Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH KONSEP KEBIDANAN

“ PERKEMBANGAN PELAYANAN DAN PENDIDIKAN KEBIDANAN DI


DALAM NEGERI ”

OLEH : KELOMPOK 6

ESRA DESYANA RUMAPEA ( 022017022 )

VICKTORIA TARIGAN ( 022017006 )

KRISTINA MELINA SIRINGO-RINGO ( 022017038 )

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ELISABETH MEDAN


PROGRAM STUDI DIII-KEBIDANAN
2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkah, rahmat, dan karunia-Nya lah
makalah ini dapat diselesaikan. Makalah yang berjudul “ Perkembangan Pelayanan dan
Pendidikan Kebidanan di Dalam Negeri“.
Dalam penyusunan makalah ini penulis banyak mengalami berbagai hambatan baik
langsung maupun tidak langsung akan tetapi, berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak
makalah ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu dalam kesempatan yang berbahagia ini penulis
ingin mengucapkan terimakasih.
Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Namun kami
menyadari banyak kekurangan pengetahuan dan kemampuan yang kami miliki, oleh sebab itu
kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Akhir kata kami ucapkan
terimakasih.

Medan, Desember 2017

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................................... i

DAFTAR ISI ......................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang ............................................................................................................. 1

2. Rumusan Masalah ......................................................................................................... 1

3. Tujuan Penulisan .......................................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN

2. 1. Perkembangan Pelayanan Kebidanan di Dalam Negeri ................................................... 2


2. 2. Pelayanan Kebidanan di Indonesia .................................................................................. 5

2. 3. Pelayanan Kebidanan Zaman Dahulu ............................................................................... 6

2. 4. Perkembangan Pelayanan Kebidanan Dalam Tahun Terakhir ......................................... 7

2. 5. Pelayanan Kebidanan Di Masa Depan .............................................................................. 8


BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan ................................................................................................................... 9

2. Saran ............................................................................................................................ 9

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... 10

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Perkembangan pelayanan dan pendidikan kebidanan nasional maupun internasional
terjadi begitu cepat. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan pelayanan dan pendidikan
kebidanan merupakan hal yang penting untuk dipelajari dan dipahami oleh petugas kesehatan
khususnya bidan yang bertugas sebagai bidan pendidik maupun bidan di pelayanan.
Salah satu faktor yang menyebabkan terus berkembangnya pelayanan dan pendidikan
kebidanan adalah masih tingginya jumlah kematian dan penyakit pada wanita hamil dan
bersalin, khususnya di negara berkembang dan di negara miskin yaitu sekitar 25-50%.
Mengingat hal diatas, maka penting bagi bidan untuk mengetahui sejarah perkembangan
pelayanan dan pendidikan kebidanan karena bidan sebagai tenaga terdepan dan utama dalam
pelayanan kesehatan ibu dan bayi diberbagai catatan pelayanan wajib mengikuti
perkembangan IPTEK dan menambah ilmu pengetahuannya melalui pendidikan formal atau
non formal dan bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan diri baik melalui
pendidikan maupun pelatihan serta meningkatkan jenjang karir dan jabatan yang sesuai.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana perkembangan pelayanan kebidanan di dalam negeri
2. Bagaimana perkembangan pelayanan kebidanan di Indonesia
3. Bagimana perkembangan pelayanan Kebidanan zaman dahulu
4. Bagimana perkembangan pelayanan kebidanan dalam tahun terakhir
5. Bagimana mengetahui perkembangan pelayanan kebidanan di masa depan

1. 3 Tujuan
1. Untuk mengetahui perkembangan pelayanan kebidanan di dalam negeri
2. Untuk mengetahui perkembangan pelayanan kebidanan di Indonesia
3. Untuk mengetahui perkembangan pelayanan Kebidanan zaman dahulu
4. Untuk mengetahui perkembangan pelayanan kebidanan dalam tahun terakhir
5. Untuk mengetahui perkembangan pelayanan kebidanan di masa depan
1
BAB II
PEMBAHASAN
2. 1. Perkembangan Pelayanan Kebidanan di Dalam Negeri
Pelayanan kebidanan adalah tugas yang menjadi tanggung jawab profesi bidan dalam
sistem pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan kaum perempuan
khususnya ibu dan anak-anak.
Pelayanan kebidanan yang tepat akan meningkatan keamanan dan kesejahteraan ibu dan
bayinya. Layanan kebidanan/oleh bidan dapat dibedakan meliputi :
a. Layanan kebidanan primer yaitu layanan yang diberikan sepenuhnya atas tanggung jawab
bidan.
b. Layanan kolaborasi yaitu layanan yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim secara
bersama-sama dengan profesi lain dalam rangka pemberian pelayanan kesehatan.
c. Layanan kebidanan rujukan yaitu merupakan pengalihan tanggung jwab layanan oleh
bidan kepada sistem layanan yang lebih tinggi atau yang lebih kompeten ataupun pengambil
alihan tanggung jawab layanan/menerima rujukan dari penolong persalinan lainnya seperti
rujukan.
Pada zaman merintahan Hindia Belanda, angka kematian ibu dan anak sangat tinggi.
Tenaga penolong persalinan adalah dukun. Pada tahun 1807 (zaman Gubernur Jenderal Hendrik
William Deandels) para dukun dilatih dalam pertolongan persalinan, tetapi keadaan ini tidak
tidak berlangsung lama karena tidak adanya pelatih kebidanan. Adapun pelayanan kebidanan
hanya diperuntukkan bagi orang-orang Belanda yang ada di Indonesia. Tahun 1849 di buka
pendidikan Dokter Jawa di Batavia (Di Rumah Sakit Militer Belanda sekarang RSPAD Gatot
Subroto). Saat itu ilmu kebidanan belum merupakan pelajaran, baru tahun 1889 oleh Straat,
Obstetrikus Austria dan Masland, Ilmu kebidanan diberikan sukarela. Seiring dengan dibukanya
pendidikan dokter tersebut, pada tahun 1851, dibuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di
Batavia oleh seorang dokter militer Belanda (dr. W. Bosch). Mulai saat itu pelayanan kesehatan
ibu dan anak dilakukan oleh dukun dan bidan. Pada tahun 1952 mulai diadakan pelatihan bidan

2
Secara formal agar dapat meningkatkan kualitas pertolongan persalinan. Perubahan
pengetahuandan keterampilan tentang pelayanan kesehatan ibu dan anak secara menyeluruh di
masyarakat dilakukan melalui kursus tambahan yang dikenal dengan istilah Kursus Tambahan
Bidan (KTB) pada tahun 1953 di Yogyakarta yang akhirnya dilakukan pula dikota-kota besar
lain di nusantara. Seiring dengan pelatihan tersebut didirikanlah Balai Kesehatan Ibu dan Anak
(BKIA). Dari BKIA inilah yang akhirnya menjadi suatu pelayanan terintegrasi kepada
masyarakat yang dinamakan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) pada tahun 1957.
Puskesmas memberikan pelayanan berorientasi pada wilayah kerja. Bidan yang bertugas di
Puskesmas berfungsi dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk pelayanan
keluarga berencana. Mulai tahun 1990 pelayanan kebidanan diberikan secara merata dan dekat
dengan masyarakat. Kebijakan ini melalui Instruksi Presiden secara lisan pada Sidang Kabinet
Tahun 1992 tentang perlunya mendidik bidan untuk penempatan bidan di desa. Adapun tugas
pokok bidan di desa adalah sebagai pelaksana kesehatan KIA, khususnya dalam pelayanan
kesehatan ibu hamil, bersalin dan nifas serta pelayanan kesehatan bayi baru lahir, termasuk.
Pembinaan dukun bayi. Dalam melaksanakan tugas pokoknya bidan di desa melaksanakan
kunjungan rumah pada ibu dan anak yang memerlukannya, mengadakan pembinaan pada
Posyandu di wilayah kerjanya serta mengembangkan Pondok Bersalin sesuai denga kebutuhan
masyarakat setempat. Hal tersebut di atas adalah pelayanan yang diberikan oleh bidan di desa.
Pelayanan yang diberikan berorientasi pada kesehatan masyarakat berbeda halnya dengan bidan
yang bekerja di rumah sakit, dimana pelayanan yang diberikan berorientasi pada individu. Bidan
di rumah sakit memberikan pelayanan poliklinik antenatal, gangguan kesehatan reproduksi di
poliklinik keluarga berencana, senam hamil, pendidikan perinatal, kamar bersalin, kamar operasi
kebidanan, ruang nifas dan ruang perinatal. Titik tolak dari Konferensi Kependudukan Dunia di
Kairo pada tahun 1994 yang menekankan pada reproduktive health (kesehatan reproduksi),
memperluas area garapan pelayanan bidan. Area tersebut meliputi :
1. Safe Motherhood, termasuk bayi baru lahir dan perawatan abortus
2. Family Planning
3. Penyakit menular seksual termasuk infeksi saluran alat reproduksi
4. Kesehatan reproduksi pada remaja
5. Kesehatan reproduksi pada orang tua.
3
Bidan dalam melaksanakan peran, fungsi dan tugasnya didasarkan pada kemampuan dan
kewenangan yang diberikan. Kewenangan tersebut diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan
(Permenkes). Permenkes yang menyangkut wewenang bidan selalu mengalami perubahan sesuai
dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Permenkes tersebut dimulai dari :

a. Permenkes No. 5380/IX/1963, wewenang bidan terbatas pada pertolongan persalinan normal
secara mandiri, didampingi tugas lain.
b. Permenkes No. 363/IX/1980, yang kemudian diubah menjadi Permenkes 623/1989 wewenang
bidan dibagi menjadi dua yaitu wewenang umum dan khusus ditetapkan bila bidan
meklaksanakan tindakan khusus di bawah pengawasan dokter. Pelaksanaan dari Permenkes ini,
bidan dalam melaksanakan praktek perorangan di bawah pengawasan dokter
c. Permenkes No. 572/VI/1996, wewenang ini mengatur tentang registrasi dan praktek bidan.
Bidan dalam melaksanakan prakteknya diberi kewenangan yang mandiri. Kewenangan tersebut
disertai dengan kemampuan dalam melaksanakan tindakan.
Dalam wewenang tersebut mencakup :
1. Pelayanan kebidanan yang meliputi pelayanan ibu dan anak.
2. Pelayanan Keluarga Berencana
3. Pelayanan Kesehatan Masyarakat
d. Kepmenkes No. 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktek bidan revisi dari
Permenkes No. 572/VI/1996. Dalam melaksanakan tugasnya, bidan melakukan kolaborasi,
konsultasi dan merujuk sesuai dengan kondisi pasien, kewenangan dan kemampuannya.
Dalam keadaan darurat bidan juga diberi wewenang pelayanan kebidanan yang ditujukan untuk
penyelamatan jiwa. Dalam aturan tersebut juga ditegaskan bahwa bidan dalam menjalankan
Praktek harus sesuai dengan kewenangan, kemampuan, pendidikan, pengalaman serta
berdasarkan standar profesi. Pencapaian kemampuan bidan sesuai dengan Kepmenkes No.
900/2002 tidaklah mudah, karena kewenangan yang diberikan oleh Departemen Kesehatan ini
mengandung tuntutan akan kemampuan bidan sebagai tenaga profesional dan mandiri.

4
2. 2 Pelayanan Kebidanan di Indonesia
Sejak dulu sampai sekarang tenaga yang memegang peranan dalam pelayanan kebidanan
ialah “Dukun bayi “ ia merupakan tenaga terpercaya dalam lingkungannya terutama dalam hal-
hal yang berkaitan dengan reproduksi, kehamilan , persalinan dan nifas. Pada zaman
pemerintahan Hindia Belanda, angka kematian ibu dan anak sangat tinggi. Tenaga penolong
persalinan adalah dukun.
Pada tahun 1807 (zaman Gubernur jenderal Hendrik William Deandels) para dukun
dilatih dalam pertolongan persalinan, tetapi keadaan ini tidak berlangsung lama karena tidak
adanya pelatih kebidanan. Praktek kebidanan modern masuk di Indonesia oleh dokter-dokter
Belanda. Pelayanan kesehatan termasuk pelayanan kebidanan hanya diperuntukkan bagi orang-
orang Belanda yang ada di Indonesia. Kemudian pada tahun 1849 dibuka pendidikan Dokter
Jawa di Batavia (Di RS Milliter Belanda, sekarang RSPAD Gatot Subroto).
Seiring dengan dibukanya pendidikan dokter tersebut, pada tahun 1851 di buka
pendidikan Bidan bagi wanita pribumi di Batavia oleh seorang Dokter milliter Belanda (Dr. W.
Bosch). Lulusan ini kemudian bekerja di Rumah Sakit juga di masyarakat. Mulai saat itu pelayan
kesehatan ibu dan anak dilakukan oleh dukun dan Bidan. Kursus bidan yang pertama ini ditutup
tahun 1873. Tahun 1879, dimulai pendidikan bidan. Tahun 1950 , setelah kemerdekaan, jumlah
paramedis kurang lebih 4000 orang dan dokter umum kurang lebih 475 orang dan dokter dalam
bidang obsgyn hanya 6 orang, pada tahun 1952, mulai diadakan pelatihan Bidan secara formal
agar dapat meningkatkan kualitas pertolonga persalinan. Kursus untuk dukun masih berlangsung
sampai dengan sekarang, yang memberikan kursus adalah Bidan. Perubahan pengetahuan dan
keteramilan tentang pelayanan kesehatan ibu dan anak secara menyeluruh di masyarakat
dilakukan melalui kursus tambahan yang dikenala dengan istilah Kursus tambahan Bidan (KTB)
pada tahun 1953 di Jogjakarta yang akhirnya dilakukan pula di kota-kota besar lain di Nusantara
ini. Seiring dengan pelatihan tersebut didirikan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) dimana
bidan sebagi penanggung jawab pelayanana kepada masyarakat.
Dari BKIA inilah akhirnya mnejadi suatu pelayanan terintregrasi kepada masyarakat
yang dinamakan pusat Kesehatan Masyarakat atau Puskesmas pada tahun 1957.

5
Kegiatan BKIA yang dipimpin bidan adalah menyelenggarakan :
a. Pemeriksaan Antenatal
b. Pemeriksaan Post natal
c. Pemeriksaan dan Pengawasan bayi dan anak balita
d. Keluarga Berencana
e. Penyuluhan Kesehatan
Di BKIA ini diadakan juga pelatihan-pelatihan para dukun bayi. Dengan meningkatnya
pendidikan tenaga kesehatan maka, pada tahun 1979 jumlah dokter obsgyn 286 orang dan bidan
16.888 orang di seluruh Indonesia.
Bidan yang bertugas di puskesmas berfungsi dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu
dan anak termasuk pelayanan KB. Mulai tahun 1990 pelayan kebidanan diberikan secara merata
sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Kegiatan ini melalaui instruksi presiden secara lisan pada Tahun 1992 tentang perlunya
mendidik bidan untuk penempatan di desa. tugas pokoknya adalah pelaksanan pelayanan KIA
khususnya pelayanan ibu hamil, bersalin, dan nifas serta pelayana BBL. Bidan di puskesmas
orientasi kepada kesehatan masyarakat beda dengan bidan di RS yang berorientasi pada individu.

2. 3 Pelayanan Kebidanan Zaman Dahulu


Perawatan zaman dahulu atau sekarang dilakukan oleh dukun pria atau dukun wanita,
dukun menjalankan perawatanya biasanya dirumah penderita atau di rawat di rumah dukunnya
sendiri. Cara-cara mengobati penderita itu sendiri antara lain :
a. Dengan membaca mantra-mantra memohon pertolongan kepada Tuhan YME.
b. Dengan cara mengusir setan-setan yang mengganggu dengan menyajikan kurban-kurban di
tempat itu, macamnya kurban ditentukan oleh dukun.
c. Melakukan massage/mengurut penderita.
d. Penderita harus melakukan pantangan atau diet yang oleh dukun itu pula.
e. Kadang-kadang dukun bertapa untuk mendapatkan ilham cara bagaimana menyembuhkan
penderita itu.
f. Memakai obat-obatan banyak dipakai dari tumbuh-tumbuhan yang segar dari daun mudanya,
batang, kembang akarnya.
6
1. Perawatan Kebidanan
1) Kehamilan
Semua wanita hamil diadakan pemeriksaan kehamilan yang dilakukan oleh dukun bayi dan
dukun memberikan nasehat-nasehat seperti :
a) Melakukan pantangan
1. Pantangan makanan tertentu
2. Pantangan terhadap pakaian
3. Pantangan terhadap jangan pergi malam
4. Pantangan jangan duduk di muka pintu
b) Kenduri
Kenduri pertama kali dilakukan pada waktu hamil 3 bulan sebagai tanda wanita itu hamil.
Kenduri ke dua dilakukan pada waktu umur kehamilan 7 bulan.
2) Persalinan
Biasanya persalinan dilakukan dengan duduk di atas tikar, di lantai dukun yang
menolong menunggu sampai persalinan selesai. Cara bekerja dengannya mengurut-ngurut
perut ibu. Menekannya serta menarik anak apabila anak telah kelihatan. Selama menolong
dukun banyak membaca mantra-mantra. Setelah anak lahir anak diciprati anak dengan air
agar menangis. Tali pusat dipotong dengan hinis atau bamboo kemudian tali pusatnya
diberi kunyit sebagai desinfektan.
3) Nifas
Setelah bersalin ibu dimandikan oleh dukun selanjutnya ibu sudah harus bisa merawat
dirinya sendiri lalu ibu di berikan juga jamu untuk peredaran darah dan untuk laktasi.

2. 4 Perkembangan Pelayanan Kebidanan Dalam Tahun Terakhir


Karena pelayanan kebidanan yang memadai itu hanya dinikmati oleh sebagian kecil
masyarakat yang tinggal di kota-kota sedangkan masyarakat yang tinggal di pedesaan tidak
mendapatkan pelayanan tersebut maka keadaan ini melahirkan konsep puskesmas ( Community
Health Care )

7
Pembentukan Puskesmas dimulai pada Pelita I ( 1969 – 1974 ) tapi baru berkembang
pada Pelita II ( 1974 – 1979 ). Sejalan dengan hal tersebut maka pendidikan perawat pun
ditertipkan lebih berkonsentrasi pada masyarakat dan didirikan sekolah perawat kesehatan
dimana pada sekolah ini diberikan mata pelajaran KIA termasuk pelayanan kebidanan.
Dibentuknya program pembangunan kesehatan pada tahun 1975.
PKMD ini bekerja sama dengan lembaga sosial desa, tenaga-tenaganya diambilkan di
masyarakat dan diberi pelatihan selama 4 bulan selanjutnya mereka akan bertugas memberikan
pertolongan pertama pengobatan ringan termasuk penyuluhan dalam hal KIA dalam program
PKMD ini agar pelayanan kebidanan berlangsung aman dan dapat dilaksanakan dengan baik
maka :
1. Dibuka balai KIA didesa agar semua ibu hamil dapat memeriksakan diri secara teratur
2. Tenaga dukun harus tetap dibuka dan diawasi
3. Pengawasan terhadap pelayanan KIA oleh bidan ditingkatkan
4. PUSKESMAS sebaiknya dapat melaksanakan pertolongan persalinan ditempat

2. 5 Pelayanan Kebidanan Di Masa Depan


Keberhasilan pembangunan kesehatan dewasa ini masih diwarnai oleh rawannya derajat
kesehatan ibu dan anak terutama pada ibu hamil, bersalin dan ibu nifas serta janin / bayi pada
masa pranatal. Hal ini ditandai dengan tingginya AKI dan AKB. Sebagai salah satu program
prioritas dalam pembangunan kesehatan yaitu dengan menyediakan pelayanan kesehatan yang
berualitas sedekat mngkin dengan masyarakat yang didukung oleh peningkatan keterjangkauan
dan kualitas pelayanan rujukan tenaga yang mempunyai peran besar dalam pelayanan KIA ialah
BIDAN. Oleh karena itu sejak tahun 1990/1991 DEPKES menempatkan BIDAN-BIDAN DI
DESA

8
BAB III
PENUTUP
3. 1 Kesimpulan
Pelayanan kebidanan di Indonesia perlu ditingkatkan mengingat masih tingginya angka
kematian ibu dan anak (AKIA). Perubahan-perubahan yang dilakukan dalam pelayanan
kebidanan zaman dahulu dengan pelayana kebidanan zaman sekarang merupakan wujud
peningkatan pelayanan kebidanan. Tetepi dalam melakukan perubahan tersebut tidaklah mudah,
butuh proses dan waktu yang tidak singkat untuk mewujudkan pelayanan kebidanan yang
berkualitas.

3. 2 Saran
Dengan penulisan makalah ini penulis berharap lembaga kesehatan dalam hal ini para
bidan mampu meningkatkan pelayanan kebidanan guna membangun generasi muda dan generasi
penerus bangsa menjadi manusia yang sehat.

9
DAFTAR PUSTAKA

http://windahidayatulh2393.blogspot.co.id/2013/04/makalah-perkembangan-pelayanan.html
https://id.scribd.com/doc/83300073/Makalah-Konsep-Kebidanan-Dalam-Negeri
Nurhayati, 2012, Konsep Kebidanan, Jakarta : Salemba Medika
Estiwidani. Dwiana, 2008, Konsep Kebidanan, Yogyakarta : Fitramaya
Aticeh, 2014, Konsep Kebidanan, Jakarta : Salemba Medika

10