Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH ISTIRAHAT DAN TIDUR

KELOMPOK :
1. Intan Maulia Zahra (P27825017026)
2. Rahma Dewi (P27825017027)
3. Novia Chusdianti (P27825017028)
4. Afiyatin Malina (P27825017030)
5. Maulvi Ihza Chofifah (P27825017032)
6. Jihan Kusdiana Fadila (P27825017033)
7. Septiana Kurnia Anggraini (P27825017034)
8. Yulfalutfia (P27825017035)
9. Firdausi Nur Hanifa (P27825017036)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN SURABAYA
JURUSAN KEPERAWATAN GIGI
2019/2020

1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kebutuhan manusia perlu dipertahankan dengan cara memenuhi
kebutuhan hidupnya. Dan untuk memenuhi hal tersebut, manusia harus
bekerja siang dan malam. Bahkan sepertinya tidak mengenal waktu sehingga
mengorbankan satu hal yang sangat berarti, yaitu istirahat dan tidur
(Siregar,2011)
Istirahat dan tidur yang tepat sama pentingnya dengan nutrisi yang baik.
Setiap orang memerlukan jumlah istirahat dan tidur yang berbeda. Dengan
tidak tepatnya jumlah tidur dan istirahat seseorang maka dapat mempengaruhi
kemampuan berkonsentrasi, membuat keputusan, kelabilan emosi, serta
partisipasi dalam kehidupan sehari-hari menurun. (Potter dan Perry,2013)
Tidur adalah bagian dari penyembuhan dan perbaikan (McCance et al.,
2010). Ketika seseorang dalam kondisi tidur, ia akan merasakan relax secara
mental, terbebas dari rasa kegelisahan, dan merasakan ketenangan dalam
fisiknya. Tidur adalah reccurant, perubahan dari kesadaran yang terjadi untuk
periode yang berkelanjutan. Ketika seseorang mendapatkan tidur yang tepat,
mereka merasa bahwa energi mereka telah dipulihkan. Tidur memberikan
waktu untuk perbaikan dan pemulihan sistem tubuh. Kualitas yang memadai
dan kuantitas tidur berkontribusi pada kesehatan yang optimal. (Potter dan
Perry,2011)
1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menjelaskan konsep
istirahat dan tidur, antara lain : definisi istirahat dan tidur, fungsi istirahat dan
tidur, mekanisme tidur, tahap-tahap tidur, kebutuhan istirahat dan tidur
berdasarkan usia, faktor yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan istirahat
dan tidur. Dan menjelaskan masalah yang sering ditemukan pada klien
gangguan istirahat dan tidur beserta asuhan keperawatannya.

1.3 Manfaat
Mahasiswa memiliki dasar teori tentang konsep istirahat dan tidur yang kuat
sehingga mampu memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada klien.

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Istirahat dan Tidur


Terdapat beberapa pengertian Tidur Menurut Para Ahli.Tidur didefinisikan
sebagai suatu keadaan bawah sadar dimana seseorang masih dapat
dibangunkan dengan pemberian rangsang sensorik atau dengan rangsang
lainnya (Guyton & Hall, 1997). Tidur merupakan kondisi tiak sadar dimana
induvidu dapat dibangunkan oleh stimulasi atau sensoriyang sesuai (Guyton
dalam Aziz Alimul H) atau juga dapat dikatakan sebagai keadaan tidak
sadarkan diri yang relatif, bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa
kegiatan, tetapi lebih merupakan suatu urutan siklus yang berulang, dengan
ciri adanya aktifitas yang minim, memiliki kesadaran yang bervariasi
terhadap perubahan fisiologis dan terjadi penurunan respon terhadap
rangsangan dari luar.
2.2 Fungsi Tidur
Tujuan tidur masih belum jelas. Denyut jantung normal orang dewasa
sehat sepanjang hari rata-rata 70-80 denyut per menit atau kurang jika
individu berada dalam kondisi fisik yang sangat baik. Namun, selama tidur
denyut jantung turun ampai 60 denyut per menit aau kurang. Ini berarti
bahwa selama tidur jantung berdetak 10-20 kali lebih lambat dalam setiap
menit atau 60-120 kali lebih sedikit dalam setiap jam. Oleh karena itu, tidur
nyenyak bermanfaat dalam mempertahankan fungsi jantung. Fungsi biologis
lainnya yang menurun selama tidur adalah pernafasan, tekanan darah, dan
otot.
Teori lain tentang tujuan dari tidur adalah bahwa tubuh menghemat energi
selama tidur. Otot-otot rangka semakin rileks, dan tidak adanya kontraksi
otot mempertahankan energi kimia untuk proses seluler. Tidur akan
menurunkan laju metabolisme basal yang selanjutnya dapat menghemat
suplai energi tubuh.
Manfaat tidur dalam perilaku sering tidak diketahui sampai seseorang
mendapatkan masalah akibat kurangnya tidur. Hilangnya tidur REM
menyebabkan perasaan bingung dan curiga. Berbagai fungsi tubuh (misalnya
: suasana hati, performa motorik, memori dan keseimbangan) berubah saat
kehilangan tidur lama terjadi.

2.3 Mekanisme Tidur


Tidur dapat menghilang dan akan kembali mendapatkan tenaga serta
semangat untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi.
Tidur dibagi menjadi dua tipe yaitu :
1. Rapid Eye Movement (REM)
2. Non Rapid Eye Movement (NREM)
Fase awal tidur didahului oleh fase NREM yang terdiri dari 3 stadium
lalu diikuti oleh fase REM. Keadaan tidur normal antara fase NREM dan

3
REM terdiri secara bergantian antara 4 – 7 kali siklus semalam. Bayi baru
lahir total tidur 16 – 20 jam/hari, anak-anak 10 – 12 jam/hari, kemudian
menurun 9 – 10 jam/hari pada umur di atas 10 tahun dan kira-kira 7 – 7,5
jam/hari pada orang dewasa.
Tipe NREM dibagi dalam tiga stadium yaitu :
1. Tidur Stadium 1 (N1)
Stadium ini merupakan antara tahap terjaga dan tahap awal tidur.
Saat seseorang mulai mengantuk, perlahan-lahan kesadaran mulai
meninggalkan dirinya. Stadium ini disebut juga dengan Downiness, yaitu
tahap ketika pikiran kita melayang-layang tak menentu tetapi masih
menyadari kondisi di sekeliling sehingga merasa belum tidur.
Stadium ini hanya berlangsung 3 – 5 menit dan mudah sekali
dibangunkan. Gambaran EEG biasanya terdiri dari gelombang campuran
alfa, beta, dan kadang gelombang teta dengan amplitudo yang rendah.
Tidak didapatkan adanya gelombang sleep spindle dan kompleks K.
2. Tidur Stadium 2 (N2)
Tak lama kemudian, kita akan semakin dalam tertidur dan masuk
ke tidur fase stadium N2. Gelombang otak lambat masih menjadi latar,
tetapi sesekali muncul gelombang khas berupa gelombang Sleep Spindle,
gelombang verteks dan kompleks K. Pada stadium ini, tidur semakin sulit
dibangunkan. Kita baru akan bangun dengan sentuhan atau panggilan yang
berulang-ulang. Stadium tidur kedua adalah tahap tidur terbanyak, kira-
kira 50% dari total tidur satu malam.
3. Tidur Stadium 3 (N3)
Setelah kira-kira 10 menit dalam tahap N2, kita akan masuk ke
stadium tidur yang lebih dalam, yaitu tahap stadium 3 (N3). Stadium ini
sering disebutkan tidur dalam atau tidur Slow Wave. Disebut demikian
karena pada stadium ini gelombang otak semakin melambat (slow wave)
dengan frekuensi yang lebih rendah pula.
Semua tampak teratur pada laporan EEG. Tahap N3 sebelumnya
dikenal sebagai tahap tidur NREM 3 dan 4. Namun, kini digabung menjadi
1 tahapan N3 dikarenakan tidak bermakna secara klinis. Gambaran EEG
terdapat lebih banyak gelombang delta simetris antara 25% - 50% serta
tampak gelombang Sleep Spindle.
Dalam stadium inilah hormon pertumbuhan (Growth Hormon) dan
prolaktin dikeluarkan oleh tubuh. Hormon pertumbuhan akan digunakan
oleh tubuh untuk pertumbuhan pada bayi dan perbaikan jaringan yang
rusak. Hormon ini diperlukan untuk mempertahankan keutuhan maupun
kemudahan jaringan tubuh. Sementara prolaktin adalah hormon yang
banyak tedapat pada ibu menyusui. Semakin bagus kualitas tidur ibu
menyusui maka semakin tinggi pula produksi prolaktin.
Stadium tidur ini adalah tahap tidur terdalam. Untuk
membangunkan orang yang tidur terdalam membutuhkan rangsangan yang
lebih kuat. Rangsangan tersebut dapat berupa suara keras dan tepukan di
pundak berulang-ulang. Ketika bangun dari tahap ini, kita tidak bisa
langsung sadar sempurna. Diperlukan beberapa saat untuk memulihkan
diri dari rasa bingung dan disorientasi.

4
Tidur tahap R(REM)
Dari tahap N3 biasanya kita akan terus menanjak dan kembali
kepada tahap N2. EEG akan menunjukkan aktivitas otak yang
meningkatkan secara drastis. Ini adalah pertanda seseorangg akan
memasuki tahap tidur R (REM) atau hanyut dalam mimpi.
Tahap ini tubuh kita benar-benar tidak bisa menerima rangsangan
apapun. Hal ini dikarenakan tubuh tidak merespons aktivitas otak yang
menimbulkan lumpuh sesaat. Kelumpuhan ini dianggap sebagai sebuah
pemgaman dari semua aktivitas sehari-hari. Namun, jangan khawatir
karena masa lumpuh tersebut tidak berlangsung lama. Setelah 10 menit
melewati tahap R, maka kita akan masuk kembali ke tahap N2 dan
seterusnya hingga siklus tidur terpenuhi.
Menjelang pagi, hormon kortisol akan dikeluarkan. Hormon ini
biasa disebut sebagai hormon stres karena dikeluarkan oleh kelenjar
adrenal sebagai respon terhadap stres. Hal ini diasumsikan untuk
mengatasi stres yang akan dihadapi ketika siang hari.
Secara umum, tahapan dalam mekanisme tidur kita mengikuti pole
berikut : 1, 2, 3, 4, 3, 2, REM, 2, 3, 4, 3, 2, REM, 2, 3, 4, 3, 2, REM, 2, 3,
4, 3, 2, REM. Dan seterusnya. Dimana masing-masing siklus terjadi
sekitar 60 – 100 menit. Hal ini berbeda pada tiap orang.
2.4 Kebutuhan Istirahat dan Tidur Berdasarkan Usia

Durasi tidur dan kualitas bervariasi antara orang-orang dari semua


kelompok umur. Berikut pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur berdasarkan
pada masing-masing usia :
1. Neonatus
Neonatus atau bayi baru lahir sampai usia 3 bulan tidur rata-rata sekitar 16
jam sehari, tidur hampir terus-menerus selama minggu pertama. Siklus
tidur umumnya 40 – 50 menit dengan bangun setelah 1 – 2 siklus tidur.
Sekitar 50% dari tidur ini adalah tidur REM yang merangsang pusat otak
yang lebih tinggi. Hal ini penting untuk perkembangan karena neonatus
tidak bekerja cukup lama untuk stimulasi eksternal yang signifikan.
2. Bayi
Bayi biasanya mengembangkan pola tidur malam dengan mimpi buruk
dari usia 3 bulan. Bayi biasanya melakukan beberapa kali tidur siang,
namun tidur rata-rata selama 8 – 10 jam di malam hari dengan waktu tidur
total 15 jam per hari. Sekitar 30% dari waktu tidur adalah dalam siklus
REM. Bangun umumnya terjadi di pagi hari, meskipun tidak bisa lagi bayi
terbangun di malam hari.

3. Balita

Pada umur 2 tahun, anak-anak biasanya tidur sepanjang malam dan tidur
siang setiap hari. Total tidur rata-rata 12 jam sehari. Setelah 3 tahun, anak-

5
anak sering tidak tidur siang (Hockenberry dan Wilson, 2006). Umum bagi
balita untuk terbangun di malam hari. Persentase tidur REM terus
menerus. Selama masa ini, balita mungkin tidak mau tidur pada malam
hari karena kebutuhan otonomi atau takut berpisah dari orang tua mereka.

4. Anak-anak Prasekolah

Rata-rata lama tidur anak prasekolah adalah sekitar 12 jam semalam


(sekitar 20% adalah REM). Pada umur 5 tahun, anak prasekolah jarang
membutuhkan tidur siang kecuali dalam budaya di mana tidur siang
menjadi kebiasaan. Anak prasekolah biasanya mengalami kesulitan untuk
rileks atau menenangkan diri setelah melewati hari yang sangat aktif dan
memiliki masalah dengan ketakutan tidur, bangun pada malam hari, atau
mimpi buruk. Bangun sebentar dan kemudian terlelap lagi adalah hal yang
sering. Pada saat terbangun, anak akan menangis sebentar, berjalan-jalan,
berbicara yang tidak dipahami, tidur sambil berjalan, atau mengompol.

5. Anak Usia Sekolah

Jumlah tidur yang diperlukan beurvariasi sepanjang masa sekolah. Anak


usia 6 tahun rata-rata tidur 11 – 12 jam semalam, sedangkan anak usia 11
tahun tidur sekitar 9 – 10 jam. Anak usia 6 atau 7 tahun biasanya akan
pergi tidur dengan beberapa dorongan atau dengan melakukan kegiatan
yang tenang. Anak yang lebih tua sering menolak tidur karena suatu tidak
peduli dengan rasa lelahnya atau kebutuhan untuk bebas.

6. Remaja

Rata-rata remaja mendapatkan sekitar 71/2 jam tidur per malam. Tipikal
remaja yang khas dikarenakan sejumlah perubahan seperti kebutuhan
sekolah, kegiatan sosial setelah sekolah, dan pekerjaan paruh waktu yang
megurangi waktu untuk tidur. Waktu tidur yang sering disingkat
menghasilkan EDS. Mengurangi kinerja di sekolah, kerentanan terhadap
kecelakaan, masalah perilaku dan suasana hati, dan meningkatkan
penggunaan alkohol adalah hasil dari EDS karena kurangnya tidur.

7. Dewasa Muda

Kebanyakan orang dewasa muda rata-rata tidur 6 – 8,5 jam per malam.
Sekitar 20% dari waktu tidur adalah tidur REM yang tetap konsisten
sepanjang hidup. Tekanan dalam pekerjaan, hubungan keluarga, dan
kegiatan sosial sering mengarah pada insomnia dan penggunaan obat tidur.
Kantuk di siang hari menyebabkan peningkatan jumlah kecelakaan,
penurunan produktivitas, dan masalah interpersonal dalam kelompok usia
ini. Kehamilan meningkatkan kebutuhan tidur dan beristirahat. Insomnia,
gerakan tungkai yang periodik, sindrom kaki gelisah, dan gangguan
pernafasan saat tidur merupakan masalah umum selama trimester ketiga
kehamilan.

6
8. Dewasa Menengah

Selama masa dewasa menengah, total waktu tidur di malam hari mulai
menurun. Jumlah tidur stadium 4 mulai turun, penurunan terus berlanjut
seiring dengan meningkatnya usia. Insomnia sangat umum, mungkin
karena perubahan dan stres pada usia dewasa menengah. Kecemasan,
depresi, atau penyakit fisik tertentu yang menyebabkan gangguan tidur.
Wanita menopause sering mengalami gejala insomnia.

9. Lansia

Keluhan kesulitan tidur meningkat seiring dengan meningkatnya umur.


Episode tidur REM cenderung menyingkat. Ada penurunan progresif
dalam tidur tahap 3 dan 4 NREM, bahkan beberapa lansia hampir tidak
memiliki tidur tahap 4 atau tidur nyenyak. Seorang lansia terbangun lebih
sering di malam hari, dan memerlukan lebih banyak waktu untuk mereka
agar dapat tidur kembali. Kecenderungan untuk tidur siang tampaknya
semakin meningkat seiring bertambahnya usia karena sering terjaga di
malam hari.

Perubahan pola tidur sering disebabkan oleh perubahan dalam sistem saraf
pusat yang memengaruhi pengaturan tidur. Penurunan sensorik
mengurangi sensitivitas orang tua terhadap waktu untuk mempertahankan
irama sirkadian. (Potter dan Perry, 2010)

2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemenuhan Istirahat dan


Tidur

Berikut sejumlah ufaktor yang memengaruhi kualitas dan kuantitas


tidur:

1. Obat dan Substansi

2. Gaya Hidup

3. Pola Tidur yang Lazim

3. Stres Emosional

4. Lingkungan

5. Latihan dan Kelelahan

6. Makanan dan Asupan Kalori

2.6 Masalah yang Seringkali Ditemukan Sampai pada Pemenuhan


Istirahat dan Tidur

7
1) Insomnia
Insomnia merupakan ketidakmampuan untuk mencukupi kebutuhan
tidur baik secara kualitas maupun kuantitas. Seseorang yang terbangun
dari tidur, tetapi merasa belum cukup tidur dapat disebut mengalami
insomnia (Japardi, 2002).
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami
insomnia diantaranya adalah rasa nyeri, kecemasan, ketakutan, tekanan
jiwa, dan kondisi yang tidak menunjang untuk tidur. Perawat dapat
membantu klien mengatasi insomnia melalui pendidikan kesehatan,
menciptakan lingkungan yang nyaman, melatih klien relaksasi, dan
tindakan lainnya.
Ada beberapa tindakan atau upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk
mengatasi insomnia yaitu:
a. Memakan makanan berprotein tinggi sebelum tidur, seperti keju atau
susu
b. Usahakan agar selalu beranjak tidur pada waktu yang sama
c. Hindari tidur di waktu siang atau sore hari
d. Berusaha untuk tidur hanya apabila merasa benar-benar kantuk dan
tidak pada waktu kesadaran penuh
e. Hindari kegiatan-kegiatan yang membangkitkan minat sebelum tidur
f. Lakukan latihan-latihan gerak badan setiap hari, tetapi tidak
menjelang tidur
g. Gunakan teknik-teknik pelepasan otot-otot serta meditasi sebelum
berusaha untuk tidur

2) Somnambulisme

Somnambulisme merupakan gangguan tingkah laku yang sangat


kompleks mencakup adanya otomatis dan semipurposeful aksi motorik,
seperti membuka pintu, menutup pintu, duduk di tempat tidur, emnabrak
kursi, berjalan kaki, dan berbicara. Somnambulisme ini lebih banyak
terjadi pada anak-anak dibandingkan orang dewasa. Seseorang yang
mengalami somnabulisme mempunyai risiko terjadinya cedera.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi somnabulisme
yaitu dengan membimbing anak. Selain itu, dengan membuat lingkungan
yang nyaman dan aman, serta dapat pula dengan menggunakan obat
seperti Diazepam dan Valium.

3) Enuresis
Enuresis adalah kencing yang tidak disengaja (mengompol). Terjadi
pada anak-anak dan remaja, paling banyak terjadi pada laki-laki. Penyebab
secara pasti belum jelas, tetapi ada beberapa faktor yang dapat
menyebabkan enuresis seperti gangguan pada bladder, stres, dan toilet
training yang kaku. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah enuresis
anatara lain: hindari stres, hindari minum yang banyak sebelum tidur, dan
kosongkan kandung kemih (berkemih dulu) sebelum tidur.

8
4) Narkolepsi
Narkolepsi merupakan suatu kondisi yang dicirikan oleh keinginan
yang tak terkendali untuk tidur. Dapat dikatakan pula narkolepsi adalah
serangan mengantuk yang mendadak sehingga ia dapat tertidur pada setiap
saat di mana serangan tidur (kantuk) tersebut datang.
Penyebab narkolepsi secara pasti belum jelas, tetapi diduga terjadi
akibat kerusakan genetika sistem saraf pusat dimana periode REM tidak
dapat dikendalikan. Serangan narkolepsi ini dapat menimbulkan bahaya
apabila terjadi pada waktu mengendarai kendaraan, pekerja yang bekerja
pada alat-alat yang berputar-putar, atau berada di tepi jurang.
Obat-obat agripnotik dapat digunakan untuk mengendalikan
narkolepsi yaitu sejenis obat yang membuat orang tidak dapat tidur. Obat
tersebut diantarnya jenis ampetamin.

5) Night terrors
Night terrors adalah mimpi buruk. Umumnya terjadi pada anak usia 6
tahun atau lebih. Setelah tidur beberapa jam, anak tersebut langsung
terjaga dan berteriak, pucat dan ketakutan.

6) Mendengkur
Mendengkur disebabkan oleh rintangan terhadap pengaliran udara di
hidung dan mulut. Amandel yang membengkak dan adenoid dapat menjadi
faktor yang turut menyebabkan mendengkur. Pangkal lidah yang
menyumbat saluran napas pada lansia. Otot-otot di bagian belakang mulut
mengendur lalu bergetar jika dilewati udara pernapasan.

9
BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Istirahat dan tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia
yang termasuk ke dalam kebutuhan fisiologis. Istiarahat dan tidur sebagai
salah satu kebutuhan dasar yang universal, karena semua manusia
membutuhkan kebutuhan tidur dan istirahat. Hal ini mengindikasikan bahwa
tidur memiliki peranan yang penting bagi manusia. Potter & Perry (2005)
mengatakan bahwa kebutuhan untuk istirahat dan tidur adalah penting bagi
kualitas hidup semua orang. Namun demikian, tiap individu memiliki
kebutuhan yang berbeda dalam jumlah tidur (Quantity of Sleep) dan kualitas
tidur (Quality of Sleep).
Fungsi dari istirahat dan tidur adalah memperbaiki keadaan
fisiologis dan psikologis,melepaskan stress dan ketegangan, memulihkan
keseimbangan alami diantara pusat-pusat neuron, waktu untuk memperbaiki
dan menyiapkan diri untuk periode bangun,memperbaiki proses biologis dan
memelihara fungsi jantung, mengembalikan konsentrasi dan aktivitas sehari-
hari, menghemat dan menyediakan energi bagi tubuh, memelihara kesehatan
optimal dan mengembalikan kondisi fisik tubuh. Faktor-faktor yang
mempengaruhi pemenuhan kebutuhan istirahat-tidur antara lain penyakit,
lingkungan, kelelahan, gaya hidup, stress emosional, stimulan dan alkohol,
diet, merokok, medikasi, motivasi.Sedangkan masalah yang seringkali
ditemukan terkait pemenuhan kebutuhan istirahat-tidur diantaranya insomnia,
parasomnia, hipersomnia, narkolepsi, apnea saat tidur.

4.2 Saran
1. Mahasiswa hendaknya dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia yang
berhubungan dengan istirahat dan pola tidur sebelum melakukan tindakan
keperawatan.
2. Menjelaskan atau memberitahukan pada pasien tentang tindakan yang
akan dilakukan harus selalu diterapkan oleh perawat sebelum melakukan
tindakan keperawatan.

10
WOC (Web of Caution)

Ritual sebelum tidur Kegemaran yang tak


kenal waktu

Kenyamanan lingkungan Kenyamanan lingkungan

Kebiasaan tidur di
malam hari

Pemenuhan istirahat Pemenuhan istirahat


berkurang berkurang

Stress psikologi Stress psikologi

Ganguan pemenuhan
tidur

insomnia

Proses penymbuhan
lebih lama

11
DAFTAR PUSTAKA
Capernito-Moyet.2010.Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi13.
Jakarta:EGC
McCance KL, et al.2010.Pathophisiology:The Biology Basic For Disease In
Adults and Children.6th Edition.Mosby Elsevier
NANDA International.2011.Nursing Diagnosis : Definitions & Classification
2012-2014.Heather Herdman. Alih Bahasa Made Sumarwati, S.Kp., MN.
EGC:Jakarta
Potter,Perry.2013.Fundamental of Nursing.8th Edition.Mosby Elsevier
Potter,Perry.2011.Basic Nursing.7th Edition.Mosby Elsevier
Potter,Perry.2010.Fundamentals of Nursing Fundamental Keperawatan. Buku 3
Edisi 7.Salemba Medika:Jakarta
Siregar, Mukhlidah Hanum.2011.Mengenal Sebab-sebab, Akibat-akibat, dan
Cara Terapi Insomnia.Flashbooks:Jogjakarta
Wilkinson dan Ahern.2009.Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi
9.Jakarta:EGC
_________http://www.e-jurnal.com/2013/12/pengertian-tidur-menurut-para-
ahli.html, diakses 27 Maret 2015

12