungan lembaga pendidikan, khususnya perguruan tinggi. Salah satu mata kuliah dalam lembaga pendidikan di perguruan tinggi, yang sangat berkaitan dengan perkembangan moral dan

A.

perilaku adalah Pendidikan Agama. Mata kuliah Pendidikan Agama pada perguruan tinggi termasuk ke dalam kelompok MKU (Mata Kuliah Umum) yaitu kelompok mata kuliah yang menunjang pembentukan kepribadian dan sikap sebagai bekal mahasiswa memasuki kehidupan bermasyarakat. Mata kuliah ini merupakan pendamping bagi mahasiswa agar bertumbuh dan kokoh dalam moral dan karakter agamaisnya sehingga ia dapat berkembang menjadi cendekiawan yang tinggi moralnya dalam mewujudkan keberadaannya di tengah masyarakat.

Tujuan mata kuliah Pendidikan Agama pada Perguruan Tinggi ini amat sesuai dengan dasar dan tujuan pendidikan nasional dan pembangunan nasional. GBHN 1988 menggariskan bahwa pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila “bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, bertanggung jawab, mandiri, cerdas, terampil serta sehat jasmani dan rohani… dengan demikian pendidikan nasional akan membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”.

Kualitas manusia yang ingin dicapai adalah kualitas seutuhnya yang mencakup tidak saja aspek rasio, intelek atau akal budinya dan aspek fisik atau jasmaninya, tetapi juga aspek psikis atau mentalnya, aspek sosial yaitu dalam hubungannya dengan sesama manusia lain dalam masyarakat dan lingkungannya, serta aspek spiritual yaitu dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta. Pendidikan Tinggi merupakan arasy tertinggi

dalam keseluruhan usaha pendidikan nasional dengan tujuan menghasilkan sarjana-sarjana yang profesional, yang bukan saja berpengetahuan luas dan ahli serta terampil dalam bidangnya, serta kritis, kreatif dan inovatif, tetapi juga beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berkepribadian nasional yang kuat, berdedikasi tinggi, mandiri dalam sikap hidup dan pengembangan dirinya, memiliki rasa solidaritas sosial yang tangguh dan berwawasan lingkungan. Pendidikan nasional yang seperti inilah yang diharapkan akan membawa bangsa kita kepada pencapaian tujuan pembangunan nasional yakni “…

masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual Kesimpulan Agama sebagai pranata sosial berperan sangat penting dalam mempengaruhi perilaku para penganutnya dalam kehidupan sehari-hari. Peranan penting agama dan nilai-nilai agama ini antara lain terlihat dalam mata kuliah Pendidikan Agama. Mata kuliah ini merupakan pendamping yang penting bagi mahasiswa agar bertumbuh dan kokoh dalam moral dan karakter agamawinya sehingga ia dapat berkembang menjadi cendekiawan yang tinggi moralnya dan benar serta baik perilakunya.

”.

Perilaku kehidupan beragama di Indonesia masih kuat dibayang-bayangi tradisiformalisme dan keberagamaan belum mempunyai kekuatan untuk mengoreksi distorsi moral dalam kehidupan sosial. Musuh agama tidak hanya maksiat, tetapi juga korupsi dan kekerasan. Dari hari ke hari kita semakin biasa mendengar dan melihat pembakaran, pengrusakan, pengeroyokan, pembunuhan, dan teror bom. Sementara itu, masyarakat semakin apatis terhadap pemberantasan korupsi yang masih berputar-putar pada isu. Sebagai bangsa yang dikenal religius, seharusnya keberagamaan mempunyai kontribusi untuk mengurangi kejahatan sosial di sekitar kita. Nyatanya, belum ada tanda-tanda demikian. Sebuah pekerjaan rumah yang besar. Pertanyaan yang menggelitik, ”Apakah ada yang salah dengan pendidikan agama di sekolah sehingga lahir generasi seperti ini?” Sebuah pertanyaan kecil yang patut direnungkan.

B. Saran Pendidikan agama Islam sebagaimana telah ditetapkan sebagai mata kuliah wajib pada perguruan tinggi, diharapkan dapat mengembangkan sistem, metode, materi dan dosen yang berkomptensi pada pengajaran. Sehingga diharapkan kedudukan pendidikan agama Islam sebagai mata kuliah pengembang kepribadian di perguruan tinggi, mampu menghasilkan mahasiswa yang berakhlak mulia.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Kapita Selecta Pendidikan Umum dan Agama, Semarang: Toha Putra, 1986. B.S. Mardiatmaja, Tantangan Dunia Pendidikan, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1996 Dirjen Perguruan Tinggi Agama Islam, Buku Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi Umum, Depag. RI, 1988

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0212/14/opi02.html

Johannes Oentoro, Pendidikan di Abad ke-21 Judowibowo Poerwowidagdo, Agama, Pendikan dan Pembangunan Nasional, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1996 Nasir, Sahilun A., Pokok-pokok Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi, Surabaya: Al Ikhlas, Indonesia, 1984.

pengertian PAI

Kata pendidikan dalam bahasa Yunani dikenal dengan nama paedagogos yang berarti penuntun anak. Paedagogos berasal dari kata paedos (anak) dan agoge (saya membimbing).[1]Dalam wacana Islam, pendidikan lebih populer dengan istilah tarbiyah, ta’lim, ta’dib dan riyadhah. Istilah-istilah tersebut dijabarkan sebagai berikut. 1. Tarbiyah Tarbiyah mengandung arti memelihara, membesarkan, mendidik, memelihara, merawat dan lain sebagainya. Tarbiyah dari kata kerja rabba, yang mana kata ini termaktub dalam firman Allah.

(AYAT TIDAK DAPAT DITAMPILKAN DI BLOG INI)

Artinya:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:

"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil". [2] Menurut Fahr al-Razi, istilah rabbayani tidak hanya mencakup ranah kognitif, tetapi juga afektif. Sementara Syed Quthub menafsirkan istilah tersebut sebagai pemeliharaan jasmani anak dan menumbuhkembangkan kematangan mentalnya.[3]

Dalam pengertian yang sederhana, makna pendidikan adalah sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan, baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan kebudayaan.[4]

2. Ta’lim Ta’lim merupakan mashdar (kata benda buatan) yang berasal dari akar kata allama.Sebagian para ahli menerjemahkan istilah ta’lim dengan pengajaran yang lebih cenderung mengarah pada aspek kognitif saja. Muhammad Rasyid Ridha mengartikan ta’lim dengan proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.[5]

3. Ta’dib Ta’dib pada umumnya diterjemahkan dengan pendidikan sopan santun, tata krama, budi pekerti, akhlak, moral, dan etika.[6] Ta’dib yang seakar dengan adab memiliki arti pendidikan peradaban dan kebudayaan. Menurut Naquib al-Attas, Ta’dib berarti pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuatan dan kegungan Tuhan.[7]

Istilah ini menunjukkan bahwa pendidikan mengarahkan pada pembentukan sosok manusia

yang memiliki tata krama serta akhlak mulia, memiliki adab kepada Allah, sesama manusia dan lingkungannya. 4. Riyadhah Riyadhah secara bahasa diartikan dengan pengajaran dan pelatihan. Menurut al-Bastani dalam konteks pendidikan berarti mendidik jiwa anak dengan akhlak yang mulia. Sedangkan menurut al-Ghazali, mengartikan pelatihan dan pendidikan kepada anak yang lebih menekankan pada aspek psikomotorik dengan cara melatih. Pelatihan memiliki arti pembiasaan dan masa kanak-kanak adalah masa yang paling cocok dengan metode pembiasaan ini.[8] Terdapat beberapa perbedaan istilah Pendidikan Agama Islam yang dikemukakan oleh

diungkapkan Zakiyah

Daradjat[9] yaitu, “(1) Pendidikan Agama Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar setelah selesai dari pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup (way of life); (2) Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan ajaran Islam. (3) pendidikan agama Islam adalah pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam yang telah diyakininya, serta menjadikan keselamatan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.”

pakar

pendidikan.

Pendidikan

Agama

Islam

sebagaimana

Sahilun A. Nasir merumuskan Pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut. “Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha yang sistematis dan pragmatis dalam membimbing anak didik yang beragama Islam dengan cara sedemikian rupa, sehingga ajaran-ajaran Islam itu benar-benar dapat menjiwai, menjadi bagian yang integral dalam dirinya. Yakni ajaran Islam itu benar-benar dipahami, diyakini kebenarannya, diamalkan menjadi pedoman hidupnya, menjadi pengontrol terhadap perbuatan, pemikiran dan sikap mental.[10]

Sedangkan Arifin mendefinisikan pendidikan Islam adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang lebih baik dan yang mengangkat derajat kemanusiaannya, sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarannya.[11] Dari pengertian-pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah segenap kegiatan yang dilakukan seseorang untuk membantu seseorang atau sekelompok peserta didik dalam menanamkan dan menumbuhkembangkan ajaran Islam dan nilai-nilainya untuk dijadikan sebagai pandangan hidup yang diaplikasikan dalam kehidupannya sehari-hari.

[1] Djumransjah, Filsafat Pendidikan, (Malang: Bayumedia Publishing, 2004), hlm. 22 [2] QS. Al-Isra’/17: 24 [3] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006), hlm. 12 [4] Djumransjah, op.cit., hlm 22 [5] Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, (Kairo: Dar al-Manar, 1373 H), Juz I, hlm. 262 [6] Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, hlm. 149 [7] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, op.cit., hlm. 21 [8] Ibid. [9] Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2008), hlm. 15 [10] Aat Syafaat dan Sohari Sahrani, Peranan Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Kenakalan Remaja, (Jakarta:

RajaGrafindo Persada, 2008), hlm. 15 [11] M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta; Bumi Aksara, 1994), hlm. 14

Kedudukan Pendidikan Agama Islam dalam kurikulum nasional Pendidikan Tinggi adalah merupakan mata kuliah wajib yang harus diikuti mahasiswa yang beragama Islam di seluruh perguruan tinggi umum, di setiap jurusan, program dan jenjang pendidikan, baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik memiliki kepribadian muslim secara utuh, yakni selalu taat menjalankan perintah agamanya, bukan menjadikan mereka sebagai ahli dalam bidang ilmu agama.[1]

[1] Wahyuddin, dkk. op.cit., hlm. 5

Fungsi pendidikan agama islam

Setiap tindakan dan aktifitas harus berorientasi pada tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan seharusnya berorientasi pada tujuan yang ingin dicapai, bukan semata-mata berorientasi pada sederetan materi.[1] Tujuan merupakan standar usaha yang dapat ditentukan, serta mengarahkan usaha yang akan dilalui dan merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain. Di samping itu, tujuan dapat membatasi ruang gerak usaha, agar kegiatan dapat terfokus pada apa yang dicita- citakan dan yang terpenting lagi adalah dapat memberi penilaian pada usaha-usaha pendidikan.

[2]

Secara umum Zakiah Daradjat membagi tujuan Pendidikan Agama Islam menjadi empat macam, yaitu:

Tujuan umum adalah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara lain.

2. Tujuan Akhir Tujuan akhir adalah tercapai wujud insan kamil¸ yaitu manusia yang telah mencapai ketakwaan dan menghadap Allah dalam ketakwaannya.

3. Tujuan Sementara Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah anak diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal.

4. Tujuan Operasional Tujuan operasional adalah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu.[3] Mata kuliah Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi juga memiliki visi dan misi tersendiri. Adapun visinya adalah menjadikan ajaran agama Islam sebagai sumber nilai dan pedoman yang mengantarkan mahasiswa dalam pengembangan profesi dan kepribadian Islam. Sedangkan misinya adalah untuk membina kepribadian mahasiswa secara utuh dengan harapan bahwa manusia kelak akan menjadi ilmuwan yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.[4] Tujuan umum PAI di PTN adalah memberikan landasan pengembangan kepribadian kepada mahasiswa agar menjadi kaum intelektual yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berpikir filosofis, bersikap rasional, dan dinamis berpandangan luas, ikut serta dalam kerjasama antar umat beragama dalam rangka pengembangan dan pemanfaatan ilmu dan teknologi serta seni untuk kepentingan nasional.[5] Syahidin mengungkapkan tujuan khusus mata kuliah PAI di PTN adalah sebagai berikut.

1. Membentuk manusia bertakwa, yaitu manusia yang patuh dan takwa kepada Allah dalam menjalankan ibadah dengan menekankan pembinaan kepribadian muslim yakni pembinaan akhlakul karimah;

2. Melahirkan para agamawan yang berilmu. Bukan para ilmuwan dalam bidang agama, artinya yang menjadi titik tekan PAI di PTN adalah pelaksanaan agama di kalangan calon para intelektual yang ditunjukkan dengan adanya perubahan perilaku mahasiswa ke arah kesempurnaan akhlak;

3. Tercapainya keimanan dan ketakwaan pada mahasiswa serta tercapainya kemampuan menjadikan ajaran agama sebagai landasan penggalian dan pengembangan disiplin ilmu yang ditekuninya. Oleh sebab itu, materi yang disajikan harus relevan dengan perkembangan pemikiran dunia mereka;

4. Menumbuhsuburkan dan mengembangkan serta membentuk sikap positif dan disiplin serta cinta terhadap agama dalam pelbagai kehidupan peserta didik yang nantinya diharapkan menjadi manusia yang bertakwa kepada Allah, taat pada perintah Allah dan Rasul-Nya.[6] Dari beberapa uraian di atas, jelaslah bahwa keberadaan Mata Kuliah PAI di Perguruan Tinggi adalah sangat penting, yang mana bertujuan membina kepribadian mahasiswa secara utuh dengan harapan bahwa kelak akan menjadi ilmuwan yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, dan mampu mengabdikan ilmunya untuk kesejahteraan umat manusia.

[1] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, op.cit., hlm. 71 [2] Ahmad D. Marimba, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma’arif, 1989), hlm. 45-46 [3] Akhmad Sudrajat, Tujuan Pendidikan Islam, artikel, (akhmadsudrajat.wordpress.com), di akses tanggal 28 Januari

2012

[5] Sesuai dengan SK Dirjen Dikti Nomor 38/DIKTI/Kep/2002, kemudian diperbarui dengan ditetapkannya Kep. Dirjen Dikti Nomor 43/DIKTI/Kep/2006 tentang Rambu-rambu Pelaksanaan kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) di Perguruan Tinggi. [6] Syahidin, Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum, (Jakarta: Proyek Dikti, 2003), hlm. 3

Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Umum (Kedudukan, Problem dan Prospeknya)

M A K A L A H

A.

Oleh: Sri Rahayu

PENDAHULUAN

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, fleksibel dan nilai-nilai ajarannya selalu dapat diterima seperti apa pun dinamika perkembangan zaman. Tidak ada ajaran agama yang setolerir ajaran Islam. Sehingga sungguh bijak jika pemerintah menjadikan pendidikan agama Islam menjadi salah satu komponen yang dipelajari secara kontinyu dalam dunia pendidikan formal kita. Bahkan menjadi mata pelajaran wajib di tingkat pendidikan dasar, menengah, dan mata kuliah wajib pada perguruan tinggi. Sekalipun pada

umum.

perguruan

tinggi

Pada dasarnya pendidikan agama di perguruan tinggi merupakan kelanjutan dari pendidikan agama yang

dilaksanakan pada jenjang pendidikan sebelumnya. Yaitu mulai dari jenjang TK dilanjutkan ke SD, lalu ke SMP kemudian ke SMA. Dari SMA dilanjutkan ke perguruan tinggi. Dinamika Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi Umum telah terukir dalam sejarah pendidikan di tanah air sejak awal hadirnya perguruan tinggi di negri ini. Bermula dari sebagai mata kuliah yang dianggap kehadirannya tidak diperlukan hingga eksistensinya ‘dihadirkan’ sebagai mata kuliah wajib. Makalah ini akan membahas tentang Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum. Bagaimana kedudukan, problem dan prospek Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi Umum, itu lah yang menjadi

pokok

bahasan

dalam

makalah

ini.

B.

PEMBAHASAN

1.

Kedudukan

Pendidikan

Agama

Islam

Pada

Perguruan

Tinggi

Umum.

Sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia telah mencatat bahwa pada tahun 1910 pendapat umum

masih menyatakan bahwa Indonesia belum matang untuk suatu perguruan tinggi, karena belum mempunyai sekolah menengah sebagai sumber murid yang potensial dapat menjadi calon mahasiswa dan lebih penting lagi Indonesia belum mempunyai suasana intelektual tempat ilmu dapat bersemi. Namun ada suara-suara yang menyatakan bahwa pada suatu saat Indonesia tak dapat tidak harus mempunyai perguruan tinggi untuk melatih para ahli dan pekerja untuk kedudukan tinggi. Sebaliknya ada pula pendapat bahwa pendidikan tinggi bagi orang Indonesia akan merusak pribadinya karena ia akan tidak sesuai lagi dengan lingkungannya dan akan mengalami konflik untuk mengasimilasikan dirinya dengan masyarakat Belanda. Ada pula keragu-raguan apakah orang Indonesia dapat dididik dalam ilmu pengetahuan yang setaraf dengan orang Barat, sekalipun orang Indonesia telah menunjukkan prestasi

yang

mencapai gelar akademik.

Secara historis sosial politik, pada saat itu Indonesia adalah Negara jajahan Belanda. Salah satu ciri

luar

biasa

dalam

Belanda dalam menjajah ialah melakukan pembodohan terhadap Negara jajahannya. Jadi tidaklah

mengherankan jika situasi seperti ini yang muncul pada saat itu. Cara Belanda menjajah sangat berbeda dengan cara Inggris. Kalau Inggris justru mencerdaskan Negara jajahannya. Apabila Negara jajahannya

mulai

Waktu terus berjalan dan dukungan terhadap perguruan tinggi di Indonesia bertambah kuat. Perang Dunia I yang menghalangi banyak lulusan HBS melanjutkan pelajarannya di negeri Belanda membuat perguruan tinggi di Indonesia sangat urgen. Sebagai tindakan darurat suatu lembaga untuk Pendidikan Tinggi mengumpulkan dana di Nederland untuk membuka kursus persiapan dua tahun. Pada tahun 1919 dimulai pembangunan gedung perguruan tinggi teknik di Bandung yang secara resmi dibuka pada tahun 1920. Dengan ini lengkaplah sistem pendidikan di Indonesia yang memungkinkan seorang anak menempuh pendidikan dari sekolah rendah sampai pendidikan tertinggi melalui suatu rangkaian sekolah yang saling bertalian. Bagi anak Indonesia jalan ini masih sempit, akan tetapi jalan itu telah ada. Dalam tahun akademis 1920-1921 Technische Hogeschool atau Sekolah Teknik Tinggi (yang kemudian menjelma menjadi ITB) mempunyai 28 mahasiswa di antara 22 orang Belanda, 4 Cina dan 2 orang Indonesia. Sekolah ini menghasilkan lulusannya pertama pada tahun 1923-1924 yakni 9 Belanda 3 Cina dan tak seorang pun orang Indonesia. Orang Indonesia pertama lulus pada tahun akademis 1925-1926, yakni sekaligus 4 orang di antaranya Ir.Soekarno yang kemudian menjadi Presiden pertama Republik Indonesia. Pembelajaran yang dapat kita ambil dari peristiwa ini adalah jangan pernah menyerah sebelum mencoba. Karena Allah sendiri telah mengingatkan kita bahwa Dia tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali oleh kaum itu sendiri (Q.S;13;11). Keep spirit and never give up. Kemudian dalam perjalan sejarah pendidikan di Indonesia, pada tanggal 2 April 1950 tepatnya di Yogyakarta muncullah UU No. 4 tahun 1950 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah

memberi kemerdekaan.

‘cerdas’

mereka

untuk seluruh Indonesia. Jika kita tinjau dari segi politik pada saat itu bentuk Negara Indonesia adalah Republik Indonesia Serikat (RIS) dan ibukota Negara berada di Yogyakarta (RIS berdiri 27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950). Undang-Undang ini seluruhnya terdiri dari 17 bab dan 30 pasal. Uniknya Undang-Undang ini tidak begitu dikenal, sehingga sulit menemukannya dalam referensi Undang-Undang pendidikan. Kedudukan pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum dalam UU No. 4 tahun 1950 belum dibicarakan secara spesifik. Baik itu dalam tujuan umum pendidikan maupun dalam tujuan pendidikan tinggi. Berikut kutipan bunyi pasal 3, pasal 7 ayat 4 dan pasal 20 yang menunjukkan hal tersebut:

3.

Pasal

Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang

demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.

7

Pasal

4. Pendidikan dan pengajaran tinggi bermaksud memberi kesempatan kepada pelajar untuk menjadi

orang yang dapat memberi pimpinan di dalam masyarakat dan yang dapat memelihara kemajuan ilmu

dan

kemajuan

hidup

kemasyarakatan.

Pasal

20.

1. Dalam sekolah-sekolah Negeri diadakan pelajaran agama; orang tua murid menetapkan apakah

anaknya

2. Cara menyelenggarakan pengajaran agama di sekolah-sekolah Negeri diatur dalam peraturan yang

ditetapkan oleh Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, bersama-sama dengan Menteri Agama. Dari rumusan pasal-pasal di atas, dapat dinyatakan bahwa tidak tercermin adanya perhatian terhadap

pelajaran tersebut.

akan

mengikuti

usaha pembinaan mental spiritual dan keagamaan secara terus menerus melalui proses pendidikan. Dengan kata lain kedudukan pendidikan agama Islam dalam Undang-Undang ini masih sangat lemah.

Kondisi ini bisa dipahami jika kita meninjau perjalanan hadirnya Undang-Undang ini, bahwa Undang- Undang No. 4 tahun 1950 tidak lahir dengan begitu saja, tapi melalui proses panjang seperti halnya pembentukan UU Sisdiknas tahun 2003 yang sulit untuk disahkan karena banyak kepentingan, baik secara politik, sosial, budaya, ekonomi dan emosi (sentiment) keagamaan turut ikut serta di dalamnya (terutama jika mengingat tahun 1950-an Partai Komunis Indonesia masih ‘berkuku’ di parlemen). Selanjutnya Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi baru dimulai sejak tahun 1960 dengan adanya ketetapan MPRS No. II/ MPRS/1960 yang berarti pendidikan agama sebelum itu secara formalnya baru diberikan di Sekolah Rakyat sampai dengan Sekolah Lanjutan Tingkat atas saja. Adapun dasar operasionalnya, pelaksanaan pendidikan Agama di Perguruan Tinggi tersebut ditetapkan dalam UU No. 22 Tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi. Dalam BAB III Pasal 9 ayat 2 sub b, terdapat ketentuan sebagai berikut: ”Pada Perguruan Tinggi Negeri diberikan Pendidikan Agama sebagai mata pelajaran

dengan pengertian bahwa mahasiswa berhak tidak ikut serta apabila menyatakan keberatan”. Jika merujuk pada sejarah, dapat dipahami bahwa sebelum tahun 1965 salah satu organisasi politik yang berpengaruh di parlemen adalah Partai Komunis Indonesia (PKI). Maka tidak heran jika dalam mengambil kebijakan tentang pendidikan di parlemen, mereka tentu berusaha memasukkan missi-nya. Agar segala sesuatunya tetap terlihat ‘bijak’, unsur pendidikan agama tetap dimasukkan dalam mata kuliah, namun diberi kebebasan jika tidak berkenan untuk mengikutinya. Kemudian setelah meletusnya G.30.S.PKI pada tahun 1965, diadakan sidang umum MPRS pada tahun 1966, maka mulai saat itu status pendidikan agama di sekolah-sekolah berubah dan bertambah kuat. Dengan adanya ketetapan MPRS XXVII/ MPRS/1966 Bab I pasal 1 berbunyi: “Menetapkan pendidikan agama menjadi mata pelajaran di sekolah-sekolah mulai dari SD sampai dengan Universitas-Universitas Negeri.” Peristiwa G.30.S.PKI memang rajutan sejarah yang telah memberikan luka mendalam serta pelajaran mahal bagi bangsa Indonesia. Terlepas dari beberapa fakta yang memunculkan ada skenario apa sebenarnya di balik peristiwa G.30.S.PKI, yang jelas peristiwa tersebut telah membuka mata bangsa Indonesia untuk lebih waspada akan menyelusupnya paham-paham yang menjauhkan bangsa ini dari

kehidupan

beragama.

Berikutnya pada tanggal 27 Maret 1989 hadirlah UU No. 2 tahun 1989. Kedudukan Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi dalam Undang-Undang ini secara umum tertuang dalam tujuan Pendidikan

berbunyi:

Nasional

Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia

Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan Kemudian dari segi kurikulum, telah dinyatakan dalam pasal 39 ayat 2, yaitu:

Isi kurikulum setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikah wajib memuat:

tercantum

dalam

Bab

II

pasal

4

yang

a.

pendidikan

Pancasila;

b.

pendidikan

agama;

dan

c.

pendidikan

kewarganegaraan.

Kemudian diperjelas dalam PP No. 30 tahun 1990 tentang Pendidikan Tinggi tanggal 10 Juli 1990. Dalam PP ini tepatnya pada Bab II pasal 2 tentang Tujuan Pendidikan Tinggi dinyatakan:

adalah:

1. Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau

profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan,

kesenian;

2. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya

teknologi

(1)

Tujuan

pendidikan

dan/atau

tinggi

kebudayaan

nasional.

(2)

Penyelenggaraan

kegiatan

untuk

mencapai

tujuan

sebagaimana

dimaksud

dalam

ayat

(1)

berpedoman

 

pada:

1.

tujuan

pendidikan

nasional;

2.

kaidah,

moral

dan

etika

ilmu

pengetahuan;

(3)

Kepentingan

masyarakat;

serta

memperhatikan

minat,

kemampuan

dan

prakarsa

pribadi.

Dari kutipan pasal-pasal di atas, terlihat bahwa walaupun tujuan Pendidikan Tinggi menekankan pada nilai-nilai akademik dan professional namun tetap berpedoman pada tujuan pendidikan nasional. Maka dapat dinyatakan ada ‘benang merah’ antara UU No. 2 tahun 1989 dengan PP No. 30 tahun 1990, yang

semuanya menunjukkan kedudukan Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi umum semakin diperhitungkan.

Begitu juga dalam UU No. 20 tahun 2003, dalam Bab II pasal 3 dinyatakan bahwa “Pendidikan nasional

berfungsi

yang

bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta

mengembangkan

kemampuan

dan

membentuk

watak

serta

peradaban

bangsa

bertanggung

jawab”.

Kemudian

dalam

pasal

37

ayat

2

tentang

kurikulum

dinyatakan:

(2)

Kurikulum

pendidikan

tinggi

wajib

memuat:

a.

pendidikan

 

agama;

b.

pendidikan

kewarganegaraan;

 

dan

c.

bahasa.

Mengacu pada kutipan di atas, maka jelaslah bahwa kedudukan pendidikan agama Islam di Perguruan

20 tahun 2003 menempati posisi yang

diperhitungkan, yaitu sebagai mata kuliah wajib. Ataupun dengan kata lain pendidikan agama islam telah menjadi bagian dalam sistem pendidikan nasional. Namun sayangnya masih ada Perguruan Tinggi Umum yang belum melaksanakannya, terutama Perguruan Tinggi Umum swasta yang tidak memiliki

jelas.

Mata kuliah Pendidikan Agama pada perguruan tinggi dalam proses belajarnya menggunakan sistem kredit semester yang masing-masing perguruan tinggi menggunakan jumlah dan besar SKS yang bervariasi. Rata-rata pendidikan agama Islam di perguruan tinggi hanya mendapat 2 SKS dalam satu semester awal yang dimasukkan dalam komponen mata kulian MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum).

Kemudian muncul SK Mendiknas No.232/U/2000 pada tanggal 20 Desember 2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa, pada Bab I; Ketentuan Umum, yaitu pada pasal 1 ayat 7 dinyatakan bahwa Kelompok matakuliah pengembangan kepribadian (MPK) adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran untuk mengembangkan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, berkepribadian

mantap,

kebangsaan.

Selanjutnya PAI di perguruan tinggi umum, menurut Keputusan Dirjen Dikti Depdiknas RI Nomor:

43/DIKTI/Kep/2006 Tentang Rambu-Rambu Pelaksanaan Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di

Perguruan Tinggi menjelaskan Visi dan Misi Mata kuliah Pengembangan Kepribadian serta Kompetensi

political

Tinggi Umum dalam

UU No.

2

tahun 1989 dan UU

No.

will

yang

dan

mandiri

serta

mempunyai

rasa

tanggung

jawab

kemasyarakatan

dan

MPK

sebagai

berikut:

Pasal

1

Visi

Kelompok

Matakuliah

Pengembangan

Kepribadian

(MPK)

Visi kelompok MPK di perguruan tinggi merupakan sumber nilai dan pedoman dalam pengembangan dan penyelenggaraan program studi guna mengantarkan mahasiswa memantapkan kepribadiannya sebagai

manusia

Indonesia

seutuhnya.

Pasal

2

Misi

Misi kelompok MPK di perguruan tinggi membantu mahasiswa memantapkan kepribadiannya agar secara konsisten mampu mewujudkan nilai-nilai dasar keagamaan dan kebudyaan, rasa kebangsaan dan cinta tanah air sepanjang hayat dalam menguasai, menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan,

(MPK)

Kelompok

Matakuliah

Pengembangan

Kepribadian

teknologi

dan

seni

yang

dimilikinya

dengan

rasa

tanggungjawab.

Pasal

3

Kompetensi

Kelompok

Matakuliah

Pengembangan

Kepribadian

(MPK)

(1) Standar kompetensi kelompok MPK yang wajib dikuasai mahasiswa meliputi pengetahuan tentang nilai-nilai agama, budaya, dan kewarganegaraan dan mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam

kehidupan sehari-hari; memiliki kepribadian yang mantap; berpikir kritis; bersikap rasional, etis, estetis,

dan

dinamis;

berpandangan

luas;

dan

bersikap

demokratis

yang

berkeadaban.

(2)

Kompetensi

dasar

untuk

masing-masing

mata

kuliah

dirumuskan

sebagai

berikut

:

a.

Pendidikan

 

Agama

Menjadi ilmuwan dan profesional yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak

mulia,

Dari kutipan di atas, jelaslah bahwa kedudukan pendidikan agama Islam di perguruan tinggi umum secara yuridis telah mengalami restrukturisasi yang cukup signifikan. Eksistensinya semakin diakui dan dibutuhkan dalam mengembangkan potensi sumber daya generasi muda (mahasiswa) di masa depan. Kondisi ini tentu tidak terlepas dari para pengambil kebijakan di parlemen yang pasca reformasi makin kelihatan upaya ‘cerdas’-nya, walaupun masih ada kebijakan dalam segmen lain yang mengecewakan. Sementara itu Aminuddin dalam Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi Umum memaparkan bahwa untuk mewujudkan visi dan misi PAI di perguruan tinggi seperti yang diuraikan di atas maka

kehidupan.

dan

memiliki

etos

kerja,

serta

menjunjung

tinggi

nilai-nilai

kemanusiaan

dan

diberikan

pokok-pokok

ajaran

Islam

dengan

materi-materi

ajar

antara

lain

sebagai

berikut:

1.

Konsep

Ketuhanan,

alam,

dan

manusia.

2.

Sumber-sumber

 

kebenaran.

3.

Sumber-sumber

 

ajaran

Islam.

4.

Akidah.

5.

Syariah.

6.

Khilafah.

7.

Akhlak.

8.

Akhlak

 

dalam

bidang

 

ekonomi.

9.

Islam,

Pengetahuan,

 

dan

teknologi.

10.

Keadilan,

 

kepemimpinan,

dan

kerukunan.

Kesepuluh poin tersebut pada umumnya direalisasikan dengan alokasi waktu 2 SKS. Maka dapat dinyatakan betapa perguruan tinggi umum membutuhkan tenaga pendidik (dosen) yang memiliki skill yang tidak dapat diremehkan begitu saja. Bayangkan hanya dengan 2 SKS tujuan tersebut harus tercapai. Hanya tenaga pendidik (dosen) yang memiliki ketrampilan mumpuni yang mampu menjalani tugas ini dengan baik.

Pengertian dan tujuan Pendidikan Agama Islam Menurut para Ahli

Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan merupakan kata yang sudah sangat umum. Karena itu, boleh dikatakan bahwa setiap orang mengenal istilah pendidikan. Begitu juga Pendidikan Agama Islam ( PAI ). Masyarakat awam mempersepsikan pendidikan itu identik dengan sekolah , pemberian pelajaran, melatih anak dan sebagainya. Sebagian masyarakat lainnya memiliki persepsi bahwa pendidikan itu menyangkut berbagai aspek yang sangat luas,termasuk semua pengalaman yang diperoleh anak dalam pembetukan dan pematangan pribadinya, baik yang dilakukan oleh orang lain maupun oleh dirinya sendiri. Sedangkan Pendidikan Agama Islam merupakan pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai Islam dan berisikan ajaran Islam.

Pendidikan sebagai suatu bahasan ilmiah sulit untuk didefinisikan. Bahkan konferensi internasional pertama tentang pendidikan Muslim ( 1977 ) , seperti yang dikemukakan oleh Muhammad al-Naquib al-Attas, ternyata belum berhasil menyusun suatu definisi pendidikan yang dapat disepakati oleh para ahli pendidikan secara bulat .

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1 menyebutkan bahwa :

"Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara" .

Sedangkan definisi pendidikan agama Islam disebutkan dalam Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SD dan MI adalah :

"Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertakwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Quran dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman."

Sedangkan menurut Ahmad Tafsir, Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa agar memahami ajaran Islam ( knowing ), terampil melakukan atau mempraktekkan ajaran Islam ( doing ), dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari- hari ( being ).

Tujuan Pendidikan Agama Islam

Tujuan pendidikan merupakan faktor yang sangat penting, karena merupakan arah yang hendak dituju oleh pendidikan itu. Demikian pula halnya dengan Pendidikan Agama Islam, yang tercakup mata pelajaran akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.

Tujuan pendidikan secara formal diartikan sebagai rumusan kualifikasi, pengetahuan, kemampuan dan sikap yang harus dimiliki oleh anak didik setelah selesai suatu pelajaran di sekolah, karena tujuan berfungsi mengarahkan, mengontrol dan memudahkan evaluasi suatu

aktivitas sebab tujuan pendidikan itu adalah identik dengan tujuan hidup manusia. Dari uraian di atas tujuan Pendidikan Agama peneliti sesuaikan dengan tujuan Pendidikan Agama di lembaga-lembaga pendidikan formal dan peneliti membagi tujuan Pendidikan Agama itu menjadi dua bagian dengan uraian sebagai berikut :

Umum

Tujuan umum Pendidikan Agama Islam adalah untuk mencapai kwalitas yang disebutkan oleh al-Qur'an dan hadits sedangkan fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang-Undang dasar No. 20 Tahun 2003

1)

Tujuan

Dari tujuan umum pendidikan di atas berarti Pendidikan Agama bertugas untuk membimbing dan mengarahkan anak didik supaya menjadi muslim yang beriman teguh sebagai refleksi dari keimanan yang telah dibina oleh penanaman pengetahuan agama yang harus dicerminkan dengan akhlak yang mulia sebagai sasaran akhir dari Pendidikan Agama itu.

Menurut Abdul Fattah Jalal tujuan umum pendidikan Islam adalah terwujudnya manusia sebagai hambah Allah, ia mengatakan bahwa tujuan ini akan mewujudkan tujuan-tujuan khusus. Dengan mengutip surat at-Takwir ayat 27. Jalal menyatakan bahwa tujuan itu adalah untuk semua manusia. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia menjadi manusia yang menghambakan diri kepada Allah atau dengan kata lain beribadah kepada Allah.

Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Tujuan hidup manusia itu menurut Allah adalah beribadah kepada Allah, ini diketahui dari surat al-Dzariyat ayat 56 yang berbunyi :

Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada- Ku” (Q.S al-Dzariyat, 56)

Khusus

Tujuan khusus Pendidikan Agama adalah tujuan yang disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan jenjang pendidikan yang dilaluinya, sehingga setiap tujuan Pendidikan Agama pada setiap jenjang sekolah mempunyai tujuan yang berbeda-beda, seperti tujuan Pendidikan Agama di sekolah dasar berbeda dengan tujuan Pendidikan Agama di SMP, SMA dan berbeda pula dengan tujuan Pendidikan Agama di perguruan tinggi.

Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam adalah untuk meningkatkan pemahaman tentang ajaran Islam, keterampilan mempraktekkannya, dan meningkatkan pengamalan ajaran Islam itu dalam kehidupan sehari-hari. Jadi secara ringkas dapat dikatakan bahwa tujuan utama Pendidikan Agama Islam adalah keberagamaan, yaitu menjadi seorang Muslim dengan intensitas keberagamaan yang penuh kesungguhan dan didasari oleh keimanan yang kuat.

2)

Tujuan

Upaya untuk mewujudkan sosok manusia seperti yang tertuang dalam definisi pendidikan di atas tidaklah terwujud secara tiba-tiba. Upaya itu harus melalui proses pendidikan dan kehidupan, khususnya pendidikan agama dan kehidupan beragama. Proses itu berlangsung seumur hidup, di lingkungan keluarga , sekolah dan lingkungan masyarakat.

Salah satu masalah yang dihadapi oleh dunia pendidikan agama Islam saat ini, adalah bagaimana cara penyampaian materi pelajaran agama tersebut kepada peserta didik sehingga memperoleh hasil semaksimal mungkin.

Apabila kita perhatikan dalam proses perkembangan Pendidikan Agama Islam, salah satu kendala yang paling menonjol dalam pelaksanaan pendidikan agama ialah masalah metodologi. Metode merupakan bagian yang sangat penting dan tidak terpisahkan dari semua komponen pendidikan lainnya, seperti tujuan, materi, evaluasi, situasi dan lain- lain. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan Pendidikan Agama diperlukan suatu pengetahuan tentang metodologi Pendidikan Agama, dengan tujuan agar setiap pendidik agama dapat memperoleh pengertian dan kemampuan sebagai pendidik yang profesional

Setiap guru Pendidikan Agama Islam harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai berbagai metode yang dapat digunakan dalam situasi tertentu secara tepat. Guru harus mampu menciptakan suatu situasi yang dapat memudahkan tercapainya tujuan pendidikan. Menciptakan situasi berarti memberikan motivasi agar dapat menarik minat siswa terhadap pendidikan agama yang disampaikan oleh guru. Karena yang harus mencapai tujuan itu siswa, maka ia harus berminat untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk menarik minat itulah seorang guru harus menguasai dan menerapkan metodologi pembelajaran yang sesuai.

Metodologi merupakan upaya sistematis untuk mencapai tujuan, oleh karena itu diperlukan pengetahuan tentang tujuan itu sendiri. Tujuan harus dirumuskan dengan sejelas-jelasnya sebelum seseorang menentukan dan memilih metode pembelajaran yang akan dipergunakan. Karena kekaburan dalam tujuan yang akan dicapai, menyebabkan kesulitan dalam memilih dan menentukan metode yang tepat.

Setiap mata pelajaran memiliki kekhususan-kekhususan tersendiri dalam bahan atau materi pelajaran, baik sifat maupun tujuan, sehingga metode yang digunakan pun berlainan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya.

Pengertian Pendidikan Agama Islam

Untuk memahami pengertian pendidikan agama Islam ini secara mendalam, maka penulis akan mengemukakan beberapa pendapat tentang pendidikan agama Islam sebagai berikut:

Menurut Zakiah Daradjat pendidikan agama Islam atau At-Tarbiyah Al-Islamiah adalah

usaha bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup.[1]

Sedangkan menurut Ahmad D. Marimba (dalam Umi Uhbiyat) pendidikan Islam adalah:

bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam, menuju terciptanya kepribadian utama menurut ukuran Islam.[2]

Pendidikan agama Islam adalah suatu kegiatan yang bertujuan menghasilkan orang- orang beragama, dengan demikian pendidikan agama perlu diarahkan ke arah pertumbuhan moral dan karakter.[3]

Ditinjau dari beberapa definisi pendidikan agama Islam di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah sebagai berikut:

1. Segala usaha berupa bimbingan terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak, menuju terbinanya kepribadian utama sesuai dengan ajaran agama Islam.

2. Suatu usaha untuk mengarahkan dan mengubah tingkah laku individu untuk mencapai pertumbuhan kepribadian yang sesuai dengan ajaran Islam dalam proses kependidikan melalui latihan-latihan akal pikiran (kecerdasan, kejiwaan, keyakinan, kemauan dan perasaan serta panca indra) dalam seluruh aspek kehidupan manusia.

3. Bimbingan secara sadar dan terus menerus yang sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah dan kemampuan ajarannya pengaruh diluar) baik secara individu maupun kelompok sehingga manusia memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama Islam secara utuh dan benar. Yang dimaksud utuh dan benar adalah meliputi Aqidah (keimanan), Syari’ah (ibadah muamalah) dan akhlaq (budi pekerti).

---------------------------------------------------------

[1] Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 86. [2] Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 1998), hlm. 9. [3] Zuhairini dan Abdul Ghofir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Malang: Universitas Malang, 2004), hlm.1

Landasan dan Kurikulum PAI di Sekolah

M A K A L A H

LANDASAN DAN KURIKULUM PAI DI SEKOLAH

Makalah ini ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah

Dosen Pembimbing :

Rahmat Isma’il Hasybuan

Disusun Oleh Kelompok I

Abas

Abd. Rohman 96

Abd. Rohman 97

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MA’ARIF (STAIM) SAMPANG

2013

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Wa Syukurillah Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta inayahnya kepada Kami, atas petunjukNya sehingga Kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Sholawat serta salam tidak

henti-hentinya kami sampaikan kepada Nabi Agung junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang senantiasa

mengikuti dan mengamalkan sunnah-sunnahnya. Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah dengan judul “ Landasan dan Kurikulum PAI di Sekolah” Semester V/ MPI / S.I di Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’arif (STAIM)

Sampang.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat tersusun dengan baik. Dan ucapan terima

kasih juga kami sampaikan kepada Bapak Rahmat Isma’il Hasybuan, selaku dosen pembimbing mata kuliah yang telah memberikan bimbingan dan motivasi kepada

kami.

Harapan penyusun, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi rekan-rekan mahasiswa pada khususnya dan para pembaca pada umumnya. Penyusun menyadari bahwa di dalam menyusun makalah ini, tentunya masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu, segala saran dan kritik dari pembaca sangat kami nantikan untuk penyempurnaan makalah ini.

Banyuates, 19 Oktober 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

.

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ………

1

B. Rumusan Masalah

1

C. Tujuan Penulisan

2

D. Manfaat Penulisan

2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendidikan Agama Islam (PAI)

B. Landasan Pendidikan Agama Islam di Sekolah……………

C. Hakikat Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah

D. Landasan Pengembangan Kurikulum PAI di Sekolah ………

BAB III PENUTUP

3

3

8

9

A. Kesimpulan

11

B. Kritik dan Saran

11

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

12

Pendidikan Agama Islam merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh pendidikan. Tanpa adanya Pendidikan Agama Islam proses pembelajaran tidak akan berhasil dengan baik, karena dalam pendidikan agama islam mencetak peserta didik berakhlakul karimah dan mentaati segala peraturan perundang undangan di indonesia. Mengingat saat ini banyak dari siswa dan mahasiswa yang bertawuran dan melanggar etika dan juga undang undang Negara, bahkan pelecehan sekssualpun banyak di lakukan oleh remaja yang tak lain semua itu terdiri dari pelajar dan mahasiswa maka dianggap penting adanya pendidikan agama islam masuk sebagai kurikulum dalam pendidikan, khususnya kurikulum PAI di Sekolah, maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyusunan kurikulum tersebut sama-sama membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang tidak didasarkan pada landasan yang kuat dapat berakibat fatal dalam pendidikan.

Agar tujuan dari suatu kurikulum PAI di sekolah dapat benar-benar tercapai, maka perlu adanya suatu pengembangan kurikulum yang berdasarkan pada landasan-landasan serta prinsip-prinsip yang berlaku. Hal ini mengingat bahwa suatu kurikulum tersebut diharapkan dapat memberikan landasan dan menjadi pedoman bagi pengembangan kemampuan siswa secara optimal sesuai dengan tuntutan dan tantangan perkembangan masyarakat serta dapat menjadi siswa yang beriman dan bertakwa.

B. Rumusan Masalah

 

Beberapa permasalahan yang timbul di ranah pendidikan baik itu tentang kurikulum maupun pengembangan kurikulum PAI di Sekolah, sehingga memunculkan beberapa permasalahan dalam proses pendidikan antara lain :

1.

Apa landasan PAI di Sekolah?

2.

Apa hakikat kurikulum PAI di Sekolah ?

3.

Apa landasan dalam pengembangan kurikulum PAI di Sekolah ?

C.

Tujuan Penulisan

1. Penyusun ingin mengetahui dan memaparkan mengenai landasan PAI di Sekolah

2. Penyusun ingin mengetahui dan memaparkan mengenai khakikat kurikulum PAI di Sadrasah

3. Penyusun ingin mengetahui dan memaparkan mengenai pengembangan kurikulum PAI di madrasah

 

D.

Manfaat Penulisan

Setelah menyelesaikan pembuatan makalah ini, ada beberapa manfaat yang dapat diambil oleh penyusun:

1. Adanya makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumbangan pemikiran terhadap suatu ilmu.

2. Penyusunan makalah ini dapat dikaji bersama dalam forum diskusi.

3. Mencari solusi yang bijak dalam menyelesaikan masalah yang timbul dalam forum diskusi.

   

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendidikan Agama Islam (PAI)

Telah disebutkan dalam penegasan istilah bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha sadar dan terencana untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan. Depdiknas menyatakan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertakwa dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran Islam dari sumber utamanya kitab suci al-Qur’an dan al-Hadits, melalui kegiatan bimbingan,pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman. dan dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain, dalam hubunganya dengan antar umat beragama dalam masyarakat hingga terwujud kesatuan dan persatuan negara.

B. Landasan Pendidikan Agama Islam di Sekolah

Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah mempunyai dasar landasan yang kuat. Dasar tersebut dapat ditinjau dari beberapa segi:

1. Landasan Religius

Al-Qur'an dan al-Hadits adalah sumber dan dasar ajaran Islam yang original. Banyak ayat-ayat al-Qur'an dan al-Hadits secara langsung maupun tidak langsung yang berbicara tentang kewajiban umat Islam melaksanakan pendidikan, khususnya pendidikan agama, sebagaimana Firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 104:

مه كئلواو ركنملا نع نوهنيو فورعملاب نورمأيو ريخلا ىلا نوعدي ةما مكنم نكتلو نوحلفملا

( 104 : نارمعلا)

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung". (QS. Ali Imran: 104)

Hadits nabi Muhammad saw.:

( ةجام نبا هاور ) مكيلا ةيده وكدكلوا ناف مهبادكا اونسحاو مكدكلوا اومركا

"Hormatilah anak-anakmu dan perbaikilah pendidikannya, karena anak-anakmu karunia Allah bagimu". (HR. Ibnu Majah)

 

Untuk menanamkan kebaikan (amal soleh) pada setiap peserta didik, bahkan pada setiap orang maka perlu adanya pendidikan agama islam sebagai suatu pendidikan yang menanamkan prilaku terpuji pada setiap insan.

2. Landasan Historis

 

Ketika Pemerintah Sjahrir menyetujui pendirian Kementrian Agama (sekarang Departemen Agama) pada 3 Januari 1946, elit Muslim menempatkan agenda pendidikan menjadi salah satu agenda utama Kementrian Agama selain urusan haji, peradilan, dan penerangan. Sebagai reaksi terhadap kenyataan lembaga pendidikan yang tidak memuaskan harapan mereka, elit Muslim tersebut dalam alam proklamasi memusatkan perhatian kepada dua upaya utama yang satu sama lain saling berkaitan. Pertama ialah mengembangkan pendidikan agama (Islam) pada sekolah-sekolah umum yang sejak Proklamasi berada di bawah pembinaan Kementrian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (Kementrian PPK). Upaya ini meliputi: (1) memperjuangkan status pendidikan agama di sekolah-sekolah umum dan pendidikan tinggi, (2) mengembangkan kurikulum agama, (3) menyiapkan guru-guru agama yang berkualitas, dan (4) menyiapkan buku-buku pelajaran agama. Kedua, upaya yang dilakukan oleh Kementrian Agama ialah peningkatan kualitas atau “modernisasi” lembaga-lembaga pendidikan yang selama ini telah memberi perhatian pada pendidikan/pengajaran agama Islam dan pengetahuan umum modern sekaligus. Strateginya ialah: (1) dengan cara memperbarui kurikulum yang ada dan memperkuat porsi kurikulum pengajaran umum modern sehingga tak terlalu ketinggalan dari sekolah-sekolah umum, (2) mengembangkan kualitas dan kuantitas guru-guru bidang umum, (3) menyediakan fasilitas belajar seperti buku-buku bidang studi umum, dan (4) mendirikan sekolah Kementrian Agama di berbagai daerah/wilayah sebagai percontohan atau model bagi lembaga pendidikan Islam setingkat.

Dari landasan sejarah di atas dapat kita pahami bahwa salah satu perjuangan elit Muslim Indonesia sejak awal kemerdekaan pada bidang pendidikan adalah memperkokoh posisi pendidikan agama Islam (PAI) di sekolah-sekolah umum sejak tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Dari perjuangan ini dapat kita pahami bahwa masuknya PAI pada kurikulum sekolah umum seluruh jenjang merupakan perjuangan gigih para tokoh elit Muslim sejak awal kemerdekaan hingga sekarang ini. Maka dari itu, keberadaan dan peningkatan mutunya tentunya merupakan kewajiban kita khususnya kalangan akademis di lingkungan PTAI maupun para praktisi pendidikan di lapangan.

3. Landasan Yuridis/ Perundamng-Undangan

 

Semangat keagamaan setelah bangsa Indonesia merdeka dari penjajahan, tercermin dalam batang tubuh UUD 1945, dalam alinea ketiga dan keempat. Dan sila pertama falsafah Negara Republik Indonesia (Pancasila), yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Berdasarkan konstitusional terdapat dalam UUD 1945 Bab XI pasal 29 ayat 1 dan 2. Sedangkan berdasarkan operasionalnya terdapat dalam Tap MPR

 

No.IV/MPR/1973 yang diperkuat oleh Tap. MPR No. II/MPR/1988 dan Tap. MPR No. II/MPR 1993 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara yang pada intinya bahwa pelaksanaan Pendidikan Agama Islam secara langsung masuk dalam kurikulum sekolah-sekolah formal, mulai dari Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi.

Landasan perundang-undangan sebagai landasan hukum positif keberadaan PAI pada kurikulum sekolah sangat kuat karena tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Bab V Pasal 12 ayat 1 point bahwasannya setiap peserta didik dalam setiap satuan pendidikan berhak: mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.

Peningkatan iman dan taqwa serta akhlak mulia dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan nasional, Bab X Pasal 36 ayat 3 bahwasannya kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan: (a) peningkatan iman dan taqwa. Dan pasal 37 ayat 1, bahwasannya kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat: (a) pendidikan agama. Dengan merujuk beberapa pasal dalam UUSPN No. 20/2003, maka semakin jelaslah bahwa kedudukan PAI pada kurikulum sekolah dari semua jenjang dan jenis sekolah dalam perundang-undangan yang berlaku sangat kuat.

Dalam PP No 19 Thn 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pada Pasal 6 ayat 1 dijelaskan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; kelompok mata pelajaran estetika; kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan.

Selanjutnya pada pasal 7 ayat 1 dijelaskan bahwa kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia pada SD/MI/SDLB/Paket A, SMP/MTs/SMPLB/Paket B, SMA/MA/SMALB/Paket C, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan agama, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olah raga, dan kesehatan.

Dari beberapa landasan perundang-undangan di atas sangat jelas bahwa pendidikan agama merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib ada di semua jenjang dan jalur pendidikan. Dengan demikian, eksistensinya sangat strategis dalam usaha mencapai tujuan pendidikan nasional secara umum.

4.

Landasan Psikologi

 

Sejarah perkembangan manusia dari zaman purbakala, primitive hingga sampai sekarang yang sering disebut era globalisasi dan era informasi, akan didapati bahwa manusia dari generasi ke generasi selanjutnya mempunyai sesuatu yang dianggapnya berkuasa, bahkan mencari sesuatu yang dianggapnya paling berkuasa yaitu Tuhan. Bermacam-macam benda dianggap sebagai Tuhan Yang Maha

 

Esa seperti matahari, bulan, bintang, angin, patung, api dan sebagainya. Hingga akhirnya manusia menemukan kepercayaan bahwa Tuhan itu bukanlah benda yang dapat dilihat dan diraba oleh panca indera, melainkan hanya dapat dirasa dalam hati dan jiwa manusia serta dapat diterima oleh fikiran.

5.

Landasan Filosofis

 

Dalam aspek filosofis pendidikan agama Islam telah memberikan landasan filosofis antara lain secara epistimologis dan aksilogis.

Pendidikan Agama Islam pada taran filosofis adalah kajian filosofis terhadap hakekat pendidikan agama Islam yang dibahas dalam bidang ilmu filsafat pendidikan Islam, yang dibahas secara mendalam, mendasar, sistematis, terpadu, logis, menyeluruh serta universal yang tertuang atau tersusun ke dalam suatu bentuk pemikiran atau konsepsi sebagai suatu sistem.

Pendidikan Agama Islam pada tataran epistimologis ialah kajian ilmiah terhadap konsep dan teori Pendidikan Islam yang dibahas dalam bidang ilmu pendidikan Islam yang membahas tentang seluk-beluk pendidikan Islam

Pendidikan Agama Islam pada tataran aksiologis sebagaimana Muhaimin mengutip dari Tafsir (2004), ialah pendidikan agama Islam (PAI) yang dibakukan sebagai nama kegiatan mendidik agama Islam. PAI sebagai mata pelajaran seharusnya dinamakan “Agama Islam”, karena yang diajarkan adalah agama Islam, bukan pendidikan agama Islam. Namun kegiatannya atau usaha-usaha dalam mendidikan agama Islam disebut sebagai PAI. Karena “pendidikan” ini ada pada dan mengikuti setiap mata pelajaran. Karena pada tataran aksiologis, realitas keberadaan pendidikan agama Islam di sekolah umum di Indonesia dilaksanakan di bawah kontrol kebijakan politik pemerintah, maka tujuan pendidikan agama Islam dirancang oleh pemerintah untuk mencapai tujuan dan cita-cita bangsa Indonesia yang disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan sosio-politik dan dinamika perkembangan budaya dan keberagamaan masyarakat Indonesia

C.

Hakikat Kurikulum PAI di Sekolah

 

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran dalam mencapai tujuan pendidikan tertentu.

As-Syaibani menetapkan lima dasar pokok kurikulum pendidikan yaitu dasar religious, falsafah, psikologis, sosiologis, dan organisatoris.

1.

Dasar religious, dasar yang ditetapkan nilai-nilai ilahi yang terdapat pada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang merupakan nilai yang kebenarannya mutlak dan universal.

2.

Dasar Falsafah, dasar ini memberikan arah tujuan pendidikan sehingga susunan kurikulum mengandung suatu kebenaran.

3.

Dasar psikologis, dasar ini mempertimbangkan tahapan psikis anak didik yang berkaitan dengan perkembangan jasmaniah, kematangan, bakat, intelektual, bahasa, emosi, kebutuhan dan keinginan individu.

4.

Dasar sosiologis, dasar ini memberikan gambaran bahwa kurikulum pendidikan memegang peranan penting dalam penyampaian dan pengembangan kebudayaan, proses sosialisasi individu, dan rekonstruksi masyarakat.

5.

Dasar organisatoris, dasar ini mengenai bentuk penyajian bahan pelajaran yaitu organisasi kurikulum.

 

Fungsi kurikulum bagi sekolah yaitu sebagai alat untuk mencapai tujuan lembaga pendidikan yang diinginkan dan sebagai pedoman dalam mengatur segala kegiatan sehari-hari di sekolah. Fungsi kurikulum bagi anak didik sebagai suatu organisasi belajar tersusun yang diharapkan mereka mendapatkan pengalaman baru yang dapat dikembangkan dikemudian hari. Fungsi kurikulum bagi Kepala Sekolah maupun Guru sebagi pedoman kerja. Sedangkan fungsi kurikulum bagi orang tua siswa yaitu agar orang tua dapat turut serta membantu pihak sekolah dalam memajukan putra putrinya.

Adapun tujuan kurikulum PAI di sekolah yaitu untuk mengantarkan peserta didik menjadi manusia yang unggul dalam beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, berkepribadian, menganalisa ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu mengaktualisasikan diri dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (visi dan misi sekolah).

Komponen-komponen yang terkait dalam kurikulum dikelompokkan menjadi empat yaitu:

1.

Kelompok komponen-komponen Dasar yaitu konsep dasar filosofis dalam mengembangkan kurikulum PAI yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap tujuan PAI tersebut

2.

Kelompok komponen-komponen Pelaksana, yaitu mencakup materi pendidikan, system pendidikan, proses pelaksanaan, dan pemanfaatan lingkungan.

3.

Kelompok-kelompok

Pelaksana

dan

Pendukung

kurikulum

yaitu

komponen

pendidik, peserta didik dan konseling

 

4.

Kelompok Usaha-usaha Pengembangan yang ditujukan dengan adannya evaluasi dan inovasi kurikulum, adanya perencanaan jangka pendek, menengah dan jangka panjang, terjalinnya kerja sama dengan lembaga-lembaga lain dalam rangka pengembangan kurikulum tersebut.

D.

Landasan Pengembangan Kurikulum PAI di Sekolah

 
 

Landasan Pengembangan kurikulum PAI di sekolah, pada hakikatnya adalah factor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan oleh para pengembang

 

kurikulum ketika hendak mengembangkan atau merencanakan suatu kurikulum lembaga pendidikan. Landasan-landasan tersebut antara lain :

1. Landasan Agama

 

Dalam mengembangkan kurikulum sebaiknya berlandaskan pada Pancasila terutama sila ke satu “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Di Indonesia menyatakan bahwa kepercayaan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing individu. Dalam kehidupan, dikembangkan sikap saling menghormati dan bekerjasama antara pemeluk-pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda, sehingga dapat terbina kehidupan yang rukun dan damai.

2. Landasan Filsafat

 

Filsafat pendidikan dipengaruhi oleh dua hal yang pokok, yaitu cita-cita masyarakat dan kebutuhan peserta didik yang hidup di masyarakat. Filsafat adalah cinta pada kebijaksanaan (love of wisdom). Agar seseorang dapat berbuat bijak, maka harus berpengetahuan, pengetahuan tersebut diperoleh melalui proses berpikir secara sistematis, logis dan mendalam. Filsafat dipandang sebagai induk segala ilmu karena filsafat mencakup keseluruhan pengetahuan manusia yaitu meliputi metafisika, epistimologi, aksiologi, etika, estetika, dan logika.

3. Landasan Psikologi Belajar

 

Kurikulum belajar mengetengahkan beberapa teori belajar yang masing- masing menelaah proses mental dan intelektual perbuatan belajar tersebut. Kurikulum yang dikembangkan sebaiknya selaras dengan proses belajar yang dilakukan oleh siswa sehingga proses belajarnya terarah dengan baik dan tepat.

4. Landasan Sosio-budaya

 

Nilai social-budaya dalam masyarakat bersumber dari hasil karya akal budi manusia, sehingga dalam menerima, menyebarluaskan, dan melestarikannya manusia menggunakan akalnya. Setiap masyarakat memiliki adat istiadat, aturan- aturan, dan cita-cita yang ingin dicapai dan dikembangkan. Dengan adanya kurikulum di sekolah diharapkan pendidikan dapat memperhatikan dan merespon hal-hal tersebut.

5. Landasan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

 

Pendidikan merupakan suatu usaha penyiapan peserta didik untuk menghadapi lingkungan hidup yang mengalami perubahan yang semakin pesat dan terus berkembang. Sehingga dengan bekal ilmu pengetahuan dan teknologi,setelah siswa lulus diharapkan dapat menyesuaikan diri di lingkungannya dengan baik.

Dengan adanya landasan tersebut maka perlu untuk mengembangkan kurikulum PAI di sekolah dalam dunia pendidikan, baik itu dalam Sekolah Umum

ataupun Madrasah agar tujuan dari pendidikan agama islam tercapai dalam mencetak insan yang berbudi pekerti dan baik.

BAB III

PENUTUP

A.

Kesimpulan

Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertakwa danberakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran Islam dari sumber utamanya kitab suci al-Qur’an dan al-Hadits.

Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah mempunyai dasar landasan yang kuat. Dasar tersebut dapat ditinjau dari beberapa segi:

Landasan Religius, Landasan Historis, Landasan Yuridis/ Perundamng-Undangan, Landasan Psikologi, Landasan Filosofis

Hakikat kurikulum meliputi pengertian, fungsi, tujuan serta komponen- komponen kurikulum. Dengan mengetahui hakikat kurikulum tersebut, jelaslah betapa pentingnya kurikulum bagi madrasah ataupun sekolah untuk kemajuan dan prestasi madrasah atau sekolah tersebut.

Sedangkan Landasan kurikulum PAI di sekolah antara lain landasan Agama, Filsafat, Psikologi Belajar, Sosio-budaya, dan Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

B. Kritik dan Saran

Dari pembuatan tugas makalah ini, kami dari penyusun mengharapakan makalah ini bermanfaat dan bisa menambah ilmu bagi para pembaca. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini, untuk itu kami mohon maaf dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca untuk kesempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

5. http://www.slideshare.net/andarosita/landasan-historis-filosofis-dan-sosiologis-

 

pendidikan

 

Diposkan oleh Arman Smith di 20.37

(skripsi)

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI PERGURUAN TINGGI

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

“PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI PERGURUAN TINGGI”

Dosen Pembimbing

Oleh

: Martono, S.Pd,I.,MA

:

Tosha P. Noverita

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UPI “YPTK” PADANG

Pendahuluan

Pendidikan Agama mempunyai peranan strategis dalam mengintegrasikan nilai-nilai dalam seluruh kegiatan pendidikan. Implikasi dari pemaknaan pendidikan Islam adalah reposisi pendidikan Islam dalam sistem pendidikan nasional. Pertama, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai dasar pendidikan tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam kedua, pandangan terhadap manusia sebagai makhluk jasmani-rohani yang berpotensi untuk menjadi manusia bermartabat (makhluk paling mulia); ketiga, pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi (fitrah dan sumber daya manusia) menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur (akhlak mulia), dan memiliki kemampuan untuk memikul tanggung jawab sebagai individu dan anggota masyarakat.

Perbedaan antara keduanya hanya terletak pada posisi konsep. Ditinjau dari tataran universalitas konsep Pendidikan Islam lebih universal karena tidak dibatasi negara dan bangsa, tetapi ditinjau dari posisinya dalam konteks nasional, konsep pendidikan Islam menjadi subsistem pendidikan nasional. Karena posisinya sebagai subsistem, kadangkala dalam penyelenggaraan pendidikan hanya diposisikan sebagai suplemen.

Mengingat bahwa pendidikan Islam relevan dan merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional, bahkan secara sosiologis pendidikan Islam merupakan aset nasional, maka posisi pendidikan Islam sebagai subsistem pendidikan nasional bukan sekadar berfungsi sebagai suplemen, tetapi sebagai komponen substansial. Artinya, pendidikan Islam merupakan komponen yang sangat menentukan perjalanan pendidikan nasional.

Keberhasilan pendidikan Islam berarti keberhasilan pendidikan nasional, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, pendidikan nasional sebagai sebuah sistem tidak mungkin melepaskan diri dari pendidikan Islam.

Dalam makalah ini akan dijelaskan Konsep Mata kuliah PAI, Pendidikan agama dalam rangka Pendidikan Nasional serta peranan pendidikan agama dalam rangka pencapaian Tri Darma Perguruan Tinggi.

Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi

1. Konsep Mata Kuliah PAI

Pendidikan merupakan kata yang sudah sangat umum. Karena itu, boleh dikatakan bahwa setiap orangmengenal istilah pendidikan. Begitu juga Pendidikan Agama Islam (PAI). Masyarakat awam mempersepsikanpendidikan itu identik dengan sekolah , pe mberian pelajaran, melatih anak dan sebagainya. Sebagianmasyarakat lainnya me miliki persepsi bahwa pendidikan itu menyangkut berbagai aspek yang sangatluas,t ermasuk semua pengalaman yang diperoleh anak dalam pembetukan dan pematan gan pribadinya, baikyang dilakukan oleh orang lain maupun oleh dirinya sendiri.

Sedangkan Pendidikan Agama Islam merupakan pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai Islam danberisikan ajaran Islam.Mata kuliah PAI dalam kurikulum perguruan tinggi umum wajib di ambil oleh mahasiswa yang beragama islam dalam menyeleseikan studinya di perguruan tinggi umum baik tinggkat diploma maupun sarjana.

Kedudukan pendidikan mata kuliah agama ini sekaligus menjadiketentuan dan persyaratan bagi kelulusan mahasiswa yang sama dengan mata kuliah wajib lainnya.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pe ndidikan Nasional pasal1 ayat 1 menyebutkan bahwa :

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaranagar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi di rinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,masyarakat, bangsa dan negara" .

Sedangkan definisi pendidikan agama Islam disebutkan dalam Kurikulum 200 4 Standar KompetensiMata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SD dan MI adalah : "Pendidikan agama Islam adalah upaya sadardan terencana dala m menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertakwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utaman ya kitab suci Al-Qurandan Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman."

1

Dalam proses perkembangan Pendidikan Agama Islam, salah satu kendala ya

ng paling menonjoldalam pelaksanaan pendidikan agama ialah masalah metodologi. M etode merupakan bagian yang sangatpenting dan tidak terpisahkan dari semua ko mponen pendidikan lainnya, seperti tujuan, materi, evaluasi,situasi dan lain-lain. Ol eh karena itu, dalam pelaksanaan Pendidikan Agama diperlukan suatu pengetahuan tentang metodologi Pendidikan Agama, dengan tujuan agar setiap pendidik agama dapat memperolehpengertian dan kemampuan sebagai pendidik yang profesional.

2

2. Pendidikan Agama dalam Rangka Pendidikan Nasional

2 2. Pendidikan Agama dalam Rangka Pendidikan Nasional

Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, tersebut dalam Bab Vi Jalur, Jenjang dan Jenis Pendidikan pada Bagian ke Sembilan Pendidikan Keagamaan Pasal 30 isinya adalah :

Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh pemerintah dan/atau

kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang- undangan.

Pendidkan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi

anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamnya

dan/atau menjadi ahli ilmu agama.

Pendidkan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan

formal, informal dan nonformal.

Pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren,

pasraman, pabhaja samanera dan bentuk lain yang sejenis.

Ketentuan mengenai pendidikan keagmaan sebagaimana dimaksud

dalam ayat 1,2,3 dan 4 diatur lebih lanjut dengan Peraturan pemerintah.

Dalam UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3 menyatakan bahwa,Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berdasarkan definisi ini, dapat difahami bahwa pendidikan nasional berfungsi sebagai proses untuk membentuk kecakapan hidup dan karakter bagi warga negaranya dalam rangka mewujudkan peradaban bangsa Indonesia yang bermartabat, meskipun nampak ideal namun arah pendidikan yang sebenarnya adalah sekularisme yaitu pemisahan peranan agama dalam pengaturan urusan-urusan kehidupan secara menyeluruh.

3

Dalam UU Sisdiknas tidak disebutkan bahwa yang menjadi landasan pembentukan kecakapan hidup dan karakter peserta didik adalah nilai-nilai dari aqidah islam, melainkan justru nilai-nilai dari demokrasi.

Pemerintah dalam hal ini berupaya mengaburkan realitas (sekulerisme pendidikan) tersebut, sebagaimana terungkap dalam pasal 4 ayat 1 yang menyebutkan, “Pendidikan nasional bertujuan

membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak dan berbudi mulia, sehat, berilmu, cakap, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air.”

Sepintas, tujuan pendidikan nasional di atas memang tidak nampak sekuler, namun perlu difahami bahwa sekularisme bukanlah pandangan hidup yang sama sekali tidak mengakui adanya Tuhan. Melainkan, meyakini adanya Tuhan sebatas sebagai pencipta saja, dan peranan-Nya dalam pengaturan kehidupan manusia tidak boleh dominan. Sehingga manusia sendirilah yang dianggap lebih berhak untuk mendominasi berbagai pengaturan kehidupannya sekaligus memarjinalkan peranan Tuhan.

4

3. Peran Pendidikan Agama dalam Rangka Pencapaian Tri Darma Perguruan Tinggi

sekaligus memarjinalkan peranan Tuhan. 4 3. Peran Pendidikan Agama dalam Rangka Pencapaian Tri Darma Perguruan Tinggi

Islam sangat menghargai orang yang memilki iman dan ilmu pengetahuan sehingga derjat mereka ditinggikan oleh Allah SWT. Usaha untuk mendapatkan ilmu pengetahuan melalui pembelajaran dan pendidikan.

Pentingnya pendidikan dan pembelajaran merupakan upaya dalam memberdayakan dan mengembangkan berbagai potensi yg dimiliki oleh setiap manusia. Perkembangan ini akan membentuk karakter kepribadian seseorang baik yang berkaitan dengan keimanan, kecerdasan sosial dan kepemilikan terhadap ahklak mulia. Salah atau benar pengembangan potensi manusia akan berdampak terhadap berbagai kecerdasan yg dimiliki.

Potensi harus diisi dengan nilai-nilai islam, sehingga mereka menjadi manusia yang tidak salah dalam hidupnya. Pengisian nilai-nilai islam yang dimaksud dengan cara menuntut ilmu pengetahuan. Karna pentingnya upaya pengembangan potensi dengan ilmu maka menuntut ilmu menjadi kewajiban dalam syariat islam.

Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari juga menjelaskan tentang peran manusia sebagai mahkluk sosial saling membutuhkan satu sama lainya.Dalam kehidupan bersama, maka kemampuan memberikan sesuatu yg dimiliki kepada org lain merupakan suatu bentuk prestasi yang bernilai tinggi di hadapan Allah SWT.

5

Daftar Pustaka

Aziz, Abdul (2009),Pendidikan Agama Islam.From: http://islamblogku.blogspot.com/2009/07/pendidikan - agama-

- agama- islam_1274.html  Anwar, Fuadi dkk (2008),Pendidikan Agama Islam di

Anwar, Fuadi dkk (2008),Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum.Padang:UNP Press.

Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum.Padang:UNP Press.  apoetra, Hadja (2003),Kedudukan Pendidikan Islam Dalam

apoetra, Hadja (2003),Kedudukan Pendidikan Islam Dalam sistem Pendidikan

 

VISI DAN MISI PAI

Visi Pendidikan Agama Islam adalah ”Terwujudnya Keagamaan dan Terbinanya Keberagamaan Peserta didik yang Sempurna (Kaffah)”, sedangkan misi Pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut:

1. Membentuk peserta didik yang memiliki iman yang fungsional dan berkesinambungan dalam beribadah kepada Allah SWT

2. Membekali peserta didik yang mempunyai etos kerja yang Islami dan membentuk kepribadian yang berakhlakul karimah

3. Menumbuhkan suasana keagamaan di sekolah yang Islami, dilandasi toleransi dan kedamaian yang hakiki

 

Pembentukan karakter melalui PAI yang berlandaskan pada akhlak mulia menjadi core sebagai seorang yang Islam dan warga negara yang bertanggung jawab terhadap bangsa kaena tujuan utama pembelajaran PAI adalah membentuk peserta didik yang beragama secara kaffahdalam seluruh sendi kehidupan.

Namun pada kenyataannya, dalam masa yang cukup panjang, pendidikan Islam di Indonesia berada di persimpangan jalan antara mempertahankan tradisi lama dan mengadopsi perkembangan baru. Upaya mempertahankan sepenuhnya tradisi lama berarti status quo yang menjadikannya terbelakang meskipun memuaskan secara emosional dan romantisme dengan identitas pendidikan Islam masa lalu. Sementara itu, mengadopsi perkembangan baru begitu

saja berarti mengesampingkan akar sejati dan nilai autentik dari sejarah pendidikan Islam, walaupun berhasil memenuhi keperluan pragmatis untuk menjawab tantangan sesaat dari lingkungan sekitarnya. Situasi ini tercermin dalam kebingungan, maju mundur dan ketidak jelasan arah dan tujuan modernisasi pendidikan Islam selama ini (Husni Rahim: 2001).

Jalan keluar dari situasi di atas menuntut adanya penegasan visi Pendidikan Agama Islam sehingga tidak tergoda oleh tarikan-tarikan ekstrim, tetapi mampu mengelola berbagai kecenderungan yang tersedia secara responsif dan tuntas. Visi itu ditempatkan sebagai pemandu yang menjamin konsistensi pendidikan Agama Islam dalam konteks perubahan dan dinamika yang terjadi dalam dirinya secara terus menerus. Kerangka visi pendidikan Agama Islam itu harus dibangun dengan mempertimbangkan sumber nilai/ajaran Islam, karakter esensial dari sejarah pendidikan Islam, dan rumusan tantangan masa depan. Dengan kata lain, visi pendidikan Islam masa depan adalah terciptanya sistem pendidikan yang Islami, populis, berorientasi mutu, dan kebhinekaan (Husni Rahim: 2001).

Pendidikan Islam mempunyai tujuan untuk membentuk manusia muslim yang berakhlak mulia, cakap dan percaya pada diri sendiri dan berguna bagi masyarakat. Sedangkan manusia muslim yang dimaksud adalah pribadi-pribadi muslim yang mempunyai keseimbangan yang dapat mengintegrasikan kesejahteraan kehidupan di dunia maupun kebahagiaan kehidupan di akhirat, dapat menjalin hubungan kemasyarakatan yang baik dengan jiwa sosial yang tinggi, mengembangkan etos ta’awun dalam kebaikan dan taqwa.

Keberhasilan dari suatu sasaran yang diinginkan, sangat ditentukan oleh arah atau pedoman yang harus ditempuh, tahapan, sasaran, serta sifat dan mutu kegiatan yang dilakukan. Oleh karena itu kegiatan tanpa disertai tujuan, menyebabkan sasaran menjadi kabur dan tidak jelas, akibatnya program dan kegiatan menjadi acak-acakan.

Sepanjang sejarah manusia, agama mempunyai fungsi tertentu dalam kehidupannya. Agama bukan suatu keyakinan yang intelektual semata, melainkan lebih dari suatu cara hidup. Cara yang terkandung norma-norma moral dan keseluruhan aturan hidup manusia. Agama bukan hanya mengenai kebenaran, namun juga mengenai perasaan dan seluruh suasana hidup manusia. Agama adalah suatu kebutuhan dasar manusia.

Dengan demikian, dalam menanamkan nilai-nilai agama perlu adanya pendidikan agama kepada manusia sejak masa kanak-kanak karena akan memberi ketahanan batin dalam menempuh kehidupannya. Di seluruh dunia, sebagian besar pendidikan agama secara umum bisa dikatakan, membantu individu memahami banyak pelajaran yang mungkin pada mulanya tampak seperti seperangkat aturan dan larangan yang tideak berarti apa-apa. Misalnya, dalam mencapai tujuan agama, yakni kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Dalam hal ini manusia dianjurkan untuk melaksanakan ajaran agama seperti melaksanakan Ibadan, membaca kitab suci, berdoa, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, menahan diri dari perbuatan jahat dansebagainya. Juga untuk menjauhi larangannya seperti tidak berbuat kejahatan yang merugikan orang lain, tidak mengkonsumsi barang yang merusak fisik, tidak berbohong, dan sebagainya. Jika hal tersebut dilakukan

oleh manusia, maka perkembangan sosialnya bukan hanya terarah secara psti tetapi juga konsisten dengan suara hatinya (Elizabeth K. Nottingham: 1985).

Namun demikian perlu kiranya dikemukakan, bahwa pendidikan agama Islam harus dilakukan secara kritis, sehingga agama tidak hanya sebagai pegangan hidup, namun juga sebagai pemacu hidup. Selain itu pemaknaan agama hendaknya tidak dilakukan dalam kaitan perspektif waktu yang sempit, akan tetapi menjangkau kurun waktu mendatang. Di samping itu juga agama tidak hanya ditempatkan dalam posisi over protective terhadap umatnya, dalam arti terlalu menonjol larangan-larangan semata. Dengan demikan agama juga diharapkan berfungsi untuk mendewasakan manusia dalam kehidupan beragamanya. Artinya dalamnmenjalankan kewajiban agama dan menjauhi laranagannya dilakukan secara sadar, tulus dan semata-mata karena cinta pada Allah sebagai khaliqnya. Dengan demikian agama akan berfungsi sebagai jalan dan panduan hidup manusia yang akan selalu dijadikan acuan secara konsisten dalam keadaan apapun dan di manapun.

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pembahasan konsep dan teori tentang Pendidikan Islam sampai kapanpun selalu saja relevan dan memiliki ruang yang cukup signifikan untuk ditinjau ulang. Paling tidak terdapat tiga alasan mengapa hal itu terjadi :Pertama pendidikan melibatkan sosok manusia yang senantiasa dinamis, baik sebagai pendidik, peserta didik, maupun penanggung jawab pendidikan. Kedua perlunya akan inovasi pendidikan akibat perkembangan saint dan teknologi. Ketiga tuntunan gelobalsasi yang meleburkan sekat-sekat agama, ras, budaya, bahkn falsafah satu bangsa. Ketiga alasan tersebut tentunya harus diikuti dan dijawab oleh dunia pendidikan demi kelansungan hidup manusia dalam situasi yang serba dinamik, inovatif, dan semakin mengglobal. Makalah yang ada dihadapan ini merupakan salahsatu jawaban terhadap permasalahan yang dialami umat islam atau bahkan umat manusia. Aksentuasi pebahasan makalah ini lebih mengarah pada pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai ilahiyah, spiritual, dan akhlak, sekalipun melibatkan seluruh komponen dasar pendidikan. Penekanan pada aspek ini disebabkan oleh paradigma penyusunan makalah ini didasarkan atas nilai dogmatika Islam yang diturunkan dari wahyu ilahi.

1.2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah :

a. Apakah Definisi Pendidikan Islam ?

b. Bagaimanakah visi-misi Pendidikan Islam ?

c. Bagaimana karakteristik Pendidikan Islam ?

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Definisi Pendidikan Islam Kata “Islam” dalam “Pendidikan Islam” menunjukan warna pendidikan tertentu, yaitu pendidikan yang berwarna Islam, pendidikan yang islami, yaitu pendidikan yang berdasaskan islam[1]. Untuk mengetahui definisi pendidikan islam yang komprehensif dan lugas maka perlu bagi kita untuk mengetahui ta’rif atau definisi pendidikan islam setidaknya dari dua sudut pandang yang sering digunakan dalam setiap disiplin ilmu yaitu definisi secara Etimologi(bahasa) dan Terminologi(Istilah), berikut akan dipaparkan pernciannya:

a. Pengertian Etimologi Pendidikan Islam Pendidikan dalam wacana keislaman lebih populer dengan istilah tarbiyah, ta’lim, ta’dib(tatak rama), riadhoh, irsyad, dan tadris [2] . Masing – masing istilah tersebut memiliki keunikan makna tersendiri ketika sebagian atau semuanya disebut bersamaan. Namun, kesemuanya akan memiliki makna yang sama jika disebut salah satunya, sebab salah satu istilah itu sebenarnya mewakili istilah yang lain. Atas dasar itu, dalam beberapa buku pendidikan Islam, semua istilah itu digunakan secara bergantian dalam mewakili peristilahan pendidikan islam. 1) Tarbiyah Dalam leksikologi AlQur’an dan As-Sunnah tiak ditemukan istilah al-tarbiyah, namun terdapat beberapa istilah kunci yang seakar dengannya, yaitu al-rabb, rabbayani, murabbi, yurbi, dan rabbani.Dalam mu’jam bahasa Arab, kata al-tarbiyyah memiliki tiga akar kebahasaan, yaitu:

a. Rabba, yarbu, tarbiyah : yang memiliki makna ‘tambah’ (zad) dan ‘berkembang’(nama). Pengertian ini juga didasarkan QS. Ar-Rum ayat 39. “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka itu tidak menambah pada sisi Allah.” Artinya, pendidikan (tarbiyah) merupakan proses menumbuhkan dan mengembangkan apa yan ada pada diri peserta didik, baik secara fisik, psikis, social, maupun spiritual.

b. Rabba, yurbi, tarbiyah : yang memiliki makna tumbuh (nasya’a) dan menjadi besar atau dewasa (tara’ra'a). Artinya, pendidikan (tarbiyah) merupakan usaha untuk menumbuhkan dan mendewasakan peserta didik, baik secara fisik, psikis, social, maupun spiritual.

c. Rabba, yarubbu, tarbiyah : yang memiliki makna memperbaiki (ashlaha), menguasai urusan, memelihara dan merawat, memperindah, memberi makan, mengasuh, tuan, memiliki, mengatur dan menjaga kelestarian maupun eksistensinya. Artinya, pendidikan (tarbiyah) merupakan usaha untuk memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki dan mengatur kehidupan peserta didik, agar ia dapatsurvive lebih baik dalam kehidupannya. 2). Ta’lim Ta’lim merupakan kata benda buatan (masdar) yang berasal dari akar kata ‘allama. Sebagian para ahli menerjemahakan istilah tarbiyah dengan pendidikan, sedangkan ta’lim diterjemahkan dengan pengajaran. Kalimat allamahu al-‘ilm memiliki arti mengajarkan ilmu padanya. 3). Ta’dib

Ta’dib lazimnya diterjemahkan dengan pendidikan sopan santum, tata krama, adab, budi pekerti, akhlak, moral, dan etika. Ta’dib yang seakar dengan adab memilik arti pendidikan

peradaban atau kebudayaan. Artinya, orang yang berpendidikan adalah orang yang berperadaban, sebaliknya, peradaban yang berkualitas dapat diraih melalui pendidikan[3].

Pengertian ini didasarkan Hadits Nabi

.

:

ي

ىب ييدبأ ت ننس ن حي احف ىببرن ىنببنددا ن

ن

ب

“Rabbku telah mendidiku, sehingga baiklah pendidikanku.”

b. Pengertian Terminologi Pendidikan Islam Sebelum perumusan pengertian terminology pendidikan Islam berdasarkan pengertian etimologi di atas, ada baiknya dikutip beberapa pengertian pendidikan Islam terlebih dahulu yang dicetuskan oleh para ahli. Pertama, Muhammad SA. Ibrahimi (Bangladesh) menyatakan: “Pendidikan Islam dalam pandangan yang sebenarnya adalah suatu system pendidikan yang memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya sesuai degan ideology Islam, sehingga dengan mudah ia dapat membentuk hidupnya sesuai dengan ajaran Islam.” Kedua, Omar Muhammad al-Touni al-Syaibani mendefinisikan Pendidiakan Islam dengan: “Proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sektiarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat” Ketiga, Muhammad Fadhil al-Jamali mengajukan pengertian pendidikan Islam :”Upaya mengembangkan, mendorong serta mengejak manusia untuk lebih maju dengan berlandaskan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk peribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan, maupun perbuatan.” Keempat, Muhammad Javed al-Sahlani mengartikan Pendidikan Islam dengan “Proses mendekatkan manusia kepada tingkat kesempurnaan dan mengermbangkan kemampuannya.” Kelima, hasil seminar pendidikan Islam se-Indonesia tahun 1960 dirumuskan pendidikan Islam dengan :”Bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.” Berdasarkan beberapa pengertian yang dkemukakan oleh para ahli di atas, serta beberapa pemahaman yang diturunkan dari beberapa istilah dalam pendidikan Islam, seperti tarbiyah, ta’lim, ta’dib,maka pendidikan Islam dapat dirumuskan sebagai berikut: “Proses transinternalisasi pengetahuan dan nilai Islam kepada peserta didik melalui upaya pengajaran, pembiasaan, bimbingan, pengasuhan, pengawasan dan pengembangan potensi.” Definisi ini memiliki lima unsure pokok penddikan Islam, yaitu :

1) Proses transinternalisasi. Upaya dalam pendidikan Islam dilakukan secara bertahap, berjenjang, terancang, terstruktur, sistematik, dan terus-menerus dengan cara transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai Islam pada peserta didik.

2) Pengetahuan dan nilai Islam. Materi yang diberikan kepada peserta didik adalah ilmu pengetahuan dan nilai Islam, yaitu pengetahuan dan nilai yang diturunkan dari Rabb (Ilahiyah). Atau materi yang memiliki ktiteria epistemology dan aksiologi Islam sehingga output pendidikan memiliki wajah-wajah Islami dalam setiap tindak-tanduknya. Pengetahuan dan niali Islam, sebagaimana yang di syaratkan dalam QS. Al-fusilat ayat 53, terdapat tiga objek, yaitu objek afaqi, yang berkaitan dengan alam fisik(baik dilangit maupun dibumi); objek anfusi, yang berkaitan dengan alam fisikis(kejiwaan atu batiniyah); dan objek hakiki dan qur’ani yang berkaitan dengan system nilai untuk mengarahkan kehidupan spiritual manusia. 3) Kepada Peserta Didik. Pendidikan diberikan kepada peserta didik sebagai subjek dan objek pendidikan. Dikatakan subjek karena ia mengembangkan dan aktualisasi potensinya sendiri.sedankan pendidik menstimulasi dalam pengembangan dan aktualisasi itu. Di katakana objek karena ia menjadi sasaran dan transportasi ilmu pengetahuan dan nilai isalm, agar ilmu dan nilai itu tetap lestari dri generasi ke generasi berikunya 4) Melalui upaya pngajaran ,pembiasaan,bimbingn,pengasuhan pengawasandan pemngembangan potensinya. Tugas pokok pendidikan adalah memberikan pengajaran, pembiasaan, bimbingan, pengasuhan, pengawasan, dan pengembanan potensi peserta didik agar terbentuk dan berkembang daya kreativitas dan produktivitas tanpa mengabaikan potensi dasarnya. 5) Guna Mencapai Keselarasan dan Kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat. Tujuan akhir pendidikan Islam adalah terciptanya insan kamil (insane sempurna), yaitu manusia yang mampu menyelaraskan dan memenuhi kebutuhan dunia dan akhirat; dan kebutuhan fisik, sosial, psikis, dan spiritual. Orientasi Pendidikan Islam tidak hanya memenuhi hajat hidup jangka pendek, seperti pemenuhan kebutuhan duniawi, tetapi juga memenuhi hajat hidup jangka panjang seperti pemenuhan kebutuhan di akhirat kelak[4].

2.2. Visi pendidikan Islam Kata visi berasal dari kata inggris vision, yang mengandung arti penglihatan atau daya lihat, pandangan, impian atau bayangan. Dalam bahasa arab, kata visi dapat diwakili oleh kata nadz, jamaknyaindazr, yang berarti seing (Penglihatan), eye-sight (pandangan mata), vision (pandangan), look(penglihatan), Gleance(Pandangan sekilas), Sight (Pemikiran), autlook(pandangan), prospect(gambaran kedepan), View(peninjauan), aspech(bagian), apparence(pewujudan), Epidence(pakta), Insight(Pandangan), Penetration(Penebusan atau perembesan), Perception(pendapat), Comtemplation(merenung secara mendalam dan menyendiri), examination(pelatihan berpikir), inspection(peninjauan), study(kajian), Perusal, consideration(pertimbangan), reflection(ungkapan pemikiran), Philosophical speculation(perenungan yang bersifat mendalam dan pilosofis) dan theory(konsep yang sudah terumuskan dengan matang dan siap diaplikasikan). Selanjutnya jika konsep dan pengertian tentang visi tersebut dihubungkan dengan pengertian Islam, maka visi pendidikan Islam dapat diartikan sebagai tujuan jangka panjang, cita-cita masa depan, dan impian ideal yang ingin diwujudkan oleh pendidikan Islam. Visi pendidikan Islam ini selanjutnya dapat menjadi sumber motivasi, inspirasi, pencerahan,

pegangan dan arah bagi perumusan misi, tujuan, kurikulum, proses belajar, guru, stap, murid, managemen, lingkungan dan lain sebagainya. Visi pendidikan Islam sesungguhnya melekat pada cita-cita dan tujuan jangka panjang itu sendiri, yaitu mewujudkan rahmat bagi seluruh umat manusia, sesuai dengan firman Allah swt. ”Tidaklah kami utus engkau (Muhammad) melaikan agar menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (Q.S al-Anbiya:107), ayat tersebut oleh Imam Maroghiy ditafsirkan sebagai berikut :

Bahwa tidaklah aku utus engkau(Muhammad) dengan Al-qur’an ini, serta berbagai perumpamaan dari ajaran agama dan hukum yang menjadi dasar rujukan untuk mencapai bahagia dunia dan akhirat, melainkan agar menjadi rahmat dan petunjuk bagi mereka dalam segala urusan dunia dan akhiratnya. Dengan demikian, visi pendidikan Islam dapat dirumuskan sebagai berikut:

“Menjadikan pendidikan Islam sebagai peranata yang kuat, berwibawa, efektif, dan kredibel dalan mewujudkan cita-cita ajaran Islam.” Dengan visi tersebut, maka seluruh komponen pendidikan Islam sebagai mana tersebut diatas, harus diarahkan kepada tercapainya visi tersebut. Visi itu harus dipahami, dihayati, dan diamalkan oleh seluruh unsur yang terlibat dalam kegiatan pendidikan. Jika pada sebuah perguruan tinggi misalnya, maka visi tersebut harus dipahami, dihayati, dan diamalkan oleh rektor, pembantu rektor, dekan, para pembantu dekan, ketua dan sekerataris jurusan, dan berbagai pihak lain yang terkait. Dengan demikian, visi tersebut akan menjiwai seluruh pola pikir dalam (mindset), tindakan dan kebijakan pengelola pendidikan. Pada tahap selanjutnya visi tersebut akan menjadi budaya (culture) yang hidup dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh pihak, dan sekaligus membedakannya dengan budaya yang terdapat pada perguruan tinggi lainya[5].

2.3. Misi Pendidikan Islam Misi berasal dari bahasa Inggris, Mission, yang memiliki arti tugas, perutusan, utusan, atau misi. Ungkapan to play thirty mision misalnya, mengandung arti mengedakan tugas penerbangan tiga puluh kali. Dengan demikian, misi terkait dengan tugas, pekerjaan yang harus dilakukan dalam rangka mencapai visi yang ditetapkan. Dalam kaitan ini terdapat kata misionary yang berarti perutusan atau utusan yang diutus oleh seseorang atau lembaga untuk melakukan suatu pekerjaan yang penting dan strategis. Seluruh pembawa risalah atau ajaran, seperti para Nabi, wali, ulama dan da’i pada suatu kelopok suatu umat disebut misionary. Dari pengertian kebahasaan tersebut, maka misi dapat diartikan sebagai tugas-tugas atau pekerjaan yang harus dilaksanakan dalam rangka mencapai visi yang ditetapkan. Dengan demikian, antara dan visi dan misi harus memiki hubungan funsional-simbiotik, yakni saling mengisi dan timbal balik. Dari satu sisi visi mendasari rumusan misi, sedangkan dari sisi lain, keberadaan misi akan menyebabkan tercapainya visi. Misi merupakan jawaban atau perranyaan what are will doing (apa yang akan dikerjakan !). Karena pekerjaan merupakan kegiatan maka misi harus berisi berbagai kegiatan yang mengarah kepada tercapainya visi. Berdasarkan uraian diatas, maka misi pendidikan Islam dapat dirumuskan sebagai berikut

:

1. Mendorong timbulnya kesadaran umat manusia agar mau melakukan kegiatan belajar dan mengajar. Hal ini sejalan dengan firman Allah swt. Dalam surat al-alaq ayat 1-5, yang artinya:

Bacalah dengan (menyebut) nama robbmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Rabbmu yang maha pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketaui.” Perintah membaca sebagai mana yang terdapat pada ayat tersebut sungguh mengejutkan bagi masyarakat arab saat itu, karena belum menjadi budaya mereka. Budaya mereka adalah menghafal yakni menghafal syair-syair yang didalmnya memberikan ajaran tentang kehidupan yang harus mereka jalani. Dengan membaca ini timbulah kegiatan penggalian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban yang membawa kemajuan suatu bangsa. 2. Melaksanakan kegiatan belajar mengajar sepanjang hayat. Hal ini sejalan dengan hadist Rasululloh saw. : “Tuntutlah Ilmu mulai dari buaian hingga ke liang lahat”.(mutafaq alaih) Hadist tersebut mengandung isyarat tentang konsep belajar seumur hidup yaitu belajar dan mengajar tidak hanya terbatas pada ruang kelas saja melainkan dimana saja dan pada berbagai kesempatan. Hal ini sejalan pula dengan konsep pendidikan integreted yakni belajar mengajar yang menyatu dengan berbagai kegiatan yang ada di masyarakat. 3. Melaksanakan program wajib belajar Sabda Rasululloh saw. :

Menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi setiap muslim, dan sesungguhnya bagi yang menuntut ilmu itu akan dimintakan ampunan oleh segala sesuatu hingga binatang yang ada dilaut. (HR. Ibn Abdul al-Barr dari Annas). 4.Melaksanakan pendidikan anak usia dini(PAUD) Selain berdasarkan hadits, sebagaimana terdapat pada hadits tentang hadits belajar, program pendidikan anak usia dini juga berdasarkan pada isyarat Rasululloh saw. Dengan membangun rumah tangga, serta berbagai kewajiban orang tua terhadap anaknya. Rasululloh saw misalnya menganjurkan agar seorang pria memilih wanita calon istri yang taat beragama, sholihah dan berahlak mulia. Manikahinya sesuai tuntunan agama, dan menggaulinya dengan cara yang ma’ruf yakni etis, sopan, dan saling mencintai dan menyayangi. Kemudian suami istri banyak berdo’a kepada Allah pada saat istri mengandung yakni do’a agar dikaruniai anak yang sholeh dan sholihah. Kemudian pada saat bayi lahir keduanya memberi makanan yang halal, baik dan bergizi seperti madu dan asi, memberi nama yang baik, mencukur rambutnya membiasakan tingkah laku sopan terhadap orang tua, kakek nenek dan sodara-sodaranya memberikan perhatian dan kasih sayang yang cukup, mengajari bacaan al-qur’an membiasakan sholat dan mencegah serta memeliharanya dari pergaulan dan pengaruh yang buruk. Semua perlakuan suami istri terhadap anak nya ini memiliki arti dan fungsi yang sangat besar bagi tumbuhnya pribadi anak yang sholeh dan sholehah serta berkpibadian yang utuh dan sempurna. 5. Mengeluarkan manusia dari kehidupan kegelapan kepada kehidupan yang terang benderang. Allah berfirman dalam QS. Al-Hadid ayat 9, “Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (al-qur’an) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya

sesungguhnya Allah benar-benar Maha penyantun lagi Maha penyayang terhadamu”. Berdasarkan pada ayat tersebut terdapat beberapa catatan sebagai berikut :

Adanya perintah Allah kepada Nabi Muhammad saw. Agar mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang. Kegelapan pada ayat ini dapat mengandung arti kebodohan, karena orang yang bodoh tidak dapat menjelaskan berbagai hal dalam kehidupan yang amat luas dan komplek. Adapun cahaya yang terang benderang dapat diartikan ilmu pengetahuan, karena dengan ilmu pengetdahuan itulah semua kejadian dan peristiwa dalam kehidupan dapat dijelaskan. Bahwa sumber ilmu pengetahuan (cahaya) yang dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan tersebut yaitu al-Qur’an yang telah banyak dikaji isi dan kandungannya oleh para ulama. Al-qur’an bukan hanya membahas masalah urusan ke akhiratan tetapi diurusan duniawi, bukan hanya berisi ajaran yang berkaitan dengan pembinaan spiritual dan moral melainkan juga pembinaan intelektual, sosial dan jasmani. Seluruh aspek kehidupan manusia dibina secara utuh dan menyeluruh secara seimbang, harmonis, serasi, dan proporsional.

6. Memberantas sikap Jahiliyah. Allah swt berfirman dalam qur’an surat al-fath ayat 6 yang artinya ketiak orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan yaitu kesombongan jahiliyah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada Orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat taqwa dan mereka berhak dengan kalimat taqwa itu fan patut memilikinya. Dan Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu. Menurut Imam al-Maroghi, bahwa ayat ini berkaitan dengan perjanjian Hudaibiyah, yaitu perjanjian yang memuat semacam genjatan senjata dan menghentikan permusuhan antara kaum muslimin dan musyikin mekah. Dalam dokumen perjanjian tersebut mereka melaksanakan kehendaknya secara sepihak dan lebih menginginkan keuntungan yang lebih besar. Walau perjanjian tersebut merugikan kaum muslimin Rasululloh saw menerima perjanjian tersebut. Dengan penerimaan perjanjian ini, beban yang Rasululoh tanggung teringankan dengan tidak terpecahnya perhatian kepada dua kaum musyrikin Mekan dan kaum Yahudi Khoibar. Setelah Rasululloh menumpas kaum Yahudi di Khoibarl, barulah Rasululloh memusatkan perhatiannya untuk kembali menguasai Mekah. Perjanjian Hudaibiyah tersebut memperlihatkan kecerdasan Rasululloh saw dalam mengatur siasat, mengorganisasikan kekuatan, menganalisis permasalahan, dan menerapkan prioritas. Sebagian pengikut Rasululloh saw yang tingkat kecerdasanya terbatas memandang bahwa keputusan Rasul menerima perjanjian tersebut sebagai tindakan yang bodoh. Untunglah Abu Bakar As Shidiq mengingatkan shohabat-shohabatnya agar tetap setia mengikuti Rasululloh saw dan jangan merasa lebih tau dari Rasululloh saw. Sikap jahiliyah juga dapat dilihat dari kekeliruan pola pikir yang mereka terapkan dalam kehidupan. Misalnya menjadikan sesuatu yang sesungguhnya tidak dapat memberi manfaat apapun sebagai tuhan-tuhan mereka.

7. Menyelamatkan Manusia dari tepi jurang kehancuaran yang disebabkan karena pertikaian. Allah swt berfirman dalam QS. Ali-Imron ayat 103, yang artinya :

“Dan berpeganglah kamu semua kedalam tali Agama Allah, dan janganlah kamu bercerai- berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-

musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah orang- orang yang bersaudara. Dan kamu telah berada ditepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatnya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” Ketika Islam datang, sebagaimana digambarkan oleh Ziauddin Alafi, Dunia bagaikan barusaja dilanda gempa dahsyat dan sunami. Kehidupan mereka dalam bidang shosial ditandai oleh kelompok suku, kabilah dan etnis yang antara satu dan lainya tidak saling bersatu, dan sering berperang serta tidak lagi kepada aturan Tuhan. Dalam bidang politik kehidupan mereka ditandai oleh kekuasaan otoriter dan diktaktor yang didasarkan pada ketinggian harta, tahta dan kasta. 8. Melakukan pencerahan batin pada manusia agar sehat rohani dan jasmani Allah swt berfirman :

“Dan kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang- orang yang beriman dan Al-qur’an itu tidaklah menambah pada orang-orang yang dzolim kecuali kerugian.” (QS, Al-Isra ayat 82). Ayat tersebut berbicara tentang salah satu misi yang terkandung dalam al-Qur’an yakni memperbaiki mental dan pola pikir masyarakat, sebagai modal utama bagi perbaikan dibidang lain. 9. Menyadarkan manusia agar tidak melakukan perbuatan yang menimbulkan bencana di muka bumi, seperti permusuhan dan peperangan. Allah swt.berfirman :

Dan janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.(QS. AL-A’raf ayat 56) 10. Mengangkat harkat dan martabat manusia sebagai mahluk yang paling sempurna dimuka bumi Allah swt berfirman :

Dan sesungguhnya telah kami mulyakan anak-anak Adam, kami angkat mereka didaratan dan dilautan. Kami beri mereka rezeky yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang telah kami ciptakan.(QS. Isra ayat 70). Ayat tersebut mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam setruktur fisik dan psikis yang lengkap dan semupurna. Dengan kelengkapan jasmani dan rohani inilah manusia dapat mengerjakan tugas-tugas yang berat, menciptakan kebudayaan dan peradaban. Dan potensi manusia tersebut dapat terjadi manakala potensi tersebut dikembangkan melalui pendidikan[6].